1. Anemia
Defisiensi
Besi
a. Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang (Bakta, 2007). Anemia defisiensi besi disebabkan oleh kurangnya mineral Fe (besi) sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit (FK UI, 2007). Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) sehingga disebut anemia defisiensi besi (Kemenkes RI, 2010).
Anemia defisiensi besi menjadi masalah gizi utama bagi semua
kelompok umur dengan prevalensi paling tinggi pada kelompok ibu
hamil (Supariasa, 2002).
Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurang memadainya asupan makanan sumber zat besi, meningkatnya kebutuhan zat besi saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologis), dan kehilangan banyak darah. Anemia yang disebabkan oleh ketiga faktor itu terjadi secara cepat ketika cadangan zat besi tidak mampu mencukupi peningkatan kebutuhan zat besi (FKM UI, 2007).
Proses absorbsi besi dibagi menjadi tiga fase,
yaitu:
commit to user
1) Fase Luminal
Besi dalam makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi
heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam daging dan ikan, tingkat absorbsi dan bioavailabilitasnya tinggi. Besi non-heme
berasal dari sumber nabati, tingkat absorbsi dan bioavailabilitasnya rendah. Besi dalam makanan diolah di lambung (dilepaskan dari ikatannya dengan senyawa lain) karena pengaruh asam lambung. Kemudian terjadi reduksi dari besi bentuk feri (Fe3+) ke fero (Fe2+) yang dapat diserap di duodenum (Bakta, 2009).
2) Fase Mukosal
Penyerapan besi terjadi terutama melalui mukosa duodenum dan jejunum proksimal. Penyerapan terjadi secara aktif melalui proses yang sangat kompleks dan terkendali. Besi heme dipertahankan dalam keadaan terlarut oleh pengaruh asam lambung. Pada brush border dari sel absorptif (terletak pada puncak vili usus, disebut sebagai apical cell), besi feri direduksi menjadi besi fero oleh enzim ferireduktase dimediasi oleh protein duodenal cytochrome b-like (DCYTB). Transpor melalui membran difasilitasi oleh Divalent Metal Transporter (DMT 1). Setelah besi masuk dalam sitoplasma, sebagian disimpan dalam bentuk feritin, sebagian diloloskan melalui basolateral transporter ke dalam kapiler usus. Pada proses ini terjadi konversi dari feri ke fero oleh enzim
ferooksidase (antara lain oleh
hephaestin
). Kemudian besi bentuk
feri diikat oleh apotransferin dalam kapiler usus (Bakta, 2009).
Sementara besi
non-heme
di lumen usus akan berikatan
dengan apotransferin membentuk kompleks transferin besi yang
kemudian akan masuk ke dalam sel mukosa dibantu oleh DMT 1.
Besi
non-heme
akan dilepaskan dan apotransferin akan kembali
ke dalam lumen usus (Bakta, 2009).
Besar kecilnya besi yang ditahan dalam enterosit atau
diloloskan ke basolateral diatur oleh
“set point”
yang sudah diatur
saat enterosit berada pada dasar kripta. Kemudian pada saat
pematangan, enterosit bermigrasi ke arah puncak vili dan siap
menjadi sel absorptif. Adapun mekanisme regulasi
set-point
dari
absorbsi besi ada tiga yaitu, regulator dietetik, regulator simpanan,
dan regulator eritropoetik (Bakta, 2009).
3) Fase Korporeal
Besi setelah diserap melewati bagian basal epitel usus, memasuki kapiler usus. Kemudian dalam darah diikat oleh apotransferin menjadi transferin. Satu molekul transferin dapat mengikat maksimal dua molekul besi. Besi yang terikat pada transferin (Fe2-Tf) akan berikatan dengan reseptor transferin (transferin receptor = Tfr) yang terdapat pada permukaan sel, terutama sel normoblas (Bakta, 2009).
Kompleks Fe2-Tf-Tfr akan terlokalisir pada suatu cekungan yang dilapisi oleh klatrin (clathrin-coated pit). Cekungan ini mengalami invaginasi sehingga membentuk endosom. Suatu pompa proton menurunkan pH dalam endosom sehingga terjadi pelepasan besi dengan transferin. Besi dalam endosom akan dikeluarkan ke sitoplasma dengan bantuan DMT 1, sedangkan ikatan apotransferin dan reseptor transferin mengalami siklus kembali ke permukaan sel dan dapat dipergunakan kembali (Bakta, 2009).
