LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) TAHUN 2018
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 11, Makassar
Telp. (0411) 588170
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 1 1.1. LATAR BELAKANG
Penyusunan Laporan Kinerja (LKJ) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tahun 2018 dimaksudkan sebagai salah satu media untuk memberikan informasi mengenai pencapaian kinerja BPBD Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2018. LKJ Tahun 2018 juga merupakan alat kendali dan alat pengukuran kinerja secara kuantitatif menuju terwujudnya akuntabilitas keuangan negara yang berkualitas.
Penilaian dan pelaporan kinerja pemerintah daerah menjadi salah satu kunci untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif. Upaya ini juga selaras dengan tujuan perbaikan pelayanan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk itu, pelaksanaan otonomi daerah perlu mendapatkan dorongan yang lebih besar dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dalam pengembangan akuntabilitas melalui penyusunan dan pelaporan kinerja pemerintah daerah.
Penyusunan Laporan Kinerja (LKj) merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
Penyusunan LKj dilakukan dengan mendasarkan pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, di mana pelaporan capaian kinerja organisasi secara transparan dan akuntabel merupakan bentuk pertanggungjawaban atas kinerja Pemerintah Daerah.
Proses penyusunan LKj dilakukan pada setiap akhir tahun anggaran bagi setiap instansi untuk mengukur pencapaian target kinerja yang sudah ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja. Pengukuran pencapaian target kinerja ini dilakukan dengan membandingkan antara target dan realisasi kinerja setiap instansi pemerintah, yang dalam hal ini adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan. LKj menjadi dokumen laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggung-jawaban kinerja suatu instansi dalam mencapai tujuan/sasaran strategis instansi. Disinilah esensi dari prinsip akuntabilitas sebagai pijakan bagi instansi pemerintah ditegakkan dan diwujudkan.
BAB I PENDAHULUAN
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 2 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
LKj BPBD Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi instansi selama kurun waktu 1 tahun dalam mencapai tujuan/sasaran strategis instansi. Penyusunan LKj juga menjadi alat kendali untuk mendorong peningkatan kinerja setiap unit organisasi. Selain itu, LKj menjadi salah satu alat untuk mendapatkan masukan stakeholders demi perbaikan kinerja BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.
Identifikasi keberhasilan, permasalahan dan solusi yang tertuang dalam LKj, menjadi sumber untuk perbaikan perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan yang akan datang. Dengan pendekatan ini, LKj sebagai proses evaluasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perbaikan yang berkelanjutan di pemerintah untuk meningkatkan kinerja pemerintahan melalui perbaikan pelayanan publik.
1.3. SEJARAH BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
Awal mula berdirinya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) diawali dengan berdirinya BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebagai induk dari BPBD.
Sejarah Lembaga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbentuk tidak terlepas dari perkembangan penanggulangan bencana pada masa kemerdekaan hingga bencana alam berupa gempa bumi dahsyat di Samudera Hindia pada abad 20.
Sementara itu, perkembangan tersebut sangat dipengaruhi pada konteks situasi, cakupan dan paradigma penanggulangan bencana.
Melihat kenyataan saat ini, berbagai bencana yang dilatarbelakangi kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis mendorong Indonesia untuk membangun visi untuk membangun ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana.
Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia. Wilayah yang juga terletak di antara benua Asia dan Australia dan Lautan Hindia dan Pasifik ini memiliki 17.508 pulau. Meskipun tersimpan kekayaan alam dan keindahan pulau-pulau yang luar biasa, bangsa Indonesia perlu menyadari bahwa wilayah nusantara ini memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Tragedi gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada tahun 2004 telah mendorong perhatian serius Pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam manajemen penanggulangan bencana. Menindaklanjuti situasi saat iu, Pemerintah
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 3 Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB). Badan ini memiliki fungsi koordinasi yang didukung oleh pelaksana harian sebagai unsur pelaksana penanggulanagn bencana. Sejalan dengan itu, pendekatan paradigma pengurangan resiko bencana menjadi perhatian utama.
Dalam merespon sistem penanggulangan bencana saat itu, Pemerintah Indonesia sangat serius membangun legalisasi, lembaga, maupun budgeting. Setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB terdiri atas kepala, unsur pengarah penanggulangan bencana, dan unsur pelaksana penanggulangan bencana. BNPB memiliki fungsi pengkoordinasian pelaksanaan kegiataan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.
Sebagai implementasi amanat UU dan Peraturan terkait lainnya, Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 14 Desember 2009 telah menetapkan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 12 Tahun 2009 tentang Perubahan PERDA nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, BAPPEDA, Lembaga Teknis Daerah dan Lembaga Lain Provinsi Sulawesi Selatan. PERDA ini merupakan dasar hukum terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Propinsi Sulawesi Selatan yang disusul dengan keluarnya Peraturan Gubernur (PERGUB) Nomor 30 Tahun 2010 tentang Tugas Pokok dan Fungsi BPBD Propinsi Sulawesi Selatan.
1.4. ISU STRATEGIS BPBD
Isu Strategis BPBD Propinsi Sulawesi Selatan tertuang dalam Rencana Strategis BPBD Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2013-2018 adalah :
a. Permasalahan umum yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. Pemerintah, masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana.
Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat, terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban.
b. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total, rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 4 korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis, termasuk obat-obatan, yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah, fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
c. Permasalahan lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana.
Tampaknyapemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim.
d. Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan), tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram.
e. Permasalahan lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana, termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa, belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengantingkat kerawanan tinggi, untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
f. Belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. Setiap terjadi bencana, siapa berbuat apa belum jelas, masih sangat abu-abu. Semua ingin membantu, tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana, apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi, sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana.
g. Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencanamasih memerlukan sosialisasi yang intensif dengan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan, peraturan- peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 5 pembangunan, dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik.
Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan, diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu, efektif, efisien dan handal.
h. Permasalahan umum lainnya adalah besarnya kebutuhan anggaran untuk pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya, banyak komunitas yang perlu menerima gladi, simulasi dan pelatihan kebencanaan. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. Selain itu, di pihak pemerintah daerah sendiri masih banyak yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya, masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik.
1.5. STRUKTUR ORGANISASI BPBD
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009 tentang Perubahan PERDA Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, BAPPEDA, Lembaga Tehnis Daerah dan Kelembagaan Lain Provinsi Sulawesi Selatan, maka stuktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan, terdiri dari 1(satu) Kepala Badan Penanggulangan Bencana setingkat eselon Ib (secara ex-officio), 1(satu) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana setingkat eselon IIa, 1(satu) Sekretaris, 3(tiga) Kepala Bidang setingkat eselon IIIa dan 9 (sembilan) Kepala Sub Bagian/Seksi setingkat eselon IVa.
Secara terperinci diuraikan sebagai berikut : a. Sekretariat
Sekretariat terdiri dari Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, Sub Bagian Keuangan, Sub Bagian Program.
b. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan.
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan terdiri dari Seksi Pencegahan dan Seksi Kesiapsiagaan.
c. Bidang Kedaruratan dan Logistik.
Bidang Kedaruratan dan Logistik terdiri dari Seksi Kedaruratan dan Seksi Logistik.
d. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi terdiri dari Seksi Rehabilitasi dan Seksi Rekonstruksi.
Berdasarkan pada Eselonisasi, maka Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, terdiri dari :
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 6 a. Kepala Badan (Eselon Ib) 1 orang
b. Kepala Pelaksana Badan (Eselon IIa) 1 orang.
c. Sekretaris (Eselon IIIa) 1 orang d. Kepala Bidang (Eselon IIIa) 3 orang e. Tim Pengarah (Non Eselon)
f. Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi (Eselon IVa) 9 orang.
g. Staf sebanyak sesuai kebutuhan.
Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah dapat dilihat pada gambar berikut ini.
KEPALA BADAN
UNSUR PENGARAH
KEPALA PELAKSANA
SEKRETARIAT
Sub.Bag
Bid. Penc.gh & Kesiapsiagaan Bid. Kedaruratan & Log Bid. Rehab & Rekon.
Seksi
Sub.Bag Sub.Bag
Seksi Seksi
Seksi
Seksi Seksi
1.6. SUSUNAN KEPEGAWAIAN
Badan Penanggulangan Bencana Daerah memiliki kapasitas SDM dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Per Desember 2018, jumlah PNS di BPBD adalah sebanyak 33 orang, dengan perimbangan laki-laki sebanyak 23 orang (70%) dan perempuan sebanyak 10 orang (30%).
Bila dirunut per jenjang pendidikan, maka persentase terbesar adalah jenjang pendidikan S2 sebanyak 13 orang (39%), lalu kemudian S1 sebanyak 13 orang (39%), Diploma III 1 orang (3%), kemudian SLTA sebanyak 6 orang (18%). Hal ini menunjukkan bahwa dari segi jenjang pendidikan, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan memiliki keragaman sumber daya manusia yang baik. Adapun selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 7 TABEL DATA PEGAWAI
BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN
No. Nama NIP Jabatan Golongan
1. Drs. H.SYAMSIBAR,MH 19600901 198101 1 001 Kepala Pelaksana PEMBINA UTAMA MADYA IV/d 2 Drs. FIRMAN ARIS, M.Si 19630220 198303 1 007 Kabid Rehabilitasi dan
Rekonstruksi
PEMBINA TK.I / IV b 3 Drs. ENDRO YUDO
WARYONO, M.Si.
19631006 198610 1 005 Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan
PEMBINA TK.I / IV b 4 Dra. Hj. MARIA
MAHMUD, MM
19611120 198603 2 011 Kasi Rekonstruksi PEMBINA / IV a 5 Dra. GUSTI SATRIA, Msi 19630705 198503 2 011 Kasubag Umum &
Kepegawaian
PEMBINA / IV a 6 MAGETORI, SH, MM 19611010 199403 1 007 Kasubag Keuangan PENATA TK. I / IV a 7 DARMIANI THAHA, S.sos 19640817 1989O3 2 016 Kasubag Program PENATA TK. I / III d 8 Drs. A. BALI RAJA, MM 19660807 198801 1 009 Kasi Rehabilitasi PENATA TK. I / III d 9 ABDUL HAFID
HANAFI,S.Sos
19630808 198803 1 016 Kasi Kesiapsiagaan PENATA TK. I / IIId 10 A. WAHID RASJID AZIS,
SH, MH
19860613 201001 1 004 Kasi Kedaruratan PENATA / III c
11 ARDADI, S.Farm, M. Kes 19740405 199702 1 001 Kasi Logistik PENATA MUDA TK. I / III c
12 ST. BAHARIAWATI, SE 19650923 198803 2 015 Staf PENATA / III d
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 8
13 ANDRIYANI, SE, MAP 19691208 199203 2 008 Staf PENATA / III d
14 SALMAH, SH 19670905 200604 2 010 Staf PENATA / III d
15 M. SYAMSIR BAUSAD 19650821 198703 1 009 Staf PENATA MUDA TK. I / III b
16 MASRIUDDIN, SE, MM 19750727 200901 1 008 Staf PENATA MUDA TK. I / III c
17 MUH. IMRAN, S, Ag 19680427 200901 1 003 Staf PENATA MUDA TK. I / III c
18 ASMAWATI, S.Sos 19760104 200701 2 149 Staf PENATA MUDA TK. I / III c
19 WAHYUDI RUWITANTO, SP, M.Si
19751125 201001 1 008 Staf PENATA MUDA TK. I / III c
20 LAODE SAIFUL MUKMIN, ST
19761211 201101 1 005 Staf PENATA MUDA / III b
21 KHADIRAH, ST 19790425 201101 1 002 Staf PENATA MUDA / III b
22 HENDRA MUCHTAR, ST 19790528 201101 1 002 Staf PENATA MUDA / III b
23 ANDI MIFTAHUDDIN, S.ST
19901209 201402 1 001 Staf PENATA MUDA / III b
24 MUQTADIR RASUL, S.ST 19870708 201402 1 002 Staf PENATA MUDA / III b
25 MASHUD MANSYUR, S.ST
19890324 201402 1 004 Staf PENATA MUDA / III b
26 LILISARI RAMADHANI, S.ST
19890422 201402 2 003 Staf PENATA MUDA / III b
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 9 27 ANDI INSANUL KAMIL,
S.ST
19890704 201402 1 005 Staf PENATA MUDA / III b
28 EMILDA BAHARUDDIN 19800315 200003 2 001 Staf PENGATUR / II d
29 RUSTAM 19720329 200801 1 105 Staf PENGATUR MUDA TK. 1 / II c
30 ANDI ARAS HALIM 19830908 200801 1 005 Staf PENGATUR MUDA TK. 1 / II c
31 YASTRIB TAUFIQ 19840417 200901 1 004 Staf PENGATUR MUDA TK. 1 / II c
32 SYAMSUL BAHRI 19830809 200801 1 003 Staf PENGATUR MUDA / II b
33 ISAK TORANO 19821226 200801 1 011 Staf PENGATUR MUDA / II b
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 10 2.1 RENCANA STRATEGIS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
2.1.1. Visi dan Misi
Rencana Strategis BPBD Propinsi Sulawesi Selatan adalah untuk memberikan gambaran ruang lingkup kewenangan dan urusan, visi dan misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan, program dan kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana selama 5 tahun ke depan yang akan dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
Tujuan penyusunan RENSTRA BPBD Provinsi Sulawesi Selatan adalah untuk menetapkan prioritas program kegiatan pembangunan yang strategis lima tahunan melalui sumber pembiayaan APBD yang dimaksudkan untuk memberikan landasan kebijakan taktis strategis lima tahunan dalam kerangka pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran sebagai tolak ukur pertanggung jawaban Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada setiap akhir Tahun Anggaran. Bagian ini akan menguraikan Visi dan Misi BPBD Propinsi Sulawesi Selatan yang tertuang dalam renstra tersebut.
Visi :
“Ketangguhan Sulawesi Selatan dalam Penanggulangan Bencana untuk Mendukung Akselerasi Kesejahteraan 2018”
Visi tersebut memberi gambaran dan aspirasi wujud pembangunan yang diidamkan oleh masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu :
1. Penyelenggaraan penanggulangan bencana yang dilakukan secara tangguh (efektif dan efisien) dapat terwujud, jika terdapat sinergitas peran antara pemerintah dan masyarakat.
2. Mewujudkan partisipasi masyarakat secara optimal dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana yang dilandasi oleh kebersamaan, kemitraan, keberdayaan dan keterpaduan serta nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwarisi masyarakat Sulawesi Selatan.
BAB II PERJANJIAN DAN PERENCANAAN KINERJA
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 11 Misi :
1. Memperkuat system Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan
2. Memperkuat Kelembagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 12 2. 2. SASARAN STRATEGIS DAN INDIKATOR
Sasaran strategis dan indikator sasaran setelah perubahan dapat di lihat pada tabel berikut :
TARGET KINERJA SASARAN BERDASARKAN RENSTRA PERUBAHAN 2013-2018 BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
TUJUAN SASARAN INDIKATOR
SASARAN SATUAN TARGET SASARAN TAHUN
2014 2015 2016 2017 2018 Meningkatkan
kesiapan dan kemampuan
Penanggulangan Bencana pada Tahap pra, saat dan paska bencana secara terpadu dan menyeluruh
Meningkatnya kesiapan dan kemampuan dalam upaya pengurangan risiko Bencana
1. Jumlah Kabupaten / Kota yang memenuhi kriteria siaga bencana
Kabupaten / kota yang memenuhi kriteria:
1. Peringatan dini 2. Evakuasi
3. Rencana
Kontijensi
0 5 10 15 20
2. Jumlah kabupaten kota yang memiliki peta rawan bencana
Kab/kota
0 24 24 24 24
3. Jumlah aparat dan masyarakat yang pengetahuannya
meningkat terkait upaya pengurangan risiko bencana
Aparat dan
masyarakat yang nilai post testnya meningkat dari pre test
100 100 100 100 100
Meningkatnya efektifitas sistem penanganan kedaruratan
1. Persentase
terpenuhinya aspek standar minimal logistik dan peralatan penanggulangan
bencana prov sulsel
%
100 100 100 100 100
2. Jumlah unit Unit Pusdalops 0 10 15 20 24
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 13
TUJUAN SASARAN INDIKATOR
SASARAN SATUAN TARGET SASARAN TAHUN
2014 2015 2016 2017 2018
PUSDALOPS di
Kabupaten / Kota
kab/kota 3. Jumlah aparat TRC
yang Kapasitasnya Meningkat dalam penanganan darurat bencana
TRC yang nilai post testnya meningkat
dari pre test 100 100 100 100 100
Meningkatnya upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih baik dibanding
sebelum bencana
1. Persentase kabupaten / kota yang menyusun rencana aksi
rehabilitasi
% penyusunan rencana Aksi
100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 2. Persentase sumber
daya manusia yang memiliki kompetensi analisis DaLA dan HRNA
% SDM yag nilai post testnya meningkat dari pre test
40 60 75 85 90
Meningkatkan Kapasitas
kelembagaan BPBD Sulawesi Selatan untuk menjalankan tupoksi secara maksimal
Meningkatnya Kapasitas kelembagaan Sumber Daya Manusia dan kinerja BPBD Sulawesi Selatan
1. Tingkat kapasitas kelembagaan BPBD Provinsi dalam penanggulangan Bencana
Tingkatan / Level
Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 Level 5
2. Nilai evaluasi
implementasi SAKIP oleh Inspektorat Provinsi
Predikat
CC CC B BB BB
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 14 3. 1. Capaian Indikator Kinerja Utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Pengukuran capaian kinerja Tahun 2018 merupakan bagian dari penyelenggaraan akuntabilitas kinerja tahunan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Pengukuran dilakukan terhadap kinerja yang diperjanjikan Tahun 2018 dan membandingkannya dengan target yang diperjanjikan dalam dokumen penetapan kinerja 2018. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan menyempurnakan rumusan sasaran strategis dengan memilih indikator kinerja yang dinilai signifikan bagi BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dalam mempengaruhi pencapaian tujuan/sasaran strategis secara langsung dengan mengacu pada indikator capaian program BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.
Pendekatan manajemen pembangunan berbasis kinerja, yang utama adalah bahwa pembangunan diorientasikan pada pencapaian menuju perubahan yang lebih baik. Hal ini mengandaikan bahwa fokus dari pembangunan bukan hanya sekedar melaksanakan program/kegiatan yang sudah direncanakan. Esensi dari manajemen pembangunan berbasis kinerja adalah orientasi untuk mendorong perbaikan, di mana program/kegiatan dan sumber daya anggaran adalah alat yang dipakai untuk mencapai rumusan perubahan, baik pada level keluaran, hasil maupun dampak.
Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip good governance di mana salah satu pilarnya, yaitu akuntabilitas, akan menunjukkan sejauh mana sebuah instansi pemerintahan telah memenuhi tugas dan mandatnya dalam penyediaan layanan publik yang langsung bisa dirasakan hasilnya oleh masyarakat. Sehingga, pengendalian dan pertanggungjawaban program/kegiatan menjadi bagian penting dalam memastikan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah kepada publik telah dicapai.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 15 Sedangkan untuk skala penilaian terhadap kinerja pemerintah, menggunakan pijakan Permendagri No. 54 tahun 2010 sebagai berikut:
No. Interval Nilai Evaluasi Knerja
Kriteria Penilaian Realisasi Kinerja
Kode
1. 91 ≤ Sangat Tinggi
2. 76 ≤ 90 Tinggi
3. 66 ≤ 75 Sedang
4. 51 ≤ 65 Rendah
5. ≤ 50 Sangat Rendah
3.1 CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
Pengukuran target kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan akan dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dengan realisasi kinerja. Kriteria penilaian yang diuraikan dalam tabel selanjutnya akan dipergunakan untuk mengukur kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk tahun 2018.
BPBD Provinsi Sulawesi Selatan selalu berusaha berbenah diri, sehingga di tahun 2017 BPBD Provinsi Sulawesi Selatan merespon nilai Sistem Akuntabiltas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan memperoleh hasil yang cukup baik. Hasilnya, telah dilakukan perbaikan SAKIP sesuai dengan arahan Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan.
Dampak dari perubahan SAKIP tersebut, BPBD telah memiliki sasaran, indikator sasaran, dan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang lebih terarah. Pencapaian IKU hasil perubahan juga akan dinilai pada LKJ ini, diharapkan penilaian ini akan menjadi evaluasi pencapaian Indikator Sasaran yang baru di tahun mendatang. IKU hasil perubahan sebagai berikut :
No. Indikator Capaian 2017
2018 Target
Akhir Renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisas
i
% realisas
i 1 Jumlah
Kabupaten kota yang memiliki peta rawan
24 Kabupate n/ Kota
24 Kabupate n/ Kota
24 Kabupate n/ Kota
100 24
kabupate n/Kota
100 %
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 16 bencana
2 Jumlah aparat dan masyarakat yang
pengetahuanny a meningkat terkait upaya pengurangan risiko bencana
100 (100 %)
100 orang 24 kab/kota
100 orang 24 kab/kota
100 500
orang (100 %)
100 %
3 Persentase terpenuhinya aspek standar logistik dan peralatan Provinsi Sulawesi Selatan
100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %
4 Persentasi kabupaten / kota yang terfasilitasi penyusunan rencana aksi rehabilitasi
100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %
5 Nilai Evaluasi Implementasi SAKIP SKPD oleh Inspektorat Provinsi
CC B BB 120 % BB 100 %
Tujuan pengukuran IKU hasil perubahan renstra BPBD pada LKj Tahun 2018 ini adalah melihat modal awal BPBD Provinsi Sulawesi Selatan untuk mencapai indikator sasaran yang baru di susun di akhir tahun renstra. Hasilnya yaitu, pada indikator pertama BPBD sudah mencapai 100% dari target yang telah ditentukan. BPBD Prov. Sulsel telah memiliki peta rawan bencana pada 24 kab/kota seluruh Provinsi Sulawesi Selatan. Peta rawan bencana ini meliputi peta bahaya, kapasitas, kerentanan, dan resiko di seluruh
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 17 Provinsi Sulawesi Selatan. Peta tersebut hanya perlu di lengkapi dengan data kejadian bencana setiap tahunnya sebagai update data potensi bencana setiap tahun.
Pada indikator ketiga, berdasarkan PERKA BNPB Nomor 17 tahun 2009 tentang Pedoman Standarisasi Peralatan Penanggulangan Bencana dan PERKA BNPB nomor 18 tahun 2009 tentang Pedoman Standarisasi Logistik Penanggulangan Bencana, Provinsi Sulawesi Selatan telah cukup memenuhi aspek standar logistik dan peralatan penanggulangan bencana. Data peralatan dan logistik penanggulangan bencana dapat dilihat dibagian lampiran.
Pencapaian IKU pada proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana mencapai 100 %. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan setiap tahunnya berusaha menfasilitasi rencana aksi rehabilitasi yang di butuhkan daerah dalam melakukan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan menfasilitasi semua proposal rencana aksi rehabilitasi sebanyak 8 proposal yang diajukan daerah.
Penilaian evaluasi implementasi SAKIP BPBD oleh Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan telah memiliki predikat “BB”. Nilai tersebut sudah memenuhi melebihi target capaian BPBD. Nilai yang didapatkan merupakan hasil usaha yang telah dilakukan oleh BPBD Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 dalam menyempurnakan dokumen SAKIP yang telah memiliki nilai baik pada tahun 2017.
3.2. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja
Bagian ini akan menguraikan evaluasi dan analisis capaian kinerja yang menjelaskan capaian kinerja secara umum sebagaimana sudah diuraikan dalam sub bab sebelumnya.
Penyajian untuk sub bab ini akan disajikan per sasaran strategis. Beberapa sasaran strategis yang terkait digabungkan menjadi satu dalam analisis ini.
a. Meningkatnya kesiapan, dan kemampuan dalam upaya pengurangan resiko Bencana
Semenjak penerapan UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, urusan Kesadaran, Kesiapan dan Kemampuan dalam Upaya Pengurangan resiko bencana merupakan salah satu urusan yang memiliki kedudukan signifikan. Posisi pengurangan resiko bencana menjadi semakin kuat karena perubahan paradigma pennggulangan bencana dari paradigma kedaruratan bencana menjadi paradigma pengurangan resiko bencana.
Capaian Kinerja BPBD dalam usaha mencapai sasaran upaya pengurangan resiko bencana berdasarkan renstra dapat dilihat di tabel berikut :
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 18 Capaian Indikator Sasaran berdasarkan
Renstra Perubahan Indikator Capaian
Kinerja 2017
(%)
2018 Target
Akhir RPJMD
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah
Kabupaten / Kota yang memenuhi
kriteria siaga bencana
15 Kab/kota
24 Kab/kota
24 kab/kota
100 % 24
Kab/kota
100%
Capaian indikator sasaran Terwujudnya Kesadaran, kesiapan, dan kemampuan dalam upaya pengurangan resiko Bencana sudah sangat baik sebagai pondasi kemajuan capaian BPBD di tahun mendatang.
Kriteria kabupaten/kota yang memenuhi kriteria siaga bencana didasarkan pada Dokumen Rencana Nasional (RENAS) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2015-2019 tentang pendefinisian dan pengaturan untuk menjamin kesiapsiagaan bencana yang meliputi peringatan dini, evakuasi dan perencanaan kontijensi.
Berdasarkan standar tersebut, pencapaian indikator ini telah mencapai 100%. Telah ada 15 kabupaten/kota yang memenuhi standar siaga bencana. Kabupaten tersebut antara lain Kota Makassar, Kabupaten Wajo, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Barru, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Toraja, kabupaten pangkep, dan Kabupaten Maros, Kabupaten Bone, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Kota Palopo, Kabupaten Bulukumba.
Kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan telah memiliki sistem peringatan dini dalam hal ini kerjasama dengan Badan Metereologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) dalam mendeteksi dini bencana di daerah masing-masing yang pada akhirnya menginformasikan kepada masyarakat jika ada potensi bencana, usaha ini dilakukan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan melalui serangkaian kegiatan koordinasi pada program pencegahan dan kesiapsiagaan serta kegiatan rapat koordinasi BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan dalam hal ini BPBD Kabupaten/Kota juga telah siap mengevakuasi masyarakat jika ada potensi bencana yang mengancam, hal tesebut selalu dikembangkan dan dimonitor melalui kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di daerah dan di dukung kegiatan pemberdayaan Tim Reaksi Cepat pada program kedaruratan dan logistik.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 19 Derajat usaha penanggulangan bencana pada usaha pengurangan resiko bencana juga telah di dukung oleh beroprasinya Pusat Data dan Informasi Penanggulangan Bencana (PUSDATIN PB) Provinsi Sulawesi Selatan. Dukungan PUSDATIN PB diharapkan mendorong meningkatnya koordinasi antar BPBD seluruh Provinsi Sulawesi Selatan dalam memantau potensi bencana yang ada.
Capaian Indikator Sasaran berdasarkan Renstra Perubahan
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir RPJMD
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah
kabupaten kota yang memiliki peta rawan bencana
24 Kab/kota
24 Kab/kota
24 Kab/kota
100 % 24 Kab/kota
100 %
Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan Pemetaan kajian risiko bencana Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang meliputi 24 Kabupaten/Kota se Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Australia – Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR). Kerjasama dengan AIFDR tersebut di dukung dalam kegiatan pemantauan potensi bencana BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Pembuatan peta kajian risiko bencana tersebut dalam rangka usaha pencegahan dan pengurangan risiko bencana di Sulawesi Selatan yang juga mendukung capaian indikator sasaran tersedianya peta rawan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan.
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir RPJMD
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah aparat
dan masyarakat yang
pengetahuannya meningkat terkait upaya pengurangan risiko bencana
100 (100 %)
100 orang 24 kab/kota
100 orang 24 kab/kota
100% 500 orang (100 %)
100 %
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 20 b. Terwujudnya sistem penanganan kedaruratan yang efektif
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
Analisis Capaian Kinerja BPBD dalam usaha mencapai sasaran upaya pengurangan resiko bencana dapat dilihat di tabel berikut :
Capaian Indikator Sasaran berdasarkan Renstra Perubahan
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir Renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi
Persentase
terpenuhinya aspek standar logistik dan peralatan Provinsi Sulawesi Selatan
100% 100 % 100 % 100 % 100 % 100%
Sasaran Terwujudnya sistem penanganan kedaruratan yang efektif mengamanatkan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan menjaga tersedianya sistem sumber pada tahap kedaruratan yang dapat di manfaatkan secara efektif jika terjadi bencana di Provinsi Sulawesi Selatan.
Pengukuran standar logistik dan peralatan di dasarkan pada PERKA BNPB Nomor 17 tahun 2009 tentang Pedoman Standarisasi Peralatan Penanggulangan Bencana dan PERKA BNPB nomor 18 tahun 2009 tentang Pedoman Standarisasi Logistik Penanggulangan Bencana, Provinsi Sulawesi Selatan telah cukup memenuhi aspek standar logistik dan peralatan penanggulangan bencana.
BPBD Provinsi Sulawesi Selatan belum dapat memenuhi standar logistik dan peralatan Sulawesi Selatan secara kuantitas, sehingga capaian yang dianggap realistis untuk dicapai adalah berusaha memenuhi aspek logistik dan peralatan sesuai dengan PERKA BNPB tentang standar logistik dan peralatan.
Persediaan logistik dan peralatan penanggulangan bencana Provinsi Sulawesi Selatan di tahun 2018 tercatat 7458 paket sandang, 4912 paket pangan, 838 paket logistik lainnya dan 312 paket kematian. Sedangkan jumlah kekuatan peralatan penanggulangan
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 21 bencana terdiri dari Tenda 248 paket, alat komunikasi 123 unit, mobil 36 unit, motor 40 unit, mesin 63 unit, penerangan 39 unit, perahu 27 unit, dan perkakas 212 unit.
Indikator Capaian Kinerja
2017
2018 Target
Akhir Renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah unit
PUSDALOPS di Kabupaten / Kota
24 Kab/Kota
24 Kab/kota
24 Kab/Kota
100 % 24
Kab/Kota/5 tahun
100 %
Unit pusdalops sangat diperlukan di kab/kota, pelaksanaan kegiatan pengembangan pusdalops di BPBD Provinsi Sulawesi Selatan mendorong adanya unit pusdalops di semua kab/kota. Unit pusdalops di kab/kota telah berjalan dengan mendukung tersedianya data kebencanaan tingkat kab dan Provinsi Sulawesi Selatan. Unit pusdalops di kab/kota telah berjalan di 24 kab/kota se Sulawesi Selatan. Hal tersebut membuat data kebencanaan di seluruh Provinsi Sulawesi Selatan selalu update setiap bulannya.
Tahap kedaruratan sangat erat hubungannya dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga BPBD Provinsi Sulawesi Selatan selalu berusaha setiap tahunnya melakukan kegiatan pemberdayaan TRC dan di tunjang oleh program kedaruratan dan logstik. Diharapkan jumlah dan kapasitas anggota TRC dapat meningkat sehingga sumber daya manusia kebencanaan dapat tersedia disetiap wilayah. Setiap tahunnya, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan memberdayakan 100 orang TRC di seluruh Sulawesi Selatan, yang berarti bahwa dalam jangka waktu 5 tahun, Sulawesi Selatan akan memiliki 500 orang anggota TRC yang memiliki kapasitas.
Indikator Capaian Kinerja
2017
2018 Target
Akhir Renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah aparat
TRC yang Kapasitasnya Meningkat dalam penanganan darurat bencana
100 orang
100 orang
100 orang
100 % 500 orang 100%
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 22 c. Terwujudnya upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih baik dibanding sebelum
bencana
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.
Sedangkan Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
Capaian Kinerja BPBD dalam usaha mencapai sasaran upaya pengurangan resiko bencana dapat dilihat di tabel berikut :
Capaian Indikator Sasaran berdasarkan Renstra Perubahan
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir Resntra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Persentasi
kabupaten / kota yang menyusunan rencana aksi rehabilitasi
100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100%
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 menerima pengusulan rencana aksi rehabilitasi dari 6 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Pengusulan tersebut telah ditindaklajuti dengan menyusun rencana aksi rehabilitasi bekerjasama dengan kab/kota bersangkutan. Penyusunan rencana aksi ini di dukung oleh kegiatan identifikasi kerusakan dan kerugian pascabencana serta kegiatan koordinasi dan konsultasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Hasil dari rencana aksi rehabilitasi tersebut kemudian digunakan sebgai bahan untuk melakukan rehabilitas dan rekonstruksi daerah yang telah terpapar bencana serta dijadikan sebagai proposal untuk mendapatkan bantuan dana rehab rekon dari pusat.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 23 Indikator Capaian
Kinerja 2017
(%)
2018 Target
Akhir Resntra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Jumlah sumber
daya manusia yang memiliki kompetensi analisis DaLA dan HRNA
100 orang (166 %)
100 % 100 % 100 % 100 % /5 tahun
100%
Sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan Analisis Damage and Losses Assesment (DaLA) dan Human Recovery Needs Assesment (HRNA) sangat di butuhkan dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi pasca kejadian bencana. Sebelum melakukan usaha rehab rekon, pemerintah daerah dalam hal ini BPBD menyusun rencana aksi rehabilitasi terlebih dahulu dengan dasar hasil analisis DaLA dan HRNA.
BPBD Provinsi Sulawesi Selatan rutin melakukan kegiatan workshop DaLA dan HRNA kegiatan rehabilitasi dan rekonstruk pascabencana dengan peserta personil BPBD se Sulawesi Selatan. Pada tahun 2018 BPBD melakukan peningkatan pengetahuan analisis DaLA dan HRNA pada 100 orang personil BPBD seluruh Provinsi Sulawesi Selatan yang diharapkan mampu melakukan analisis DaLA dan HRNA dengan benar sehingga dapat menghasilkan dokumen rencana aksi rehabilitasi dengan tepat.
d. Meningkatnya Kapasitas Sumber Daya Manusia dan kinerja BPBD Sulawesi Selatan Sumber Daya Manusia sangat vital bagi usaha penanggulangan bencana. Aparatur yang menjadi pelaku dalam usaha penanggulangan bencana maupun masyarakat yang dapat terkenan dampak bencana harus cakap, efektif dan efisien dalam menghadapi bencana.
Sumber daya manusia yang cakap, efektif dan efisien sangat ditentukan oleh informasi, pengalaman dan pelatihan yang diterimanya sehingga mereka memiliki pengetahuan dasar yang cukup sebelum terjun ke daerah bencana. Selain Sumber Daya Manusia, peralatan yang menunjang usaha penanggulangan bencana juga harus siap setiap saat.
Bencana yang sulit diprediksi datangnya menuntut peralatan selalu dalam keadaan baik dan layak digunakan.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 24 Capaian Kinerja BPBD dalam usaha mencapai sasaran upaya pengurangan resiko bencana dapat dilihat di tabel berikut :
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Tingkat
kapasitas dan kelembagaan BPBD Provinsi dalam
penanggulangan Bencana
Level 4 Level 4 Level 4 100 % Level 4 100 %
Penilaian kapasitas BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dianggap sangat penting. Manfaat dari penilaian kapasitas ini adalah sebagai bahan perencanaan dan evaluasi kapasitas BPBD Prov. Sulsel.
PERKA BNPB Nomor 3 Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapasitas Daerah dalam Penanggulangan Bencana menjabarkan lima tingkatan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana yaitu:
a) Level 1 Daerah telah memiliki pencapaian-pencapaian kecil dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan melaksanakan beberapa tindakan maju dalam rencana-rencana atau kebijakan.
b) Level 2 Daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disebabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis.
c) Level 3 Komitmen pemerintah dan beberapa komunitas tekait pengurangan risiko bencana di suatu daerah telah tercapai dan didukung dengan kebijakan sistematis, namun capaian yang diperoleh dengan komitmen dan kebijakan tersebut dinilai belum menyeluruh hingga masih belum cukup berarti untuk mengurangi dampak negative dari bencana.
d) Level 4 Dengan dukungan komitmen serta kebijakan yang menyeluruh dalam pengurangan risiko bencana disuatu daerah telah memperoleh capaian-capaian yang berhasil, namun diakui ada masih keterbatasan dalam komitmen, sumberdaya finansial ataupun kapasitas operasional dalam pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana di daerah tersebut.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 25 e) Level 5 Capaian komprehensif telah dicapai dengan komitmen dan kapasitas yang
memadai disemua tingkat komunitas dan jenjang pemerintahan.
Kapasitas Provinsi Sulawesi Selatan telah mulai menunjukkan nilai baik berada pada tingkatan level 4 untuk usaha penanggulangan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan. Perbaikan tersebut didorong oleh di buatnya beberapa SOP yang berkaitan dengan penertiban alur koordinasi penanggulangan bencana.
Kegiatan penilaian kapasitas memang belum dilakukan. Namun melihat jumlah kejadian bencana yang telah terdata dan tertangani oleh BPBD provinsi dan kabupaten/kota, dalam disimpulkan bahwa BPBD provinsi dan kabupaten/kota telah terlibat dalam usaha pengurangan risiko bencana walaupun masih bersifat sporadis.
Pencapaian ini dapat menjadi langkah awal Provinsi Sulawesi Selatan dalam meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan bencana ke depannya.
Indikator Capaian Kinerja
2017 (%)
2018 Target
Akhir Renstra
(2018)
Capaian s/d 2018
(%) Target Realisasi %
realisasi Nilai Evaluasi
Implementasi SAKIP oleh Inspektorat Provinsi
BB (100%)
B BB 120 % BB 100 %
Hasil nilai Evaluasi Imlementasi SAKIP oleh Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2018 yang telah melebihi target sasaran merupakan tahap yang sangat penting untuk perkembangan kinerja BPBD Provinsi Selawesi Selatan. Pencapaian nilai implementasi SAKIP ini didorong oleh tepatnya sasaran dan indikator sasaran pada dokumen renstra BPBD tahun 2013-2018 setelah perubahan dilakukan. Hal tersebut menyebabkan terarahnya program dan kegiatan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil penilaian tersebut kemudian dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan oleh BPBD Provinsi Sulawesi Selatan untuk merevisi sasaran dan indikator sasaran pada renstra BPBD 2013-2018. Perubahan sasaran dan indikator sasaran diharapkan dapat meningkatkan kinerja BPBD dan menjadikan program serta kegiatan penanggulangan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan lebih terarah.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 26 3.3. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja
serta alternatif solusi yang telah dilakukan
Kejadian bencana adalah suatu kejadian yang tidak dapat kita duga sebelumnya, sesuai dengan tupoksinya BPBD melaksanakan perencanaan penanggulangan bencana mulai dari tahapan sebelum bencana, saat bencana hingga tahapan sesudah bencana yang dilakukan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh. Secara umum semua program dan kegiatan yang telah direncanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di Tahun 2018 telah dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu dan tujuan serta sasaran yang ditetapkan.
Pada tahun 2015, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan menetapkan sasaran dan indikator sasaran yang baru hasil dari perubahan RPJMD dan nilai evaluasi SAKIP oleh Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan.
Laporan Kinerja (LKj) ini sekaligus melihat modal awal BPBD Provinsi Sulawesi Selatan untuk mencapai target sasaran yang baru ditetapkan tersebut. Berikut analisis keberhasilan dan kegagalan kinerja BPBD Provinsi Sulawesi Selatan serta alternatif solusi kedepannya.
a. Meningkatnya kesiapan, dan kemampuan dalam upaya pengurangan resiko Bencana
Modal pencapaian pada aspek pengurangan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana sudah sangat baik. Pemenuhan aspek siaga bencana dalam hal ini peringatan dini dan evakuasi sudah berjalan di Sulawesi Selatan. Aspek yang belum maksimal adalah pembuatan rencana kontijensi di kab/kota. Tercatat rencana kontijensi hanya ada di 5 kab/kota.
Pembuatan rencana kontijensi terkendala pada panjangnya proses pembuatan rencana konjensi serta dana yang terbatas. Tahapan pembuatan rencana kontijensi yang yaitu mulai pengkajian sampai penerbitan Peraturan Bupati atau Walikota memakan waktu yang panjang dan memerlukan dana yang tidak sedikit merupakan faktor sulitnya pencapaian kriteria siaga bencana di kabupaten/kota.
Usaha pencegahan sedikit lebih maju karena telah dibuatnya peta risiko bencana Provinsi Sulawesi Selatan hasil dari kerjasama BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dengan AIFDR.
Alternatif solusi yang akan dilakukan adalah :
a) Mendorong kab/kota untuk menyusun rencana kontijensi, khususnya rencana kontijensi bencana yang rutin terjadi melalui kegiatan koordinasi dan sosialisasi.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 27 b) Memperbaharui secara periodik data kebencanaan sebagai bahan pendukung peta
risiko bencana yang telah dibuat untuk meningkatkan kemampuan dalam mengurangi risiko bencana.
b. Terwujudnya sistem penanganan kedaruratan yang efektif
Usia Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang masih muda menjadi faktor belum dapatnya daerah mencapai standar logistik dan peralatan penanggulangan bencana. BNPB yang menjadi pemasok logistik dan peralatan di daerah masih belum mempunyai kapasitas yang cukup untuk memenuhi standar nasional secara kuantitas. Namun pemenuhan di setiap aspek standar logistik dan peralatan penanggulangan bencana sebagian besar telah terpenuhi.
Sulawesi Selatan memiliki persediaan logistik cukup banyak yaitu 7458 paket sandang, 4912 paket pangan, 838 paket logistik lainnya dan 312 paket kematian.
Sedangkan jumlah kekuatan peralatan penanggulangan bencana terdiri dari Tenda 248 paket, alat komunikasi 123 unit, mobil 36 unit, motor 40 unit, mesin 63 unit, penerangan 39 unit, perahu 27 unit, dan perkakas 212 unit. Pencaian ini di dorong oleh koordinasi yang intensif antara BPBD provinsi dan kab/kota Sulawesi Selatan dengan BNPB RI sehingga pemenuhan aspek standar logistik dan peralatan penanggulangan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan dan terpenuhi.
Unit PUSDALOPS di kab/kota telah mulai dibentuk sebagai usaha untuk mengintegrasikan fungsi PUSDALOPS di Provinsi Sulawesi Selatan. BPBD di seluruh kab/kota telah menjalankan fungsi menyediaan data bencana yang update hasil dari kegiatan pengembangan PUSDALOPS Provinsi Sulawesi Selatan.
Pencapain ini hanya perlu diikuti pembuatan dokumen resmi sebagai dasar pengukuhan unit PUSDALOPS di daerah.
Semua BPBD kab/kota di seluruh Provinsi Sulawesi Selatan telah memiliki Tim Reaksi Cepat (TRC) dan secara rutin dilakukan pengembangan kapasitas oleh BPBD Provinsi Sulawesi Selatan melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan TRC.
Kegiatan pengembangan TRC hanya perlu menambahkan instrumen untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan pengembangan TRC.
Alternatif solusi yang akan dilakukan adalah:
a) melakukan analisis tingkat standar minimal logistik dan peralatan penanggulangan bencana yang diikuti usaha untuk meningkatkan jumlah cadangan logistik dan
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 28 peralatan melalui peningkatan anggaran APBD dan permohonan bantuan dari BNPB.
b) Merumuskan rencana peresmian PUSDALOPS di daerah
c) Menyusun instrumen penilaian peningkatan kapasitas TRC dalam bentuk pre dan post test pada kegiatan pemberdayaan TRC.
c. Terwujudnya upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih baik dibanding sebelum bencana
BPBD Provinsi Sulawesi Selatan telah memenuhi target pembuatan rencana aksi rehabilitasi pada 8 kabupaten/kota pada tahun 2018. Pencapain tersebut menggambarkan efektifnya kegiatan identifikasi kerusakan dan kerugian pascabencana serta kegiatan koordinasi dan konsultasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Menjaga koordinasi antara BPBD kab/kota dan BNPB sangat menentukan pembuatan rencana aksi rehabilitasi yang baik dan efektif.
Peningkatan sumber daya manusia juga sangat berperan dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan telah meningkatkan kapasitas personil penanggulangan bencana di daerah dengan melakukan workshop DaLA dan HRNA pada 100 orang pada tahun 2017. Kegiatan tersebut hanya perlu ditambahkan instrumen penilaian peningkatan kapasitas peserta setelah mengikuti workshop sehingga dapat dilakukan evaluasi yang lebih terukur.
Upaya tindak lanjut yang dilakukan adalah :
a) Menyusun instrumen penilaian evaluasi peningkatan kapasitas pada peserta workshop DaLA dan HRNA.
b) Mendorong peningkatan alokasi APBD agar daerah dapat lebih mandiri melakukan kegiatan rehabilitas rekonstruksi pascabencana.
d. Meningkatnya Kapasitas Sumber Daya Manusia dan kinerja BPBD Sulawesi Selatan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan perlu melakukan usaha yang lebih untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kinerja penanggulangan bencana. Peraturan penanggulangan bencana di Provinsi Sulawesi Selatan yang belum ada membuat belum komprehensifnya usaha penanggulangan bencana di
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 29 Sulawesi Selatan. Program antar instansi pemerintah belum terintegrasi dalam penanggulangan bencana. Sehingga usaha penanggulangan bencana masih bersifat sporadis. Namun pencapaian tersebut merupakan modal yang baik untuk peningkatan kinerja BPBD di masa akan datang
Peningkatan kapasitas dimulai dengan perbaikan dokumen dan implementasi SAKIP yang masih mendapatkan nilai yang rendah dari Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan. Memfokuskan perhatian pada implementasi SAKIP yang telah diperbaiki merupakan aspek yang sangat penting dalam usaha peningkatan kapasitas penanggulangan bencana pada umumnya.
Usaha tindak lanjut yang telah dan akan dilakukan adalah :
a) Melakukan penilaian kapasitas penanggulangan bencana Provinsi Sulawesi Selatan.
b) Melakukan sosialisasi SAKIP yang telah ditetapkan pada stankeholder terkait.
3.4. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya
a. Sumber Daya Manusia
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di dukung oleh 33 personil ASN, jumlah tersebut dirasa sangat kurang serta kemampuan tentang kebencanaan yang relatif masih rendah. Melakukan program pendidikan kebencanaan bagi aparatur BPBD Provinsi Sulawesi Selatan sangat penting di masa akan datang.
b. Sumber Daya Peralatan
Peralatan yang dimiliki oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah semakin memadai Dengan bertambahnya jumlah peralatan kebencanaan yang diperoleh dari BNPB. BPBD Provinsi Sulawesi Selatan sudah memiliki bangunan gudang, namun belum dapat menampung seluruh peralatan kebencanaan yang dimiliki. Selain itu, semakin ekstrimnya kondisi iklim di Provinsi Sulawesi Selatan akhir-akhir ini membuat semakin dibutuhkannya peralatan yang memadai seperti kendaraan operasional dan tenda darurat.
c. Sumber Daya Keuangan
Dengan Anggaran yang ada di BPBD saat ini dirasa sudah cukup untuk kegiatan rutin BPBD, tetapi apabila ada bencana terjadi dan memerlukan usaha rehabilitasi, dana masih dirasa kurang.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 30 3.5. Realisasi Anggaran
Secara keseluruhan alokasi anggaran yang ada untuk Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sesudah Perubahan Anggaran sebesar Rp. 20.704.899.432,00 dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018.
Belanja Tidak Langsung sebesar Rp. 4.273.299.232,00 terealisasi sebesar Rp.
3.922.759.103,00 atau 91,79 %, Belanja Langsung sebesar Rp. 16.431.600.200,00, terealisir sebesar Rp. 16.402.055.116,00 atau 99.82%.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 31 Laporan Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan SDM dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada Pemerintah, dan juga sebagai alat kendali, alat penilai kualitas kinerja dan pendukung terwujudnya Good Governance. Laporan Kinerja ini berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik tentang keberhasilan/kegagalan pelaksanaan Misi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain Laporan Kinerja pada dasarnya merupakan laporan kepada pihak publik/eksternal walaupun manfaatnya lebih banyak kepada pihak internal, oleh karena itu penyajian informasi dalam laporan Kinerja harus dipertimbangkan untuk dapat dipergunakan oleh pihak luar.
Dari hasil penilaian keberhasilan pencapaian sasaran tersebut diukur melalui 2 (dua) indikator sasaran berikut capaian kinerja, dengan rata-rata capaian kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah 100 % sehingga termasuk katagori Sangat Berhasil.
Hasil Evaluasi kinerja ini merupakan hasil evaluasi kinerja dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, hal ini juga berarti bahwa kinerja dari pada Badan Penanggulangan Bencana Derah Provinsi Sulawesi Selatan bisa dikatakan sangat baik, walaupun dalam beberapa hal masih ada hambatan atau kendala yang harus diperbaiki pada tahun-tahun mendatang secara terus-menerus.
Dalam upaya pelaksanaan kegiatan untuk mencapai target yang telah ditentukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Selatan mengalami beberapa hambatan dan kendala. Hambatan dan Kenadala yang dijumpai dalam pencapaian target kinerja sasaran adalah sebagai berikut :
1. Implementasi SAKIP yang masih kurang baik pada BPBD Provinsi Sulawesi Selatan 2. Belum lengkapnya standarisasi penanggulangan bencana
3. Terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia
4. Terbatasnya sumber daya manusia sebagai pelaksana kegiatan
5. Belum optimalnya koordinasi antar OPD terhadap pelaksanaan penanggulangan bencana
6. Belum otimalnya peran pihak swasta dalam proses pengurangan risiko bencana
BAB IV PENUTUP
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 32 Untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut di atas diperlukan upaya-upaya penanggulangan antara lain sebagi berikut :
1. Sosialisasi implementasi SAKIP lingkup BPBD Provinsi Sulawesi Selatan
2. Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai dalam pelaksanaan kegiatan;
3. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, seminar dan semacamnya;
4. Membina dan menjaga hubungan yang harmonis serta mengoptimalkan pelaksanaan penanggulangan bencana dengan semua lapisan masyarakat serta instansi/lembaga pemerhati bencana.
Pengembangan sistem informasi kinerja nantinya secara teknis dapat dijadikan sistem lacak performansi organisasi yang merupakan entry point terhadap pengendalian fungsi- fungsi organisasi secara menyeluruh. Melalui mekanisme sinergitas antar bidang, Laporan Kinerja adalah media komunikasi yang efektif bagi pimpinan dalam melihat sampai sejauh mana keputusan-keputusan strategis mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi di sekitar organisasi. Selain itu Laporan Kinerja dapat juga dijadikan bahan acuan untuk menjalankan tugas dengan kinerja yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan harapan akan dicapai sasaran selaras dengan tujuan, menjalankan kegiatan sesuai program/kebijakan sehingga visi dan misi organisasi dapat terwujud. Diharapkan saran serta masukan dari semua pihak guna perbaikan kinerja dimasa yang akan datang.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) 2018 | 33
LAMPIRAN Berisi : 1. Perjanjian Kinerja 2018 2. Tabel Realisasi Anggaran BPBD Tahun 2018