• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sebagai salah satu negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, isu poligami merupakan isu yang banyak menuai pro dan kontra dari berbagai umat muslim Indonesia. Poligami adalah laki-laki yang menikahi banyak wanita lebih dari satu secara bersamaan. Secara etimologis, istilah poligami berasal dari bahasa Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu polu dan gamein. Polu berarti banyak dan gamein berarti berpasangan. Poligami berarti banyak pernikahan. Sistem perkawinan di mana seorang laki-laki memiliki banyak istri sekaligus, pada dasarnya disebut poligami.

Pengertian poligami dalam bahasa Indonesia adalah suatu sistem perkawinan dimana salah satu pihak mempunyai lebih dari satu pasangan lawan jenis dalam waktu yang bersamaan dengan status perkawinan. UU No. 1 Tahun 1974 dan UU No. 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan dan Ketetapan menggunakan istilah “poligami” yang sudah marak di masyarakat. Memiliki lebih dari satu istri dapat dibenarkan selama alasan dan kondisi hukum tertentu terpenuhi. Pernikahan kedua dapat dilakukan dengan izin pasangan pertama dan adanya persetujuan pengadilan agama.

Dilihat dari sudut pandang hukum Islam, poligami boleh dilakukan hingga menikahi empat orang istri. Terdapat ayat yang mengacu pada dilakukannya poligami yaitu Qur’an Surat An-Nisa’ (4): 3 yang bila diartikan kedalam bahasa indonesia yakni “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila mana kamu mengawininnya), maka kawinilah Wanita Wanita (lain) yang kamu senangi;

dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja atau budak budak yang kamu miliki.

Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Dan Qur’an Surat An-Nisa’ (4): 129 yang jika di artikan kedalam bahasa Indonesia yakni, “dan kamu sekali sekali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian,

(2)

2 karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan) maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

Praktik poligami masih terus berjalan meski angkanya fluktuatif dari tahun ke tahun. Berdasarkan statistik Indonesia 2021, angka perceraian cenderung meningkat selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, jumlahnya mencapai 291.677, turun 33,5% dari tahun sebelumnya. Namun, tren ini telah meningkat sejak 2015. Data menunjukkan bahwa banyak faktor akan menyebabkan perceraian di Indonesia pada tahun 2020.

Diantaranya konflik, ekonomi, meninggalkan pasangan secara sepihak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan poligami. Berdasarkan statistik yang dihimpun oleh BPS, poligami ditemukan menjadi faktor kedelapan terbanyak dalam perceraian di Indonesia pada tahun 2020. Persentase itu mencapai 0,3% dari semua penyebab perceraian.

Jika dilihat dari sudut pandang sejarah Islam, Rasulullah SAW pun melakukan poligami. Hanya saja poligami yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dengan masa kini berbeda. Rasullulah SAW berpoligami setelah wafatnya sang istri pertama yaitu Siti Khadijah. Melihat keterpurukan Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya berniat untuk menghibur dengan mendukung Rasulullah SAW untuk menikah lagi.

Kemudian, dinikahilah seorang janda bernama Siti Saudah bin Zam’ah.

Rasulullah SAW pertama kali melakukan poligami dengan Siti Aisyah yang terpaut 6 tahun lebih muda darinya.

Selanjutnya, Rasulullah berpoligami dengan wanita-wanita yang notabene berstatus janda karena ditinggal wafat oleh suaminya. Selain itu, niat Rasulullah SAW melakukan pernikahan lebih dari satu kali tidak hanya semata-mata untuk memuaskan hasrat saja, beliau bahkan menikahi budak- budak dengan tujuan memerdekakan, meringankan penderitaan dan meningkatkan derajat mereka. Beliau pun bersikap sangat adil terhadap ketigabelas istrinya dengan selalu menawarkan bantuan untuk mengerjakan urusan rumah serta berlaku adil.

