• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu sistem total yang terurai dalam aneka macam sub dan sub-sub sistem.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu sistem total yang terurai dalam aneka macam sub dan sub-sub sistem."

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Sosilogis Hukum

Pada satu contoh pemanfaatan teori sosiologi dalam peninjauan mengenai hukum itu, yaitu bertolak pada teori tentang kehidupan masyarakat dari Talcott Parsons.

dalam uraian Talcott Parsons maka kehidupan warga itu digambarkan menjadi suatu sistem total yang terurai dalam aneka macam sub dan sub-sub sistem.

Menengok dalam kualitas dari melihat-dalam aturan secara sosiologis itu, maka sebagian besar akan menjumpai suatu arah perkembangan yang semakin menjurus kepada pendalaman studi. Bagian tahap permulaan maka penglihatan aturan secara sosiologis ini lebih banyak bersifat spekulatif dan diskusidiskusi teoritis.1

Peraturan hukum selalu bersumber dari keterangan sosial yang ada dalam keyakinan asosiasi hukum pada masyarakat. Sedangkan ketentuan aturan berdasarkan pada perihal aturan, contohnya kebiasaan, penguasaan, pemilikan dan aspirasi. Dalam sebab itu norma aturan mempunyai beberapa fungsi, yaitu; adat aturan mengatur korelasi antara perintah, berupa larangan dan informasi aturan yg mendasarinya, menggunakan cara memberi perlindungan pada tata cara aturan berlandaskan dasar-dasar hukum, contohnya undang-undang perihal asosiasi, korporasi atau kontrak. Perintah sesuai aturan berupa aturan yang dikeluarkan negara yang bisa menimbulkan atau menyangkal informasi sosial, contohnya pembatalan, pengambilalihan kontrak. Peraturan dapat dilepaskan dari keterangan sosial, misalnya pengadaan pajak, hak spesial, hadiah konsesi dagang dan sebagainya.2

1 Soerjono Soekanto 2, Op., cit., hlm.19

2 Soemanto, Op. cit. hlm. 10

(2)

Pada aturan menggunakan hukuman yang represif dianggap hukum pidana biasanya menimbulkan penderitaan bagi pelanggarnya. Hukuman tersebut menyangkut hari depan dan kehormatan seorang masyarakat rakyat, atau bahkan merampas kemerdekaan serta kenikmatan hidupnya. Selain peraturan menggunakan sanksi hal negatif dapat mendatangkan penderitaan bisa dijumpai dalam norma aturan dianggap aturan perdata, aturan dagang, aturan administrasi, hukum tata negara, hukum acara serta sebagainya yg sifat sanksinya tidak sama dengan norma hukum yg bersifat represif. Tujuan utama berasal dari sanksi tidaklah perlu semata- mata hasilnya mendatangkan penderitaan, tetapi untuk mengembalikan keadaan pada situasi semula, sebelum mendatangkan kegoncangan menjadi akibat dilanggarnya suatu istiadat hukum.3

B. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana 1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak Pidana adalah kata paling banyak untuk Strafbaarfeit didalam bahasa belanda walaupun secara resmi tidak terdapat terjemahan resmi Strafbaarfeit.

Terjemahan atas istilah Strabaarfeit ke di bahasa Indonesia diterjemahkan memakai berbagai kata misalnya tindak pidana, pelanggaran aturan, perbuatan pidana, perbuatan pidana, Strafbaarfeit dan sebagainya.

Sedangkan pengertiannya, dari Simons tindak pidana ialah suatu tindakan atau perbuatan yang diancam dengan pidana pada undang-undang, bertentangan memakai hukum serta dilakukan menggunakan kesatahan oleh seseorang yang bisa bertanggung jawab.

Pembentukan undang-undang kita telah menggunakan perkataan “strafbaarfeit”, maka timbullah di doktrin berbagai pendapat tentang apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan “strafbaarfeit” tadi.

3 Soerjono Soekanto 2, Op., cit., hlm. 52

(3)

Strafbaarfeit merupakan suatu perilaku manusia yang pada suatu ketika langsung telah ditolak adanya pada suatu pergaulan hidup salah satunya diklaim juga perilaku yang wajib ditiadakan oleh hukum pidana memakai menggunakan cara yang bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya.

Pendapat beberapa pakar tentang tindak pidana ialah :

a. Berdasarkan pendapat Pompe “strafbaarfeit” secara teoritis juga merumuskan menjadi suatu: “suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun dengan tak disengaja sudah dilakukan oleh seorang pelaku, di mana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tadi merupakan perlu demi terpeliharanya tertib aturan juga terjaminnya kepentingan hukum.4

b. Van Hamel merumuskan “strafbaarfeit” itu merupakan “suatu serangan atau suatu ancaman terhadap hak-hak orang lain”.

c. Berdasarkan pendapat Simons, “strafbaarfeit’ itu adalah suatu “tindakan melanggar hukum yang tetera dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh sesorang yang bisa di pertanggungjawabkan atas suatu tindakan yang bisa dihukum”.

d. Baerdasarkan pendapat E. Utrecht “starfbaarfeit” menggunakan istilah kejadian pidana yang selalu juga beliau sebut pelanggaran hukum , sebab kejadian itu suatu perbuatan handelen atau doen positif atau suatu melalaikan natalen-negatif, juga akibatnya (keadaan yang disebabkan karena perbuatan atau melalaikan).5

Maka pendapat dari pada itu, Moeljiatno berkata bahwa suatu tindak pidana merupakan perbuatan yang dilarang serta diancam menggunakan ancaman pidana, terhadap barang siapa melanggar aturan tadi. Perbuatan itu harus juga dirasakan oleh masyarakat menjadi suatu kendala dalam tata pergaulan yang di inginkan oleh semua lapisan masyarakat.6

4 PAF. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 182.

5 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 6.

6 Moeljiatno, Perbuatan Pidana dan Pertranggungjawban dalam Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1983, hlm. 22-23.

(4)

Dengan demikian, dapat diketahui sebagian unsur-unsur tindak pidana yang dimaksud :

1. Perbuatan itu wajib ialah perbuatan seorang manusia.

2. Perbuatan itu wajib dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.

3. Perbuatan itu bertentangan menggunakan hukum (melawan hukum).

4. Wajib dilakukan oleh seorang yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. Perbuatan itu harus bisa dipersalahkan pada si pembuat.

Hal ini, berdasarakan pendapat Loebby Loqman mengatakan bahwa unsur-unsur tindak pidana terdapat beberapa hal yaitu:

a. Perbuatan manusia baik aktif juga pasif.

b. Perbuatan itu dihentikan dan diancam menggunakan pidana oleh undang-undang.

c. Perbuatan itu disebut melawan aturan hukum.

d. Perbuatan tadi bisa dipersalahkan.

e. Pelakunya dapat dipertanggungjawabkan.7

Sedangkan penegrtian menurut EY. Kanter serta SR. Sianturi, Unsur-unsur tindak pidana merupakan:

1. Subjek.

2. Kesalahan.

3. Bersifat melawan aturan.

4. Suatu tindakan yang dihentikan atau ditetapkan oleh peraturan undang- undang/perundangan terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana.

5. Waktu, lokasi, juga keadaan (pada unsur objektif lainnya).

7 Loebby Loqman, Tentang Tindak Pidana dan Beberapa Hal Penting dalam Hukum Pidana, Jakarta, hlm.

13. (Tanpa tahun dan Penerbit)

(5)

Dengan demikian, menurut Kanter serta Siantur mengatakan bahwa sebuah tindak pidana ialah suatu tindakan ini terjadi di tempat, waktu serta keadaan tertentu, yang dilarang (atau diharuskan) juga diancam tegas menggunakan pidana oleh undang-undang, bersifat melawan hukum, juga dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang mampu bertanggung jawab) secara hukum.8

2. Unsur-unsur Tindak Pidana

Hasil Rancangan KUHP Baru tindak pidana memuat unsur-unsur berikut:

1. Adanya perbuatan baik perbuatan yang bersifat positif, dan negatif yang dilarang serta diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan.

