KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDRE HIRATA DAN IMPLIKASINYA DENGAN
MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Sarjana dalam bidang
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Oleh :
Nama : Mohammad Robby
NIM : 1688201047
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG 2020
i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama Mahasiswa : Mohammad Robby
Nim : 1688201047
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Kritik Sastra dalam Novel Orang-orang Biasa Karya Andrea Hirata dan Implikasinya Pada Bahan Ajar Bahasa Indonesia
Telah disetujui oleh Tim Pembimbbing Skripsi untuk mengikuti Sidang Proposal.
Tangerang, 23 April 2020
Tim Pembimbing : Tanda Tangan
Pembimbing I, Sumiyani, M.Pd NBM. 819 886
...
Pembimbing II,
Dr. H. Supyan Sori,M.MPd NPM. 120 4795
...
Ketua Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Blewuk Setyo Nugroho, M.Pd NBM. 1094914
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Mohammad Robby
NIM : 1688201047
Program studi : Pendidikan bahasa dan sastra indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Uiversitas : Universitas Muhammadiyah Tangerang
Dengan ini menyatakan bahwa judul skrpsi “kritik sosial dalam novel orang-orang biasa karya Andrea Hirata dan implikasinya dengan materi pembelajaran bahasa indonesia” beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya senidri dan bukan merupaka plagiat atau jiplakan dari karya orang lain karena hal tersebut melanggar etika yang berlku dalam kaidah keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila dikemudian hari ternyata terdapat pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya ini.
Tangerang, 22 April 2020
Mohammad Robby NIM. 1688201047
iii
HALAMAN
MOTTO
“Allah dan Surganya”
“Masa Depan Tergantung Apa yang Kita Lakukan Hari Ini”
-Kami Bukan Sarjana Kertas-
iv
HALAMAN
PERSEMBAHAN
Untuk,
• Kedua orangtua yang dengan ikhlas membesarkan dan mendo’akan anak- anakmu, sungguh kalian manusia luar biasa yang telah tuhan ciptakan.
• Guru-guruku, yang ikut menyiram mimpi-mimpi ini.
Bu Zahro, SD Belimbing II Pak Nasrudin, SMP Kosambi II
Pak Isar, SMAN 5 Kab.Tangerang
Pak Arry, Kepala Biro Teknologi dan Sistem Informasi
Pak Enawar, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
• Sahabatku yang sudah merawat mimpi-mimpi ini
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan.
Muhamad Andrian, Muhamad Sigit, Erik Setyawan.
v
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim..
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh
Puji dan syukur kehadirat Allah Swt atas segala nikmat, petunjuk, dan berkah-Nya yang selalu berlimpah atas terselesaikannya penyusunan skripsi ini.
Sholawat serta salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai pengikutnya hingga akhir zaman.
Dengan tersusunnya penelitian ini semoga apa yang penulis harapkan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya ilmu yang bermanfaat untuk makhluk hidup di muka bumi.
Banyak krikil yang menghampiri dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini, tetapi semua harus penulis selesaikan sebaik-baiknya. Alhamdulillah semua berjalan sesuai waktunya.
Dengan ketulusan hati dan tersenyum manis penulis mengucapkan terima kasih yang teramat tulus kepada:
1. Dr. H. Ahmad Amarullah, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang
2. Dr. Enawar, S.Pd., M.M., MOS., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang
3. Sumiyani, M.Pd., Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang, sekaligus dosen pembimbing satu yang sudah memberikan bimbingan terbaik dalam penyusunan skripsi ini.
4. Dr. Asep Suhendar, M.Pd., Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang
5. Blewuk Setyo Nugroho, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Tangerang
vi
6. Dr. H. Supyan Sori, M.M.Pd, Dosen Pembimbing 2 yang memberikan waktu, arahan, motivasi, dan bimbingan terbaiknya dalam penyusunan skripsi ini.
7. Seluruh Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberian banyak ilmu pengetahuan kepada penulis selama belajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.
8. Segenap jajaran Biro Teknologi dan Sistem Informasi yang selalu memberikan semangat dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
9. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FKIP Cabang Kota Tangerang dan seluruh kader IMM yang selalu menyemangati diri dan memberikan keceriaan dalam penyusunan skripsi ini.
10. Sahabatku M.Sigit, M.Andrian, Erik S, Intan Yogita, Rijal, Dina, Eka, Tania, Aisyah dan seluruh sahabat-sahabatku yang sudah menemani, mengingatkan, dan mengajari untuk tetap semangat dalam menyusun skripsi ini.
11. Kawan-kawan A1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah berjuang dari awal perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
12. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2016.
13. Seluruh pihak yang sudah bersedia membantu dengan ikhlas dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan barokah-Nya sebagai balasan atas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih teramat jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan arahan yang bersifat membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi masyarakat luas. Aamiin.
vii
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tangerang, 23 April 2020
Penulis
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... i
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii
HALAMAN MOTTO ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iv
KATA PENGANTAR... v
DAFTAR ISI... viii
BAB I Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 4
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 6
F. Penjelasan Istilah dan Singkatan ... 7
BAB II Kajian Pusaka ... 8
KAJIAN PUSTAKA ... 8
A. Landasan Teori ... 8
1. SASTRA ... 8
2. Kritik Sastra ... 11
3. Novel ... 21
4. Sosiologi Sastra... 36
B. Penelitian yang Relevan ... 40
BAB III METODOOGI PENELITIAN ... 42
A. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 42
B. Waktu Penelitian ... 43
C. Sumber dan Jenis Data Penelitian ... 44
D. Teknik Pengumpulan Data ... 44
E. Instrumen Penelitian ... 46
ix
F. Teknik Analisis Data ... 46 G. Keabsahan Data ... 47 DAFTAR PUSTAKA ... 51
1
BAB I
Penda hulua nPENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lahirnya karya sastra di tengah-tengah masyarakat merupakan sebagai hasil imajinasi pengarang terhadap gejala-gejala sosial yang ada.
Sehingga, sebuah karya sastra mencerminkan berbagai masalah yang ada di dalam masyarakat. Kritik sosial dalam sebuah karya sastra cerpen, novel, puisi bahkan juga film dapat berupa sindiran atau tanggapan yang sengaja ditulis pengarang dan ditujukan pada masyarakat yang mengalami permasalahan dalam kehidupan sekitarnya. Dulu ada anggapan bahwa seorang sastrawan adalah seorang plagiat. Sesuai dengan uraian tersebut karya sastra tentunya berangkat dari kehidupan realita yang ada disekitar pengarang, jika latar belakang lingkungan sekitar pengarang adanya permasalahan pendidikan maka kritik sosial yang akan pengarang sajikan tidak akan jauh dari sumber bahasan tersebut. Masalah sosial yang ada didalam masyarakat pada umumnya seperti masalah kemiskinan, masalah kejahatan, masalah fasilitas pendidikan yang kurang layak, dan masalah ketidak adilan, masalah penggelapan uang rakyat dan mungkin masih banyak lagi. Semua masalah yang hadir dalam masyarakat kemudian dikemas dalam sebuah karya sastra yang meninggalkan kritik sosial.
