• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis paru merupakan infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar ketika penderita Tuberkulosis mengeluarkan

bakteri ke udara, misalnya dengan batuk. Pada umumnya mengenai paru-paru (TB paru) tetapi juga dapat mengenai jaringan lain (TB ekstraparu) (WHO, 2019).

Pada tahun 2016 terdapat 10,4 juta kematian di dunia karena tuberkulosis.

Negara-negara yang memiliki penderita tuberkulosis terbanyak di dunia diantaranya adalah India, Indonesia, China, Filipina dan Pakistan yang menyumbang 56% secara keseluruhan. Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah India sebagai Negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak (WHO, 2017). Dari data Kementrian Kesehatan Indonesia pada tahun 2017 ditemukan kasus tuberkulosis sebanyak 351.893 kasus, terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan ditemukannya kasus tuberkulosis pada tahun 2015 sebesar 330.729 kasus. Jumlah kasus tertinggi berada di provinsi yang memiliki penduduk yang banyak yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat. Kasus tuberkulosis terbanyak berada di Jawa Timur sebanyak 40.000 penderita. Dari data sementara, daerah yang memiliki kasus tuberkulosis terbanyak adalah Surabaya sebanyak 3.569 penderita, Jember sebanyak 2.353 penderita, Sidoarjo sebanyak 1.638 penderita dan Gresik sebanyak 1.294 penderita (Dinas Kesehatan Kota Surabaya, 2017). Jumlah penderita total kasus tuberkulosis di Kota Malang pada tahun 2017 mencapai 1.783 penderita, menurun dari tahun 2016 yang mencapai 1.854 penderita. Sedangkan penderita Tuberkulosis Paru Basil Tahan Asam positif pada tahun 2017 berjumlah 586 penderita, meningkat dibandingkan pada tahun 2016 dengan jumlah 573 penderita (Dinkes Malang, 2017). Di kota Malang sendiri pada tahun 2017 pasien TB yang dinyatakan sembuh sebanyak 66,97% dan mengalami penurunan pada tahun 2018 yaitu sebanyak 61,76% (Dinas Kesehatan, 2018).

Dari data di atas yang menunjukan tingginya angka penderita maka harus ada penanganan yang tepat terhadap penyakit ini. Pengobatan tuberkulosis diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif (tahap awal) dan tahap lanjutan (tahap continue). Jika pemberian obat untuk tahap intensif diberikan dengan tepat akan

(2)

meningkatkan keadaan yang awalnya berada pada tingkat yang menular menjadi ke tingkat tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar Tuberkulosis Basil Tahan Asam positif akan menjadi tuberkulosis Basil Tahan Asam negative (konversi) dalam kurun waktu 2 bulan (Kemenkes RI, 2016).

Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam pengobatan tuberkulosis untuk membunuh kuman Mycobacterium tuberculosis adalah anti infeksi dan antibiotik.

Obat yang digunakan dalam pengobatan diantaranya; Pirazinamid (Z), Rifampisin (R), Etambutol (E), Isoniazid (H), dan Streptomisin (S) (Widhiartini et al., 2019).

Akan tetapi masih banyak penderita tuberkulosis yang gagal dalam pengobatan.

Faktor yang banyak mempengaruhi gagalnya pengobatan yang dilakukan adalah ketidakpatuhan pasien tuberkulosis dalam menjalankan terapi yang memerlukan jangka waktu 6-8 bulan dan memerlukan komitmen yang kuat dari pasien dalam mencapai kesembuhan. (Kemenkes RI, 2016).

Paduan terapi OAT yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia diberikan dalam 3 kategori. Pasien tuberkulosis tahap intensif mendapat terapi OAT kategori 1, kategori 2 dan kategori anak.

