141
BAB VI PENUTUP
Peradaban manusia dalam perjalanannya di dunia telah mengalami perkembangan dalam usahanya menemukan cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seiring dengan kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia. Salah satu sistem yang dirasa mampu menjawab permasalahan ini adalah kapitalisme yang dianggap ampuh oleh hampir seluruh masyarakat dunia.
Berkembangnya kapitalisme sebagai sistem ekonomi telah mempengaruhi seluruh dimensi kemasyarakatan dan mengepung hidup manusia di berbagai belahan dunia yang seakan-akan menjadi sistem ekonomi pamungkas untuk mencapai kesejahteraan manusia. Kapitalisme sebagai bagian dari modernisme mengusung logikanya sendiri dan mengarah kepada sistem pasar yang menyerahkan semua kegiatan ekonomi pada mekanisme pasar dan mereduksi segala intervensi lain demi tercapainya keuntungan yang maksimal. Fenomena ini memunculkan agresivitas yang didorong oleh kebebasan manusia untuk mencapai tujuannya dengan mempraktikkan segala hal yang justru merendahkan martabat manusia. Perlakuan dominasi kapitalisme terjadi di segala aspek mulai dari sistem ketenagakerjaan, perlakuan terhadap alam, dan bahkan sistem budaya dalam suatu komunitas.
Bercermin dari situasi di atas, maka perhatian kepada etika dalam kehidupan perekonomian mutlak diperlukan karena kecenderungan kapitalisme yang telah menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar dan membawa dampak negatif yang tidak sedikit. Amartya Sen dalam hal ini berpendapat bahwa kesejahteraan ekonomi dapat diperoleh dengan memberi perhatian yang besar kepada etika dan
bahwa studi etika dapat bermanfaat apabila berelasi pula secara dekat dengan ekonomi.377
Gereja dalam perjalanannya di dunia tidak dapat menutup diri terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya. Gereja ingin mewujudkan dirinya sebagai komunitas yang diutus Allah untuk mewartakan kabar sukacita bagi segenap makhluk sehingga Kerajaan Allah dapat dirintis di dunia sampai pada kesempurnaanya kelak. Iman Kristiani dengan demikian tidak dapat dipisahkan dengan praksis sosial dan mengarahkan umatnya untuk terlibat dalam permasalahan sosial menuju pada kehidupan bersama yang harmonis dan berkeadilan.
Konsep keselamatan umat manusia dalam hal ini tidak lagi hanya bersifat individualistis tetapi dibawa kepada ranah sosial dan bahkan juga sampai kepada tingkat kosmos yang melibatkan seluruh alam semesta. Dunia tidak lagi bersifat negatif yang membelenggu jiwa manusia, tetapi justru di dalam dunia, manusia hendak mencapai kekudusannya. Keselamatan dalam hal ini bersifat integral yang menyangkut aspek jasmani dan rohani. Manusia berupaya agar nilai-nilai Kerajaan Allah dapat terwujud di dunia dan dengan demikian diperlukan segala usaha untuk mengeliminasi segala hal yang menghalangi pencapaian tujuan ini. Perjuangan ini mencakup pembebasan dari dosa yang di dalamnya termasuk dosa sosial yang merendahkan martabat manusia.378
Gereja Katolik dalam posisinya yang berada di luar ilmu ekonomi berusaha memberi arahan kepada para pelaku ekonomi agar kegiatan perekonomian harus
377 Amartya Sen, On Ethics and Economics, (Oxford: Basil Blecwell Ltd, 1990), hal. 89.
378 John Liku-Ada, ‘Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Majemuk: Tinjauan dari Perspektif Ajaran Sosial Gereja’, dalam Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hal. 140.
berjalan sesuai dengan pewahyuan Gereja yang diterima dari Allah.379 Kesadaran ini muncul karena adanya indikasi gejolak masalah-masalah ekonomi dan sosial di masyarakat sehingga perlu diajukan suatu pembaharuan untuk mendapatkan solusi berdasarkan Kitab Suci dan tradisi teologi.380 Gereja sebagai bagian dari umat manusia hendak memberikan andilnya dalam mencapai keselamatan integral dengan menyumbangkan pemikirannya dalam berbagai dokumen-dokumen Gereja yang hendak memperjuangkan pembebasan manusia dari segala penindasan yang menghalangi manusia untuk mencapai kondisi kemanusiaanya yang sejati.
Berhadapan dengan berbagai masalah ekonomi dan sosial, Gereja selalu menekankan martabat manusia sebagai standar utama dan mendasar dalam memandang kesejahteraan. Kesejahteraan tidak hanya dibatasi oleh pertumbuhan dan pencapaian angka-angka indikator keberhasilan ekonomi seperti profit yang menjadi tujuan kapitalisme, tetapi lebih luas sebagai suatu kondisi yang membuat manusia mencapai kesempurnaannya sebagai citra Allah. Pencapaian ini harus bersifat sosial yang mencakup individu dan seluruh umat manusia.
Ajaran Sosial Gereja dengan diterangi oleh Injil berupaya menghadirkan segi etis yang dapat menerangi praktik kehidupan manusia dalam berbagai bidang baik politik maupun ekonomi yang berpengaruh terhadap seluruh kehidupan manusia yang beragam di alam semesta. Meskipun Ajaran Sosial Gereja memberikan panduan praktis mengenai hidup sosial, namun Gereja tidak hendak masuk lebih dalam ke wilayah praktis lokal atau program-program terperinci yang pasti beragam dan memiliki konteksnya masing-masing, serta tidak dapat
379 Jung Mo Sung, ‘Interfaces of Religion and The Economy’, dalam Concillium, Volume 5/2011, (London: SCM Press, 2011), hal 15.
380 Ibid.
diseragamkan. Dengan demikian Gereja tidak menawarkan suatu sistem ekonomi yang berlaku bagi semua komunitas negara. Ajaran Sosial Gereja dalam hal ini hendak memberikan prinsip-prinsip umum yang harus menjadi panduan dalam kegiatan perekonomian sehingga dunia bisnis tidak dapat dilepaskan dari aspek etis dalam mengambil keputusan.
Dalam perkembangannya, Gereja tidak ingin terjebak untuk menjadi sebuah sistem tertutup yang nyaman dengan horison dan pemikirannya sendiri, tetapi mau terbuka kepada perubahan yang terjadi dalam sejarah manusia. Dialog dengan pihak lain dalam hal ini mutlak diperlukan untuk mendapatkan banyak perspektif sehingga didapat prinsip umum yang dapat menjadi tolok ukur dalam kegiatan perekonomian, termasuk dalam masalah ketenagakerjaan maupun lingkungan hidup.
6.1 Peran Transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja dalam Mengendalikan Kapitalisme
Transmodernisme hendak merespon tantangan dunia yang berhadapan dengan realitas keberagaman baik agama, suku maupun budaya. Proyek ini mendorong setiap tradisi untuk melakukan dialog yang mendalam dengan tradisi lain dan menerjemahkan tradisinya sendiri di hadapan tradisi yang lain dalam hubungan yang timbal balik, sehingga semua pihak dapat memperoleh banyak masukan serta dengan rendah hati dapat belajar dari sudut pandang yang berbeda dan yang mungkin tidak dapat ditemukan dalam tradisinya sendiri.381 Dialog ini
381 Bdk. Enrique Dussel, ‘Amerindian, African, and Iberian Heritages in Catholicism’, dalam Concillium 2009/2 (London: SCM Press, 2009), hal. 59.
dibutuhkan oleh semua pihak dalam menghadapi permasalahan sosial terutama mereka yang mengalami penindasan baik dalam bidang agama, politik, gender, termasuk ekonomi dan budaya. Berikut adalah konsep transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja dalam upaya mengendalikan kapitalisme yang akan dijelaskan dalam tiga tema pokok, yakni perlawanan terhadap dominasi pasar, pembebasan dan keselamatan, serta dialog lintas budaya yang simetris.
