SI-3112 STRUKTUR BETON SEMESTER I TAHUN 2014/2015
DESAIN BANGUNAN STRUKTUR Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan
Mata Kuliah SI-3112 Struktur Beton
Dosen:
Prof. Ir. R. Bambang Budiono, ME, Ph. D.
Asisten:
Michael Alexandra Jonathan 25014066
Dita Faridah 25014059
Disusun Oleh :
Kholid Samthohana 15012078
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
Kholid Samthohana 15012078 i LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN TUGAS BESAR STRUKTUR BETON SEMESTER I TAHUN 2014/2015
Diajukan untuk memenuhi syarat Mata Kuliah SI-3112 Struktur Beton
Disusun Oleh:
Kholid Samthohana 15012078
Telah Disetujui dan Disahkan Oleh:
Asisten
Kholid Samthohana 15012078 ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur Penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan tugas besar ini dengan sebaik-baiknya. Laporan Tugas Besar SI-3112 Struktur Beton ini dibuat sebagai syarat kelulusan Mata Kuliah SI-3112 Struktur Beton Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.
Proses penyelesaian laporan tugas besar ini tidak terlepas dari berbagai kendala. Akan tetapi, dengan kerja keras dan selalu memberikan usaha yang terbaik, Penulis dapat mengatasi berbagai kendala-kendala tersebut.
Penyelesaian laporan tugas besar ini tidak terlepas dari berbagai pihak yang senantiasa membantu, mendukung, serta memberikan kritik dan saran, sehingga Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua yang selalu mendoakan serta memberikan dukungannya dalam proses penyelesaian laporan tugas besar ini.
2. Dosen Mata Kuliah SI-3112, yaitu Bapak Prof. Ir. R. Bambang Budiono, ME, Ph.D yang telah memberikan bimbingan kepada Penulis dalam pembuatan laporan tugas besar ini.
3. Asisten tugas besar Struktur Beton, Michael Alexandra Jonathan dan Dita Faridah.
4. Teman-teman yang selalu memberi bantuan dan semangat kepada Penulis selama proses pembuatan laporan tugas besar ini.
Penulis menyadari bahwa laporan tugas besar ini masih belum sempurna, baik dari segi isi dan metode penulisan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian. Terakhir, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca dan semoga laporan tugas besar ini bermanfaat.
Bandung, Desember 2014
Kholid Samthohana 15012078 iii
Daftar Isi
LEMBAR PENGESAHAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Tabel ... v
Daftar Gambar ... vi
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Tujuan ... 1
BAB II KRITERIA DESAIN ...2
2.1 Proses Desain ... 2
2.2 Peraturan Acuan ... 2
2.2.1 Balok dan Pelat... 2
2.2.2 Kolom ... 3
2.2.3 Kombinasi Beban... 4
2.2.4 Asumsi Desain ... 4
2.2.5 Beban Lentur dan Aksial ... 5
2.2.6 Beban Geser ... 5
2.2.7 Batasan Spasi antar tulangan ... 6
2.2.8 Kuat rencana ... 7
2.2.9 Lendutan/Defleksi ... 8
BAB III PEMODELAN DAN PEMBEBANAN STRUKTUR ...9
3.1 Hasil Preliminary Design ... 9
3.2 Pembebanan ... 13
3.3 Load Combination ... 13
3.4 Pemodelan di ETABS ... 14
BAB IV ANALISIS STRUKTUR ... 16
4.1 Gaya Dalam ... 16
4.2 Defleksi ... 18
BAB V DESAIN TULANGAN DAN CEK LENDUTAN ... 20
Kholid Samthohana 15012078 iv
5.1.1 Desain Tulangan Balok ... 20
5.1.2 Desain Tulangan Kolom ... 25
5.1.3 Desain Tulangan Pelat ... 31
5.2 Cek Lendutan ... 35
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 37
6.1 Kesimpulan ... 37
6.2 Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA ... 38
Kholid Samthohana 15012078 v
Daftar Tabel
Tabel 2.1 Peraturan Dimensi Balok dan Pelat ... 3
Tabel 2.2 Lendutan izin maksimum yang dihitung ... 8
Tabel 3.1 Perhitungan gaya aksial akibat beban sendiri pada balok ... 12
Tabel 3.2 Perhitungan gaya aksial akibat beban sendiri pada pelat ... 12
Tabel 3.3 Perhitungan dimensi kolom interior ... 12
Tabel 3.4 Perhitungan dimensi kolom eksterior ... 13
Tabel 4.1 Gaya dalam paling kritis balok panjang ... 17
Tabel 4.2 Gaya dalam paling kritis balok pendek ... 17
Tabel 4.3 Gaya dalam paling kritis pelat lantai 2 ... 17
Tabel 4.4 Gaya dalam paling kritis pelat lantai 1 ... 17
Tabel 4.5 Gaya dalam paling kritis pelat kolom interior ... 17
Tabel 4.6 Gaya dalam paling kritis pelat kolom eksterior ... 17
Tabel 4.7 Defleksi akibat beban hidup (live load) balok lantai 2 ... 18
Tabel 4.8 Defleksi akibat beban hidup (live load) pada balok lantai 1 ... 19
Tabel 5.1 Perhitungan tulangan momen positif balok panjang ... 22
Tabel 5.2 Perhitungan tulangan momen negatif balok panjang... 22
Tabel 5.3 Perhitungan tulangan momen positif balok pendek ... 23
Tabel 5.4 Perhitungan tulangan momen negatif balok pendek ... 23
Tabel 5.5 Perhitungan tulangan geser balok pendek ... 24
Tabel 5.5 Perhitungan tulangan geser balok pendek ... 24
Tabel 5.6 Momen ekivalen kolom interior ... 28
Tabel 5.7 Momen ekivalen kolom eksterior ... 29
Tabel 5.8 Perhitungan tulangan geser kolom eksterior ... 30
Tabel 5.9 Perhitungan tulangan geser kolom interior ... 31
Tabel 5.10 Perhitungan tulangan arah X lantai 2 ... 33
Tabel 5.11 Perhitungan tulangan arah Y lantai 2 ... 34
Tabel 5.12 Perhitungan tulangan arah X lantai 1 ... 34
Tabel 5.13 Perhitungan tulangan arah Y lantai 2 ... 35
Tabel 5.14 Perbandingan batas lendutan pada lendutan balok lantai 2 ... 36
Kholid Samthohana 15012078 vi
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Zonasi Tulangan Geser ... 6
Gambar 3.1 Tributary Area kolom interior ... 10
Gambar 3.2 Tributary Area kolom eksterior ... 10
Gambar 3.3 Tampak atas struktur ... 14
Gambar 3.4 Struktur 3 dimensi ... 15
Gambar 3.5 Tampak samping arah bidang Y-Z ... 15
Gambar 3.6 Tampak samping arah bidang X-Z ... 15
Gambar 4.1 Diagram momen balok pada ETABS ... 16
Gambar 4.2 Diagram geser balok pada ETABS... 16
Gambar 5.1 Diagram Interaksi Kolom ... 28
Kholid Samthohana 15012078 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Struktur beton merupakan struktur yang paling banyak digunakan di dunia. Mulai dari bangunan sederhana seperti rumah atau perkantoran, hingga bangunan yang rumit seperti bendungan ataupun gedung pencakar langit, hampir semua menggunakan beton sebagai material utama untuk membangunnya.
Beton merupakan material bangunan yang terbentuk dari campuran antara agregat halus, agregat kasar, pasir, dan air. Hampir semua struktur beton merupakan beton bertulang karena pada dasarnya beton tidak kuat terhadap gaya tarik, hanya sekitar 8%-15% dari kekuatan tekannya, sehingga perlu dikombinasikan dengan baja sehingga gaya tarik akibat beban dapat dipikul oleh baja. Kelemahan beton dalam tekuk akibat bentuk baja yang langsing juga akan dihilangkan karena baja ada pada beton sehingga tidak akan mengalami tekuk. Oleh karena itu, kombinasi dari kedua material ini menghasilkan sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan sifat masing-masing bahan jika berdiri sendiri. Perencanaan struktur pada sebuah struktur sederhana seperti rumah toko harus memenuhi beberapa aspek agar penggunaan struktur ini dapat berjalan sebagai mana mestinya. Perencanaan suatu struktur sederhana meliputi perencanaan kolom, pelat, dan balok. Semua komponen struktur haruslah memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku yang berasal dari sains, hasil penelitian, maupun standar yang berlaku untuk memenuhi nilai kekuatan, keamanan, dan kenyamanan bagi penggunanya.
1.2
Rumusan Masalah
a. Bagaimana mendesain tulangan untuk suatu struktur rumah toko sederhana? b. Bagaimana menentukan kemampuan layan suatu struktur rumah toko sederhana?
1.3
Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan kali ini adalah:
Kholid Samthohana 15012078 2
BAB II
KRITERIA DESAIN
2.1
Proses Desain
Proses desain meliputi desain balok, pelat, dan kolom pada struktur rumah toko ini dimulai dengan menghitung preliminary design untuk ketiga komponen struktur tersebut sehingga mendapatkan dimensi yang sesuai. Setelah mendapatkan dimensi yang sesuai, dilakukan pemodelan struktur, pembebanan, dan analisis gaya dengan menggunakan bantuan software ETABS. Dalam pemodelan, perlu didefinisikan elemen struktur seperti penampang, material, dan pembebanan. Langkah selanjutnya adalah analisis gaya-gaya dan pendesainan tulangan sesuai dengan SNI sehingga struktur dapat menahan pengaruh beban terfaktor yang bekerja. Langkah terakhir adalah menggambarkan desain penulangan ketiga komponen struktur tersebut dengan menggunakan software AutoCAD.
2.2
Peraturan Acuan
Perencanaan suatu struktur harus memenuhi standar nasional yang diatur dalam SNI-2847-2013 mengenai persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung, meliputi balok, kolom, dan peraturan mengenai tulangan, spasi tulangan, dll. Selain itu, peraturan yang perlu dipenuhi yaitu SNI-1727-2013 mengenai beban untuk perencanaan perencanaan bengunan atau struktur lain.
2.2.1 Balok dan Pelat
Kholid Samthohana 15012078 3
Tabel 2.1 Peraturan Dimensi Balok dan Pelat
Untuk laporan kali ini, untuk kemudahan, dimensi tinggi balok ditentukan dengan menggunakan persamaan ℎ = dengan L adalah panjang bentang balok. Untuk lebar balok, digunakan persamaan =ℎ. Kedua dimensi tersebut dibulatkan ke atas dengan kelipatan 50 mm agar mudah dalam pembuatan dan pengerjaan di lapangan.
2.2.2 Kolom
Kolom merupakan komponen struktural yang menyalurkan beban dari balok ke pondasi bawah. Kolom menerima beban aksial tekan dan torsi akibat dari beban di atasnya dan beban pada balok dan pelat. Momen torsi yang disalurkan dapat berupa momen uniaksial (1 sumbu) ataupun biaksial (2 sumbu).
Desain kolom dirancang sedemikian rupa sehingga pengaruh tekuk tidak dominan sehingga keruntuhan pada kolom terjadi bukan akibat dari tekuk, melainkan terjadi akibat beban luar yang bekerja saja. Berdasarkan pasal 10.10.1 SNI-2847-2013, dimensi kolom agar tidak terjadi pengaruh tekuk harus memenuhi persamaan berikut
�
Dengan k: rasio kelangsingan l: panjang batang
: Radius of gyration = √�
�
Dalam referensi lain, persamaan kolom agar tidak tekuk adalah sebagai berikut
�
Kholid Samthohana 15012078 4 Pada laporan kali ini, persamaan yang digunakan adalah persamaan yang kedua.
2.2.3 Kombinasi Beban
Dalam perencanaan struktur, beban harus dikombinasikan dengan faktor-faktor tertentu sehingga mendapatkan envelope dari keseluruhan beban yang menghasilkan beban ultimate sebagai dasar perencanaan. Kombinasi beban terfaktor diatur dalam SNI-1727-2013 pasal 2.3.2 yaitu sebagai berikut.
1. 1.4 D
Dengan D: dead load (beban mati) E: beban gempa
L: live load (beban hidup) Lr: beban hidup atap S: beban salju R: beban hujan W: beban angin 2.2.4 Asumsi Desain
Desain pada komponen struktur didasarkan pada asumsi yang diatur pula dalam SNI-2847-2013. Asumsi yang digunakan antara lain.
Regangan maksimum yang dapat dimanfaatkan pada serat tekan beton terluar adalah 0.003
Tegangan tulangan � = × � �
Distribusi tegangan beton dianggap berbentuk persegi ekivalen
Kholid Samthohana 15012078 5 2.2.5 Beban Lentur dan Aksial
SNI-2847-2013 mengatur mengenai beban lentur dan beban aksial pada komponen struktur pada pasal 10. Secara umum, peraturan mengenai beban lentur dan aksial adalah sebagai berikut.
Desain beban aksial ØPn dari komponen struktur tekan tidak boleh melebihi ØPnmax
yang dihitung dengan persamaan
∅� = . ∅[ . ′ � − � + � ]
untuk komponen struktur dengan tulangan spiral, dan
∅� = . ∅[ . ′ � − � + � ]
untuk komponen struktur dengan tulangan pengikat Luas tulangan minimum pada komponen struktur lentur:
� = . √ ′ tapi tidak lebih kecil dari .
Luas tulangan maksimum pada komponen struktur lentur:
� = � = . ′�1 .
. +�� ��� dengan smax = 0.004
2.2.6 Beban Geser
SNI-2847-2013 mengatur mengenai beban geser pada komponen struktur pada pasal 11. Secara umum, peraturan mengenai beban lentur dan aksial adalah sebagai berikut.
Desain penampang yang dikenai geser harus didasarkan pada ∅� � dimana Vu adalah gaya geser terfaktor pada penampang dan Vn adalah kekuatan geser nominal yang dihitung dengan persamaan � = � + � dengan Vc adalah gaya geser yang disediakan oleh beton dan Vs adalah gaya geser yang disediakan oleh tulangan sengkang.
Nilai Vc diatur dalam persamaan berikut
o Komponen struktur yang dikenai beban geser dan lentur saja
� = ( . �√ ′+ � � ) +
Tetapi tidak lebih besar dari . �√ ′ dan � tidak boleh lebih dari 1. o Komponen struktur yang dikenai tekan aksial
� = . ( + � )�√ ′
Tulangan geser diatur dengan persamaan
Kholid Samthohana 15012078 6 Tulangan geser dibutuhkan bila � ∅�
Zonasi tulangan geser diatur dalam tabel di bawah ini
Gambar 2.1 Zonasi Tulangan Geser
2.2.7 Batasan Spasi antar tulangan
Batasan spasi antar tulangan yang diatur dalam SNI antara lain.
Jarak bersih antara tulangan sejajar dalam lapis yang sama, tidak boleh kurang dari db
ataupun 25 mm.
Bila tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih, tulangan pada lapis atas harus diletakkan tepat di atas tulangan di bawahnya dengan spasi bersih antar lapisan tidak boleh kurang dari 25 mm.
Pada komponen struktur tekan yang diberi tulangan spiral atau sengkang pengikat, jarak bersih antar tulangan longitudinal tidak boleh kurang dari 1,5db ataupun 40 mm.
Pembatasan jarak bersih antar batang tulangan ini juga berlaku untuk jarak bersih antara suatu sambungan lewatan dengan sambungan lewatan lainnya atau dengan batang tulangan yang berdekatan.
Pada dinding dan pelat lantai yang bukan berupa konstruksi pelat rusuk, tulangan lentur utama harus berjarak tidak lebih dari tiga kali tebal dinding atau pelat lantai, ataupun 500 mm.
Bundel tulangan :
o Kumpulan dari tulangan sejajar yang diikat dalam satu bundel sehingga bekerja dalam satu kesatuan tidak boleh terdiri lebih dari empat tulangan per bundel.
Kholid Samthohana 15012078 7 o Pada balok, tulangan yang lebih besar dari D-36 tidak boleh dibundel
o Masing-masing batang tulangan yang terdapat dalam satu bundel tulangan yang berakhir dalam bentang komponen struktur lentur harus diakhiri pada titik yang berlainan, paling sedikit dengan jarak 40db secara berselang
o Jika pembatasan jarak dan selimut beton minumum didasarkan pada diameter tulangan db maka satu unit bundel tulangan harus diperhitungkan sebagai tulangan
tunggal dengan diameter yang didapat dariluas ekuivalen penampang gabungan. 2.2.8 Kuat rencana
Kuat rencana suatu komponen struktur, sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan perilaku lentur, beban normal, geser, dan torsi, harus diambil sebagai hasil kali kuat nominal, yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi dari tata cara ini, dengan suatu faktor reduksi kekuatan ø.
Faktor reduksi kekuatan ø ditentukan sebagai berikut :
Lentur, tanpa beban aksial. ø = 0,80
Beban aksial, dan beban aksial dengan lentur. (untuk beban aksial dengan lentur, kedua nilai kuat norminal dari beban aksial dan momen harus dikalikan dengan nilai ø tunggal yang sesuai) :
o Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur. ø = 0,80 o Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur.
Komponen struktur dengan tulangan spiral. ø = 0,70
Komponen struktur lainnya. ø = 0,65
o Geser dan torsi ø = 0,75
Faktor reduksi untuk geser pada komponen struktur penahan gempa yang kuat geser nominalnya lebih kecil dari pada gaya geser yang timbul sehubungan dengan pengembangan kuat lentur nominalnya.
ø = 0,55
Faktor reduksi untuk geser pada diafragma tidak boleh melebihi faktor reduksi minimum untuk geser yang digunakan pada komponen vertikal dari sistem pemikul beban lateral.
Geser pada hubungan balok-kolom dan pada balok perangkai yang diberi
Kholid Samthohana 15012078 8 o Tumpuan pada beton kecuali untuk daerah pengakuran pasca tarik.
ø = 0,65
o Daerah pengakuran pasca tarik. ø = 0,85
o Penampang lentur tanpa beban aksial pada komponen struktur pratarik dimana panjang penanaman strand-nya kurang dari panjang penyaluran yang ditetapkan.
ø = 0,75 2.2.9 Lendutan/Defleksi
Lendutan/ defleksi ditentukan untuk menentukan apakah suatu struktur tersebut memenuhi kemampuan layan suatu struktur. Lendutan pada struktur diatur dalam SNI-2847-2013 pada pasal 9.5 yang ditampilkan dalam tabel berikut.
Kholid Samthohana 15012078 9
BAB III
PEMODELAN DAN PEMBEBANAN STRUKTUR
3.1
Hasil Preliminary Design
Sebelum menghitung preliminary design, perlu diketahui dahulu gambaran umum dari struktur. Untuk gambaran umum pada struktur rumah toko yang dibuat dijelaskan sebagai berikut.
Bentang arah Y: 8500 mm
Bentang arah X: ¾ x 8500 = 6375 mm Lantai dasar ke lantai 1: 4 m
Lantai 1 ke lantai 2: 3.5 m Panjang overstake: 2 m
Untuk spesifikasi material yang digunakan ialah sebagai berikut. f ’ alok da pelat: MPa.
Setelah itu dihitung preliminary design pada struktur untuk mendesain awal ukuran balok, pelat, dan kolom pada suatu system bangunan.
a. Preliminary Design Balok panjang (arah Y)
Panjang bentang dari balok telah ditentukan sebelumnya yaitu 8500 mm. Sesuai dengan aturan yang berlaku, tinggi balok ini mengikuti rumus ℎ = dan dibulatkan ke atas dengan kelipatan 50 mm. Dari panjang bentang 8500 mm, didapatkan tinggi balok yaitu 750 mm. setelah ditentukan tinggi balok, ditentukan lebar balok. Lebar balok mengikuti aturan =ℎ dengan pembulatan ke atas dengan kelipatan 50 mm. didapatkan lebar balok yaitu 400 mm.
b. Preliminary Design Balok pendek (arah X)
Kholid Samthohana 15012078 10 balok. Lebar balok mengikuti aturan =ℎ dan dibulatan ke atas dengan kelipatan 50 mm. didapatkan lebar balok yaitu 300 mm.
c. Preliminary Pelat
Ukuran pelat sudah ditentukan sebelumnya yaitu memiliki tinggi 150 mm. d. Preliminary Kolom
Untuk desain kolom, ditentukan dahulu tributary area untuk setiap kolom dan dicari kolom yang paling kritis untuk bagian interior dan eksterior. Untuk kolom interior, tributary areanya adalah
Gambar 3.1 Tributary Area kolom interior
Sedangkan untuk kolom eksterior, tributary area yang paling kritis adalah sebagai berikut:
Gambar 3.2 Tributary Area kolom eksterior
Kholid Samthohana 15012078 11 Beberapa nilai yang digunakan dalam preliminary design kolom ini adalah sebagai berikut:
� = / = /
′ = �
� = / = /
= /
= /
Berikut adalah contoh perhitungan untuk preliminary design kolom interior: Lantai 2: lantai 1 berbeda, yaitu sebesar 2400 N/m2.
� = ×
Kholid Samthohana 15012078 12
� = � + . + � + .
= . + . . + . + . . =
� = . ×� ′= . × =
= √� = √ = . dan dilbulatkan ke atas menjadi 350 mm
Karena didapatkan kolom lantai 1 sebesar 350 mm dan lantai 2 sebesar 250, maka kolom lantai 2 disamakan dengan kolom lantai 1. Dengan mengganti dimensi kolom lantai 2, maka Pu lantai 1 akan lebih besar. Namun dari hasil perhitungan, perbesaran kolom lantai 2 ini masih aman dipikul oleh kolom lantai 1 yang memiliki dimensi s sebesar 350 mm, sehingga kolom interior dipilih dimensi sebesar 350 mm. Untuk perhitungan lengkap kolom interior dan hasil kolom eksterior dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Perhitungan preliminary design dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.1 Perhitungan gaya aksial akibat beban sendiri pada balok
Tabel 3.2 Perhitungan gaya aksial akibat beban sendiri pada pelat
Tabel 3.3 Perhitungan dimensi kolom interior
Balok L (mm) h (mm) b (mm) Luas (mm2) volume (m3) P (kN)
panjang 8500 750 400 300000 2.55 61.2
pendek 6375 550 300 165000 1.051875 25.245
overstake 2000 750 400 300000 0.6 14.4
h (mm) Luas (mm2) volume (m3) P (kN) Luas (m2)
150 54187500 8.128125 195.075 54.1875
overstake 150 12750000 1.9125 45.9 12.75
Pelat
Kolom
Interior DL (kN) SIDL (kN) LL (kN) Pu (kN) Pu (N) Ag (mm
2) s (mm) s dibulatkan
Lt 2 281.52 93.2025 54.1875 536.367 536367 53636.7 231.596 250
Lt 1 281.52 93.2025 130.05 1199.364 1199364 119936.4 346.3184 350
DL (kN) SIDL (kN) LL (kN) Pu (kN) Pu (N) Ag (mm2) s (mm) s dibulatkan
Lt 2 536.367 350
Lt 1 281.52 93.2025 130.05 1204.404 1204404 120440.4 347.0452 350
Kholid Samthohana 15012078 13
Tabel 3.4 Perhitungan dimensi kolom eksterior
Setelah mendapatkan dimensi kolom, dicek kembali apakah kolom tersebut terkena pengaruh tekuk atau tidak. Untuk mengetahuinya, digunakan persamaan pada subbab 2.2.2 mengenai tekuk yaitu
Karena kolom tersebut memenuhi persamaan di atas sehingga dapat disimpulkan bahwa kolom tersebut aman dari bahaya tekuk.
Setelah mendapatkan dimensi dari balok, pelat, dan kolom, nilai tersebut dimasukkan ke dalam pemodelan dengan dibantu software ETABS.
3.2
Pembebanan
Pembebanan pada struktur ditentukan sebelumnya berdasarkan aturan yang sudah berlaku. Pada laporan kali ini, aturan beban yang dipikul oleh struktur adalah sebagai berikut:
ρbeton: 24 kN/m
SIDL: 1720 N/m2
Live load atap: 1000 N/m2
Live load lantai 1: 2400 N/m2
Beban hujan yang diterima atap: dengan asumsi genangan maksimum 20 cm, maka beban yang diterima sebesar 2000 N/m2
3.3
Load Combination
Load combination sudah diatur dalam SNI-1727-2013 seperti yang telah dijelaskan pada subbab 2.2.3. Dalam pemodelan pembebanan kali ini, hanya digunakan 3 kombinasi serta ditambah dengan
Kolom
eksterior DL (kN) SIDL (kN) LL (kN) Pu (kN) Pu (N) Ag (mm
2) s (mm) s dibulatkan
Lt 2 238.9275 68.53125 54.1875 455.6505 455650.5 45565.05 213.4597 250
Lt 1 238.9275 68.53125 95.625 982.851 982851 98285.1 313.5045 350
DL (kN) SIDL (kN) LL (kN) Pu (kN) Pu (N) Ag (mm2) s (mm) s dibulatkan
Lt 2 455.6505 350
Lt 1 238.9275 68.53125 95.625 987.891 987891 98789.1 314.3073 350
Kholid Samthohana 15012078 14 envelope dari ketiga kombinasi dari standar tersebut karena beban yang didefinisikan sebelumnya hanya terdapat pada 3 kombinasi. Kombinasi yang dimaksud yaitu:
1. 1.4 DL
2. 1.2 DL + 1.6 LL + 0.5 R 3. 1.2 DL + 1.6 LL
4. Envelope dari ketiga kombinasi tersebut.
3.4
Pemodelan di ETABS
Pemodelan dimulai dengan melakukan pendefinisian terhadap material dan penampang yang digunakan berdasarkan gambaran umum yang telah dijabarkan pada subbab 3.1. Setelah itu, setiap komponen struktur digambar ke dalam ETABS. Gambar pemodelan struktur di ETABS dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Kholid Samthohana 15012078 15
Gambar 3.4 Struktur 3 dimensi
Gambar 3.5 Tampak samping arah bidang Y-Z
Kholid Samthohana 15012078 16
BAB IV
ANALISIS STRUKTUR
4.1
Gaya Dalam
Gaya dalam dapat diketahui dengan menggunakan bantuan software ETABS. Gaya dalam digunakan untuk mendesain tulangan yang sesuai dengan kondisi dari struktur. Adapun gaya dalam yang didapat untuk setiap komponen struktur adalah sebagai berikut:
Gaya dalam balok
Balok yang dicari gaya dalamnya dibedakan menjadi balok panjang (arah Y) dan balok pendek (arah X). Gaya dalam maksimum yang didapat ialah sebagai berikut.
Gambar 4.1 Diagram momen balok pada ETABS
Kholid Samthohana 15012078 17
Tabel 4.1 Gaya dalam paling kritis balok panjang
Mmax 24563473.73 Nmm
Mmin -138852104 Nmm
Vmax 56475.71 N
Vmin -56475.71 N
Tabel 4.2 Gaya dalam paling kritis balok pendek
Mmax 15517465.04
Mmin -17862687.1
Vmax 18924.3
Vmin -18924.3
Gaya dalam pelat
Tabel 4.3 Gaya dalam paling kritis pelat lantai 2
M max 0.24 0.38
M min -0.36 -1.51
M dipilih 0.36 1.51
Tabel 4.4 Gaya dalam paling kritis pelat lantai 1
M max 0.19 0.37
M min -0.36 -1.64
M dipilih 0.36 1.64
Gaya dalam kolom
Tabel 4.5 Gaya dalam paling kritis pelat kolom interior
P (kN) M2 (kNm) M3 (kNm)
-497.05 0 0.049
-508.37 0 0.624
-1205.84 0 -0.202
-567.97 0 -0.624
Tabel 4.6 Gaya dalam paling kritis pelat kolom eksterior
Kholid Samthohana 15012078 18
4.2
Defleksi
Defleksi dapat diketahui dari ETABS. Defleksi digunakan untuk menentukan kemampuan layan dari suatu struktur. Defleksi juga harus dicek sehingga besarnya defleksi harus kurang dari batas defleksi yang diatur dalam SNI-2847-2013. Defleksi yang didapat dari ETABS adalah sebagai berikut.
Gambar 4.3 Llabel nama pada balok
Tabel 4.7 Defleksi akibat beban hidup (live load) balok lantai 2
Kholid Samthohana 15012078 19
Tabel 4.8 Defleksi akibat beban hidup (live load) pada balok lantai 1
Balok lendutan
(mm) Balok
lendutan (mm)
B56 0.015 B40 0.016
B57 0.033 B41 0.115
B58 0.015 B42 0.115
B59 0.004 B43 0.016
B60 0.014 B44 0.026
B61 0.004 B45 0.194
B62 0.006 B46 0.194
B63 0.01 B47 0.026
B64 0.006 B48 0.026
B65 0.004 B49 0.194
B66 0.014 B50 0.194
B67 0.004 B51 0.026
B68 0.015 B52 0.016
B69 0.033 B53 0.115
B70 0.015 B54 0.115
Kholid Samthohana 15012078 20
BAB V
DESAIN TULANGAN DAN CEK LENDUTAN
5.1
Desain Tulangan
5.1.1 Desain Tulangan Balok
Untuk medesain tulangan balok, dibedakan menjadi balok panjang dan balok pendek sesuai dengan gaya dalam yang telah didapat pada subbab sebelumnya. Berikut contoh langkah-langkah perhitungan untuk mendesain tulangan pada balok panjang (arah Y).
a. Tulangan Lentur
Mmax: 24563473.7 Nmm digunakan untuk mendesain tulangan saat momen positif, sehingga tulangan tarik berada pada bagian bawah balok.
Mmin = 138852104 Nmm, digunakan untuk mendesain tulangan saat momen negatif, sehingga tulangan tarik berada pada bagian atas balok.
Kholid Samthohana 15012078 21 Penentuan As min
� =√ ′ × × =√ ×× × = .
� = . × × = . × × = .
Dipilih Asmin yang paling besar dari kedua persamaan tersebut, yaitu 960.4 mm2.
Penentuan As max
� = . ′× ( .
. + . )
= . × × . × .× . × × = .
Dipilih dahulu As sembarang dengan Asmin < Asdipilih < Asmax. Dengan tulangan tarik yang
berdiameter 22 mm, dipilih tulangan sebanyak 5 buah sehingga As sebesar 1900.66 mm2.
U tuk As’, tula ga erdia eter dipasa g seluas . As da di ulatka ke atas. Didapatka tula ga teka se a yak uah sehi gga As’ e pu yai luas sebesar 1134.11 mm2.
Pada perhitungan Mn, tulangan tekan diabaikan karena tidak berpengaruh terlalu besar pada Mn yang didapat.
Kemudian dicari c yang menyebabkan C dan T memiliki nilai yang sama. Setelah iterasi, didapatkan c yang sesuai yaitu 87.7 mm.
Berikut perhitungan untuk mendapatkan Mn.
� = − × . = . − .. × . = . %
Karena s lebih dari 0.002, maka fs = fy = 400 MPa.
Menghitung Cc
Kholid Samthohana 15012078 22 Menghitung Ts
= � × = . × =
Dengan Cc dan Ts sama dan nilai c lebih dari jarak tulangan ke tepi beton, maka nilat tersebut dapat dianggap benar.
Menghitung Mn dan
∅
= × − . × = × − . × . × . = . ×
∅ = . =
Syarat kekuatan beton yaitu >
∅, Ø digunakan nilai sebesar 0.9 karena s > 0.005. Dari
nilai-nilai di atas, syarat kekuatan tersebut terpenuhi sehingga desain tulangan sudah dapat diterima.
Untuk momen negatif, dilakukan cara yang sama, namun nilai
∅ digunakan momen negatif.
Hasil perhitungan penentuan tulangan lentur pada balok dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.1 perhitungan tulangan momen positif balok panjang:
Tabel 5.2 perhitungan tulangan momen negatif balok panjang:
As min dipilih 960.4 mm2
As max 6372.45 mm2
dsteel nsteel As
Pilih As 1900.663555 mm2
dsteel'
As min dipilih 960.4 mm2
As max 6372.45 mm2
dsteel 22 mm
nsteel
As 1900.663555 mm2
Pilih As 1900.663555 mm2
Kholid Samthohana 15012078 23
Tabel 5.3 perhitungan tulangan momen positif balok pendek:
Tabel 5.4 perhitungan tulangan momen negatif balok pendek:
b. Tulangan sengkang
Vu yang didapat dari tabel pada ETABS yaitu 56475.75 N. Dengan asumsi Ø = 0.75, didapatkan
� =�∅= . = .
Vn design didapatkan dari nilai geser pada jarak d dari tepi balok. Nilai Vn design didapatkan sebagai berikut
� = − × � = − × =
Penentuan Vc
� = . √ ′ = . × √ × × =
Penentuan Zona
Setelah didapatkan Vn design dan Vc, kemudian kedua nilai tersebut dibandingkan untuk menentukan zona tulangan geser. Karena Vndesign < 0.5 Vn, maka penulangan geser masuk
pada zona 1, yang membutuhkan sengkang minimum. 499.1121805
510.3
As min dipilih 510.3 mm2
As max 3385.944643 mm2
dsteel 22
nsteel 4
As 1520.530844
Pilih As 1520.530844 mm2
dsteel' 19
nsteel' 3
As' 850.586211 mm2
As min c 93.53515382 mm
s' 0.100% As min dipilih 510.3 mm2 As max 3385.944643 mm2
dsteel 22 mm
nsteel 4
As 1520.530844 mm2
Pilih As 1520.530844 mm2
Kholid Samthohana 15012078 24 Penentuan jarak sengkang
Dengan diameter sengkang 13 mm, didapatkan luas sengkang yaitu 132.73 mm2. Setelah itu
ditentukan jarak sengkang yang diperlukan.
� ×
= × × . ×
. = . × =
Dipilih s yang paling kecil yaitu 343 mm, dan dibulatkan ke bawah sehingga jarak sengkang yang digunakan yaitu 300 mm.
Hasil perhitungan tulangan geser untuk balok panjang dan pendek adalah sebagai berikut:
Tabel 5.5 Perhitungan tulangan geser balok pendek:
Tabel 5.5 Perhitungan tulangan geser balok pendek:
Kholid Samthohana 15012078 25 5.1.2 Desain Tulangan Kolom
a. Tulangan Lentur
Untuk mendesain tulangan lentur pada kolom, digunakan software PCAColumn. Dari PCA Column didapatkan bahwa tulangan yang dibutuhkan adalah 4 tulangan dengan diameter 22-mm. Untuk membuktikan kebenaran dari kekuatan kolom, dibuatlah diagram interaksi manual dengan menggunakan excel. Berikut langkah-langkah mencari diagram interaksi kolom.
Diketahui f ’ = MPa fy = 400 MPa dsteel = 22mm
As = 2 x ¼ x 222 = 760.26 mm2
d = 286 mm
Untuk membuat diagram interaksi Pn dan Mn, dibuat dahulu diagram tarik tekan pada penampang. Lalu, s dibagi-bagi agar mendapatkan Mn dan Pn untuk setiap regangan pada baja.
Berikut ini beberapa contoh perhitungan untuk menentukan Mn dan Pn. s = 0.0018 (tekan)
� = . → = . × = �
. = −
Kholid Samthohana 15012078 26
�′ = − × . = − × . = . → ′ = �
Karena c > 350, maka seluruh bagian balok tertekan, sehingga
= . ′× × ℎ = . × × × =
′= ′× � ′= × . = .
= × � ′= × . = .
� = + ′+ =
= − + ′ − ′ − −
= − + . − − . −
= .
Dari perhitungan, didapatkan untuk s=0.0018, Pn = 4742802 N dan Mn = 3375578.5 Nmm.
s = 0
� = → = � =
�′ = − × . = − × . = . → ′ = �
= . ′× × = . × × . × =
′= ′× � ′= × . = .
� = + ′ =
= − + ′ − ′ − −
= ( − . × ) + . − = ×
Kholid Samthohana 15012078 27 Saat b = 0.002 (tarik)
� = . → = �
. = . + . ⇔ = .
�′ = − × . = . −
. × . = . → ′ = �
= . ′× × = . × × . × . × =
′= ′× � ′= × . = .
= × � ′= × . = .
� = + ′− =
= − + ′ − ′ + −
= ( − . × . ) + . − + . −
=
Dari perhitungan didapatkan saat s=0.002(tarik) Pnb=1571798 N dan Mnb=237527202 Nmm.
Perhitungan dilakukan sehingga mendapatkan cukup titik (Mn, Pn) sehingga diagram interaksi dapat digambar. Untuk keamanan, digunakan faktor reduksi Ø berdasarkan regangan baja yang terjadi. Saat regangan baja lebih kecil dari bal (0.002 tarik), maka Ø yang digunakan adalah 0.65.
Saat s > bal, maka Ø yang digunakan adalah 0.9. Sedangkan saat 0.002 < s < 0.005, Ø yang
Kholid Samthohana 15012078 28
Gambar 5.1 Diagram Interaksi Kolom
Setelah dibuat diagram interaksi, dilakukan pengecekan terhadap beban yang terjadi pada kolom tersebut. Momen yang terjadi secara biaksial sehingga perlu dicek terhadap momen ekivalen. Berikut contoh perhitungan dalam menentukan kuat tidaknya kolom dalam momen biaksial: Kombinasi eksterior 1:
Dari data gaya dalam pada kolom yang didapat dari ETABS, didapat: P = 250760 N
Mx = 9197000 Nmm My = 8449000 Nmm
Meqv x = +
ℎ= + × =
Berikut momen ekivalen kolom interior dan kolom eksterior
Tabel 5.6 Momen ekivalen kolom interior
P M2 (kNm) M3 (kNm) M eqv
-50000000 0 50000000 100000000 150000000 200000000 250000000 300000000
P
n
Mn
Diagram Interaksi
Kholid Samthohana 15012078 29
Tabel 5.7 Momen ekivalen kolom eksterior
P (kN) M2 (kNm) M3 (kNm) M eqv
Lalu dimasukkan ke dalam grafik diagram interaksi yang sudah dibuat dan dibuat untuk semua kombinasi.
Gambar 5.2 Pengecekan Beban terhadap Diagram Interaksi
Hasilnya titik-titik kombinasi semua beban berada di dalam grafik sehingga kolom kuat menahan beban dan momen biaksial.
b. Tulangan sengkang
Untuk perencanaan tulangan sengkang pada kolom, pendesainan dilakukan dengan cara yang sama dengan pelat maupun balok. Berikut merupakan contoh perhitungan untuk mendesain tulangan sengkang pada kolom eksterior.
Vu yang didapat dari tabel pada ETABS yaitu 19010 N. Dengan asumsi Ø = 0.75, didapatkan
� =�∅= . = . .
Kholid Samthohana 15012078 30
� = − × � = − × . = .
Penentuan Vc
� = √ ′ = √ × × =
Penentuan Zona
Setelah didapatkan Vn design dan Vc, kemudian kedua nilai tersebut dibandingkan untuk menentukan zona tulangan geser. Karena Vndesign < 0.5 Vn, maka penulangan geser masuk
pada zona 1, yang membutuhkan sengkang minimum. Penentuan jarak sengkang
Dengan diameter sengkang 13 mm, didapatkan luas sengkang yaitu 132.73 mm2. Setelah itu
ditentukan jarak sengkang yang diperlukan.
� ×
= × × . × = .
. = . × = .
Dipilih s yang paling kecil yaitu 149.5 mm, dan dibulatkan ke bawah sehingga jarak sengkang yang digunakan yaitu 100 mm.
Hasil perhitungan tulangan geser untuk kolom adalah sebagai berikut:
Tabel 5.8 Perhitungan tulangan geser kolom eksterior
Kholid Samthohana 15012078 31
Tabel 5.9 Perhitungan tulangan geser kolom interior
5.1.3 Desain Tulangan Pelat
Pada pelat hanya didesain tulangan untuk memikul gaya lentur. Pelat tidak perlu ditambah sengkang karena pada pelat tidak pernah terjadi failure terhadap geser. Gaya geser kontribusi beton (Vc) sudah cukup untuk menahan geser dari luar disebabkan oleh lebat pelat yang cukup lebar sehingga menghasilkan Vc yang bernilai besar.
Untuk mendesain tulangan lentur pada pelat, digunakan cara yang sama dengan pendesainan tulangan pada balok, namun berbeda pada lebarnya saja. Tulangan pada pelat didesain untuk tiap 1 m, sehingga lebar (b) pelat adalah 1000 mm. Untuk penyederhanaan, momen yang dipilih untuk desain tulangan yaitu saat momen positif dan negatif yang memiliki nilai yang paling besar. Berikut contoh perhitungan desain tulangan arah-X pada pelat lantai 1.
Mmax: 1640000 Nmm didapat dari ETABS
Kholid Samthohana 15012078 32 o Jarak tepi beton ke tulangan tekan = 25 mm
o d = 150 – cover – ½ dtarik = 150 – 20 – ½ 16 = 122 mm
Penentuan As’ min
� ′ = � = . % × × = .
Penentuan As min
Penentuan luas tulangan tarik minimum ditentukan seperti balok yaitu dengan persamaan
� =√ ′ = ×√ × = .
� = . = . × =
Dari kedua nilai tersebut dippilih As min yang terbesar yaitu 427 mm2.
Luas tulangan kemudian dipilih sehingga memenuhi syarat As min
Syarat yang lain yaitu salah satu tulangan harus menjadi tulangan tekan. Jika dihasilkan semua tulangan menjadi tarik, maka desain tulangan harus diulang dengan mengganti jumlah tulangannya.
Setelah diiterasi, didapatkan As tarik = 8Ø16 dan As tekan = 3Ø10
Kemudian dicari c yang menyebabkan C dan T memiliki nilai yang sama.
Setelah iterasi, didapatkan c yang sesuai yaitu 28.8 mm. Nilai tersebut memenuhi syarat bahwa tulangan atas merupakan tulangan tekan.
Berikut perhitungan untuk mendapatkan Mn.
� ′ = − ′× . = . −. × . = . × −
Lokasi resultan gaya tekan C
� = × . + ×
′ +
Kholid Samthohana 15012078 33 Menghitung Mn dan
∅
= × − � = × − . =
∅ = . =
Syarat kekuatan beton yaitu >
∅, Ø digunakan nilai sebesar 0.9 karena s > 0.005. Dari
nilai-nilai di atas, syarat kekuatan tersebut terpenuhi sehingga desain tulangan sudah dapat diterima.
Berikut merupakan tabel perhitungan tulangan pada pelat.
Tabel 5.10 Perhitungan tulangan arah X lantai 2
As min 219.6 mm2
Mn/(Mu max/Ø) 41.94544851
Kholid Samthohana 15012078 34
Tabel 5.11 Perhitungan tulangan arah Y lantai 2
As' min 190.8 mm2
Tabel 5.12 Perhitungan tulangan arah X lantai 1
Kholid Samthohana 15012078 35
Mn/(Mu max/Ø) 41.94544851
Status oke
Tabel 5.13 Perhitungan tulangan arah Y lantai 2
As' min 190.8 mm2
Kholid Samthohana 15012078 36 Dengan panjang balok pendek 6375 mm, lendutan maksimumnya adalah 17.7083 mm. Untuk balok panjang, dengan panjang 8500 mm, lendutan maksimumnya 23.61 mm. Sedangkan untuk balok overstake, dengan panjang 2000 mm, lendutan maksimumnya 5.56 mm.
Di bawah ini merupakan tabel perbandingan lendutan maksimum dan batas lendutan.
Tabel 5.14 Perbandingan batas lendutan pada lendutan balok lantai 2
Balok lt 2 Lendutan Maksimum
Batas lendutan (L/360) balok
pendek 0.023 17.70833333
balok
panjang 0.076 23.61111111
overstake 0.011 5.555555556
Tabel 5.15 Perbandingan batas lendutan pada lendutan balok lantai 1
Balok lt 1 Lendutan Maksimum
Batas lendutan (L/360) balok
pendek 0.033 17.70833333
balok
panjang 0.194 23.61111111
overstake 0.026 5.555555556
Kholid Samthohana 15012078 37
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1
Kesimpulan
Dari perhitungan di bab sebelumnya, didapatkan bahwa:
a. Pada balok panjang, menggunakan tulangan tarik 22 mm, tulangan tekan 19 mm, dan tulangan sengkang 13 mm memiliki jumlah sebagai berikut:
Tulangan momen positif sebanyak 5 untuk tulangan tarik dan 4 untuk tulangan tekan. Tulangan momen negatif sebanyak 5 untuk tulangan tarik dan 4 untuk tulangan tekan. Tulangan sengkang dengan jarak antar sengkang 200 mm.
b. Pada balok panjang, menggunakan tulangan tarik 22 mm, tulangan tekan 19 mm, dan tulangan sengkang 13 mm memiliki jumlah sebagai berikut:
Tulangan momen positif sebanyak 4 untuk tulangan tarik dan 3 untuk tulangan tekan. Tulangan momen negatif sebanyak 4 untuk tulangan tarik dan 3 untuk tulangan tekan. Tulangan sengkang dengan jarak antar sengkang 300 mm.
c. Pada kolom, menggunakan tulangan tarik 22 mm, dan tulangan sengkang 13 mm, memiliki jumlah sebagai berikut:
Tulangan longitudinal sebanyak 4 buah.
Tulangan sengkang dengan jarak antar sengkang 100 mm.
d. Pada pelat, dengan menggunakan tulangan tarik 16 mm, tulangan tekan 10 mm memiliki jumlah sebagai berikut:
Tulangan tekan sebanyak 3 buah untuk pelat arah X maupun Y.
Tulangan tarik pada pelat arah X sebanyak 8 buah, pada arah Y sebanyak 9 buah.
e. Struktur tersebut masih dalam kemampuan layannya karena lendutan maksimum dari struktur masih di bawah batas lendutan yang ditentukan SNI-2847-2013.
6.2
Saran
Kholid Samthohana 15012078 38
DAFTAR PUSTAKA
SNI-2847-2013 SNI-1727-2013