BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
tuberkulosis (Myobacteriumtuberkulosis). Data yang dilaporkan tiap tahun
menunjukkan insiden atau kasus TB baru cenderung meningkat setiap tahun, sebagai
contoh insiden pada tahun 2008 diestimasi sebesar 9,4 juta, dibandingkan dengan
tahun 2007 dan 2006 sebelumnya yang masing-masing sebesar 9,27 juta dan 9,24
juta (WHO, 2009 dan WHO 2010 ). Berbagai upaya telah dilakukan untuk
menangani kasus TB yang terjadi di dunia, dan tidak sedikit biaya yang telah
dikeluarkan. Penyebaran kasus TB di dunia memang tidak merata dan justru 86%
dari total kasus TB global ditanggung oleh negara berkembang. Sekitar 55% dari
seluruh kasus global tersebut terdapat pada negara-negara di benua Asia, 31% di
benua Afrika, dan sisanya yang dalam proporsi kecil tersebar di berbagai negara di
benua lainnya (WHO, 2009).
Berdasarkan Global Tuberkulosis Control, WHO 2009, Tuberkulosis di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 534.439 kasus. Kasus BTA (Basil Tahan
Asam) (+)) sebesar 240.183 orang. Prevalensi semua kasus 578.410 orang (Depkes
RI, 2009). Resiko penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk Of Tuberkulosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang beresiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1% berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000
Kebanyakan tuberkulosis menyerang paru, namun dapat juga menyerang
bagian lainnya. Sumber penularan pasien Tuberkulosis BTA (basil tahan asam)
positif pada waktu batuk dan bersin penderita menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (dropletnuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi di dalam ruangan dimana percikan
dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan
selama beberapa jam dalam keadaan gelap dan lembab (DepKes RI, 2008).
Pengobatan Tuberkulosis Paru diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif 2
bulan pengobatan dan tahap lanjutan 4-6 bulan berikutnya. Pengobatan yang teratur
Tuberkulosis Paru dapat sembuh secara total, apabila penderita itu sendiri patuh
terhadap aturan-aturan pengobatan Tuberkulosis Paru. Penting bagi penderita untuk
tidak putus berobat dan jika penderita menghentikan pengobatan, kuman
Tuberkulosis Paru akan berkembang biak lagi yang berarti penderita mengulangi
pengobatan intensif salama 2 bulan pertama. Pada fase ini terdapat banyak kuman
Tuberkulosis Paru yang hidup dalam tubuh penderita dan mampu berkembang biak
sangat cepat jika penderita Tuberkulosis Paru tersebut menghentikan pengobatannya.
Untuk itu sangatlah penting penderita Tuberkulosis Paru patuh terhadap terapi
pengobatan yang sedang dijalani (Crapton, 2002).
Kepatuhan penderita TB Paru untuk minum obat secara patuh adalah
merupakan tindakan yang nyata dalam bentuk kegiatan yang dapat dipengaruhi oleh
(faktor eksternal). Faktor internal diantaranya yaitu sikap atau motivasi ingin sembuh
dan keyakian sedangkan faktor eksternal antara lain dukungan keluarga, dukungan
sosial dan dukungan tenaga kesehatan (Niven, 2002).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2011) menunjukkan bahwa
sebagian besar responden yaitu 79,4% responden mendapatkan dukungan sosial
keluarga yang positif dan 88,2% responden patuh dalam minum obat. Dukungan
keluarga baik diterima oleh seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupan
secara spontan dengan orang-orang terdekat yang ada disekitarnya, dalam hal ini
anggota keluarganya dapat memberikan motivasi yang tinggi bagi penderita TB Paru.
Melalui dukungan keluarga seseorang merasakan kenyamanan, perhatian,
penghargaan, dan bisa menerima kondisinya (Handayani, 2011).
Studi lainnya yang berkaitan dengan TB Paru yang dilakukan oleh Susanti
(2008) di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya, diketahui bahwa ada hubungan
antara pengetahuan, sikap dan motivasi pasien tuberkulosis paru dengan kepatuhan
berobat di wilayah kerja puskesmas. Lamanya waktu pengobatan TB paru yang harus
dilakukan selama 6 bulan, dapat saja dijadikan beban oleh penderita sehingga mereka
malas untuk melanjutkan proses pengobatan. Penderita yang memiliki keinginan atau
motivasi yang kuat akan melakukan pengobatan dengan patuh dan sembuh dari
penyakit.
Jumlah pasien tuberkolosis paru di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto pada tahun 2008 sebanyak 2.308 pasien, tahun 2009 sebanyak 1.054
tahun 2012 sebanyak 992. Data pasien tuberkulosis paru selama tiga tahun yaitu
2008-2010 mengalami penurunan. Namun pada tahun 2012 kembali mengalami
kenaikan yaitu 853 pasien pada tahun 2011 menjadi 992 pasien pada tahun 2012
sehingga mengalami kenaikan sebanyak 16.29 persen.
Berdasar latar belakang tersebut di atas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Hubungan Motivasi Ingin Sembuh dan Dukungan Keluarga
Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Fase Intensif Penderita Tuberkulosis di
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto”
B.Perumusan Masalah
Penyakit tuberkulosis paru dapat disembuhkan jika minum obat secara teratur
dan konsultasi ke petugas kesehatan dengan teratur dalam jangka waktu minimal 6
bulan. Tahap pengobatan terdiri dari tahap intensif dan tahap lanjutan. Tahap intensif
atau awal pasien mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah
terjadinya kekebalan terhadap semua obat anti tuberkulosis (OAT), bila pengobatan
tahap intentsif tersebut diberikan secara tepat biasanya pasien menular menjadi tidak
menular dalam jangka kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien tuberkulosis
paru BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.
Minum obat yang harus dilakukan pasien setiap hari selama tahap intensif
terkadang membuat pasien merasa bosan. Berdasar penelitian pendahuluan yang
dilakukan peneliti dengan melakukan wawancara terhadap 5 pasien tuberkulosis yang
sedang melakukan pemeriksaan di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
hari tetapi dengan adanya dukungan keluarga dapat memberi semangat kepada pasien
untuk cepat sembuh. Sebanyak 2 pasien mengatakan pernah lupa tidak minum obat
dan mereka harus mengulangi pengobatan dari awal dan sebanyak 1 pasien
mengatakan bahwa tetap semangat menjalani pengobatan dan selalu menuruti kata
dokter karena pasien ingin cepat sembuh dan takut menular kepada anggota keluarga
yang lain.
Berdasar uraian di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : “
Apakah terdapat hubungan motivasi ingin sembuh dan dukungan keluarga terhadap
kepatuhan minum obat pada fase intensif penderita tuberkulosis di RSUD. Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto?”.
C.Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan motivasi ingin sembuh dan dukungan keluarga
terhadap kepatuhan minum obat pada fase intensif penderita tuberkulosis di
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan kepatuhan minum obat pada fase intensif penderita
tuberkulosis di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
b. Mendeskripsikan motivasi ingin sembuh penderita tuberkulosis di RSUD. Prof.
Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
c. Mendeskripsikan dukungan keluarga penderita tuberkulosis di RSUD. Prof. Dr.
d. Menganalisis hubungan motivasi ingin sembuh terhadap kepatuhan minum obat
pada fase intensif penderita tuberkulosis di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto.
e. Menganalisis hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat
pada fase intensif penderita tuberkulosis di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Menerapkan ilmu metodologi penelitian yang telah didapat di bangku
perkuliahan pada kenyataan sesungguhnya.
b. Memperoleh pengetahuan tentang motivasi ingin sembuh dan dukungan
keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada fase intensif penderita
tuberkulosis.
2. Bagi Institusi Pendidikan
a. Sebagai tambahan pustaka dalam meningkatkan ilmu pengetahuan
khususnya tentang motivasi ingin sembuh dan dukungan keluarga terhadap
kepatuhan minum obat pada fase intentif penderita tuberkulosis.
b. Sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya khususnya tentang motivasi
ingin sembuh dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada
fase intentif penderita tuberkulosis.
3. Bagi tempat penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan terhadap
E. Penelitian Terkait
Tabel 1.1. Penelitian Terkait
Peneliti Persamaan Perbedaan
Mardiyah (2011)
Hubungan antara pengetahuan, sikap pasien
dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di BKM Pati
1. Desain penelitian yang digunakan
menggunakan cross sectional
2. Cara pengambilan data menggunakan kuesioner
3. Variabel bebas :
dukungan keluarga
1. Variabel terikat :
kepatuhan minum obat Variabel bebas : teknik total sampling
Anggraeni (2008)
1. Desain penelitian yang digunakan
menggunakan cross sectional
2. Cara pengambiilan data menggunakan kuesioner
1. Variabel bebas : umur pasien, pendidikan pasien, sikap dan peran Pengaws Menelan Obat Variabel terikat : kepatuhan minum obat pasien tb paru
2. Populasi sebanyak 67
3. Teknik pengambilan