Besi yang berada dalam sitoplasma sebagian disimpan dalam bentuk feritin dan sebagian masuk ke mitokondria dan bersama-sama dengan protoporfirin untuk pembentukan heme. Protoporfirin adalah suatu tetrapirol dimana keempat cincin pirol ini diikat oleh 4 gugusan metan hingga terbentuk suatu rantai protoporfirin. Empat dari enam posisi ordinal fero menjadi chelating kepada protoporfirin oleh enzim
heme sintetase ferrocelatase. Sehingga terbentuk heme, yaitu suatu kompleks persenyawaan protoporfirin yang mengandung satu atom besi fero ditengahnya (Murray, 2009).
Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi ibu dengan kadar nilai hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester satu dan tiga, atau kadar nilai hemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester dua. Anemia adalah salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia yang
dialami oleh sekitar 51 % ibu hamil. Sebagian besar anemia pada
hamil adalah anemia defisiensi besi. WHO dalam Abel melaporkan
bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi
sekitar 35-75% serta semakin meningkat seiring dengan
pertambahan usia kehamilan. Perbedaan nilai batas di atas
dihubungkan dengan kejadian hemodilusi (Cunningham, 2007).
b. Gejala
Pada dasarnya gejala anemia timbul karena terjadinya anoksia
organ target karena berkurangnya jumlah oksigen yang dapat dibawa
oleh darah ke jaringan, mekanisme kompensasi oleh darah ke
jaringan
.
Kombinasi kedua penyebab ini akan menimbulkan gejala
yang disebut sebagai sindrom anemia (Handayani, 2008).
1) Gejala Umum Anemia
Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia
dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hemoglobin
kurang dari 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat
lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Pada
pemeriksaan fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada
konjungtiva dan jaringan di bawah kuku (Bakta, 2009)
2) Gejala Khas Defisiensi Besi
Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak
dijumpai pada anemia jenis lain adalah :
a) Koilonychia, yaitu kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip sendok.
b) Atrofi papil lidah, yaitu permukaan lidah menjadi licin dan
mengkilap karena papil lidah menghilang.
c) Stomatitis angularis (cheilosis), yaitu adanya peradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
Disfagia, yaitu nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring
(Bakta, 2009)
.
c. Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:
1) Pemeriksaan Laboratorium
a) Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana seperti Hb sachli, yang dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan, yaitu trimester I dan III (Bakta, 2009).
b) Penentuan Indeks Eritrosit
Menurut Bakta (2009) penentuan indeks eritrosit secara tidak
langsung dengan
flowcytometri
atau menggunakan rumus:
(1)
Mean Corpusculer Volume
(MCV)
MCV adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan menurun apabila kekurangan zat besi semakin parah, dan pada saat
anemia mulai berkembang. MCV merupakan indikator
kekurangan zat besi yang spesifik setelah thalasemia dan anemia
penyakit kronis disingkirkan. Dihitung dengan membagi
hematokrit dengan angka sel darah merah. Nilai normal
80-100 fl, mikrositik < 80 fl dan makrositik > 80-100 fl.
(2)
Mean Corpuscle Haemoglobin
(MCH)
MCH adalah berat hemoglobin rata-rata dalam satu sel darah merah. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah merah. Nilai normal 27-31 pg, mikrositik
hipokrom < 27 pg dan makrositik > 31 pg.
(3) Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) MCHC adalah konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata.
Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan hematokrit.
Nilai normal 30 - 35% dan hipokrom < 31%.
c) Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer
Pemeriksaan hapusan darah perifer dilakukan secara manual.
Pemeriksaan menggunakan pembesaran 100 kali dengan
commit to user
memperhatikan ukuran, bentuk inti, sitoplasma sel darah merah.
Dengan menggunakan
flowcytometry
hapusan darah dapat
dilihat pada kolom
morfology flag
(Bakta, 2009).
d) Luas Distribusi Sel Darah Merah (Red Distribution Wide = RDW) Luas distribusi sel darah merah adalah parameter sel darah merah
yang masih relatif baru, dipakai secara kombinasi dengan
parameter lainnya untuk membuat klasifikasi anemia. RDW
merupakan variasi dalam ukuran sel merah untuk mendeteksi
tingkat anisositosis yang tidak kentara. Kenaikan nilai RDW
merupakan manifestasi hematologi paling awal dari kekurangan
zat besi, serta lebih peka dari besi serum, jenuh transferin,
ataupun serum feritin. Nilai normal 15 % (Bakta, 2009).
e) Eritrosit Protoporfirin (EP)
EP diukur dengan memakai haematofluorometer yang hanya membutuhkan beberapa tetes darah dan pengalaman tekniknya tidak terlalu dibutuhkan. EP naik pada tahap lanjut kekurangan besi eritropoesis, naik secara perlahan setelah serangan kekurangan besi terjadi. Keuntungan EP adalah stabilitasnya dalam individu, sedangkan besi serum dan jenuh transferin rentan terhadap variasi individu yang luas. EP secara luas dipakai dalam survei populasi walaupun dalam praktik klinis masih jarang (Bakta, 2009).
f) Besi Serum (Serum Iron = SI) commit to user
Besi serum peka terhadap kekurangan zat besi ringan, serta menurun setelah cadangan besi habis sebelum tingkat hemoglobin jatuh. Besi serum yang rendah ditemukan setelah kehilangan darah maupun donor, pada kehamilan, infeksi kronis, syok, pireksia, rhematoid artritis, dan malignansi. Besi serum dipakai kombinasi dengan parameter lain, dan bukan ukuran mutlak status besi yang spesifik (Bakta, 2009).
g) Serum Transferin (Tf)
Transferin adalah protein tranport besi dan diukur bersama-sama dengan besi serum. Serum transferin dapat meningkat pada kekurangan besi dan dapat menurun secara keliru pada peradangan akut, infeksi kronis, penyakit ginjal dan keganasan (Bakta, 2009).
h)
Transferrin Saturation
(Jenuh Transferin)
Jenuh transferin adalah rasio besi serum dengan
kemampuan mengikat besi, merupakan indikator yang paling
akurat dari suplai besi ke sumsum tulang (Bakta, 2009).
Penurunan jenuh transferin di bawah 10% merupakan indeks kekurangan suplai besi yang meyakinkan terhadap perkembangan eritrosit. Jenuh transferin dapat menurun pada penyakit peradangan. Jenuh transferin umumnya dipakai pada studi populasi yang disertai dengan indikator status besi lainnya. Tingkat jenuh transferin yang menurun dan serum feritin sering dipakai untuk mengartikan
Jenuh transferin dapat diukur dengan perhitungan rasio besi serum dengan kemampuan mengikat besi total (TIBC), yaitu jumlah besi yang bisa diikat secara khusus oleh plasma (Bakta, 2009).
i) Serum Feritin
Serum feritin adalah suatu parameter yang terpercaya dan sensitif untuk menentukan cadangan besi orang sehat. Serum feritin secara luas dipakai dalam praktek klinik dan pengamatan populasi. Serum feritin < 12 ug/l sangat spesifik untuk kekurangan zat besi, yang berarti kehabisan semua cadangan besi, sehingga dapat dianggap sebagai diagnostik untuk kekurangan zat besi (Bakta, 2009).
Konsentrasi serum feritin cenderung lebih rendah pada wanita dari pria, yang menunjukkan cadangan besi lebih rendah pada wanita. Serum feritin pria meningkat pada dekade kedua, dan tetap stabil atau naik secara lambat sampai usia 65 tahun. Pada wanita tetap saja rendah sampai usia 45 tahun, dan mulai meningkat sampai sama seperti pria yang berusia 60-70 tahun, keadaan ini mencerminkan penghentian mensturasi dan melahirkan anak. Pada wanita hamil serum feritin jatuh secara dramatis di bawah 20 ug/l selama trimester II dan III bahkan pada wanita yang mendapatkan suplemen zat besi (Bakta, 2009).
Serum feritin adalah reaktan fase akut, dapat juga meningkat pada inflamasi kronis, infeksi, keganasan, penyakit hati, alkohol. Serum
feritin diukur dengan mudah memakai
Essay immunoradiometris
commit to user
(IRMA), Radioimmunoassay (RIA), atau Essay immunoabsorben
(Elisa) (Bakta, 2009).
2)
Pemeriksaan Sumsum Tulang
Masih dianggap sebagai standar emas untuk penilaian cadangan besi, walaupun mempunyai beberapa keterbatasan. Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk menilai jumlah hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Tanda karakteristik dari kekurangan zat besi adalah tidak ada besi retikuler (Bakta, 2009).
Keterbatasan metode ini seperti sifat subjektifnya sehingga
tergantung keahlian pemeriksa, jumlah struma sumsum yang
memadai dan teknik yang dipergunakan. Pengujian sumsum tulang
adalah suatu teknik invasif, sehingga sedikit dipakai untuk
mengevaluasi cadangan besi dalam populasi umum (Bakta, 2009).
2. Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan
a. Konsentrasi Hemoglobin pada kehamilan
Konsentrasi hemoglobin normal pada wanita hamil berbeda dengan wanita yang tidak hamil. Hal ini disebabkan karena pada kehamilan terjadi proses hemodilusi atau pengenceran darah, yaitu terjadi peningkatan volume plasma dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit. Ekspansi volume plasma di mulai pada minggu ke-6
kehamilan dan mencapai maksimum pada minggu ke-24 kehamilan,
tetapi
commit to user
dapat terus meningkat sampai minggu ke-37. Hemodilusi berfungsi
agar suplai darah untuk pembesaran uterus terpenuhi, melindungi ibu
dan janin dari efek negatif penurunan
venous return
saat posisi
terlentang (
supine
), dan melindungi ibu dari efek negatif kehilangan
darah saat proses melahirkan (Cunningham, 2007).
b. Kebutuhan Zat besi pada Ibu Hamil
Zat besi (Fe) adalah bagian penting dari hemoglobin, mioglobin dan enzim, namun zat gizi ini tergolong esensial sehingga harus disuplai dari makanan. Sumber utama zat besi adalah pangan hewani terutama yang berwarna merah, yaitu hati dan daging, sedangkan sumber lain adalah sayuran berwarna hijau. Pangan hewani relatif lebih tinggi absorpsinya yaitu 20-30% dibandingkan dengan pangan nabati hanya 1-7%. Hal tersebut karena zat besi dalam nabati yaitu ferri ketika akan diabsorpsi harus direduksi dahulu menjadi bentuk ferro (FKM UI, 2007).
Banyaknya absorpsi zat besi tergantung pada jumlah kandungan besi dalam makanan, jenis besi dalam makanan, adanya bahan penghambat atau pemacu absorpsi dalam makanan, jumlah cadangan besi dalam tubuh, dan kecepatan eritropoesis (Bakta, 2009).
Kebutuhan akan zat besi selama kehamilan meningkat. Peningkatan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan janin untuk bertumbuh (pertumbuhan janin memerlukan banyak sekali zat besi), pertumbuhan
plasenta, dan peningkatan volume darah ibu. Jumlahnya sekitar 1.000
mg
commit to user
selama hamil. Kebutuhan akan zat besi selama trimester I relatif
sedikit, yaitu 0,8 mg sehari, yang kemudian meningkat tajam selama
trimester II dan III yaitu 6,3 mg sehari (Arisman, 2007).
Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat mutlak dibutuhkan oleh ibu hamil agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya dan persiapan fisik ibu untuk menghadapi persalinan dengan aman (Sulityawati, 2009).
Selama proses kehamilan, janin sangat membutuhkan zat-zat penting yang hanya dapat dipenuhi dari ibu. Bidan harus memberikan informasi ini kepada ibu karena terkadang pasien kurang memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsinya (Sulistyawati, 2009).
c.
Peningkatan kebutuhan zat besi saat kehamilan
Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan zat besi akibat peningkatan volume darah, menyediakan zat besi bagi janin dan plasenta, dan untuk menggantikan kehilangan darah pada saat persalinan. Peningkatan absorpsi zat besi selama trimester II kehamilan membantu peningkatan kebutuhan. Beberapa studi menggambarkan hubungan antara suplementasi zat besi salama kehamilan dan peningkatan konsentrasi Hb pada trimester III kehamilan dapat meningkatkan berat lahir bayi (FKM UI, 2007).
Jumlah zat besi yang dibutuhkan seorang wanita pada saat hamil
yaitu sekitar 1000 mg. Kebutuhan zat besi pada kehamilan trimester I
relatif
commit to user
sedikit, yaitu 0,8 mg sehari yang kemudian meningkat tajam selama
kehamilan trimester II dan III, yaitu 6,8 mg sehari (Arisman, 2007).
d. Patofisiologi
Anemia dalam kehamilan disebabkan karena dalam kehamilan kebutuhan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan pada darah dan sumsum tulang. Volume darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19% (Prawirohardjo, 2007).
Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama-tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil sebagai akibat hidremia cardiac output
meningkat. Kerja jantung menjadi lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua, ketika perdarahan pada saat persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental (Prawirohardjo, 2007).
e. Dampak Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil
Seorang wanita hamil yang menderita anemia defisiensi besi kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang mempunyai persediaan zat besi sedikit atau tidak mempunyai persediaan zat besi sama sekali di dalam tubuhnya walaupun tidak menderita anemia. Jika setelah lahir bayi tersebut tidak mendapatkan asupan zat besi yang mencukupi, bayi akan berisiko menderita anemia defisiensi besi (FKM UI, 2007).
