BAB II KAJIAN PUSTAKA. penelitian memiliki persamaan atau relevan dengan penelitian ini. Adapun

Teks penuh

(1)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu akan menjelaskan mengenai beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dimana tema penelitian memiliki persamaan atau relevan dengan penelitian ini. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu :

Pertama, skripsi oleh Rahmad Hidayatulloh yang berjudul

“Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta dalam Mengatasi Masalah Perumahan dan Permukiman (Studi Tentang: Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni) tahun 2017. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan sejauh mana program yang diimplementasikan oleh pemerintah daerah Kabupaten Purwakarta dalam mencapai tujuan, mendeskripasikan apa saja usaha yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan yang sudah ditentukan dan memberikan gambaran mengenai persepsi masyarakat dalam pencapaian program kebijakan. Penelitian ini menggunakan metodelogi penelitian kualitatif dimana teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan, wawancara dan penyebaran kuesioner. Adapun hasil dari penelitian ini dimana peneliti menemukan bahwa Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak huni sudah berjalan cukup efektif di masyarakat. Meskipun implementasi dari program ini belum tepat sasaran akan tetapi tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin telah tercapai.

(2)

12

Kedua, jurnal oleh Tateki Yoga Tursilarini dan Trilaksmi Udiati yang berjudul “Dampak Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Bagi Kesejahteraan Sosial Keluarga Penerima Manfaat di Kabupaten Bangka”

tahun 2020. Di dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dampak program rumah tidak layak huni terhadap kesejahteraan sosial keluarga penerima manfaat dan mengetahui bagaimana peran pihak lainnya yang terlibat dalam program rumah tidak layak huni ini. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian evaluasi dimana teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan telaah dokumen. Penentuan sumber data dilakukan secara purposive dimana peneliti menentukan 50 keluarga penerima manfaat yang sesuai dengan kriteria sampel penelitian.

Adapun dalam analisis data, peneliti melakukan analisis data secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan yang pertama bantuan rumah tidak layak huni memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan sosial keluarga penerima manfaat dimana dilihat dari segi fisik bantuan ini membantu keluarga penerima manfaat dalam memperbaiki kondisi rumah menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Selain itu jika dilihat dari segi psikis , bantuan rumah tdak layak huni ini membantu keluarga penerima manfaat agar dapat memperbaiki kenyamanan dan keamanan rumah. Kemudian jika dilihat dari segi sosial, bantuan rumah tidak layak huni menciptakan semangat gotong royong dan kesetiakawanan keluarga penerima manfaat. Yang kedua, peran pihak lainnya yang terkait dalam bantuan rumah tidak layak huni ini yaitu

(3)

13

mengadakan sosialisasi, mendata dan melakukan verifikasi keluarga penerima manfaat, membantu dalam pembuatan proposal dan juga pelaporan dan melakukan monitoring dan evaluasi.

Ketiga, skripsi oleh Meltesa Rapita yang berjudul “Efektivitas Distribusi Bantuan Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RSRTLH) Pada Masyarakat di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan (Studi Prinsip Distribusi Dalam Ekonomi Islam) tahun 2019.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari distribusi bantuan rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni dan juga mengetahui efektivitas distribusi tersebur berdasarkan prinsip distribusi ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini yaitu menggunakan purposive sampling dimana teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara terstruktur dan kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian tujuan bantuan rumah tidak layak huni ini dinilai sudah efektif namun dari segi pencapaian target belum efektif karena sasaran bantuan rumah tidak layak huni belum tepat sasaran. Sementara itu, efektivitas distribusi bantuan rumah tidak layak huni berdasarkan prinsip Islam belum mencapai tujuan karena belum sesuai dengan prinsip distribusi ekonomi Islam.

Keempat, skripsi oleh Khusnul Khotimah yang berjudul “Analisis Program Bantuan Rumah Layak Huni Terhadap Pengentasan Kemiskinan di Kecamatan Mesuji dalam Perspektif Islam” tahun 2019. Penelitian ini

(4)

14

bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program rumah layak huni tersebut dan mengetahui bagaimana pengaruhnya dalam pengentasan kemiskinan di Kecamatan Mesuji. Selain itu, penelitian ini betujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi progam bantuan rumah layak huni ini dalam perspektif Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan penelitian ini yaitu menggunakan observasi, Wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa program bantuan rumah layak huni di Kecamatan Mesuji sudah berjalan dengan sesuai.

