i KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia Nya maka Laporan Kegiatan APBN Satker 04 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2021 dapat diselesaikan.
Laporan Pelaksanaan Kagiatan sebagai bagian dari Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah merupakan salah satu cara untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance), mendorong peningkatan pelayanan publik dan mencegah praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Hal ini sekaligus bentuk laporan akuntabilitas kepada masyarakat umumnya dan Pegawai Negeri Sipil pada khususnya. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mempunyai komitmen dan tekad yang kuat untuk melaksanakan kinerja organisasi yang berorientasi pada hasil yang berupa output maupun outcomes
Di sisi yang lain laporan ini juga disusun untuk memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilan kinerja beserta permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan tugas dalam pengelolaan pelayanan kesehatan sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja.
Sebagai media akuntabilitas kinerja, melalui laporan ini dapat diketahui tingkat efektivitas dan efesiensi kinerja Satker 04 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2021 melalui pelaksanaan kegiatan dengan mendasarkan pada Rencana Kerja Tahunan 2021, Perjanjian Kinerja Tahun 2021 yang telah ditetapkan.
Semoga Laporan Kegiatan Satker 04 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah ini selain sebagai media pertanggungjawaban atas mandat yang diemban dan kinerja yang telah ditetapkan, dapat menjadi sarana evaluasi atas pencapaian kinerja serta memberi umpan balik bagi upaya perbaikan kinerja pada masa yang akan datang.
Semarang, Januari 2022
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……… i
DAFTAR ISI ……… ii
BAB I PENDAHUALUAN……… 1
BAB II PERENCANAAN KINERJA ……… 5
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ……… 8
a. Capaian Kinerja Organisasi ……… 8
b. Realisasi Anggaran ……… 11
BAB IIV PENUTUP ……… 13
a. Kesimpulan ……… 13
b. Saran dan Tindak Lanjut ……… 13
LAMPIRAN
1 BAB I
PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pemerintah daerah, memegang peranan penting dalam pembangunan di wilayahnya termasuk bidang kesehatan dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada. Pembangunan kesehatan di Jawa Tengah harus selaras dengan pembangunan kesehatan Nasional. Dalam pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah daerah termasuk dalam hal pembangunan kesehatan sebagai upaya mendukung pencapaian indikator pembangunan kesehatan nasional, Kementerian Kesehatan melalui dana dekonsentrasi memberikan kewenangan kepada Gubernur Jawa Tengah sebagai wakil Pemerintah Daerah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mendukung pembangunan kesehatan nasional.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah merupakan unsur pelaksana urusan pemerintah bidang Kesehatan yang menjadi kewenangan daerah.
Penjabaran tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 58 tahun 2016. Masih tingginya angka kesakitan dan kematian karena berbagai masalah Kesehatan masyarakat dan akses dan mutu pelayanan Kesehatan yang belum sesuai standar merupakan issue-issue strategis yang ada di Jawa Tengah.
Kebijakan pembangunan kesehatan difokuskan pada penguatan upaya kesehatan dasar (Primary Health Care) yang berkualitas terutama melalui peningkatan jaminan kesehatan, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang didukung dengan penguatan sistem kesehatan dan peningkatan pembiayaan kesehatan. Peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan harus dibarengi dengan peningkatan mutu layanan dengan penerapan standar penyeleggaraan pelayanan yang pada akhirnya akan terlaksananya patient safety.
Tantangan pembangunan kesehatan saat ini adalah bagaimana memperkuat pelayanan kesehatan primer sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan di
2 Indonesia. Penguatan pelayanan kesehatan primer mencakup penguatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan primer.