6.1.1 Melawan Perhambaan dari Dominasi Pasar
Prinsip umum transmodernisme yang ditawarkan oleh Enrique Dussel dalam memandang kapitalisme telah sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja karena keduanya hendak menawarkan suatu tatanan baru tanpa dominasi yang dipraktikkan oleh kapitalisme melalui supremasi pasar yang melampaui segalanya.
Dalam perspektif teologi Amerika Latin disebutkan bahwa dosa utama dalam konsep neo-liberal saat ini adalah pasar yang dipandang sebagai Allah.382 Penyembahan berhala (idolatry) disebut sebagai kejahatan karena manusia menyembah dan memberikan kuasa yang otonom - bahkan mengorbankan manusia - kepada ciptaan buatan tangan manusia. Pasar dalam hal ini diperlakukan sebagai berhala baru yang menuntut pengorbanan manusia yaitu mereka yang miskin.383 Dengan kebebasannya, manusia tergoda untuk menaklukkan orang lain demi ambisinya untuk mengakumulasi kekayaannya dan inilah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10). Ajaran Sosial Gereja dalam hal ini tidak begitu saja menolak sistem pasar, selama sistem ini dapat mempromosikan martabat manusia dan keadilan
382 Nestor O. Miguez, ‘Market and The Bible’, dalam Concillium 2014/4 (London: SCM Press, 2014), hal. 23.
383 Ibid.
sosial, tetapi juga perlu dibatasi apabila sistem ini memberikan kebebasan yang absolut kepada individu sehingga menyangkal kodrat dimensi sosial manusia dan dimensi kebebasan bersama.384 Pasar yang dominan akan bekerja dengan caranya sendiri sehingga dapat membahayakan pekerja, lingkungan dan terutama mereka yang miskin.
Transmodernisme hendak melampaui modernisme yang telah menjiwai kapitalisme dengan pemikiran grandnarative-nya tentang logika pasar sebagai satu- satunya cara untuk memperoleh kesejahteraan. Transmodernisme yang menekankan dialog dengan yang lain harus mendefinisi ulang kapitalisme yang melampaui definisi yang dipaparkan oleh modernisme Eropa. Hal ini sejalan dengan konsep Critical Border thinking385 yang tidak hanya mengarah pada fundamentalisme yang antimodern, tetapi ada usaha untuk menyumbangkan segala pemikiran dari tingkat lokal yang dirasa perlu untuk melengkapi pemikiran modernisme yang cenderung Eropasentris. Transmodernisme di sisi yang lain juga mengeliminasi kecenderungan pemahaman relativisme yang pada akhirnya tidak membawa kepada kemajuan manusia dan akhirnya jatuh pada suasana chaos karena setiap pribadi memiliki caranya sendiri untuk menjalani kehidupannya. Sikap ini menihilkan dan mencurigai setiap kesepakatan atau norma bersama yang dianggap absolut dan akan memberangus kebebasannya. Otoritas pribadi dan sektarian dalam hal ini menjadi sumber kemutlakan dan manusia masuk dalam sikap individualisme yang liar. Di sini, manusia akan terus masuk ke dalam pertikaian karena masing-
384 David Hollenbachm, ‘The Market and Catholic Social Teaching’, hal. 69.
385 Konsep ini adalah tanggapan dekolonial transmodernisme terhadap modernisme Eropasentris yang tidak hendak kembali kepada absolutisme fundamentalisme tetapi meredefinisi pemahaman beberapa aspek dalam modernisme termasuk ekonomi dari sudut pandang lokal yang telah mengalami pendindasan dan eksploitasi kolonialisme.
masing mempertahankan pandangannya. Dialog dan kerja sama yang sinergis mutlak diperlukan karena kesadaran bersama sebagai satu sistem yang saling terkait dan yang akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.
Singkatnya, pasar sejatinya adalah bagian dari hidup manusia sebagai tempat pertukaran, perjumpaan dan perwujudan aktualiasasi manusia. Namun, pasar menjadi keliru ketika ia bersifat dominan dan absolut karena dianggap sebagai hukum universal dan harus bebas dari pengaruh apapun. Akibatnya, siapapun yang hendak melawan dominasi ini akan terpuruk dan tidak akan bertahan. Pandangan semacam ini pada akhirnya akan menciptakan relasi yang tidak simetris dan menciptakan perhambaan mereka yang lemah sehingga membuat manusia menjadi budak. Inilah kejahatan melawan kemanusiaan dan Penciptanya.
6.1.2 Pandangan tentang Pembebasan dan Keselamatan
Transmodernisme adalah proyek pembebasan yang hendak keluar dari totalitas sistem modernisme menuju suatu ‘grandnarative baru’ dalam bentuk alternatif-alternatif lain yang melibatkan mereka yang berada di luar sistem (eksterior). Pembebasan terhadap kapitalisme berarti upaya praktis untuk keluar dari sistem ini menuju suatu bentuk cara baru yang lebih komprehensif dalam mengusung nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran Sosial Gereja dalam hal ini juga mengusung prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh segala aktivitas ekonomi agar keluar dari sistem yang tidak menghormati martabat manusia sehingga menimbulkan permasalahan sosial. Usaha ini mungkin ini tidak akan pernah sempurna dan melalui proses yang lama, tetapi inilah upaya yang dapat dimulai dan dikerjakan oleh manusia untuk mencapai suatu tatanan kehidupan yang lebih baik.
Bagi Dussel, penebusan Kristus dapat dipahami sebagai bentuk karya keselamatan (yang bersifat eskatologi) dan juga pembebasan (liberation).386 Meskipun berbeda, tetapi keduanya memiliki denotasi yang sama.387 Keduanya memperlihatkan gambaran suatu keadaan yang membuat seseorang harus keluar dari suatu situasi tersebut. Hal ini bisa berarti keluar dari sistem yang menindas atau keluar dari kuasa dosa. Salah satu pendasaran biblis tentang pembebasan manusia dalam pandangan Teologi Pembebasan adalah kisah tentang keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Tanah Terjanji melalui padang gurun. Makna pembebasan di sini hanya memperlihatkan suatu perubahan dari situasi perhambaan di Mesir menuju Tanah Terjanji, tanpa memperhatikan proses perjalanan mereka di padang gurun, tempat mereka memperoleh hukum baru yang adalah norma etis bagi mereka. Munculnya hukum ini harus diletakkan di antara dua situasi yang berbeda yaitu Mesir dan Tanah Terjanji (juga dapat diartikan sebagai kapitalisme dan sebuah alternatif sistem yang ideal). Hukum ini berisi aturan hidup ‘baik’ (bersifat etis) yang harus dipraktikkan saat mereka berada dalam perjalanan di padang gurun, yang adalah transisi dari kehidupan mereka yang lama menuju situasi hidup yang baru, yang memang belum terwujud. Pembebasan ini termasuk juga situasi perjalanan transisi umat Israel menuju Tanah Terjanji. Tanah Terjanji di sini dapat pula dilihat secara eskatologis yang melampaui hal-hal yang material, yaitu Kerajaan Allah dan di sinilah makna keselamatan manusia (salvation). Kerajaan Allah mencakup dimensi historis-transendental dan dimensi jasmani-rohani.388
386 Enrique Dussel, Ethics and Community, hal. 240.
387 Ibid.
388 John Liku-Ada, ‘Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Majemuk: Tinjauan dari Perspektif Ajaran Sosial Gereja’, hal. 140.
