• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

V-1

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. PROSES PENANGANAN BARANG BERBAHAYA DI SETIAP PELABUHAN

1. Proses penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di setiap Pelabuhan dinilai belum mengindahkan Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup terkait.

Pengelolaan dan pemanfaatan limbah B-3 di Pelabuhan Tanjung Priok, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan UU Nomor 32 Tahun 2009, dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Karena itu, Pelindo II juga didukung dengan berbagai alat/perangkat operasional, antara lain berupa reception

facilities (RF) untuk menghindari pencemaran di laut. Namun

sayangnya, kini RF dan perangkat lainnya lebih banyak menganggur atau tidak digunakan. "Sebagian besar limbah B3, entah dari kapal domestik maupun luar negeri, dikelola dan dimanfatkan oleh perusahaan yang sesungguhnya tidak mempunyai izin. Selama ini penanganan limbah B-3 dari sekitar 50 sampai 60 kapal yang ada di pelabuhan, tidak atas seizin instansi yang berwenang. Pelindo II dibuat tidak berdaya dan hanya menjadi penonton atas penyerobotan lahan usahanya itu, selaku pengelola limbah B-3 dari kapal di pelabuhan yang ditunjuk pemerintah, Pelindo II berupaya keras untuk melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya dengan baik. Di samping menyediakan fasilitas penampung, proses bongkar juga didukung tiga unit tongkang dan dua tugboat serta infrastruktur izin dan administrasi. Limbah B-3 yang dikelola Pelindo II sudah sesuai dengan rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup.

2. Proses penanganan barang berbahaya kelas 1 sampai dengan kelas 9 tidak sepenuhnya menurut aturan ketentuan IMDG Code terkini. Petugas semua lini sejak kedatangan barang berbahaya dari area parkir, penumpukan sementara sampai pengangkutan ke kepal

(2)

V-2

dilakukan tidak menggunakan formulir data pengecekan (check lis)t secara urut dari pengecekan Multimoda Shiper’s Declaration, kemasan, label & marking, dokumen kiriman barang berbahaya di bidang pelayaran

B. KINERJA INDIKATOR KESELAMATAN TRANSPORTASI 1. Pencapaian kinerja penanganan bahan berbahaya dan beracun

(B3)

Pencapaian kinerja penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) masih ada permasalahan yang dihadapi oleh sub sektor perhubungan laut dalam penanganan barang-barang berbahaya. Beberapa masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan transportasi laut adalah sebagai berikut:

a. Aspek Kebijakan

Peraturan perundangan terkait pengangkutan dengan barang berbahaya baik nasional maupun Internasional semua pelababuhan lokasi survai masih belum sesuai dengan aturan bahkan aturannya masih terdapat kerancuan antara penyebutan/ nomeklatur Barang beracun, bahan berbahaya beracun, limbah dan barang berbahaya menurut UU Nomor 32 Tahun 2009 Kementrian Lingkungan Hidup RI dengan IMDG Code International Maritim Organization. Aturan yang dipakai untuk acuan dalam

pelaksanaan peningkatan penanganan barang berbahaya di bidang pelayaran adalah sebagai berikut:

1) UU Nomor 32 Tahun 2009 Kementrian Lingkungan Hidup RI Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Republik Indonesia.

2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan.

3) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 02 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 17 Tahun 2000 Tentang Pedoman Penanganan Bahan/ Barang Berbahaya Dalam Kegiatan Pelayaran

(3)

V-3

5) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

6) PP No.20 Tahun 2010, Tentang Angkutan di Perairan

7) Peraturan Bandar 1925, Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 13 Ayat 1

8) International Maritime Dangerous Goods-Code (IMDG-Code)

b. Aspek Penanganan

Jenis barang berbahaya yang ditangani dan diangkut di bidang pelayaran khusus barang dasar kimia dan bahan bakar minyak untuk industri. terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 9 adalah barang berbahaya yang tidak dapat diangkut dengan angkutan udara karena terbatas kapasitas ruang kargo maupun ketentuan tidak dapat diperkenankan diangkut karena tingkat bahaya

(packing group) oleh pesawat udara berdasarkan ketentuan

ICAO/IATA DGR. Oleh karena itu penanganan barang berbahaya melalui angkutan laut sangat penting dan perlu diatur dengan cermat dan sesuai dengan aturan internasional.

Kondisi eksisting penanganan barang berbahaya melalui laut pada umumnya dijalankan secara rutinitas dengan ketentuan yang berlaku. Para petugas kesyahbandaran dan operator pelabuhan tidak memberlakukan secara ketat selama sea freight forwarder/ perusahaan pelayaran dari awal melaksanakan tertib administrasi dan melakukan pengepakan/ pengemasan sesuai dengan ketentuan IMDG-code dan disiapkan dari pabrikan. Tidak diberlakukan penempatan sementara barang berabahaya, langsung dilakukan

loading dari truck ke kapal dan sebaliknya unloading dari kapal

langsung ke truck.

1) Kendala yang dihadapi dalam pengangkutan barang berbahaya

2) Sebagian pelabuhan lokasi survei tidak mengkhususkan lokasi penempatan barang berbahaya sebelum dimuat kedalam kapal

3) Pendidikan dan Pelatihan yang tidak terjadwal dengan baik

4) Masih banyaknya petugas Kesyahbandaran, Operator Pelabuhan dan Perusahaan Pelayaran yang belum mendapat pendidikan dan pelatihan barang berbahaya

5) Keterbatasan lahan khusus penempatan barang berbahaya dan tidak disediakan khusus ruang/ lahan untuk barang berbahaya.

(4)

V-4

Kelemahan penanganan barang berbahaya melalui laut dilihat dari kondisi eksisting:

1) Tidak dipersiapkan petugas khusus penerimaan barang berbahaya (DG Specialist) yang dianjurkan dalam ketentuan IMDG-Code

2) Kurang tanggap petugas kesyahbandaran atas laporan perusahaan pelayaran adanya barang berbahaya yang perlu diadakan pemeriksaan.

3) Masih ada petugas yang menangani barang berbahaya yang tidak berkompeten dan berlisensi atas pengetahuan dasar penanganan barang berbahaya IMDG Code yaitu:

a) dangerous goods transport provisions

b) description of the classes of dangerous goods c) labelling, .marking, placarding

d) packing, stowage, segregation and compatibility provisions e) description of the purpose and content of the dangerous

goods transport documents (such as the Multimodal Dangerous Goods Form and the Container/Vehicle Packing Certificate)

f) description of available emergency response g) documentations,

4) Kurangnya pengawasan dalam proses pemuatan barang berbahaya dari lokasi penimbunan sementara sampai ke proses loading di kapal.

5) Sanksi yang lemah terhadap kepada pemilik barang berbahaya yang kurang lengkap identifikasi, dokumentasi, kemasan dan pelanggaran ketentuan yang berlaku lainnya.

6) Masih kurangnya sosialisasi ketentuan penanganan barang berbahaya

7) Masih ada petugas penanganan barang berbahaya yang tidak memakai peralatan Safety Coat, Safety Glasses, Ear Muff,

(5)

V-5

Gambar V-1, Safety Coat, Ear Muff, Safety Glasses, Sarung

Tangan,

Safety Shoes, Helmet, Masker, c. Aspek Segregation

Penempatan container berisi barang berbahaya dengan memberlakukan aturan segregation di dalam kapal. Dalam pelaksanaan penempatan pada tempat penumpukan sementara dan loading/ unloading di kapal di awasi oleh petugas KPLP (Coast

Guard) tetapi masih ada pelaksanaan yang tidak mengacu pada

ketentuan pemisahan (segregation) aturan IMDG Code khusus untuk pengangkutan kendaraan bermotor (mobil, motor, bus) dan

(6)

V-6

truk tangki bahan bakar. Selain pemisahaan ruang untuk kendaraan, pemilik tidak diperkenankan berada dalam kendaraaan dan menghidupkan mesin.

Untuk persyaratan jenis kapal yang dapat digunakan untuk angkutan barang berbahaya tidak ada ketentuan khusus, selama kapal kargo yang mempunyai ruangan cukup untuk barang curah maupun kapal container dapat digunakan untuk pengangkutan barang berbahaya. Setiap kapal barang dalam penempatan di ruang kargo dengan ketentuan segregation / penyekatan.

d. Aspek Pengangkutan

Konsep pengangkutan barang berbahaya di bidang pelayaran dilakukan oleh setiap pelabuhan di lokasi survei mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku baik peraturan pemerintah Republik Indonesia maupun International Maritime Organization masih belum memadai, terutama berkaitan:

1) Mensosialisasikan peraturan

2) Menerbitkan surat edaran ketentuan penanganan pengiriman barang berbahaya

3) Menyiapkan sarana pelatihan penanganan barang berbahaya untuk petugas Kesyahbandaran, Operator Pelabuhan, Perusahaan Pelayaran

4) Menetapkan standar operating prosedur dan mengingatkan kepada petugas pentingnya keselamatan (safety) kerja penanganan barang berbahaya.

2. Kinerja Indikator Keselamatan Transportasi

Seringnya kecelakaan laut yang terjadi di Tanah Air, terutama dalam kurun waktu 2007-2012, memunculkan pertanyaan bagaimana kinerja indikator keselamatan transportasi yang diharapkan selama ini. Beberapa indikator dimaksud, dan terkait dengan penanganan barang berbahaya beracun, sebagai berikut :

a. Kinerja Marine Inspector/ Surveyor

Seringnya kecelakaan laut yang terjadi di Tanah Air, terutama dalam kurun waktu 2007-2012, memunculkan tanda tanya besar mengenai kinerja Marine Inspector kita. Apakah mereka sudah betul-betul menjalankan kewajibannya, misalnya sound system yang tidak bekerja baik untuk memberitahukan adanya keadaan darurat di atas kapal (emergency alarm system), davit yang tidak bisa terkembang saat menyentuh permukaan laut, sprinkler yang tidak bisa menyemprotkan air saat kebakaran. Walaupun alarm,

(7)

V-7

davit dan sprinkler yang tidak bisa bekerja tersebut kenyataannya

dalam sertifikat dinyatakan tetap layak. Marine Inspector bekerja sejak sebuah kapal mulai dibangun di galangan sampai kapal tersebut di besituakan (scrap). Mereka memeriksa apakah konstruksi lambung, perlistrikan dan permesinan kapal, dan lainnya telah memenuhi standar keselamatan yang tercantum di dalam Safety of Life at Sea (SOLAS).

Dalam prakteknya, setiap negara bisa saja mendelegasikan pekerjaan yang dilakukan oleh Marine Inspector tadi kepada pihak lain, biasanya kepada klasifikasi negara bersangkutan, namun di Indonesia belum dapat diserahkan semuanya kepada BKI/ PT. Hanya negara-negara flag of convenience (FoC) saja yang mendelegasikan pemeriksaan aspek keselamatan kapal yang mengibarkan bendera mereka kepada klasifikasi asing karena mereka memang tidak memilikinya.

Di Indonesia, Kementrian Perhubungan selaku pihak yang memegang kewenangan penerapan SOLAS – dalam istilah IMO disebut Administration telah melimpahkan pemeriksaan konstruksi lambung, perlistrikan dan permesinan kapal kepada Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Sementara, aspek lainnya, umpama; instalasi radio, kelaikan alat- alat keselamatan di atas kapal, dll masih dilaksanakan langsung oleh Direktorat Perhubungan Laut melalui Marine Inspector-nya. Kondisi seperti itulah yang sering diistilahkan oleh pemilik kapal domestik dengan multiple classification. Pada awalnya diklasifikasi oleh BKI kemudian diklasifikasi oleh Kemenhub. Di negara lain lazimnya pihak klasifikasi melakukan hampir seluruh pekerjaan yang terkait dengan aspek keselamatan kapal karena pemerintahnya telah melimpahkannya kepada mereka. Mencermati keterangan para korban selamat dari berbagai kecelakaan kapal yang terjadi di Indonesia dan temuan pihak berwenang yang tewas jatuh karena alat-alat keselamatan yang ada di atas kapal tidak cukup atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam kasus kebakaran KM Levina, terungkap bahwa sprinkler untuk menyemprot api tidak bekerja. Sementara, dalam musibah KM Teratai Prima, seperti diungkapkan oleh para korban selamat, tidak ada pemberitahuan apapun dari awak kapal akan adanya

(8)

V-8

keadaan darurat. Ironisnya, jika dilihat dari aspek sertifikat untuk alat-alat keselamatan, kapal-kapal itu bersurat lengkap. Bahkan, dalam kasus KM Teratai Prima kapal ini baru selesai menjalani

docking.

Pertanyaannya kini adalah apakah sertifikat itu dikeluarkan oleh Kemenhub setelah melalui pemeriksaan yang menyeluruh oleh

Marine Inspector-nya? Bukan hendak menyalahkan, tapi jika

melihat apa yang telah terjadi, nampaknya alat-alat keselamatan kapal itu telah diperiksa dengan tidak teliti. Mungkin saja Marine

Inspector Kemenhub telah membubuhkan catatan terhadap

kelaikan alat keselamatan kapal dalam sertifikat yang dikeluarkannya sehingga pemilik kapal harus melakukan perbaikan bila masa berlaku sertifikat perlu diperbaharui. Dan jika dalam keadaan darurat alat-alat itu tidak berfungsi dengan baik bolehlah kesalahan dikenakan kepada mereka. Tapi kalau Marine

Inspector tidak melakukan tugasnya dengan baik, mereka harus

juga bisa dimintai tanggungjawabnya.

Penyebab kecelakaan angkutan laut yang diakibatkan cuaca badai atau gelombang pasang relatif mudah ditanggulangi, karena adanya sistem komunikasi dan laporan BMKG yang semakin cepat dan akurat. Dilain pihak data statistik IMO menunjukkan bahwa 80% dari semua kecelakaan kapal di laut disebabkan oleh kesalahan manusia akibat buruknya sistem manajemen perusahaan pemilik kapal. Oleh karena ada penekanan khusus bahwa perusahaan pelayaran harus bertanggungjawab atas keselamatan kapal selain nakhoda, perwira serta ABK dari kapal itu.

b. Kinerja Kesyahbandaran, Pengelola Terminal (PT. Pelindo), Sea Freight Forwader, Nakhoda/ Mualim

Pencapaian kinerja masih ada permasalahan yang dihadapi oleh sub sektor perhubungan laut dalam penanganan barang-barang berbahaya. Beberapa masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan transportasi laut adalah sebagai berikut:

1) Peraturan perundangan terkait pengangkutan dengan barang berbahaya baik nasional maupun Internasional semua pelababuhan lokasi survei masih belum sesuai dengan aturan bahkan aturannya masih terdapat kerancuan antara penyebutan/ nomeklatur Barang beracun, bahan berbahaya beracun, limbah

(9)

V-9

dan barang berbahaya menurut UU Nomor 32 Tahun 2009 Kementrian Lingkungan Hidup RI dengan IMDG Code

International Maritim Organization.

Aturan yang dipakai untuk acuan dalam pelaksanaan peningkatan penanganan barang berbahaya di bidang pelayaran adalah sebagai berikut:

• UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran

• UU Nomor 32 Tahun 2009 Kementrian Lingkungan Hidup RI

• PP No.20 Tahun 2010, Tentang Angkutan di Perairan • Peraturan Bandar 1925, Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 13 Ayat 1 • International Maritime Dangerous Goods-Code

(IMDG-Code)

2) Penanganan barang berbahaya melalui angkutan laut belum cermat sesuai dengan aturan internasional khusus barang dasar kimia dan bahan bakar minyak untuk industry dimana bahan kimia tersebut terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 9 adalah barang berbahaya yang tidak dapat diangkut dengan angkutan udara karena terbatas kapasitas ruang kargo maupun ketentuan tidak dapat diperkenankan diangkut karena tingkat bahaya

(packing group) oleh pesawat udara berdasarkan ketentuan IATA Dangerous Goods Regulation. Oleh karena itu

penanganan barang berbahaya melalui angkutan laut sangat penting dan perlu diatur dengan cermat dan sesuai dengan aturan internasional (IMDG Code). Jenis barang berbahaya yang ditangani dan diangkut dengan angkutan kapal laut, sebagai berikut:

1) Bahan Bakar Minyak (solar, bensin)

2) Gas Mudah terbakar

3) Limbah B3, padat dan cair

4) Crude Oil dan BBM

5) Generator Pembangkit Listrik

6) Bahan Kimia Oxidizer, untuk bahan Peledak (dinamit/ TNT)

7) Peralatan Pemboran Ladang Minyak (Radio Active

Material)

(10)

V-10

3) Penempatan barang berbahaya di kapal sudah sesuai dengan ketentuan IMDG-Code penempatan di dalam container yang telah disiapkan khusus pengangkutan barang berbahaya dengan tidak dicampur dengan barang kiriman general cargo. Aturan yang diberlakukan dalam penempatan container berisi barang berbahaya dengan memberlakukan segregation di dalam kapal. Dalam pelaksanaan penempatan pada tempat penumpukan sementara dan loading/ unloading di kapal di awasi oleh petugas KPLP (Coast Guard) tetapi masih ada pelaksanaan yang tidak mengacu pada ketentuan pemisahan (segregation) khusus untuk pengangkutan kendaraan bermotor (mobil, motor, bus) dan truk tangki bahan bakar. Selain pemisahaan ruang untuk kendaraan, pemilik tidak diperkenankan berada dalam kendaraaan dan menghidupkan mesin.

4) Persyaratan jenis kapal yang dapat digunakan untuk angkutan barang berbahaya tidak ada ketentuan khusus, selama kapal kargo yang mempunyai ruangan cukup untuk barang curah maupun kapal container dapat digunakan untuk pengangkutan barang berbahaya. Setiap kapal barang dalam penempatan di ruang kargo dengan ketentuan segregation / penyekatan. Kecuali untuk bahan berbahaya cair mudah terbakar (bahan bakar minyak) dan Liquid Nitogren Gas (LNG) memerlukan jenis kapal khusus.

5) Konsep pengangkutan barang berbahaya di pelayaran dilakukan oleh setiap pelabuhan di lokasi survei mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku baik peraturan pemerintah Republik Indonesia maupun International Maritime Organization masih belum memadai, terutama

berkaitan:

a) Mensosialisasikan peraturan

b) Menerbitkan surat edaran ketentuan penanganan pengiriman barang berbahaya

c) Menyiapkan sarana pelatihan penanganan barang berbahaya untuk petugas Kesyahbandaran, Operator Pelabuhan, Perusahaan Pelayaran

d) Menetapkan standar operating prosedur dan mengingatkan kepada petugas pentingnya keselamatan (safety) kerja penanganan barang berbahaya

(11)

V-11

6) Kondisi eksisting penanganan barang berbahaya melalui laut pada umumnya dijalankan secara rutinitas dengan ketentuan yang berlaku. Para petugas kesyahbandaran dan operator pelabuhan tidak memberlakukan secara ketat selama sea

freight forwarder/ perusahaan pelayaran dari awal

melaksanakan tertib administrasi dan melakukan pengepakan/ pengemasan sesuai dengan ketentuan IMDG-code dan disiapkan dari pabrikan. Tidak diberlakukan penempatan sementara barang berabahaya, langsung dilakukan loading dari

truck ke kapal dan sebaliknya unloading dari kapal langsung ke truck.

7) Kendala yang dihadapi dalam pengangkutan barang berbahaya

a) Sebagian pelabuhan lokasi survei tidak mengkhususkan lokasi penempatan barang berbahaya sebelum dimuat kedalam kapal

b) Pendidikan dan Pelatihan yang tidak terjadwal dengan baik

c) Masih banyaknya petugas Kesyahbandaran, Operator Pelabuhan dan Perusahaan Pelayaran yang belum mendapat pendidikan dan pelatihan barang berbahaya

d) Keterbatasan lahan khusus penempatan barang berbahaya dan tidak disediakan khusus ruang/ lahan untuk barang berbahaya

8) Kelemahan penanganan barang berbahaya melalui laut dilihat dari kondisi eksisting

a) Tidak dipersiapkan petugas khusus penerimaan barang berbahaya (DG Specialist) yang dianjurkan dalam ketentuan IMDG-Code

b) Kurang tanggap petugas kesyahbandaran atas laporan perusahaan pelayaran adanya barang berbahaya yang perlu diadakan pemeriksaan.

c) Masih ada petugas yang menangani barang berbahaya yang tidak berkompeten dan berlisensi atas pengetahuan dasar penanganan barang berbahaya IMDG Code yaitu:

1) dangerous goods transport provisions

2) description of the classes of dangerous goods 3) labelling, .marking, placarding

4) packing, stowage, segregation and compatibility

(12)

V-12

5) description of the purpose and content of the dangerous goods transport documents (such as the Multimodal Dangerous Goods Form and the Container/Vehicle Packing Certificate)

6) description of available emergency response 7) documentations,

d) Kurangnya pengawasan dalam proses pemuatan barang berbahaya dari lokasi penimbunan sementara sampai ke proses loading di kapal.

e) Sanksi yang lemah terhadap kepada pemilik barang berbahaya yang kurang lengkap identifikasi, dokumentasi, kemasan dan pelanggaran ketentuan yang berlaku lainnya

f) Masih kurangnya sosialisasi ketentuan penanganan barang berbahaya

Penjelasan pencapaian kinerja penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) yang masih ada permasalahan, sebagaimana dijelaskan di atas diperkuat oleh preferensi petugas unit terkait termasuk para operator (sebagai nara sumber), yang dijadikan sampel masing-masing 2 (dua) orang, yaitu dari unit kerja Kesyahbandaran (KPLP), Perusahaan Pelayaran/Sea Freight Forwarder (EMKL), PT. Pelindo/Operator Terminal Pelabuhan, dan

Nakhoda/Mualim, sebagai berikut:

a. Preferensi Kesyahbandaran

Sembilan indikator yang menjadi bahan preferensi nara sumber, diukur dengan skala Guttman (1 = Ya; 0 = Tidak), dengan hasil analisis sebagaimana tertuang pada Tabel IV-10.

(13)

V -1 4 Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k 1 B E L A W A N , S U M A T E R A U T A R A A 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 B 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 2 T A N J U N G P R IO K . D K I J A K A R T A A 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 3 T A N J U N G M A S , S E M A R A N G A 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 B 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 4 T A N J U N G P E R A K , S U R A B A Y A A 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 5 P A N G K A L A N S E M A Y A N G , B A L IK P A P A N A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 B 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 6 S O E K A R N O -H A T T A , M A K A S S A R A 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 B 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 A 6 0 2 4 6 0 6 0 2 4 3 3 4 2 3 3 1 5 B 6 0 2 4 5 1 5 1 1 5 2 4 4 2 2 4 0 6 T o ta l A + B 1 2 0 4 8 1 1 1 1 1 1 3 9 5 7 8 4 5 7 1 1 1 % 1 0 0 % 0 % 3 3 % 6 7 % 9 2 % 8 % 9 2 % 8 % 2 5 % 7 5 % 4 2 % 5 8 % 6 7 % 3 3 % 4 2 % 5 8 % 8 % 9 2 % 5 5 ,6 % 4 4 ,4 % P R E F E R E N S I K E S Y A H B N D A R A N T O T A L S K O R Responden B E N A R M E L A K U K A N T ID A K M E L A K U K A N

Kesyahbandaran sudah memberikan informasi peraturan pengangkutan barang berbahaya kepada operator terminal dan freight forwarder

Fasilitas pelatihan penanganan barang-barang berbahaya untuk petugas operator terminal dan freight forwarder

Pelatihan penanganan barang-barang berbahaya dilaksanakan secara berkala

dengan jangka waktu ditentukan Pelatihan/ training atas penanganan

barang-barang berbahaya Sanksi terhadap pelanggar peraturan

dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya Peraturan dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya yang berlaku

selalu disampaikan secara berkala

R a ta -r a ta P re fe re n s i

Pelatihan penanganan barang-barang berbahaya diberikan juga kepada

petugas non operasional di kesyahbandaran

Apakah petugas operasional kesyahbandaran sudah mempunyai sertifikasi/ lisensi resmi IMO/ IMDG

Code

Petugas kesyahbandaran yang sudah berlisensi mempunyai buku panduan checklist penanganan barang-barang berbahaya sesuai dengan regulasi UU/

IMO/ IMDG Code

N o S u m b er : o la h an p e n el iti T ab el V -1 . H as il P re fe re n si K es y ah b an d ar an / K P L P

(14)

V-15

Bobot penilaian Skala Goodman (Skala 1 = YA; 0 = TIDAK),Persentase jawaban “Ya” adalah benar dan “Tidak” adalah salah, dengan demikian bila keseluruhan jawaban benar nilainya = 100, dan jawaban yang salah = 0. Dari hasil preferensi Kesyahbandaran tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), maka memetakan sebagai berikut : • Kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung

Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, secara umum sudah memberikan informasi peraturan pengangkutan barang berbahaya kepada operator terminal dan freight forwarder. • Peraturan dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya

yang berlaku selalu disampaikan secara berkala oleh kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Priok Tanjung Perak dan Balikpapan, sedangkan kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Emas dan Makassar belum menyampaikan secara berkala peraturan dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya yang berlaku.

• Sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya secara umum telah dilaksanakan pada kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

• Pelatihan/ training atas penanganan barang-barang berbahaya, secara umum telah dilakukan pada kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

• Pelatihan penanganan barang-barang berbahaya dilaksanakan secara berkala dengan jangka waktu ditentukan, hanya kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Emas dan Balikpapan saja yang melaksanakannya, sedangkan kesyahbandaran pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar tidak melaksanakannya.

• Pelatihan penanganan barang-barang berbahaya diberikan kepada petugas non operasional di kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Makassar, sedangkan petugas non operasional pada kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Emas, dan Balikpapan belum diberikan Pelatihan penanganan barang-barang berbahaya.

• Petugas operasional kesyahbandaran sudah mempunyai sertifikasi/ lisensi resmi IMO/ IMDG Code pada kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan

(15)

V-16

Makassar, sedangkan petugas operasional pada kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Emas, Balikpapan belum mempunyai sertifikasi/lisensi resmi IMO/ IMDG Code.

• Petugas kesyahbandaran yang sudah berlisensi mempunyai buku panduan checklist penanganan barang-barang berbahaya sesuai dengan regulasi UU/ IMO/ IMDG Code pada kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, sedangkan petugas kesyahbandaran pada pelabuhan Belawan dan Tanjung Emas belum mempunyai buku panduan checklist penanganan barang-barang berbahaya sesuai dengan regulasi UU/ IMO/ IMDG Code.

• Fasilitas pelatihan penanganan barang-barang berbahaya untuk petugas operator terminal dan freight forwarder telah difasilitasi oleh kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Balikpapan, sedangkan pada kesyahbandaran pelabuhan Tanjung Emas dan Makassar belum terfasilitasi.

Pemetaan preferensi Kesyahbandaran tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), sebagaimana dijelaskan di atas menggambarkan kesyahbandaran pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, hanya 55,6%, mematuhinya sedangkan 44,4% tidak mematuhinya.

b. Preferensi EMKL/ Sea Freight Forwarder

Delapan indikator yang menjadi bahan preferensi nara sumber, diukur dengan skala Guttman (1 = Ya; 0 = Tidak), dengan hasil analisis sebagaimana tertuang pada Tabel IV-11

(16)

V -1 7 Y a T id ak Y a T id ak Y a T id ak Y a T id a k Y a T id ak Y a T id ak Y a T id ak Y a T id ak 1 B E LA W A N , S U M A T E R A U T A R A A 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 2 T A N JU N G P R IO K . D K I J A K A R T A A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 3 T A N JU N G M A S , S E M A R A N G A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 4 T A N JU N G P E R A K , S U R A B A Y A A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 5 P A N G K A LA N S E M A Y A N G , B A LIK P A P A N A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 6 S O E K A R N O -H A T T A , M A K A S S A R A 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 A 5 1 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 6 0 B 5 1 6 0 6 0 2 4 6 0 6 0 6 0 6 0 T ota l A + B 10 2 12 0 12 0 8 4 12 0 12 0 1 2 0 12 0 % 83 % 17 % 10 0% 0% 10 0% 0% 67 % 33 % 10 0% 0% 10 0% 0% 1 00 % 0% 10 0% 0% 93 ,8 % 6,3 % B E N A R M E LA K U K A N T ID A K M E L A K U K A N P e n gu ru san do ku m en u n tu k ba ra ng -ba ran g b erb ah aya s ud ah b is a d ilak san a kan de ng an ce pa t d an ses u ai

de ng a n IM D G (In tern atio na l M aritim e D a ng ero u s G o od s) C o de

Jad w a l p en g irim an b aran g b erb ah aya se la lu ses ua i in struk si p e ng irim an p en g gu n a ja sa d en g an jad w a l ya ng

telah d ibe rik an

T O T A L S K O R R ata -ra ta P re fe re ns i N o P R E F E R E N S I S ea F re ig ht F or w ar de r/ E M K L R e sp on d en M em p un ya i p eren ca na an d alam m en an g an i b aran g b erb ah ay a

P e tug as m elaks an ak an p elab elan , p en an d aa n, pe ng ep a kan ba ra n g

b erb ah aya te la h se su ai d en g an ke ten tu an

S elaku P eru sa ha an E M K L su d ah m em be rika n p elay an an y an g m a ksim al

k ep ad a pe la n gg an da la m h al p en an g an an b a ra ng -b aran g be rb ah a ya

P e tu ga s yan g b e rk om p eten si/ s ud ah b ersertifikas i d alam p en an g an an b aran g b erb ah ay a di p erus ah aan

S eb ag ai E M K L m em p u ny ai p e tun juk p elaks an aan da la m p en an ga n an

b ara ng -b aran g b e rb ah ay a

S elaku pe ny ed ia ja sa E M K L cep at d alam h a l m e nd ap atkan ja dw al k eb eran g kata n s etelah su ra t in stru ks i

p e ng ap alan (sh ipp ing ins tru c tio n ) d iko nfirm a si S u m b er : o la h an p e n el iti T ab el V -2 . H as il P re fe re n si E M K L / S E A F R E IG H T F O R W A R D E R

(17)

V-18

Bobot penilaian Skala Goodman (Skala 1 = YA; 0 = TIDAK), Persentase jawaban “Ya” adalah benar dan “Tidak” adalah salah, dengan demikian bila keseluruhan jawaban benar nilainya = 100, dan jawaban yang salah = 0. Dari hasil preferensi EMKL/ Sea

Freight Forwarder tentang penanganan serta pengelolaan bahan

berbahaya dan beracun (B3), maka memetakan sebagai berikut : • Mempunyai perencanaan dalam menangani barang berbahaya,

merupakan program kerja dalam manajemen EMKL/ Sea

Freight Forwarder yang melakukan kegiatan operasionalnya pada

pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

• Petugas melaksanakan pelabelan, penandaan, pengepakan barang berbahaya sesuai dengan ketentuan, telah dilakukan oleh manajemen EMKL/Sea Freight Forwarder yang melakukan kegiatan operasionalnya pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

Selaku Perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder sudah memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan dalam hal penanganan barang-barang berbahaya, pada Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

• Secara keseluruhan walaupun belum maksimal, petugas yang berkompetensi/sudah bersertifikasi pada perusahaan EMKL/Sea

Freight Forwarder dalam penanganan barang berbahaya pada

pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar.

Perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder yang melakukan kegiatan operasional pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, secara umum telah mempunyai petunjuk pelaksanaan dalam penanganan barang-barang berbahaya.

Perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder selaku penyedia jasa pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menunjukkan kecepatan dalam mendapatkan jadwal keberangkatan setelah surat instruksi pengapalan (shipping instruction) dikonfirmasi. • Pengurusan dokumen untuk barang-barang berbahaya, oleh

perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak,

(18)

V-19

Balikpapan dan Makassar, sudah bisa dilaksanakan dengan cepat dan sesuai dengan IMDG (International Maritime

Dangerous Goods) Code.

Perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder selaku penyedia jasa pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, selalu melakukan jadwal pengiriman barang berbahaya sesuai instruksi pengiriman pengguna jasa dengan jadwal yang telah diberikan. Pemetaan preferensi Perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), sebagaimana dijelaskan di atas menggambarkan perusahaan EMKL/Sea Freight Forwarder dalam kegiatan operasional di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, telah mematuhinya dengan baik (93,8%) danya sedikit yang tidak mematuhinya (6,3%)

c. Preferensi PT. PELINDO/ Operator Terminal

Sembilan indikator yang menjadi bahan preferensi nara sumber, diukur dengan skala Guttman (1 = Ya; 0 = Tidak), dengan hasil analisis sebagaimana tertuang pada Tabel IV-12.

(19)

V -2 0 Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k Y a T id a k 1 B E L A W A N , S U M A T E R A U T A R A A 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 2 T A N JU N G P R IO K . D K I J A K A R T A A 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 3 T A N JU N G M A S , S E M A R A N G A 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 B 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 4 T A N JU N G P E R A K , S U R A B A Y A A 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 5 P A N G K A L A N S E M A Y A N G , B A L IK P A P A N A 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 6 S O E K A R N O -H A T T A , M A K A S S A R A 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 B 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 A 5 1 6 0 5 1 6 0 1 5 4 2 6 0 3 3 4 2 B 5 1 6 0 6 0 6 0 0 6 4 2 6 0 2 4 2 4 T o ta l A + B 1 0 2 1 2 0 1 1 1 1 2 0 1 1 1 8 4 1 2 0 5 7 6 6 % 8 3 % 1 7 % 1 0 0 % 0 % 9 2 % 8 % 1 0 0 % 0 % 8 % 9 2 % 6 7 % 3 3 % 1 0 0 % 0 % 4 2 % 5 8 % 5 0 % 5 0 % 7 1 ,3 % 2 8 ,7 %

Fasilitas di ruang penerimaan operator terminal sudah sesuai dengan kebutuhan penanganan Penundaaan penanganan

barang-barang berbahaya di terminal

T O T A L S K O R R a ta -ra ta P re fe re n s i B E N A R M E L A K U K A N T ID A K M E L A K U K A N N o P R E F E R E N S I P T . P E L IN D O / O P E R A T O R T E R M IN A L Responden

Sebagai operator terminal dalam penanganan barang-barang berbahaya sudah melakukannya

secara professional dan sesuai ketentuan

Pelatihan/ training atas penanganan barang-barang

berbahaya menambah keterampilan dan profesionalisme

dalam bekerja atau mampu meningkatkan kinerja karyawan

Sebagai operator terminal sudah memahami mengenai penanganan

barang-barang berbahaya yang akan di angkut

Sebagai operator terminal dalam penanganan barang-barang berbahaya sudah melakukannya

secara professional dan sesuai ketentuan

Pelanggan sering berdiskusi dengan bapak/ ibu selaku operator

terminal mengenai pengaturan penanganan barang-barang

berbahaya

Fasilitas yang dimiliki sebagai operator terminal sudah sesuai

dengan kebutuhan untuk penanganan barang-barang

berbahaya

Sebagai jasa operator terminal beroperasi sesuai dengan jadwal

yang telah ditentukan untuk pengiriman barang-barang berbahaya S u m b er : o la h an p e n el iti T ab el V -3 . H as il P re fe re n si P T . P E L IN D O / O P E R A T O R T E R M IN A L

(20)

V-21

Bobot penilaian Skala Goodman (Skala 1 = YA; 0 = TIDAK), Persentase jawaban “Ya” adalah benar dan “Tidak” adalah salah, dengan demikian bila keseluruhan jawaban benar nilainya = 100, dan jawaban yang salah = 0. Dari hasil preferensi PT. PELINDO/ Operator Terminal tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), maka memetakan sebagai berikut : • Sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung

Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, dalam penanganan barang-barang berbahaya, secara umum sudah melakukannya secara professional dan sesuai ketentuan.

• Sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar menyadari bahwa pelatihan/training penanganan barang-barang berbahaya menambah keterampilan dan profesionalisme dalam bekerja atau mampu meningkatkan kinerja karyawan

• Sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar sudah memahami mengenai penanganan barang-barang berbahaya yang akan di angkut

• Sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar dalam penanganan barang-barang berbahaya sudah melakukan secara professional dan sesuai ketentuan

• Sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar menyatakan sangat jarang pelanggan sering berdiskusi mengenai pengaturan penanganan barang-barang berbahaya

• Fasilitas yang dimiliki sebagai operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, sudah sesuai dengan kebutuhan untuk penanganan barang-barang berbahaya, hanya pada pelabuhan Balikpapan dan Makassar tidak melaksanakannya.

• Sebagai jasa operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, pelabuhan Balikpapan dan Makassar, selalu beroperasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan untuk pengiriman barang-barang berbahaya.

(21)

V-22

• Penundaaan penanganan barang-barang berbahaya di terminal kurang optimal dilaksanakan oleh operator terminal pada pelabuhan Belawan, Balikpapan, sedangkan pada pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Makassar, sudah dilaksanakan dengan baik.

• Fasilitas di ruang penerimaan operator terminal pada pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, sudah sesuai dengan kebutuhan penanganan, sedangkan operator terminal pada pelabuhan Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar tidak sesuai dengan kebutuhan penanganan.

Pemetaan preferensi operator terminal tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), sebagaimana dijelaskan di atas menggambarkan PT. PELINDO/ Operator Terminal dalam kegiatan operasional di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, telah cukup mematuhinya dengan baik (71,30%) hanya sedikit yang tidak mematuhinya (28,7%)

d. Preferensi Nakhoda Kapal/ Mualim

Sembilan indikator yang menjadi bahan preferensi nara sumber, diukur dengan skala Guttman (1 = Ya; 0 = Tidak), dengan hasil analisis sebagaimana tertuang pada Tabel IV-13.

(22)

V-23

Sumber: olahan peneliti

(23)

V-24

Bobot penilaian Skala Goodman (Skala 1 = YA; 0 = TIDAK), Persentase jawaban “Ya” adalah benar dan “Tidak” adalah salah, dengan demikian bila keseluruhan jawaban benar nilainya = 100, dan jawaban yang salah = 0. Dari hasil preferensi Nakhoda/Mualim tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), maka memetakan sebagai berikut : • Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung

Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan sebagai Captain in Command telah memberikan briefing/instruksi sepenuhnya peraturan yang menyangkut tentang keselamatan pelayaran kepada awak kapal.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan sebagai Captain in Command memberikan briefing/instruksi sepenuhnya peraturan tentang tata cara penanganan pengangkutan barang berbahaya kepada awak kapal

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar menyediakan peraturan dan ketentuan penanganan barang-barang berbahaya di atas kapal

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Makassar, selalu menyampaikan secara berkala peraturan dan ketentuan penakapal nganan barang-barang berbahaya yang berlaku kepada awak kapal, kecuali nakhoda kapal di pelabuhan Balikpapan tidak melakukannya. • Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung

Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan sepenuhnya awak kapal yang menangani barang berbahaya tidak mempunyai sertifikasi/lisensi resmi sesuai IMO/ IMDG Code

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan awak kapalnya memahami dan mampu menangani penanganan barang-barang berbahaya di dalam kapal.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan belum seluruhnya awak kapal diberikan pelatihan penanganan barang-barang berbahaya, kecuali Nakhoda kapal dipelabuhan Belawan, Tanjung Priok menyatakan ada sebagian awak kapalnya diberikan pelatihan penanganan barang-barang berbahaya.

(24)

V-25

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan tidak melaksanakan secara berkala untuk awak kapalnya pelatihan penanganan barang-barang berbahaya dengan jangka waktu dijadwalkan, kecuali pernyataan nakhoda kapal di pelabuhan Tanjung Priok telah melaksanakannya.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, memahami sepenuhnya pelatihan penanganan barang-barang berbahaya dapat meningkatkan keterampilan dan kompetensi awak kapal. • Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung

Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan sepenuhnya diadakan pengecekan dengan buku panduan dan melakukan checklist sesuai ketentuan IMO/ IMDG Code akan barang-barang berbahaya yang diterima dan akan dimuat di atas kapal.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan sebagian melakukan pengecekan dengan buku panduan dan melakukan

checklist sesuai ketentuan IMO/ IMDG Code akan

barang-barang berbahaya yang diterima dan akan dimuat di atas kapal secara administratif dibukukan secara tertib, hanya nakhoda kapal di pelabuhan Tanjung Emas menyatakan tidak melakukannya.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan tidak tersedia fasilitas pelatihan penanganan barang-barang berbahaya di kapal.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan latihan yang berkaitan dengan penanganan barang berbahaya beracun dilaksanakan dicatat secara tertib.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan setiap pelayaran dipastikan dibuat stowage plan untuk pengangkutan barang-barang berbahaya.

• Nakhoda kapal di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, menyatakan tersedianya petunjuk penanganan dalam keadaan darurat di kapal terhadap muatan barang-barang berbahaya

(25)

V-26

Pemetaan preferensi nakhoda kapal/mualim tentang penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), sebagaimana dijelaskan di atas menggambarkan nakhoda kapal/mualim dalam kegiatan operasional di pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar, telah cukup mematuhinya dengan baik (68,90%) hanya sedikit yang tidak mematuhinya (31,10%)

Preferensi dari unit kerja Kesyahbandaran (KPLP), Perusahaan Pelayaran/Sea Freight Forwarder (EMKL), PT. Pelindo/Operator Terminal Pelabuhan, dan Nakhoda/Mualim, tentang penjelasan pencapaian kinerja penanganan serta pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) yang masih ada permasalahan, sebagaimana dijelaskan pada tabel IV-10 sd IV-13 di atas , melalui studi in dapat diarahkan oleh instansi yang berwenang, pada aturam IMDG Code tentang Sections of the IMDG Code or other

relevant instruments to be included in the function-specific training for the transport of dangerous goods, sebagaimana tertuang pada Tabel IV-14.

Sedangkan untuk pemantaban pelatihan diarahkan memanfaatkan Curicula

Training Requirements yang tertuang pada tabel IV.15

Tabel V-.5 Sections of the IMDG Code or other relevant instruments to

be included in the function-specific training for the transport of dangerous goods

(26)

V-27 Penjelasan :

1.3.1.6 Sections of the IMDG Code or other relevant instruments to be included in the function-specific training for the transport of dangerous goods

Remarks:

* Only sections 6.1.2, 6.1.3, 6.5.2, 6.6.3, 6.7.2.20, 6.7.3.16 and 6.7.4.15

apply 1.3.1.7

Related Codes and publications for function-specific training

1. International Maritime Dangerous Goods (IMDG) Code, as amended 2 The Ems Guide: Emergency Response Procedures for Ships Carrying

Dangerous Goods (EmS), as amended

3 Medical First Aid Guide for Use in Accidents Involving Dangerous Goods (MFAG), as amended

4 United Nations Recommendations on the Transport of Dangerous Goods - Model Regulations, as amended

5 United Nations Recommendations on the Transport of Dangerous Goods - Manual of Tests and Criteria, as amended

6 IMO/ ILO/ UN ECE Guidelines for Packing of Cargo Transport Units (CTUs)

7 Recommendations on the Safe Transport of Dangerous Cargoes and Related Activities in Port Areas

8 International Convention for Safe Containers (CSC), 1972, as amended 9 Code of Safe Practice for Cargo Stowage and Securing (CSS Code), as

amended

10 Recommendations on the Safe Use of Pesticides in Ships, as amended 11 International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974, as

amended

12 International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 as modified by the Protocol of 1978 (MARPOL 73/78), as amended.

(27)

V-28

Tabel V-6 Curicula Training Requirements

No Function Specific training requirements Numbers in this column refer to the list of related codes and publications in 1.3.1.7 1 Classify dangerous goods and identify Proper Shipping Name Classification requirements, in particular

-the structure of the description of substances

-the classes of dangerous goods and the

principles of their classification -the nature of the dangerous substances and

articles transported (their physical, chemical

and toxicological properties) -the procedure for classifying solutions and

mixtures

-identification by Proper Shipping Name

- use of Dangerous Goods List Classes

.1, .4, .5 and .12

2 Pack dangerous goods in packages

Classes

Packaging requirements -type of packages (IBC, large packaging, tank

container and bulk container) - UN marking for approved packagings

-segregation requirements - limited quantities Marking and labelling First aid measures

Emergency response procedures Safe handling procedures

(28)

V-29

No Function Specific training requirements Numbers in this column refer to the list of related codes

and publications in 1.3.1.7

Mark, label or placard dangerous goods

Classes

Marking, labelling and placarding requirements - primary and subsidiary risk labels - marine pollutants - limited quantities Pack/unpack cargo transport units* Documentation Classes

Marking, labelling and placarding

Stowage requirements, where applicable

Segregation requirements Cargo securing requirements (as contained in the

IMO/ILO/UN ECE Guidelines) Emergency response procedures First aid measures

CSC requirements Safe handling procedures

.1, .6, .7

5 Prepare transport documents

for dangerous goods Offer dangerous goods for transport Documentation requirements -transport document -container/vehicle packing certificate - competent authorities' approval

-waste transport documentation -special documentation, where appropriate

Thorough knowledge of the IMDG Code

Local requirements at loading and discharge ports

- port bye-laws

(29)

V-30

No Function Specific training requirements Numbers in this column refer to the list of related codes

and publications in 1.3.1.7

- national transport regulations 7 Accept dangerous

goods for transport

Thorough knowledge of the IMDG Code

Local requirements at loading, transiting and

discharge ports

-port bye-laws, in particular quantity limitations

- national transport regulations

1 to .12

Handle dangerous goods in

transport

Classes and their hazards Marking, labelling and placarding

Emergency response procedures First aid measures

Safe handling procedures such as

- use of equipment -appropriate tools -safe working loads CSC requirements, local requirements at loading, transit and discharge ports Port bye-laws, in particular, quantity limitation

National transport regulations

.1, .2, .3, .6, .7, .8 and .10

9 Prepare dangerous goods

loading/ stowage plans

Documentation Classes

Stowage requirements Segregation requirements Document of compliance Relevant IMDG Code parts, local requirements at

loading, transit and discharge ports

Port bye-laws, in particular,

(30)

V-31

No Function Specific training requirements Numbers in this column refer to the list of related codes and publications in 1.3.1.7 quantity limitations 10 Load/unload dangerous goods into/from ships

Classes and their hazards Marking, labelling and placarding

Emergency response procedures First aid measures

Safe handling procedures such as

- use of equipment -appropriate tools - safe working loads

Cargo securing requirements CSC requirements, local requirements at loading, transit and discharge ports Port bye-laws, in particular, quantity limitation

National transport regulations

.1, .2, .3, .7, .9, .10 and .12

11 Carry dangerous goods Documentation Classes

Marking, labelling and placarding

Stowage requirements, where applicable

Segregation requirements Local requirements at loading, transit and discharge

ports

-port bye-laws, in particular, quantity limitations

-national transport regulations Cargo securing requirements (as contained in the

IMO/ILO/UN ECE Guidelines) Emergency response procedures

.1, .2, .3, .6, .7, .10, .11 and .12

(31)

V-32

No Function Specific training requirements Numbers in this column refer to the list of related codes

and publications in 1.3.1.7

First aid measures CSC requirements Safe handling procedures 12 Enforce or survey or

inspect for compliance with applicable

rules and regulations

Knowledge of IMDG Code and relevant guidelines and

safety procedures

.1 to .12

13 Are otherwise involved in the

transport of dangerous goods,

as determined by the competent authority

As required by the competent authority

commensurate with the task assigned

Gambar

Gambar V-1, Safety Coat, Ear Muff, Safety Glasses, Sarung  Tangan,
Tabel V-4. Hasil Preferensi Nakhoda Kapal/ Mualim
Tabel V-.5 Sections of the IMDG Code or other relevant instruments to  be included in the function-specific training for the transport of
Tabel V-6 Curicula Training Requirements

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pengawasan pengelolaan limbah B3, pengawas tidak hanya cukup melihat data manifes limbah B3 dari pihak penghasil limbah saja tetapi juga harus mencocokan keakuratan

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang harus mendapatkan penanganan dan pengelolaan yang khusus, yang merupakan limbah hasil dari produksi laboratorium (bahan

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun , Lampiran I: Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dipergunakan. Zat-zat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh Job Characteristic dan Reward System terhadap Employee Engagement dan dampaknya pada Kinerja Karyawan baik

Pada wisma mawar, area yang memiliki tingkat kurang dan tidak sesuai dengan standar sebagian besar menjadi titik hambatan lansia, dimana titik ini didapatkan

Teknologi dan manusia tidak dalam hubungan oposisi tetapi dalam satu simbiosis, teknologi menjadi perpanjangan manusia peran mesin tidak mengungkapkan identitas independen

PT LinkNet Tbk didirikan pada tahun 1996, dan menjalankan kegiatan usahanya saat ini dibidang penyedia jaringan tetap berbasis kabel, jasa multimedia, jasa akses internet,