Kelima, skripsi oleh Nurul Huda yang berjudul “Implementasi Program Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Maos Kidul Kecamatan Maos Kidul Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap dalam Menanggulangi Kemiskinan” tahun 2020. Tujuan dari penelitian in untuk mengetahui bagaimana implementasi pemerintah desa dalam program pemugaran rumah tidak layak huni di Desa Maos Kidul Kecamatan Maos Kidul Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemiskinan yang terjadi akibat dari beberapa faktor di antaranya yaitu rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, sulitnya mencari lapangan pekerjaan dan orang yang berkebutuhan khusus yang tidak bisa bekerja untuk pemenuhan kehidupannya sehari-hari. Karena berbagai permasalahan tersebut masyarakat di Desa Maos Kidul tidak bisa memenuhi

(5)

15

kebutuhannya akan rumah yang layak maka dari itu untu memenuhi hal tersebut pemerintah desa memberikan bantuan program pemugaran rumah layak huni dimana hasil dari program pemugaran rumah layak huni ini menunjukkan hasil yang cukup baik dan proses berjalannya program ini berjalan hingga selesai dikarenakan tahap evaluasinya cukup baik.

Berdasarkan pada paparan penelitian terdahulu, persamaan dan perbedaan dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini :

Tabel 2. 1

Persamaan dan Perbedaan Dengan Penelitian Terdahulu

No Nama Tahun Judul Persamaan Perbedaan

1. Rahmad Hidayatullo h (Skripsi)

2017 Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta dalam Mengatasi Masalah Perumahan dan

Permukiman (Studi Tentang:

Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni)

Pendekatan penelitian sama-sama menggunaka n pendekatan kualitatif dan sama-sama meneliti tentang program rehabilitasi rumah tidak layak huni

Di dalam penelitian ini lebih

berfokus kepada mendeskripsi kan

implementasi program sedangkan peneliti dalam rumusan masalah membahas bentuk dan implementasi serta faktor pendukung dan

penghambat implementasi program 2. Tateki Yoga

Tursilarini dan Trilaksmi

2020 Dampak Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Bagi

Sama-sama meneliti tentang rumah tidak layak huni.

Di dalam penelitian menggunaka n metode campuran

(6)

16 Udiati

(Jurnal)

Kesejahteraa n Sosial Keluarga Penerima Manfaat di Kabupaten Bangka

yang mana analisis data menggunaka n pendekatan kuantiatif dan kualitatif dengan jenis penelitian evaluasi Sedangkan peneliti menggunaka n pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif 3. Meltesa

Rapita (Skripsi)

2019 Efektivitas Distribusi Bantuan Rehabilitasi Sosial

Rumah Tidak Layak Huni (RSRTLH) Pada Masyarakat di

Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan (Studi Prinsip Distribusi Dalam Ekonomi Islam)

Sama-sama menggunak an

pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.

Selain itu sama sama membahas mengenai rehabilitasi rumah tidak layak huni

Di dalam rumusan masalah penelitian membahas efektivitas distribusi bantuan RSRTLH dan efektivitas distribusi dalam prinsip ekonomi Islam sedangkan peneliti berfokus pada bentuk dan implementasi program serta faktor

penghambat dan

pendukung dalam

implementasi program.

(7)

17 4. Khusnul

Khotimah (Skripsi)

2019 Analisis Program Bantuan Rumah Layak Huni Terhadap Pengentasan Kemiskinan di

Kecamatan Mesuji dalam Perspektif Islam

Sama-sama menggunak an

pendekatan kualitatif.

Sama-sama membahas program bantuan rumah layak huni.

Rumusan masalah pada penelitian berfokus pada ingin

mengetahui implementasi dan

pengaruhnya terhadap pengentasan kemiskinan dan

implementasi program dalam perspektif Islam.

Sedangkan dalam rumusan masalah peneliti ingin mengetahui bentuk dan implementasi program serta faktor

penghambat dan

pendukung dalam

implementasi 5. Nurul Huda

(Skripsi)

2020 Implementasi Program Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Maos Kidul

Kecamatan Maos Kidul Kecamatan Maos Kabupaten

Sama-sama menggunak an

pendekatan kualitatif.