2. Wajib bertentangan dengan hukum, pada arti bertentangan dan sadar akan hukum di dalam masyarakatTidak terdapat alasan pembenar 3. Penggolongan Tindak Pidana dari Doktrin secara banyaknya tindak

pidana bisa dibedakan ke dalam beberapa pembagian menjadi berikut : a. Tindak pidana bisa dibedakan secara kualitatif atas kejahatan dan

pelanggaran 1. Kejahatan

Secara doktrinal kejahatan merupakan rechtdelicht, yaitu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Sekalipun tak dirumuskan menjadi pelanggaran hukum dalam undang-undang, perbuatan ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat menjadi perbuatan yang kadang diklaim mala per se.

Perbuatan-perbuatan yang bisa dikualifikasikan jadi rechtdelicht bisa dianggap diantaranya pembunuhan, pencurian, juga sebagainya.

2. Pelanggaran

8 Loebby Loqman, loc.cit.

(6)

Jenis tindak pidana ini diklaim oleh wetsdelicht, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat baru disadari jadi suatu tindak pidana, sebab undang-undang merumuskannya menjadi delik. Perbuatan-perbuatan ini baru disadari menjadi tindak pidana oleh masyarakat maka dari itu undang-undang mengancamnya dengan hukuman pidana. Tindak pidana ini diklaim jugas sebagai mala quai prohibita. Perbuatan- perbuatan yang bisa dikualifikasikan jadi wetsdelicht dapat disebut juga memarkir kendaraan beroda empat disebelah kanan jalan, berjalan pada jalan raya di sebelah kanan, dan sebagainya.

Tindak Pidana juga dibedakan atas tindak pidana formil serta tindak pidana materiil :

1. Tindak pidana formil

Tindak pidana formil ialah tindak pidana yang perumusannya dititik beratkan dalam perbuatan yang dihentikan. Juga dengan istilah lain dapat dikatakan, bahwa tindak pidana formil ialah tindak pidana yang diklaim terjadi/terselesaikan dengan sudah dilakukannya perbuatan yang dilarang pada undang-undnag, tanpa mempersoalkan suatu dampak. Tindak pidana telah dikualifikasikan menjadi tindak pidana formil dapat disebut contohnya pencurian sebagaimana diatur pada pasal 362 KUHP, penghasutan sebagaimana diatur pada pasal 160 KUHP, serta sebagainya.

2. Tindak pidana materil

Tindak pidana materil ialah tindak pidana yang perumusannya dititik beratkan pada dampak yang dilarang. Menggunakan istilah lain, dapata dikatakan, bahwa tindak pidana materil adalah tindak pidana yang baru disebut telah terjadi, atau diklaim telah terselesaikan jika dampak yang dilarang itu telah terjadi. Jadi, jenis tindak pidana ini mempersyaratkan terjadinya dampak untuk

(7)

setelahnya. Bila belum terjadi dampaknya yang dihentikan, maka belum mampu dikatakan terselesaikan tindak pidana ini, yang terjadi baru percobaannya.

Menjadi contoh bisa disebut juga tindak pidana pembunuhan yang diatur pada pasal 338 KUHP, penipuan dalam pasal 378 KUHP dan sebagainya.9

Secara umumnya unsur-unsur tindak pidana bisa dibedakan kedalam dua macam yaitu:

a. Unsur Obyektif, yaitu unsur yang terdapat pada luar pelaku (dader) yang dapat berupa :

1) Perbuatan, baik pada arti berbuat juga dalam arti tak berbuat. Misalnya unsur obyektif yang berupa “perbuatan” yaitu perbuatan-perbuatan yang dilarang dan diancam oleh undang-undang. Perbuatan-perbuatan yang dirumuskan di dalam Pasal 242, 263, 262 kitab undang-undang hukum pidana. Di dalam ketentuan Pasal 362 KUHP contohnya, unsur obyektif yang berupa

“perbuatan” serta sekaligus adalah perbuatan yang dilarang dan diancam oleh undang-undang ialah perbuatan mengambil.

2) Dampak, yang jadi syarat mutlak pada tindak pidana materiil. Contohnya unsur obyektif yang berupa suatu “akibat” adalah akibat-akibat yang dilarang serta diancam oleh undang-undang juga sekaligus merupakan kondisi mutlak pada tindak pidana diantaranya dampak-dampak sebagaimana dimaksudkan pada ketentuan Pasal 351, 388 KUHP.

3) Keadaan atau masalah-masalah tertentu yang dilarang dan diancam oleh undang-undang. Contoh unsur obyektif yang berupa suatu “keadaan” yang dilarang dan diancam oleh undang-undang adalah keadaan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal 160, 281 KUHP. Dalam ketentuan pasal

9 Tongat, SH., M.Hum, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, UMM Press, hlm. 105-107.

(8)

282 KUHP misalnya, unsur obyektif yang berupa “keadaan” adalah di tempat umum.

a. Unsur Subyektif, yaitu unsur yang ada pada diri si pelaku (dader) juga berupa:

1) Hal yang bisa dipertanggungjawabkannya seorang terhadap perbuatan yang sudah dilakukan (Kemampuan bertanggung jawab).

2) Kesalahan atau schuld. Berkaitan menggunakan persoalan kemampuan bertanggung jawab diatas, persoalannya artinya kapan seorang dapat dikatakan bisa bertanggung jawab jika dalam diri orang itu memenuhi tiga syarat, yaitu:

a) Keadaan jiwa orang itu merupakan sedemikian rupa, sebagai akibatnya ia bisa mengerti akan nilai perbuatannya dan juga mengerti akan nilai perbuatannya itu.

b) Keadaan jiwa orang itu sedemikian rupa, sehingga ia dapat memilih kehendaknya terhadap perbuatan yang ia lakukan.

c) Orang itu wajib sadar perbuatan mana yang dilarang dan perbuatan mana yang tak bisa dilarang oleh undang-undang.

Sementara itu berkaitan dengan adanya masalah kemampuan orang diklaim bisa bertanggung jawab ini pembentuk KUHP berpendirian, bahwa setiap orang diklaim bisa bertanggung jawab. Konsekuensi berasal dari pendirian ini ialah, bahwa persoalan kemampuan bertanggung jawab ini tak perlu dibuktikan adanya pada pengadilan kecuali jika ada keragu-raguan terhadap unsur yang disebutkan tadi.10

C. Tinjauan Umum Tentang Minuman Beralkohol 1. Pengertian Minuman Beralkohol

10 Satchid Kartanegara, Hukum Pidana Kumpulan Kuliah, Buku I, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, hal.

242 et seqq.

(9)

Istilah ”alkohol” sebenarnya ditujukan dalam sekelompok unsur molekul organik yang mempunyai gugus hidroksil (-OH) yang menempel pada atom jenuh. Etil alkohol pula dianggap pula menggunakan etanol, ialah bentuk alkohol yang umunya seringkali disebut juga terdapatnya unsur alkohol minuman. Senyawa termasuk metanol, butanol aldehida, fenol, tannis atau sejumlah kecil berbagai logam terkandung di dalam minuman yang beralkohol serta mengakibatkan efek psikoaktif. Minuman beralkohol selain memperlambat kesehatan secara fisik, bisa menyebabkan gangguan kepribadian seperti mudah tersinggung serta perhatian terhadap lingkungan jadi terganggu menjadi akibatnya tidak jarang menyebabkan kecenderungan marah serta sikap agresif.

Kadar alkohol pada tingkatan atau BAC (blood alcohol concentration) 0,01

% akan mendapatkan gangguan dalam fungsi motorik juga sensorik hingga bicara mengalami kesulitan koordinasi juga akan cenderung melakukan agresif, karena keagresifan dan tertekannya pengendalian diri dari seseorang cenderung melakukan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat baik pada bentuk pelanggaran perilaku buruk atau perilaku moral bahkan melakukan tindakan pidana atau kriminal.11

Tindakan mengkonsumsi alkohol atau minuman keras bisa berdampak dalam kesehatan sesorang sebab kandungan zat didalamnya. Alkohol merupakan suatu zat yang bekerja secara selektif, terutama di otak, dapat menyebabkan perubahan dalam perilaku, emosi, kognitif, persepsi, pencerahan seorang, yang apabila dikonsumsi bisa menyebabkan kecanduan atau ketergantungan. Dengan demikian, mengkonsumsi minuman keras bisa berdampak pada kesehatan seseorang.

11 http://lppm-unissula.com/jurnal.unissula.ac.id/index.php/proyeksi/article/view/239/215 diakses pada tanggal 06 Oktober 2021 jam 15.42

(10)

Penyalahgunaan alkohol mampu mengakibatkan gangguan sikap berbahaya yang dimulai dari, kehilangan ingatan, depresi akut atau kronik, tingkatan bunuh diri yang tinggi, flaktuasi emosi, serta kehilangan kesadaran sesudah mabuk.

Alkoholisme kronis dapat menyebabkan infeksi pankreas dengan hasil kegagalan sistem endokrin pankreas (diabetes) dan kelenjar eksokrin (kurang gizi). Hal ini dapat menyebabkan kekurangan protein, berkurangnya produksi hormone testosterone, yang dapat menghasilkan impotensi pada seorang laki- laki.12

2. Pengertian Minuman Beralkohol Menurut Para Ahli a. Pengertian Minuman Beralkohol

Menurut Poerwodarminto alkohol merupakan nama zat cair yang memabukkan. Sedangkan menurut Budiarjo mengemukakan alkohol adalah senyawa kimia organis yang berperan menjadi obat peringan di aktifitas system syaraf bagian pusat.

Alkohol ialah minuman yang sifatnya mengakibatkan ketagihan.

Secara banyaknya tingkatan ,mengonsumsi minuman yang beralkohol bukan sebagai tradisi atau keharusan rakyat Indonesia, terlebih karena dampaknya pada segi kesehatan serta sosial sangat merugikan. Minuman yang beralkohol ialah minuman yang hanya dikonsumsi dan dikonsumsi mulai dari kalangan terbatas dengan tujuan serta alasan terkhusus baik positif juga negatif. Jenis-jenis minuman yang beralkohol bahwa minuman tersebut dibagi jadi tiga golongan, yaitu:

a. Golongan A (jenis arak, guiness dan lain-lain) yang berkadar alkohol 1 % sampai 5 %.

12 Hasan, (2008). Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja usia pertengahan tentang bahaya minuman keras dengan perilaku minum-minuman keras di Desa Klumprit Sukoharjo. Jurnal, 1-12.

(11)

b. Golongan B (jenis congyang, anggur merah, anggur putih, newport serta lainlain) yg berkadar alkohol lima % sampai 20 %.

c. Golongan C (jenis mansion, vodka, red label, countreu, oplosan serta lain-lain) dan berkadar alkohol 20 % sampai 50

%.

d. Minuman beralkohol umumnya diperoleh dan yang akan terjadi peragian atau fregmentasi dari mikroorganisme (sel ragi) daripada berasal gula, sari buah, biji-bijian, madu, umbi-umbian juga getah kaktuk yang tertentu. Proses peragian membentuk minuman dengan jumlah kadar alkohol hingga 14 % sedangkan proses penyulingan akan ada ditingkat kadar alkohol, bahkan sampai mencapai 100 %.13 3. Pengertian Minuman Beralkohol Menurut Undang-undang

Minuman beralkohol menurut Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol (selanjutnya disebut PP 74/2013) adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi. Terdapat tiga golongan minuman beralkohol, yaitu minuman beralkohol golongan A yang memiliki kadar etil alkohol atau etanol sampai dengan 5%. 14

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 8 ayat (1) Peraturan Mentri Perindustrian Nomor : 71/M-IND/PER/7/2012 tentang Pengendalian dan Pengawasan Industri Minuman Beralkohol, masyarakat daerah diperbolehkan untuk menyuling

13 Yanny, D. 2001. Narkoba : Pencegahan dan Penanganannya. Jakarta: PT. Elexmedia Komputindo.

14 Lihat Pasal 1 Ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Dan Pengawasan Minuman Beralkohol.

(12)

minuman tradisional beralkohol tidak lebih dari 25 (dua puluh lima) liter per hari serta pengedaran dan perdagangannya dilakukan di wilayah Provinsi, perlu mengatur keterlibatan Pemerintah Daerah dalam mengatur pemurnian dan tata kelola minuman tradisional beralkohol.15

Pasal 4 ayat (1) Dalam peraturan-peraturan yang dimaksud pada pasal 3 dapat ditetapkan: a. bahwa siapapun dilarang tanpa izin melakukan perdagangan barangbarang dalam pengawasan; b. syarat-syarat pemberian izin untuk melakukan perdagangan barangbarang dalam pengawasan termaksud sub a ayat ini; c.

ketentuan-ketentuan mengenai organisasi-organisasi dan/atau golongan-golongan yang bekerja dalam lapangan perdagangan tersebut; d. ketentuan-ketentuan lain yang diperlukan untuk melaksanakan pasal 3 dengan sebaik-baiknya.16

Pasal 8 ayat (1) Pelanggaran-pelanggaran atas ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya adalah tindak pidana ekonomi. Ayat (2) Dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah yang melaksanakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dapat pula diadakan ketentuan-ketentuan mengenai pidana- penjara, pidanakurungan dan pidana-denda tertinggi, pidanatambahan dan tindakan-tindakan lain unguk menjamin terlaksananya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.17

Ringkasnya, bahaya-bahaya yg pada timbulkan berasal akibat alkohol amat banyak sebagai akibatnya keliru ada ilmuwan beropini, “jika pemerintah menutup separuh pintu dari gudang penyimpanan minuman keras, maka dia mampu jadi jaminan bahwa masyarakat tak akan lagi membutuhkan separuh bagian rumah sakit dan pusat-pusat rehabilitasi. Bila ada keuntungan dalam perdagangan alkohol

15 Lihat Psal 8 Ayat (8) Peraturan Mentri Perindustrian Nomor 71/M-IND-PER/7/2012 tentang Pengendalian Pengawasan Industri Minuman Beralkohol.

16 Lihat Pasal 4 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Penganti Undang-undang Republik Indonesia (Perpu) Nomor 8 Tahun 1962 (8/1962) Tentang Perdagangan Barang-barang Dalam Pengawasan.

17 Lihat Pasal 8 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Penganti Undang-undang Republik Indonesia (Perpu) Nomor 8 Tahun 1962 (8/1962) Tentang Perdagangan Barang-barang Dalam Pengawasan.

(13)

untuk manusia atau, seperti melupakan kerugian yang di timbulkan olehnya, di anggap sebagai sebuah keuntungan bagi seseorang, maka efek negatifnya secara sedikit demi sedikit akan lebih banyak dan lebih luas sedemikian rupa jadi akibatnya keduanya tidak dapat mampu di perbandingkan lagi.

Pada peraturan perundang-undangan, terlampau banyaknya defenisi yang mengatakan bahwa minuman keras secara nyata merupakan minuman yang bisa mengakibatkan seorang yang meminumnya akan kehilangan kesadaran serta biasanya hal ini mampu mengakibatkan banyak dampak sebagaimana di atas.

