J-LAW, 1 (1) 2022 JOURNAL OF LAW (J-LAW)
http://journal.staipati.ac.id/index.php/j-law
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau
dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus
Muhadirin1 STAI Pati, Indonesia
Abstrak
Beberapa perusahaan yang besar dalam menjalankan kegiatan ekonomi selalu berorientasi pada peningkatan keuntungan tanpa memperhatikan dampak lingkungan sekitar akibat dari kegiatan ekonomi yang dijalankan. Dimana perusahaan yang baik adalah perusahaan yang patuh terhadap undang-undang dari pemerintah seperti menjalankan tanggungjawab sosial perusahaan secara konsisten dan berkelanjutan. Penelitian ini membahas tentang penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) penelitian yang dilakukan lingkungan tertentu yakni di PT.Djarum Kudus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara langsung, kemudian merekam dialog dari subyek penelitian yaitu Public Affair Officer yang mempunyai wewenang dalam menerapkan Corporate Social Responsibility dan para mahasiswa penerima beasiswa dari PT Djarum serta dokumentasi. Dalam penelitian ini, data peneliti dilakukan dengan cara trianggulasi. Proses analisis dilakukan secara bersamaan dengan pengumpulan data melalui beberapa tahapan yaitu Reduksi data, Penyajian data, kesimpulan. Teknik analisis
menggunakan teknik domain, teknis analisis taksotonik, teknik analisis kompensional, teknik analisis tema cultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mampu membuka peluang usaha dari pengetahuan yang didapat baik secara hardskill maupun softskill. Simpulan menunjukkan Perjanjian kerjasama yang diadakan dalam kegiatan kewirausahaan yakni berbentuk waralaba (franchise). Waralaba merupakan aplikasi perpaduan teori akad syirkah ‘inan dan keuntungan diperoleh dengan sistem mudharabah. Akad syirkah ‘inan yang dijalankan mendekati dengan akad ijarah, Kontrak waralaba, dimana pihak pemberi waralaba memberikan izin (Lisensi).
Kata Kunci: CSR Djarum; Kewirausahaan; Hukum Ekonomi Syariah.
Abstract
Some large companies in carrying out economic activities are always oriented towards increasing profits without paying attention to the environmental impact of the economic activities carried out. Where a good company is a company that complies with laws from the government such as carrying out corporate social responsibility consistently and sustainably. This study discusses the implementation of Djarum's Corporate Social Responsibility (CSR) through Entrepreneurial Activities in terms of Sharia Economic Law on College Students in Kudus. This study aims to describe the implementation of Djarum's Corporate Social Responsibility (CSR) through Entrepreneurial Activities in terms of Islamic Economic Law on College Students in Kudus. This study aims to describe the implementation of Djarum's Corporate Social Responsibility (CSR) through Entrepreneurial Activities in terms of Islamic Economic Law on College Students in Kudus. This study uses a qualitative approach. This study uses a type of field research (field research) research conducted in a certain environment, namely at PT. Djarum Kudus. Data was collected through observation, direct interviews, then recording dialogues from the research subjects, namely the Public Affair Officer who has the authority to implement Corporate Social Responsibility and scholarship recipients from PT Djarum as well as documentation.
In this study, the research data was carried out by means of triangulation. The analysis process is carried out simultaneously with data collection through several stages, namely data reduction, data presentation, and conclusions. The analysis technique uses domain techniques, taxotonic analysis techniques, compensional analysis techniques, cultural themes analysis techniques. The
results showed that students were able to open up business opportunities from the knowledge gained both hard skills and soft skills. The conclusion shows that the cooperation agreement held in entrepreneurial activities is in the form of a franchise. Franchising is the application of a combination of syirkah 'inan contract theory and profits obtained by the mudharabah system. The syirkah 'inan contract which is executed is close to the ijarah contract, a franchise contract, where the franchisor grants a permit (License).
Keywords: Djarum CSR, Entrepreneurship, Sharia Economic Law.
PENDAHULUAN
Secara umumnya perusahaan didirikan dengan tujuan untuk mencapai laba atau keuntungan yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan nilai tambah, agar tujuan perusahaan tercapai. Jika hal itu tidak dapat dikendalikan, kemungkinan dapat muncul dampak-dampak negatif yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat. Dampak-dampak negatif tersebut antara lain yang merugikan lingkungan sekitar dan sukar dikendalikan, seperti: polusi udara, polusi suara, polusi tanah, polusi air, dan lain sebagainya.
