• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Geografis Pasar Bringin A. Profil Desa Bringin

Desa Bringin berada pada ketinggian 14 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan suhu antara 27-300C dan curah hujan 2000 mm/tahun. (http://bringin-semarang.sideka.id/profil/diakses 2 Mei 2021). Desa Bringin terletak di Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Purwodadi, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Purwodadi dan Kecamatan Bancak, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bancak dan Kecamatan Pabelan, di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan

Tuntang dan Kecamatan Pringapus

(https://bringin.semarangkab.go.id/geografis/) serta memiliki luas wilayah kurang lebih 459,049 hektar (Ha) dengan perincian penggunaan sebagai berikut:

Tabel 1. Fungsi Tanah

No Keterangan Luas (ha)

1. Sawah irigasi ½ teknis 78,513

2. Sawah tadah hujan 30

3. Pemukiman 118,290

4. Tegalan/perkebunan 232,246

Desa Bringin terdiri dari 6 (enam) dusun yaitu: Dusun Krajan, Dusun Karanglo, Dusun Klopo, Dusun Bojong, Dusun Senggrong, dan Dusun Kroyo (http://bringin-semarang.sideka.id/profil/diakses 2 Mei 2021). Pasar Bringin terletak di desa Bringin sekaligus sebagai ibukota kecamatan Bringin berada di tepi poros jalan tengah penghubung kota Salatiga, kabupaten Semarang dan kabupaten Grobogan yang menghubungkan langsung ke wilayah Propinsi Jawa Timur melalui jalur tengah yakni wilayah Blora dan Bojonegoro yang bisa tembus ke akses

(2)

jalan Pantura-Pantai Utara Jawa (Lamongan) maupun jalur selatan (Ngawi).

Gb. 1 Letak pasar Bringin yang diambil dari sumber google map

4.2. Kecamatan Bringin

Tabel 2

Jumlah Pasar menurut Jenisnya di Kecamatan Bringin Tahun 2019

Kecamatan

Jenis Pasar Toko

Modern Supermarket

Pasar Tradisional

Pasar Hewan

Pasar Buah

Pasar Sayur

Bringin 3 0 3 1 0 0

Sumber: https://semarangkab.bps.go.id/statictable/2019/11/19/200/jumlah- pasar-menurut-jenisnya-di-kabupaten-semarang-tahun-2018

Dari Tabel 2 di atas pasar Tradisional di Kecamatan Bringin ada 3 yaitu Pasar Bringin berada di desa Bringin, Pasar Kelengkeng di desa Gogodalem dan Pasar Kalimaling di desa Kalimaling. Di desa Bringin adalah pasar yang paling besar di Kecamatan Bringin.

(3)

Tabel 3

Jumlah Penduduk Kecamatan Bringin dan Agama yang Dianut Tahun 2018

Keca- matan

Pemeluk Agama

Islam Kristen Katolik Hindu Budha Khonghuchu Lainnya Jumlah

Bringin 24240 8 9 0 0 0 1 24258

Sumber:https://semarangkab.bps.go.id/statictable/2015/12/01/45/jumlah- penduduk-menurut-kecamatan-dan-agama-yang-dianut-di-kabupaten-

semarang-tahun-2018.html

4.3. Asal Mula Pasar Bringin

Dari keterangan salah satu warga yang bernama Natik asli dari penduduk setempat yang lahir tahun 1941, pasar Bringin dulunya berupa sebuah kebun. Sewaktu kecil dia diberitahu ibunya bahwa lokasi ini digunakan jualan oleh warga di tepi jalan sudah sejak masa zaman Belanda sekitar abad XIX.

Keberadaan Pasar Bringin berkaitan erat dengan keberadaan stasiun kereta api yang berdiri di depannya. Banyak para penumpang yang datang maupun pergi menunggu kereta api. Oleh karena itu warga di sekitar stasiun berinisiatif berjualan apa yang dia hasilkan dari hasil pertaniannya. Pada awalnya warga sekitar stasiun berinisiatif berjualan barang-barang yang mereka miliki seperti hasil pertanian dan berjualan minuman. Barang- barang yang mereka jual laku sehingga banyak warga setempat dan sekitarnya yang ikut-ikutan berjualan. Lama kelamaan banyak orang yang ikut berjualan sehingga menjadi ramai. Kebetulan di samping stasiun ada lahan yang sangat luas akhirnya para pembeli dan penjual berkumpul di tempat itu sehingga melakukan transaksi jual beli.

4.4. Perkembangan Pasar 4.4.1 Kondisi Fisik Pasar

A. Tahun 1945-1957

Menurut Natik, Pada tahun 1945 pasar Bringin sudah berkembang menjadi ramai. Dulunya bangunan pasar masih bongkar pasang seadanya, belum tertata rapi. Pedagang membangun sendiri dari bahan kain di tutup di atas diberi tiang. tiangnya dari kayu (kayu

(4)

dari mahoni dan sengon) atau bambu karena jaman dulu masih langka terpal, kadang hanya menggelar dagangan seadanya di tanah dialasi plastik, kain maupun daun. Lantainya masih tanah sehingga bila hujan turun tanahnya sangat becek.

B. Tahun 1959-1966

Menurut informasi dari Natik, para pedagang membangun atap kios dari bahan kain berganti dengan dinding dari bahan gedek (bahan utamanya dari bambu dibelah-belah menjadi tipis kemudian dianyam) dan atapnya seng. Para pedagang sudah mulai menggunakan lincak (lincak merupakan tempat untuk menggelar dagangan yang terbuat dari bilah bambu yang dirangkai dengan tali atau paku) untuk berjualan. Di bagian barat terdapat tanah untuk orang-orang berjualan tetapi bagian atasnya tidak memakai atap, sehingga kalau panas kepanasan, kalau hujan kehujanan.

Lantainya masih berupa tanah dan batu yang tertata rapi.

C. Tahun 1966-1998

Menurut Natik dan Lurah pasar Bringin pada tahun 1966 kondisi pasar masih sederhana dengan bangunan terbuat dari kayu beratap seng. Ada 8 kios menghadap ke jalan raya dengan kondisi bangunan permanen pasangan bata merah diplester dan diaci halus, pintu masih menggunakan papan dan atap dari seng. Terdapat 14 bangunan kios dengan tiang penyangga dari bahan kayu dan atap seng dengan lantai sudah diplester. Jalan – jalan penghubung (jalan di tengah pasar) masih berupa tanah sehingga saat musim penghujan becek, mengingat bangunan los merupakan bangunan terpisah meskipun dengan jarak yang berdekatan.

Pada waktu itu di bagian tengahnya terdapat aula yang beratap. Di sebelah timur aula dibuat warung kecil-kecil yang saling berdempetan dari bahan papan yang dibangun sendiri oleh pedagang untuk melindungi barang dagangannya agar tidak rusak.

Adapun jenis kayu yang digunakan berupa kayu sengon dan

(5)

mahoni. Bahanya dari tanaman sekitar desa karena dulunya banyak pohon sengon dan maoni. Sampai sekarang masih banyak dijumpai pohon sengon maupun maoni di sekitar desa Bringin. Lantai dasarnya masih berbahan batu yang disusun tidak rapi. Di sebelah barat aula penjual masih menggunakan lincak dan barang dagangan diletakkan di tanah. Ada pula yang beralaskan plastik yang diletakkan di tanah. Pada tahun tersebut barang yang dijual bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga saja namun terdapat pula pasar hewan dan yang dijual adalah hewan kambing.

