KONSEP ILMU
Perspektif Islam dan Barat
Dr. Dinar Dewi Kania
Apa itu ...
•Ilmu ?
•Ilmu Pengetahuan ?
•Pengetahuan atau knowledge? •Science atau sains ?
•Barat ?
•Islam ?
Apa itu
•
Barat ?
Filsafat Ilmu
•
Ontologi
(obyek ilmu)
•
Epistemologi
(cara / proses mengetahui ilmu)
•
Aksiologi
Epistemologi
•
Pengkajian
mendalam
dan
sistematis terhadap pengetahuan,
kriteria-kriteria
dalam
perolehannya
dengan
keterbatasan-keterbatasannya
Epistemologi
•
Epistemologi berasal dari bahasa
Yunani
episteme
yang berarti
pengetahuan (
knowledge
atau
science
) dan
logos
yan berarti ilmu.
Epistemologi merupakan cabang
filsafat yang membahas mengenai
pengetahuan sehingga epistemologi
dikenal dengan nama filsafat
Siapa yang mempertanyakan
Ilmu ?
1. Menurut Furmerton sejarah epistemologi dimulai oleh kaum skeptis, di mana kaum skeptis sering kali secara implisit mengisyaratkan (presuppose) beberapa hal yang berkaitan dengan pengetahuan (knowledge) atau justifikasi. Status mereka sebagai seorang skeptis ditetapkan
Siapa yang mempertanyakan Ilmu ?
•Protagoras contohnya memberikan
Siapa yang mempertanyakan
Ilmu ?
2. Plato
Plato adalah filsuf Yunani yang bisa dikatakan
menjadi pencetus nyata epistemologi, karena berusaha untuk berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti; Apa itu pengetahuan? di mana adalah
pengetahuan umum ditemukan, dan berapa banyak dari apa yang kita pikir kita tahu biasa adalah benar-benar pengetahuan? Apakah alasan dapat memberikan
Ilmu dalam Sejarah
Islam
• Tahapan kelahiran ilmu: (1) turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam (Worldview of Islam), (2) lahirnya kesadaran bahwa wahyu yang turun
mengandung struktur ilmu pengetahuan, (3) lahirnya tradisi keilmuan dan
komunitas ilmuwan, (4) lahirnya disiplin-disiplin ilmu
• Peradaban Islam berinteraksi dengan sains Yunani dalam tiga tahap: (1) akuisisi, (2) adopsi, dan (3) asimilasi
Perbedaan konsep ilmu Barat dan Islam
•1. Makna Realitas
(apa yang ada, yang menjadi obyek ilmu)
•2.Makna Kebenaran (truth), apa itu kebenaran ? Dapatkah manusia memperoleh kebenaran ?
•3. Sumber-sumber ilmu. Apakah sumber ilmu yang
validitasnya lebih tinggi ? Akal ? Indra ? Hati? Wahyu ?
•4. Proses memperoleh pengetahuan. Apakah manusia bisa memperoleh pengetahuan yang sejati ? Apa itu ilmu yang sejati ? Bagaimana cara memperolehnya ?
•5. Netralitas ilmu. Apakah ilmu itu bebas nilai ? Apakah ilmu value ladden ?
1. Realitas
•Barat
Idealisme, Materialisme, Dinamisme
(Philosophy of flux), Activisme, Esensialisme, Eksistensialisme
•Sofis yang meragukan secara radikal
meragukan adanya eksistensi adalah Gorgias. Menurutnya “there was no such thing as
2. Kebenaran
•Theory of the truth . Menurut michael p. Lynch sulit untuk mendefinisikan kebenaran karena
1. Kebenaran berkaitan dengan beliefs. Seseorang yang meyakini sesuatu, tentunya akan meyakini bahwa yang diyakininya itu sesuai dengan kebenaran.
2. Kebenaran berkaitan dengan knowledge atau ilmu (empiric) 3. Kebenaran berkaitan dengan logika, krn akan menentukan premis premis mana yg valid dan kesimpulan mana yg benar atau salah.
4. Kebenaran berkaitan dengan konsep misterius lainnya, yaitu realitas.
Kebenaran Menurut
Islam
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. al-Fatihah [1]: 6-7)
Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 1-3)
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
(QS. al-Baqarah [2]: 147)
Al-Haq
•Realitas dan Kebenaran menurut al-Attas Kata haq digunakan baik untuk realitas
maupun kebenaran dan menunjuk pada sebuah kondisi ontologis. Ia bermakna kecocokan terhadap kebutuhan akan kebijaksanaan, keadilan, rightness,
kebenaaran, realitas, kesopanan. Lawan dari haq adalah bātil, bermakna
•Kesimpulannya...
Barat tidak mengakui status ontologis alam metafisik sehingga bagi Barat, alam
metafisik bukanlah obyek ilmu
3. Sumber-sumber Ilmu
•Barat = Menafikan wahyu sebagai sumber ilmu.
4. Proses Mengetahui
•Barat
1. Rasionalisme
2. Empirisme
3. Kritisisme
4. Positivisme,
Bagaimana Cara
Mengetahui ?
Melalui rasio (rasionalisme)
Jika pengetahuan hanya bersifat logis namun tidak empiris, maka ia disebut sebagai pengetahuan filsafat, bukan sains
Positivisme
Segala pengetahuan
yang ilmiah harus dan pasti
Mungkinkah
Mengetahui?
Socrates, Plato dan Aristoteles
Ada kebenaran yang relatif, ada pula kebenaran yang berlaku umum secara
mutlak
Protagoras dan kaum
Sophist
Man is the measure of all things (manusia adalah ukuran bagi segala
sesuatunya
Skeptisisme Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan
Relativisme Semua pendapat sama-sama benar, tergantung
sudut pandang
Post-modernism
e
Dikotomi Ilmu Ala Barat
Positivisme: Ilmu pengetahuan haruslah observable, repeatable,
measurable, testable dan
Cara Mengetahui
Menurut Islam
Al-5. Netralitas Ilmu
•Sebuah kebenaran yang dicapai melalui
berpikir, sangat ditentukan oleh subyektifitas
atau obyektivitas dalam berpikir. membicarakan tentang berpikir obyektif sebagai bentuk kerja akal, tidak bisa terlepas dari berpikir secara
filsafati, karena filsafat mengajak manusia
untuk berpikir menurut tata tertibnya (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya
sampai ke dasar persoalan.
• Immanuel Kant: pengetahuan adalah
mungkin, namun metafisika tidaklah mungkin
• Hegel: teori ‘tesis dan antitesis’
• Feuerbach: filsafat tertinggi adalah manusia, bukan Tuhan
• Karl Marx: agama adalah faktor sekunder; faktor primernya adalah ekonomi
• Charles Darwin: tidak ada proses penciptaan; makhluk hidup bertahan karena adaptasi dan seleksi alam
• Auguste Comte: fase teologis, metafisik dan positif
Penolakan Terhadap
Netralitas Ilmu
• Gahral: (1) fakta bermuatan teori, (2)
falibilitas teori, (3) fakta sarat nilai, (4) interaksi antara subjek dan objek
penelitian.
• Karl Raimund Popper: kita tidak
pernah tahu pasti kebenaran melalui verifikasi fakta.
• Thomas S. Kuhn: paradigmalah yang
menentukan jenis-jenis eksperimen
Bebas dari Agama ?
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi:
Karena sains Barat tidak memberi tempat pada wahyu, agama, bahkan Tuhan, maka sains itu dianggap bebas nilai. Akan
tetapi sains tidak bebas dari ideologi,
kultur dan worldview Barat. Dalam sains itu sendiri terdapat asumsi-asumsi dan
Konsep Tuhan Konsep Ilmu Konsep Kehidupan
Konsep manusia Konsep moralitas Konsep Ukhuwwah
Konsep Jihad
Konsep Alam Semesta dsb
Worldview Seorang Muslim
Realitas
Konsep Tuhan (Tawhid)
Sebagai Bangunan
Sentral
Struktur
KONSEP TUHAN
Wahyu, agama, Nabi, Penciptaan
Ilmu & teknolgi
politik
ekonomi hukum
pendidikan
6. Aksiologi/ Manfaat Ilmu
•Barat = Ilmu tidak berkolerasi dengan amal dan moral
Kesimpulan
• Filsafat Ilmu dalam Perspektif Islam dan Barat memiliki perbedaaan yg mendasar
• Ilmu dalam Islam tidak pernah terpisah dari Tuhan dan bimbingan-Nya
• Perlunya Islamisasi ilmu
• Islamisasi bukan sekedar labelisasi,
melainkan menyentuh epistemologinya
• Melibatkan pembebasan manusia dari unsur magis, mitologi, animisme,
Definisi Ilmu
•Peradaban Barat modern yang positivistik membedakan pengetahuan ke dalam dua istilah teknis, yaitu science dan
Definisi Ilmu
•Bahasa Indonesia menterjemahkan istilah
science dengan ilmu, sementara
knowledge diterjemahkan dengan
pengetahuan. Dengan kata lain, sejak
jaman Modern, hanya ilmu yang bersifat fisik-empiris yang bisa dikategorikan
sebagai ilmu yang bersifat ilmiah
(scientifc knowledge), sementara sisanya, seperti ilmu agama, tidak bisa
Definisi Ilmu
•Padahal kata ‘ilm dalam epistemologi Islam tidak sama dengan pengetahuan biasa dan tidak dibatasi hanya pada
bidang ilmu fisik dan empiris saja. Ilmu dalam epistemologi Islam dapat
‘ilm dalam al-Qur’an
•Di dalam al-Qur’an, kata-kata yang
langsung bermakna ilmu muncul 27 kali dan‘alim (orang yang berilmu) sebanyak 140 kali. Terdapat 704 referensi di dalam al-Qur’an yang berasal dari kata‘ilm.
‘ilm
• Ilmu atau ‘ilm dalam bahasa Arab merupakan
masdar atau kata benda abstrak yang berasal
dari kata kerja‘alima dan bermakna
mengetahui. Orang yang mengetahui atau
sebagai subjek disebut‘alim, sedangkan yang
menjadi objek ilmu disebut ma’lum atau yang
diketahui. Pada perkembangannya, kata ilmu dipakai mengacu kepada dua hal, yaitu
‘ilm
•Menurut Wan Daud, dilihat dari aspek linguistik, kata ‘ilm memang bermakna luas. Merujuk pada kamus Arabic
English Lexicon, ia menjelaskan bahwa perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari kata
‘alamah, yaitu “tanda, petunjuk atau indikasi yang
dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”, oleh karena itu,
sejak dahulu umat Islam menganggap ‘ilm (ilmu) berarti al-Qura’an; syari’at; sunnah, Islam, iman; ilmu spiritual (‘ilm al-ladunni), hikmah dan ma’rifah, atau sering
disebut juga sebagai cahaya (nÛr); pikiran (fkrah), sains (khususnya ‘ilm yang jamaknya ‘ulÛm), dan pendidkan-
•Frans Rosenthal telah mengoleksi 380 definisi ilmu yang diambil dari para tokoh Muslim. Meski tidak mudah
mendefinisikan ilmu, namun hal tersebut tidak akan memengaruhi hakikat ilmu
•Definisi ilmu menurut al-Raghib al-Isfahani (443/1060) dalam Kamus Terminologi al-Qur’an disebutkan bahwa ilmu adalah ‘persepsi tentang sesuatu sebagaimana
realitasnya’ (al-ilm idrak al-shay’ bi-haqiqatihi). Definisi ini berarti bahwa mempersepsikan kualitas (bentuk,
ukuran, berat, volume, warna dan lain-lain) dari sesuatu tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah ilmu. Dari
definisi ini terdapat pandangan filosofis bahwa setiap dari substansi terdiri dari esensi (essence) dan aksiden (accidents).
•Al-Ghazâli (505/1111) mendeskripsikan ilmu sebagai
•Menurut Syamsuddin, di sinilah perbedaan antara Isfahani dengan al-Ghazâli. Kata Idrak yang digunakan Isfahani
mengindikasikan perpindahan pikiran dari yang satu kepada yang lainnya (misalnya dari tidak tahu menjadi tahu) dan
juga mengisyaratkan bahwa ilmu masuk ke dalam pikiran manusia dari luar sebagaimana adanya. Terminologi
ma’rifah yang digunakan al-Ghazâli mengindikasikan bahwa ilmu adalah pengenalan terhadap sesuatu atau
•Ibn Taimiyyah mendefinisikan ilmu
sebagai sebuah ilmu yang berdasar pada
dalîl (bukti). Dalîl yang dimaksud bisa
berupa penukilan wahyu dengan metode yang benar (al-naql al-mushaddaq), dapat juga berupa penelitian ilmiah (bahts al-muhaqqaq), sedang yang dimaksud
Definis Ilmu
•Menurut Al-Attas, Ilmu adalah tibanya makna ke dalam jiwa bersamaan dengan tibanya jiwa kepada makna dan menghasilkan hasrat serta kehendak diri. Tibanya makna ke dalam jiwa berarti Tuhan sebagai sumber asal ilmu,
sedangkan tibanya jiwa kepada makna
menunjuk kepada jiwa sebagai penafsirnya. Maka menurut al- Attas ilmu adalah kesatuan antara orang yang mengetahui dengan makna, dan bukan antara yang mengetahui (subjek
Contoh Kasus :
•Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya ?
jawab dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana : Ilmu memulai penjelajahannya dari pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal
ihwal surga dan neraka ? jawabannya adalah tidak ; sebab surga dan neraka berada di luar jangkauan pengalaman manusia.
Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia ? jawabannya juga adalah tidak; sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman kita. Baik hal-hal yang
terjadi sebelum hidup kita, maupun apa-apa yang terjadi sesudah kematian kita, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu.
•Jujun S. Suriasumantri , Filsafat Imu ; Sebuah Pengantar,
Contoh Kasus
•... Singkatnya, agama dimulai dengan rasa percaya, dan lewat pengkajian selanjutnya,
kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain, seperti ilmu umpamanya, bertitik tolak sebaliknya, dimulai dengan rasa tidak percaya, dan setelah memulai proses
pengkajian illmiah, kita bisa diyakninkan atau tetap pada pendirian semula.
•Jujun dalam Idzam Fautanu, Filsafat Ilmu: Teori