4.1 Kondisi Geografis
Kepulauan Seribu merupakan satu-satunya kabupaten yang terdapat di DKI Jakarta. Perubahan status kawasan Kecamatan Kepulauan Seribu yang terletak di Kotamadya Jakarta Utara menjadi Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu ini dilakukan pada tahun 2001. Kabupaten tersebut dibagi menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, dengan pusat pemerintahan terletak di Pulau Pramuka.
Pulau-pulau tersebut secara geografis dibagi atas empat kelurahan, yaitu Kelurahan Untung Jawa, Kelurahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau Panggang, dan Kelurahan Pulau Kelapa. Pulau Panggang merupakan salah satu dari 106 gugusan pulau-pulau kecil yang menyebar dari utara ke selatan di sekitar Teluk Jakarta. Secara administratif, Pulau Panggang masuk ke dalam wilayah Kelurahan Pulau Panggang dimana terdapat pula 12 pulau lainnya yaitu, Pulau Pramuka, Karya, Kotok Kecil, Kotok Besar, Karang Bongkok, Gosong Pandan, Karang Congkak, Semak Daun, Gosong Balik Layar, Gosong Sekati, Peniki, Air Besar dan Opak Kecil.
Hanya dua buah pulau yang dijadikan pemukiman masyarakat dari 13 pulau tersebut yaitu Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Pulau Panggang memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan Pulau Pramuka. Sedangkan jika dilihat dari pola penataan daerah, Pulau Pramuka memiliki pola penataan daerah yang lebih baik dibandingkan Pulau Panggang mengingat Pulau Pramuka berdiri sebagai Pusat Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Sedangkan Pulau Karya yang terletak diantara Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, difungsikan menjadi rumah tinggal pegawai Suku Dinas Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dan pemakaman bagi masyarakat di pulau-pulau sekitar Pulau Karya.
Batasan teritorial Kelurahan Pulau Panggang diatur berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 1986/2000 tanggal 27 Juli
2000, tentang Pemecahan, Pembentukan, Penetapan Batas dan Nama Kelurahan di Kecamatan Kepulauan Seribu Wilayah Kotamadya Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta. Batasan Kelurahan Pulau Panggang adalah sebelah Utara 05’41’41” LS sampai dengan 05’41’41” LS, sebelah Selatan 106’44’50” BT, sebelah Barat 106’19’30” BT, sebelah Timur 05’47’00” LS sampai dengan 05’45’14” LS.
4.2 Sejarah Pulau Panggang
Masyarakat Pulau Panggang memiliki cerita sejarah4 mengenai awal mula
Pulau Panggang dihuni oleh masyarakat tersebut. Cerita tersebut disampaikan secara turun temurun sehingga terus diyakini masyarakat Pulau Panggang sampai saat ini. Masyarakat percaya bahwa dahulu pulau tersebut merupakan salah satu wilayah kekuasaan dari Ratu Cina dimana pusat kekuasaannya terletak di Pulau Karya (dahulu dikenal dengan Pulau Cina) yang letaknya tak jauh dari Pulau Panggang.
Kekayaan kerajaan tersebut memancing kedatangan para bajak laut untuk merebut kekayaannya. Namun, karena kuatnya kerajaan tersebut, upaya bajak laut untuk menguasai kekayaan kerajaan sia-sia, dan untuk menghukum para bajak laut kerajaan memutuskan untuk membakar mereka hidup-hidup. Akhirnya dilakukanlah pembakaran para bajak laut secara besar-besaran, dan pulau yang berlokasi diseberang Pulau Karya dipilih menjadi lokasi pembakaran tersebut, dimana pulau tersebut sekarang dikenal dengan nama Pulau Panggang. Sejarah itulah yang melatarbelakangi penamaan Pulau Panggang, karena pulau tersebut digunakan sebagai tempat ‘memanggang’ para bajak laut.
Setelah periode Kerajaan Cina usai, para pendatang yang diantaranya berasal dari suku Bugis, Banten, Mandar dan Tangerang, mulai menghuni pulau tersebut. Para penyebar agama Islam juga mendatangi dan menetap di pulau tersebut untuk menyiarkan dakwahnya, beberapa habib keturunan Arab merupakan penyebar Islam pertama di wilayah Pulau Panggang tersebut. Hal ini terbukti dari tersebarnya beberapa makam habib di beberapa wilayah Pulau Panggang.
4 Sejarah ini diperoleh melalui diskusi kelompok dengan masyarakat Pulau Panggang, yang terdiri dari tokoh masyarakat, nelayan, pegawai kelurahan, dan para Ibu Rumah Tangga.
4.3Kondisi Sosial
4.3.1 Sistem Kekerabatan
Masyarakat Pulau Panggang memiliki pola kekerabatan yang khas mengingat masyarakatnya merupakan masyarakat campuran pendatang diantaranya dari Bugis, Banten, Mandar dan Tangerang. Banyaknya masyarakat Bugis ke pulau tersebut dilatarbelakangi oleh budaya masyarakat Bugis yang menjadikan laut sebagai sumber kehidupan mereka. Sedangkan kehadiran masyarakat Banten dan Tangerang didasari oleh kedekatan geografis Kepulauan Seribu dengan daerah tersebut. Kondisi Pulau Panggang yang jauh dari daratan dan pusat kota menyebabkan terjadinya banyak pernikahan sesama penduduk pulau yang memiliki latar belakang etnis yang berbeda.
Hal tersebut terus berlangsung hingga saat ini, sehingga mayoritas masyarakat Pulau Panggang kebanyakan tidak membedakan diri mereka dengan yang lainnya berdasarkan status etnis yang melekat pada diri mereka. Mereka
sudah menganggap diri mereka sebagai ‘orang pulo5
’ sehingga beberapa
masyarakat bahkan kurang mengetahui secara pasti dari etnis mana mereka berasal. Seperti diungkapkan oleh seorang ibu TS (52 tahun) pada saat ditanya mengenai asal beliau dan suaminya,
“Kalo udah tinggal disini udah jadi orang pulo mbak, tapi memang orangtua kami dulu ada yang dari Bugis ada juga yang dari Banten”.
Bercampurnya masyarakat dari berbagai suku tersebut membuat bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk setempat menjadi sangat khas. Interaksi masyarakat yang cukup lama tersebut menimbulkan percampuran bahasa yang digunakan sehari-hari. Logat yang digunakan menyerupai logat Bugis namun juga bercampur dengan logat Banten yang kental. Begitu pula mengenai suku kata yang digunakan yang juga merupakan campuran dari beberapa etnis tersebut. Masyarakat setempat menyebut bahasa yang mereka gunakan sebagai ‘bahasa pulo’.
Ikatan kekerabatan yang terjadi di Pulau Panggang bisa dikatakan sangat erat. Eratnya hubungan kekerabatan ini menciptakan keharmonisan hubungan
5 Masyarakat Kepulauan Seribu menyebut kata ‘pulau’ dengan sebutan ‘pulo’. Hal ini berhubungan dengan logat yang mereka gunakan dalam bahasa sehari-hari.
sosial yang mereka lakukan. Kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada sesamanya juga menimbulkan rasa aman pada masyarakat. Jarang sekali ditemukan kasus pencurian ataupun kejahatan lainnya di pulau tersebut. Meskipun kadang tercipta pula beberapa konflik laten yang biasanya disebabkan oleh ketimpangan akses masyarakat terhadap modal perikanan.
Konflik ini biasanya muncul karena banyaknya bantuan yang datang dari berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta dengan tujuan memajukan usaha perikanan budidaya yang sedang dikembangkan di pulau tersebut. Banyaknya bantuan yang datang tersebut tidak disertai dengan distribusi bantuan secara merata. Maka yang kemudian terjadi adalah isu yang berkembang di masyarakat bahwa beberapa orang melakukan monopoli terhadap bantuan yang datang dan hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati hal tersebut. Namun isu tersebut tidak sampai berkembang menjadi konflik terbuka, karena masyarakat masih merasa kurang pantas untuk bertikai dengan kerabat mereka sendiri.
4.3.2 Kepercayaan Lokal
Agama Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di wilayah Pulau Panggang, tak dapat dipungkiri memberi pengaruh yang besar pada tradisi dan kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat setempat. Salah satu kepercayaan lokal yang sangat mencolok adalah larangan untuk menangkap ikan di laut pada hari Jumat. Hal ini terkait dengan kepercayaan warga yang sudah turun temurun bahwa hari Jumat adalah hari yang dikhususkan untuk beribadah.
Nelayan yang biasanya menangkap ikan di laut memanfaatkan hari Jumat tersebut untuk beristirahat dan memperbaiki alat-alat yang biasa mereka gunakan untuk melaut seperti memperbaiki kapal dan jaring. Kepercayaan lokal lainnya
adalah ‘ngahol’6atau berdoa di makam habib yang terletak di beberapa wilayah
Pulau Panggang. Pada ritual ‘ngahol’, umumnya kaum pria akan berjalan bersama untuk kemudian mendoakan habib yang dipercaya sebagai pelopor penyebar agama Islam di daerah tersebut.
Selain ritual ‘ngahol’ ada pula kegiatan marowah yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan. Pada kegiatan tersebut biasanya para anggota keluarga akan
6 Diambil dari istilah
mengundang pemuka agama mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal dan menyuguhi undangan tersebut dengan berbagai macam makanan kecil.
Kegiatan marowah ini tidak mengharuskan keluarga untuk mengundang
penduduk lainnya, beberapa penduduk hanya mengundang pemuka agama untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dan memberikan makanan seadanya kepada pemuka agama tersebut.
4.4Struktur Sosial dalam Usaha Perikanan 4.4.1 Jaringan Sosial
Usaha perikanan merupakan mata pencaharian utama penduduk di Pulau Panggang. Salah satu karakteristik dari usaha tersebut adalah terciptanya hubungan-hubungan sosial yang bertujuan untuk melancarkan usaha perikanan yang mereka jalankan. Hubungan sosial ini menjadi penting karena secara geografis Pulau Panggang berjarak cukup jauh dari pusat ibukota Jakarta dan usaha perikanan memiliki resiko yang tinggi.
Pada masyarakat pesisir Pulau Panggang, pekerjaan sebagai nelayan dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu: nelayan tangkap dan nelayan budidaya. Nelayan tangkap melakukan aktivitasnya dengan cara mencari ikan secara langsung di laut, baik dengan menggunakan jaring, pancing, bubu, dan lain-lain. Sedangkan usaha perikanan budidaya merupakan usaha perikanan yang dilakukan oleh nelayan dengan cara pembiakan atau pembesaran biota laut, seperti: rumput laut, ikan, karang hias, dan lain-lain. Menurunnya hasil tangkapan di laut dan tingginya resiko perikanan tangkap membuat sebagian nelayan menjadikan perikanan budidaya sebagai alternatif bagi upaya pemenuhan ekonomi mereka.
Dalam usaha perikanan yang dijalankan oleh mayoritas masyarakat di Pulau Panggang, terbentuk jaringan sosial yang secara umum dapat ditemui di wilayah pesisir lainnya. Jaringan sosial tersebut tercipta dari hubungan antara tengkulak dengan nelayan. Hubungan khusus antara tengkulak dengan nelayan, secara sosiologi disebut sebagai hubungan patron-klien. Terbentuknya hubungan ini merupakan upaya pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat setempat (Gambar 3).
Gambar 3. Jaringan Sosial antara Tengkulak dan Nelayan di Pulau Panggang Hubungan tengkulak dengan nelayan yang terbentuk di Pulau Panggang didasari oleh hubungan saling menguntungkan. Dalam hubungan tersebut, tengkulak memanfaatkan kemampuan nelayan dalam menyediakan hasil perikanan laut yang dibutuhkan oleh pasar. Sedangkan nelayan membutuhkan tengkulak untuk memasarkan hasil perikanan yang mereka dapatkan. Dalam hal ini, tengkulak biasanya memiliki informasi yang lebih banyak mengenai kondisi pasar ikan dibandingkan nelayan.
Pola hubungan antara tengkulak dan nelayan di Pulau Panggang berbeda-beda tergantung dari jenis usaha perikanan yang dijalankan oleh masing-masing nelayan. Pada daerah tersebut, terdapat perbedaan antara nelayan tangkap dan budidaya seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Namun, dalam usaha perikanan tangkap pun dibedakan lagi menjadi tiga pola hubungan tengkulak dan nelayan. Pertama adalah pola hubungan pada tengkulak dan nelayan jaring muroami. Kedua, pola hubungan tengkulak dan nelayan bubu. Ketiga adalah pola hubungan tengkulak dan nelayan tangkap ikan hias.
4.4.2 Stratifikasi Sosial
Dalam masyarakat terdapat sistem lapisan sosial yang secara sosiologi dikenal sebagai stratifikasi sosial. Pada masyarakat pesisir stratifikasi sosial ini umumnya terjadi karena perbedaan akses individu terhadap sumberdaya. Individu yang lebih mudah aksesnya terhadap sumberdaya akan berada pada lapisan yang
PASAR TENGKULAK Hasil Penjualan Ikan Hasil Perikanan NELAYAN
lebih tinggi. Dalam hubungan sosial yang terjadi di masyarakat Pulau Panggang, maka stratifikasi sosial disebabkan oleh akses masyarakat yang berbeda terhadap sumberdaya pesisir yang merupakan sumberdaya utama masyarakat setempat.
Akses masyarakat yang berbeda ini disebabkan oleh perbedaan kepemilikan modal pada tiap masyarakat. Adanya perbedaan kepemilikan modal (kapital) pada tiap individu yang berbeda menciptakan perbedaan pula pada kemampuan mereka dalam mengakses sumberdaya yang lain. Modal yang dimiliki individu tersebut dapat berupa modal fisik maupun non fisik. Modal fisik misalnya adalah perbedaan dalam kepemilikan sarana usaha perikanan seperti kapal motor, jaring, kompresor dan keramba budidaya.
Pada masyarakat Pulau Panggang, nelayan yang memiliki modal berupa
kapal motor, jaring muroami7 (kongsi) dan kompresor merupakan nelayan pemilik
usaha perikanan di bidang jaring muroami. Pada jenis usaha tersebut, nelayan yang memiliki fasilitas untuk usaha jaring muroami bertindak langsung sebagai tengkulak. Karena nelayan pekerja yang meminjam fasilitas jaring muroami tersebut diharuskan untuk menyerahkan hasil perikanan yang mereka dapatkan kepada nelayan pemilik, untuk kemudian dijual oleh pemilik ke pasar di Jakarta.
Kepemilikan modal lainnya yang juga menciptakan stratifikasi sosial dalam masyarakat Pulau Panggang adalah kepemilikan keramba budidaya. Usaha perikanan budidaya saat ini sedang gencar dilakukan di pulau tersebut, namun dari mayoritas nelayan yang ada hanya sebagian kecil yang sudah terjun ke usaha budidaya perikanan. Hal ini dikarenakan untuk memulai usaha tersebut dibutuhkan modal yang cukup besar. Untuk memulai usaha tersebut dibutuhkan setidaknya dana sebesar 10.000.000,00 rupiah sampai 20.000.000,00 rupiah. Dana tersebut dibutuhkan untuk membeli bambu dan kayu sebagai bahan dasar keramba serta pembelian bibit ikan kerapu yang merupakan jenis ikan budidaya andalan pulau tersebut. Besarnya modal yang dibutuhkan untuk budidaya tersebut tentunya tidak dapat dijangkau oleh setiap masyarakat.
Modal non fisik lainnya yang dimiliki misalnya, jejaring sosial yang dimiliki oleh nelayan. Jejaring sosial ini dapat membantu nelayan dalam mengembangkan usaha perikanan yang mereka lakukan. Umumnya, nelayan yang
7
Muroami (bahasa Jepang) berasal dari kata “muro” dan “ami”. Ami artinya alat sedangkan muro
memiliki jaringan dengan pengusaha besar di daerah lain akan lebih mampu untuk mengendalikan harga ikan di pulau. Nelayan yang memiliki jaringan tersebut biasanya akan berperan sebagai tengkulak yang membawa hasil perikanan untuk dijual ke pasar di Jakarta. Modal non fisik lainnya yang berperan dalam menciptakan stratifikasi sosial adalah kemampuan teknis dalam mengelola usaha perikanan. Nelayan yang dapat mengembangkan usaha perikanan dengan sukses umumnya memiliki kemampuan mengelola usaha perikanan yang mereka lakukan, baik usaha perikanan tangkap maupun usaha perikanan budidaya.
Kelompok selanjutnya setelah nelayan budidaya adalah nelayan pekerja kongsi (muroami). Nelayan pekerja kongsi merupakan nelayan yang mencari ikan dengan menggunakan jaring kongsi (muroami). Dalam pencarian ikan menggunakan jaring tersebut, dibutuhkan setidaknya 15-18 orang pekerja dalam satu kapal yang melaut. Nelayan-nelayan pekerja tersebut bekerja pada nelayan pemilik jaring. Jaring muroami tidak dapat dimiliki oleh setiap nelayan karena modal yang dibutuhkan untuk membeli peralatan jaring kongsi tersebut cukup besar, yaitu sekitar 100.000.000,00 rupiah.
Jenis nelayan lainnya yang juga terdapat di Pulau Panggang adalah nelayan tangkap ikan hias. Usaha perikanan tangkap ikan hias ini tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Karena untuk dapat menjalankan
usahanya, nelayan cukup memiliki pancing ataupun tombak mandarin dan kapal
motor. Nelayan tangkap ikan hias akan menjual hasil tangkapannya kepada tengkulak ikan hias. Tengkulak ikan hias biasanya akan meminta nelayan untuk mencari jenis ikan hias tertentu sesuai permintaan pasar.
Gambar 4. Stratifikasi Sosial dalam Usaha Perikanan di Pulau Panggang ‐ Tengkulak Ikan Hias
‐ Tengkulak Budidaya
‐ Nelayan Budidaya
‐ Nelayan Pekerja Kongsi ‐ Nelayan Tangkap Ikan Hias ‐ Nelayan Tangkap Bubu
Nelayan Pemilik Jaring
Maka stratifikasi sosial yang terdapat di Pulau Panggang dapat dibagi menjadi, nelayan pemilik jaring, tengkulak ikan hias, tengkulak budidaya, nelayan budidaya, nelayan pekerja kongsi, nelayan tangkap ikan hias dan nelayan bubu (Gambar 4). Stratifikasi sosial yang ada pada masyarakat Pulau Panggang ini dapat berubah. Hal ini dikarenakan sistem lapisan sosial yang terdapat pada masyarakat tersebut merupakan sistem lapisan sosial yang bersifat terbuka. Secara terbuka, sistem lapisan seperti ini memberi kesempatan setiap anggota masyarakat untuk berusaha menjadi anggota dalam lapisan yang mereka kehendaki.
4.5Kondisi Ekonomi
4.5.1 Mata Pencaharian
Penduduk di Pulau Panggang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, baik sebagai nelayan perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Berdasarkan Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang tahun 2009 (Tabel 5), dapat dilihat bahwa 75,26 persen penduduk yang bekerja memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Hal tersebut disebabkan oleh masih melimpahnya sumberdaya alam laut yang tersedia di wilayah tersebut.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Mata Pencaharian
Pekerjaan Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-laki Perempuan (dalam %)
Karyawan swasta/Pemerintah/ABRI 297 51 348 15.21 Pedagang 95 19 114 4.98 Nelayan 1722 - 1722 75.26 Pensiunan 19 5 24 1.05 Pertukangan 22 - 22 0.96 Lain-lain 58 - 58 2.53 Jumlah 2288 100
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
Pada mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan tersebut, sebagian besar diantaranya merupakan nelayan perikanan tangkap dan sisanya merupakan nelayan budidaya. Nelayan perikanan tangkap terdiri atas
beberapa jenis yaitu nelayan jaring muroami (kongsi), nelayan bubu, dan nelayan pancing ikan hias.
Kondisi perikanan budidaya di Pulau Panggang pada saat ini cenderung meningkat dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Budidaya perikanan yang pernah marak di pulau ini salah satunya adalah budidaya rumput laut. Budidaya rumput laut mulai dikembangkan sejak tahun 1982. Kepulauan Seribu bahkan menjadi salah satu pemasok utama rumput laut di Indonesia. Namun sekitar tahun 2000 budidaya rumput laut tersebut mengalami keterpurukan. Penyakit menyerang
tanaman rumput laut yang dikenal penduduk setempat dengan sebutan ‘ice-ice’8
dimana rumput laut yang dibudidaya berubah warna menjadi keputihan dan mati. Masyarakat menduga penyakit tersebut disebabkan oleh menurunnya kualitas air laut karena meningkatnya pencemaran dan perubahan kondisi alam itu sendiri.
Setelah peristiwa tersebut terjadi, budidaya rumput laut perlahan-lahan ditinggalkan oleh nelayan dan nelayan kembali menangkap ikan di laut. Sekitar tahun 2005 masyarakat mulai mengenal budidaya kerapu. Ikan kerapu yang merupakan komoditas unggulan dibudidayakan pada awalnya dengan teknik yang relatif sederhana. Berkembangnya budidaya kerapu di Pulau Panggang dilatarbelakangi pula oleh program Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengalihkan profesi nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya. Program tersebut dibuat mengingat semakin berkurangnya kuantitas ikan di laut lepas yang berpengaruh langsung terhadap menurunnya pendapatan nelayan tangkap. Sehingga perikanan budidaya yang dianggap sebagai usaha perikanan yang minim resiko dan ketidakpastian diupayakan sebagai mata pencaharian utama nelayan saat ini.
