T4/PA-TR/A/2015 Jusuf Yulindo
210110130094
Apresiasi Artikel Opini
Artikel 1 Judul: “Wartawan, Pekerja atau Profesi?”
Penulis: S. Sahala Tua Saragih (Dosen Jurusan Jurnalistik, Fikom Universitas Padjadjaran, Jatinangor)
Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 14 Februari 2008
I. Rangkuman
Beberapa jam setelah kematian Presiden kedua Indonesia, Soeharto, sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan sebuah wawancara bersama seorang mantan wartawati majalah berita mingguan.. Mantan wartawati itu mengutarakan kesan-kesannya selama meliput di Bina Graha dan Istana Presiden dan mengatakan bahwa Soeharto sangat menjaga kewibawaan dengan cara menjaga jarak dengan para wartawan. Sikap itu pun ditiru para bawahannya.
Ada beberapa contoh betapa para wartawan kurang dihargai keberadaannya. Pertama, ketika para wartawan meliput di Bina Graha. Kala itu, mereka disuguhi menu makan siang berupa nasi kotak yang telah dikerubuti semut-semut.
Kedua, ketika para wartawan meliput sebuah seminar nasional yang dibuka Menteri Kehakiman di Bandung pada 1990-an. Usai membuka seminar, menteri dan rombongannya ngopi dan ngeteh di lantai dua hotel. Para wartawan mengikuti sang menteri. Seorang panitia membentak para wartawan dan berkata bahwa minuman untuk para peserta seminar dan wartawan disediakan di lantai satu. Seorang wartawan berucap tegas bahwa mereka “mencari makan” (bekerja), bukan “mencari makanan”. Kemudian para wartawan menerobos barisan panitia dan berhasil mewawancarai Menteri Kehakiman.
makan siang. Lalu, seorang panitia menghadang antrean wartawan sambil berkata bahwa telah disediakan makanan khusus wartawan. Lalu dikeluarkan nasi bungkus dari sebuah plastik. Kontan seorang wartawan berkata bahwa mereka bukan pengemis yang mengharapkan nasi kotak. Mereka datang ke tempat itu dengan tujuan mencari nafkah dari kegiatan jurnalistiknya.
Bila wartawan dipandang sebagai pekerjaan, motif dan tujuannya hanyalah uang. Terlebih pascareformasi. Namun, bila wartawan dipahami sebagai profesi, tidak banyak orang yang terjun dan bertahan dalam dunia jurnalisme.
Sebuah pekerjaan layak disebut profesi bila memiliki ciri-ciri: keterampilan berdasarkan teoretis; organisasi profesi; kode etik; diabdikan untuk kepentingan banyak orang, dan sebagainya. Suatu profesi menuntut bidang ilmu tertentu yang dipelajari dalam waktu relatif lama dan dibaktikan kepada masyarakat.
Untuk menjaga profesionalismenya, wartawan harus menggunakan prosedur yang benar dalam kegiatan jurnalistiknya. Bila didasarkan pada hal itu, sebagian besar wartawan memahami profesinya sebagai pekerjaan belaka. Agar citra wartawan pulih (sebagai profesi), presiden dan DPR harus membuat undang-undang khusus wartawan.
II. Apresiasi
Dalam artikel opini ini, penulis mempertanyakan status wartawan, apakah sebagai pekerjaan atau profesi. Dalam bagian pembukaan artikel, penulis memberi contoh-contoh berupa kesan seorang mantan wartawati majalah berita mingguan yang pernah meliput kegiatan Presiden Soeharto selama tujuh tahun di Bina Graha. Lalu, kesan wartawati terhadap Soeharto tadi, dikaitkan dengan tiga contoh kasus bagaimana wartawan diperlakukan semena-mena oleh pihak-pihak tertentu. Berangkat dari contoh-contoh kasus tadi, penulis mengutarakan seperti apa kriteria sebuah pekerjaan layak disebut profesi, serta kontekstualisasinya dengan dunia jurnalisme.
mantan Direktur Jenderal Radio, Televisi dan Film, Ishadi S.K. Pendapat Ishadi berisi hal-hal yang dilakukan seorang wartawan profesional.
Pada bagian akhir artikel, penulis (S. Sahala Tua Saragih, Dosen Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad) mengimbau pemerintah untuk membuat undang-undang khusus wartawan demi pulihnya citra wartawan di mata publik.
Saya menyukai pemaparan berbagai contoh kasus yang dipaparkan penulis pada bagian awal artikel. Dengan memberikan beberapa contoh konkret, pembaca dapat memiliki bingkai pengetahuan yang berkaitan dengan topik atau permasalahan yang diketengahkan oleh penulis. Pengutipan beberapa pendapat pakar di bagian isi artikel juga merupakan usaha penulis dalam mempertahankan kredibilitasnya sebagai akademisi bidang jurnalisme yang mempertanyakan status seorang wartawan sebagai pekerjaan atau profesi. Penulis juga memberikan informasi secara seimbang bagaimana status wartawan dipandang sebagai pekerjaan yang ujung-ujungnya hanya bermotif materi, serta wartawan sebagai profesi yang dilandasi kode etik, ilmu pengetahuan tertentu, dan pengamalan pekerjaannya bagi masyarakat.
Namun, ada hal yang mengganjal saya ketika melihat judul artikel ini. Kata “pekerja” tidak tepat dipilih karena hal yang disinggung pada artikel ini ialah “pekerjaan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008), pekerja berarti (1) orang yang bekerja, (2) orang yang menerima upah atas hasil kerjanya; buruh; karyawan. Pekerjaan
berarti (1) barang apa yang dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dan sebagainya); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan, (2) pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah, (3) hal bekerjanya sesuatu. Lalu,
profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Jadi, perbaikan kata yang tepat pada judul artikel ini ialah “Wartawan, Pekerjaan atau Profesi?”.
Ada juga kesalahan penulisan nama yang disingkat, “Ishadi SK”. Perbaikan yang seharusnya adalah “Ishadi S.K”.
atau kejadian yang sedang menjadi pusat perhatian masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan paragraf pertama soal waktu meninggalnya Soeharto. Lalu pada bagian isi artikel, penulis mengembangkan bahasan artikel dengan menggunakan teknik kutipan. Hal ini dapat dilihat dengan dicantumkannya pendapat Terence J. Johnson, B. Barber, dan Brandeis tentang kriteria profesi. Penjelasan hal-hal yang dilakukan oleh wartawan profesional yang dikemukakan Ishadi S.K. pun merupakan teknik pengembangan menggunakan kutipan. Kemudian, pada bagian penutup artikel, penulis menggunakan teknik mengajak khalayak untuk melakukan suatu tindakan tertentu yang dianggap relevan dan sifatnya mendesak. Hal ini juga dibuktikan dengan imbauan kepada pemerintah agar membuat UU Wartawan.
III. Simpulan
1. Dengan memberikan contoh-contoh konkret pada bagian pembukaan, pembaca dapat memiliki landasan pengetahuan atas permasalahan yang dibahas pada artikel.
2. Pengutipan pendapat dari sebuah buku atau seorang tokoh dapat memperkuat kredibilitas penulis artikel.
Artikel 2 Judul: “Mengenang Pak Rosihan”
Penulis: S. Sahala Tua Saragih (Dosen Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad)
Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 15 April 2011
I. Rangkuman
Dari banyak tokok pers nasional, salah satu yang paling banyak disebut ialah Rosihan Anwar. Ia bukan sarjana bahasa, namun buku-buku jurnalistiknya banyak dijadikan rujukan oleh dosen dan mahasiswa jurusan jurnalistik/fikom di berbagai kampus. Salah satunya adalah
Bahasa Jurnalistik dan Komposisi (1979) yang telah dicetak ulang sebanyak sepuluh kali.
senior. Dengan begitu, ia menanamkan bahwa wartawan harus selalu berkarya kendati telah pensiun secara institusi.
Pascakematian istrinya, Rosihan masih berkarya. Hingga kematian menghampirinya pada 14 April 2011. Berita kematiannya tersiar hingga ke seantero dunia.
II. Apresiasi
Dalam artikel ini, penulis mencoba memopulerkan kata “munsyi” yang masih banyak orang merasa awam terhadap kata tersebut. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008), munsyi berarti guru bahasa; ahli bahasa; pujangga.
Berdasarkan Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional (2004), jenis intro atau pembukaan yang digunakan penulis ialah menghubungkan dengan peristiwa mutakhir. Hal ini dapat dilihat ketika artikel ini diterbitkan di Pikirian Rakyat edisi 15 April 2011. Selain itu, dalam bagian pembukaan juga disebutkan tanggal kematian Rosihan Anwar, 14 April 2011.
Teknik intro yang digunakan pada artikel ini juga berjenis memberikan pujian pada khalayak atas prestasi mereka. Hal ini dibuktikan dengan Rosihan Anwar sebagai tokoh pers nasional yang paling sering disebut dan dijadikan panutan dalam membuat berbagai karya jurnalisme.
III. Simpulan
1. Dalam bagian pembukaan sebuah artikel dapat ditemukan berbagai jenis intro atau pembukaan.
2. Salah satu ide dalam menulis artikel opini ialah mengenang seorang tokoh besar yang meninggal dunia.
Artikel 3 Judul: “Pejabat Pengikut Rasul”
Penulis: Asep Sumaryana (Kepala LP3AN, Lektor Kepala Jurusan Administrasi Negara FISIP Unpad)
Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu, 15 Januari 2014
I. Rangkuman
Seakan lebih mudah meminta maaf kepada Tuhan daripada sesama manusia.
Pemikiran pejabat bisa saja melenceng dari sifat amanah. Rasulullah SAW menunjukkan kesederhanaannya sebagai pejabat, bahkan saat menggunakan fasilitas negara.
Saat fasilitas negara hanya boleh dipakai untuk kepentingan dinas, saat itu pula kebanyakan meluas sampai kegiatan keluarga, kerabat, dan organisasi politik. Keberhasilan suatu parpol bisa jadi terletak pada kemampuan menjadikan sebagian besar kadernya menjadi pejabat dan keseluruhannya dilihat dari penggunaan fasilitas negara untuk kegiatan parpol.
Kesederhanaan menjadi barang langka dalam kehidupan pejabat publik. Tekad sejumlah pejabat publik berubah dari kepentingan publik yang digembar-gemborkan saat kampanye menjadi berubah untuk memperkaya diri. Dana apa pun dilibas. Jika karier ingin menanjak, harus menyetorkan sejumlah uang yang disepakati agar dapat menduduki posisi penting.
Agama bisa saja menjadi alat untuk menceramahi orang lain. Untuk diri sendiri, jabatan dimanfaatkan untuk memuaskan hawa nafsu. II. Apresiasi
Sebagai pembaca, saya kurang memahami isi artikel ini karena banyaknya kata-kata dalam bahasa Sunda maupun bahasa lainnya yang digunakan. Seperti “lampah”, “samakbrek”, “kekedemes”, “kayungyun”, “notorogan”, “herang caina, beunang laukna”. Kendati artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat dengan segmentasi pembaca kebanyakan berasal dari suku Sunda, bukan berarti artikel ini tidak dibaca oleh orang lain yang bukan berasal dari suku Sunda dan tidak bisa berbahasa Sunda. Seharusnya, penulis menjabarkan dalam tanda kurung arti-arti dari kata-kata di atas agar pembaca tidak kesulitan saat memahami isi artikel ini.
Dari segi teknik pengembangan bahasan artikel berdasarkan
Pada paragraf ke delapan, penulis hanya menyebutkan sumber kutipan berupa “Bowman (2010)”. Masih berdasarkan Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional, kutipan ini hanya menyebutkan nama belakang penulis dan tahun. Tidak disertakan sama sekali halaman, nama buku atau sumber lainnya. Kutipan ini tidak memberikan informasi sama sekali dan pembaca tidak menyukai cara pengutipan seperti ini. Hal ini akan memengaruhi kredibilitas penulis artikel.
Berdasarkan sumber ide menulis artikel, penulis memanfaatkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai cantelannya.
III. Simpulan
1. Artikel yang baik adalah disajikan dengan bahasa yang umum. Bukan berarti pembaca di luar segmentasi surat kabar yang bersangkutan tidak membaca artikel tersebut.
2. Pengutipan sumber dengan mencantumkan nama belakang penulis dan judul (buku, jurnal, artikel, dan lain-lain), serta tahun terbit dan halaman yang dikutip bertujuan agar kredibilitas penulis artikel terjaga.
Artikel 4 Judul: “2014: Petruk (Harus) Jadi Raja!”
Penulis: Yudhistira A.N.M. Massardi (Pengamat Pendidikan) Sumber: Kompas, Selasa, 24 Desember 2013
I. Rangkuman
Sebagai rakyat kecil pemilik suara rakyat yang merupakan penerapan dari suara Tuhan, dalam demokrasi rakyatlah yang berkuasa. Rakyat yang menentukan siapa yang akan menjadi penguasa. Rakyat pula yang akan mengoreksi dan mengevaluasi kelemahan, kekacauan, dan kebusukan suatu rezim.
Fenomena Jokowi-Ahok yang terpilih menjadi pemimpin DKI dan memperoleh peringkat tinggi di semua jajak pendapat untuk calon presiden, mirip fenomena Petruk jadi raja. Para calon pemimpin di negei ini seharusnya melihat seluruh paradigma, tidak hanya belajar meniru langkah blusukan-nya. Terpilih dan teridolakannya Jokowi dan Ahok pertanda ekspresi dari perasaan rakyat yang secara fundamental telah terzalimi oleh rezim yang begitu bobrok.
Berbeda dengan artikel “Pejabat Pengikut Rasul”, artikel ini menyertakan arti lain dari vox populi dan vox Dei sehingga pembaca tidak kebingungan atas arti dari istilah tersebut. Namun, kata “pengejawantahan” lebih baik diganti dengan “penerapan” karena istilah tadi tidak umum diketahui masyarakat. Ditambah lagi dengan wilayah sebaran Kompas secara nasional.
III. Simpulan
1. Penulis harus menggunakan kata atau istilah yang lebih umum agar pembaca dapat memahami isi artikel.
2. Cerita faktual atau fiktif dapat dijadikan sebagai teknik dalam pembukaan artikel.
IV. Pertanyaan
1. Apa saran dari media massa bagi penulis yang “kekeuh” menggunakan istilah-istilah yang sukar dimengerti orang banyak dalam artikelnya?
2. Bagaimana cara mengisahkan contoh konkret dengan tepat agar bagian pendahuluan sebuah artikel tidak mendominasi bagian lainnya?
3. Apakah penegasan permasalahan harus dilakukan dua kali, di bagian pembuka dan penutup artikel?
4. Bagaimana sikap redaksi menyikapi penggunaan kata atau istilah berbahasa tertentu agar artikel yang dikirimkan penulis dapat dipahami para pembacanya?
5. Apa dampak yang ditimbulkan bila dalam artikel mengenang seorang tokoh yang meninggal dunia, dicantumkan berbagai keburukan atau kekurangan tokoh tersebut?
Daftar Pustaka
A.S. Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Penulis & Jurnalis Profesional, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2004.