Dalam upaya penguatan akses masyarakat terhadap pelayanan Kesehatan, pemerintah menyediakan fasilitas pelayanan Kesehatan yaitu melalui Puskesmas.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas menjalankan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perseorangan (UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya di wilayah kerjanya. Titik berat pelayanan Puskesmas adalah pada pendekatan pelayanan yang mengutamakan paradigma sehat, dimana Puskesmas diwajibkan ikut berkontribusi mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di kabupaten/kota dan program prioritas nasional seperti Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) melalui penyelenggaraan UKM dan UKP sehingga Puskesmas harus memiliki kinerja UKM dan UKP yang optimal dengan indikator yang terukur yang didukung dengan pembinaan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sebagai pemilik.
Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran & mendekatkan /meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Keterlibatan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam pelaksanaan PISPK sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan PIS-PK. Dengan pembinaan berkelanjutan, Puskesmas diharapkan mampu memanfaatkan hasil kunjungan keluarga secara optimal dalam memecahkan permasalah kesehatan di wilayah kerjanya dan melakukan intervensi lanjut sehingga mampu meningkatkan angka IKS nasional secara bertahap.
Upaya penguatan pelayanan dengan meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan secara berkesinambungan di ukur dengan akreditasi. Akreditasi di Puskesmas tidak hanya dilakukan pada pemenuhan input saja, tetapi juga pada proses dan output kegiatan di Puskesmas. Untuk dapat mencapai target FKTP terakreditasi guna menguatkan fungsi Puskesmas dalam memberikan pelayanan Kesehatan maka dibutuhkan dukungan dalam penyelenggaraan akreditasi, diantaranya dukungan penyelenggaraan akreditasi dan pelaksanaan bimbingan teknis mutu dan akreditasi pelayanan Kesehatan dasar. Di samping itu, dengan bertambahnya jumlah FKTP yang akan disurvei maka harus diiringi dengan jumlah
3 surveyor dan tentunya sesuai dengan konsep penyelenggaraan akreditasi yang baru maka kebutuhan surveyor akan meningkat
Salah satu peran Puskesmas dalam penyelenggaraaan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta adalah sebagai penapis rujukan (gatekeeper), sehingga diharapkan dapat memberikan pelayanan yang bermutu dan komprehensif kepada peserta meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Permasalahan yang sering dialami oleh fasilitas Kesehatan tingkat pertama/FKTP adalah tingginya angka rujukan spesialistik dan rujukan non spesialistik. Penyakit yang harusnya dapat tertangani secara tuntas di pelayanan tingkat primer dalam kenyataannya masih banyak yang dirujuk ke pelayanan tingkat sekunder. Sehingga banyak kasus yang seharusnya dapat ditangani dengan tuntas di FKTP akhirnya menjadi beban pelayanan kesehatan di fasilitas rujukan tingkat lanjutan. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kualitas layanan di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan dan juga terhadap sustainabilitas program JKN.
Rujukan Non spesialistik dipengaruhi oleh kemampuan FKTP dalam memberikan pelayanan. Kemampuan FKTP dalam memberikan pelayanan sangat bergantung dengan kondisi sumber daya di FKTP, termasuk kondisi SDM, sarana, prasarana, alat, obat di FKTP, dan kondisi pembiayaan di FKTP
Kegawat darutan Kesehatan dapat terjadi dalam kondisi sehari hari maupun dalam situasi bencana. Penanganan kegawatdaruratan sedini mungkin akan mengurangi resiko kefatalan kasus maupun bertambahnya korban pada saat terjadi bencana. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) / Public Safety Center (PSC) merupakan salah satu system yang dipersiapkan untuk penanganan gawat darurat tidak hanya kondisi sehari hari-hari namun juga dalam keadaan bencana. SPGDT merupakan koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gawat darurat. Di Jawa Tengah, PSC 119 memberi peran yang sangat besar dalam penanganan kondisi gawat darurat sehari hari (pra rumah sakit). Selain itu, ketika terjadi bencana, PSC 119 Kabupaten / Kota di Jawa Tengah juga mengambil peran dalam evakuasi korban. Seperti situasi pandemic covid 19 saat ini, PSC selain melaksanakan evakuasi, PSC juga berperan sebagai pusat komunikasi dalam mengatur “lalu lintas”
rujukan emergensi.