Nilai-nilai Kerajaan Allah harus diwujudkan oleh manusia dalam peziarahannya di dunia sampai pada kesempurnaannya kelak.
Demikian pula dengan transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja yang terus menerus mengusahakan segala yang diperlukan untuk mencapai situasi dunia yang berkeadilan sosial melalui konsesus bersama sebagai satu keluarga manusia dalam bidang ekonomi. Nota pastoral KWI 2004 menyerukan agar dunia terus berharap untuk mengembangkan pemikiran dan tindakan kreatif serta cara hidup alternatif untuk dunia yang lebih baik389. Usaha ini perlu senantiasa diperbarui karena kesadaran pada ketidaksempurnaanya dan disesuaikan dengan konteks yang ada melalui dialog yang simetris di antara semua pihak sehingga didapat perspektif yang lebih luas dan beragam, serta dapat saling memperkaya.
6.1.3 Dialog Lintas Budaya yang Simeteris
Dussel mencermati munculnya kesadaran yang tinggi dari suatu kelompok dalam memandang kekayaan tradisinya sendiri dan bahkan mulai curiga serta menentang berbagai pengaruh asing, sehingga muncul sikap membentengi diri dari segala pengaruh luar dan menganggap budayanya sendiri sebagai yang mulia dan luhur. Sikap ini dapat mengarah kepada relativisme yang tidak sehat karena setiap kelompok dapat mengklaim kebenarannya sendiri. Sebaliknya, Dussel juga menemukan dominasi budaya asing yang mempengaruhi kehidupan masyarakat lokal termasuk dalam bidang ekonomi yang tampak dari pengaruh sistem kapitalisme yang mulai mengubah pola perilaku masyarakat lokal. Konsep transmodernisme berangkat dari fenomena budaya-budaya non-Eropa yang merasa
389 KWI, Nota Pastoral 2004, 15
inferior di hadapan kebudayaan Barat. Bahkan Kristianitas pun pernah dianggap memaksakan pengaruhnya melalui kolonialisme.390 Transmodernisme hendak mendamaikan dua hal ekstrim itu dalam sebuah proyek bersama yang bukan mengarah pada keseragaman ke dalam satu budaya, tetapi mendorong keragaman budaya untuk masuk ke dalam aktivitas dialog yang saling membangun sehingga dimungkinkan revitalisasi setiap tradisi budaya tanpa kehilangan identitasnya.
Melalui cara ini, semua budaya berada dalam posisi yang sejajar dan merasa percaya diri di hadapan yang lain tanpa takut adanya pengaruh asing, bahkan setiap budaya justru dapat memperdalam dan memperkaya identitasnya. Melalui dialog ini, umat manusia dapat tumbuh dalam kebersamaan yang penuh dengan kedamaian dan keadilan tanpa mengkhianati budayanya sendiri, serta mentransformasikannya berdasarkan kebutuhan zaman.
Bagi Gereja, evangelisasi juga menyangkut jalan dialog.391 Gereja harus hadir dalam usaha pengembangan manusia dan kesejahteraan umum melalui dialog dengan kebudayaan lain yang beragam. Inilah Injil damai sejahtera yang ingin dibagikan kepada dunia melalui perjumpaan dan membangun konsesus bersama dengan pihak-pihak lain yang berkehendak baik. Gereja pun memerlukan suatu pakta bersama sebagai nilai universal untuk membangun dunia yang lebih baik.
Kerja sama dengan semua orang untuk membangun jaringan adalah dinamika hidup bersama dalam masyarakat multikultural dan inilah inti dari makna hidup menggereja dan bermasyarakat.392 Berkat penebusan Kristus, buah-buah karya keselamatan ditawarkan kepada semua orang melalui Gereja di sepanjang zaman,
390 Enrique Dussel, ‘Amerindian, African, and Iberian Heritages in Catholicism’, hal. 58.
391 Evangelii Gaudium, 238.
392 Raymundus Sudhiarsa, ‘Pastoral Budaya: Memaknai Lagi Identitas Gereja Indonesia’, hal. 293.
baik dalam pewartaan Injil maupun dalam pelayanan penuh kasih kepada seluruh keluarga manusia.393
Dialog dalam hal ini menuntut suatu keterbukaan diri terhadap tradisi yang lain. Kristianitas sebagai bagian dari umat manusia juga terbentuk dalam suatu zaman dan budaya tertentu dengan kekhasannya sendiri sesuai dengan konteksnya.
Demikian halnya dengan tradisi budaya dan agama lain yang juga memiliki konteksnya masing-masing dan memiliki horizon yang berbeda dalam memandang kehidupan. Dalam kerendahan hati, semua pihak dapat saling memperkaya pemahaman masing-masing melalui perjumpaan dengan yang lain. Sebut saja pandangan tentang lingkungan hidup yang banyak ditemukan justru bukan di dalam tradisi Kristiani. Yesus dalam Kitab Suci melihat alam ciptaan sebagai obyek dari tindakan Ilahi (Mat 6:30) dan Kitab Kejadian yang menyebut alam sebagai obyek yang harus ditaklukkan oleh manusia. Pandangan ini dianggap terlalu maskulin dan agresif sehingga dianggap tidak menampakkan perhargaan terhadap bumi.394 Hal yang berbeda ditunjukkan oleh tradisi budaya lain (Kappen memberikan contoh pada tradisi India) yang memandang alam bukan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, namun sebagai ibu agung yang adalah rahim dari semua ciptaan dan sumber dari segala kesuburan.395 Dalam hal ini Kristianitas dapat diperkaya melalui perjumpaan dengan yang lain dengan semangat kerendahan hati untuk bersama- sama membangun hidup yang lebih baik bagi semua makhluk. Spirit yang menghidupi Gereja adalah Gereja yang mengajar sekaligus Gereja yang mendengar, Gereja yang mengajar sekaligus Gereja yang belajar. Paus Fransiskus
393 Bdk. Ecclesia in Asia, 17.
394 Sabastian Kappen, ‘Jesus and Transculturation’, dalam R.S. Sugirtharajah (Ed.), Asian Faces of Jesus, (New York: Orbis Books, 1993), hal. 185.
395 Sabastian Kappen, ‘Jesus and Transculturation’, hal 186.
dalam visinya tentang Gereja menyebutkan munculnya bahaya ‘narsisme teologi’
yang akan menjangkiti Gereja apabila Gereja menjauhkan diri dari dunia dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri.396
Demikianlah dialog menjadi saat perjumpaan yang dapat saling membangun karena menghimpun banyak perspektif untuk saling memperkaya.
