TINJAUAN EKONOMI MAKRO
D e s e m b e r 2 0 2 1
Ikhtisar Ekonomi Makro Indonesia
Disclaimer: Sudut pandang dan / atau hasil analisis dalam penelitian ini merupakan ikhtisar dari kondisi yang umum. Hasil analisis dari penelitian ini tidak dapat dijadikan semata-mata sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan tidak mewajibkan untuk menggunakan penelitian ini sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
T E M
EKONOMI
MAKRO
EXECUTIVE SUMMARY
❑ IMF: Pertumbuhan global tahun 2022 diperkirakan akan melambat menjadi 4,4%, atau lebih rendah 0,5%
dari perkiraan pada Oktober 2021.
❑ Secara point-to-point, pergerakan harga emas di bulan Desember menguat sebesar 0,07%.
❑ Secara point-to-point, pergerakan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) di bulan Desember menguat sebesar 13,64%.
❑ Tingkat inflasi tahunan di AS meningkat menjadi 7% pada bulan Desember lebih tinggi dibandingkan dengan 6,8% pada bulan November.
❑ Tingkat pengangguran AS turun menjadi 3,9% pada bulan Desember 2021 setelah sebelumnya 4,2% pada bulan November 2021 dan di bawah ekspektasi pasar 4,1%.
❑ Pada bulan Desember 2021, pasar saham global mayoritas bergerak menguat dipicu optimisme pemulihan ekonomi global.
❑ Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Januari 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.
❑ Pada Bulan Desember 2021 terjadi inflasi sebesar 0,57% (m-t-m) atau 1,87% (y-o-y).
❑ Pada bulan Desember 2021, mata uang Dolar AS (USD) bergerak mixed terhadap mayoritas mata uang dunia, adapun Rupiah mengalami apresiasi terhadap USD sebesar 0,28%. Mata uang Rupiah ditutup di level Rp14.280,00 per USD pada 31 Desember 2021 dari sebelumnya Rp14.320,00 per USD pada 30 November 2021.
❑ Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2021 mengalami surplus sebesar USD1,02 miliar. Dimana pada bulan November 2021 juga neraca dagang surplus sebesar USD3,52 miliar.
❑ Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2021 sebesar 144,9 miliar dolar AS, menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 sebesar 145,9 miliar dolar AS.
❑ Sepanjang bulan Desember 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 0,73% yaitu naik ke level 6.581,48 pada akhir Desember 2021.
❑ Pada perdagangan bulan Desember, pasar obligasi mencatatkan positive return.
Analis: Eko Surya Lesmana
E-mail: [email protected]
Sumber: investing.com, diolah
A. IMF : Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Optimisme ditengah ketidakpastian kondisi pasar seiring peningkatan kasus Covid-19, terlebih dengan munculnya varian Omicron, inflasi, pelepasan cadangan strategis dan berlanjutnya peningkatan produksi OPEC+ serta penguatan nilai tukar Dollar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya yang menyebabkan turunnya minat investor terhadap barang-barang komoditas hingga level terendah dalam beberapa tahun dan mendorong aksi profit taking di saat harga masih tinggi tidak menghentikan penguatan harga komoditas minyak. Berbeda dengan emas yang penguatannya masih tertahan oleh tingginya imbal hasil Treasury menumpulkan daya tarik komoditas yang tidak menghasilkan ini.
Harga komoditas emas menguat tipis dengan harga tertinggi di bulan Desember di level USD1,828.60 per troy ounce pada 31 Desember 2021 dan harga terendah berada di level USD1,762.70 per troy ounce pada 2 Desember 2021. Secara point- to-point, pergerakan harga emas di bulan Desember menguat sebesar 0,07%.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat dengan harga tertinggi di bulan Desember di level USD76,99 per barel pada 30 Desember 2021 dan harga terendah berada di level USD65,57 per barel pada 1 Desember 2021. Secara point-to-point, pergerakan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) di bulan Desember menguat sebesar 13,64%.
B. Harga Emas dan Minyak
Sumber: World Economic Outlook, Januari 2022
IKHTISAR EKONOMI GLOBAL
1
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Pertumbuhan global diperkirakan sebesar 5,9% persen pada tahun 2021 dan diperkirakan akan melambat menjadi 4,4% pada tahun 2022, atau lebih rendah 0,5% dari perkiraan pada Oktober 2021 lalu sebagai efek antisipasi pembatasan mobilitas, penutupan perbatasan, dan dampak kesehatan dari penyebaran varian Omicron.
Selain karena varian Omicron, penurunan perkiraan pertumbuhan ekonomi ini juga didorong oleh peningkatan harga komoditas dan disrupsi rantai pasok yang menyebabkan peningkatan inflasi.
Ada juga masalah di negara yang memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi global, seperti China. Masalah yang dihadapi China saat ini ada di sektor properti dan konsumsi rumah tangga yang tidak tumbuh seperti perkiraan.
Pada pertemuan komite pasar terbuka federal (FOMC) Rabu (26/1), Fed mengeluarkan sinyal kuat untuk menaikkan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi pada Maret 2022. Penarikan akomodasi moneter lebih awal, dan gangguan rantai pasokan yang berkelanjutan telah berkontribusi pada penurunan peringkat sebesar 1,2 poin persentase untuk Amerika Serikat.
Pembatasan mobilitas yang diberlakukan menjelang akhir 2021 diperkirakan akan menyeret pertumbuhan di kawasan euro pada awal 2022. Di Inggris Raya, gangguan yang terkait dengan Omicron dan kendala pasokan (terutama di pasar tenaga kerja dan energi) berarti bahwa pertumbuhan direvisi turun sebesar 0,3 persentase poin menjadi 4,7%.
5.9%
5.0%
6.5%
04% 04%
05%
04%
03%
05%
00%
01%
02%
03%
04%
05%
06%
07%
Global Economy Advanced Economies Emerging Market &
Developing Economies
Growth Projection
2021 2022 2023 5.9%
4.4%
3.8%
00%
01%
02%
03%
04%
05%
06%
07%
2021 2022 2023
World Growth Projection
65.5766.26
72.36
71.29 70.87
68.23 71.12
72.7673.79
75.9876.99 75.21
60 62 64 66 68 70 72 74 76 78
Dec-21 Dec-21 Dec-21 Dec-21 Dec-21 Dec-21 Dec-21 Dec-21
Crude Oil WTI
1,784.30
1,779.501,785.50 1,788.30
1,798.201,804.90 1,811.70
1,805.801,814.10 1,828.60
1,740.00 1,760.00 1,780.00 1,800.00 1,820.00 1,840.00 1,860.00 1,880.00 1,900.00
December-21 December-21 December-21 December-21 December-21 December-21 December-21
Harga Emas (COMEX)
C. Indikator Ekonomi AS
Sumber: tradingeconomics
C.1. Tingkat Inflasi AS
C. 2. Tingkat Pengangguran AS
Sumber: tradingeconomicsD. Pergerakan indeks saham global
Sumber: bloomberg
Penanganan pandemi covid-19 yang mulai membaik dan pembukaan kembali ekonomi di berbagai negara dan regional, memberikan optimisme pemulihan ekonomi. Hal tersebut terlihat dengan penguatan ekonomi AS memberikan dukungan bagi bursa saham Wall Street, yang juga berpengaruh memberikan penguatan bursa saham global.
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 5,38%
yaitu dari sebelumnya 34.484,18 pada akhir November 2021 menjadi 36.338,30 pada akhir Desember 2021. Indeks S&P500 bergerak menguat sebesar 4,36% dari sebelumnya 4.567,00 pada akhir November 2021 menjadi 4.766,18 pada akhir Desember 2021.
Indeks Nasdaq 100 menguat sebesar 1,14% yaitu dari sebelumnya 16.135,92 pada akhir November 2021 menjadi 16.320,08 pada akhir Desember 2021. Indeks DAX bergerak menguat 5,20% dari sebelumnya 15.100,13 pada akhir November 2021 menjadi 15.884,86 pada akhir Desember 2021. Indeks FTSE100 di Inggris yang bergerak menguat 4,61% dari sebelumnya 7.059,45 pada akhir November 2021 menjadi 7.384,54 pada akhir Desember 2021.
Indeks Nikkei 225 yang menguat sebesar 3,49% dari sebelumnya 27.821,76 pada akhir November 2021 menjadi 28.791,71 pada akhir Desember 2021. Berbeda dengan Indeks Hang Seng di bursa saham Hong Kong melemah sebesar 0,33% dari sebelumnya 23.475,26 pada akhir November 2021 menjadi 23.397,71 pada akhir
Tingkat pengangguran AS turun menjadi 3,9%, terendah sejak Februari 2020, menunjukkan pemulihan berkelanjutan di pasar kerja dibantu oleh pemulihan ekonomi yang cepat dan permintaan tenaga kerja yang kuat. Angka tersebut masih sedikit di atas tingkat sebelum krisis di tengah laporan kekurangan tenaga kerja yang parah, tetapi akan menurun lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang karena perusahaan mengisi lowongan yang tersebar luas. Jumlah pengangguran berkurang 483.000 menjadi 6,3 juta.
Catatan: Tingkat pengangguran tertinggi sepanjang masa di AS adalah 14,7% pada bulan April 2020. Sebelumnya tingkat Pengangguran di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi di angka 10,80% pada bulan November 1982 dan rekor terendah 2,50% pada bulan Mei 1953.
30-Nov-21 30-Dec-21 Change Change(%)
S&P 500 4,567.00 4,766.18 199.18 4.36%
Nasdaq 100 16,135.92 16,320.08 184.16 1.14%
Dow 30 34,484.18 36,338.30 1,854.12 5.38%
FTSE100 7,059.45 7,384.54 325.09 4.61%
DAX 15,100.13 15,884.86 784.73 5.20%
Hang Seng 23,475.26 23,397.67 -77.59 -0.33%
Nikkei 225 27,821.76 28,791.71 969.95 3.49%
Tingkat inflasi tahunan di AS meningkat menjadi 7%
pada bulan Desember tahun 2021, level tertinggi baru sejak Juni 1982, sejalan dengan ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan dengan 6,8% pada bulan November.
Inflasi melonjak pada tahun 2021 karena kendala pasokan yang disebabkan oleh pandemi, melonjaknya biaya energi, kekurangan tenaga kerja, meningkatnya permintaan dan efek dasar yang rendah mulai tahun 2020. Tekanan inflasi kemungkinan akan bertahan hingga pertengahan tahun 2022 dan Ketua Fed Powell baru-baru ini berjanji untuk melakukan apa yang diperlukan untuk menahan lonjakan inflasi termasuk menaikkan suku bunga
1.40% 1.40%1.70%
2.60%
4.20%
5.00%
5.40%
5.40% 5.30% 5.40%
6.20%
6.80% 7.00%
0.00%
1.00%
2.00%
3.00%
4.00%
5.00%
6.00%
7.00%
8.00%
Dec-20 Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21
CPI Inflation
6.70%
6.30% 6.20%
6.00%
6.10%
5.80% 5.90%
5.40%
5.20%
4.80%
4.60%
4.20%
3.90%
3.00%
3.50%
4.00%
4.50%
5.00%
5.50%
6.00%
6.50%
7.00%
US Jobless Rate
34,021.61 34,579.55
35,754.09
35,545.69 35,896.32
35,366.56 35,493.10 35,950.63
36,398.67 36,338.30
32,500 33,000 33,500 34,000 34,500 35,000 35,500 36,000 36,500 37,000
1-Dec-21 6-Dec-21 11-Dec-21 16-Dec-21 21-Dec-21 26-Dec-21 31-Dec-21
Dow Jones Industrial Average
A. Suku Bunga
Sumber: Bank Indonesia, update: 28 Januari 2022
Sumber: Badan Pusat Statistik
B. Inflasi Bulan Desember Tercatat Sebesar 0,57% (m-t-m) atau 1,87% (y-o-y)
Pada Bulan Desember 2021 terjadi inflasi sebesar 0,57% (m-t-m) atau 1,87% (y-o-y). Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,61%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,22%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,10%;
kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,24%; kelompok kesehatan sebesar 0,16%; kelompok transportasi sebesar 0,62%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,10%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,24%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,25%.
Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks,yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,10%. Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2021 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2021 terhadap Desember 2020) sebesar 1,87%.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Januari 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan serta upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Menegaskan pernyataan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021 tanggal 24 November 2021, bauran kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2022 diarahkan untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. Dalam hal ini, kebijakan moneter tahun 2022 akan lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta ekonomi-keuangan inklusif dan hijau, tetap untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Oct Nov Des
2019 2.82% 2.57% 2.48% 2.83% 3.32% 3.28% 3.32% 3.49% 3.39% 3.13% 3.00% 2.72%
2020 2.68% 2.98% 2.96% 2.67% 2.19% 1.96% 1.54% 1.32% 1.42% 1.44% 1,59% 1.68%
2021 1.55% 1.38% 1.37% 1.42% 1.68% 1.33% 1.52% 1.59% 1.60% 1.66% 1.75% 1,87%
Arah bauran kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2022 tersebut sebagaimana berikut: 1. Kebijakan moneter tahun 2022 akan lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus untuk memitigasi dampak rentetan global dari normalisasi kebijakan di negara maju, khususnya Bank Sentral AS (The Fed); 2. Memperkuat kebijakan makroprudensial akomodatif tahun 2022 untuk meningkatkan kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usahaguna mendukung pemulihan ekonomi nasional dengan tetap turut menjaga stabilitas sistem keuangan; 3. Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong pemulihan ekonomi khususnya dari sisi konsumsi Rumah Tangga serta percepatan ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien; 4. Akselerasi pendalaman pasar valas terhadap Rupiah dalam rangka mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah, serta perluasan instrumen lindung nilai (hedging), dan fasilitasi perdagangan-investasi antarnegara; 5. Memperkuat kebijakan ekonomi-keuangan inklusif dan hijau terutama dari sisi dunia usaha (permintaan kredit) 6. Memperkuat kebijakan internasional dengan memperluas kerja sama dengan bank sentral dan lembaga internasional lain, fasilitasi perdagangan dan Investasi (Sumber: Bank Indonesia).
EKONOMI MAKRO INDONESIA: BANK INDONESIA MEMPERTAHANKAN SUKU BUNGA BI 7-DAY REVERSE REPO RATE DI LEVEL 3,50%
3
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)
1.68%
1.55%
1.38% 1.37%
1.42%
1.68%
1.33%
1.52%
1.59% 1.60%
1.66%
1.75%
1.87%
1.20%
1.30%
1.40%
1.50%
1.60%
1.70%
1.80%
1.90%
2.00%
Dec-20 Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21
Inflasi Indonesia (year on year)
3.50
3.27 3.30 3.34 3.35 3.39
3.5
3.02 3.03 3.05
3.22 3.27 3.32
3.75 3.76 3.77 3.79 3.80
4.20
3.85
2.50 2.70 2.90 3.10 3.30 3.50 3.70 3.90 4.10 4.30
1 2 3 4 5 6 7
Term Structure Bank Indonesia
Term Structure 31 Mei 2021
Term Structure 01 Oktober 2021
Term Structure 28 Januari 2022
C. Mata uang USD bergerak mixed terhadap mayoritas mata uang dunia
Sumber: investing.com, disesuaikan dengan USD sebagai reference currency Sumber: investing.com
D. Neraca Perdagangan Indonesia
Sumber: Badan Pusat Statistik (dalam juta USD)
Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.Ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap terjaga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang berlanjut. Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar (www.bi.go.id).
Pada bulan Desember 2021, mata uang Dolar AS (USD) bergerak mixed terhadap mayoritas mata uang dunia, adapun Rupiah mengalami apresiasi terhadap USD sebesar 0,28%. Mata uang Rupiah ditutup di level Rp14.280,00 per USD pada 31 Desember 2021 dari sebelumnya Rp14.320,00 per USD pada 30 November 2021. Namun secara rerata mata uang Rupiah mengalami depresiasi dari sebelumnya di Rp14,263.07 pada bulan November 2021 menjadi Rp14,319.89 pada bulan Desember 2021. Sentimen global yang positif terhadap perbaikan ekonomi AS dan optimisme pemulihan ekonomi global pada 2011 mendorong pergerakan rupiah relatif menguat. Penguatan rupiah didorong oleh aliran masuk dana asing untuk pembelian aset keuangan domestik terkait dengan optimisme pemulihan ekonomi global yang mendorong peningkatan minat investor.
Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2021 mengalami surplus sebesar USD1,02 miliar. Dimana pada bulan November 2021 juga neraca dagang surplus sebesar USD3,52 miliar. Ekspor non- migas Indonesia mengalami penurunan sebesar 1,06%
yaitu dari sebelumnya USD21,51 miliar pada November 2021 menjadi USD21,28 miliar pada Desember 2021. Berbeda dengan impor yang non- Migas yang mengalami peningkatan sebesar 10,29%
yaitu dari sebelumnya USD16,30 miliar pada November 2021 menjadi USD17,98 miliar pada Desember 2021.
Ekspor migas Indonesia mengalami penurunan sebesar 17,94% yaitu dari sebelumnya USD1,33 miliar pada November 2021 menjadi USD1,09 miliar pada Desember 2021. Berbeda dengan impor migas yang mengalami peningkatan sebesar 11,66%
yaitu dari sebelumnya USD3,02 miliar pada November
Komponen Nov-21 Des-21 Selisih %
Ekspor Non Migas 21,512.40 21,284.40 (228.00) -1.06%
Ekspor Migas 1,332.40 1,093.40 (239.00) -17.94%
Impor Non Migas 16,303.20 17,980.80 1,677.60 10.29%
Impor Migas 3,025.00 3,377.80 352.80 11.66%
-0.28%
-1.42%
-1.11%-0.86%
0.60%
1.15%
-0.95%
0.77%
1.72%
0.44%
-0.83%
-1.17%
-0.28%
-1.76%
-1.92%
0.19%
-0.06%
-0.04%
0.70%
-3% -2% -1% 0% 1% 2%
USD/IDR USD/THB USD/SGD USD/MYR USD/VND USD/PHP USD/BRL USD/RUB USD/JPY USD/KRW USD/INR USD/TRY EUR/USD GBP/USD AUD/USD USD/CNY USD/SAR NZD/USD USD/CHF
Nilai Tukar Desember 2021
14,184 14,097
14,01714,028 14,379
14,524
14,31514,330 14,492
14,376
14,250 14,178
14,263 14,320
Rerata USD/IDR
2,594.90
2,099.901,951.701,991.20 1,566.90
2,286.40 2,698.10
1,324.00 2,588.90
4,748.20 4,371.50
5,736.10
3,516.60
1,019.20
- 1000.000 2000.000 3000.000 4000.000 5000.000 6000.000 7000.000
Neraca Nilai Perdagangan Indonesia
F. Cadangan Devisa
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2021 tetap tinggi sebesar 144,9 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 sebesar 145,9 miliar dolar AS. Penurunan posisi cadangan devisa pada Desember 2021 antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,0 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan (Bank Indonesia).
Sumber: Bank Indonesia, dalam miliar USD
G. Kinerja Pasar Saham Domestik
Sepanjang bulan Desember 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 0,73% yaitu naik ke level 6.581,48 pada akhir Desember 2021. Kondisi tersebut diikuti oleh indeks domestik lainnya, indeks LQ45 menguat sebesar 0,05% yaitu dari level 930,97 pada akhir November 2021 ke level 931,41 pada akhir Desember 2021 begitu pun dengan indeks Syariah JII yang menguat sebesar 1,72% yaitu dari level 558,15 pada akhir November 2021 ke level 562,02 pada akhir Desember 2021.
Delapan sektor menguat, dipimpin oleh pertambangan (+14,4%), agrikultur (13,7%), dan otomotif (+12,8%), namun satu sektor turun yaitu barang konsumen (-0,4%). Investor tercatat melakukan net sell terhadap saham-saham di dalam negeri sebesar Rp65,239 milyar (sumber: idx).
Sumber: investing.com, Bursa Efek Indonesia
Sumber: data diolah internal BPKH dari sumber PHEI
Pada periode Desember 2021, PBS005 mengalami penurunan yield sebesar 3bps ke level 6,73%, PBS015 mengalami penurunan yield sebesar 1bps menjadi 7,15%, PBS023 mengalami peningkatan yield sebesar 7bps menjadi 6,46%, dan PBS026 mengalami penurunan yield sebesar 10bps menjadi 4,34%.
Pada perdagangan bulan Desember, pasar obligasi mencatatkan positive return. Yield curve PHEI-IGSYC didominasi kenaikan yield pada seluruh tenor (1-30tahun) dengan rata-rata sebesar +7,05bps mom. Aktivitas perdagangan harian transaksi SBN mengalami peningkatan dimana volume harian naik menjadi Rp22,54tn/hari dan frekuensi harian naik menjadi 2.085 transaksi/hari.
Kondusifnya sentimen dalam negeri menjadi pendorong penguatan pasar obligasi Indonesia di bulan Desember. Peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melebihi ekspektasi konsensus, terapresiasinya kurs spot Rupiah terhadap USD, terkendalinya Covid-19 di Indonesia, dan respon positif pasar terhadap pencapaian Pemerintah dalam memenuhi target vaksinasi dosis lengkap WHO menjadi beberapa katalis positif untuk pasar (Sumber: PHEI).
kinerja IHSG sepanjang akhir tahun lebih banyak ditopang optimisme pelaku pasar terkait prospek pemulihan dalam negeri. Saat ini, potensi penerimaan pajak dan aliran investasi mendorong kepercayaan investor. Selain itu, penguatan harga komoditas dan pembagian dividen menjadi katalis lainnya. Namun penguatan masih tertahan lantaran kekhawatiran terkait omicron menyelimuti pelaku pasar.
H. Kinerja Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
30-Nov-21 30-Des-21 Change Change(%)
IHSG 6,533.93 6,581.48 47.55 0.73%
LQ45 930.97 931.41 0.44 0.05%
JII 558.15 562.02 3.87 0.69%
Seri 30-Des-20 30-Nov-21 30-Des-21 Perubahan (m-t-m)
Perubahan (y-t-d)
PBS005 6.62 6.76 6.73 -0.03 0.11
PBS015 7.05 7.16 7.15 -0.01 0.10
PBS023 6.14 6.40 6.46 0.07 0.32
PBS026 5.06 4.44 4.34 -0.10 -0.72
5
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)
2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
1 6 11 16 21 26 31
SBSN Yield Curve
30-Dec-20 30-Jun-21 07-Jan-22
6,507.68
6,538.51 6,602.57 6,643.93
6,594.80
6,547.11 6,555.55
6,600.68 6,581.48
6,400 6,600 6,800
Indek Harga Saham Gabungan
133.60 135.90
138.00138.80 137.10
138.80
136.40137.10137.34 144.80
146.90
145.50145.90 144.90
130.000 135.000 140.000 145.000 150.000
Cadangan Devisa Indonesia (miliar USD)