• Tidak ada hasil yang ditemukan

T2 Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "T2 Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

T2/PA-TR/A/2015 Jusuf Yulindo

210110130094

Apresiasi Diktat Pengantar Penulisan Artikel Karya S. Sahala Tua Saragih

I. Rangkuman

Yapi Tambayong (lebih dikenal dengan nama Remy Sylado, Dova Zila, dan Alif Danya Munsyi) dalam Saya dan Buku dan Teater dan Musik dan Koran dan Seterusnya, mengatakan bahwa banyak persamaan antara manusia dan hewan: sama-sama bersandang, pangan, dan papan. Namun, perbedaan yang mendasar ialah manusia mengenal buku. Ia juga menyatakan bahwa jika manusia masa kini tidak mengindahkan sebuah buku apalagi mengamalkannya, niscaya manusia tersebut menjadikan dirinya ibarat hewan.

Manusia dapat mengenal peradaban melalui tulisan. Berbagai informasi seperti iptek, pemikiran para filsuf, ilmuwan, negarawan, bahkan ajaran agama pun tidak akan manusia ketahui tanpa melalui tulisan.

A.S. Haris Sumadiria dalam Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional mengutip pendapat Gelb yang menyatakan bahwa tulisan membedakan manusia beradab dan biadab. Haris juga menambahkan jika tidak ingin disebut sebagai manusia biadab, kita harus membiasakan diri menulis dan menjadikannya sebagai kebutuhan pokok layaknya makan-minum.

Namun, tidak semua orang yang telah mengenal aksara dan pandai menulis layak disebut manusia beradab. Tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler (pemimpin Partai Nazi di Jerman) dan Pol Pot (pemimpin Kamboja) merupakan orang-orang terpelajar yang nyatanya menunjukkan kebiadabannya dengan membunuh jutaan orang, tidak terkecuali rakyatnya sendiri.

(2)

peradaban suatu bangsa. Kualitas seseorang pun dapat ditentukan dari jumlah dan mutu bacaannya. Kemajuan suatu bangsa juga dapat dilihat dari berapa jumlah buku dan media massa cetak yang dikonsumsi tiap penduduknya per tahun. Sayangnya, Indonesia merupakan salah satu negara di lingkup ASEAN (Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara) yang rakyatnya kurang suka membaca buku dan media massa cetak.

Dalam dunia penulisan modern dikenal berbagai jenis karya tulis. Jenis-jenis karya tulis tersebut adalah karya tulis kesusastraan (puisi, prosa, naskah drama), karya tulis ilmiah atau Iptek, karya tulis sejarah, dan karya tulis jurnalisme.

Dalam karya jurnalisme (dalam konteks media massa cetak) dikenal dua kelompok besar yaitu kelompok berita (news) dan kelompok pendapat atau pandangan (views). Kelompok berita (news) terdiri dari berita langsung (straight news), berita khas (feature news), berita mendalam (indepth reporting news), wawancara, dan foto berita. Kelompok pandangan (views) terdiri dari artikel, tajuk rencana (editorial), resensi buku, karikatur, pojok, dan surat pembaca.

Salah satu karya jurnalistik kelompok pendapat (views) adalah artikel. Pengertian artikel berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah karya tulis lengkap dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya. Berdasarkan Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M. Echols dan Hassan Shadily, artikel adalah karangan, tulisan (dalam surat kabar, majalah).

Lain halnya dengan pendapat penulis diktat ini, S.Sahala Tua Saragih. Ia menyatakan bahwa dalam konteks jurnalisme, artikel adalah karya tulis seseorang atau lebih dari seorang yang dimuat di media massa cetak atau jurnal ilmiah atau media lainnya. Artikel berisi deskripsi dan analisis suatu topik masalah (biasanya aktual) beserta kritik, pendapat, sikap, imbauan, dan saran sang penulis.

(3)

Artikel ilmiah adalah artikel yang bersifat ilmu, memenuhi syarat atau hukum ilmu pengetahuan, dan disajikan dengan bahasa tingkat tinggi yang hanya dipahami oleh pembaca tertentu, semisal komunitas atau masyarakat ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Biasanya, artikel ilmiah dimuat di majalah vak atau jurnal ilmiah. Berbeda dengan artikel ilmiah populer yang disajikan dengan bahasa yang lebih awam sehingga pembaca yang tidak berasal dari suatu komunitas atau masyarakat ilmu pengetahuan tertentu dapat memahami isinya. Artikel ilmiah populer biasa ditemukan dalam media massa cetak dan dalam jaringan (online).

Menulis artikel dapat digolongkan kegiatan intelektual. Seseorang tidak otomatis menjadi penulis artikel di media massa cetak dan dalam jaringan (online) sekalipun ia telah mengikuti kursus penulisan artikel selama setahun. Bahkan seorang lulusan Prodi Jurnalistik pun hanya sedikit yang mampu dan/atau mau menulis artikel di media massa. Hal itu karena menulis artikel bukan suatu keterampilan, tapi keahlian. Bisa saja seseorang dapat menulis artikel dengan baik secara teknis. Namun secara kualitas isi, belum tentu baik karena artikel yang baik ialah artikel yang ditulis oleh seseorang yang menguasai aspek kebahasaan dan mengkonsumsi banyak referensi berkualitas layaknya kebutuhan pokok seperti makan dan minum.

Seseorang yang ingin menjadi penulis artikel yang andal hendaklah memiliki minat yang besar karena kemampuan menulis artikel bukan faktor bakat atau keturunan. Penulis artikel hendaklah memenuhi kebutuhan informasi yang diinginkan sebagian besar pembaca media massa cetak dan dalam jaringan. Melalui artikel, penulis dapat melakukan berbagai hal: melaksanakan fungsi media massa (mendidik, memberi informasi, dan membentuk opini publik); memaknai suatu peristiwa secara tepat, utuh, dan lengkap; melakukan tanggung jawab sosialnya sebagai kaum intelektual dengan mengkritik atau mengoreksi pihak-pihak yang memang harus dikritik dan dikoreksi.

(4)

merupakan beberapa hal yang harus ditanamkan dalam diri seorang penulis artikel.

Artikel jenis argumentatif-persuasif relatif sulit dibuat karena penulis harus menjelaskan ide yang didukung argumentasi yang kuat, di samping membujuk pembaca untuk mengikuti ide atau opininya. Artikel yang relatif mudah dibuat ialah artikel informatif karena penulis tidak usah menjelaskan argumentasi dan imbauannya. Cukup dengan memaparkan suatu informasi.

Selain beberapa hal di atas, satu hal yang patut diingat seorang penulis artikel ialah dapat memahami segmentasi media massa yang akan dikirimi artikel. Hal itu diperlukan agar artikel yang dikirim penulis tidak salah sasaran.

Setiap artikel terdiri dari tiga bagian besar: pendahuluan (berisi latar belakang suatu masalah yang dibahas); isi (analisis penulis terhadap suatu masalah dan kalau perlu disertai pemecahan masalah); penutup (saran penulis atas suatu permasalahan).

Para Redaktur Opini menggunakan beberapa kriteria dalam memilah setiap artikel yang dikirimkan oleh penulis artikel. Kriteria-kriteria tersebut adalah sistematika, bahasa, gaya, dan aktualitas atau hal yang diaktualkan kembali.

Berbagai ide dapat menjadi sumber menulis artikel. Sumber-sumber ide tersebut di antaranya menyimak berbagai berita, membaca artikel dan tajuk rencana, menonton televisi, realitas di lingkungan sekitar, membaca buku, menikmati karya seni dan sastra, bahkan juga bisa dari pengalaman hidup penulis artikel. Selain itu, ide lainnya didapat dengan memanfaatkan berbagai hari-hari besar keagamaan, perayaan atau peringatan sebagai cantelan untuk menulis artikel.

II. Apresiasi

(5)

bersandang (manusia berpakaian, hewan berbulu), berpangan (makan-minum), dan berpapan (manusia memiliki rumah, hewan memiliki sarang). Saya setuju dengan kutipan tersebut karena hal yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah manusia dikaruniai akal dan pikiran, sedangkan hewan sebatas dikaruniai naluri. Dengan akal dan pikirannya, manusia dapat menghasilkan suatu karya, misalnya membuat sebuah tulisan.

Penulis juga menyadarkan pembaca bahwa melalui tulisan, kita dapat mengetahui berbagai informasi yang tidak terhingga jumlahnya. Suatu peradaban sebuah bangsa pun dapat dinilai dari seberapa produktif karya tulis yang dihasilkan serta dibaca masyarakatnya. Termasuk, penulis memberitahukan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang masyarakatnya memiliki minat baca yang rendah.

Penulis berpesan kepada pembaca bahwa dengan menulis sebuah artikel, seseorang dapat mengaktualisasi dirinya. Dimuatnya artikel-artikel yang ditulis membuat seseorang semakin terlihat eksistensi dirinya. Tentunya, seseorang tersebut merasakan kepuasan batin dan material (bila diberi honor tertentu). Hal itu membuat saya teringat akan kata pengantar yang ditulis oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Deddy Mulyana dalam Pengantar Ilmu Jurnalistik, untuk Pemula yang Menyukai Dunia Jurnalistik yang ditulis juga oleh dosen Prodi Jurnalistik Fikom Unpad Dede Mulkan. Begini petikannya:

“Kebiasaan menulis di media massa sangat menyenangkan dan tentu saja “menghasilkan”. Ada kepuasan tersendiri yang tak tergantikan saat tulisan kita dimuat di media cetak. Selain memperoleh kepuasan batin, kita juga memperoleh kepuasan material (honor tulisan). Nama kita juga menjadi lebih dikenal oleh orang lain, dan bahkan bisa jadi ide-ide atau gagasan yang kita tuangkan dalam tulisan itu diperhitungkan pihak lain.” (Mulkan, 2013: ii dan iii).

Penulis artikel yang produktif dan telah menulis lebih dari 30 buah buku itu menambahkan pentingnya kegiatan menulis karena dapat melatih otak kiri dan kanan.

(6)

dapat melatih otak kanan kita, terutama saat kita menuliskan hal-hal yang penuh dengan sentuhan manusiawi, misalnya ketika kita menulis karangan khas (feature), apalagi saat kita menciptakan tulisan yang berbau sastra, seperti cerpen, novel, dan puisi, meskipun bentuk-bentuk tulisan ini di luar tulisan jurnalistik.” (Mulkan, 2013: iii).

Pendapat di atas juga ditegaskan oleh A.S. Haris Sumadiria dalam kata pengantar Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional seperti berikut ini:

“...menulis itu penting, paling tidak untuk memenuhi tiga hal. Pertama, sebagai wahana diskusi dan sosialisasi gagasan. Kedua, memberi kontribusi pemikiran dalam kerangka mencari solusi terhadap suatu masalah. Ketiga, sebagai sarana proses aktualisasi dan eksistensi diri. Dengan menulis, kita akan diketahui dan dinilai masyarakat, apakah termasuk orang penting dan karena itu layak dikenang, atau sebaliknya orang tidak penting dan karena itu harus dilupakan.” (Sumadiria, 2004: vi).

Pada bagian akhir diktat, penulis memberikan semangat kepada pembaca diktat ini bahwa teknik menulis artikel tidak sulit. Masalah utama yang dihadapi ketika akan menulis sebuah artikel hanya pada sumber ide. Hal itu dapat diatasi jika kita memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi penulis artikel.

Kedua, kesalahan penulisan kata. Pada halaman 5 paragraf kedua ditemukan penulisan kata popular. Sementara pada paragraf keempat digunakan kata populer. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1205), penulisan kata yang benar adalah populer. Populer berarti: dikenal dan disukai orang banyak (umum); sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak; disukai dan dikagumi orang banyak.

Ketiga, ketidaktepatan konteks istilah yang digunakan pada pengertian artikel menurut Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M. Echols dan Hassan Shadily. Menurut kamus tersebut, artikel adalah karangan, tulisan (dalam surat kabar, majalah). Saya tidak setuju dengan pengertian tersebut karena artikel termasuk ke dalam karya jurnalisme yang selalu mengedepankan fakta dan data. Sementara karangan tentunya bisa saja dapat berasal dari imajinasi sang penulis. Karangan berarti: hasil mengarang; tulisan; cerita; artikel; buah pena; 2 ciptaan; gubahan (lagu, musik, nyanyian); 3 cerita yang diada-adakan (yg dibuat-buat) (2008: 683).

(7)

pendapat yang dikutip dari sebuah buku. Seperti pada halaman 2 dan 3. Pada halaman 2 terdapat kutipan dari Haris Sumadiria dalam Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional yang menyatakan bahwa jika ingin disebut orang beradab, harus membiasakan diri menulis dan menjadikannya kebutuhan pokok ibarat makan dan minum. Penulis diktat ini pun mempertanyakan apakah semua orang pintar yang pandai menulis sudah pasti beradab. Penulis pun memberikan dua contoh pemimpin dari kalangan terpelajar (Adolf Hitler dari Jerman dan Pol Pot dari Kamboja) yang melakukan kebiadaban dengan membunuh banyak orang.

Selain itu, masih dalam halaman 3, penulis pun menganggap ungkapan “Anda adalah apa yang Anda baca” memiliki kekurangan bila dikaitkan dengan konteks kemajuan suatu bangsa berdasarkan budaya membaca dan menulis karya tulis. Penulis pun menambahkan jika seseorang dapat diketahui kualitasnya berdasarkan apa yang orang tersebut baca dan tulis.

Hal kelima yang saya kagumi setelah penulis mempertanyakan istilah yang dianggap dapat menimbulkan perbedaan persepsi ialah mencari makna suatu istilah dalam Kamus Bahasa Indonesia terlebih dahulu. Dengan memberi tahu makna suatu istilah secara leksikal, penulis ingin agar tidak terjadi kekeliruan pemahaman terhadap apa yang dikutip dari suatu sumber tulisan itu.

(8)

Berbeda dengan A.S. Haris Sumadiria yang mencantumkan hal-hal tersebut dalam Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional (2004) halaman 73 sampai 79. Berikut saya sarikan cara mengirim artikel yang dimaksud Haris dalam bukunya: naskah dimasukkan ke dalam amplop kabinet atau amplop besar dan ditujukan kepada redaksi dengan alamat lengkap dan akurat; pada sudut kiri atas amplop ditulis “artikel opini” dengan huruf kapital untuk memudahkan sekretariat redaksi menyortir dan menyeleksi kiriman naskah yang diterima; pada sudut kiri bawah amplop ditulis nama dan alamat lengkap pengirim artikel berikut nomor telepon rumah atau nomor telepon yang mudah dihubungi tanpa mencantumkan gelar; kiriman artikel juga disertai surat pengantar singkat selain sebagai etika korespondensi, juga untuk mengingatkan redaktur opini tentang bahasan artikel dan relevansinya bagi pembaca; surat pengantar juga berisi permohonan agar dipertimbangkan, bukan perintah kepada redaktur opini agar artikel kita dimuat; menyertakan biodata singkat penulis artikel; menyertakan CD untuk mempermudah dan mempercepat proses penyuntingan artikel, dan lain-lain (selengkapnya dapat dilihat pada buku Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional halaman 73-77).

Haris juga menyertakan beberapa kemungkinan artikel dari penulis dapat ditolak oleh redaksi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut: menyeleksi banyak artikel yang bertopik sama namun dengan keterbatasan halaman; naskah artikel terlalu panjang; naskah artikel yang dikirimkan kehilangan momentum akibat terlambat dikirimkan oleh penulis (selengkapnya dalam Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional halaman 77-78).

(9)

Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional halaman 78-79).

Terakhir, pencantuman daftar tanggal-tanggal peringatan dan perayaan serta lampiran contoh-contoh artikel yang berasal dari berbagai sumber ide. Untuk bagian ini, saya sangat memuji karena selain memberikan pengantar tentang penulisan artikel, penulis juga memberikan semacam jurus kilat dalam menemukan ide menulis artikel sehingga pembaca diktat yang ingin memulai menulis artikel pun dapat memanfaatkan tanggal-tanggal penting tersebut. Ini dapat dilihat pada halaman 14-16 diktat.

Penulis juga ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang berkompeten dengan mencantumkan contoh-contoh artikel yang dimuat dari berbagai media massa cetak. Dari 22 contoh artikel yang berasal dari berbagai sumber ide, 9 di antaranya merupakan karya penulis yang telah dimuat di berbagai media massa cetak regional dan nasional.

Berikut ini saya sebutkan kesembilan judul artikel karya penulis diktat ini beserta media massa cetak yang memuatnya.

a. Menggugat Perpres 88 ke MK (Koran Sindo, 1 Februari 2014);

b. Wartawan, Pekerja atau Profesi? (Suara Pembaruan, 14 Februari 2008);

c. Kemerdekaan tanpa Buah (Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2013); d. Mengenang Pak Rosihan (Pikiran Rakyat, 15 April 2011);

e. Mengapa Merayakan Natal Berbahaya? (Pikiran Rakyat, 24 Desember 2003);

f. Belajar Bahasa Sunda (Pikiran Rakyat, 1 Februari 2013);

g. Jurnalisme Kontemporer atau Kumpulan Kutipan? (resensi buku Jurnalisme Kontemporer karya Septiawan Santana K., Pikiran Rakyat, 14 November 2005);

h. Jurnalisme “Abring-abringan” (Pikiran Rakyat, 8 Februari 2014, beserta naskah asli);

i. Media Berubah-ubah, Jurnalisme Abadi (Media Indonesia, 8 Februari 2014, beserta naskah asli).

(10)

dengan hal-hal yang belum ada dalam diktat ini agar semakin sempurna.

III. Simpulan

1. Melalui karya tulis, manusia dapat memahami berbagai hal, termasuk hukum.

2. Suatu bangsa dapat dikatakan maju jika salah satu faktornya tercapai, seperti jumlah konsumsi buku dan media massa cetak yang besar.

3. Artikel merupakan salah satu karya jurnalisme yang termasuk kelompok pendapat (views).

4. Siapa pun dapat menulis dan mengirimkan artikel ke media massa cetak mana pun asalkan memahami teknik penulisan artikel secara teknis dan substansi.

5. Hal aktual atau mengaktualkan kembali sebuah peristiwa, sistematika, gaya, dan bahasa, menjadi acuan para Redaktur Opini media massa cetak dalam mempertimbangkan kelayakan sebuah artikel yang dimuat.

6. Artikel opini relatif sulit dibuat karena penulisnya harus memadukan argumentasi berdasarkan fakta dan data yang relevan sembari mengajak pembaca untuk setuju atau mengikuti sikap yang dinyatakan penulis artikel (opini publik).

7. Banyak sumber ide untuk menulis artikel. Salah satunya dengan memanfaatkan sederet tanggal-tanggal peringatan atau hari-hari besar keagamaan.

8. Dibutuhkan motivasi yang kuat dan menjadikan kegiatan membaca dan menulis seperti kebutuhan pokok agar menghasilkan artikel berkualitas baik.

IV. Pertanyaan

1. Bolehkah satu artikel dengan topik serupa dapat dimuat di dua media massa cetak atau lebih?

(11)

3. Bagaimana keabsahan artikel yang pada bagian isinya lebih banyak opini pribadi penulis dengan cara pengamatan, seperti yang sering dilihat dalam Poros Mahasiswa halaman Opini Koran Sindo?

Daftar Pustaka

A.S. Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2004.

Dede Mulkan, Pengantar Ilmu Jurnalistik, untuk Pemula yang Menyukai Dunia Jurnalistik, Arsad Press, Bandung, 2013.

Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2008.

Referensi

Dokumen terkait

 Data diintegrasikan dalam sebuah data warehouse dan dianalisis secara otomatis via piranti data mining atau para analis dengan menggunakan OLAP.  Semua sistem

Bagian Pengendalian Program adalah unsur staf yang dikepalai oleh seorang Kepala.. Bagian yang bertanggung jawab kepada Asisten II Ekonomi, Pembangunan

Alasan penulis menggunakan analisis ini dikarenakan data-data yang telah di dapat merupakan data pilihan yang sesuai dengan pembhasan yang ada, lalu di kumpulkan atau

Eliminasi Et Choix Traduisant la Realite ( Electre ), dan lain- lain. Untuk pemilihan mahasiswa berprestasi, metode yang digunakan adalah kombinasi AHP dan

Dengan bantuan Komputer semua pekerjaan menyangkut laporan keuangan akan lebih mudah dan dapat terselesaikan tepat waktu, hal ini sejalan dengan penelitian yang

Sifat suatu penghantar berbentuk kumparan dialiri listrik DC, dia berperilaku seperti magnet batang, yang sifatnya sementara, bersifat magnet bila hanya ada arus

Penggunaan media Block Dienes dalam pembelajaran matematika pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan tiga angka dapat memperjelas konsep penjumlahan dan

TIGA BATU TUNGKU Untuk meningkatkan Kerjasama Lembaga Gereja, Adat, dan Pemerintah dari Pendekatan Konseling Pastoral dan Masyarakat di