Kondisi perikanan budidaya kerapu khususnya di Pulau Panggang, belum dapat dikatakan stabil. Sebagian besar nelayan budidaya kerapu belum dapat melakukan panen secara berkala. Panen dilakukan selama setahun sekali, sehingga masyarakat setempat menyebut usaha budidaya kerapu sebagai ‘tabungan lebaran’. Hal ini dikarenakan waktu penyebaran bibit kerapu dilakukan biasanya
8
Ice-ice merupakan penyakit rumput laut atau algae yang disebabkan oleh perubahan lingkungan
dan bakteri seperti pseudoalteromonas gracilis, pseudomonas spp dan vibrio spp. Pemicu
utamanya adalah perubahan lingkungan yang mendadak. Munculnya penyakit ice-ice ini ditandai
dengan timbulnya bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya akan menjadi putih.
pada bulan puasa, sehingga panen pun akan dilakukan pada bulan puasa berikutnya dimana hasil panen yang cukup besar tersebut akan digunakan sebagai ‘modal lebaran’.
Belum berkalanya panen yang dilakukan oleh nelayan budidaya kerapu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pengetahuan nelayan mengenai teknik budidaya dan kurangnya modal serta ketersediaan bibit ikan kerapu. Telah banyak program pemerintah maupun swasta yang bertujuan untuk membantu nelayan dalam upaya mengembangkan budidaya kerapu tersebut, namun rendahnya keberlanjutan dalam keberlangsungan program menjadi permasalahan utama dalam upaya tersebut. Sebagian masyarakat beranggapan, program yang telah ada diberikan tanpa mengupayakan sisi pengembangan masyarakat di Pulau Panggang. Maka yang terjadi kemudian adalah berhentinya program pengembangan usaha budidaya setelah pihak pemberi bantuan tidak lagi memberikan bantuan baik berupa sarana prasarana maupun pendampingan.
4.5.2 Pendapatan Penduduk
Nelayan memiliki karakteristik pendapatan yang sangat fluktuatif. Hal ini dikarenakan pendapatan yang diperoleh oleh nelayan sangat bergantung pada kondisi alam. Masyarakat Pulau Panggang mengenal dua musim dalam melaut, yaitu musim Barat dan musim Timur. Musim Barat biasanya berlangsung pada bulan Januari hingga bulan Mei, sedangkan Musim Timur berlangsung pada bulan Juni hingga Desember (Tabel 6). Namun penentuan musim berdasarkan hitungan bulan tersebut saat ini sulit untuk diprediksi. Memburuknya kondisi alam saat ini juga berpengaruh pada arah angin laut yang menjadi dasar penentuan musim tersebut. Saat ini arah angin ke Barat ataupun ke Timur dapat berubah-ubah hanya dalam hitungan hari. Hal ini membuat nelayan kesulitan dalam memprediksi kondisi laut. Pada nelayan tangkap bubu dan jaring muroami, ikan yang didapat diharga per kilogramnya dengan harga 11.000,00 rupiah. Sedangkan pada nelayan tangkap ikan hias ikan dihargai per ekornya dengan harga 500,00 rupiah sampai 1.000,00 rupiah tergantung dari jenis ikan hias yang didapat.
Tabel 6. Tabel Musim Melaut dan Jenis Ikan Musim Jenis Ikan Bulan 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Barat Bandeng √ √ √ √ √ Timur Tongkol, Tenggiri, Teri √ √ √ √ √ √ √
Pada nelayan perikanan budidaya, keterampilan dan pengetahuan nelayan mengenai teknik budidaya sangat berpengaruh pada pendapatan yang mereka dapatkan di setiap panen yang mereka lakukan. Mayoritas nelayan perikanan budidaya kerapu hanya dapat melakukan panen setahun sekali dengan hasil panen sebesar 5.000.000,00 rupiah sampai 10.000.000,00 rupiah. Besarnya hasil panen tersebut sangat bergantung pada jumlah bibit ikan yang disebar oleh nelayan di keramba yang mereka miliki. Umumnya nelayan di Pulau Panggang menyebar bibit sebanyak 150 sampai 300 ekor per kotak keramba. Bibit yang telah disebar tersebut biasanya tidak seluruhnya dapat dipanen, karena yang biasanya terjadi adalah terdapat beberapa ikan yang kemudian mati ataupun cacat. Tentunya tingkat keberhasilan pengembangan bibit ini bergantung pada tingkat pengetahuan dan keterampilan nelayan mengenai budidaya, khususnya budidaya kerapu.
Tidak hanya pada nelayan perikanan tangkap, kondisi alam pun sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya yang dilakukan oleh nelayan Pulau Panggang. Kualitas air laut yang saat ini semakin memburuk seiring bertambahnya pencemaran di Pulau Panggang membuat ketahanan hidup ikan kerapu semakin menurun. Hal tersebut berdampak pada menurunnya hasil panen nelayan budidaya.
Berdasarkan pengamatan dan informasi yang didapat dari berbagai informan, masyarakat Pulau Panggang dapat dikatakan sebagai masyarakat yang konsumtif. Hal ini dapat dilihat dari perilaku konsumsi masyarakat setempat. Masyarakat di daerah tersebut umumnya lebih menyenangi membeli makanan di warung terdekat dibandingkan dengan memasak sendiri karena membeli makanan jadi dianggap lebih praktis.
Kondisi perumahan di Pulau Panggang juga menjadi indikator tingginya perilaku konsumsi masyarakat. Berdasarkan pengamatan, tidak terdapat perumahan warga yang berada dalam kondisi yang buruk seperti yang biasa kita jumpai pada daerah pesisir. Kondisi perumahan warga dapat terbilang cukup baik. Walaupun di beberapa rumah tidak ditemui adanya jamban, namun hal tersebut mereka lakukan bukan karena ketidakmampuan secara ekonomi namun lebih kepada kebiasaan mereka untuk menggunakan beberapa jamban umum yang tersedia di beberapa titik di pinggir laut.
4.6 Kependudukan
Dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu, Pulau Panggang merupakan pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi. Jumlah penduduk di Pulau Panggang hingga tahun 2009 adalah sebesar 4075 jiwa (Tabel 7). Jumlah tersebut cukuplah tinggi mengingat luas wilayah Pulau Panggang hanya sebesar 62,10 ha. Penyebab tingginya jumlah penduduk di wilayah ini salah satunya adalah terjadinya perkawinan antar penduduk Pulau Panggang itu sendiri. Faktor lain yang menyebabkan tingginya jumlah penduduk adalah cukup banyaknya pendatang dari daerah lain yang kemudian menetap di pulau ini. Biasanya pendatang tersebut pindah ke Pulau Panggang untuk kemudian membuka berbagai macam usaha kecil.
Tabel 7. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Rukun Warga (RW)
RW Jumlah Total Laki-laki Perempuan 01 727 718 1445 02 689 678 1367 03 663 600 1263 Jumlah 2079 1996 4075
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
4.6.1 Pendidikan
Pulau Panggang telah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam bidang pendidikan jika dibandingkan dengan sepuluh tahun silam. Peningkatan jumlah penduduk yang menamatkan pendidikan wajib sembilan tahun cukup signifikan, ditambah peningkatan lulusan perguruan tinggi dari wilayah tersebut.
Hal tersebut sebagian disebabkan oleh tingginya perhatian pihak pemerintah maupun organisasi non pemerintah pada kondisi pendidikan khususnya di Pulau Panggang.
Permasalahan yang perlu diperhatikan dalam kondisi pendidikan di Pulau Panggang adalah pengorganisasian lulusan-lulusan Pulau Panggang untuk pemberdayaan wilayah tersebut. Berdasarkan Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, terdapat 103 penduduk lulusan perguruan tinggi (Tabel 8). Lulusan perguruan tinggi di pulau tersebut yang kemudian menjadi pengangguran menjadi permasalahan utama bagi masyarakat. Padahal perkembangan pesat yang sedang dialami daerah tersebut tentunya membutuhkan banyak tenaga terampil lokal. Masyarakat beranggapan, pemerintah daerah tidak memanfaatkan tenaga terampil lokal.
Tabel 8. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan Tidak Tamat SD 20 22 42 Tamat SD 370 318 688 Tamat SMP 180 130 310 Tamat SMA 140 145 285
Tamat Perguruan Tinggi 66 37 103
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
Hal ini dapat terlihat dari beberapa staf kabupaten di daerah tersebut masih berasal dari luar daerah. Padahal jika dilihat kedalam, cukup banyak tenaga terampil lokal yang dapat dimanfaatkan keterampilannya. Pemanfaatan tenaga terampil lokal tersebut dapat mengefisienkan kinerja pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan tidak diperlukannya biaya operasional yang terlalu besar dibandingkan jika pemerintahan merekrut tenaga luar daerah untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Jika dilihat dari tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan, dapat dikatakan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sudah cukup tinggi. Masyarakat sudah memiliki anggapan bahwa pendidikan sudah harus dimulai sejak usia dini. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas balita di daerah tersebut sudah disertakan pada sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang kini keberadaannya sedang berkembang dengan baik.
Tabel 9. Jumlah Ketersedian Sarana Pendidikan Menurut Tingkat Pendidikan
Jenis Pendidikan Negeri Swasta
Gedung Sekolah Guru Murid Gedung Sekolah Guru Murid
Kelompok Bermain - - - 3 20 96 TK - 1 2 32 3 3 15 184 SD 3 3 45 752 - MI - 1 15 66 2 2 15 170 SMP 1 1 20 373 - - - - MTs - 1 16 55 - - - - SMA 1 1 30 462 - - - -
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
Salah satu penyebab meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah bergesernya pola pikir masyarakat mengenai profesi sebagai nelayan. Pada kurun waktu sepuluh tahun silam, masyarakat masih memiliki pandangan bahwa pekerjaan sebagai nelayan jauh lebih menguntungkan secara finansial dibandingkan pekerjaan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dikarenakan pendapatan yang didapat dari pekerjaan sebagai nelayan jauh lebih besar walaupun besarnya pendapatan tersebut tidak dapat diprediksi. Saat ini, masyarakat memiliki pola pikir bahwa pekerjaan sebagai PNS jauh lebih menjanjikan dibandingkan nelayan. Besaran pendapatan yang pasti dan berbagai tunjangan yang didapat tentunya lebih menguntungkan dibandingkan pekerjaan sebagai nelayan yang pendapatannya bergantung pada kondisi alam.
4.6.2 Kesehatan
Wilayah Pulau Panggang yang merupakan pulau yang paling padat penduduknya diantara pulau lain di Kepulauan Seribu, membuat wilayah ini memiliki penataan dan kebersihan wilayah yang kurang baik jika dibandingkan dengan pulau lain. Permasalahan ini kemudian berdampak pada memburuknya kondisi kesehatan masyarakat setempat. Hal tersebut diperburuk pula oleh kebiasaan masyarakat untuk membuang limbah rumah tangga mereka langsung ke laut. Padahal telah banyak dicanangkan program-program pengolahan limbah rumah tangga oleh pemerintah daerah.
Kebiasaan masyarakat lainnya yang sulit untuk diubah adalah pembuangan limbah manusia yang masih dilakukan di tepi laut. Padahal mayoritas rumah
warga telah dilengkapi dengan fasilitas WC didalamnya. Untuk menyikapi hal tersebut, pemerintah setempat membuat fasilitas WC terapung di beberapa titik di tepian pulau. Namun, masih banyak warga yang lebih memilih untuk melakukan pembuangan limbah manusia ditempat selain WC terapung tersebut, dengan anggapan lebih praktis dan dekat dengan tempat tinggal mereka.
Tabel 10. Jumlah Ketersediaan Sarana Kesehatan
Jenis Sarana Jumlah Daya Tampung
Puskesmas 1 buah 17 orang
Pos Kesehatan 1 buah 5 orang
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
Fasilitas kesehatan yang didapat oleh masyarakat Pulau Panggang dapat dikatakan sangat baik. Pada Pulau Panggang, terdapat satu buah Puskesmas dan satu buah pos kesehatan (Tabel 10). Puskesmas yang terdapat di Pulau Panggang memiliki sarana yang cukup lengkap, karena didalamnya terdapat tenaga medis seperti dokter umum, bidan, dan ahli gizi (Tabel 11). Kegiatan kesehatan seperti Posyandu juga berpusat di Puskesmas tersebut. Namun, kegiatan Posyandu yang diadakan rutin setiap bulan seperti penimbangan balita, pemberian makanan bergizi, dan pemantauan kondisi balita gizi kurang dilakukan di tiap-tiap Posyandu yang tersebar di setiap RW.
Tabel 11. Jumlah Karyawan Tenaga Medis
Karyawan Tenaga Medis Jumlah
Dokter Umum 1 orang
Para Medis 4 orang
Bidan 2 orang
Dukun Bayi 2 orang
Karyawan Non Medis 4 orang
Ahli Gizi 1 orang
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang, 2009
Terdapat perubahan kualitas kesehatan ke arah yang kurang baik, jika dilihat dari segi penyakit yang diderita warga. Hal ini dikarenakan, terjadinya peningkatan jumlah warga yang menderita penyakit degeneratif, seperti diabetes, kanker, kolesterol, dan lain-lain. Padahal dalam kurun waktu sepuluh tahun
sebelumnya, penyakit tersebut jarang sekali diderita oleh warga setempat. Penyebab terjadinya permasalahan tersebut dianggap sebagai akibat pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat yang kurang sehat.