• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ringkasan Mata Kuliah Pengantar Filsafat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ringkasan Mata Kuliah Pengantar Filsafat"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Ringkasan Mata Kuliah Pengantar Filsafat

Dosen Pengampu :

Dr. CB. Mulyatno, Pr., S.S.

Dr. Johanes Haryatmoko, S.J.

2016

(2)

Pendahuluan

Ilmu Pengantar Filsafat berbeda dengan Ilmu Filsafat, pengantar filsafat lebih mengarah kepada memperkenalkan apa itu filsafat, memberikan penjelasan awal, gambaran akan apa saja yang akan dibahas filsafat. Pengantar filsafat juga membedakan definisi ilmu pengetahuan dan ilmu sebagai bagaian dari filsafat.

Ilmu Pengetahuan merupakan pengetahuan yang metodis, sistematik, dan koheren premisnya.Untuk itu pengantar filsafat mencoba untuk menjabarkan apa itu filsafat.

Filsafat berasal dari bahasa Yunani Philem = cinta, Shopia = kebijaksanaan yang berarti Cinta akan Hikmat/Kebijaksaan. Filsafat mempelajari masalah mendasar tentang eksistensi, pengetahuan, nilai, rasio, pemikiran, bahasa obyek. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajarai keabsahan sesuatu berdasarkan rasio manusia dengan logika yang ter-metode, sistematis, dan koeheren.

I. Isi

(3)

D.1. Etika menerus mempertanyakan kesahihan sebuah kebenarand dari suatu pengetahuan. Dengan kata lain epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan. Epistemologi dibagai menjadi dua aliran falsafi.

Rationalisme (Latin: ’Akal Budi’). Aliran ini lebih memprioritaskan akal budi, kemampuan berpikir manusia sebagai sumber utama dalam proses mengetahui kebenaran pengetahuan. Tokoh-tokoh rationalisme adalah Descrates, Spinoza, Leibnz, dsb. Sedangkan Empirisme (Yunani emperia pengalaman) lebih mengutamakan pengalaman, apa yang dirasakan dan dialami oleh manusia sebagai dasar dari munculnya sebuah pengetahuan.

Perbedaan antara Epistemologi dengan Ilmu Pengetahuan adalah apabila Epistemologi mempelajari Ilmu Pengetahuan dan teorinyam, Ilmu Pengetahuan lebih mempelajari satu obyek ilmu pengetahuan. Obyek dari epistemologi adalah ilmu pengetahuan sedangkan ilmu pengetahuan lebih memfokuskan obyeknya untuk mengungangkapan praandaian dan permasalahan filsafat dalam bentuk praktek ilmiah. Subyek dan byek dalam epistemologi tidak menjadi suatu keharusan sebagaimana yang terdapat pada ilmu pengetahuan.

B. Logika

Kata Logika berasal dari Yunani : Logikos yang artinya berhubungan dengan pengetahuan. Logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari cara berpikir dan menalar secara benar dengan sistematik yang terdapat dalam argumen. Argumen yang benar adalah argumen yang memiliki hubungan logis antara premis-premis dengan kesimpulan. Logika tidak mempertanyakan sesuatu hal obyek secara spesifik tetapi lebih memberi metode yang cerdas dan kristis pada manusia supaya dapat berpikir dan terus hidup. Logika mendiskripsikan langkah-langkah yang harus diambil oleh manusia, menata gagasan secara teratur, terstruktur dan tertata.

C. Metafisika Umum C.1. Ontologi

(4)

Dari filsafat onotolgi muncul beberapa pertanyan yang berkaitan dengan difokuskan terhadap manusia dan lingkup sekitarnya. Artinya, ilmu ini mempelajari manusia, hubungan manusia di luar diri manusia. Ilmu-ilmu tersebut adalah Antropologi (yang mempelajari manusia), Kosmologi (yang mempelajari lingkungan hidup manusia secara luas), dan Teodicea atau disebut Teologi Metafisik (Studi yang mempelajari keberadaan Allah).

D.1. Teodicea

Teodicea merupakan cabang ilmu filsafat yang muncul dari pelbagai pertanyaan tentang keberadaan Allah berdasarkan logika manusia. Pertanyaan tersebut mempertanyakan mengapa ada kejahatan apabila ada Allah, apakah Allah sengaja membiarkan kejahatan itu terjadi? Atau Allah bukanlah se-mahakuasa dan mahabaik seperti yang manusia kira? Atas pelbagai pertanyaan itulah Teodicea mencoba menjawabnya.

Teodicea mempertahankan peranan Tuhan dalam pandangan manusia sebagai jawaban akan adanya kejahatan. Dengan menunjukan bahwa masuk akal percaya kepada Tuhan meskipun ada bukti kejahatandi dunia dan menawarkan kerangka penjelasan mengapa kejahatan ada. Inilah mengapa teodicea menjadi konstruksi Teologi.

(5)

D.2 Kosmologi

Kata Kosmos (Yunani) berarti ‘dunia’,’aturan’ dan ‘keselurhan teratur’. Cabang filsafat ini memperlajari dunia dalam cangkupan yang lebih luas. Kosmologi dengan kata lain merupakan suatu refleksi metafisika-antropologis dan paham manusia tentang dunia yang hidup, berelasi dengan alam jagat raya.

Dunia dan manusia memiliki relasi yang variatif dan bermacam-macam, seakan tampak bahwa dunia itu rumit dan berbeda-beda. Namun sebenarnya dunia itu merupakan satu kesatuan yang menakjubkan di antara perbedan-perbedan yang ada di dunia.

Manusia memahami dunia sebagai hakikat untuk hidup, di mana manusia dapat menemukan makna hidup dan menyadari bahwa manusia merupakan kenyataan paling dekat dengan dunia. Manusia sadar secara intensif bahwa manusia merupakan bagian dari dunia itu sendiri, kesadaran ini disebut kesadaran mikrokosmos.

Manusia merupakan subsatansi, sebagaimana termasuk bagian mikrokosmos. Manusia adalah ‘Aku’ di mana ‘Aku’ ini merupakan keseluruhan penghadiran dan ekspresi yang kompleks. ‘Aku’ ada dan menjadi pengada, yang menjadi dasar pengalaman tentang diri sendiri dan lingkuan di sekitarnya. ‘Aku’ merupakan suatu otonom tersendiri yang berdikari, unik, dan tidak dapat disamakan dengan yang lain.

Sebagai substansi yang otonom manusia mencapai kesadaran tertinggi justru dalam konfrontasi (perjumpaan perbandingan) dengan yang lain atau disebut otonomi korelasi. Manusia ada di tengah-tengah pluralitas yang bukan ‘aku’ berupa kebutuhan, kebertentuan, unik, mandiir. Unsur-unsur otonomi korelasi inilah yang disebut ‘kosmos’, sebagai dunia ruang lingkup manusia hidup.

D.3. Antropologi

(6)

Manusia memiliki nuansa ganda berupa keutuhan (integral), absolut tidak terpisahkan dan aspek-aspek yang beragam (komplekisitas). Kompleksitas mempengaruhi pandangan integral jatidiri manusia yaitu prolife dan prochoice. Dari pendangan tersebut munculah kesadaran konservatisme dan liberalisme.

Manusia hidup dan berdinamika, dinamika tersebut ialah fisik-mental, taraf (anorganik, vegetatif, sensitif, rasional), keterbatasan-trasendensi, pribadi (nature)-lingkungan (nurture) , kontinu (lama)-diskontinu (baru) dan ruang-waktu.

Selain itu manusia juga mengalami proses pembentukan diri yang aktual. Proses tersebut terdiri dari tiga tahap yaitu : 1. Tahap pengumpulan data, 2. Pengolahan data, 3. Kepenuhan diri sampai akhirnya sampai pada keputusan final.

E. Axiologi

Axiologi adalah studi tentang nilai, yakni dengan memerikasa hakikat nilai, kriteria dan teori nilai. Axiologi mencakup tiga hal berupa hakikat nilai dalam bentuk pertanyaan tentang nilai, kriteria nilai berupa standar/ukran obyektif suatu nilai semisal baik/buru, benar/salah, dan yang terakhir adalah status nilai terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu sesuatu dianggap sahih sebagai suatu nilai apabila mampu memenuhi tiga hal cangkupan yang terkait oleh axiologi.

Axiologi dibagi menjadi dua cabang studi yang berbeda tentang nilai, yakni Estetika dan Etika.

E.1 Estetika

Estetika merupakan studi tentang nilai seni dengan pemeriksaan terhadap perasaan, penilaian, standar keindahan dan konsep-konsep yang terkait sehingga muncul penilaian baik atau buruk. Estetika juga kerap dikenal sebagai filsafat seni.

Filsafat seni terkait dengan makna, selera, dan emosi. Filsafat seni mempertanyakan apakah seni itu merupakan aktivitas intelektual atau representasional, apakah seni itu obyektif, apakah ada standarisasi untuk selera, adakah perbedaan antara seni dengan realita.

(7)

pengetahuan praktis karena seni tidak hanya memberi penalaran empiris tetapi juga mengelaborasi wacana rasional.

Epistemologi seni adalah rasionalitas seni sebagai elaborasi dari kriteria, metode, dan instrumen pendukungnnya. Obyek dari epistemologi seni berupa pendasaran seni, syarat, definisi, konsep, relasi, kondisi sosial dan kreativitas. Dimensi kognitifnya sejauh mana memperhitungkan dan mendorong , efektivitas pembanding dan penalaran akan seni.

E.2. Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos atau kualitas karakter. Etika merupakan refleksi filosofis tentang moralitas dalam bentuk studi tentang nilai atau refleksi terhadap benar atau salah, tindakan baik atau jahat, dan tindakan patut dipuji atau disalahkan. Etika dapat sebagai wacana normatif baik secara impresif (tegas) atau hipotesis (syarat).

Lingkup bahasan dari Etika berupa apa yang harus manusia lakukan, apa yang seharusnya bisa manusia lakukan, apa batas-batas realistis atas tindakan manusia, siapa yang untung dan siapa yang rugi. Maka etika bersangkutan dengan aturan umum atau norma moral pertimbangan, refleksi, keputusan, penilaian untuk mencari pembenaran tindakan.

III. Kesimpulan

Gagasan penjabaran mengenai pelbagai cabang filsafat merupakan suatu gambaran umum yang mencakup keseluruhan filssafat. Gambaran umum ini saling terkait satu dengan yang lainnya, sehingga perlu adanya pendalaman akan cabang-cabang filsafat secara lebih lanjut dan lebih intesif.

Oleh karena diperlukannya pendalaman yang lebih lanjut, gagasan mengenai pengantar filsafat menjadikan filsafat dikenal secara umum dan lebih realistis. Memberikan pemahaman bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang abstrak dan sulit untuk dipelajari, justru gagasan tersebut membantu untuk mempelajari apa itu filsafat.

Penutup

(8)

Referensi

Dokumen terkait