BAB II
2.1 LANDASAN TEORI 2.1.1 Agency Theory
Agency theory menjadi pusat perhatian setelah Jensen dan Meckling (1976) mempublikasikan hasil penelitian mereka tentang teori perusahaan dilihat dari perilaku manajerial. Teori ini muncul karena adanya pemisahan antar pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan, yang menjadikan kepemilikan perusahaan sangat menyebar (Jensen and Meckling, 1976; Shleifer and Vishny 1997). Agency theory merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual antara pihak principal dengan agent sebagai teori mendasar yang digunakan dalam praktik bisnis yang dipakai perusahaan. (Jensen and Meckling, 1976; Eisenhardt, 1989).
Hubungan keagenan terjadi ketika adanya hubungan kerja antara satu atau lebih pihak investor (principal) yang memberi wewengang, dengan pihak yang menerima wewenang yaitu manajer (agent) untuk melakukan beberapa jasa, didalamnya termasuk mendelegasi otoritas decision making. (Altuner et al., 2015;
Brigham dan Houston, 2006:26; Bonazzi & Islam, 2007).).
Hubungan keagenan dapat menciptakan kondisi ketidak seimbangan informasi (asymmetrical information) karena agent berada pada posisi memiliki informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan principal (An et al, 2011). Manajer sebagai agent memiliki kewajiban untuk memaksimalkan kesejahteraan dari pemilik perusahaan, selain itu manajer juga memiliki kepentingan untuk dapat memaksimalkan kesejahteraan sendiri. Adanya perbedaan kepentingan dan latar belakang antara principal dan agent serta adanya pemisahan kepemilikan dan pengendalian perusahaan akan menimbulkan terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest).
Perbedaan kepentingan antara principal dan agen yang menyebabkan timbulnya masalah keagenan ketika proporsi kepemilikan saham manajer atas saham perusahaan kurang dari 100%, (Jensen dan Meckling 1976; Shleifer and Vishny, 1997) dalam kondisi ini menjadikan pihak manajemen tidak lagi berupaya untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan melainkan berusaha untuk mengambil keuntungan dari beban yang ditanggung oleh pemegang saham,
hal ini merupakan bentuk konsekuensi adanya pemisahan fungsi antara pengelola dan pemilik perusahaan, (Jensen, 1986).
Teori keagenan menyatakan bahwa dalam pengelolaan perusahaa selalu ada konflik kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan, Manajer dan bawahannya, Pemilik perusahaan dan kreditor, (Brigham dan Gapenski,1996).
Adanya resiko terjadinya konflik agensi menjadi alasan utama perusahaan membutuhkan pengawasan dan pemriksaan aktivitas pihak-pihak tersebut yang di nilai melalui kinerja keuangan pada laporan keuangan perusahaan. Corporate governance merupakan mekanisme dalam melakukan pengawasan untuk mengurangi terjadinya konflik kepentingan antara principal dan agent. Penerapan corporate governance yang efektif dapat mengurangi agency cost dan masalah- masalah yang timbul dari adanya pemisahan fungsi antara pengelola dan pemilik perusahaan, Jensen dan Meckling (1976).
Dalam upaya mengatasi masalah keagenan menimbulkan biaya keagenan (agency cost) yang akan ditanggung principal dan agent (Jensen and Meckling, 1976). Biaya keagenan muncul ketika kepentingan manajer tidak sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan dan berpengaruh terhadap tugas, kelalaian, serta keputusan manajer berdasarkan kepentingan sendiri yang dapat mengurangi kesejahteraan principal.
Menurt Jensen dan Meckling (1976), biaya keagenan (agency cost) berdasarkan jenis biayanya dapat dikelompokkan menjadi tiga:
1. Biaya pengawasan (monitoring cost/ activities)
merupakan biaya yang ditanggung oleh principal untuk mengawasi perilaku agent apakah agent telah bertindak sesuai kepentingan principal.
2. Biaya pengikatan (bounding cost)
merupakan biaya yang di tanggung oleh agent untuk menetapkan dan mematuhi mekanisme yang menjamin agent akan bertindak sesuai dengan kepentinggan principal.
3. Biayakerugian residual (residual loss)
merupakan pengorbanan yang berupa penurunan kemakmuran dan kesejahteraan principal sebagai akibat dari perbedaan keputusan antar agent dan principal.
Untuk mengurangi timbulnya biaya keagenan (agency cost) dalam mengatasi terjadinya masalah keagenan dapat dikurangi dengan beberapa cara antara lain yaitu:
1. Kontrak yang efisien antara prinsipal dengan agen yang dapat menjelaskan tugas manajer dalam mengelola dana investor dan tentang pembagian return antara manajer dan investo secara spesifikasi.
2. Jensen dan Meckling (1976) mengungkapkan bahwa dengan meningkatkan kepemilikan manajerial memiliki keuntungan untuk menyejajarkan kepentingan manajer dan pemegang saham.
3. Jensen and Meckling (1976) mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh penting dalam meminimalisasi terjadinya konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dengan manajer.
Pentingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor sehingga dapat meminimalisir konflik agensi langsung antara manajemen dan investor, sehingga manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan investor dan mengurangi pengeluaran agency cost.
2.1.2 Resources Based Theory
Resources based theory (RBT) merupakan bentuk perkembangan pemikiran dari teori manajemen strategi dan keunggulan kompetitif yang membahas bagaimana suatu perusahaan dapat mengolah dan memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai keunggulan. Resources based theory meyakini bahwa perusahaan akan mencapai keunggulan apabila perusahaan tersebut memiliki sumber daya yang unggul (Wernerfelt ,1984).
Dalam penelitian ini resources based theory menjelaskan perusahaan dapat mencapai keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan yang optimal dengan cara memiliki, menguasai dan dapat memanfaatkan penggunaan semua aset strategis penting yang dimiliki perusahaan yang meliputi aset berwujud ataupun aset tidak berwujud, untuk mencapai keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan yang optimal. Belkaoui (2003) menyatakan strategi yang potensial untuk meningkatkan kinerja perusahaan adalah dengan menyatukan aset berwujud dan
aset tidak berwujud. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan Resource-Based Theory yang meyakini bahwa pengelolaan dan pemanfaatan penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan.
2.2 Ownership structure
Perkembangan perekonomian modern , menjadikan kepemilikan perusahaan sangat menyebar, sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan cara mengelola perusahaan dengan memisahkan antar pemilik dan pengelola perusahaan, hal ini sesuai dengan teori keagenan dimana pemilik perusahaan (principal) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga ahli yaitu manajer (agent). Kepemilikan perusahaan dihitung berdasarkan besarnya persentase jumlah saham terhadap keseluruhan saham perusahaan.
Penelitian tentang ownership structure berawal dari hipotesis Berle dan Means (1932) meneliti tentang struktur kepemilikan publik. Ownership structure merupakan berbagai macam bentuk pola kepemilikan dalam perusahaan atau besarnya jumlah presentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemegang saham internal dan pemegang saham eksternal (Jensen dan Meckling, 1976).
Persentase kepemilikan ditentukan oleh besarnya persentase jumlah saham terhadap keseluruhan saham perusahaan. Ownership structure dalam suatu perusahaan mengimplikasikan penggunaan sumber daya secara efisien untuk memaksimumkan keuntungan yang diperoleh, di mana kepemilikan yang tersebar akan mengurangi insentif bagi manajer untuk memaksimumkankeuntungan.
Penerapan ownership structure berpengaruh terhadap kondisi kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu pemusatan kepemilikan, manipulasi laba, serta pengungkapan laporan keuangan. Pemusatan kepemilikan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dengan meminimumkan agency cost, tetapi terdapat dua masalah keagenan yang terjadi di dalam kepemilikan, yaitu masalah keagenan antara manajemen dan pegang saham (Jehsen dan Meckling, 1976). Perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan (pemilik saham mayoritas) dan manajer pengelola yang menyebabkan timbulnya masalah keagenan. Adanya kemungkinan
terjadinya masalah keagenan menjadikan ownership structure menjadi hal yang penting untuk mengatasi conflict agency. Ownership structure sangat penting dalam menentukan nilai perusahaan, dengan adanya penerapan ownership structure yang baik akan menghasilkan kineja perusahaan yang optimal.
Ownership structure terbagi menjadi beberapa jenis. Menurut Jensen dan Meckling (1976) ownership structure dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu managerial ownership, institutional ownership, dan public ownership. Dalam penelitian ini menggunakan institutional ownership, karena institutional ownership merupakan mekanisme corporate governance utama dalam mengatasi terjadinya conflict agency, (Jensen dan Meckling 1976).
2.2.1 Institutional Ownership
Institutional ownership merupakan kepemilikan saham oleh investor besar yang bukan berasal dari kalangan manajerial yang mencerminkan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh perusahaan seperti oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian serta institusi lainnya pada akhir tahun. Jensen and Meckling (1976) mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh penting dalam meminimalisasi terjadinya konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dengan manajer.
Institutional ownership sangat penting bagi perusahaan khususnya kemampuannya dalam mengawasi prilaku manajer dan mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif . Keberadaaan investor institusional dianggap mampu mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajemen selaku pengelola perusahaan. Dengan tingkat pengendalian yang tinggi terhadap tindakan manajemen sehingga dapat meminimalisir resiko terjadinya kecurangan untuk menjaga investasi mereka dalam perusahaan.
Pentingkat Institutional ownership yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghindari prilaku oportunis yang dilakukan pihak manajer dan meminimalisir konflik agensi langsung antara manajemen dan investor, sehingga manajer akan
bertindak sesuai dengan keinginan investor dan mengurangi pengeluaran agency cost ,serta menurunkan tingkat resiko terjadinya penggelapan yang dilakukan pihak manajemen yang mengakibatkan penurunan pada kinerja dan nilai perusahaan. Investor institusi dapat dibedakan menjadi dua yaitu investor aktif dan investor pasif. Investor aktif ingin terlibat dalam pengambilan keputusan manajerial, sedangkan investor pasif tidak terlalu ingin terlibat dalam pengambilan keputusan manajerial.
Institutional ownership adalah kepemilikan saham oleh institusi yang mencerminkan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak institusi yang diukur sesuai dengan proporsi jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh saham yang dimiliki oleh pemilik institusi dan kepemilikan oleh blockholder.
𝐼𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑡𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 𝑂𝑤𝑛𝑒𝑟𝑠ℎ𝑖𝑝 =Jumlah kepemilikan saham oleh institusional
Jumlah saham yang beredar ×100% (2.1)
2.3 Intellectual capital
Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, organisasi harus menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya, baik yang berwujud ataupun yang tidak berwujud untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Pentingnya intellectual capital telah diakui sebagai faktor penentu sukses sebuah perusahaan, bukan hanya untuk perusahaan yang berbasiskan tekhnologi, tetapi untuk seluruh tipe organisasi (Lonnqvist dan Mettanen, 2002).
Intellectual capital atau modal Intelektual merupakan salah satu intangible asset yang sangat penting bagi perusahaan. Intellectual capital seringkali menjadi faktor utama perusahaan dalam memperoleh laba. Istilah Intellectual Capital pertama kali dikemukakan oleh John Kenneth Galbraith pada tahun 1969. Bahwa Intellectual capital memiliki arti lebih dari sekedar intellect as pure intellect melainkan juga berhubungan dengan intellectual action. Sehingga Intellectual capital merupakan intangible asset berupa proses perusahaan dalam memiliki knowledge, dan skill yang digunakan untuk mengolah knowledge perusahaan.
Definisi Intellectual Capital yang ditemukan dalam beberapa literatur telah berkembang cukup kompleks dan beragam. Stewart (1997) menyatakan bahwa IC sebagai sumber intelektual berupa pengetahuan, informasi, kekayaan intelektual, dan pengalaman yang secara bersamaan menjadi alat untuk
menciptakan kekayaan dan kesejahteraan bagi perusahaan. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan sumber daya berupa pengetahuan yang di miliki perusahaan untuk menghasilkan future economic benefit bagi perusahaan. Sullivan (2000) mendefinisikan IC sebagai pengetahuan yang dapat dikonversi menjadi keuntungan. Demikian pula, Brooking (1996, p.
12) mendefinisikan IC sebagai "Gabungan aset tidak berwujud dari pasar, kekayaan intelektual, berpusat pada manusia dan infrastruktur yang memungkinkan perusahaan untuk berfungsi". Dapat disimpulkan bahwa modal intelektual (IC) merupakan intangible assets sebagai sumber daya berupa pengetahuan.
Dengan demikian modal intelektual memberikan informasi mengenai nilai intangible assets yang dapat mempengaruhi daya tahan dan memberikan kontribusi pada keunggulan kompetitif perusahaan. Akuntansi tradisional yang digunakan sebagai dasar pembuatan laporan keuangan dirasa gagal dalam memberikan informasi mengenai IC. Keterbatasan informasi mengenai sumberdaya manusia, inovasi, customers, dan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan yang tidak tersedia dalam laporan keuangan, karena adanya kesulitan dalam identifikasi, dan pengukuran Hidalgo et al. (2011) .Sehingga menyebabkan adanya perbedaan antara nilai pasar dan nilai buku perusahaan.
Semakin tingginya kesenjangan antara nilai pasar dan nilai buku dari banyak perusahaan telah menarik perhatian banyak peneliti untuk meneliti nilai yang tidak nampak dalam laporan keuangan (Chen, Cheng, Hwang, 2005).
Menurut banyaknya penelitian, IC dianggap sebagai nilai tersembunyi dalam laporan keuangan yang menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan . Keterbatasan laporan keuangan dalam menjelaskan nilai perusahaan inilah yang mengungkapkan fakta bahwa sumber nilai ekonomi perusahaan adalah penciptaanIC. Peran IC dalam mengatasi kesenjangan antara nilai buku dan pasar serta sumber keunggulan kompetitif menjadikan perusahaan mulai tertarik mengukur nilai yang diciptakan dari IC, dan berusaha untuk menemukan metode yang tepat untuk megukur intangible assets yang dimiliki perusahaan.
Metode pengukuran intellectual capital dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori (Tan et al., 2007), yaitu pengukuran non-moneter dan moneter .
Pengukuran intellectual capital berbasis non-moneter :
Balanced Scorecard (Kaplan dan Norton, 1992), merupakan pengukuran IC untuk memonitor kemajuan kapabilitas dan pertumbuhan pengakuisisan dilihat dari Intangible asset perusahaan. BSC menerapkan misi dan strategi organisasi kedalam sistem pengukuran kinerja komprehensif strategi dan sistem manajemen.
BSC tidak hanya menekankan pencapaian kinerja keuangan tetapi hubungan sebab akibat kinerja non keuangan dan kinerja keuangan.
Technology Broker Method (Broking ,1996), melakukan survey untuk menganalisis indikator IC dengan menggunakan 20 pertanyaan yang meliputi human centered asset, infrastructure asset, intellectual property asset dan market asset. Untuk menganalisis lebih dalam setiap bagian dianalisis melalui 158 pertanyaan tambahan dan jawaban dari pertanyaan menggunakan skala likert.
Skandia navigator (Edvinsson dan Malone, 1997), merupakan serangkaian metode untuk mengukur Intangible asset yang terdiri dari suatu pandangan menyeluruh dari pencapaian hasil dan prestasi. Skandia Navigator sangat sederhana dan canggih. Lima fokus area atau perspektif tersebut, mencakup area kepentingan yang berbeda-beda. Setiap area menggambarkan proses dari penciptaan nilai.
Pengukuran intellectual capital berbasis moneter :
Economic value-added /EVA (Stewart, 1997) menyatakan bahwa bisnis menciptakan nilai hanya ketika tingkat pengembalian melebihi biaya utang dan modal ekuitas. Pengukuran dasar untuk mengukur penciptaan nilai adalah laba ekonomis. Laba ekonomis diukur dengan mengurangkan net profit dengan pengeluaran untuk biaya modal.
Market value-added (MVA), MVA dan EVA merupakan konsep laba ekonomis yang dikembangkan diabad 19. Cara mengevaluasi MVA yaitu dengan mempertimbangkan jumlah modal pertama yang diinvestasikan dan residual income atau nilai tambah ekonomis yang diakumulasikan dari tahun ke tahun.
MVA merupakan perbedaan antara nilai pasar perusahaann dan modal dalam bentuk pinjaman, laba ditahan dan agio saham (berg, 2007).
Pada penelitian ini metode pengukuran IC yang digunakan adalah metode VAIC™ yang di kembangkan oleh Pulic (1998,2000). Pulic mengusulkan pengukuran secara tidak langsung terhadap IC dengan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari value added sebagai hasil dari kemampuan intellectual capital perusahaan. VAIC™ mengutamakan dua aspek penting yang tidak ada pada metode pengukuran IC lainnya yaitu valuation dan value creation dari perusahaan. Metode VAIC™ didesain untuk menyajikan informasi mengenai value creation efficiency yang dilihat dari tangible asset maupun intangible asset yang dimiliki perusahaan. IC diukur melalui VAIC™ yang terdiri dari tiga komponen yaitu Human Capital Efficiency (HCE), Structural Capital Efficiency (SCE), dan Capital Employed Efficiency (CEE). Semakin tinggi nilai VAIC™, membuktikan bahwa perusahaan lebih efisien dalam mengelola sumber daya untuk menciptakan nilai bagi perusahaan.
Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™) yang merupakan pendekatan yang memiliki mekanisme pengukuran IC yang sederhana dan memiliki beberapa keuntungan seperti ketersediaan semua data yang diperlukan untuk menghitung komponen VAIC™ dalam laporan keuangan perusahaan (Nazari and Herremans, 2007). VAIC™ merupakan salah satu metode pengukuran yang dianggap sebagai indikator yang paling objektif dan cocok untuk mengukur kinerja intellectual capital (Chang and Hsieh, 2011). VAIC™ menunjukkan bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital dan intellectual potential) telah secara efisien dimanfaatkan oleh perusahaan. VAIC™ merupakan sistem pengukuran yang dapat memenuhi kebutuhan dasar ekonomi kontemporer yang menunjukkan nilai sebenarnya dan kinerja suatu perusahaan. Penciptaan value added pada perusahaan memungkinkan benchmarking dan dapat memprediksi kemampuan perusahaan di masa depan. Hal ini berguna bagi semua stakeholder yang terlibat di dalam value creation process dan dapat diterapkan pada semua tingkat aktivitas bisnis (Pulic, 2000). Penelitian terdahulu yang menggunakan metode VAIC™ sebagai metode pengukuran adalah Firer
&Williams (2003); Chen, Cheng, Hwang (2005); Maditinos et al. (2011). ;Tan et.
al. (2007).
Pada umumnya, para peneliti mengklasifikasikan IC menjadi tiga komponen penyusun yaitu:human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC)
Human capital meliputi pengetahuan individu dari suatu organisasi yang berasal dari karyawan yang memiliki kompetensi, sikap, dan kecerdasan intelektual. Kompetensi tersebut dapat meliputi pendidikan dan ketrampilan, dan sikap dapat meliputi komponen perilaku dari karyawan, serta kecerdasan intelektual yang menjadi sumber kekuatan intelektual bagi kemajuan perusahaan.
Human capital merupakan kombinasi dari pengetahuan, keahlian (skill), kemampuan melakukan inovasi, dan kemampuan menyelesaikan tugas, meliputi nilai perusahaan, kultur dan filsafatnya (Bontis, 2000). Chen et al. (2005) lebih jauh menyatakan bahwa Human capital berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian yang ada dalam pikiran karyawan, dan apabila perusahaan tidak dapat memanfaatkan karyawan tersebut, pengetahuan dan keahlian karyawan akan terbuang sia-sia dan tidak dapat menghasilkan suatu nilai bagi perusahaan. Human capital memberikan nilai tambah dalam perusahaan setiap hari, melalui motivasi, komitmen, kompetensi serta efektivitas kerja tim. Nilai tambah yang dapat diatribusikan oleh pegawai berupa pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan, pemindahan pengetahuan dari pegawai ke perusahaan serta perubahan budaya manajemen (Mayo, 2000).
Structural Capital merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan yang berkaitan dengan usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual perusahaan yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan (Bontis, 2000). Structural capitaljuga disebut sebagai organizational capital (Carson et al. 2004), dimana dianggap sebagai infrastruktur yang supportive terhadap sumberdaya manusia (Benevene and Cortini, 2010).
Sehingga, structural capital merupakan organizational know-how yang berfokus pada konvergensi human capital menjadi intellectual capital (Swart, 2006).
Seorang individu memiliki intelektualitas yang tinggi, tetapi jika perusahaan memiliki sistem operasi dan prosedur yang buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Menurut Johnson (2002), dua komponen dari
structural capital adalah inovasi (termasuk serangkaian pengetahuan yang dikodifikasikan, seperti patent dan copyright) dan proses (kebanyakan terdiri atas intangible assets atas pengetahuan, seperti rahasia perdagangan dan proses teknologi suatu perusahaan). Tanpa adanya structural capital, intellectual capital hanya akan menjadi human capital.
Customer capital atau yang dikenal dengan relational/social capital merupakan komponen intellectual capital berupa knowledge yang memberikan nilai nyata bagi perusahaan, menghasilkan hubungan yang harmonis dengan pihak luar dari organisasi, yang berasal dari para pemasok berkualitas, pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan, serta hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun kerjasama mitra bisnis (Johnson, 2002; Roos et al., 2001). Organisasi akan mendapat keuntungan pada saat membangun customer capital seperti customer dan brand loyalty, customer satisfaction, market imagedan goodwill, power to negotiate, strategic alliances, coalitions. Dengan melakukan pengelolaan Intellectual Capital, perusahaan akan memiliki keunggulan kompetitif sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan secara optimal.
2.3.1 Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)
Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™) merupakan metode yang dikembangkan pertama kali oleh Pulic (1998), yang didesain untuk menyajikan informasi mengenai value creation efficiency dari tangible asset dan intangible asset yang dimiliki perusahaan. VAIC™ merupakan metode pengukuran IC secara financial dan non-financial (Murale et al., 2010). Sehingga, metode VAIC™
terdiri atas physical, financial dan intellectual capital, alasan utama digunakannya metode VAIC™ dalam penelitian ini adalah karena VAIC™ merupakan salah satu metode pengukuran yang dianggap sebagai indikator yang paling objektif dan cocok untuk mengukur kinerja intellectual capital dan memiliki beberapa keuntungan seperti ketersediaan semua data pengukuran yang diperlukan didalam laporan keuangan perusahaanyang telah diaudit sehingga data bersifat obyektif dan dapat diandalkan, (Chang and Hsieh, 2011; Nazari and Herremans, 2007).VAIC™ merupakan alat manajemen pengendalian yang digunakan untuk
memonitor dan mengukur efisiensi penciptaan nilai tambah (value added) yang dihasilkan dari semua kontribusi masing-masing komponen dari intellectual capital dan capital employed (baik secara fisik maupun keuangan), (Iazzolino and Laise, 2013; Zéghal and Maaloul, 2010). Terdapat dua sumber daya utama dalam menghasilkan value added creation bagi perusahaan, yaitu :
Beberapa langkah yang diperlukan dalam menghitung VAIC™ (Pulic, 1998; Pulic 2004), antara lain:
Value added (VA), merupakan Value added merupakan indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (valuecreation) (Pulic, 1998). Value added (VA) dihitung dari selisih antara output dan input.
Value added dapat dihitung dengan:
𝑉𝐴 = 𝑂𝑃 + 𝐻𝐶 + 𝐷 + 𝐴 Keterangan :
OP = operating
HC = total salary and wages D = depreciation
A = amortization
Human Capital Efficiency (HCE), merupakan rasio dari value added (VA) terhadap Human Capital (HC). Hubungan ini mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam mengelola modal manusia (pengetahuan) untuk membuat nilai pada sebuah perusahaan. HCE dapat diartikan juga sebagai kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tambah untuk setiap kontribusi rupiah yang dikeluarkan pada modal manusia. HCE menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang
Capital Employed
Physical Capital Financial Capital Intellectual
Capital
Human Capital Structural Capital
(2.2)
dikeluarkan untuk tenaga kerja (Tan et al., 2007:79 ,Ulum 2008).Berdasarkan konsep RBT, agar dapat bersaing perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, dan dapat mengelola sumber daya yang berkualitas tersebut dengan maksimal sehingga dapat menciptakan nilai tambah dan keunggulan kompetitif perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
𝐻𝐶𝐸 = 𝑉𝐴
𝐻𝐶
Keterangan:
VA = value added
HC = total salary and wages
Structural Capital Efficiency (SCE), merupakan rasio Structural Capital (SC) terhadap value added (VA) yangmenggambarkan seberapa banyak VA yang dihasilkan dari kontribusi modal struktural (SC). Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tambah (value added) perusahaan dan merupakan indikasi seberapa besar kontribusi SC dalam penciptaan nilai (Tan et al., 2007:80, Ulum, 2008). Structural capital meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi.
𝑆𝐶𝐸 =𝑆𝐶
𝑉𝐴
Keterangan:
SC = selisih VA dan HC VA = value added
HC = Total salary and wages
Intellectual Capital Efficiency akan meningkat sejalan dengan peningkatan atas human capital efficiency dan structural capital efficiency. Sehinga, rumus intellectual capital efficiency adalah sebagai berikut :
ICE = 𝐻𝐶𝐸 + 𝑆𝐶𝐸 Keterangan:
ICE = intellectual capital efficiency HCE = human capital efficiency
(2.3)
(2.4)
(2.5)
Capital Employed Efficiency (CEE), merupakan komponen financial dan physical capital. Merupakan rasio perbandingan antara Value Added (VA) terhadap Capital Employed (CE). CEE menggambarkan berapa banyak nilai tambah perusahaan yang dihasilkan dari modal fisik yang digunakan.
Menurut asumsi Pulic, jika satu unit CE dalam suatu perusahaan menghasilkan return yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain, maka perusahaan tersebut dapat dikatakan telah memanfaatkan CE sebagai bagian dari Intellectual Capital yang lebih baik. CEE menjadi indikator dari kemampuan intelektual perusahaan untuk lebih memanfaatkan modal fisik. (Tan et al., 2007:79, Ulum 2008).
𝐶𝐸𝐸 = 𝑉𝐴
𝐶𝐸
Keterangan:
VA = Value added
CE = Book value of total debt + book value of total equity
Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™),dilihat dari tangible dan intangible assets yang terdiri atas physical, financial dan intellectual capital, Semakin tinggi nilai VAIC™, membuktikan bahwa perusahaan lebih efisien dalam mengelola sumber daya untuk menciptakan nilai bagi perusahaan.
𝑉𝐴𝐼𝐶™ = 𝐼𝐶𝐸 + 𝐶𝐸𝐸 Keterangan:
ICE = intellectual capital efficiency CEE = Capital Employed Efficiency
Business Performance Indicator yang digunakan oleh Ulum (2008) membagi modal intelektual dalam empat kategori yaitu:
a. Top performers – skor VAIC™ diatas 5
b. Good performers – skor VAIC™ antara 4 dan 5 c. Common performers – skor VAIC™ antara 2,5 dan 4 d. Bad performers – skor VAIC™ dibawah 2,5
(2.6)
(2.7)
2.4Financial Performance
Financial performance adalah suatu analisis data dan bentuk pengendalian perusahaan yang digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja pada periode tertentu yang menunjukan tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan.
Baik buruknya kondisi keuangan perusahaan dapat dilihat berdasarkan laporan keuangan perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang di gunakan sebagai alat komunikasi yang berisikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Financial performance merupakan salah satu faktor yang menunjukkan efisiensi dan efektifitas perusahaan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan, yang akan sulit tercapai bila perusahaan tersebut tidak bekerja secara efisien.
Efisiensi merupakan rasio antara pengakuan pendapatan dan pengeluaran biaya menghasilkan laba yang optimal,Sedangkan efektifitas merupakan kondisi dimana manajemen memiliki kemampuan dalam menentukan strategi yang tepat atau suatu alat yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan.
Bagi investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan sebagai dasar penentuan untuk melihat apakah perusahaan dapat mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Selain itu pengukuran juga dilakukan untuk memperlihatkan kepada penanam modal maupun pelanggan atau masyarakat secara umum bahwa perusahaan memiliki kreditibilitas yang baik.
Tujuan Analisa Financial performance : a. Mengetahui tingkat likuiditas.
Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.
b. Mengetahui tingkat solvabilitas.
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
c. Mengetahui tingkat rentabilitas.
Rentabilitas atau yang sering disebut dengan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
d. Mengetahui tingkat stabilitas.
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya
2.4.1 Pengukuran Financial Performance
Pengukuran financial performance merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan perusahaan dalam memperbaiki terjadinya penurunan pada kinerja perusahaan. Pengukuran kinerja pada periode waktu tertentu untuk menilai seberapa jauh perkembangan yang telah dicapai perusahaan dan menghasilkan penilaian kinerja yang menjadi dasar didalam mengelola operasi perusahaan, mengidentifikasi kebutuhan sumber daya, dan menghasilkan informasi yang sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan dalam perusahaan.
Financial performance dapat diukur dengan beberapa metode analisis yang dapat dibedakan menjadi dua yaitu, berbasis akuntansi dan berbasis pasar.
Namun dalam penelitian ini pengukuran kinerja keuangan akan diukur menggunakan pengukuran berbasis akuntansi yang difokuskan pada penggunaan rasio keuangan, dengan tolok ukur yang antara lain yaitu: rasio profitabilitas, rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio pasar. Dalam penelitian ini tolok
ukur yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah rasio profitabilitas.
Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan, profitabilitas diukur dengan membandingkan laba yang diperoleh perusahaan dengan sejumlah perkiraan yang menjadi tolak ukur keberhasilan perusahaan seperti aktiva perusahaan, penjualan dan investasi, Gibson (2001:303). Profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya dan seberapa efisien pula perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaan (Ross, Westerfield, and Stephen, 2005). Sehingga dapat diketahui efektivitas pengelolaan keuangan dan aktiva oleh perusahaan. Pentingnya pengukuran profitabilitas untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan menggunakan seluruh modal yang dimiliki untuk memaksimalkan laba. Rasio profitabilitas menjadi alat ukur utama untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan dalam kegiatan investasi yang umum digunakan oleh investor. Manfaat profitabilitas tidak hanya berguna bagi pihak internal perusahaan saja, tetapi juga bagi pihak eksternal perusahaan, yang memiliki hubungan dan kepentingan dalam perusahaan.
Dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas bertujuan untuk mengukur efisiensi aktivitas oprasional perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau profit dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki perusahaan, serta bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan manajemen didalam pengembalian investasi kepada pihak investor. Hasil pengukuran profitabilitas akan mempengaruhi kebijakan para investor pada investasi yang dilakukan. Tingkat profitabilitas yang tinggi akan menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usahanya. Sedangkan bagi perusahaan itu sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan oprasional perusahaan.
Dalam penelitian ini menggunakan rasio keuangan untuk menilai baik buruknya kondisi kinerja keuangan perusahaan dengan menggabungkan laporan laba rugi dan neraca perusahaan, kedalam dua perhitungan tingkat profitabilitas yang diukur berdasarkan pada Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Tobin’s Q.
2.4.1.1 Return on Assets (ROA)
Return on asset (ROA) merupakan rasio profitabilitas, yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki perusahaan. ROA mencerminkan keuntungan dan efisiensi perusahaan dalam pemanfaatan total aset (Chen et al., 2005). Semakin tinggi nilai ROA suatu perusahaan, menandakan tingginya efisiensi perusahaan dalam menggunakan assetnya, baik tangible assets maupun intangible asset yang dapat menghasilkan laba atau keuntungan bagi perusahaan.
Hal ini disebabkan karena ROA terdiri dari beberapa komponen yaitu penjualan, asset yang digunakan, dan laba atas penjualan yang diperoleh perusahaan. Hasil perbandingan nilai ROA selama beberapa periode berturut-turut akan lebih akurat. Berdasarkan dari kecenderungan ROA ini dapat menjadi sumber informasi atas perkembangan kenaikan ataupun penurunan dari efektivitas operasional perusahaan.
Dalam penelitian ini ROA dipilih untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan karena ROA dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam penggunaan dana yang digunakan dalam kegiatan operasional untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio ini menghubungkan antara manfaat dari operasional perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Untuk menghitung besaran Return on asset sebuah perusahaan penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Brigham dan Ehrhardt (2005) dengan rumus sebagai berikut :
𝑅𝑂𝐴 =𝑁𝑒𝑡𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟𝑇𝑎𝑥 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 Keterangan:
ROA = Return on asset
Net Profit After Tax = jumlah laba bersih setelah pajak.
Total asset = jumlah total aktiva.
2.4.1.2 Return on Equity (ROE)
Return on Equity (ROE) merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan
(2.8)
pada modal saham yang dimiliki perusahaan Brigham dan Ehrhardt (2005).
Return on Equity (ROE) menunjukan tingkat keuntungan investasi para pemegang saham dan efisiensi penggunaan modal sendiri. ROE merupakan indikator penting dari shareholders value cration, artinya semakin tinggi rasio ROE , semakin tinggi pula nilai perusahaan, hal ini tentunya merupakan daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya diperusahaan tersebut. Semakin tingginya nilai ROE suatu perusahaan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham dan mencerminkan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan di masa mendatang.
Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan keuntungan investasi bagi para pemegang saham, ukuran yang digunakan dalam pencapaian alasan ini ditentukan pada tinggi rendahnya nilai ROE pada perusahaan. Sehingga dengan nilai ROE yang tinggi mencerminkan perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik, yang menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan modal begitu juga sebaliknya apabilanilai ROE suatu perusahaan rendah mencerminkan buruknya kinerja keuangan perusahaan, sehingga investor kurang tertarik untuk menanamkan modal pada perusahaan.
Untuk menghitung besaran Return on Equity sebuah perusahaan penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Brigham dan Ehrhardt (2005) dengan rumus sebagai berikut :
𝑅𝑂𝐸 =𝑁𝑒𝑡𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟𝑇𝑎𝑥 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 Keterangan:
ROE = Return on Equity
Net Profit After Tax = jumlah laba bersih setelah pajak.
Total asset = jumlah total ekuitas.
2.4.1.3 Tobin’s Q
Tobin’s Q merupakan ukuran penilaian yang paling banyak digunakan dalam data keuangan perusahaan. Rasio ini pertama kali dikembangkan oleh pemenang hadiah nobel ekonomi, yaitu Profesor James Tobin (1967) dengan membuat hipotesis bahwa keseluruhan nilai pasar perusahaan pada harga pasar
(2.9)
mendefinisikan tobin’s q sebagai rasio yang mengukur hubungan antara nilai pasar perusahaan dan nilai penggantinya. McConnell et al., (1990) dalam penelitiannya menggunakan Tobin’s Q sebagai pengukuran kinerja perusahaan karena Tobin’s Q dapat memberikan informasi mengenai nilai pasar perusahaan, yang mencerminkan keuntungan masa depan perusahaan seperti laba saat ini.
Semakin tinggi nilai rasio Tobin’s Q menunjukkan bahwa perusahaan memiliki peluang peningkatan pertumbuhan yang baik dan memiliki intangible asset yang semakin besar. Hal ini disebabkan karena semakin besarnya nilai pasar aset perusahaan, maka semakin besar juga kerelaan investor untuk mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk memiliki perusahaan tersebut. Brealey dan Myers (2000) menyebutkan bahwa perusahaan dengan nilai Tobin’s Q yang tinggi biasanya memiliki brand image perusahaan yang sangat kuat, sedangkan perusahaan yang memiliki nilai Tobin’s Q yang rendah umumnya berada pada industri yang sangat kompetitif.
Untuk menghitung besarnya nilai Tobin’s Q, dengan rumus sebagai berikut :
𝑇𝑄 =𝑀𝑉𝐸 + 𝐵𝑉𝐷 𝐵𝑉𝐸 + 𝐵𝑉𝐷 Keterangan:
TQ = Tobin’s Q
MVE = Market Value Equity (Outstanding Shares × Stock Price) BVD = Nilai buku dari total hutang (Book value of total debt) BVE = Nilai buku dari ekuitas (Book Value Equity)
2.5 Kajian Penelitian Terdahulu
Konflik keagenan ditentukan berdasarkan pada ownership structure, yaitu apakah konflik yang dominan terjadi antara manajer dengan pemegangsaham atau antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas. Pemusatan kepemilikan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dengan meminimumkan biaya keagenan, tetapi terdapat dua masalah keagenan yang terjadi di dalam kepemilikan, yaitu masalah keagenan antara manajemen dan pegang saham (Jehsen dan Meckling, 1976).
(2.10)
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa institutional ownership yang lebih besar akan menurunkan biaya keagenan. Pernyataan dari Jensen dan Mackling (1976) bertentangan dengan pernyataan Shleifer dan Vishny (1997) yang menyatakan bahwa kepemilikan yang sangat tinggi menyebabkan terjadinya pembentengan (entrenchment), yaitu tindakan yang bertujuan untuk mengamankan kepentingan pemegang saham mayoritas.
Lee et al. (1992: 61) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai institutional ownership. Pendapat pertama mengungkapkan bahwa institutional ownership merupakan pemilik sementara yang hanya mengutamakan pada peningkatan laba sekarang (current earnings). Pendapat kedua mengungkapkan bahwa institutional ownership merupakan investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih mengutamakan pada peningkatan laba masa datang (future earnings).
Pulic (2000) telah mengembangkan metode Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™) yang didesain untuk menyajikan informasi mengenai value creation efficiency dari tangible asset dan intangible asset yang dimiliki perusahaan.VAIC™ adalah salah satu metode pengukuran yang dianggap sebagai indikator yang paling objektif dan cocok untuk mengukur kinerja intellectual capital. Komponen utama dari VAIC™ yang dikembangkan Pulic dilihat dari sumber daya perusahaan yaitu human capital efficiency, structural capital efficiency dan capital employed efficiency. Semakin tinggi nilai VAIC™, membuktikan bahwa perusahaan lebih efisien dalam mengelola sumber daya.
Firer dan Williams (2003) menggunakan metode pengukuran Value Added Intellectual Coefficient untuk meneliti adanya hubungan antara intellectual capital dengan kinerja keuangan pada 75 perusahaan publik di Afrika Selatan. Firer dan Williams (2003) menggunakan tiga kriteria kinerja perusahaan yaitu rasio profitabilitas (ROA), rasio produktifitas (ATO), dan nilai pasar yang diproksikan oleh market to book value ratio (MB). Hasilnya menunjukkan bahwa physical capital merupakan faktor yang paling signifikan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan di Afrika Selatan.
Chen et al., (2005) juga menggunakan metode pengukuran Pulic untuk menguji hubungan antara Intellectual capital dengan nilai pasar dan kinerja
keuangan perusahaan yang merupakan perkembangan penelitian Firer dan Williams (2003) dengan menggunakan sampel 4.254 perusahaan publik di Taiwan Stock Exchange. Penelitian ini menggunakan variabel market to book value ratio (MB) dan kinerja keuangan yang diproksikan oleh return on equity (ROE), return on asset (ROA), pertumbuhan pendapatan (GR), employee performance (EP), serta menambahkan variabel R&D (research and development) sebagai instrument penguat VAIC™. Chen et al (2005) menghubungkan intellectual capital dengan nilai pasar dan kinerja perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa intellectual capital memiliki hubungan positif dengan nilai pasar, dan R&D berpengaruh terhadap kinerja perusahaa.
Tan et al. (2007) melakukan pengujian terhadap pengaruh intellectual capital terhadap financial return dalam 150 perusahaan yang terdaftar di bursa efek Singapore dengan metode Partial Least Square (PLS). Tan et al. (2007) menggunakan return on equity (ROE), earning per share (EPS), dan annual stock return (ASR) sebagai ukuran kinerja keuangan perusahaan. Hasilnya konsisten dengan penelitian Chen et al (2005) bahwa intellectual capital berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, baik masa kini maupun masa mendatang; rata-rata pertumbuhan intellectual capital berhubungan positif dengan kinerja perusahaan di masa mendatang; dan kontribusi intellectual capital terhadap kinerja perusahaan berbeda berdasarkan jenis industrinya.
Hussain (2006) meneliti pengaruh intellectual capital terhadap financial performance pada perusahaan industri di Bangladesh yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negative antara intellectual capital terhadap financial performance. Hal ini kemungkinan disebabkan stock market Bangladesh yang bukan merupakan pasar yang efisien. Harga saham di bursa tersebut cenderung overvalued karena pelaku pasar disana melakukan perdagangan tanpa melakukan analisa dan lebih banyak melibatkan unsur spekulasi, gossip, manipulasi internal price.
2.6 Hipotesis
2.6.1 Pengaruh Institutional Ownership Terhadap Intellectual Capital (VAIC™).
Institutional Ownership sangat penting bagi perusahaan khususnya kemampuannya dalam mengawasi prilaku manajer dan mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif . Penelitian Terdahulu yang berkaitan dengan pengaruh institutional ownership dengan intellectual capital telah banyak dilakukan dan hasilnya berbeda-beda.
Peneliti yang sebelumnya pernah meneliti pengaruh institutional ownership dengan intellectual capital adalah Purnomosidhi (2005) Machmud &
Djakman (2008) dan Hapsoro (2008) yang mengungkapkan bahwa rendahnya institutional ownership dalam suatu perusahaan menjadikan pihak manajer tidak termotivasi untuk meningkatkan intellectual capital. Meythi (2005), menemukan adanya hubungan positif antara Institutional Ownership dan Intellectual Capital Performance. Semakin tinggi jumlah institutional ownership akan menimbulkan adanya usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat meminimalisir resiko terjadinya kecurangan, yang bertujuan untuk menjaga investasi dari adanya prilaku oportunis pihak manajer. Sehingga manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan investor salah satunya dengan menggunakan kebijakan pengelolaan intellectual capita untuk meningkatkan insentif jangka panjang bagi perusahaan. Dengan adanya dukungan penuh dan proses monitoring yang efektif dari pemegang saham institusional maka efisiensi pengelolaan dan pemanfaatan intellectual capital akan semakin meningkat.
Hal ini sesuai dengan penelitian dari Lee et al. (1992: 61) mengungkapkan bahwa institutional ownership merupakan investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih mengutamakan pada peningkatan laba masa datang (future earnings) melalui penetapkan kebijakan peningkatan pengelolaan intellectual capita dalam perusahaan.
H1 : Institutional Ownership berpengaruh positif terhadap Intellectual Capital yang diproksikan dengan VAIC™.
2.6.2 Pengaruh Institutional Ownership Terhadap Financial Performance.
Institutional ownership sangat penting bagi perusahaan khususnya kemampuannya dalam mengoptimalkan pengawasan prilaku manajer dan mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif (Jensen dan Meckling 1976; Smith 1996; Cruthley dan Hansen, 1989). Pentingkat institutional ownership akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional, sehingga dapat menghindari adanya prilaku oportunis yang dilakukan pihak manajer dan meminimalisir terjadinya konflik agensi langsung antara manajemen dan investor. Sehingga manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan investor dan dapat mengurangi pengeluaran agency cost ,serta menurunkan tingkat resiko terjadinya penggelapan yang dilakukan pihak manajemen yang berdampak pada peningkatan financial performance.
Shiller dan Pound (1989), mengungkapkan bahwa institutional ownership melakukan pertimbangan mendalam dalam analisis investasi yang didukung dengan besarnya akses atas informasi. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Barnae dan Rubin, 2005; Bhattacharya dan Graham, 2007; Bathala et al., 1994; Jensen dan Meckling , 1976 Shleifer dan Vishny,1986 yang menemukan adanya hubungan positif antara Institutional Ownership dan Financial Performance.
Berbeda dengan hasil penelitian Lee et al. (1992: 61) mengungkapkan bahwa institutional ownership merupakan pemilik sementara yang hanya mengutamakan pada peningkatan laba sekarang (current earnings). Apabila terjadi perubahan pada laba sekarang yang akan berdampak pada kerugian bagi investor, maka investor secara tiba-tiba dapat melikuidasi sahamnya.
Pelikuidasian saham Investor institusional secara tiba-tiba dalam jumlah besar akan berdampak pada penurunan tingkat financial peformance perusahaan.
Sehingga tingginya jumlah institutional ownership dalam suatu perusahaan, menjadikan investor institusional memegang kendali atas pengambilan keputusan perusahaan yang cenderung mengarah pada kepentingan pribadi yang mengakibatkan penurunan tingkat financial peformance perusahaan.
H2 : Institutional Ownership berpengaruh terhadap Financial Performance.
2.6.5 Pengaruh intellectual Capital terhadap Financial Performance.
Resources based theory menjelaskan perusahaan dapat mencapai keunggulan kompetitif dan kinerja keuangan yang optimal dengan memanfaatkan semua aset strategis penting yang dimiliki perusahaan, yang meliputi aset berwujud ataupun aset tidak berwujud, untuk mencapai keunggulan kompetitif dan financial performance. yang optimal dan berdampak pada semakin tingginya tingkat investasi para investor (stakeholder).
Pada penelitian ini intellectual capital di proksikan pada Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™). VAIC™ adalah salah satu metode pengukuran yang dianggap sebagai indikator yang paling objektif dan cocok untuk mengukur kinerja intellectual capital. VAIC™ merupakan alat manajemen pengendalian digunakan untuk memonitor dan mengukur efisiensi penciptaan value added terhadap komponen intellectual capital perusahaan.VAIC™ yang dikembangkan Pulic terdiri dari tiga komponen utama berdasarkan sumber daya perusahaan yaitu physical capital (CEE),human capital (HCE), dan structural capital (SCE).
Penelitian Terdahulu yang berkaitan dengan pengaruh intellectual capital dengan financial performance telah banyak dilakukan dan hasilnya berbeda-beda.
Firer dan Williams (2003) menyatakan bahwa physical capital merupakan faktor yang paling signifikan berpengaruh terhadap financial performance di Afrika Selatan. Chen etal., (2005) menyatakan bahwa intellectual capital (VAIC™) berpengaruh secara positif terhadap market value dan financial performance. Tan et al. (2007) menyatakan bahwa intellectual capital (VAIC™) berpengaruh secara positif terhadap financial performance, baik masa kini maupun masa mendatang.
Hasil ini berbeda dengan penelitian Hussain (2006), menyatakan bahwa intellectual capital berpengaruh secara negatif terhadap financial performance.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Noguira (2010), dengan menggunakan sampel perusahaan di Brasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa intellectual capital (VAIC™) berpengaruh secara negatif terhadap financial performance pada perusahaan di Brasil.
H3: Intellectual Capital yang diproksikan dengan VAIC™ berpengaruh terhadap Financial Performance.