• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan OPT di Agroekosistem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Permasalahan OPT di Agroekosistem"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Permasalahan OPT

 

di

 

Agroekosistem

Dr.

 

Akhmad

 

Rizali

Materi: http://rizali.staff.ub.ac.id

Proses

 

penyederhanaan lingkungan menjadi

monokultur pertanian memberi dampak

terhadap keanekaragaman hayati dalam hal:

Perluasan tanah pertanian mengakibatkan

hilangnya habitat

 

alami

Konversi menjadi lahan pertanian homogen

dengan nilai habitat

 

yang

 

rendah

(2)

Kehilangan berbagai jenis serangga berguna

akibat hilangnya tanaman liar

 

sebagai sumber

makanan,

 

penggunaan bahan kimia sintetis

dan kegiatan lainnya

Erosi sumber

sumber genetik yang

 

bervariasi

karena peningkatan varietas tanaman

berproduksi tinggi yang

 

seragam

Demikian pula

 

dengan

Persiapan persemaian secara komersial dan

penanaman mekanis menggantikan cara

alami penyebaran benih

Pestisida kimia menggantikan pengendalian

alami terhadap hama dan penyakit

(3)

manipulasi genetik menggantikan proses

evolusi dan seleksi tanaman secara alami.

Kesuburan tanah tetap terpelihara bukan

karena daur ulang secara alami atau

penguraian sisa tanaman yang

 

dipanen,

 

(4)

Program

 

PHT

 

pada dasarnya adalah program

 

pengelolaan agroekosistem

Dengan kata

 

lain

 

pengelolaan agroekosistem

dapat melalui penerapan PHT

Penerapan PHT

Dua konsep dasar PHT

Pahami Agroekosistem

(5)

Gambaran Agroekosistem

Kontinuitas Tanaman

Agroekosistem tidak bersifat “self

 

perpetuating”

 

(kekal)

 

dan keberadaannya selalu singkat,

 

bervariasi dari 50

 

tahun (tanaman perkebunan)

 

hingga beberapa minggu (tanaman sayuran).

  

Sebaliknya pada ekosistem alami bersifat kekal

Seleksi pertanaman

Di

 

dalam ekosistem alami,

 

vegetasi hasil seleksi

alam,

 

sehingga beradaptasi dengan baik pada

berbagai variasi faktor iklim dan faktor edafik

Individu tumbuhan terbuka dari pengaruh

kompetisi,

 

terutama pada individu muda

Di

 

dalam agroekosistem,

 

tanaman diseleksi oleh

manusia dan ketika tanaman muda biasanya

sekelilingnya bersih,

 

shg terhindar dari kompetisi

Agroekosistem menderita kerusakan oleh variasi

iklim

Keanekaragaman Spesies

Manusia dalam keadaan normal

 

menanam

spesies tanaman tunggal,

 

sesekali juga

 

dua

spesies tanaman (intercropping)

 

sangat jarang

berupa tanaman campuran

Penggunaan herbisida dalam menekan gulma

menjadikan agroekosistem bersifat monokultur

(6)

• Pada ekosistem alami terdiri dari beberapa spesies

tanaman, meskipun terdapat perkecualian pada

kondisi iklim yang ekstrim suatu ekosistem alami

dapat ditumbuhi hanya oleh 1 – 2 spesies tumbuhan, 

misalnya hutan papyrus

Keragaman intraspesifik (umur dan varietas)

• Praktek penanaman pada kebanyakan tanaman di 

dalam agro‐eksosistem menghasilkan varietas dan

umur yang seragam, sehingga di dalam

agroekosistem kisaran genotip sangat terbatas.

• Keadaan tersebut mendorong terjadinya sinkronisasi

pembungaan, pembentukan tunas daun, dan proses 

yang lain di antara tanaman yang ditanam. 

Nutrisi dan Suplai air

Di

 

dalam agroekosistem dilakukan pemupukan

dengan pupuk kimia atau pupuk kandang dan

beberapa diairi dengan sistem irigasi.

  

Hal

 

itu

berakibat level

 

nutrisi pada dedaunan tanaman

dan jumlah jaringan muda biasanya lebih besar

daripada di

 

dalam ekosistem alami.

Ledakan Hama

 

dan Penyakit

Ledakan populasi hama dan penyakit merupakan

gambaran yang

 

teratur dari agoekosistem.

  

Ledakan tersebut tidak tercatat pernah terjadi di

 

(7)

Sifat Khusus Agroekosistem

a.  Keragaman Vegetasi di dalam Agroekosistem

• Dalam praktek pengelolaan yang mempengaruhi

keragaman seharusnya dinilai berdasarkan

pengaruhnya secara terpisah terhadap hama dan

musuh alaminya. 

• Keragaman dan stabilitas pada vegetasi klimaks, yaitu

terutama di dalam iklim yang stabil dan sesuai

mengembangkan stabilitas pada level konsumer

(herbivora) , sedangkan di dalam agroekosistem, 

keragaman tersebut diredusir secara besar‐besaran, 

misalnya melalui penanaman tanaman monokultur

• Dalam kondisi yang disederhanakan tersebut, asumsi

yang menyatakan bahwa pada setiap peningkatan

keanekaragaman akan berpengaruh menstabilkan akan tidak sesuai

• Keanekaragaman hasil tanaman pagar di dalam area 

pertanian dapat lebih menguntungkan hama daripada

musuh alaminya atau sebaliknya.  

• Contoh pengurangan tanaman inang alternatif hama

Aphis fabae dari tanaman pagar dan area liar yang lain 

dapat menekan populasi hama tersebut.  Tersedianya

polen dan nektar dari bunga di dalam pertanaman

sayuran dapat berpengaruh terhadap fekunditas beberapa hama sayuran, selain itu juga dapat

bermanfaat terhadap musuh alami.  Pada beberapa

kasus praktek sanitasi juga justru dapat berpengaruh

buruk terhadap predator daripada terhadap hamanya.  

• Tujuan pengelolaan seyogyanya ditentukan oleh unsur

keragaman apakah yang diperlukan untuk di 

tambahkan atau dipertahankan dan apakah yang perlu

ditekan guna meningkatkan pengelolaan terhadap populasi serangga

(8)

b. Kepermanenan Tanaman di dalam Agroekosistem

• Pada kebanyakan hama tanaman tahunan cenderung untuk membatasi dispersal dan relatif membentuk populasi tertutup bersama‐sama musuh alaminya.  Stabilitas habitat 

tanaman memungkinkan untuk menciptakan situasi dimana pengendalian hayati oleh musuh alami dapat menstabilkan spesies hama.  Sebaliknya, pada tanaman semusim dengan terbatasnya waktu akibat umur tanaman yang pendek, 

maka kepadatan populasi lebih ditentukan oleh natalitas (keberhasilan invasi hama) dan bukan oleh mortalitas.

• Banyak contoh bahwa pengendalian hayati lebih berhasil pada agroekosistem yang permanen, misalnya pengendalian hama jeruk Icerya purchasi di California dan hama kelapa di 

Fiji.   

• Pada tanaman semusim, pengelolaan terhadap hama bertujuan untuk menciptakan kondisi yang secara langsung tidak dapat ditolerir oleh hama, yaitu melalui peningkatan instabilitas lingkungan daripada melalui penurunan populasi secara tidak langsung oleh musuh alaminya. 

c.

 

Stabilitas Iklim

Variasi iklim kemungkinan merupakan faktor yang

 

pada umumnya dapat merusak sistem populasi.

  

Oleh karena itu,

 

stabilitas populasi yang

 

sering

terjadi pada iklim yang

 

tidak berubah dan sesuai,

 

kemungkinan terjadinya peledakan populasi

akibat bekerjanya faktor yang

 

merusak yang

 

bekerja terhadap musuh alami adalah kecil.

  

Pada umumnya sedikit yang

 

bisa dikerjakan oleh

manusia untuk mempengaruhi iklim,

 

kecuali di

 

dalam rumah kaca dan di

 

lahan yang

 

beririgasi.

  

Misalnya di

 

Israel,

 

pengembangan irigasi pada

lahan pertanian dapat menyebabkan timbulnya

peledakan hama Coccid.

 

(9)

d. Tingkat Isolasi Agroekosistem dari Vegetasi Alami

• Ukuran isolasi tanaman dapat berpengaruh serius terhadap unsur musuh alami pada suatu program PHT.  Keterisolasian tanaman, misalnya pada lahan pertanian beirigasi dapat memperlambat serangan balik musuh alami terhadap serangga hama, sehingga populasi hama dapat meledak.   • Untuk itu pada lahan pertanian beririgasi perlu diciptakan keragaman guna mendukung kesegeraan pulihnya kembali populasi musuh alami.  

• Misalnya guna mendukung pengendalian oleh musuh alami hama tanaman alfalfa dapat dilakukan dengan sistem penanaman berjalur‐jalur berdasarkan perbedaan waktu tanam (strip cropping).  Hal itu dimaksudkan agar pada saat panen alfalfa pada suatu jalur musuh alami dapat pindah sementara ke tanaman alfalfa pada jalur yang lain, sehingga pada saat terjadi serangan hama pada suatu jalur populasi musuh alami dapat segera mengikuti perkembangan populasi hama TIPE AGROEKOSISTEM SIFAT AGROEKOSISTEM Keragaman vegetasi Rendah----> Tinggi Kepermanenan tanaman Rendah --->Tinggi Stabilitas iklim Rendah --->Tinggi Tingkat isolasi Rendah---->Tinggi

I. Hutan tropis yang telah dimodifikasi

II. Pertanian Subsisten di

daerah tropis dan

temperit

III.Area pertanian yang telah berkembang

IV. Area pertanian Beririgasi V. Tanaman Semusim

Monokultur

VI. Produk Simpanan

VII. Rumah kaca

(10)

Pengelolaan OPT

 

Berdasar Sifat

Khusus Agroekosistem

Keanekaragaman Vegetasi

• Keragaman vegetasi pada tipe agroekosistem 1 sampai

7 semakin menurun. Oleh karena itu kebutuhan dan

kesempatan untuk memanipulasi agroekosistem

dengan meniru alam, meningkat dari tipe

agroekosistem 1 sampai 7

Kepermanenan Tanaman

• Kepermanenan tanaman pada tipe agroekosistem 1 

sampai 5 menurun, sedang kepermanenan tipe

agroekosistem 5 sama dengan tipe 6, yaitu rendah. 

Oleh karena itu , tingkat bahaya penggunaan pestisida

terhadap pengendalian hayati secara alami (melalui

musuh alami asli), semakin menurun dari tipe

(11)

Kestabilan Iklim

• Oleh karena kestabilan iklim bervariasi, maka

kesempatan untuk memanipulasi pengendalian hayati di dalam agroekosistem yang terisolasi (Tipe IV‐VII)  adalah tertinggi di rumah kaca (VII), moderat di area  beririgasi (IV) dan terendah di area monokultur (V) dan

bahan yang disimpan (VI)

• Mereka berkorelasi langsung dengan stabilitas iklim.

Derajat Isolasi

• Peran waktu tanam sebagai prosedur pengelolaan

adalah terbesar di dalam agroekosistem tipe VII, dan semakin menurun hingga tipe agroekosistem I

• Derajat keterisolasian berhubungan dengan tingkat

invasi OPT.  Pengelolaan waktu tanam menyebabkan

tanaman dapat melalui tingkat peka secara simultan

• Pendekatan ini begitu penting untuk tanaman yang 

mengalami periode peka yang sangat singkat. 

Komponen, fungsi, dan strategi meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem (Sumber: 

(12)

Dampak pengelolaan agroekosistem terhadap keanekaragaman musuh alami dan kelimpahan serangga hama (Altieri & Nicholls, 2000)

Kriteria dan indikator dalam skala

hamparan

dalam agroekosistem

(13)

Kriteria dan indikator aspek HPT,

 

meliputi:

Dinamika populasi mikroflora dan mesofauna

dalam kaitan dengan pengelolaan hama dan

penyakit

Mengganti atau menambah keanekaragaman

pada agroekosistem yang

 

telah ada dapat

dilakukan agar

 

musuh alami efektif dan

populasinya meningkat (Van

 

Driesche &

 

Bellows,

 

1996),

 

dengan cara:

 Menyediakan inang alternatif dan mangsa pada saat

kelangkaan populasi inang

 Menyediakan pakan (tepung sari dan nektar) 

parasitoid dewasa

 Menjaga populasi hama yang dapat diterima pada

waktu tertentu untuk memastikan kelanjutan hidup dari musuh alami

(14)

Kriteria

Penerapan PHT

 

atau IPM

Indikator yang

 

dapat Dimonitor

Peningkatan penggunaan bio

pestisida.

Pengurangan penggunaan pestisida kimia tidak

rasional.

Penurunan residu pestisida pada tanaman target.

Peningkatan perkebunan pohon nimba.

Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani

PHT.

Peningkatan keanekaragaman hayati musuh alami

seperti predator,

 

patogen serangga,

 

lebah madu,

 

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Analisis kandungan logam berat Timbal (Pb) pada air laut dan kerang darah (Anadara granosa) dilakukan dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) .Adapun

Peneliti memperoleh pemahaman bahwa untuk membentuk diri pada anak (pengenalan karakter model) tidak hanya dapat diperoleh dari lembaga pendidikan saja ( Color

SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AC) PADA RUMAH TINGGAL LANTAI 2.

Mencari Buku Pelajaran menampilkan nilai-nilai moral melalui tokoh-tokoh yang disampaikan pengarang, sehingga pesan moral melalui novel Mencari Buku Pelajaran,

Grafik pada gambar 4 menunjukkan skor ekspresi imunohistokimia IL-4 pada jenis tumor dari 6 sampel tumor jinak serosum yang memberikan hasil positif terhadap

Pada penelitian ini hubungan antara ekspresi p53 dan VEGF pada adenokarsinoma kolorektal derajat diferensiasi tinggi, sedang maupun rendah dengan uji lanjutan

1) Memberikan penjelasan pelaksanaan penelitian kepada responden. 2) Mengumpulkan responden dan memberikan penjelasan tujuan, risiko, dan manfaat penelitian. 3) Meminta

Berdasarkan analisa keragaman pada Tabel 1, penambahan tepung terigu dan tepung kentang hitam memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar lemak cookies