Antituberkulosis kategori 1 adalah pengobatan yang diperuntukkan untuk pasien baru (Kemenkes RI, 2016).Pasien baru yang dimaksudkan adalah pasien yang sebelumnya tidak memiliki riwayat pengobatan tuberkulosis dan pasien yang baru mendapat obat antituberkulosis kurang dari 1 bulan. Pemberian antituberkulosis kategori 1 pada tahap intensif mendapatkan obat Isoniazid, Rifampisin, Etambutol, Pirazinamid selama 2 bulan dan diminum satu kali dalam sehari (Kemenkes RI, 2016). Antituberkulosis kategori 2 adalah pengobatan yang diberikan untuk pasien kambuh, pasien gagal, pasien dengan pengobatan setelah putus berobat. Pemberian antituberkulosis kategori 2 pada tahap intensif mendapat obat yang sama seperti kategori 1 tetapi mendapatkan tambahan Streptomisin, obat diberikan selama 3 bulan dan diminum satu kali dalam sehari.

Antituberkulosis kategori anak untuk tahap intensif mendapatkan obat Isoniazid, Rifampisin dan Pirazinamid diminum satu kali dalam sehari selama 2 bulan diberikan sesuai dengan berat badan (Kemenkes RI, 2016).

Jika pemberian obat untuk tahap intensif diberikan dengan tepat akan meningkatkan keadaan yang awalnya berada pada tingkat yang menular menjadi

(3)

ketingkat tidak menular dalam kurun waktu 2 mingu. Sebagian besar tuberkulosis BTA positif akan menjadi tuberkulosis BTA negatif (konversi) dalam kurun waktu 2 bulan (Kemenkes RI, 2016). Pengobatan yang teratur pada pasien tuberkulosis dapat sembuh total, jika pasien patuh terhadap aturan pengobatan tuberkulosis. Hal yang penting bagi pasien tuberkulosis adalah tidak putus obat karena jika pasien menghentikan pengobatan, bakteri TB akan mulai berkembang biak lagi sehingga pasien harus mengulang pengobatan intensif selama 2 bulan pertama (Irnawati, Siagian dan Ottay, 2016).

Terapi tahap lanjutan sangat sensitif terhadap obat yang berlangsung minimal 4 bulan (Barker, 2016). Tidak sedikit penderita tuberkulosis pada tahap lanjutan ini yang mengalami kegagalan dalam terapi pengobatan (Mardhiyah et al., 2016). Penderita tuberkulosis tahap lanjutan dapat selesai dan sembuh total,

apabila penderita patuh terhadap aturan pengobatan yang teratur. Hal paling penting pada penderita tuberkulosis yaitu tidak ada putusnya minum obat pada tahap lanjutan karena jika penderita menghentikan pengobatan maka kuman tuberkulosis akan berkembangbiak kembali sehingga penderita harus mengulangi pengobatan dari tahap awal lagi selama 2 bulan pertama (Irnawati dkk., 2016).

Kepatuhan adalah perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, makanan, lingkungan dan sistem pelayanan kesehatan (Astuti et al., 2016). Tingkat kepatuhan konsumsi obat antituberkulosis sangat penting, karena apabila pengobatan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan tidak dilakukan secara teratur maka akan dapat menimbulkan resistensi (kekebalan) bakteri Tuberkulosis (TB) terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara meluas atau dapat disebut juga dengan Multi Drugs Resistant (MDR). Ketidakpatuhan terhadap pengobatan akan menyebabkan tingginya angka kegagalan penderita tuberkulosis paru, sehingga akan meningkatkan resiko kesakitan, kematian, dan menyebabkan meningkatnya penderita tuberkulosis paru dengan Basil Tahan Asam (BTA) yang resisten dengan pengobatan standar. Penderita yang sudah mengalami resisten tersebut akan menjadi sumber penularan bakteri yang resisten di masyarakat (Pameswari et al., 2016). Ketidakpatuhan pengobatan penderita tuberkulosis sering terjadi dengan alasan karena merasa lebih baik. Banyak penderita tidak patuh dalam pengobatan dengan alasan tidak memiliki uang,

(4)

walaupun obat yang diberikan gratis, dukungan keluarga atau lingkungan sosial sangat penting untuk kepatuhan (Pameswari et al., 2016).

Mengingat kepatuhan penderita diperlukan dalam keberhasilan suatu terapi, maka penelitian terhadap profil kepatuhan penderita tuberkulosis fase intensif dan lanjutan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) perlu dilakukan.

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kepatuhan adalah Adherence to Refills and Medications Scale (ARMS). Instrumen Adherence to Refills and Medications Scale (ARMS) memiliki tingkat validitas

dan reliabilitas yang baik untuk mengukur kepatuhan pada populasi dengan penyakit kronis serta dapat digunakan pada low heath literacy skills (Culig and Leppée, 2014).

Penelitian ini akan dilakukan di Pusat Kesetahan Masyarakat (Puskesmas) yang berada di Kecamatan Sukun Kota Malang Jawa Timur. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya preventif dan promotif, untuk mencapai tingkat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Kemenkes RI, 2016).

Penderita tuberkulosis bisa mendapatkan penyuluhan dan pelayanan kesehatan secara gratis di Puskesmas. Upaya penanggulangan penyakit tuberkulosis sudah dilakukan melalui berbagai program kesehatan di tingkat Puskesmas, berupa pengembangan strategi penanggulangan tuberkulosis yang dikenal dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Short Course). Kecamatan Sukun sendiri merupakan satu dari lima wilayah Kecamatan di Kota Malang. Untuk memenuhi pelayanan kesehatan, di Kecamatan Sukun mempunyai beberapa puskesmas yaitu Puskesmas Janti, Puskesmas Mulyorejo dan Puskesmas Ciptomulyo.

Alasan dilakukannya penelitian di Puskesmas Janti dan Puskesmas Ciptomulyo dilihat dari data Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2017 yang menyebutkan bahwa di Kecamatan Sukun terdapat 3 puskesmas dengan kejadian tuberkulosis yang tinggi Basil Tahan Asam (BTA+) yaitu Puskesmas Janti (34 pasien) dan Puskesmas Ciptomulyo (26 pasien) dengan total 89 pasien. Dari data profil Dinas Kesehatan Kota Malang bahwa Puskesmas Janti memiliki penderita tuberkulosis tertinggi dari semua puskesmas di Kecamatan Sukun sehingga

(5)

terjadinya penyebaran penyakit tuberkulosis yang semakin meningkat. Maka perlu dilakukan penelitian tentang profil kepatuhan pasien tuberkulosis tahap Multi Drug Resistant (MDR) dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Janti Kecamatan Sukun Kota Malang.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana profil kepatuhan pasien tuberkulosis dalam mengonsumsi Obat Anti tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Kecamatan Sukun Kota Malang?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kepatuhan pasien tuberkulosis dalam mengonsumsi OAT di Puskesmas Kecamatan Sukun Kota Malang.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang kepatuhan pasien dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Selain itu penerapan ilmu yang didapat selama perkuliahan dalam hal kontroling pasien akan kepatuhan berobat.

1.4.2 Manfaat Bagi Universitas

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau mengembangkan ilmu pengetahuan dan tambahan informasi bagi pembaca dosen atau mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang tentang kepatuhan pasien tuberkulosis dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kepada mahasiswa.

1.4.3 Manfaat Bagi Puskesmas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Sukun Kota Malang.

1.4.4 Manfaat Bagi Masyarakat

Penelitian ini bertujuan agar menjadi media informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat mendukung meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan tuberkulosis di Puskesmas Kecamatan Sukun Kota Malang.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penerapan strategi pembelajaran Learning Contract dapat meningkatkan minat belajardan hasil belajar siswa kelas IV pada tema

Pada akhirnya kondisi tersebut berdampak pada anak-anak, yaitu anak tumbuh dan berkembang dengan kurang memiliki jiwa sosial terutama sikap toleransi terhadap

(3) kedisiplinan belajar santri berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan menghafal al- Qur’an santri pondok pesantren Al-Aziz Lasem Rembang, hal ini terbukti

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

sehingga peserta didik yang mempunyai motivasi tinggi mendapatkan energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar yang pada akhirnya akan mampu

Penelitian ini terdiri dari dua percobaan yaitu 1) Iradiasi sinar gamma pada kalus embriogenik jeruk keprok SoE untuk mendapatkan nilai LD 50. 2) Seleksi untuk mendapatkan

Karena adanya rantai yang panjang dan ikatan rangkap pada struktur kimia minyak jarak diperlukan sejumlah energi dari luar yang dapat membantu energi panas untuk pemutusan

Artinya, proses komunikasi yang terjadi dalam organisasi tersebut jika terlaksana dengan baik maka BASARNAS Kupang akan semakin kokoh dan kinerja pegawai akan meningkat.