Dialog yang berbuah haruslah dialog yang multikultural dan yang mengakui adanya simetri di antara budaya-budaya yang ada. Dialog simetri berarti tidak mengakui adanya tradisi yang superior dan inferior. Semuanya berjalan bersama dengan semangat pembaharuan diri yang terus menerus untuk kemanusiaan sehingga dihindarkan segala bentuk pemujaan buta kepada tradisi lokal/partikular yang mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di balik masalah tegangan antara global dan lokal, Gereja senantiasa memperhatikan dimensi global untuk menghindari kepicikan dan kedangkalan, sekaligus perlu melihat yang lokal untuk menjaga agar tetap berpijak di tanah sehingga tidak jatuh ke dalam satu ekstrem tertentu.397
Transmodernisme yang menekankan pada aspek dialogis, berupaya menyusun suatu pemahaman bersama yang akan menjadi rambu-rambu yang dapat diterapkan dalam setiap kebijakan ekonomi yang menjunjung prinsip-prinsip etis dalam melakukan kegiatan ekonomi tanpa adanya praktik dominasi. Panduan ini harus disepakati bersama dan diharapkan muncul suatu strategi-strategi kebijakan ekonomi baru yang menjunjung tinggi martabat manusia sehingga seluruh kegiatan
396 Disampaikan oleh Kardinal Jorge Mario Bergoglio dalam pertemuan kardinal-kardinal sebelum konklaf. Atas permintaan Jaime Kardinal Ortega, teks pidato ini diberikan kepadanya, yang kemudian dipublikasikan di internet diantaranya melalui situs: http://www.katolisitas.org/empat- hal-tentang-visi-gereja-menurut-kardinal-bergoglio/, diakses 29 November 2017.
397 Evangelii Gaudium, 234.
ekonomi berakhir pada pembangunan manusia seutuhnya dan seluruhnya dalam alam semesta. Dialog ini dapat dilakukan pada tahap regional maupun berskala global yang melibatkan sebanyak mungkin pihak dengan semangat kerendahan hati untuk mendengarkan pihak lain dan kesadaran sebagai satu keluarga umat manusia.
Usaha ini perlu diupayakan oleh warga dunia karena potensi bahaya krisis ekonomi dunia berikutnya akan kembali terjadi apabila sistem kapitalisme dibiarkan berjalan tanpa kendali.
Sejalan dengan transmodernisme, Ajaran Sosial Gereja dalam hal ini juga diharapkan melahirkan prinsip-prinsip dasar dan kaidah-kaidah yang bersifat universal sehingga banyak jiwa mengalami pencerahan yang akan mengubah perilaku, gaya hidup, maupun kebiasaan yang menghalangi manusia mencapai kesempurnaannya, baik dalam hal ketenagakerjaan, upah, maupun kelesetarian lingkungan. Gereja sebagai bagian dari seluruh umat manusia, tidak dapat bergerak sendiri tanpa menjalin kerja sama dengan semua pihak dan terbuka bagi semua orang yang berasal dari banyak latar belakang dengan keunikannya masing-masing.
Melalui dialog yang berkesinambungan, Gereja bersama dengan umat yang lain hendak mewujudkan dunia yang diharapkan bersama.
6.2 Implementasi dalam Mengendalikan Kapitalisme
Dalam tataran makro, seturut dengan semangat transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja, negara sebagai pemilik otoritas berhak menentukan arah kebijakan ekonomi dengan tekun dan penuh kesabaran mengamati dengan seksama fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dengan melibatkan orang-orang yang berkompeten di bidangnya, dan selanjutnya menyusun langkah-langkah strategis
sesuai dengan konteks yang terjadi di tingkat lokal. Diperlukan suatu regulasi yang tidak membiarkan pasar mendominasi kegiatan perekonomian dan semuanya menuntut suatu peran lembaga pemerintah yang bersih dan berkomitmen untuk kemajuan bersama serta tidak terpengaruh terhadap tuntutan global yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi lokal. Pemerintah dalam hal ini harus mengerahkan segala daya upaya untuk melindungi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat terutama mereka yang tidak berdaya di hadapan para pemegang modal. Dialog dengan para pekerja dan korporasi harus terus digalakkan sehingga tercapai suatu kerja sama yang sinergis dan saling menguntungkan. Implementasi kebijakan ini juga melibatkan peran kekuatan politik yang menelurkan program-program dan regulasi yang pro-rakyat dan tidak didikte oleh tekanan asing yang berusaha mendominasi seluruh kegiatan ekonomi dengan logika pasar bebasnya. Dalam tataran makro pula, Gereja terus menyuarukan kebijakannya kepada pembuat regulasi melalui komisi-komisi kerja yang ditunjuk dan melakukan sosialisasi dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja di tingkat keuskupan maupun di tingkat yang lebih rendah agar menginspirasi setiap pribadi umat beriman, terutama mereka yang terlibat dalam kegiatan ekonomi baik, dalam pemerintahan maupun swasta.
Seruan ini harus menjadi layaknya api yang terus membakar setiap pribadi untuk tetap setia dalam memperjuangkan keadilan dalam setiap karya dan pelayanannya.
Dalam hubungan antarbangsa, perlu diciptakan suatu atmosfer yang kondusif untuk mempertemukan semua pihak yang berkompeten, baik dari para ahli ekonomi, praktisi usaha, maupun perwakilan dari kelompok masyarakat untuk terus melakukan dialog secara berkesinambungan. Dialog ini diperlukan untuk membicarakan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat sehingga
dihasilkan suatu traktat atau kesepakatan bersama antarbangsa yang mengikat, layaknya suatu deklarasi yang mengatur kegiatan ekonomi global atau regional untuk mencegah terjadinya kehancuran ekonomi yang melanda negara atau wilayah tertentu. Diharapkan melalui konsensus ini, bencana kemanusiaan akibat kemiskinan dan kebangkrutan dapat dihindari. Selanjutnya, lembaga yang ada perlu direvitalisasi jika tidak terlalu memadai dan hal ini membutuhkan kesabaran dan keuletan bersama dalam dialog sehingga lembaga atau traktat ini berdaya guna untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan berkemanusiaan serta ramah lingkungan. Usaha ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga bersifat preventif sehingga bencana yang pernah terjadi di Yunani atau Venezuala pada akhir-akhir ini tidak menyebar dan tidak terulang kembali. Kerja sama dalam bidang ekonomi harus mencakup pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan tidak hanya menguntungkan salah satu pihak sehingga tidak terjadi ketimpangan yang mengarah pada kekerasan. Kesepakatan ini tidak bersifat mendominasi karena didapat dari dialog yang melibatkan banyak pihak. Semua usaha ini hendak mengarahkan setiap negara untuk mengarahkan kegiatan ekonominya pada prinsip umum yang disepakati bersama dan mungkin akan sangat berbeda dalam tataran praktis lokal karena kesadaran pada perbedaan konteks yang ada, seperti halnya negara yang menerapkan sistem kapitalisme dengan nuansa lokal yang unik dan masih bertumbuh dengan baik karena didukung oleh kebijakan pemerintah (politik) yang tidak sepenuhnya diserahkan kepada kepentingan pasar atau fanatisme lokal.
Ajaran Sosial Gereja dalam hal ini juga terus mempromosikan hubungan baik antarbangsa yang didasarkan pada sikap solidaritas antarbangsa sebagai satu
keluarga manusia untuk mencegah masalah-masalah sosial yang mencederai kemanusiaan.
Selain dari kebijakan makro, perusahaan dalam tataran mikroekonomi perlu mengusahakan kegiatan bisnis yang menjunjung nilai-nilai etis demi kelangsungan usaha yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ini yang memang menjadi motif dalam pembebasan manusia dari segala praktik dominasi dari pihak yang kuat. Usaha ini dilakukan melalui dialog simetris yang juga melibatkan mereka yang lemah dan terpinggirkan melalui perserikatan atau bentuk komunikasi lain yang secara berkala mempertemukan pihak perusahaan dan kaum buruh.
Sarana ini mutlak diperlukan sebagai bagian dari satu sistem yang saling membutuhkan demi mencapai tujuan bersama dan kelangsungan usaha. Lembaga ini sangat berperan dalam menyuarakan aspirasi para pekerja yang bukan hanya sebagai biaya produksi, tetapi sebagai mitra usaha yang potensial untuk mencapai kesejahteraan bersama. Bersama sebagai satu keluarga, perusahaan dan para pekerja mengusahakan bisnis yang jujur dan transparan sehingga tidak dijumpai kecurangan-kecurangan seperti praktik penyuapan, penipuan produk atau jasa, pemalsuan data dan informasi serta laporan keuangan, pemberian upah yang tidak sesuai standar, abainya analisis dampak lingkungan maupun praktik-praktik lainnya yang dilakukan korporasi demi perolehan laba yang maksimal dalam persaingan di dunia bisnis yang semakin ketat. Runtuhnya ekonomi suatu negara dapat terjadi karena praktik-praktik seperti ini yang menjadi kebiasaan turun temurun. Akibat negatif akan dirasakan secara lebih luas apabila kasus ini terjadi pada perusahaan bermodal besar yang bermain di kancah global. Untuk itu, nilai-nilai etis selalu
disuarakan oleh Ajaran Sosial Gereja dalam peran kenabiannya dan transmodernisme senantiasa memperjuangkan nilai-nilai ini karena sesuai dengan motif etisnya demi pembebasan manusia. Semua praktik yang tidak etis ini pada akhirnya akan menyengsarakan kaum lemah yang tidak berdaya akibat dominasi mereka yang memiliki modal dan kekuasaan.
Dalam tataran individu, perlu disadari bahwa kemajuan teknologi komunikasi dewasa ini telah memudahkan perjumpaan dengan banyak pribadi lain yang mengusung banyak nilai dan tradisi budaya yang beragam. Perjumpaan ini di satu sisi membawa kita semakin dekat sebagai satu keluarga umat manusia dan di sisi yang lain menawarkan gaya hidup yang sama sekali baru bagi komunitas lokal.
Tidak jarang muncul anggapan bahwa ‘produk’ asing ini lebih bernilai dan membuat identitas lokal mulai terkikis karena merasa inferior di hadapannya sehingga terjadi dominasi yang oleh transmodernisme perlu dieliminasi karena mengandung unsur kejahatan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat.
Serbuan ini termasuk di antaranya adalah sikap konsumerisme dan hedonisme yang dalam tahap tertentu menimbukkan kepanikan dan agresivitas demi memenuhi tuntutan pengakuan ini. Gejala ini semakin dimanfaatkan oleh pihak-pihak dunia usaha untuk mempermainkan hasrat konsumen demi mencapai profit yang sebesar- besarnya.
Terhadap serbuan ini, masyarakat lokal perlu kembali menyadari kelebihan yang ada dalam tradisi mereka yang selama ini mungkin telah dianggap tidak bernilai menurut ukuran standar yang ditawarkan oleh pemikiran dunia Barat.
Penemuan ini selanjutnya perlu dikritisi agar tidak hanya berhenti pada penolakan secara buta terhadap pengaruh asing, tetapi perlu diupayakan sikap kritis
terhadapnya sehingga didapat perkembangan yang kreatif dan sama sekali baru, serta sesuai dengan konteks lokal. Daya kreatif ini hanya muncul jika ada keterbukaan dan kerendahan hati untuk sampai pada dialog yang simetris. Peran media komunikasi juga sangat penting dalam mempromosikan kekayaan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai luhur dengan segala kearifannya, kebenarannya, dan keindahannya. Berhadapan dengan tawaran budaya asing, media juga selektif dalam menampilkan gaya hidup asing yang tidak mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal dan memicu dominasi kultural. Regulasi dalam media komunikasi mutlak diperlukan agar proses ini sepenuhnya tidak diserahkan kepada mekanisme pasar.
Derasnya aliran informasi yang masuk di masyarakat, membuat peran keluarga semakin besar dalam membentengi anggotanya dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang telah tertanam. Pengaruh ini tidak hanya mempermainkan hasrat konsumen (oleh para produsen), tetapi juga memunculkan sikap konsumeristik dan hedonistik serta gaya hidup Western yang dianggap super melampaui yang lain. Hal inilah yang dimanfaatkan para kapitalis untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru dan mengeruk keuntungan lebih banyak lagi. Gereja mengingatkan betapa strategisnya peran keluarga untuk menangkal pengaruh ini. Kesibukan yang dipaksakan oleh geliat perekonomian kapitalisme dengan ciri efektif dan efisiensinya diharapkan tidak mengganggu kualitas kebersamaan di dalam keluarga. Keluarga harus menjadi tempat awal pembelajaran tentang pola hidup sederhana yang mampu mengendalikan hasrat konsumsi.
Prestasi dalam bidang kekayaan dan kekuasaan jangan sampai menjadi dominan dalam pilihan hidup manusia dan menggantikan nilai-nilai kekeluargaan, kekerabatan, gotong-royong dan sebagainya yang mencederai relasi sosial.
Tantangan besar pada abad ini adalah bagaimana semua bangsa sebagai satu keluarga besar mencari suatu sistem nilai yang mendasari ekonomi global sehingga sesuai dengan keluhuran martabat manusia dan keberlangsungan ekologis.
Transmodernisme berusaha keluar dari hegemoni dominasi Barat dan lebih melibatkan banyak pihak untuk bersama-sama menghasilkan suatu sistem yang tidak menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar layaknya mesin untuk menghasilkan uang yang lebih banyak. Transmodernisme yang lebih menitikberatkan pada aspek budaya juga mendukung sikap Ajaran Sosial Gereja yang menyerukan agar kebudayaan manusia hendaknya dijiwai oleh khazanah moral dan spiritual, nilai-nilai yang menyempurnakan harkat dan martabat manusia dan kesejahteraan masyarakat.398
Transmodernisme bersama dengan Ajaran Sosial Gereja mengupayakan agar manusia mampu mempertahankan martabatnya di hadapan fenomena kapitalisme yang dalam perkembangannya akan membahayakan nilai-nilai kemanusiaan apabila tidak diusahakan suatu langkah baru untuk mengendalikan geraknya. Keduanya ingin mengeliminasi praktik dominasi di berbagai bidang dengan mengedepankan dialog yang melibatkan semua pihak termasuk mereka yang lemah dan tak berdaya, serta mereka yang dianggap ‘tidak berbudaya’. Dialog seperti ini akan mengakhiri klaim satu pihak tentang apa yang dianggap lebih baik, lebih benar atau lebih berbudaya. Dialog yang sama ini pula akan mengakhiri sikap fanatisme dan chauvinisme yang bersikukuh dengan kebenarannya sendiri di hadapan keragaman pemikiran dan latar belakang umat manusia. Semuanya dianggap memiliki potensi yang sama untuk berkontribusi dalam menentukan yang
398 Bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, 556.
baik bagi kehidupan bersama. Mungkin ada anggapan bahwa usaha ini sulit dan tidak jarang menimbulkan keputusasaan serta menganggap proyek ini sebagai usaha yang wishful thinking, tetapi suara kenabian harus terus dikumandangkan dan penuh harapan mencapai perubahan yang memang harus diupayakan, sampai pada kesempurnaannya kelak di dalam bumi dan Yerusalem yang baru. Segala usaha yang dilakukan untuk mencegah segala kemungkinan kerusakan, akan tetap lebih baik daripada mengobati segala penderitaan.
Pada akhirnya, tulisan ini hendak menekankan bahwa transmodernisme sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja yang menolak segala bentuk dominasi dalam hal ekonomi maupun budaya yang tampak dalam praktik kapitalisme dengan logikanya sendiri yang melampaui segala nilai. Keduanya tidak serta merta menyingkirkan kontribusi yang diberikan kapitalisme untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi berusaha untuk masuk dalam pemikiran yang terbuka dan menghargai perbedaan sesuai dengan konteksnya masing-masing yang memiliki keunikan dan nilainya sendiri. Dari pandangan ini dapat dikatakan bahwa Ajaran Sosial Gereja kompatibel dengan paradigma Transmodernisme Dussel yang berharap agar tidak ada hegemoni paradigma, terutama supremasi modal dalam kegiatan perekonomian yang cenderung ‘dipaksakan’ secara universal dan berakibat pada permasalahan sosial. Keduanya berusaha agar pandangan lokal yang dianggap tradisional, tidak termajinalkan di hadapan kebenaran yang dianggap universal. Semuanya dilibatkan dalam mencari solusi bersama dengan prinsip-prinsip yang mendasar tentang martabat manusia tanpa mengorbankan identitas dirinya dengan segala kekayaan nilainya. Melalui prinsip-prinsip dan solusi bersama sebagai grandnarrative baru yang terbuka dan dinamis ini diharapkan dunia dapat memasuki babak baru sebagai
keluarga besar yang berkeadilan dan harmonis dengan lingkungannya. Diharapkan kesadaran dan upaya ini menjadi daya preventif yang efektif untuk menangkal bahaya kehancuran ekonomi yang membawa penderitaan bagi manusia dan dunia pun siap menghadapi globalisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Gambaran masyarakat yang diharapkan melalui konsep transmodernisme dan Ajaran Sosial Gereja adalah suatu tatanan sosial yang terbuka pada realitas keberagaman, solider dan toleran terhadap perbedaan, serta situasi tanpa hagemoni yang mengklaim diri sebagai pemegang kebenaran absolut. Semua pihak diundang untuk merespon dan turut bertanggung jawab dengan memberikan kontribusi yang positif bagi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kerangka kerja (‘blueprint’) yang perlu disusun untuk memenuhi harapan ini adalah pembentukan jaringan (network) yang melampaui sentralitas (khas modernisme) dan desentralitas (khas postmodernisme), dan yang melampaui pandangan global (khas modernisme) atau lokal (khas postmodernisme). Dalam hal ekonomi, transmodernisme selalu mencari cara baru yang kreatif sebagai alternatif untuk melampaui sistem ekonomi pasar (khas modernisme) maupun ekonomi tertutup. Pemikiran kreatif terus diupayakan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan melibatkan banyak elemen demi terciptanya suatu tatanan ekonomi yang berkeadilan. Munculnya konsep sharing economy dapat dikatakan sebagai salah satu contoh upaya kreatif untuk memenuhi
tujuan ini. Model bisnis ini melibatkan sikap partisipatif dari banyak pihak dalam kegiatan ekonomi yang diharapkan menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan.399 Bisnis yang menggunakan aplikasi on-demand (seperti taxi online
399 Rhenald Kasali, Sharing Economy, Berbagi Aset dan Keuntungan,
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160329152224-185-120288/sharing-economy- berbagi-aset-dan-keuntungan, 29 Maret 2016, diakses 20 Desember 2017.
dan sebagainya) telah mengikuti model ini dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Upaya kreatif ini terus dikaji sampai sejauh mana telah memberi kontribusi yang positif bagi masyarakat seperti yang diharapkan. Diperlukan dialog yang melibatkan semua unsur sehingga semua pihak dapat saling memberi pandangannya dan dihasilkan suatu regulasi yang memenangkan semua pihak.
Akibat negatif yang mungkin muncul dari konsep ini perlu dipikirkan seperti tertanamnya mental budaya instan di balik efektivitas dan efisiensi atau naiknya angka pengangguran akibat ditutupnya usaha konvensional. Semuanya perlu dipikirkan secara seksama dengan sikap terbuka terhadap pendapat banyak pihak sehingga dihasilkan suatu model yang terus disempurnakan demi kemajuan ekonomi yang berkeadilan.
Sebagai penutup, sistem ekonomi, termasuk kapitalisme pada akhirnya memerlukan sebuah spiritualitas yang menyediakan makna hidup dan nilai-nilai etis, yang senantiasa mempertimbangkan dua aspek yang saling mempengaruhi, baik aspek teknis operasional ekonomi maupun aspek nilai-makna, sehingga dari keduanya tampak hubungan yang mesra antara ekonomi dan iman. Segala bentuk dominasi yang di dalamnya terdapat nilai-nilai duniawi yang narsistik, egoistik dan eksklusif bertentangan nilai-nilai kemanusiaan. Segala nilai yang berupaya merendahkan martabat manusia harus diterangi dengan nilai-nilai Injili yaitu solidaritas, keserderhanaan, ketekunan, kedispilinan, pengendalian diri, pengorbanan, kesabaran dan cinta kasih. Nilai-nilai inilah yang membuat manusia mencapai kesempurnaannya.
Dengan demikian, kapitalisme tidak hendak diberangus seperti halnya pandangan Ajaran Sosial Gereja dan transmodernisme yang tidak serta merta
menolak sistem ini karena dalam beberapa hal sistem ini memberikan dampak positif dalam kegiatan usaha. Keduanya hendak menekankan kesadaran untuk berkata tidak kepada dominasi kapitalisme yang berusaha memaksakan suatu pemikiran totalitas tanpa melibatkan pemikiran-pemikiran partikular yang juga memiliki potensi dalam menciptakan ekonomi yang berkeadilan dan yang menjunjung tinggi martabat manusia. Dialog di antara keduanya mutlak diperlukan agar didapat pemikiran alternatif lain yang mungkin tidak ditemukan dalam sistem kapitalisme dan sekaligus dapat melengkapi atau memperkaya apa yang sudah diterapkan dalam tingkat lokal.
Gereja bersama dengan umat yang lain harus terus berharap meski mungkin sulit dan penuh tantangan. Gereja akan terus memberikan peneguhan perjuangan kepada umatnya untuk mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang semakin baik.
Manusia bersama Allah akan sanggup mewujudkannya. ‘Ia, yang memulai perkerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus’ (Flp 1:6).
165
DAFTAR PUSTAKA
Pustaka Utama
Alcoff, Linda Martin. 2012. ‘Enrique Dussel’s Transmodernisme’, Transmodernity: Journal of Peripheral Cultural Production of the Luso- Hispanic World, Vol. 1 (3), Spring 2012
Dussel, Enrique. 1988. Ethics and Community. Maryknoll, NY: Orbis Books.
__________. 1985. Philosophy of Liberation. Maryknoll, NY: Orbis Books.
__________. 2012. ‘Transmodernity and Interculturality: An Interpretation from the Perspective of Philosophy of Liberation’, Transmodernity: Journal of Peripheral Cultural Production of the Luso-Hispanic World, Vol. 1 (3), Spring 2012.
Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991 dari Rerum Novarum sampai Centesimus Annus. 1999. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
Keraf, A. Sonny. 1996. Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah. Yogyakarta:
Kanisius.
Paus Fransiskus, 2015. Evangelii Gaudium: Sukacita Injil. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
Pustaka Pendukung
Aguilar, Mario I. 2014. Francis, His Life and Thought. Cambridge: The Lutterworth Press.
Alappatt, Francis. 2005. Mahatma Gandhi: Prinsip Hidup, Pemikiran Politik dan Konsep Ekonomi. Bandung: Nusamedia dan Nuansa.
Bagus, Lorens. 1992. ‘Ekologi dalam Konteks Triade Relasi’, Iman & Ilmu:
Refleksi Iman atas Masalah-masalah Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Banawiratma, J.B. 1987. ‘Analisis Sosial dan Pembebasan: Refleksi Teologis’, Kemiskinan dan Pembebasan, Yogyakarta: Kanisius.
__________. 1988. ‘Kata Pengantar’, di Banawiratma, J.B (Ed.), Aspek-aspek Teologi Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
_________. 1996. ‘Iman, Ekonomi dan Ekologi-Menuju Perspektif dan Praksis Baru’, Iman Ekonomi & Ekologi. Yogyakarta: Kanisius.
Banawiratma, J.B & Muller, J. 1999. Contextual Social Theology: An Indonesian Model. East Asian Pastoral Inst.
Barber, Michael. 1998. Ethical Hermeneutics: Rationality in Enrique Dussel’s Philosophy of Liberation. New York: Fordham Univerity Press.
Boileau, David A. 2003. ‘Some Reflections on the Historical Perspectives of Catholic Social Teaching’, Catholic Social Teaching: An Historical Perspective. Milwaukee: Marquette University Press.
Bottomore, Tom & Brym, Robert J. 1989. The Capitalist Class: An International Study. London: Harvester Wheatsheaf.
Capra, Fritjof. 2009. The Hidden Connection: Strategi Sistemik melawan Kapitalisme Baru. Yogyakarta: Jalasutra.
Chang, William. 2010. ‘Mengenal Ajaran Sosial Gereja’, di Kristiyanto, A. Eddy (Ed.), Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.
Cole, Mike. 2008. Marxism and Educational Theoy: Origins and Issues. London:
Routledge.
Daly, Herman E. dan Cobb, John, Jr.. 1989. For The Common Good. Boston:
Beacon Press.
Dussel, Enrique. 1995. The Invention of The Americas: Eclipse of “The Other” and the Myth of Modernity. New York: Continuum.
__________. 2013. Ethics of Liberation in the Age of Globalization and Exclution.
London: Duke University Press.
Fernandez, Stephanus Ozias. 1990. Citra Manusia Budaya Timur dan Barat. Ende:
Nusa Indah.
Fukuyama, Fransis. 2001. Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal.
Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Hansen, Donald A. 1976. An invitation to Critical Sociology. New York: The Free Press.
Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jeanbaudrillard, Yogyakarta: Jalasutra.
Hofstede, Geert dan Hofstede, Geat Jan. 2005. Cultures and Organizations:
Software of The Mind. New York: McGraw-Hill
Jatman, Darmanto. 1996. Perilaku Kelas Menengah Indonesia. Yogyakarta:
Yayasan Bentang Budaya.
Kammer, Charles L. 1988. Ethics and Liberation: An Introduction. Maryknoll, NY:
Orbis Books.
Kappen, Sebastian. 1993. ‘Jesus and Transculturation’, di R.S. Sugirtharajah (Ed.), Asian Faces of Jesus. New York: Orbis Books.
Kennedy, Robert G. 2014. ‘Business and The Common Good’, Catholic Social Teaching and the Market Economy. London: St. Pauls Publishing.
Kiron, David. 1997. ‘Amartya Sen’s Contributions to Understanding Personal Welfere’, Human Well-Being and Economic Goals, Washington: Island Press.
Kristiyanto, Eddy. 2010. Dengan Mata Tajam, Hati Tulus, Budi Cerah Bersikap Kritis untuk Memajukan Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta: Kanisius.
Küng, Hans. 2002. Etika Ekonomi-Politik Global. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Liku-Ada, John. 2010.‘Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Majemuk: Tinjauan dari Perspektif Ajaran Sosial Gereja’, di Kristiyanto, A. Eddy (Ed.), Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.
Lubis, Akhayar Yusuf. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Modern. Jakarta: Pustaka Indonesia Baru.
Mulyanto, Dede. 2010. Kapitalisme: Perspektif Sosio-Historis, Bandung: Ultimus.
Moltmann, Jürgen. 1979. The Future of Creation. London: SCM Press. Ltd.
Novak, Michael. 1993. The Catholic Ethic and the Spirit of Capitalism. New York:
The Free Press.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra.
Prior, John Mansford, Bejana Tanah nan Indah. Ende: Nusa Indah.
Sandu, Antonio. 2016. Social Construction of Reality as Communicative Action, Cambridge: Cambridge Scholars Publishing.
Sedmak, Clemens. 2005. ‘Introduction: Commitments and an ‘Option for the Poor’, Humanities and Option for The Poor. Wien: Lit Verlag.
Sen, Amartya. 1990. On Ethics and Economics. Oxford: Basil Blecwell Ltd.
Singgih, Emanuel Gerrit. 1997. Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja Menyongsong Abad ke-21. Yogyakarta: Kanisius.
Sirico, Robert A.. 2007. ‘Rethinking Welfare, Reviving Charity: A Catholic Alternative’, Catholic Social Teaching and the Market Economy, London:
The Institute of Economic Affairs.
Smith, Michael P. Hornsby. 2006. An Introductory to Catholic Social Thought, Cambridge: Cambridge University Press.
Smith, Adam. 1965. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. New York: The Modern Library.
Sniegocki, John. 2009. Catholic Social Teaching and Economic Globalization: The Quest for Alternatives. Wisconsin: Marquette University Press.
Soetoprawiro, Koerniatmanto. 2003. Bukan Kapitalisme Bukan Sosialisme, Yogyakarta: Kanisius.
Sudhiarsa, Raymundus. 2010. ‘Pastoral Budaya: Memaknai Lagi Identitas Gereja Indonesia’, di Kristiyanto, A. Eddy (Ed.), Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. (Yogyakarta: Kanisius.
Suharyo, Ignatius. 2009. The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita.
Yogyakarta: Kanisius.
Sumartana, Th.. 1994. ‘Ekonomi, Ekologi dan Etika’, dalam Merawat & Berbagi Kehidupan. Yogyakarta: Kanisius.
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
__________, 1987. ‘Keadilan dan Analsis Sosial: Segi-segi Etis’, Kemisikinan dan Pembebasan. Yogyakarta: Kanisius.
Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta:
Jalasutra.
Tawney, R.H. 2015. Max Weber: Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme.
Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea.
Taylor, Charles. 1991. The Malaises of Modernity. Ontario: House of Anansi Press Limited.
Widiyanto, Agus Rahmat. 2000. ‘Etika Lingkungan Hidup dan Pertentangan Politik’, di Sugiharto, I. Bambang dan Widiyanto, Agus Rahmat (Ed.), Wajah Baru Etika dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.
__________. 2000. ‘Kultus Individualitas Modern’, di Sugiharto, I. Bambang dan Widiyanto, Agus Rahmat (Ed.), Wajah Baru Etika & Agama. Yogyakarta:
Kanisius.
Wogamann, J. Philip. 1986. Economics and States: A Christianity Enquiry, London: SCM Press Ltd.
Jurnal
Arifullah, Moh. 2015. ‘Respon Paradigmatik Transmodernisme: Kritis atas Modernitas dan posmodernitas dalam Pembentukan Paradigma Ilmu Islam’, jurnal TAJDID Vol. XIV, No. 2, Juli-Desember 2015
Ateljavic, Irena. 2013. ‘Visions of Transmodernity: A New Renaissance of Our Human History?’, Integral Review Vol.9 no. 2
Bank Indonesia. 2009. ‘Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014: Krisis Finansial Global dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia’, Biro Riset Ekonomi Edisi Januari 2009
Baum, Gregory. 1984. ‘Class Struggle and The Magisterium: A New Note’, Theological Studies 45
__________. 1991. ‘The Originality of Catholic Social Teaching’, Concilium No.
5 – Oktober 1991
Boff, Clodovis. 1981. ‘The Social Teaching of the Church and the Theology of Liberation: Opposing Social Practices?’, Concilium 150 (10) 1981
Chenu, Marie-Dominique. 1980. ‘The Church’s ‘Social Doctrine’, Concilium 140 (10) 1980
Cojucaru, Daniela & Sandu, Antonio. 2011. ‘(Bio)ethical and Social Reconstructions in Transmodernity’, Journal for the Study of Religions and Ideologies, vol. 10, issue 30.
Dussel, Enrique. 1997. ‘The Market from the Ethical Viewpoint of Liberation Theology’, dalam Concilium 1997/2
__________. 1980. ‘One Ethic and Many Moralities?’, Concillium 150 (10) __________. 1980. ‘Analysis of The Final Document of Puebla: The Relationship
between Economics and Chrsitian Ethic’, Concilium 140 (10)
__________. 2006. ‘Globalization, organization and the ethics of liberation’, Organization, 2006 13(4).
__________. 2009. ‘Amerindian, African, and Iberian Heritages in Catholicism’, Concillium 2009/2
Ghisi, Marc Luyckx. 2010. ‘Towards a Transmodern Transformation of our Global Society: European Challenges and Opportunities’, Journal of Future Studies September 2010, No. 15 (1)
Hollenbach, David. 1997. ‘The Market and Catholic Social Teaching’, Concilium:
Outside The Market no Salvation? 1997/2
Klein, Thomas A. dan Laczniak, Gene R. 2009. ‘Applying Catholic Social Teachings to Ethical Issues in Marketing’, Journal of Macromarketing, Vol.
29, No. 3
Machachek, David W. 1999. ‘The Appeal of Soka Gakkai in The United States:
Emergent Transmodernism’, Research in The Social Scientific Study of Religion Volume 10, 1999
Mette, Norbert. 1991. ‘Socialism and Capitalism in Papal Social Teaching’, Concilium No. 5 – Oktober 1991
Miguez, Nestor O. 2014. ‘Market and The Bible’, Concillium 2014/4
Mills, Frederick. 2016. ‘The Development of Human Life in Enrique Dussel’s Politics of Liberation’, Inter-American Journal of Philosophy Vol. 7, Issue 1 Rahim, Hardy L., Abidin, Zainal A., Ping, Selina Dang S., Alias, Mohamed K., dan Muhamad, Azom I. 2014. ‘Globalization and Its Effect on World Poverty and Equality’, Global Journal of Management and Business, Vol. 1(2), PP. 009- 013, July 2014.
Sung, Jung Mo. 2011. ‘Interfaces of Religion and The Economy’, Concillium, Volume 5/2011
Widiyanto, Agus Rahmat. 1996. ‘Schumpeter: Kapitalisme sebagai Proses Penciptaan dan Pemunahan’, Melintas No. 39 - Desember 1996
Dokumen, Kamus, dan Alkitab
Hornby, A.S. 2010. The Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York:
Oxford University Press, Inc.
Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian. 2009. Kompendium Ajaran Sosial Gereja. Maumere: Ledarelo.
Komisi Waligereja Indonesia. 2004. Nota Pastoral 2004.
Lembaga Alkitab Indonesia. 1994. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
National Conference of Catholic Bishops (of United States of America). 1986.
Economic Justice for All: Pastoral Letter on Catholic Social Teaching and The U.S. Economy. Washington D.C.: United States Catholic Conference, inc.
Paus Fransiskus. 2015. Ensiklik Laudato Si: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, Jakarta: Obor.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Bahasa Indonesia.
Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Widianto, Agustinus Rachmat. 1992. ‘Titik Sentuh Ekonomi dan Etika’, dalam Oratio Dies Natalis XXXVIII Universitas Katolik Parahyangan, Januari.
Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.
Internet
Dussel, Enrique, Autobiografi. (http://enriquedussel.com/txt/biografia.pdf diakes tanggal 7 September 2016).
Rhenald Kasali, Sharing Economy, Berbagi Aset dan Keuntungan, (https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160329152224-185-
120288/sharing-economy-berbagi-aset-dan-keuntungan, 29 Maret 2016, diakses 20 Desember 2017)
Offam International, 62 people own the same as half the world, reveals Oxfam Davos report. (https://www.oxfam.org/en/pressroom/pressreleases/2016-01- 18/62-people-own-same-half-world-reveals-oxfam-davos-report diakses 1 September 2016).
Benedict XVI. 2005. Deus Caritas Est. (http://w2.vatican.va/content/benedict- xvi/en/encyclicals/documents/hf_ben-xvi_enc_20051225_deus-caritas- est.html, diakes Oktober 2016).
Bergoglio, Jorge Mario. 2013. Empat hal tentang Visi Gereja menurut Kardinal Bergoglio. (http://www.katolisitas.org/empat-hal-tentang-visi-gereja- menurut-kardinal-bergoglio, diakes 29 November 2017).
Setiawan, Sakina Rakhma Diah. 2016. Ekonomi Jatuh Hampir 90 Persen Warga Venezuela Tak Mampu Beli Bahan Pangan.
(http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/06/21/112300226/ekonomi.ja tuh.hampir.90.persen.warga.venezuela.tak.mampu.beli.bahan.pangan, diakes 6 September 2016)
The Centre on Capitalism and society. Theory of Capitalism.
(http://capitalism.columbia.edu/theory-capitalism, diakses 28 April 2017).