• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Penelitian

Konsumsi cabai rata-rata penduduk Indonesia adalah 5,21 kg/kapita/tahun. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun (BPS, 2011). Berdasarkan kondisi tersebut dapat diketahui bahwa konsumasi cabai dalam negeri pada tahun 2010 mencapai 1,237,669 ton. Produksi cabai nasional tahun 2009 adalah 1.378.727 dengan luas panen 233.904 ha dan produktivitas rata-rata sebesar 5,89 ton/ha (BPS, 2011). Produktivitas rata-rata yang hanya 5,89 ton/ha tersebut belum optimal dan masih dapat ditingkatkan dengan melakukan intensifikasi terhadap kegiatan budidaya.

Kegiatan agribisnis syarat dengan pemanfaatan informasi dan pengetahuan yang dalam. Petani sebagai pelaku agribisnis harus memiliki pengetahuan yang baik terkait kegiatan-kegiatan agribisnis. Hal-hal yang harus dimiliki oleh pelaku agribisnis adalah kemampuan merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengatasi masalah agribisnis. Tamba (2007) menyatakan bahwa informasi yang dibutuhkan petani adalah peningkatan produksi dan mutu, informasi ketersediaan sarana produksi, informasi ketersediaan permodalan, informasi teknologi pengolahan hasil, informasi dukungan pemasaran dan metode analisis usaha tani.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tamba (2007) terdapat dua tipologi petani terkait dengan kebutuhan informasi dan pengetahuan dalam kegiatan usaha tani (agribisnis) yaitu petani maju dan petani berkembang. Tabel 1 menunjukkan tingkat kebutuhan petani sayuran terhadap berbagai jenis informasi pertanian. Mayoritas petani maju mengganggap kebutuhan informasi sarana produksi pertanian dan metode analisis usaha tani dengan tingkat kepentingan yang tinggi. Sementara kebutuhan informasi peningkatan produksi dan dukungan pemasaran memiliki tingkat kepentingan sedang dan informasi pengolahan hasil, petani maju belum menganggap informasi ini penting. Petani berkembang memandang informasi analisis usaha tani sangat diperlukan. Petani berkembang belum

(2)

memandang perlu informasi ketersediaan permodalan dan informasi pengolahan hasil. Namun demikian idealnya dalam kegiatan agribisnis semua informasi yang terkait dapat diakses dengan mudah oleh petani.

Tabel 1. Tingkat Kebutuhan Informasi Petani Sayuran terhadap berbagai Jenis Informasi Pertanian (Tamba, 2007)

Kebutuhan Informasi Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) Total (%) Petani Maju 1. Peningkatan Produksi 1,7 63,80 34,5 100

2. Ketersediaan Sarana Produksi 0 51,70 48,3 100

3. Ketersediaan Permodalan 81,0 15,5 3,5 100

4. Teknologi Pengolahan Hasil 63,8 32,8 3,4 100

5. Dukungan pemasaran 29,3 55,2 15,5 100

6. Metode Analisis Usaha Tani 0 37,9 62,1 100 Petani Berkembang

1. Peningkatan Produksi 15,9 78,6 5,5 100

2. Ketersediaan Sarana Produksi 4,4 58,2 37,4 100 3. Ketersedaiaan Permodalan 88,5 9,3 2,2 100 4. Teknologi Pengolahan Hasil 87,4 12,6 0 100

5. Dukungan Pemasaran 31,9 64,3 3,8 100

6. Analisis Usaha Tani 0,5 41,2 58,3 100

Semua Petani

1. Peningkatan Produksi 12,5 75 12,5 100

2. Ketersediaan Sarana Produksi 3,3 56,7 40,0 100 3. Ketersedaiaan Permodalan 86,7 10,8 2,5 100 4. Teknologi Pengolahan Hasil 81,7 17,5 0,8 100

5. Dukungan Pemasaran 31,2 62,1 6,7 100

6. Analisis Usaha Tani 0,4 40,4 59,2 100

(3)

Secara keseluruhan, baik petani maju maupun petani berkembang sama-sama membutuhkan informasi tentang peningkatan produksi dan mutu sayuran, ketersediaan permodalan, lokasi pemasaran sayuran, teknologi pengolahan hasil sayuran dan informasi tentang metode analisis usaha tani sayuran. Perbedaannya adalah dalam hal tingkat kebutuhan masing-masing jenis informasi. Hal ini disebabkan karena kesadaran akan pentingnya informasi dan tingkat inovasi petani maju lebih tinggi daripada petani berkembang (Tamba, 2011).

Melihat kondisi tersebut, dukungan sistem konsultasi agribisnis cabai (Capsicum anuum. L) menjadi suatu keharusan agar kegiatan agribisnis memiliki daya saing. Kondisi ini mengharuskan adanya stake holder yang menyediakan sistem konsultasi agribisnis cabai. Kendala yang dihadapi petani terkait dengan akses terhadap pengetahuan agribisnis cabai adalah belum adanya sistem konsultasi yang dibangun secara komprehensif untuk budidaya cabai saat ini. Petani masih mengandalkan media-media yang ada seperti bertanya kepada penyuluh pertanian, membaca surat kabar, dan bertanya kepada petani lain yang sudah sukses.

Sistem konsultasi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pengetahuan (knowledge) dalam kegiatan agribisnis. Sistem konsultasi yang dibangun pada penelitian ini akan menjadi media diseminasi informasi dan pengetahuan agribisnis. Sistem dibangun spesifik untuk kegiatan agribisnis cabai merah (Capsicum annuum. L). Sistem yang dibangun diimplementasikan secara online dan berbasis web agar dapat diakses oleh petani secara real time.

Dalam mengembangkan sistem konsultasi harus melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi perencanaan sistem (Indentifikasi permasalahan), pencarian sumber pengetahuan, akuisisi pengetahuan, representasi pengetahuan, analisis rancangan konseptual sistem konsultasi, pengujian dan pemeliharaan sistem. Keluaran dari tahapan perencanaan adalah spesifikasi perancangan logik dan teknis dari implementasi sistem yang dibangun.

(4)

3.2. Tahapan Penelitian

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini mengacu pada metode pengembangan sistem pakar (Turban, 2007). Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah Identifikasi permasalahan, pencarian sumber pengetahuan, akuisisi pengetahuan, representasi pengetahuan dan rancang bangun sistem konsultasi. Tahapan rancangan bangun sistem konsultasi dilakukan dengan menggunakan metode System Development Life Cycle (SDLC) Extreme Programming (XP). SDLC XP dipilih karena informasi dan pengetahuan, pakar agribisnis cabai, dan berbagai infrastruktur yang mendukung sudah tersedia sehingga sistem konsultasi dapat dilakukan dengan cepat.

Pada penelitian ini dilakukan penggunaan kembali (reuse) pengetahuan-pengetahuan ilmiah dan petunjuk lapangan (best practice) kegiatan agribisnis cabai. Penggunaan kembali pengetahuan memungkinkan pengembangan sistem konsultasi dengan cepat agar segera didapatkan hasil untuk diimplementasikan kepada calon pengguna. Pengalihan pengetahuan dari berbagai sumber dilakukan agar dapat diimplementasikan ke dalam sistem berbasis komputer yang dapat diakses secara online. Hal-hal tersebut yang menjadi alasan dipilihnya metode SDLC XP dalam rancang bangun sistem konsultasi. Tahapan-tahapan penelitian digambarkan secara grafis pada Gambar 12.

3.2.1. Identifikasi Masalah

Pada tahapan ini akan diidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh petani serta identifikasi kebutuhan informasi dan pengetahuan yang mendukung kegiatan kegiatan agribisnis cabai (Capsicum annuum. L) yang baik. Identifikasi permasalahan ini mengacu pada penelitian yang dilakukan Tamba (2007) tentang kebutuhan informasi pertanian dan aksesnya bagi petani sayuran. Informasi dan pengetahuan tersebut selanjutnya digali pada tahapan pencarian sumber pengetahuan dan akuisisi pengetahuan. Hasil dari tahapan identifikasi masalah adalah : (1) Mendapatkan gambaran informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh petani, (2) Dokumentasi atas visi dan ruang lingkup sistem konsultasi agribisnis yang dikembangkan, dan (3) Dokumentasi teknologi yang digunakan dalam pengembangan sistem konsultasi.

(5)

Mulai

Identifikasi Masalah

Pencarian Sumber Pengetahuan

Akuisisi Pengetahuan

Analisis dan Perancangan Sistem Konsultasi Agribisnis Cabai (Mengadopsi Metode Extreme Programming)

Analisis Desain Implemetantasi /Pengujian Prototipe Sesuai Selesai Representasi Pengetahuan Tidak Sesuai Sesuai Rilis Perangkat Lunak Pemeliharaan

(6)

3.2.2. Pencarian Sumber Pengetahuan

Tahapan pencarian sumber pengetahuan dilakukan melalui studi literatur dan konsultasi dengan pakar Agribisnis Cabai. Studi literatur dilakukan dengan menggali pengetahuan dari buku, jurnal dan artikel-artikel ilmiah terkait dengan kegiatan agribisnis cabai. Konsultasi dilakukan dengan para pakar dari departemen Agronomi dan Hortikultura, serta Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor.

Pakar-pakar yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah pakar-pakar yang telah melakukan penelitian bertahun-tahun dan memiliki pengalaman lapangan yang cukup. Pengetahuan yang didapatkan dari penelitian ini diharapkan adalah pengetahuan-pengetahuan yang valid dan dapat digunakan dalam kegiatan agribisnis cabai (Capsicum annuum. L)

3.2.3. Akuisisi Pengetahuan

Akuisisi merupakan kegiatan penyerapan pengetahuan dari domain expert

dilakukan dengan metode diskusi bebas (talk through) maupun membuat kuisioner kepada ahli (pakar) dan studi pustaka terkait. Dari hasil akusisi pengetahuan diperoleh pengetahuan tentang faktor-faktor atau parameter-parameter penting dalam kegiatan agribisnis cabai. Setelah didapatkan pengetahuan-pengetahuan yang penting dalam kegiatan agribisnis selanjutnya menggali pengetahuan-pengetahuan tersebut lebih dalam.

Pengetahuan yang digali pada tahapan akuisisi pengetahuan melingkupi pengetahuan yang dapat menjadi dasar dalam melakukan konsultasi agribisnis cabai (Capsicum annuum. L). Pengetahuan tersebut diantaranya adalah pengetahuan mengenai pemilihan varietas unggul, penentuan dosis pupuk, pengendalian hama, pengendalian penyakit, teknologi budidaya, analisis usaha tani, iklim, kebijakan pemerintah, dan informasi harga. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh petani agar dapat melaksanakan kegaiatan pertanian dengan baik.

Terdapat tiga cara dalam akuisisi pengetahuan yaitu manual, semi otomatis dan otomatis. Pada penelitian ini digunakan akuisisi pengetahuan dengan cara manual. Cara ini digunakan untuk mengakomodir pengetahuan-pengetahuan dari

(7)

pakar yang dapat didapatkan dengan melakukan wawancara, analisis kasus dan observasi.

3.2.4. Representasi Pengetahuan

Representasi pengetahuan merupakan kegiatan mengonfigurasi fakta-fakta dan pengetahuan yang didapatkan dari pakar (domain expert) dan sumber-sumber pengetahuan lainnya. Pada tahapan ini dilakukan pemetaan pengetahuan (knowledge mapping) dan penentuan teknik penyimpanannya dalam basis pengetahuan (knowledge based) sehingga pengetahuan dimengerti oleh manusia dan dapat dimasukkan ke dalam program komputer.

Teknik-teknik representasi yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan modul-modul konsultasi yang akan dibangun. Berikut adalah penjelasan teknik-teknik representasi pengetahuan yang digunakan dalam penelitian ini :

1. Basis Aturan (Production rule)

Basis aturan merupakan teknik representasi pengetahuan yang sangat populer saat ini dan cukup luas digunakan. Pengetahuan direpresentasikan kedalam bentuk kondisi-aksi. Representasi jenis ini tersusun atas kasidah-kaidah yang mengikuti pola :

IF premis THEN kesimpulan IF premis THEN premis Pengecualian dengan ELSE 2. Pohon keputusan (Decission Tree)

Diagram pohon merupakan teknik yang digunakan untuk merepresentasikan pengetahuan dalam bentuk pohon dimana kesimpulan didapatkan dari link-link node pada diagram pohon. Keunggulan dari diagram pohon adalah dapa menyederhanakan kegiatan akuisisi pengetahuan. Pakar lebih suka menggunakan teknik ini karena mudah difahmi dan dapat dengan mudah dalam menuangkan pengetahuan yang mereka miliki.

3.2.5. Analisis dan Perancangan Sistem

Tahapan ini terdiri dari beberapa iterasi peluncuran dari perangkat lunak yang akan di kembangkan. Perangkat lunak dikeluarkan mulai dari rilis pertama

(8)

hingga sistem dapat diterima dan dapat diimplementasikan secara penuh. Tahapan-tahapan di dalam iterasi ini terdiri dari :

3.2.5.1.Tahap analisis

Tahap ini merupakan tahap penting sebelum program atau sistem ditulis atau dibangun. Tahap analisis meliputi beberapa aspek dalam sistem seperti lingkungan organisasi, analisis sistem untuk memenuhi kebutuhan waktu sekarang, analisis kebutuhan sistem(input, output, proses, storage, dan kontrol). 3.2.5.2.Tahap desain

Tahap desain juga melibatkan rancangan interface dan prosedur yang mendukung fungsional sistem. Pada tahap ini dilakukan koreksi pada sistem informasi, sehingga kesalahan pada sistem bisa diperbaiki sedini mungkin. Aktivitas desain sistem meliputi : (1). Desain interface. Desain interface berfokus pada interaksi sistem dengan pengguna, input dan output yang interaktif serta efisien bagi penggunanya. Konversi informasi dan data menjadi bahasa yang bisa dibaca mesin dan manusia, kualitas proses konversi informasi dan data ditentukan pada desain interface sistem. (2). Desain fisik. Desain fisik sistem adalah desain

database dan file berfokus pada struktur dan data yang digunakan sistem secara rincian. Data yang diusulkan oleh pengguna akan disusun berdasarkan atributnya dan relasi yang dibutuhkan. (3). Desain logika. Desain logika adalah desain sistem bagaimana mengembangkan secara umum input, proses pengolahan informasi,

output, penyimpanan database, aktivitas kontrol sesuai dengan yang direncanakan pada tahap analisis.

3.2.5.3.Tahap Pengujian (testing)

Pada tahapan ini sistem yang akan diluncurkan di uji terlebih dahulu. Pengujian dilakukan terhadap fungsional dan non fungsional sistem konsultasi. Pada setiap iterasi pekerjaan diluncurkan sebuah rilis perangkat lunak yang dikerjakan. Perangkat lunak yang telah diuji selanjutnya diluncurkan untuk kemudian dievaluasi kembali untuk kemudian dilakukan perbaikan oleh tim.

(9)

3.2.5.4.Peluncuruan Perangkat Lunak

Tahapan ini merupakan sesi akhir dalam pengembangan sistem konsulatasi online agribisnis dengan menggunakan XP. Sistem yang telah diuji kemudian diimplemenasikan sesuai dengan kebutuhan client. Perangkat lunak yang diaplikasikan merupakan rilis akhir, hasil dari iterasi dan perbaikan dari versi-versi sebelumnya. Perangkat lunak yang dimaksud adalah sistem konsultasi yang sudah diimplementasikan dalam bentuk halaman web (web pages). Keuntungan dari dipilihnya implementasi sistem ke dalam bentu halaman web adalah dapat diakses secara online tanpa terbatas pada lokasi dan waktu pengaksesan.

3.2.6. Pemeliharaan Sistem Konsultasi

Pemeliharaan merupakan hal yang sangat penting agar sistem dapat beroperasi dengan baik. Pemeliharaan sistem dilakukan dalam bentuk updating

informasi dan pengetahuan yang terkandung di dalam sistem konsultasi. 3.3. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai dengan Juli 2011. Penelitian akan dilaksanakan di :

1. Departemen Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor.

2. Departeman Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. 3. Departeman Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Tabel 1. Tingkat Kebutuhan Informasi Petani Sayuran terhadap berbagai Jenis  Informasi Pertanian (Tamba, 2007)
Gambar 12. Tahapan-tahapan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Alur pikir karya tulis ini disusun seperti piramida terbalik, akan diawali dengan topik besar mengenai semesta, manusia dan ilmu dalam al-Qur'an; dilanjutkan mengenai

Penelitian ini bertujuan untuk menjajaki, mendalami, dan menjelaskan perspektif prinsip-prinsip umum dalam ekonomi Islam terhadap praktik pembiayaan haji dan umrah melalui

Spermatozoa immature adalah sperma yang masih mengandung sisa-sisa sitoplasma yang mempunyai ukuran separuh dari ukuran kepala dan masih terikat, baik pada kepala,

Penerapan metode penemuan terbimbing yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi keliling dan luas daerah layang-layang di kelas VII A SMP Negeri 1 Toribulu

(3) Bagi Satuan Pendidikan tingkat SMP, SMA dan SMK yang menyelenggarakan PPDB Online melalui seleksi TPA, dapat dilaksanakan setelah proses verifikasi pendaftaran

Masalah yang akan dibahas yaitu bagaimana mendapatkan model premi tunggal bersih asuransi jiwa Unit link Syariah dengan jenis asuransi jiwa seumur hidup dan alokasi dana investasi

menggunakan model pembelajaran PBI pendekatan SETS lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran secara konvensional,

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha ESA, atas berkat dan rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Tugas Akhir ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu