Menelisik Kinerja Industri dan Perdagangan Mamin dan
TPT
Daftar Isi
Dari Redaksi
Berita Pendek Perdagangan Serba - Serbi
Statistik Perdagangan Pusdatin
Halaman 27 Halaman 31
Halaman 34
Hal. 2
Hal. 15
Hal. 7
Peluang Ekspor Pisang Cavendish dan Peran Kebijakan Pengamanan
Perdagangan
Perizinan Impor Telepon Seluler, Handheld dan Komputer Tablet:
Kompleksitas dan Usulan Perbaikan
Salah satu kebijakan yang sempat menimbulkan kontroversi terkait dengan iklim usaha di Indonesia adalah Peraturan Menteri Perdagangan No. 82/M-DAG/PER/12/2012 mengenai Impor Telepon Seluler, Handheld dan Komputer Tablet. Regulasi ini diterbitkan dengan tujuan untuk mengendalikan penjualan produk ilegal ponsel dan untuk melindungi industri lokal. Sayangnya penerapan peraturan tersebut telah menimbulkan hambatan yang signifikan bagi importir ponsel dan tablet karena persyaratan peraturan dan beberapa perizinan yang tumpang tindih.
Hal. 20
Potensi Perdagangan Kawasan Maghribi
Meskipun volume perdagangan Arab Maghreb Union (AMU) ke dunia belum mencapai 1% dari total perdagangan dunia, Indonesia tetap melihat AMU sebagai mitra dagang yang prospektif di masa depan. Produk yang menjadi andalan ekspor Indonesia ke AMU antara lain CPO dan produk turunannya, kopi, kulkas, produk kayu, dan mobil.
Sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional yang mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi industri pengolahan non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional menunjukkan fluktuasi. Pada tahun 2015, industri non migas yang mampu memberikan kontribusi cukup singinifikan terhadap PDB adalah Industri Makanan dan Minuman (Mamin) dengan kontribusi sebesar 5,61% dan Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebesar 1,21%.
Di tengah arus deras integrasi ekonomi (globalisasi) yang demikian menyihir, tiba-tiba United Kingdom (UK) melakukan referendum dengan hasil UK keluar dari EU atau lebih dikenal dengan British Exit (Brexit). Berbagai dampak Brexit terutama yang berkaitan dengan perdagangan, investasi, finansial, dan yang paling dikhawatirkan adalah ketidakpastian yang berkepanjangan, akan berdampak negatif pada ekonomi dunia. Lalu, bagaimana dengan Indonesia dan apa pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini?
Hal. 11
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan berbagai kekayaan alam dan kekayaan hayati, maka Indonesia memiliki banyak sekali komoditas atau produk yang potensial untuk dilindungi melalui Indikasi Geografis. Sayangnya, Indikasi Geografis masih belum dipahami sebagai sebuah nilai ekonomis yang dapat dijadikan nilai lebih dalam dunia perdagangan internasional.
Pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis
Untuk Pengembangan Potensi Daerah di Indonesia
Salah satu jenis pisang unggulan hasil produksi usaha tani Indonesia adalah Pisang Cavendish, yang banyak diminati dan dikonsumsi oleh masyarakat dunia.
Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas importasi Pisang Cavendish dari Filipina yang telah berlaku sejak tahun 2006 juga turut membuka peluang ekspor Pisang Indonesia.
Ekspor Pisang Indonesia pada tahun 2014 tercatat sebesar USD 16 juta, mengalami peningkatan yang signifikan atau mengalami pertumbuhan sebesar 444% dibandingkan tahun sebelumnya.
Belajar dari Brexit
Hal. 24
Hasni
Potensi Perdagangan Kawasan
Negara-negara Maghribi adalah negara-negara yang berada di sebagian besar wilayah barat Afrika Utara atau barat Laut Afrika.
Awalnya, wilayah negara Maghribi merupakan Pegunungan Atlas dan dataran pesisir yang terdiri dari negara Maroko, Aljazair, Tunisia, Mauritania dan Libya. Kemudian pada 17 Februari 1989 dibentuk Arab Maghreb Union (AMU) melalui Perjanjian Marrakech dengan tujuan mempererat hubungan persaudaraan sesama negara anggota, merealisasikan kemajuan komunitas, dan melindungi hak mereka, pencapaian kemajuan dari pergerakan bebas orang, jasa, barang dan modal antar negara anggota, dan mengadopsi kebijakan umum di semua bidang. Pada bidang ekonomi, kebijakan umum AMU bertujuan untuk menjamin industri, pertanian, perdagangan, dan pembangunan masyarakat negara anggota AMU berjalan dengan lancar (Worldbank, 2010).
Pada tahun 2012, negara-negara Maghribi (AMU) menghadapi permasalahan terkait dengan krisis ekonomi yang melanda benua Eropa, karena negara-negara yang berada di kawasan Eropa merupakan mitra dagang utama Maghribi. Sebagai dampak krisis ekonomi Eropa, perdagangan antara negara Maghribi dengan Eropa turun 6,6% di tahun 2013. Setelah 27 tahun perjanjian AMU ditandatangani, pangsa perdagangan kelima negara anggota AMU tidak lebih dari 1% terhadap total perdagangan dunia. Pada tahun 2015 perdagangan AMU memiliki pangsa sebesar 0,60%
dari total perdagangan dunia, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 0,74%. Nilai perdagangan negara Maghribi yang rendah ini tidak merefleksikan komplementaritas ekonomi sumber daya alam yang dimiliki. Bank Dunia mencatat bila penurunan perdagangan negara Maghribi di dunia berlanjut terus, kawasan itu akan kehilangan 200 ribu tenaga kerja setiap tahun. Saat ini di Aljazair, Libya, Tunisia, Maroko dan Mauritania masing-masing terjadi tingkat pengangguran 15,4%; 17,7%; 15,4%; 10,6% dan 21,1% per tahun (Tradingeconomics, 2014).
Di antara lima negara anggota AMU, Aljazair merupakan negara dengan pendapatan per kapita tertinggi yakni mencapai
Libia Tunisia Algeria Morocco
Mauritania
Gambar 1. Peta Negara Anggota AMU.
Sumber: MoroccoWorldNews (2014)
USD 5.523 per tahun, sementara pendapatan per kapita Libya, Tunisia, Maroko dan Mauritania masing-masing sebesar USD 4.885, USD 4.373, USD 3.107 dan USD 1.254 per tahun. Selain itu, Aljazair juga memiliki populasi penduduk terbanyak yakni mencapai sekitar 37,9 juta jiwa. Hal ini menjadi indikasi bahwa Aljazair merupakan negara yang paling baik kondisi ekonominya dibandingkan empat negara Maghribi lainnya, di mana Maroko, Tunisia, Libya dan Mauritania masing-masing memiliki penduduk sebesar 32,9 juta jiwa, 10,9 juta jiwa, 6,1 juta jiwa dan 3,7 juta jiwa. Demikian juga dengan nilai perdagangan, Aljazair mempunyai nilai total perdagangan yang paling besar di kawasan AMU yaitu sebesar 45% dari total perdagangan AMU. Namun demikian,
ISU PERDAGANGAN
Aljazair masih belum resmi menjadi negara anggota WTO dan masih berstatus sebagai negara observer di WTO hingga akhir 2015 (Statistik WTO, 2014).
Meskipun perjanjian AMU sudah ditandatangani 27 tahun yang lalu, pangsa total volume perdagangan AMU ke dunia belum pernah lebih dari 1%. Hal ini mengindikasikan AMU sebagai salah satu kerjasama regional yang kurang berkembang sebagai kawasan perdagangan. Terbentuknya AMU selama lebih dari dua dekade lalu belum mampu meningkatkan perdagangan mereka dengan negara di kawasan lain dan sebagian besar perdagangan negara-negara Maghribi masih dilakukan dengan Uni Eropa.
Pada tahun 2007, total perdagangan antar negara Maghribi (intra trade) kurang dari 2% Produk Domestik Bruto (PDB) AMU dan kurang dari 3% dari total perdagangan AMU dengan dunia.
Beberapa alasan rendahnya kinerja perdagangan ini diantaranya adalah adanya hambatan perdagangan yang tinggi, kemacetan logistik, kurangnya produksi, dan permasalahan politik. Fokus pada liberalisasi perdagangan dengan Uni Eropa (UE) memberikan kesempatan bagi negara-negara Maghribi untuk membuat kebijakan yang akhirnya akan membantu mereka menyelaraskan kebijakan dalam wilayah AMU sendiri (World Bank, 2010).
Kinerja Perdagangan Negara Maghribi dengan Dunia
Pada tahun 2014 nilai total ekspor dari AMU ke dunia mencapai lebih dari USD 125 juta dengan pertumbuhan rata-rata per tahun selama periode 2010-2014 meningkat sebesar 0,67%.
Dari sepuluh negara tujuan utama ekspor AMU, enam negara di antaranya adalah negara yang berada di kawasan Uni Eropa dengan pangsa ekspor AMU ke keenam negara tersebut mencapai 60%. Hal ini mengindikasikan ketergantungan AMU masih besar terhadap negara-negara Eropa (Tabel 1).
Tabel 1. Negara-Negara Tujuan Ekspor Maghribi (USD Juta)
Sumber: Trade Map (2015), diolah
Sementara itu, nilai ekspor AMU ke Indonesia pada tahun 2014 mencapai USD 620 juta dengan pangsa mencapai 0,49%
dan rata-rata pertumbuhan per tahun pada periode 2010-2014 sebesar 18,42%. Angka pertumbuhan ekspor rata-rata AMU ke Indonesia jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor AMU ke dunia. Ini merupakan indikasi bahwa AMU sedang bergiat mengembangkan potensi ekspornya ke Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia juga harus memanfaatkan kondisi ini untuk terus meningkatkan ekspor ke AMU, baik dari sisi nilai maupun keragaman produk ekspor.
Nilai impor AMU dari dunia juga terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,64% per tahun. Tidak berbeda dengan ekspor, dari sepuluh negara asal utama impor AMU, empat negara di antaranya berada di kawasan Uni Eropa dengan pangsa impor AMU dari keempat negara tersebut mencapai 37%. Dari sepuluh negara asal impor utama Maghribi, Aljazair merupakan negara dengan peningkatan pertumbuhan impor Maghribi terbesar, yaitu mencapai 19,05% per tahun pada periode 2010-2014 (Tabel 2).
Tren Pangsa
No Negara Importir 2010 2014 2010-2014 2014
(%) (%)
Dunia 128.408 125.667 0,67 100,00
1 Perancis 18.161 19.816 2,17 15,77 2 Italia 28.261 18.417 -7,01 14,66 3 Spanyol 13.025 16.633 8,35 13,24
4 Belanda 6.254 7.714 6,64 6,14
5 Inggris 3.021 7.290 29,29 5,80
6 Amerika Serikat 15.802 6.455 -21,35 5,14
7 Jerman 3.261 5.600 16,00 4,46
8 Brazil 3.399 3.949 2,71 3,14
9 RRT 5.011 3.827 -4,46 3,05
10 Turki 3.454 3.660 2,46 2,91
26 Indonesia 324 620 18,42 0,49
URAIAN Nilai : USD Juta Jan-Apr Jan-Apr Perub.(%) Tren (%) 2011 2012 2013 2014 2015 2015 2016 2016/15 2011-2014
Tabel 2. Negara-Negara Asal Impor Maghribi (USD Juta)
Sumber: Trade Map (2015), diolah
Sementara itu, pangsa impor AMU dari Indonesia pada tahun 2014 mencapai 0,33% dengan rata-rata pertumbuhan per tahun pada periode 2010-2014 sebesar 5,09% (Tabel 2). Pertumbuhan positif ini merupakan suatu peluang yang sangat baik bagi Indonesia untuk menjadikan AMU sebagai pasar ekspor potensial, dan peluang tersebut harus bisa dimanfaatkan oleh dunia industri di Indonesia yang bisa dimulai melalui berbagai pameran dan promosi produk ekspor Indonesia ke AMU.
Kinerja Perdagangan Indonesia dengan Negara Maghribi Meskipun volume perdagangan AMU ke dunia belum mencapai 1% dari total perdagangan dunia, Indonesia tetap melihat AMU sebagai mitra dagang yang prospektif di masa depan. Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan negara-negara anggota AMU sejak lama, bahkan Indonesia adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan salah satu negara AMU, Maroko. Kinerja perdagangan antara Indonesia dengan AMU dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Neraca Perdagangan Indonesia – AMU (USD Juta)
Sumber: BPS (2015), diolah
Total perdagangan antara Indonesia dan AMU menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang positif, di mana selama periode 2011–2014 mengalami tren positif sebesar 6,8% per tahun. Dari sisi neraca non migas, perdagangan Indonesia–AMU pada periode yang sama selalu surplus dengan tren positif sebesar 7,6% pertahun. Meskipun demikian, kinerja neraca migas masih terus mengalami defisit akibat kebutuhan produk migas Indonesia banyak yang diimpor dari negara-negara anggota AMU (Tabel 3).
Tabel 4. Realisasi Ekspor Indonesia ke AMU Menurut Sektor (USD Juta)
Sumber: BPS (2015), diolah
Jika dilihat dari realisasi ekspor menurut sektor, terdapat dua sektor yang menjadi unggulan ekspor Indonesia ke AMU, yaitu industri dan pertanian. Pangsa ekspor sektor industri mencapai 93,8% dari total ekspor Indonesia ke kawasan AMU periode Januari-April 2016. Hal ini mengindikasikan bahwa produk-produk hasil industri dalam negeri juga sangat diterima di negara- negara AMU. Adapun produk industri yang saat ini menjadi primadona ekspor Indonesia ke AMU antara lain produk kayu, produk otomotif dan produk elektronik.
Tren Pangsa
No Negara Importir 2010 2014 2010-2014 2014
(%) (%)
Dunia 117.995 147.214 6,64 100,00
1 Perancis 16.957 17.725 0,66 12,04
2 RRT 10.759 15.367 11,53 10,44
3 Italia 11.810 14.641 7,38 9,95
4 Spanyol 7.737 13.328 14,91 9,05
5 Jerman 6.955 8.767 6,77 5,95
6 Amerika Serikat 6.520 8.329 5,92 5,66
7 Turki 4.812 6.827 13,04 4,64
8 Arab Saudi 2.741 3.161 2,78 2,15 9 Korea Selatan 4.463 3.124 -5,74 2,12 10 Aljazair 1.485 2.947 19,05 2,00
42 Indonesia 391 481 5,09 0,33
Total Perdagangan 787,8 1564,8 1443,2 1007,3 837,3 269,3 319,6 18,68 6,79 Migas 328,1 816,5 753,1 356,7 281,6 24,3 169,0 596,84 1,72 Non Migas 459,7 748,3 690,2 650,6 555,7 245,0 150,6 -38,55 10,09
Ekspor 365,9 531,4 543,3 486,3 404,6 160,8 122,2 -23,97 9,15
Migas - - - - - - -
Non Migas 365,9 531,4 543,3 486,3 404,6 160,8 122,2 -23,97 9,15
Impor 421,8 1033,4 900,0 521,0 432,7 108,5 197,3 81,89 5,07 Migas 328,1 816,5 753,1 356,7 281,6 24,3 169,0 596,84 1,72 Non Migas 93,8 216,9 146,9 164,3 151,0 84,2 28,3 -66,37 13,79
Neraca Perdagangan (55,9) (502,1) (356,7) (34,7) (28,0) 5,3 (75,1) -243,59 - Migas (-328,1) (816,5) (753,1) (356,7) (281,6) (24,3) (169,0) 596,84 - Non Migas 272,1 314,4 396,4 322,0 253,6 76,5 93,9 22,68 7,65
URAIAN Nilai : USD Juta Perub. Tren Pangsa (%)
Jan-Apr Jan-Apr (%) (%) thd Total 2011 2012 2013 2014 2015 2015 2016 2016/15 2011-2014 2016
TOTAL EKSPOR 365,9 531,4 543,3 486,3 404,6 160,8 122,2 -23,97 9,15 100,00
MIGAS - - - - - - - - - -
Minyak Mentah - - - - - - - - - -
Hasil Minyak - - - - - - - - - -
Gas - - - - - - - - - -
NON MIGAS 365,9 531,4 543,3 486,3 404,6 160,8 122,2 -23,97 9,15 100,00 Pertanian 38,4 55,4 74,1 47,0 56,7 19,4 7,6 -60,93 9,36 6,19 Industri 327,5 475,9 469,2 439,3 347,9 141,4 114,7 -18,92 9,06 93,81
Pertambangan - - - - - - - - - -
Lainnya 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 4819,69 -2,50 0,01
Tabel 5. Realisasi Impor Indonesia dari AMU Menurut Kelompok Barang (USD Juta)
Sumber: BPS (2015), diolah
Sementara itu, jika dilihat dari sisi realisasi impor menurut kelompok barang (Broad Economic Categories/BEC), jenis barang yang paling banyak diimpor Indonesia dari AMU adalah bahan baku/
penolong dengan pangsa pada periode Januari-April 2016 mencapai 94,2%. Tren impor bahan baku/penolong dari AMU mengalami peningkatan dengan rata-rata 4,61% per tahun selama periode 2011- 2014, sedangkan impor barang konsumsi dari AMU pada periode yang sama mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun 20,97% dan impor barang modal naik 8,45% per tahun (Tabel 5).
Tabel 6. Produk Impor Utama AMU dari Indonesia (USD)
Sumber: Trade Map (2015), diolah
URAIAN Nilai : USD Juta Perub. Tren Pangsa (%)
Jan-Apr Jan-Apr (%) (%) thd Total 2011 2012 2013 2014 2015 2015 2016 2016/15 2011-2014 2016 TOTAL IMPOR 421,8 1033,4 900,0 521,0 432,7 108,5 197,3 81,89 5,07 100,00
Barang Konsumsi 17,9 24,7 32,1 30,9 28,2 12,9 11,3 -12,39 20,97 5,72
Bahan Baku/Penolong 403,8 982,7 867,5 489,3 404,0 95,5 186,0 94,68 4,61 94,23
Barang Modal 0,1 26,0 0,3 0,8 0,4 0,1 0,1 0,41 8,45 0,04
No Kode Uraian Barang 2011 2012 2013 2014 2015 Tren Pangsa
Produk 2011-2015 (%) 2015 (%)
1 1511 Minyak kelapa sawit dan fraksinya, dimurnikan maupun tidak,
tetapi tidak dimodifikasi secara kimia. 96.100 144.025 156.110 114.519 151.893 7,10 33,54 2 0901 Kopi, digongseng, dihilangkan kafeinnya maupun tidak;
sekam dan kulit kopi; pengganti kopi me ngandung kopi dalam
perbandingan berapa saja. 60.379 49.287 75.185 53.410 55.506 -0,88 12,26
3 1517 Margarin; campuran atau olahan yang dapat dimakan dari lemak atau minyak hewani atau nabati atau fraksi dari lemak atau minyak yang berbeda dalam bab ini, selain lemak atau
minyak atau 8 - 487 1.497 28.618 - 6,32
4 7308 Struktur (tidak termasuk bangunan prefabrikasi dari pos No.94.06) dan bagian dari struktur (misalnya, jembatan dan bagian jembatan, pintu berkunci, menara, tiang kisi-kisi,
atap, rang ka atap, 25.668 35.410 10 3.110 23.464 -22,99 5,18
5 1513 Minyak kelapa (kopra), biji kelapa sawit atau babassu dan fraksinya, dimurnikan maupun tidak, tetapi tidak dimodifikasi
secara kimia. 12.391 15.968 8.134 11.795 15.230 1,10 3,36
6 1604 Ikan diolah atau diawetkan; kaviar dan pengganti kaviar yang
diolah dari telur ikan. 3.037 5.697 11.061 8.204 12.630 37,92 2,79
7 3401 Sabun; produk aktif-permukaan organik dan preparat untuk digunakan sebagai sabun, dalam bentuk batangan, bentuk cake, bentuk potongan atau bentukan yang dicetak mengandung
sabun maupun tidak; 6.643 8.605 14.251 8.706 11.967 12,62 2,64
8 5510 Benang (selain benang jahit) dari serat stapel tiruan, tidak
disiapkan untuk pen jualan eceran. 2.831 3.374 7.525 10.671 11.396 48,24 2,52
9 5509 Benang (selain benang jahit) dari serat stapel sintetik, tidak
disiapkan untuk penjualan eceran. 3.551 4.566 4.978 9.385 8.924 29,22 1,97
10 4011 Ban luar bertekanan baru, dari karet. 7461 17894 14819 11467 8402 -2,05 1,86
Potensi Ekspor Indonesia ke Negara Maghribi
Kinerja ekspor Indonesia ke Negara Maghribi (AMU) cukup baik, dengan peningkatan ekspor rata-rata per tahun sebesar 13%. Berdasarkan analisis daya saing dengan menggunakan pendekatan harga yang diproksi dari nilai impor dibagi volume impor, menunjukkan bahwa produk Indonesia di kawasan AMU memiliki daya saing yang cukup baik. Data sepuluh produk impor utama negara-negara Maghribi (AMU) dari Indonesia disajikan pada Tabel 6. Produk yang menjadi andalan ekspor Indonesia ke AMU antara lain CPO dan produk turunannya, kopi, ikan, sabun, benang dan ban mobil (Tabel 6).
Untuk melihat daya saing produk Indonesia di AMU, dipilih tiga produk yang termasuk dalam sepuluh besar produk impor AMU dari Indonesia yaitu minyak sawit dan fraksinya, kopi dan minyak kelapa (kopra). Harga dari ketiga produk tersebut dibandingkan dengan harga produk yang sama dari lima negara pesaing di pasar AMU dan dengan asumsi kualitas produk yang dihasilkan setiap negara sama. Dari hasil analisis tersebut diperoleh hasil bahwa daya saing minyak sawit dan fraksinya (HS 1511) dari Indonesia cukup kompetitif, dan berada di urutan kedua, namun nilai ekspor minyak sawit dan fraksinya dari Indonesia merupakan yang terbesar diantara negara pemasok lainnya. Di antara lima negara pemasok produk minyak sawit dan fraksinya terbesar di AMU, Singapura memiliki daya saing tinggi yang diindikasikan dengan harga yang paling rendah. Namun pangsa impor produk CPO AMU dari Singapura cukup kecil, hal ini disebabkan variasi produk CPO Singapura yang masih sedikit (Tabel 7).
Daya saing ekspor produk kopi (HS 0901) Indonesia yang dilihat dari nilai satuan kelima negara pemasok kopi terbesar di AMU ternyata paling tinggi, namun dari pangsa ekspor Indonesia masih berada di urutan ketiga setelah Vietnam dan Pantai Gading.
Indonesia memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan ekspor kopi ke AMU karena kopi Indonesia memiliki cita rasa kopi yang khas dari berbagai daerah di Indonesia, namun harus disesuaikan dengan selera pasar di kawasan AMU. Pesaing yang paling berat untuk produk kopi di AMU adalah Vietnam karena dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia, Vietnam berhasil menjadi pemasok produk kopi terbesar di AMU (Tabel 8).
Produk minyak kelapa (kopra) dengan kode HS 1513 dari Indonesia berhasil menembus pasar negara Maghribi dan berada di urutan kedua dari sisi daya saing. Jika dilihat dari nilai ekspor, produk minyak kelapa (kopra) Indonesia juga menempati posisi terbesar kedua setelah Malaysia (Tabel 9). Malaysia memiliki daya saing yang paling baik dan pangsa ekspornya ke AMU juga paling tinggi. Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, hampir di seluruh wilayah Indonesia kelapa dapat tumbuh. Oleh karena itu, seharusnya Indonesia dapat mengekspor produk minyak kelapa lebih banyak dibanding negara lain yang hanya memiliki lahan perkebunan kelapa yang lebih sedikit.
Saat ini negara-negara AMU telah berupaya meningkatkan integrasi perdagangan mereka ke dalam ekonomi dunia. Namun, pertumbuhan ekonomi perdagangan di AMU masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain di Timur Tengah, Asia, dan Amerika Latin. Namun dari sisi perdagangan, posisi negara-negara yang berada di utara benua Afrika ini memiliki potensi sebagai hub yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor non migas Indonesia ke negara-negara di sekitar AMU. Indonesia harus bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal, diantaranya melalui peningkatan peran perwakilan dagang di negara-negara AMU. Selain itu, pemerintah juga
Tabel 7. Nilai, Harga dan Pangsa Impor Minyak Sawit AMU Tahun 2013
Keterangan: HS 1511 (Minyak sawit dan fraksinya) Sumber: WITS (2014), diolah
Tabel 8. Nilai, Harga dan Pangsa Impor Kopi Maghribi (AMU) Tahun 2013
Keterangan: HS 0901 (Kopi) Sumber: WITS (2014), diolah
Keterangan: HS 4412 (Kayu lapis, panel veneer dan kayu dilaminasi semacam itu) Sumber: WITS(2015), diolah
Tabel 9. Nilai, Harga dan Pangsa Impor Produk Kayu Maghribi (AMU) Tahun 2013
perlu mengidentifikasi kebijakan dan peraturan di negara wilayah AMU, meningkatkan kegiatan promosi ekspor dan diplomasi demi meningkatkan perdagangan Indonesia dengan AMU, serta melakukan market intelligent di AMU dengan cermat.
No. Negara Pemasok Nilai ekspor Harga Pangsa (USD juta) (USD ribu/ton) (%)
No. Negara Pemasok Nilai ekspor Harga Pangsa (USD juta) (USD ribu/ton) (%)
No. Negara Pemasok Nilai ekspor Harga Pangsa (USD juta) (USD ribu/ton) (%)
1 Indonesia 44.655 0,80 68,55
2 Malaysia 16.414 0,82 25.20
3 Singapura 2.280 0,34 3,50
4 Italia 1.188 0,85 1,82
5 Swedia 191 1,56 0,29
1 Vietnam 134.004 2,34 43,60
2 Cote d’Ivoire 119.437 2,32 38,86
3 Indonesia 30.682 2,19 9,98
4 Brazil 14.493 3,52 4,72
5 Italia 2.046 11,05 0,67
1 Malaysia 2,170 0.74 71.15
2 Indonesia 877 1.52 28.76
3 Swedia 2 3.12 0.08
Deky Paryadi
Pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis Untuk Pengembangan Potensi
Daerah di Indonesia
Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul karena hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Pengajuan HKI atas suatu barang tertentu mengakibatkan timbulnya hak bagi subjek hukum yang mengajukan, hak tersebut adalah hak ekonomis dan hak moral. Hak ekonomis timbul berupa keuntungan jika pihak lain menggunakan HKI yang telah didaftarkan dan hak moral yang merupakan hak yang melekat kepada inventor terhadap invensi yang telah ditemukan.
Seseorang bebas untuk mengajukan atau tidak mengajukan permohonan atau mendaftarkan karya intelektual yang dihasilkannya. Hak eksklusif yang diberikan negara kepada individu pelaku HKI (inventor, pencipta, pendesain, dan sebagainya) tidak lain dimaksudkan sebagai penghargaan atas hasil karya (kreativitas) dan agar orang lain terpacu untuk mengembangkan lebih lanjut sehingga dengan sistem HKI tersebut kepentingan masyarakat akan ditentukan melalui mekanisme pasar.
Secara garis besar menurut Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, HKI terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1) Hak Cipta (copyright);
2) Paten (patent), 3) Merek (trademark),
4) Desain industri (industrial Design),
5) Desain tata letak sirkuit terpadu (Layout Design of Integrated Circuit),
6) Rahasia dagang (Trade Secret)
7) Indikasi Geografis (Geographical Indication)
Dari sekian banyak jenis HKI yang disebutkan, yang menjadi fokus dalam artikel ini adalah Indikasi Geografis (IG). Apa yang dimaksud dengan Indikasi Geografis? Pasal 56 UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek menyatakan bahwa “Indikasi Geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografisnya termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan”.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikaruniai berbagai kekayaan alam dan kekayaan hayati, sehingga dapat dipastikan memiliki banyak komoditas atau produk yang potensial untuk dilindungi melalui indikasi geografis. Permasalahan muncul ketika di hampir semua wilayah Indonesia, komoditas atau produk yang potensial yang bisa dilindungi sebagai Indikasi Geografis, belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah, khususnya pemerintah daerah sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek (UU 15/2001) dan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2007 tentang Indikasi Geografis (PP 51/2007).
Berbeda dengan rezim HKI pada umumnya yang merupakan hak privat, hak Indikasi Geografis memberikan hak eksklusif berupa hak komunal (bersama) dan manfaat ekonomi bagi pemegangnya.
Perlindungan hukum hak Indikasi Geografis, merupakan salah satu kekhususan yang merupakan bagian dari tanggung jawab daerah dalam rangka otonomi daerah, dimana pemerintah daerah memegang peran penting dalam pertumbuhan suatu daerah. Pemerintah perlu menentukan kebijakan dalam rangka memberikan jaminan perlindungan akan hak indikasi geografis yang ada di daerahnya, sebagai bentuk kepedulian terhadap kekayaan daerah tersebut.
Potensi daerah yang dapat dikembangkan sehingga dapat memberikan ciri daerah yang bersangkutan adalah potensi
Pada saat dimulai penelitian perbaikan mutu, perbaikan sistem pemasaran, dan aplikasi Indikasi Geografis pada tahun 2001 harga biji kopi Arabika di Kintamani sangat rendah (Rp 5000), bahkan lebih rendah dari harga kopi Robusta di Pupuan Tabanan Bali (Rp 5.500). Pada tahun 2007, harga kopi Arabika di Kintamani telah beranjak naik menjadi sekitar Rp 26.000 per kg. Kenaikan harga ini selain karena faktor harga internasional juga dipengaruhi oleh adanya perbaikan mutu dan sistem pemasaran yang lebih efisien.
Perbaikan harga ini semakin baik setelah kopi Arabika Kintamani Bali terdaftar sebagi produk Indikasi Geografis.
Harga kopi Arabika Kintamani Bali jenis OSE WP sekitar Rp 51.000 per kg bahkan pernah ada yang mencapai harga sekitar Rp 53.000 per kg (Republika, 6 Januari 2015). Adanya perbaikan harga tersebut sedikit banyak karena dipengaruhi oleh adanya perbaikan kualitas dari Kopi Arabika Kintamani yang telah didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis. Dengan pendaftaran Indikasi Geografis kopi Arabika Kintamani Bali makin dikenal masyarakat luas, sehingga saat ini makin terbuka pasarnya.
Sebagian besar kopi Arabika Kintamani Bali diekspor ke luar negeri (Jepang, Australia, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Korea), dan sebagian dipasarkan di dalam negeri (khususnya untuk memenuhi kebutuhan kedai-kedai kopi spesialti di kota-kota besar).
Jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh Indonesia, jumlah pendaftaran indikasi geografis Indonesia yang terdaftar masih tergolong minim, sehingga hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan, pertama apakah pemahaman masyarakat daerah mengenai indikasi geografis masih rendah? Ataukah perangkat hukum yang ada masih belum dapat mengakomodir potensi- potensi indikasi geografis di beberapa daerah di Indonesia?
produk-produk unggulan spesifik lokasi yang sangat lekat dengan pengetahuan tradisional dan kearifan lokal. Kekhasan tersebut muncul akibat adanya interaksi antara komoditas tersebut dengan lingkungan, sosial budaya, dan teknologi setempat. Kekhasan tersebut tidak akan dapat diperoleh di lokasi lain, meskipun bila komoditas atau bahan bakunya sama. Dalam kenyataannya saat ini, kekhasan tersebut kadang tidak sempat dimanfaatkan oleh masyarakat wilayah penghasil produk, tetapi dimanfaatkan oleh pelaku usaha atau masyarakat wilayah lain. Dari segi sumber daya alam, banyak produk daerah yang telah lama dikenal dan telah mendapatkan pengakuan di pasar internasional sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai contoh: Kopi Gayo, Kopi Toraja, Kopi Kintamani, Mebel Ukir Jepara dan sebagainya.
Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain pun saat ini tengah berlomba-lomba untuk meningkatkan kekhasan daerah masing masing melalui indikasi geografis yang telah mereka daftarkan.
Beberapa potensi indikasi geografis di negara Asia antara lain:
Malaysia: Bario Rice; Vietnam: Pomelo Nam Roi; Kamboja: Rice Battabang, Cardamom, Pranoc (Fish sauce), PepperKampot;
Cina: Alcohol Cereals, Mootai (Gui Zhou), Longjing Tea Huangzhou (Zhetiang), Xuanwei Ham (Yunnan), Mengshan tea (Sinchuan);
Thailand: Durian Chanthaburi, Rayong, Mangosteem Rayong, Pineapple Phuket, Salted eggs Chai Ya (Surattnani), Oysters Surattnani,Wine Loei, Pak Chong, Khao Yai, Gold Sukhotai (Septiono, 2009).
Melihat fenomena tersebut, perlindungan atas Indikasi Geografis (IG) sebagai bagian dari HKI sangat diperlukan.
Indikasi Geografis suatu produk memegang peranan vital dalam memberikan kesan kepada konsumen tentang adanya nilai lebih pada produk yang ditawarkan, baik mengenai kualitas maupun sifat-sifat yang dapat meningkatkan daya saing yang akhir-akhir ini banyak dikembangkan di berbagai negara.
Indikasi Geografis Terdaftar di Indonesia
Indikasi Geografis (IG) dalam negeri yang pertama kali terdaftar adalah Kopi Arabika Kintamani Bali yang dimohonkan oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Bali pada tahun 2008. Penelitian dan pengembangan aplikasi Indikasi Geografis di Indonesia dipelopori oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) bekerjasama dengan Center Internationale de Reserche Agronomique et pour la Development (CIRAD), sebuah Lembaga Penelitian Pertanian Tropika Internasional di Perancis, pada komoditas kopi Arabika di dataran tinggi Kintamani Bali pada akhir tahun 2001. Penelitian dan pengembangan aplikasi Indikasi Geografis tersebut dilakukan secara simultan dengan perbaikan mutu dan sistem pemasaran, serta studi ilmiah tentang faktor geografis (alam, manusia dan interaksi antara keduanya) dalam rangka persiapan pendaftaran Indikasi Geografis.
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 40
35 30 25 20 15 10 5 0
Gambar 1. Indikasi Geografis Terdaftar Pertahun.
Sumber: Ditjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham (2016), diolah
Dari Gambar 1 terlihat peningkatan jumlah Indikasi Geografis terdaftar setiap tahunnya dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2015. Hingga tahun 2009, total Indikasi Geografis terdaftar di Indonesia rata-rata hanya satu, angka ini meningkat minimal menjadi empat sejak tahun 2010 dan hingga akhir tahun 2015 total
Tabel 1. Indikasi Geografis Indonesia Terdaftar
No Produk Pemohon
1 Kopi Arabika Kintamani Bali MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Bali
2 Champagne Comite Interprofessional du Vin de Champagne (CIVC) Kuasa : Gunawan Suryomurcito 3 Mebel Ukir Jepara Jepara Indikasi Geografis, Produk Mebel – Mebel
4 Lada Putih Munthok Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Kep Bangka Belitung 5 Kopi Arabika Gayo MPKG (Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo)
6 Pisco INDECOPI Perwakilan Diplomatik : Ambassador Juan Alvarez Vita, Embassy of Peru in Indonesia 7 Tembakau Hitam Sumedang Pemerintah Kabupaten Sumedang
8 Tembakau Mole Sumedang Pemerintah Kabupaten Sumedang
9 Parmigiano Reggiano Consarzio Del Formaggio “Parmigiano - Reggiano” Kuasa : Andromeda, BA., SH 10 Susu Kuda Sumbawa Asosiasi PengembanganSusu Kuda Sumbawa.
11 Kangkung Lombok Asosiasi Komoditas Kangkung Lombok.
12 Madu Sumbawa Jaringan Madu HutanSumbawa
13 Beras Adan Krayan Asosiasi Masyarakat Adat Perlindungan Beras Adan Krayan 14 Kopi Arabika Flores Bajawa Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis
15 Purwaceng Dieng Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Purwaceng Dieng 16 Carica Dieng Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Carica Dieng 17 Vanili Kep. Alor Asosiasi Petani Vanili Kepulauan Alor (APVKA)
18 Kopi Arabika Kalosi Enrekang Masyarakat Perlindungan Kopi Enrekang 19 Ubi Cilembu Sumedang Asosiasi Agrobisnis Ubi Cilembu (ASAGUCI) 20 Salak Pondoh Sleman Jogja Perlindungan Indikasi Geografis Salak Pondoh Sleman 21 Minyak Nilam Aceh Forum Masyarakat Perlindungan Nilam Aceh (FMPNA 22 Kopi Arabika Java Preanger MPIG Kopi Arabika Java Preanger-Jabar
23 Kopi Arabika Java Ijen Raung Perhimpunan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (PMPIG) 24 Bandeng Asap Sidoarjo Forum Komunikasi Masyarakat Tambak (FKMT) Sidoarjo
25 Kopi Arabika Toraja MPIG Kopi Arabika Toraja
26 Kopi Robusta Lampung Masyarakat Indikasi Geografis Kopi Robusta Lampung (MIG-KRL)
27 Tembakau Srinthil Temanggung Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tembakau Srinthil Temanggung 28 Mete Kubu Bali Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Mete Kubu Bali
29 Gula Kelapa Kulonprogo Jogya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Gula Kelapa Kulonprogo Jogja 30 Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Sindoro-Sumbing 31 Kopi Arabika Sumatera Simalungun Himpunan Masyarakat Kopi Arabika Sumatera Simalungun (HMKSS)
32 Kopi Liberika Tungkal Jambi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Liberika Tungkal Jambi 33 Cengkeh Minahasa Masyarakat Perlindungan Cengkeh Minahasa (MPCM)
34 Beras Pandanwangi Cianjur Masyarakat Pelestari Padi Pandanwangi Cianjur (MP3C)
35 Kopi Robusta Semendo Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Semende Apik Jurai 36 Pala Siau Lembaga Perlindungan Indikasi Geografis (LPIG) Pala Siau
37 Teh Java Preanger Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Teh Java Preanger 38 Garam Amed Bali Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed Bali Sumber: Ditjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham (2016)
Indikasi Geografis terdaftar telah berjumlah 38 termasuk pemohon Indikasi Geografis dari luar negeri.
Regulasi Indikasi Geografis di Indonesia
Sebagai anggota WTO Indonesia telah meratifikasi Trade- Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs), pada tanggal 15 April 1994. Hal ini menjadi penting karena akan terlihat bagaimana kapasitas dan keseriusan Indonesia dalam melindungi HKI, termasuk diantaranya Indikasi Geografis di dunia internasional dalam setiap perundingan. Pemerintah Indonesia melihat HKI sebagai potensi negara yang harus dilindungi. Namun permasalahan saat ini, Indikasi geografis yang merupakan bagian dari HKI belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.
Dalam Pasal 5 PP No. 51 Tahun 2007 Tentang Indikasi Geografis, yang berhak untuk mengajukan pendaftaran Indikasi Geografis ada beberapa pihak diantaranya adalah:
(1) Lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang yang bersangkutan, yang terdiri atas:
(a) Pihak yang mengusahakan barang yang merupakan hasil alam atau kekayaan alam;
(b) Produsen barang hasil pertanian;
(c) Pembuat barang-barang kerajinan tangan atau hasil industri; atau
(d) Pedagang yang menjual barang tersebut.
(2) Lembaga yang diberi kewenangan untuk itu; atau (3) Kelompok konsumen barang tersebut.
Pendaftaran Indikasi Geografis tidak memerlukan biaya yang besar, berdasarkan PP No. 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia biaya pendaftaran sekitar Rp 500.000. Dalam Pasal 5 PP Nomor 51 tahun 2007 telah diatur dengan jelas syarat-syarat pendaftaran Indikasi Geografis antara lain sebagai berikut:
(1) Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh Pemohon atau melalui Kuasanya dengan mengisi formulir dalam rangkap 3 (tiga) kepada Direktorat Jenderal.
(2) Bentuk dan isi formulir Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktorat Jenderal.
(3) Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang yang bersangkutan, terdiri atas:
1. pihak yang mengusahakan barang hasil alam atau kekayaan alam;
2. produsen barang hasil pertanian;
3. pembuat barang hasil kerajinan tangan atau barang hasil industri; atau
4. pedagang yang menjual barang tersebut;
b. Lembaga yang diberi kewenangan untuk itu; atau c. Kelompok konsumen barang tersebut.
Pada tahun 2009, pemohon Indikasi Geografis dari luar negeri mulai mendaftarkan di Indonesia. Syarat Indikasi Geografis luar negeri dapat terdaftar di Indonesia adalah (Ditjen Kekayaan Intelektual, 2016):
a) Telah memperoleh pengakuan dan/atau terdaftar sebagai Indikasi Geografis sesuai ketentuan yang berlaku di negara asalnya;
b) Mengajukan permohonan pendaftaran kepada Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham tahun 2016, pendaftaran Indikasi Geografis terdaftar dari luar negeri yang pertama adalah minuman beralkohol (anggur) sprakling wine “Champagne” dari Perancis pada tahun 2009, selanjutnya minuman beralkohol (keras) brandy (spirit/eux-de-vie) Pisco dari Peru pada tahun 2010, dan keju Parmigiano Reggiano dari Italia pada tahun 2011.
Adanya anggapan tidak semua Indikasi Geografis yang didaftarkan dapat bernilai ekonomis, kerap menjadi alasan oleh para pihak yang berkepentingan untuk tidak mendaftarkan produknya sebagai Indikasi Geografis. Nilai ekonomis yang akan didapat mungkin bukan merupakan direct benefit yang langsung dapat diperoleh pemegang Hak Indikasi Geografis, namun harus dilihat indirect benefit yang akan didapat. Indirect benefit yang diperoleh antara lain, seperti daerah tersebut akan lebih dikenal yang akhirnya akan memberikan dampak lain seperti di sektor wisata dan bukan tidak mungkin akan menarik investor luar yang akan memberikan dampak positif bagi kemajuan daerah setempat.
Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas, tidak ada alasan bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap Indikasi Geografis untuk tidak mendaftarkan potensi daerahnya sebagai produk Indikasi Geografis. Karena tanpa disadari, adanya Indikasi Geografis dapat menjadi suatu simbol kedaulatan dan kebanggaan sebuah daerah yang nantinya akan membawa nama Indonesia ke kancah Internasional, sehingga tidak ada lagi peristiwa suatu produk atau ciri khas suatu daerah/negara tertentu diakui sebagai produk oleh negara lain. Indikasi Geografis masih belum dipahami sebagai sebuah nilai ekonomis yang dapat dijadikan nilai lebih dalam dunia perdagangan internasional, sehingga banyak potensi daerah yang seharusnya dijadikan Indikasi Geografis wilayah Indonesia malah diakui sebagai Indikasi Geografis oleh negara lain.
Peluang Ekspor Pisang Cavendish
dan Peran Kebijakan Pengamanan Perdagangan
Maria Stefani Endang dan Reni K. Arianti
Buah merupakan salah satu produk strategis perdagangan Indonesia yang merupakan negara agraris dan tropis. Salah satu buah andalan ekspor Indonesia adalah pisang. Ada beberapa jenis pisang di Indonesia, antara lain Pisang Ambon, Pisang Raja, Pisang Berangan, Pisang Cavendish dan beberapa pisang lainnya. Dari beberapa jenis pisang tersebut, Pisang Cavendish merupakan salah satu jenis pisang yang paling banyak diminati dan dikonsumsi oleh masyarakat dunia.
Produsen Pisang Di Dunia
Berdasarkan data dari Food Agricultural Organisation (FAO) tahun 2016, negara-negara di Asia merupakan produsen utama pisang di dunia. Pangsa produksi pisang di Asia mencapai 51%
dari total produksi dunia, disusul Amerika dengan pangsa 33%, Afrika 14% dan sisanya 2% berasal dari Oceania dan Eropa. Lima negara penghasil utama pisang di dunia pada tahun 2013 antara lain India (27 juta ton atau sekitar 26% dari total produksi dunia), Republik Rakyat Tiongkok (RRT) (11%), Filipina (8%), Brazil (6%), dan Ekuador (5,6%). Indonesia tercatat menempati urutan ke enam
dengan produksi sebesar 5% dari total produksi dunia.
Tabel 1 memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan produksi pisang di dunia selama periode 2010-2013, dimana per tahun rata-rata mengalami penurunan produksi sebesar 0,10%. Penurunan ini juga dialami oleh Indonesia sebesar 2,03%.
Penurunan produksi di beberapa negara disebabkan karena faktor cuaca dan serangan hama pada tanaman pisang. Untuk Indonesia, menurut laporan Direktur Jenderal Hortikultura kegagalan panen pada tahun 2013 akibat serangan penyakit layu fusarium/bakteri, penyakit bercak daun dan serangan hama ulat penggulung.
Namun, di saat negara-negara di dunia cenderung mengalami penurunan, ketiga negara yaitu RRT, Guatemala dan Angola justru mengalami peningkatan produksi yang signifikan pada periode tersebut, masing-masing meningkat sebesar 8,39% untuk RRT, 7,33% untuk Guatemala, dan 14,59% untuk Angola.
Meskipun produksi pisang di Indonesia cukup besar, namun peranan perdagangan pisang Indonesia dalam perdagangan dunia masih relatif kecil. Tercatat impor pisang dunia pada tahun 2014 mencapai USD 174 juta, sedangkan peranan ekspor pisang
Tabel 1. Produksi Utama Pisang Dunia
Sumber: FAO (2016)
No Negara Produksi : Ton Tren (%)
2010 2011 2012 2013
Dunia 105.828.621 106.327.935 104.885.752 105.956.705 -0,10 1 India 29.780.000 28.455.100 26.509.000 27.575.000 -2,97 2 Republik Rakyat Tiongkok 9.561.000 10.400.000 11.558.000 12.075.238 8,39 3 Filipina 9.101.341 9.165.043 9.225.998 8.645.749 -1,46 4 Brazil 6.969.306 7.329.471 6.902.184 6.892.622 -0,93 5 Ecuador 7.931.060 7.427.776 7.012.244 5.995.527 -8,58 6 Indonesia 5.755.073 6.132.695 6.189.052 5.359.115 -2,03 7 Guatemala 2.637.115 2.679.934 3.078.547 3.188.050 7,33 8 Angola 2.047.955 2.646.073 2.991.454 3.095.013 14,59 9 Tanzania 3.155.710 3.143.835 2.524.740 2.678.680 -6,86 10 Burundi 1.912.661 1.848.727 1.184.075 2.235.697 0,23
Filipina 86,07%
Côte d'Ivoire 10,58%
Mozambik 3,14%
Negara Lainnya 0,21%
Indonesia menurut data Trade Map masih dibawah 1%. Negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika merupakan pasar utama ekspor pisang Indonesia antara lain Uni Emirat Arab (32%), Saudi Arabia (23%), Iran (11%), Palestina (7%), dan Maroko (7%). Negara pemasok utama pisang di dunia adalah Filipina (86%), Cote d’Ivoire (10,5%), dan Mozambik (3%). Indonesia berada pada urutan ke- 24. Pesaing Indonesia dalam perdagangan pisang tidak hanya berasal dari negara-negara Amerika Latin tetapi juga datang dari negara-negara Asia (Gambar 1).
Produksi pisang Indonesia saat ini masih didominasi oleh berbagai jenis pisang lokal yang sebagian besar dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri, sedangkan untuk pasar dunia pisang jenis Cavendish lebih diminati. Dari hasil wawancara dengan produsen pisang Pisang di Lampung, diperoleh keterangan bahwa untuk pasar ekspor buah-buahan yang lebih dipentingkan adalah kualitas produk sebab pembeli di negara tujuan cenderung memilih buah dengan ukuran yang besar dan penampilan menarik. Selain itu juga diharapkan produk buah-buahan bebas dari lalat buah dan telur lalat buah.
Usaha tani Pisang Cavendish di Indonesia hanya dilakukan oleh perusahaan besar, karena Budi daya Pisang Cavendish memerlukan penanganan yang rumit terutama dalam hal pengendalian hama penyakit daun (Fusarium), yang memerlukan peralatan yang otomatis dalam penyemprotan terhadap daun.
Kondisi ini menyebabkan usaha budidaya Pisang Cavendish agak sulit dilakukan oleh petani. Hingga saat ini tercatat dua pemain utama usaha tani pisang Cavendish di Indonesia yakni PT.
Nusantara Tropical Farm (NTF), Lampung dengan brand “Sunpride”
dan PTPN VIII Jawa Barat yang sudah masuk ke pasaran lokal dengan brand “Nusantara 8”.
Importir Utama Pisang Dunia
Eksportir Utama Pisang Dunia
Gambar 1. Negara Eksportir dan Importir Pisang Dunia.
Sumber: Trade Map (2016)
Tabel 2. Negara Tujuan Utama Ekspor Pisang Indonesia, 2013-2015 (Jan-Nov)
Sumber: BPS (2016), diolah Puska Daglu BPPP Kemendag
Kinerja Ekspor Pisang Indonesia
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Pisang Indonesia selama periode 2011-2015 menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 121%. Pada tahun 2015, nilai ekspor pisang tercatat sebesar USD 12 juta atau mengalami penurunan sebesar 24% jika dibandingkan dengan periode tahun 2014 yang mencapai nilai sebesar USD 16 juta, atau mengalami penurunan sebesar 24%. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan permintaan terhadap pisang yang sejalan dengan melambatnya perekonomian dunia.
Uni Emirat Arab32%
Saudi Arabia Iran 23%
11%
Palestina 7%
Maroko 7%
Negara Lainnya 20%
Nilai : Ribu USD
No Negara Januari-Mei Perub (%) Tren (%)
2013 2014 2015 2015 2016 2016/15 2011-15
Total Ekspor Pisang 2.846 16.003 12.082 8.204 2.715 -66,91 121,89 1 Republik Rakyat Tiongkok 1.595 11.026 4.878 4.357 557 -87,21 330,74
2 Saudi Arabia 677 1.380 2.157 1.295 223 -82,81 -
3 Jepang 0 - 1.778 444 1.116 151,24 -
4 Uni Emirat Arab 20 1.290 1.712 817 523 -35,95 124,34
5 Kuwait 482 1.992 1.477 1.220 103 -91,58 162,54
6 Malaysia 64 236 80 69 95 37,03 -
7 Maldives - - 1 1 - -100,00 -
8 Singapura 7 65 0 0 0 -34,86 -
9 Brasil - - - -
10 Hongkong 2 14 - - - - -
Negara lainnya 0 - - - 98 - -
Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Kuwait, dan Saudi Arabia adalah pasar utama ekspor pisang Indonesia pada tahun 2014 yang masing-masing dengan pangsa sebesar 68,27%, 12,31%, dan 9,13% disusul oleh Uni Emirat Arab dan Malaysia dengan peranan 7,97% dan 1,66%. Pada periode Jan-Nov 2015 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014, ekspor pisang ke RRT, Singapura, Hong Kong, dan Italia menurun signifikan rata-rata sebesar 76%, sebaliknya ekspor ke Jepang, Australia, Malaysia, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan Kuwait mengalami peningkatan rata-rata sebesar lebih dari 248%.
Peningkatan ekspor yang naik tajam adalah ke Jepang, ekspor ke Jepang pada periode 2014 hanya menempati urutan ke 11 dan pada periode Jan-Nov 2015 Jepang ada di urutan ke 3 terbesar atau memiliki kontribusi sebesar 13,3%. Pasokan pisang ke Jepang dari Filipina berkurang karena Filipina sering mengalami bencana alam angin topan dan banjir, sehingga berpengaruh besar terhadap produksi buahnya, kondisi tersebut membawa keuntungan bagi Pisang Indonesia. Hal ini juga menunjukkan produk pisang dari Indonesia mampu bersaing secara kualitas dengan produk pisang dari Filipina yang selama ini merajai pasar dunia.
Keberhasilan menembus pasar ekspor Jepang dapat dikatakan satu prestasi dan catatan penting bagi Indonesia mengingat Jepang menerapkan standar mutu dan kesehatan yang sangat tinggi untuk impor produk pertanian. Selain itu Indonesia mampu menggenjot ekspor Pisang juga karena Indonesia mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas importasi barang Pisang Cavendish asal Filipina yang terbukti melakukan dumping yang menimbulkan kerugian bagi industri dalam negeri.
Peran Pemerintah dalam Pengamanan Perdagangan Pisang Dalam perdagangan internasional, praktik dumping merupakan praktik perdagangan yang tidak fair, karena bagi negara pengimpor kegiatan tersebut dapat menimbulkan kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis. Untuk itu pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dapat dilakukan jika harga ekspor suatu barang yang diimpor bernilai lebih rendah dari harga normalnya dan menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri. BMAD dapat dikenakan paling tinggi sebesar marjin dumping. Tujuan pengenaan BMAD adalah untuk memulihkan kerugian serius atau mencegah ancaman kerugian serius yang dapat diderita oleh industri dalam negeri. Kerugian tersebut sebagai akibat dari lonjakan jumlah barang impor terhadap barang sejenis atau barang yang secara langsung bersaing. Pengenaan BMAD dapat mendorong industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius maupun ancaman kerugian serius untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Salah satu kebijakan pengenaan BMAD yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia adalah pengenaan BMAD atas importasi barang Pisang Cavendish yang berasal dari Filipina. Pengenaan BMAD atas importasi barang Pisang Cavendish dari Filipina telah berlaku sejak tahun 2006, melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 81/PMK.010/2006 tanggal 28 September 2006, pos tarif 0803.00.00.00 sesuai dengan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) tahun 2004, dengan besaran BMAD 49,35% dan jangka waktu pengenaan selama 5 tahun. Pengenaan BMAD telah diperpanjang melalui PMK Nomor 175/PMK.011/2011, tanggal 17 November 2011, pos tarif 0803.00.90.00 sesuai dengan BTBMI
2007, dengan besaran BMAD 35% dan jangka waktu pengenaan selama 5 tahun. Masa berlaku PMK Nomor 175/PMK.011/2011 akan berakhir tanggal 17 November 2016.
Berdasarkan data BPS, importasi pisang (HS 080300) selama periode 2010-2014 terus mengalami penurunan yang signifikan dengan rata-rata penurunan sebesar 37,79%, dan tahun 2015 tercatat tidak ada lagi impornya. Hal ini menunjukkan bahwa dampak pengenaan BMAD melalui PMK Nomor 175/
PMK.011/2011 sangat efektif. Hal tersebut juga diakui oleh produsen pisang di dalam negeri, bahwa dengan diterapkannya PMK tersebut serangan produk dari luar berkurang, sehingga secara otomatis industri dalam negeri dapat berkembang.
Bahkan, industri dalam negeri mampu mengembangkan usaha budi daya pertanian Cavendish dengan membuka lahan tanaman hortikultura antara lain di Aceh untuk memenuhi permintaan pasar Timur Tengah; Berau, Kalimantan Timur untuk ke Jepang dan RRT;
sedangkan untuk Lampung dan Blitar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Buah pisang cocok untuk ditanam di daerah manapun di Indonesia. Pengembangan usaha budi daya pertanian di luar pulau jawa ini juga sejalan dengan program Nawa Cita dari pemerintah saat ini.
Peluang Ekspor Pisang Cavendish
Menurut data Trade Map, permintaan pisang dunia selama periode 2011-2014 menunjukkan adanya kecenderungan menurun sebesar 73%, namun sebaliknya di beberapa negara Timur Tengah
dan Asia Timur permintaan akan pisang menunjukkan tren yang positif rata-rata naik lebih dari 67%. Peluang ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memenuhi permintaan tersebut.
Situasi usaha tani pisang saat ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk dapat mengembangkan dan memproduksi Pisang Cavendish untuk memasok kebutuhan di pasar dalam negeri dan pasar internasional. Hal senada juga dikemukakan oleh Atase Perdagangan RI di Jepang, bahwa bisnis impor produk Pisang Cavendish sangat menjanjikan di pasar Jepang. Saat ini, total konsumsi buah di Jepang tercatat mencapai 5,4 juta ton per tahun, dan 1,8 juta ton di antaranya merupakan buah impor. Dari total volume buah impor tersebut, impor buah pisang mendominasi dengan volume impor sebesar 1 juta ton per tahun dan nanas sebanyak 200.000 ton per tahun. Dua buah tersebut berkontribusi terhadap 66,67% total impor buah di Jepang (Bisnis.com, 2015).
Indonesia memiliki potensi alam yang sangat mendukung untuk pengembangan buah-buahan tropis menjadi komoditas unggulan karena Indonesia mempunyai iklim dan lahan yang memungkinkan pada musim panen yang berbeda antar daerah.
Peluang ekspor buah-buahan terutama Pisang Cavendish dapat dicapai dengan meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas dalam upaya memenuhi pangsa pasar. Perlunya menyesuaikan selera pasar dunia dengan mengurangi penggunaan zat berbahaya dan penerapan praktik pertanian yang baik, serta pengemasan produk yang menarik penting diperhatikan oleh para pengusaha buah sehingga buah lokal layak untuk di ekspor dan tidak ditolak pasar dunia.
Menelisik Kinerja Industri dan Perdagangan Mamin dan TPT
Nurozy dan Umar Fakhrudin
Sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional yang mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi industri pengolahan non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga berfluktuasi. Berdasarkan data Kementerian Peridustrian, kontribusi sektor industri pengolahan non migas pada tahun 2011 mencapai 18,13%. Angka ini menurun menjadi 17,99%
pada tahun 2012 dan 17,72% pada tahun 2013. Kemudian pada dua tahun berikutnya kembali meningkat menjadi masing-masing sebesar 17,89% dan 18,18%. Pada tahun 2015, di antara industri pengolahan non migas tersebut yang mampu memberikan kontribusi cukup singinifikan terhadap PDB adalah Industri Makanan dan Minuman (Mamin) dengan kontribusi sebesar 5,61%, diikuti oleh Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) 1,21%, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional, Industri Barang Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik 1,96%, serta Industri Alat Angkutan 1,91%.
Kinerja Industri Mamin dan Tekstil
Selama periode 2011-2015, telah terjadi penurunan laju pertumbuhan industri pengolahan non migas yang menimbulkan isu telah terjadinya deindustrialisasi di Indonesia. Penurunan laju pertumbuhan tersebut terjadi secara berturut-turut, menurun 6,98% (2012) menjadi 5,45% (2013), 5,61% (2014) dan 5,04%
(2015). Penurunan laju pertumbuhan tersebut disebabkan,
salah satunya, karena rendahnya konsumsi masyarakat karena menurunnya daya beli.
Penurunan laju pertumbuhan industri pada tahun 2015 juga disebabkan oleh penurunan laju pertumbuhan pada sebagian besar lapangan usaha. Beberapa diantaranya bahkan mengalami laju pertumbuhan yang negatif, yaitu Industri Tekstil dan Pakaian Jadi (-4,79%); Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (-1,84%);
serta Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman (-0,11%).
Penurunan laju pertumbuhan pada setiap industri sebagai akibat dari turunnya jumlah unit usaha pada masing-masing lapangan usaha. Berdasarkan data BPS untuk industri makanan dari 5.795 unit usaha (2013) turun menjadi 5.793 unit usaha (2014). Menurunnya kinerja beberapa industri juga tercermin dari menurunnya utilitas kapasitas produksi. Utilisasi kapasitas produksi tekstil domestik semakin menyusut. Pada awal tahun 2015 utilisasi sekitar 88%-89%, tetapi pada pertengahan tahun tinggal 70% (Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia/API). Untuk industri makanan dan minuman saat ini tingkat utilisasi produksinya diperkirakan mencapai 50%-60% (Ekon.go.id, 2015).
Kementerian Perindustrian menyebutkan pula bahwa penurunan kinerja sektor industri nasional disebabkan juga oleh beberapa faktor yaitu struktur industri yang tergantung impor;
ketertinggalan teknologi; kelemahan infrastruktur, listrik, energi dan kepastian ketersediaan lahan; ketidakterhubungan antara kegiatan industri dan bahan baku; inefisiensi biaya logistik dan biaya administrasi; kapasitas, produktivitas dan hubungan industrial ketenagakerjaan; beban regulasi, birokrasi dan penegakan hukum yang menjadi penghambat pengembangan investasi, efisiensi produksi, kelancaran distribusi dan kepastian bahan baku; masalah akses dan beban pembiayaan; serta gangguan impor (Ekon.go.id, 2015).
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat, omset industri makanan dan minuman di Indonesia tahun 2015 baru mencapai Rp 326 triliun atau 21,7%
dari pangsa pasar makanan dan minuman domestik sebesar Rp 1.500 triliun. Sementara itu pangsa pasar tekstil dan produk tekstil menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) pada tahun 2015 mencapai kisaran 30%. Relatif rendahnya pangsa pasar produk lokal tersebut sebagai akibat membanjirnya produk tekstil dan produk tekstil (TPT) impor ilegal yang telah menggerus pangsa pasar produk lokal (Setkab.go.id, 2016).
Dalam rangka mendorong daya saing produk lokal, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 132/0.10/2015 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Berdasarkan PMK besarnya tarif bea masuk beberapa produk adalah sebagai berikut: Kopi instan (20% dari sebelumnya 5% ); Teh (20% dari 5%);
Berbagai produk daging olahan (30% dari 5%). Selanjutnya produk yang mengalami kenaikan tarif adalah antara lain Ikan diolah/
diawetkan (15%); Krustasea, moluska dan invertebrata air olahan/
diawetkan (15%); Permen karet (20%); Coklat (15%); Pasta/mie (20%); Makanan sereal (10%); Roti/kue kering (20%); Sayuran, buah, kacang (20%); Ekstrak kopi/teh (20%); Saus dan olahannya (15%); Es krim (15%); Olahan makanan lain (Tempe) (15%);
Minuman Ringan– Air mineral/soda (10%); Minuman pop non soda (20%); Wine anggur (90%); Vermouth dan minuman fermentasi anggur lainnya (90%); Minuman sari buah (90%); Minuman etil alkohol dengan kadar alkohol kurang dari 80% (Brandy, wiski, rum dan lain-lain (150%). Kenaikan bea masuk produk makanan dan minuman jadi diharapkan akan mendukung produk dalam negeri untuk bersaing di pasar domestik.
Tarif bea masuk produk makanan dan minuman relatif sama dengan tarif bea masuk bahan bakunya. Misalnya, tarif bea masuk bubuk coklat sama dengan tarif bea masuk kembang gula dari coklat. Kondisi tersebut berdampak kurang baik bagi industri pengolahan makanan dan minuman mengingat sekitar 65%
industri nasional masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor (Kementerian Perindustrian, 2015). Untuk industri makanan, secara umum bahan bakunya telah banyak dipasok oleh industri domestik dengan perbandingan 93% dari bahan baku lokal dan hanya 7% dari bahan baku impor sebagaimana terlihat pada
Gambar 1. Proporsi Pemakaian Bahan Baku Pada Industri Makanan dan Tekstil Tahun 2012.
Sumber: BPS (2015), diolah
Gambar 1.
Untuk Industri Tekstil, ketergantungan terhadap bahan baku impor mencapai 33,12% dan bahan baku pasokan lokal mencapai 66,88%. Tingginya ketergantungan bahan baku impor industri tekstil terutama berasal dari kontribusi impor bahan baku berupa benang dan kain. Secara detil dapat dijabarkan beberapa industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan bahan baku impor (di atas 40%) adalah Industri Persiapan Serat Tekstil (41,20%); Industri Pemintalan Benang (48,59%); Industri Barang Jadi untuk Keperluan Rumah Tangga (43,29%); Industri Barang Jadi Tekstil Lainnya (53,96%); Industri Barang dari Tali (63,12%);
serta Industri Tekstil Lainya (55,77%).
Kinerja Perdagangan Mamin dan Tekstil
Selama periode dua tahun terakhir (2014-2015) neraca perdagangan makanan olahan mengalami surplus setelah pada periode sebelumnya mengalami defisit. Selama periode 2011-2015 tren pertumbuhan ekspor meningkat sebesar 6,71%, sebaliknya tren pertumbuhan impor menurun 6,37%. Pada tahun 2015 nilai ekspor makanan olahan mencapai USD 5,3 miliar atau sedikit mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang nilainya mencapai USD 5,5 miliar. Di sisi lain impornya menurun dari USD 5,2 miliar pada tahun 2014 menjadi USD 4,5 miliar. Dampak menurunnya impor dan meningkatnya ekspor ini menyebabkan
Input Impor 7%
Input Impor 33%
Industri Makanan
Input Lokal 93%
Input Lokal 67%
Industri Tekstil