Begitu besarnya dampak negatif dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat pun menginginkan agar dampak negatif ini dikendalikan, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan tidak semakin besar. Dampak negatif tersebut dapat menimbulkan social cost atau biaya-biaya sosial. Bila dianalisa keberadaan perusahaan sebenarnya selain menimbulkan social cost, juga dapat menimbulkan social benefit. Social benefit merupakan kontribusi positif atau manfaat keberadaan perusahaan kepada masyarakat. Wujud social benefit perusahaan dapat diwujudkan dalam beberapa kegiatan fisik maupun non fisik. Social benefit muncul sebagai wujud tanggungjawab sosial perusahaan (coorporate social responsibility atau CSR). Bermacam-macam cara perusahaan mewujudkan tanggungjawab sosial pada lingkungan, antara lain yaitu CSR Djarum menerapkan kegiatan kewirausahaan.
Di dalam Hukum ekonomi syariah mengandung etika Islam untuk mashlahah pengembangan kerangka konseptual kewirausahaan berkelanjutan. Hal ini memberikan perspektif baru untuk aktivitas bisnis yang bertujuan untuk perwujudan kesejahteraan melalui kewirausahaan.
Praktik bisnis dalam kegiatan kewirausahaan yang sesuai dengan syari’ah, untuk meningkatkan motivasi berwirausaha secara individu, menjalankan aktivitas bisnis sebagai ibadah, serta jaminan keberlanjutan kewirausahaan itu sendiri dalam memberikan peluang dan kesempatan kerja bagi setiap orang dan kontribusi kewirausahaan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Didalam praktek, tentunya terdapat transaksi dilandasi oleh aturan hukum-hukum ekonomi syariah yang mengatur hubungan antara manusia dengan sesama manusia berupa perjanjian atau kontrak, berkaitan dengan hubungan manusia dengan objek atau benda ekonomi dan berkaitan dengan ketentuan hokum terhadap benda yang menjadi objek kegiatan ekonomi.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas Maka rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus?; (2) Bagaimana penerapan hukum ekonomi syariah dari kegiatan kewirausahaan pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus?. Dari sisi studi Islam, kegiatan kewirausahaan dilakukan analisis dari perspektif hukum ekonomi syariah, menurut Usmani (1999), penulis bahri dalam jurnal Kewirausahaan Islam: Penerapan Konsep Berwirausaha dan Bertransaksi Syariah dengan Metode Dimensi Vertikal (Hablumminallah) dan Dimensi Horizontal (Hablumminannas), menjelaskan jual beli atau Bai’ Al-Murabahah merupakan persetujuan saling mengikat antara penjual (pihak yang menyerahkan barang) dan pembeli (pihak yang membayar barang yang dijual) yang dalam Islam berarti jual beli ketika penjual memberitahukan kepada pembeli biaya perolehan dan keuntungan yang diinginkannya. Dalam literatur transaksi ekonomi syariah yang di hallalkan dalam islam adalah menggunakan akad Bai’ Al Murabahah.
Melihat penelitian sebelumnya bahwa terdapat gap research pada CSR Djarum berkaitan dengan aktivitas kewirausahaan menggunakan akad mudharabah atau bagi hasil. Subtansi akad yang mendekati dengan akad ijarah. Dari gap research tersebut, peneliti memberikan temuan baru dengan transaksi akad yang dijalankan dari penelitian tentang kegiatan kewirausahaan. Status penelitian sebelumnya dimana peneliti memberikan dukungan terhadap penerapan kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus.
Dalam hal ini bisnis waralaba tergolong syirkah inan, yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih dalam permodalan untuk melakukan suatu usaha bersama dengan cara membagi untung atau rugi sesuai dengan
jumlah modal masing-masing dan keuntungan dengan sistem mudharabah atau bagi hasil. Subtansi akad yang mendekati dengan akad ijarah, yaitu perpindahan kepemilikan manfaat Hak Kekayaan Intelektual dari pemberi waralaba kepada penerima waralaba dengan suatu imbalan dalam batas waktu tertentu. Obyek kontrak yang berupa Hak Kekayaan Intelektual, kalau dilihat dari sudut hukum Islam menyangkut masalah hak cipta dalam sistem waralaba yang meliputi merek dagang atau jasa, logo, sistem operasional bisnis yang terpadu yang menjadi ciri khas usaha pemberi waralaba. Dalam waralaba diperlukan adanya prinsip keterbukaan dan kehati-hatian. Hal ini sangat sesuai dengan rukun dan syarat akad menurut hukum Islam yaitu adanya subyek perikatan (al-‘aqidain), obyek perikatan (mahallul 'Aqd), tujuan perikatan (maudhu’ul ‘aqd) dan ijab dan kabul (sighat al-‘aqd), serta larangan transaksi gharar (ketidakjelasan).
METODE
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus. Kegiatan kewirausahaan sebagai bagian aktivitas manusia untuk tumbuh dan berkembang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maka dibutuhkan komunikasi dan interaksi terhadap sesama. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitaif. Dan dalam penelitian yang akan diamati adalah penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Djarum Melalui Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kudus.
Dimana jenis penelitiannya menggunakan jenis penelitian lapangan (field research). Dalam penelitian ini, data peneliti dilakukan dengan cara trianggulasi (gabungan). Data yang dihasilkan bersifat deskriptif, dan analisa data kualitatif bersifat induktif. Hasil penelitian kualitatif didapatkan dari lapangan kemudian peneliti menganalisa kemudian mengkorelasiakan dengan teori yang telah diungkapkan sebagai dasar acuan dalam penelitian.
Lokasi penelitian perusahaan Djarum di Kudus, Jalan Jendral Ahmad Yani 28 Kudus, mulai bulan September 2021 sampai dengan November 2021. Pelaksanaan penelitian dilakukan dari senin sampai kamis, mulai jam 08.00 sampai dengan jam 13.00. Dan untuk hari jumat mulai dari jam 08.00 sampai dengan jam 11.00,. Jumlah informan penelitian ini didasarkan pada kecukupan data atau informasi yang dibutuhkan. Karena itulah jumlah informan dalam penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow- ball. Subyek penelitian ini pihak Public Affair Officer yang mempunyai
wewenang dalam menerapkan Corporate Social Responsibility dan mahasiswa penerima beasiswa dari PT Djarum yang berjumlah 15 (lima belas) yang tergabung dari perguruan tinggi negeri maupun swasta dikudus.
Adapun teknik pengumpulan data, menggunakan sebagai berikut: (1) metode observasi partisipasi pasif (passive participation). Teknik yang dilakukan secara langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang diselidiki. (2) Metode Wawancara dilakukan secara mendalam (indepth interview) untuk memperoleh informasi atau data yang tepat dan obyektif. (3) Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen.
Dalan penelitian ini, Uji kredibilitas data peneliti dilakukan dengan cara trianggulasi, dengan perpanjangan pengamatan. Dalam hal ini, Peneliti menggunakan triangulasi sumber yang berarti untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Dari data tersebut yang didapatkan dari lapangan kemudian peneliti menganalisa kemudian mengkorelasikan dengan teori yang telah diungkapkan sebagai dasar acuan dalam penelitian. Adapun analisa data meliputi: (1) data reduction (Reduksi data) (2) data display (Penyajian data), (3) verification (kesimpulan). Tahapan- tahapan yang dilakukan didalam teknik analisis data adalah tahap pertama teknik analisis domain, tahap kedua adalah teknis analisis taksotonik, tahap ketiga menggunakan teknik analisis kompensional, Tahap keempat menggunakan teknik analisis tema cultural.
HASIL & PEMBAHASAN
a. Sejarah berdirinya PT.Djarum di Kudus
PT.Djarum didirikan pada tanggal 21 April 1951 oleh Oei Wie Gwan (Alm). Mulanya PT.Djarum merupakan perusahaan perseorangan, namun pada tahun 1983 statusnya berubah menjadi perseroan terbatas (PT). Saat pertama kali Oei Wie Gwan memulai uasahanya dibidang produksi Mercon leeuw (leo) yang diproduksinya cukup dikenal saat itu, sehingga mampu menguasai pasar jawa. Pria kelahiran rembang tahun 1903 ini memiliki Ho Khie dalam industri yang berciri perishalle (mudah musnah, sekali dibakar-musnah) seperti terbukti dalam industri merconnya. Namun, musibah memang datang tiada pernah terduga. Usaha yang telah dirintis ditahun 1929 ini meledak karena kecelakaan pada tahun 1939. Tiga tahun kemudian
tahun 1942, pabrik kembali meledak berawal dari “kecerobohan” para perampok yang saat itu berupaya merampok. Musibah yang terjadi dan masuknya zaman penjajahan jepang membuat Oei Wie Gwan akhirnya memilih jalan rezeki lain.