Dari pasal (1) KEPPRES R.I. No.3/1997 yang bermaksud maksud dalam minuman beralkohol pada Keputusan Presiden ini merupakan minuman yang pada proses berasal bahan akibat pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi atau fermentasi dan di lanjutkan menggunakan penyulingan sesuai keperluan, baik dalam cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak sama sekali, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang dip roses dengan cara mencampur konsentrat dengan alkohol atau menggunakan cara pengenceran minuman 27 beralkohol, sehingga produk akhirnya berbentuk cairan yang mengandung etanol Pasal 538 KUHP, Penjual minuman Keras atau wakilnya pada saat yang menjalankan pekerjaanya itu memberikan atau menjual minuman keras atau minuman beralkohol kepada seseorang anak di bawah umur 16 tahun, dengan pidana kurungan paling 12 Undang-Undang Republik Indonesia (Penyahlagunaan Ecstacy Miras dan Bahaya Aids pada Kalangan Generasi muda), 2000. Paling lama tiga (3) minggu atau pidana bayar denda paling tinggi seribu lima ratus rupiah pada KUHP 300,537 tadi di jelaskan bahwa, meminum minuman keras pada dasarnya artinya hal yang tidak bisa di perbolehkan dan di larang secara hukum.

Pada Buku Undang-Undang hukum Pidana walaupun tidak di jelaskan secara jelas tentang minuman keras namun keberadaan minuman keras di rakyat

(14)

merupakan hal yang menghambat dan bahkan mengancam ketentraman rakyat.

Terlebih lagi kenyataannya nampak banyak sekali bermacam-macam tindak kejahatan yang di sebabkan karena minuman beralkohol. Larangan meminum minuman keras/beralkohol pada rakyat terdapat dalam bentuk Peraturan, Undang- Undang, Perda, dan lain-lain. Minuman yang beralkohol memang bisa di gunakan untuk banyak sekali ragam tujuan, salah satunya juga di manfaatkan untuk mencampurkan ke dalam bahan makanan juga minuman banyaknya jenis makanan ringan manis, coklat dan cake yang terdapat pada jual bebas pada setiap toko di Eropa yang memakai rum brandy, anggur, juga jenis lainnya. Banyak juga kita jumpai parfum pengharum tubuh yang memakai alkohol. Sayangnya, hal ini kita tidak sadari. Di negara Amerika serta Eropa setiap hari polisi melakukan razia dan melakukan pemeriksaan kadar alkohol pengemudi kendaraan di jalan raya. Ini ialah upaya 29 menekan kecelakaan lalu lintas.Disebabkan, kecelakaan terbesar pada kedua benua tersebut merupakan pengemudi mabuk. Parahnya lagi 25% pecandu alkohol akhirnya meninggal dunia. terdapat di Indonesia yang jadi persoalan besar minuman beralkohol oplosan. Hampir setiap bulan pada beberapa daerah di temukan korban akibat dari meminum-minuman keras oplosan. Tercatat dari daripada ini yang menimbulkan kematian jumlahnya ratusan, bahkan mungkin ribuan, seperti contohnya terjadi di beberapa daerah, terjadi banyaknya orang meninggal karena minuman oplosan selama puluhan tahun. Itu yang terjadi pada indonesia. Minuman tersebut selain berbahaya bagi kesehatan tubuh selain itu bagi anak remaja akan berdampak tidak baik bagi masa sekolah, masa kerjanya Bila ia telah bekerja, kehidupan sosial pada keluarganya dan teman temannya. Intinya, tidak terdapat Undang-Undang yang secara khusus mengatur peredaran serta Penyalahgunaan minuman keras. Persoalan ini hanya di beberapa Pasal dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yaitu Pasal 300, Pasal 492, Pasal 536, Pasal 537, Pasal 538 dan Pasal 539 KUHP yang masing-masing berbunyi dalam

(15)

Pasal 300 yaitu, Diancam menggunakan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

1. Barang siapa yang dengan sengaja menjual atau memberikan minuman yang memabukkan pada seorang yang telah kelihatan mabuk. Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun;

2. Barang siapa dengan sengaja membikin mabuk seseorang anak yang umurnya belum relatif enam belas tahun;

3. Barang siapa dengan kekerasan atau ancamankekerasan memaksaorang minum minuman yang memabukkan.

1) Bila perbuatan mengakibatkan luka-luka berat , yang bersalah diancam menggunakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

2) Bila perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.

3) Bila yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya, bisa dicabut haknya untuk menjalankan pencarian itu. J.M. Van Bemmelen berkata bahwa dengan adanya pidana/hukuman, orang lain di buat untuk takut melakukan kejahatan (pencegahan awam ) dan 31 untuk menjaga agar pelaku menjauhkan diri berasal tindakan yang minum-minuman keras atau mengedarkan minuman keras (pencegahan spesifik).

J.M. Van Bemmelen berkata bahwa terlihat adanya pidana / hukuman, orang lain di buat supaya terciptanya rasa takut melakukan kejahatan (pencegahan umum ) serta untuk menjaga agar pelaku menjauhkan diri dari tindakan disebutkan minum-minuman keras atau mengedarkan minuman keras (pencegahan khusus). Selanjutnya Roeslan Saleh mengemukakan pendapatnya bahwa pidana sangat perlu karena dampak pidana itu bukan semata-mata di tunjukan kepada si penjahat namun untuk mensugesti orang yang tak jahat yaitu masyarakat dan Negara yang menaati adat istiadat dan norma masyarakat .

(16)

Pada pendapatnya di atas, Roeslan menghendaki wajib terdapat reaksi atas pelanggaran-pelanggaran norma yang sudah di lakukan oleh pelaku kejahatan utamanya pengedar minuman keras tak boleh di abaikan begitu saja. Dalam Pasal 492 Kitab Undang- undang Hukum Pidana bahwa pidana yang ada terapkan kepada mereka yang di berikan hukuman sebagaimana yang sudah tercantum pada Pasal di atas, yaitu kurungan selama 6 hari atau denda bagi pelaku penyalahgunaan minuman keras, sudah tidak sesuai dengan keadaan yang ada.

Dengan adanya sanksi yang seperti di atas, maka pelaku penyalagunaan minuman keras tak merasa berat atau tersiksa dengan adanya sanksi di Pasal 492 KUHP. Maka dariapada itu, dalam pembuatan Peraturan Perundang-undangan khususnya Perda, khususnya minuman keras mesti lebih perhatikan hal-hal menjadi berikut :

1. Secara normatif, artian minuman keras sudah dikenal serta di pergunakan pada

2. KUHP, khususnya Pasal 537, Pasal 538, dan Pasal 539. Demikian pula, arti dari minuman keras digunakan pada Undang-Undang nomor 9 Tahun 1960 perihal pokok-pokok kesehatan, khususnya Pasal 11 ayat (2).

Secara semantik, sebutan minuman keras memiliki konotasi lebih menakutkan, berasal dari sebutan minuman beralkohol karena efek minuman keras itu memang sangat mengerikan. ada dua hal yang perlu di perhatikan pada pasal tersebut, yakni :

1. Pidana pelanggaran, dan

2. Usahannya ditutup serta barang buktinya disita untuk dimusnahkan. Tentang sanksi pidananya wajib lebih berat dari lainnya” Usahanya ditutup serta barang buktinya disita untuk dimusnahkan.” pada hal ini, si Produsen yakni kategori “tindak kejahatan”

dengan sanksi yang lebih berat serta usahanya ditutup. Disebabkan oleh perusahaan yang menghasilkan produksi miras termasuk mengoplos itulah sebagai sumber problem mengakibatkan orang atau beberapa bagian masyarakat mengalami ketertarikan serta kecenderungan untuk meminum miras.

(17)

Tidak berlebihan apabila dikatakan, perusahaan miraslah yang jadi penyebab utama rusaknya moral masyarakat, hingga dapat mengancam ketertiban, kenyamanan dan keamanan masyarakat, dan lebih pada itu bisa merendahkan martabat kemanusiaan dan martabat bangsa.

Dalam rangka yangdi sebut terakhir tersebut, Peraturan Daerah tentang embargo Miras wajib benar-benar menjadi instrument aturan yg bisa menyampaikan impak jera, di samping bisa membentenggi rakyat luas asal imbas buruk serta jahat minuman keras.18

Berdasarkan Peraturan Presiden No.74 Tahun 2013, Minuman beralkohol mengandung bahan psikoaktif yang memiliki efek-efek tertentu apabila diminum atau masuk ke dalam tubuh. Dari latar belakang tersebut, pemerintah daerah Kabupaten Banyumas melalui Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pengendalian, Pengawasan, dan Penertiban Peredaran Minuman Beralkohol merancang aturan tentang minuman yang dianggap sebagai salah satu faktor terpecahnya ketertiban umum.

Pada perda tersebut diatur tentang penggolongan serta jenis arak, aliran dan produksi arak, penjualan, perizinan usaha perdagangan, retribusi wilayah, pengendalian pengawasan dan penertiban peredaran arak, pelaporan, pelarangan, sanksi administrasi, penyidikan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup. Diundangkan di tanggal 10 September 2014 serta terdiri dari 35 pasal perda tadi diatas dibuat dengan maksud buat menghindarkan bahaya penyalahgunaan minuman beralkohol di kalangan rakyat di daerah sebab telah menjadi tekad Pemerintah Daerah bahwa walaupun arak termasuk komoditi perdagangan bebas tetapi perlu dibatasi dan disertai dengan perizinan. Sehubungan dengan hal tadi, peranan badan atau lembaga pemerintahan sangat akbar buat secara persuasif bisa memberikan dorongan kepada anggota-anggota masyarakat agar mematuhi dan melaksanakan setiap peraturan atau kebijakan yang sudah diundangkan.

18 http://repositori.uin-alauddin.ac.id/3972/1/RISNAWATI%20DARWIS.pdf diakses pada tanggal 13 Desember 2021, jam 09.24

(18)

Maka Satpol PP selain berfungsi jadi penyelenggara ketentraman dan ketertiban umum, juga berfungsi menjadi penegak perda yang dimaksudkan untuk menegakkan supremasi aturan.

Penegakan menunjuk kepada orang, pelaku, atau lembaga. Dengan demikian, penegak perda dapat diartikan sebagai aparat atau instansi yang bertugas mewakili Pemerintah Daerah setempat untuk memelihara atau mempertahankan aplikasi Peraturan Daerah.

Berdasarkan Pasal 1 nomor 8 UU nomor 12 Tahun 2011 perihal Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, “Peraturan Daerah Kabupaten/Kota merupakan 19 peraturan perundang- undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan dengan Bupati/Walikota”. Peraturan Daerah nomor 15 Tahun 2014 perihal Pengendalian, pengawasan, serta Penertiban peredaran minuman beralkohol adalah Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas pengganti asal perda nomor 13 Tahun 2001 tentang Pengendalian dan pengawasan minuman memabukan yang didesain menggunakan landasan buat menghindarkan bahaya penyalahgunaan arak dikalangan rakyat daerah dimana penyalahgunaan minuman beralkohol tak jarang membawa akibat buruk bagi individu itu sendiri juga bagi lingkungan yang dikhawatirkan Bila dibiarkan secara terus menerus bisa mengancam ketertiban serta ketentraman umum.

Selain petugas Kepolisian Republik Indonesia, pegawai negeri sipil yang diberi kewenangan buat mengawal pelaksanaan Peraturan Daerah ialah Satpol PP. Satpol PP artinya perangkat daerah yang memiliki kewenangan untuk mengawal pelaksanaan perda.

Berdasarkan pasal 148 ayat (1) UU nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah,

“Satpol PP adalah perangkat daerah yang membantu tugas kepala daerah dalam rangka menegakkan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat”.

Tugas serta kewenangan Satpol PP Kabupaten Banyumas diatur pada Perbup No.42 Tahun 2011 mengenai klasifikasi Tugas utama serta Fungsi Satpol PP.19

Dalam penelitian terdahulu dikemukakan bahwa Status Satuan Pol PP dalam penegakan Perda nomor 15 tahun 2014 perihal pengendalian, pengawasan, dan ketertiban

19 http://lib.unnes.ac.id/27636/1/3312412012.pdf diakses pada tanggal 29 Desember 2021 jam 19.59

(19)

peredaran minuman arak ialah menjadi pihak yang berwenang buat melakukan penertiban, penindakan, penyelidikan, serta melakukan tindakan administratif yang dalam menjalankan wewenangnya tersebut, Satpol PP bertangggung jawab pada kepala wilayah pada hal ini Bupati Kabupaten Banyumas melalui sekretaris daerah. Peran petugas Pol PP senidiri pada berjalannya Perda nomor 15 Tahun 2014 merupakan (1) Operasi pengendalian, supervisi, serta penertiban dan (dua) Penyebarluasan produk aturan atau pengenalan produk hukum, Operasi pengendalian, supervisi serta penertiban dilaksanakan Satpol PP dengan melakukan patroli di tiap-tiap titik pada wilayah Kabupaten Banyumas yang disebut rawan serta melakukan penertiban pada daerah-tempat yang sudah dipengaruhi.

Sedangkan penyebar luasan produk hukum atau sosialisasi ialah upaya preventif yang dilakukan oleh Satpol PP yang dilakukan dalam maksudnya untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat pada hal ini pihak-pihak yang memiliki kepentingan pada persoalan minuman beralkohol. Sosialisasi sendiri sebenarnya belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Satpol PP.

Satuan Polisi Pamong Praja mengenai rencan khusus penyelenggaraan sosialiasasi tersebut. Mekanisme dalam tegaknya hukum yang dilaksanakan oleh Pol PP telah sesuai sesperti KUHAP yang diatur dalam Undang-undang nomor 8 Tahun 1981. Pelaksanaan dalam penegakan hukum merupakan Satpol PP melakukan operasi rutin dan atau melakukan operasi sehabis menerima laporan atau pengaduan dari masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kader siaga tramtib. Satpol PP melakukan penyelidikan secara tahapan menggunakan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya melalui pengamatan dan berita ataupun laporan yang didapat berasal dari sumber dan selanjutnya dilakukan proses penyidikan untuk membuktikan perkara yang berlaku Selanjutnya Satpol PP akan melakukan penyelidikan serta penyidikan melalui premanisme juga pulbaket, dan bila yang bersangkutan terrbukti melakukan tindakan pelanggaran maka akan ditangkap serta diproses lebih lanjut. Melaksanakan pengendalian, pengawasan, serta penertiban sirkulasi arak di Kecamatan Wangon

(20)

Kabupaten Banyumas ialah bukan persoalan simpel. Terdapat 2 jenis kendala yang menjadi penghambat kinerja Satpol PP. Kedua kendala tersebut ialah kendala internal dan hambatan eksternal. hambatan internal terdiri asal kekurangan personil dan kurangnya sarana dan prasarana. Sedangkan kendala eksternal terdiri asal banyaknya pelanggar yang tidak mengindahkan teguran ataupun himbauan sebagai akibatnya walaupun telah di razia serta dibina, mereka ditetapkan kembali melakukan pelanggaran yang sama. Dalam aturan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pengendalian, Pengawasan, dan Penertiban Peredaran Minuman Beralkohol pasal 14 bagian kesatu tentang pengendalian dan pengawasan, pihak yang terlibat dalam pengendalian dan pengawasan adalah dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang perdagangan, dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang kesehatan, dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang pariwisata, dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang ketertiban, dan dinas terkait lainnya. Pihak yang terkait di Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas adalah BPMPP Kabupaten Banyumas, Dinkes Kabupaten Banyumas, Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Satpol PP Kabupaten Banyumas, Satpol PP Kecamatan Wangon, PPNS dan dinas terkait lainnya. Sedangkan masyarakat dalam hal ini masyarakat Kabupaten Banyumas khususnya Kecamatan Wangon tidak terlibat secara langsung, mereka berperan sebagai narasumber dalam hal ini memberikan informasi atau memberikan laporan terhadap Satpol PP atau Seksi Tramtibum di wilayah kecamatan. Koordinasi antar instansi dan juga kerjasama masyarakat berjalan dengan baik, hal ini terbukti dalam setiap operasi yang dilakukan oleh Satpol PP dimana informasi yang diterima dari masyarakat diolah Satpol PP kemudian dilakukan proses penyidikan dan penyilidikan hingga kemudian dilakukan operasi atau razia yang dilakukan Satpol PP yang bekerjasama dengan dinas terkait lainnya. Sikap dan tindakan yang terkesan tegas oleh Satpol PP seringkali dianggap berlebihan oleh oknum-oknum tertentu. Satpol PP selalu merazia tempat-tempat penjualan minuman ilegal bahkan bersedia menutup tempat-tempat tersebut berkali–kali