Peraturan Pemerintah No 7 tahun 2008, telah mengatur penggunaan dana dekonsentrasi. Mendasarkan hal-hal tersebut dan dalam mendukung program prioritas nasional, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dengan Program
4 Pembinaan Pelayanan Kesehatan (satker 04) tahun 2021, kegiatan yang dilaksanakan :
1. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Primer 2. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Rujukan 3. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Tradisional 4. Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
5. Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
5 BAB II
PERENCANAAN KINERJA
Perjanjian kinerja
Perjanjian kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dengan sumber anggaran dekonsentrasi tahun angaran 2021 sebagai berikut :
No. Program/Sasaran
Program /Kegiatan Indikator Kinerja Target Anggaran
(1) (2) (3) (4) (5)
I Pembinaan Pelayanan Kesehatan dan JKN
975.120.000 Meningkatnya akses
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang berkualitas bagi masyarakat
1. Pembinaan pelayanan kesehatan primer
1. Jumlah Peserta yang Mengikuti Workshop Tatalaksana Kasus Rujukan Non Spesialistik di FKTP
70 Orang 676.000 .000
2. Jumlah Pembinaan pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) tingkat Provinsi
21 Kab/kota
2. Pembinaan pelayanan kesehatan rujukan
1. Jumlah Kab/Kota yang dibina untuk penguatan PSC 119
1 Kab/Kota
160.000.000
3. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Jumlah Puskesmas yang difasilitasi untuk
Menyelenggarakan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Tradisional
40 Puskesm
as
102.520.000
4. Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
Jumlah peserta
Sosialisasi Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
35 Orang 36.600.000
II Program Dukungan manajemen
Meningkatnya koordinasi
pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen
44.000.000
6 Kementerian
Kesehatan
1. Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
1.
Terselenggaranya
pembinaan program dan rencana kerja teknis
1 Provinsi
44.000.000
Perjanjian kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2021 dengan bersumber dari dana dekonsentrasi, melaksanakan 2 program, 5 kegiatan dengan total anggaran Rp. 1.019.120.000,- (satu milyar sembilan belas juta seratus dua puluh ribu rupiah).
Pandemic covid 19 yang terjadi di awal tahun 2020, sampai 2021 pandemic covid 19 belum berakhir sehingga Kementerian Kesehatan masih menerapkan kebijakan refokusing anggaran TA 2021 di lingkungan Kementerian Kesehatan, termasuk kegiatan yang bersumber dari dekonsentrasi. Mendasarkan surat dari Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor PR.04.02/I/2572/2021 tanggal 16 Juli tentang Refocusing anggaran dan efisiensi belanja Tahap II Ditjen Pelayanan Kesehatan TA 2021, sehingga Jawa Tengah setelah refokusing melaksanakan 1 program 1 kegiatan, yaitu sebagai berikut :
No.
Sasaran Program/Program
/Kegiatan
Indikator Kinerja Target Anggaran
(1) (2) (3) (4) (5)
Meningkatnya koordinasi
pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen
Kementerian
Kesehatan berkualitas bagi masyarakat Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
Terselenggaranya
pembinaan program dan rencana kerja teknis
1 Provinsi 17.500.000
7 Anggaran dekonsentrasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang refokusing sebesar Rp. 1.001.620.000,- (satu milyar satu juta enam ratus dua puluh ribu rupiah). Kegiatan yang direfokusing meliputi :
1. Pembinaan pelayanan Kesehatan primer 2. Pembinaan pelayanan Kesehatan rujukan 3. Pembinaan pelayanan Kesehatan tradisional 4. Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
8 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
a. Capaian Kinerja Organisasi
Capaian kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Satuan Kerja Pelayanan Kesehatan (04) Tahun anggaran 2021 :
No. Program/Sasaran
Program /Kegiatan Indikator Kinerja Target
Realisasi indicator kinerja
(1) (2) (3) (4) (5)
I Pembinaan Pelayanan Kesehatan dan JKN Meningkatnya akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang berkualitas bagi masyarakat
1. Pembinaan pelayanan kesehatan primer
1. Jumlah Peserta yang Mengikuti Workshop Tatalaksana Kasus Rujukan Non Spesialistik di FKTP
70 Orang 0
2. Jumlah Pembinaan pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) tingkat Provinsi
21 Kab/kota 100
2. Pembinaan pelayanan kesehatan rujukan
1. Jumlah Kab/Kota yang dibina untuk penguatan PSC 119
1 Kab/Kota 100
3. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Jumlah Puskesmas yang difasilitasi untuk
Menyelenggarakan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Tradisional
40 Puskesmas
100
4. Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
Jumlah peserta
Sosialisasi Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
35 Orang 0
II Program Dukungan manajemen
Meningkatnya koordinasi
pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen
9 Kementerian
Kesehatan
1. Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
1.
Terselenggaranya
pembinaan program dan rencana kerja teknis
1 Provinsi
100
Dari 6 indikator kinerja yang telah ditetapkan, ada 4 capaian indikator yang realisasi kinerja 100%, yaitu:
1. Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan primer
Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah Jumlah Pembinaan pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) tingkat Provinsi dengan target indicator kinerja 21 kab/kota. Target tercapai 100%, 21 kabupaten/kota yang dimaksud yaitu :
No Kab/Kota No Kab/Kota
1 Temanggung 12 Pati
2 Rembang 13 Sukoharjo
3 Kendal 14 Purbalingga
4 Boyolali 15 Demak
5 Kebumen 16 Banjarnegara
6 Blora 17 Purworejo
7 Cilacap 18 Klaten
8 Wonosobo 19 Karanganyar
9 Kota Semarang 20 Kota Pekalongan
10 Tegal 21 Wonogiri
11 Semarang
2. Kegiatan Pembinaan Pelayanan Rujukan
Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah Jumlah Kab/Kota yang dibina untuk penguatan PSC 119 Jumlah Kab/Kota yang dibina untuk penguatan PSC 119, target indicator kinerja 1 kab/kota, Kabupaten yang menjadi lokus pembinaan adalah Kabupaten Wonogiri. Pembinaan dilakukan dengan menggunakan anggaran APBD berupa advokasi ke Dinas Kesehatan untuk penguatan pelayanan PSC, sehingga target indicator tahun 2021 tercapai.
3. Kegiatan pembinaan pelayanan Kesehatan tradisional
Indikator kinerja kegiatan adalah jumlah puskesmas yang difasilitasi untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tradisional. Kegiatan berupa pertemuan dengan mengundang 40 puskesmas terpilih dan dinas Kesehatan
10 kabupaten/kota. Kegiatan tidak dilaksanakan dengan menggunakan anggaran dekonsentrasi namun menggunakan anggaran APBD dan dilakukan secara daring, sehingga target indikator tercapai.
4. Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pembinaan Pelayanan Kesehatan.
Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah Layanan Pembinaan Program dan Rencana Kerja Teknis dengan target indicator 1 provinsi. Target indicator tercapai 100 %.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan tugas teknis di Ditjen Yankes berupa biaya honorarium pengelola keuangan. Kegiatan sudah terealisasi sampai bulan Mei 2021, dan di bulan Juni proses refokusing anggaran Dekonsentrasi 2021.
Kegiatan yang tidak tercapai realisasi target indikatornya adalah : 1. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Primer
Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah Jumlah Peserta yang Mengikuti Workshop Tatalaksana Kasus Rujukan Non Spesialistik di FKTP, target 70 orang. Kegiatan yang berupa pertemuan tidak dilaksanakan karena kondisi pandemic dan dalam Rencana kerja operasional, kegiatan dilaksanakan bulan Juli 2021, namun bulan Juli 2021 juga telah ada penetapan refocusing anggaran.
2. Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan
Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah jumlah peserta sosialisasi mutu dan akreditasi pelayanan kesehatan, target 35 orang. Kegiatan berupa pertemuan tidak dilaksanakan karena
- kondisi pandemic
- Rencana kerja operasional kegiatan pertemuan dilaksanakan bulan Oktober 2021
- Belum disyahkannya instrument dan standar akreditasi yang baru dari Kementerian Kesehatan
11 B. Realisasi Anggaran
Realisasi anggaran dekonsentrasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun anggarn 2021 sebagai berikut :
No
Sasaran Program/Program
/Kegiatan
Indikator
Kinerja Target Anggaran
Realisasi Keuangan
Capaian Keuangan
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Meningkatnya koordinasi
pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen
Kementerian
Kesehatan berkualitas bagi masyarakat Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
Terselenggara nya
pembinaan program dan rencana kerja teknis
1 Provinsi 17.500.000 17.500.000 100
Kegiatan bersumber dekonsentrasi tahun 2021 mendasarkan dari surat Kementerian Kesehatan direfokusing sehingga anggaran dekonsentrasi Satker Pelayanan Kesehatan (Satker 04) Jawa Tengah tahun 2021 sejumlah Rp.
17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribu rupiah) dan sudah terealisasi 100%.
Anggaran di gunakan untuk program dukungan manajemen, kegiatan Dukungan Manajemen Pelaksanaan di Ditjen Pelayanan Kesehatan
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan capaian kinerja :
1. Dukungan anggaran dari Pemerintah Pusat berupa BOK (bantuan operasional Kesehatan) bagi Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/kota, Dinas Kesehatan Provinsi sehingga target indicator dapat tercapai.
2. Pembinaan dan monitoring dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi dalam implementasi PISPK secara terus menerus
3. Dukungan anggaran dari APBD Provinsi Jawa Tengah untuk beberapa kegiatan mempunyai focus yang sama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Jawa Tengah.
12 Faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi capaian kinerja yang rendah : 1. Kegiatan yang bersumber dari dana dekonsentrasi berupa pertemuan, dalam
masa pandemic, kegiatan tidak dapat dilaksanakan.
2. Pandemi covid 19 yang masih terjadi di tahun 2021, menyebabkan adanya kebijakan untuk efisiensi anggaran di lingkungan Kementerian Kesehatan termasuk dana dekonsentrasi
13 BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hasil capaian Program Pembinaan Pelayanan Kesehatan (Satker 04) TA a. Terdapat 2 Kegiatan dengan Capaian kinerja 0% dan 4 Kegiatan dengan
Capaian 100%
b. Realisasi anggaran Rp. 17.500.000,00 atau sebesar 100% dari total anggaran setelah dilakukan Refokusing.
2. Permasalahan dan hambatan
a. Kegiatan yang bersumber dari dana dekonsentrasi berupa pertemuan, dalam masa pandemic, kegiatan tidak dapat dilaksanakan
b. Pandemi covid 19 yang masih terjadi di tahun 2021, menyebabkan adanya kebijakan untuk efisiensi anggaran di lingkungan kementerian Kesehatan termasuk dana dekonsentrasi
B. Saran dan Tindak lanjut
1. Kegiatan yang mendukung capaian indicator sebisa mungkin untuk tidak dilakukan refokusing
2. Kegiatan yang memiliki output ketrampilan sebaiknya tetap dilakukan secara luring/tatap muka langsung
3. Penentuan target kinerja output dan jenis kegiatan yang bersumber dari dana dekonsentrasi disesuaikan dengan kondisi riil di masing-masing Provinsi.
4. Alokasi dana dekonsentrasi lebih diarahkan untuk program dan kegiatan yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing provinsi yang mendukung indikator Kementerian Kesehatan