(3)

3 Sangat disayangkan, praktik poligami saat ini berbanding terbalik dengan zaman Rasulullah SAW. Tak jarang laki-laki melakukan poligami hanya untuk memuaskan nafsu dan hasrat saja, namun tidak dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya. Menurut studi Komnas Perlindungan Anak &

Perempuan, 70% praktik poligami yang dilakukan di Indonesia bermasalah, karena dilakukan secara diam-diam dan tidak berlaku adil, serta melukai keluarga terutama anak dan istri.

“Oleh karena itu, poligami seperti itu bisa menghancurkan pernikahan,” kata Nahe’i. (Annur, 2022)

Dilansir dari laman online Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Prof. Meutia Hatta selaku Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia menyatakan poligami dipandang sebagai mobilitas sosial untuk mengejar kemakmuran, kesuksesan dan hidup yang sejahtera. Padahal perlu sikap yang bijak jika ingin melakukan poligami dalam hal ini dibutuhkan pemikiran, pengetahuan disertai komitmen yang kuat. Tetapi saat ini banyak individu maupun kelompok yang sesat dan kurangnya pemahaman dalam memaknai poligami. Poligami tentunya memiliki efek negatif yang berpengaruh pada keutuhan rumah tangga. Para pelaku poligami melangsungkan poligami seolah-olah bukan hanya karena alasan biologis saja, namun berdalih untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW agar mendapatkan pembenaran atas poligami yang dilakukan. Alasan lainnya adalah jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga masih ada beberapa kelompok yang memanfaatkannya untuk melakukan poligami (Medistara, 2021).

Dilansir dari website resmi pengadilan agama Bojonegoro, yang mengutip dalam harianbhirawa.co.id sepanjang tahun 2021, tercatat 6 laki- laki di Bojonegoro yang mengajukan izin poligami (Admin, 2021).

Dikabarkan pula oleh radarjombang.com bahwa selama 2019-2021, pengadilan agama Jombang menerima laporan ada 4 pengajuan terkait poligami (Mamduh, 2021). Tak hanya itu saja, berdasarkan data dari solopos.com, 7 pria yang dinilai mapan dalam ekonomi juga turut memasukkan surat izin poligami ke pengadilan agama (Suseno, 2021).

(4)

4 Dikutip dari berita nasional.tempo.co, poligami juga dilakukan oleh Wakil Bupati Sumatera Barat, namun dalam putusannya, majelis hakim menolak permohonan poligami tersebut dan membebankan biaya perkara kepada pemohon sebesar Rp. 330.000 (Andryanto, 2021).

Maraknya praktik poligami berujung kepada bisnis untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Saat ini poligami dijadikan kegiatan yang bisa di komersilkan. Orang-orang rela mengikuti seminar-seminar yang tidak murah hanya ingin mendapatkan pencerahan mengenai cara pandang poligami. Hal ini bahkan tergolong sebagai tindakan komodifikasi agama.

Tidak sedikit pula cara ini menjadi alasan lelaki untuk bisa menambah istri.

Menurut Rosyadi dalam (Hasanah, 2010), komoditas sendiri berasal dari kata produk. Ini berarti produk atau layanan yang dapat digunakan sebagai objek bisnis. Barang atau jasa tersebut tidak dinyatakan sebagai barang sebelum ditawarkan kepada konsumen. Penawaran ini berarti menambahkan nilai pada barang atau jasa. Oleh karena itu, komersialisasi merupakan upaya untuk menjual suatu produk atau jasa yang bergeser dari proses produksi ke konsumsi. Singkatnya, komersialisasi adalah proses mengubah nilai pakai menjadi nilai tukar. Agama yang dijadikan komoditas disesuaikan dengan preferensi pasar. Oleh karena itu, komodifikasi agama adalah komersialisasi agama, yaitu konversi kepercayaan dan simbol- simbolnya menjadi komoditas yang dapat ditukar dengan keuntungan.

Komodifikasi agama lahir melalui konsumsi simbol-simbol agama.

Konsumsi lambang agama ini mengandung lima unsur pendukung.

Pertama, konsumsi simbol-simbol agama menciptakan objek-objek religi yang dapat dijual dan dikonsumsi melalui proses social dan didistribusikan di jejaring sosial komunitas. Contoh sederhana adalah penjualan buku-buku agama. Kedua, konsumsi simbol agama menciptakan pertahanan keagamaan di komunitas sosial. Kegiatan atau ritual yang biasanya dijalankan diberikan objektifikasi. Maka dia akan diberikan pembelaan seperti suatu produk. Ketiga, konsumsi simbol-simbol agama menciptakan pertunjukan atau tontonan religi. Keempat, konsumsi simbol-simbol agama dijadikan sebagai tempat mencari keuntungan dan mencari ketenangan

(5)

5 psikologis. Kelima, konsumsi simbol-simbol agama berperan sebagai pengembang layanan yang rasional (Hasanah, 2010)

Pada dasarnya aturan poligami sah-sah saja seperti yang terkandung pada Undang Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, salah satunya terkait Undang Undang Perkawinan juga memerlukan persetujuan istri dari suami yang ingin menikah lagi. Selain itu, ada syarat yang harus dipenuhi suami untuk memenuhi keinginan berpoligami (Kushidayanti, 2018). Kementerian Agama pun mengatakan dalam Islam, poligami diperbolehkan jika mampu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 5 ayat (1) UU Perkawinan, yakni: (1) adanya izin dari istri pertama dan pengadilan agama untuk melakukan poligami, (2) adanya jaminan bahwa suami dapat memberikan kebutuhan sehari-hari bagi istri dan anak-anaknya, (3) adanya jaminan bahwa suami akan memperlakukan istri dan anak-anaknya secara adil. Tetapi tidak harus akhirnya mengajak orang lain untuk ikut berpoligami (Janti, 2019).

Pada November 2021, terdapat sebuah video yang ramai diperbincangkan netizen karena mengangkat isu poligami. Beberapa tahun terakhir ramai materi workshop poligami, seolah menikahi perempuan lebih dari satu bukan lagi menjadi urusan pribadi. Kiai Hafidin, seorang praktisi sekaligus mentor poligami bahkan meyakini bahwa poligami akan terus menguat hingga 2050 karena kejayaan Islam semakin terlihat. Kejayaan Islam yang dimaksud adalah kemenangan Taliban. Kiai Hafidin juga memberi tanggapan mengenai banyaknya orang yang mengikuti mentoring poligami karena libido mereka kuat naik, sementara mau berzina takut.

Video ini disiarkan dalam bentuk liputan features news. Diawal video, reporter Narasi mencoba mendatangi sebuah forum seminar, Kiai Hafidin menjadi pembicara dan pesertanya adalah perempuan-perempuan yang mau belajar lika liku kehidupan berpoligami. Disampaikan pula oleh Kiai mengenai apapun yang diperbuat suami, istri harus happy, istri hanya fokus memberi yang terbaik. Reporter Narasi juga mendatangi rumah Kiai Hafidin yang merupakan lelaki beristri empat yakni seorang mentor poligami.

(6)

6 Konten video ini dikemas dengan baik. Seperti fungsinya media sebagai sarana penyampaian pesan baik berita berupa teks, video, foto, dan berbagai informasi. Namun, menuliskan berita secara seimbang dan netral tidak mungkin dilakukan oleh media. Sebab ada banyak faktor yang berpengaruh seperti pemilik media atau jurnalisnya. Menurut (Sobur, 2004) terdapat berbagai kepentingan di media massa. Selain kepentingan ideologis antara masyarakat dan bangsa, media massa memiliki kepentingan lain seperti kepentingan kapitalisme, kepentingan pemilik modal, dan kepentingan kelanjutan para pegawainya. Sesuai dengan kondisi yang dijelaskan dalam paham Marxisme yang mengatakan bahwa media adalah perpanjangan dari kapitalisme, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kapitalisme adalah mereka yang memiliki modal. Media, khususnya pers, cenderung dimiliki oleh kalangan kelas kaya, yang diharapkan mampu mengelola media untuk kepentingan pribadi (McQuail, 2011).

Media telah menjadi alat bagi para advokat politik yang ingin memperoleh kekuasaan, namun di sisi lain, media dapat menjadi pemegang kendali atas kekuasaan mereka. Saat ini pers dianggap sebagai kekuatan keempat dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik. Penyebab utamanya adalah peran media dalam menyampaikan pendapat dan berita dapat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik (Jiwarka & Subagyo, 2014). Media massa baik berupa teks atau video menyajikan sebuah cerita dengan cara membingkainya dari realitas suatu peristiwa. Hal ini dapat diketahui dari isu-isu yang beritakan, posisi beritanya dan narasumber berita. Ketika media terlibat dalam wacana, mereka telah membuat konstruksi budaya dengan mengumpulkan fakta menjadi produk informasi dalam kerangka tertentu. Konstruksi budaya ini merupakan rangkaian proses pembangunan realitas yang ditangkap, dikemas dan disebarluaskan oleh media melalui politik makna dan bahasa (Eriyanto, 2002).

Menurut paradigma Peter D. Moss dalam (Eriyanto, 2002) wacana media massa adalah budaya yang diciptakan oleh ideologi karena berita sebagai produk media massa menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial, yaitu sebuah paradigma. Melalui narasinya,

(7)

7 berita memberikan definisi spesifik tentang kehidupan manusia: (1) siapa pahlawan dan siapa penjahatnya? (2) apa hal yang baik dan apa hal yang buruk bagi manusia? (3) apa yang cocok dan tidak cocok untuk seorang pemimpin? (4) tindakan apa yang disebut perjuangan (untuk melindungi kebenaran dan keadilan)? (5) bagaimana tindakan pemberontakan atau terorisme? (6) apa topik yang relevan dan tidak relevan? (7) apa alasan yang masuk akal dan tidak masuk akal? (8) solusi seperti apa yang harus diambil dan ditinggalkan?

Framing terjadi pada video yang ramai diperbincangkan yakni

“Menguak Sisi Lain Mentoring Poligami Berbayar” yang di produksi oleh Narasi Newsroom ini memuat framing yang dengan sendirinya membangun opini publik. Video ini diawali dengan penjelasan tentang eksistensi poligami yang semakin nampak di masyarakat. Scene dilanjutkan dengan ilustrasi kelas mentoring poligami dan beberapa poster serta video Youtube yang menunjukkan pembelajaran terkait kiat-kiat sukses berpoligami.

Dalam video yang dipublikasikan di channel Narasi Newsroom pada bulan November 2021, Narasi mengunjungi salah satu mentor yang mengklaim diri sebagai sosok pembimbing poligami dengan sepak terjang sebagai yang diakuinya sukses melakukan poligami dengan istri empat. Kiai Hafidin dan keempat istrinya diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri dan menyatakan pandangan mereka terhadap poligami. Di lain sisi, banyak pandangan dari sudut yang berbeda pula yang muncul dalam video ini.

Peneliti memilih menggunakan media Youtube karena merupakan salah satu media komunikasi yang sedang ramai digunakan. Menurut datareportal.com, pada tahun 2021, pengguna aplikasi Youtube berusia antara 15 dan 64 tahun mencapai 93,8 persen dari seluruh pengguna internet di Indonesia. Dengan persentase tersebut, Youtube menduduki peringkat teratas yang berhasil menyabet media sosial paling sering digunakan selama periode 2021 jumlah ini setara dengan 190 juta orang. Bahkan selama pandemi COVID-19, masyarakat Indonesia mengakses platform Youtube meningkat signifikan yaitu sebesar 68%, jika dibandingkan yang melihat tayangan televisi yang hanya mencapai 59% (Lidwina, 2021). Dilansir dari

(8)

8 media survei online We Are Social yang dikutip oleh portal berita online Tekno Kompas, Youtube adalah platform yang diakses selama 25.9 jam per harinya.

Dengan kemudahan akses fitur yang hanya membutuhkan smartphone dan jaringan internet, Youtube memiliki potensi besar untuk mempengaruhi masyarakat luas, karena kemampuan Youtube menjangkau semua segmen masyarakat sangat mumpuni. Video Youtube juga dapat ditonton dalam berbagai resolusi, diunduh kemudian disimpan ke daftar tontonan sehingga dapat ditonton kapan saja tanpa memerlukan jaringan internet. Terlebih lagi, Youtube bukan lagi sekadar media hiburan, namun para kreator Youtube kerap menggunakan media ini sebagai pengganti berita konvensional di televisi, yang konten beritanya bisa lebih beragam dengan tujuan penyampaian pesan kepada publik mengenai peristiwa dan isu sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat.

Ditambah lagi, terdapat relevansi antara pengakses Youtube dengan segmentasi channel Narasi Newsroom yang menyasar generasi Z.

Diperkuat oleh pernyataan dari Catharina Davy dalam wawancaranya bersama Telum Media yang menyatakan bahwa Narasi menargetkan “young people” usia 15-55 tahun sebagai audiensnya. Mengutip dari TelumMedia.com, Catharina Davy bertutur, “the target is actually young people. The range is quite diverse due to Mata Najwa that is airing on TV and has a fairly wide range from ages 15 to 55 years. Apart from that, the range goes from the age of 18 to 35 years. We chose to target the youth because young people should be the one who move Indonesia towards a better direction, starting from their surrounding environment” (Media, 2021). Hal inilah yang menguatkan ketertarikan peneliti untuk memilih Youtube sebagai media penelitian.

Media Narasi Newsroom sebagai pembuat konten berita episode

“menguak sisi lain mentoring poligami berbayar” juga menuai pro dan kontra yang menarik untuk ditelaah lebih detail. Tidak hanya mendengarkan penjelasan dari Kiai Hafidin dan istri-istrinya saja yang tentu pro terhadap tindak poligami, Narasi Newsroom juga menghadirkan Diyah Puspitarini

(9)

9 selaku Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah dan Siti Aminah Tardi sebagai Komisioner Komnas Perempuan yang mengecam poligami yang tidak sesuai syariat. Hal ini justru akan menjerumuskan generasi muda dengan segmentasi ekonomi menengah kebawah untuk mengikuti jejak Kiai Hafidin, karena beliau sendiri melakukan mentoring berisikan materi bahwa poligami dapat dilakukan walaupun pelaku bukan berasal dari golongan berada. Padahal faktanya, seseorang yang melakukan poligami harus bisa berlaku adil dari segi apapun terhadap istri-istrinya termasuk kewajiban memberi nafkah.

Pendiri Narasi Newsroom terdiri dari para jurnalis veteran yakni Najwa Shihab, Dahlia Citra dan Catharina Davy sejak tahun 2017. Narasi Newsroom konsisten mengupload video sesuai dengan karakteristik medianya yakni menyajikan konten konten yang berkiblat pada idealism dan nilai nilai kritis. Sehingga ketika video isu poligami diangkat maka timbul kegaduhan hingga tiga puluh delapan ribu komentar dikolom Youtube Narasi Newsroom dan juga viral di twitter karena potongan video yang kontroversi mengenai polemik poligami. Bahkan, public figure Prilly Latuconsina turut membubuhkan komentar kontranya terhadap poligami yang kemudian mendapatkan 71.000 likes dan 497 balasan. Terdapat pula penonton yang mengapresiasi cara reporter mewawancarai Kiai Hafidin terkait isu sensitif ini.

Gambar 1.0.1 Komentar dari Prilly Latuconsina dalam Youtube Narasi Newsroom

Sumber: Youtube Narasi Newsroom

(10)

10 Gambar 1.0.2 Komentar dari penonton yang mengapresiasi reporter Narasi

Newsroom

Sumber: Youtube Narasi Newsroom

Peneliti memilih media Narasi Newsroom untuk diangkat dalam penelitian ini karena isi kontennya seringkali selalu merepresentasikan keadaan realitas sosial terkini di Indonesia. Oleh karena itu, konten Narasi Newsroom yang dibahas dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang yang mendalam mengenai Framing salah satu media Indonesia.

Penelitian ini menganalisis bagaimana Narasi mengkonstruksi pemberitaan tentang poligami dengan memakai analisis Framing. Analisis Framing merupakan analisis yang digunakan untuk melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas (Eriyanto, 2002). Peneliti ingin melihat unsur pembingkaian atau Framing yang dimuat dalam isi video Youtube Narasi Newsroom episode “menguak sisi lain mentoring poligami berbayar”. Untuk memfokuskan penelitian, peneliti menggunakan teori analisis Framing Robert N Entmant. Hal ini menitikberatkan pada empat hal analisa, yakni pendefinisian masalah, memperkirakan penyebab masalah, membuat keputusan moral dan menekankan penyelesaian. Melalui penelitian ini, diharapkan peneliti dapat mengetahui bagaimana Narasi Newsroom membingkai pemberitaan tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pembingkaian Poligami dalam Media

(11)

11 Sosial Youtube (Analisis Framing pada Video Narasi Newsroom Episode Menguak Sisi Lain Mentoring Poligami Berbayar)”.

1.2 Rumusan Masalah

Menurut latar belakang berikut, ditemukan rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian ini ialah bagaimana pembingkaian poligami dalam Youtube Narasi Newsroom episode “Menguak Sisi Lain Mentoring Poligami Berbayar” dengan analisis framing Robert N Entmant?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang peneliti capai adalah menggunakan analisis Framing Robert N Entman untuk memahami pembingkaian media pada Youtube channel Narasi Newsroom episode “menguak sisi lain mentoring poligami berbayar”.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini memberikan informasi, data dan wawasan serta diharapkan dapat bermanfaat dalam kajian Ilmu Komunikasi khususnya dalam kajian komunikasi nonverbal. Penelitian ini juga akan menjadi bahan referensi untuk mendukung penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi yang melakukan penelitian dengan menggunakan analisis framing dan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi di masa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

Manfaat penelitian ini bagi masyarakat adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pembingkaian media pada berita yang diharapkan untuk lebih kritis dalam melihat suatu berita dengan cover bothside.

Referensi

Dokumen terkait

Seperti kasus di Kampung Krajan, dimana telah banyak ditemukan perilaku negatif anak (perilaku kurang sopan), sehingga hadirnya peneliti yang terlibat aktif dengan subyek

13) Dari kalangan yang berkecukupan. 14) Arus kunjungan sangat terbatas (langka). 15) Cepat beradaptasi dengan masyarakat setempat. 16) Gaya hidup yang ditanamkan

Dari observasi lanjutan didapat bahwa pelaksanaan pembelajaran pada anak usia dini dilakukan secara Rombel (Rombongan Belajar), dimana kadang kala digabung antara anak

Mendukung pernyataan tersebut, Hornik & Yanovitzky (2003) dan Slater (2014) menyatakan a bahwa agar a program kampanye social a marketing dapat secara efektif memengaruhi

Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,001, maka dapat disimpulkan ada pengaruh konsumsi rebusan jantung pisang terhadap ekskresi ASI pada ibu menyusui di Desa

Pada alat-alat seperti pemanas listrik, kompor, pemanggang, lampu listrik, energi listrik diubah menjadi energi panas atau cahaya karena arus biasanya agak besar,

§ Saran saya coba dulu pindahkan satu image ke subdomain, dan bila berhasil baru pindahkan semua image yang ada di dalam direktori http://example.com/wp-content/uploads ke

Berdasarkan hasil penelitian tentang Gambaran Angka Missing dari DMF- T pada Remaja Usia 18 Tahun di SMA Muhammadiyah Martapura Kabupaten Banjar maka diperoleh angka