PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN EFIKASI DIRI
SISWA KELAS V SD
ARTIKEL
OLEH NURY YUNIASIH NIM 112103540073
UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN EFIKASI DIRI
SISWA KELAS V SD
Nury Yuniasih Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok pada mata pelajaran IPA kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang; (2) hasil belajar siswa setelah menerapkan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok; (3) efikasi diri siswa selama menerapkan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 33 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK yang meliputi empat tahap yaitu: 1) planning, 2) acting, 3) observing dan 4) reflecting. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini meliputi: wawancara, observasi, angket, pretest dan postest, perangkat pembelajaran, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran IPA. Hal ini dibuktikan dengan meningkatkan hasil belajar dan efikasi diri siswa kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang. Diketahui dari hasil belajar kognitif siswa siklus I yaitu 62,75 meningkat pada siklus II yaitu 75,18. Hasil belajar afektif, pada siklus I yaitu 67,42% terjadi peningkatan pada siklus II yaitu 83,18%. Selain itu, hasil observasi efikasi diri siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I yaitu 60,75% meningkat menjadi 85,35% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok sesuai untuk diterapkan pada pembelajaran IPA kelas V SDN Bandungrejosari 3 Malang. Disarankan agar guru memilih model pembelajaran Investigasi kelompok ini dalam pembelajaran IPA atau pembelajaran lain yang sesuai. Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan model investigasi kelompok, sebaiknya dilakukan perencanaan yang matang agar tidak terjadi kesalahan di kelas. Selain itu, guru juga harus menyiapkan sumber belajar yang tepat dan fasilitas yang dibutuhkan siswa.
ABSTRACT: This study is aimed at describing: (1) the implementation of Group Investigation Learning Model on Science Subjects for fifth grade students of SDN Bandungrejosari 3 Malang, (2) student learning outcomes after Group Investigation Learning Model being implemented, and (3) students' self-efficacy during the implementation of Group Investigation Learning Model. Furthermore, the subjects of this study are fifth grade students of SDN Bandungrejosari 3 Malang in the 2012/2013 academic year which consists of 33 students. The type of research for this study falls under the category of is a classroom action research (CAR) which involving two cycles. Hence, each cycle consist of four stages, namely: 1) planning, 2) acting, 3) observing and 4) reflecting. Data collection techniques used in this study include: interviews, observations, questionnaires, pre-test and post-test, learning devices, field notes, and documentation. The result findings of the study show that the implementation of what so-called Group Investigation Learning Model fits to the Science learning. It can be proven by improvement of students’ learning outcomes and self efficacy for fifth grade students of SDN Bandungrejosari 3 Malang. It is known from the results of students' cognitive learning in the cycle I which has increased from 62.75 to be 75.18 in the cycle I. Meanwhile, the affective learning outcome has increased from 67.42% in the cycle I to be 83.18% in cycle II. Furthermore, the observation of students' self-efficacy also increased which indicated from 60.75% in the cycle I increased to be 85.35% in the cycle II. Based on this result study, it can be concluded that the implementation of Group Investigation Learning Model is appropriate for Science learning in fifth grade students of SDN Bandungrejosari 3 Malang. It is recommended that teachers choose this teaching model in teaching Science or other similar learning subjects. Before implementing this learning model, it is important to have good and well-prepared plan in order to avoid mistakes in the classroom. In addition, teachers must also prepare appropriate learning resources and facilities required for the students.
Keywords: group investigation learning model, learning outcome, self efficacy, natural science for elementary school.
menyenangkan sehingga siswa akan antusias mencari tahu sejauh mana pelajaran IPA berdampak pada pengalaman kesehariannya.
Pembelajaran konvensional disertai dengan metode driil kurang tepat jika diterapkan dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran konvensional mempunyai ciri-ciri menggunakan metode tunggal yaitu ekspositori dengan metode ceramah (preaching method). Metode ceramah adalah metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kepada siswa, siswa harus berusaha untuk
memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan oleh guru. Metode ini memposisikan guru sebagai pelaku utama dan siswa diposisikan sebagai peserta didik yang pasif, dengan asumsi ingin memberi bekal materi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Metode driil adalah metode pemberian soal latihan yang sesuai dengan materi secara terus-menerus, dengan metode ini siswa akan menghafal soal dan jawaban yang diberikan guru. Metode ini dilakukan dengan asumsi pada saat ujian siswa akan mengingat jawaban dari soal yang kemungkinan muncul.
Upaya yang dilakukan peneliti untuk memperbaiki kualitas pembelajaran IPA di SDN Bandungrejosari 3 Malang adalah dengan mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran kooperatif. Salah satu model yang dicoba adalah model pembelajaran investigasi kelompok. Model pembelajaran ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif dimana dalam pelaksanaannya diperlukan
pengarahan dari guru. Pengarahan ini dilakukan agar siswa dapat berinteraksi dan mengungkapkan apa yang dipikirkan, yang siswa ketahui, dan rasakan mengenai apa yang siswa pelajari.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Proses pemecahan masalah tersebut dilakukan secara bersiklus dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas tertentu. Kehadiran peneliti di lapangan diperlukan karena peneliti bertindak sebagai instrumen, dimana peneliti sebagai perencana kegiatan, pelaksana pembelajaran, pengumpul data,
menganalisis dan pelapor hasil penelitian. Pada pelaksanaan penelitian, peneliti didampingi oleh guru kelas sebagai kolabolator
Prosedur penelitian pada penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Kemmis & MC. Taggart. Prosedur penelitian ini terbagi menjadi beberapa siklus seperti tergambar pada Gambar 3.1 berikut ini:
Gambar 3.1 Alur Tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Arikunto dkk, 2010:16)
HASIL Siklus I
Keberhasilan siklus I apabila telah melampaui Indikator keberhasilan yang ditentukan. Maka perlu dilakukan analisis dan penilaian seluruh hasil tindakan siklus I sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Berikut adalah analisis keberhasilan siklus I:
Tabel 4.3 Analisis keberhasilan siklus I
NO. Indikator Hasil Ideal Hasil Siklus I Keterangan
1 Ketuntasan individu aspek kognitif ≥ 65 62,75 Belum Berhasil
2 Ketuntasan kelas ≥ 70% 63,6% Belum Berhasil
3 Ketuntasan kelas aspek afektif ≥ 75% 67,42% Belum Berhasil
4 Keterterapan model ≥ 90 % 85,9% Belum Berhasil
6 Efikasi diri untuk kelas ≥ 80% %60,75 BerhasilBelum Berdasarkan hasil analisis di atas diketahui bahwa hasil belajar kognitif pada siklus I yaitu 62,75 belum mencapai indikator ketuntasan individu yaitu 65. Persentase ketuntasan belajar pada siklus I yaitu 63,6% belum mencapai Indikator ketuntasan kelas minimal yaitu 70 %. Hasil belajar afektif pada siklus I yaitu 67,42% belum mencapai Indikator ketuntasan aspek afektif yang ditentukan yaitu 75%. Penerapan model investigasi kelompok pada siklus I yaitu 85,9% belum mencapai hasil yang ditentukan yaitu 90%. Efikasi diri untuk kelas pada siklus I yaitu 60,75% belum mencapai hasil yang ditentukan yaitu 80%.
Refleksi
Penerapan model pembelajaran investigasi kelompok pada siklus I belum maksimal pada pelaksanaannya. Pengelolaan waktu tidak sesuai dengan target yang ditentukan. Pelaksanaan investigasi terlalu lama melebihi waktu yang ditentukan. Pada proses pembelajaran sebagian siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran terutama ketika diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Siswa ragu-ragu dalam mengemukakan pendapat. Beberapa siswa tidak
Pelaksanaan presentasi juga terganggu karena ada siswa yang ramai. Pengelolaan kelas kurang maksimal, kelas menjadi tidak kondusif karena partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat kurang. Secara keseluruhan pembelajaran pada siklus I belum berjalan lancar.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok belum berhasil. Selain disebabkan oleh siswa yang masih kesulitan dan kurangnya kemampuan guru dalam mengelola kelas, belum berhasilnya penerapan model ini juga dibuktikan dengan hasil pembelajaran siklus I belum mencapai tingkat keberhasilan yang ditentukan. Pembelajaran pada siklus I kurang maksimal dan belum mencapai hasil yang diinginkan, oleh sebab itu harus dilakukan siklus selanjutnya
Hasil diskusi antara peneliti yang bertindak sebagai guru dengan guru kelas V dan teman sejawat menemukan bahwa kemampuan guru dalam mengelola kelas dan mengelola waktu pembelajaran merupakan kunci utama pemecahan masalah pada siklus I. Guru harus dapat menjadi pelaksana pembelajaran yang baik, terutama dalam mengkondisikan siswa untuk siap dalam melaksanakan pembelajaran. Selain itu, Guru harus menjelaskan proses investigasi yang akan dilakukan siswa dengan sejelas-jelasnya. Guru juga harus memberikan motivasi agar dapat membangun kerjasama antarsiswa, serta memberikan kesempatan bagi siswa yang belum aktif untuk mengemukakan pendapatnya.
Temuan Penelitian
Berdasarkan pada pelaksanaan tindakan pada siklus I, berikut temuan penelitian dari siklus I:
1. Siswa kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
2. Sebagian siswa kurang aktif dalam pembelajaran terutama dalam kegiatan apersepsi dan menyimpulkan pembelajaran.
3. Beberapa kelompok kesulitan melakukan investigasi karena anggota kelompoknya kurang bekerjasama.
4. Ada beberapa siswa yang ramai ketika ada kelompok yang presentasi. 5. Efikasi diri siswa rendah terlihat dari penyelesaian tugas, beberapa siswa
7. Penjelasan tentang materi yang disampaikan harus lebih lengkap lag
8. Penerapan model investigasi kelompok kurang maksimal dan belum berhasil. Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil refleksi tersebut, perlu dilakukan tindak lanjut sebagai pemecahan masalah dari siklus I dengan melakukan perbaikan pada siklus II. Perbaikan yang dimaksud adalah dengan mencermati hal-hal berikut: (1)
pengelolaan kelas dan waktu (2) cara menjelaskan tugas investigasi siswa dengan baik agar siswa tidak mengalami kesulitan, (3) berusaha membangun efikasi diri siswa dengan memberi kesempatan pada siswa yang kurang aktif mengemukakan pendapatnya, serta (4) memastikan bahwa siswa benar-benar telah memahami materi dengan memberikan pertanyaan. Dengan memperhatikan hal tersebut diharapkan pada tindakan siklus II dapat mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan.
Siklus II
Keberhasilan siklus I apabila telah melampaui Indikator keberhasilan yang ditentukan. Maka perlu dilakukan analisis dan penilaian seluruh hasil tindakan siklus II sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Berikut adalah analisis keberhasilan siklus II:
Tabel 4.5 Analisis keberhasilan siklus II
NO. Indikator Hasil Ideal Hasil Siklus II Keterangan
1 Ketuntasan individu aspek kognitif ≥ 70 75,18 Berhasil
2 Ketuntasan kelas ≥ 75% 81,8% Berhasil
3 Ketuntasan kelas aspek afektif ≥ 80% 83,18% Berhasil
4 Keterterapan model ≥ 95 % 95,3% Berhasil
6 Efikasi diri untuk kelas ≥ 85% 85,35% Berhasil
ditentukan yaitu 90%. Efikasi diri untuk kelas pada siklus II yaitu 85,35% telah melampaui hasil yang ditentukan yaitu 85%.
Refleksi
Penerapan model pembelajaran investigasi kelompok pada siklus II dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Seluruh langkah pembelajaran
dilaksanakan dengan baik. Guru memberikan batasan waktu yang tepat sehingga semua langkah pembelajaran dapat dilaksanakan. Pada proses pembelajaran seluruh siswa antusias mengikuti pembelajaran terutama ketika diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Pada proses investigasi siswa tidak mengalami kesulitan karena telah memahami bentuk pembelajaran yang dilakukan. Efikasi diri siswa meningkat karena siswa merasa yakin dapat memahami materi. Siswa juga lebih yakin terhadap tugas yang mereka kerjakan, dan mereka yakin jawaban mereka itu benar. Selain itu, guru juga dapat mengatur pelaksanaan presentasi sehingga seluruh siswa memperhatikan dan tidak ada yang ramai. Secara keseluruhan pembelajaran pada siklus II berjalan lancar.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menerapkan Model investigasi kelompok pada siklus II berhasil diterapkan. Keberhasilan ini dibuktikan dengan tercapainya seluruh indikator keberhasilan siklus II. Selain itu, hasil dari angket pembelajaran dan efikasi diri yang dilakukan pada siklus II juga mengalami peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa siswa tertarik dengan model pembelajaran ini dan merasa efikasi dirinya meningkat setelah pembelajaran ini. Berdasarkan hasil
pembelajaran siklus II yang terbukti bahwa pembelajaran telah berhasil, maka tidak perlu dilakukan siklus lanjutan. Oleh sebab itu, peneliti mengakhiri penelitiannya pada siklus II ini.
Temuan Penelitian
Berdasarkan pada pelaksanaan tindakan pada siklus II, berikut temuan penelitian dari siklus II:
2. Siswa antusias dalam pembelajaran karena motivasi yang besar untuk menjadi yang terbaik dan adanya keinginan berkompetisi antar siswa. 3. Efikasi diri siswa meningkat karena siswa merasa yakin dapat memahami
materi. Selain itu, siswa juga lebih yakin terhadap tugas yang mereka kerjakan, dan mereka yakin jawaban mereka itu benar.
4. Kerjasama dalam kelompok sangat baik, seluruh anggota kelompok ikut melakukan investigasi dengan baik dan tepat waktu. Siswa sudah memahami jika dengan berkerjasama akan mempermudah dalam mengerjakan tugas. Tingkat kecerdasan yang berbeda tidak menghalangi mereka dalam bekerjasama.
5. Pengelolaan kelas yang dilakukan guru berjalan lancar. Secara keseluruhan guru dapat mengkondisikan pembelajaran dengan baik, sehingga tidak ada siswa yang ramai.
6. Pengelolaan waktu dengan membatasi setiap tahapan sangat efektif. Pada saat siswa melakukan investigasi guru memberikan batasan waktu 20 menit. Dengan adanya batasan tersebut siswa melakukan investigasi dengan semaksimal mungkin sehingga tidak melampaui waktu yang ditentukan. 7. Penerapan model berjalan maksimal dan berhasil. Hal ini terbukti dari hasil
belajar dan efikasi diri siswa mengalami peningkatan.
PEMBAHASAN
Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok dalam Pembelajaran IPA
investigasi kelompok juga menunjukkan peningkatan. Terbukti dari hasil angket pada siklus 1 sebanyak 29 siswa dari 33 siswa merasa pembelajaran ini lebih menarik, pada siklus II seluruh siswa kelas V yang tertarik pada pembelajaran ini. Empat siswa yang awalnya kurang tertarik menjadi tertarik dengan pembelajaran ini, mereka merasa lebih mudah memahami materi dan diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat.
Penerapan Model Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA
Penelitian yang dilakukan di SDN Bandungrejosari 3 Malang ini berhasil membuktikan teori-teori dari para ahli tersebut bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menyelesaikan tugas belajarnya. Kemampuan ini bisa berupa keterampilan dan juga perubahan tingkah laku. Berdasarkan hasil pra tindakan, diketahui bahwa nilai rata-rata siswa sebelum tindakan adalah 63. Peneliti berharap hasil belajar penelitian ini dapat mencapai hasil yang maksimal melebihi hasil pra tindakan. Hasil belajar pada penelitian ini diperoleh dari ranah kognitif dan afektif saja. Ranah kognitif berasal dari hasil yang diperoleh siswa setelah menunjukkan kemampuannya dalam menyelesaikan evaluasi, dan ranah afektif berasal dari perubahan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran.. Hasil belajar kognitif pada siklus I yaitu 62,75 terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 75,18 . Hasil belajar kognitif pada siklus II telah melampaui nilai KKM yaitu 70. Pada ketuntasan kelas siklus I yaitu 63,6% terjadi peningkatan pada siklus II yaitu 81,8% dan telah melampaui ketuntasan kelas minimal yaitu 75 %. Hasil belajar afektif juga mengalami peningkatan. Hasil belajar afektif pada penelitian ini diukur dari empat aspek meliputi: keaktifan, keberanian, kerjasama, dan ketepatan jawaban. Hasil belajar afektif pada siklus I yaitu 67,42% terjadi peningkatan pada siklus II yaitu 83,18% dan telah
model investigasi kelompok dapat meningkatkan hasil belajar pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Bandungrejosai 3 Malang baik ranah kognitif maupun afektif . Penerapan Model Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Efikasi Diri Siswa
Penelitian ini telah membuktikan teori dari Santrock dan ormrod bahwa siswa yang efikasi dirinya tinggi cenderung berprestasi dan lebih tekun berusaha pada tugas belajar. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti siswa yang memiliki efikasi tinggi lebih termotivasi dalam menyelesaikan tugas dan memperoleh hasil yang baik. Terdapat tiga dimensi yang menjadi acuan pengamatan yaitu: dimensi Magnitude (terkait dengan persepsi tugas yang dianggap sulit oleh siswa), dimensi Strength (terkait dengan kekuatan efikasi diri siswa ketika menghadapi tuntutan tugas atau suatu permasalahan), dan dimensi Generality (terkait dengan taraf keyakinan dan kemampuan siswa dalam
mengambil kesimpulan dari keseluruhan tugas). Pada siklus I dimensi Magnitude yaitu 53,3% meningkat menjadi 83,3% pada siklus II, dimensi Strength pada siklus I yaitu 63,3% meningkat menjadi 86,7%, pada siklus II, dimensi
Generality pada siklus I 63,3% meningkat menjadi 86,7% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil efikasi diri siswa pada siklus I yaitu 60,75% terjadi peningkatan yaitu 85,35% pada siklus II. Meningkatnya efikasi diri setiap siswa ini berdampak pada meningkatnya prestasi siswa yang terlihat pada hasil belajar siswa yang telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model investigasi kelompok dapat meningkatkan efikasi diri siswa kelas V SDN bandungrejosai 3 malang
Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Model Investigasi Kelompok Pada proses penelitian ini tidak dapat dipungkiri pasti ada faktor
pendukung dan penghambat jalannya penerapan pembelajaran ini. Faktor pendukung dan penghambat proses penerapan model ini dalam pembelajara IPA kelas V materi penyesuaian diri adalah sebagai berikut:
Faktor pendukung penerapan model pembelajaran investigasi kelompok ini meliputi sebagai berikut:
1. Siswa yang bersedia berpartisipasi dalam pembelajaran.
3. Fasilitas sekolah yang cukup memadai, seperti tersedianya perpustakaan, pekarangan yang terdapat banyak jenis tumbuhan, dan kelas yang difasilitasi dengan LCD
4. Letak sekolah yang dekat dengan peternakan maupun pembudidaya tumbuhan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mempertajam investigasi.
Faktor penghambat penerapan model pembelajaran investigasi kelompok meliputi sebagai berikut:
1. Sumber pembelajaran yang masih terbatas karena buku diperpustakaan kurang lengkap.
2. Karakteristik siswa yang beranekaragam dan jumlah siswa yang kurang ideal yaitu 33 siswa karena jumlah maksimal kelas ideal adalah 28 siswa.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Model pembelajaran investigasi kelompok sangat sesuai diterapkan pada matapelajaran IPA kelas V materi penyesuaian makhluk hidup. Proses pembelajaran ini, siswa menjadi lebih aktif dan antusias mencari informasi-informasi baru yang sesuai dengan pembelajaran. Pembelajaran IPA menjadi lebih bermakna dan menyenangkan karena tidak terpusat di dalam kelas saja. Keberhasilan penerapan model pembelajaran ini berdampak pada
meningkatnya hasil belajar siswa. Adanya peningkatan hasil belajar IPA khususnya materi penyesuaian diri makhluk hidup setelah menerapkan model investigasi kelompok . Hal ini terlihat dari hasil belajar kognitif siswa siklus I yaitu 62,75 meningkat pada siklus II yaitu 75,18. Selain hasil belajar kognitif juga terjadi peningkatan hasil belajar afektif, pada siklus I yaitu 67,42% terjadi peningkatan pada siklus II yaitu 83,18%.
2. Penerapan model investigasi kelompok berhasil diterapkan dalam
meningkatkan efikasi diri siswa. Siswa yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung lebih termotivasi dalam menyelesaikan tugas dan memperoleh hasil yang baik. Pada saat diterapkan model pembelajaran investigasi kelompok siswa yang efikasi dirinya tinggi sangat tertantang untuk
melakukan pembelajaran ini, begitu pula siswa yang efikasi dirinya rendah termotivasi untuk menyelesaikan pembelajaran ini. Penyebabnya karena pembelajaran ini menarik dan menuntut siswa untuk menunjukkan kemampuannya dalam mencari informasi. Model pembelajaran ini telah terbukti dapat meningkatkan efikasi diri siswa, hal ini dibuktikan dengan hasil efikasi diri siswa pada siklus I yaitu 60,75% terjadi peningkatan yaitu 85,35% pada siklus II.
Saran
Sesuai dengan hasil penelitian sebagaimana tersebut di atas, akan dikemukakan saran yang diharapkan menjadi rekomendasi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di SD, khususnya pada mata pelajaran IPA. Adapun saran-saran yang dapat diberikan agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih efektif adalah sebagai berikut:
1. Guru harus menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan materi. Memilih model yang dapat menggali kemampuan siswa, misalnya dengan menerapkan model pembelajaran investigasi kelompok ini dalam pembelajaran IPA atau pembelajaran lain yang sesuai. Selain itu, guru juga harus mengembangkan pembelajaran yang inovatif agar motivasi siswa dalam belajar meningkat.
2. Adanya ruang lingkup dan keterbatasan dalam penelitian ini maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran investigasi kelompok pada mata pelajaran lain agar diperoleh hasil penelitian yang lebih mewakili dari hasil penelitian ini.
3. Sebaiknya temuan penelitian ini dijadikan acuan dalam melaksanakan dan mengembangkan penelitian-penelitian lain bagi peneliti lain.
Akbar, S. 2009. Penelitian Tindakan Kelas Filosofi, Metodologi, dan Implementasinya. Yogyakarta: Cipta Media Aksara.
Arikunto, S. 2010a. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, S. 2010b. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Bandura, A. 2006. Self-Effcacy Beliefs of Adolescents, 307—337(Chapter 14). Copyright © 2006 by Information Age Publishing All rights of reproduction in any form reserved.
Basrowi dan Suwandi. 2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.
Budiyono, G.2011. Penerapan Metode Group Investigation dipadu dengan Game Puzzle untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII- B SMP Negeri I Bondowoso. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Depdiknas. 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur Balitbang.
Dickinson, V.L. (1997). Becoming better primary science teachers: A description of our journey. Journal of Science Teacher Education, 8(4), 296-311. Dimyati & Mudjiono. 1994. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Proyek
pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kependidikan, DIKTI, DEPDIKBUD
Hamalik, O. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Indiartiningsih, E. 2011. Pembelajaran Kooperatif Jigsaw dengan Menggunakan Perangkat Pola PBMP untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII-1 SMPN 1 Probolinggo. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kartono. 2011. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Operasi Hitung Pecahan Melalui Penerapan Metode Group Investigation. Jurnal Pendidikan Oktadika No 4 Tahun 2011.
Masraroh, L. 2012. Effektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Modeling untuk Meningkatkan Self Efficacy Akademik Siswa. Tesis tidak diterbitkan. (Online), (http://repository.upi.edu/tesisview.php?no_tesis=2118), diakses 13 September 2012
Misyanti. 2011. Telf 2 Group Investigation. (Online), (http// 2012/03/telf-2-group-investigation-created-by.html), diakses 1 Oktober 2012
Moleong, L. J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Murphy, C., & Beggs, J. 2003. Children’s perceptions on school science. School Science Review, 84(308), 109-116.
National Science Education Standard. 1996. Science Content Standard. (Online), (http://www.nap.edu/openbook.php?record:id=4962&page=103), diakses 13 September 2012.
Ormrod, J. E. 2009. Psikologi Pendidikan: membantu siswa tumbuh dan berkembang. Jakarta: Erlangga.
Santoso, E. B. 2011. Model Pembelajaran Group Investigation. (online),
(http://2011/05/model-pembelajaran-group-investigation.html), diakses 13 september 2012.
Santrock, J. W. 2009. Psikologi Pendidikan: buku 2. Jakarta: Salemba Humanika. Setiadi, R. 2007. Efikasi Diri dan Kinerja Guru Serta Hasil Belajar Literasi
Siswa. Bandung: Makalah disampaikan dalam Forum Ilmiah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia. Sharan, S. 1999. The Handbook of Cooperative Learning. Terjemahan Daru
Wijayati. 2012. Yogyakarta: Familia.
Slagle, D. R. 2007. The Use of Cooperative Learning to Promote Academic Achievement, Self-Esteem, and Inter-Group Relations In a High School Social Studies Class. Theses. USA: Defiance College, (Online),
(etd.ohiolink.edu), diakses 12 September 2012.
Slavin, R. E. 2005. Cooperative Learning: teori,riset, dan praktik. Terjemahan Narulita Yusron. 2011. Bandung: Nusa Media.
Sudjana, N. 2011. Penilaian Hasil Proses BelajarMengajar. Bandung: PT. Remajar Rosdakarya.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sulistyowati, S. N. 2011. Penerapan Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah dan Efikasi Diri. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Thelen, A. H. 1981. The Classroom Society: The Construction of Educational Experience. New York: Haisted Press.
Wonorahardjo, S. 2010. Dasar-dasar Sains: menciptakan Masyarakat Sadar Sains. Jakarta: Indeks.
Wetzel, D. 2008. What Is Scientific Inquiry?. (Online),
(http://www.ezinearticles.com/?What_is_scientific_inquiry? &id.1223526), diakses 13 September 2012.