IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman i
IKHTISAR EKSEKUTIF
Dinas Kesehatan pada tahun 2021 secara umum telah melaksanakan tugasnya dalam menyelenggarakan pembangunan bidang kesehatan di Kota Palangka Raya.
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif serta norma-norma agama. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Dua fungsi utama laporan akuntabilitas kinerja bagi Dinas Kesehatan yaitu: Kesatu, merupakan sarana untuk menyampaikan pertanggungjawaban kinerja Dinas Kesehatan beserta jajarannya kepada Walikota Palangka Raya, dan seluruh pemangku kepentingan baik yang terkait langsung maupun tidak langsung. Kedua, merupakan sumber informasi untuk perbaikan dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan. Dengan demikian, informasi yang tertuang dalam LKIP 2021 harus dapat memenuhi kebutuhan pengguna internal dan eksternal.
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah ( LKIP ) Kota Palangka Raya Tahun 2021, bidang kesehatan menyajikan capaian indikator kinerja sasaran sebagai hasil pelaksanaan program dan kegiatan selama tahun 2021 yang merupakan pelaksanaan mandat yang diemban oleh Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya. Berbagai keberhasilan maupun kegagalan yang muncul sebagai konsekuensi logis dalam pelaksanaan berbagai program dan kegiatan, yang secara ringkas tingkat capaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dapat diikhtisarkan dalam 3 indikator kinerja sasaran dengan rincian sebagai berikut : 3 (tiga) indikator kinerja sasaran berkategori Sangat Berhasil
Dari uraian dalam LKIP 2021 ini, ada keberhasilan yang ditunjukkan dengan capaian indikator sasaran di atas seratus persen, tetapi ada juga yang capaian indikator program di bawah seratus persen. Hal tersebut tetap akan menjadi catatan bagi seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dalam upaya memperbaiki pelaksanaan kerja di masa mendatang.
Palangka Raya, Januari 2022
IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman ii Halaman
RINGKASAN EKSEKUTIF i
BAB I PENDAHULUAN ... 1 BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA 2016... 6
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI...
B. REALISASI ANGGARAN...
C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA...
10 25 28 BAB IV PENUTUP ... 35
LAMPIRAN
LKIP TAHUN 2020 – BAB I PENDAHULUAN IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman 1 Halaman 1
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 (H) ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa upaya pemenuhan kebutuhan salah satu hak dasar masyarakat. Negara bertanggung jawab untuk mengatur dan memastikan bahwa hak untuk hidup sehat bagi seluruh lapisan masyarakat dipenuhi termasuk bagi masyarakat miskin dan/atau tidak mampu. Kewajiban negara untuk memenuhi hak dasar masyarakat di bidang kesehatan juga diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 yang menyatakan bahwa negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Dengan demikian, pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya dapat terwujud.
Dalam konstitusi organisasi kesehatan dunia (WHO) yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau The United Nations (UN) disebutkan bahwa salah satu hak asasi manusia adalah memperoleh manfaat, mendapatkan, dan/atau merasakan derajat kesehatan setinggitingginya, sehingga Kementerian Kesehatan dalam menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan tidak hanya berpihak pada kaum papa dan keadilan, namun juga berorientasi pada pencapaian SDG’s (Sustainable Development Goals)
Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan pendekatan sistem dituangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang terdiri dari enam sub sistem: 1) Upaya kesehatan, 2) Pembiayaan kesehatan, 3) Sumber daya manusia kesehatan, 4) Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, 5) Manajemen dan informasi kesehatan, dan 6) Pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan dan kerja sama lintas sektoral.
Dalam Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 2 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2018 - 2023, ada beberapa strategi pembangunan di bidang kesehatan yang diharapkan dapat mewujudkan kondisi meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di Kota Palangka Raya.
LKIP TAHUN 2020 – BAB I PENDAHULUAN IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman 2 Halaman 2
sistem akuntabilitas, di mana tahap akhir dari siklus sistem tersebut adalah menyusun laporan kinerja sebagai pertanggungjawaban kinerja instansi tersebut kepada instansi yang lebih tinggi.
Laporan kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2020 ini disusun sebagai pertanggungjawaban atas rencana kerja SKPD pemerintah daerah tahun 2020 yang didanai baik dari APBD maupun sumber dana lainnya, seperti APBN (DAK bidang Kesehatan) dan dana Kapitasi JKN.
B. TUGAS DAN FUNGSI
Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dipimpin oleh seorang Kepala Dinas. Adapun uraian tugas dan fungsi Dinas Kesehatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Walikota Palangka Raya Nomor 37 Tahun 2019 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya. Dinas Kesehatan mempunyai tugas membantu Walikota melaksanakan Urusan Pemerintahan bidang Kesehatan yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan yang diberikan kepada Kota Palangka Raya. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
1. Perumusan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan
3. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan
4. Pelaksanaan administrasi dinas bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan dan sumber daya kesehatan
5. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Walikota terkait dengan tugas dan fungsinya
LKIP TAHUN 2020 – BAB I PENDAHULUAN IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman 3 Halaman 3
C. STRUKTUR ORGANISASI
Berdasarkan Peraturan Walikota Palangka Raya Nomor 37 Tahun 2019 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, maka susunan Organisasi Dinas Kesehatan dengan type A sebagai berikut:
No Unit Kerja
Kepala Dinas Kesehatan A. Sekretariat
1. Sub Bagian Perencanaan dan Evaluasi
2. Sub Bagian Keuangan dan Pengelolaan Aset 3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
B. Bidang Kesehatan Masyarakat
1. Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat 2. Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat
3. Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga C. Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
1. Seksi Surveilans dan Imunisasi
2. Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
3. Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa D. Bidang Pelayanan Kesehatan
1. Seksi Pelayanan Kesehatan Primer
2. Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Jaminan Kesehatan
3. Seksi Mutu dan Akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Tradisional
E. Bidang Sumber Daya Kesehatan 1. Seksi Kefarmasian
2. Seksi Alat Kesehatan
3. Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan
D. ASPEK STRATEGIS DAN MASALAH UTAMA (STRATEGIC ISSUED)
Masalah utama terkait derajat kesehatan masyarakat di Kota Palangka Raya adalah:
1. Pelaksanaan terhadap upaya pemerataan dan keterjangkauan (aksesibilitas) pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal, distribusi tenaga kesehatan belum proporsional, sehingga terdapat disparitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah perkotaan dan daerah aliran sungai atau daerah sulit (remote area), yang identik dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin.
LKIP TAHUN 2020 – BAB I PENDAHULUAN IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman 4 Halaman 4
kesehatan. Saat ini masih dihadapi beberapa penyakit menular (re-emerging disease), sementara penyakit menular baru (Covid-19) dan penyakit degenerative meningkat (new-emerging disease).
3. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan belum sepenuhnya menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan kesehatan. Peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi pengabdian masyarakat (to serve), pelaksanaan advokasi kesehatan (to advocate), dan pelaksanaan pengawasan sosial (to watch) belum terlihat. Berbagai masalah kesehatan yang timbul dewasa ini, tidak perlu terjadi bila peran aktif masyarakat dapat terus berjalan bahkan meningkat.
4. Angka keluarga sehat masih rendah (27,5%) untuk beberapa kelurahan yang telah mendapatkan intervensi Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga. Hal tersebut ditenggarai dari kesadaran masyarakat akan hidup bersih, belum optimal, sehingga berperan sebagai penyumbang berkembangnya penyakit menular yang terkait sanitasi lingkungan (DBD, diare, TB Paru, dll). Pola hidup sehat juga belum diimplementasikan oleh masyarakat, sehingga bisa berperan pada meningkatnya kasus penyakit degenerative (Hypertensi, Diabetes Melitus, Jantung, dll).
5. Besarnya anggaran kesehatan juga belum memenuhi amanat UU No.36/2009 tentang Kesehatan, masih berada dibawah 10% (diluar gaji) dari total anggaran APBD Kota Palangka Raya. Dalam UU No. 36/2009 tentang Kesehatan disebutkan bahwa pemerintah daerah seharusnya mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kesehatan minimal 10% (diluar gaji) dari total APBD Kab/Kota.
E. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Laporan Kinerja Dinas Kesehatan ini menjelaskan pencapaian kinerja Dinas Kesehatan selama Tahun 2021. Capaian kinerja tersebut juga dibandingkan dengan capaian kinerja tahun sebelumnya untuk mengukur keberhasilan/kegagalan kinerja Dinas Kesehatan.
Selain itu, capaian kinerja tahun 2021 juga dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan program/kegiatan pada tahun berikutnya. Dengan kerangka pikir seperti itu, sistimatika penyajian laporan akuntabilitas kinerja Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut:
LKIP TAHUN 2020 – BAB I PENDAHULUAN IKHTISAR EKSEKUTIF Halaman 5 Halaman 5
- Executive Summary (Ikhtisar Eksekutif)
- Bab I (Pendahuluan), menjelaskan gambaran umum Dinas Kesehatan dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi
- Bab II (Perencanaan Kinerja), menjelaskan tentang ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun 2021
- Bab III (Akuntabilitas Kinerja), menjelaskan tentang pencapaian Kinerja Dinas Kesehatan dengan pengungkapan dan penyajian dari hasil pengukuran kinerja, serta realisasi anggaran dari berbagai sumber
- Bab IV (Penutup), berisi kesimpulan atas capaian Kinerja Dinas Kesehatan serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan untuk peningkatan kinerja tahun 2021
LKIP TAHUN 2020 – BAB II PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2020 Halaman 6
PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2020
A. RENCANA KINERJA TAHUN 2020
Tahapan perencanaan kinerja pada Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dimulai dengan penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya 2019 – 2023, sekarang telah mengikuti Renstra Dinas Kesehatan yang penyelarasan yang pada hakikatnya merupakan pernyataan komitmen bersama mengenai upaya terencana dan sistematis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Dalam rangka memberikan arah dan sasaran yang jelas serta sebagai pedoman dan tolak ukur kinerja dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yang diselaraskan dengan arah kebijakan dan program pembangunan nasional yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJMD) Kota Palangka Raya 2018 – 2023 sebagai dasar acuan penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan serta sebagai pedoman dan pengendalian kinerja dalam pelaksanaan program dan kegiatan Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dalam pencapaian visi dan misi serta tujuan organisasi pada 2018 – 2023.
Penetapan Rencana Kinerja Bidang Kesehatan Tahun 2020 pada Renstra dan RPJMD Kota Palangka Raya, yaitu pada “Misi 2” Kota Palangka Raya (“Mewujudkan Kerukunan Seluruh Elemen Masyarakat Smart Society (Masyarakat Cerdas) meliputi:
pengembangan kesehatan, pendidikan, kepemudaan, layanan publik, kerukunan dan keamanan, pada “Tujuan 3” (Mewujudkan Sumberdaya Manusia yang Cerdas, Sehat dan Berdaya Saing) dan “Sasaran 1” (Meningkatnya Derajat Kesehatan Masyarakat).
Sasaran strategis yang ditetapkan sebanyak 1 sasaran dan 3 indikator kinerja. Tujuan pembangunan kesehatan di Kota Palangka Raya tertuang dalam rencana strategis yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Palangka Raya yang optimal.
Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dicapai melalui meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas dan jaringannya, pemeliharaan sarana dan prasarana kesehatan di puskesmas sehingga pelayanan kesehatan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dengan sasaran utama masyarakat di pemukiman kumuh perkotaan dan pedesaan terutama bayi, balita, bumil dan usila serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Perbaikan status gizi masyarakat dan peningkatan kesehatan lingkungan pemukiman, juga mengajak masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri dan bermartabat.
LKIP TAHUN 2020 – BAB II PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2020 Halaman 7
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut, disusunlah Rencana Kinerja Tahunan (RKT) yang mengacu pada Rencana Strategis Dinas Kesehatan serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Palangka Raya, pada bagian tahun 2020
Tabel 2.1
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2021 DINAS KESEHATAN KOTA PALANGKA RAYA (MENGACU RPJMD KOTA PALANGKA RAYA 2018-2023)
No Sasaran Indikator Sasaran Satuan Target
2021 1 Meningkatnya
Aksesibilitas dan kualitas layanan masyarakat
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
% 45
Angka Kematian Ibu per 100.000 KH 65 Angka Kematian Bayi per 1000 KH 6
B. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2021
Perjanjian kinerja yang diformulasikan dalam penetapan kinerja merupakan pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun. Penetapan kinerja disepakati antara pengemban tugas dengan atasannya (performance agreement). Penetapan kinerja juga merupakan ikhtisar rencana kinerja tahunan,yang telah disesuaikan dengan ketersediaan anggarannya, yaitu setelah proses anggaran (budgeting process) selesai. Aktualisasi kinerja sebagai realisasi penetapan kinerja dimuat dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja (Performance Accountability Report).
Dalam Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 2 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2018 – 2023 telah ditetapkan target pada masing-masing indikator kinerja pada Bidang Kesehatan. Penetapan kinerja dapat diperbaiki dalam hal atasan langsung tidak sependapat dengan target kinerja yang diajukan tersebut, sehingga kedua belah pihak sepakat atas target kinerja yang telah ditetapkan.
Penetapan Kinerja Tahun 2021 merupakan komitmen seluruh unsur Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya untuk memenuhi target kinerja yang telah ditetapkan dan sebagai bagian dari upaya memenuhi misi organisasi. Perjanjian kinerja bidang kesehatan mengacu pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2021.
LKIP TAHUN 2020 – BAB II PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2020 Halaman 8
Tabel 2.2.
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2021 DINAS KESEHATAN KOTA PALANGKA RAYA
No. Sasaran No Indikator Kinerja Sasaran Target
2021
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Meningkatnya
Aksesibilitas dan kualitas layanan masyarakat
1. Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi
Masyarakat Miskin (%) 45
2. Angka Kematian Ibu per 100.000 KH 65 3. Angka Kematian Bayi per 1.000 KH 6
C. RENCANA AKSI ATAS PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2021
Dalam rangka mewujudkan kinerja dalam perjanjian yang telah disetujui dan diketahui oleh Kepala Daerah Kota Palangka Raya, maka disusunlah rencana aksi di bidang kesehatan, antara lain :
Tabel.2.3
Rencana Aksi Atas Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya
Indikator Kinerja
Sasaran Satuan Target
2021 Rencana Aksi
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
% 45
1. Memperkuat Regulasi Kesehatan
o Adanya Perda tentang Jamkesda dengan target 100% masyarakat miskin mendapatkan jaminan Kesehatan dari pemerintah daerah, dan 95%
masyarakat Kota Palangka Raya terlindungi kesehatannya (UHC =Universal Health Coverage atau cakupan kesehatan semesta)
o Adanya payung hukum berupa Perda/Perwali tentang kewajiban untuk melahirkan di tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan o Kewajiban Tenaga Kesehatan (bidan) Praktek
Swasta untuk mengirimkan laporan kepada Puskesmas di wilayah kerjanya
2. Memperkuat manajemen kesehatan
o Kepala Puskesmas dan Bidan Koordinator melaksanakan pembinaan dan supervisi yang berkesinambungan kepada bidan pustu, polindes, bidan praktek dan klinik swasta yang ada di wilayah kerjanya
o Puskesmas meningkatkan koordinasi dengan lintas sektor seperti tokoh masyarakat, kader, tokoh agama untuk menjaring dan melaporkan ibu hamil, ibu nifas yang belum terjangkau oleh petugas kesehatan
o Petugas Puskesmas harus meningkatkan/
menguatkan Program P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
o Peningkatan kapasitas SDM Kesehatan pemberi
Angka Kematian Ibu
per
100.000 KH 65
Angka Kematian Bayi
per 1000
KH 6
LKIP TAHUN 2020 – BAB II PERENCANAAN KINERJA TAHUN 2020 Halaman 9
Indikator Kinerja
Sasaran Satuan Target
2021 Rencana Aksi
layanan Kesehatan pada ibu hamil, ibu melahirkan, serta bayi baru lahir
o Advokasi tentang system pembiayaan Kesehatan kepada pihak eksekutif dan legislatif
3. Meningkatkan Kapasitas Sasaran Program
o Peningkatan pengetahuan,perilaku, dan sikap (KAP) para wanita usia subur dan para ibu hamil o Penyuluhan kepada remaja putri (anak usia
sekolah menengah)
4. Penyuluhan P4K kepada para Wanita Usia Subur (WUS) dan Remaja Putri
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 10 10 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI
Pengukuran kinerja merupakan bagian dari sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai suatu tatanan, instrumen, dan metode pertanggungjawaban.
Pengukuran kinerja secara khusus membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan tingkat kinerja standar, rencana, atau target. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja utama yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah tentang RPJMD Kota Palangka Raya Tahun 2018-2023. Pengukuran kinerja ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Dinas Kesehatan dalam kurun waktu Januari – Desember 2021.
1. Membandingkan Antara Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2021
Pembangunan bidang kesehatan mempunyai 1 (satu) sasaran dalam menunjang tercapainya “Misi 2” Kota Palangka Raya (“Mewujudkan Kerukunan Seluruh Elemen Masyarakat Smart Society (Masyarakat Cerdas) meliputi: pengembangan kesehatan, pendidikan, kepemudaan, layanan publik, kerukunan dan keamanan”), pada “Tujuan 3” (Mewujudkan Sumberdaya Manusia yang Cerdas, Sehat dan Berdaya Saing), dalam RPJMD Kota Palangka Raya Tahun 2018 – 2023, dengan 3 (tiga) indikator kinerja. Realisasi kinerja bidang kesehatan tahun 2021 sesuai table 3.1
Tabel 3.1.
CAPAIAN REALISASI INDIKATOR KINERJA
DINAS KESEHATAN KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2021
Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Satuan Target 2021
Realisasi 2021
% Capaia
n Meningkatn
ya derajat kesehatan masyarakat
Meningkatnya Aksesibilitas dan kualitas layanan Kesehatan
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
% 45 37,70 83,78
Angka Kematian Ibu
per 100.000 KH
65 69,61 92,91
Angka Kematian Bayi
per
1000 KH 6 1,39 176,83
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 11 11 Pada tabel 3.1, indikator kinerja ditetapkan berdasarkan penyesuaian sasaran, strategi, dan arah kebijakan, mengacu pada tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kota Palangka Raya. Indikator kinerja program (outcome) sebanyak 3 indikator dimana target dan capaiannya akan dibahas secara rinci di sub bab analisis capaian kinerja.
2. Membandingkan Antara Realisasi Kinerja Serta Capaian Kinerja Tahun 2021 Dengan Tahun 2017, 2018,2019, dan 2020
Pembangunan bidang kesehatan mempunyai sasaran dalam menunjang tercapainya misi ke 2 dalam RPJMD Kota Palangka Raya Tahun 2018 – 2023, dengan 1 (satu) sasaran dan 3 (tiga) indikator kinerja. Capaian realisasi kinerja bidang kesehatan tahun 2021 jika dibandingkan dengan capaian kinerja Tahun 2017, 2018, 2019, dan 2020 seperti tampak pada tabel 3.2 dibawah ini
Tabel 3.2
Realisasi Kinerja serta Capaian Kinerja Tahun 2021 dibandingkan dengan Capaian Kinerja Tahun 2017, 2018, 2019,dan 2020
Tujuan Sasaran Indikator
Sasaran Satuan
Realisasi 2017 % Capaian Kinerja 2017 Realisasi 2018 % Capaian Kinerja 2018 Realisasi 2019 % Capaian Kinerja 2019 Realisasi 2020 % Capaian Kinerja 2020 Realisasi 2021 % Capaian Kinerja 2021
Meningk atnya derajat kesehata n masyara kat
Meningk atnya Aksesibili tas dan kualitas layanan kesehata n
Cakupan Pelayana n Kesehata n bagi Masyara kat Miskin
% - - - - - - - - 37,70 83,78
Angka Kematian Ibu (AKI)
per 100.000 KH
1,34 676,69 1.78 393.26 38,48 194,91 43,52 160,85 69,61 92,91
Angka Kematian Bayi (AKB)
per 1000
KH 19,15 130,89 79.07 18.97 0,96 729,17 2,61 268,2 1,39 176,83
Pada tabel 3.2 terlihat bahwa capaian kinerja rata-rata indikator kesehatan tahun 2021 mengalami penurunan jika dibandingkan capaian kinerja tahun 2020.
Namun jika dibandingkan dengan tahun 2017, 2018, 2019, dan 2020 capaian kinerja mengalami naik turun secara fluktuatif. Kendala yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya pada Tahun 2021 adalah masih adanya pandemi Covid-19, dimana kegiatan promotif dan preventif tidak bisa maksimal dilaksanakan. Kunjungan masyarakat ke puskesmas juga menurun jika dibandingkan
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 12 12 kunjungan tahun 2019, namun mengalami peningkatan dibandingkan kunjungan tahun 2020 karena kasus Covid-19 mulai melandai pada triwulan IV/2021.
Kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan juga mengalami penurunan frekuensinya, karena adanya penolakan masyarakat terkait pandemi Covid-19.
Pelayanan kesehatan diprioritaskan kepada pelayanan kesehatan pasien Covid- 19, mulai dari tracking, tracing, testing, dan treatmen. Pelayanan kesehatan lainnya adalah perawatan pasien Covid-19 pada RSUD dan RS Darurat/Perluasan, pendampingan Isolasi Mandiri, pendampingan pasca isolasi, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, serta edukasi 5 M (Memakai masker; Menjaga jarak; Mencuci tangan; Menghindari kerumunan; dan Mengurangi bepergian).
Upaya lain yang tidak kalah peranannya dalam meningkatkan imunitas masyarakat adalah dengan menggalakkan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat.
3. Membandingkan Realisasi Kinerja Tahun 2021 dengan Target RPJMD Bidang Kesehatan
Realisasi kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, dihitung berdasarkan kegiatan pada program kesehatan yang telah dilaksanakan tahun 2021. Pandemi Covid-19 yang melanda Kota Palangka Raya juga Indonesia secara umum, berpengaruh terhadap capaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2021. Rasionalisasi anggaran program dengan re-foccusing kepada dana pengendalian Covid-19, dampaknya adalah beberapa kegiatan tidak bisa bisa dilaksanakan. Hasil realisasi Kinerja Tahun 2021 dibandingkan dengan target kinerja Tahun 2021 pada RPJMD Kota Palangka Raya seperti pada tabel 3.3 berikut.
Tabel 3.3.
Perbandingan Realisasi Kinerja dengan target Jangka Menengah dalam Renstra Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2021
Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Satuan
Target RPJMD
2021
Realisasi 2021 Meningkatnya
derajat kesehatan masyarakat
Meningkatnya aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
% 45 37,70
Angka Kematian Ibu per
100.000 KH 65 69,61 Angka Kematian Bayi per 1000
KH 6 1,39
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 13 13 4. Membandingkan Realisasi Kinerja Tahun 2021 dengan Standar Nasional Bidang
Kesehatan
Target Nasional untuk bidang kesehatan ditetapkan berdasarkan kebijakan nasional maupun kebijakan internasional, namun tetap memperhatikan kondisi masing-masing daerah yang tersebar di seluruh tanah air Indonesia. Selain Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI, target nasional juga mengacu kepada target SDGs (Sustainable Development Goals) yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). SDGs merupakan kelanjutan MDGS (Milenium Development Goals) yang telah berakhir pada tahun 2015 dan diperpanjang sampai tahun 2030.
Target SDGs dengan tahapan tiap tahun meningkat untuk setiap indikator pokok serta indikator penunjang yang disusun oleh Kementerian Kesehatan RI.
Tabel 3.4
Perbandingan antara Realisasi Kinerja Tahun 2021 dengan Standar Nasional Bidang Kesehatan
di Kota Palangka Raya
Tujuan Sasaran Indikator Sasaran Satuan
Target Nasional/
SDG’s
Realisasi 2021 Meningkatnya
derajat kesehatan masyarakat
Meningkatnya Aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
% 40 37,70
Angka Kematian Ibu per
100.000 KH 70 69,61
Angka Kematian Bayi per 1000
KH 12 1,39
Tabel 3.4 memperlihatkan bahwa Angka Kematian (AKI & AKB) berada dibawah target SDGs, dengan arti angka kematian ibu dan bayi di Kota Palangka Raya sudah baik bahkan AKB berada 8 kali lebih rendah dari target SDGs. Namun angka tersebut tidak boleh menjadikan lengah para pemegang program, sehingga angka kematian meningkat di tahun mendatang. Pemantauan Wilayah Setempat terhadap Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA) harus tetap dilaksanakan secara ketat, dengan merangkul sarana pelayanan swasta juga praktik mandiri Bidan dan Dokter Spesialis di wilayah Kota Palangka Raya.
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 14 14 5. Analisis Penyebab Keberhasilan/Kegagalan atau Peningkatan/Penurunan Kinerja
Serta Alternatif Solusi Yang Telah Dilakukan
Tahun 2021 Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya melaksanakan 4 (empat) program kesehatan dan 1 (satu) program penunjang pelayanan pemerintah dengan 22 kegiatan dan 91 (Sembilan Puluh satu) sub kegiatan. Meskipun semua program dan kegiatan tersebut dilaksanakan namun pasti ada faktor keberhasilan dan kegagalan.
Beberapa penyebab keberhasilan dan kegagalan dibidang kesehatan antara lain :
1) Pendorong Keberhasilan
a. Anggaran Kesehatan bersumberkan APBD Kota Palangka Raya TA 2021 mencapai 20,93% (Belanja Operasional termasuk gaji+tunjangan), termasuk tambahan anggaran fokus penanggulangan Covid-19 bersumberkan Dana Transfer 8% (Re-Focussing) dan Dana Insentif Daerah (DID).
b. Jumlah tenaga kesehatan dengan rasio per-100.000 penduduk, serta jumlah sarana pelayanan kesehatan dengan rasio per-100.000 penduduk, sehingga jangkauan pelayanan dipenuhi dengan layanan di dalam dan luar gedung puskesmas. Adanya tenaga Sukarelawan dari Tenaga Profesi Kesehatan, sangat membantu dalam penanggulangan Covid-19 pada tahun 2021
c. Sistem Surveilance penyakit menular dilaksanakan secara terpadu dengan sistem surveilance untuk program kesehatan yang lain (gizi buruk, masalah kesehatan pada saat/pasca bencana, KLB, dan lain-lain)
d. Program Kesehatan mendapatkan perhatian baik secara vertikal (dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah) dan horisontal dari lintas sektoral (termasuk TIM SATGAS Covid-19). Sehingga bimbingan tehnis serta supervisi dari kementerian kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah melalui buku pedoman dan pemanggilan tenaga kesehatan secara rutin dilaksanakan
e. Alokasi anggaran APBN melalui DAK Fisik Tahun 2021, dapat memenuhi kebutuhan akan prasarana dan alat kesehatan untuk puskesmas dan RSUD, dimana anggaran pemerintah daerah tidak mencukupi untuk kebutuhan tersebut.
Sedangkan DAK Non-Fisik Tahun 2021 dapat mendukung pencapaian program UKM di puskesmas, Jaminan Persalinan, dan Akreditasi Puskesmas.
f. Konsultasi dan advokasi secara vertikal ke Kementerian Kesehatan RI juga rutin dilaksanakan, sehingga apa bila ada hambatan/permasalahan tehnis program dapat segera ditindak lanjuti
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 15 15 g. Capaian kinerja untuk beberapa indikator kinerja pada tahun 2020 yang sudah
bagus, sangat signifikan mendongkrak angka capaian kinerja tahun 2021 2) Penyebab Kegagalan
a. Adanya pandemi Covid-19 selama tahun 2021 menyebabkan beberapa kegiatan tidak berjalan optimal. Fokus perhatian para pemegang program lebih terarah ke kegiatan penanggulangan Covid-19 secara terpadu (lintas program) b. Anggaran kesehatan pada triwulan I Tahun 2021 mengalami rasionalisasi dan
re-focussing untuk penanggulangan pandemi Covid-19. Anggaran Kesehatan (diluar gaji) bersumberkan APBD Kota Palangka Raya mencapai 15,41%, dimana didalamnya terdapat 26,28% untuk pengendalian dan penanganan Covid-19. Hal ini terlihat sudah sesuai dengan amanat UU no.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dimana daerah kabupaten/kota diharapkan dapat mengalokasikan dana pembangunan untuk kesehatan minimal 10% dari total APBD diluar gaji. Sekain itu, Dinas Kesehatan mendapatkan tambahan dari beberapa jenis Silpa pada tahun sebelum 2021, yang dialokasikan pada APBD- P 2021, tidak cuckup waktu pelaksanaan kegiatan sehingga serapan anggaran tidak optimal. Realisasi keuangan pada tahun 2021 hanya mencapai 87,77%
(Rp. 235.537.005.507). Dana terbesar dipergunakan untuk penanggulangan Covid-19 di wilayah Kota Palangka Raya, mencapai 26,28% (Rp.
51.932.881.317) dari total Belanja Opersai diluar gaji (Rp. 197.607.244.581) c. Alokasi anggaran untuk beberapa Silpa 2020 berada pada APBD-P Tahun
2021, sehingga tidak cukup waktu untuk menyelesaikan kegiatan dan administrasi keuangan.
d. Tugas rangkap paramedis di puskesmas, selain memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat juga bertanggungjawab melakukan pencatatan akuntansi/akrual keuangan dan asset (bendahara di puskesmas)
e. Kesadaran masyarakat akan hidup bersih, belum optimal, sehingga berperan sebagai penyumbang berkembangnya penyakit menular yang terkait sanitasi lingkungan (DBD, Diare, TB Paru, dll), serta penyakit menular langsung (Covid- 19)
f. Pola hidup sehat juga belum diimplementasikan oleh masyarakat, sehingga bisa berperan pada meningkatkanya kasus penyakit degeneratif (Hypertensi, Diabetes Melitus, Jantung, dll)
g. Distribusi dan penyebaran tenaga kesehatan belum proportional antara daerah perkotaan, pedesaan, serta daerah aliran sungai
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 16 16 Dengan adanya permasalahan tersebut, maka upaya yang perlu ditempuh dalam rangka memecahkan masalah adalah sebagai berikut :
1) Melaksanakan upaya pelayanan kesehatan sesuai dengan Petunjuk Tehnis dari Kementerian Kesehatan RI tentang Pelayanan Kesehatan pada masa pandemi Covid- 19
2) Membuat perencanaan yang berdasarkan skala prioritas dan berdasarkan data yang akurat (evidence based) sehingga anggaran kesehatan yang sudah dialokasikan lebih tepat guna dan tepat sasaran.
3) Memperkuat Tim Advokasi untuk melakukan advokasi kepada stake holder dalam peningkatan pembiayaan kesehatan
4) Mengusulkan penerimaan pegawai sesuai kompetensi yang diperlukan kepada pihak yang terkait, dan memberi dorongan serta kesempatan kepada tenaga medis dan paramedis yang ada untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.
5) Peningkatan Upaya Promotif dan Preventif melalui kemandirian masyarakat khususnya rumah tangga untuk hidup sehat antara lain :
a. Terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan (5M) sehingga pandemi Covid-19 segera berakhir serta menunjang pencegahan penyakit menular lainnya
b. Peningkatan PWS-KIA (Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu, bayi, dan Anak) di puskesmas, peningkatan system pencatatan dan pelaporan, serta pendekatan pelayanan antenatal care. Mengaktifkan/mempromosikan Puskesmas PONED, Penyuluhan agar ibu hamil melahirkan di sarana kesehatan, dan pelaksanaan kelas ibu hamil di semua Puskesmas.
c. Pengembangan Kelurahan Sehat
d. Peningkatan Koordinasi Lintas Sektoral terkait tatanan PHBS e. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
f. Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) 6) Kepekaan pelayanan kesehatan terhadap kebutuhan masyarakat ditingkatkan
dengan mengupayakan kemandirian bagi unit-unit pelayanan kesehatan dan diterapkan manajemen mutu yang berorientasi kepada pelanggan/klien.
7) Diperlukannya keseimbangan antara hak memperoleh kesejahteraan (Penambahan Insentif untuk tenaga kesehatan daerah sulit) dan kewajiban memberikan pelayanan yang adil dan merata.
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 17 17 6. Analisis Atas Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas organisasi dalam menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik. Akuntabilitas bukan hanya sekedar kemampuan bagaimana uang publik dibelanjakan akan tetapi meliputi kemampuan bagaimana uang publik tersebut telah diibelanjakan secara ekonomis, efisiensi, dan efektif. Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintahan. Kinerja pemerintah tidak bisa dinilai dari sisi output saja tetapi harus mempertimbangkan input, output, dan out come secara bersama. Tujuan yang dikehendaki oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money, yaitu : ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisiensi (berdaya guna) dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan, serta efektif (berhasil guna) dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.
Selama ini, sektor publik sering dinilai sebagai sarang in-efisiensi, pemborosan, dan sumber kebocoran dana. Tuntutan baru muncul agar organisasi sektor publik memperhatikan value for money yang mempertimbangkan input, output, dan outcome secara bersama-sama. Efisiensi berbicara mengenai input dan output. Efisiensi dengan hubungan antara output berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Suatu organisasi, program atau kegiatan dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output tertentu dengan input serendah-rendahnya, atau dengan input tertentu mampu menghasilkan output sebesar-besarnya. Konsep efisiensi juga terkait dengan produktifitas (perbandingan antara input dan output).
Dengan indikator input (tenaga, sarana, dan anggaran) Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya yang dikelompokkan pada level/kategori tertentu, serta memperhatikan out put kegiatan dan outcome yang dirasakan oleh masyarakat, akan dibandingkan secara sederhana. Dalam bidang kesehatan yang berperan menjadi input, out put, dan out come adalah :
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 18 18 Tabel 3.5
Indikator Sistem
Input Out Put Indikator Out Come
(Capaian Kinerja)
Rumah Sakit
Puskesmas
Sarana Kesehatan Desa (Poskesdes)
Sarana persalinan (Polindes dan puskesmas PONED)
Balai Pengobatan/Klinik
Tenaga Medis (dokter, perawat, bidan)
Tenaga Kesehatan penunjang
Anggaran Kesehatan
Pelayanan kesehatan di
sarana kesehatan
pemerintah :
Kunjungan Rawat Jalan di Puskesmas
Rawat Inap (puskesmas Rawat Inap dan RS)
Promotif, Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif
Realisasi Anggaran
Menurunnya Angka Kematian
Dan lain-lain (sesuai target dalam RPJMD)
Dengan keberagaman skala data pada variabel diatas, analisa efisiensi akan dilakukan terhadap kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, fokus pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, dengan penghitungan secara sederhana menggunakan rumus efisiensi.
1. Indikator Input
Indikator Input yang mempunyai skala data sama dengan out put adalah besaran anggaran kesehatan (keduanya berskala interval). Anggaran kesehatan dimaksud adalah proporsi anggaran pembangunan di Dinas Kesehatan dari total APBD Kota Palangka Raya Tahun 2021. Total APBD kesehatan pada tahun 2021 adalah Rp.
268.343.099.132, namun yang bersumber dari DAU Murni sebesar Rp.
153.148.179.923 (57,07%) terdiri dari Gaji ASN sebesar 46,19% dan Operasional sebesar 23,84%, serta belanja untuk penganggulangan Covid-19 sebesar 29,97%.
Angka DAU Murni tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2020 sebesar Rp. 82.374.047.474,26 (52,99%) dan Tahun 2019 dengan DAU Murni sebesar Rp. 58.843.869.575 dan tahun 2018 dengan DAU Murni sebesar Rp.
74.853.792.547,47 atau 6,4% dari total APBD Kota Palangka Raya Tahun 2018.
Sedangkan sumber dana lain (DAK,JKN,DBH-CHT, DID, dan BLUD) pada tahun 2021 sebesar Rp. 115.194.919.209 (42,93%), dengan rincian sebagai berikut: Rp.
29.055.270.000 (10,83%) merupakan Dana Alokasi Khusus (DAK Bidang Kesehatan), Rp.12.213.617.569,4 (4,55%) merupakan dana JKN, Rp.
53.800.932.254 (20,05%) merupakan dana BLUD, Rp.4.954.957.000 (1,85%) merupakan dana DID, dan Rp. 15170142386 (5,65%) merupakan Dana Silpa dari berbagai sumber (DAK, DBH-CHT, INA-CBGs, Inakes/BOKT,dll).
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 19 19 Belanja Operasional Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2021 mencapai 145.778.127 649 atau 11,37% dari Total APBD Pemerintah Kota Palangka Raya Tahun 2021 (Rp.1.282.200.280.151). Hal ini menunjukkan bahwa APBD Kesehatan tahun 2021 sudah sesuai dengan amanat UU nomor 36/2009 tentang Kesehatan dimana pemerintah daerah wajib mengalokasikan minimal 10% pada APBD (diluar belanja tidak langsung/Gaji Pegawai). Anggaran terbesar dipergunakan untuk penanggulangan dan penanganan Covid-19 (35,62%). Jadi indikator input berdasarkan proporsi anggaran kesehatan pada total APBD Kota Palangka Raya adalah 15,41% .
2. Indikator Out Put
Indikator out put yang digunakan disini adalah capaian kinerja Dinas Kesehatan (dhitung berdasarkan target dan realisasi tahun 2021). Pada hitungan capaian kinerja secara keseluruhan, dari 3 indikator, ada 1 indikator mencapai ≥100% dan 2 indikator mencapai >80%. Adapun rata-rata capaian kinerja terhadap 1 (satu) sasaran dalam mencapai tujuan “Mewujudkan Sumberdaya Manusia yang Cerdas, Sehat dan Berdaya Saing“ adalah 117,8%. Tingkat capaian kinerja secara umum atas kegiatan dan sasaran Dinas kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2021 adalah masuk kategori “Sangat Berhasil“.
3. Efisiensi
Efisien adalah pencapaian target dengan menggunakan input (biaya) yang sama untuk menghasilkan output (hasil) yang lebih besar. “Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output. Efisiensi adalah sesuatu yang kita kerjakan berkaitan dengan menghasilkan hasil yang optimal dengan tidak membuang banyak waktu dalam proses pengerjaannya. Efektif belum tentu efisien dan begitu sebaliknya. Penghitungan efisiensi pada kali ini adalah dengan membandingkan indikator input (total anggaran belanja langsung) dengan indikator Out Put (total realisasi anggaran belanja), atau, indikator input (Proporsi anggaran kesehatan terhadap total APBD Kota Palangka Raya TA 2021) dengan indikator Out Put (Capaian Kinerja Dinas Kesehatan TA 2021)
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 20 20
Efisiensi =
Out Put
X 100%
Input
Kriteria :
Sangat Efisien = 0 – 60%
Efisien = 60 – 80%
Cukup Efisien = 80 – 90%
Kurang Efisien = 90 – 100%
Tidak Efisien = >100%
Dari rumus tersebut jika outputnya adalah realisasi belanja operasi (diluar Gaji) atau biaya yang dipergunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kota Palangka Raya secara langsung (Rp. 145.778.127.649), dan inputnya adalah anggaran belanja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya (Rp.
268.343.099.132), maka tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran belanja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2021 sebesar 54,3% masuk kategori ”Sangat Efisien”.
7. Analisis Program/Kegiatan Yang Menunjang Keberhasilan Ataupun Kegagalan Pencapaian Pernyataan Kinerja
Beberapa program kesehatan yang menunjang pencapaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya antara lain :
1. Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat merupakan program prioritas, karena di dalam program ini terdapat semua upaya kesehatan yang bersifat promotif, preventiv, kuratif, dan rehabilitatif. Sebagai pelaksana upaya tersebut adalah Puskesmas, RSUD, IFK, dan Labkes_kalibrasi, serta Dinas Kesehatan sebagai penunjang support sistem dari 4 upaya tersebut. Berbagai sub sistem di dalam program ini antara lain :
Pelayanan kesehatan di puskesmas (dalam dan luar gedung)
Pelayanan Rawat Inap di RSUD
Penyediaan Sarana dan prasarana serta Perbekalan Kesehatan
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 21 21
Pelayanan di Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (sebagai support sistem dan penunjang pelayanan kesehatan)
Pengelolaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar dan Perbekalan Kesehatan di Instalasi Farmasi Kesehatan (IFK)
Indikator dari Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat adalah Angka Keluarga Sehat sesuai dengan kategori keluarga sehat di aplikasi PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga), dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).
a. Angka Keluarga sehat pada tahun 2021
Pada tahun 2021, Angka Keluarga Sehat mencapai 27,5%, meningkat drastis jika dibandingkan dengan angka keluarga sehat tahun 2020 (0,275%) dan 2019 (22,5%). Hal tersebut disebabkan antara lain : survey PIS-PK dilaksanakan oleh puskesmas pada triwulan IV/2021 saat kasus Covid-19 melandai. Jumlah keluarga (8.400KK) yang di datangi dan diperiksa oleh petugas puskesmas, dari total keluarga yang harus didata (30.507 KK). Pada masa pandemi Covid-19 banyak keluarga yang menolak petugas kesehatan datang ke rumah-rumah, untuk pemeriksaan dan pengukuran indikator PIS-PK.
b. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) di Kota Palangka Raya.
Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) di Kota Palangka Raya Tahun 2021 adalah 79,24%. Angka tersebut di ambil dari hasil rata-rata Survey Kepuasan Masyarakat (SKM) yang dilaksanakan di 10 Puskesmas pada tahun 2021. Hanya Puskesmas Rakumpit dan RSUD Kota Palangka Raya yang tidak melaksanakan survey kepuasan masyarakat.
2. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan
Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan adalah komponen kunci untuk menggerakkan pembangunan kesehatan. SDM Kesehatan berperan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Isu SDM kesehatan menjadi semakin strategis sejalan dengan berlakunya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dengan tujuan memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak, termasuk dengan penyediaan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk di Indonesia. Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai 1 Januari 2014 membutuhkan ketersediaan SDM kesehatan dalam jumlah, jenis dan mutu yang memadai dan terdistribusi dengan baik. Tantangan di bidang SDM kesehatan yang kompleks
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 22 22 tidak mungkin untuk diatasi oleh Dinas Kesehatan sendiri. Perlu dukungan kerjasama dan koordinasi dari para Pemangku kepentingan baik di tingkat Pusat dan Daerah termasuk swasta dan masyarakat.
Indikator Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah Indeks Peningkatan kapasitas SDM Kesehatan (dihitung berdasarkan indeks Tenaga Kesehatan yang mempunyai Ijin Praktek, indeks Cakupan pengawasan Praktik Nakes, Indeks Cakupan peningkatan kompetensi teknis terhadap SDM Kesehatan, Indeks Persentase SDM Kesehatan untuk UKP dan UKM yang mendapatkan pembinaan dan Pengawasan). Pada Tahun 2021, indeks peningkatan kapasitas SDM Kesehatan mencapai 30,8% dengan target Renstra untuk indeks peningkatan kapasitas SDM Kesehatan Tahun 2021 adalah 41%.
3. Program Sediaan Farmasi, Alkes, dan Makanan Minuman
Program Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan Minuman merupakan salah satu sub sistem dari Sitem Kesehatan Nasional (SKN). SKN merupakan pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia, secara terpadu dan saling mendukung, guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sebagai sebuah sistem, komponen pendukung berjalannya sistem tersebut diidentifikasi dalam bentuk subsistem yang saling terkait dalam pengelolaan kesehatan. Secara khusus, kefarmasian dan alat kesehatan tercakup dalam subsistem Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan.
Sub Sistem sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan, khasiat/kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang beredar; ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial; perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat;
penggunaan obat yang rasional; serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Indikator Program Sediaan Farmasi, Alkes, dan Makanan Minuman adalah Indeks pengawasan terhadap sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan minuman, dihitung berdasarkan :
Indeks Pemberian Izin Apotek, Toko Obat, Toko Alat Kesehatan dan Optikal, Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT),
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 23 23
Indeks Pemberian Sertifikat Produksi untuk Sarana Produksi Alat Kesehatan Kelas 1 tertentu dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kelas 1 tertentu Perusahaan Rumah Tangga
Indeks Penerbitan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga dan Nomor P-IRT sebagai Izin Produksi, untuk Produk Makanan Minuman tertentu yang Dapat Diproduksi oleh Industri Rumah Tangga
Indeks Penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Antara Lain Jasa Boga, Rumah Makan/Restoran dan Depot Air Minum (DAM)
Indeks Penerbitan Stiker Pembinaan pada Makanan Jajanan dan Sentra Makanan Jajanan
Indeks Pemeriksaan dan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Post Market pada Produksi dan Produk Makanan Minuman Industri Rumah Tangga
Pada tahun 2021, Indeks pengawasan terhadap sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan minuman mencapai 37,52%, dengan target pada Renstra 24,65%
4. Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan
Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan menempatkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan. Sebagai OBJEK, masyarakat atau penduduk ditempatkan sebagai SASARAN dari pembangunan Kesehatan. Sementara sebagai SUBJEK, masyarakat atau penduduk ditempatkan sebagai PELAKU dari pembangunan kesehatan.
Menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, berarti mengarahkan pembangunan untuk memenuhi tujuanya yang paling utama yaitu pemberdayaan.
Pada proses pemberdayaan masyarakat pendekatan teori belajar secara konstructivisme perlu ditanamkan dan diupayakan agar masyarakat mampu menkonstruksi pemahaman untuk berubah. Pemberdayaan masyarakat hendaknya tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah melekat di masyarakat selama nilai tersebut baik dan benar. Nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, gotong-royong, kejujuran, kerja keras harus di bangun dan di konstruksikan sendiri oleh masyarakat untuk menciptakan perubahan agar lebih berdaya. Keterkaitan dengan konsep pemberdayaan maka aspek ilmu (knowledge) yang ada di dalam
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 24 24 masyarakat perlu dibangun dengan kuat dan di kontruksikan di dalam masyarakat itu sendiri
Indikator Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan adalah Kelurahan Siaga (Minimal Madya). Pada tahun 2021 terdapat 4 Kelurahan (13,3%) kategori Kelurahan Siaga kategori Madya, dari 30 kelurahan di Kota Palangka Raya. Kelurahan tersebut antara lain Kelurahan Pt. Katimpun, Tumbang Rungan, Pt.Bukit, dan Gaung Baru.
Kelurahan Siaga atau Desa siaga merupakan kelurahandesa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa siaga adalah suatu konsep peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, disertai dengan pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara kesehatannya secara mandiri.
Desa yang dimaksud di sini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Depkes, 2007).
Hasil Capaian Kinerja Program Kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan, secara keseluruhan, tampak pada table 3.6
Tabel 3.6
Hasil Capaian Kinerja Program Kesehatan Tahun 2021
Program Indikator Kinerja Program (Out come)
Target Tahun 2021
Realisasi Tahun 2021
Capaian Kinerja 1. Program Penunjang
Urusan Pemerintah Daerah
1.1. Terpenuhinya Urusan Penunjang Kegiatan Pemerintahan
100% 100% 100%
2. Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
2.1. Indeks Kepuasan Masyarakat 100% 79,24% 79,24%
2.2. Indeks Keluarga Sehat 25% 27,5% 110%
3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan
3.1. Indeks Peningkatan kapasitas SDM Kesehatan
41% 30,8% 75,12%
4. Program Sediaan Farmasi, Alkes, dan Makanan Minuman
4.1. Indeks pengawasan terhadap sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan minuman
24,65% 37,52% 152%
5. Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan
5.1. Kelurahan Siaga (Minimal kategori “Madya”)
10% 13,3% 133%
Rata-rata Capaian Kinerja 108,33%
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 25 25 Pada Tabel 3.6 tersaji Hasil Capaian Kinerja Program Kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan, sudah maksimal dalam memberikan dukungan dan daya ungkit untuk tercapainya Tujuan (Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat) serta tercapainya sasaran (Meningkatnya aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan masyarakat) di Kota Palangka Raya dalam situasi pandemi Covid-19 masih berlangsung
B. REALISASI ANGGARAN
Untuk melengkapi pelaporan kinerja dan untuk keperluan efektivitas dan efisiensi dalam rangka pencapaian Misi RPJMD ke 2 yaitu “Mewujudkan Kerukunan Seluruh Elemen Masyarakat Smart Society (Masyarakat Cerdas) meliputi: pengembangan kesehatan, pendidikan, kepemudaan, layanan publik, kerukunan dan keamanan” pada “tujuan 3 yaitu Mewujudkan Sumberdaya Manusia yang Cerdas, Sehat dan Berdaya Saing”, maka perlu disajikan pembiayaan yang terealisasi dalam rangka mencapai kinerja tahun 2021.
Tabel 3.7
Pagu dan Realisasi Anggaran
Untuk pencapaian Misi 2 Tujuan 3 RPJMD Kota Palangka Raya Tahun 2021
Sasaran Indikator Sasaran Anggaran (Rp.)
Realisasi
(Rp.) %
Meningkatnya Aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan
Cakupan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin
268.343.099.132 235.537.005.507 87,77 Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Bayi
Pada Tahun 2021, realisasi anggaran Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencapai 87,77%. Ada beberapa masalah yang dihadapi Dinas Kesehatan dalam penyerapan anggaran Tahun 2021, antara lain :
Pada awal tahun 2021, Dinas Kesehatan mengalami rasionalisasi anggaran pada beberapa kegiatan untuk re-foccusing pengendalian Covid-19
Adanya lanjutan pandemi Covid-19 di Kota Palangka Raya pada tahun 2021, kegiatan upaya kesehatan masyarakat (kegiatan di luar gedung Puskesmas) yang dibiayai DAK Non-Fisik tidak bisa dilaksanakan secara optimal
Pada APBD-P Kota Palangka Raya Tahun 2021, Dinas Kesehatan mendapatkan alokasi tambahan sebesar Rp. 30.397.924.317 (Tambahan Gaji, Tambahan dari berbagai silpa DAK, silpa JKN, BLUD-RSUD, BOK Tambahan, DID, dll) sehingga tidak cukup waktu untuk melaksanakannya.
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 26 26
Adanya dana khusus untuk penanggulangan Covid-19 dari 8% DAU (Re-Focusing) dan DID sebesar Rp. 50.852.881.317,-, sehingga fokus perhatian para pemegang program cenderung kepada penanggulangan penyakit Covid-19 secara terpadu (Lintas Program)
Ada beberapa kegiatan tidak sempat dilaksanakan karena masih adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2021, dan kasus Covid-19 baru melandai pada triwulan IV Tahun 2021. Beberapa kegiatan juga tidak bisa dilaksanakan karena alokasi anggaran berada pada APBD-P Tahun 2021, keterbatasan waktu pelaksanaan akhirnya tidak bisa terealisasikan 100%. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah:
1. Program Pemenuhan Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat
o Kegiatan Penyediaan Layanan Kesehatan untuk UKM dan UKP Rujukan Tingkat Daerah Kab/Kota.
Pada kegiatan ini terdapat sub kegiatan survey akreditasi puskesmas, dimana pelaksanaannya harus ditunda sesuai surat dari Kementerian Kesehatan RI karena pandemi Covid-19 masih berlangsung. Dana akreditasi puskesmas hanya terserap 34,86%. Selain itu beberapa sub kegiatan yang didanai oleh DAK Non-Fisik 2021, yang seyogyanya dilaksanakan melibatkan masyarakat, tidak bisa dilaksanakan secara optimal karena bertentang dengan protokol Kesehatan (mengundang audiens, dalam raungan, dan jarak pelayanan).
Operasional RSP dialihkan untuk insesntif Nakes, mengingat pada bulan Oktober 2021 tidak ada lagi kegiatan penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Perluasan (RSP). Penanganan pasien Covid-19 difokuskan satu tempat di RSUD Kota Palangka Raya, namun karena jumlah kasus mulai melandai pada bulan September 2021, maka tidak semua layanan bisa dilaksanakan secara optimal
2. Program Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kesehatan o Kegiatan Perencanaan kebutuhan dan Pendayagunaan Sumberdaya manusia
Kesehatan untuk UKP dan UKM Manusia di wilayah Kab/Kota.
Pada kegiatan ini terdapat sub kegiatan pemenuhan SDMK sesuai standart, dengan pemberian insentif bagi Tenaga Kesehatan di puskesmas, RS, dan sarana yankes lainnya, dalam rangka Penanggulangan Covid-19. Besaran
LKIP TAHUN 2019 – BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Halaman 27 27 insentif ditetapkan berdasarkan jumlah kasus Covid-19, karena kasus covid-19 telah melandai mulai bulan September 2021, maka anggaran insentif nakes tidak terserap maksimal
Sumber dana kesehatan di Kota Palangka Raya tahun 2021 selain dari DAU Murni Kota Palangka Raya juga dari APBN Tahun 2021 (DAK Bidang Kesehatan) baik DAK Fisik maupun DAK Non-Fisik Bidang Kesehatan. Anggaran bersumberkan DAU diperuntukkan bagi pembiayaan operasional Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Palangka Raya. Untuk penanggulangan Covid-19, Dinas Kesehatan mendapatkan tambahan anggaran (kebijakan 8% dana re-focussing) sesuai amanat PMK 17 Tahun 2021.
Dana DAK Fisik bidang kesehatan diperuntukkan bagi pengadaaan prasarana kesehatan seperti alat kesehatan, kefarmasian, dan penugasan berupa penurunan stunting serta pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Sedangkan DAK Non-Fisik dipergunakan sebagai Biaya Operasional Kesehatan (BOK), Jaminan Persalinan (Jampersal), dan Akreditasi Puskesmas. BOK diperuntukkan bagi upaya promotif dan preventif pada program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) di puskesmas. Selain itu juga terdapat Dana Kapitasi JKN dan DBH-CHT. Peruntukkan anggaran sesuai dengan juknis dan tidak akan terjadi tumpang tindih (overlapping).
Gambar III.1.
Sumber Dana Belanja Operasi Dinas Kesehatan Di Kota Palangka Raya Tahun 2021