• Tidak ada hasil yang ditemukan

KURIKULUM 2013: Berpijak Pada Dua Tradisi Yang Bertentangan - Eprints UNPAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KURIKULUM 2013: Berpijak Pada Dua Tradisi Yang Bertentangan - Eprints UNPAM"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

86

KURIKULUM 2013:

Berpijak Pada Dua Tradisi Yang Bertentangan

OLEH: AENG MUHIDIN

1. [email protected]

2. Dosen Tetap Program Studi (PPKn) Universitas Pamulang.

ABSTRAK

Kurikulum sejarah 2013 adalah gabungan tradisi utama dan tradisi alternatif yang bertentangan. Tradisi utama memfokuskan pada penanaman moral, materi sejarah politik dan metode mengajar klarifikasi, penalaran dan penilaian moral. Tantangan penerapan tradisi utama yaitu: 1) penentuan nilai; 2) pemilihan topik; 3) iklim belajar. Tradisi alternatif sebagai kritik atas tradisi utama. Tradisi utama memfokuskan pada kecakapan literatur sejarah, materi pengetahuan sejarah, dan metode yang didasarkan pada prinsip belajar. Tantangan utama penerapan tradisi alternatif adalah penguasaan disiplin ilmu dan metode pembelajaran. Akibat menggabungkan dua tradisi, rumusan kompetensi Sikap (Agama dan Sosial) yaitu nilai moral, sementara Kompetensi Pengetahuan dari tradisi alternatif. Sebagai akibatnya, Kurikulum Sejarah 2013 tidak terpadu karena tidak ada keterkaitan antar-Kompetensi Pengetahuan-Sikap dan Keterampilan. Guru harus mengambil keputusan terbaik berdasarkan justifikasi seorang profesional.

Kata kunci: kurikulum sejarah, pendekatan pembelajaran sejarah, tradisi besar,

tradisi alternatif, kesadaran sejarah, kecakapan literatur sejarah, pembelajaran berorientasi nilai, pembelajaran berorientasi intelektual.

[1] – Pengantar

Ada dua pendekatan

pembelajaran sejarah yang silih berganti memberikan corak dalam kurikulum sejarah di seluruh negara, yaitu tradisi utama dan tradisi alternatif. Pembelajaran sejarah di sekolah menurut tradisi utama harus diorientasikan pada nilai, termasuk nilai-nilai moral, sedangkan menurut alternatif harus dioreintasikan pada intelektual. Kedua tradisi itu saling bertentangan satu sama lain. Ada tiga hal yang membedakan

kedua tradisi yaitu: 1) tujuan pembelajaran sejarah; 2) materi pelajaran, dan; 3) pendekatan pembelajaran. Logika kurikulum bahwa pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, bukan sebaliknya serta pendekatan pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan dan materi.

(2)

87 2013 menghendaki rumusan kompetensi terpadu antara Pengetahuan-Sikap-Keterampilan (disingkat P-S-K), tetapi gagal. Penulis berasumsi kegagalan itu bersumber dari keinginan memadukan dua tradisi dalam pembelajaran sejarah yang bertentangan. Sebagai usaha untuk membuktikan asumsi, penulis perlu untuk menguraikan tiga topik, yaitu: 1) karakteristik tradisi utama dalam pendekatan pembelajaran sejarah; 2) karakteristik tradisi alternatif dalam pendekatan pembelajaran sejarah; dan 3) masalah yang muncul dari pemaduan kedua tradisi dalam kurikulum 2013.

[2] – Terbentuknya Dua Tradisi

Pendekatan Pembelajaran Sejarah Yang Bertolak Belakang

Munculnya dua kutub yang bertentangan mengenai kedudukan ilmu sejarah sebagai ilmu humaniora atau sebagai ilmu sosial berimplikasi pada pendekatan pembelajaran sejarah di sekolah. Para pendukung sejarah sebagai ilmu humaniora mengajukan pendekatan tradisi utama, sedangkan di pihak lain muncul keinginan untuk menerapkan pendekatan tradisi alternatif. Kedua tradisi sama-sama menyepakati bahwa sejarah berfungsi sebagai alat pendidikan. Untuk mencapai tujuan apa penggunaaan alat pendidikan itu, kedua tradisi saling mengklaim tujuan yang paling ideal pembelajaran sejarah di sekolah.

Penempatan sejarah sebagai ilmu humaniora dan sejarah sebagai ilmu sosial merupakan pertentangan filosofis pada tiga landasan keilmuwan, yaitu

persoalan objek kajian ilmu (ontologi), metode (epistemologi), dan manfaat ilmu (aksiologi). Berdasarkan landasan filosofi itu, ilmu terbagi menjadi tiga yaitu ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu humaniora. Kedudukan Sejarah terbelah dua, sebagai ilmu humaniora, juga sebagai ilmu sosial. Pertentangan mengenai kedudukan sejarah sebagai ilmu humaniora atau ilmu sosial berimbas pada pendekatan pembelajaran sejarah di sekolah (Lihat Gambar 1).

Para pendukung sejarah sebagai ilmu humaniora menghendaki pembelajaran sejarah harus berorientasi nilai, sedangkan pihak pendukung sejarah sebagai ilmu sosial menghendaki pembelajaran sejarah harus berorientasi intelektual. Pendukung orientasi perubahan nilai mengajukan pendekatan tradisi utama dalam pembelajaran sekolah dan sudah terlebih dahulu menanamkan pengaruh dalam sistem pendidikan di sekolah. Sedangkan pihak pendukung orientasi perubahan intelektual mengajukan pendekatan tradisi alteratif dalam pembelajaran sejarah. Tradisi alternatif muncul belakangan dan sebagai pihak yang mengkritik pendukung tradisi utama. Kedua tradisi pembelajaran sejarah, secara substansial mengajukan konsepsi yang berbeda tentang tiga hal, yaitu: 1) sejarah apa, 2) mengapa dan untuk apa sejarah harus diajarkan, dan; 3) harus seperti apa sejarah diajarkan.

[3] – Pendekatan Pembelajaran

(3)

88 Untuk memahami pendekatan pembelajaran sejarah menurut tradisi utama, ada tiga hal yang harus dipahami, yaitu: 1) untuk apa sejarah (tujuan), 2) sejarah apa (materi), 3) bagaimana dan mengapa sejarah harus diajarkan (metode).

Dalam hal tujuan, tradisi utama menyatakan bahwa tujuan pembelajaran sejarah harus berorientasi pada nilai. Ada dua varian orientasi nilai, yaitu: 1) nilai intrinsik sejarah nasional yang berkaitan dengan nilai budaya nasional, dan; 2) nilai moral. Para pendukung tradisi utama menganggap perlu mengakuisisi pengetahuan yang relatif kompleks tentang budaya politik nasional yang telah diasumsikan sebelumnya ke dalam kurikulum sejarah. Masih menurut tradisi utama, tujuan pembelajaran sejarah adalah mempromosikan nilai moral dan mengembangkan pemahaman moral peserta didik. Moral berkaitan dengan standar perilaku yang baik dan buruk, seperti keterbukaan, keadilan dan

kejujuran.

Mengingat materi sejarah harus sesuai dengan tujuan, maka materi sejarah harus dipilih dan ditentukan. Jenis materi menurut varian pertama tradisi utama adalah sejarah politik [negara]. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, materi sejarah harus diorganisir secara kronologis dari masa kuno sampai masa kontemporer. Biasanya referensi yang digunakan terdiri dari buku teks yang disuling dari sumber sekunder (buku) lainnya. Meskipun ada analisis kritis atas bukti

sejarah, tetapi sedikit sekali. Metodologi penyusunan laporan itu sendiri tidak menyiratkan ideologi politik tertentu, tetapi selalu mengacu pada karya-karya yang diakui pihak berwenang. Collingwood menggunakan isitlah

Sejarah Cutting-Paste (SCP) untuk jenis sejarah yang ditentukan oleh pihak berwenang.1 Sejarawan SCP yang tegantung pada penilaian layak atau tidak layak tidak dapat dikatakan sejarawan otonom.2

Dalam hal pedagogi, tradisi utama menuntut peran aktif seorang guru secara didaktif. Pentingnya keterlibatan moral di dalam pembelajaran sejarah secara umum diakui dan hasilnya dapat diukur karena moral adalah dasar untuk guru dan murid mereka memahami sifat subjek (tindakan dan perilaku para pelaku sejarah).3 Ada tiga jenis pembelajaran sejarah menurut tradisi utama, yaitu pemahaman kosakata moral

dari setiap materi sejarah, terbentuknya

penilaian moral atas dasar bukti-bukti dan penyelidikan sejarah, dan penggunaan kosakata moral dalam mendiskusikan dan memahami materi sejarah.4 Guru sejarah harus mampu membangun interpretasi aktif sejarah. Keahlian pedagogik guru sejarah terletak pada kemampuan menghubungkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan pada

1

Collingwood, R.G. The Idea of History. (Oxford: OUP 1993), h.h. 257-266.

2Ibid

.

3

Barton, K. C. and Levstik, L. S. Teaching History for the Common Good. (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2004), h. 106.

4

Arthur, J., Davies, I., Kerr, D. and Wrenn, A.

(4)

89 materi ajar dan menyampaikan penjelasan sejarah sesuai dengan kepentingan politik.

Konsekuensi, peran pelajar bersifat pasif. Siswa hanya perlu mengasimilasi, mengatur dan mereproduksi, paling tidak untuk menafsirkan interpretasi guru. Secara metodik siswa diajak untuk mengapresiasi secara kritis persamaan dan perbedaan antara kosakata moral dan nilai-nilai moral masyarakat dalam periode sejarah dan masyarakat kontemporer. Kemampuan siswa untuk merefleksikan secara kritis pertanyaan moral dan isu-isu sebagai bagian dari studi mereka tidak hanya integral pada pendidikan sejarah tetapi juga integral dengan disiplin sejarah itu sendiri. Arthur et.al. yang mengklaim bahwa tidak ada yang dapat mempelajari sejarah secara efektif tanpa melibatkan pertimbangan moral atau keputusan moral.5 Walsh menegaskan bahwa penolakan perjumpaan antara etika dan sejarah adalah penolakan yang spontan, perjumpaan itu sebenarnya ada dalam sejarah, baik sebagai subjek disiplin maupun sebagai tujuan pendidikan sejarah. Sama seperti penelitian sejarah dan interpretasi sejarawan, penilaian moral dalam pembelajaran sejarah harus dilakukan secara hati-hati karena menuntut kepastian dan harus meyakinkan.6

5

Arthur, J., Davies, I., Kerr, D. and Wrenn, A.

Citizenship Through Secondary History. (Routledge: London, 200), h. 96.

6

Walsh, P. Education and Meaning: Philosophy in Practice. (London: Cassell, 1993), h. 180.

Pendekatan pembelajaran tradisi utama banyak ditentang. Menurut Smith, integrasi moral ke dalam sejarah merugikan sejarah sebagai disiplin, maka tujuan pendidikan sejarah harus difokuskan pada pengajaran kapasitas seperti sejarawan. Smith membedakan tiga jenis nilai, yaitu nilai perilaku, nilai prosedural, dan nilai substantif.7 Nilai perilaku adalah nilai yang dibutuhkan untuk lingkungan belajar yang produktif misalnya jenis nilai yang diperlukan untuk diskusi kelas dan perdebatan, seperti toleransi, menghargai pendapat dan lainnya. Nilai-nilai prosedural

adalah keterampilan dan teknik utama yang digunakan oleh seorang sejarawan, seperti berpikir kritis, kemampuan interpretasi bukti dan keinginan untuk menginterograsi argumen dan gagasan. Jenis ketiga adalah nilai-nilai substantif. Nilai substantif, arti yang ditentukan dan diberikan atas tindakan, pikiran dan perasaan dan umumnya melibatkan pertimbangan moral. Pembelajaran sejarah harus membatasi diri pada nilai-nilai perilaku dan prosedural, nilai substantif tidak dibutuhkan dan harus dibuang. Smith menolak guru dalam menginterpretasikan nilai moral. Kalaupun nilai moral itu ada, guru harus netral dan menghormati otonomi siswa untuk mengembangkan perspektif mereka sendiri atas nilai moral dalam materi sejarah.

7 Smith, R. I. “Values in history and social

studies”, dalam Tomlinson, P. Dan M. Quinton.

(5)

90 Menurut Lee, ada perbedaan antara tujuan sejarah sebagai subjek kajian dan tujuan sejarah sebagai tujuan pendidikan. Tujuan sejarah sebagai subjek kajian harus diprioritaskan dan tidak menjadi bawahan dari tujuan pendidikan sejarah. Jika tujuan pendidikan sejarah itu berorientasi moral, sejarah sebagai kajian tidak boleh digunakan untuk mendukung tujuan pendidikan, karena eksplorasi moral dapat menggerus objektivitas dan rasionalitas sejarawan. Kincloch mengamati bahwa guru sejarah cenderung berfokus pada isu moral pada akhirnya hanya mampu memberikan hasil paling dangkal berupa kesimpulan moral yang justru mengorbankan hasil penelitian sejarah.8

Tidak hanya itu, menurut Kincloch, eksplorasi dan penilaian nilai-nilai (moral) biasanya dilakukan dengan cara yang sempit dan tidak kritis. Seringkali peserta didik dalam pengajaran sejarah harus menerima moral mentah. Pengajaran sejarah seringkali tidak mengajak siswa untuk mempertanyakan nilai-nilai dan etika moral tentang orang-orang, budaya, ide dan keyakinan pada periode sejarah yang dipelajari. Kinloch menghendaki bahwa pendidikan sejarah harus difokuskan pada pertanyaan-pertanyaan sejarah (apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana hal itu terjadi), bukan pada pertanyaan benar atau salah.

8Kinloch, N. “Parallel catastrophes? Uniqueness,

redemption and the Shoah”, Teaching History,

2001, h. 104.

Menurut Walsh, komentator seperti Lee dan Kinloch tidak mampu membedakan antara penilaian sejarah dan pertimbangan moral. Keliru jika mereka beranggapan bahwa penilaian sejarah harus melepaskan pertimbangan moral. Kalau Lee dan Kinloch menanggap pertimbangan moral itu subyektif-emosional, justru menurut EH Carr, fakta sejarah mengandaikan beberapa ukuran interpretasi dan interpretasi sejarah selalu melibatkan penilaian moral.9 Salmon menjelaskan dengan melibatkan siswa dalam penyelidikan sejarah yang ketat, siswa dapat memahami kompleksitas dunia hanya dengan memahami bahwa keputusan yang diambil didasarkan pada pilihan yang benar. Menurut Salmon, tindakan seseorang (atau sikap diam seseorang) dinilai dalam konteks periode sejarah yang dipelajari dan kemudian siswa dapat menarik pelajaran yang berarti untuk hari ini.10

Menanggapi kritik bahwa penilaian moral menggerus objektivitas, Arthur et al. menunjukkan bahwa penilaian moral juga objektif, karena penilaian seperti itu melibatkan penilaian yang ketat atas bukti sejarah.11 Pembelajaran moral dalam sejarah yang melibatkan penalaran moral dan penilaian moral, bukan berarti tidak

9

Carr, E. H. What is History? (London: Penguin, 1961), h. 79.

10 Salmons, P. “Teaching or preaching? The

Holocaust and intercultural education in the

UK”, Intercultural Education, 2003: 139-149

(143).

11

Arthur, J., Davies, I., Kerr, D. and Wrenn, A.

(6)

91 melibatkan penilaian atas bukti sejarah. Bahwa pembelajaran moral dalam sejarah didasarkan pada penelitian sejarah yang baik agar menjadi signifikan dan efektif, menurut Arthur,

et.al., bukanlah berarti harus menentang penempatan moral dalam kurikulum sejarah. Pembelajaran moral dalam sejarah justru memperkuat sifat sejarah sebagai disiplin ilmu, bukan melemahkan.

Menghadapi kritik Kinloch, Arthur mengatakan “jikalau pembelajaran moral dalam pembelajaran sejarah masih terdapat kekurangan, bukan berarti harus ditolak sama sekali, di situlah perlu ada diskusi dan perdebatan tentang praktik terbaik yang harus dilaksanakan, ada kebutuhan untuk memperjelas cara terbaik guru dalam membelajarkan sejarah dan bagaimana cara siswa menghadapi nilai-nilai moral dalam kelas sejarah serta memperjelas alasan mengapa siswa perlu melakukannya.

Menerapkan tradisi utama tidak mudah. Setidaknya, ada tiga tantangan yang harus dihadapi guru. Pertama, karena tidak ada daftar nilai-nilai yang dapat dirujuk, guru sejarah harus mampu menentukan nilai-nilai. Ada dua kriteria yang harus dipenuhi yaitu: 1) nilai-nilai itu harus dapat dieksplorasi, 2) nilai-nilai itu harus dipahami oleh siswa. Jenis nilai-nilai yang memenuhi kedua syarat itu adalah 1) nilai-nilai moral yang berguna untuk masyarakat kontemporer; 2) nilai-nilai moral pribadi yang dapat disebarluaskan; dan 3) nilai-nilai yang menjadi wacana sehari-hari dalam

masyarakat.12 Hal yang perlu diperhatikan ketika menentukan nilai-nilai adalah perbedaan latar belakang budaya dan variasi nilai (bersifat sementara dan berakar kuat) antara kelompok budaya satu dengan yang lain.13 Guru sejarah sebaiknya tidak mengisolasi, sebaliknya perlu membiasakan diri ikut ambil bagian dalam perdebatan jenis nilai-nilai moral yang harus ada dalam kurikulum sejarah. Kedua, tantangan lain terkait pemilihan topik dan tema. Mengingat pengajaran moral dalam pembelajaran sejarah menggunakan materi sejarah untuk tujuan eksplorasi moral, pemilihan topik dan tema yang mendukung pada pencapaian tujuan begitu penting. Sebagaimana dikemukakan Walsh bahwa setiap kurikulum sejarah harus melibatkan pembelajaran moral yang berdasarkan nilai-nilai yang telah dipilih atau ditolak pada topik atau tema yang akan dipelajari.14 Jadi, untuk mengembangkan pembelajaran sejarah beorientasi moral, guru sejarah harus hati-hati mempertimbangkan kesesuaian etis antara nilai-nilai yang dipilih dan nilai-nilai yang dimiliki siswa.

Ketiga, sebagaimana

dikemukakan Maxwell bahwa sebagian besar nilai pendidikan yang diajukan dalam pendidikan sejarah kebanyakan tanpa berlandasarkan dasar teoritis15.

12

Walsh, P. Education and Meaning: Philosophy in Practice. (London: Cassell, 1993), h. 180.

13

Barton, K. C. and Levstik, L. S. Teaching History for the Common Good. (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2004), h. 107.

14Ibid

.

15Ibid

(7)

92 Berangkat dari kritik Maxwell, ada tiga bentuk tawaran yang dapat digunakan yaitu klarifikasi nilai-nilai, penalaran moral dan pendidikan karakter.16 Dalam menerapkan ketiga pendekatan itu, guru sejarah ditantang untuk mampu menciptakan situasi belajar yang memungkinkan siswa membentuk pandangan mereka sendiri tentang isu moral yang dipelajari dari materi sejarah serta menghormati otonomi moral siswa dan tidak memihak.

Keempat, parameter keberhasilan ketiga pendekatan pembelajaran moral dilihat dari ada atau tidaknya hubungan yang positif antara moral dan tindakan. Pendekatan pembelajaran moral dalam pembelajaran sejarah harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman moral dalam bentuk praktek. Untuk itu, guru harus menciptakan iklim kelas yang kondusif dan melibatkan murid dalam diskusi, debat dan kegiatan menulis analitis-reflektif. Sementara itu, belum ada penelitian khusus yang mampu hubungan antara subjek dan pendekatan terbaik yang dapat dijadikan model bagi guru sejarah. Sampai saat ini, hampir dikatakan belum ada sumber-sumber referensi yang secara eksplisit berusaha membantu guru sejarah menerapkan metode dan strategi pengajaran moral yang baik

16

Halstead, M. and Taylor, M. “Learning and teaching about values”. Cambridge Journal of Education, 2000: 169-202 (132).

[4] – Pendekatan Pembelajaran

Menurut Tradisi Alternatif dan Tantangan

Tradisi alternatif mengklaim bahwa pembelajaran sejarah akan kehilangan tujuan sebenarnya jika difokuskan ada berorientasi moral (nilai substantif). Pendidikan sejarah yang difokuskan pada pendidikan nilai dan moral didasarkan pada argumentasi yang begitu lemah. Kedua, ketakutan akan pembelajaran sejarah yang memperdebatkan hal-hal yang serius mengakibatkan pembelajaran diarahkan pada pembelajaran yang menyenangkan melalui kegiatan yang kehilangan kontak dengan tujuan disiplin sejarah.

Pada bagian ini akan dijelaskan tujuan, materi dan pendekatan pembelajaran menurut tradisi alternatif yang berbeda dari tradisi utama.

(8)

93

metodologi dan historiografi. Dalam pemahaman metodologi dan historiografi, siswa harus dapat: 1) menentukan keabsahan cerita dan kebenaran faktual; 2) memahami konsep bukti dan menghargai bukti sejarah; 2) mau menceritakan kisah yang bertolak belakang; 3) menghormati orang-orang di masa lalu termasuk pahlawan. Ketiga, pengetahuan meta-historis. Pendidikan sejarah harus membantu siswa agar: 1) meninggalkan pandangan diskriminasi temporal, dapat menemukan keberadaan diri dalam waktu kini dan melihat masa lalu dapat menghambat dan membuka kemungkinan di masa depan; 2) mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan masa kini. Kemampuan itu berkaitan dengan pengetahuan substantif yang disebut meta-historis.

Dalam hal materi, menurut tradisi alternatif adalah sejarah sebagai disiplin ilmu sejarah. Karakter khusus dari disiplin ilmu sejarah adalah

kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah adalah bentuk pengetahuan sejarah yang mencoba untuk mencapai standar kebenaran (fakta) dan validitas dalam pernyataan dan narasi sejarah.17 Disiplin sejarah dapat dianggap sebagai tradisi metakognitif terorganisir yang menekankan pada kegiatan praktis yang merefleksikan apa yang dikerjakan sejarawan, menilai apakah pernyataan yang sejarawan kemukakan itu benar dan mengapa begitu.

17 Lorenz, C. “Historical knowledge and

historical reality: a plea for “internal realism”. History and Theory, 1994: 297-327.

Ada tiga jenis materi menurut tradisi alternatif. Materi pertama adalah konsep kunci ilmu sejarah. Pengetahuan sejarah membutuhkan pemahaman konsep yang berbeda sama sekali berbeda dari gagasan sehari-hari yang membuat pengetahuan akan masa lalu itu mustahil ada. Justru dalam pembelajaran moral yang memfokuskan gagasan sehari-hari pada peristiwa masa lalu menjadikan pengetahuan sejarah menjadi hilang. Materi kedua adalah disposisi sejarah. Seorang siswa yang dikatakan memiliki kecakapan literatur sejarah apabila siswa telah memiliki disposisi tertentu, termasuk kepedulian terhadap kebenaran dan argumen yang valid, dan menghormati orang di masa lalu seperti menghormati manusia di masa kini.

Materi ketiga adalah konsep substansial. Pembelajaran kecakapan literatur sejarah ingin membentuk siswa yang memiliki

pemahaman mendalam atas sejarah yaitu jenis pemahaman yang menyebabkan seseorang mampu mengubah informasi faktual menjadi pengetahuan yang berguna.18 Pemahaman yang mendalam akan tercapai apabila siswa menguasai berbagai konsep yang berkaitan dengan materi sejarah, konsep substantif sejarah.

Konsep substantif terdiri dari jenis, yaitu: 1) konsep prosedural disiplin ilmu sejarah dan 2) konsep lapis kedua. Konsep seperti revolusi industri, pencerahan, atau perang dingin, oleh Walsh disebut colligatory concept, yaitu

18

(9)

94 konsep yang diperoleh dari pengorganisasian fenomena spesifik dalam rangka membuat suatu proses dan peristiwa mudah dipahami, secara relatif oleh sejarawan. Kemampuan untuk menguasai colligatory concept secara tepat berperan sebagai kunci utama untuk membuat siswa mampu memahami masa lalu sejarah.

Penggunaan istilah “kecakapan

literatur sejarah” menuntut pengajaran

kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan itu disebut juga sebagai

kesadaran sejarah aktif sebagai pusat orientasi diri tentang waktu, sikap yang tidak memisahkan memisahkan masa lalu dari masa kini dan mendatang.

Kesadaran sejarah aktif menuntut pemahaman atas konsep lapis-kedua. Konsep lapis kedua adalah pemahaman tentang waktu sejarah yaitu pemahaman tentang perubahan, perkembangan, dan

kesinambungan dalam sejarah. Ketiga konsep itu adalah kerangka pengetahuan sejarah yang menjadikan siswa dapat membangun gambaran besar masa lalu manusia, juga pengetahuan yang lebih rinci tentang bagian dari masa lalu dipelajari dalam skala yang lebih kecil (gambaran kecil).19 Betapa pentingnya pemahaman akan waktu, karena pemahaman yang salah tentang konsep perubahan membuat sejarah tidak bisa dipahami atau tidak berguna. Jelas

19 Shemilt. “Drinking an ocean and pissing a

cupful”, dalam Symcox, L. and A. Wilschut

(eds). National History Standards: The Problem of the Canon and the Future of Teaching History: International Review of History Education. (Charlotte: Information Age Publishing, 2009), h. 76.

bahwa konsep lapis kedua adalah peralatan konseptual penting yang harus dikuasai siswa untuk dapat memahami sejarah.

Dalam hal pedagogi, kemampuan guru dalam didaktik dan metodik sama-sama penting. Mengingat pembelajaran sejarah harus dapat meningkatkan pemahaman konseptual tentang sejarah dan dapat memberikan pengajaran yang sesuai dengan bukti empiris tentang keadaan dan karakteristik siswa, maka guru sejarah sejarah menguasai disiplin ilmu sejarah, juga teori belajar. Tampaknya guru harus mampu mengelola kegiatan kelas dengan cerdas sehingga dapat membentuk pemahaman sejarah siswa. Hal itu tidak akan tercapai jika guru berpegang teguh pada tingkat berfikir rendah. Guru yang mengendaki siswa memiliki gagasan tingkat tinggi perlu memperlakukan siswa sebagai orang dewasa, mulai dari menyarankan apa yang harus dibaca, dibandingkan mengajarkan sekumpulan istilah. Guru perlu refleksif dan mendorong pemikiran ke arah jenis pengetahuan yang kita sebut sebagai

pemahaman teoretis. Mungkin yang terjadi pada guru sejarah saat ini menanggap diirnya telah mengajarkan kecakapan literatur sejarah, tetapi pada kenyataannya tidak mampu membentuk intelektual siswa, bahkan lebih rendah dari tujuan yang hendak dicapai dalam kurikulum.

(10)

95 jenis pengetahuan tentang sejarah, yaitu: 1) substantif, 2) prosedural, dan 3) konsep disiplin ilmu sejarah adalah tantangan bagi guru. Bisa jadi, guru sejarah ingin menerapkan pendekatan pembelajaran berorientasi kecakapan literatur sejarah, dalam praktiknya hanya

story telling yang berbasis pengetahuan hafalan.

Kedua, guru dituntut untuk mengenali karakter masing-masing siswa setidaknya pada dua hal, yaitu: 1) bagaimana cara siswa belajar, dan; 2) bagaimana pemahaman siswa tentang sejarah. Semua guru sudah dipastikan mempelajari teori belajar, meskipun kemampuan praktis mengajar tidak selalu sama dengan pemahaman mereka tentang teori belajar, bahkan cenderung hafalan saja. Seyogyanya bahwa pengetahuan tentang praktis teori belajar harus terkait dengan pengetahuan tentang bagaimana cara meningkatkan pemahaman siswa tentang sejarah. Pengetahuan tentang cara siswa belajar dan membelajarkan siswa dan pengetahuan tentang sejarah adalah dua variabel yang sangat menentukan keberhasilan pendekatan pembelajaran berorientasi intelektual.

[5] – Berada di Posisi Kurikulum

Sejarah Pada Kurikulum 2013?

Mengingat pentingnya kompetensi sikap, dalam Kurikulum 2013 rumusan kompetensi sikap dinyatakan secara ekplisit. Bukan hanya itu, kompetensi sikap (attitude) dipecah menjadi dua, yaitu (1) sikap agama dan (2) sikap sosial, dua kompetensi lain

yaitu kompetensi pengetahuan (3) dan kompetensi keterampilan (4), KI menjadi empat, disingkat P-S-S-K. Rumusan kompetensi P-S-S-K dari Kurikulum Sejarah dalam Kurikulum 2013 (Lihat Lampiran 1). Bacalah dan perhatikan dengan seksama rumusan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum 2013 dalam konteks Mapel Sejarah Kelas X SMA/MA. Para pengusung mengklaim Kurikulum 2013 terpadu. Penulis mengartikan terpadu sebagai keterkaitan-saling mempengaruhi secara vertikal antara kompetensi P-S-K dalam KI dan dan horizontal antara KI dengan KD. Penulis tidak menemukan kesinambungan antar-rumusan pada kompetensi P, kompetensi S dan kompetensi K. Penulis menganggap hubungan antara KI-2 dan KD-2.1 adalah hubungan umum-khusus dan khusus-umum yang bersandarkan pada penalaran induktif deduktif. Dalam rumusan kompetensi, KI-2 adalah pernyataan umum dan rumusan KD-2.1 adalah khusus yang diturunkan dari pernyataan umum. Bahkan antar KD sama sekali tidak ada jenis hubungan keterkaitan saling mempengaruhi.

Mengapa dalam Kurikulum

2013, hubungan antar-kompetensi

bukan terpadu? Menurut hemat penulis

(11)

96 alternatif. Kompetensi Sikap (agama dan sosial) kelihatan terlalu dipaksakan, karena uraian kompetensi Sikap yang tertuang dalam KD sama sekali tidak berkaitan dengan rumusan Kompetensi Pengetahuan. Logika kurikulum, sikap seseorang berhubungan dengan pengetahuan, Sikap sebagai akibat dari apa yang diketahui. Mengingat antara

Sikap dan Pengetahuan, masing-masing berasal dari tradisi yang berbeda dan tidak terpadu maka secara substansi Kurikulum 2013 bermasalah.

Penutup

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua tradisi pendekatan pembelajaran sejarah yang saling bertentangan. Pertentangan itu bersumber dari perdebatan dalam menempatkan sejarah sebagai ilmu humaniora atau ilmu sosial yang berimplikasi. Kedua tradisi berbeda karakteristik pada tiga hal, tujuan yang ditetapkan, jenis materi yang dipilih (jura pengorganisasian materi) dan metode belajar yang diterapkan.

Kurikulum 2013 nampaknya ingin memadukan dua tradisi itu, nampak dari rumusan kompetensi dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Jikakalau rumusan kompetensi sikap adalah nilai moral yang diambil dari tradisi utama, sedangkan rumusan kompetensi pengetahuan dan keterampilan mengambil ciri dari tradisi alternatif. Usaha memadukan kedua tradisi memang tidak salah, tetapi nampak tidak logis, karena dalam logika kurikulum

bahwa kompetensi Sikap adalah turunan dari kompetensi pengetahuan. Dalam kurikulum 2013, nampak bahwa rumusan kompetensi Sikap dan Pengetahuan sama sekali tidak berhubungan. Tidak ada rumusan kompetensi Pengetahuan yang dapat mendukung pencapaian pada kompetensi Sikap, karena kompetensi Pengetahuan mengambil ciri dari tradisi alternatif yang mengusung kompetensi sejarawan. Sementara itu, sikap moral tidak menjadi bagian dari kompetensi seorang sejarawan. Sikap moral berasal dari interpretasi moral dan salah jika seorang sejarawan mengkaji sejarah menggunakan interpretasi moral karena dapat menggerus objektivitas. Sejarawan bukanlah pemutus perkara moral atau hakim moral yang bertugas memutuskan benar atau salah, baik atau buruk.

(12)

97

DAFTAR PUSTAKA

Arthur, J., Davies, I., Kerr, D. and Wrenn, A. Citizenship Through Secondary History. Routledge: London, 2000.

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kompetensi Dasar SMA/MA Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013.

Barton, K. C. and Levstik, L. S.

Teaching History for the Common Good. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2004.

Brown, David. The State and Ethnic Politics in Southeast Asia. New York: Routledge, 1994.

Carr, E. H. What is History?. London: Penguin, 1961.

Collingwood, R.G. The Idea of History. Oxford: OUP 1993.

Donovan, M. S., Bransford J. D., and Pellegrino J. W. (eds). How People Learn: Bridging Research and Practice. Washington DC: National Academy Press, 1999.

Green, Andy, “Education and State

Formation in Europe and Asia”,

dalam Kennedy, K. (ed.). Citzenship Education and the Modern State.

New York:Falmer Press, 1997.

Halstead, M. and Taylor, M. “Learning and teaching about values”. Cambridge Journal of Education, 2000: 169-202 (132).

Hobsbawm, Eric. Nations and

Nationalism Since 1780.

Cambridge: CUP „Canto‟, 1990.

Kinloch, N. “Parallel catastrophes?

Uniqueness, Redemption and the

Shoah”, Teaching History, 2001.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kurikulum Tingkas SMA/MA, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, diunduh, 28 April 2013.

Lorenz, C. “Historical knowledge and historical reality: a plea for “internal

realism”. History and Theory, 1994:

297-327.

Maxwell, B. “Justifying educational

acquaintance with the moral horrors of history on psychosocial grounds: Facing History and Ourselves in

critical perspective.” Ethics and

Education, 2008.

Phillips, Robert. History Teaching, Nationhood and the State. London: Cassell, 1998.

Salmons, P. “Teaching or preaching?

The Holocaust and intercultural

education in the UK”, Intercultural

Education, 2003: 139-149 (143).

Shemilt. “Drinking an ocean and pissing a cupful”, dalam Symcox, L. and A.

Wilschut (eds). National History Standards: The Problem of the Canon and the Future of Teaching History: International Review of History Education. Charlotte: Information Age Publishing, 2009. Slater, (ed.). Teaching History in the

New Europe. London: Council of Europe, 1995.

(13)

98

LAMPIRAN 1

Posisi Kurikulum Sejarah 2013 Berpijak Di Antara Dua Tradisi

T

uj

u

an

M

at

eri

M

et

od

e

B

&

M

Internaliasi Nilai

Siswa Pasif

Penalaran Moral

Guru Aktif Klarifikasi Moral

Penilaian Moral Perilaku Moral

Keputusan Moral

Justifikasi Moral

Perolehan Kompetensi

Sikap

Pengetahuan

Keterampilan

Tiga Jenis Pengatahuan Disiplin Ilmu

Sejarah Internaliasi Nilai

Nilai Perilaku

Nilai Prosedural

Nilai Substantif

Nilai Moral Dalam Peristiwa Sejarah

Materi Ditentukan dari Tujuan Belajar

Nilai Moral Dari Materi Sejarah

Disiplin Ilmu Sejarah

Siswa Aktif

Kompetensi Profesional dan

Pedagogis Model Belajar Gaya Konstruktivis

Guru Aktif

Siswa Aktif

Kompetensi Profesional dan

Pedagogis Model Belajar Gaya Konstruktivis

Guru Aktif Tradisi Utama Kurikulum Sejarah

2013 Tradisi Alternatif

It

(14)

99

LAMPIRAN 2

SK dan KD Mata Pelajaran Sejarah (Peminatan) SMA/MA pada Kurikulum 2013

Tingkat SMA

Standar Kompetensi (SK) atau

Kompetensi Inti (KI) Kompetensi Dasar (KD)

Kelas X (1) 1.Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menghayati proses kelahiran manusia Indonesia dengan rasa bersyukur 1.2 Menghayati keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaran

agamanya 2.Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,

tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

2.1 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli terhadap berbagai hasil budaya zaman praaksara, Hindu-Buddha dan Islam

2.2 Meneladani sikap dan tindakan cinta damai, responsif dan pro aktif yang ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungannya

2.3 Berlaku jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran sejarah

3.Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1 Memahami pengertian ruang lingkup ilmu sejarah

3.2 Memahami dan menerapkan cara berfikir sejarah dalam mempelajari peristiwa-peristiwa sejarah

3.3 Memahami dan menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah dalam kajian terhadap berbagai peristiwa sejarah

3.4 Membedakan ciri-ciri berbagai bentuk historiografi: tradisional, kolonial dan modern.

3.5 Menganalisis manusia purba di Indonesia berdasarkan tipologi dan kaitannya dengan nenek moyang bangsa Indonesia

3.6 Mengevaluasi perkembangan teknologi pada zaman kehidupan praaksara dan pengaruhnya dalam kehidupan masa kini

3.7 Menganalisis hubungan kebudayaan Hoa-bin, Bacson, Dongson dan Sahuynh pada masyarakat awal di Indonesia

3.8 Mengevaluasi perkembangan peradaban kuno dunia dan pengaruhnya terhadap kehidupan masa kini

3.9 Menganalisis karakteristik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dan warisannya

3.10Menganalisis perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia 3.11Menganalisis karakteristik kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dan

warisannya

3.12Menganalisis perkembangan kebudayaan Islam di Indonesia 3.13Mengevaluasi proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha dan

Islam di Indonesia. 4.Mengolah, menalar, dan menyaji dalam

ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

4.1 Menyajikan pemahaman tentang ruang lingkup ilmu sejarah dalam bentuk tulisan.

4.2 Menerapkan cara berfikir sejarah dalam mengkaji peristiwa-peristiwa yang dipelajarinya.

4.3 Melakukan penelitian sejarah secara sederhana dan menyajikanya dalam bentuk laporan penelitian

4.4 Mengklasifikasi ciri-ciri historiografi: tradisional, kolonial dan modern. 4.5 Mengolah informasi tentang tipologi manusia purba di Indonesia dan

kaitannya dengan nenek moyang bangsa Indonesia serta menyajikannya dalam bentuk tulisan.

4.6 Membuat tulisan tetang perkembangan teknologi pada zaman kehidupan praaksara dan pengaruhnya dalam kehidupan masa kini. 4.7 Membuat tulisan tentang hubungan kebudayaan Hoa-bin, Bacson,

Dongson dan Sahuynh pada masyarakat awal di Indonesia. 4.8 Membuat dokumentasi tentang peninggalan peradaban kuno dunia. 4.9 Membuat peta sejarah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

termasuk di lingkungan terdekat.

4.10Membuat garis waktu kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, termasuk di lingkungan terdekat.

4.11Membuat tulisan tentang proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia.

Kelas XI (2) 1.Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menghayati nilai-nilai peradaban dunia yang menghargai perbedaan sebagai karunia Tuhan yang Maha Esa

2.Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah

(15)

100 lingkungan, gotong royong, kerjasama,

cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

2.2 Menunjukkan sikap cinta tanah air, nilai-nilai rela berkorban dan kerja sama yang dicontohkan para pemimpin pada masa pergerakan nasional, meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

3.1 Mengevaluasi pemikiran dan peristiwa-peristiwa penting di Eropa antara lain: Merkantilisme, Renaissance, Reformasi Gereja, Revolusi Industri yang berpengaruh bagi Indonesia dan dunia.

3.2 Mengevaluasi revolusi-revolusi besar dunia (Prancis, Amerika, China, Rusia dan Indonesia) serta pengaruhnya terhadap kehidupan umat manusia .

3.3 Mengevaluasi pengaruh imperialisme dan kolonialisme Barat di Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan agama.

3.4 Menganalisis hubungan perkembangan faham-faham besar seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, Pan Islamisme dengan gerakan nasionalisme di Asia-Afrika

3.5 Mengevaluasi pengaruh PD I dan PD II terhadap kehidupan politik, sosial-ekonomi dan hubungan internasional (LBB, PBB ), pergerakan nasional dan regional.

3.6 Mengevaluasi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, militer dan pendidikan di Indonesia pada zaman pendudukan Jepang. 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam

ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

4.1 Membuat karya tulis tentang pemikiran dan peristiwa-peristiwa penting di Eropa antara lain: Merkantilisme, Renaissance, Reformasi Gereja, Revolusi Industri yang berpengaruh bagi Indonesia dan dunia. 4.2 Menyajikan hasil evaluasi tentang revolusi-revolusi besar dunia

(Prancis, Amerika, China, Rusia dan Indonesia) serta pengaruhnya terhadap kehidupan umat manusia dalam bentuk tulisan dan media lain. 4.3 Menyajikan hasil evaluasi tentang pengaruh imperialisme dan

kolonialisme Barat di Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan dan agama dalam bentuk tulisan dan media lain 4.4 Menyajikan hasil evaluasi tentang hubungan perkembangan

faham-faham besar seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, Pan Islamisme dengan gerakan nasionalisme di Asia-Afrika dalam bentuk tulisan dan media lain.

4.5 Menyajikan hasil evaluasi tentang pengaruh PD I dan PD II terhadap kehidupan politik, sosial-ekonomi dan hubungan internasional (LBB, PBB ), pergerakan nasional dan regional dalam bentuk tulisan dan media lain

4.6 Membuat kliping tentang kehidupan sosial, ekonomi, budaya, militer dan pendidikan di Indonesia pada zaman pendudukan Jepang. 4.7 Menyajikan gambaran peristiwa-peristiwa sekitar Proklamasi

17Agustus 1945 dan artinya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bentuk media visual

Kelas XII (3)

1.Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menghayati proses perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menunjukkan rasa syukur terhadap rahmat dan karunia-NYA 2.Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,

tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa dan dunia.

2.1 Menunjukan sikap empati terhadap para pejuang dan mengamalkan nilai-nilai kejuangan para pahlawan dalam kehidupan sehari-hari 2.2 Berlaku jujur dan bertanggung-jawab dalam mengerjakan tugas-tugas

pembelajaran sejarah

2.3 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli, kerja sama dan proaktif yang dipelajari dari peristiwa dan para pelaku sejarah dalam berpartisipasi menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara Indonesia

3.Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untukmemecahkan masalah.

3.1 Mengevaluasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi, politik dan militer pada awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1950

3.2 Mengevaluasi secara kritis peristiwa revolusi nasional dan sosial yang terjadi pada awal-awal kemerdekaan

3.3 Mengevaluasi secara kritis hubungan kausalitas peristiwa-peristiwa pergolakan politik dan pemberontakan antara lain: PKI Madiun 1948, DI/TII,APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 1965 3.4 Mengevaluasi secara perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya

dan pendidikan pada masa demokrasi Liberal dan demokrasi terpimpin 3.5 Mengevaluasi perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya dan

(16)

101

3.6 Mengevaluasi perkembangan dan dampak Perang Dingin terhadap kehidupan politik dan ekonomi global

3.7 Mengevaluasi sejarah organisasi global dan regional diantaranya: GNB, ASEAN, OKI, APEC, OPEC, MEE, GATT, WTO, NAFTA dan CAFTA

3.8 Mengevaluasi sejarah kontemporer dunia antara lain runtuhnya Uni Soviet, Jerman Bersatu, Konflik Kamboja, Perang Teluk, Apartheid di Afrika selatan, Konflik Yugoslavia dan terorisme dunia bagi kehidupan sosial dan politik global

3.9 Mengevaluasi perkembangan IPTEK dalam era globalisasi dan dampaknya bagi kehidupan manusia.

3.10Mengevaluasi perkembangan Revolusi Hijau pada zaman Orde Baru 4.Mengolah, menalar, menyaji, dan

mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

4.1 Menyajikan informasi dalam bentuk tulisan tentang kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi, politik dan militer pada awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1950

4.2 Merekonstruksi peristiwa revolusi nasional dan sosial yang terjadi pada awal-awal kemerdekaan dan menyajikan dalam bentuk tulisan 4.3 Merekonstruksi hubungan kausalitas peristiwa-peristiwa pergolakan

politik dan pemberontakan antara lain: PKI Madiun 1948, DI/TII,APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 1965 dan menyajikan dalam bentuk tulisan

4.4 Merekonstruksi perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan pada masa demokrasi Liberal dan demokrasi terpimpin dan menyajikan dalam bentuk tulisan

4.5 Merekonstruksi perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan pada masa Orde Baru dan Reformasi dan menyajikan dalam bentuk tulisan

4.6 Membuat kliping tentang perkembangan dan dampak Perang Dingin terhadap kehidupan politik dan ekonomi global

4.7 Membuat kliping tentang sejarah organisasi global dan regional diantaranya: GNB, ASEAN, OKI, APEC, OPEC, MEE, GATT, WTO, NAFTA dan CAFTA

4.8 Merekonstruksi salah satu peristiwa sejarah kontemporer dunia seperti runtuhnya Uni Soviet, Jerman Bersatu, Konflik Kamboja, Perang Teluk, Apartheid di Afrika selatan, Konflik Yugoslavia dan terorisme dunia bagi kehidupan sosial dan politik global dan menyajikan dalam bentuk tulisan

4.9 Membuat kliping tentang perkembangan IPTEK dalam era globalisasi dan dampaknya bagi kehidupan manusia

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertolak dari kerangka teori bahwa penggunaan modul kontekstual ikut mempengaruhi minat belajar matematika siswa, dimana modul kontekstual adalah

Untuk jumlah kelahiran dapat diperoleh dari hasil sensus atau survei keluarga, laporan kelahiran dari rumah sakit, laporan dari petugas keluarga berencana, bidan

Pertama : Perjanjian Kinerja Tahunan (PKT) Tahun 2018 sebagaimana tercantum dalam lampiran Surat Keputusan ini merupakan acuan untuk melakukan pengukuran capaian

ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA MODAL PADA PT GUDANG GARAM TBK DAN PT HANJAYA MANDALA SAMPOERNA TBK PERIODE 2009-2013.. DI BURSA

Seluruh Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya, yang telah memberikan ilmu yang tak akan ada nilainya hingga akhir hayat.. Nenekku, Isjah Sofiati, yang terus

Prosedur Pendaftaran Anggota Anggota SIPTU SIPTU BSPA Arsip SIPTU Prosedur Simpanan BSPA Arsip Copy BSPA Data Simpanan Prosedur Pengajuan Pinjaman BSPA Ketua FPP FPP Acc