D. Perkembangan Pada 2000-2008

Menurut Lurah Pasar Bringin kondisi fisik pasar masih sama dengan waktu sebelumnya, namun dari inisiatif para pedagang dan pengelola pasar untuk mengurangi keadaan yang becek dan masuknya air hujan ke dalam los, maka dibuatkan penghubung antara los satu dan los lainnya dengan menggunakan talang air.

Pasar Bringin pada tahun 2000-2008 terdiri dari 8 buah kios dan 14 petak los yang ditempati oleh 123 pedagang berbagai jenis barang dagangan. Di luar los yang berjumlah 14 petak terdapat pedagang yang berdagang di bawah sambungan los (talang) sejumlah 118 orang. Di antara los (tengah pasar) terdapat pedagang sejumlah 28 orang. Di sisi timur pasar terdapat 22 pedagang. Di sisi barat pasar ada 27 pedagang lesehan dan di depan pasar ada 21 pedagang yang secara kumulatif jumlah pedagang kios, los, dan lesehan terdaftar sejumlah 319 pedagang. Pada tahun 2008 terjadi kebakaran di pasar Bringin. Kebakaran terjadi karena konsleting listrik.

E. Tahun 2010 dan 2021

Menurut Lurah Pasar Bringin Pada pembangunan pasar Bringin di tahun 2010, sudah mengadopsi perkembangan jaman dan mengarah ke pasar yang lebih maju dan modern, sehingga

(6)

konsep pembangunan pasar dibuat dalam satu atap. Hal ini ditujukan untuk kedepannya agar pasar lebih bersih, higienis dan untuk menghapus kesan kotor serta becek yang telah lama menjadi stigma untuk pasar tradisional. Dengan konsep pasar satu atap ini tidak ada lagi bangunan terpisah antara los dan kios, sehingga pengunjung dan pedagang akan lebih nyaman beraktivitas meskipun di musim penghujan. Dengan konsep pasar tradisional modern maka kondisi fisik di Pasar Bringin sudah jauh lebih baik, dengan bangunan permanen menggunakan kerangka baja dan atap galvalum (untuk los) dan kios berada di lantai satu dengan bagunan permanen mengggunakan pintu folding get (Folding gate adalah pintu geser lipat yang sistem buka dan tutupnya dengan cara digeser ke samping kiri atau kanan) Untuk lantai dua diatas kios dipergunakan sebagai aula dan kantor pasar Bringin

Pasar Bringin dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementrian Perdagangan Republik Indonesia pada tahun 2010 dan dibangun dalam 2 tahap pembangunan (2 tahun berjalan). Pasar Bringin dibangun secara permanen menjadi lebih bagus dan bangunan tertata rapi serta atapnya terbuat dari bahan gofalum. Pada bagian depan pasar dibuat tingkat. Di bnagian atas berfungsi sebagai kantor untuk pegawai pasar. Tempat-tempat untuk pedagang sudah dibuat secara los, rumah toko (ruko) dan petak-petak sehingga pembeli mudah untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan sesuai dengan yang diinginkan dan lebih efisien.

Pasar Bringin yang baru ini ditempati pada awal 2012 dengan perincian pedagang kios tetap berjumlah 8 buah, pedagang los dan pedagang lesehan digabung menjadi satu untuk dikelompokkan kedalam pedagang los berjumlah 316 pedagang.

Lantai pertama untuk berjualan, lantai dua untuk karyawan pasar berkantor dan tempat untuk pertemuan.

(7)

4.4.2 Alat Transportasi

A. Alat Transportasi Tahun 1945-1958

Menurut Natik. di wilayah Bringin pada Tahun 1945 para pedagang biasanya berangkat dari rumah pukul 05.00 dengan berjalan kaki dan Gerobak yang ditarik oleh 2 ekor sapi. (Gerobak atau pedati adalah kendaraan atau alat yang memiliki dua atau empat roda yang digunakan sebagai sarana transportasi). Pada tahun 1945 hanya ada 1 gerobak saja sebagai alat angkut. Mereka berjalan dengan membawa oncor atau obor dari bambu yang didalamnya diisi minyak tanah. Pada waktu itu belum ada penerangan atau listrik.

B. Alat Transportasi Pada 1959-1968

Menurut Natik, pada tahun 1959, alat transportasi sama dengan tahun 1945 berupa gerobak yang ditarik oleh 2 ekor sapi. Gerobak atau pedati adalah kendaraan atau alat yang memiliki dua atau empat roda yang digunakan sebagai sarana transportasi.

C. Alat Transportasi Pada Pasar Bringin Orde Baru 1969-1992 Menurut Natik, pada tahun 1969 sudah ada bus Esto dan Raharjo di wilayah Bringin. Bus ini mengambil rute Stasiun Bringin sampai Salatiga, tarif kendaraan 1 Rupiah. Pada tahun 1980-1992 terdapat bus 45 milik warga Bringin bernama Warti. Bus ini mengambil trayek jurusan Stasiun Bringin sampai Salatiga Tarif kendaraan untuk sampai pasar Bringin dari kota Salatiga sebesar 1 rupiah dan tahun 1969 - 1992 masih sedikit kendaraan bermotor.

D. Alat Transportasi Pada Pasar Bringin Orde Baru 1993-2000an Menurut Paldwianto, tahun 1993 muncul alat transportasi baru dengan nama bus Konco Narimo dan Sawojajar. Namun pada tahun 2000an kedua bus sudah tidak beroperasi lagi dan diganti dengan mobil mini bus elf (mini bus yang mempunyai kapasitas duduk mulai dari 12 hingga 20 penumpang). Bus Konco Narimo dan Sawojajar tidak beroperasi lagi karena kalah dengan mobil

(8)

angkutan mini bus elf karena mesinnya lebih baru dan pada tahun 1993-2000 semakin banyak kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4.

E. Alat Transportasi Pada Tahun 2000-2021

Menurut Paldwianto, pada tahun 2000-2021 para penjual dan pembeli apabila ke pasar Bringin naik mobil mini bus elf tetapi tidak berhenti ke tempat pasarnya melainkan setelah menurunkan atau memberhentikan penumpang angkutan mobil engkel tersebut langsung pergi. Maksudnya adalah dari arah Kedung Jati sampai Salatiga tidak berhenti di Pasar Bringin lalu kembali lagi namun berhenti di Pasar Bringin untuk mencari penumpang dan jika penuh, lalu lanjut ke Salatiga setelah itu kembali lagi ke Kedung Jati.

4.5 Pedagang dan Pembeli A. Pedagang

Pasar Bringin menjadi salah satu tempat untuk transaksi jual beli, bukan hanya antara pedagang dengan pembeli akan tetapi juga bertemunya pembeli dan pembeli, karena pembeli yang datang ke Pasar Bringin bukan hanya penduduk setempat, melainkan berasal dari beberapa desa yang berbeda dan bahkan dari kecamatan yang berbeda.

Para pedagang di Pasar Bringin sebagian besar berasal dari penduduk Kecamatan Bringin. Menurut Lurah Pasar Bringin, di sini terdapat berbagai jenis pedagang, seperti: pedagang sembako, pedagang bumbon, pedagang pakaian, pedagang peralatan dapur, pedagang makanan matang, pedagang jajanan (makanan kecil), pedagang sayur, pedagang buah-buahan, pedagang hewan, pedagang ikan, dan pedagang daging.

Menurut pedagang Darto dan Hartono, faktor pendorong mereka memilih pekerjaan sebagai pedagang adalah untuk menambah penghasila untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena tidak ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan.

(9)

B. Pembeli.

Menurut pnduduk yang bertempat tinggal di area dekat Pasar Bringin, warga masyarakat memiliki kecenderungan untuk berbelanja di pasar Bringin karena harga barang yang dijual harganya lebih murah.

4.6 Barang yang Diperdagangkan

Menurut Lurah Pasar Bringin, barang yang dijual di pasar Bringin berupa: kebutuhan 9 bahan pokok (beras, minyak, terigu, gula, telur, kedelai, mi instan), daging ayam maupun daging sapi, ikan (ikan air tawar dan ikan laut), berbagai jenis sayuran baik sayuran lokal maupun sayuran hasil pegunungan, pakaian, perabot dapur, makanan siap saji (soto, bubur), jajanan (makanan kecil), empon – empon, bumbon, buah, tahu dan tempe.

Untuk sembako ada distributor yang memasok langsung ke pasar. Demikian juga untuk sayuran yang berasal dari Kopeng, Magelang dan Bandungan ada pedagang dari wilayah Magelang dan Bandungan yang membawa sayuran dari daerah asalnya untuk dijual di pasar Bringin. Untuk sayuran lokal biasanya diambil langsung dari petani sayuran untuk dijual di pasar.

Distributor membawa dagangan ke pasar Bringin menggunakan mobil Pick up. (mobil pick up adalah mobil bak terbuka untuk mengangkut barang dan

orang).

4.7 Fasilitas Pasar

Menurut keterangan dari Lurah Pasar Bringin, sejak awal didirikannya Pasar Bringin belum ada fasilitias yang dibangun. Namun setelah terjadi kebakaran pasar Bringin di tahun 2008, maka pada tahun 2010 pasar telah dilengkapi dengan sarana untuk ibadah berupa satu buah mushola dengan ukuran 5 m x 5 m dan dilengkapi pula dengan kamar mandi sebanyak 4 unit guna mendukung kebersihan serta memudahkan pedagang dan pengunjung untuk kebutuhan buang air besar dan kecil selama beraktivitas di pasar.

Pasar Bringin dibangun atas Prakarsa dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang diusulkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Semaarang untuk dibahas di tingkat Pemerintah

(10)

Daerah Kabupaten Semarang. Dikarenakan keterbatasan dana untuk pembangunan pasar secara keseluruhan, maka oleh Pemerintah Kabupaten Semarang Perencanaan pembangunan Pasar Bringin di usulkan pembiayaannya ke Kementrian Perdagangan Republik Indonesia di Jakarta.

Proses pembangunan dilakukan dalam 2 (dua) tahap dalam artian Pasar Bringin dibangun selaama 2 periode. Yaitu tahap awal berupa bangunan Los di tahun 2010 dan pembangunan Kios beserta sarana dan prasarana pendukung hingga final 100 % di tahun 2011. Jalannnya pembangunan diawasi langsung oleh konsultan Kementrian Perdagangan beserta jajaran Inspektorat Kabupaten Semarang.

4.8 Tempat Parkir

Menurut penjelasan dari Natik, pada tahun 1945-1969 orang yang memakai gerobak sapi memarkirkan kendaraannya di lahan stasiun kereta Api. Pada tahun 1969-1978 orang mulai memarkirkan bus Esto dan Raharjo dengan menunggu penumpang di stasiun kereta api, bahkan terdapat terminal kecil untuk pemberhentian bus yang datang. Menurut keterangan Natik pada tahun 2000-2008 terminal ini tidak ada lagi dan lokasi parkir sepeda montor berada di samping kanan pasar dan tidak ada parkir mobil.

Tahun 2000 Jumlah tukang Parkir 2 orang dengan ongkos parkir 500 rupiah untuk kendaraan roda 2.

Menurut Lurah Pasar, pada awal tahun 2021 lokasi parkir sepeda montor berada di depan dan di samping kanan yang masih bagian dari halaman pasar. Di samping kanan pasar biasanya hanya kendaraan bermotor saja. Di bagian depan untuk parkir kendaraan bermotor. Dan diluar area pasar untuk parkir mobil. Orang yang parkir mobil di area luar pasar hanya 1 atau 2 orang saja karena lokasi parkir masih di pinggiran jalan pasar.

