• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diterima September 2012 disetujui untuk diterbitkan Januari 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Diterima September 2012 disetujui untuk diterbitkan Januari 2014"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Longevitas dan Efikasi Pelet

Trichoderma harzianum

terhadap

Sclerotium rolfsii

Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Tomat (

Solanum

lycopersicum

L.)

Longevity and Efication of

Trichoderma harzianum

Pellet on

Sclerotium rolfsii

The Cause Wilt Disease on Tomato (

Solanum lycopersicum

L.)

Juni Safitri Muljowati, Uki Dwiputranto, dan Iman Budisantoso

Fakultas Biologi Unsoed

Jl.DR. Soeparno No.63 Purwokerto 53122 Email: [email protected]

Diterima September 2012 disetujui untuk diterbitkan Januari 2014

Abstract

Trichoderma harzianum is one of the antagonist fungi that can be used as a biofungicide to control soil-borne pathogens such as Sclerotium rolfsii, the cause of wilt isease of tomato. To ease the application of T.harzianum fungi in the field, it should be prepared a formulation in form of pellet. The longevity of T.harzianum pellet is determined by the viability of T.harzianum fungi contained in it, whereas the efication/ effectivity of T.harzianum pellet is determined by the longevity of the pellet. The objectives of this study are to investigate the interaction between storage period and application dosages in controlling wilt disease of tomato; and the dosage and storage period of T.harzianum on the effectiveness in controlling wilt disease of tomato. The experiment was carried out experimentally by using a Completely Randomized Design (CRD) in a factorial pattern. The first factors were storage period (W) consisted of 5 levels, i.e. 0, 3, 6, 9, and 12 weeks; the second factors were theapplication dosages (D) consisted of 6 levels, i.e. 0, 25, 50, 75, 100, and 125 grams. They were replicated 3 times each. The viability observation of T.harzianum was completed at the end of storage period of the pellets, the disease occurence and severity was since the 4th day after inoculation with 4 day interval until the tomato plant produced flowers. Research result showed that the interaction between storage period and different application dosages of T.harzianum pellets has influenced the increase of wilt disease control of tomato. Furthermore, storage period of 6 weeks and T.harzianum application of 50 g were the most effective in controlling wilt disease of tomato.

Key words: Pellet, biofungicide, storage period, soil-borne pathogen, tomato

Abstrak

Trichoderma harzianum merupakan salah satu jamur antagonis yang dapat digunakan sebagai agensia hayati (biofungisida) untuk mengendalikan patogen tular tanah, antara lain jamur Sclerotium rolfsii penyebab penyakit layu pada tanaman tomat. Untuk memudahkan aplikasi jamur T. harzianum di lahan, perlu disiapkan dalam suatu formulasi dalam bentuk pelet. Longevitas pelet T. harzianum ditentukan oleh viabilitas T. harzianum yang terkandung di dalamnya, sedangkan efikasi / efektivitas pelet T. harzianum ditentukan oleh longevitas pelet tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi antara lama waktu penyimpanan dan dosis aplikasi pelet T. harzianum terhadap pengendalian penyakit layu pada tanaman tomat; pengaruh lama waktu penyimpanan terhadap viabilitas T. harzianum; lama waktu penyimpanan yang menghasilkan viabilitas T. harzianum tertinggi; dan dosis dan lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum yang efektif dalam mengendalikan penyakit layu pada tanaman tomat. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah lama waktu penyimpanan (W) yang terdiri atas 5 taraf, yaitu 0, 3, 6, 9, dan 12 minggu; faktor kedua adalah dosis aplikasi (D) yang terdiri atas 6 taraf, yaitu 0, 25, 50, 75, 100, dan 125 gram. Ulangan masing-masing 3 kali. Pengamatan viabilitas T. harzianum dilakukan pada akhir waktu penyimpanan pelet, kejadian penyakit dan keparahan penyakit sejak 4 hari setelah inokulasi dengan interval 4 hari hingga tanaman tomat berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara lama waktu penyimpanan dengan dosis aplikasi yang berbeda mampu menghambat intensitas penyakit layu pada tanaman tomat. Lama waktu penyimpanan 6 minggu dengan dosis aplikasi 50g paling baik dalam mengendalikan penyakit layu pada tanaman tomat.

Kata kunci: Pelet, biofungisida, storage period, soil-borne pathogen, tomato. Chromato-graphy–Mass Spectrometry.

Simpulan

A m e r i c a n J o u r n a l o f A n a l y t i c a l 1. N-Acyl Homoserine Lactones (N-HSL) Chemistry 2: 294-302.

yang dihasilkan oleh BF sebagai signal

Rashid, M., S. Khalil, N. Ayub, S. Alam, and F. QS terbanyak ialah Butanoyl (C ) 4

Latif. 2004. Organic Acids Production Homoserine Lactones.

and Phosphate Solubilization by 2. Ekstrak akar tanaman padi, jagung,

Phosphate Solubilizing Microorganisms bambu, pisang dan kacang tanah dapat

(PSM) Under in vitro Conditions.

dijadikan sumber N-HSL sebagai signal

Pakistan QS dari BF.

Susilowati A, Wahyudi AT, Lestari Y, Suwanto A, W i y o n o S . 2 0 11 . P o t e n t i a l

Daftar Pustaka

Pseudomonas Isolated from Soybean

Balai Penelitian Tanah (BPT). 2005. Petunjuk Rhizosphere as Biocontrol againt

Teknis:Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Soilborne Phytophatogenic Fungi. Air dan Pupuk. Edisi Pertama. BPT, Hayati J. Biosci. 18(2): 51-56. Tamad.

Balitbangtan Deptan, Bogor. 2012. Mekanisme dan efektifitas bakteri

fosfat dalam pelepasan fosfor di Andisol. Camara M, Williams P, Hardman A. 2002.