Karya sastra bukan semata-mata kualitas otonom atau dokumentasi social, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
2
masyarakat, (Nyoman, 2013). Karya sastra itu sendiri mencerminkan kehidupan realita yaitu kehidupan yang benar adanya dalam lingkungan sekitar pengarang. Pengarang tentu menulis kan sebuah karya sastra yang dekat dengan kehidupannya, namun tidak semua yang mereka tulis terlihat orisinil seperti aslinya, dalam hal ini pengarang menambahkan unsur estetik dan imajiner agar karya sastra tersebut lebih menarik. Kajian kritik sosial ini tentunya merupakan bagian dari pendekatan sosiologi sastra karena memiliki hubungan yang sama yaitu masyarakat. Seperti novel yang akan dibahas dalam penelitian ini. Kritik sosial yang akan dibahas yaitu kritik sosial pada pendidikan, kritik sosial pada kemiskinan dan kritik sosial pada korupsi.
Seperti yang digambarkan pada novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata yaitu sebuah novel yang Andrea Hirata tulis untuk Putri Belianti anak miskin yang cerdas dan mengalami kegagalan untuk masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Ternama. Pengarang mengawali tulisannya dengan mengisahkan sembilan anak yang dijuluki penghuni bangku belakang: Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, dan tiga anak perempuan: Nihe, Diah, dan Junilah. Mereka dipindahkan kebelakang karena dianggap bodoh. Selain itu mereka juga sering menjadi bahan bully dari trio Bastardian dan duo Boron. Singkat cerita mereka sudah ada yang bekerja dan menikah, namun kehidupan mereka tetap saja miskin dan susah. Diah memiliki anak yang bernama Aini. Aini gadis bodoh dan miskin yang awalnya tidak memiliki cita-cita karena sudah
3
dikader ibunya untuk menjadi penjual mainan anak-anak meneruskan pekerjaan ayah dan ibunya selama ini. Namun semenjak ayahnya meninggal karena suatu penyakit yang Aini dan ibunya tidak ketahui, Aini merasa penasaran dan bercita-cita menjadi dokter ahli. Setiap hari Aini rajin belajar. Namun Aini sangatlah lemah pada pelajaran Matematika.
Sampai Aini mendatangi rumah guru Matematikanya, bahkan sampai diusir Aini tetap datang setiap hari untuk belajar.
Usaha memang tidak menghianati hasil Aini gadis bodoh yang tidak mungkin bisa lolos fakultas kedokteran akhirnya diterima, namun keadaan ekonomi keluarganya membuat Diah ibu Aini pesimis untuk membayar kuliah Aini di Fakultas Kedokteran. Karena hanya anak orang kayalah yang bisa melanjutkan pendidikan semahal itu di Fakultas Kedokteran. Semangatmya yang sangat besar tersebut membuat Aini tidak pemisis, Aini memilih bekerja disebuah warung kopi dan menabung gaji dari pekerjaannya. Disisi lain ibu Aini berusaha mencari jalan keluar dan dibantu Sembilan temannya. Mereka menjalankan misi rahasia, misi besar yang akan mengungkap kejahatan besar yang terjadi di dalam kota Belantik. Mereka akan merampok dan singkat cerita hari perampokan pun tiba, nyali mereka tidak sepenuhnya terkumpul. Perampokan bank hanyalah pengalihan saja, yang sebenarnya mereka rampok adalah toko emas milik Trio Bastardin, didalam toko emas tersebut menyembunyikan kejahatan besar yaitu pencucian uang rakyat yang sama saja dengan korupsi. Mereka berhasil membawa 18 miliyar uang haram tersebut. Diah
4
tidak ingin membiayai kuliah Aini dengan uang haram, akhirnya mereka bersepuluh sepakat menjual apa saja yang bisa dijual untuk biaya Kuliah Fakultas Kedokteran Aini. Akhirnya Aini dapat meraih cita-cita nya dan disisi lain kejahatan besar tersebut juga terungkap.
Berdasarkan uraian diatas penelitian novel Orang-Orang biasa karya Andre Hirata menjadi menarik untuk dilakukan, masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana kritik sosial yang digambarkan oleh novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata? Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap kritik sosial yang digambarkan dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
Kritik sosial sendiri adalah sebuah sindiran yang ingin disampaikan pengarang lewat karya sastra karena terdapat keganjalan-keganjalan dalam lingkungan masyarakat. Kritik sosial pada penelitian ini terfokus kan pada kritik sosial pendidikan, kemiskinan dan korupsi atau kejahatan. Dan implikasinya pada materi pembelajaran bahasa indonesia, siswa diharapkan dapat mempelajari unsur intrinsik dan ekstrinsik.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat diketahui bahwa novel Orang-orang Biasa Karya Andre Hirata banyak mengandung kritik sosial yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Maka penulis memfokuskan masalah-masalah yang akan dibahas tidak melebar kemana-mana, yaitu pada bentuk kritik sosial dalam
5
Novel Orang-orang Biasa Karya Andre Hirata serta implikasinya pada materi pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA)
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana Bentuk Penyampaian Kritik Sosial pada Novel Orang- orang biasa Karya Andre Hirata?
2. Bagaimana Implikasi antara kritik Sosial pada Novel Orang-orang biasa Karya Andre Hirata dengan Materi pembelajaran di Sekolah?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan bentuk penyampaian kritik dalam novel Orang- orang biasa Karya Andre Hirata.
2. Mendeskripsikan Implikasi antara kritik Sosial pada Novel Orang- orang biasa Karya Andre Hirata dengan Materi pembelajaran di Sekolah
6 E. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini senagai berikut :
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan sastra Indonesia terutama dalam pengakajian novel dengan pendekatan sosiologi sastra, juga hasil penelitian ini dapat memperluas cakrawala apresiasi pembaca sastra Indonesia terhadap kritik sosial dalam sebuah novel.
2. Manfaat Praktis 1. Bagi Pembaca
Hasil penelitian ini dapat menambah referensi penelitian karya sastra Indonesia dan menambah wawasan kepada pembaca tentang kritik sosial dalam hal pendidikan dan sosial.
2. Bagi Penulis
Melalui pemahaman mengenai perkembangan kritik sosial terkait dengan pendidikan dan sosial diharapkan dapat membantu peneliti dalam mengungkapkan makna yang terkandung dalam novel Orang- orang Biasa Karya Andre Hirata.
3. Bagi Guru
Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberi dampak positif kepada guru dan dapat mengambil pelajaran untuk materi pembelajaran bahasa Indonesia disekolah.
7 4. Bagi siswa
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan yang positif terhadap siswa mengenai pembelajaran sastra dengan memperhatikan kritik terhadap karya sastra.
F. Penjelasan Istilah dan Singkatan
Untuk memberikan keterangan mengenai istilah dan yang terdapat pada judul penelitian ini, penulis memberikan penjelasan mengenai istilah- istilah dan singkatan yang digunakan, Yaitu :
1. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah visi dan misi yang penuh dengan pesan berharga.
2. Kritik sosial adalah sebuah sindiran yang ingin disampaikan pengarang lewat karya sastra.
3. Novel adalah sebuah karya yang mengisahkan kehidupan seseorang atau beberapa tokoh, baik fiksi maupun nonfiksi.
4. Implikasi adalah Keterkaitan atau hubungan dalam suatu penelitian.
8 BAB II Ka jia n Pusa ka
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. SASTRA
a. Pengertian Sastra
Karya sastra merupakan pengungkapan kehidupan nyata menjadi sebuah karya imajinatif yang indah untuk dinikmati.
Kehidupan dan realitas yang terdapat pada karya sastra memiliki cakupan hubungan antara manusia dengan sosial yang menjadi inspirasi. Karya sastra juga merupakan ide kratif yang dilakukan untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui sebuah karya.
Kosasih (2008) berpendapat Sastra merupakan salah satu cabang seni disamping seni lukis, tari, dan musik, sebagaimana karya- karya seni lainnya, sastra merupakan produk budaya yang mengutamakan keindahan (h.2). Jadi, sastra merupakan karya yang mengutamakan keindahan sebagai unsur utama.
Sastra juga tidak terlepas dari kehidupan masyrakat, menurut Wellek dan Warren (1990) sastra mempunyai fungsi sosial tertentu, misalnya sebagai suatu reaksi, tanggapan, kritik, atau gambaran mengenai situasi tertentu (h.111). Jadi, melalui karya sastra, sastrawan berupaya menyampaikan kebenaran yang
9
sekaligus juga kebenaran sejarah. Fungsi sastra ini dapat dilihat pada karya yang merupakan dokumentasi sosial.
Nurholis (2019) sastra adalah karya kreatif hasil penciptaan manusia yang bersifat ekspresif, imajinatif, dan estetis, serta mempunyai nilai ajaran kebenaran dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (h.5). Dengan demikian, sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang memiliki nilai kebenaran kehidupan dan dituangkan dalam bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra merupakan rekaan atau hasil dari kehidupan nyata yang di kreasikan dalam bahasa dan memperhatikan keindahan sebagai salah satu unsurnya.
b. Fungsi Sastra
Menurut (Kosasih, 2008) Ada dua fungsi atau manfaat membaca karya sastra, yaitu fungsi rekreatif dan fungsi didaktif.
1) Fungsi Rekreatif
Dengan membaca karya sastra, seseorang dapat memperoleh kesenangan atau hiburan, yaitu bisa menggembara, berekreasi, dan memperoleh suguhan kisah dan imajinasi pengarang mengenai berbagai kehidupan manusia.
Jadi. dengan fungsi seperti ini sastra menjadi sebuah hiburan bagi pembacanya melalui kisah-kisah yan menarik.
10 2) Fungsi Didaktif
Dengan membaca karya sastra, seseorang dapat memperoleh pengetahuan tentang seluk beluk kehidupan manusia dan pelajaran tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya.
Sedangkan menurut Sumardjo dan Saini (1988) ada beberapa manfaat sastra (h.8), yaitu :
1) Karya sastra besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini.
2) Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin.
3) Karya sastra besar itu abadi.
4) Karya sastra tidak mengenal batas kebangsaan, meskipun ditulis berdasarkan keadaan setempat, namun sastra selalu berhasil menunjukan hakikat kebenaran.
5) Karya sastra adalah karya seni, indah dan memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahan.
6) Membaca sastra juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya. Manusia berbudaya yaitu manusia yang responsif terhada apa-apa yang luhur dalam hidup ni.
Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sastr memilii banyak manfaat, untuk diri sendiri sebagai
11
kesadaran terhadap keenara-keenaran dalam hidup, dan juga untuk orang lain sebagai suatu hiburan sekaligus nilai-nilai kehidupan.
2. Kritik Sastra
a. Pengertian Kritik sastra
Sastra bukan hanya soal untaian kalimat yang indah, bukan hanya isi hati dan perasaan antara pikiran (Nurholis, 2019). Sastra mengandung visi dan misi yang penuh dengan pesan berharga.
Pesan tersebut mewakili perasaan seseorang, dirinya atau mewakili orang lain, namun juga mengandung pesan politik, sosial, ekonomi, ideologi dan keberagaman. Sumardjo dan Saini (1986) berpendapat bahwa kritik adalah analisis untuk menilai sesuatu karya seni, dalam hal karya sastra (h.21). Jadi, kritik adalah sebuah penilaian terhadap sesuatu karya seni.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kritik ialah kecaman atau tanggapan, kadang disertai uraian dan pertimbangan baik terhadap satu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. wellek dan warren dalam Pradopo, (2018) Kritik sastra merupakan salah satu studi sastra. Studi sastra meliputi tiga bidang: teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra (h.92). Kritik sastra merupakan studi sastra yang langsung berhadapan dengan karya sastra, secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada
12
penialiannya. Jadi kritik sastra merupakan penialian terhadap karya sastra secara langsung. Sedangkan menurut Fatimah (2016), kritik sastra adalah kegiatan penelitian yang ditunjukan pada karya sastra atau teks.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan kritik sastra bukan hnya untuk menunjukan keunggulan-keunggulan, kelemahan, benar, da salahnya sebuah karya sastra dipadang dari sudut pandang tertentu, tetapi tujuan akhirnya adalah mendorong sastrawan untu mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin dan juga mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.
b. Jenis Kritik Sastra
Menurut Sumardjo & Saini (1988) membagi dua jenis kritik sastra yaitu kritik sastra intrinsik dan kritik sastra ekstrinsik.
Kritik sastra intrinsik menganlisis sebuah karya berdasarkan bentuk dan gayanya, atau membandingkan sebuah genre dengan genre lainnya (membandingkan karya komedi dengan tragedi atau puisi epik enganlirik, misalnya). Kritik intrinsik mengupas unsur-unsur karya, menilai dan menyimpulkan kelemahan dan kelebihannya yang ada di dalam karya itu sendiri. Sedangkan kritik sastra ekstrisik menghubungkan karya sastra itu dengan penuisnya, pembacanya atau masyarakatnya, yakni hal-hal diluar karya sastra
13
itu sendiri. Karya sastra ekstrinsik melibatkan disiplin ilmu sejarah, filsafat, agama, antropologi, dan sebagainya (h.21). jadi, ada dua jenis kritik sastra, satu intinsik yang mengulas unsur-unsur di dalamnya, sedangkan kritik ekstrinsiknya menghubungkan karya dengan pengarangnya.
Jenis-jenis kritik sastra dapat dikelompokan berdasarkan bentuknya Pradopo (2018) kritik sastra teoritis dan kritik sastra terapan atau praktik. Kritik sastra teoritis adalah prinsip-prinsip kritik sastra sebagai dasar pengkritikan karya sastra. Sedangkan kritik sastra praktik berupa penerapan teori atau prinsip kritik sastra pada karya sastra (h.95).
Dari beberapa pendapat di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa jenis-jenis kritik sastra tentu sangat banyak, jenis kritik sastra intrinsik yaitu kritik yang mengai unsur didalam sastra tersebut, dan kritik sastra ekstriksik adalah kritik hal-hal diur sastra itu sendiri seperti penulisnya, budaya dan sebagainya.
Sedangkan kritik sastra teoritis dan praktik adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karna saling mengikat.
c. Fungsi Kritik Sastra
Dalam Fatimah (2016) menyatakan ada tiga fungsi kritik sastra (h.11) yaitu:
1) Untuk membina dan mengembangkan sastra
14
Fungsi utama kritik sastra adalah memelihara dan menyelamatkan, serta mengembangkan pengalaman manusia yang berwujud ebagai karya seni yang bernama sastra.
2) Untuk membina kebudayaan dan apresiasi seni
Fungsinya untuk membina tradisi kebudayaan, membentuk suatu tempat berpijak cita rasa yang benar, melatih kesadaran, dan secara sadar pula mengarahkan pembaca kepada pembinaan pengertian tentang makna dan nilai kehidupan.
3) Untuk menunjang ilmu sastra
kritik sastra berguna untuk pembinaan dan pengembangan ilmu sastra (teori sastra). Kritik sastra merupakan wadah analisa karya sastra, anilisa struktur cerita, gaya bahasa, teknik penceritaan dan lain sebgainya.
Dan dapat digolongkan fungsi kritik sastra menjadi dua : a. Fungsi krtitik sastra utuk pembaca
1) Membantu memahami karya sastra.
2) Menunjukan keindahan yang terdapat dalam karya sastra.
3) menunjukan parameter atau ukuran dalam menilai suatu karya sastra.
15
4) menunjukan nilai-nilai yang dapat dipetik dari sebuah karya sastra.
b. Fungsi kritik sastra untuk pengarang
1) mengetahui kekurangan atau kelemahan karyanya.
2) mengetahui kelebihan karyanya.
3) mengetahui masalah-masalah yang mungkin dijadikan tema karangannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi sastra memberika mepinailai baik atau buruknya suatu karya. Bermanfaat juga untuk pengarang atau pencipta karya sastra.
d. Bentuk-bentuk kritik sosial
Kritik sosial adalah krtik tentang masalah-masalah yang terjadi di masyarakat lalu di ukir dalam tulisan. Masalah Sosial adalah masalah yang penting untuk dicermati oleh manusia di samping masalah individu. Manusia sebagai makhluk sosial, membuat manusia tidak bisa lepas dari berbagai realitas kehidupan. Sebagai makhluk sosial manusia harus menciptakan tatanan kehidupan yang bebas dari berbagai konflik, baik bersifat individu, maupun konflik yang berkaitan dengan masalah sosial dengan masyarakat. Soekanto dan Sulistyowati (2015) menyatakan bahwa masalah sosial timbul dari kekurangan kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada factor ekonomis, kemiskinan, pengangguran,
16
dan sebagainya (h.314). Jadi masalah sosial adalah masalah yang terjadi dikehidupan masyarakat dengan berbagai faktor.
Pada dasarnya masalah sosial sangat tergantung pada kondisi masyarakat dan kurun waktunya. Sesuatu yang disebut masalah sosial oleh suatu daerah, belum tentu menjadi masalah sosial bagu daerah lainnya. Soekanto dan Sulistyowati (2015) menyebutkan ada bebrapa masalah sosial yang umum terjadi di dalam suatu masyarakat, meliputi :
a. Masalah Kependudukan
Masalah kependudukan yakni masalah yang berhubungan dengan masalah demografi, antara lain: bagaimana menyebarkan penduduk secara merata dan bagaimana mengusahakan penurunan angka kelahiran.
b. Kemiskinan
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kehidupan tersebut.
Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan sebuah masalah sosial sampai saatnya perdagangan berkembang dengan pesat dan timbul nilai-nilai sosial yang baru. Dengan berkembangnya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkannya taraf
17
kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai masalah sosial. Pada waktu itu individu sadar akan kedudukan ekonomisnya, sehingga mereka mampu mengatakan apakah dirinya kaya atau miskin.
Kemiskinan dianggap sebagai suatu masalah sosial apabila perbedaan kedudukan ekonomis para warga masyarakat ditentukan secara tegas. Hal ini terlihat di kota-kota besar di Indonesia, seperti jakarta; seseorang dianggap miskin karena tidak memiliki radio, televisi, atau mobil, sehingga lama- kelamaan benda-benda sekunder tersebut dijadikan ukuran bagi keadaan sosial ekonomi seseorang, yaitu apakah dia miskin atau kaya. Dengan demikian, persoalannya mungkin menjadi lain, yaitu tidak adanya pembagian kekayaan yang merata.
c. Kejahatan
Seokanto menyatakan bahwa, “kejahatan yang paling mendapatkan perhatian adalah white-collar crime, yang timbul pada abad modern ini.” white-collar crime sendiri adalah bentuk kejahatan yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat. Banyak ahli beranggapan bahwa tipe kejahatan ini merupakan akses dari proses perkembangan ekonomi yang terlalu cepat, dan yang menekankan pada aspek material finansial belaka. Oleh
18
karena itu , pada mulanya gejala awal ini disebut business crime atau economic criminality. Memang, white-collar crime merupakan kejahatan yang dilakukan oleh para pengusaha atau pejabat di dalam menjalankan peranan fungsinya. Keadaan keuangannya yang relatif kuat, memungkinkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang oleh hukum dan masyarakat umum dikualifikasikan sebagai kejahatan.
Golongan tersebut menganggap dirinya kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendalian sosial lainnya karena kekuasaan dan keuangnya yang dimilikinya dengan kuat.
Sukar sekali untuk memidana mereka sehingga dengan tepat dikatakan bahwa kekuatan penjahat whitecollar crime terletak pada kelemahan korban-korbannya.
d. Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, yang termasuk pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat menurut soekanto. antara lain:
1) Pelacuran, diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri sendiri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan sejumlah uang.
2) Delinkuesi anak-anak, sorotan terhadap Indonesia terutama tertuju pada pelanggaran yang dilakukan
19
anak-anak muda di kelas sosial tertentu yang tergabung dalam ikatan atau organisasi baik formal maupun semi formal yang mempunyai tingkah laku yang kurang disukai di masyarakat pada umumnya.
3) Alkoholisme, dapat diartikan sebagai gaya hidup membudayakan alkohol.
4) Homoseksualitas, adalah orang yang cenderung mengutamakan orang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksualnya.
e. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delikuensi, dan sebagainya) dan sikap yang apatis misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Generasi muda biasanya mengahadapi masalah sosial dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk dapat dikatakan dewasadalam arti sosial masih diperlukan faktor-faktor lainnya. Dia perlu banyak belajar mengenai nilai dan norma-norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu tidak menjadi masalah karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan kelompok kekerabatan.
20 f. Disorganisasi Keluarga
Disorganisasi adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban- kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya.
Disorganisasi keluarga terjadi pada masyarakat-masyarakat sederhana karena suami sebagai kepala keluarga gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer keluarganya atau mungkin karena dia menikah lagi. Dan di dalam zaman modern ini, disorganisasi keluarga terjadi mungkin karena konflik peranan sosial atas dasar perbedaan ras, agama, atau karena faktor ekonomis.
g. Peperangan
Peperangan mungkin merupakan masalah sosial paling sulit dipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Masalah peprangan masyarakat berbeda dengan maslah soaial lain karena menyangkut beberapa masyarakat sekaligus.
Peperangan merupakan satu bentuk pertentangan dan juga suatu lembaga kemasyarakatan. Peperangan merupakan bentuk pertentangan yang setiap kali diakhiri dengan suatu akomodasi.
h. Masalah Lingkunagn Hidup
Apabila seseorang membicarakan lingkungan hidup, biasanya yang dipikirkan adalah hal-hal atau segala sesuatu yang berada
21
di sekitar manusia, baik individu maupun dalam pergaulan hidup. Lingkungan hidup biasanya dibedakan dalam beberapa kategori, yaitu : Lingkungan fisik, bologis dan sosial.
i. Birokrasi
Birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Atau dengan kata lain, birokrasi merupakan organisasi yang bersifat hirarki, yang ditetapkan secara rasional untuk mengordinasikan pekerjaan orang-orang untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugas administrative.
Dalam Penelitian ini kritik dan masalah sosial yang digunakan adalah menurut Soekanto dan Sulistyowati. Seperti yang dikemukakan di atas. Pendapat Soekanto dan Sulistyowati tentang, pengangguran, kemiskinan, kejahatan, dan disorganisasi keluarga.
3. Novel
a. Pengertian Novel
Novel dalam kamus besar bahasa indonesia dimaknai sebagai karangan prosa yang panjang mengandung ramngkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel berasal dari bahasa italia, yaitu Novella yang berarti sebuah barang baru yang
22
kecil, dalam perkembangannya novel diartikan sebagai sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Menurut Kosasih (2008) Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh problematika kehidupan seseorang atau beberapa yang dialami oleh tokoh hingga tahap penyelesaiannya (h.54). jadi novel ialah sebuah karya yang mengisahkan kisah hidup seseorang.
Menurut Waluyo (2017) Novel adalah bentuk prosa fiksi yang paling baru dalam sastra indonesia karena baru ditulis sejak tahun 1945-an oleh idrus, lewat novelnya yang berjudul aki (h.2).
jadi novel merupakan prosa fiksi baru di dalam sastra Indonesia.
Menurut Nurgiyantoro (2015) Novel berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang kompleks (h.12). jadi novel merupakan karya fiksi yang panjangnya cukup dan tidak terlalu Panjang, mengisahkan berbagai masalah yang kompleks.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, mengisahkan berbagai masalah di kehidupan masyarakat.
23
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara era dan saling menggantungkan. Unsur-unsur pembangun sebuah novel yang kemudian secara bersama membentuk sebuah totalitas itu disamping unsur formal bahasa, masih banyak lagi macamnya.
Namun, secara garis besar berbagai macam unsur tersebut secara tradisional dapat dikelompokan menjadi dua bagian walau pembagian itu tidak benar-benar pilah. Pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan ekstriksik. Kedua unsur inilah yang sering banyak disebut para kritikus dalam rangka mengkaji dan membicarakan novel atau karya sastra pada umumnya.
b. Unsur Intrinsik
Menurut Nurgiyantoro, (2015) unsur intrinsik adalah unsur- unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra, unsur- unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita (h.30). Unsur yang terdapat dalam unsur intrinstik yaitu :
a) Tema
24
Setiap sastra mengandung gagaan pokok atau yang biasa disebut tema. Pengarang dalam menulis cerita bukan hanya sekedar mau bercerita, tetapi mau mengatakan sesuatu pada pembacanya.
Kosasih (2008) berpendapat bahwa tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita, tema cerita menyangkut segala persoalan, yaitu persoalan kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan sebagainya (h.55). Sedangkan Nurgiyantoro, (2015) Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel (h.117). jadi tema inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, pengalaman kehidupan, rindu, takut, sosial dan sebagainya. Dalam hal tertentu, tema dapat disinonimkan dengan ide atau tujuan cerita.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tema adalah sebuah gagasan yang menjadi dasar dalam sebua cerita, dan berkaitan dengan berbagai macam masalah yang terdapat dalam kehidupan manusia.
b) Plot/Alur
Plot/alur dengan jalan cerita memang tidak dapat dipisahkan tetapi harus dibedakan, orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jaln cerita memuat kejadian, tetapi suatu
25
kejadian ada karena ada sebabnya, ada alasannya yang menggerakan kejadian cerita tersebuut adalah plot/alur.
Kosasih (2008) menjelaskan alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.
Secara umum jalan cerita terbentuk atas bagian-bagian berikut ini (h.58) :
a) Pengenalan situasi cerita (exposition)
Yaitu penganrang memperkenalkan para tokoh serta menata adegan dan hubungan antartokoh.
b) Pengungkapan peristiwa (complication)
Pada bagian ini disajikan perisriwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya
c) Menuju pada adanya konflik (rising action)
Terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatan berbagai situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.
d) Puncak konflik (turning Point)
Bagian ini disebut pula sebagai klimaks, inilah bagian cerita yang paling besar dan mendebarkan. Pada bagian ini pula ditentukannya perubahan nasib beberapa tokohnya, misalnya berhasil tidaknya menyelesaikan masalah.
e) Penyelesaian (ending)
26
Sebagai akhir cerita, bagian ini berisi penjelasan tentang nasib-nasib yang dialami oleh tokoh setelah mengalami peristiwa puncak. Namun, ada pula novel yang penyelesaian akhir ceritanya diserahkan kepada imajinasi pembaca. Jadi, akhir cerita dibiarkan menggantung, tanpa ada penyelesaian.
Alur disebut juga jalan cerita. Bentuk alur berupa peristiwa-peristiwa yang disusun secara berkaitan menurut hukum sebab-akibat dari awal sampai akhir cerita. Menurut Nurhayati (2019) Alur cerita ada beberapa jenis. Secara kualitatif, alur cerita terbagi dua (h.124), yaitu :
a) Alur erat
Pada alur erat, hubungan peristiwa satu dengan lainnya sangat erat, dan padu sehingga tidak mungkin ada bagian cerita yang diambil sebagaian saja. Alur jenis ini saling terikat antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya (h.124).
b) Alur Longgar
Pada alur ini, ada bagian cerita yang diambil dari cerita yang telah diuraikan sebelumnya. Disebut karena adanya degresu atau masuknya peristiwa lain ke dalam cerita tersebut (h.124).
27
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa plot/alur adalah kekuatan sebuah cerita yang mengatur jalannya cerita dari awal ampai akhir dan elemen-elemen yang ada pada alur/plot yaitu, pengenalan, timbulnya konflik, konflik memuncak, klimaks, dan pemecahan masalah.
c) Latar
Latar termasuk unsur intrinsik karya sastra, latar meliputi latar tempat dan waktu. Tempat dan waktu yang dirujuk dalam cerita bisa merupakan sesuatu yang faktual dan imajiner. Menurut Sumardjo & Saini (1988) latar atau setting dalam fiksi bukan hanya sekedar background artinya bukan hanya menunjukan tempat kejadian dan kapan terjadinya. setting/latar bukan hanya menunjukan tempat dan waktu tertentu tetapi juga hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah, sampai pada macam debunya, pemikiran rakyatnya, kegilaan merka, gaya hidup meraka, kecurigaan meraka dan sebagainya (h.78). ini sesuai apa yang disampaikan Nurgiyantoro (2015) latar dalam cerita fiksi tidak terbatas pada penunjukan lokasi lokasi tertentu, atau sesuatu bersifat fisik saja, melainkan juga yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan (h.306).
Dari beberapaa pendapat dapat disimpulkan bahwa latar meliputu tempat dan waktu, tetapi bukan hanya sekedar itu saja
28
melainkan latar lebih rinci dalm suatu wilayah dalam sebuah cerita misalnya, adat istiadat, nilai-nilai, bahkan debu dalam sebuah cerita.
Latar juga memilik beberapa unsur. Menurut Nurgiyato (2015) berpendapat unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga aunsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial budaya. Walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, ketiga unsur itu pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (h.314)
a) Latar Tempat
Latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah tempat-tempat karya sastra.
Unsur tempat yang diergunakan mungkin berupa tempat- tempat dengan nama tertentu, inisial dan mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Tempat-tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata, misalnya jakarta, Yogyakarta, Bangka belitung dan lain-lainnya yang terdapat dalam novel orang-orang biasa. Tempat dengan inisial tertentu, biasanya berupa huruf awal (Kapital) nama suatu tempat, juga menyaran pada tempat tertentu, tetapi pembaca harus memperkirakannya sendiri, Misalnya kota M, S, T. Latar tempat yang tanpa nama jelas biasanya hanya berupa
29
penyebutan jenis dan sifat umum tempat-tempat tertentu, misalnya desa, sungai, jala, hutam, kota dan sebagainya.
b) Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan”
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Masalahnya “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah, pengetahuan dan persepsipembaca terhadap waktu sejarah itu kemudian dipergunakan untuk mencoba masuk kedalam suasana cerita.
c) Latar Sosial-budaya
Latar sosial-budaya menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra. Tata cara kehidupan masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lainnya. Ketika mengankat latar tempat tertentu ke dalam cerita pengarang perlu menguasai medan, keadaan itu juga terlebih berlaku untuk latar sosial-budaya.
Pengertian penguasaan meda lebih terhadap pada penguasaan latar. Jadi ia mencakup unsur tempat waktu, dan sosial-budaya sekaligus. Latar sosial-budaya berperan menentukan apakah
30
sebuah latar, khususnya latar tempat, menjadi khas, tipikal dan fungsional, atau sebaliknya bersifat netral. Dengan kata lain, untuk menjadi tipikal dan lebih fungsional deskripsi latar tempat harus sekaligus disertai latar sosial-budaya, tingkah laku kehidupan sosial masyarakat ditempat yang bersangkuta.
Dari ketiga unsur tersebut dapat disimpulkan bahwan latar memiliki peran penting, terkait tempat, waktu dan sosial/budaya dalam sebuah cerita karna akan menjelaskan kondisi cerita yang dibuat sipengarang mengenai sebuah kejadian.
d) Tokoh dan Penokohan
Merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra, di samping tema, alur, sudut pandang, dan amanat. Plot atau alur boleh saja dianggap sebagai tulang punggung cerita, namun kita pun dapat mempersialkan: siapa yang diceritakan itu? Siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra jati dirinya, menurut Nurgiyantoro (2015) Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan: “siapakah tokoh utama dalam novel itu”?, atau “ada berapa jumlah tokoh novel itu?”. Daan penokohan itu menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yng ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kulitas pribadi seorang tokoh,
31
penokohan sering juga disamakan artiny dengn karakter dan perwatakan (h.247). sedangkan menurut kosasih (2008) Penokohan adalah cara pengarang dalam menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita (h.61).
Dengan demikian tokoh dan penokohan adalah dua hal yang berbeda, tokoh adalah orang, pelaku cerita sedangkan penokohan adalah watak yang tergambarkan dalam sebuah cerita.
e) point of view atau sudut pandang
sudut pandang, point if view, viewpoint, merupakan salah satu unsur karya sastra yang oleh stanton digolongkan sebagai mana sarana cerita, liteary device. Walau demikian hal itu tidak berarti bahwa perannya dalam sastra tidak penting. Sudut pandang haruslah diperhitungkan kehadirannya, bentuknya, sebab pemilihan sudut pandang akan berpengaruh terhadap penyajian cerita. Reaksi afektif pembaca terhadap sebuah cerita fiksi pun dalam banyak hak akan dipengaruhi oleh bentuk sudut pandang. Sudut pandang menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (2015) menunjuk pada cara sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya sastra kepada pembaca. Dengan demikian sudut pandang pada hakikatnya merupakan atrategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan cerita.
32
Hal yang tidak berbeda pengertiannya dikemukakan oleh Baldic dalam Nurgiyantoro (2015) yaitu bahwa sudut pandang adalah posisi atau sudut mana yang menguntungkan untuk menyampaikan kepada pembaca terhadap peristiwa dan cerita yang diamati dan dikisahkan(h.338). Pemilihan posisi dan kacamata pengisahan peristiwa dan cerita pada hakikatnya juga merupakan teknik bercerita agar apa yang dikisahkan lebih efektik.
Sedangkan menurut kosasih (2008) Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita titik posisi pengarang terdiri atas dua macam yaitu berperan langsung sebagai orang pertama dan hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.
Dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pendapat bahwa sudut pandang adalah cara pengarang dalam menyampaikan kepada pembaca terhadap peristiwa atau kejadian cerita.
f) Amanat
Secara umum moral atau amanat menunjuk pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainnya. Kosasih (2008) berpendapat bahwa amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca melalui karyanya. tidak jauh berbeda dengan bentuk
33
cerita lainnya amanat dalam novel akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukannya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf melainkan harus menghabiskannya sampai tuntas.
Amanat atau moral dala karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kenny dalam Nurgiyantoro (2015) mengemukakan bahwa moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan), lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
Sebuah cerita ditulis oleh pengarang untuk, antara lain, menawarkan model kehidupan yang diidealkannya. Sastra mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral atau amanat.
Melalui cerita, tingkah laku, sikap tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dan pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan.
Hampir semua novel diindonesia sejak awal pertumbuhannya hingga sekarang ini mengandaung unsur pesan
34
kritik sosial walau dengan tingkat intensitas yan tidak sama. Wujud kehidupan sosial yang dikritik dapat bermacam-macam seluas lingkup kehidupan sosial itu sendiri.
g) Gaya Bahasa
Dalam cerita, penggunaan bahasa berfungsi untuk mencipta nada atau suasana persuasif dan merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antar tokoh. kemampuan sang penulis dalam menggunakan bahasa secara cermat dapat menjelaskan suasana yang terus terang atau satiris Simpati atau menjengkelkan, dan objektif atau emosional. bahasa dapat menimbulkan suasana yang tepat guna bagi adegan yang seram adegan cerita peperangan, keputusasaan, atau harapan. Gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana sesorang pengarang mengungkapkan sesuatu.
dikemukakannya Abrams dalam Nurgiyantoro, (2015). Gaya bahasa ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain.sedangkan menurut Sumardjo dan Saini (1988) gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah karya sastra (h.92). dengan kata lain gaya akan berubah jika pengarangnya berbeda. Sependapat dengan itu Waluyo (2017)
35
setiap pengarang selalu berusaha menciptakan bahasa yang khas, lebih hidp, ekspresif dan estetis.
Dari beberapa pendapat dapat diambil kesimpulan bahwa gaya bahasa adalah pengucapan bahasa dalam karya sastra oleh pengarang dengan memainkan konflik, persoalan dan isi cerita dalam sebuah karya sastra.
c. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar teks sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangun atau sistem organisme teks sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh (untuk tidak dikatakan: cukup menentukan) terhadap totalitas bangun cerita secara keseluruhan. Wellek & warren (1956), walau membicarakan unsur ekstrinsik tersebut cukup panjang, tampaknya memandang unsur itu sebagai sesuatu agak negatif, kurang penting.
Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya, bagaimanapun, akan membantu dalam hal pemahaman makna karya sastra itu mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosangan budaya.
Sebagaimana halnya unsur intrinsik, unsur ekstrinsik juga terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud (Wellek &
Wareen, 1956) antara lain adalah keadaan subjektivitas individu
36
pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan memengaruhi karya yang ditulisnya.
Pendek kata, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkan. Unsur ekstrinsik berikutkan adalah psikologi, baik yang berupa pengarang (yang mencakup proses kreatifinya), psikologi pembaca, maupaun penerapan prinsip psikologi dalam karya. Keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra. Unsur ekstrinsik lain misalnya oandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya.
4. Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra berasal dar kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata Sosio (yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, dan teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan makna, sosio/socius berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi sosiologi artinyanilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan intruksi, akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berrti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata satra
37
bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik. Ratna (2013) memaparkan berbagai definisi sosiologi sastra dan menyebutnya dengan istilah hakikat untuk mempertajam pengertian soiologi sastra yang sering disalahtafsirkan. Perbedaan antara sastra dan sosiologi merupakan perbedaan hakikat, fiksi, dan fakta (h.1).
Nurholis (2019) Sosiologi merupakan ilmu kategoris yang terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang terjadi dalam kehidupan masyarakat (h.1). Oleh karena itu, soiologi tidak memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang belum terjadi dan jua bukan merupakan ilmu yang mengkaji sesuatu yang seharusnya terjadi.
Misalnya, keragaman budaya yang ada di indonesia, hal ini merupakan sesuatu yang secara turun-temurun diwarisi dari nenek moyang angsa indonesia.
Menurut penjelasan Rtzer dalam Nurholis, (2019), sosiologi merupakan disiplin ilmu tetnag masyarakat yang melandaskan masyarakat pada tiga paradigma, yaitu paradigma fakta-fakta sosial berupa lembaga sosial dn struktur sosial yang dianggap sebagaisesuatu yang nyata, yang berapa di luar individu. Sosiologi mencoba mempelajari segala sesuatu tentang manusia dalam masyarakat, baik dalam ubungan antara individu dan kelompok(h.2). Jadi sosiologi aalah ilmu yang mempelajari seluk beluk masyarakat baik secara
38
ekonomi, politik, yang pada gilirannya akan membentuk interaksi sosial, kelompok sosial, dan lembaga-lembaga sosial.
Karya sastra tidak jauh berbeda dengan sosiologi yakni berhubungan dengan masyarakat. Endraswara dalam Nurholis, (2019) sastra merupakan tiruan atau cerminan kehidupan msyarakat.
Meskipun demikian, sastra tetap diakui sebagai ilusi, fiksi atau khayalan dri kenyataan. Sastra bukan merupakan jiplakan atau salinan dari kenyataan, tetapi kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukanlah salinan yang kasar, tetapi refleksi halus dan estetis (h.4).
Karya sastra memiliki nilai kreatif dan estetis yang sangat dominan yang tertuang dalam tulisan-tulisan kreatif pengarangnya.
Sastra memiliki bahasa yang khas dengan bulatan-bulatan kata indah karena sastr merupkan seni kreatif. Dengan demikian ini sesuai dengan pemikiran Sabrina dalam Nurholis (2019) bahwa karya sastra merupakan hasil kreatif pikirian, perasaan, dan perbuatan manusia yang disusun dalam bentuk teks (h.5).
Dengan demikian berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sastra adalah tiruan kehidupan yang kreatif penciptaan manusia bersifat imajinatif dan estetis serta menggunaka bahasa sebgai medianya. Demikian maka sosiologi sastra merupaka titik pandang terhadap sastra. Sosiologi sastra merupakan ilmu tentang interdisiplin, yang memperhatikan ihwal estetis dan fakta
39
kemanusiaan. Sosiologi sastra sebgaia sebuah metode yang memahami manusia melalui fakta imajinatif memerlukan paradigma yang kukuh.
Dalam Nurholis (2019:20) ada beberapa bidang pokok sasaran soiologi sastra dapat diperinci sebagai berikut :
a. Konteks soisal pengarang
Berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakt dan berkaitan dengan masyarakat pembaca. Dalam bidang pokok ini termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat memengaruhi karya sastranya.
b. Sastra sebagai cermin masyarakat
Sastra sebagai cermin masyarakat, yitu sejauh mana sastra dianggap mencerminkan keadaan masyarakat karena hal-hal berikut :
1) banyak ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu berlaku lagi waktu ia ditulis.
2) Sifat ‘lain dari yang lain’, sesorang sstrawan sering memengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.
3) Genre sastra sering merupaka sikap sosial kelompok tertentu, bukan sikap sosial seluruh masyarakat.
4) Sastra berusha menampilkan keadaan masyarakat secermat- cermatnya.(H.20)
40 B. Penelitian yang Relevan
Hasil dari penelitian Dyah Ayu Andita, kritik sosial dalam novel berjuta-juta dari deli karya Emil. W.Aulia prodi pendidikan bahasa dan sastra indonesia universitas sebelas maret surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kritik sosial, nilai sosial, struktur dan iplikasinya dalam bahan pengajaran dalam novel Berjuta-juta dari Deli Karya Emil W.Aulia. adapun dalam penelitian tersebut terdapat nilai pendidikan dan patriotisme dan relevansinya dalam pembelajaran disekolah. Perbedaan penelitian ini dengan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah objek kajiannya. Penelitian ini objeknya adalah Berjuta- juta dari Deli Karya Emil W.Aulia sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan objeknya novel Orang-orang Biasa Karya Andera Hirata.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Galuh Candra Wisesa, prodi Komunikasi dan Penyiar Islam Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan judul kritik sosial terhadap perilaku masyarakat urban dalam film Jakarta Magrib. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kritik sosial yang terdapat pada film Jakarta Magrib yaitu perilaku masyaraat urban gya hidup masyarakat urban. Dalam penelitian ini ditemukan perilaku individualisme, kenakalan remaja, modernisme.
Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah objeknya kajiannya. Penelitian ini objeknya film Jakarta
41
Magrib sedangkan penelitiann yang akan penulis lakukan yaitu novel
Orang-orang Biasa Karya Andera Hirata.
42 BAB III ME TODOOGI PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode content analysis atau analisis isi. Menurut Sugiyono (2020) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau enterpretif, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, Teknik pengumpulan data dilakukan secara tringgulasi (gabungan observasi, wawancara, dokumentasi), data yang diperoleh cenderung kualitatif, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami makna, memahami keunikan, mengkontruksikan fenomena, dan menemukan hopotesis (h.9).
Hudhana (2018) pada metode analisis isi yang diutamakan adalah isi dari suatu komunikasidalam penelitian sastra (h.101). metode ini leih memperhatikan isi komunikasi dalam karya sastra. Prastowo dalam Sulaeman dan Goziyah, (2019) analisis isi adalah suatu metode yang teknik penelitiannya dilakukan dengan membentuk inferensi scara kontekstual (h.286). Sedangkan menurut Sulaeman dan Goziyah, (2019) dalam analisis isi, pesan, atau informasi yang diperoleh dicatat secara sistematis, kemudian diinterprestasikan oleh peneliti. (h.227). metode analisis isi yang digunakan untuk menelaah isi dari suatu dokumen, dalam
43
penelitian ini dokumen yang dimaksud adalah novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
Ratna (2013) mengatakan bahwa “sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini, (das sein). Bukan apa yang seharusnya terjadi (das sollen). Sebaliknya, karya sastra lebih jelas bersifat evaluatif, subjektif dan imajinatifa” (h.2). dari pendapat tersebut terlihat bahwa sosiologi merupakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya, sedangkan dalam sebuah karya sastra, kehidupan dapat dibuat sesuka hati karena bersifat personal dan khayali.
B. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan bukan bersifat statis melainkan sebuah analisis yang dinamis yang dapat terus dikembangkan. Adapun waktu penelitian ini dimulai dari pengajuan judul skripsi sampai pada ujian skripsi yang telah ditentukan.
Tabel 3.1 Waktu Penelitian
No Kegiatan Waktu Ket
1 Pengajuan Judul Agustus-November 2019
Terlaksana
2 Bimbingan Proposal Desember-Mei 2020
Terlaksana
3 Seminar Proposal Mei 2020 Terlaksana
4 Bimbingan dan revisi Juni 2020 Terlaksana
44 hasil seminar
5 Pembuatan instrumen penelitian
Juni 2020 Terlaksana
6 Pengumpulan data Juli 2020 Terlaksana
7 Pengumpulan dan analisis data
Juli 2020 Terlaksana
8 Ujian skripsi Agustus 2020 Terlaksana
C. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Sumber pada penelitian ini adalah buku novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata. Adapun jumlah halaman dalan novel ini adalah 300 halaman dan diterbitkan oleh Bentang, Yogyakarta 2019. Jenis data yang akan dianalisis adalah kritik sosial, adapun jenis penelitian ini dapat dikelompokan menjadi data seperti berikut ini :
1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama.
Data primer dari penelitian ini adalah Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
2. Data sekunder dari penelitian ini adalah data-data yang bersumber dari buku referensi yang berkaitan dengan objek yang menjadi peneliti.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan studi pustaka yaitu dengan menganalisis isi novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata, Pada analisis ini penulis membaca dan menyimak
45
kemudian mencatat dokumen-dokumen yang diambil dari data primer yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Adapun langkah- langkah pengumpulan data dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata, Yaitu :
1. Membaca secara cermat novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
2. Mencatat bagian yang menggambarkan unsur budaya dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
3. Mengelompokan data yang sedang dianalisa khusunya kritik sosial pada novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
4. Menganalisis kritik sosial novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata dan implikasinya dengan materi pembelajaran disekolah.
46 E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam pelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Hasil kerja pengumpulan data kemudian dicatat dalam alat bantu penelitian yng berupa kartu tanda. Hal ini untuk memungkinkan pekerjaan secara sistematis
Tabel 3.2
Instrumen analisis kritik sosial
novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata dan implikasinya pada materi ajar bahasa indoneseia No Kutipan Disorganisasi
Keluarga
Kemiskinan Kejahatan Ket
1.
2.
3.
4.
5.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data bertujuan sebagai alat untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesisi yang telah dirumuskan dalam penelitian. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan deskriptif dan analisi digunakan metode kualitatif. Langkah-langkah analisi data yang dilakukan yaitu :
1. Reduksi Data
47
Dalam mereduksi data lebih memfokuskan pada hal-hal yang penting dicari. Data-data yang dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis dalam hal ini tentang kritik sosial yang berkenaan yang terdapat dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, kemudian dilakukan penyajian. Sehingga diperoleh deskripsi tentang kritik sosial yang dikemukakan pengarang pada novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata.
3. Kesimpulan/verifikasi
Pada tahap ketiga dibuat penarikan kesimpulan tentang hasil analisis yang diperoleh dalam bentuk teks yang terdapat dalam novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata. Sehingga hasil yang
diperoleh benar-benar valid.
Ketiga langkah tersebut saling berberkaitan maka dari itu harus dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal sampai dengan penelitian berakhir.
G. Keabsahan Data
Untuk meyakinkan bahwa deskrikpsi data yang disajikan diatas adalah data yang absah dan memiliki derajat kepercayaan dilakukan teknik pejaminan keabsahan melalui : confirmability, credibility, transferability, dependenbility.
1. Objektifitas (confirmability)