• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TARIF KARGO UDARA BERDASARKAN BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) DAN BREAK EVEN POINT (BEP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS TARIF KARGO UDARA BERDASARKAN BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) DAN BREAK EVEN POINT (BEP)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi ke-22 Universitas Halu Oleo, Kendari, 01 – 03 November 2019

82

ANALISIS TARIF KARGO UDARA BERDASARKAN BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) DAN BREAK EVEN POINT

(BEP)

Mochamad Irfan Algifari

Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia Jl. Sariasih No.54 Sarijadi-Bandung Indonesia

[email protected]

Abstract

The growth of cargo business in Indonesia has increased rapidly in recent years. But there were problems in 2018 for increase of cargo rates up to 300 %. One of the air cargo transport services companies that experienced these problems was My Indo Airlines. There needs to determine the calculation the air cargo tarif for the Cengkareng-Singapore route using the Vehicle Operating Costs (VOC) for the Boeing 737-300F on the Cengkareng-Singapore route and analysis Break Even Point (BEP). From the results of the calculation and processing of primary and secondary data, it can be seen that the depreciation amount of IDR 3,400,000,000 / year with the acquisition price of the fleet in 2014 at a price of IDR 28,000,000,000 with a life time 7 years.

Then total Fix Cost and Variable Cost is IDR 43,396,208,897/year and Rp Rp 37.670.320/ flight hour. The price for Rp/kg/trip is based on the ideal tarif is Rp 20.406/kg/trip. BEP analysis ideal tarif by amount Rp.

45,204,384/flight hour and must occur as many as 590 flight hours/year to break even.

Keywords: Air Cargo Rate, Flight Hours, Break Even Point, Vehicle Operating Costs, Aircraft

Abstrak

Pada tahun 2018 muncul permasalahan pada kenaikan tarif kargo sebesar 300%. Salah satu perusahaan jasa angkut kargo udara yang mengalami permasalahan tersebut adalah My Indo Airlines. Maka perlu adanya perhitungan penentuan tarif kargo udara rute Cengkareng-Singapura dengan menggunakan Biaya Operasi Kendaraan (BOK) untuk pesawat Boeing 737-300F rute Cengkareng-Singapura dan analisis mengenai Break Even Point (BEP). Dari hasil perhitungan dan pengolahan data primer dan sekunder, dapat dilihat jumlah penyusutan pesawat sebesar Rp 3.400.000.000 /tahun dengan harga perolehan pesawat pada tahun 2014 dengan harga sekitar Rp 28.000.000.000 dengan life time 7 tahun. Kemudian total Fix Cost dan Variable Cost sebesar Rp 43.396.208.897/tahun dan Rp 37.670.320/jam terbang. Sedangkan harga Rp/kg/trip berdasarkan tarif ideal adalah Rp 20.406/kg/trip. Analisis BEP untuk tarif ideal dengan jumlah Rp 45.204.384/jam terbang harus terjadi sebanyak 590 jam terbang/tahun untuk mencapai titik impas.

Kata Kunci: Tarif kargo udara, Jam Terbang, Break Even Point , Biaya Operasi Kendaraan, Pesawat

LATAR BELAKANG

Pesawat udara merupakan salah satu moda transportasi yang digunakan untuk jasa pengangkutan penumpang maupun untuk pengiriman barang di antaranya barang kargo, hewan hidup, pos, dokumen, tumbuhan hidup maupun jenazah. Pesawat memiliki karakteristik antara lain mampu mencapai tempat tujuan batas suatu negara dalam waktu cepat, dan menggunakan teknologi tinggi. Dalam kegiatan utamanya yaitu pemuatan dan pengiriman barang/orang dari suatu tempat ke tempat lainnya didukung oleh sarana serta prasarana yaitu Bandar udara.

Permintaan pengangkutan kargo semakin lama semakin meningkat dilihat dari banyaknya bermunculan maskapai-maskapai penerbangan kargo baik dari maskapai penerbangan dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Oleh sebab itu permintaan harus diimbangi dengan fasilitas yang tersedia dari mulai jumlah pesawat, harga pengiriman, jumlah pengangkutan

(2)

83

kargo dan jadwal penerbangan, agar dapat bersaing dengan maskapai penerbangan kargo lainnya dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pengiriman kargo menggunakan pesawat udara. Akan tetapi pada tahun 2018 muncul permasalahan pada tarif kargo udara meningkat sebesar 300% seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Asperindo, Mohamad Feriadi, pada Detik Finance (6 Februari 2019). Dimana awalnya kenaikan tarif kargo tersebut hanya terjadi pada satu maskapai saja. Tetapi dengan berjalannya waktu, kenaikan tarif kargo tersebut berlaku untuk semua maskapai. Oleh sebab itu semua pengusaha jasa pengiriman kargo atau kurir mengeluhkan mengenai hal tersebut, dan membuat para pengusaha pengiriman kargo atau kurir mengirim barangnya via darat dan tidak lagi menggunakan pesawat dikarenakan tarif yang sangat mahal. Dengan adanya peristiwa tersebut pihak maskapai mengalami kerugian akibat kenaikan tarif kargo udara dan sangat mengganggu biaya operasional, dikarenakan sudah mulai sedikitnya para pengusaha pengiriman kargo atau kurir yang memakai jasa angkut kargo udara. Sehingga biaya operasional menjadi membengkak dan tidak tertutupi. Penyebab kenaikan tarif kargo yang begitu melonjak disebabkan oleh naiknya harga bahan bakar avtur yang menyebabkan kenaikan tarif kargo begitu besar. Oleh karena itu, diperlukan solusi agar pihak pengirim kargo atau kurir dan maskapai penerbangan sama-sama memperoleh keuntungan.

Adanya isu seperti di atas ternyata tidak mempengaruhi pergerakan kargo udara internasional pada Bandara Soekarno Hatta. Pertumbuhan kargo di bandara tersebut cukup stabil; yakni sebesar 5% seperti yang diungkap langsung oleh PT Angkasa Pura Logistik Bandara Soekarno Hatta.

Salah satu perusahaan jasa angkutan kargo udara yaitu maskapai My Indo Airlines menyebutkan bahwa dengan adanya permasalahan tarif kargo udara naik tentu menjadi masalah terhadap pasar dan perusahaan akan tetapi yang paling menjadi masalah yaitu ketika harga bahan bakar avtur naik atau berubah sangat memberikan efek yang begitu kurang baik di mana harga sparepart untuk satu pesawat bisa menjadi sangat mahal dan jauh dari biasanya dan itu sangat menganggu dalam hal biaya maintenance atau perawatan pesawat udara. Berangkat dari permasalahan tersebut maka perlu diadakan suatu penelitian mengenai Biaya Operasional Kendaraan (BOK), sehingga mengetahui besaran tarif berdasarkan BOK.

Selain itu perlu juga dianalisis Break Even Point (BEP) yang dihasilkan oleh perusahaan.

METODE PENELITIAN

Kerangka Penelitian

Pada penelitian ini, perlu diidentifikasikan dahulu berbagai permasalahan yang terjadi agar menghasilkan suatu tujuan penelitian yang diharapkan maka perlu digunakan metode untuk dapat menentukan berapakah Biaya Operasi Kendaraan (BOK) Boeing 737-300F rute Cengkareng-Singapura, berapakah tarif ideal kargo udara pada rute Cengkareng-Singapura dan jumlah Break Even Point yang dicapai oleh perusahaan PT My Indo Airlines. Bagan alir pada penelitian ini dapat terlihat pada Gambar 1.

(3)

84

Gambar 1 Bagan Alir Penelitian

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang digunakan untuk pengambilan data adalah perusahaan My Indo Airlines yang beralamat di jalan DI Panjaitan kav 48 rukan Cawang Jakarta Indonesia.

Biaya Operasional Kendaraan

Biaya Operasional Kendaraan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan kendaraan. Oleh karena itu untuk mendapatkan biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan kendaraan tersebut maka terdapat rumus untuk Biaya Operasional Kendaraan (BOK) untuk perhitungan pesawat seperti berikut:

BOK/Tahun = Fix Cost/Tahun + Variable Cost/Tahun (1) BOK/Jam = BOK/Tahun

Jumlah Jam Terbang/Tahun

Break Even Point

Break Even Point menurut Hansen dan Mowen (2006:274) adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya, titik dimana laba sama dengan nol. Berikut merupakan analisis perhitungan Break Even Point (BEP) dengan rumus sebagai berikut:

BEP = FC

P−VC (2)

(4)

85 BEP : Break Even Point

FC : Fix Cost VC : Variable Cost P : Price/unit S : Sales Volume

HASIL DAN ANALISIS

Biaya Penyusutan Pesawat

Untuk melindungi pesawat dan kesanggupan mengganti pesawat pemilik harus memperhitungkan kembali umur manfaat pesawat seiring dengan penurunan nilai jual masa penyusutan pesawat sebanyak 7 tahun dengan nilai residu 15% dari harga perolehan, metode garis lurus adalah metode penyusutan di mana besarannya penyusutan selalu sama dari tiap periode akuntansi selama umur ekonomis dari aset tetap yang bersangkutan.

Tabel 1 Nilai Sisa Pada Umur Ekonomis Pesawat

Tahun Nilai sisa Biaya penyusutan Akumulasi penyusutan 2014 Rp28.000.000.000

2015 Rp24.600.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp 3.400.000.000 2016 Rp21.200.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp 6.800.000.000 2017 Rp17.800.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp10.200.000.000 2018 Rp14.400.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp13.600.000.000 2019 Rp11.000.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp17.000.000.000 2020 Rp 7.600.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp20.400.000.000 2021 Rp 4.200.000.000 Rp 3.400.000.000 Rp23.800.000.000 Biaya Operasi Kendaraan

Biya operasional kendaraan adalah total dari biaya tetap (fix cost) + biaya tidak tetap (variable cost). Adapun fix cost dan variable cost pesawat dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Biaya tetap (fix cost) adalah pengeluaran yang tidak tergantung pada tingkat barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Tabel 2 Perhitungan Fix Cost Pesawat Komponen Rp/pesawat-thn Trip/Tahun kg/Trip Rp/pesawat-

Trip

Rp/kg- Trip

Rp/pesawat- jam 1 Asuransi

Pesawat (3,569%)

999.320.000 576 4.431 1.734.931 392 867.465

2 Penyusutan pesawat

3.400.000.000 576 4.431 5.902.778 1332 2.951.389 3 Gaji Awak

Pilot 1.080.000.000 576 4.431 1.875.000 423 937.500 Co-Pilot 804.000.000 576 4.431 1.395.833 315 697.917

FOO 360.000.000 576 4.431 625.000 141 312.500

Teknisi 1.080.000.000 576 4.431 1.875.000 423 937.500

Supir 30.000.000 576 4.431 52.083 12 26.042

(5)

86

Komponen Rp/pesawat-thn Trip/Tahun kg/Trip Rp/pesawat- Trip

Rp/kg- Trip

Rp/pesawat- jam Tunjangan

Crew

1.340.560.000 576 4.431 2.327.361 525 1.163.681 Dokumen

Crew

7.500.000 576 4.431 13.021 3 6.510

5 Perizinan dan Administrasi

20.715.000 576 4.431 35.964 8 17.982

Total 9.122.095.000 15.836.970 3.574 7.918.485

Biaya tidak tetap (variable cost) adalah pengeluaran yang bergantung pada tingkat barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Perhitungan Variable Cost Pesawat Komponen Rp/pesawat-

thn

Trip/Tahun kg/Trip Rp/pesawat- Trip

Rp/kg- Trip

Rp/pesawat- jam 1 Pemakaian

avtur (PP)

21.185.856.000 576 4.431 36.781.000 8301 18.390.500 2 Main wheel

(4)

196.000.000 576 4.431 340.278 78 170.138

3 Nose wheel (2)

84.000.000 576 4.431 145.833 33 72.916

4 Brake unit (4)

448.000.000 576 4.431 777.778 176 388.888 5 C Check 350.500.000 576 4.431 608.507 137 304.253

6 A Check 29.378.000 576 4.431 51.003 12 25.501

7 Landing cgk

637.983.360 576 4.431 1.107.610 250 553.805 8 Biaya

parkir pesawat

cgk

518.400.000 576 4.431 900.000 203 450.000

9 Biaya Parkir pesawat singapura

214.272.000 576 4.431 372.000 84 186.000

10 Landing Singapura

1.713.600.000 576 4.431 2.975.000 671 1.487.500 11 Ground

handling cgk

576.000.000 576 4.431 1.000.000 226 500.000

12 Ground handling

sin

921.600.000 576 4.431 1.600.000 361 800.000

13 Ongkos Jemput Crew

144.000.000 576 4.431 250.000 56 125.000

(6)

87 Komponen Rp/pesawat-

thn

Trip/Tahun kg/Trip Rp/pesawat- Trip

Rp/kg- Trip

Rp/pesawat- jam 14 Engine

CFM 56- 3B

6.533.333.333 576 4.431 11.342.593 2560 5.671.296,30

15 Biaya lain- lain

721.191.204 576 4.431 1.252.068 283 626.034,03

Total 34.274.113.897 59.503.670 13.431 29.751.835

Biaya Operasional Kendaraan (BOK) adalah total dari Biaya Tetap (Fix Cost) + Biaya Tidak Tetap (Variable Cost). BOK pesawat adalah Rp37.670.320/pesawat-jam. Adapun Biaya Operasi Kendaraan (BOK) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Biaya Operasi Kendaraan (BOK) Pesawat

Jenis Biaya Rp/pesawat-thn Rp/kg-Trip Rp/pesawat- jam 1 Biaya tetap (FiX Cost) 9.122.095.000 3.574 7.918.485 2 Biaya Tidak tetap (Variable

Cost)

34.274.113.897 13.431 29.751.835 3 Jumlah (BOK) 43.396.208.897 17.005 37.670.320

Tarif Ideal

Tarif ideal adalah hasil penjumlahan dari tarif pokok + fee management 10% + overhead cost 10%. Hasil dari perhitungan tarif ideal tersebut untuk Rp/Kg/Trip sebesar Rp 20.406/Kg dan untuk Rp/pesawat/jam terbang sebesar Rp 45.204.380/jam terbang.

Adapun tarif ideal dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Tarif Ideal

Satuan Tarif pokok Fee

management 10%

Overhead 10% Tarif ideal

Rp/pesawat/tahun 43.396.208.897 4.339.620.889,7 4.339.620.889,7 52.075.450.676 Rp/pesawat-jam

terbang

37.670.317 3.767.032 3.767.032 45.204.380

Rp/kg-trip 17.005 1700,5 1700,5 20.406

Break Even Point (BEP)

a. Kuantitas (jam terbang) yang harus ditempuh dengan menggunakan tarif eksisting Rp 37.655.000/jam terbang

BEPQ = 𝑓𝑐

𝑝/𝑢𝑛𝑖𝑡−𝑣𝑐/𝑢𝑛𝑖𝑡

Dimana

• FC = fix cost/pesawat/thn = Rp 9.122.095.000 /pesawat/tahun

• P = price/pesawat/jam terbang = Rp 37.655.000/pesawat/jam terbang

(7)

88

• VC = Variable cost/pesawat/jam terbang = Rp 29.751.835/ pesawat/

jam terbang

BEP Q = 𝐹𝐶

𝑝/𝑢𝑛𝑖𝑡−𝑉𝐶/𝑢𝑛𝑖𝑡

= 9.122.095.000 37.655.000−29.751.835

=9.122.095.000

7.903.165 = 1.154 jam terbang/tahun

Gambar 2 Grafik Break Even Point Tarif Eksisting

b. Kuantitas (jam terbang) yang harus dicapai dengan menggunakan tarif ideal Rp45.204.384 dapat dilihat sebagai berikut:

• FC = fix cost /pesawat/tahun = Rp 9.122.095.000

• P = price /pesawat/jam terbang = Rp 45.204.384

• VC = variable cost /pesawat/jam terbang = Rp 29.751.835 BEP Q = 𝐹𝐶

𝑝/𝑢𝑛𝑖𝑡−𝑉𝐶/𝑢𝑛𝑖𝑡

= 9.122.095.000 45.204.384−29.751.835

=9.122.095.000

15.452.549 = 590 jam terbang

(8)

89

Gambar 3 Grafik Break Even Point Tarif Ideal

KESIMPULAN

1. Biaya penyusutan pesawat dari hasil pengolahan data dengan menggunakan metode garis lurus, dapat dilihat bahwa nilai sisa pada umur ekonomis pesawat yaitu 7 tahun setiap tahunnya mengalami penurunan yang konsisten yaitu Rp 3.400.000.000/tahun.

Pada tahun 2014 harga perolehan pesawat sekitar Rp 28.000.000.000, pada tahun 2015 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 24.600.000.000, pada tahun 2016 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 21.200.000.000, pada tahun 2017 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 17.800.000.000, pada tahun 2018 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 14.400.000.000, pada tahun 2019 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 11.000.000.000, pada tahun 2020 nilai pesawat tersebut menjadi Rp 7.600.000.000, dan pada tahun 2021 nilai pesawat menjadi Rp 4.200.000.000.

2. Biaya Operasional Kendaraan dari perhitungan fix cost dan variable cost didapatkan nilai fix cost sebesar Rp 9.122.095.000/tahun dan untuk jam terbang Rp 7.918.485 sedangkan untuk nilai variabel cost yaitu Rp 34.274.113.897/tahun dan untuk jam terbang Rp29.751.835. Total fix cost dan variable cost sebesar Rp 43.396.208.897/tahun dan untuk jam terbang sebesar Rp 37.670.320.

3. Tarif ideal berdasarkan perhitungan BOK menghasilkan tarif ideal per tahun Rp 52.075.450.676 serta untuk per kg yaitu sebesar Rp.20.406,-/kg-trip sedangkan tarif ideal untuk per jam terbang sebesar Rp 45.204.384/pesawat-jam terbang.

4. Hasil perhitungan Break Even Point untuk perusahaan My indo Airlines terdapat dua tarif yaitu tarif eksisting dan tarif ideal. Analisis BEP untuk tarif eksisting sebesar Rp 37.655.000/pesawat-jam terbang. Maka dari hasil analisis Break Even Point untuk tarif eksisting harus terjadi sebanyak 1.154 jam terbang/tahun agar mencapai titik impas.

Analisis BEP untuk tarif ideal sebesar Rp 45.204.384/jam terbang. Maka dari hasil analisis Break Even Point tarif ideal harus terjadi sebanyak 590 jam terbang/tahun agar mencapai titik impas atau lebih tepat nya lagi pada bulan ke 7 perusahaan sudah dapat mencapai titik impas.

(9)

90

DAFTAR PUSTAKA

Boeing, 2015. Boeing Freighter Family: Leading the Air Cargo Industry. Diakses di https://www.boeing.com/commercial/freighters/ pada tanggal 9 maret 2019.

Departemen Perhubungan, 2008, KM. 25 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara, Jakarta.

Departemen Perhubungan Republik Indonesia (2003). Keputusan Menteri Perhubungan RI No.3 Tahun 2003, Penyelenggaraan Angkutan Udara, Jakarta: Departermen Perhubungan Republik Indonesia.

Harahap, Sofyan Syafri. 1995. Akuntansi Aktiva Tetap. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kementrian Perhubungan, 2009, UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, Jakarta.

Kementrian Perhubungan, 2009, PP No. 40 Tahun 1995 Tentang Angkutan Udara yang diubah dengan PP No. 3 Tahun 2000 Tentang Angkutan Udara, Jakarta.

Koswara. 2012. Boeing B-737 Seri -300 dan -400. Diakses di http://myelectronicnote.blogspot.com/2017/02/boeing-b-737-seri-300-400.html pada tanggal 12 maret 2019.

Nasution, M. Nur. 2004. Manajemen Transportasi. Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nurlitasari, Ervina. 2009. Analisis Tarif Pengiriman Barang Menggunkan Mteode Biaya Operasional Kendaraan (BOK) di PT Dakota Buana Semesta Untuk Tujuan Bandung- Solo. Bandung Jurusan Politeknik Pos Indonesia.

Prihananto, Didik. 2007. Pemilihan Tipe Pesawat Terbang Untuk Rute Yogyakarta-Jakarta Berdasarkan Perkiraan Biaya Operasional. Skripsi Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto.

Puspita, Aulia. 2012. Analisis Break Event Point Sebagai Pereencanaan Laba PR. Kreatifa Hasta Mandiri. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Rezki, Yogie Muhammad. 2018. Analisis Tarif Ideal dan Umur Ekonomis Kendaraan pada Project YCH Inbound Pengiriman Deltamas Cikarang-Ciracas PT. Sinarmas Logistik.

Bandung: Skripsi Manajemen Transportasi Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia.

Salim, Abbas H. 2008. Manajemen Transportasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Simbolon, M. Maringan. 2003. Ekonomi Transportasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Slsblfqa. 2013. Aircraft Maintenance Operation. Diakses di https://slsblfqa.wordpress.com/2013/10/27/aircraft-maintenance-operation/ pada tanggal 9 maret 2019.

Soeparno W. 2009. Analisis Forecasting dan Keputusan Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

Suksmahadji, Prawoto Agusanto. 2009. Perhitungan Biaya Operasi Langsung Pesawat Udara Tobago TB-10. Tangerang Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia.

Syarifudin. 2012. Rumus Fungsi Penyusutan Metode Garis Lurus. http://xclmedia.net Wahyudianto, Arif. (2019, April 10). Personal Interview.

Referensi

Dokumen terkait

Data didapat dengan penyebaran kuisioner kepada pengguna angkutan bus Batik Solo Trans koridor 7 dan wawancara dengan awak bus Batik Solo Trans koridor 7, kemudian data di

Usia pemakaian ban sangat bergantung dengan cara sopir mengemudikan kendaraannya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kecepatan saja, tetapi juga dipengaruhi keterampilan

Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi adalah angkutan dari satu kota ke kota lain yang melalui antar daerah Kabupaten / Kota dalam satu daerah Provinsi dengan menggunakan

Analisis Kinerja dan Tarif Angkutan umum Bus Jurusan Surakarta-Yogyakarta: Studi kasus pada bus Langsung Jaya, Jaya Putra dan Sri Mulyo, Jurnal Ilmiah Semesta

Secara umum defenisi dari biaya pokok angkutan umum adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh operator untuk dapat menghasilkan satuan produksi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja pelayanan angkutan perdesaan pada sembilan trayek angkutan yang melayani rute di Kabupaten Sleman saat ini yang

adalah data biaya operasi kendaraan meliputi: investasi awal (harga kendaraan pada tahun dasar), biaya tetap (depresiasi, bunga modal, kir dan samsat kendaraan,

Setelah perusahaan dapat menentukan dan mengklasifikasikan berbagai macam biaya yang digunakan dalam menghasilkan suatu produk, maka industri tahu dapat memasukan biayabiaya tersebut