[Disertasi], UGM, Yogyakarta. 196 hal. Controlling infection by tuning in and

turning down the volume of bacteriall Teplitski M, Mathesius U, Rumbaugh KP. small-talk. Lancet Infectious Diseases 2: 2011. Perception and Degradation of

667-676. N-Acyl Homoserine Lactone Quorum

Sensing Signals by Mammalian and Hawkes CV, DeAngelis KM, Firestone MK.

Plant Cells. Chem. Rev. 111: 100-116. 2007. Root Interactions with Soil

Microbial Communities and Processes. Thiel T. 1999. Science in the Real World: Pp. 1-30. In: Cordon, Z.G., and J.L. Microbes in Action. Introduction to Whitbeck. (Eds.). The Rhizosphere: An Bacterial. 1-8 p. Department of Biology, Ecologival Perpective. Academic Press, University of Missouri-St. Louis.

New York. 210p.

Tistama R, Widyastuti U, Sopandie D, Yokota A, Hosseinkhani B, Emtiazi G, Nahvi I. 2009. A k a s h i K , S u h a r s o n o . 2 0 1 2 .

Analysis of phytase producing bacteria P h y s i o l o g i c a l a n d B i o c h e m i c a l (Pseudomonas sp.) from poultry faeces Responses to Aluminium Stress in the

and optimization of this enzyme Root of the Biodiesel Plant Jatrofa

p r o d u c t i o n . A f r i c a n J o u r n a l o f curcas L. Hayati J. Biosci. 19(1): 37-43. Biotechnology. 8(17): 4229-4232.

Victoria DE, Reyes LL, Benitez AC. 2009. Li, X, Fekete A, Englmann M, Gotz C, U s e o f 1 6 S r R N A G e n e f o r

Rothballer M, Frommberger M, C h a r a c t e r i z a t i o n o f P h o s p h a t e -Buddrus K, Fekete J, Cai C, Schroder P, Solubilizing Bacterial Associated with Hartman A, Chen G, Kopplin PS. 2006. Corn. Rev. Fitotec. Mex. 32(1): 31-37. Development and application of a

Ward JP, King JR, Koerber AJ, Williams P, method for the analysis of

N-Croft JM, Sockett RE. 2001. acylhomoserine lactones by solid-phase

Mathematical modelling of quorum extraction and ultra high pressure liquid

sensing in bacteria. IMA Journal of c h r o m a t o g r a p h y. J o u r n a l o f

Mathematics Applied in Medicine and Chromatography 1134: 186-193.

Biology 18: 263-292. Mehrvarz S, Chaichi MR. 2008. Effect of

Watson WT, Minogue TD, Val DL, von Bodman Phosphate Solubilizing Microorganisms

SB, Churchill MEA. 2002. Structur and Phosphorus Chemical Fertilizer on

B a s i s a n d Sp e c i f i c i t y o f A c y l -Forage and Grain Quality of Barley

Homoserine Lactone Signal Production (Hordeum vulgare L.).

American-in Bacteria Quorum SensAmerican-ing. Molecular Eurasian J. Agric. & Environ. Sci. 3(6):

Cell 9: 685-694. 855-860.

Rani S, Kumar A, Malik AK, Koplin PA. 2011. Occurrence of N-Acyl Homoserine Lactones in Extracts of Bacteria Strain of Pseudomonas aeruginosa and in Sputum Sample Evaluated by Gas

Pendahuluan y a n g p e n t i n g p e r a n a n n y a d a l a m

pemenuhan gizi masyarakat. Selain dibuat T a n a m a n t o m a t (S o l a n u m

sebagai bumbu masakan atau dicampurkan lycopersicum L.) termasuk tanaman sayuran

(2)

berkurangnya nutrisi dalam bahan pembawa ke dalam masakan, buah tomat juga dapat

yang digunakan. Selanjutnya, longevitas dimanfaatkan sebagai obat. Buah tomat

pelet T. harzianum menentukan efikasi dan mengandung zat-zat yang berguna bagi e f e k t i f i t a s p e l e t t e r s e b u t d a l a m tubuh, yaitu vitamin C, vitamin A dan mineral pengendalian penyakit tanaman.

(Tugiyono, 1999). Bahan pembawa yang digunakan

Penyakit merupakan salah satu s e b a g a i m e d i a p e r t u m b u h a n mikroorganisme seperti jamur, yaitu bahan penyebab rendahnya produksi tomat. Salah

baku yang mengandung pati (Davis, 1978). satu penyakit pada tanaman tomat adalah

Menurut Salamiah et al (2003), bahan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur

pembawa yang paling baik untuk pembuatan Sclerotium rolfsii. Jamur tersebut

pelet biofungisida T. harzianum adalah menyerang tanaman tomat pada bagian

tepung beras ketan putih. Selain itu, menurut leher akar, hal ini mengakibatkan Elad (1994), konidia merupakan salah satu terhalangnya zat-zat makanan yang bagian dari jamur antagonis yang cocok diangkut ke jaringan-jaringan tanaman dan untuk membuat formulasi agensia hayati.

M u l j o w a t i & P u r n o m o w a t i ( 2 0 1 0 ) penyerapan air serta unsur hara sehingga

mendapatkan bahwa konidia T. harzianum merugikan pada budidaya tanaman tomat

menunjukkan viabilitas tertinggi dalam (Semangun, 1996).

bahan pembawa tepung beras ketan putih Saat ini telah banyak dikembangkan

dan lama waktu penyimpanan 9 minggu. upaya pengendalian patogen tanaman Susanna (2005) telah melakukan s e c a r a h a y a t i , s a l a h s a t u u p a y a penelitian dengan aplikasi T. harzianum pengendalian tersebut adalah dengan dengan bahan pembawa berupa beras menggunakan jamur antagonis. Jamur untuk mengendalikan F. oxysporum pada antagonis merupakan salah satu jenis bibit tanaman pisang hasil kultur jaringan yang berumur 4 bulan. Pada penelitian mikroba yang dapat digunakan sebagai

tersebut dosis T. harzianum 100 gram efektif agensia hayati. Faktor-faktor yang

untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. mendukung potensi jamur antagonis

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sebagai agensia hayati adalah antagonisme,

mengenai longevitas dan efikasi pelet kecepatan pertumbuhan dan mampu hidup Tr i c h o d e r m a h a r z i a n u m t e r h a d a p di mana-mana (kosmopolit) (Singh & Faull, Sclerotium rolfsii penyebab penyakit layu 1986). p a d a t a n a m a n t o m a t (S o l a n u m

Jamur T. harzianum dapat digunakan lycopersicum Mill.). s e b a g a i a g e n s i a h a y a t i u n t u k

mengendalikan patogen tular tanah pada Materi dan Metode

berbagai jenis tanaman (Papavizas, 1985).

Penelitian ini dilaksanakan di Menurut Sinaga dalam Salamiah et al (2003),

Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi bentuk formulasi yang digunakan untuk

untuk penyiapan pelet T. harzianum dan memudahkan dalam penginokulasian

inokulum Sclerotium rolfsii, rumah kaca agensia hayati didasari oleh pertimbangan

Fakultas Biologi Unsoed Purwokerto untuk terhadap viabilitas (kemampuan hidup)

uji in planta, dan Laboratorium Kimia agensia hayati tersebut. Salah satu bentuk

Organik Fakultas Sains dan Teknologi formulasi yang dapat dikembangkan adalah

Unsoed Purwokerto untuk analisis rasio C/N, formulasi agensia hayati dalam bentuk pelet.

selama enam bulan yang dimulai pada Bentuk tersebut dianggap praktis karena

bulan April sampai dengan September 2010. ukurannya kecil dan mudah dibawa serta

Penyiapan pelet biofungisida T. harzianum. diaplikasikan di lapangan.

Tepung beras ketan putih ditimbang Longevitas pelet T. harzianum

sebanyak 1.000 gram. Ke dalam tepung ditentukan oleh viabilitas T. harzianum yang

tersebut dimasukkan 50 g tepung bawang terkandung di dalamnya pada saat isolasi

putih (sebagai antibiotik) kemudian sampai waktu aplikasi dengan melalui masa

d i b u n g k u s d e n g a n a l u m i n i u m f o i l , penyimpanan yang cukup lama (Gemell,

selanjutnya disterilisasi di dalam oven pada 2002). Hal ini karena semakin lama waktu o

suhu 80 C selama 24 jam. Setelah suhu penyimpanan pelet maka viabilitas T.

tepung menurun sebanyak 1.050 g harzianum akan menurun seiring dengan

campuran tepung beras ketan putih dan gram, 100 gram, dan 125 gram. Ulangan tepung bawang putih dimasukkan ke dalam masing-masing perlakuan sebanyak 3 kali. baskom plastik yang telah disterilkan Variabel yang diamati adalah variabel dengan menggunakan alkohol 70%, bebas dan variabel tergantung. Variabel kemudian ditambahkan 600 ml akuades bebas terdiri dari lama waktu penyimpanan steril sampai terbentuk adonan tepung yang dan dosis aplikasi pelet biofungisida T. tidak lengket di tangan. Suspensi konidia T. harzianum, sedangkan variabel tergantung 8 yaitu kejadian penyakit (disease incidence) harzianum dengan konsentrasi 10

dan keparahan penyakit (disease severity) konidia/ml sebanyak 100 ml dicampurkan

layu yang disebabkan oleh S. rolfsii pada dengan tepung kemudian dihomogenkan

tanaman tomat. Parameter utama yang agar konidia tersebar merata dalam media.

diamati adalah jumlah tanaman tomat yang Setelah homogen, tepung dicetak menjadi

terserang penyakit layu, dan diskolorisasi bentuk pelet dengan menggunakan alat

tanaman tomat yang terserang layu yang penggiling daging. Butiran pelet kemudian

disebabkan oleh S. rolfsii. Parameter dikeringkan di dalam oven dengan suhu

o pendukung yang diamati adalah viabilitas T.

40 C selama 24 jam. Pelet biofungisida T

harzianum, perode inkubasi; dan suhu dan harzianum yang telah kering dibungkus

kelembaban rumah kaca. Data yang menggunakan aluminium foil kemudian

diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan diinkubasi dalam ruang sesuai dengan

dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur perlakuan. Lama waktu penyimpanan

pada tingkat kepercayaan 95%. sesuai dengan perlakuan yaitu 0 minggu, 3

minggu, 6 minggu, 9 minggu, dan 12 minggu.

Hasil dan Pembahasan

Semua tahapan dalam pembuatan dan

penyiapan pelet biofungisida T. harzianum Berdasarkan pengamatan, tanaman dilakukan secara aseptis (Salamiah et al, t o m a t y a n g d i i n o k u l a s i S . r o l f s i i

2003). menunjukkan gejala penyakit layu. Infeksi

Penyiapan tanaman, inokulum, uji efikasi terjadi pada bagian leher akar (bagian yang pelet T. harzianum in planta, dan inokulasi dekat dengan tanah). Bagian tersebut

S.rolfsii membusuk, dan pada permukaannya

Benih tanaman tomat disemaikan pada terdapat miselium jamur berwarna putih, bak pesemaian, setelah berumur 30 hari seperti bulu. Miselium membentuk bibit tomat dibumbung selama 7 hari. Pelet sklerotium, yang semula berwarna putih, biofungisida T. harzianum diaplikasikan kemudian berkembang menjadi butir-butir dengan cara dicampur secara merata pada berwarna coklat yang mirip dengan biji sawi. tanah media tanam tomat yang telah Gambar 1 menunjukkan bahwa disiapkan sebelumnya, kemudian dibiarkan semakin tinggi dosis pelet T. harzianum yang selama 15 hari. Inokulum S. rolfsii dalam diaplikasikan pada tanaman tomat, maka media jagung diinkubasi selama 4 hari. Bibit semakin panjang periode inkubasi penyakit tomat yang telah dibumbung ditanam pada layu. Munculnya gejala layu pada tanaman media tanam yang telah disiapkan tomat dapat diperlambat dengan aplikasi sebelumnya (telah dicampur dengan pelet pelet T. harzianum. Nampak pada Gambar 1, biofungisida T. harzianum sesuai dengan aplikasi pelet T. harzianum sebanyak 25 perlakuan). Selanjutnya dilakukan g r a m d a n 5 0 g r a m m e n y e b a b k a n pemberian inokulum S. rolfsii dalam media penghambatan yang semakin meningkat jagung masing-masing media tanam terhadap kemunculan gejala penyakit layu, sebanyak 5 gram sedangkan aplikasi pelet T. harzianum lebih

Rancangan percobaan dari 50 gram mampu menghambat

Di dalam penelitian ini dinggunakan k e m u n c u l a n p e n y a k i t l a y u d e n g a n metode eksperimental dengan Rancangan penghambatan yang sama. Hal ini Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. pertama adalah lama waktu penyimpanan harzianum yang efektif untuk menghambat (W) yang terdiri atas 5 taraf , yaitu 0 minggu, k e m u n c u l a n p e n y a k i t l a y u a t a u 3 minggu, 6 minggu, 9 minggu dan 12 menperpanjang periode inkubasi penyakit minggu. Faktor kedua adalah dosis aplikasi layu yaitu sebanyak 50 gram per tanaman. pelet T. harzianum (D) yang terdiri atas 6

taraf, yaitu 0 gram, 25 gram, 50 gram, 75

(3)

berkurangnya nutrisi dalam bahan pembawa ke dalam masakan, buah tomat juga dapat

yang digunakan. Selanjutnya, longevitas dimanfaatkan sebagai obat. Buah tomat

pelet T. harzianum menentukan efikasi dan mengandung zat-zat yang berguna bagi e f e k t i f i t a s p e l e t t e r s e b u t d a l a m tubuh, yaitu vitamin C, vitamin A dan mineral pengendalian penyakit tanaman.

(Tugiyono, 1999). Bahan pembawa yang digunakan

Penyakit merupakan salah satu s e b a g a i m e d i a p e r t u m b u h a n mikroorganisme seperti jamur, yaitu bahan penyebab rendahnya produksi tomat. Salah

baku yang mengandung pati (Davis, 1978). satu penyakit pada tanaman tomat adalah

Menurut Salamiah et al (2003), bahan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur

pembawa yang paling baik untuk pembuatan Sclerotium rolfsii. Jamur tersebut

pelet biofungisida T. harzianum adalah menyerang tanaman tomat pada bagian

tepung beras ketan putih. Selain itu, menurut leher akar, hal ini mengakibatkan Elad (1994), konidia merupakan salah satu terhalangnya zat-zat makanan yang bagian dari jamur antagonis yang cocok diangkut ke jaringan-jaringan tanaman dan untuk membuat formulasi agensia hayati.

M u l j o w a t i & P u r n o m o w a t i ( 2 0 1 0 ) penyerapan air serta unsur hara sehingga

mendapatkan bahwa konidia T. harzianum merugikan pada budidaya tanaman tomat

menunjukkan viabilitas tertinggi dalam (Semangun, 1996).

bahan pembawa tepung beras ketan putih Saat ini telah banyak dikembangkan

dan lama waktu penyimpanan 9 minggu. upaya pengendalian patogen tanaman Susanna (2005) telah melakukan s e c a r a h a y a t i , s a l a h s a t u u p a y a penelitian dengan aplikasi T. harzianum pengendalian tersebut adalah dengan dengan bahan pembawa berupa beras menggunakan jamur antagonis. Jamur untuk mengendalikan F. oxysporum pada antagonis merupakan salah satu jenis bibit tanaman pisang hasil kultur jaringan yang berumur 4 bulan. Pada penelitian mikroba yang dapat digunakan sebagai

tersebut dosis T. harzianum 100 gram efektif agensia hayati. Faktor-faktor yang

untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. mendukung potensi jamur antagonis

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian sebagai agensia hayati adalah antagonisme,

mengenai longevitas dan efikasi pelet kecepatan pertumbuhan dan mampu hidup Tr i c h o d e r m a h a r z i a n u m t e r h a d a p di mana-mana (kosmopolit) (Singh & Faull, Sclerotium rolfsii penyebab penyakit layu 1986). p a d a t a n a m a n t o m a t (S o l a n u m

Jamur T. harzianum dapat digunakan lycopersicum Mill.). s e b a g a i a g e n s i a h a y a t i u n t u k

mengendalikan patogen tular tanah pada Materi dan Metode

berbagai jenis tanaman (Papavizas, 1985).

Penelitian ini dilaksanakan di Menurut Sinaga dalam Salamiah et al (2003),

Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi bentuk formulasi yang digunakan untuk

untuk penyiapan pelet T. harzianum dan memudahkan dalam penginokulasian

inokulum Sclerotium rolfsii, rumah kaca agensia hayati didasari oleh pertimbangan

Fakultas Biologi Unsoed Purwokerto untuk terhadap viabilitas (kemampuan hidup)

uji in planta, dan Laboratorium Kimia agensia hayati tersebut. Salah satu bentuk

Organik Fakultas Sains dan Teknologi formulasi yang dapat dikembangkan adalah

Unsoed Purwokerto untuk analisis rasio C/N, formulasi agensia hayati dalam bentuk pelet.

selama enam bulan yang dimulai pada Bentuk tersebut dianggap praktis karena

bulan April sampai dengan September 2010. ukurannya kecil dan mudah dibawa serta

Penyiapan pelet biofungisida T. harzianum. diaplikasikan di lapangan.

Tepung beras ketan putih ditimbang Longevitas pelet T. harzianum

sebanyak 1.000 gram. Ke dalam tepung ditentukan oleh viabilitas T. harzianum yang

tersebut dimasukkan 50 g tepung bawang terkandung di dalamnya pada saat isolasi

putih (sebagai antibiotik) kemudian sampai waktu aplikasi dengan melalui masa

d i b u n g k u s d e n g a n a l u m i n i u m f o i l , penyimpanan yang cukup lama (Gemell,

selanjutnya disterilisasi di dalam oven pada 2002). Hal ini karena semakin lama waktu o

suhu 80 C selama 24 jam. Setelah suhu penyimpanan pelet maka viabilitas T.

tepung menurun sebanyak 1.050 g harzianum akan menurun seiring dengan

campuran tepung beras ketan putih dan gram, 100 gram, dan 125 gram. Ulangan tepung bawang putih dimasukkan ke dalam masing-masing perlakuan sebanyak 3 kali. baskom plastik yang telah disterilkan Variabel yang diamati adalah variabel dengan menggunakan alkohol 70%, bebas dan variabel tergantung. Variabel kemudian ditambahkan 600 ml akuades bebas terdiri dari lama waktu penyimpanan steril sampai terbentuk adonan tepung yang dan dosis aplikasi pelet biofungisida T. tidak lengket di tangan. Suspensi konidia T. harzianum, sedangkan variabel tergantung 8 yaitu kejadian penyakit (disease incidence) harzianum dengan konsentrasi 10

dan keparahan penyakit (disease severity) konidia/ml sebanyak 100 ml dicampurkan

layu yang disebabkan oleh S. rolfsii pada dengan tepung kemudian dihomogenkan

tanaman tomat. Parameter utama yang agar konidia tersebar merata dalam media.

diamati adalah jumlah tanaman tomat yang Setelah homogen, tepung dicetak menjadi

terserang penyakit layu, dan diskolorisasi bentuk pelet dengan menggunakan alat

tanaman tomat yang terserang layu yang penggiling daging. Butiran pelet kemudian

disebabkan oleh S. rolfsii. Parameter dikeringkan di dalam oven dengan suhu

o pendukung yang diamati adalah viabilitas T.

40 C selama 24 jam. Pelet biofungisida T

harzianum, perode inkubasi; dan suhu dan harzianum yang telah kering dibungkus

kelembaban rumah kaca. Data yang menggunakan aluminium foil kemudian

diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan diinkubasi dalam ruang sesuai dengan

dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur perlakuan. Lama waktu penyimpanan

pada tingkat kepercayaan 95%. sesuai dengan perlakuan yaitu 0 minggu, 3

minggu, 6 minggu, 9 minggu, dan 12 minggu.

Hasil dan Pembahasan

Semua tahapan dalam pembuatan dan

penyiapan pelet biofungisida T. harzianum Berdasarkan pengamatan, tanaman dilakukan secara aseptis (Salamiah et al, t o m a t y a n g d i i n o k u l a s i S . r o l f s i i

2003). menunjukkan gejala penyakit layu. Infeksi

Penyiapan tanaman, inokulum, uji efikasi terjadi pada bagian leher akar (bagian yang pelet T. harzianum in planta, dan inokulasi dekat dengan tanah). Bagian tersebut

S.rolfsii membusuk, dan pada permukaannya

Benih tanaman tomat disemaikan pada terdapat miselium jamur berwarna putih, bak pesemaian, setelah berumur 30 hari seperti bulu. Miselium membentuk bibit tomat dibumbung selama 7 hari. Pelet sklerotium, yang semula berwarna putih, biofungisida T. harzianum diaplikasikan kemudian berkembang menjadi butir-butir dengan cara dicampur secara merata pada berwarna coklat yang mirip dengan biji sawi. tanah media tanam tomat yang telah Gambar 1 menunjukkan bahwa disiapkan sebelumnya, kemudian dibiarkan semakin tinggi dosis pelet T. harzianum yang selama 15 hari. Inokulum S. rolfsii dalam diaplikasikan pada tanaman tomat, maka media jagung diinkubasi selama 4 hari. Bibit semakin panjang periode inkubasi penyakit tomat yang telah dibumbung ditanam pada layu. Munculnya gejala layu pada tanaman media tanam yang telah disiapkan tomat dapat diperlambat dengan aplikasi sebelumnya (telah dicampur dengan pelet pelet T. harzianum. Nampak pada Gambar 1, biofungisida T. harzianum sesuai dengan aplikasi pelet T. harzianum sebanyak 25 perlakuan). Selanjutnya dilakukan g r a m d a n 5 0 g r a m m e n y e b a b k a n pemberian inokulum S. rolfsii dalam media penghambatan yang semakin meningkat jagung masing-masing media tanam terhadap kemunculan gejala penyakit layu, sebanyak 5 gram sedangkan aplikasi pelet T. harzianum lebih

Rancangan percobaan dari 50 gram mampu menghambat

Di dalam penelitian ini dinggunakan k e m u n c u l a n p e n y a k i t l a y u d e n g a n metode eksperimental dengan Rancangan penghambatan yang sama. Hal ini Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. pertama adalah lama waktu penyimpanan harzianum yang efektif untuk menghambat (W) yang terdiri atas 5 taraf , yaitu 0 minggu, k e m u n c u l a n p e n y a k i t l a y u a t a u 3 minggu, 6 minggu, 9 minggu dan 12 menperpanjang periode inkubasi penyakit minggu. Faktor kedua adalah dosis aplikasi layu yaitu sebanyak 50 gram per tanaman. pelet T. harzianum (D) yang terdiri atas 6

taraf, yaitu 0 gram, 25 gram, 50 gram, 75

(4)

Gambar 3. Histogram hubungan antara dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata kejadian penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 3. Histogram of relationship between T. harzianum application dosage with average incidence of tomato wilt disease caused by S. rolfsii (%)

Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √%

D0= dosis aplikasi pelet T. harzianum 0 gram; D1= dosis aplikasi pelet T. harzianum 25 gram; D2= dosis aplikasi pelet T. harzianum 50 gram; D3= dosis aplikasi pelet T. harzianum 75 gram; D4= dosis aplikasi pelet T. harzianum 100 gram; D5= dosis aplikasi pelet T. harzianum 125 gram.

Pelet T. harzianum dapat digunakan penyimpanan 3 minggu sebanyak 50 gram untuk mengendalikan penyakit layu pada per tanaman atau dengan aplikasi pelet T. tanaman tomat (Gambar 4). Untuk h a r z i a n u m d e n g a n l a m a w a k t u mengendalikan penyakit layu pada tanaman penyimpanan 6 minggu sebanyak 100 gram tomat dapat dilakukan dengan aplikasi pelet per tanaman.

T. h a r z i a n u m d e n g a n l a m a w a k t u

Gambar 4. Histogram hubungan antara lama waktu penyimpanan dan dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata keparahan penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 4. Histogram of relation between storage period and application dosage of T. Harzianum pellet with average disease sevirity in tomato plant caused by S. rolfsii (%).

Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √%

W0= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 0 minggu; W1= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 3 minggu; W2= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 6 minggu; W3= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 9 minggu; W4= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 12 minggu; D0= dosis aplikasi pelet T. harzianum 0 gram; D1= dosis aplikasi pelet T. harzianum 25 gram; D2= dosis aplikasi pelet T. harzianum 50 gram; D3= dosis aplikasi pelet T. harzianum 75 gram; D4= dosis aplikasi pelet T. harzianum 100 gram; D5= dosis aplikasi pelet T. harzianum 125 gram.

Gambar 1. Hubungan dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata periode inkubasi penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 1. Relationship between T. harzianum application dose with the average incubation period of tomato wilt disease caused by S. rolfsii (%).

Keterangan:

1= 0 gram; 2= 25 gram; 3= 50 gram; 4= 75 gram; 5= 100 gram; dan 6= 125 gram pelet T. harzianum.

Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui menunjukkan kejadian penyakit layu pada bahwa lama waktu penyimpanan pelet T. tanaman tomat meningkat, yaitu 90%. Hal harzianum 6 minggu yang menunjukkan ini menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. kejadian penyakit layu pada tanaman tomat harzianum yang efektif untuk menghambat yang paling rendah yaitu 84,13%. Lama kejadian penyakit (disease incidence) yaitu waktu penyimpanan lebih dari 6 minggu 50 gram per tanaman.

Gambar 2. Hubungan antara lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum dengan rata-rata kejadian penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%). Figure 2. Relationship between T. harzianum pellet storage period with average wilt disease

incidence in tomato caused by S. rolfsii (%) Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √

%

W0= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 0 minggu; W1= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 3 minggu; W2= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 6 minggu; W3= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 9 minggu; W4= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 12 minggu;

Pengaruh dosis aplikasi pelet T. mampu menekan kejadian penyakit. Hal ini harzianum terhadap kejadian penyakit tidak sejalan dengan pernyataan Susanna disajikan pada Gambar 3. Gambar tersebut (2005), bahwa dosis aplikasi pelet T. menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. h a r z i a n u m y a n g e f e k t i f d a l a m harzianum 25 gram belum mampu menekan mengendalikan penyakit layu yaitu kejadian penyakit, sedangkan aplikasi pelet sebanyak 100 gram.

T. harzianum mulai dosis 50 gram sudah

(5)

Gambar 3. Histogram hubungan antara dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata kejadian penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 3. Histogram of relationship between T. harzianum application dosage with average incidence of tomato wilt disease caused by S. rolfsii (%)

Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √%

D0= dosis aplikasi pelet T. harzianum 0 gram; D1= dosis aplikasi pelet T. harzianum 25 gram; D2= dosis aplikasi pelet T. harzianum 50 gram; D3= dosis aplikasi pelet T. harzianum 75 gram; D4= dosis aplikasi pelet T. harzianum 100 gram; D5= dosis aplikasi pelet T. harzianum 125 gram.

Pelet T. harzianum dapat digunakan penyimpanan 3 minggu sebanyak 50 gram untuk mengendalikan penyakit layu pada per tanaman atau dengan aplikasi pelet T. tanaman tomat (Gambar 4). Untuk h a r z i a n u m d e n g a n l a m a w a k t u mengendalikan penyakit layu pada tanaman penyimpanan 6 minggu sebanyak 100 gram tomat dapat dilakukan dengan aplikasi pelet per tanaman.

T. h a r z i a n u m d e n g a n l a m a w a k t u

Gambar 4. Histogram hubungan antara lama waktu penyimpanan dan dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata keparahan penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 4. Histogram of relation between storage period and application dosage of T. Harzianum pellet with average disease sevirity in tomato plant caused by S. rolfsii (%).

Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √%

W0= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 0 minggu; W1= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 3 minggu; W2= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 6 minggu; W3= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 9 minggu; W4= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 12 minggu; D0= dosis aplikasi pelet T. harzianum 0 gram; D1= dosis aplikasi pelet T. harzianum 25 gram; D2= dosis aplikasi pelet T. harzianum 50 gram; D3= dosis aplikasi pelet T. harzianum 75 gram; D4= dosis aplikasi pelet T. harzianum 100 gram; D5= dosis aplikasi pelet T. harzianum 125 gram.

Gambar 1. Hubungan dosis aplikasi pelet T. harzianum dengan rata-rata periode inkubasi penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%).

Figure 1. Relationship between T. harzianum application dose with the average incubation period of tomato wilt disease caused by S. rolfsii (%).

Keterangan:

1= 0 gram; 2= 25 gram; 3= 50 gram; 4= 75 gram; 5= 100 gram; dan 6= 125 gram pelet T. harzianum.

Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui menunjukkan kejadian penyakit layu pada bahwa lama waktu penyimpanan pelet T. tanaman tomat meningkat, yaitu 90%. Hal harzianum 6 minggu yang menunjukkan ini menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. kejadian penyakit layu pada tanaman tomat harzianum yang efektif untuk menghambat yang paling rendah yaitu 84,13%. Lama kejadian penyakit (disease incidence) yaitu waktu penyimpanan lebih dari 6 minggu 50 gram per tanaman.

Gambar 2. Hubungan antara lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum dengan rata-rata kejadian penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh S. rolfsii (%). Figure 2. Relationship between T. harzianum pellet storage period with average wilt disease

incidence in tomato caused by S. rolfsii (%) Keterangan:

Data dalam histogram telah ditransformasi ke dalam Arc sin √

%

W0= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 0 minggu; W1= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 3 minggu; W2= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 6 minggu; W3= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 9 minggu; W4= lama waktu penyimpanan pelet T. harzianum 12 minggu;

Pengaruh dosis aplikasi pelet T. mampu menekan kejadian penyakit. Hal ini harzianum terhadap kejadian penyakit tidak sejalan dengan pernyataan Susanna disajikan pada Gambar 3. Gambar tersebut (2005), bahwa dosis aplikasi pelet T. menunjukkan bahwa aplikasi pelet T. h a r z i a n u m y a n g e f e k t i f d a l a m harzianum 25 gram belum mampu menekan mengendalikan penyakit layu yaitu kejadian penyakit, sedangkan aplikasi pelet sebanyak 100 gram.

T. harzianum mulai dosis 50 gram sudah

(6)

Simpulan yang Berbeda Terhadap Produksi Pelet Biofungisida Trichoderma Berdasarkan hasil penelitian dan

harzianum. Laporan hasil penelitian p e m b a h a s a n m a k a d a p a t d i a m b i l

(Tidak dipublikasikan). Fakultas kesimpulan sebagai berikut:

Biologi Unsoed, Purwokerto. 1) I n t e r a k s i a n t a r a l a m a w a k t u

Papavizas, G.C. 1985. Trichoderma and penyimpanan dan dosis aplikasi yang

Gliocladium Biology, Ecology and berbeda pelet T. harzianum

ber-Potential for Biocontrol. Annual pengaruh meningkatkan pengendalian

Review of Phytopathology, 23: 23 – 54. penyakit layu pada tanaman tomat.

Salamiah, E., N. Fikri, & Asmarabia. 2003. 2) Lama waktu penyimpanan 3 minggu

Viabilitas Trichoderma harzianum dan dosis aplikasi 50 gram pelet T.

Yang Disimpan Pada Beberapa Bahan harzianum yang paling efektif dalam

Pembawa dan Lama Penyimpanan mengendalikan penyakit layu pada Yang Berbeda. Jurnal Penelitian

tanaman tomat. Pertanian Hama Penyakit Tanaman,

1-12.

Saran

Semangun, H. 1996. Penyakit-Penyakit Berdasarkan penelitian yang telah Tanaman Hortikultura di Indonesia. dilakukan, maka untuk mengendalikan Gadjah Mada University Press, penyakit layu yang disebabkan oleh S. rolfsii Yogyakarta.

pada tanaman tomat dapat digunakan pelet

Singh, R.S. & J.L. Faull. 1986. Antagonis T. h a r z i a n u m d e n g a n l a m a m a s a

and Biological Control. In Biocontrol of penyimpanan 3 minggu dan dosis aplikasi 50

Plant Diseases, vol. II. K.G. Mukerdji gram per tanaman.

and K.L. Garg, (eds). CRC Press, Inc. Boca Raton, Florida.

Daftar Pustaka

Susanna, 2005. Analisis Introduksi Elad, Y. 1994. Biological Control of Grape

C e n d a w a n A n t a g o n i s U n t u k G r e y M o u l d b y Tr i c h o d e r m a

P e n g e n d a l i a n P e n y a k i t L a y u harzianum. Crop Protection, 13 (1):

(Fusarium oxysporum f.sp. cubense) 35– 38.

Pada Tanaman Pisang. Agrista, Vol. Gemell, G. 2002. Inoculating and Pelleting (9) No.3: 277-285.

rd

Pasture Legum Seed 3 Edition. New

Tugiyono, H. 1999. Bertanam Tomat. South Wales.

Penebar Swadaya. Jakarta. Muljowati, J.S. & Purnomowati. 2010.

Pengaruh Kombinasi Jenis Bahan Pembawa dan Lama Masa Simpan

Kajian Kualitas Air Pasca-Pengerukan Alur Pelayaran Batu Kapur Sungai Donan Cilacap

Water Quality at Post Dredging of Limestone Waterways at River Donan Cilacap

1) 2) 3)

Yogi Pamungkas , Sidharta Sahirman , Moh. Husein Sastranegara 1)

Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman 2)

Fakultas Pertanian,Universitas Jenderal Soedirman 3)

Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman Email: [email protected]

Diterima November 2013 disetujui untuk diterbitkan Januari 2014

Abstract

Donan River dredging impacts on ecological regions and communities around the basin. Dredging from Buoy 27 to Buoy segment 34 as an effort to reduce silting of existing in Cilacap and Donan River shipping channel maintenance efforts limestone PT Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant. The purpose of the study is to determine the condition of post-dredging water quality in terms of physical and chemical factors, to determine the condition of post-dredging water quality in terms of biological factors; and to analyze the relationship between physical, chemical, and biological factors post-dredging shipping lanes limestone around Cilacap Donan River. The research method used was purposive sampling method. The study was conducted from March-May 2013, with five replications. Samples were taken at three stations namely Station 1 (area before dredging), Station 2 (dredging area), and Station 3 (area after dredging). The results showed that water quality conditions of post-dredging chemical in terms of physical factors tend to decrease at station 2 (TSS amounted of 303.6 mgl-1, BOD5 9.806 mgl-1, COD 171.4 mgl-1), followed by station 3 (TSS 268 mgl-1, BOD5 at 18.182 mgl-1, COD is 262.8 mgl-1) and station 1 (TSS 204.4 mgl-1, BOD5 at 12.258 mgl-1, and COD of 252 , 2 mgl-1). Water quality conditions in terms of post-dredging tend to decrease at station 2 (the number of types makrobenthos by 5 species, number of individuals ind/m2 makrobenthos by 147, the number of types of plankton by 11 species and number of individuals of 1,461 ind/l) followed by station 3 (the number of species makrobenthos by 6 species, number of individuals ind/m2 makrobenthos by 180, the number of types of plankton by 12 species, and the number of individual plankton of 1,341 ind / l), and Station 1 (the number of types makrobenthos by 7 species, number of individuals makrobenthos ind/m2 by 327, the number of types of plankton by 12 species, and the number of individual plankton of 1,340 ind / l). In general, the relationship between physical factors, chemical, and biological post-dredging shipping lanes limestone around the same Cilacapmemilikikecenderungan Donan River bahwakondisi declining water quality at Station 2, followed by Station 3 and Station 1.

Key words: water quality, River Donan, dredging impacts

Abstrak

Pengerukan Sungai Donan berdampak terhadap wilayah ekologinya dan masyarakat di sekitar wilayah sungai tersebut. Pengerukan dilakukan dari segmen Buoy 27 sampai Buoy 34 sebagai upaya pengurangan pendangkalan yang ada di Sungai Donan Cilacap dan upaya pemeliharaan alur pelayaran batu kapur PT Holcim Indonesia Tbk.Cilacap Plant. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi kualitas air pengerukan ditinjau dari faktor fisik dankimiawi; mengetahui kondisi kualitas air pasca-pengerukan ditinjau dari faktor biologik; serta menganalisis hubungan antara faktor fisik, kimiawi, dan biologik pasca-pengerukan alur pelayaran batu kapur di sekitar Sungai Donan Cilacap. Metode penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Mei 2013 dengan lima kali ulangan. Sampel diambil pada tiga stasiun berbedayangterdiri atasStasiun 1 (daerah sebelum pengerukan), Stasiun 2 (daerah pengerukan), dan Stasiun 3 (daerah setelah pengerukan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air pasca-pengerukan ditinjau dari faktor fisik kimiawi

-1 -1

cenderung menurun di stasiun 2 (TSS sebesar 303,6 mgl , BOD sebesar 9,806 mgl , COD sebesar 5

-1 -1

171,4 mgl ), kemudian diikuti oleh stasiun 3 (TSS sebesar 268 mgl , BOD 5pellet with average disease sevirity in tomato plant caused by S.rolfsii (%).

-1

ditinjau dari faktor fisik kimiawi cenderung menurun di stasiun 2 (TSS sebesar 303,6 mgl , BOD sebesar 5

-1 -1 -1

9,806 mgl , COD sebesar 171,4 mgl ), kemudian diikuti oleh stasiun 3 (TSS sebesar 268 mgl , BOD5

-1 -1 -1

sebesar 18,182 mgl , COD sebesar 262,8 mgl ) dan stasiun 1 (TSS sebesar 204,4 mgl , BOD sebesar 5

-1 -1

12,258 mgl , dan COD sebesar 252,2 mgl ). Kondisi kualitas air pasca-pengerukan ditinjau dari faktor

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui keakuratan program komputer RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4 dalam memprediksi koefisien perpindahan kalor kondensasi uap yang tercampur dengan gas

Telah dilakukan analisis skenario kegagalan sistem pada AP1000 untuk menentukan probabilitas kecelakaan parah yaitu dengan melakukan kombinasi beberapa kegagalan

Untuk itu perlu dilakukan penelitian pewarnaan kain sutera dengan pewarna gambir guna melihat pengaruh kondisi suhu pencelupan dan jenis fiksator yang digunakan

Perbandingan persentase degradasi Direct violet secara fotolisis, ozonolisis, dan penyinaran matahari dengan penambahan katalis % Degr adasi Waktu (menit) % Degr adasi Waktu

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan desain teras setimbang alternatif reaktor RRI dengan mengaplikasikan dimensi luas penampang elemen bakar yang lebih

Pada bagian ini dijelaskan konsep dasar dari teori himpunan dan bilangan fuzzy untuk membantu pemahaman metode analisis pohon kegagalan dengan pendekatan fuzzy yang akan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,