BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. keluar dari pemikiran mereka berbeda-beda sehingga timbul pengertian menurut

33 

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2. 1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pengertian Koperasi

Sebagian orang seluruh dunia mengenal koperasi, walaupun definisi yang keluar dari pemikiran mereka berbeda-beda sehingga timbul pengertian menurut para ahli. Dilihat dari asal katanya, istilah koperasi berasal dari bahasa Inggris yaitu co-operation yang berarti usaha bersama. Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka. Menurut Hatta (1954), koperasi didirikan sebagai persekutuan kaum yang lemah untuk membela keperluan hidupnya. Mencapai keperluan hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya, itulah yang dituju. Pada koperasi didahulukan keperluan bersama, bukan keuntungan.

Pengertian koperasi di Indonesia adalah pasal 33 UUD 1945 dan undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian. Dalam pasal 33 UUD 1945 antara lain dikemukakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan. Pengertian Koperasi Menurut undang-undang Perkoperasian No.25 tahun 1992 menyatakan bahwa “koperasi” adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang

(2)

berlandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan.

Mengingat bidang usaha yang berasaskan kekeluargaan dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia terutama lapisan masyarakat yang menjunjung kebersamaan maka dalam usaha bersama, koperasi adalah merupakan wadah yang tepat karena selain aspek ekonomis sebagai watak usahanya dan aspek sosial sebagai watak kebersamaan.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan secara umum koperasi adalah badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ekonomi para anggotanya atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat dan soko guru perekonomian nasional. (PSAK No 27, 2000)

Untuk menempatkan koperasi pada proporsi yang semestinya dalam perekonomian nasional, maka diperlukan penentuan bidang atau ruang gerak koperasi dan hal ini menuntut inventarisasi aktivitas ekonomi yang ada, dan barulah kemudian pada kesempaan berikutnya memberikan sektor-sektor ekonomi yang jelas bagi koperasi. Hal ini dikarenakan koperasi mempunyai tugas yang berat dibandingkan dengan sektor swasta maupun sektor pemerintahan.

Adapun ciri perusahaan koperasi yang dapat membedakan dengan perusahaan komersial dan non komersial menurut Rudianto (2010: 5) adalah pada jati diri anggota sebagai pemilik modal, pengambil keputusan dan

(3)

pelanggan/karyawan dari perusahaan bersama. Selain itu struktur demokratis, orientasi pelayanan ditujukan kepada perusahaan anggota atau anggota perorangan, sikapnya terhadap peranan modal semata-mata sebagai alat, cara pandang berbagi keuntungan yang diperoleh dari transaksi dengan anggota (pelayanan dekat dengan biaya), serta cara khusus dalam membagikan SHU kepada para anggota sesuai dengan perimbangan jasanya masing-masing.

Selain itu, prinsip-prinsip koperasi yaitu pengendalian oleh anggota secara demokratis dan secara aktif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan serta pengambilan keputusan. Untuk lebih menunjang prinsip koperasi maka ada partisipasi ekonomi anggota yaitu menyumbang dan mengambil bagian dengan cara yang adil untuk membangun modal koperasi dan mengendalikannya secara demokratis.

Dari pengertian diatas menggambarkan bahwa koperasi Indonesia mempunyai prinsip-prinsip tersendiri dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 ayat 1 Undang-Undang No.25 Tahun 1992, adapun prinsip-prinsip tersebut terdiri dari:

a) Sifat keanggotaannya Terbuka dan Suka Rela

Setiap orang yang ingin menjadi anggota koperasi berdasarkan kemauannya sendiri dan tidak berdasarkan paksaan seseorang, dengan penuh kesadaran dan keyakinan bertekad untuk memperbaiki kehidupannya.

(4)

c) Pengelolahan koperasi harus Berdasarkan keputusan Rapat Anggota yang merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi

d) Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota koperasi

e) Pemberian belanja jasa yang terbatas terhadap modal yaitu wajar tidak melebihi suku bunga yang berlaku

f) Kemandirian diartikan bahwa koperasi dapat berdiri sendiri dalam melakukan kegiatannya dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan usahanya.

Jelas bahwa koperasi Indonesia yang berasaskan kekeluargaan dan mempunyai prinsip-prinsip yang sesuai dengan yang penulis sampaikan, sehingga bila ada koperasi yang tidak mempunyai prinsip diatas dapat dikatakan bukan merupakan bentuk koperasi Indonesia.

2.1.2 Fungsi dan Peranan Koperasi

Koperasi berfungsi untuk memperbaiki tingkat kehidupan masing-masing anggota. Terbentuknya dan berkembangnya koperasi berarti masyarakat memiliki alat perjuangan ekonomi. Koperasi yang berlandaskan gotong royong dan azas kekeluargaan merupakan realisasi demokrasi ekonomi yang dibentuk sebagai alat untuk memperbaiki ekonomi anggotanya.

Fungsi koperasi Menurut pasal 4 UU No. 25 Tahun 1992 (dalam Sumarsono, 2003:10) tentang perkoperasian yaitu:

(5)

a. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

b. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

c. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.

d. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Dari uraian di atas, maka koperasi harus berfungsi Sebagaimana mestinya. Agar taraf hidup masyarakat dapat meningkat sehingga dapat tercapai tujuan bersama. Koperasi dalam rangka pembangunan ekonomi dan pengembangan kesejahteraan anggota khususnya, serta masyarakat pada umumnya berperan meningkatkan produksi dan mewujudkan pendapatan yang adil dan makmur, meningkatkan taraf hidup rakyat.

Peranan koperasi Menurut UU No. 12 tahun 1967, tentang pokok-pokok Perkoperasian:

a) Mempersatukan, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi, daya kreasi, daya usaha rakyat, untuk meningkatkan produksi dan mewujudkan terciptanya pendapatan yang adil dan kemakmuran yang merata.

(6)

b) Mempertingi taraf hidup dan tingkat kecerdasan rakyat.

c) Membina kelangsungan dan perkembangan demokrasi ekonomi.

Dari uraian diatas peranan koperasi dalam membina kelangsungan dan perkembangan demokrasi ekonomi adalah bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Untuk itu perlu ditanamkan dan ditingkatkan kesadaran berkoperasi.

2.1.3 Jenis-jenis Koperasi

Dilihat dari bidang usaha dan jenis anggotanya, koperasi dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis. Bidang usaha koperasi mencerminkan jenis produk yang dijual kepada masyarakat dan para anggotanya. Berdasarkan bidang usaha ini dan jenis anggotanya, menurut PSAK no.27 tahun 2009, koperasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis koperasi, yaitu:

a) Koperasi Konsumsi

Adalah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari tiap-tiap orang yang mempunyai kepentingan langsung dengan konsumsi. Fungsi dari koperasi konsumsi adalah:

 Sebagai penyalur tanggal barang-barang kebutuhan rakyat sehari-hari ke konsumen.

 Harga barang sampai ke tangan pemakai menjadi murah. b) Koperasi Produksi

Adalah koperasi yang anggota-anggotanya menghasilkan sesuatu bersama-sama. Koperasi produksi biasanya didirikan oleh produsen-produsen kecil yang bekerja sama untuk kepentingan bersama.

(7)

Kegiatan utama koperasi produksi adalah menyediakan, mengoperasikan dan mengelola srana produksi bersama.

c) Koperasi Simpan Pinjam (Koperasi Kredit)

Adalah koperasi yang anggota-anggotanya Setiap orang mempunyai kepentingan langsung dalam laporan perkreditan. Fungsi koperasi simpan pinjam:

 Membantu keperluan kredit para anggotanya yang sangat membutuhkan dengan syarat ringan.

 Mendidik para anggotanya supaya giat menyimpan secara teratur sehingga membentuk modal sendiri.

 Mendidik anggotanya untuk hidup berhemat dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan.

d) Koperasi Pemasaran

Adalah koperasi yang anggotanya terdiri dari para produsen atau pemilik barang atau penyedia jasa. Koperasi pemasaran dibentuk terutama untuk membantu para anggotanya memasarkan barang-barang yang mereka hasilkan.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK,2009:27) koperasi dalam kaitannya dengan laporan keuangan, lebih lanjut dalam SAK dinyatakan bahwa karaktristik laporan keuangan bagi koperasi sebagai berikut:

a) Laporan keuangan merupakan bagian dari pertanggung jawaban pengurus dan anggotanya dalam rapat anggota tahunan.

(8)

c) Sesuai dengan posisi masing-masing sebagai bagian dari jaminan system koperasi, maka beberapa akuntansi atau beberapa istilah yang sama akan muncul, baik pada kelompok aktiva maupun kewajiban/kekayaan bersih. d) Laporan laba rugi menyajikan hasil akhir yang disebut Sisa Hasil Usaha (SHU). SHU koperasi dapat berasal dari usaha yang diselenggarakan anggota dan bukan anggota. Pada rapat tahunan, SHU ini diputuskan untuk dibagi sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang dan anggaran dasar koperasi.

e) Dengan adanya konsep Sistem Jaringan Koperasi dan Peraturan Pemerintah, maka terdapat aktiva (sumber daya) yang dimiliki koperasi tetapi tidak dikuasainya, dan sebaliknya terdapat aktiva (sumber daya) yang dikuasai oleh koperasi tetapi tida dimilikinya.

f) Laporan keuangan koperasi bukan merupakan laporan keuangan keuangan konsolidasi dari koperasi-koperasi.

2.1.4 Kinerja Keuangan

Menurut Martono (2002:52) kinerja keuangan suatu koperasi atau badan usaha lain sangat bermanfaat bagi berbagai pihak (stakeholders), seperti investor, kreditur, analis, konsultan keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen sendiri. Laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan laba-rugi dari suatu koperasi atau badan usaha lain, apabila disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu koperasi atau badan usaha lain selama kurun waktu

(9)

tertentu. Keadaan inilah yang akan digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan atau koperasi.

Laporan keuangan merupakan bagian dari pertanggung jawaban pengurus kepada para anggotanya di dalam rapat anggota tahunan (RAT), laporan keuangan biasanya meliputi laporan posisi keuangan, laporan sisa hasil usaha, dan laporan arus kas yang penyajiannya dilakukan secara komparatif dan harus ditandatangani oleh semua anggota pengurus koperasi (UU No.25/1992, Pasal 36, Ayat 1). Laporan laba rugi menyajikan hasil akhir yang disebut sisa hasil usaha (SHU). SHU yang dibagikan untuk anggota harus berasal dari usaha yang diselenggarakan. Komponen pembagian SHU sesuai dengan anggaran dasar atau anggaran rumah tangga (AD/ART) koperasi yang bersangkutan (pasal 45 UU No.25/1992). Menurut Sitio dan Tamba (2001), pengguna utama dari laporan keuangan koperasi yaitu anggota, calon anggota, bank, kreditur dan lain-lain.

Menurut Mahsun et al., (2006:145) menjelaskan bahwa kinerja

(performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu

kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Menurut Mulyadi (2007:419) penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja secara umum dapat diartikan sebagai penilaian atau ukuran terhadap efektivitas dan efisiensi masing-masing individu atau organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau organisasi.

(10)

Aspek utama dari kinerja keuangan yaitu tercapainya keseimbangan yang baik antara hutang dan ekuitas. Hutang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Pemerintah, pengusaha bahkan perorangan membiayai banyak bisnisnya menggunakan hutang. Perusahaan atau koperasi memutuskan mengambil sejumlah uang untuk dipinjam dengan menetapkan berapa besar pinjaman jangka pendek dan panjang. Pendanaan jangka pendek biasanya untuk membiayai investasi pada aktiva lancar. Sejumlah perusahaan atau koperasi mengalami kesulitan keuangan yang sangat mendalam, karena menggunakan pinjaman jangka pendek untuk investasi jangka panjang.

Kinerja keuangan perusahaan atau koperasi dapat diukur berdasarkan rasio keuangan dengan analisis rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas. Semakin besar nilai rasio-rasio tersebut, maka kinerja dapat tercapai. Sedangkan untuk rasio leverage jika semakin kecil nilainya maka kinerjanya semakin baik. Informasi kinerja perusahaan atau koperasi terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dilakukan atau dikendalikan di masa datang. Informasi fluktuasi kinerja sangat penting dan bermanfaat untuk prediksi kapasitas perusahaan atau koperasi dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Disamping itu informasi kinerja juga berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan atau koperasi dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.

2.1.4.1 Pengertian Pengukuran Kinerja

Menurut Stout dan Bastian (2006:275), pengukuran kinerja merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah

(11)

pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa, ataupun suatu proses.

Sedangkan menurut Mahsun (2006:45) pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas efiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa, kwalitas barang dan jasa (seberapa baik barang dan jasa diserahkan kepada pelanggan dan sampai seberapa jauh pelanggan terpuaskan), hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang diinginkan dan efektifitas tindakan dalam mencapai tujuan.

Pengukuran kinerja membantu manajer dalam memonitor implementasi strategi bisnis dengan cara membandingkan antara hasil aktual dengan sasaran dan tujuan strategis. Jadi pengukuran kinerja adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

Beberapa pengertian dari pengertian pengukuran kinerja yang dikemukakan Nawawi (2003:396), antara lain sebagai berikut :

a. Pengukuran kinerja adalah usaha mengidentifikasi, mengukur atau menilai dan mengelola pelaksanaan pekerjaan oleh para pegawai/karyawan.

b. Pengukuran kinerja adalah usaha mengidentifikasi dan menilai aspek-aspek pelaksanaan pekerjaan yang berpengaruh pada kesuksesan organisasi nonprofit dalam mencapai tujuannya.

(12)

c. Pengukuran kinerja adalah kegiatan mengukur/menilai untuk menetapkan seorang pegawai/karyawan sukses atau gagal dalam melaksanakan pekerjaannya dengan menggunakan standar pekerjaan sebagai tolok ukurnya.

Dari pengertian di atas terlihat bahwa yang dinilai adalah :

a. Apa yang telah dikerjakan oleh seorang pekerja selama periode tertentu, mungkin setelah bekerja satu semester atau satu tahun atau lebih singkat, sesuai jenis dan sifat pekerjaannya.

b. Bagaimana cara pegawai/karyawan yang dinilai dalam melaksanakan pekerjaannya selama periode tersebut diatas.

c. Mengapa pegawai/karyawan tersebut melaksanakan pekerjaannya seperti itu.

Maka dapat disimpulkan, bahwa pengukuran kinerja merupakan suatu proses dalam pengendalian manajemen untuk mengetahui informasi atas penilaian kemajuan kinerja anggota organisasi terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya secara akurat dan valid guna dibandingkan dengan maksud yang diinginkan dan efektifitas tindakan dalam mencapai tujuan tersebut. 2.1.4.2 Tujuan Pengukuran Kinerja

Tujuan pokok pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai tujuan organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Pengukuran kinerja dilakukan pula untuk menekankan perilaku yang tidak

(13)

semestinya (disfunctional behavior) dan untuk mendorong perilaku yang semestinya diinginkan.

Menurut Stout dan Bastian (2006:275), pengukuran kinerja merupakan alat manajemen untuk:

a. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian kinerja.

b. Memastikan tercapainya skema kinerja yang disepakati.

c. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan skema kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja. d. Memberikan penghargaan dan hukuman yang objektif atas kinerja yang

dicapai setelah dibandingkan dengan skema indikator kinerja yang telah disepakati.

e. Menjadikan alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi.

f. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. g. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.

h. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif i. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan.

j. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Adapun menurut Mardiasmo (2002:122) secara umum, tujuan sistem pengukuran kinerja adalah :

a. Untuk mengkomunikasikan strategi secara lebih baik (top down dan bottom up).

(14)

b. Untuk mengukur kinerja finansial dan non finansial secara berimbang sehingga dapat ditelusuri perkembangan pencapaian strategi.

c. Untuk mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan bawah serta memotivasi untuk mencapai goal congruence.

d. Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan kemampuan kolektif rasional.

Sedangkan manfaat dan kegunaan dalam melakukan pengukuran kinerja menurut Nawawi (2003:401), antara lain :

a. Untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang keliru oleh para pegawai dan sebagai masukan bagi para pimpinan dalam membantu dan mengarahkan pegawai/karyawan dalam memperbaiki pelaksanaan pekerjaannya di masa yang akan datang.

b. Untuk melaksanakan perbaikan dan penyempurnaan kegiatan manajemen SDM lainnya, seperti :

1. Menyelaraskan upah/gaji atau insentif lainnya bagi para pegawai terutama untuk yang berprestasi dalam bekerja.

2. Memperbaiki kegiatan penempatan, promosi, pindah, dan demosi jabatan yang sesuai dengan prestasi atau kegagalan pegawai yang dinilai.

3. Membantu memperbaiki kegiatan pelatihan, baik dalam menyusun kurikulumnya maupun memilih pegawai yang akan diikutsertakan selama setiap pelatihan.

(15)

4. Membantu pegawai melakukan perbaikan dan peningkatan kekurangan/kelemahannya dalam bekerja, bahkan untuk menyusun program dan kegiatan pengembangannya dalam mengantisipasi tantangan baru di masa depan.

5. Dapat dipergunakan sebagai informasi untuk memperbaiki validitas tes yang rendah, bila ternyata calon pegawai yang diprediksi memiliki kemampuan sebenarnya yang rendah.

6. Hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah organisasi, sehingga dapat dicarikan cara menyelesaikannya.

2.1.5 Analisis Rasio Keuangan

Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analisis), khususnya terhadap perhitungan ratio agar dapat mengevaluasi keadaan financial pada masa lalu, sekarang dan memproyeksikan hasil yang akan datang. Analisis rasio merupakan salah satu alat ukur kinerja keuangan perusahaan.

Menurut Alwi (1994:108) tujuan dari analisa rasio adalah “membantu manajer keuangan memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan berdasarkan informasi yang tersedia yang sifatnya terbatas berasal dari laporan keuangan”. sedangkan menurut Bambang Riyanto (1993:253) tujuan dari analisis rasio adalah “untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan perusahaan dengan ukuran ratio sehingga membantu manajemen untuk membuat suatu kebijaksanaan”. Dari uraian tersebut dapat kita simpulkan tujuan dari analisis

(16)

laporan keuangan adalah untuk membantu manajemen keuangan dalam membuat kebijaksanaan yang berpedoman pada informasi dari analisis laporan keuangan.

Menurut Warsono (2003:28-29) tolok ukur untuk membandingkan rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Metode Lintas seksi atau industri (Metode Cross-Section)

Metode tolok ukur yang digunakan untuk menentukan sehat tidaknya posisi keuangan perusahaan yang dilakukan dengan cara membandingkan rasio keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu dengan rasio keuangan rasio keuangan rata-rata industrinya pada periode yang bersangkutan. Metode ini paling cocok digunakan untuk perusahaan yang sudah go public, atau yang sahamnya sudah tercatat di pasar modal.

2. Metode Lintas Waktu (Metode Time Series)

Metode yang merupakan tolok ukur analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara membandingkan suatu rasio keuangan perusahaan dari satu periode tertentu dengan sebelumnya.

Untuk mengetahui bagaimana kondisi financial perusahaan saat ini, diperlukan suatu cara evaluasi. Menurut Alwi (1994:109) ada dua tipe evaluasi financial yang dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana kondisi perusahaan saat ini yaitu:

 Analisis Trend

Analisis trend adalah perbandingan analisis perkembangan rasio financial perusahaan dalam beberapa tahun yaitu perbandingan antara suatu rasio

(17)

saat ini dengan rasio yang sama pada waktu lampau. Analisis ini sering disebut dengan Analisis historis (Historical Analisis).

 Norma Industri

Norma Industri adalah rata-rata rasio yang dihasilkan dari beberapa perusahaan yang sejenis yang dapat dijadikan pembanding bagi perusahaan yang bersngkutan. Rasio ini disebut juga rasio industri. Perbandingan antara rasio perusahaan dengan rasio industry akan menunjukkan sejauh mana kondisi financial perusahaan saat ini”.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam membandingkan rasio keuangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu;

 Membandingkan rasio sekarang dengan rasio tahun lalu

 Membandingkan anatara rasio perusahaan dengan rasio industry. 2.5.1.1 Pengelompokan Rasio Keuangan

Menurut Mamduh dan M.Hanafi (2007:77-88) analisis kinerja keuangan dapat dilakukan melalui :

a. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva pada tingkat kegiatan tertentu. Rasio ini terdiri atas :

1. Rata-rata umur Piutang

Rata-rata umur Piutang =

/365 penjualan

(18)

2. Perputaran Persediaan

Perputaran Persediaan =

lancar Aktiva

Penjualan

3. Perputaran Aktiva Tetap

Perputaran Aktiva Tetap =

Tetap Aktiva Total

Penjualan

4. Perputaran Total Aktiva

Perputaran Total Aktiva =

Aktiva Total

Penjualan

b. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek (utang lancar).

1. Rasio lancar Rasio lancar = lancar hutang Jumlah lancar aktiva Jumlah 2. Rasio Cepat Rasio Cepat = lancar hutang Jumlah Persediaan -Lancar Aktiva c. Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas menunjukkan kemampuan menghasilkan laba. 1. Net Profit Margin.

Net Profit Margin =

bersih Penjualan

bersih Laba

(19)

2. Return on Assets (ROA) ROA = Asset Total Bersih Laba

3. Return on Equity (ROE)

ROE = Saham M odal Bersih Laba d. Rasio Solvabilitas

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjang.

1. Total Hutang Terhadap =

Aktiva Total

Hutang Total

Total Aset

2. Times Interest Earned =

Bunga (EBIT) bunga dan pajak sebelum Laba

3. Fixed Charged coverage =

sewa biaya Bunga sewa biaya EBIT  

Menurut Martono (2002:55-60) pada dasarnya alat rasio keuangan diklasifikasikan menjadi empat (4) kelompok antara lain:

a. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah alat ukur untuk melihat apakah unit usaha tersebut cukup likuid dalam menjalankan usahanya selama periode mendatang. Rasio ini terdiri atas:

 Rasio Lancar (Current Ratio).

Rasio ini menunjukkan sampai dimana hutang-hutang jangka pendek dapat dibayar dari aktiva-aktiva yang dapat dijadikan uang pada waktu yang sama misalnya, jangka waktu pembayaran hutang-hutang jangka pendek.

(20)

Secara umum rasio ini bisa dikatakan baik, jika nilainya mencapai 2 atau 200%.

Current Ratio = Aktiva Lancar Hutang Lancar  Rasio Singkat (Quick Ratio).

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam utang-utang jangka pendeknya, tanpa mengutamakan persediaan. Suatu unit usaha dikatakan mampu membayar utang jangka pendeknya, jika nilainya lebih besar dari satu (1) atau lebih dari 100%.

Quick Ratio = Kas+Efek+piutang Hutang lancar  Rasio Kas (Cash Ratio).

Rasio ini menunjukkan kemampuan suatu unit usaha dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan uang kas dan surat berharga yang mudah diuangkan.

Cash Ratio = Cash + Efek Hutang Lancar

b. Rasio Aktivitas (Activity Ratio)

Rasio aktivitas menunjukkan seberapa efektif aset-aset usaha dalam menghasilkan pendapatan. Adapun rasio aktivitas yang sering digunakan yaitu:

 Total Asset Turn Over (TATO)

Rasio ini mengukur perputaran dana yang tertanam dalam aktiva selama periode tertentu yang diinvestasikan untuk menghasilkan pendapatan.

(21)

Selain itu juga dapat mengukur perputaran aset yang dimilki suatu unit usaha.

Total Asset Turn Over (TATO) = Penjualan Neto

Jumlah Aktiva  Working Capital Turn Over (WCTO)

Rasio ini menunjukkan keefektikan modal kerja, menunjukkan hubungan modal kerja dengan penjualan, serta banyaknya penjualan yang diperoleh suatu unit usaha untuk setiap rupiah modal kerja.

WCTO = lancar hutang -lancar aktiva Neto Penjualan

 Receivable Turn Over

Rasio ini menunjukkan tingkat perputaran piutang dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi perputarannya berarti semakin cepat pula pengembalian modal yang tertanam dalam piutang yang berbentuk kas.

Receivable Turn Over =

rata -rata Piutang Kredit Penjualan

 Average Collection Period

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam mengumpulkan jumlah piutang setiap jangka waktu tertentu.

Average Collection Period =

Kredit Penjualan 360 x rata -rata Piutang c. Rasio Leverage

Kreditor jangka panjang maupun jangka pendek akan memperhatikan benar seberapa banyak kegiatan koperasi atau badan usaha lain yang dibiayai utang.

(22)

Jika koperasi atau badan usaha lain mempunyai utang jangka panjang yang sangat tinggi dalam struktur permodalan koperasi atau badan usaha lain, maka para kreditor akan berfikir bahwa koperasi atu badan usaha lain akan mudah gulung tikar dan tidak akan bisa melunasi utangnya. Demikian dengan pemilik koperasi atau badan usaha lain akan mempertimbangkan beberapa kembalian yang bisa didapat dari komposisi banyak sedikitnya utang dalam struktur permodalan. Rasio ini meliputi:

 Debt to Capital Asset.

Rasio menunjukkan berapa persen aset suatu unit usaha yang diberikan kreditur.

Debt to Capital Asset =

M odal Panjang Jangka Hutang Lancar Hutang 

 Long Term Debt to Equity

Rasio ini mengukur seberapa jauh suatu unit usaha dibiayai oleh pinjaman. Semakin tinggi nilainya berarti semakin besar dana yang dipinjam dari pihak luar.

Long Term Debt to Equity =

Sendiri M odal Panjang Jangka Hutang d. Rasio Profitabilitas

Rasio ini menunjukkan efektivitas menciptakan laba. Laba pada dasarnya menunjukkan seberapa baik koperasi/badan usaha lain dalam membuat keputusan investasi dan pembiayaan. Koprasi/badan usaha harus mampu menyiapkan uang dari laba koperasi/badan usaha lain dalam membayar utang dan membayar deviden dengan mengoptimalkan pemanfatan seluruh asetnya.

(23)

Adapun rasio ini yang sering digunakan antara lain;  Net Profit Margin (NPM)

Rasio ini mengukur kemampuan suatu unit usaha dalam menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan.

Net Profit Margin (NPM) =

Neto Penjualan

Pajak Setelah Keuntungan

 Return On Investment (ROI)

Rasio ini mengukur berapa besar tingkat pengembalian atas investasi.

Return On Investment (ROI) =

Neto Penjualan

Pajak Setelah Keuntungan

 Gross Profit Margin (GPM)

Rasio ini mengukur laba kotor yang dapat dicapai dalam setiap penjualan.

Gross Profit Margin (GPM) =

Neto Penjualan

Kotor Laba

Tolak ukur analisis rasio berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006.

a. Ratio Likuiditas (Liquidity Ratio)

Ratio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial jangka pendek yang berupa hutang-hutang jangka pendek

(short term debt).

1. Current Ratio

Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio lancar (Current Ratio) adalah :

Current Ratio = Aktiva Lancar x 100% Hutang Lancar

(24)

Tabel 1

Standar Pengukuran Ratio Likuiditas Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Current Ratio 200% - 250% 175% - 199% 150% - 174% 125% - 149% < 125% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006 b. Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas menunjukkan kemampuan koperasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Perusahaan dikatakan solvabel apabila mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk melunasi hutang-hutangnya.

1. Rasio Total Hutang Terhadap Total Aset

Rasio ini membandingkan jumlah total hutang dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Dari rasio ini, kita dapat mengetahui berapa bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin hutang.

Rasio Total Hutang Terhadap Total Aktiva = Total Hutang x 100% Total Aktiva

(25)

Tabel 2

Standar Perhitungan Rasio Total Hutang Terhadap Total Aktiva berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Rasio Total Hutang Terhadap Total Aktiva

≤ 40% > 40% - 50% >50% - 60% >60% - 80% >80% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat

Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006 2. Rasio Total Hutang Terhadap Modal Sendiri

Rasio ini membandingkan jumlah total hutang dengan modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Dari rasio ini, kita dapat mengetahui berapa bagian modal yang digunakan untuk menjamin hutang.

Rasio Total Hutang Terhadap Total Aktiva = Total Hutang x 100% Modal Sendiri

(26)

Tabel 3

Standar Perhitungan Rasio Total Hutang Terhadap Modal Sendiri berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Rasio Total Hutang Terhadap Modal Sendiri ≤ 70% > 70% - 100% >100% - 150% >150% - 200% >200% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006 c. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan. Semakin besar profitabilitas berarti semakin baik, karena kemakmuran pemilik perusahaan meningkat dengan semakin besarnya profitabilitas.

1. Net Profit Margin

Merupakan rasio yang digunaka untuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.

Net Profit Margin = Sisa Hasil Usaha x 100% Penjualan

(27)

Tabel 4

Standar Perhitungan Net Profit Margin Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Rasio Net Profit Margin ≥ 15 % 10 % – < 15 % 5 % - < 10 % 1% - < 5% < 1% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006

2. Return On Asset

Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang akan digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Semakin besar nilai ROA berarti suatu perusahaan mempunyai kinerja yang bagus dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian total aktiva yang dimiliki

Return On Asset = Sisa Hasil Usaha x 100%

(28)

Tabel 5

Standar Perhitungan Return On Asset Ratio Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Rasio Return On Asset

≥ 10 % 7 % – < 10 % 3 % - < 7 % 1% - < 3% < 1% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006 d. Rentabilitas Modal Sendiri

Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam modal sendiri yang akan digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Semakin besar hasil ROE maka kinerja perusahaan semakin baik. Rasio yang meningkat menunjukkan bahwa kinerja manajemen meningkat dalam mengelola sumber dana pembiayaan operasional secara efektif untuk menghasilkan laba bersih.

Rentabilitas Modal Sendiri = Sisa Hasil Usaha x 100% Modal Sendiri

(29)

Tabel 6

Standar Perhitungan Rentabilitas Modal Sendiri Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia

Komponen Standar Kriteria

Rasio Rentabilitas Modal Sendiri ≥ 21 % 15 % – < 21 % 9 % - < 15 % 3% - < 9% < 3% Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sangat Tidak Sehat Sumber : Peraturan Menteri Koperasi dan KUKM No.06/Per/M.KUKM/V/2006 2.1.5.2 Kegunaan Analisis Ratio

Analisis Rasio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern perusahaan tetapi juga bagi pihak ekstern perusahaan. Toto Prihadi (2010:113) Analisis rasio digunakan secara khusus oleh investor dan kreditor dalam keputusan investasi atau penyaluran dana. Sedangkan menurut Dwi Prastowo (2008:80) analisis rasio bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas usahanya. Untuk dapat menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan. Menurut Lukman Syamsuddin (1995:37) pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio-rasio keuangan yaitu:

 Para pemegang saham dan calon pemegang saham menurut perhatian utama pada tingkat keuntungan, baik yang sekarang maupun kemungkinan tingkat keuntungan pada masa yang akan datang. Disamping tingkat keuntungan para pemegang dan calon pemegang saham juga berkepentingan dengan tingkat likuiditas, aktivitas serta leverage sebagai

(30)

factor lain dalam penilaian kelanjutan hidup perusahaan serta proyeksi terhadap distribusi income pada masa yang akan datang

 Para kreditor pada umumnya merasa berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban financial baik jangka pendek maupun jangka panjang,

 Manajemen perusahaan berkepentingan dengan seluruh keadaan keuangan perusahaan karena mereka menyadari bahwa hal-hal tersebutlah yang akan dinilai oleh para pemilik perusahaan maupun oleh para kreditor. Dengan melakukan analisa terhadap laporan keuangan akan diketahui kelemahan dari perusahaan serta hasil-hasil yang dianggap baik hal ini akan berguna dalam penyusunan program yang akan datang”.

Sedangkan menurut Alwi (1994:108) pihak-pihak yang berkepentingan terhadap analisa rasio keuangan adalah:”Manajer financial, dengan menghitung rasio tertentu akan memperoleh suatu informasi tentang kekuatan dan kelemahan yang dihadapi perusahaan dibidang financial, sehingga dapat membuat keputusan penting bagi kepentingan perusahaan dimasa yang akan datang, bagi investor atau calon pembeli saham merupakan bahan pertimbangan apakah menguntungkan untuk membeli saham perusahaan yang bersangkutan atau tidak”.

Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa analisa rasio tidak hanya berguna bagi pihak intern perusahaan melainkan juga bagi pihak ekstern perusahaan, dalam hal ini adalah calon investor atau kreditor yang akan menanamkan dana mereka.

(31)

2.1.5.3. Keterbatasan Analisis Rasio

Menurut Warsono (2003:23) hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis laporan keuangan menggunakan metode analisis rasio sebagai berikut:

a. Kadang sulit untuk mengidentifikasi kategori industri dengan perusahaan yang ada, jika perusahaan beroperasi dalam beberapa bidang usaha.

b. Angka rata-rata industri yang diterbitkan hanya perkiraan saja dan hanya memberikan paduan umum, karena bukan hasil penelitian ilmiah dari seluruh perusahaan dalam industri maupun sampel yang sesuai dari beberapa perusahaan dalam industri.

c. Perbedaan praktik akuntansi pada tiap-tiap perusahaan dapat menghasilkan perbedaan rasio yang dihitung.

d. Rasio keuangan dapat menjadi terlalu tinggi atau rendah. Misalnya, rasio lancar yang melebihi norma industrinya menyiratkan adanya kelebihan likuiditas yang menyebabkan penurunan laba bagi perusahaan.

e. Banyak perusahaan mengalami situasi musiman dalam kegiatan operasinya. Dengan demikian pos neraca dan rasionya akan berubah sepanjang tahun saat laporan disiapkan. Untuk menghindari masalah ini, maka metode saldo rata-rata haruslah digunakan (untuk beberapa bulan atau kuartal, sepanjang tahun) dan bukan saldo total pada akhir tahun.

(32)

2.1 Rerangka Pemikiran

Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Untuk menilai kinerja perusahaan dari aspek finansiil dapat dilakukan melalui analisis terhadap laporan keuangan perusahaan atau lembaga keuangan dengan berbagai alat analisis. Analisis dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai apakah suatu perusahaan mempunyai tingkat kinerja atau tingkat kesehatan perusahaan yang baik, yaitu menjanjikan dan dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam mencari dan memecahkan masalah digambarkan dalam Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1

Rerangka Pemikiran Analisis laporan Keuangan

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Menghitung Rasio Keuangan

Mambandingkan Laporan Keuangan Tahun Lalu dan

Tahun Sekarang Kinerja Manajemen Perusahaan Baik Buruk Menganalisis Rasio Keuangan

(33)

2.2 Proposisi Penelitian

Penelitian kualitatif dapat menggunakan proposisi penelitian yaitu jawaban sementara atas masalah yang dikemukakan dalam penelitian. Proposisi dalam penelitian pemanfaatan Analisis Rasio Sebagai Alat Pengukuran Kinerja koperasi adalah walaupun koperasi berbeda dengan perusahaan, namun pada dasarnya koperasi tetap memerlukan suatu manajemen dengan melakukan fungsi-fungsi manajemen dalam kinerja organisasi baik fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan, dan fungsi pengawasan. Sehingga diperlukan adanya analisis kinerja keuangan pada koperasi sesuai standart yang di tetapkan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana perputaran keuangan yang didapatkan dari simpanan ataupun dari hasil penjualan produk sehingga dapat diketahui juga suatu permasalahan yang ada di dalam koperasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :