• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI ANTARA AGAMA DAN SAINS Pengala

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INTEGRASI ANTARA AGAMA DAN SAINS Pengala"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Abstraksi

Kesan cukup kuat yang masih terasa hingga dewasa ini, dalam dunia Islam, adalah adanya dikhotomi antara agama dan ilmu pengetahuan (sains). Pada umumnya masyarakat luas memandang bahwa agama dan ilmu adalah "wilayah" yang tidak bisa dipertemukan. Ilmu tidak memperdulikan agama dan agama tidak memperdulikan ilmu. Keduanya mempunyai "wilayah" sendiri-sendiri, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria pembenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan maupun teori masing-masing bahkan sampai ke institusi penyelenggaranya. Sesungguhnya pandangan ini tidak tepat dalam Islam. Ajaran Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, pandangan ini perlu dikoreksi dan diluruskan. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa antara agama dan sains pernah berkolaborasi dan saling mendukung. Namun, sejarah pun juga telah

memperlihatkan bagaimana umat Islam telah meninggalkan prinsip dasar ajaran Islam sehingga meredupkan dan mematahkan kejayaan peradabannya. Sekarang, seharusnyalah umat Islam dapat mengambil hikmah dari peristiwa sejarah tersebut untuk dijadikan cermin pada masa sekarang dan menentukan langkah atau mengatur strategi untuk masa depan.

Kata kunci: -Islam klasik; -masa keemasan; -integrasi agama dan sains.

Pendahuluan

Sains, yang dipahami dalam arti terbatas sebagai ilmu pengetahuan objektif yang tersusun dan teraratur tentang tatanan alam semesta, bukanlah produk pikiran manusia modern saja. Bentuk pengetahuan seperti ini juga pernah tumbuh secara ekstensif dalam peradaban pra-modern, seperti China, India, Mesir dan peradaban Islam. Namun, sains pra-modern ini berbeda dengan sains modern dalam hal tujuan, metodologi, sumber-sumber inspirasi dan asumsi-asumsi filosofis mereka tentang manusia, pengetahuan, dan realita alam semesta (Osman Bakar, 2003: 73).

Perbedaan utama lainnya antara sains pra-modern dan sains modern – demikian menurut Osman Bakar- adalah mengenai posisi sains dalam

(2)

sains pra-modern ditemukan sebuah kesatuan organik antara sains dan

pengetahuan spiritual (Ibid.). Dalam tradisi Islam, misalnya, banyak dijumpai tokoh agama yang sekaligus tokoh sains. Pada waktu itu, ilmu kedokteran selalu bergandengan dengan ilmu teologi. Para dokter sering merangkap dengan ahli metafisik, filosuf dan orang bijaksana. Maka, gelar h}a>kim (jamak:

h}ukama>') tidak dapat disandang oleh orang yang hanya ahli dalam salah satu cabang ilmu pengetahuan saja (Nourouzzaman, 1986: 19).

Dalam sains modern, hal tersebut tidak dijumpai. Bahkan, sekarang ada kesan yang cukup kuat bahwa antara pengetahuan spiritual (baca: agama) dan sains adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayahnya sendiri-sendiri, terpisah antara satu dengan yang lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria pembenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan maupun status teori masing-masing, bahkan sampai ke institusi penyelenggaraannya. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan tidak

memperdulikan agama dan agama tidak memperdulikan ilmu pengetahuan (sains) (Amin Abdullah, 2003: 3).

Fenomena di atas, tentunya, sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan umat Islam. Di era globalisasi semacam ini, penguasaan sains dan pemahaman – serta pengamalan- agama yang tepat sangat diperlukan. Jika umat Islam tidak hanya ingin sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tapi juga berharap mampu tampil di depan, maka reorientasi pemikiran mengenai pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan merupakan sautu keniscayaan (ibid.: 7-8). Umat Islam tidak boleh berdiam diri dan menjadi penonton di luar arena perkembangan yang terjadi. Oleh karena itu, tantangan di era globalisasi menuntut respons yang tepat dan cepat dari sistem pendidikan Islam secara menyeluruh.

(3)

belakang dan semakin tertinggal hingga sekarang ini. Kemunduran ini disebabkan oleh pemahaman dan pengalaman agama yang parsial dimana hal ini jauh dari ajaran Islam yang universal. Melalui penelusuran sejarah kita bisa introspeksi diri dan menjadikan cerminnya di masa sekarang. Hal ini sangat berguna sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah di masa yang akan datang.

Tulisan pendek ini ingin mencoba menganalisis persoalan tersebut dengan pendekatan sosio-historis. Dengan merujuk secara khusus pada tradisi agama (Islam) pada masa klasik -dimana telah terjadi kesalinghubungan antara sains dan agama, tulisan ini diharapkan dapat menjadi cermin masyarakat Muslim dalam mencari konsep pendidikan Islam yang integralistik. Walaupun mempunyai konteks masa yang sangat jauh berbeda, paling tidak tulisan ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memformulasikan upaya "kerja sama" antara agama dan sains, sehingga kedua bidang keilmuan ini tidak terjadi gap yang justru sangat merugikan umat Islam di masa kini.

Nilai-nilai Ajaran Islam

Islam bukan hanya suatu bentuk keyakinan agama. Islam merupakan seperangkat etika dan ide-ide yang mengarahkan semua aspek kehidupan manusia,

mengantarkan terbentuknya peradaban Islam. Peradaban dan sumbangan Islam terhadap sains dan teknologi tidak akan pernah terwujud tanpa kekuatan pendorong nilai-nilai ajaran Islam (M. Ali Kettani, 1984: 66). Inilah yang membedakan antara Islam dengan agama lain, yaitu penekanannya terhadap masalah sains.

(4)

makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu.

Kedua, Alqur'an dan Hadis menciptakan yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut ilmu dalam segi apapun yang berujung pada penegasan Tawhid –keunikan dan keesaan Tuhan. Singkatnya, kedua sumber pokok tersebut, menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam. Oleh karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang terbit dari Alqur'an dan Hadis merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu Islam (Azyumardi Azra, 1999: 13).

Perlu dijelaskan di sini, bahwa kata 'ilm sebagaimana yang ada di dalam Alqur'an dan Hadis tampak di dalam makna generiknya (umum) daripada merujuk secara eksklusif kepada studi-studi agama. Dalam Islam, batasan untuk mencari ilmu hanyalah bahwa orang-orang Islam harus menuntut ilmu yang berguna. Islam hanya melarang umatnya untuk menerjunkankan dirinya dalam mencari suatu cabang keilmuan yang bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Menurut Golshani, suatu ilmu dikatakan berguna jika ilmu tersebut dapat menolong

manusia dalam memainkan perannya di dunia ini yang telah ditentukan oleh Allah (Mehdi Golshani, 2003: 13). Dengan kata lain, sesuatu ilmu perlu dikembangkan sejauh ilmu itu menunjang tugas kekhalifan manusia di bumi.

(5)

Tuhan akan menjadi lebih tebal. Inilah dasar tujuan ayat kawniyah, yang terkandung di dalam fenomena natur.

Namun, dalam fenomena natur tersebut tidak dijelaskan mengenai prosesnya lebih lanjut. Proses itulah yang harus dipikirkan oleh manusia. Oleh karena itu, kurang tepat, demikian kata Harun Nasution (ibid.), kalau dikatakan bahwa ayat-ayat Alqur'an mengandung membahas persoalan ilmu pengetahuan (sains). Barangkali, yang tepat adalah bahwa ada di antara ayat-ayat Alqur'an yang menyebut fenomena alam yang juga menjadi pembahasan ilmu pengetahuan. Jadi, peranan akal di dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi.

Posisi akal yang tinggi di dalam Alqur'an dan Hadis serta dorongan yang kuat untuk menuntut ilmu pengetahuan merupakan faktor utama pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Pertemuan Islam dengan kebudayaan-kebudayaan lama yang telah berkembang merupakan faktor lain pengembangan keilmuan Islam. Kedua hal tersebut sangat berperan mengantarkan masa keemasan Islam pada periode abad VIII-XVIII Masehi.

Masa Keemasan

Sepanjang sejarah Islam, tokoh sentral dalam transmisi sains –seperti sudah disinggung di muka- merupakan orang "arif", atau h}a>kim. Biasanya, dia, di samping seorang ulama (tokoh agama), juga seorang ahli fisika, penulis dan penyair, seorang ahli astronomi, dan ahli matematika. Pada figur seorang h}a>kim ini, dapat dilihat kesatuan sains dan agama sebagaimana cabang keilmuan yang disandangnya adalah suatu bentuk kearifan. Hakim, orang yang bijaksana, selalu membangun kesatuan sains dalam pikiran mahasiswanya (Seyyed Hossein Nasr, 1968: 41). Sistem pendidikan Islam sebagai keseluruhan dan klasifikasi sains adalah menggantungkan dirinya pada figur hakim tersebut.

Tentu saja, tidak semuanya yang memberi sumbangannya kepada sains Islam menguasai setiap bidang keilmuan. Beberapa di antaranya menguasai matematika, atau fisika, atau sejarah. Walaupun demikian, ada sejumlah tokoh yang

(6)

Menurut Hossein Nasr, seperti yang dikutip oleh Poeradisastra, bahwa ilmu pengetahuan Islam terbentuk dari suatu perkawinan antara semangat yang memancar dari wahyu Alqur'an dan ilmu-ilmu yang ada dalam beberapa

peradaban yang diwarisi Islam dan yang telah diubah bentuknya melalui kekuatan ruhaninya menjadi sebuah zat baru, yang sekaligus berbeda dan

berkesinambungan dengan yang ada sebelumnya (Poeradisastra, 1981: 12). Sifat internasional dan kosmopolitan peradaban Islam berasal dari watak internasional ajaran Islam yang terpantul di dalam persebaran keilmubumian dunia Islam, memungkinkan Islam menciptakan ilmu pengetahuan pertama yang benar-benar bersifat internasional di dalam sejarah umat manusia (ibid).

Islam, sebagai kekuatan politik internasional, cepat meluas daerah kekuasaannya ke semenanjung Arabia sehingga mencakup Suriah, Palestina, Mesir, Afrika Utara, Spanyol dan pulau-pulau di Laut Tengah, seperti Sisilia di barat dan Mesopotamia (Irak), Persia, Asia Tengah dan India di timur. Daerah-daerah yang jatuh ke dalam kekuasaan Islam ini telah terdapat tiga peradaban besar yang lebih dahulu berkembang, yaitu Yunani, Persia dan India yang oleh Alexander Agung dari Macedonia pernah diusahakan meleburkannya menjadi satu. Posisi akal di dalam ketiga peradaban itu juga mendapat penghargaan tinggi, suatu hal yang menarik perhatian cendekiawan dan ulama Islam (Harun Nasution, 1986: 52).

Selain itu, antara tradisi Islam dan tradisi Yunani mempunyai beberapa persamaan. Menurut Marshall G.S. Hodgson (2002: 234) bahwa tradisi kenabian Abrahamik –termasuk Islam- maupun tradisi filosofis dan ilmiah bercorak Yunani, pada awalnya telah terkait dengan masalah-masalah orientasi kehidupan yang komprehensif. Bahkan, tradisi matematik dan ilmiah dari masa Cunieform merupakan penopang bagi visi-visi religius yang lebih luas.

Sejak abad ke-1H/ke-8M sampai dengan abad ke-4H/ke-10M, pusat

perkembangan kebudayaan dan peradaban dunia berada di Baghdad, Cordova dan Cairo. Ketiga kota tersebut merupakan ibukota-ibukota kekhalifahan Islam. Baghdad adalah tempat kedudukan Dinasti

(7)

138H/756M-422H/1031M), dan Cairo merupakan ibukota dari Dinasti Fathimiyah

(297H/909M-567H/1171M). Ke kota-kota inilah para cendekiawan datang untuk belajar atau berkonsultasi.

Baghdad, Cordova dan Cairo bisa berfungsi dan berperan sebagai pusat-pusat pengakajian sains karena para khalifah dan sarjana Muslim adalah pencinta-pencinta ilmu pengetahuan (Nourouzzaman, 1986: 19). Khalifah-khalifah seperti al-Manshur, al-Rasyid, dan al-Ma'mun mempunyai peranan yang besar dalam dalam mendukung penelitian ilmiah yang semuanya bertujuan dan membantu menciptakan suatu tradisi kesarjanaan yang bersifat ilmiah.

Perkembangan sains di Baghdad dimulai dengan menggalakkan aktivitas penerjemahan buku-buku yang tertulis di dalam bahasa Yunani, Persia, India, bahkan China, ke dalam bahasa Arab yang berlangsung kurang lebih satu abad (133H/750M-236/850M). Hal pertama yang dilakukan oleh umat Islam adalah mempelajari semua pengetahuan humanitas itu sebelum mereka mengumpulkan karya-karya asing tersebut. Setelah tahap pertama –yang berlangsung kurang lebih 50 tahun- selesai, mereka mulai melakukan koreksi-koreksi dengan melakukan observasi-observasi dan selanjutnya membuat bidang sains baru (M. Ali Kettani, 1984: 68). Menurut Muzaffar Iqbal, ilmu-ilmu seperti astronomi, kedokteran, matematika adalah bidang-bidang studi yang sudah mapan sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Penerjemahan-penerjemahan yang dilakukan umat Islam adalah untuk memperkaya tradisi Islam, bukan untuk melahirkan ilmu-ilmu tersebut (Muzaffar Iqbal, 2002: 23)

(8)

itu sebagai sebuah kekuatan untuk berkomunikasi ilmiah yang efektif dan efisien di dalam masyarakat dunia (Ali Kettani, 1984: 68).

Pada masa kekemasan ini lahir tokoh-tokoh yang disebut sebagai –meminjam istilah Hossein Nasr- the universal figures of Islamic science. Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang menguasai beberapa cabang keilmuan, yang tidak hanya terbatas pada pengetahuan agama saja. Figur-figur ini sering disebut dengan fala>sifah (tunggal: failasuf) atau h}ukama>' (tunggal: h}a>kim), orang bijaksana.

Jabir ibn Hayyan (103/721-200/815) di antara tokoh yang termasuk dalam kelompok ini. Nama lengkapnya Jabir ibn Hayyan al-Azdi al-Tusi al-Sufi. Dia merupakan bapak ilmu kimia dalam Islam. Dia dikenal sebagai seorang ahli kimia di istana Harun al-Rasyid dan secara khusus bergabung dengan para wazir

Abbasiyah, yaitu masa kekuasaan Barmakiyah. Jabir juga dikenal sebagai seorang sufi dan seorang Syi'ah, yang secara rapat berhubungan dengan lingkungan imam Syi'ah ke-6, Ja'far al-Shadiq.

Tokoh lainnya adalah Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq al-Kindi

(185/801-260/873). Al-Kindi, dikenal dalam bahasa Latin sebagai Alkindus, adalah orang yang dikenal sebagai filosuf Arab, berasal dari bangsa Arab suku Kindah. Dia menghabiskan masa kecilnya di Kufah yang telah menjadi pusat ilmu

pengetahuan. Al-Kindi mengkaji ilmu-ilmu agama, filsafat, dan matematika. Namun, yang menjadi pusat perhatiannya adalah ilmu pengetahuan filsafat setelah pergi ke Baghdad.

Di samping itu, ada al-Farabi, yang nama lengkapnya Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan Abu Nasr al-Farabi (258/870-339/950). Dia belajar di Baghdad dan berkembang sebagai sufi di Aleppo sembari menjadi nggota majelis Saif al-Dawlah al-Hamdani. Al-Farabi berjasa dalam mensintesakan aliran-aliran pemikiran yang berbeda antara Platonisme, Aristoteleisme, dan sufisme. Selain itu, ia juga menyusun buku tentang psikologi, politik, dan metafisika. Dari tulisan-tulisannya, dia memperlihatkan keahliannya dalam bidang kedokteran,

(9)

Contoh lainnya Abu Ali al-Husain ibn Sina (370/980-428/1037). Dia merupakan salah seorang filosuf Islam terbesar dan tokoh yang banyak mempengaruhi dalam wilayah-wilayah sains dan seni. Dia lahir di dekat kota Bukhara. Pada umur sepuluh tahun dia sudah menguasai gramatika bahasa Arab, sastra dan bahkan, teologi. Sebagimana al-Farabi, Ibn Sina juga seorang penulis terkemuka dalam bidang musik. Dia juga seorang penulis yang produktif tentang hampir semua cabang sains. Para ahli perpustakaan modern telah mencatat 200 judul karangan Ibn Sina yang membahas tentang filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, teologi, filologi, dan kesusasteraan (Nourouzzaman, 1984: 28). Di antara karya ilmiahnya yang terkemuka adalah Kita>b al-Syifa>' (buku penyembuhan). Buku ini merupakan ensiklopedia filosofis yang bersandar pada Aristoteles yang telah dimodifikasikan oleh pengaruh Neo-Palatonik dan teologi Islam. Buku yang lain adalah al-Qanu>n fi al-T}i<bb yang memuat

kodifikasi akhir pikiran –pikiran kedokteran Greeco-Arab. Buku yang disebut terakhir ini menjadi karya standar bagi dunia Muslim dan Eropa selama 500 tahun.

Beberapa tokoh tersebut merupakan di antara contoh dari sekian ilmuwan Muslim klasik yang di dalam dirinya terdapat kesatuan antara pengetahuan spirit (agama) dengan sains. Mereka mempelajari sains bukan semata-mata karena jiwa ilmiah yang terdapat dalam diri mereka, tapi juga untuk memperhatikan ayat-ayat Tuhan dalam alam sesuai dengan anjuran Alqur'an. Alam ini bagi mereka

merupakan suatu kesatuan bidang kekuasan yang di dalamnya hikmat Tuhan dapat dilihat di mana saja. Dengan kata lain, sains dan teori-teori yang dimunculkan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim itu atas dorongan ajaran agama dan untuk menyatakan kemahabesaran Allah SWT (Harun Nasution, 1986: 68)

Jadi, jelaslah kiranya bahwa sesungguhnya peranan Islam dalam

(10)

ulama/filosuf besar seperti Ibn Rusyd, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Khaldun dan sebagainya, perdaban Islam juga mampu melahirkan para pioneer sains, seperti al-Khawarizmi (matematika, aljabar), Ibn Hayyan optika), al-Biruni (fisika-astronomi), Ibn Sina (kedokteran) yang karya mereka diakui oleh dunia.

Sesungguhnya, bagaimana umat Islam pada masa ini memahami ajaran agamanya. Ini sangat penting dimunculkan karena sikap dan mentalitas seseorang dalam memahami ajaran agamanya terpantul dalam perilaku pengamalannya. Dalam kata lain, kepribadian seseorang dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap agamanya.

Karakteristik Masa Keemasan

Kombinasi intelek manusia dan rasa ingin tahu telah memberikan manusia motivasi-motivasi yang sangat menarik untuk tahu dan memahami alam lingkungan dan sebab-sebab penciptaannya. Oleh karena itu, alasan untuk menganggap bahwa keilmuan dan keagamaan hampir secara simultan

berhubungan dengan "penciptaan manusia". Evolusi berbagai macam peradaban yang dihadapi di bumi ini, dan juga kemajuan manusia, secara luas didasarkan atau berpusat pada agama dan sains (M. Husain Sadar, 1984: 15).

Di atas telah diuraikan bagaimana agama dan sains berkembang bersama. Dalam masa keemasan Islam, antara agama dan sains saling mendukung untuk kepentingan umat manusia. Adanya integrasi agama dan sains, barangkali, sangat erat kaitannya dengan pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan Islam. Mereka masih menjunjung tinggi sistem nilai ajaran Islam secara baik.

Paling tidak ada lima ciri khusus pandangan umat Islam klasik terhadap sains dan agama. Kelima ciri yang dimaksud adalah universalisme, toleransi,

internasionalisme, penghormatan yang tinggi terhadap sains dan saintis, dan watak Islam tentang akhir dan tujuan sains (Ali Kettani, 1984: 85).

(11)

benar dan mencegah apa yang salah, dan beriman kepada Allah. Dengan demikian, ummah bukan hanya suatu "bangsa", atau suatu komunitas religius (ibid.).

Selain itu, umat Islam menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Seluruh umat manusia adalah umat Muhammad sejak Tuhan mengutusnya sebagai Rasul untuk umat manusia. Para sarjana dimasa keemasan Islam mempunyai sikap semacam itu secara menyeluruh. Mereka tidak segan-segan untuk mengkaji dan mengadopsi sains atau ide-ide yang telah

dikembangkan oleh non-Muslim, baik semasanya atau ide-ide pendahulunya. Kombinasi universalisme dengan toleransi membuat pertukaran ide-ide dan kemungkinan penerimaan unsur-unsur asing. Hasilnya, komunitas ilmiah Islam mempunyai kekhasan kosmopolitan, baik dalam ras, bahasa, dan, bahkan, agama. Mereka diikat oleh suatu pandangan umum tentang dunia, suatu bahasa

kebudayaan umum dan juga bagian dari suatu miliu keilmuan yang umum. Para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim dimasa klasik mengklasifikasikan ilmu-ilmu ke dalam dua bagian. Klasifikasi keilmu-ilmuan yang pertama, ulum al-naqliyah, yaitu ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan melalui wahyu, tetapi

melibatkan penggunaan akal dan nalar. Kedua, ilmu-ilmu intelek, yang diperoleh terutama melalui penggunaan akal dan pengalaman atau empiris. Kedua

klasifikasi tersebut, secara bersama-sama disebut sebagai al-ulum al-husuli, yaitu ilmu-ilmu perolehan. Penyebutan ini adalah untuk membedakan dengan

"pengetahuan" (ma'rifat) yang diperoleh melalui ilham (kasyf) (Azyumardi Azra, 2000a: 159). Namun, mereka memandang kelompok keilmuan tersebut sama pentingnya yang masing-masing merupakan dua sisi dari satu koin yang sama, yang pada esensinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

(12)

supremasi politik dunia Muslim telah hilang, situasi ini tidak berubah (Ali Kettani, 1984: 85).

Uniknya, pada periode klasik ini, ilmuwan-ilmuwan Muslim tidak dimunculkan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi semacam college (madrasah). Kemajuan sains itu lebih merupakan hasil pengembangan dan penelitian individu-ilmuwan Muslim yang didorong oleh semangat scientific inquiry (penyelidikan ilmiah) guna membuktikan kebenaran ajaran Alqur'an terutama yang bersifat kawniyah (Azyumardi Azra, 2000: ix).

Pada perkembangan selanjutnya, sejarah pendidikan Islam telah terpola menjadi dua bentuk. Pola pertama adalah pengembangan keilmuan yang bercorak ingralistik-ensiklopedik, yang dipelopori oleh para ilmuwan seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Khaldun dan sebagainya. Pola pertama ini berhadapan dengan pola pengembangan keilmuan agama yang spesifik-parsialistik yang dikembangkan oleh para ahli hadis dan ahli fiqih. (Amin Abdullah, 2003: 5). Keterpisahan secara diametral antara keduanya dan sebab-sebab lain yang bersifat politis-ekonomis, berakibat pada rendahnya mutu pendidikan dan kemunduran dunia Islam secara umum (ibid.).

