• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI-INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA PEMIKIRAN AGUS PURWANTO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "INTEGRASI-INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA PEMIKIRAN AGUS PURWANTO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

i

INTEGRASI-INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA

PEMIKIRAN AGUS PURWANTO

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM

oleh:

FAUZI ANNUR

NIM. 12010150010

Tesis diajukan Sebagai pelengkap persyaratan

Untuk gelar Magister Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA

(2)
(3)
(4)

iv

ABSTRACT

Integration-Interconnection Science and Religion of Agus Purwanto’s

Thought And its Implication to Islamic Education

The aim of this study was to know how the integration-interconnection science and Religion concept of Agus Purwanto’s thought on his books: Ayat-Ayat Semesta and Nalar Ayat-Ayat Semesta, and its implication to Islamic Education. This study used library research method by history-philosophy approach and contains analysis. The result of this study found: integration-interconnection science and Religion of Agus Purwanto’s thought by explorating and elaborating 800 ayat-ayat kauniyah on Al-Qur`an. The first by Arabic language, the second by the books of tafsir, the third by results of many studies in the past until now. Phenomenon of universe, Al-Qur`an, Arabic language, the books of tafsir and results of many studies were studied by integrated-interconnected. From text to context and on the contrary. Furthermore, the Islamic Education has to be partner and deal with other sectors (Math, Physics, Chemistry, Biology, Geography). This study can be illustrated to Islamic Education and Common Education on implementating science study and Religion learning by integrated-interconnected. It also to be the source of change inspiration from dichotomy to integrated-interconnected.

(5)

v

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami haturkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah indah kepada penoreh tinta peradaban pertama dan terbaik sepanjang sejarah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling mulia yang telah mencerahkan kehidupan dengan cahaya Islam. Juga kepada para sahabat, keluarga serta orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam menapaki risalah-Nya hingga akhir zaman nanti.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin atas terselesaikan dan tersusunnya tesis ini. Karya besar ini diselesaikan tanpa bisa terlepas dari bantuan semua pihak. Oleh karena itu ucapan terima kasih setulus hati disampaikan kepada :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd, selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

2. Bapak Dr. H. Zakiyuddin, M.Ag, selaku Direktur Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

3. Bapak Dr. H. Miftahuddin, M.Ag, selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran dan kesungguhan dalam membimbing dan mengarahkan kami.

4. Bapak Dr. phil. Widiyanto, MA, Dr. Winarno, S.Si, M.Pd, Prof. Dr. H. Muh. Zuhri, MA, Dr. Imam Sutomo, M.Ag, Dr. Adang Kuswaya, M.Ag yang telah menguji sekaligus banyak memberikan banyak insiprasi dalam penulisan tesis ini.

5. Bapak Dr. Muhammad Munadi, M.Pd dan Sidik, M.Ag yang berusaha untuk selalu mengajak diskusi dalam rangka membuka cakrawala berfikir kami.

(6)

vi

7. Teman-teman mahasiswa Pascasarjana IAIN Salatiga angkatan 2015 yang telah banyak memberikan motivasi dan inspirasi

8. Seluruh pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberi bantuan selama penelitian hingga terselesaikannya tesis ini.

Penulis menyadari bahwa tesis ini sangat jauh dari kesempurnaan karena penulis yakin tidak ada kesempurnaan kecuali Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan. Semoga tesis ini bermanfaat bagi semuanya. Aamiin ya Rabbal ’aalamiin...

Surakarta, Maret 2017

(7)

vii A. Sejarah Kelahiran dan Pendidikan Agus Purwanto ... 11

B. Karier Agus Purwanto ... 12

C. Jurnal atau Publikasi Ilmiah Agus Purwanto... 12

D. Buku-buku Karya Agus Purwanto ... 13

BAB III INTEGRASI-INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA PAMIKIRAN AGUS PURWANTO ... A. Integrasi-Interkoneksi Sains dan Agama ... 14

1. Semipermeable (saling menembus) ... 14

2. Intersubjective Testibility ... 15

3. Creative Imagination ... 16

B. Integrasi-Interkoneksi Pemikiran Agus Purwanto ... 16

1. Fenomena Alam Semesta ... 19

(8)

viii

3. Penafsiran Ulama/Kitab-Kitab Tafsir ... 22

4. Kebahasaan/Bahasa Arab ... 22

5. Penelitian Ilmiah ... 24

BAB IV IMPLIKASI PEMIKIRAN AGUS PURWANTO TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ... A. Esensi Pendidikan Agama Islam ... 31

B. Implikasi Pemikiran Agus Purwanto terhadap PAI ... 33

C. Kelemahan dan Kekuatan Konsep ... 37

BAB V PENUTUP ... A. Simpulan ... 39

B. Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

LAMPIRAN ... 44

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa ilmu buta. Begitulah Einstein memandang kedua bidang tersebut tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini perlunya sebuah paradigma baru dalam membangun peradaban Islam yaitu dengan pengislamisasian ilmu pengetahuan yang berdasarkan ketauhidan.1

Dengan begitu ilmu syarat dengan nilai dan tidak bebas nilai sebagaimana yang dihasilkan peradaban Barat.2 Di dalam Islam sendiri aktivitas harus

dilaksanakan sesuai dengan Kehendak Tuhan, yang di dalamnya terdapat norma-norma dan prinsip-prinsip seni Islam.3 Kesadaran transenden itulah yang terus ditekankan oleh para intelektual Muslim yang tujuannya adalah mengabdi pada ajaran Ilahi.

Pergulatan selama ini antara sains dengan agama yang berdampak negatif haruslah dihindarkan, karena keduanya memberikan sumbangsih yang besar terhadap permasalahan zaman.4 Jika keilmuan Pendidikan Islam dan cabangnya yang lainnya merasa cukup dengan dirinya sendiri dan tidak mau berhubungan dengan cabang yang lainnya, maka ia tidak punya masa depan yang diharapkan, bahkan diragukan kontribusinya terhadap pembangunan

1Wan Sabri, dkk, “Islamic Civilization: Its Signifigance in al-Faruqi’s Islamization of Knowledge”, International Journal of Islamic Thought, Volume 7 (June 2015), 51.

2Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur:ISTAC, 1993, 134.

3Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, Terjemahan Luqman Hakim. Bandung: Penerbit Pustaka, 1994, 117.

4Edwin Syarif, “Pergulatan Sains dan Agama”, Refleksi, vol.13, no.5 (Oktober 2013), 652.

(10)

karakter bangsa.5 Oleh sebab itulah untuk menghidupkan peradaban yang

telah berabad-abad telah mengalami kejumudan dibutuhkan langkah yang konkrit dan jelas yaitu umat Islam harus memajukan sains, teknologi dan pendidikan secara integratif.6

Di ranah PTKIN telah diujicobakan melalui konsep integrasi dan interkoneksi. Dalam hal ini Standar Nasional Pendidikan Tinggi mengharuskan untuk dilakukan integrasi antar disiplin dan multidisiplin keilmuan.7 Langkah tersebut merupakan satu gebrakan yang sangat tepat, menimbang integrasi-interkoneksi antara sains dan agama mutlak dilakukan.

Bagaimana tingkatan di bawah PTKIN yang mana menjadi pondasi awal meletakkan dasar-dasar sains dan Agama. Sementara selama ini sistem yang digunakan adalah dengan cara pendidikan dikotomis, yaitu memisahkan pelajaran sains dengan agama. Sejarah mengatakan bahwa mulai munculnya pendidikan dikotomi sejak akhir abad ke-11 menjelang abad ke-12 dan berakibat terjadilah kemunduran peradaban dan intelektualisme Islam.8 Oleh karena itu diperlukan solusi yang tepat dalam rangka merekontruksi integrasi-interkoneksi sains dan agama di lembaga-lembaga sekolah.

5M. Amin Abdullah, dkk, Implementasi Pendekatan Integratif Interkonektif dalam Kajian

Pemikiran Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pascasarjana UIN Yogyakarta, 2014, 1.

6Din Syamsuddin, “Diskusi Pakar dalam Program Doktor Politik Islam UMY”, Senin, 2 Mei 2016, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

7Khairuddin Nasution, dkk, Implementasi Pendekatan Integratif Interkonektif dalam

Kajian Pemikiran Pendidikan Islam,..., 34.

8Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme

(11)

B. Rumusan Masalah

Dalam kajian ini digambarkan bahwasannya pendidikan belum mampu mengembangkan sains dan agama secara integratif-interkonektif di sekolah umum, maupun sekolah agama. Selain itu pendidikan lebih dominan bergerak dalam ranah teoritis termasuk bidang sains. Sementara ekperimen-eksperimen sangatlah penting untuk ditanamkan pada setiap siswa dalam rangka mengembangkan nalar pikirnya secara logis dan empiris.

Kajian ini difokuskan pada integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta dan implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam.

Pada kajian ini peneliti mengajukan dua rumusan masalah yaitu bagaimana konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta? Dan bagaimana implikasi konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta terhadap Pendidikan Agama Islam?.

C. Signifikansi Penelitian

1. Tujuan Penelitian

(12)

b. Untuk mengetahui implikasi konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto di dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta terhadap Pendidikan Agama Islam. 2. Manfaat Penelitian

a. Kontribusi Teoritis

1) Memperkaya khasanah keilmuan khususnya bagi lembaga pendidikan Islam, lembaga pendidikan non-Islam dan sekolah umum.

2) Memberikan gambaran secara umum tentang konsep integrasi-interkoneksi pemikiran Agus Purwanto dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta dan implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam.

3) Menjadi sumber inspirasi perubahan dari pendidikan dikotomis menuju integratif-interkonektif.

b. Kontribusi Praktis

(13)

D. Kajian Pustaka

Muhammad Yasin Yusuf (2015)9 meneliti epistemologi ilmu dalam sistem pengajaran di SMA Trensains Tebuireng Jombang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif lapangan dan analisis filosofis. Kajian ini menemukan bahwa SMA Trensains Tebuireng Jombang menerapkan Sains Islam, di mana ilmu dibangun berdasar wahyu Tuhan. Maksudnya adalah bahwa dalam epistimologi Islam, wahyu dan sunnah adalah sumber yang memberikan inspirasi bagi pembangunan ilmu pengetahuan.

Nurul Ummatun (2015)10 meneliti tentang Islamisasi ilmu pengetahuan Agus Purwanto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan library research melalui pendekatan filosofis. Penelitian ini menemukan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan menurut Agus Purwanto adalah membangun epistimologi ilmu pengetahuan berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits.

Dari kedua penelitian di atas dapat diketahui bahwa hasil penelitiannya hanya mengkhususkan pada epistimologi Trensains meski untuk penelitian yang kedua dengan menggunakan istilah Islamisasi Pengetahuan. Oleh karena itu hasil dari keduanya adalah sama yaitu bahwa epistimologi Trensains dibangun atas dasar wahyu, Al-Qur`an dan Al-Hadits.

9Muhammad Yasin Yusuf, “Pesantren Sains: Epystimology of Islamic Science in Teaching System”, Walisongo, Volume 23, No 2 (November 2015), 283-310.

(14)

Karena masih minimnya penelitian terkait pemikiran Agus Purwanto, dalam hal ini peneliti akan mencoba menggali dan menemukan konsep integrasi-interkoneksi sains dan agama pemikiran Agus Purwanto di dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta serta implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam. Penelitian yang akan dilakukan ini menjadi kajian yang benar-benar berbeda dari kajian-kajian sebelumnya. Sementara kedua buku tersebut memiliki banyak sekali pemikiran yang di dalamnya mengupas tuntas tidak hanya dari sains, namun juga dari Al-Qur`an yang tidak lain adalah sumber hukum dan menjadi Kitab suci umat Islam.

E. Kerangka Teori

Sudah lebih dari setengah abad Islamisasi ilmu pengetahuan digaungkan oleh Muhammad al-Naquib Al-Attas dalam Konferensi Dunia di Makkah. Konsep tersebut ditindaklanjuti oleh Ismail Raji Al-Faruqi pada tahun berikutnya dengan seruan agar umat Islam mengislamisasikan ilmu pengetahuan.11 Ada empat tahap yaitu menjadikan Tauhid sebagai puncak

esensi, merefleksi pencapaian sejarah peradaban Islam, membedakan karakter peradaban Islam dengan peradaban yang lainnya, dan menekankan bahwasannya Islam merupakan pilihan yang unggul dalam mengatasi segala macam permasalahan zaman.12

Sementara Seyyed Hossein Nasr menekankan pentingnya umat Islam meninjau ulang sejarah perkembangan sains Islam. Untuk memahami sains

11Armahedi Mahzar, Revolusi Integrasi Islam: Merumuskan Paradigma Sains dan

Teknologi Islami, Bandung: Mizan, 2004, 216.

(15)

Islam sampai ke dasarnya membutuhkan pengertiaan tentang prinsip Islam yaitu wahyu yang dibawa Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur`an dan Al-Hadits. Oleh karena itu sains Islam berusaha mencapai ilmu yang akan memberikan saham untuk kesempurnaan spiritual dan bagi keselamatan orang yang sanggup mengkajinya.13

Menanggapi kedua tokoh di atas, Nidhal Goessoum menyimpulkan bahwa Nasr lebih menekankan perlunya sains Islami secara umum dengan menyerukan Dunia Islam agar menguasai Sains, sedangkan Al-Faruqi menekankan paradigma baru yang didasarkan pada khasanah tradisi Islam, yaitu dengan menghidupkan kembali sejarah dan filsafatnya.14 Menanggapi hal yang sama, Kuntowijoyo menganggap bahwa konsep Islamisasi pengetahuan sebagian memang perlu dan sebagiannya adalah pekerjaan yang tidak berguna. Dan beliau sendiri memunculkan konsep yang dinamakan “Pengilmuan Islam”. Dengan kata lain, dari teks ke konteks begitu sebaliknya.15

Setidaknya ada tiga hubungan antara sains dan Agama khususnya dalam Islam, yaitu Islamisasi Sains, model ini bertujuan untuk mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Al-Qur`an, Saintifikasi Sains, model ini bertujuan untuk mencari dasar sains pada suatu pernyataan yang dianggap

13Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban di dalam Islam, Terjemahan J. Mahyudin, Bandung: Penerbit Pustaka, 1997, 1-21.

14Nidhal Goessoum, Islam dan Sains Modern, Terjemahan Maufur, Bandung: Mizan, 2011, 201.

(16)

benar dalam Islam, dan Sains Islam, model ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dengan landasan utamanya adalah Al-Qur`an dan Al-Hadits.16

Sedangkan secara umum menurut Ian G. Barbour, ada empat pandangan mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama yang dianut secara luas, yaitu konflik (orang-orang yang menafsirkan Kitab Suci secara harfiah percaya bahwa teori evolusi bertentangan dengan kepercayaan keagamaan), independensi (keduanya memiliki ruang lingkup yang berbeda/terpisah), dialog (adanya kemiripan-kemiripan dan perbedaan-perbedaan), integrasi (penggabungan keduanya).17

F. Metode Penelitian

Kajian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan historis filosofis. Artinya dalam penelitian tersebut kajian dimulai dengan pengumpulan data serta mencari sumber-sumber yang berupa tulisan dari tokoh yang dimaksud atau yang memiliki relevansinya dengan masalah yang diangkat.18

Sumber data primer terdiri dari dua buku utama dari penulisnya dan buku-buku induk yang membahas sains dan Agama, yaitu Ayat-Ayat Semesta, Nalar Ayat-Ayat Semesta, Islam dan Sains Modern karya Nidhal Goessoum, Islam

16Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, dalam Muhammad Yasin Yusuf, “Pesantren Sains: Epystimology of Islamic Science in Teaching System”, Walisongo, Volume 23, No 2 (November 2015), 291.

17Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Terjemahan Fransiskus Borgias, Bandung: Mizan, 2005, 21-23.

(17)

sebagai Ilmu karya Kuntowijoyo, Masa Depan Islam karya Ziauddin Sardar, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer karya Ian G. Barbour, Sains dan Peradaban di dalam Islam, Islam dan Nestapa Manusia Modern, Tradisi

Islam di tengah Kancah Dunia Modern karya Seyyid Hossein Nasr, Revolusi Integrasi Islam karya Armahedi Mahzar, Implementasi Pendekatan Integratif Interkonektif dalam Kajian Pemikiran Pendidikan Islam karya Amin Abdullah, Islam dan Sekulerisme karya Naquib Al-Attas, Filsafat Sains karya Hamdani, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik karya Abdurrahman Mas’ud. Sedangkan sumber data sekunder terdiri dari buku-buku, jurnal, seminar ilmiah, yang membahas dan memperkuat isu-isu terkait sains, Agama, dan integrasi-interkoneksi keilmuan.

Analisis data dalam kajian ini menggunakan analisis isi (content analysis), yaitu penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media masa. Adapun tahapannya adalah menentukan permasalahan, menyusun kerangka pikiran, menyusun metode pengukuran, analisis isi dan interpretasi data.19

G. Sistematika Penulisan

Bab I berisi proposal yang di dalamnya terdiri dari: a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) signifikansi penelitian, d) kajian pustaka, e) kerangka teori, f) metode penelitian, dan g) sistematika penulisan.

(18)

Bab II berisi tentang biografi Agus Purwanto: a) sejarah kelahiran dan pendidikan, b) karier, c) jurnal dan publikasi ilmiah, d) buku-buku karya Agus Purwanto.

Bab III integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto: a) interkoneksi sains dan Agama secara umum, b) konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto,

Bab IV berisi tentang a) esensi Pendidikan Agama Islam, b) implikasi konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto terhadap Pendidikan Agama Islam, c) kelemahan dan kekuatan konsep.

(19)

BAB II

BIOGRAFI AGUS PURWANTO

A. Sejarah Kelahiran dan Pendidikan Agus Purwanto

Agus Purwanto dilahirkan pada tahun 1964 di kota Jember, Jawa Timur. Masa kecilnya dihabiskan di kota tersebut, bahkan menyelesaikan pendidikan untuk jenjang SD, SMP, sekaligus SMA juga sama. Meski demikian untuk jenjang lanjutan beliau memilih untuk meraih impian-impiannya yang sejak dulu dicita-citakan yaitu masuk di Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana beliau melanjutkan sampai jenjang S2 atau Master (1993). Karena begitu besarnya keinginan belajarnya lantas melanjutkan studi S2 dan S3 nya di Jurusan Fisika Hiroshima University, Jepang. Di sanalah beliau mendapatkan gelar akademik Agus Purwanto, D.Sc (Doctor of Science). Gelar akademik yang sangat langka karena hanya sebagian orang saja khususnya di Indonesia yang memiliki gelar kehormatan tersebut. Dari data yang ada terdapat kurang dari 30 orang yang mendapatkan gelar kehormatan doktor di bidang fisika teori.

Beliau sangat menyukai dunia baca, mulai dari buku-buku yang beliau geluti sampai filsafat. Bagi beliau, jalan ilmu sesungguhnya adalah jalan para nabi dan auliya, manusia pilihan yang diberi tugas membimbing, memandu, dan mencerahkan umat. Menempuh jalan ilmu berarti menempuh jalan kemuliaan juga untuk tujuan mulia. Perkembangan ilmu yang demikian pesat membutuhkan ilmuwan yang mewadai bagi setiap penjuru negeri termasuk

(20)

Indonesia. Tanpa sains, suatu bangsa akan bertransformasi menjadi bangsa kuli yang lemah, tidak berdaulat dan bergantung pada negara lain.

B. Karier Agus Purwanto

Agus Purwanto pernah menjadi asisten Laboratorium Fisika Dasar, mata Kuliah Fisika Dasar, Fisika Matematik, Gelombang dan Mekanika Kuantum. Dan semenjak 1989 beliau menjadi staf pengajar di Jurusan FMIPA Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Beliau juga menjadi Kepala Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam ITS dan menjadi anggota Himpunan Fisika Indonesia dan Physical Society of Japan. Pada awal 2006 menjadi Visiting Proffessor di Hiroshima University, Visiting Fellow di ISTAC, International Islamic University Malaysia.

C. Jurnal atau Publikasi Ilmiah Agus Purwanto

Beliau sangat aktif menulis dan meneliti semenjak kuliah S1 sampai S3. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di beberapa jurnal dan media masa mulai dari Modern Physics Letter, Progress of Theoritical Physics, Physical Review, Nuclear Physics, Europan Journal Physics, Journal of Modern Physics, dan

(21)

D. Buku-buku Karya Agus Purwanto

(22)

BAB III

INTEGRASI-INTERKONEKSI SAINS DAN AGAMA

PEMIKIRAN AGUS PURWANTO

A. Integrasi-Interkoneksi Sains dan Agama

Secara bahasa integrasi berasal dari kata integrated yang memiliki arti pertama keseluruhan atau utuh, yang kedua berarti bersatunya antar bagian menjadi satu, yang ketiga berarti menghilangkan hambatan.20 Sedangkan interkoneksi berasal dari kata interconnection yang berarti menghubungkan yang satu dengan yang lain.21 Dengan demikian penyatuan dan keterhubungan dalam hal ini adalah sains dengan agama. Amin Abdullah mengibaratkan integrasi-interkoneksi seperti halnya mata uang yang memiliki dua bagian yang tidak bisa dipisahkan. Ada tiga kata kunci yang diinspirasi dari Ian G Barbour dan Holmes Rolston dalam integrasi-interkoneksi sains dan agama, yaitu:22

1. Semipermeable (saling menembus)

Hubungan antara ilmu/sains dengan agama tidaklah dibatasi dengan tembok/dinding tebal yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi, tersekat atau terpisah sedemikian ketat, melainkan saling menembus. Masih tampak garis batas demarkasi antar bidang disiplin ilmu, namun ilmuan antar bidang saling membuka diri untuk saling berkomunikasi dan saling menerima masukan dari disiplin luar bidangnya. Dan hubungan

20Webster’s New World Dictionary, 337. 21Webster’s New World Dictionary, 338.

22Amin Abdullah, Agama, Ilmu dan Budaya: Paradigma Integrasi-Interkoneksi Keilmuan, Naskah Inaugurasi Amin Abdullah menjadi salah satu anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Yogyakarta, 17 Agustus 2013, 10-21.

(23)

saling menembus ini dapat bercorak klarifikatif, komplementatif, alternative, korektif, verifikatif maupun transformatif.

2. Intersubjektive Testibility (keterujian intersubjektif)

Pemahaman mengenai subyek dan obyek selalu menjadi perdebatan dalam pengambilan sebuah kesimpulan. Ada objektif dan subjektif, dan bagaimanapun pula objek selalu dikonstruk oleh subjek. Oleh karena itu, pemahaman tentang apa yang disebut objektif harus disempurnakan menjadi intersubjective testability, yakni semua komunitas keilmuan turut serta secara bersama-sama menguji penafsiran dan pemahaman data yang diperoleh dari seorang peneliti.

Dalam hal ini beliau menekankan bahwasannya dalam agama akan sangat susah untuk melihat apakah sujektif atau objektif. Untuk itulah ada dua kemungkinan pemahaman dalam agama yaitu objective-cum-subjective atau subjective-cum-objective dan klaster yang terakhir adalah intersubjektif. Untuk menghindarkan diri dari pemahaman subjektif yang akut, agamawan perlu mengenal adanya unsur-unsur objektif dalam agama melalui penelitian empiris. Sehingga intersubjektif ini dapat dipahami sebagai kondisi mentalitas keilmuan seseorang yang dengan cerdas mendialogkan antara dunia objektif dan subjektif dalam menghadapi kompleksitas kehidupan secara umum, tidak hanya sekedar sains dan agama.23

(24)

3. Creative Imagination (imajinasi kreatif)

Membuat teori baru tidaklah mudah karena dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dan keberanian yang kuat dalam menggabungkan berbagai gagasan, ide-ide yang telah ada sebelumnya. Oleh karenanya imajinasi kreatif sangatlah ditekankan dalam rangka pencarian dan penggalian teori baru, yakni berani mengaitkan dan mendialogkan uraian dalam satu bidang ilmu agama dalam kaitan, diskusi dan perjumpaannya dengan disiplin keilmuan yang lainnya.24

Ketiga kata kunci di atas mendasari paradigma integrasi-interkoneksi sains dan agama. Keutuhan yang didasarkan dari saling dialog antar bidang keilmuan, ditambah dengan mentalitas seorang peneliti dalam mendialogkan subjektifitas dan objektifitas data yang ada disertai dengan imajinasi berfikir kreatif menjadikan paradigma keilmuan terlihat utuh dan kokoh. Kehadiran agama di mata sains menjadikannya memiliki sudut pandang yang lebih luas sekaligus ada prinsip-prinsip yang memang harus ada batasnya. Begitu juga kehadiran sains di mata agama menjadikannya lebih mudah dipahami secara empiris.

B. Integrasi-Interkoneksi Sains dan Agama Pemikiran Agus Purwanto

Secara umum pemikiran sains dan agama Agus Purwanto dituangkan dalam dua buku yang berjudul Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta. Kedua buku tersebut ditulis dan diterbitkan belum lama, yaitu sekitar 2008, dan 2011 yang lalu. Tidak terlalu jauh dari masa perhatian intelektual

(25)

sebelumnya seperti Seyyed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar, Mehdi Ghosani, Abdus Salam, Naquib Al-Attas yang berada pada kisaran 1990 an. Meski begitu tema sains dan agama masih sangat minim mendapat perhatian di kalangan para intelektual khususnya dunia Islam dibandingkan dengan periode zaman keemasan Islam yaitu pada Dinasti Abbasiyah.

Kegagalan dunia Islam dalam membangun peradaban melalui sains dan agama menjadi momok terbesar. Saat ini umat Islam terperangkap dalam jaring laba-laba kepentingan pro status quo yang melarang adanya pemahaman baru atas Al-Qur`an yakni dengan memandang bahwa penafsiran lama terhadap Qur`an mempunyai nilai skralitas yang lebih besar dari Al-Qur`an itu sendiri.25 Problem besar yang dari dulu masih terus berlanjut

sampai sekarang meski pintu ijtihad telah dibuka lebar-lebar pada abad 13 M. Menjelang abad 20 masehi, umat Islam sangatlah beruntung karena kehadiran para intelektual terus mencoba memberanikan diri untuk merubah cara pandang tersebut. Pemikiran-pemikiran sains yang telah lama terkubur mulai dihidupkan lagi. Dan khususnya melalui dua buku karya Agus Purwanto ini, umat Islam dapat menengok kembali tema-tema sains yang terkandung dalam Al-Qur`an terlebih dapat dijadikan inspirasi dalam meningkatkan cakrawala berfikir yang lebih luas demi kebangkitan peradaban Islam.

Secara keseluruhan kedua buku tersebut berisi tema-tema yang sangat menarik dan menginspirasi khususnya bagi umat Islam. Beliau menemukan secara riilnya di dalam Al-Qur`an memuat 800 ayat yang mengandung kata

(26)

bagian dari alam seperti air, awan, besi, bintang, burung, cahaya, darah, emas, atau fenomena alam melebihi ayat-ayat yang mengandung hukum.26 Pada dasarnya alam diciptakan dengan tujuan yang tidak sia-sia dan benar-benar memiliki hakikat. Dasar kosmopolitanisme Islam masa lalu yang melihat perbendaharaan kultural umat manusia sebagai milik sendiri sehingga tak segan-segan mengambil serta mengembangkannya yaitu melalui kreatifitas ilmiah.27

Grafik. 3.1

Grafik di atas menjadi pondasi pokok integrasi-interkoneksi pemikiran Agus Purwanto dalam dua bukunya tersebut. Untuk mencapai hipotesis yang tepat khususnya dalam menafsirkan fenomena alam, terlebih dahulu melihat pondasi dasarnya yaitu melalui Al-Qur`an. Dari sanalah kemudian berlanjut

26Agus Purwanto, Nalar Ayat-Ayat Semesta, Bandung:Mizan, 2015, 90.

27Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta: Paramadina, 2009, 31.

Al

Qur`an

Bahasa

 

Arab

Kitab

 

Tafsir

Fenomena

 

Alam

 

Semesta

Penelitian

 

(27)

pada tahap penafsiran para ulama mengenai fenomena alam, ditambah lagi dengan aspek kebahasaan/bahasa Arab, dan hasil-hasil penelitian ilmiah dari sejak zaman Sebelum Masehi sampai sekarang.

1. Fenomena Alam Semesta

Alam semesta adalah fana. Ada berbagai proses di dalamnya mulai dari ketiadaan sama sekali kemudian tercipta, yang pada akhirnya juga akan hancur. Di antaranya juga terdapat peciptaan manusia, dan makhluk lainnya yang menghuni di dalamnya. Bersamaan itu pula terdapat berjuta-juta proses fisika, kimia, biologi dan proses-proses lainnya yang tidak diketahui.28 Sambil menunjuk pada Q.S Al-Baqarah ayat 117:

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia.”29

Penciptaan alam semesta pada dasarnya memuat proses yang sangat panjang. Kata kun berarti fi’il amr yang berarti perintah, lantas terdapat proses yang kedua yaitu fayakun yang berupa fi’il mudhari’ terjadilah namun dalam sudut pandang proses (sedang berlangsung).30

Alam semesta kian meluas. Imajinasi masa silam membawa manusia pada alam semesta yang lebih kecil sampai pada awal, nol.31 Senada dengan hal di atas bahwa alam semesta telah meluas dan hampir dipastikan akan mengalami percepatan karena adanya energi gelap yang

28Moedji Raharto (ed), Harun Yahya: Penciptaan Alam Semesta, Gramedia-Buku Online, 6.

(28)

membentangkan ruang dan waktu. Saat meluas, alam semesta menghasilkan partikel, inti, atom dan struktur-struktur yang lainnya.32

Kehadiran alam semesta yang sebelumnya dari ketiadaan, kemudian awal penciptaan sampai pada proses perluasan tentu di dalamnya terdapat sangat banyak proses meneguhkan pada manusia agar mereka bisa mempelajari, memahami dan berdialog akan ciptaan-Nya. Alam semesta sungguh menakjubkan karena terdapat banyak sekali unsur-unsur yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Tiga inti dari alam semesta yaitu materi, ruang dan waktu. Ketiganya terbagi menjadi berjuta-juta bagian dan sub-bagian, mulai dari atom, partikel, planet, tatasurya, galaksi, black-hole, dark energy, dark matter.

2. Al-Qur`an

Secara bahasa Al-Qur`an bermakna bacaan, sedang secara istilah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tertulis dalam mushaf, diturunkan secara berangsur-angsur, orang yang membacanya dianggap sebagai ibadah dan setiap dari suratnya adalah mukjizat.33 Karena Al-Qur`an juga berarti bacaan, dengan begitu

menegaskan bahwa ia merupakan salah satu sumber ilmu yang pada dasarnya harus dibaca, dieksplorasi dan dielaborasi. Sampai akhirnya manusia mampu merasakan mukjizat keagungan darinya.

Al-Qur`an turun bukan pada ruang hampa, juga bukan pada awal sejarah kelahiran manusia. Ia turun ketika beberapa peradaban telah

32Nidhal Goessoum, Islam dan Sains Modern,..,352

(29)

berlangsung dan beberapa pemikiran mengenai alam semesta telah berkembang. Artinya mereka telah mempunyai pandangan, pendapat bahkan teori mengenai fenomena alam semesta. Dan untuk menangkap pesan fenomena alam serta mengambil pelajaran darinya dibutuhkan peran akal. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa sumber ilmu adalah indera dan akal, lalu gabungan antar keduanya yaitu berita suci (wahyu).34

Untuk itu, pesan awal pada tahap ini adalah Al-Qur`an menegaskan akan pentingnya penggunaan akal. Al-Qur`an menyebut kata aql sebanyak 49 kali dengan 48 kata dalam bentuk kata kerja sedang atau fi’il mudhari’ dan satu kata kerja lampau atau fi’il madhi. Setiap pola mempunyai karakteristik pesan tersendiri.35

Setelah itu, 800 ayat-ayat yang berhubungan dengan fenomena alam semesta (ayat-ayat kauniyah) beserta isinya dikelompokkan sesuai dengan temanya sebanyak 134, sebagai contoh: Tema Air: dari batu terbelah (Q.S Al-Baqarah ayat 74, Al-A’raf ayat 160), dari langit (Al-Baqarah ayat 164, Al-Furqan ayat 48, Luqman ayat 10). Tema Besi: menjadi batu (Al-Isra’ ayat 50), mendidih seperti air (Al-Kahfi ayat 29). Tema Bintang: waktu malam dan tenggelam (Al-An’am ayat 76), dan lain sebagainya sampai 800 ayat.36

Tema-tema yang telah dipaparkan secara jelas berikut dengan ayat-ayat yang melandasinya dengan tujuan agar dilakukan penelitian lanjutan secara maksimal dan mendalam. Darinya akan menghasilkan

(30)

penemuan yang benar-benar mengagumkan dan menjadi konsep-konsep yang pada dasarnya Al-Qur`an berbanding lurus dengan kaidah alam semesta.

3. Penafsiran Ulama/Kitab Tafsir

Dalam memahami Al-Qur`an diperlukan berbagai kumpulan sudut pandang para ulama-ulama ahli tafsir. Dengan demikian agar tidak terjadi kesalahan yang fatal dalam mengimplementasikan teks Al-Qur`an kepada penyimpulan bahkan tindakan nyata. Kedua buku tersebut memuat beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Qur`an Perkata, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilailil Qur’an, dan lain-lain. Setiap dari teks ayat Al-Qur`an diberi penjelasan secara jelas tentang makna yang dimaksud.

Meski demikian apa yang telah diambil kemudian dianalisis ke dalam dua buku tersebut masih mendapatkan kritikan dan catatan khusus dari salah satu ahli bahwa masih butuh tafsir yang lebih banyak lagi khususnya tafsir-tafsir terbaru seperti Al-Mizan, Kasyfu al-Asrar, Al-Islam wa al-Thibb, dll.37

4. Kebahasaan/Bahasa Arab

Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa Arab. Oleh karenanya, setiap ilmuan muslim harus mengerti, memahami dan medalami bahasa Arab. Dalam hal ini Agus Purwanto benar-benar menekankan pentingnya belajar bahasa Arab. Karena pada dasarnya setiap pengkajian Qur`an, secara langsung berhadapan dengan bahasa Arab. Ia harus dikaji dan dipahami

(31)

seluk-beluknya, rahasia, dan keistimewaannya dibandingkan bahasa lainnya.

Dengan pemahaman bahasa Arab yang benar dan tepat akan menghasilkan temuan menuju kesimpulan yang tepat pula. Dalam hal ini Beliau memberi contoh dalam Q.S Yunus ayat 34:

ö≅è%

“Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" Katakanlah: "Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; Maka Bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?”

Kata

أدبي

yabda`u merupakan fi’il mudhari’ atau termasuk kata kerja sedang. Dengan demikian Allah sedang mencipta atau akan mencipta. Artinya proses penciptaan masih terus berlangsung.38 Sebagaimana

diketahui juga bahwa bintang pun juga musnah dan muncul bintang yang lain. Berbeda dengan para ilmuwan yang selama ini meyakini bahwa tidak akan lagi ada penciptaan setelah ledakan besar.

Contoh lainnya adalah ayat yang Al-Qur`an yang berisi bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Dalam hal ini terdapat penemuan mutakhir pasangan elektron yaitu positron yang ketika keduanya saling bertemu, maka yang terjadi adalah musnah.39 Hal ini juga mengindikasikan bahwa ternyata partikel di alam semesta ini bisa musnah.

(32)

Dengan begitu klaim yang menyatakan alam semesta abadi tertolak dengan teori ilmiah sekaligus penegasan Qur`an tersebut. Demikian aspek bahasa Arab mengungkapkan penemuan terbaru dan mempermudah para ahli-ahli dalam memahami fenomena alam semesta yang selama ini belum terungkap atau masih samar-samar.

5. Penelitian Ilmiah

Sejak zaman dahulu alam semesta selalu menjadi bahan kajian untuk dipikirkan, dipahami bagi manusia dan sebagai sarana untuk mengerti keagungan Allah khususnya umat Islam. Para filosof telah banyak meluangkan waktunya dalam mengkaji alam semesta ini. Mulai dari filosof Yunani seperti Thales (625-545 SM), Anaximandros (610-547 SM), Anaximenes (585-526 SM), Herakleitos (540-480 SM), Empedokles (490-430 SM), Democritus (460-370 SM), Socrates (470-399 SM), Plato (422-347 SM), Aristoteles (384-322 SM). Kemudian dilanjutkan di Alexandria seperti Euclid (330-275 SM), Archimides (287-212 SM), Apollonius (262-160 SM), Claudius Ptolomeus (100-170 M). Meski begitu sampai pertengahan abad ke-7 tidak ada kemajuan yang signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.40

Setelah Islam datang, ilmu-ilmu yang terdahulu mulai diterjemahkan besar-besaran dan dikritisi, dieksplorasi, dielaborasi oleh para ulama seperti Kawarizmi, Ibnu Sina, Biruni, Ibnu Haitsam, Jahiz, Al-Battani, At-Thusi dan masih banyak lainnya yang kemudian muncullah

(33)

penemuan-penemuan baru khususnya di bidang sains dan terus dikembangkan sampai runtuhnya dinasti Abbasiyah di Baghdad.41 Pembuktian asal muasal, eksistensi, sifat-sifat dan segala isi alam semesta masih terus berlanjut sampai sekarang.

Berbeda dengan dunia Timur semenjak peradaban Islam runtuh sekitar abad 12 M, beberapa dekade berikutnya dunia Barat mulai bangun dengan menerjemahkan banyak buku-buku karya umat Islam dan kemudian terpacu untuk melakukan percobaan-percobaan dalam bidang sains.42 Beberapa tokoh ternama seperti Roger Bacon (1220-1297),

Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630), Galileo (1564-1642), James Bradley (1693-1762), Robert Boyle (1627-1691). Pada periode inilah diumumkan bahwa bumi mengelilingi matahari (heliosentris) berbeda dengan pandangan sebelumnya yaitu bumi menjadi pusat tatasurya (geosentris).

Selama Hari Kiamat belum terjadi, fenomena alam masih terus berlanjut dan memberikan banyak sekali pelajaran bagi mereka yang mau menggunakan akal pikirnya. Terlebih lagi fenomena alam juga selalu memberikan kejutan-kejutan bagi manusia agar mereka lebih banyak mengerti dan memahami keagungan Allah lantas banyak-banyak bersyukur kepada-Nya. Tahapan-tahapan penyimpulan mengenai alam semesta dan isinya terus berlanjut dan tidak akan pernah habis.

(34)

Gagasan integrasi sains dan Agama telah berlangsung cukup lama, terlebih pada pengembangan sains berbasis Agama (theistic science) yang kini sudah sampai pada bentuk paradigma ilmiah.43 Hubungan sains dan Agama secara integral sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Ian G Barbour ternyata masih mengalami perkembangan di dalamnya.

Secara umum telah jelas bahwa pemikiran Agus Purwanto mengenai sains dan Agama mengarah kepada semangat untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi fenomena alam semesta yang berdasar pada Al-Qur`an. Untuk itulah diberi penekanan terkait Sains Islam yakni sains yang premis dasarnya diambil langsung dari wahyu atau ayat-ayat Al-Qur`an. Senada dengannya bahwa Al-Qur`an merupakan bukti otentik yang di dalamnya memuat kebenaran yang dapat diterima secara objektif dan sains, bahkan sesuai dengan data atau penemuan-penemuan modern.44

Secara tegas tiga pilar Sains Islam harus dibangun berdasarkan ketauhidan, mulai dari ontologi, yakni yang menjadi subjek ilmu adalah penerimaan terhadap realitas material dan non-materi. Aksiologi Sains Islam yakni dikenalnya Sang Pencipta melalui pola-pola ciptaan-Nya dan dikatahuinya watak sejati segala sesuatu. Dan epistimologi Sains Islam yakni berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunah.

Pada hakekatnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara Islamisasi Sains, Sains Islam bahkan Sains Teistik yaitu sama-sama menginginkan

43Mohammad Muslih, Al-Qur`an dan Lahirnya Sains Teistik, Tsaqofah Jurnal Peradaban

Islam, vol 12 no 2 (November 2016), 257.

44Maurice Bucaille, The Bible, The Qur`an dan Science: The Holy Scripture Examined in

(35)

tegaknya visi Ilahiah, terbangunnya ilmu pengetahuan berdasarkan kebenaran wahyu. Dalam hal ini Zainal Abidin Bagir juga menyamakan antara Islamisasi Pengetahuan, Sains Islam dan Sains Teistik.45 Meski begitu Mehdi Golshani tidak mengharapkan bahwa Sains Islam atau Sains Teistik dapat menghasilkan metode ilmiah yang baru atau rujukan dari Kitab Suci atau Sunnah Nabi untuk riset fisika dan kimia.46Menanggapi hal tersebut Nidhal

Guessoum menyatakan penolakannya terhadap semua perspektif ekstrem yang di dalamnya ada Sains Sakral sampai Sains Islami.47

Beliau menekankan dan mempromosikan pembacaan berlapis dengan nuansa dan petunjuk multilevel terhadap sebagian besar atau bagian Al-Qur`an. Baginya Al-Qur`an tidak dapat diubah menjadi sebuah ensiklopedi apa pun termasuk semua jenis sains. Yang perlu diperhatikan adalah Al-Qur`an harus dibaca dan dikaji dengan serius dan penuh hormat. Sebagai contoh dengan meyakinkan masyarakat Muslim mengenai gagasan tertentu misalnya teori evolusi Biologi bukan dengan membuktikan bahwa teori tersebut dapat ditemukan dalam Al-Qur`an, melainkan dengan mengajak mereka melakukan pembacaan dan penafsiran yang cerdas terhadap beberapa bagian Al-Qur`an yang benar-benar konsisten dengan teori tersebut.48

Kekawatiran beberapa ilmuan nampak bahwa mereka tidak setuju Al-Qur`an kian dijadikan kitab sains atau ensiklopedi sains karena hal ini

45Zainal Abidin Bagir, Science, Religion in a Post-Colonial World: Interfaith Perspectives, Australia: ATF Press Adelaide, 2005, 40.

46Mehdi Golshani, From Seculer Science to Thesitic Science in Nidhal Goessoum, Islam dan Sains Modern, Terjemah Maufur, Bandung: Mizan, 2011, 182.

(36)

mengurangi derajat martabat kemukjizatan Al-Qur`an. Dalam pandangannya Masdar Hilmy juga tidak setuju akan Al-Qur`an yang diperlakukan sebagai kitab ilmiah dan sumber bagi ilmu-ilmu modern dikarenakan keduanya (Qur`an dan Sains) dibangun di atas fondasi epistimologi yang berbeda. Al-Qur`an merupakan kalam Allah yang diwahyukan secara deduktif, sedangkan sains merupakan hasil pola pikir manusia yang dilakukan secara induktif. Yang diperlukan umat Muslim terhadap Al-Qur`an adalah mengimani isinya secara totalitas bukan menguji kebenarannya secara induktif, karena bisa saja bertentangan dengan temuan sains modern.49

Dari berbagai pergulatan pemikiran atas, Agus Purwanto pada dasarnya menginginkan pengkajian dari teks (Al-Qur`an) menuju konteks kerja ilmiah yaitu menekankan adanya pengkajian yang mendalam melalui riset-riset ilmiah pada ayat-ayat kauniyah yang sudah ditemakan secara rinci dan sistematis. Oleh sebab itu setiap bidang khususnya yang termasuk kategori pengkajian alam semesta (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi) wajib mengembangkan riset ilmiah sesuai dengan ayat-ayat kauniyah yang telah dijabarkan.

Penggambaran riil Sains Islam pemikiran Agus Purwanto menitikberatkan ayat-ayat kauniyah yang berjumlah 800 harus menjadi salah satu landasan pengembangan keilmuan kealaman pada khususnya. Terlebih ayat-ayat tersebut masih sangat minim mendapat perhatian untuk dieksplorasi secara ilmiah. Fenomena alam semesta, kebahasaan/bahasa Arab, tafsir

(37)

Qur`an, penelitian ilmiah, menjadi sesuatu yang integral dan interkoneksi dalam menjadikan Al-Qur`an sebagai premis dasar Sains Islam.

Agus Purwanto dalam hal ini tidak pernah menyimpulkan bahwa Al-Qur`an merupakan kitab sains atau dapat dianggap sebagai ensiklopedi sains. Sejauh ini beliau tertarik untuk meneliti dan bukan untuk menguji kebenaran Al-Qur`an dari ranah sains, melainkan mengeksplorasi, mengelaborasi ayat-ayat kauniyah yang jumlahnya cukup banyak dalam Al-Qur`an. Di sisi lain bahwa perkembangan penelitian beserta hasil-hasilnya senada dengan yang teks Al-Qur`an khususnya ayat-ayat kauniyah.

Bagaimanapun juga Al-Qur`an adalah petunjuk kebenaran bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Ia tidak hanya berisi tentang hal-hal yang bersifat syari`at namun juga tentang alam semesta dan isinya. Dalam kajian beliau yang mendalam dari berbagai sisi yaitu fenomena alam, kebahasaan, tafsir, dan hasil-hasil penelitian ilmiah menghasilkan penyingkapan yang sangat luar biasa yaitu kesesuaiannya Al-Qur`an dengan fenomena alam semesta.

(38)
(39)

BAB IV

IMPLIKASI PEMIKIRAN AGUS PURWANTO TERHADAP

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Esensi Pendidikan Agama Islam

Kata iqra` tidak hanya sebagai perintah yang turun pertama kali namun dalam tataran selanjutnya menjadi inspirasi bagi setiap muslim untuk selalu mengembangkan potensi lahiriah maupun batiniah. Untuk menuju Insan Kamil atau menjadi manusia yang sempurna diperlukan tahapan-tahapan penyempurnaan berbagai potensi yang dimiliki manusia yang menurut Al-Ghazali adalah nafs, ‘aql, qalb, dan ruh. ‘Aql merupakan salah satu dimensi yang dimiliki manusia untuk meraih informasi, ilmu dan pemahaman. Dengannya manusia dapat memperoleh derajat kemuliaan di dunia dan akherat.

Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu wilayah yang mengkaji dan berupaya untuk menyempurnakan keempat potensi tersebut. Untuk itulah pasca perebutan wilayah Yunani oleh Islam, pada akhirnya terjadi penerjemahan besar-besaran dan percampuran teks pembelajaran. Tidak hanya terkait Al-Qur`an, Al-Hadits, Fiqih, dll, namun merambah sampai Ilmu Filsafat, Ilmu Astronomi, Ilmu Geografi, dan pada saat itulah conggak peradaban Islam dimulai.

Baik pendidikan maupun sains yang berkembang di dalam peradaban Islam selama ratusan tahun pada hakekatnya berkarakter Islami, dari manapun asal-usul sejarah mereka. Organisme hidup yang berujud peradaban Islam itu

(40)

menelan dan mencerna berbagai macam jenis pengetahuan dicerna dan ditumbuhkan di dalam tubuh Islam dengan prinsip wahyu Islam dan semangat Al-Qur`an.50 Tidak ada pendikotomian keilmuan antara sains dan Agama semenjak awal peradaban Islam. Dan pendikotomian sains dan Agama terjadi di kalangan umat Islam pada abad 11 menjelang abad ke 12 yang pada akibatnya terjadilah kemunduran peradaban intelektualisme Islam.51

Dalam meneguhkan pencarian jatidiri umat Islam, Pendidikan Agama Islam harus meletakkan pondasi dasarnya pada keterbukaannya untuk menggali seluruh potensi, bukan malah membatasi pada lingkup yang sempit. Dengan begitu Pendidikan Agama Islam sebagai penginspirasi dan pendorong tumbuhnya potensi-potensi akademik yang lainnya.

Ada dua konsep dalam Pendidikan Agama Islam yang mendasarinya, yang pertama, bahwa dasar pengetahuan dalam Islam adalah Allah berkuasa atas segala sesuatu dan pengetahuan bersumber dari-Nya. Yang kedua, bahwa tauhid memiliki daya dorong munculnya semangat dalam mengkaji alam dan sumber motivasi pengembangan berbagai keilmuan.52 Konsep di atas menjadi

arah dan pondasi bagi berjalannya Pendidikan Agama Islam di suatu lembaga pendidikan, mulai dari kurikulum, materi, metode, dan pelaksanannya.

Tanpa hal tersebut hakekat Pendidikan Agama Islam tidak akan pernah sampai pada tujuannya. Kurikulum, materi, metode dan pelaksanaannya harus dirancang sedemikian rupa yang memiliki arah dan pengembangan yang jelas

50Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern.., 124. 51Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik:.., 121.

(41)

bagi tumbuh kembangnya potensi-potensi dalam diri manusia secara menyeluruh.

B. Implikasi Pemikiran Agus Purwanto terhadap PAI

Sebagaimana konsep integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto di atas membawa pada pemahaman akan pentingnya berbagai bidang keilmuan (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi) turut serta mengeksplorasi Al-Qur`an khususnya ayat-ayat kauniyah. Hal ini meneguhkan pula bahwa belajar Pendidikan Agama Islam tidak hanya monoton, namun berusaha berkolaborasi secara aktif dengan bidang-bidang di atas dalam rangka mengembangkan potensi umat Islam secara komprehensif.

Hal yang sama juga ditegaskan Sardar bahwa dalam rangka menemukan epistimologi Islam masa kini, perlu ditekankan kesalingketerkaitan, yakni semua bentuk pengetahuan saling terkait dan secara organis dihubungkan oleh jiwa wahyu Al-Qur`an yang selalu hidup. Keragaman dan kesalingketerkaitan menjadi ciri yang unik pada epistimologi Islam.53

Bagi Kuntowijoyo pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada paradigma Al-Qur`an jelas akan memeprkaya khazanah ilmu pengetahuan umat manusia. Premis-premis normatif Al-Qur`an dapat dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional, dan pada akhirnya dapat dipakai sebagai basis untuk kebijakan-kebijakan aktual. Oleh karena itulah diperlukan demistifikasi sebagai gerakan intelektual

(42)

untuk menghubungkan kembali teks dengan konteks atau teks menuju konteks artinya berkesinambungan dan berusaha menjawab permasalahan.54

Sebanyak 800 ayat kauniyah tersebut terbagi menjadi 132 bab. Dari bab-bab tersebut bisa langsung dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang sesuai temanya mulai dari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi. Dengan begitu PAI akan menjadi sumber sekaligus inspirasi bagi tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan kealaman dan menjadikan umat Islam berfikir kreatif dan inovatif, karena di dalamnya terintegrasi muatan hirarki ketrampilan proses sains. Tingkatan dasar mulai dari observasi, membandingkan, mengelompokkan, mengukur, mengkomunikasikan. Tingkatan menengah mulai dari menginferensi, dan memprediksi, sedangkatan tingkatan mahir mulai dari membuat hipotesis, mendefinisikan dan mengendalikan variabel.55

Sejarah juga mencatat bagaimana umat Islam menuntut dirinya untuk menguasai ketrampilan sains akan berbagai aspek di dalamnya yang pada akhirnya menjadikan sebab mereka menguasai semua prinsip dasar dan kaidah-kaidah sekaligus memahami problemanya. Ilmu-ilmu ‘aqliyyat seperti ini dapat berkembang melalui diskusi-diskusi dan perdebatan-perdebatan ilmiah, bukan bertumpu pada hafalan. Dan Ibnu Khaldun lebih jauh menyimpulkan bahwa sistem pengajaran merupakan faktor yang paling utama dalam menumbuhkan ilmu, pemahaman dan kemahiran.56 Ketika umat Islam

54Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu,.., 10-24.

55Charlesworth and Lind, Math and Science for Young Children (7 ed), Canada:Wadsworth, Cengage Learning, 2013, 3.

(43)

memiliki pengajaran ilmiah dan keahlian-keahlian, mereka berada pada orde yang sangat kokoh.57

Menurut Amin Abdullah, umat Islam pada hakekatnya telah memiliki konsep berfikir yang kreatif dan inovatif sebagaimana dahulunya telah dicontohkan di zaman keemasan Islam, namun setelah runtuhnya peradaban Islam, ketiga epistimologi bayani, burhani dan irfani ini didikotomikan satu sama lainnya. Padahal untuk mengejar ketertinggalan sekaligus memecahkan problem-problem kontemporer umat Islam sangat memerlukan ketiga epistimologi tersebut secara integrasi-interkoneksi.58

Pendidikan Agama Islam harus tetap memusatkan perhatian mereka pada hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan seluruh potensi-potensinya. Al-Qur`an menjadi sumber ilmu dan inspirasi yang harus terus dikaji, dari teks menuju konteks atau sebaliknya dan terlebih dalam ayat-ayat kauniyah.

Agar Pendidikan Agama Islam dapat berkembang dan mendapat perhatian khusus masyarakat haruslah segera merekonstruksi kurikulum dan sistem pengajarannya, di antaranya: 1) menyatukan ketiga aspek, kognitif, afektif dan psikomotorik, 2) dekat dengan realitas, 3) berorientasi pada pemecahan masalah, 4) menghilangkan berfikir deduktif-normatif, 5) kaya visualisasi (contoh dan praktek riil), 6) teo-antroposentris (mengombinasikan kedua aspek, yaitu ketuhanan dan kemanusiaan secara bersamaan).59 Beberapa

57Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun,…, 541.

58Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan

Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, 200-2017.

(44)

hal di atas akan membawa PAI menuju kearah yang lebih baik dan berusaha mendekatkan pada realitas sejatinya.

Dualisme keilmuan khususnya di Indonesia sendiri berdampak pada pola pikir yang serba bipolar-dikotomis dan menjadikan manusia terasing dari dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungannya.60 Dan hal ini harus segera diatasi secepat mungkin dan berkesinambungan. Wacana pengintegrasian-penginterkoneksian ilmu dan Agama sudah menggelora sedemikian lamanya. Dari PTKIN sendiri sudah mulai membuka program-program pendidikan umum seperti Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran, dll. Hal tersebut menunjukkan upaya yang jelas bahwa Sekolah yang berlabel Agama juga turut serta mengembangkan ilmu-ilmu umum.

Dalam kesempatan yang sama Agus Purwanto juga menyampaikan saran kepada UIN bahwa seharusnya tidak sekedar melakukan integrasi sains dan Islam atau ayatisasi sains, karena upaya ini sebenarnya harus sudah digagas semenjak di jenjang sekolah dasar sampai menengah atas. UIN harus berani melakukan eksperimen realisasi sains, setidaknya mengakomodasi dalam sub-bidang atau sub-jurusan dalam bimbingan tugas akhir.

Secara operasional integrasi-interkoneksi sains dan Agama di sekolah-sekolah belum tampak dengan jelas. Yang baru bisa dilakukan adalah mencoba memberikan wacana yang seluas-luasnya agar setiap guru PAI maupun guru-guru bidang umum yang berada dalam sekolah Islam tentang pentingnya korespondensi teks menuju konteks dan sebaliknya. Sebagaimana

60Amin Abdullah, Dkk, Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum: Upaya

(45)

guru-guru sains di Pesantren Tebuireng diwajibkan menjadikan kedua buku Agus Purwanto tersebut sebagai pegangan wajib. Lebih lanjut lagi bahwa menyatukan fondasi ide yang berprinsipkan Al-Qur`an sebagai eksplorasi ilmiah dan sejauh tidak kontradiksi dengan Al-Qur`an maka tergolong Islami.61

Dengan integrasi-interkoneksi sains dan Agama, keberadaan Pendidikan Agama Islam tidak akan dipandang sebelah mata. Ia akan dijadikan sumber rujukan ide-ide, inspirasi dan tumbuh kembangnya pengetahuan dan teknologi.

C. Kelemahan dan Kekuatan Konsep

Adapun integrasi-interkoneksi sains dan Agama dalam pemikiran Agus Purwanto ini memiliki kelemahan yaitu tidak mudah menemukan praktisi yang cakap dalam ilmu agama, bahasa, serta ilmu-ilmu sains sekaligus. Di sisi lain sejarah dikotomi keilmuan secara umum umat Islam dan khususnya di Indonesia sudah sejak awal kemerdekaan hanya menggenerasikan penerusnya ahli dalam satu bidang keilmuan saja.

Sedangkan beberapa kekuatan integrasi-interkoneksi sains dan Agama adalah sebagai berikut:

1. Pemikiran Agus Purwanto membuka peluang untuk memecah dikotomi keilmuan yang selama ini melekat erat dalam pendidikan Indonesia, secara umum maupun khusus di bawah Kemenag.

61Indal Abror, “Refleksi tentang Hubungan Sains dan Agama bagi Umat Islam”, Aplikasia:

(46)
(47)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari pendahuluan, analisis dan pembahasan integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, integrasi-interkoneksi sains dan Agama adalah dengan upaya mengeksplorasi, mengelaborasi 800 ayat-ayat kauniyah dengan kebahasaan (bahasa Arab), kitab-kitab tafsir para ulama, dan hasil-hasil penemuan penelitian ilmiah terdahulu sampai kontemporer. Berawal dari teks Al-Qur`an menuju konteks yaitu fenomena alam sekaligus kerja ilmiah, dan begitu juga sebaliknya dari konteks menuju teks.

Kedua, Pendidikan Agama Islam menjadi salah satu sumber rujukan ide-ide dan inspirasi bagi tumbuh kembangnya potensi-potensi dalam diri manusia. Ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja sama saling berdialog dengan bidang-bidang yang lain khususnya bidang kealaman (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi) dalam rangka menjamin tumbuh kembangnya potensi-potensi diri manusia. Begitu juga dengan memantapkan sumber ayat-ayat kauniyah yang sudah jelas untuk didialogkan dan dijadikan inspirasi untuk dilakukan penelitian secara mendalam.

(48)

B. Saran

1. Sains Islam akan terus berkembang di dunia, terlebih dapat memberikan nilai yang positif dari karakter sains, tidak hanya logis, empiris, sistematis, namun juga sarat dengan nilai.

2. Diperlukan langkah-langkah operasional integrasi-interkoneksi sains dan Agama pemikiran Agus Purwanto untuk dapat dimasukkan dalam kurikulum lembaga pendidikan awal, menengah, atas dan perguruan tinggi sekalipun.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif- Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

Abdullah, Amin. Agama, Ilmu dan Budaya: Paradigma Integrasi-Interkoneksi Keilmuan, Naskah Inaugurasi Amin Abdullah menjadi salah satu anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Yogyakarta, 17 Agustus 2013, 10-21.

Abdullah, Amin & dkk. Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum: Upaya Mempertemukan Epistimologi Islam. Yogyakarta: SUKA Press. 2003.

Abdullah, Amin & dkk, Implementasi Pendekatan Integratif Interkonektif

dalam Kajian Pemikiran Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pascasarjana UIN Yogyakarta, 2014, 1.

Abror, Indal “Refleksi tentang Hubungan Sains dan Agama bagi Umat Islam”, Aplikasia: Jurnal Ilmu-Ilmu Agama, Vol. VII, No 1 Juni 2007, 77-84. Alim, Akhmad. Sains dan Teknologi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2014.

Ali Engineer, Asghar. Islam Masa Kini. Terjemahan Tim Forstudia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.

Arya Wardhana, Wisnu. Hadiah Nobel dan Sains Modern dalam Al-Qur`an. Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2016, 88.

Abidin Bagir, Zainal. Science, Religion in a Post-Colonial World: Interfaith Perspectives. Australia: ATF Press Adelaide, 2005, 40.

Barbour, Ian G. Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama. Terjemahan Fransiskus Borgias, Bandung: Mizan, 2005.

Bucaille, Maurice. The Bible, The Qur`an dan Science: The Holy Scripture

(50)

Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Charlesworth and Lind, Math and Science for Young Children (7 ed). Canada:Wadsworth, Cengage Learning, 2013.

Goessoum, Nidhal. Islam dan Sains Modern. Terjemahan Maufur, Bandung: Mizan, 2011.

Golshani, Mehdi. From Seculer Science to Thesitic Science in Nidhal Goessoum, Islam dan Sains Modern, Terjemah Maufur, Bandung: Mizan, 2011. Hilmy, Masdar. Pendidikan Islam dan Tradisi Ilmiah. Malang: Madani, 2016.

‘Itr, Nuruddin. Ulûmu al-Qur`an al-Karîm. Damsyiq, 1993.

Khaldun, Ibnu. Muqaddimah Ibnu Khaldun. terjemahan Ahmadie, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistimologi. Metodologi dan Etika, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Madjid, Nurcholish. Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina, 2009.

Maksudin. Paradigma Agama dan Sains Nondikotomik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Mahzar, Armahedi. Revolusi Integrasi Islam: Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami. Bandung: Mizan, 2004.

Mas’ud, Abdurrahman. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik:

Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Gama Media, 2002.

Muslih, Mohammad. Al-Qur`an dan Lahirnya Sains Teistik, Tsaqofah Jurnal Peradaban Islam, vol 12 no 2 (November 2016).

Nasr, Seyyed Hossein. Sains dan Peradaban di dalam Islam. Terjemahan J. Mahyudin, Bandung: Penerbit Pustaka, 1997, 1-21.

(51)

Purwanto, Agus. Ayat-Ayat Semesta:Sisi-Sisi Al-Qur`an yang Terlupakan, Bandung: Mizan, 2008.

Purwanto, Agus. Nalar Ayat-Ayat Semesta. Bandung: Mizan, 2015.

Raharto, Moedji (ed). Harun Yahya: Penciptaan Alam Semesta, Gramedia-Buku Online.

Sabri, Wan, & dkk, “Islamic Civilization: Its Signifigance in al-Faruqi’s

Islamization of Knowledge”, International Journal of Islamic Thought, Volume 7 (June 2015), 51.

Sardar, Ziauddin. Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come. terjemahan Rahmani Astuti, Bandung: Pustaka, 1987.

Surakhmad, Winarno. Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung :Tarsita, 1980. Syamsuddin, Din., “Diskusi Pakar dalam Program Doktor Politik Islam UMY”,

Senin, 2 Mei 2016, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Syarif, Edwin., “Pergulatan Sains dan Agama”, Refleksi, vol.13, no.5 (Oktober

2013).

Ummatun, Nurul., “Pemikiran Islamisasi Ilmu Pengetahuan Agus Purwanto Dalam Buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta”, Publikasi Ilmiah Pascasarjana UMS, 2015.

Yasin Yusuf, Muhammad., “Pesantren Sains: Epystimology of Islamic Science in Teaching System”, Walisongo, Volume 23, No 2 (November 2015). Muhammad Taufiq, Quran in Word Versi 1,3.

(52)

BIOGRAFI PENULIS

Nama : Fauzi Annur

Status : Menikah dengan dr. Chyintia Kurnita Wibisana Tempat Tanggal Lahir : Klaten, 22 Mei 1988

Alamat KTP : Tegalampel 10/06, Karangdowo, Klaten Alamat Tinggal : Puri Permata Regency III no B24 Ngabeyan 3

Kartasura, Sukoharjo (Belakang RS Karima Utama)

Telepon/ HP : 085747887037

E-mail : [email protected] / fb: Fauzi Uzik Hoby : Reading, Writing, Research and Development,

Climbing Mountain Riwayat Pendidikan

1. MIM Tegalampel1994 – 2000 2. SMP N 1 Karangdowo 2000 – 2003 3. SMA 2 Al Islam Surakarta 2003 – 2006 4. IAIN Surakarta 2008 – 2012/ S1

5. Ma’had Abu Bakar Surakarta 2010 – 2013/D2 Pendidikan Bahasa Arab 6. Kursus Bahasa Inggris di Jogja dan Pare selama 4-5 bulan (antara

2013-2014). Skor TOEFL 503.

7. Beasiswa Mora Scholarship Kemenag 2014 (Pengembangan Bahasa Inggris)

8. Pascasarjana IAIN Salatiga (2015-sekarang). Riawayat Organisasi dan Kerja

1. Pembina Orang Tua Rumah Zakat 2011-2016

2. Pimpinan Redaksi Newsletter Pusat Studi Kebijakan Pendidikan IAIN Surakarta 2012-2013

(53)

4. Peneliti di LPM IAIN Surakarta “Perkembangan Majalah Islam di Solo”(2014).

5. Ketua LSM Education Care Purwohutaman Kartasura 2012-sekarang 6. Forum Lingkar Pena (FLP) Surakarta

7. Sebagai Guru di Yayasan Al-Abidin Surakarta 2012-2013 8. Istana Dongeng Nusantara (2015).

9. Bantu Mengajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Surakarta 2014-Sekarang.

Buku, Jurnal dan Publikasi Ilmiah

1. Buku Panduan Pelaksanaan Praktik Keahlian Tahsin Al-Qur`an, Jurusan PAI, Fakultas FITK IAIN Surakarta 2015.

2. Buku Panduan Pelaksanaan Praktik Keahlian Menulis Al-Qur`an, Jurusan PAI, Fakultas FITK IAIN Surakarta 2014.

3. Pendidikan Karakter Berbasis Keagamaan (Studi Kasus di SDIT Nur Hidayah Surakarta). Jurnal Kajian Kependidikan Islam, Vol. 1. No.1 Januari-Juni 2016 FITK IAIN Surakarta.

4. Guru dan Sekolah Penyemai Lingkungan Edukasi. Didaktika Koran Solopos, 21 Februari 2015, hal 6.

5. Guru adalah Seorang Peneliti. Didaktika Koran Solopos, 2015. 6. Edukasi Berbasis Keluarga. Opini Koran Joglosemar, 2 Maret 2016.

Gambar

Grafik. 3.1

Referensi

Dokumen terkait

KRA Golo memiliki tujuh ruang publik yang digunakan untuk aktivitas bermain oleh anak, yaitu halaman Balai RW, selokan, lapangan, halaman SD, lahan kosong, dan

Based on result of investigation as concluded in general that skill writing of text procedure FRPSOH[ ³0DNLQJ ( - .73´ RQ VWXGHQWV WHQ ; JUDGH RI MIA 5 SMA Negeri 4

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada pembahasan, dapat diambil simpulan yaitu Kemampuan memproduksi teks negosiasi siswa kelas X SMA Negeri 20 Medan

Wanita yang telah bekerja sebagai perempuan penghibur dikumpulkan dan setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, sebagian dari mereka ditempatkan di rumah - rumah bordil untuk

Untuk wilayah pesisir timur (Stasiun 1) Desa Gebang Mekar menjadi wilayah yang termasuk kategori cukup sesuai (S3) untuk dilakukan rehabilitasi ekosistem

Perlakuan G2 (penambahan pupuk limbah rumput laut Gracilaria dosis 100 g/pot) juga dapat memperbaiki sifat kimia pada tanah Vertisol meskipun tidak lebih baik dari

sepenuhnya oleh PDAM. Oleh karena itu, penentuan alokasi sumber air baku disesuaikan dengan program pengembangan sumber air baku PDAM. Berdasarkan data dari PDAM Tirta

1) Keterterapan pendidikan ekonomi disekolah belum maksimal, karena konten pembelajaran masih belum memenuhi latar belakang kehidupan yang sesuai dengan lingkungan tempat