Sama-sama membahas program bantuan rumah layak huni.

Di dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi pemerintah desa dalam program.

Sedangkan peneliti ingin mengetahui

(8)

18 Cilacap dalam Menanggula ngi

Kemiskinan

bentuk dan implementasi program serta faktor

pendukung dan

penghambat dalam

implementasi Sumber: Diolah Peneliti (2020)

B. Kebijakan

1. Pengertian Kebijakan

Anderson (Muhadjir, 2000) menyatakan bahwa kebijakan ialah sebuah metode atau tindakan yang sengaja dilakukan oleh seorang aktor ataupun sekumpulan aktor berkenaan dengan masalah yang ada dan bagaimana tindakan terhadap masalah tersebut. Sedangkan menurut Carl Friedrich (Abdoellah & Rusfiana , 2016) menyatakan bahwa kebijakan ialah suatu langkah yang bertujuan atau mengarah pada suatu hal yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah sehubungan dengan suatu kondisi permasalahan dan upaya penyelesaian masalah sesuai dengan sasaran yang tepat.

Menurut Muhadjir (2000) kebijakan ialah suatu tindakan untuk memecahkan permasalahan sosial untuk kepentingan masyarakat berdasarkan asas keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya Muhadjir (2013) juga menjelaskan bahwa kebijakan bisa dibagi atau dibedakan menjadi dua yaitu kebijakan subtantif dan kebijakan implementatif. Kebijakan subtantif merupakan sebuah keputusan yang

(9)

19

dipilih yang dianggap tepat untuk menangani problematika permasalahan. Sedangkan kebijakan implementatif ialah sebuah tindakan yang harus dilakukan hasil dari keputusan-keputusan dari kebijakan subtantif. Selain itu, pengertian lain dari kebijakan ialah hasil dari sinergi dan kompromi dari berbagai gagasan, teori, ideologi dan kepentingan-kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara (Suharto, 2007).

Dari beberapa pengertian kebijakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan merupakan langkah untuk mengambil sebuah keputusan dengan menyesuaikan permasalahan yang timbul atau permasalahan yang ada dengan berbagai alternatif keputusan yang mana keputusan tersebut nantinya akan diwujudkan menjadi sebuah tindakan atau langkah nyata untuk penanganan sebuah permasalahan dalam suatu masyarakat atau dalam sebuah negara.

2. Pengertian Kebijakan Sosial

Kebijakan Sosial dalam kata bahasa Inggris “policy” yang kemudian dibedakan dengan kata “wisdom” yang berarti

“kebijaksanaan” atau “kearifan”. Kebijakan sosial terdiri dari dua kata yang memiliki banyak makna yakni kata “kebijakan” dan kata “sosial”

(Kumala, 2017). Kebijakan sosial ialah salah satu bentuk dari kebijakan publik. Kebijakan sosial merupakan ketetapan pemerintah yang dibuat untuk merespon isu-isu publik, yakni mengatasi masalah sosial atau memenuhi kebutuhan masyarakat banyak (Suharto,2007).

(10)

20

Selain itu, menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (Suharto,2007) menyatakan bahwa kebijakan sosial merujuk pada apa yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pemberian beragam tunjangan pendapatan, pelayanan kemasyarakatan dan program-program lainnya.

Kebijakan sosial sebagai suatu kebijakan publik di bidang kesejahteraan sosial, kebijakan sosial menunjuk pada seperangkat kewajiban negara untuk melindungi dan memberikan pelayanan dasar terhadap warganya (Suharto, 2007).

Secara garis besar, kebijakan sosial akan diwujudkan dalam tiga kategori yakni perundang-undangan, program pelayanan sosial dan sistem perpajakan. Maka berdasarkan kategori ini dapat dinyatakan bahwa setiap perundang-undangan, hukum atau peraturan daerah yang menyangkut masalah dan kehidupan sosial adalah wujud dari kebijakan sosial. Tetapi, tidak semua kebijakan sosial diwujudkan dalam bentuk perundang-undangan (Kurniawan,dkk,2015).

