Instrumen Akreditasi Penilaian Peningkatan Kualifikasi Program Studi D3 → D4
KRI- TERIA
ELEMEN
Bobot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.1 Peta jalan pengembang an Keunggu- lan Program Studi
3 Terdapat uraian Peta jalan
pengembangan keunggulan program studi yang mencakup aspek: (1)
pengembangan keilmuan, (2) kajian capaian pembelajaran, dan (3) kurikulum program studi sejenis.
(4) enam M (Man, Money, Material, Machine, Method and Market)
Penjelasan Peta jalan pengembangan mencakup 4 empat) aspek dilengkapi dengan recana implementasinya
Penjelasan Peta Jalan pengembangan mencakup 3 (tiga) aspek dilengkapi dengan rencana implementasinya
Penjelasan Peta Jalan pengembangan mencakup 2 (dua) aspek dilengkapi dengan rencana implementasinya
Penjelasan Peta Jalan pengembangan mencakup 1 (satu) aspek dilengkapi dengan rencana implementasinya
KRI-
TERIA ELEMEN
Bobot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.2.
Mekanisme Penyusunan Kurikulum
3 Penyusunan kuri- kulum melibatkan pemangku
kepentingan internal (dosen) dan eksternal (industri yang
relevan/ pengguna lulusan, pakar, serta asosiasi profesi).
Mekanisme penyu- sunan kurikulum tersebut didukung oleh bukti yang menunjukkan keterlibatan pihak pihak tersebut dan dokumen kebijakan peninjauan kurikulum secara berkalanjutan.
Penjelasan penyusunan
kurikulum melibatkan pemangku
kepentingan internal dan eksternal, serta didukung dengan dokumen lengkap
Penjelasan penyusunan kurikulum belum melibatkan semua pemangku
kepentingan tetapi didukung oleh dokumen lengkap
Penjelasan penyusunan kurikulum belum melibatkan semua pemangku
kepentingan dan belum didukung oleh dokumen lengkap
Penjelasan penyusunan kurikulum hanya melibatkan pemangku
kepentingan internal saja tetapi didukung oleh dokumen lengkap
KRI-
TERIA ELEMEN
Bobot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.3.
Profil Lulusan Program Studi
3 Terdapat uraian profesi atau jenis pekerjaan berupa profil lulusan yang sesuai dengan kualifikasi lulusan.
Profil lulusan dilengkapi dengan uraian ringkas
kompetensi inti (core competence) yang sesuai dengan program pendidikan Diploma Empat, dan keterkaitan profil tersebut dengan keunggulan atau keunikan program studi.
.
Menguraikan profil lulusan yang sesuai dengan kualifikasi program studi dilengkapi dengan uraian ringkas kompetensi utama yang sesuai dengan program pendidikan Diploma Empat, dan keterkaitan profil tersebut dengan keunggulan atau keunikan program studi.
Menguraikan profil lulusan yang sesuai dengan kualifikasi program studi dilengkapi dengan uraian ringkas
kompetensi inti yang sesuai dengan
program pendidikan Diploma Empat.
Menguraikan profil lulusan yang sesuai dengan kualifikasi program studi tetapi tidak dilengkapi
dengan uraian ringkas kompetensi inti yang sesuai dengan
program pendidikan Diploma Empat.
Menguraikan profil lulusan tetapi tidak sesuai dengan kualifikasi program studi dan tidak dilengkapi dengan uraian ringkas kompetensi inti.
KRI-
TERIA ELEMEN
Bob
ot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.4.
Capaian Pembelajaran
3 Rumusan capaian pembelajaran program studi
mengacu pada profil lulusan, dan merujuk pada deskripsi
capaian pembelajaran SN-Dikti yang setara dengan level 6 (enam) KKNI.
Rumusan capaian pembelajaran: (a) sesuai dengan profil lulusan, dan merujuk pada deskripsi
capaian
pembelajaran SN- Dikti yang mencakup 4 (empat) elemen yang setara dengan level 6 (enam) KKNI.
Rumusan capaian pembelajaran: (a) sesuai dengan profil lulusan, dan merujuk pada deskripsi
capaian pembelajaran SN-Dikti yang
mencakup sebagian dari 4 (empat) elemen kurang setara dengan level 6 (enam) KKNI.
Rumusan capaian pembelajaran: (a) kurang sesuai dengan profil lulusan,
meskipun masih merujuk pada deskripsi capaian pembelajaran SN- Dikti, dan sebagian dari 4 (empat) elemen kurang setara dengan level 6 (enam) KKNI.
Rumusan capaian pembelajaran tidak sesuai dengan deskripsi capaian pembelajaran SN Dikti dan level 6
(enam)KKNI
KRI-
TERIA ELEMEN
Bob
ot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.5.
Rancangan pembelajaran bekerjasama dengan Mitra
5 Rancangan pembelajaran bekerjasama dengan mitra sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dimuat dalam dokumen
kerjasama yang meliputi:
(1) Pengembangan kurikulum (2) pemanfaatan
peralatan dan situasi riil tempat kerja (teaching factory);
(3) pemanfaatan untuk problem based learning (PBL)
(4) tempat magang atau kunjungan industri (5) penyediaan tenaga
ahli (dosen praktisi) (6) Prekrutan lulusan.
Rancangan pembelajaran
bekerjasama dengan 1 (satu) mitra atau lebih dalam bentuk pengembangan kurikulum, teaching factory atau problem based learning
Rancangan pembelajaran
bekerjasama dengan 1 (satu) mitra atau lebih dalam bentuk pengembangan kurikulum atau
tempat magang, atau penyediaan tenaga ahli, atau perekrutan lulusan.
Rancangan pembelajaran
bekerjasama dengan 1 (satu) mitra atau lebih dalam bentuk magang atau
kunjungan industri
Tidak ada Rancangan pembelajaran
bekerjasama dengan mitra
KRI-
TERIA ELEMEN
Bob ot
INDIKATOR 4 3 2 1
1.6. Struktur Kurikulum
Kurikulum
1.6.1.
Susunan Mata Kuliah
4 Kesesuaian susunan mata kuliah yang mencakup aspek : (1) keberadaan 4 mata kuliah wajib, (2) kesesuaian daftar mata kuliah untuk mencapai capaian pembelajaran lulusan, (3) hierarki
susunan mata kuliah, dan (4) beban sks per
semester wajar
Susunan mata kuliah memenuhi empat aspek
Susunan mata kuliah memenuhi aspek 1, 2 dan satu aspek
lainnya
Susunan mata kuliah memenuhi aspek 1 dan aspek 2
Susunan mata kuliah memenuhi aspek 1 atau 2
Kurikulum
1.6.2.
Pembelajaran yang dilaksa- nakan dalam bentuk
praktikum/pr aktik/praktik bengkel/prak tik studio/
praktek lapang atau magang
5 Proporsi jumlah jam pembelajaran
praktikum/praktik/prakti k bengkel/praktik
studio/praktik lapang atau magang terhadap total jam pembelajaran selama masa pendidikan
Jika PJP ≥ 30% maka skore = 4.0
Jika PJP < 30% maka skore = (4.0 x PJP)/3
JP = Jam pembelajaran praktikum, praktik studio, praktik bengkel, atau praktik lapangan (termasuk KKN), JB = Jam pembelajaran total selama masa pendidikan.
PJP = (JP / JB) x 100%
Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia
KRI- TERIA
ELEMEN
Bob ot
INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.7.
Substansi praktikum/
praktik
bengkel/prak tik studio/
praktik
lapangan atau magang
4 Substansi
praktikum/praktik bengkel/praktik
studio/praktik lapangan atau magang merupakan bagian dari pembelajaran yang mendukung
kompetensi inti dari program studi
Praktikum/ praktik bengkel/ praktik studio/ praktik lapangan atau magang merupakan bagian dari
pembelajaran yang seluruhnya
mendukung
kompetensi inti dari program studi dan didukung oleh peralatan atau sarana yang sesuai ≥ 50% (dilaksanakan di sarana teaching factory atau industri/tempat kerja mitra)
Praktikum/ praktik bengkel/ praktik studio/ praktik lapangan atau magang merupakan bagian dari
pembelajaran yang sebagian mendukung kompetensi inti dari program studi dan didukung oleh peralatan atau sarana yang 30% <
sesuai ≤ 50%
(dilaksanakan di sarana teaching factory atau
industri/tempat kerja mitra)
Praktikum/ praktik bengkel/ praktik studio/ praktik lapangan atau magang merupakan bagian dari
pembelajaran yang sebagian mendukung kompetensi inti dari program studi dan didukung oleh peralatan atau sarana yang 10% <
sesuai ≤ 30%
(dilaksanakan di sarana teaching factory atau
industri/tempat kerja mitra)
Praktikum/ praktik bengkel/ praktik studio/ praktik lapangan atau magang merupakan bagian dari
pembelajaran yang sebagian mendukung kompetensi inti dari program studi dan didukung oleh peralatan atau
sarana yang sesuai <
10% (dilaksanakan di sarana teaching factory atau
industri/tempat kerja mitra)
KRI- TERIA
ELEMEN
Bobot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.8.
Rencana
Pembelajaran Semester (RPS)
5 Ketersediaan RPS untuk sekurang kurangnya 10 (sepuluh) mata kuliah yang merupakan mata kuliah inti program studi yang meliputi 9 (sembilan)
komponen), yaitu:
1.Nama program studi, nama dan kode mata kuliah, semester, sks, nama dosen pengampu;
2. Capaian Pembelajaran lulusan yang dibebankan pada mata kuliah;
3. Kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap tahap pembelajaran untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan;
4. Bahan kajian yang terkait dengan kemampuan yang akan dicapai 5. Metode pembelajaran;
6. Waktu yang disediakan untuk mencapai kemampuan pada tiap tahap pembelajaran;
7. Pengalaman belajar mahasiswa yang diwujudkan dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa selama satu semester;
8. Kriteria, indikator, dan bobot penilaian; dan
9. Daftar referensi yang digunakan.
Tersedia RPS untuk Sepuluh mata kuliah inti atau lebih dilengkapi dengan RPS yang memenuhi 9 (sembilan) komponen dan menunjukkan secara jelas penciri program studi dan menggunakan referensi yang relevan dan mutakhir
Tersedia RPS untuk mata kuliah inti (5
< mata kuliah inti ≤ 8) dilengkapi
dengan RPS yang memenuhi 9 (sembilan) komponen dan menunjukkan secara jelas penciri program studi dan menggunakan referensi yang relevan dan mutakhir
Tersedia RPS untuk mata kuliah inti (2
< mata kuliah inti ≤ 5) dilengkapi
dengan RPS yang memenuhi 9 (sembilan) komponen dan menunjukkan secara jelas penciri program studi dan menggunakan referensi yang relevan dan mutakhir
Tersedia RPS untuk mata kuliah inti ≤ 2 dilengkapi
dengan RPS yang memenuhi 9 (sembilan) komponen dan menunjukkan secara jelas penciri program studi dan menggunakan referensi yang relevan dan mutakhir
KRI- TERIA
ELEMEN
Bobot INDIKATOR 4 3 2 1
Kurikulum
1.9.
Rancangan fasilitas dan implementasi kebijakan
“Merdeka Belajar - Kampus Merdeka”
(MBKM)
4 Rancangan kebijakan dan implementasi untuk
memfasilitasi pemenuhan masa dan beban belajar "Merdeka Belajar - Kampus Merdeka" bagi mahasiswa yang melakukan pembelajaran di luar program studi yang diusulkan yang mencakup aspek:
1) Penyediaan dosen pembimbing akademik, oleh perguruan tinggi pengusul terhadap mahasiswa yang akan mengambil mata kuliah pada program studi yang berbeda pada perguruan tinggi sendiri atau perguruan tinggi lain
2) Rancangan kurikulum menyediakan pilihan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah diluar program studi sesuai dengan ketentuan
perundang undangan;
3) Dokumen Kerjasama dengan Perguruan Tinggi mitra atau Lembaga mitra
Tersedia Rancangan kebijakan dan implementasi
"Merdeka Belajar - kampus Merdeka"
bagi mahasiswa yang melakukan pembelajaran di luar program studi didukung oleh:
1) Penyediaan dosen
pembimbing akademik;
2) Rancangan kurikulum;
3) Dokumen Kerjasama dengan Perguruan Tinggi mitra atau Lembaga mitra
Tersedia Rancangan kebijakan dan
implementasi
"Merdeka Belajar - kampus Merdeka"
bagi mahasiswa yang melakukan pembelajaran di luar program studi didukung oleh:
1) Penyediaan dosen
pembimbing akademik;
2) Rancangan kurikulum; atau (hanya ada 2 pendukung
program dari ke 3 pendukung
program tersebut di indikator)
Tersedia Rancangan kebijakan dan
implementasi
"Merdeka Belajar - kampus Merdeka"
bagi mahasiswa yang melakukan pembelajaran di luar program studi didukung oleh:
1) 1) Penyediaan dosen
pembimbing;
atau
(hanya ada 1 pendukung
program dari ke 3 pendukung
program tersebut di indikator)
Tersedia kebijakan dan implementasi
"Merdeka Belajar - Kampus Merdeka"
namun tidak ada dokumen
pendukungnya
Dasar Hukum/Referensi
▪ Undang-UndangNomor12Tahun2012 tentang Pendidikan Tinggi
▪ Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 24,Tahun 2012;
▪ Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
▪ Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi: PANDUAN IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN MERDEKA BELAJAR-KAMPUS MERDEKA (MBKM) PADA KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI VOKASI PROGRAM SARJANA TERAPAN
▪ Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Nomor 55/D/HK/2020, tentang Persyaratan dan Prosedur Peningkatan Program Diploma Tiga Menjadi Sarjana Terapan
▪ Wikan Sakarinto, Ph.D ., Kebijakan Peningkatan Strata D3 menjadi Sarjana Terapan (D4), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, 2021
▪ Penjelasan PBL (Project Based Learning) + Tefa.
https://www.youtube.com/watch?v=ubOpKpIxPhU
Pengertian Kurikulum
▪ Kata kurikulum berasal dari bahasa latin “currere” yang
berarti menjalankan (to run). Hal ini menyiratkan bahwa salah satu fungsi kurikulum adalah menyediakan template atau
desain yang memungkinkan pembelajaran dapat berlangsung.
▪ Kurikulum biasanya mendefinisikan pembelajaran yang
diharapkan berlangsung selama studi dalam hal ini mengenai pengetahuan, keterampilan dan sikap. Menentukan metode pengajaran, pembelajaran dan penilaian, dan memberikan indikasi sumber belajar yang diperlukan untuk mendukung penyampaian materi yang efektif.
▪ Silabus menggambarkan isi program dan dapat dilihat sebagai
salah satu bagian dari kurikulum.
❑ Tujuan
❑ Materi
❑ Strategi, pembelajaran
❑ Organisasi kurikulum
❑ Penilaian/Evaluasi
Komponen Kurikulum:
Christopher Butcher Designing Learning From module outline to effective teaching, Routledge 2006
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Design cycle Design question
Rationale Why are we doing this?
Aims and learning outcomes What should the
learners be able to do?
Content What content will be
needed to achieve it?
Teaching/learning methods How are we planning to enable it?
Assessment How will we know that the learners have achieved the goals?
Environment What support will the learners need?
Management How will we make it happen?
Evaluation and review How might it be improved?
Rationale Is this still valid
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Diagram alir penyusunan KPT (sumber: Panduan Ringkas-SPM-Menyusun Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT)
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Menyusun Profil lulusan
▪ Pernyataan profil lulusan merupakan bukti akuntabilitas akademik program studi.
▪ Profil lulusan menjadi pembeda program studi satu terhadap program studi lainnya.
▪ Pernyataan profil lulusan merupakan kata benda.
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Contoh penulisan profil lulusan
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Contoh beberapa profil lulusan
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Contoh beberapa profil lulusan
Model Perencanaan dan Reviu Kurikulum
Contoh beberapa profil lulusan
Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)
Mengacu ke jenjang 6 KKNI
Suatu Instrumen untuk mengklasifikasikan Sumberdaya manusia
Instrumen untuk pengembangan dan pengklasifikasian kualifikasi SDM menurut seperangkat kriteria
capaian pembelajaran.
Deskripsi yang ada dalam kerangka kualifikasi merupakan alat untuk memetakan keahlian dan karir seseorang, serta mengembangkan kurikulum pendidikan
Secara sederhana, kerangka kualifikasi identik dengan alat ukur berat, alat ukur panjang atau mata uang (currency)
INPUT PROSES OUTPUT
“Competency” dinyatakan sebagai “being able to perform ‘whole’ work roles (perform—not just know about—whole work roles, rather than just specific skills and tasks) to the standards expected in
employment (not just ‘training’ standards or standards divorced from industrial reality); in real working environments (i.e. with all the associated pressures and variations of real work)”.
“learning outcomes” means statements of what a learner knows, understands and is able to do on completion of a learning process
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
• learning outcomes;
• teaching objectives;
• competencies;
• behavioural objectives;
• goals; dan
• aims”.
some taken a narrow view and associate competence just with skills acquired by training”, some, on the other hand, understand learning outcomes in a very wide senseand use them as synonim for competence
aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai-sikap.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 3
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 2
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 1
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang n
KERANGKA KUALIFIKASI
Dalam konteks Negara:
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Belajar dan Hasil Belajar itu berjenjang
Proses kognitif: mengingat Pengetahuan: factual Otonomi & responsibility:
terbatas
Proses kognitif: mencipta Pengetahuan: metakognitif Otonomi & responsibility: luas
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 6
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 3
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 1
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 9
KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI)
kualifikasi sarjana
Kualifikasi diploma satu
Kualifikasi Pendidikan Dasar
kualifikasi doktor
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 3
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 2
CAPAIAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang 1 CAPAIAN
PEMBELAJARAN
KOMPETENSI
Jenjang n
KERANGKA KUALIFIKASI
Stan dar K omp ete ns i Lulu san ( SK L ) Stan dar K omp ete ns i K er ja ( SK K N I )
PENDIDIKAN FORMAL (di
Satuan Pendidikan)
PELATIHAN KERJA BERBASIS KOMPETENSI
Kompetensi --- Standar --- Pembelajaran & Asesmen
Kerangka Kulifikasi terdiri atas:
• deskriptor jenjang (level descriptor) dan
• capaian pembelajaran (learning outcomes) yang disusun berjenjang dari jenjang kualifikasi terendah sampai kualifikasi tertinggi.
Masing-masing descriptor jenjang kualifikasi didefinisikan dengan sekumpulan kriteria capaian pembelajaran, dan dapat tersirat dalam qualifications descriptor atau tersurat dalam level descriptor.
Level descriptor tersebut merupakan suatu ungkapan yang menjelaskan karakteristik dan konteks capaian pembelajaran
Learning described in level descriptors do not function independently of each other. For example, the ability to analyze at particular level is meaningless in terms of level unless the complexity of the material knowledge and understanding of learning is taken into account.
Kerangka Kualifikasi
(Qualifications Framework)
▪ Setiap Negara Menyusun Kerangka Kualifikasi.
▪ Indonesia --> Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia,
Adalah kerangka penjenjangan kualifikasi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan
kompetensi kerja sesuai dengan
struktur pekerjaan di berbagai sektor
SM P
SMA/
MA/SMK D 1
D 2
D 3
S1/D4
S3/S p Sp -
U
1 2 3 4 5 6 7 8 9
PENCAPAIAN JENJANG KKNI MELALUI 4 PETA JALAN
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 Tentang KKNI
Deskripsi Jenjang 6 KKNI
Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah
prosedural.
Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan
petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat
diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja
organisasi.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 (alinea 1 disetiap level)
(alinea 2 disetiap level)
(alinea 3 disetiap level)
(deskripsi umum)
Jenjang kualifikasi
pada KKNI terdiri atas 9 jenjang kualifikasi, yaitu:
level 1 s/d level 9
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Standar Kompetensi Lulusan
KKNI dan SKL
Kompetensi/Capaian Pembelajaran Standar
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020, Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI
Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian Pembelajaran lulusan.
Rumusan capaian Pembelajaran lulusan wajib:
a. mengacu pada deskripsi capaian Pembelajaran lulusan KKNI; dan b. memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI.
Problem Based Learning (PBL)
▪ Problem based learning (PBL) developed by Barrows, Harden and others. PBL aims to stimulate students to observe, think, define, study, analyse, synthesise and evaluate a problem.
▪ The ‘problems’ or cases are written to simulate real life clinical problems which are multidimensional and which encourage students to think as they would in real life clinical situations.
▪ Medical schools that have used a PBL approach include McMaster (Canada) and Newcastle (Australia) and some UK schools have also introduced a PBL course.
Advantages of a PBL curriculum:
▪ Helps a student to develop skills in solving health related problems
▪ Promotes self directed learning and spirit of enquiry
▪ Provokes a sense of critical thinking and reasoning
▪ Retention and application of knowledge is reinforced in a similar way to that in the clinical context
▪ Develops integrated body of knowledge based on real and common prblems
Problem Based Learning (PBL)
Critiques of a PBL approach:
▪ PBL approach is very demanding of both teachers and learners especially if they have no prior knowledge or experience of the method
▪ It requires increased sense of responsibility from students and flexibility from teachers
▪ Teachers are not always happy in the role of facilitator and may feel ‘exposed’ because of lack of specialist knowledge
▪ Students may feel that their teachers are not ‘experts’ when they act in facilitator role
▪ Extensive learning resources are needed
▪ Requires good teamwork and understanding between staff and students
▪ Traditional, standardised assessment methods are difficult to apply as may not be a
uniform body of knowledge as students define own learning goals
Digunakan dalam kehidupan para rahib pada tradisi Kristen sekitar abad pertengahan, dimana mereka dipanggil untuk mendedikasikan diri berdoa dan tafakur/perenungan di biara-biara, terpisah jauh dari
kehidupan normal.
Pengertian Pendidikan vokasi
(Perspektif sejarah, keilmuan dan perbandingan antar negara)
Dari Bahasa Latin VOCARE artinya “TO CALL” atau
MEMANGGIL
Sejalan dengan berkembangnya
kapitalisme, kata “vocation” semakin erat kaitannya dengan karir dan
pekerjaan yang dibayar.
Pengertian saat ini
Bertolak belakang dengan definisi awal
Pengertian Pendidikan vokasi
(Perspektif sejarah, keilmuan dan perbandingan antar negara)
Apa Bedanya Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Akademik/Umum ?
Apa seperti ini
Pendidikan vokasi ?
Dan yang ini Pendidikan akademik ?
Pengertian Pendidikan vokasi
(Perspektif sejarah, keilmuan dan perbandingan antar negara)
✓ knowing that/what,
✓ Theory,
✓ Reason
❑ Ways of knowing
CHARACTERISTIC OF VOCATIONAL EDUCATION
Salah satunya dibedakan atas:
Pendidikan
Akademik/Umum
✓ knowing how (doing),
✓ Practice,
✓ Experience
Skills are developed through practice, through a combination of sensory input and output
implicit or tacit knowledge that is difficult to verbalise and communicate to others
kurikulum umumnya didesain agar lebih relevan dengan persyaratan tempat kerja. Biasanya dimulai dengan analisis dan identifikasi
'kompetensi' di tempat kerja, yang kemudian disusun menjadi satu set 'standar kompetensi'
the knowledge and skill to be able to (do something correctly)
Pendidikan Vokasi
explicit knowledge can also be referred to as declarative or propositional knowledge, which can and communicated to others
explicit knowledge, can be referred to as declarative or propositional knowledge, which can be verbalised and communicated to others
❑ Ways and place of learning
implementing propositions in the classroom or with textbooks
observation, imitation and personal correction
Pendidikan
Akademik/Umum
Pendidikan Vokasi
CHARACTERISTIC OF VOCATIONAL EDUCATION
❑ Type of knowledge
✓ associated with
understanding concepts or declarations of
knowledge.
✓ training-oriented for repetitive tasks
✓ associated with demonstrating/
procedural knowledge
Pendidikan
Akademik/Umum
Pendidikan Vokasi
CHARACTERISTIC OF VOCATIONAL EDUCATION
Pendidikan umum didesain
untuk mempersiapkan peserta didik untuk memahami secara mendalam suatu subyek atau kelompok subyek,
pendidikan vokasi atau teknik membimbing peserta didik
untuk menguasai ketrampilan kerja, pengetahuan praktik, dan pemahaman pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja di suatu pekerjaan atau jabatan.
CHARACTERISTIC OF VOCATIONAL EDUCATION
Standar kompetensi terdiri dari sejumlah “unit kompetensi”.
Unit kompetensi merupakan spesifikasi pengetahuan dan keterampilan, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut ke dalam standar kinerja yang dibutuhkan di tempat kerja.
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
(SKKNI)
Secara skematis diagram standar kompetensi dan rincian komponennya seperti
dilukiskan pada Gambar berikut
Contoh “Unit Competency”
BSBADM502A Manage meetings
This unit covers managing the preparation of meetings, chairing the meetings, organising the minutes and reporting outcomes.
This unit is related to BSBADM405A Organise meetings. Consider co-assessment with BSBADM503A Plan and manage conferences.
This unit covers managing the preparation of meetings, chairing the meetings, organising the minutes and reporting outcomes.
This unit is related to BSBADM405A Organise meetings. Consider co-assessment with BSBADM503A Plan and manage conferences.
Element Performance Criteria
1 Prepare for meetings 1.1 Purpose of meeting is clarified and the agenda developed in line with stated purpose 1.2 The style and structure of the meeting is appropriate to the meeting's purpose 1.3 Meeting participants are identified and notified in accordance with organisational
procedures
1.4 Meeting arrangements are confirmed in accordance with requirements of meeting 1.5 Meeting papers are despatched to participants within designated timelines 2 Conduct meetings 2.1 Meetings are chaired in accordance with organisational requirements, agreed
conventions for the type of meeting and legal and ethical requirements 2.2 Meetings are conducted to ensure they are focused and time efficient 2.3 Meeting facilitation enables participation, discussion, problem solving and
resolution of issues
2.4 Minute taker is briefed on recording meeting notes in accordance with organisational requirements and conventions for the type of meeting
3 Follow up meetings 3.1 Transcribed meeting notes are checked to ensure they reflect a true and accurate record of the meeting and are formatted in accordance with organisational procedures and meeting conventions
3.2 Minutes and other follow-up documentation are distributed within designated timelines and stored in accordance with organisational requirements
3.3 Outcomes of meetings are reported as required, within designated timelines
Kode dan Judul Unit Unit Deskriptor
VOKASI DAN PROFESI
A vocation is generally a job that requires a particular set of skills acquired through experience or through training but not necessarily dependent on a college degree. These would include plumbing, electrician, mechanic, etc.
A profession could be one of the above but generally references a doctor, lawyer, nurse or other skilled worker who was required to obtain college/ university
training.
vokasi umumnya merupakan pekerjaan yang membutuhkan seperangkat keterampilan tertentu yang diperoleh melalui pengalaman atau melalui pelatihan tetapi tidak selalu bergantung kepada gelar pendidikan tinggi. Contohnya adalah tukang pipa ledeng (plumbing), tukang listrik (electrician), mekanik (mechanic), dll.,
profesi dapat berupa salah satu dari yang di atas (vokasi) tetapi umumnya merujuk
pada pekerjaan seperti seorang dokter, pengacara, perawat, atau pekerja terampil
lainnya yang memerlukan pendidikan pada jenjang Pendidikan tinggi
ありがとうございました Arigatōgozaimashita
If you do not know what the future situation will be, then teach students some fundamental skills which they can apply to any situation
DUA SISI PTV
D 2 TERINTEGRASI ANTARA SMK-PTV DAN INDUSTRI ( FAST TRACK )
Mengadopsi Model TAFE
Australia atau Beruf Akademie di Jerman
knowing how (doing), Practice,
Experience
D 4/SARJANA TERAPAN, MAGISTER TERAPAN
Mengadopsi Model University of Applied Science di Jerman/Swiss, atau College di Kanada
(Vocationally Oriented Higher Education/VOHE)
▪ Kurikulum berbasis kompetensi.
▪ Curiculum shape: model LEGO
▪ Mengacu ke STANDAR KOMPETENSI KERJA
▪ Memfasilitasi lulusan SMK untuk dapat diterima di PTV (selama ini lulusan SMK sulit sekali diterima di Politeknik karena Instrumen PMB lebih bersifat akademik yang mengutamakan kognitif).
▪ Untuk pekerjaan yang bersifat repetitive
▪ Kurikulum berbasis “OUTCOME”, MBKM
▪ Curiculum shape: model PIRAMID
▪ Metode Pembelajaran: PBL, TeFa
▪ Riset berbasis pada PERMASALAHAN DI INDUSTRI
RPL
▪ The tracked systems are commonly associated with coordinated market economies in which the social partners seek to align educational provision with occupational training and thence employment.
▪ In contrast the generalist systems are commonly associated with liberal market economies which rely more on the market to sort and match graduates and employment. In the unpredictable liberal market economies students need more general tertiary education and greater mobility between vocational and higher education to match their education with employment opportunities.
General Education CHARACTERISTIC OF VOCATIONAL
EDUCATION
(Curriculum Shape)
Vocational Education
▪ Pola kurikulum pendidikan vokasi disusun secara “lego” yang bertumpuk, dimana balok-balok lego adalah “unit kompetensi” yang disusun secara berjenjang sesuai kualifikasinya.
▪ Standar kompetensi lulusan pendidikan vokasi mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja.
▪ Pendidikan tinggi vokasi di Indonesia, pola kurikulumnya disusun secara piramida, dimana pada bagian bawah piramid disusun mata kuliah mata kuliah yang menjadi dasar bagi mata kuliah diatasnya.
▪ Pola ini sesuai dengan sejarah perkembangannya, yang dipengaruhi oleh pola pendidikan vokasi di Swiss, saat ini namanya “University of Applied Science”, …….pendidikan tinggi berorientasi vokasi (Vocationally Oriented College).
Holders of a Certificate I in Process Plant Skills will need an additional 8 units
of competency to those already recognised by the Certificate I. These additional
8 units of competency must be chosen so that the total units, including those
carried forward from a lower level
qualification, comply with the above rules.