(21)

hingga oknum yang bersangkutan tersebut tidak lagi berjualan. Hal ini dilatarbelakangi karena dalam melaksanakan tugasnya menegakan Peraturan Daerah Satpol PP sebelumnya telah melakukan sosialisasi mengenai Perda tersebut sehingga dalam rangka penertiban Satpol PP selalu mempunyai dasar yang kuat untuk menertibakan pedagang, pengecer atau oknum-oknum yang melakukan pelanggaran dalam hal ini berkaitan dengan minuman beralkohol. Metode penegakan Perda yang digunakan Satpol PP dalam pengawasan, pengendalian, dan penertiban peredaran minuman beralkohol di Kabupaten Banyumas khususnya di Kecamatan Wangon adalah sebagai berikut, (1) tindakan preventif, (2) penindakan dan penegakan, dan (3) tindakan represif. Tindakan preventif dilakukan Satpol PP Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan dinas terkait melalui sosialisasi terhadap Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2014 tentang Pengendalian, Pengawasan, dan Penertiban Peredaran minuman yang beralkohol dan dilakukan kepada pemilik usaha ataupun pemilik tempat hiburan dimana didalam tempat tersebut dijual minuman beralkohol. Sosialisasi dilakukan seperti seminar atau kuliah umum dimana didalam forum tersebut dihadirkan pembicara yang berasal dari berbagai pihak seperti dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, atau dari pihak Satpol PP. Sosialisasi ini bertujuan agar nantinya para pemilik tempat usaha tersebut mengerti dan memahami isi dari Perda Nomor 15 Tahun 2014 Kabupaten Banyumas. Penutupan tempat usaha sebagai upaya penindakan yang dilakukan Satpol PP merupakan suatu proses pengendalian dikarenakan dalam Perda diatas yang intinya adalah bahwa minuman beralkohol adalah minuman yang dapat memabukkan dan bukan merupakan konsumsi umum, oleh karenanya dalam peredarannya perlu dilakukan penertiban yang berkelanjutan.

Hal ini perlu dilakukan untuk menghindarkan bahaya penyalahgunaan minuman Beralkohol di kalangan masyarakat di daerah dan telah menjadi ekad Pemerintah Daerah bahwa walaupun minuman beralkohol termasuk komoditi perdagangan bebas namun

(22)

perlu dibatasi yang disertai dengan perizinan. Pengendalian ataupun penindakan dilakukan oleh Satpol PP tiap kali melakukan operasi rutin ataupun razia rutin.

Banyak cara dilakukan Satpol PP Kabupaten seperti menyita barang dagangan, memanggil pemilik usaha, hingga menutup tempat usaha. Tindakan represif yang dilakukan Satpol PP setelah penyidikan dan penyelidikan yang lebih lanjut adalah upaya Satpol PP untuk menerapkan sanksi hukum. Peran Satpol PP dalam upaya penerapan sanksi hukum disini adalah Satpol PP sebagai pihak yang menjadi petugas dalam penegakkan Perda dengan sebelumnya telah melakukan penyidikan dan penyilidikan serta melakukan pengumpulan barang bukti, Satpol PP berhak untuk melimpahkan berkas-berkas perkara kepada pengadilan sebagai pihak yang berwenang untuk mengadili, tindakan represif yang dilakukan oleh Satpol PP Kabupaten Banyumas adalah tindakan dimana Satpol PP berupaya untuk mengenakan sanksi hukum bagi para pelanggar melalui pelimpahan kasus kepada pengadilan dan tindakan represif tersebut terbilang jauh dari bentuk-bentuk tindakan yang menggunakan kekerasan dan sebagainya.20

D. Tinjauan Umum Tentang Minuman Moke 1. Pengertian Minuman Moke

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat terkenal dengan pesona alamnya yang latif, masyarakat yang ramah, tradisi serta budaya yang unik, dan berbagai akibat kebun seperti kopi, cengkih dan vanili. Selain itu, ternyata masyarakat Flores khususnya di Kabupaten Sikka, memiliki kemampuan khusus yakni membuat minuman tradisional yang disebut moke.

Moke ialah minuman tradisional yang bersumber berasal yang akan terjadi iris buah pohon lontar. Proses penyulingan tradisional itu ialah warisan nenek

20 Satyo, T. (2017). Peran Satpol PP dalam Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2014 tentang, Pengendalian, Pengawasan, Penertiban, dan Peredaran Minuman Beralkohol (Studi Di Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Unnes Political Science Journal, 1(1), 80-89. Retrieved from

https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upsj/article/view/20079

(23)

moyang dan dibuat terus menerus. Bagi masyarakat Sikka, moke itu simbol adat dan persaudaraan pada kehidupan sosial. dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, moke tetap dikonsumsi sebagai sarana pemersatu masyarakat di Kabupaten Sikka.

2. Proses Pembuatan Moke

Berikut termin-tahap proses pembuatan moke secara tradisional. Pertama, mengiris mayang berasal pohon Lontar untuk menghasilkan nira atau moke putih (tua bura pada bahasa Sikka). Moke putih itu adalah akibat irisan dari mayang pohon lontar.

Sari daripada buah pohon lontar tersebut dipotong tipis dengan pisau kecil bernama (ki’at) guna mendapatkan cairannya. Setiap pengambilan air, mayang lontar ini diiris kira-kira 0,5 cm. Tetesan air yang keluar ditampung menggunakan potongan bambu betung sepanjang 1 meter.

Pengambilan dan penampungan air dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Dua kali sehari para petani memanjat pohon lontar buat mengiris serta menampung tetesan-tetesan air lontar.

“Nira atau moke putih itulah yang selanjutnya akan dimasak serta disuling buat menjadi moke,”. kedua, memasak nira atau moke putih untuk menjadi moke. Moke putih yang telah didapatkan dalam jerigen telah di filter kemudian dipanaskan untuk jadi moke. Proses tersebut terdiri atas 2 yaitu pemanasan dan penyulingan.

Proses masak juga proses suling nira itu memakai alat tradisional yang dirangkai menjadi satu kesatuan yaitu tungku api, periuk tanah, serta rangkaian bambu. Diterangkan bahwa, tungku api tersebut befungsi pada kawasan pembakaran nira, periuk tanah berfungsi untuk jadi wadah memasak nira, serta rangkaian bambu sebagai wadah pengembunan. Untuk membentuk rangkaian bambu dibutuhkan jenis bambu betung (bambu berukuran besar ).

(24)

Rangkaian bambu dipasang dari lubang periuk tanah ataupun drom. Lalu, disambung dengan berbagai bambu-bambu yang ukurannya kecil diarahkan menuju kawasan penampungan moke yang dihasilkan. Dan dilanjutkan, sebelum disambung, bambu-bambu tersebut dilubangi supaya mampu mengalirkan penguapan nira yang akan menghasilkan minuman moke.

Semakin panjang rangkaian bambu, semakin bagus juga kualitas mokenya.

Rangkaian bambu itu sudah dipasang mangkat , tidak bisa dibongkar-bongkar. Setelah perlengkapan disiapkan, nira atau moke putih dimasukkan ke dalam drum atau pun periuk tanah buat dimasak. Ujung bawah bambu betung dipasang rapat-rapat pada mulut periuk atau pun drum tersebut. lalu, lanjut dengan pemasakan nira sampai terdapat penguapan. "secara otomatis uap yang didapatkan akan melalui rangkaian bambu yang telah disusun.

pada rangkaian bambu itulah terjadi proses pendinginan dan pengembunan. Dari akibat pengembunan itu terdapat keluar tetesan air pada ujung bambu. Tetesan air itu ditampung dengan wadah yang sudah disiapkan. Hasil tampungan tetesan air inilah yang disebut moke (tua mitan pada bahasa Sikka). buat membentuk moke yang baik, moke yang sudah dihasilkan bisa disuling ulang. Bisa 3 sampak 4 kali. Yang disuling 3-4 kali itu moke angka satu atau biasa disebut bakar menyala (BM).21

3. Pengertian Minuman Moke Menurut Peraturan Bupati Kabupaten Sikka Berdasarkan pasal 9 Perbup Sikka Nomor 42 Tahun 2019 tentang Produksi dan Tata Kelola Moke Khas Kabupaten Sikka yaitu Tata kelola adalah proses produksi, standarisasi, distribusi/penjualan pengendalian dan pengawasan tehadap Tuak dan Moke.22

Pada Pasal 10 Perbup Sikka Nomor 42 Tahun 2019 tentang Produksi dan Tata Kelola Moke Khas Kabupaten Sikka. Tuak adalah Minuman tradisional beralkohol Kabupaten Sikka yang dibuat dari bahan baku lokal secara

21 https://travel.kompas.com/read/2019/05/20/065800727/melihat-proses-pembuatan-moke-secara- tradisional-di-sikka-flores?page=all diakes pada tanggal 08 Oktober 2021 Jam 20.30

22 Lihat Pasal 9 Peraturan Bupati Sikka Nomor 42 Tahun 2019 Tentang Prosuksi Dan Tata Kelola Moke Khas Kabupaten Sikka.

(25)

tradsional dan turun–temurun, dikemas secara sederhana yang mengandung etanol (C2H5OH), diproses dari bahan hasil penyadapan nira lontar atau enau yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun diproses dengan cara mencampur konsetrat dengan ethanol atau dengan cara pengeceran minuman dengan ethanol.23

Berdasarkan pasal 3 tujuan ditetapkan peraturan Bupati ini adalah untuk : a. Menjamin produksi dan/atau penyulingan tuak untuk dijadikan bahan

baku moke.

b. Mengawasi peredaran dan penjualan moke yang langsung dikonsumsi oleh konsumen.

c. Mewujudkan sistem proses produksi, peredaran dan penjualan moke yang terkendali, aman dikonsumsi dan memenuhi standar nasional Indonesia.

d. Mewujudkan perlindungan terhadap masyarakat dari dampak buruk penyalahgunaan tuak dan moke.24

E. Tinjauan Umum Tentang Fungsi Kepolisian

1. Pengertian dan Fungsi Kepolisian secara Umum

Polisi dalam penertiban pengandilan massa, polisi bertanggung jawab atas pengamanan buat menjamin keamanan serta ketertiban umumnya sesuai mekanisme atau peraturan yg berlaku. Untuk itu, polisi harus bisa menanggulangi dan bertanggung jawab penuh melindungi pengunjuk rasa/demonstran serta melindungi kepentingan umum serta sampai di tingkat penyelidikan, penyidikan, mendapatkan laporan dari masyarakat dari

23 Lihat Pasal 10 Peraturan Bupati Sikka Nomor 42 Tahun 2019 Tentang Produksi Dan Tata Kelola Moke Khas Kabupaten Sikka

24 Lihat Pasal 3 Peraturan Bupati Sikka Nomor 42 Tahun 2019 Tentang Produksi Dan Tata Kelola Moke Khas Kabupaten Sikka

(26)

rakyat atas peristiwa/kejadian. Profesionalisme polisi terukur dan mampu mengklaim keamanan, ketertiban rakyat pada melaksanakan aktivitas pengendalian massa/demonstrasi, bisa mengendalikan diri dari kekerasan serta menahan emosional dengan dibekali training, pengenalan menghadapi para pendemo/pengunjuk rasa, pemahaman peraturan perundang-undangan. Sebelum aplikasi serta ketika pelaksanaan dalam pengendalian massa, anggota Dalmas dilengkapi dengan pembuatan planning pengamanan, persiapan anggota serta pemberian arahan pimpinan, dan pengamanan yg mencakup 3 zona yaitu zona hijau, zona kuning, dan zona merah menggunakan perkembangan situasi dari tertib (zona hijau) ke zona kuning ke zona merah secara spontan akan berkelanjutan dan polisi selalu bersikap fleksibel atau preventif.25

Dalam Bab II Tap MPR No. VII/2000 menyebutkan bahwa:

(1) Polri merupakan alat Negara yang berperan dalam memelihara Kamtibmas, menegakkan hukum, memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

(2) Dalam menjalankan perannya, Polri wajib memiliki keahlian dan ketrampilan secara professional. Artinya Polri bukan suatu lembaga / badan non departemen tapi di bawah Presiden dan Presiden sebagai Kepala Negara bukan Kepala Pemerintahan.

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kepolisian, perlu ditata dahulu rumusan tugas pokok, wewenang Kepolisian RI dalam Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peran dan Fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia :

1. Fungsi Kepolisian

Pasal 2 : ” Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan Negara di bidang pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat”. Sedangkan Pasal 3:

25 https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexetsocietatis/article/view/20367/19972 diakses pada tanggal 08 Oktober 2021 Jam 21.31

(27)

“(1) Pengemban fungsi Kepolisian adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh :

a. kepolisian khusus,

b. pegawai negri sipil dan/atau

c. bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.

(2) Pengemban fungsi Kepolisian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a,b, serta c, melaksanakan fungsi Kepolisian sinkron menggunakan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar aturan masing-masing.

2. Tugas pokok Kepolisian

Pasal 13: Tugas pokok Kepolisian Negara Rrepublik Indonesia pada UU No.2 tahun 20002 adalah bagian berikut:

a. Memelihara keamanan serta ketertiban dalam masyarakat b. Menegakkan aturan hukum

c. Menyampaikan perlindungan,pengayoman dan pelayanan untuk masyarakat. “, pembagian terstruktur mengenai tugas Kepolisian di jelaskan lagi apada Pasal 14 UU Kepolisian RI.

2. Kewenangan Kepolisian

Pada Pasal 15 dan 16 UU Kepolisian RI adalah perincian mengenai tugas dan wewenang Kepolisian RI, sedangkan Pasal 18 berisi tentang diskresi Kepolisian yang didasarkan kepada Kode Etik Kepolisian.

Sesuai dengan rumusan fungsi, tugas pokok, tugas dan weweang Polri sebagaimana diatur dalam UU No. 2 tahun 2002, maka dapat dikatakan fungsi utama kepolisian meliputi :

1. Tugas Pembinaan masyarakat (Pre-emtif)

Segala usaha dan aktivitas pelatihan rakyat untuk menaikkan partisipasi masyarakat, terlihatnya hukum serta peraturan perundang-undangan. Tugas Polisi Republik Indonesia pada bidang ini ialah Community Policing, dengan melakukan pendekatan kepada rakyat secara sosial dan korelasi mutualisme,

(28)

maka akan tercapai tujuan asal community policing tersebut. Namun, konsep dari Community Policing itu sendiri ketika ini sudah bias dengan pelaksanaannya pada Polres-polres. Sebenarnya seperti yang disebutkan diatas, dalam mengadakan perbandingan sistem kepolisian Negara luar, selain harus ditinjau berasal administrasi pemerintahannya, sistem kepolisian juga terkait menggunakan karakter sosial masyarakatnya.

Konsep Community Policing sudah ada sinkron karakter serta budaya Indonesia (Jawa) dengan melakukan sistem keamanan lingkungan (siskamling) dalam komunitas-komunitas desa dan kampung, secara bergantian masyarakat merasa bertanggung jawab atas keamanan wilayahnya masing-masing. Hal ini juga ditunjang sang kegiatan babinkamtibmas yang setiap ketika wajib selalu mengawasi daerahnya untuk melaksanakan aktivitas khusus.

2. Tugas di bidang Preventif

Segala usaha dan aktivitas di bidang kepolisian preventif untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, memelihara keselematan orang, benda dan barang termasuk memberikan proteksi dan pertolongan , khususnya mencegah terjadinya pelanggaran aturan. pada melaksanakan tugas ini diperlukan kemampuan professional tekhnik tersendiri seperti patrolil, penjagaan pengawalan serta pengaturan.

3. Tugas di bidang Represif

Di bidang represif terdapat 2 (dua) jenis Peran dan Fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia yaitu represif justisiil dan non justisiil. UU No. 2 tahun 2002 memberi peran Polri untuk melakukan tindakan-tindakan represif non Justisiil terkait dengan Pasal 18 ayat 1 (1), yaitu wewenang ” diskresi kepolisian” pada biasanya menyangkut perkara ringan.

KUHAP memberi berperan Polisi Republik Indonesia pada melaksanakan tugas represif justisil menggunakan sebuah azas legalitas dengan unsur

(29)

Criminal Justice sistem lainnya. Tugas ini memuat substansi perihal cara penyidikan dan penyelidikan sama menggunakan aturan peraturan pidana juga peraturan perundang-undangan lainnya. Apabila terjadi tindak pidana, penyidik melakukan aktivitas berupa:

1. Mencari dan menemukan suatu kejadian biasa dianggap sebagai tindak pidana;

2. Ketentuan bisa atau tidaknya dilakukan penyidikan;

3. Mencari juga mengumpulkan bukti;

4. Terlihatnya bentuk terperinci tindak pidana yang sedang terjadi;

5. Menemukan tersangka pelaku tindak pidana.26 1. Pengertian dan Fungsi Kepolisian Menurut Undang-undang

Penegakkan hukum di manapun di seluruh dunia membutuhkan Polisi untuk mewakili negara dalam menerapkan dan menjaga penerapan hukum pada seluruh sektor kehidupan masyarakat.27

Berdasarkan Undang-Undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa (1) Polri merupakan alat Negara yang berperan dalam pemeliharaan kamtibmas, gakkum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya Kamdagri. 28

Menurut Pasal 1 angka 1 KUHP Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi weweang khusu oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.

Wewenang penyidik adalah :

1. Menerima laporan/pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana.

2. Melakukan tindakan pertama di TKP (tempat kejadian perkara)

26 https://humas.polri.go.id/profil/tugas-fungsi/ diakses pada tanggal 08 Oktober 2021 jam 21.39

27 https://ejournal2.undip.ac.id diakses Pada tanggal 09 Oktober 2021 jam 21.00

28 https://humas.polri.go.id/profil/tugas-fungsi/ diakses pada tanggal 09 Oktober 2021 jam 21.02

(30)

3. Memeriksa seseorang yang dicurigai.

4. Melakukan penangkapan, penahanan penggeledahan, dan penyitaan.

5. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.

6. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang

7. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.

8. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.

9. Mengadakan penghentian penyidikan.

10. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Adanya institusi Polisi Republik Indonesia dari awal berdirinya didasari oleh kebutuhan masyarakat akan ketertiban, keamanan serta kedamaian ditengah kehidupan masyarakat. Hal ini lalu mengalami ekspansi di mana kehadiran Institusi Polisi Republik Indonesia sebagai pasukan negara dan berada dalam posisi terdepan juga sistem peradilan pidana pada Indonesia. Etika profesi Kepolisian merupakan kristalisasi nilai-nilai juga dilandasi dan dijiwai dari Pancasila serta mencerminkan jati diri setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan wujud komitmen moral, selanjutnya disusun kedalam Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ketentuan yang berkaitan sebagai Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, sesuai menggunakan amanat Undang-undang No. 2 Tahun 2002 yang ada di Pasal 34 serta 35 lalu dalam wujudkan melalui Peraturan Kepala Kepolisian No. 14 Tahun 2011 perihal Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kode etik ini adalah panduan sikap dan moral bagi anggota Polisi Republik Indonesia menjadi upaya pemulihan terhadap profesi Kepolisian, yang berfungsi jadi pembimbing dedikasi, pelayanan, pelatihan, perlindungan dalam segala hal, pengayoman, pencegahan serta penindakan

(31)

terhadap suatu tindak pidana serta penyalahgunaan wewenang pada kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.29

Tugas utama yang diemban pada institusi Polisi Republik Indonesia merupakan sebagaimana yang telah diatur didalam Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002, yaitu :

1. Memelihara keamanan serta ketertiban masyarakat luas 2. Menegakkan hukum; juga

3. Melakukan sebuah perlindungan, pengayoman, serta pelayanan untuk masyarakat Ketiga tugas penting tersebut tak bersifat hirarki melainkan punya posisi yang sama pentingnya. Substansi tugas Polisi Republik Indonesia agar memelihara keamanan serta ketertiban bersumber daripada kewajiban Polisi Republik Indonesia agar terdapat jaminan keamanan umum . Substansi tugas utama juga menegakkan aturan bersumber daripada ketentuan peraturan perundang-undangan yang memuat tugas Polisi Republik Indonesia pada kaitannya digunakan pada peradilan pidana.

4. Tugas Polisi Republik Indonesia melakukan perlindungan, pengayoman serta pelayanan pada masyarakat bersumber dari kedudukan serta fungsi kepolisian jadi bagian yang berasal dariapada fungsi pemerintahan negara yang dalam hakekatnya bersifat pelayanan publik (public service) juga termasuk kewajiban umumnya kepolisian.

Diskresi artinya salah satu wewenang Polisi didalam menjalankan tugasnya. Kata dari diskresi dikenal didalam Black Law Dictionary juga merupakan asal di bahasa Belanda “Discretionair” yang berarti kebijaksanaan didalam halnya menetapkan sesuatu tindakan yang tepat

29 Brigjen Pol. (Purn.) Dr. Suharto, S.H., M.Hum. Dr. Jonaedi Efendi, S.H.I., M.H “ Panduan Praktis Bila Anda Menghadapi Perkara Pidana Mulai Proses Penyelidikan Hingga Persidangan”, hal 43

(32)

dalam ketentuan-ketentuan peraturan undang-undangan atau hukum yang berlaku tetapi atas dasar kebijaksanaan, pertimbangan atau keadilan.30

30 Puspa, Yan Pramadya. (1991). Kamus Hukum : Bahasa Belanda, Indonesia, Inggris. Semarang: Aneka. h.

91

Referensi

Dokumen terkait

Dalam jangka pendek, jika pemberian otonomi tidak diikuti dengan langkah lanjutan yang bersifat konstruktif dari pemerintah pusat maupun daerah, maka implikasinya terhadap

No Kota-Drop Poin JNE Lokasi Pengambilan Kartu dan Hadiah No Telepon.. 1

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkah dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun Buku Panduan dan

4.1.1 Pada peringkat akhir pemerintahan Bani Umaiyah, golongan mawali (orang Islam bukan Arab seperti Parsi dan Barbar) merasa didiskriminasikan (tidak dapat jawatan dan

Tujuan audit operasional secara umum adalah untuk mengetahui apakah prestasi manajemen pada setiap rumah sakit telah sesuai dengan kebijakan ketentuan dan

Variabel intervening dalam penelitian ini adalah Return On Equity (ROE) yang merupakan besaran nilai ROE yang dimiliki oleh perusahaan manufaktur yang terdaftar

Penyusutan BMN berupa Penyusutan Aset Tetap menurut Permenkeu 1/PMK.06/2013 adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu

Bedanya dengan gerhana bulan penumbral adalah bahwa saat bodi bulan masuk dalam bayangan semu bumi (penumbra) piringan bulan terlihat dari muka bumi utuh dan bulat, hanya saja