Perlu juga dijelaskan di sini, sejak munculnya madrasah (college) pada 1064, yaitu Madrasah Nizam al-Mulk, ilmu-ilmu "non-agama" khususnya ilmu-ilmu alam dan eksaskta –yang merupakan akar pengembangan sains dan teknologi sudah berada pada posisi marginal. Walaupun Islam pada dasarnya tidak membedakan nilai ilmu agama dengan ilmu-ilmu non-agama, tetapi dalam prakteknya, supremasi lebih ditekankan kepada ilmu-ilmu agama.

Kondisi tersebut terutama terjadi pasca-keruntuhan aliran teologi Mu'tazilah pada masa al-Ma'mun (198-218/813-833). Mulai saat itu mempelajari ilmu-ilmu yang bertitik tolak dari nalar dan kajian-kajian empiris mulai "dimakruhkan" – untuk tidak mengatakan diharamkan. Pada akhirnya, mempelajari ilmu-ilmu tersebut dihapuskan dari kurikulum madrasah. Mereka yang cenderung dan masih berminat pada ilmu-ilmu "non-agama", terpaksa mempelajari secara pribadi dan bersifat individual, atau bahkan "di bawah tanah", karena mereka telah

(13)

menggugat kemapanan doktrin mapan sunni, terutama dalam bidang kalam dan fiqih (ibid ).

Sedangkan, ilmu-ilmu semacam filsafat, teologi kalam rasional, matematika, ilmu alam dipelajari di luar lembaga-lembaga madrasah, seperti di rumah para sarjana, rumah sakit, di lembaga-lembaga umum atau di bawah payung bidang-bidang keilmuan yang lain. Dengan demikian, tidak ada kaitan antara madrasah – yang menurut Makdisi disejajarkan dengan "college" (S-1 dalam sistem

pendidikan Indonesia sekarang)- dengan kemajuan sains (George Makdisi, 1981: 281-2). Kondisi ini terus berlangsung yang pada gilirannya melepaskan simpul-simpul keilmuan yang integral dalam Islam. Mengapa ini bisa terjadi?

Pudarnya Simpul Keilmuan Agama dan Sains dalam Islam

Ilmu pengetahuan Islam, terutama ilmu pengetahun alam, memudar pada abad ke-14. Salah satu alasannya adalah munculnya teori taqlid, yaitu ditutupnya pintu penafsiran (bebas) dengan sengaja, yang selanjutnya memunculkan teori "fundamentalisme". Teori fundamentalisme ini merupakan sebuah teori yang mengarah pada dihentikannya pengembangan penelitian demi melestarikan (dan mengikhtisarkan) apa yang telah diketahui. Menurut teori ini, segala sesuatu yang harus diketahui dan pantas diketahui telah diketahui dan dipahami dengan lebih baik oleh orang-orang yang hidup di zaman yang lebih dekat dengan saat turunnya wahyu (Murad W. Hofmann, 2002: 75).

Bagian-bagian Alqur'an dan Sunnah bisa ditafsirkan dengan cara ini. Dengan demikian, bunyi ayat: "Kami tidak mempunyai pengetahuan kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami" (2: 32) dapat dipahami sebagai "segala usaha untuk mencari pengetahuan yang tidak terkandung dalam Alqur'an dipandang tidak layak. Hal tersebut, menurut Hofmann (ibid.: 76), merupakan salah satu sebab timbulnya kebencian terhadap sains dan filsafat oleh kebanyakan ulama Islam dengan mengemukakan fakta bahwa Nabi pernah secara sadar dan berulang-ulang menolak untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan itu.

(14)

membedakan secara prinsip antara inovasi yang dibutuhkan dan baik (bid'ah hasanah) dan inovasi yang dilarang dan buruk (bid'ah sayyi'ah). Namun,

selanjutnya, setiap upaya pembaharuan selalu dicurigai sebagai inovasi yang tidak dapat diterima; dan istilah bid'ah kemudian diartikan sebagai "inovasi buruk". Sejalan dengan berlalunya Abad Pertengahan, tuduhan bid'ah dijadikan senjata ampuh untuk melawan kemajuan (ibid.). Dengan demikian, sebab utama surutnya peradaban Islam terutama sekali berasal dari sikap umat Islam terhadap prinsip-prinsip ajarannya "Tak satu pun kesalahan terletak pada Islam. Segala kesalahan terletak pada cara kita menjadi Muslim", demikian kata Muhammad Iqbal (Hasan Basri Cantay, 1986: 328).

Di samping itu, pandangan umat Islam yang lebih menekankan pada ilmu-ilmu agama (ulum al-syar'iyah) atau ilmu-ilmu-ilmu-ilmu tradisional (ulum al-naqliyah) daripada ilmu-ilmu rasional atau ilmu-ilmu sekuler (ulum al-'aqliyah atau ghair al-syr'iyah) berdambak semakin pudarnya daya kritis umat Islam. Fazlur Rahman (1985: 39) mengatakan, bahwa hilangnya ilmu-ilmu rasional (ulum al-aqliyah) dalam Islam disebabkan oleh banyak faktor internal. Faktor-faktor tersebut, antara lain, adalah:

1. Adanya pandangan yang selalu diungkapkan yaitu bahwa karena ilmu itu adalah luas dan hidup ini singkat, maka orang harus memberikan prioritas, dan prioritas itu diberikan kepada ilmu-ilmu agama yang merupakan kunci bagi kejayaan hidup di khirat. Dengan kata lain, ada "kesadaran" bahwa ilmu-ilmu rasional tidak kondusif bagi kemakmuran spiritual.

2. Penyebaran sufisme, yang –demi untuk menumbuhkan kehidupan spiritual internal dan pengalman keagamaan yang langsung- pada umumnya memusuhi ilmu-ilmu rasional dan segala bentuk intelektualisme. 3. Pemilik ijazah ilmu-ilmu keagamaan mempunyai kesempatan bekerja

sebagai qadhi atau mufti, sedangkan ilmu-ilmu lain hanya tersedia lowongan di istana saja.

(15)

5. Alqur'an tidak dipelajari secara tersendiri, mungkin karena orang takut, jika itu dilakukan akan memunculkan gangguan pada status quo dalam bidang pendidikan teologi dan sosial.

Hilangnya kekritisan ini juga disebabkan oleh sikap tidak adil yang diambil oleh kaum muslimin terhadap dua "anak kandung"-nya: filsafat Islam dan

tasawuf. Dengan dipinggirkannya filsafat, pemikiran kritis menjadi barang langka di dunia Islam dan kaum muslimin menjadi bermental budak dalam waktu yang cukup panjang. Pada gilirannya, dan ini merupakan kerugian lainnya,

memunculkan sikap ketidakpercayaan, bahkan kecurigaan, kepada usaha manusia sendiri untuk mencari kebenaran (Machasin, 2003: 74). Akibat yang lebih fatal dari sikap tersebut adalah hilangnya mental scientific inquiry (penyelidikan ilmiah) dalam diri umat Islam.

Menurut George Sarton, ada beberapa hal yang menyebabkan kemunduran keilmuan Islam (M. Masyhur Amin, 1995: 57-60). Pertama, matinya tradisi keilmuan. Pada umumnya mereka menganggap ilmu pengetahuan yang mereka miliki sudah cukup. Demikian ilmu pengetahuan berhenti karena kejemuan dan permusushan mereka terhadap aktivitas pemikiran. Mereka telah merasa puas dengan menikmati hasil prestasi yang telah dicapai oleh pemikir dan ilmuwan terdahulu, sehingga mereka tidak merasa perlu lagi mencipta, merintis yang baru, berjihad dan berijtihad.

Kedua, sikap ulama yang tertutup. Sebagai contoh adalah adanya fatwa ulama yang mengaharamkan pencetakan Alqur'an dengan mesin cetak. Bahkan,

Muhammd bin 'Abd al-Wahhab berpendapat bahwa memberikan suatu ilmu yang tidak disasarkan pada Alqur'an dan Sunnah, atau ilmu yang semata-mata

bersumber pada akal pikiran dinyatakan kufur (Ahmad Hanafi, 1980: 150). Ketiga, tidak adanya apresiasi terhadap ilmu (sains) dan santis. Seorang diktator Manshur bin Abi "Amr memerintahkan agar naskah-naskah filsafat Yunani dibakar. Di Sevilla, Ibn Hazm dengan rasa pedih terpaksa harus

(16)

sepatu budak-budak dan membakar lemabaran-lembarannya. Banyak buku yang dimusnahkan atau dilemparkan ke sungai Nil serta dikirim ke luar negeri, sehingga Dar al-Hikmah ditutup pada 1122. Bukti lain adalah pengahancuran observatorium di Istambul pada 1580 oleh Sultan Murad III dari Dinasti Turki Usmani dengan meriam-meriam mereka karena observatorium dipandang tidak berguna lagi.

Keempat, hancurnya ketahanan moril umat Islam. Umat Islam dilanda sikap hidup berfoya-foya, korup dan tidak lagi dekat dengan kehidupan para

mustadh'afin dan nasib yang menimpa para dhu'afa. Karena kewemahan dan keserakahan inilah, maka umat Islam berperang dengan sesamanya demi memperebutkan harta kekayaan.

Kondisi ini diperparah oleh adanya imperaliasme dan kolonialisme negara-negara Barat atas negara-negara-negara-negara Islam. Negara-negara-negara Barat menguasai hampir semua aspek kehidupan Islam. Hegemoni Barat atas umat Islam, seharusya, menjadikan umat Islam dapat belajar banyak dari peradaban Barat. Namun, pada umumnya, peradaban Barat diperkenalkan kedunia Islam oleh orang-orang yang angkuh dan tendensius. Hal ini menimbulkan kecurigaan para pemimpin Islam yang pada gilirannya dunia Timur (Islam) menarik diri dari kancah akulturasi dan kembali ke dalam dunia lama mereka. Tentu saja sikap waspada yang berubah menjadi sikap curiga yang berlebihan terhadap kebudayaan Barat menjadikan umat Islam eksklusif dan semakin jauh tertinggal.

Integrasi Agama dan Sains Modern: Mungkinkah?

Komponen fundamental pengetahuan orang Islam tentang Tuhan adalah pengetahuan tentang alam semesta sebagai salah satu efek tindak kreatif Ilahi. Pengetahuan tentang hubungan antara Tuhan dan dunia, antara Pencipta dan ciptaan, antara prinsip Ilahi dengan manifestasi kosmik merupakan basis fundamental dari pengetahuan dari kesatuan antara sains dan pengetahuan

(17)

merujuk pada beberapa konsep dan gagsan kunci yang terkandung dalam pengetahuan ini (Osman Bakar, 2003: 74).

Kesatuan alam semesta, dalam Islam, sebagai citra kesatuan Ilahi. Tujuan sains Islam adalah untuk memperlihatkan kesatuan alam semesta, yaitu kesalinghubungan seluruh bagian dan aspeknya. Oleh karena itu, sains Islam berupaya untuk mengkaji semua aspek alam semesta yang beraneka ragam dari sudut pandang yang menyatu dan terpadu (ibid.: 76).

Pada sejarah religius dan intelektual Barat terdapat perbedaan tajam antara yang alamiah dan yang spiritual dalam bentuk yang tidak kondusif bagi

berkembangnya kesadaran akan kesatuan sains dan pengetahuan spiritual. Alam kasat mata diidentikkan dengan yang sakral. Terdapat pula perbedaan yang tajam antara natural dan supranatural atau alam jasmani dengan alam ruhani. Dalam sains modern, alam telah kehilangan karakter sakralnya. Alam kasat mata dikosongkan dari kandungan spiritualnya. Karena itu, alam tidak lagi dilihat sebagai memiliki peran yang bermakna dalam kehidupan religius dan spiritual (bid.: 78).

Umat Islam akan mengalami kesulitan dimasa kini dan akan datang, terutama dalam bidang kajian Islam, jika tidak mendesain pendidikan yang

mengintegrasikannya dengan teknologi dan sains yang memprioritaskan pada ketrampilan hidup yang lebih luas dan tidak semata-mata memenuhi kekosongan dalam birokrasi Departemen Agama. Sains dan teknologi yang dipisahkan jauh dari inti kajian teks (qawliyah), dan berdiri sendiri, tanpa ada hubungan dan interaksi dengan ilmu agama sangat tidak menguntungkan umat Islam. Fenomena ini tentu saja merugikan mahasiswa yang mempunyai peran lebih luas dalam kehidupan berbangsa karena dari awalnya pendidikannya telah mengalami deviasi dari pola inti ajaran Alqur'an, yang selalu mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dan kajian agama (M. Amin Abdullah, 2003: 19).

(18)

toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan harus dikembalikan. Ini bisa dihilangkan dengan memperluas cakrawala berpikir umat Islam.

Ini sangat terkait dengan sistem pendidikan Islam kita. Kita perlu mengadakan perbaikan atau pembaharuan kependidikan (paedagogig). Lembaga pendidikan kita harus merumuskan kembali pola pembidangan keilmuan secara integral. Selama ini studi Islam –terutama di IAIN- dengan pembidangan ilmu di dalamnya cenderung memakai pola seperti yang ditegaskan oleh Marshall G.S. Hodgson (sebagamana dikutip oleh Akh. Minhaji, 2003: ix) yang terjemahan bebasnya sebagai berikut: Pertama, pendidikan secara umum dipahami sebagai pengajaran tertentu dan penghafalan pernyataan-pernyataan dan rumus-rumus yang telah di pandang cukup diajarkan tanpa diikuti dengan proses berpikir. Kedua, bahwa pendidikan [Islam] adalah [hanya] bertujuan normatif.

Di samping itu, kita harus lebih terbuka dengan ilmu yang selama ini dipandang sekuler. Pendidikan sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di Barat harus diterima dan mencoba untuk "mengislamkan"nya –yakni, mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam (Fazlur Rahman, 1985: 155). Pendekatan ini mempunyai dua tujuan, walupun keduanya tidak selalu bisa dibedakan satu dari yang lain. Pertama, membentuk watak pelajar-pelajar atau mahasiswa-mahasiswa dengan nilai Islam dalam kehidupan individu dan masyarakat. Kedua, untuk memungkinkan para ahli yang

berpendidikan modern untuk menanami bidang kajian masing-masing dengan nilai-nilai Islam pada perangkat-perangkat yang lebih tinggi; menggunakan perspektif Islam, untuk mengubah -dimana perlu- baik kandungan maupun orientasi kajian-kajian mereka (ibid.: 156).

(19)

menempatkan diri sebagai lembaga akademik yang independen. Lembaga IAIN masih terikat dengan bias kepentingan politik (Minhaji, 2003: ix).

Sementara itu, walaupun antara agama dan sains modern terdapat perbedaan-perbedaan, tapi di celah-celah perbedaan itu masih menyisakan harapan akan adanya kemungkinan paralelitas dalam metodologi. Menurut Ian Barbour, persamaan metodologi antara agama dan sains dapat dilihat: (i) dalam hal pengalaman dan interpretasi, keduanya sama-sama memiliki dua jalan

berinteraksi, yaitu dengan model dan analogi, meski keduanya tidak dapat dipilah secara tegas; (ii) suatu komunitas, memiliki posisi esensial bagi keduanya, dimana paradigma-paradigma yang diberikan akan sangat mempengaruhi opini

anggotanya. Bahasa-bahasa terjemahan pada masing-masing komunitas pun digunakan secara realistis dan referensial, baik dalam "perangkuman data" maupun pengungkapan-pengungkapan fiktif; (iii) cara kerja konsep-konsep yang dibangun, baik dalam sains maupun agama, dievaluasi secara bersamaan dengan menggunakan criteria koherensi dan adequasi pengalaman secara simultan. Dengan demikian, keyakinan keagamaan harus dinilai sebagai sebuah even-even kesejarahan, sebuah pengalaman keberagamaan, maupun kondisi hidup itu sendiri. Ia terbuka bagi adanya sintesa, atau sebagai sistem metafisika yang harus dinilai secara lebih hati-hati (Ian G. Barbour, 1996: 116).

Selain itu, kedua entitas disiplin keilimuan tersebut adalah rasional. Keduanya adalah rentan terhadap perbaikan-perbaikan selama berabad-abad. Keduanya menggunakan paradigma-paradigma teoritis pemerintahan segaimana mereka menghadapi pengalaman. Konflik-konflik antara interpretasi keilmuan dan keagamaan muncul disebabkan oleh batas-batas antara kausalitas –sebagai dasar interpretasi sains- dan pemaknaan –sebagai dasar interpretasi agama- adalah semipermeable (dapat ditembus).

Catatan Akhir

(20)

paling tidak pengalaman tersebut dapat mengembalikan spirit umat Islam untuk selalu mengembangkan keilmuan, apapun jenis keilmuannya, demi membangun kehidupan dunia secara universal. Selain itu, dikhotomisasi antara agama dan sains yang begitu tajam pada masa ini dapat didialogkan oleh umat Islam di dalamnya mempunyai semangat untuk memberi apresiasi yang tinggi terhadap sanis. Oleh karena itu, watak Islam yang terbuka, sifat universalime, toleransi dan scientific inquiry yang terkandung di dalam ajaran Islam harus dikembalikan. Dalam mencari penyelesaian tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam seharusnya tidak kembali kepada tradisi dan interpretasi lama, tapi langsung kembali ke ajaran yang terkandung dalam Alqur'an dan Hadits (Harun Nasution, 1998: 166).

Kemajuan sains yang pernah dicapai oleh masa keemasan Islam dan kemundurun Islam dalam bidang sains dan teknologi pada masa sesudahnya sangat ditentukan oleh masalah "waktu". Kejayaan yang pernah diperoleh Islam tampaknya mendapatkan waktu yang kurang tepat, sehingga pengaruh itu kurang menggema dan pengaruhnya kurang dirasakan oleh masyarakat dunia lainnya. Sedangkan, kemajuan yang diperoleh Barat merupakan momentum yang tepat seiring dengan arus global yang begitu kuat. Akibatnya, pengaruh Barat cukup kuat menggema di hampir seantero dunia.

Walaupun demikian, kondisi ini harus tetap disikapi dengan rasa arif yang disertai upaya-upaya nyata untuk merubah paradigma kita tentang ajaran Islam. Pemikiran-pemikiran Islam yang ternyata menghambat kemjuan zaman harus ditelaah ulang. Tentunya, semua itu, pada masa kini, sangat berkaitan dengan sistem kependidikan (paedagogy) kita, walaupun dalam Islam klasik sistem lembaga pendidikan tidak banyak membantu dalam pengembangan sains. Bahkan, dapat dikatakan bahwa munculnya pendidikan "formal" semacam madrasah, justru mematikan semangat saintific inquiry dalam umat Islam karena masuknya pemikiran-pemikiran yang berbau sekterianisme.

Namun, sekarang dimana hampir semua aspek kehidupan telah

(21)

independen. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam harus diberi kebebasan secara proporsional. Tentu saja ini terkait dengan mentalitas para pengelola lembaga pendidikan tersebut. Walla>hu a'lam bi al-Shawa>b!

Daftar Pustaka

Ahmad Hanafi. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Alhusna, 1980

Akh. Minhaji. "Transformasi IAIN menuju UIN: Sebuah Pengantar", dalam M. Amin Abdullah, dkk. Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama dan Umum. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2003, pp. vi-xvi.

Azyumardi Azra. "Pengelompokan Disiplin "Ilmu-ilmu Agama": Perspektif IAIN", dalam Antologi Studi Islam: Teori dan Metodologi, ed. M. Amin Abdullah, dkk. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 2000

---. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos, 1999

Barbour, Ian G. Issues in Science and Religion. New York: Prentice-Hall Inc., 1996

Cantay, Hasan Basri. "Kebudayaan Islam di Daerah-daerah Turki", dalam

Kenneth W. Morgan (ed.), Islam Jalan Lurus, terj. Abu Salamah dan Chaidir Anwar. Jakarta: Pustaka Jaya, 1986, pp. 287-332

Fazlur Rahman. Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka, 1985

Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI-Press, 1986

---. Islam Rasional. Bandung: Mizan, 1998

Hofmann, Murad W. Menengok Kembali Islam Kita, terj. Rahmani Astuti. Bandung: Pustaka Hidayah, 2002

Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam

Peradaban Dunia Masa Klasik Islam, terj. Mulyadhi Kartanegara. Jakarta: Paramadina, 2002

(22)

Makdisi, George. The Rise of College: Institutions of Learning in Islam and the West. Edhinburg University Press, 1981

M. Ali Kettani. "Science and Technology in Islam", in The Touch of Midas: Science, Values and Environment, ed. Ziauddin Sardar. Manchester University Press, 1984

M. Amin Abdullah. "New Horizons of Islamic Studies Through Socio-Cultural Hermeneutics", in al-Ja>mi'ah: Journal of Islamic Studies, Volume 41, Number 1, 2003/1424, pp. 1-24

---. "Etika Tauhidik sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum dan Agama (dari Paradigma Positivistik-Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-integralistik), dalam M. Amin Abdullah, dkk.

Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama dan Umum. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2003, pp. 3-20

M. Husain Sadar. "Science and Islam: Is there a Conflict?", in The Touch of Midas: Science, Values and Environment, ed. Ziauddin Sardar. Manchester University Press, 1984

M. Masyhur Amin. Dinamika Islam (Sejarah Transformasi dan Kebangkitan). Yogyakarta: LKPSM, 1995

Mehdi Golshani. Filsafat Sains Mmenurut Alqur'an, terj. Agus Efendi. Bandung: Mizan, 2003

Muzaffar Iqbal. Islam and Sains. Hamshire: Ashgate, 2002

Nourouzzaman Shiddiqi. Tamaddun Muslim: Bunga Rampai Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1986

Osman Bakar. Tauhid dan Sains: Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam, terj. Yuliani Lipuro. Bandung: Pustaka, Hidayah, 2003

S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan Modern, Jakarta: Girimukti Pusaka, 1981

Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, Cambridge: Harvard University Press, 1968

Referensi

Dokumen terkait

Dengan selesainya penulisan skripsi yang berjudul Pemikiran Said Nursi Tentang Perpaduan Agama dan Sains Modern ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak

Elaborasi Ayat-Ayat Sains dalam Al-Quran: Langkah Menuju Integrasi Agama dan Sains dalam Pendidikan.. Septiana

Pandangan ini berpendapat bahwa semestinya tidak perlu ada konflik karena sains (ilmu pengetahuan) dan agama (kitab suci) berada pada domain yang berbeda, yaitu sains (ilmu

Nidhal Guessoum mengawali pemikirannya terkait gagasan integrasi sains dan agama dengan landasan tauhid (konsep tentang Tuhan) dan al-Qur’an sebagai pendekatan

Ketiga , integrasi agama dan sains modern yang ditawarkan Nidhal adalah pendekatan kuantum, gerakan timbal balik dua arah, dengan didasarkan atas tiga prinsip dasar:

Sebagaimana konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto di atas membawa pada pemahaman akan pentingnya berbagai bidang keilmuan (Matematika, Fisika,

Pandangan yang menyatakan bahwasanya agama dan ilmu sains adalah satu kesatuan yang bersifat integral dan tak dapat dipisahkan ini menunjukkan bahwa islam

Faktor pendukung dan penghambat integrasi pendidikan agama dan sains di boarding school darul adzkiya man 2 kudus yaitu dukungan dan komitmen penuh dari stake holders dalam hal ini