BUPATI PESISIR BARAT PROVINSI LAMPUNG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT NOMOR 8 TAHUN 2017
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH TAHUN 2017 – 2037
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PESISIR BARAT,
a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Pesisir Barat dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan, perlu disusun rencana tata ruang wilayah;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah, dan masyarakat maka rencana tata ruang wilayah merupakan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
c. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, maka perlu penjabaran ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c di atas perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2017-2037;
Menimbang : :
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 231, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5364);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6042);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 113);
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036);
11. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Lampung 2009 – 2029 (Lembaran Daerah Provinsi Lampung Tahun 2010 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Lampung Nomor 346).
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PESISIR BARAT Dan
BUPATI PESISIR BARAT
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH TAHUN 2017 – 2037
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Pesisir Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.
4. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan kehidupannya.
5. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
6. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
7. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
8. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
9. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
10. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang.
11. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
12. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai
dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
13. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
14. Sistem perwilayahan adalah pembagian wilayah dalam kesatuan sistem pelayanan, yang masing- masing memiliki kekhasan fungsi pengembangan.
15. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
16. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
17. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
18. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.
19. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
20. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
21. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh yang sangat penting secara
nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.
22. Kawasan strategis kabupaten adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.
23. Kawasan Pertahanan Negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang digunakan untuk pertahanan.
24. Kawasan peruntukan pertambangan adalah wilayah yang memiliki potensi sumber daya bahan tambang yang berwujud padat, cair, atau gas berdasarkan peta/data geologi dan merupakan tempat dilakukannya sebagian atau seluruh tahapan kegiatan pertambangan yang meliputi penelitian, penyelidikan umum, eksplorasi, operasi produksi/eksploitasi dan pasca tambang, baik di wilayah daratan maupun perairan, serta tidak dibatasi oleh penggunaan lahan baik kawasan budidaya maupun kawasan lindung.
25. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.
26. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.
27. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kecamatan.
28. Pusat Kegiatan Lokal Promosi yang selanjutnya disebut PKLp adalah kawasan perkotaan yang dipromosikan untuk menjadi PKL.
29. Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara.
30. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
31. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
32. Masyarakat adalah orang, perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan non pemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang.
33. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
34. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disingkat BKPRD adalah badan bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Pesisir Barat dan mempunyai fungsi membantu tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah.
BAB II
RUANG LINGKUP, TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu Ruang Lingkup
Pasal 2
1. Lingkup wilayah perencanaan meliputi seluruh wilayah administrasi Kabupaten terdiri dari 11 (sebelas) Kecamatan, yaitu Kecamatan Lemong, Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Pulau Pisang, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Ngaras dan Kecamatan Bangkunat dengan luas wilayah Kabupaten kurang lebih 2.988, 88 KM2 yang terdiri dari 116 Desa (Pekon) dan 2 Kelurahan.
2. Wilayah Administrasi Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan skala ketelitian minimal 1 : 50.000 yang tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua Tujuan Penataan Ruang
Pasal 3
Penataan ruang Kabupaten Pesisir Barat bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten Pesisir Barat sebagai destinasi pariwisata berbasis industri pertanian dan kelautan yang memperhatikan aspek kearifan lokal dan kelestarian lingkungan.
Bagian Ketiga
Kebijakan Penataan Ruang Pasal 4
Kebijakan penataan ruang Kabupaten Pesisir Barat, terdiri atas :
a. pengembangan pariwisata berbasis wisata alam dan budaya dengan pembangunan pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan;
b. pengembangan sistem permukiman yang berhirarki dan terpadu antara sistem perdesaan dan perkotaan dan pengembangan sistem prasarana wilayah;
c. pengembangan kawasan minapolitan dengan pengelolaan sumber daya lokal berbasis pengelolaan komoditas unggulan melalui proses industrialisasi modern yang ramah lingkungan;
d. pengembangan kawasan pertanian dalam mewujudkan agroindustri yang kompetitif dan terintegrasi antar sektor;
e. perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup melalui pengembangan kawasan lindung sesuai fungsi masing–masing dengan memperhatikan kearifan lokal; dan
f. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan negara.
Bagian Keempat Strategi Penataan Ruang
Pasal 5
(1) Strategi dalam rangka pengembangan pariwisata berbasis wisata alam dan budaya dengan pembangunan pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 huruf a, terdiri atas:
a. meningkatkan sinergitas pariwisata dengan sektor potensial dengan konsep agrowisata, minawisata dan ekowisata;
b. mengembangkan daya tarik wisata potensial dengan meningkatkan aspek pemasaran pariwisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara;
c. mengembangkan kapasitas masyarakat dalam mendukung pengembangan kawasan pariwisata yang bertumpu pada pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat; dan
d. membangun dan meningkatkan infrastruktur pendukung bagi kawasan wisata potensial.
(2) Strategi dalam rangka pengembangan sistem permukiman yang berhirarki dan terpadu antara sistem perdesaan dan perkotaan serta pengembangan
sistem prasarana wilayah sebagaimana dimaksud pada pasal 4 huruf b, terdiri atas :
a. mengembangkan pusat pelayanan yang seimbang dan berjenjang antar wilayah dengan mengutamakan pada kawasan prioritas sesuai dengan potensi wilayah;
b. membangun dan meningkatkan sistem prasarana wilayah yang meliputi praasrana utama dan prasarana lainnya secara terpadu untuk medorong pertumbuhan wilayah; dan
c. Meningkatkan instrumen tata ruang yang mempertimbangkan daya dukung wilayah.
(3) Strategi pengembangan kawasan minapolitan dengan pengelolaan sumber daya lokal berbasis pengelolaan komoditas unggulan melalui proses industrialisasi modern yang ramah lingkungan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 huruf c, terdiri atas :
a. mengembangkan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah;
b. memanfaatkan potensi lahan non produktif secara lebih bijaksana bagi industri perikanan dan
kelautan;
c. mengembangkan dan Memanfaatkan teknologi modern dalam pengelolaan industri perikanan dan kelautan dalam rangka peningkatan produktivitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi;
d. menguatkan pemasaran hasil perikanan dan kelautan melalui peningkatan sumber daya;
dan
e. meningkatkan instrumen ruang untuk pengendalian lingkungan bagi industri perikanan dan kelautan.
(4) Strategi dalam rangka pengembangan kawasan pertanian dalam mewujudkan agroindustri yang kompetitif dan terintegrasi antar sektor sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 huruf d, terdiri atas :
a. mengoptimalkan kapasitas produksi sektor pertanian melalui peningkatan komoditas unggulan; dan
b. mengembangkan infrastruktur pertanian dalam rangka kemandirian dan katahanan pangan.
(5) Strategi dalam rangka perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup melalui pengembangan kawasan lindung sesuai fungsi masing – masing dengan memperhatikan kearifan lokal sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 huruf e, terdiri atas :
a. mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup serta mengurangi resiko bencana;
b. meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun kualitasnya dengan upaya reboisasi dan penghijauan dengan penerapan teknologi modern;
c. mengoptimalkan kearifan lokal daerah dalam upaya untuk pelestarian lingkungan;
d. melakukan pencegahan penurunan kualitas lingkungan dan perusakan lingkungan hidup melalui pengembangan instrumen perizinan,
insentif dan disinsentif dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang; dan
e. mengembangkan jaringan kerjasama dengan berbagai pihak dalam pemanfaatan sumber daya alam bagi konservasi kawasan.
(6) Strategi dalam rangka peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan negara sebagaimana dimaksud pada pasal 4 huruf f, meliputi :
a. mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan;
b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi dan peruntukannya; dan
c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan.
BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH Bagian Kesatu
Umum Pasal 6
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Pesisir Barat, meliputi :
a. pusat-pusat kegiatan;
b. sistem jaringan prasarana utama; dan c. sistem jaringan prasarana lainnya.
(2) Rencana struktur ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan skala ketelitian minimal 1:50.000 yang tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini
Bagian Kedua Pusat-pusat Kegiatan
Pasal 7
(1) Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Pesisir Barat sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. PKL;
b. PKLp;
c. PPK; dan d. PPL
(2) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yaitu Perkotaan Krui di Kecamatan Pesisir Tengah yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten, pusat perdagangan barang dan jasa, pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan bandar udara, pusat pengembangan rumah sakit umum daerah, pusat pengembangan pelabuhan, pusat pengembangan air bersih dan/atau air minum, dan pusat pengembangan permukiman perkotaan.
(3) PKLp sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi :
a. Pekon Kota Jawa di Kecamatan Bangkunat yang berfungsi sebagai pusat perdagangan barang dan jasa, pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan kawasan industri, pusat pengembangan energi, pusat pengembangan pelabuhan, pusat pengembangan terminal tipe C;
b. Pekon Biha di Kecamatan Pesisir Selatan yang berfungsi sebagai pusat perdagangan barang dan jasa, pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan kawasan
industri dan pusat pengembangan irigasi teknis;
dan
c. Pekon Lemong di Kecamatan Lemong yang berfungsi sebagai pusat perdagangan barang dan jasa, pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan energi, pusat pengembangan air bersih dan/atau air minum, pusat pengembangan pelabuhan dan pusat pengembangan terminal tipe C.
(4) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, yaitu :
a. Pekon Negeri Ratu Ngambur di Kecamatan Ngambur yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan energi dan pusat pengembangan pariwisata;
b. Pekon Way Napal di Kecamatan Krui Selatan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan rumah sakit, pusat pengembangan terminal tipe B, pusat pengembangan persampahan dan air limbah;
c. Pekon Gunung Kemala di Kecamatan Way Krui yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan energi, pusat pengembangan air bersih dan/atau air minum dan pusat pengembangan pariwisata; dan
d. Pekon Kebuayan di Kecamatan Karya Penggawa yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan energi dan pusat pengembangan air bersih dan/atau air minum.
(5) PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, yaitu :
a. Pekon Parda Suka di Kecamatan Ngaras yang berfungsi sebagai pusat pengembangan
pertanian, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan persampahan dan air limbah, pusat pengembangan pariwisata;
b. Pekon Kuripan di Kecamatan Pesisir Utara yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan pertanian, pusat pengembangan energi, pusat pengembangan air bersih dan/atau air minum dan pusat pengembangan persampahan dan air limbah; dan c. Pekon Pasar Pulau Pisang di Kecamatan Pulau Pisang yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pariwisata, pusat pengembangan industri kecil, pusat pengembangan perikanan, pusat pengembangan pelabuhan dan pusat pengembangan pertanian.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Utama Pasal 8
Sistem jaringan prasarana utama yang ada di Kabupaten Pesisir Barat, sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. sistem jaringan transportasi darat;
b. sistem jaringan transportasi laut; dan c. sistem jaringan transportasi udara.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Transportasi Darat Pasal 9
Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a, terdiri atas :
a. jaringan jalan;
b. jaringan prasarana lalu lintas; dan c. jaringan pelayanan lalu lintas
Pasal 10
(1) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada pasal 9 huruf a, terdiri atas :
a. jaringan jalan nasional;
b. jaringan jalan provinsi; dan c. jaringan jalan kabupaten
(2) Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a. Jalan Kolektor Primer 1 (JKP-1) Lintas Barat adalah :
1. ruas jalan perbatasan Bengkulu – Pugung Tampak;
2. ruas jalan Pugung Tampak – Simpang Gunung Kemala;
3. ruas jalan Sp. Gunung Kemala – Krui;
4. ruas jalan Krui – Biha;
5. ruas jalan Biha – Bengkunat (Ngaras); dan 6. ruas jalan Bengkunat (Ngaras) – Sanggi (Batas
Kabupaten Tanggamus)
b. Jalan Kolektor Primer 1 (JKP-1) Penghubung Lintas Tengah (feeder) adalah ruas jalan Liwa (Kabupaten Lampung Barat) – Krui
(3) Jaringan jalan provinsi sebagaimana di maksud pada ayat (1) huruf b yang berfungsi sebagai jalan strategis provinsi , meliputi :
a. ruas jalan Adam Malik;
b. ruas jalan Krui – Pekon Serai; dan c. ruas jalan Kotajawa – Kampung Baru
(4) Jaringan jalan kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi :
a. ruas jalan di Kecamatan Bangkunat;
b. ruas jalan di Kecamatan Ngaras;
c. ruas jalan di Kecamatan Ngambur;
d. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Selatan;
e. ruas jalan di Kecamatan Krui Selatan;
f. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Tengah;
g. ruas jalan di Kecamatan Way Krui;
h. ruas jalan di Kecamatan Karya Penggawa;
i. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Utara; dan j. ruas jalan di Kecamatan Lemong
(5) Rencana jaringan jalan Kabupaten, meliputi :
a. jaringan jalan alternatif lintas barat Simpang Kerbang – Biha;
b. jaringan jalan pariwisata Krui – Walur; dan
c. jaringan jalan inspeksi/ patroli Way Heni – Way Haru.
(6) Pengembangan jaringan jalan lingkungan di kabupaten, meliputi :
a. ruas jalan di Kecamatan Bangkunat;
b. ruas jalan di Kecamatan Ngaras;
c. ruas jalan di Kecamatan Ngambur;
d. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Selatan;
e. ruas jalan di Kecamatan Krui Selatan;
f. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Tengah;
g. ruas jalan di Kecamatan Way Krui;
h. ruas jalan di Kecamatan Karya Penggawa;
i. ruas jalan di Kecamatan Pesisir Utara;
j. ruas jalan di Kecamatan Lemong; dan k. ruas jalan di Kecamatan Pulau Pisang
(7) Penetapan jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11
Jaringan prasarana lalu lintas sebagaimana dimaksud pada pasal 9 huruf b, terdiri atas :
a. pembangunan terminal tipe B di Kecamatan Krui Selatan;
b. pembangunan dan peningkatan sub terminal ke terminal penumpang tipe C di Kecamatan Bangkunat dan Kecamatan Lemong; dan
c. pengembangan terminal di Kecamatan Pesisir Tengah.
Pasal 12
Jaringan pelayanan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada pasal 9 huruf c, meliputi :
a. trayek angkutan barang menghubungkan jalan lintas barat Sumatera, mulai dari Kecamatan Bangkunat, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Pesisir Utara dan Kecamatan Lemong;
b. trayek angkutan penumpang, meliputi :
1. Trayek angkutan antar provinsi meliputi Provinsi Banten – Provinsi Lampung – Provinsi Bengkulu.
2. Trayek angkutan antar kabupaten meliputi Kabupaten Tanggamus – Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Lampung Barat – Kabupaten Pesisir Barat dan Kabupaten Pesisir Barat – Kabupaten Kaur.
3. Trayek angkutan antar kecamatan, meliputi kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat.
c. Penetapan pelayanan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang–undangan yang berlaku.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Transportasi Laut Pasal 13
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 huruf b, meliputi :
a. tatanan kepelabuhan; dan b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten Pesisir Barat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. pelabuhan pengumpan lokal, meliputi :
1. Pelabuhan Tembakak di Kecamatan Karya Penggawa;
2. Pelabuhan Krui di Kecamatan Pesisir Tengah;
dan
3. Pelabuhan Pulau Pisang di Kecamatan Pulau Pisang.
b. Pengembangan pelabuhan dan/atau dermaga khusus pendukung kegiatan perikanan dan pariwisata di beberapa titik yang tersebar di kabupaten Pesisir Barat.
(3) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. alur pelayaran pengumpan lokal, meliputi :
1. Pelabuhan Krui – Pelabuhan Pulau Pisang;
dan
2. Pelabuhan Tembakak – Pelabuhan Pulau Pisang.
b. Alur pelayaran khusus pendukung kegiatan perikanan dan pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat.
(4) Penetapan dan pengembangan sistem jaringan tranportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Transportasi Udara Pasal 14
(1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf c, terdiri atas :
a. tatanan kebandarudaraan; dan b. ruang udara untuk penerbangan.
(2) Tatanan kebandarudaraan di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah Bandar Udara Muhammad Taufiq Kiemas di Kecamatan Pesisir Tengah.
(3) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur lebih lanjut dalam Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) yang ditetapkan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Pasal 15
Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. sistem jaringan energi;
b. sistem jaringan telekomunikasi;
c. sistem jaringan sumber daya air; dan d. sistem prasarana pengelolaan lingkungan.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Energi Pasal 16
(1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 huruf a, meliputi :
a. pembangkit tenaga listrik; dan b. jaringan prasarana energi.
(2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. pembangunan pembangkit listrik tenaga air, dikembangkan di Kecamatan Bangkunat, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Pesisir Utara dan Kecamatan Lemong;
b. pembangunan dan peningkatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat.
(3) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. pembangunan gardu induk direncanakan di Kabupaten Pesisir Barat;
b. jaringan transmisi tenaga listrik di Kabupaten Pesisir Barat, terdiri dari :
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi, Tegangan Tinggi, Tegangan Menengah dan Tegangan Rendah;
2. Saluran Kabel Tegangan Ekstra Tinggi, Tegangan Tinggi, Tegangan Menengah dan Tegangan Rendah.
c. jaringan transmisi kabel bawah laut dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Kecamatan Pulau Pisang.
(4) Pengembangan energi baru terbarukan untuk kemandirian dan ketahanan energi dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat.
(5) Pengembangan sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud pada pasal (1) ditetapkan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 17
(1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 huruf b, terdiri atas :
a. sistem jaringan kabel;
b. sistem jaringan nirkabel; dan c. sistem jaringan satelit.
(2) Sistem jaringan kabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas sentra telepon otomatis (STO) dan/atau fiber optic di Kabupaten Pesisir Barat.
(3) Sistem jaringan nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. sistem jaringan mikro digital di Kabupaten Pesisir Barat;
b. menara Base Transmission Station (BTS) Bersama tersebar di kecamatan – kecamatan dengan prioritas yang belum terlayani jaringan telekomunikasi.
(4) Sistem jaringan satelit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dilakukan dalam rangka meningkatkan pelayanan di wilayah terisolir dan/atau terpencil yang belum terlayani kedua sistem di atas.
(5) Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Sumber Daya Air Pasal 18
(1) Sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 huruf c terdiri atas :
a. wilayah sungai;
b. daerah irigasi;
c. jaringan air baku untuk air bersih.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air yang secara terpadu dengan memperhatikan arahan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Semangka.
(3) Wilayah sungai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a adalah wilayah sungai lintas kabupaten, yaitu Wilayah Sungai Semangka yang mencangkup daerah aliran sungai yang tersebar di Kabupaten Pesisir Barat.
(4) Daerah irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi :
a. daerah irigasi yang menjadi kewenangan provinsi adalah Daerah Irigasi Way Biha; dan
b. daerah irigasi yang menjadi kewenangan kabupaten tersebar di Kabupaten Pesisir Barat.
(5) Pengembangan daerah irigasi kabupaten, meliputi : a. pembangunan daerah irigasi di daerah yang
ditetapkan menjadi kewenangan kabupaten yang tersebar di seluruh wilayah;
b. rehabilitasi, pemeliharaan dan peningkatan daerah irigasi yang tersebar diseluruh wilayah kabupaten;
c. pengembangan daerah irigasi pada seluruh daerah potensial yang memiliki lahan pertanian yang ditunjukkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan lahan pertanian berkelanjutan; dan
d. mengurangi konversi alih fungsi sawah teknis dan setengah teknis menjadi kegiatan budidaya lokal lainnya.
(6) Jaringan air baku untuk air bersih sebagaimana dimaksud dalam (1) huruf c, terdiri atas :
a. rencana pengembangan air baku yang berasal dari air sungai (permukaan) dan air tanah tersebar di seluruh wilayah kabupaten;
b. sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kabupaten dipadukan dengan sistem jaringan sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air baku; dan
c. prasarana jaringan air minum meliputi intake air baku, jaringan perpipaan air minum, saluran perpipaan air baku dan instalasi pengolahan air minum yang dikembangkan pada lokasi air baku potensial serta pusat-pusat permukiman di seluruh kecamatan.
Paragraf 4
Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan Pasal 19
(1) Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 huruf d, terdiri atas :
a. sistem jaringan penyediaan air minum;
b. sistem jaringan persampahan; dan c. sistem jaringan air limbah.
(2) Sistem jaringan penyediaan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a. pengembangan pengelolaan air minum yang bersumber dari air permukaan tersebar di Kabupaten Pesisir Barat;
b. pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan jaringan perpipaan dengan sistem gravitasi dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat;
c. pengembangan pengelolaan air minum yang bersumber dari air tanah dalam tersebar di Kabupaten Pesisir Barat; dan
d. pengembangan pengelolaan air bersih dan/atau air minum akan diatur dalam peraturaan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi :
a. rencana pembangunan dan peningkatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Ngaras, Kecamatan Krui Selatan dan Kecamatan Pesisir Utara;
b. rencana pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan permukiman dan pusat pelayanan di Kabupaten Pesisir Barat;
c. rencana pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Kabupaten Pesisir Barat; dan
d. pengembangan pengelolaan persampahan ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku.