Dari beberapa pengertian kebijakan sosial di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan sosial ialah sebuah aturan yang diputuskan atau dibuat oleh pemerintah yang nantinya akan bisa berwujud dalam undang-undang, aturan daerah ataupun program yang mana dalam perumusan kebijakannya, kebijakan sosial membahas terkait isu-isu masalah sosial atau dengan kata lain kebijakan yang dikhususkan dalam bidang kesejahteraan sosial.

(11)

21 3. Model Kebijakan Sosial

Dalam kebijakan sosial terdapat model-model kebijakan sosial yang mana tujuannya agar memudahkan dalam menjelaskan proses, karakteristik, mekanisme serta menentukan strategi-strategi kebijakan sosial. Berikut model-model kebijakan sosial disajikan dalam tabel 2.2 berikut ini:

Tabel 2. 2

Model-Model Kebijakan Sosial

Indikator Model Pengertian

Pelaksanaan Imperatif Kebijakan sosial terpusat, yakni seluruh tujuan-tujuan sosial, jenis,sumber dan jumlah pelayanan sosial seluruhnya ditentukan oleh pemerintah.

Indikatif Kebijakan sosial yang mengupayakan kesamaan visi dan aspirasi seluruh masyarakat.

Pemerintah biasanya hanya menentukan sasaran kebijakan secara garis besar, sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat atau institusi non- pemerintah.

Cakupan Universal Kebijakan sosial yang diarahkan untuk mengatur dan memenuhi kebutuhan pelayanan sosial warga masyarakat secara menyeluruh tanpa membedakan usia, jenis kelamin dan status sosial.

Selektivitas Kebijakan sosial yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sosial warga masyarakat tertentu saja.

Keberlanjutan Residual Kebijakan sosial hanya diperlukan apabila lembaga-lembaga alamiah (keluarga) yang karena sesuatu sebab tidak dapat menjalankan peranannya.

(12)

22

Institusional Kebijakan sosial tanpa mempertimbangkan berfungsi atau tidak lembaga-lembaga alamiah.

Sasaran Kategorikal Kebijakan sosial yang hanya difokuskan mengatasi suatu permasalahan sosial berdasarkan sektor permasalahan tertentu (spesifik dan parsial)

Komprehensif Kebijakan sosial yang memfokuskan tidak hanya pada satu bidang tertentu melainkan bidang-bidang lain yang terkait dengannya dan dirumuskan dalam satu formulasi kebijakan sosial terpadu.

Sumber: Suharto, Edi (2010) , Diolah kembali

C. Program Rumah Sejahtera (PRS)

1. Pengertian Program Rumah Sejahtera (PRS)

Program Rumah Sejahtera (PRS) ialah program pemerintah daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Program Rumah Sejahtera (PRS) diperuntukkan untuk masyarakat kurang mampu yang tinggal dirumah tidak layak huni. Definisi lain dari Program Rumah Sejahtera (PRS) ialah bantuan daerah kepala keluarga (masyarakat) dalam bentuk uang yang digunakan untuk merehabilitasi rumah tidak layak huni.

Tujuan utama dari Program Rumah Sejahtera ini yaitu untuk memberikan pelayanan khusus terhadap masyarakat dengan memperbaiki kondisi rumah tidak layak menjadi layak agar dapat mendorong terciptanya kesejahteraan rumah tangga penerima bantuan.

Adapun landasan yuridis pelaksanaan Program Rumah Sejahtera (PRS) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yaitu :

(13)

23

a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 (2), Pasal 33, dan Pasal 34 b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan

Permukiman

c. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial

d. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1981 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Fakir Miskin

e. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan

f. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengaduan Barang/Jasa

g. Keputusan Menteri Sosial Nomor 84/HUK/1997 tentang Pelaksanan Pemberian Bantuan Sosial bagi Keluarga Fakir Miskin

h. Keputusan Menteri Sosial Nomor 19/HUK/1998 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin yang diselenggarakan Oleh Masyarakat

i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dair Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

j. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Hulu Sungai Selatan

k. Peraturan Bupati Nomor 0172 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan Bantuan Keuangan

(14)

24

l. Peraturan Bupati Nomor 25 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan Daerah Secara Terpadu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Berita Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tahun 2015 Nomor 26)

m. Peraturan Bupati Hulu Sungai Selatan Nomor 32 tahun 2016 tentang Pelayanan Paripurna kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Dinas Sosial Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 2020).

2. Pengertian Rumah Tidak Layak Huni

Menurut Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017, Rumah tidak layak huni atau sering disingkat dengan Rutilahu ialah tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan, keamanan dan sosial. Syarat kesehatan yang dimaksud misalnya tidak mencukupi kecukupan pencahayaan, yang mana pencahayaan dimaksud ialah pencahayaan alami dari sinar matahari. Lalu syarat kesehatan lainnya yang tidak terpenuhi oleh rumah tidak layak huni yaitu penghawaan, yang mana penghawaan dimaksud ialah kenyamanan dan kesegaran udara di dalam ruangan rumah diperoleh dari cara penghawaan alami maka tidak jarang rumah tidak layak huni biasanya tidak memiliki ventilasi yang memadai. Syarat keamanan yang tidak terpenuhi oleh rumah tidak layak huni yaitu bagian-bagian struktur pokok rumah tidak memenuhi syarat keamanan dan

(15)

25

keselamatan misalnya bagian pondasi, dinding, kerangka bangunan dan atap (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2016).

Rumah tidak layak huni merupakan kebalikan dari rumah layak huni yang mana rumah tidak layak huni ialah rumah yang tidak memenuhi persyaratan rumah layak huni dimana konstruksi bangunan tidak memadai, luas tidak sesuai dengan standar jumlah orang yang ada di rumah dan kondisi rumah tidak sehat bagi penghuninya atau bahkan membahayakan penghuninya (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat , 2016). Adapun dari beberapa pengertian rumah tidak layak huni di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar rumah tidak layak huni dihuni oleh masyarakat yang kurang mampu dalam hal ekonomi sehingga masyarakat tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan rumah yang layak yang sesuai dengan standar kesehatan, keamanan dan keselamatan serta sosial.

3. Indikator Rumah Tidak Layak Huni

Agar mudah dalam menentukan rumah masuk dalam kategori tidak layak huni maka lembaga ataupun instansi menyusun dan menentukan apa saja kriteria atau indikator rumah tidak layak huni.

Adapun indikator rumah tidak layak huni menurut lembaga atau departemen , instansi dan lainnya yaitu :

a. Indikator RTLH Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang di kutip oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam Modul Pendataan Rumah Tidak Layak Huni, yakni:

(16)

26

1) Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m² per orang.

2) Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.

3) Jenis dinding kayu yang berkualitas rendah, terbuat dari bambu/rumbia dan tembok yang belum diplester.

4) Jenis atap terbuat dari genteng tanah kualitas rendah, bambu atau rumbia dan terbuat alang-alang.

5) Rumah tidak memiliki fasilitas untuk buang air besar atau fasilitas buang air besar menumpang dengan rumah tangga lain.

6) Rumah tidak menggunakan listrik sebagai sumber penerangan.

7) Air minum rumah tangga berasal dari sumber air seperti sumur, sungai, air hujan atau mata air tidak terlindung.

b. Indikator RTLH menurut Departemen Sosial yang dikutip oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam Modul Pendataan Rumah Tidak Layak Huni, yakni:

1) Rumah tidak permanen atau rusak.

2) Dinding dan atap rumah terbuat dari bahan yang mudah rusak atau lapuk misalnya saja papan, ilalang, bambu yang dianyam dan sebagainya.

(17)

27

3) Dinding dan atap rumah yang sudah rusak sehingga akan membahayakan keselamatan penghuni rumah.

4) Lantai yang terbuat dari tanah atau semen dalam kondisi rusak.

5) Mengutamakan rumah yang tidak memiliki fasilitas MCK (mandi, cuci dan kakus).

D. Konsep Kesejahteraan

1. Pengertian Kesejahteraan

Konsep kesejahteraan sosial menurut Friedlander (Fahrudin, 2012) yaitu sebuah sistem yang terdiri dari berbagai pelayanan sosial dan sebuah institusi yang dibentuk dengan tujuan membantu individu dan kelompok agar mencapai standar hidup dan kesehatan yang layak dan memiliki relasi baik personal ataupun sosial agar dengan relasi tersebut mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sesuai dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. Selain itu Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB juga memberikan pengertian tentang kesejahteraan sosial, dimana kesejahteraan sosial merupakan sebuah kegiatan yang terorganisasi guna membantu penyesuaian timbal balik antara individu dengan lingkungan sosial (Fahrudin, 2012).

