4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Massa
Pengertian komunikasi massa jika mengarah kepada penjelasan dari Tan dan Wright, dalam Liliweri.1991, komunikasi massa merupakan salah satu wujud komunikasi yang memanfaatkan penggunaan dari sebuah saluran (media) sebagai sarana massal penghubung dari komunikator kepada komunikan secara universal, memiliki jangkauan yang sangat luas, bersifat heterogen, serta dapat menunjukkan impresi tertentu (Erdinaya, 2005:3).
Penjelasan komunikasi massa untuk lebih detail dijabarkan oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gerbner. Pendapat Gerbner (1967) “Mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messages in industrial societies. Komunikasi massa merupakan sebuah proses penerapan dan penyaluran arus pesan atau informasi berdasarkan teknologi dan lembaga yang berkelanjutan serta mudah dimengerti oleh masyarakat perindustrian (Rakmat, semacam yang dilansir oleh Komala, dalam Karlinah, dkk 1999),(Erdinaya, 2005:3).
2.2 Karakteristik Komunikasi Massa
(Nurudin, 2007: 19-31) mengemukakan beberapa ciri komunikasi massa, yaitu:
2.2.1 Komunikator Media Massa yang Melembaga
Pengertiannya ialah terdapat lebih dari satu orang komunikator dalam media massa yang berkumpul menjadi satu dengan membentuk sebuah kelompok, dan terdiri dari berbagai elemen dan memiliki peran yang berbeda dalam suatu organisasi.
2.2.2 Sifat Komunikan yang Heterogen
Sifat komunikan yang beragam, dengan kata lain di antara berbagai macam individu tidak saling mengenal, memiliki jenjang
5 pendidikan yang berbeda, jenis kelamin, status sosial dan ekonomi, jabatan, agama atau keyakinan yang bermacam-macam.
2.2.3 Memiliki Informasi yang Bersifat Umum
Pendistribusian informasi yang dilakukan dalam komunikasi massa tidak ditujukan untuk individu ataupun kelompok orang tertentu. Dengan kata lain, informasi yang disampaikan tertuju dan dapat diterima oleh khalayak yang beragam. Maka, pesan yang disampaikan harus bersifat umum, karena pesan tersebut memang disampaikan bagi banyak orang.
2.2.4 Penyampaiannya yang Satu Arah
Selama proses pendistribusian tidak ada timbal balik dari koresponden ke koresponden karena sifat komunikasinya yang tertunda.
2.2.5 Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan
Maksud dari serempak di sini berarti masyarakat umum memiliki kesetaraan dalam hal mengakses media massa tersebut dalam waktu yang saling bertepatan tanpa ada intervensi dari pihak manapun.
2.2.6 Menggunakan Alat Teknis Modern
Sebagai sarana utama penyebaran informasi kepada khalayak, komunikasi massa membutuhkan media atau dapat diklasifikasikan dengan kata lain teknologi modern yang memadai. Teknologi modern yang dimaksud seperti radio pemancar, televisi, atau internet untuk media elektronik dan lain sebagainya.
2.2.7 Gatekeeper Sebagai Penyaring dalam Komunikasi Massa
Gatekeeper dapat diartikan sebagai Gatekeeper yang bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi melalui media massa. Gatekeeper memiliki peranan dalam memperbanyak, memangkas, menyederhanakan serta membenahi segala informasi yang akan didistribusikan kepada khalayak agar lebih mudah diterima dan dipahami. Gatekeeper secara umum bisa disebut sebagai tim atau seorang reporter, editor film/surat
6 kabar/majalah/buku, publikasi, kameramen, sutradara dan lembaga sensor film yang seluruhnya dapat berpengaruh terhadap informasi media massa dengan berbagai macam sampul sebagai cover kemasannya, atau dapat disimpulkan bahwa memang untuk meningkatkan kualitas informasi atau pesan yang akan didistribusikan harus ditentukan melalui prosedur-prosedur gatekeeper.
2.3 Komponen Komunikasi Massa
Everett M.rogers berpendapat, ada empat elemen dalam aktivitas komunikasi yang patut dicermati, antara lain source, message, channel, dan receiver. Komponen di atas dijabarkan ulang oleh Wilbur Schramm dibagi menjadi lima bagian, antara lain: source (sumber), encoder (komunikator), signal (sinyal/tanda), decoder (komunikan), destination (tujuan). Komponen di atas sesuai dengan pernyataan Harold D. Lasswell yakni who-says what- in which channel-to whom-with what effect. Komponen di atas hanya beberapa ketentuan yang wajib ada dalam sebuah prosedur komunikasi, baik dalam komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok maupun komunikasi massa. (Erdinaya, 2005:35-36).
2.3.1 Komunikator
Untuk mencari atau menemukan komunikator dalam proses yang begitu kompleks bukan masalah mudah, bahkan mungkin sangat sulit tidak bisa dilakukan sembarangan. Jeremy Tunshall mendefinisikan komunikator memiliki peran non administratif (non clerical) di dalam beberapa organisasi komunikasi, beberapa orang yang berperan sebagai penyaring informasi, manajemen pemrograman, cerita dan pesan singkat yang pada akhirnya akan didistribusikan kepada khalayak. (Erdinaya, 2005:36-37).
2.3.2 Pesan
Pesan komunikasi massa memiliki karakteristik yang bersifat umum, jadi setiap individu memiliki hak untuk mengetahui isi dari pesan tersebut. Proses pengelolaan informasi yang terkandung di
7 dalamnya bergantung pada media yang sedang memproses serta mendistribusikannya kepada khalayak. (Erdinaya, 2005:39).
2.3.3 Media
Media dapat dikategorikan sebagai metode komunikasi massa yakni media massa yang mempunyai keunikan tersendiri, berkemampuan untuk menarik banyak perhatian dari khalayak dengan serempak(simultaneous) dan serentak (instantaneous). Para sarjana sepakat bahwa jenis-jenis media yang digolongkan dalam media massa adalah pers, radio siaran, televisi dan film. Pembahasan lebih lanjut dari masing-masing media komunikasi massa akan dijelaskan sebagai berikut: (Erdinaya, 2005:39).
1. Media Pers
Dibandingkan dengan media massa lain, pers memiliki karakteristik yang unik. Walaupun pers merupakan media cetak, tetapi target penyampaian informasi yang dituju selalu bersifat aktif. Penyampaian informasi dalam media pers sering kali lebih banyak menggunakan rangkaian kata yang disusun secara runtut, dan baru dapat dimaknai secara rinci jika khalayak mampu menggunakan tatanan mentalnya (mental set) secara aktif dan kontinyu. (Erdinaya, 2005:39).
2. Siaran Radio
Radio tergolong pada media elektronik yang bersifat khas sebagai media penyiaran informasi melalui audio (suara).
Keunggulan media radio pemancar yakni informasi yang disiarkan oleh komunikator dapat diperbarui menjadi sebuah kisah yang dilengkapi dengan backsound dan efek suara (sound effect) sebagai unsur dramatis. (Erdinaya, 2005:40).
3. Televisi
Televisi memiliki kelebihan dibandingkan dengan media massa lain yaitu memiliki karakteristik audio visual (dapat didengar dan dilihat), yaitu dapat mengilustrasikan sebuah kejadian nyata
8 atau peristiwa secara langsung yang tersaji ke tiap-tiap rumah pemirsa secara instan. (Erdinaya, 2005:40).
4. Film
Pengertian media film disini ialah film yang dipertontonkan di gedung-gedung bioskop. Film dalam proses produksinya, memiliki fungsi dan sifat mekanik atau nonelektronik, rekreatif, edukatif, persuasif, atau non informatif (Erdinaya, 2005:40).
5. Khalayak
Berdasarkan penjabaran sebelumnya di atas, terdapat beberapa pesan media massa yang digemari oleh kebanyakan khalayak, ada juga yang hanya digemari oleh beberapa kelompok, seperti pengkategorian usia (anak-anak, remaja, dewasa), agama, etnis dan sebagainya. (Erdinaya, 2005:40-41).
2.4 Peranan Media Sebagai Instrumen Komunikasi Massa
Fungsi utama media sebagai alat komunikasi massa terbagi menjadi 3.
Pakar ilmu komunikasi Harold D. Laswell mengemukakan fungsi ini dalam (Darmawanto, 2007:32-33). Sebagai berikut:
1. The surveillance of the environment, definisinya ialah media massa berperan menjadi pengawas sebuah ekosistem atau lingkungan. Peranan media massa yaitu mengamati berbagai macam peristiwa yang sedang berlangsung atau sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat dari beragam sudut pandang dan jangkauan masyarakat secara menyeluruh. Sehingga media dapat langsung merangkum sebuah peristiwa menjadi rangkaian informasi agar dapat disampaikan kepada khalayak umum secara meluas.
2. The correlation of the parts of society in responding to the environment, memiliki arti bahwa media massa memiliki peran dalam hal pemilahan, penilaian dan interpretasi dalam sebuah informasi atau pesan. Hal tersebut menjadikan media massa memegang peranan penting untuk melakukan penyortiran atas
9 peristiwa di lingkungan masyarakat yang layak untuk didistribusikan sebagai sebuah siaran informasi.
3. The transmission of the social heritage from one generation to the next, didefinisikan dalam artian bahwa media massa berfungsi sebagai instrumen untuk mewariskan nilai-nilai sosial budaya dari generasi pada suatu masa ke generasi pada masa berikutnya dan seterusnya. Peranan media massa di atas bertujuan agar nilai sosial di masyarakat tetap terjaga dan lestari untuk diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pengayaan wawasan ilmu pengetahuan dan ilmu sosial.
Dari tiga fungsi primer di atas, hiburan berperan sangat penting atas menarik atau tidaknya informasi yang disampaikan dan dimiliki oleh media massa agar dapat menarik lebih banyak peminatnya dari khalayak umum.
Apabila peranan ini tidak berfungsi, maka media telah dianggap tidak mampu memenuhi fungsi komunikasinya sebagai media massa, karena fungsi dan peranannya saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain.
2.5 Pesan
Titik tengah sebuah proses komunikasi dipegang kendalinya oleh sebuah pesan. Cangara (2007:24) menyampaikan bahwa pesan harus mengandung hal yang bersifat informatif, yang mana dalam proses pendistribusiannya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung atau lantaran media komunikasi lainnya. Pesan ada di setiap lapisan ruang lingkup manusia, dan dari setiap kejadian atau hal yang dilakukan manusia pasti akan tercipta sebuah pesan. Misalnya seperti kajian komunikasi massa dan perusahaan media penyedia informasi berita, informasi atau pesan merupakan unsur pokok yang wajib ada. Pesan dan informasi yang dipublikasikan oleh media massa harus bersumber pada pengelompokan media, jenis media, sasaran peminat, hingga besaran wilayah sebar pendistribusian berita tersebut. Perumusan berita juga menjadi hal lain yang patut dipertimbangkan, melibatkan beberapa perusahaan atau sosok orang yang hebat, jarak wilayah strategis, memiliki indikasi hiburan, kelanjutan
10 dari peristiwa yang saling berkaitan, atau sekedar memberitakan peristiwa dalam keseharian. Pesan sendiri diklasifikasikan menjadi dua macam, sebagai berikut:
2.5.1 Pesan Verbal
Definisi dari pesan verbal yakni segala macam jenis penggambaran yang berwujud atau simbol-simbol yang mengandung beberapa kata atau lebih, atau lebih mudahnya ialah bentuk komunikasi yang dilakukan dengan langsung secara lisan dan tatap muka dengan lawan bicaranya (Mulyana, 2008:260).
2.5.2 Pesan Non Verbal
Pesan non verbal didefinisikan sebagai sebuah isyarat atau komunikasi non lisan. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E.
Porter, “komunikasi non verbal mencangkup segala aspek komunikasi dalam lingkungan ruang lingkup komunikasi yang memiliki makna lebih luas dalam pengertian sebuah isyarat non lisan” (Mulyana 2008:343).
2.6 Definisi Film
Film merupakan sebuah media atau wadah komunikasi yang memiliki karakteristik audio visual. Film berperan sebagai penyampai pesan dari individu atau lebih kepada sekelompok orang dengan lingkup tempat tertentu. Pesan dari sebuah film terkandung di dalam setiap adegan yang mencangkup gambaran secara keseluruhan dari tujuan pembuatan film tersebut. Pendapat (Biagi, 2010:171) “film merupakan perwujudan nyata dari sebuah hiburan yang divisualisasikan berdasarkan impian dari penulisnya, karena sifat dari film itu sendiri yang kreatif serta imajinatif”.
Dewasa ini, film dikategorikan menjadi dua fragmen yakni fiksi dan non fiksi.
Film sebagai lembaga sosial yang mana menurut pendapat (Soekanto 2010:173) lembaga sosial yang dimaksud ialah penggabungan banyak norma dari sebuah tindakan yang sering dijumpai dalam ruang lingkup
11 bermasyarakat atau dengan pengertian lain cerminan dari kejadian atau peristiwa yang sering dilakukan atau dijumpai pada masyarakat kita.
Jadi, film dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas atas segala macam bentuk kelakuan yang sering dilakukan atau kejadian yang sering dijumpai.
2.7 Pertumbuhan Film
Film memiliki sejarah yang kompleks untuk dapat tumbuh sebagai media di zaman modern. Film tumbuh dengan pesat dari hasil pengembangan banyak prinsip yang terdiri dari seni visual fotografi serta proyektor film agar bisa dipertontonkan di bioskop-bioskop yang bergengsi.
Film besutan pesulap Francis Georges Melies ini diharapkan menjadi penggagas lahirnya film bisu pertama di Amerika Serikat. Film Edwin S.
Poter The Great Train Robbery berdampak besar pada perkembangan film pada masa itu. Film ini tidak hanya menampilkan performa visual yang sama dengan film bisu pendahulunya, namun film berdurasi 12 menit ini dianggap sebagai film feature pertama, dengan proses terbaik pada teknologi pengambilan gambar dan proses editing.
Pada tahun 1915, dengan diputarnya film The Birth of a Nation karya D. W. Griffith banyak bioskop didirikan di seluruh Amerika Serikat sampai penonton yang berpendidikan memperoleh paten untuk film sebagai bagian dari seni. Antara tahun 1915-1920 an, mulai banyak didirikan rumah produksi film yang modern di berbagai lokasi di Amerika dan Eropa, disertai dengan memulai proses produksi dalam setahun, hanya beberapa ratus film Hollywood yang dapat memenuhi permintaan penggemar film yang terus meningkat. Film pada saat itu telah dijadikan sebagai pembunuh rasa bosan, hal tersebut menyebabkan sarana film menjadi potensi terbesar bagi perkembangan budaya modern. Dalam film-film popular pada tahun tahun 1928-1929 peralihan dari film bisu ke film bersuara mulai bermunculan. Film Jazz Singer tahun 1927 menjadi pendorong awal kematangan film-film di dunia dan terus melambung hingga saat ini. Di awal tahun 1930an film gangster, music dan seks mulai banyak
12 dipertontonkan di layar TV modern, yang menimbulkan banyak pro dan kontra dari para ahli. Para ahli percaya bahwa potensi dan kemampuan film harus mencerminkan kenyataan yang berdampak signifikan terhadap penonton film (Danesi,2010:136-140). Seiring perkembangan zaman, film mulai berperan dalam politik, ekonomi, dan masyarakat.
2.8 Elemen Pembuatan Film
Partista (2008:1) berpendapat bahwa film dan elemen dasar pembuatannya akan selalu bergesekan, jadi untuk memaknai dan menafsirkan sebuah film tidak dapat serta merta mengesampingkan elemen- elemen pembangunnya, beberapa elemen tersebut antara lain:
2.8.1 Unsur Naratif
Naratif merupakan komposisi material mentah yang kemudian akan diproses agar dapat dimatangkan menjadi sebuah gagasan dalam proses produksi sebuah film. Unsur naratif merupakan komponen penting yang berdampak terhadap alur cerita filmnya.
Pada masing-masing cerita yang akan difilmkan tentu mempunyai komponen pokok misalnya peran atau karakter, masalah atau kejadian, konflik atau konfrontasi, lokasi atau tempat, waktu atau masa, dan lain sebagainya. Semua komponen di atas akan mengkonstruksi rangkaian peristiwa yang diatur oleh sistem yaitu kausalitas. Aspek ini mengandung unsur ruang dan waktu dan beberapa elemen pokok lainnya yang membentuk sebuah alur naratif.
2.8.2 Unsur Sinematik
Unsur Sinematik merupakan gaya pengolahan atau biasa disebut dengan proses pemroduksian sebuah film. Empat elemen utama yang menopang unsur sinematik yaitu scene film, editing, fotografi film dan audio. Elemen di atas akan dipadukan dan saling dikaitkan secara presisi agar tercipta sebuah alur sinematik yang dikemas dengan baik pada proses pembuatannya.
13 Film yang mempunyai alur dengan tema yang sangat kuat bisa kurang menarik untuk diminati jika mengesampingkan unsur naratif sebagai pengantar tafsir ide dari sang penulis naskah film. Aspek naratif sebagai pengantar tafsir ide dari sang penulis naskah film, serta aspek sinematik sebagai visualisasi dan realisasi dari sebuah cerita dalam sebuah film sangat identik keterkaitannya untuk dijadikan sebagai tolak ukur penikmat film dalam memahami maksud dari film yang mereka tonton. Karena banyak dari penikmat film beranggapan sangat mudah dalam menilai baik atau buruknya film yang mereka tonton dengan hanya melihat dari segi sinematiknya saja atau segi naratifnya saja, padahal untuk menikmati dan menilai sebuah film, para penikmat film harus memahami kedua unsur tersebut agar makna yang ingin disampaikan oleh pembuat naskah film dapat dicerna dengan baik oleh para penikmat film dan penikmat film dapat mengambil kesimpulan secara keseluruhan penilaian atas film yang sudah mereka tonton.
2.9 Capaian Film
Pusat Industri Perfilman merupakan rumah produksi berbagai macam film pada era modern. Film yang diputar pada bioskop-bioskop tidak semena-mena langsung matang, banyak peranan penting dari crew yang ikut andil di balik layar pembuatan film tersebut. Ada beberapa bagian yang diisi oleh seseorang atau lebih untuk mengatur proses produksinya, (Biagi, 2010:188-189) menyatakan crew film dipecah menjadi beberapa kategori yaitu:
2.9.1 Penulis Skenario
Pada tiap-tiap awalan sebuah proses produksi film pasti memiliki ide atau gagasan pokok sebuah kisah untuk dimasukkan ke dalam film tersebut. Ide atau gagasan cerita tersebut diusung dan ditulis oleh penulis skenario.
14 2.9.2 Produser
Sebagai pemimpin tim produksi film, peran produser harus bisa menghimpun serta mencari sumber pendanaan dalam menyukseskan proyek film yang akan diproduksi.
2.9.3 Sutradara
Memegang kendali atas semua instruksi yang dibutuhkan untuk memproses pesan-pesan yang terkandung dalam naskah untuk kemudian direalisasikan ke dalam film yang akan digarap, agar para penikmat film dapat memahami isi dan alur film tersebut.
2.9.4 Aktor
Aktor memegang peranan penting dalam sebuah film karena dia adalah orang yang akan menginterpretasikan teks skenario yang sudah ditulis oleh penulis skenario. Didukung dengan akting yang sesuai dengan karakter di dalam naskah, hal ini yang akan mempermudah para penonton untuk menangkap serta menelaah isi keseluruhan dari film tersebut.
2.9.5 Produksi
Orang-orang yang ikut andil bagian dalam proses produksi sebuah film, seperti DOP, movie editor, art, wardrobe, dsb.
2.9.6 Marketing dan Administrasi
Saat film telah usai diproduksi, crew di divisi pemasaran memiliki peran untuk memperkenalkan serta menjelaskan film yang telah diproduksi kepada khalayak umum. Berbeda peran dengan crew dalam divisi administrasi, crew dalam divisi ini adalah membantu proses pengarsipan segala memo yang akan dipergunakan untuk bermacam-macam proses, misalnya proses pengeluaran biaya gaji dan biaya crew terlibat, serta mencatat arsip lainnya.
2.10 Jenis Film
Seorang komunikator wajib mengetahui kriteria film agar dapat dengan mudah mendapatkan feel yang diinginkan, Ardianto (2015:148)
15 menyatakan bahwa jenis film dikategorikan menjadi film cerita, film berita, film dokumenter, dan film kartun.
2.10.1 Film Cerita
Film cerita merupakan jenis film yang mengandung unsur fiktif atau berdasarkan kisah nyata, dan diperankan oleh aktor-aktor terkenal. Dengan banyak mengusung topik yang seringkali diperbarui agar menarik untuk ditonton.
2.10.2 Film Berita
Film berita ialah film berdasarkan fakta, peristiwa real. Karena sifatnya berita, maka film yang dipertontonkan kepada khalayak harus mengandung nilai berita (news value). Kriteria berita pada jenis film ini harus bersifat penting dan menarik. Film dapat langsung diproduksi dengan teknik pengambilan live audio visual, atau news muted movie, reporter berita yang membacakan narasinya.
Untuk peristiwa tertentu, perang, kerusuhan, pemberontakan, dan sejenisnya, film berita yang diproduksi akan kurang menarik. Dalam poin ini hal terpenting yang harus termuat dalam film tersebut adalah peristiwanya harus terekam secara utuh dan runtut agar dapat dipahami oleh khalayak umum.
2.10.3 Film Dokumenter
Robert Flaherty mendefinisikan film dokumenter sebagai
“karya ciptaan mengenai kenyataan”. Berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman asli dari kenyataan atau berbeda dengan kenyataan, film dokumenter menginterpretasikan kisah individu atau lebih dengan kenyataan yang telah dialaminya. Banyak tabiat, moral, atau budaya masyarakat Indonesia bisa diusung menjadi film dokumenter, di antaranya upacara adat pemakaman yang memiliki keunikan pada setiap daerah di Indonesia. Biografi seorang veteran, karya seni, dan lain-lain dapat dijadikan sumber ide pokok sebuah film dokumenter.
16 2.10.4 Film Kartun
Film kartun dalam sinematografi dapat diklasifikasikan sebagai integral film unik. Karena secara global film ini merupakan rentetan gambar yang divisualisasikan dari sebuah objek hidup atau objek yang sedang bergerak. Kemudian gambar objek tersebut digabungkan dalam sebuah layar proyeksi dan diputar dengan rasio kecepatan berkelanjutan sehingga menghasilkan gambar hidup atau bergerak. Dalam kriteria sinematografi, film kartun merupakan film yang pada awal penemuannya dilakukan dengan cara menggambar langsung sebuah karakter, latar, dan setting dari tangan manusia dan pengilustrasian cerita gambar saling memiliki kesinambungan.
2.11 Genre Film
Genre film beraneka ragam. Beberapa genre film yang dikategorikan oleh (Bridge, 1983:120) yaitu:
1. Film Roman/Drama cerita yang berisi peristiwa nyata, atau kisah dimana terjadi konflik, penolakan, atau konflik antara dua orang atau lebih.
2. Film Horor adalah film yang mengekspos terjadinya fenomena misterius atau supranatural yang dapat menimbulkan kejutan, kejutan dan ketakutan bagi penontonnya.
3. Film Dokumenter merupakan film yang mengisahkan tentang catatan perjalanan hidup seseorang.
4. Film Realisme didefinisikan sebagai film adaptasi dari aktivitas kehidupan sehari-hari dengan relevansi yang sedang terjadi di sekitar masyarakat.
5. Film Sejarah adalah film yang menggambarkan kisah kehidupan seorang tokoh berpengaruh serta kisah hidupnya pada masa lampau.
6. Film Perang sebuah film yang benar-benar menggambarkan suasana medan pertempuran di dalam dan di luar medan perang.
17 7. Film Keagamaan/Religi ini adalah film dengan tema keyakinan
atau keyakinan tertentu dan nilai moral agama di dalamnya.
8. Film Futuristik merupakan film tentang kondisi masa depan fantasi.
9. Film Anak adalah film yang mengulas tentang dunia yang disukai oleh anak-anak.
10. Film Animasi yakni film cerita atau film kisah fiktif atau non fiktif yang diawali dari media cetak kemudian diolah menjadi sebuah film kartun, bukan hanya sekedar storyboard melainkan gambar yang dapat digerakkan menggunakan teknik animasi.
11. Film Komedi adalah film yang berfokus pada penekanan utama humor dengan berbagai macam topik seperti kritikan publik terhadap politik, sosial, dan budaya.
12. Film Petualangan adalah film yang menekankan unsur world exploring, aksi kolosal, peraduan fisik para aktor dan tergolong dalam film klasik.
Berdasarkan definisi mengenai genre film di atas, maka film Orang Kaya Baru termasu ke dalam genre film komedi keluarga yang dikategorikan sebagai film dengan penekanan unsur utamanya yakni humor dan mengandung berbagai unsur pendukung lainnya.
2.12 Film Sebagai Komunikasi Massa
Media massa memiliki peran penting yang berbeda-beda dalam proses komunikasi massa. Keutamaan yang dimiliki oleh media massa adalah proses pendistribusian informasi yang sangat cepat, akurat, dan presisi, serta dapat diakses secara bersamaan. Media massa yang dijabarkan di atas tergolong media massa modern atau media massa mutakhir (Nurudin, 2007:04).
Denis McQuail berpendapat (Littejohn dan Foss, 2009:407) bahwa terdapat delapan macam metafora yang dikreasikan untuk mendefinisikan beberapa aspek dari media.
18 1. Media digunakan sebagai jendela ke dunia luar dengan berbagai
perspektif yang lebih luas.
2. Penafsir (interpreters) berperan untuk membantu memahami dan mengartikan sebuah pesan atau informasi yang kurang dapat dimengerti.
3. Landasan (platform) adalah wadah bagi pembuat atau penyampai segala pesan dan informasi.
4. Komunikasi interaktif (interactive communication) yang mencangkup diskusi, dialog, dan opini audiens.
5. Penanda (signposts) berperan memberikan petunjuk untuk memahami sebuah informasi.
6. Penyaring (filters) memiliki peran memilah fokus sebuah informasi pada khalayak.
7. Cermin (mirrors) berperan sebagai refleksi diri atas sesuai atau tidaknya informasi yang disampaikan.
8. Penghalang (barriers) berperan sebagai pembatas agar informasi yang disampaikan tidak melampaui garis system yang telah ditentukan.
Pertumbuhan teknologi yang semakin mutakhir dan dapat diaplikasikan dalam proses produksi film sebagai media akan memiliki kelebihan dalam menarik minat para khalayak pembuat atau hanya sekedar penikmat film. Kemunculan ragam film yang menonjolkan aspek sudut pandang mengenai seks serta kriminalitas membuat berbagai macam studi tentang komunikasi massa semakin intens dilakukan. Kelebihan film yang dapat diakses serta dinikmati dengan mudah oleh lapisan sosial menyebabkan banyak ahli menyimpulkan bahwa film memiliki potensi massif untuk berpengaruh di segala aspek kehidupan masyarakat luas (Sobur, 2009:127).
19 2.13 Pesan Moral dalam Film
2.13.1 Pengertian Pesan
Pesan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suruhan, perintah, nasihat, permintaan maaf yang harus disampaikan kepada orang lain. (Purwadaminto, 1986:883).
2.13.2 Pengertian Moral
Kata moral berasal dari bahasa Latin Mores. Mores berasal dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat, atau kelakuan. Oleh karena itu, moralitas dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan.
Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. Moral juga berarti ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan. (Hidayat, 2009:242).
Menurut istilah moral adalah suatu perbuatan yang menentukan batas sifat, pendapat, atau perbuatan yang secara layak benar, salah, baik maupun buruk. Istilah moral juga sering disamakan dengan pengertian akhlak, namun jika diteliti secara seksama antara keduanya memiliki segi perbedaan. Dari beberapa kata diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan, memuat ajaran tentang baik buruknya perbuatan. Jadi, perbuatan ini dinilai sebagai perbuatan yang baik atau perbuatan buruk. Penilaian itu menyangkut perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Memberikan penilaian atas perbuatan dapat disebut memberikan penilaian etis atau moral.
(Salam, 2002:2).
Orang-orang yang mempunyai kepekaan moral akan selalu menempatkan dirinya untuk selalu bersikap jujur, walaupun tidak ada orang lain yang sedang mengawasinya, perlakuan orang yang bermoral tidak akan pernah menyimpang dan selalu berpegang lurus pada nilai moral tersebut. Hal ini terjadi karena orang yang bermoral selalu melakukan tindakan atas kesadaran diri, bukan berdasar pada suatu paksaan. (Nata, 2000:92). Ada tiga kesadaran moral yaitu:
1. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Perasaan ini telah ada setiap hati nurani
20 manusia, siapa pun, dimana pun dan kapan pun.
Kewajiban tersebut tidak dapat ditawar-tawar karena sebagai kewajiban maka andaikata dalam pelaksanaan tidak dipatuhi berarti suatu pelanggan moral.
2. Kesadaran moral berwujud rasional dan objektif, merupakan suatu tindakan yang secara umum dapat diterima oleh khalayak, sebagai sesuatu yang objektif dan dapat diaplikasikan secara global, artinya selalu diterima, berlaku pada waktu dan tempat bagi tiap orang yang berada dalam situasi dan kondisi sejenis.
3. Kesadaran moral dapat juga berwujud kebebasan.
Berpegang pada kesadaran moral yang berlaku, seseorang bebas untuk menaatinya. Bebas saat menentukan perangainya dan di dalam penentuan tersebut sekaligus terpampang nilai moral individu itu sendiri.
(Nata,2000:93).
Nilai moral dalam cerita atau film biasanya dimaksudkan sebagai saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat cerita atau film yang bersangkutan oleh pembaca atau penonton yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti: sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. (Sartika , 2014:67).
Burhan Nurgiyantoro berpendapat bahwa sebagian besar masalah hidup tiap-tiap individu itu sejalan dengan norma yang ada seperti nilai budaya, nilai agama, nilai kepahlawanan dan nilai moral. Nilai moral itu sendiri menyangkut tentang persoalan hidup manusia yang terdiri dari 3 kategori yaitu:
1. Moral dalam relasi manusia dengan Tuhan. Menjadi sub;
bersyukur,ikhlas.
2. Moral dalam relasi manusia dengan diri sendiri. Menjadi sub; jujur,tanggung jawab,sabar, dan kerja keras.
21 3. Moral dalam relasi manusia dengan manusia lain dalam manusia lain dalam lingkup sosial. Menjadi sub; tolong menolong
2.14 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel 2.14.1 Definisi Konseptual
Definisi konseptual adalah penarikan Batasan yang menjelaskan suatu konsep secara singkat, jelas dan tegas, definisi konsep memiliki maksud untuk merumuskan banyak pengertian mendasar dan menyamakan persepsi tentang sebuah penelitian serta menghindari pengertian yang dapat menghamburkan tujuan dan maksud awal dari sebuah penelitian (Silalahi, 2009:12).
Dengan adanya masalah yang terdapat dalam penelitian ini, maka definisi konseptual ini yaitu pesan moral dalam film Orang Kaya Baru. Pesan Moral yang mana merupakan ide yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu.
Moral merupakan ajaran baik dan buruk perbuatan maupun perlakuan. Untuk memudahkan penelitian ini, maka ditetapkan struktur kategori pesan moral yang terdapat di dalam film Orang Kaya Baru sebagai berikut:
1. Moral dalam relasi manusia dengan Tuhan
Moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang beragama, selalu berhubungan dengan tuhan, sehingga ini yang menjadikan manusia selalu berhubungan dengan Tuhan.
2. Moral dalam relasi manusia dengan diri sendiri
Bahwa manusia ingin memperoleh yang terbaik dalam hidupnya dan ada keyakinan tersendiri tanpa harus melibatkan orang lain.
22 3. Moral dalam relasi manusia dengan manusia lain dalam
ruang lingkup sosial
Moral dalam relasi manusia dengan manusia lain memiliki maksud bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang memerlukan peranan orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Selain iu manusia juga merupakan makhluk individu yang memiliki ambisi pribadi untuk mencapai kepuasan diri dan kedamaian baik dengan cara berdampingan dengan manusia lainnya maupun ruang lingkup sosialnya.
Pesan moral dalam adegan film Orang Kaya Baru adalah fokus utama penelitian ini.
2.14.2 Operasional Variabel
Pesan moral yang terdapat dalam film Orang Kaya Baru yaitu dibagi menjadi 3 kategori :
1. Kategori moral dalam relasi manusia dengan Tuhan
Bersyukur adalah berterima kasih atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan.
Ikhlas adalah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan.
2. Kategori moral dalam relasi manusia dengan diri sendiri
Jujur adalah dapat dipercaya termasuk keterusterangan pada perilaku, dan beriringan dengan tidak adanya kebohongan dan penipuan.
Tanggung Jawab adalah berbuat sebagai perwujudan kesadaran dan kewajiban menanggung resiko dari apa yang diperbuat baik disengaja maupun tidak disengaja.
Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan dengan tidak mengeluh.
23
Kerja Keras adalah kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
3. Kategori moral dalam relasi manusia dengan manusia dalam ruang lingkup sosial.
Tolong Menolong adalah suatu sikap untuk saling menolong untuk meringankan beban satu sama lain.