Anemia berat yang tidak diobati dalam kehamilan muda dapat
menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan
partus lama, perdarahan
postpartum
(Sadikin, 2001). Selain itu,
anemia pada ibu hamil juga dapat mengakibatkan daya tahan ibu
menjadi rendah terhadap infeksi dan kurang mampu mentolerir
perdarahan saat melahirkan (Aritonang, 2010).
Anemia gizi besi pada wanita hamil mengakibatkan
peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu, peningkatan angka
kesakitan dan kematian janin dan peningkatan risiko bayi dengan
berat badan lahir rendah (Demaeyer, 2010).
f. Diagnosis Anemia Defisiensi Besi dalam Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi diperlukan metode pemeriksaan yang akurat dan kriteria diagnosis yang tegas. Para peneliti telah menyetujui bahwa diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan
berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu
pemeriksaan
commit to user
darah dan sumsum tulang. Nasution dalam Riswan (2003) mengutip kriteria WHO untuk memudahkan dan keseragaman diagnosis anemia defisiensi
besi.
Tabel 1.
Diagnosis anemia defisiensi besi
Pemeriksaan
Anemia
Normal
Defisiensi Besi
Hemoglobin
Laki-laki dewasa
< 13 gr/dl
15 gr/dl
Wanita dewasa (tidak hamil)
< 12 gr/dl
13
– 14 gr/dl
Wanita dewasa (hamil)
< 11 gr/dl
12 gr/dl
MCHC
< 31 %
32
– 35 %
Serum Iron (SI)
< 50 ugr%
80
– 160 ugr%
TIBC
> 400 ugr%
250 – 400 ugr%
Jenuh Transferin
< 15 %
30
– 35 %
Serum Feritin
< 12 ugr/l
12
– 200 ugr/l
Sumber: (Riswan M, 2003)
NHANES II dan III (
National Health And Nutrition Examination
Survey
) membuat definisi “defisiensi zat besi” adalah bila didapati 2 dari
3
pemeriksaan laboratorium tidak normal, meliputi (
U.S. Centers for
Disease
Control and Prevention
, 2011):
1) Eritrosit Protoporfirin.
2) Jenuh Transferin.
3) Serum Feritin.
Anemia defisiensi besi disebut bila ditemukan adanya defisiensi besi disertai dengan penurunan kadar haemoglobin darah (anemia).
3. Hubungan Jarak Kehamilan dengan Anemia Defiensi Besi
Sejumlah sumber mengatakan bahwa jarak ideal kehamilan
sekurang
– kurangnya 2 tahun. Proporsi kematian terbanyak terjadi
pada ibu dengan prioritas 1
– 3 anak dan jika dilihat menurut jarak
kehamilan ternyata jarak kurang dari 2 tahun menunjukan proporsi
kematian maternal lebih banyak (Yulianto, 2004).
Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu mempunyai
waktu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali ke
kondisi sebelumnya. Kematian maternal menjadi risiko tinggi jika terlalu
rapat jarak kelahiran. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dan anemia
berisiko tinggi terhadap kematian meternal karena seorang ibu setelah
melahirkan memerlukan 2
– 3 tahun untuk dapat memulihkan kondisi
tubuhnya dan mempersiapkan diri untuk persalinan berikutnya
(Yulianto, 2004).
Jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia pada saat kehamilan yang berulang dalam waktu singkat akan menguras cadangan zat besi ibu (Amiruddin, 2004). Pengetahuan jarak kehamilan yang baik 2 tahun minimal menjadi penting untuk diperhatikan sehingga badan ibu siap
menerima janin kembali tanpa harus menghasilkan cadangan zat besi. Setelah masa nifas (masa setelah melahirkan), yang rata – rata berdurasi 40 hari dan juga secara fisiologis kondisi alat reproduksi wanita sudah pulih dapat memungkinkan terjadinya kehamilan. Tiga bulan setelah melahirkan, wanita sudah bisa hamil lagi tapi risiko anemia defisiensi besi menjadi tinggi karena cadangan zat besi yang belum pulih sempurna. Jadi perencanaan kehamilan sangat diperlukan untuk ibu maupun anak (Yulianto, 2004).