Menurut Fahrudin (2012) kesejahteraan sosial ialah sebuah kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara layak dan memadai lalu dapat berelasi dengan lingkungan

(18)

28

disekitarnya sehingga seseorang tersebut terhindar dari kebodohan, kemiskinan, ketakutan dan kekhawatiran serta hidupnya aman dan tentram, baik lahir maupun batin. Sementara itu, menurut Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial menyatakan bahwa kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Kebutuhan material dapat diartikan seperti kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Kemudian kebutuhan spritual bisa dimaknai seperti kebutuhan akan keamanan dan ketentraman, agama dan kepercayaan. Sedangkan sosial dapat diartikan sebaga kebutuhan untuk melakukan relasi dan interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Dari beberapa pengertian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kesejahteraan adalah sebuah kondisi yang harus dicapai setiap individu atau masyarakat agar kualitas hidup mereka lebih baik dan terjamin melalui pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhannya seperti kebutuhan material, spritual dan sosial sehingga mereka terhindar dari segala macam kemiskinan, kebodohan dan keterlantaran. Dengan kata lain, kesejahteraan sebuah gambaran dimana individu atau kelompok bisa mengembangkan diri, memenuhi kebutuhannya dan berfungsi secara sosial.

(19)

29 2. Indikator Kesejahteraan

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ada tujuh indikator untuk mengukur kesejahteraan sosial , yaitu :

a. Kependudukan, dimana besarnya jumlah penduduk harus seimbang dengan kualitas sumber daya manusia dan laju pertumbuhan harus dikendalikan agar tidak terjadi ledakan penduduk serta persebaran penduduk harus merata agar tidak terjadi kepadatan penduduk.

b. Kesehatan, dimana sudah menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kualitas kesehatan yang baik misalnya penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai.

c. Pendidikan, sudah menjadi hak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu. Beberapa hal yang diperhatikan yaitu angka melek huruf dan angka partisipasi sekolah.

d. Ketenagakerjaan, dapat dilihat dari partisipasti kerja dan kesempatan kerja.

e. Taraf dan pola konsumsi, yaitu terkait dengan pemasukan atau pendapatan dengan pengeluarkan rumah tangga.

f. Perumahan dan lingkungan, yaitu terkait dengan kelayakan rumah tinggal serta fasilitas rumah tinggal dan kondisi kebersihan lingkungan.

g. Sosial lainnya yaitu seperti jaminan sosial dan kesehatan seperti akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi (BPS, 2016).

(20)

30

Sedangkan menurut Kolle (Bintarto, 1989) , ada beberapa aspek kehidupan yang dapat mengukur kesejahteraan pada umumnya, yaitu:

a. Dilihat dari kualitas hidup yang dapat dilihat dari segi materi yaitu seperti ukuran kualitas rumah, kecukupan pangan dan lainnya.

b. Dilihat dari kualitas hidup yang dapat dilihat dari segi fisik yaitu kondisi kesehatan, terkait lingkungan alam dan lainnya.

c. Dilihat dari kualitas hidup yang dapat dilihat dari segi mental, yaitu seperti fasilitas pendidikan, lingkungan budaya dan lainnya.

d. Dilihat dari kualitas hidup yang dapat dilihat dari segi spritual, yaitu seperti etika dan moral, agama dan kepercayaan dan lainnya (Rosni, 2017).

3. Tujuan Kesejahteraan

Menurut Fahrudin (2012) kesejahteraan sosial mempunyai tujuan yakni:

a. Untuk terciptanya sebuah kehidupan yang sejahtera yang dapat diartikan dengan tercapainya standar kehidupan pokok seperti kebutuhan akan sandang dan pangan, kebutuhan akan perumahan, kesehatan dan relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.

b. Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik terkhusus dengan lingkungan dan masyarakat seperti mencari dan menggali dari berbagai sumber untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas hidup yang memuaskan.

(21)

31

Selain itu, Schneiderman (1972) menyatakan tiga tujuan utama dalam sistem kesejahteraan sosial yang sampai tingkat tertentu tercermin dalam semua program kesejahteraan sosial, yaitu pemeliharaan sistem, pengawasan sistem dan perubahan sistem.

E. Kemiskinan

1. Pengertian Kemiskinan

Soekanto (2012) mengartikan kemiskinan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan. Dalam pandangan Suparlan (Annur, 2013) menyatakan bahwa kemiskinan merupakan standar taraf hidup rendah yang dimiliki individu atau masyarakat dimana memiliki tingkat kekurangan dalam hal materi jika dibandingkan dengan standar taraf kehidupan secara umum yang berlaku dalam suatu masyarakat dan standar kehidupan yang rendah yang dimiliki oleh masyarakat ini pengaruhnya dapat dilihat secara langsung seperti tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moralnya dan kondisi harga diri masyarakat yang dikatakan tergolong sebagai orang miskin.

Badan Pusat Statistik (Purwanto, 2007) mendefinisikan kemiskinan didasarkan pada garis kemiskinan (poverty line)) dimana nilai garis kemiskinan yang dipakai dalam menentukan kemiskinan mengacu kepada kebutuhan minimum yang diperlukan seseorang yaitu 2100 kalori per kapita per hari dan ditambah dengan kebutuhan minimum

(22)

32

non makan seperti kebutuhan dasar individu meliputi : papan, sandang, sekolah, transportasi serta kebutuhan rumah tangga dan individu yang mendasarinya. Menurut BPS, individu atau keluarga yang pengeluarannya lebih rendah dari garis kemiskinan maka individu atau keluarga tersebut termasuk dalam kategori miskin. Sedangkan menurut Bappenas (Purwanto, 2007) kemiskinan adalah sebuah kondisi dimana individu atau kelompok yang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahakan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat dimana hak-hak dasar manusia tersebut meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya yang harus terpenuhi.

Dari beberapa pengertian kemiskinan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kemiskinan adalah sebuah keadaan atau kondisi seseorang atau sekelompok orang yang tidak bisa ataupun tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang seharusnya memang menjadi hak dasarnya yang mana kebutuhan tersebut tidak terpenuhi karena kondisi seseorang atau kelompok yang memprihatinkan seperti tidak memiliki pekerjaan sehingga tidak memiliki penghasilan, ketidakcukupan penghasilan dari pekerjaan yang digelutinya dan berbagai penyebab lainnya yang membuat seseorang atau kelompok tersebut berada dalam kategori miskin.

(23)

33 2. Kriteria Masyarakat Miskin

Menurut BPS (Sitepu, 2012) terdapat beberapa kriteria dalam menentukan masyarakat miskin, yaitu :

a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m² per orang.

b. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.

c. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa plester.

d. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.

e. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

f. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan.

g. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.

h. Hanya mengkonsumsi daging/ayam/susu satu kali dalam seminggu.

i. Hanya membeli satu sel pakaian baru dalam setahun.

j. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.

k. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas/Poliklinik.

l. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0.5 ha, buruh tani, nelayan, buruh perkebunan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp.600.000/per bulan.

(24)

34

m. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga; tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.

n. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp.

500.000,- seperti: sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor atau barang modal lainnya.

Sedangkan kriteria fakir miskin dan orang tidak mampu yang mengacu kepada Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia, Nomor 146/HUK//2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu, yaitu:

a. Tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.

b. Mempunyai pengeluaran sebagian besar digunakan untuk memenuhi konsumsi makanan pokok dengan sangat sederhana.

c. Tidak mampun atau mengalami kesulitan untuk berobat ke tenaga medis, kecuali Puskesmas atau yang disubsidi pemerintah.

d. Tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun untuk setiap anggota rumah tangga.

e. Mempunyai kemampuan hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

f. Mempunyai dinding rumah terbuat dari bambu/kayu/tembok dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah, termasuk tembok yang sudah

(25)

35

usang/berlumut atau kayu/semen/keramik dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.

g. Kondisi lantai terbuat dari tanah atau kayu/semen/keramik dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.

h. Atap terbuat dari ijuk/rumbia atau genteng/seng/asbes dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.

i. Mempunyai penerangan bangunan tempat tinggal bukan listrik atau listrik tanpa meteran.

j. Luas lantai rumah kecil kurang dari 8 m²/orang.

k. Mempunyai sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tak terlindung/air sungai/air hujan/lainnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :