• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIPERTENSI DERAJAT 1 Disusun oleh FAKULT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HIPERTENSI DERAJAT 1 Disusun oleh FAKULT"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENUGASAN PPK

HIPERTENSI DERAJAT 1

ditujukan guna memenuhi Tugas Penugasan Blok 3.3 Masalah Pada Dewasa II

Disusun oleh:

 M. Faliq Khubbata (14711145)

 Faisal Majid (14711143)

 Cindy APD (14711159)

Kelompok Tutorial 6

Tutor Pembimbing : d

r. Riri, M.Sc

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

(2)

BAB II

Pasien datang sendiri/rujukan Pasien datang sendiri Waktu kunjungan awal

Alamat Jln. Anyelir III, Perumnas Condong Catur No. 32

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Kemenkes, 2013). Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer dengan prevalensi sebesar 25.8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013.

Hipertensi dipengaruhi beberapa faktor seperti usia dan jenis kelamin. Pada masyarakat industri, tekanan darah sistolik akan meningkat secara progresif seiring bertambahnya usia. Pada masyarakat non-industri yang mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah garam, tekanan darahnya akan rendah dan tidak meningkat seiring bertambahnya usia. Pasien hipertensi diatas usia 50 tahun sebagian besar akan mengalami hipertensi sistolik, dimana tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg, dan tekanan diastoliknya seringkali normal. Dengan bertambahnya usia jaringan eslastin pada aorta akan digantikan jaringan kolagen yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah (Goldman).

(3)

menopause, prevalensi hipertensi meningkat dengan cepat pada wanita dan melebihi prevalensi pada pria (Goldman).

Dari penjelasan diatas, pasien memiliki risiko mengalami hipertensi karena pasien berjenis kelamin laki-laki dan usia pasien diatas 50 tahun. Data penelitian

menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia akan meningkatkan terjadinya hipertensi, dan hipertensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan pre menopause.

B. Analisis RPS, RPD, dan RPK

C. Analisis pemeriksaan fisisk dan pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Fisik

Jantung dalam batas normal, tidak terdengar adanya suara patologis

Paru Suara vasikular Abdomen Dalam batas normal

Ekstremitas Tidak ada edem ekstremitas, a. Femoralis teraba

(4)

gizi sangat penting diketahui supaya pasien terhindar dari komplikasi penyakit hipertensi. Pasien memiliki tinggi badan 166 cm dan berat badan 66 kg, sehingga didapatkan IMT 23,95 kg/ m2 . Hasil IMT pasien tergolong normal karena

berada di rentang 18,5 – 25,0. Kategori IMT dapat dilihat di tabel dibawah ini (Depkes 2011).

Kategori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0 Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4

Normal 18,5 –

25,0 Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 –

27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Status gizi terutama obesitas menjadi salah satu faktor meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas pada penyakit hipertensi. Berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki IMT <25 (status gizi normal) (Nuraini, 2015).

(5)

Pada obesitas yang meningkatkan jumlah lemak viseral nantinya akan menurunkan fungsi endotelial viseral, dimana endotelium viseral berperan penting dalam mengatur resistensi vaskular. Apabila lemak viseral semakin tinggi, maka akan terjadi gangguan vasoreaktivitas yang menyebabkan vaskular sukar berelaksasi, sehingga tekanan darah akan cenderung meningkat pada keadaan ini (Kotchen 2010). Pola hemodinamika yang dihubungkan dengan hipertensi adalah meningkatnya volume, peningkatan cardiac output, dan resistensi vaskular sistemik yang gagal diturunkan untuk menyeimbangkan cardiac output yang lebih tinggi (Tjokroprawiro A, et al. 2015).

Dari beberapa penjelasan tersebut, maka bagi pasien hipertensi harus menjaga status gizinya agar tidak memperparah hipertensi yang diderita. Karena pasien ini sudah memiliki IMT ketegori normal, maka pasien harus menjaga nya tetap normal dengan beberapa usaha yaitu dengan mengatur pola makan sehat, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur supaya berat badan tetap terjaga.

Nadi dan pernafasan digunakan untuk mengatahui apakah pasien mengalami keadaan kegawatdaruratan. Pada dasarnya hipertensi tidak memberikan gejala spesifik, namum pada beberapa kondisi, umumnya gejala yang dikeluhkan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, pasien akan merasakan adanya palpitasi, dan apabila hal ini terjadi, maka juga diikuti dengan adanya takikardia, selain itu pada keadaan gangguan vaskular bisa didapatkan sesak napas yang bermanifestasi peningkatan frekuensi napas pasien. Sesak napas ini bisa diakibatkan adanya gagal jantung akibat hipertensi yang diderita (Tjokroprawiro A, et al. 2015). Pada pemeriksaan fisik pasien ini frekunsi denyut nadi 90 x/menit menunjukkan angka normal, dan frekunsi napas 19x/menit dapat disimpulkan tidak ada sesak napas pada pasien.

(6)

Tekanan darah sangat penting diperiksa pada pasien yang memiliki hipertensi, untuk memantau pengobatan yang diberikan. Pemeriksaan tekananan darah pada pasien digunakan untuk memastikan tekanan darah saat ini. Tekanan darah pasien adalah 120/90 mmHg, hal ini tergolong normal. Adapun klasifikasi hipertensi menurut JNC-7 adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII (Tjokroprawiro A., et al. 2015).

(7)

Gamb ar 2. Perhitungan estimasi resiko kardiovaskular (PERKI 2015).

(8)

pasien, mata pasien dalam keadaan normal, tidak ada tanda-tanda adanya retinopati hipertensif, hal ini dapat disebabkan karena pasien teratur dalam melakukan terapi.

Pemeriksaan leher digunakan untuk mencari apakah ada pembesaran kelenjar tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid dapat dikaitakan dengan adanya penyakit thyroid. Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi primer (esensial) yaitu penyebab hipertensi yang tidak diketahui dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain. Pada hipertensi sekunder dapat disebabkan karena adanya Thyroid disesease yaitu hipertiroid maupun hipotiroid, maka dari itu pemeriksaan leher ini dilakukan untuk menenumakan kemungkinan penyakit tiroid (Tjokroprawiro A, et al. 2015). Pasien tidak didapatkan adanya pemebesaran kelenjar tiroid, dan pemeriksaan leher dalam batas normal, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada penyakit tiroid yang menyebabkan hipertensi pada pasien ini.

Pemeriksaan dada terkait jantung dan paru digunakan untuk mencari keadaan patologi terkait komplikasi dari hipertensi. Pemeriksaan jantung untuk melihat apakah ada left ventrikel hypertrophy (LVH) dengan menggunakan EKG dan apakah terdapat gagal jantung pada saat dilakukan EKG dan aukultasi jantung (Tjokroprawiro A, et al. 2015). Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya gagal jantung, apalagi jika hipertensi tidak terkontrol dengan baik. Berdasarkan sebuah studi dari Framingham, hipertensi menyumbang sekitar seperempat dari kasus gagal jantung. Pada populasi usia lanjut, sebanyak 68% kasus gagal jantung dikaitkan dengan hipertensi5 . Studi berbasis masyarakat telah menunjukkan bahwa hipertensi dapat berkontribusi bagi perkembangan gagal jantung sebanyak 50-60% dari pasien. Pada pasien dengan hipertensi, risiko gagal jantung meningkat sebesar 2 kali lipat pada laki-laki dan 3 kali lipat pada wanita (Khaliullah, 2011).

(9)

konduksi, serta disfungsi sistolik dan diastolik dari miokardium yang bermanifestasi klinis sebagai angina atau infark miokardium, aritmia jantung (terutama fibrilasi atrium), dan gagal jantung akut dan kongestif (CHF), sehingga penyakit jantung hipertensi adalah istilah yang diterapkan secara umum untuk penyakit jantung seperti LVH, penyakit arteri koroner, aritmia jantung, gagal jantung akut dan CHF, yang disebabkan oleh efek langsung atau tidak langsung dari hipertensi (Khaliullah, 2011).

Manifestasi khas yang dapat dilihat dari adanya gagal jantung akut adalah dengan auskultasi bunyi jantung. Adanya sistolik murmur dan diastolik murmur, demikian juga irama gallop sangat sering ditemukan pada fase akut. Selain pada jantung hipertensi juga akan berdampak pada paru-paru. Pemeriksaan fisik pada paru dapat digunkan untuk melihat apakah adanya kongesti paru dan suara rales. Kongesti paru juga merupakan salah satu tanda pada keadaan gagal jantung akut. Kongesti paru dideteksi dengan auskultasi dada dimana akan ditemukan ronki basah pada kedua basal paru dan konstriksi bronkial pada seluruh lapang paru sebagai tanda adanya peninggian dari tekanan pengisian ventrikel kiri (Sudoyo, 2014).

Dari hasil pemeriksaan fisik jantung dan paru pasien dalam batas normal. Pada auskultasi jantung tidak didapatkan adanya suara jangtung patologis, dan tidak ada kardiomegali. Pada pemeriksaan paru didapatkan simetris, tidak ada ketinggalan gerak maupun retraksi, perkusi sonor dan suara vasikuler tanpa ada tambahan suara paru patologis pada kedua basal paru, hal ini dapat disimpulkan tidak ada kongesti paru pada pasien.

(10)

Pemeriksaan ekstremitas dapat dilakukan dengan melakukan palpasi denyut a. Femoralis, bila ada penurunan dan atau terlambat dibandingkan a. Radialis maka tekanan darah pada kaki harus dilakukan pengkuran. Hal ini mengindikasikan adanya hambatan pada aliran darah yang menuju kaki, pada pasien hipertensi dapat terjadi aterosklerosis dan mengakibatkan penyumbatan. Walaupun denyut a. Femoralis normal, bila didapatkan hipertensi pada usia < 30 tahun, tekanan arteri ekstremitas bawah harus diukur. Selain menilai a. Femoralis, pemeriksaan ekstremitas dilakukan untuk menilai apakah terdapat edema ektremitas khususnya ekstremitas bawah. Apabila terdapat edema, maka dapat dicurigai adanya cerebrovascular accident (CVA) atau adanya gagal jantung kongestif akibat hipertensi yang tidak terkontrol (Tjokroprawiro A, et al. 2015). Pasien dilakukan pemeriksaan ekstremitas dan didapatkan tidak ada edema, sehingga kecurigaan adanya CVA dan CHF dapat disingkirkan, dan untuk perabaan a. Femoralis tidak ada penurunan.

Pemeriksaan penunjang pada kasus ini tidak dilakukan, karena tidak adanya indikasi untuk melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk membuktikan adanya faktor resiko tambahan, mencari kemungkinan hipertensi sekunder, dan ada/tidaknya kerusakan organ target. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada kasus hipertensi antara lain, tes darah rutin , uji profil lipid, analisis urin (pemeriksaan mikroskopis, protein urin, uji mikroalbumin), pemeriksaan kreatinin darah dan EKG (Tjokroprawiro A, et al. 2015).

D. Analisis diagnosis

(11)

Mendiagnosis hipertensi tetap didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan. Pada pasien ini berdasarkan penyebabnya digolongkan dalam hipertensi esensial, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Keluhan yang dapat dirasakan pada pasien dengan hipertensi adalah sakit atau nyeri kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing, leher kaku, penglihatan kabur, dan rasa sakit didada. Keluhan tidak spesifik dapat timbul seperti rasa tidak nyaman dikepala, mudah lelah, dan impotensi. Pada anamnesis juga ditanyakan tentang faktor resiko yang mungkin mendukung keadaan pasien. Beberapa faktor resiko hipertensi adalah riwayat keluarga hipertensi, pola makan, riwayat merokok, obesitas, riwayat diabetes melitus, stress psikologis dan aktivitas fisik yang kurang (Abidin, 2014). Pada pasien didapatkan bahwa di keluarganya terdapat riwayat hipertensi, dan pasien mengaku memiliki riwayat merokok, meskipun melakukan aktivitas fisik seperti bekerja di sawah tapi tidak teratur dalam berolahraga, sehingga pasien memiliki resiko tinggi terjadi hipertensi.

(12)
(13)

E. Analisis terapi

Terapi farmakologis dan non farmaklogis yang diberikan kepada pasien antara lain:

a) Untuk menangani Hipertensi

 Terapi Non Farmakologis dengan memberi edukasi

 Mengurangi konsumsi garam dan penggunaan monosodium glutamate (MSG) dalam masakan

 Mngurangi kebiasaan mengkonsumsi gorengan

 Olahraga secara teratur

 Rajin mengkonsumsi obat yang diberikan

 Kontrol apabila obat habis

 Terapi Farmakologis dengan pemberian:

 Amlodipin 1 x 10 mg

b) Untuk mengurangi keluhan nyeri otot pada paha

 Terapi Non Farmakologis dengan memberi edukasi

 Mengurangi aktivitas berat

 Dianjurkan untuk melakukan stretching guna meregangkan otot-otot di pagi hari

 Terapi Farmakologis dengan pemberian:

 Natrium diklofenac 2 x 50 mg (apabila nyeri masih dirasakan)

 Vit B Kompleks 2 x 1 Pembahasan:

(14)

awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 - 6 bulan. Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :

a) Penurunan berat badan. Penurunan berat badan menurut guideline JNC 8 dalam Muhadi (2016) dapatmengurangi tekanan darah sistolik 5-20 mmHg/penurunan 10 kgBB. Rekomendasi ukuran pinggang <94 cm untuk pria dan <80 cm untuk wanita, indeks massa tubuh <25 kg/m2.

Rekomendasi penurunan berat badan meliputi nasihat mengurangi asupan kalori dan juga meningkatkan aktivitas fsik.

b) Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia. Dengan mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dapat menurunkan tekanan darah sistolik 8-14 mmHg. Lebih banyak makan buah, sayur-sayuran, dan produk susu rendah lemak dengan kandungan lemak jenuh dan total lebih sedikit, kaya potassium dan

calcium.

c) Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. JNC 7 merekomendasikan pembatasan asupan garam menjadi kurang atau sama dengan 100 meq/K/hari (2.4 g natrium atau 6 g natrium klorida). Restriksi garam harian dapat menurunkan tekanan darah sistolik 2-8 mmHg.

(15)

e) Mengurangi konsumsi alkohol. Walaupun konsumsi alkohol belum menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi alkohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Menurut JNC, konsumsi alkohol perlu diturunkan setidaknya tidak lebih dari 2 kali minum/hari.

f) Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.

g) Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.

Untuk terapi farmakologis hipertensi menurut Mohani dalam Setiati (2015), terdapat beberapa jenis obat antihipertensi yang masing-masing memiliki efektivitas dan keamanannya dalam pengobatan, antara lain:

1. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist

(Aldo Ant)

2. Beta Blocker (BB)

3. Calcium Channel Blocker atau Calcium antagonist (CCB)

4. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)

5. Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker

(ARB)

6. Direct Renin Inhibitor (DRI)

(16)

Captopril

(17)

Menurut National Institute For Health and Care Excellence (NICE) 2013, untuk pasien berusia <55 tahun lebih disarankan untuk memulai terapi dengan penghambat angotensin converting enzyme (ACE) atauangotensine receptor blocker (ARB), sementara untuk pasien hipertensi berusia >55 tahun disarankan dengan calcium-channel blocker. Berikut tahapan pengobatan antihipertensi:

Gambar 3. Pengobatan Hipertensi dengan Antihipertensi (NICE, 2013)

Sedangkan algoritma penatalaksanaan hipertensi menurut JNC-8 sebagai berikut:

Pasien memulai hipertensi

Usia < 55 tahun

Langkah 1

Penghambat ACE atau ARB

Monitoring dan evaluasi

Usia >55 tahun

Langkah 2

Penghambat ACE/ARB + CCB

Langkah 1 CCB

Langkah 3

Penghambat ACE/ARB + CCB +

Langkah 4

(18)
(19)

Untuk efek samping pengobatan antihipertensi dapat dihindari dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun kombinasi. Hampir sebagian besar penderita memerlukan kombinasi antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, tetapi pengobatan kombinasi dapat meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang harus diminum bertambah. Namun, telah beredar single pill combination yang merupakan kombinasi 2-3 macam obat anti hipertensi, dan berguna untuk meningkatkan efisiensii, kepatuhan berobat dan dapat menekan biaya pengeluaran untuk pembelian obat (Mohani dalam Setiati, 2015).

Pada awal periksa ke Puskesmas, pasien yang berusia 53 tahun hanya diberi Amlodipin, setelah beberapa waktu kembali untuk kontrol, kemudian diberi obat ganda atau kombinasi yakni Hidroklorotiazid dan Amlodipin. Amlodipin merupakan obat antihipertensi jenis calcium-channel blocker yang memiliki efek samping edem perifer, konstipasi, bradikardia, dan blok jantung (Tanto, et al., 2014).

Hidroklorotiazid yang termasuk dalam kelompok thiazide-type diuretic, menurut Tortora bekerja di tubulus distal pada ginjal, dimana mereka memicu hilangnya Na+ dan Cl- di urin dengan menghibisi Na+-Cl-simporter. Menurut

pembahasan bersama dokter, dengan pemberian obat diuretik maka perlu kontrol kadar kalium dengan mengimbangi intake kalium ke dalam tubuh, salah satunya dengan mengkonsumsi pisang sering sering. Menurut Tamargo, et al. (2014) pernyataan tersebut dibenarkan, Hidrokorotiazid (HCTZ) dapat menyebabkan penurunan kadar potassium dalam plasma (0,26 mEq/l), serta peningkatan kadar urin. Berdasar penyataan dari pasien, beliau menyatakan bahwa beberapa waktu awal mengkonsumi obat-obatan tersebut, beliau merasakan produksi kencing yang berlebih, atau frekuensi berkemihnya bertambah, namun lambat laun keluhan tersebut berkurang, sebagai proses adaptasi tubuh terhadap obat yang dikonsumsi tersebut.

(20)

Sedangkan, untuk pereda keluhan nyeri yang dialami pasien pada paha, diberikan Metilprednisolon yang merupakan steroid dan Natrium diclofenac yang merupakan obat anti-inflamasi non-steroid, yang sama-sama merupakan penekan terjadi inflamasi. Beberapa literature menyebutkan bahwa sebaiknya kedua jenis obat tersebut tidak dikonsumsi secara bersamaan karena dapat meningkatkan resiko terjadi efek samping, terutama efek samping pada saluran cerna (Dowling, 2011).

F. Analisis Prognosis

Prognosis untuk pasien dengan hipertensi derajat berapapun apabila dalam keadaan terkontrol yakni dubia at bonam (Kemungkinan Baik).

Namun, menurut Mohani dalam Setiati (2015), hipertensi merupakan faktor resiko untuk terjadinya segala bentuk manifestasi klinis dari aterosklerosis. Hipertensi dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya kejadian kardiiovaskular dan kerusakan organ target, baik secara langsung maupun tidak. Tingkat mortalitas meningkat dua kali pada setiap kenaikan tekanan darah sebesar 20/10 mmHg. Pada keadaan dengan tekanan darah high-normal (130-139/80-89 mmHg), didapatkan peningkatan kejadian kardiovaskular 2.5 pada wanita dan 1.6 kali pada pria bila dibanding dengan tekanan darah normal. Sedangkan risiko untuk penyakit ginjal, meningkatnya tekanan darah sistolik lebih erat kaiitannya dengan insidens penyakit ginjal tahap akhir biila dibanding dengan tekanan darah diastolik, terutama pada pasien yang berusia lebiih dari 50 tahun. Tekeanan darah yang meningkat dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan parenkim ginjal.

(21)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg dan peningkatan tekanan darah diastoik 90 mmHg pada lebih dari satu kali pengukuran dalam keaadaan istirahat. Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi yang tidak dapat dimodifikasi seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, dan umur. Faktor yang dapat dimodifikasi seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh.

Diagnosis hipertensi dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Pada anamnesis data yang harus digali adalah keluhan utama pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga pasien. Data anamnesis harus digali secara lengkap agar dapat menentukan faktor risiko apa yang dimiliki pasien dalam perkembangan penyakitnya. Pada pemeriksaan fisik dilakukan penilaian tentang keaadaan umum dan kesadaran pasien, selanjutnya lakukan pemeriksaan antropometri pasien untuk menilai status gizi pasien. Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah vital sign yang berupa tekanan darah, suhu, nadi, dan respirasi.

Penatalaksanaan hipertensi dilakukan dengan modifikasi pola hidup hidup sehat dan menggunakan obat-obatan. Pola hidup sehat dilakukan dengan cara menurunkan berat badan pasien jika berat badan pasien berlebih, melakukan aktivitas fisik yang teratur, melakukan diet rendah garam dan lemak, memperbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan, dan berhenti merokok atau berhenti konsusmsi alkohol. Beberaa obat-obatan yang dapat diberikan pada pasien hipertensi adalah obat golongan beta bloker, ACE inhibitor, dan antagonis resepor angiotensin II.

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., 2014. Panduan Praktik Klinis. Ikatan Dokter Indonesia, pp.406–408.

Dowling, P. (2011) Corticosteroid &NonsteroidalAntiinflammatory Drug Interactions. NAVC Clinican’s Brief.

James, P.A., Oparil, S., Carter, B.L., Cusmah, W.L., Dennison-Himmelfarb, C., Handler, J., Lackland, D., LeFevre, M.L., MacKenzie, T.D., Ogedegbe, O., Smith, S.C., Svetkey, L.P., Taler, S.J., Townsend, R.R., Wright, J.T., Narva, A.S., Ortiz, E. (2014) 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults: Report From the Panel Members Appointed to the Eight Joint National Committee (JNC 8).

JAMA311(5): 507-520.

Khaliullah, S.A., 2011. MEKANISME GAGAL JANTUNG PADA HIPERTENSI KRONIS Said Alfin Khalilullah Co ass klinikal pada RSUD dr . Zainoel Abidin , Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh , 2011.

Kotchen, T. a., 2010. Obesity-Related Hypertension: Epidemiology, Pathophysiology, and Clinical Management. American Journal of Hypertension, 23(11), pp.1170–1178. Available at: https://academic.oup.com/ajh/article-lookup/doi/10.1038/ajh.2010.172.

Mohani, C.I. (2015). Hipertensi Primer dalamBuku Ajar IlmuPenyakitDalamEdisi IV. Jakarta: InternaPublishing.

Muhadi (2016). JNC 8: Evidence-based Guideline PenangananPasienHipertensiDewasa. CDK-236 43(1):54-59.

Newcastle Guideline Development and Research Unit (2013). Hypertension: clinical management of primary hypertension in adults. London: National Institute for Health and Clinical Excellence.

Nuraini, B., 2015. Risk factors of hypertension. J Majority, 4(5), pp.10–19.

(23)

Tanto, C.,et al (2014). KapitaSelektaKedokteranEdisiKeempat. Jakarta: FKUI.

Tortora, G.J., Derrickson, B. (2009) Principles of Anatomy and Physiology Ed 12th. New Jersey: John Wiley & Sons Inc.

Tjokroprawiro, A., et al. 2015. Buku Ajar IlmuPenyakitDalam :FakultasKedokteranUniversitasAirlanggaRumahSakitPendidikan dr. Soetomo Surabaya Ed. 2. Airlangga University Press. Surabaya

Gambar

Gambar 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII (Tjokroprawiro A., et al. 2015).
Gambar 3. Pengobatan Hipertensi dengan Antihipertensi (NICE, 2013)
Gambar 4.Algoritma Tatalaksana Hipertensi (JNC 8, 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan pengembangan Situs Wotanngare telah dilakukan penelitian awal dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta pada bulan Juni 2012 diperoleh informasi bahwa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Untuk mengetahui pengaruh kemampuan kognitif mahasiswa dalam memahami materi dan soal-soal terhadap Prestasi Belajar Hukum

Java bukan turunan langsung dari bahasa pemrograman manapun, juga sama sekali tidak kompetibel dengan semuanya.. Java memiliki keseimbangan menyediakan mekanisme

Pemeriksaan variasi periode kawin pertama postpartus dikumpulkan dari data reproduksi sapi FH dara dan induk di kedua lokasi yang dikumpulkan oleh stasiun bibit BPTU

Dari beberapa eksperimen yang telah dilakukan pada penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan menaikan tekanan penginjeksian sebesar 10 bar akan memberikan dampak yang lebih baik

Pengambilan data secara diskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan multimedia dapat meningkatkan