Perusahaan yang berdiri 21 April 1951 dikota Kudus yang didirikan oleh Oei Wie Gwan dengan nama pertama kali yang dipasarkan adalah kretek ini. Singkat cerita Oei Wie Gwan meninggal tidak lama setelah pabriknya mampir musnah terbakar pada tahun 1963. Siapa yang menyangka pabrik yang sudah hampir tidak terlihat sebuah pabrik lagi inimenjadi sukses dan tetap eksis sampai sekarang ini. Dimulailah langkah Djarum sejalan dengan prinsip menggeluti industri penghasil produk perishable, Oei Wie Gwan memutuskan untuk membuka perusahaan rokok. Kemudian diberilah merek rokok
“Djarum” berikut perizinannya sah dan merek “Djarum” itu diinspirasikan dari jarum pemutaran gramafon. Pada tahun 1951 dan mengubah namanya menjadi Djarum sebagai perusahaan perseorangan. Lalu dari status perusahaan perseorangan berubah menjadi PT Djarum pada tahun 1983. Oei mulai memasarkan kretek dengan merek "Djarum" yang ternyata sukses di pasaran.
b. Perkembangan CSR Djarum di Kudus
Kata CSR berarti tanggung jawab sosial perusahaan dan ini merupakan hubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan”, di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan factor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang. Untuk itu pengertian CSR menjadi sangat beragam. Intinya, CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, tetapi untuk pembangunan sosial ekonomi kawasan secara holistik, melembaga, dan berkelanjutan.
Gambar 1.1
Kegiatan wawancara dengan Public Affair Officer
Keterangan: Sumber diperoleh langsung dari informan di kantor PT.Djarum Kudus
Pada hakekatnya tanggung jawab ekonomi merupakan tanggung jawab utama perusahaan dari sisi prinsip bisnis yaitu mencapai laba. Karena dengan dicapainya kondisi laba, perusahaan dapat menjalankan tanggungjawabnya agar dapat menghidupi karyawan, membayar pajak, membayar tanggungan kepada debitur dan kewajiban perusahaan yang lainnya. Bila kondisi perusahaan tidak mencapai laba, berarti perusahaan tidak akan eksis, tidak dapat memberi kontribusi apapun terhadap masyarakat. Artinya, CSR dapat dilaksanakan perusahaan jika perusahaan berhasil melaksanakan tanggungjawab ekonomi. Untuk itu dapat dikatakan bahwa CSR merupakan motivator perusahaan untuk selalu dapat mencapai kondisi makmur secara berkelanjutan.
Apabila di cari akar teoritisnya, konsep social responsibility mendapatkan pijakan yang relatif kuat karena perkembangan (Jonshon dan Milton Friedman, 2003:14) yakni:
1. Pemerintah tidak selamanya bisa menjalankan kesejahteraan masyarakat secara memuaskan;
2. Perusahaan memberikan kontribusi pajak kepada pemerintah untuk pembangunan nasional.
Dari teori mengenai konsep CSR tersebut maka penerapan CSR ada empat model (Zaim Saidi dan Hamid Abidin, 2009: 64) yaitu:
1. Keterlibatan langsung;
Perusahaan menjalankan CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, perusahaan bisa menugaskan salah satu jabatan seniornya, seperti: corporate secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari tugas divisi human resource development atau public relations.
2. Melalui organisasi sosial perusahaan;
CSR bisa pula dilaksanakan oleh yayasan atau organisasi sosial milik perusahaan. Perusahaan mendirikan yayasan atau organisasi sosial sendiri dibawah perusahaan yang dibentuk terpisah dari organisasi induk perusahaan. Namun tetap harus bertanggung jawab ke dewan direksi.
3. Bermitra dengan pihak lain;
Sebagian besar perusahaan di Indonesia menjalankan CSR melalui kerjasama atau bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, LSM, atau lembaga konsultan baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosial.
4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium;
Beberapa perusahaan bergabung dalam sebuah konsorsium untuk bersama-sama menjalankan CSR. Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.
Hasil survey penelitian yang dilakukan oleh mereka menunjukkan bahwa model yang paling banyak digunakan perusahaan sebagai suatu sarana penerapan CSR adalah dengan bermitra dengan pihak lain atau perguruan tinggi. Salah satunya adalah PT.Djarum yang bermitra dengan lembaga pendidikan (Universitas). PT.Djarum menempatkan tanggung jawab sosial sebagai nilai penting dalam membangun karakter atau budaya perusahaan. Tanggung jawab sosial diantaranya dilaksanakan dalam bentuk Djarum Corporate Social Responsibility.
Dalam kegiatan CSR, PT.Djarum menunjukkan rasa kepeduliannya kepada dunia pendidikan di Indonesia dimulai sejak tahun 1984. Kepedulian PT.Djarum terhadap dunia pendidikan Indonesia dilatarbelakangi oleh kurang minatnya melanjutkan ke jenjang sarjana (S1), dimana pada tahun 1980 angkatan kerja di Indonesia rata-rata hanya mengenyam pendidikan empat tahun.
Dengan kondisi seperti itu, SDM di Indonesia tidak bisa bersaing. Pada tahun 1984 banyak mahasiswa yang cuti atau tidak kuliah dikarenakan alasan kesulitan ekonomi padahal prestasinya tinggi.
PT.Djarum mengawali program pemberian beasiswa dengan memberi uang semester. Mahasiswa penerima beasiswa dari PT Djarum dinamakan beswan djarum. Tahapan penerimaan beasiswa dari PT Djarum terdiri dari dua langkah utama, yaitu:
1. Sosialisasi; PT.Djarum di Kudus mensosialisasikan lewat pihak universitas atau perguruan tinggi akan adanya program CSR djarum bakti untuk negeri, yang akan diikuti mahasiswa dan siapapun yang berhak menerima program.
2. Pelaksanaan; program CSR diikuti oleh beswan djarum. Beswan djarum terdiri dari sekumpulan mahasiswa dari universitas yang berbeda dengan jurusan perkuliahan yang berbeda. Program CSR dilaksanakan dikantor pertemuan beswan djarum yakni dikantor PT.Djarum di Kudus.
Gambar: 1.2
Kegiatan wawancara dengan mahasiswa penerima beasiswa dari PT.Djarum Kudus
Keterangan: Sumber diperoleh langsung dari informan di kantor pertemuan Beswan Djarum
PT.Djarum menyadari, pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bangsa dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Sejak tahun 1984 melalui program CSR, Djarum memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswi srata satu (S1) yang berprestasi tinggi dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.
c Penerapan Kegiatan Kewirausahaan
CSR Djarum memberikan kesempatan kepada para Mahasiswa (penerima beasiswa dari PT. Djarum) yang memilih karirnya untuk berwirausaha, supaya dapat berlatih dan mempersiapkan diri untuk menjadi wirausaha yang baik dengan memberikan bekal pelatihan yang kelak sangat penting ketika akan memasuki dunia wirausaha yang sesungguhnya. Program penyiapan pelatihan kewirausahaan dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan:
a. Pelatihan;
Pelatihan ini diarahkan agar setiap peserta mendapatkan motivasi yang kuat untuk menjadi wirausaha dan dapat memahami konsep-
konsep kewirausahaan dengan segala macam permasalahan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu dalam latihan ini para pelaku wirausaha dihadirkan untuk memberikan ceramah mengenai filosofi usahanya serta kiat-kiatnya untuk mencapai sukses usahanya, sedangkan keterampilan dan penguasaan mengenai teknis manajemen usaha dapat diberikan oleh tenaga profesional di bidangnya.
b Vactory visit;
Pengenalan area dari seluruh perusahaan dan anak perusahaan.
Dimana para mahasiswa (penerima beasiswa) diajak untuk berkeliling mengenal jenis usaha yang merupakan bagian dari jaringan yang dimiliki perusahaan djarum agar lebih mengenal dan memahami berbagai jenis industri secara luas seperti industri manufaktur, property, keuangan, jasa pariwisata dan perhotelan, maupun UMKM.
c Pemagangan;
Pemagangan disini bukanlah pemagangan seperti yang banyak dilakukan dalam kegiatan selama ini dimana peserta diberi kesempatan bekerja diperusahaan dengan tujuan mempraktikkan pengetahuan atau keterampilan teknik yang diperoleh di bangku kuliah, akan tetapi pemagangan di sini lebih diarahkan untuk membentuk visi dan menyerap budaya kerja yang lebih profesional, sehubungan dengan pilihan wirausaha yang kelak akan dipilihnya Misalnya seseorang yang memilih dan menentukan usahanya untuk membuka dunia usaha restoran, dunia property, dunia usaha perhotelan, dunia usaha perbankkan, maka peserta tersebut harus magang pada tempat yang sesuai dengan pilihannnya. Tujuan dari pemagangan ini supaya peserta memperoleh kesempatan untuk melakukan pendalaman usaha sehingga dapat memiliki gambaran yang nyata tentang usahanya melalui pengalaman langsung, sehingga ketika kelak para mahasiswa membuka usahanya dapat dihindari kerugian yang mengakibatkan jatuh usahanya.
d Penyusunan Proposal;
Setelah mahasiwa memperoleh motivasi yang kuat, pengetahuan dan pengalaman dari victory visit tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat menyusun suatu proposal usaha. Proposal usaha ini mencerminkan suatu perhitungan-perhitungan yang riil serta prospek pengembangan usahanya. Proposal ini sebaiknya dirancang dan dievaluasi oleh pihak pembimbing alumni
mahasiwa (penerima beasiswa) yang sudah memiliki usaha dibidangnya.
e Pendampingan;
Tahap ini diperlukan agar pelaku usaha dapat mengembangkan usahanya secara terkendali sesuai dengan proposal yang ditetapkan. Oleh karena itu diperlukan pendamping yang profesional, yang dapat dilakukan oleh mitra kerjanya, baik lembaga keuangan maupun mitra bisnisnya atau lembaga-lembaga pengembangan usaha skala kecil dan menengah (UMKM).
Berkaitan dengan proses tersebut, Salah satu tempat yang dijadikan peminat para mahaiswa untuk mengasah keterampilan dalam berwirausaha adalah UMKM pembuatan baju batik, baju kegiatan sosial dan pembuatan kopi (mulai dari biji kopi dari, memproses biji kopi, sampai pengemasan). Ini merupakan bentuk aktivitas CSR melalui persuasive communications dalam rangka meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan isu sosial, budaya dan lingkungan yang sedang berkembang. CSR Djarum yang merupakan bentuk aktivitas sosial yang diberikan perusahaan dalam rangka memberikan dukungan bagi mahasiswa. Dukungan tersebut dapat diberikan berupa keahlian, talenta, ide, serta fasilitas (Community volunteering) (Philiph Kottler, 2005: 47).
CSR Djarum merupakan kegiatan yang diberikan secara langsung dari perusahaan (Corporate philanthropy) kepada para mahasiswa (penerima beasiswa) secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat (Philiph Kottler, 2005: 49) antara lain:
1) Manfaat bagi mahasiswa (penerima beasiswa)
a) Mendapatkan keterampilan manajamen dan pelatihan kewirausahaan dan kreatif dalam memecahkan masalah;
b) Memperoleh pengalaman dari perusahaan besar sehingga mampu mengelola organisasi sendiri seperti menjalankan bisnis atau usaha mandiri.
2) Manfaat bagi perusahaan
a) Selain meningkatkan penjualan, memperkuat brand positiong, menurunkan biaya operasional, meningkatkan investor tetapi CSR Djarum juga memberikan bantuan praktis pada mahasiswa untuk berwirausaha sehingga secara tidak langsung membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran;
b) Terjalinnya mitra kerja dari hasil pembinaan perusahaan agar bisa saling berkesinambungan.
Dalam kegiatan kewirausahaan kiranya perlu adanya keberlangsungan dari para alumni mahasiwa (penerima beasiswa) untuk ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalm mengambil kebijakan langsung dari pelatihan kewirausahaan agar terjalin silaturahhim antar lintas alumni mahasiswa (penerima beasiswa) dan bisa membentuk komunitas wirausaha satu dengan yang lain.
d Kegiatan Kewirausahaan ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah
Dari berbagai jenis usaha yang telah berhasil didirikan olah mahasiswa setelah memperoleh dari pengalaman dalam kegiatan kewirausahaan yang diberikan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial, sehingga mahasiswa mampu mendirikan peluang usaha dan mampu menjalin hubungan kerja sama antar mahasiswa satu dengan yang lain serta kerja sama mahasiwa lintas perguruan tinggi yang tergabung dalam kelompok usaha. Perjanjian kerjasama yang diadakan dalam kegiatan kewirausahaan yakni berbentuk waralaba (franchise). Perjanjian itu sebenarnya merupakan pengembangan dari bentuk kerja sama (syarikah). Hal ini disebabkan oleh karena dengan adanya perjanjian franchise itu, secara otomatis antara franchisor dengan franchisee membentuk hubungan kerja sama untuk waktu tertentu (sesuai dengan perjanjian).
Menurut Mardani (2013:225) bisnis waralaba tergolong syirkah inan, yaitu kerja sama antara dua orang atau lebih dalam permodalan untuk melakukan suatu usaha bersama dengan cara membagi untung atau rugi sesuai dengan jumlah modal masingmasing dan keuntungan dengan sistem mudharabah atau bagi hasil. Kerja sama tersebut dimaksud untuk memperoleh keuntungan bagi kedua belah pihak.
Masing-masing mahasiswa ada yang membuka usaha pembuatan baju untuk kegiatan sosial, usaha pembuat baju batik dan sebagainya.
Obyek kontrak kalau dilihat dari sudut hukum Islam menyangkut masalah sistem waralaba yang meliputi merek dagang logo, sistem operasional bisnis yang terpadu yang menjadi ciri khas usaha pemberi waralaba. Dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut: Pertama, perjanjian dalam bisnis. Dalam waralaba diperlukan adanya prinsip keterbukaan dan kehati-hatian. Hal ini sangat sesuai dengan rukun dan syarat akad menurut hukum Islam yaitu adanya subyek perikatan (al-
‘aqidain), obyek perikatan (Mahallul 'Aqd), tujuan perikatan
(maudhu’ul ‘aqd) dan ijab dan kabul (sighat al-‘aqd), serta larangan transaksi gharar (ketidakjelasan).
Pada dasarnya, sistem franchise (waralaba) merupakan sistem yang baik untuk belajar bagi franchisee, jika suatu saat berhasil dapat melepaskan diri dari franchisor karena biaya yang dibayar cukup mahal dan selanjutnya dapat mendirikan usaha sendiri atau bahkan membangun bisnis franchise baru yang Islami. Untuk menciptakan sistem bisnis waralaba yang islami, menurut Adrian Sutedi. (2008:42) Indonesia diperlukan sistem nilai syariah sebagai filter moral bisnis yang bertujuan untuk menghindari berbagai penyimpangan moral bisnis seperti: Maysir, Asusila, Gharar, Haram, Riba, Ihtikar, Berbahaya.
Waralaba merupakan salah satu dari hak atas kekayaan intelektual. Menurut Adrian Sutedi. (2008: 43) dalam hukum syariah, hal tersebut juga ditegaskan dalam Keputtusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor I/Munas VII/UI/15/2005 tentang Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Landasan hukum HKI diisyaratkan dalam QS An-Nisa: 29
اَهُّيَأَٰٓ َي َنيِذَّلٱ ِب مُكَنۡيَب مُكَل َو ۡمَأ ْا َٰٓوُلُكۡأَت َلَ ْاوُنَماَء ِلِط َبۡلٱ
َر َجِت َنوُكَت نَأ َٰٓ َّلَِإ نََ ً ة
َو ۡۚۡمُكنِ م ٖضا َرَت َّنِإ ۡۚۡمُكَسُفنَأ ْا َٰٓوُلُتۡقَت َلَ
َهَّللٱ ا ٗمي ِح َر ۡمُكِب َناَك ٩٢
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Bisnis waralaba di Indonesia baik yang diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2007, maupun Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 12 Tahun 2006, tidak bertentangan dengan hukum ekonomi Syariah, dilihat dari tiga sudut pandang:
1. Waralaba sebagai bentuk kerja sama bisnis, secara substansial merupakan aplikasi perpaduan teori akad syirkah ‘inan dan akad ijarah. Waralaba sebagi kemitraan bisnis, dimana pihak pemberi waralaba bermodalkan Hak Kekayaan Intelektul dan tenaga ahli bisnis, masing-masing bersepakat untuk berbagi hasil dan resiko sesuai dengan kualitas dan kuanntitas beban kerja atau kewajiban masing-masing.
2. Dalam kontrak waralaba, menurut Aam Amiruddin (2015:83) dimana pihak pemberi waralaba memberikan izin (Lisensi) kepada penerima waralaba untuk menjalankan usaha dengan
memanfaatkan atau menggunakan hak kekayaan intelektual sebagai imbalannya penerima waralaba membayar sejumlah fee kepada pemberi waralaba, hal ini merupakan akad ijarah.
3. Objek kontrak bisnis waralaba yang berupa Hak kekayaan intelektual atau penemuan/ciri usaha milik pemberi waralaba yang dimanfaatkan atau atau digunakan oleh penerima waralaba dalam menjalankan usaha bisnis atas izinnya dengan diimbangi pembayaran sejumlah fee dipandang sah menurut hukum Islam.
Manfaat hak kekayaan intelekual yang meliputi hak cipta, merk dagang atau jasa, logo sistem dan metode bisnis yang merupakan karakteristik usaha bisnis dipandang oleh hukum Islam sebagai kategori harta yang dimanfaatkan oleh orang lain, atas izinnya, maka untuk menjaga eksistensi keberadaannya harus mendapatkan perlindungan hukum dari Pemerintah.
Untuk melindungi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, kegiatan bisnis waralaba (franchise) di samping harus mengacu pada ketentuan-ketentuan hukum umum yang dikeluarkan oleh otoritas pemerintah, juga harus mengacu pada ketentuan- ketentuan Islam.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
Penerapan CSR Djarum dalam kegiatan kewirausahaan dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan: Pelatihan, Vactory visit, Pemagangan, Penyusunan Proposal, Pendampingan. Hasilnya mahasiswa mampu membuka peluang usaha dari pengetahuan yang diperoleh baik secara hardskill maupun softskill. Perjanjian kerjasama yang diadakan dalam kegiatan kewirausahaan yakni berbentuk waralaba (franchise). Masing-masing mahasiswa menjalin hubungan kerja sama antar mahasiswa satu dengan yang lain serta kerja sama mahasiwa lintas perguruan tinggi yang tergabung dalam kelompok usaha dikudus. Secara substansial waralaba merupakan aplikasi perpaduan teori akad syirkah ‘inan dan keuntungan yang didapat dengan sistem mudharabah atau bagi hasil. Subtansi akad syirkah ‘inan yang dijalankan mendekati dengan akad ijarah, Kontrak waralaba, dimana pihak pemberi waralaba memberikan izin (Lisensi). Kegiatan bisnis waralaba (franchise) di samping harus mengacu ketentuan hukum islam tetapi juga harus mengacu pada ketentuan-ketentuan hukum umum yang dikeluarkan oleh otoritas pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Budimanta. (2004). Corporate social responsibility.Jakarta: ICSD.
Alma Buchari. (1999). Kewirausahaan. Friedman Milton, “The Social Responsibility of Business to Increase It’s Profits ”Dalam Etika Bisnis”, Kanikus. Yogyakarta: Alfabeta.
Aam Amiruddin. (2015). Al-Qur’an Tajwid Warna Al-Mu’asir. Bandung:
Khazanah Intelektual.
Adrian Sutedi. (2008). Hukum Waralaba. Bogor: Ghalia Indonesia.
Bahri. (2018). Kewirausahaan Islam: Penerapan Konsep Berwirausaha dan Bertransaksi Syariah dengan Metode Dimensi Vertikal (Hablumminallah) dan Dimensi Horizontal (Hablumminannas). Maro, Jurnal Ekonomi Syariah dan Bisnis, Vol. 1. No. 2.
Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Ditjen Bimas Islam.
Hendrik Budi Untung. (2008). Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika.
Howard Turner. (1997). Sains Islam. Bandung: Nuansa.
Janset J Irani. (2002).Tanggung Jawab Soaial Bersama. Jakarta: Dewan Bisnis as– india.
Jonshon dan Milton friedman. (2003). Membangun Kepercayaan Perusahaan Bisnis Melalui Penerapan Social Responsibility.Yogyakarta: UII Press.
Kottler, Philiph and Nancy Lee. (2005). Corporate Social Responsibility. New Jersey: John Wiley and Sons, Inc.
Mardani. (2013). Fiqh Ekonomi Syariah. Jakarta: Kencana.
Nasution. (2002). Metode Penelitian Naturalistic Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Nur Astaman Putra. (2021). Wirausaha dalam prinsip kebebasan hukum ekonomi syariah. Jurnal Qisthosia : Jurnal Syariah dan Hukum,Vol. 2 No. 2.
Peter Hess. (2008). Management: Responsibility Performanc. New South Wales: Mc Graw Hill Inc.
Rafik Isa. (2004). Etika Bisnis Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2007 Tentang Waralaba, pasal 1 butir 1.
Sugiono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suhrawardi K. Lubis. (2000). Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Suharsimi Arikunto. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi. (1983). Metodologi Research I., Yogyakarta: YPF Universitas Gajah Mada.
Syaifuddin Azwar. (2001). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tantry Widiyanarti. (2004). Persepsi pelaku bisnis tentang Tanggung Jawab Social Perusahaan. Jakarta: Pusat Pengembangan Etika Unika Atmajaya.
Tedy Lesmana. (2007). CSR untuk Kesejahteraan Rakyat. Jakarta: LIPI.
Umer Chapra. (2000). Islam dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani.
Yosal Iriantara. (2004). Community relations: Konsep dan Aplikasinya.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Yusanto dan Yunus. (2009). Pengantar Ekonomi Islam. Bogor: Al Azhar Press.
Yusuf Wibisono. (2007). Konsep dan aplikasi Corporate Social Responsibility.
Jakarta: Fasco Publishing.
Zaim Saidi dan Hamid Abidin. (2009). Menjadi Bangsa Pemurah: Wacana dan Praktek Kedermawanan Social di Indonesia. Jakarta: Piramedi.