Jumlah tukang parkir di pasar Bringin berjumlah 3 orang. Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Retribusi Tempat Khusus Parkir maka untuk tarif parkir kendaraan roda 2 sebesar Rp. 1.000,- dan kendaraan roda 4 sebesar Rp. 2.000,- Pada bulan Oktober 2021 di luar area pasar dibangun taman kecil untuk melengkapi keindahan pasar bringin.

(11)

4.9 Kuli Panggul atau Buruh angkut

Salah satu penyedia jasa di Pasar Bringin yaitu buruh angkut atau kuli panggul. Buruh angkut atau kuli panggul diperlukan oleh para pedagang untuk mengangkut barang-barang yang tidak bisa mereka kerjakan, karena jumlah barang yang banyak dan berat, barangnya diangkat dengan tenaga orang tersebut. Menurut Natik, tahun 1945-1968, Buruh angkut barang atau kuli panggul sangat dibutuhkan untuk mengangkut barang yang diturunkan

dari stasiun kereta api kemudian dibawa ke pasar atau sebaliknya. Menurut Paldwianto, selain berdagang di area pasar Bringin, sekarang ini pedagang mengangkut barang dagangannya sendiri karena ada sebagian pedagang yang sudah memiliki kendaraan angkutan yang diberhentikan di depan pasar agar lebih mudah seperti berdagang dengan membawa mobil pick up untuk mengantarkan barang ke kampung-kampung supaya barang dagangannya dibeli warga. Saat ini kuli panggul sudah tidak ada. Pada waktu dahulu kuli diteruskan oleh keturunannya atau anaknya. Jasa kuli angkut pada umumnya berasal dari warga sekitar pasar Bringin. Mereka antara lain: Mbah Karyo, Pak Darmo Gandul, dan Pak Tugiman.

4.10 Dampak Keberadaan Pasar Bringin A. Ekonomi

Dari segi perekonomian, keberadaan Pasar Bringin berdampak sangat baik terhadap petani, pedagang maupun masyarakat konsumen. Contoh:

1. Petani di wilayah Bringin dan sekitarnya tidak perlu repot dan jauh – jauh untuk menjual hasil pertaniannya, karena di Pasar Bringin sudah ada tengkulak yang setiap hari mangkal untuk membeli hasil pertanian dari petani baik untuk dijual kembali di Pasar Bringin maupun dijual kembali di daerah lain.

2. Konsumen (masyarakat) tidak kesulitan untuk mencari barang – barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari, tinggal pergi ke pasar apa yang diinginkan semuanya sudah tersedia di pasar.

(12)

B. Sosial

Keberadaan pasar Bringin secara tidak langsung membawa dampak perbaikan untuk kehidupan sosial masyarakat di wilayah Bringin dan sekitarnya. Dari yang semula masyarakat hanya mengandalkan sektor pertanian untuk mata pencaharian kini ditambah lagi sektor perdagangan. Contoh: akhir – akhir ini banyak orang berprofesi sebagai pedagang keliling dengan menggunakan sepeda motor bahkan ada sebagian yang sudah menggunakan mobil bak terbuka untuk berdagang ke pelosok – pelosok desa dan mengambil dagangan dari Pasar Bringin.

Pedagang – pedagang tersebut ada yang semula berprofesi sebagai petani, buruh pabrik dan pekerja bangunan.

C. Budaya

Keberadaan pasar tradisional seperti Pasar Bringin salah satunya masih mengedepankan interaksi dan komunikasi secara langsung dari pedagang dan pembeli. Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan cara bertransaksi di pasar modern (swalayan) dimana pembeli langsung mengambil barang yang diperlukan kemudian langsung dibayar di kasir.

Konsumen akan langsung dapat barang meskipun tanpa ada komunikasi dengan penjual. Lain halnya di pasar tradisional, pembeli dapat berkomunikasi secara interakif dengan penjual, bertegur sapa bahkan pembeli bisa menawar harga barang yang diinginkan. Contoh: Proses tawar menawar harga barang antara penjual dan pembeli masih menjadi budaya yang dipertahankan di pasar tradisional, hal ini untuk tetap menjaga tali silaturrahmi antar sesama manusia. Dari semula tidak saling kenal, karena sering bertemu dan bertransaksi maka bisa menjadi akrab yang selanjutnya bisa juga menjadi saudara meskipun tidak ada ikatan darah diantara mereka.

4.11 Sumber Pendapatan Daerah di Pasar Bringin di masa sekarang

Menurut penjelasan Lurah Pasar, sesudah kebakaran tahun 2008, retribusi (Retribusi merupakan pungutan kepada pedagang atas penggunaan fasilitas pasar dan Kawasan pasar), pedagang pasar ditetapkan berdasarkan

(13)

Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) yang dipungut harian berdasarkan peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomer 8 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum, dengan ketetapan 1 tahun sejumlah 362 hari aktivitas. Di dalam ketentuan pemungutan retribusi kepada pedagang pasar termasuk Pasar Bringin yang masuk kategori pasar harian, aktivitas pedagang dalam satu tahun (365 hari kalender) dipungut retribusi sebanyak 362 hari dengan asumsi libur pasar selama 3 hari dalam setahun yakni 2 hari di Hari Raya Idul Fitri dan 1 hari di Hari Raya Idul Adha. Retribusi dari pedagang dipungut oleh petugas pemungut retribusi untuk dikumpulkan di bendahara pembantu penerimaan dan kemudian disetorkan ke Kas Daerah melalui Bank Jateng cabang Ungaran dengan ketentuan maksimal 1x24 Jam.

Pemungutan retribusi kepada pedagang dilakukan oleh Petugas pemungut ke pedagang secara langsung dan dilakukan setiap hari. Besaran retribusi didasarkan pada luasan dasaran yang digunakan pedagang dengan tarif per M² sebesar Rp. 600,- untuk kategori pasar tipe B atau kelas 2 berdasarkan pada ketetapan Daerah Kabupaten Semarang Nomer 8 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum.

4.12 Denah Pasar Bringin tahun 2010-2021

Menurut sumber dari Kepala Pasar Bringin, denah ruangan Kantor Pasar Bringin sebagai berikut ( lihat Gambar 2)

(14)

Gambar 2. Denah Pasar Bringin

Sumber: Doc Lurah Pasar.

Gambar

Tabel 1. Fungsi Tanah
Gambar 2. Denah Pasar Bringin

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan tentang konversi agama ke Islam pada mualaf Tionghoa di masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Palembang

(5) Ketentuan umum peraturan zonasi meliputi ketentuan umum kegiatan, ketentuan umum sempadan dan intensitas bangunan yang terdapat pada tabel 7.1 ketentuan umum

Hubungan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Peserta Didik Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada 3 sekolah dalam kecamatan Kota

Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan yang menggunakan metode Research and Development (R&D). Penelitian ini menggunakan model pengembangan model

Pada gambar 6 menjelaskan bagaimana user dalam mendapatkan layanan BaDola. User memilih layanan BaDola lalu sistem menampilkan tampilan tempat BaDola dan tempat

POLA PEMANFAATAN RUANG VERTIKAL DAN JELAJAH HARIAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii, LESSON 1827) DI BLOK BARAT HUTAN BATANG TORU,..

Indeks kepuasan nelayan tersebut masih dikatakan cukup karena masih berada di antara puas dan kurang puas, hal itu disebabkan ada beberapa atribut yang memiliki nilai kinerja

(2005) menjelaskan bahwa biosorpsi dan akumulasi zat polutan oleh tumbuhan dapat terjadi melalui tiga proses yaitu biosorpsi logam oleh akar, translokasi zat