(4) Sistem jaringan air limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri dari :
a. pengembangan pengelolaan air limbah di kawasan permukiman, pusat pelayanan dan kawasan industri;
b. pembangunan Instalasi Pengelolaan Limbah Tinja (IPLT) diintegrasikan dengan TPA/ TPST dengan kajian lingkungan;
c. pembangunan pengelolaan air limbah untuk kawasan permukiman pedesaan dengan sistem setempat dan/ atau berbasis masyarakat; dan d. pengembangan pengeloalaan air limbah
ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku.
BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH Bagian Kesatu
Umum Pasal 20
(1) Rencana pola ruang wilayah kabupaten, meliputi : a. kawasan lindung; dan
b. kawasan budidaya.
(2) Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan skala ketelitian minimal 1:50.000 yang tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua Kawasan Lindung
Pasal 21
Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya; dan
e. kawasan rawan bencana alam.
Paragraf 1
Kawasan Hutan Lindung Pasal 22
Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 huruf a, dengan luas kurang lebih 9.790 Ha, meliputi :
a. Kecamatan Bangkunat dengan luas kurang lebih 4.988 Ha;
b. Kecamatan Ngaras dengan luas kurang lebih 1.388 Ha;
c. Kecamatan Ngambur dengan luas kurang lebih 688 Ha;
d. Kecamatan Pesisir Selatan dengan luas kurang lebih 435 Ha;
e. Kecamatan Pesisir Tengah dengan luas kurang lebih 797 Ha;
f. Kecamatan Way Krui dengan luas kurang lebih 156 Ha;
g. Kecamatan Pesisir Utara dengan luas kurang lebih 422 Ha; dan
h. Kecamatan Lemong dengan luas kurang lebih 916 Ha
Paragraf 2
Kawasan yang Memberikan Perlindungan Bawahannya Pasal 23
Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 huruf b, adalah kawasan resapan air yang berada dalam kawasan hutan lindung dengan luas kurang lebih 6.032 Ha, meliputi : a. Kecamatan Bangkunat dengan luas kurang lebih
1.439 Ha;
b. Kecamatan Ngaras dengan luas kurang lebih 66 Ha;
c. Kecamatan Ngambur dengan luas kurang lebih 303 Ha;
d. Kecamatan Pesisir Selatan dengan luas kurang lebih 1.271 Ha;
e. Kecamatan Krui Selatan dengan luas kurang lebih 15 Ha;
f. Kecamatan Pesisir Tengah dengan luas kurang lebih 148 Ha;
g. Kecamatan Way Krui dengan luas kurang lebih 127 Ha;
h. Kecamatan Karya Penggawa dengan luas kurang lebih 1.132 Ha;
i. Kecamatan Pesisir Utara dengan luas kurang lebih 13 Ha; dan
j. Kecamatan Lemong dengan luas kurang lebih 1.518 Ha
Paragraf 3
Kawasan Perlindungan Setempat Pasal 24
(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 huruf c, meliputi :
a. kawasan sempadan pantai;
b. kawasan sempadan sungai;
c. kawasan sekitar danau/waduk; dan d. kawasan ruang terbuka hijau.
(2) Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dengan panjang garis pantai kurang lebih 210 km terdapat di sepanjang garis pantai yang membentang di Kabupaten Pesisir Barat, dengan ketentuan :
a. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau
b. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.
(3) Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdapat di sepanjang daerah aliran sungai yang tersebar di Kabupaten Pesisir Barat, dengan ketentuan :
a. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari kaki tanggul sebelah luar;
b. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai;
c. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai.
(4) Kawasan sekitar danau/ waduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdapat di sekitar danau/waduk yang tersebar di Kabupaten Pesisir Barat, dengan ketentuan :
a. daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter dari titik pasang air danau/ waduk tertinggi; atau b. daratan sepanjang tepian danau/ waduk yang
lebarnya proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau/ waduk.
(5) Kawasan ruang terbuka hijau (RTH) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdapat di kawasan perkotaan, dengan ketentuan :
a. RTH privat 10% dari luas kawasan perkotaan terdiri atas : pekarangan rumah tinggal, halaman perkantoran, pertokoan, tempat usaha, taman dan lapangan olahraga;
b. RTH publik 20% dari luas kawasan perkotaan terdiri atas :
1. RTH taman dan hutan kota terdiri atas : taman pekon, taman kelurahan, taman kecamatan, taman kota, hutan kota dan sabuk hijau.
2. RTH jalur hijau terdiri dari pulau jalan dan median jalan, jalur pejalan kaki, ruang di bawah jalan layang.
3. RTH fungsi tertentu terdiri atas : jalur hijau listrik tegangan tinggi, RTH sempadan sungai, RTH sempadan pantai, RTH pengamanan sumber air baku (mata air), lapangan olahraga dan pemakaman.
c. lahan RTH didominasi komunitas tumbuhan; dan d. ketentuan lebih lanjut mengenai RTH akan diatur
dengan Peraturan Daerah.
Paragraf 4
Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
Pasal 25
(1) Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf d, terdiri atas :
a. kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan;
b. kawasan Cagar Alam Laut; dan c. cagar budaya.
(2) Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dengan
luasan kurang lebih 186.926 Ha, tersebar di Kabupaten Pesisir Barat.
(3) Kawasan cagar alam laut sebagaimana selatan dimaksud pada ayat (1) huruf b, dengan luasan kurang lebih 8.878 Ha, terdapat di Kecamatan Bangkunat dan Kecamatan Lemong.
(4) Rencana Cagar budaya sebagaimana selatan dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di Kabupaten Pesisir Barat.
Paragraf 5
Kawasan Rawan Bencana Alam Pasal 26
(1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 huruf e, terdiri atas :
a. kawasan rawan bencana tanah longsor;
b. kawasan rawan bencana Tsunami/ gelombang pasang air laut;
c. kawasan rawan bencana banjir; dan d. kawasan rawan bencana gempa bumi.
(2) Kawasan rawan bencana longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, diantaranya di Kecamatan Lemong, Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Karya Penggawa dan Kecamatan Way Krui.
(3) Kawasan rawan bencana Tsunami/ gelombang pasang air laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan di seluruh wilayah pesisir kabupaten.
(4) Kawasan rawan bencana banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, diantaranya di Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Ngaras dan Kecamatan Bangkunat.
(5) Kawasan rawan bencana gempa bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, ditetapkan di seluruh wilayah kabupaten.
(6) Dalam rangka pencegahan, penanggulangan bencana dan penanganan pasca bencana maka diperlukan infrastruktur bencana yang meliputi bangunan peringatan dini bencana, jalur evakuasi dan tempat penampungan sementara korban bencana.
Bagian Ketiga Kawasan Budidaya
Pasal 27
Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan hutan produksi;
b. kawasan peruntukan pertanian;
c. kawasan peruntukan perikanan;
d. kawasan peruntukan pertambangan;
e. kawasan peruntukan industri;
f. kawasan peruntukan pariwisata;
g. kawasan peruntukan permukiman; dan h. kawasan peruntukan lainnya
Paragraf 1
Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Pasal 28
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf a, terdiri atas hutan produksi terbatas dengan luas kurang lebih 28.920 Ha yang tersebar di Kecamatan Lemong, Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Bangkunat.
(2) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan pola
kerjasama dalam rangka peningkatan produktivitas hasil hutan berupa kayu maupun non kayu.
Paragraf 2
Kawasan Peruntukan Pertanian Pasal 29
(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf b, dengan luasan kurang lebih 56.968 Ha, terdiri atas :
a. kawasan pertanian tanaman pangan;
b. kawasan pertanian hortikultura;
c. kawasan perkebunan; dan d. kawasan peternakan.
(2) Kawasan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri dari sawah dan non sawah dikembangkan di Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur;
(3) Kawasan pertanian holtikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dikembangkan di Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Ngambur;
(4) Kawasan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat;
(5) Kawasan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat.
(6) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan pola agropolitan yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(7) Kawasan pertanian tanaman pangan yang menjadi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dikembangkan dan ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 3
Kawasan Peruntukan Perikanan Pasal 30
a. Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf c, dengan luasan kurang lebih 3.708 Ha terdiri atas :
a. kawasan peruntukan perikanan tangkap;
b. kawasan peruntukan budidaya perikanan; dan c. kawasan pengolahan ikan.
b. Kawasan peruntukan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi Kecamatan Bangkunat, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Krui Selatan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Pesisir Utara, Kecamatan Lemong dan Kecamatan Pulau Pisang.
c. Kawasan peruntukan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi :
a. budidaya air tawar dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat;
b. budidaya air laut dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat; dan
c. budidaya air payau dikembangkan di Kecamatan Bangkunat dan Kecamatan Ngaras.
d. Kawasan peruntukan pengolahan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi Kecamatan Bangkunat, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Lemong dan Kecamatan Pulau Pisang.
e. Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan pola minapolitan dan ditetapkan dengan keputusan bupati.
Paragraf 4
Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 31
(1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf d, dengan luasan sekitar 20 Ha, dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat.
(2) Penetapan kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 5
Kawasan Peruntukan Industri Pasal 32
(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf e, dengan luasan sekitar 78 Ha, terdiri atas :
a. Kawasan peruntukan industri besar;
b. Kawasan peruntukan industri menengah; dan c. Kawasan peruntukan industri kecil/ industri
rumah tangga.
(2) Kawasan peruntukan industri besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dikembangkan di Kecamatan Bangkunat dan/atau Kecamatan Pesisir Selatan.
(3) Kawasan peruntukan industri menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, di Kabupaten Pesisir Barat.
(4) Kawasan peruntukan industri kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dikembangkan di
permukiman (industri rumah tangga) dan kawasan wisata (sentra industri kerajinan tangan) di Kabupaten Pesisir Barat.
Paragraf 6
Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal 33
(1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf f dengan luasan kurang lebih 438 Ha, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan pariwisata budaya;
b. kawasan peruntukan pariwisata alam; dan c. kawasan peruntukan pariwisata buatan.
(2) Kawasan peruntukan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dikembangkan pada daerah yang memiliki potensi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pesisir Barat, antara lain Makam Abang Kunat, Goa Matu, Makam Gajah Mada, Makam Syeikh Aminullah, Kampung Wisata, Makam Tokoh Adat dan Sumur Puteri.
(3) Kawasan peruntukan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dikembangkan pada daerah yang memiliki potensi daya tarik wisata alam di Kabupaten Pesisir Barat, antara lain Kawasan Tambling, Pantai Ujung Bangkunat, Pantai Teluk Ngaras, Way Cangkuk, Pantai Curup Indah, Rhino Camp, Pantai Sukanegara, Pantai Siging, Pantai Sumber Agung, Pantai Tanjung Setia, Pantai Way Jambu, Pantai Pasar Senin, Pantai Melasti, Pantai Biha, Pantai Marang, Pantai Mandiri, Pantai Lintik, Pantai Walur, Pantai Ilahan, Pantai Labuhan Jukung, Pantai Way Redak, Pantai Serai, Bukit Selalaw, Pantai Muara Way La’ay, Pantai Harapan Kita, Pantai Way Sindi, Pantai Pasir Hitam, Pantai Tembakak, Pantai Penengahan, Batu Lawang, Pantai Walur
Pesisir Utara, Air Terjun Rata Agung, Air Terjun Way Nyercik, Pantai Pugung dan Pulau Pisang.
(4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dikembangkan di Kabupaten Pesisir Barat, antara lain : Penangkaran Penyu Muara Tembulih, Bendungan Way Biha, Pelabuhan Kuala Stabas, Kawasan Labuhan Jukung dan Kawasan Tanjung Setia.
(5) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dikembangkan dengan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Zona Pariwisata.
(6) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah kabupaten dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Paragraf 7
Kawasan Peruntukan Permukiman Pasal 34
(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf g, dengan luasan sekitar 5.053 Ha, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan permukiman perkotaan;
dan
b. kawasan peruntukan permukiman perdesaan.
(2) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: Kecamatan Bangkunat, Kecamatan Pesisir Selatan, Kecamatan Pesisir Tengah, dan Kecamatan Lemong.
(3) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: Kecamatan Pulau Pisang, Kecamatan Ngaras, Kecamatan Ngambur, Kecamatan Krui
Selatan, Kecamatan Way Krui, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Pesisir Utara.
(4) Rencana kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 8
Kawasan Peruntukan Lainnya Pasal 35
(1) Rencana pengembangan kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 huruf h, meliputi :
a. kawasan peruntukan pertahanan keamanan; dan b. kawasan peruntukan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil.
(2) Kawasan pertahanan keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, adalah pembangunan dan peningkatan kawasan pertahanan keamanan di masing – masing kecamatan, meliputi : a. Kodim di Kabupaten Pesisir Barat;
b. Polres di Kabupaten Pesisir Barat;
c. Koramil di setiap kecamatan pada wilayah Kabupaten Pesisir Barat;
d. Polsek di setiap kecamatan pada wilayah Kabupaten Pesisir Barat.
(3) Kawasan wilayah pesisir dan pulau – pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri dari :
a. wilayah pesisir tersebar di Kabupaten Pesisir Barat; dan
b. pulau – pulau kecil meliputi Pulau Pisang dan Pulau Betuah
(4) Kawasan wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), akan diatur
lebih lanjut dengan peraturan perundangan- undangan yang berlaku.
BAB V
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS Pasal 36
(1) Kawasan strategis yang ada di Kabupaten Pesisir Barat, terdiri atas :
a. kawasan strategis nasional;
b. kawasan strategis provinsi; dan c. kawasan strategis kabupaten.
(2) Rencana kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan skala ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 37
Kawasan strategis nasional yang ada di Kabupaten Pesisir Barat sebagaimana dimaksud pada Pasal 36 ayat (1) huruf a adalah kawasan strategis dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan di Pulau Batu Kecil (Pulau Betuah) di Kecamatan Bangkunat.
Pasal 38
Kawasan strategis provinsi yang ada di Kabupaten Pesisir Barat sebagaimana dimaksud pada Pasal 36 ayat (1) huruf b, meliputi :
a. kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan, yaitu Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS);
b. kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi adalah kawasan agrominapolitan di Kecamatan Ngambur dan Kecamatan Ngaras.
Pasal 39
(1) Kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud pada Pasal 36 ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi; dan
b. kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan.
(2) Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a. Kawasan Ekowisata Pulau Pisang di Kecamatan Pulau Pisang;
b. Kawasan Labuhan Jukung di Kecamatan Pesisir Tengah;
c. Kawasan Tanjung Setia di Kecamatan Pesisir Selatan; dan
d. Kawasan perkotaan krui di Kecamatan Pesisir Tengah
(3) Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, Kawasan hutan tanam rakyat (HTR) tersebar di wilayah kabupaten.
(4) Pengembangan kawasan strategis kabupaten akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
BAB VI
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG Pasal 40
(1) Pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten berpedoman pada rencana struktur ruang dan pola ruang.
(2) Pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya.
(3) Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 41
(1) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada Pasal 40 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program pembangunan yang ditetapkan dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(2) Indikasi program pembangunan sebagaimana disebutkan dalam pasal (1), terbagi dalam 4 (empat) tahapan, yaitu :
a. Tahap I berupa 5 (lima) tahun pertama (tahun 2017 – 2022) yang terbagi atas program tahunan;
b. Tahap II berupa 5 (lima) tahun kedua (tahun 2023 – 2027)
c. Tahap III berupa 5 (lima) tahun ketiga (tahun 2028 – 2032)
d. Tahap IV berupa 5 (lima) tahun keempat (tahun 2033 - 2037)
(3) Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, investasi swasta dan kerja sama pendanaan.
(4) Kerja sama pendanaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VII
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu
Umum Pasal 42
1) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
2) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas :
a. ketentuan umum peraturan zonasi;
b. ketentuan perizinan;
c. ketentuan insentif dan disinsentif; dan d. arahan sanksi.
Bagian Kedua
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 43
1) Ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun peraturan zonasi.
2) Ketentuan umum peraturan zonasi terdiri atas :
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung; dan
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya.
3) Ketentuan umum peraturan zonasi dijabarkan lebih lanjut di dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan
Pasal 44
1) Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud pada pasal 42 ayat (2) huruf b, merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.
2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya.
3) Izin penggunaan pemanfaatan tanah sebagai instrumen dalam rangka mengakomodasi alih fungsi tanah sekaligus sebagai instrumen pengendalian perubahan penggunaan tanah.
4) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 45
(1) Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang harus mendapat izin langsung dari Bupati atau pejabat yang dibentuk.
(2) Jenis perizinan terkait pemanfaatan ruang yang ada di kabupaten, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari :
a. izin prinsip;
b. izin lokasi;
c. izin penggunaan pemanfaatan tanah;
d. izin mendirikan bangunan; dan
e. izin lain berdasarkan peraturan perundang- undangan.
(3) Izin pemanfaatan ruang diberikan untuk :
a. pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang, peraturan zonasi dan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang;
b. mencegah dampak negatif pemanfaatan ruang;
dan
c. melindungi kepentingan umum dan masyarakat luas.
(4) Izin pemanfaatan ruang yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi diberikan kepada calon pengguna ruang yang akan melakukan kegiatan pemanfaatan ruang pada suatu kawasan atau zona berdasarkan rencan tata ruang.
(5) Izin pemanfaatan ruang untuk kegiatan pemanfaatan sumber daya alam diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Khusus untuk izin pendirian rumah ibadah diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(7) Izin prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a, adalah izin yang diberikan berdasarkan rencana tata ruang.
(8) Izin lokasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b, adalah izin yang diberikan kepada perusahaan dan/atau perorangan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah dimaksud guna keperluan usaha penanaman modalnya.
(9) Izin penggunaan pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c, merupakan izin yang diberikan berdasarkan izin lokasi.
(10) Izin mendirikan bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d, merupakan izin yang diberikan berdasarkan rencana detail tata ruang dan/atau peraturan zonasi.
(11) Izin lain berdasarkan peraturan perundang- undangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf e, merupakan izin lain sesuai dengan perundang – undangan berlaku bidang penataan ruang.
(12) Mekanisme perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a sampai dengan huruf e diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pasal 46
(1) Ketentuan insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif.
(2) Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini.
(3) Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.
Pasal 47
a. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang wilayah kabupaten dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada masyarakat.
b. Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dilakukan oleh instansi berwenang sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 48
(1) Insentif yang diberikan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 46 ayat (2), terdiri atas :
a. keringanan pajak, subsidi silang;
b. pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
c. kemudahan prosedur perizinan;
d. pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah daerah;
e. kompensasi;
f. pengurangan restribusi;
g. imbalan; dan/atau
h. penyediaan sarana dan prasarana
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian insentif diatur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 49
(1) Disinsentif yang dikenakan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 46 ayat (3), terdiri atas :
a. perpanjangan prosedur;
b. perketat/ tambah syarat;
c. pajak tinggi;
d. restribusi tinggi;
e. denda;
f. pembatasan penyediaan infrastruktur; dan/atau g. penalti.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan disinsentif diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima Arahan Sanksi Pasal 50
(1) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) huruf d merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah dalam pengenaan sanksi administratif terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang.
(2) Pengenaan sanksi dilakukan terhadap :
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang;
b. pelanggaran ketentuan umum peraturan zonasi;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten;
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten;
e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten;
f. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau
g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar.
Pasal 51
(1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) huruf a, huruf b, huruf d, huruf e, huruf f, dan huruf g dikenakan sanksi administratif berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pembongkaran bangunan;
h. pemulihan fungsi ruang; dan/atau i. denda administratif.
(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) huruf c dikenakan sanksi administratif berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f. pemulihan fungsi ruang; dan/atau g. denda administratif.
BAB VIII KELEMBAGAAN
Pasal 52
(1) Dalam rangka koordinasi penataan ruang dan kerjasama antar wilayah, dibentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kabupaten Pesisir Barat.
(2) Tugas, susunan organisasi, dan tata kerja badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB IX
PERAN MASYARAKAT Bagian Kesatu Hak Masyarakat
Pasal 53
Dalam kegiatan mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah, masyarakat berhak:
a. berperan dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
b. mengetahui secara terbuka rencana tata ruang wilayah,
c. menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang;
d. memperoleh pergantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang;
e. mendapat perlindungan dari kegiatan-kegiatan yang merugikan; dan
f. mengawasi pihak-pihak yang melakukan penyelenggaraan tata ruang
Bagian Kedua Kewajiban Masyarakat
Pasal 54
Kewajiban masyarakat dalam penataan ruang wilayah meliputi:
a. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang diberikan; dan
c. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum.
Pasal 55
(1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada Pasal 54 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria, kaidah, baku mutu, dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dilakukan masyarakat secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan, norma susila, estetika lingkungan, lokasi, dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi, selaras, dan seimbang.