INVOLUSI IDEOLOGI PARTAI POLITIK
1Analisis Faktor Eksternal-Struktural Sebagai Faktor Pendorong
Involusi Ideologi Partai Politik di Indonesia
Rafif Pamenang Imawan2
Abstrak:
Analisis partai politik dan demokrasi di Indonesia banyak didominasi oleh diskursus personifikasi maupun oligarki partai. Dari kacamata normatif, kegelisahan personifikasi maupun oligarki partai cukup beralasan mengingat partai politik merupakan institusi yang seharusnya mengagregasi dan mengartikulasikan kepentingan publik dengan ideologi yang beragam. Pada konteks ini, personifikasi maupun oligarki partai dilihat sebagai faktor internal-struktural yang mendorong merosotnya ideologi dan pengorganisasian partai secara modern. Akibatnya, partai politik di Indonesia sering kali tidak dilihat dari kacamata kapasitas ideologinya, melainkan bagaimana konsensi elit politik yang terbangun.
Berbeda dengan diskursus dominan, penulis melalui tulisan ini berargumentasi bahwa persoalan modernisasi partai politik juga mencakup dimensi eksternal-struktural, yakni atomisasi politik. Atomisasi politik yang didorong oleh kuatnya perkembangan arus informasi, turut menjadi tantangan dalam menggaet konstituen. Hal ini mendorong partai untuk menumpang pada gerakan-gerakan voluntarisme dibanding memperkuat diskursus ideologis ke konstituen. Akibatnya debat ideologi menjadi minim dibandingkan aspek terkenal-tidak terkenalnya bakal calon.
Tulisan ini menggunakan data sekunder berupa hasil penelitian, pernyataan, dan liputan media massa dengan kata kunci relawan, media sosial, dan pengakaran partai. Elaborasi kasus terkait dengan argumentasi yang hendak dibangun mengerucut pada kasus Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014. Singkatnya, tulisan ini hendak melihat sejauh mana faktor eksternal-struktural mempengaruhi involusi ideologi partai politik di Indonesia? Tulisan ini diharapkan dapat memperkaya diskursus modernisasi partai politik di Indonesia.
Kata Kunci:Eksternal-Struktural, Atomisasi Politik, Involusi Ideologi
1. Pendahuluan
Diskursus modernisasi partai politik (parpol) di Indonesia banyak didominasi oleh tantangan modernisasi parpol yang menekankan faktor personifikasi dan oligarki
1 Tulisan ini dipresentasikan dalam konferensi Hukum Tata Negara ke-3 dengan tema ”Demokratisasi
Partai Politik” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Konstitusi (PUSaKo) Fakultas Hukum Universitas Andalas di Bukit Tinggi pada tanggal 5 - 8 September 2016.
2Alumnus Paskasarjana Ilmu Politik di Uppsala University, Swedia. Penulis dapat dihubungi melalui surel
sebagai penghambat (Asshiddiqie, 2014, p.6; Ufen, 2006, p.29; Harjanto, 2011, p.158; Djati, 2013, p.228; Nurhasim, 2013, p.25; Bathoro, 2011, p.124). Kuatnya analisis dominan ini cukup beralasan, mengingat personifikasi dan oligarki parpol telah menjadi faktor dominan penghambat modernisasi partai. Padahal parpol memiliki fungsi yang sangat penting bagi demokrasi. Parpol memegang peran sebagai lembaga politik formal yang mengagregasi dan mengartikulasikan kepentingan konstituen, di samping perannya dalam kaderisasi dan rotasi kepemimpinan (Alrasyid, 2011, p.40; Asshiddiqie, 2014, p.2; Hague & Harrop, 2004, p.185).
Kuatnya diskursus personifikasi dan oligarki dalam parpol di Indonesia, secara tidak langsung mendorong analisis yang menempatkan personifikasi dan oligarki sebagai faktor pendorong merosotnya ideologi partai politik. Argumentasi yang melingkupinya meliputi pengarusutamaan kepentingan elit dibandingkan platform ideologi. Akibatnya, kerja partai politik di Indonesia lebih banyak dilihat dari bagaimana konsensi elit politik dibentuk, dibandingkan dengan kapasitas ideologi partai tersebut. Tulisan singkat ini mencoba untuk lepas dari hegemoni diskursus yang mengedepankan dimensi internal-struktural berupa personifikasi dan oligarki sebagai penghambat modernisasi parpol di Indonesia. Sebaliknya, tulisan ini hendak melihat dimensi eksternal-struktural berpengaruh terhadap involusi ideologi partai politik di Indonesia.
Melalui tulisan ini, penulis hendak menunjukan faktor dominan pendorong involusi ideologi parpol di Indonesia. Pertama, secara tidak langsung desentralisasi telah memberikan ruang bagi partai politik di daerah untuk menekankan kebutuhan di ranah lokal yang lebih pragmatis. Proses mengakar (rooting) ideologis ke masyarakat menjadi lebih sulit bagi partai politik, sebab diskursus ideologi partai yang hanya dipahami oleh elit partai (UGM, 2015). Langkah ini diikuti dengan semakin pragmatisnya parpol di tingkat daerah.
Kedua, struktur politik yang berubah, perkembangan teknologi informasi telah merubah interaksi antara individu dengan parpol. Kini sosialisasi politik warga negara didorong melalui media sosial. Hal ini menjadi persoalan serius bagi parpol. Studi Lynch dan Hogan (2012) terkait sosialisasi partai politik di Irlandia menunjukan adanya gap budaya politik antara generasi tua dan muda. Bagi kalangan generasi tua, identifikasi politik lebih ditekankan pada keterkaitan dengan instititusi politik lama seperti partai politik. Sedang bagi generasi muda, interaksi secara langsung dengan aktor politik (terutama melalui media sosial) menjadi kunci penting bagaimana keberpihakan politik ditentukan. Padahal di sisi lain, pengurus partai politik yang didominasi golong tua tidak memiliki kapasitas untuk melakukan sosialisasi politik melalui media sosial (Lynch & Hogan, 2012, p.96). Hal ini mengakibatkan keterikatan generasi muda dengan partai politik rendah.
2. Teorisasi Modernisasi Partai Politik
Teorisasi mengenai modernisasi partai politik dikerangkai oleh penulis dalam dua kerangka besar, yakni kerangka internal-struktural dan eksternal-struktural. Kerangka internal-struktural menjadi kerangka dominan dalam memahami partai politik di Indonesia dengan menekankan pembahasan pada dimensi manajemen, personifikasi, clientalisme, dan patronase partai. Sedang, dimensi eksternal-struktural lebih menekankan pada faktor-faktor modernisasi partai politik yang berasal dari luar struktur parpol seperti meningkatnya atomisasi politik.
Internal-Struktural
Debat akademik mengenai modernisasi partai politik banyak dikaitkan dengan personifikasi dan oligarki partai. Dimensi personifikasi dan oligarki partai ini dalam hemat penulis merupakan dimensi internal-struktural mengingat dimensi ini banyak membahas manajemen parpol. Personifikasi dan oligarki partai telah banyak dikaji, meski dengan hubungan variabel yang berbeda dan scope yang berbeda pula. Kajian yang dilakukan Harjanto (2011) menunjukan bahwa otonomi daerah menjadi faktor katalisator yang mendorong menguatnya kembali elit politik lokal dengan basis tribalisme, feodalisme, jaringan maupun populisme (Harjanto, 2011, p.228-229). Hal ini memungkinkan personifikasi partai di tingkat daerah. Parpol menjadi dipahami bukan sebagai representasi ideologi, melainkan representasi elit parpol.
Gejala personifikasi partai politik juga terjadi pada tingkat pusat. Hal ini merupakan ekses dari de-aliranisasi dan ’Fiilipinaisasi’ pada masa orde baru. Dimana partai politik ditandai dengan lemahnya platform partai, mudahnya individu berganti partai, koalisi dengan orientasi jangka pendek, dominasi aktor dalam kandidasi presiden, dan jejaring kartel. Dalam kasus ini, terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua partai Demokrat dan menjadi simbol partai tersebut telah menunjukan gejala presidensialisasi partai (Ufen, 2006, p.28-29). Penguatan personifikasi dan ’Fiilipinaisasi’ ditandai pula dengan menguatnya kartelisasi partai politik yang membentuk rente antar parpol (Ambardi, 2009, p.347; Kopecký et al, 2016, p.428; Nurhasim, 2013, p.28; Bathoro, 2011, p.124). Di sisi lain, paska Orde Baru menghadapi kendala serius berupa hilangnya arah dan orientsi paska memiliki otonomi dalam mengelola institusinya sendiri (Imawan, 2004). Faktor-faktor lemahnya orientasi dan personifikasi parpol ini yang turut mendorong involusi ideologi parpol.
Dimensi internal-struktural dalam diskursus personifikasi dan oligarki parpol menunjukan dua cara pandang berbeda. Pertama, cara pandang yang melihat bahwa personifikasi dan oligarki partai merupakan faktor yang menghambat modernisasi partai. Kedua, cara pandang yang melihat bahwa personifikasi dan oligarki partai tidak terjadi di Indonesia dan dalam beberapa hal berakibat positif terhadap asas transparansi, seperti yang terjadi di Bulgaria. Analisis dominan ini tidaklah salah, namun titik berat pembahasan modernisasi parpol pada dimensi internal-struktural telah menutup peluang pembahasan mengenai modernisasi dari kacamata berbeda. Persoalannya, terdapat pula perubahan pada konstituen parpol yang didorong oleh faktor eksternal-struktural di luar partai politik yang mau tidak mau menuntut adaptasi parpol.
Eksternal-Struktural
Pembahasan pada sub-bab sebelumnya telah membahas diskursus dominan yang menempatkan personifikasi dan oligarki partai sebagai dimensi internal-struktural penghambat modernisasi partai politik. Menurut hemat penulis, analisis yang banyak menempatkan personifikasi dan oligarki partai telah mengesampingkan faktor eksternal-struktural. Debat seputar faktor eksternal-struktural ini meliputi perubahan pengakaran dan sosialisasi politik yang gagal dilakukan oleh parpol.
Perkembangan teknologi telah mendorong atomisasi politik. Sosialisasi politik saat ini dapat dilaksanakan menggunakan media sosial dan menekankan interaksi aktor politik dengan konstituen. Kasus kapasitas parpol di Irlandia menunjukan lemahnya kapasitas pengurus partai yang didominasi oleh golongan tua untuk menggaet suara konstituen yang merupakan generasi Y3 dan Z4 (Lynch & Hogan, 2012, p.96). Model atomisasi politik ini tidak menekankan pada identifikasi individu pada ideologi, tapi lebih menekankan pada kedekatan individu dengan aktor politik.
Serupa dengan studi di Irlandia, studi mengenai pengaruh digital yang dilakukan oleh Chadwick dan Stomer-Galley (2016) menunjukan bahwa perkembangan digital media telah mendorong perubahan kultural organisasi partai, mengingat digital media mendorong perubahan interaksi di dalam partai yang cenderung hirarkis. Studi ini menunjukan bahwa perkembangan digital media telah menjadi katalisator perubahan partai politik dari luar institusi partai itu sendiri. Dimensi yang berubah adalah model partisipasi publik terhadap diskursus politik yang bergantung pada interaksi individual (Chadwick & Stomer-Galley, 2016, p.283). Perubahan ini didorong oleh bekerjanya atomisasi yang mendorong desentralisasi kekuasaan, seperti penerapan desentralisasi dan otonomi daerah uang mendorong desentralisasi politik dalam tubuh parpol.
3Terminologi ini pada dasarnya mengacu pada Diskusi dalam disiplin demografi atau banyak digunakan
dalam riset marketing, meski saat in hampir semua orang menggunakan terminology ini untuk membahas spektrum demografi. Generasi Y dikenal sebagai individu yang rumit, terintegrasi dengan teknologi dan tidak terpengaruh oleh pemasaran model lama. Generasi Y tidaklah loyal terhadap satu brand tertentu, dimana perkembangan internet dengan sangat mudah merubah orientasi generasi ini. Lihat: Wjschroer, (t.t). Generations X,Y, Z and the Others. (Online). (http://socialmarketing.org/archives/generations-xy-z-and-the-others/, diakses 24 Juli 2016)
4 Generasi Z mengacu pada individu yang memiliki eksposure yang lebih terhadap perkembangan
Berbeda dengan studi Chadwick dan Stomer-Galley (2014), studi mengenai pengaruh digital media yang dilakukan oleh Vaccari dan Valeriani (2016) dengan menganalisis keterlibatan politik individu di Jerman, Italy dan United Kingdom. Studi ini menunjukan bahwa tingkat keterlibatan politik warga negara bervariasi, dimana aktivis partai lebih memiliki tingkat keterlibatan yang lebih dibandingkan dengan individu yang tidak terafiliasi dengan partai politik. Menariknya, studi menunjukan bahwa semakin meningkatnya diskusi politik di media sosial, hal tersebut mendorong semakin turunnya keanggotaan dan keterikatan individu terhadap partai (Vaccari & Valeriani, 2016, p.294, 305). Studi ini menunjukan bahwa teknologi yang mendorong atomisasi politik telah mendorong kemerosotan ikatan partai politik dengan individu.
Studi mengenai pengaruh media digital diatas menunjukan satu gejala yang sama, yakni perkembangan teknologi mendorong kemorosotan kepercayaan warga negara terhadap partai politik (Chadwick & Stomer-Galley, 2016, p.285; Vaccari & Valeriani, 2016, p. 305). Perkembangan teknologi yang lebih mengedepankan dimensi interaksi langsung antara aktor politik dengan konstituen. Dalam banyak hal, ini sebenarnya merupakan peluang untuk memperkuat keterlibatan publik dalam diskursus politik ideologis. Hanya saja, dunia digital yang anarkis menjadi faktor yang mempersulit kontrol terhadap diskursus yang dibangun. Hal ini mendorong terbatasnya interaksi antara aktor politik dengan konstituen (Lynch & Hogan, 2012, p.96;Vaccari & Valeriani, 2016, p.306). Aktor politik memilih membatasi interaksi diri dengan konstituen untuk menjaga legitimasi dan tingkat pengaruh.
Faktor eksternal-struktural ini menjadi penting untuk melihat merosotnya dukungan publik terhadap parpol. Persoalannya bagaimana partai politik sebagai lembaga formal demokrasi merespon merosotnya dukungan publik dengan memanfaatkan sosial media. Di sisi lain, lembaga demokrasi formal mengalami kemerosotan dengan menguatnya gerakan politik alternatif yang didorong melalui semangat populisme (Samadhi & Warrow, 2009, p.157). Secara struktural, hal inilah yang menjadi dasar gerakan volunterisme yang menjadi inti dari bekerja manajemen pemenangan aktor politik di pemilu presiden maupun pilkada. Berbeda dengan partai yang melekatkan gerakan pada label tertentu, volunterisme menekankan pada kesukarelawanan dan interaksi dengan aktor politik. Pada konteks ini, voluntarisme merupakan ekspresi dari keterlibatan atomisasi politik.
Idealnya partai politik merespon gejala atomisasi ini dengan manajemen diskursus politik. Namun, nampaknya parpol di Indonesia lebih suka menduplikasi pola gerakan voluntarisme, atau bahkan mendompleng gerakan volunterisme yang pada awalnya kemunculannya merupakan respon/kritik terhadap kelemahan institusional partai politik dalam mengagregasi kepentingan publik. Pada akhirnya, duplikasi gerakan volunterisme ini menjadi langkah partai di bandingkan pembangunan kapasitas pengelolaan diskursus. Strategi pragmatis ini tentu sangat berpotensi mendorong involusi ideologi di tubuh partai politik itu sendiri.
Internal-Struktural vs Eksternal-Struktural
menyoal dimensi eksternal-struktural yang menekankan pada diskursus desentralisasi power dan atomisasi warga negara sebagai dimensi yang menghambat modernisasi partai politik. Dari dua cara pandang yang bertentangan ini, tulisan ini menggunakan cara pandang kedua (eksternal-struktural) dalam membangun basis analisis untuk melihat upaya modernisasi partai politik. Hipotesa yang dibangun, partai politik di Indonesia gagal menjawab perubahan dimensi eksternal-struktural yang berakibat pada involusi ideologi.
3. Metode
Analisis dalam tulisan ini menggunakan data sekunder berupa penelitian, pernyataan, maupun berita terkait dengan gerakan volunterisme dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014. Analisis menekankan pada bagaimana atomisasi politik dalam wujud gerakan voluntarisme mempengaruhi strategi partai. Apabila debat ideologi menurun dan peran partai politik tidak dominan, maka hipotesa tulisan ini bahwa faktor eksternal-struktural menjadi pendorong involusi ideologi partai politik di Indonesia terbukti. Kedua kasus yang diangkat menempatkan gerakan volunterisme sebagai strategi pemenangan calon. Dengan kata lain, faktor eksternal-struktur menjadi corak di dua kasus tersebut.
Pada tataran teoritis, tulisan ini diharapkan dapat memberikan dimensi penjelas terkait dengan pengaruh faktor eksternal-struktural bagi modernisasi partai politik di Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat membuka dimensi penjelas lain dari dominasi diskursus faktor internal-struktural dengan membuka diskusi tentang dimensi eksternal-struktural dalam diskusi modernisasi parpol.
Pada tataran praksis, tulisan ini diharap dapat memberikan rekomendasi terkait bagaimana partai politik merespon kuatnya faktor eksternal-struktural bagi modernisasi partai politik di Indonesia. Secara singkat, tulisan ini hendak melihatsejauh mana faktor eksternal-struktural mempengaruhi involusi ideologi partai politik di Indonesia?
4. Analisis Involusi Ideologi Partai Politik
Bagian ini membahas faktor eksternal-struktural terhadap involusi ideologi partai politik di Indonesia dengan menganalisis gerakan volunterisme dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014 untuk menunjukan pengaruh faktor eksternal-struktural terhadap merosotnya kapasitas partai politik dalam mendorong diskursus ideologis. Hal ini dimungkinkan mengingat pengaruh sosial media yang membuka ruang publik baru bagi nilai-nilai demokrasi baru seperti voluntarisme, egalitarian, maupun juga partisipastorisme (Jati, 2016, p.34). Kasus-kasus yang dielaborasi dalam bagian ini menjadi penjelas pengaruh faktor eksternal-struktural tersebut.
Pilkada DKI Jakarta 2012
persen atau sekitar 2.120.815 suara (Detik, 2012; Viva, 2012). Pada pilgub DKI ini, pasangan Jokowi-Ahok hanya didukung oleh dua partai besar yakni PDI-Perjuangan dan Gerindra, sedangkan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli didukung oleh koalisi besar dalam Partai Demokrat (PD), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Matahari Bangsa (PMB), dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Kemenangan Jokowi-Ahok ini diikuti dengan perubahan pola interaksi calon dengan konstituen dan serta keberadaan relawan.
Keberadaan relawan dan pengunaan masif media sosial oleh pasangan Jokowi-Ahok menjadi pembeda dalam pilgub DKI Jakarta 2012. Berbeda dengan pilkada sebelumnya, relawan Jakarta baru melakukan sosialisasi langsung ke tengah warga dan menggunakan media sosial secara masif untuk melakukan sosialisasi politik. Hal ini diamini oleh Fadli Zon (Partai Gerinda), “Berbeda dengan 2009, sekarang banyak sekali media sosial yang orang berinteraksi real time, jadi sangat penting”. Melalui media sosial, konstituen Jakarta dimungkinkan mengakses informasi langsung terkait dengan profil kandidat Jokowi-Ahok (Viva, 2012; Kompas, 2012). Hal ini mendorong bahwa media sosial menajdi narasi penting dalam Pilgub DKI Jakarta 2012.
Melalui kampanye yang didorong melalui interaksi langsung kepada warga oleh relawan serta aktifnya kampanye melalui media sosial. Sosialisasi politik dengan penekanan atomistik ini menjadi terobosan baru dalam diskursus marketing politik, dibanding marketing politik lama yang menekankan kampanye menggunakan media massa tradisional. Media online berhasil menjadi arena artikulasi politik dari kelas menengah yang memiliki kuantitas (populasi) di atas rata-rata yang kecewa terhadap performa kandidat petahana (Utomo, 2013, p.81). Kelas menengah yang menjadi relawan inilah yang memiliki keterlibatan yang kuat dengan media sosial yang menjadi ujung tombak kampanye pasangan Jokowi-Ahok. Bahkan sekitar 6,5 juta dari 11 juta penduduk DKI merupakan pengguna internet aktif dengan durasi rata-rata 2 jam per orang tiap harinya (RMOL, 2016). Faktor ini diperkuat dengan komunikasi dua arah yang terbangun dengan kandidat melalui media sosial (Suhendra, 2015, p.11). Hal ini menunjukan bahwa kelas menengah yang terekspose dengan perkembangan teknologi menjadi kelas sosial yang menentukan kemenangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta 2012.
Diluar dimensi media sosial yang memudahkan interaksi pemilih dan aktor politik. Faktor lain yang tidak kalah penting dalam proses kemenangan Jokowi-Ahok adalah kekuatan figur dalam diri Jokowi. Dukungan partai nampak tidak menjadi faktor dominan dalam pilgub DKI, Toto Izul Fattah (Lingkaran Survei Indonesia) membenarkan tidak signifikannya dukungan partai terhadap perolehan suara. “Jadi bisa saja didukung oleh partai kecil. Namun kalau personal figur tinggi, maka suara yang diperoleh akan tinggi" (Viva, 2012). Kuatnya sosok figur diperkuat dengan tingginya kekecewaan masyarakat terhadap parpol, seperti pemaparan Andar Nubowo (Direktur Eksekutif Indostrategi) yang menegaskan "Gerakan kerelawanan menganggap partai politik sudah tidak sebangun dan sejalan dengan aspirasi publik" (Berita Satu, 2016). Parpol menghadapi tantangan serius seiring persepsi politik publik yang lebih menekankan pada politik aktor.
responden dalam menentukan pilihan politik? Hasil responden yang mengatakan ’tidak’ sebesar 55% sedang yang mengatakan ’ya’ sebesar 39% (jajak pendapat 10-12 September 2012). Ketika berubah terkait dengan apakah koalisi parpol pendukung menjadi pertimbangan mereka? Yang mengatakan "tidak mempertimbangkan" sebesar 40,1%, "sangat mempertimbangkan" 31,3%, sedangkan yang mengatakan "cukup mempertimbangkan" 24,8%. Hal ini menunjukan rendahnya kualitas hubungan antara konstituen-parpol serta menguatnya atomisasi politik (Lindawaty, 2012, p.19).
Secara singkat, Pilgub DKI 2012 menunjukan satu fenomena menarik terkait atomisasi politik. Munculnya gerakan voluntarisme sebagai ekspresi atomisasi politik menunjukan bahwa menurunnya fungsi partai politik. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan koalisi kecil yang dibangun oleh Jokowi-Ahok lebih menekankan penggunaan media sosial sebagai sarana penggalangan massa. Disamping itu, kekuatan figur mempertegas bahwa arah politik di Indonesia menekankan pada faktor eksternal berupa atomisasi. Hal ini tergambar dari keberhasilan Jokowi-Ahok dalam menggaet 30% swing voter di Pilkada DKI Jakarta 2012 dengan didorong melalui kampanye kreatif (Tempo, 2012; Kompas, 2012). Hal ini diperkuat dengan ketidak berhasilan penggunaan isu SARA yang digunakan oleh Fauzi Bowo di pilgub putaran kedua di media sosial (Detik, 2012). Kegagalan mobilisasi ini menunjukan bahwa pada taraf tertentu terdapat kegagalan pengakaran partai.
Pilpres 2014
Atomisasi politik dan gerakan voluntarisme semakin menguat dalam pilpres 2014. Pada pilpres ini, pasangan Jokowi-Jalla memenangkan pemilu dengan mendapatkan 53,15% atau 70.633.576 suara dibanding dengan pasangan Prabowo-Hatta yang meraih meraih 46,85% atau 62.262.844 suara (BBC, 2014; Kompas, 2014). Serupa dengan pilkada DKI Jakarta 2012, debat ideologi tidak menjadi narasi besar dan peran partai politik nampak tidak dominan dalam narasi besar pilpres 2014. Sebaliknya, terdapat tiga faktor kuat yang menjadi corak dari pilpres 2014, yakni faktor relawan, kekuatan figur, dan menurunnya peran parpol.
Keberadaan relawan dalam pilpres 2014 muncul dengan narasi sebagai gerakan alternatif atas merosotnya kepercayaan terhadap parpol. Relawan Projo sebagai contoh, gerakan relawan ini muncul dengan narasi bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin baru yang lahir dari rakyat dan membawa agenda rakyat (Giawa, 2014). Di sisi lain keberadaan relawan Jokowi-JK kian memperkuat perbedaan identitas antara kekuatan sipil melawan militer, mengingat Prabowo (pesaing Jokowi) mempunyai latar belakang militer. Hanya saja, perlu kita cermati pula bahwa relawan Jokowi tidaklah tunggal. Terdapat banyak kelompok sosial yang tergabung kedalam relawan Jokowi, mulai dari buruh hingga pengusaha. Artinya, volunterisme pada pilpres 2014 tidak murni bebas kepentingan elit politik dan tidak murni akumulasi aspirasi dari bawah (Irwansyah, 2014). Meski demikian, peran relawan politik ini menjadi indikator penting dari narasi besar derasnya dukungan masyarakat sipil dalam kontestasi politik pilpres 2014, meski pada akhirnya masyarakat sipil tidak punya pengaruh kuat dalam praktek kepemerintahan sehari-hari (Sefsani & Ziegenhain, 2015, p.31-32).
problema dari presiden sebelumnya (Susilo Bambang Yudhoyono) yang pada masa pemerintahannya banyak tersandera oleh kepentingan partai politik (Utami & Anshori,
t.t., p.16). Kepopuleran figur Jokowi semakin menguat kala dikaitkan dengan kampanye hitam dalam pilpres 2014 dan diferensiasi antara sipil dan militer (Prathiwi, 2014, p.15-16). Menariknya, kekecewaan publik terhadap partai politik disadari betul oleh Jokowi-JK dengan mengesampingkan atribut partai dalam kampanyenya dan memperbanyak kalangan profesional dalam susunan kabinetnya (Giawa, 2014). Hal ini secara otomatis memarjinalkan peran partai politik pengusung dalam diri PDI-Perjuangan, PKB, Hanura, Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dalam pemenangan Jokowi-JK. Partai tetap mengorganisasikan kampanye pemenangan melalui mesin organisasi di daerah, namun relawan Jokowi-JK menjadi sentrum dalam pilpres 2014 (Mangala, 2015, p.64; Agama, 2015).
Secara singkat, Pilpres 2014 menunjukan bagaimana dominannya atomisasi politik. Menariknya, partai politik tidak merespon gerakan-gerakan volunterisme dengan penguatan organisasi dan menghadirkan diskursus ideologis. Sebaliknya, partai politik justru mengikuti strategi relawan dan menjadi bagian kerja relawan. Identitas sebagai aktivis parpol melebur menjadi relawan Jokowi-JK. Disisi lain, pilpres 2014 menunjukan bahwa diskursus terkait dengan ideologi tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan diskursus sipil melawan militer ataupun diskursus bersih tidaknya calon. Hal ini kian menunjukan bahwa parpol memilih jalan praktis yang diiringi oleh menurunya debat ideologis.
5. Penutup
Tulisan ini menunjukan involusi ideologi partai politik yang ditandai dengan lemahnya kapasitas dan marginalnya peran partai politik dalam mendorong diskursus ideologis. Hal ini terlihat dalam kasus Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014 yang menunjukan dimensi pragmatis yang menjadi pilihan partai politik dibandingkan dengan ideologi. Pada dua kasus tersebut, partai politik tidak menjadi sentrum kampanye. Di sisi lain, debat ideologis juga absen dalam diskursus ini. Atomisasi warga negara telah mendorong involusi ideologi partai politik dengan diterapkannya strategi yang menekankan pada popularitas aktor. Di sisi lain, wacana terkait dengan ideologi politik selama ini hanya menjadi domain dari elite partai dan digunakan dalam rangka untuk mengkonstruksi standing dari partai politik dalam diskursus kepentingan publik. Hal ini terlihat dari digunakannya strategi voluntarisme dibandingkan dengan memperkuat kapasitas dan mendorong diskursus ideologis. Dengan kata lain, dalam hal tertentu hipotesa tulisan bahwa partai politik di Indonesia gagal menjawab perubahan dimensi eksternal-struktural yang berakibat pada involusi ideologi terbukti. Meski demikian, kuatnya ideologi atau identitas dalam beberapa hal masih nampak dengan bekerjanya isu SARA dan mobilisasi ikatan sebagai muslim dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014.
dalam modernisasi partai politik dengan melakukan interview mendalam (in-depth interview) kepada pengurus partai dan relawan untuk memperkuat dimensi empiris dari involusi ideologi.
Idealnya, parpol secara sadar melakukan penguatan kapasitas manajemen ideologi dan organisasi mengingat ideologi tetap krusial dalam hal mempertajam aspirasi publik. Di negara dengan demokrasi yang telah terkonsolidasi dengan dua partai besar yang dominan, seperti Amerika Serika dan Swedia. Atomisasi politik tidak lantas menurunkan pengaruh ideologi atau debat publik. Perdebatan publik ideologis tidaklah absen antara tarikan liberal maupun konservatif. Atomisasi politik justru menjadi peluang untuk mempertajam substansi dan mobilisasi debat publik. Konsolidasi demokrasi yang matang inilah yang masih absen dalam konfigurasi peta ideologis partai politik di Indonesia. Berdasarkan perkembangan peta partai paska Pilpres 2014, nampaknya potensi dua peta ideologi lebih mengarah pada spektrum sekuler/nasionalis dengan islam.
6. Daftar Pustaka
Agama, Y. (2015). Strategi PDI Perjuangan Dalam Memenangkan Pasangan Jokowi-Jusuf Kalla Pada Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden 2014. JURNAL POLITICO, 2(6).
Alrasyid, M. H. (2011). Ancaman Oligarki Partai Dalam Pemilu. Jurnal FISIP: KYBERNAN, 1(02).
Ambardi, K. (2009). Mengungkap politik kartel: studi tentang sistem kepartaian di Indonesia era reformasi. Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia.
Asshiddiqie, J. (2014). Dinamika Partai Politik dan Demokrasi.
Bathoro, A. (2011). Perangkap dinasti politik dalam konsolidasi demokrasi. Jurnal FISIP Umrah, 2(2), 115-125.
BBC. (2014). KPU tetapkan Jokowi menang di pilpres. (Online). (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140722_kpu_hasil_ pilpres, diakses 24 Juli 2016)
Berita Satu. (2016). Relawan Politik Muncul karena Rasa Kecewa terhadap Parpol. (Online). (http://www.beritasatu.com/nasional/370635-relawan-politik-muncul-karena-rasa-kecewa-terhadap-parpol.html, diakses 24 Juli 2016)
Chadwick, A., & Stromer-Galley, J. (2016). Digital Media, Power, and Democracy in Parties and Election Campaigns Party Decline or Party Renewal?. The International Journal of Press/Politics, 21(3), 283-293.
Detik. (2012). Isu SARA di Pilgub DKI 2012 Tak Baik Bagi Demokrasi Indonesia. (Online). (http://news.detik.com/berita/1969840/isu-sara-di-pilgub-dki-2012-tak-baik-bagi-demokrasi-indonesia, diakses 24 Juli 2016)
_______. (2012). KPU DKI: Jokowi-Ahok Pasangan Terpilih Pilgub DKI 2012. (Online).
Djati, W. R. (2013). Revivalisme Kekuatan Familisme dalam Demokrasi: Dinasti Politik di Aras Lokal. JSM.
Giawa, F.D. (2014). Pemilu Berbasis Relawan, Paradigma Baru Politik Kita?. (Online). (http://www.kompasiana.com/nabipalsu/pemilu-berbasis-relawan-paradigma-baru-politik-kita_54f5f1cea3331190088b45b7, diakses 24 Juli 2016)
Gurov, B., & Zankina, E. (2013). Populism and the Construction of Political Charisma: Post-Transition Politics in Bulgaria. Problems of Post-Communism, 60(1), 3-17.
Hague, R., & Harrop, M. (2004). Political science: A comparative introduction. Palgrave Macmillan.
Harjanto, N. (2011). Politik Kekerabatan dan Institusionalisasi Partai Politik di Indonesia. Dalam Jurnal Analisis CSIS, 40(2).
Imawan, R. (2004). Partai Politik Di Indonesia: Pergulatan Setengah Hati Mencari Jati Diri. Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada.
Irwansyah. (2014). Pekik Perang ‘Relawan’ Melawan Oligarki Paska Pilpres 2014. (Online). (http://indoprogress.com/2014/08/pekik-perang-relawan-melawan-oligarki-paska-pilpres-2014/, diakses 24 Juli 2016)
Jaffrey, S. (2014). Indonesia. Money, power, and ideology: Political parties in post-authoritarian Indonesia By Marcus Mietzner Singapore: NUS Press, 2013. Pp. 301. Maps, Plates, Notes, Bibliography, Index. Journal of Southeast Asian Studies, 45(03), 462-464.
Jati, W. R. (2016). Cyberspace, Internet, Dan Ruang Publik Baru: Aktivisme Online Politik Kelas Menengah Indonesia. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 3(1), 25-35.
Kompas. (2012). Swing Voters Penentu Kemenangan Foke dan Jokowi. (Online). (http://tekno.kompas.com/read/2012/09/17/17304246/swing.voters.penentu. kemenangan.foke.dan.jokowi, diakses 24 Juli 2016)
_________. (2012). Tim Fauzi-Nachrowi Akui Peran Media Sosial. (Online). (http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/03/16380329/Tim.FauziNach rowi.Akui.Peran.Media.Sosial., diakses 24 Juli 2016)
_________. (2014). Ini Hasil Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014. (Online). (http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/22/20574751/ini.hasil.resm i.rekapitulasi.suara.pilpres.2014, diakses 24 Juli 2016)
Kopecký, P., Meyer Sahling, J. H., Panizza, F., Scherlis, G., Schuster, C., & Spirova, M. (2016). Party patronage in contemporary democracies: Results from an expert survey in 22 countries from five regions. European Journal of Political Research.
Lindawaty, D. S. (2012), Efektivitas Mesin Partai Politik dalam Pemilihan Gubernur DKI 2012, Info Singkat Pemerintahan Dalam Negeri. Vol. IV, No. 18/II/P3DI/September/2012
Manggala, M. (2015). Strategi pemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014: Studi atas marketing politik melalui mobil aspirasi. UIN Syarif Hidayatulah
Nurhasim, M. (2013). Kegagalan Modernisasi Partai Politik Di Era Reformasi. Jurnal Penelitian Politik, 10(1), 12.
Prathiwi, B. F. (2014). Persepsi Mahasiswa Tentang Calon Presiden Republik Indonesia 2014–2018: Studi Deskriptif Berdasarkan Perceptual Mapping Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta Tentang Calon Presiden RI 2014–2018 Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Jurnal Ilmu Komuikasi, 1-19.
RMOL. (2016). Adian Napitupulu: Pilkada Jakarta Itu Anomali. (Online). (http://www.rmol.co/read/2016/07/21/253956/Adian-Napitupulu:-Pilkada-Jakarta-Itu-Anomali-, diakses 24 Juli 2016)
Samadhi, W. P., & Warrow, N. (2009). Demokrasi Di Atas Pasir: Kemajuan Dan Kemunduran Demokrasi di Indonesia. Demos: Jakarta.
Sefsani, R., & Ziegenhain, P. (2015). Civil-society Support—A Decisive Factor in the Indonesian Presidential Elections in 2014. ASIEN, 136, 14-33.
Suhendra, A. (2015). Senjata Baru Dalam Ruang Politik: Konstruksi Sosial Penggunaan Jejaring Sosial Online dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Jurnal Sejarah dan Budaya, 8(1).
Tempo. (2012). Mengapa Jokowi Bisa Memutarbalikkan Hasil Survei. (Online). (https://m.tempo.co/read/news/2012/07/11/228416337/mengapa-jokowi-bisa-memutarbalikkan-hasil-survei, diakses 24 Juli 2016)
Ufen, A. (2006). Political Parties in Post-Suharto Indonesia: Between Politik Aliran and'Philippinisation'. GIGA Working Paper
UGM, (2015). Teliti Ideologi Politik dan Basis Sosial PRD dan PK(S), Arie Sujito Raih Doktor. (Online). (https://ugm.ac.id/id/berita/10541-teliti.ideologi.politik.dan.basis.sosial.prd.dan.pk(s).arie.sujito.raih.doktor,diakses 23 Juli 2016)
Utami, I. T., & Anshori, M. (t.t). Citra Joko Widodo Dan Jusuf Kalla Dalam Iklan Politik Televisi. Universitas Sebelas Maret
Utomo, W. P. (2013). Menimbang Media Sosial dalam Marketing Politik di Indonesia: Belajar dari Jokowi-Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2012. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 17(1), 67-84.
Vaccari, C., & Valeriani, A. (2016). Party Campaigners or Citizen Campaigners? How Social Media Deepen and Broaden Party-Related Engagement. The International Journal of Press/Politics, 1940161216642152.
Viva. (2012). Ini Rekapitulasi Hasil Suara Pilkada DKI Putaran 2. (Online). (http://metro.news.viva.co.id/news/read/354702-ini-rekapitulasi-hasil-suara-pilkada-dki-putaran-2, diakses 24 Juli 2016)
_____. (2012). Rahasia Kemenangan Jokowi: Membangun “pusat syaraf”. Merakyat
(http://sorot.news.viva.co.id/news/read/353339-rahasia-kemenangan-jokowi, diakses 24 Juli 2016)
Wjschroer, (t.t). Generations X,Y, Z and the Others. (Online). (http://socialmarketing.org/archives/generations-xy-z-and-the-others/, diakses 24 Juli 2016)
Biografi Penulis: