• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Penelitian sebelumnya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Penelitian sebelumnya"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1. Penelitian sebelumnya

Pada jurnal yang berjudul "Representasi Pembawa Acara Program Talk Show di Televisi Indonesia" ini menggunakan teori produksi program televisi, khususnya pada program talk show. Jurnal ini menggunakan metodologi yang sama dengan penelitian yang sedang saya kerjakan, yaitu penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Namun, pembahasan pada jurnal ini lebih menitikberatkan pada pembawa acara talk show saja.

Pada jurnal "Strategi Metro Tv:Menghadapi Persaingan di Industri Pertelevisian Nasional (Sebuah Studi Kasus)" ini menggunakan teori media massa dalam menciptakan segmentasi pasar dan positioning yang kuat. Jurnal ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang sama dengan penelitian yang sedang saya kerjakan, hanya saja jurnal ini menggunakan pendekatan penelitian yang bersifat studi kasus. Dari hasil pembahasan, jurnal ini memiliki persamaan dengan penelitian yang sedang saya kerjakan, yaitu memiliki konsistensi untuk target penonton SES A-B sehingga membuat stasiun televisi dapat terus bertahan dan bersaing.

Pada jurnal "Menakar kekuatan dan keunggulan industri televisi lokal di era otonomi" ini menggunakan teori yang berhubungan dengan televisi, media massa, sejarah sosial media, serta komunikasi massa. Jurnal ini menggunakan metodologi yang sama dengan penelitian yang sedang saya kerjakan, yaitu penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pada jurnal ini membahas televisi lokal yang semakin berkembang sehingga masyarakat juga harus menyikapinya dengan bijak.

Pada jurnal "The Consumption of Television Programming: Development and Validation of the Connectedness Scale" ini dapat menjadi pendukung dalam penelitian yang sedang saya kerjakan. Jurnal ini menggunakan teori hubungan penonton dengan program televisi yang dilihat dari karakteristiknya. Metodologi pada jurnal ini menggunakan penelitian kuantitatif. Pada jurnal ini membahas program televisi yang dapat mempengaruhi ingatan dan sikap penonton.

(2)

Pada jurnal "How Neoliberal Imperialism is Expressed by Programming Strategies of Phoenix TV : a Critical Case Study" ini menggunakan teori neoliberal imperialism dengan analisis strategi programming, serta teori format program televisi. Jurnal ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang sama dengan penelitian yang sedang saya kerjakan, hanya saja jurnal ini menggunakan pendekatan penelitian yang bersifat studi kasus. Hasil dari pembahasan pada jurnal ini mengacu pada stasiun televisi yang menganut paham neoliberal juga dapat berhasil dengan menciptakan strategi programming yang dapat menarik banyak audiens.

Tabel 1. State of the Art No

.

Nama Teori Metodelogi Hasil Temuan

1. Rahmat Edi Irawan "Representasi Pembawa Acara Program Talk Show di Televisi Indonesia" 2013 Universitas Bina Nusantara Produksi Program Televisi, khususnya program talk show Penelitian kualitatif dengan pendekatan bersifat deskriptif Representasi pembawa acara talk show ikut berperan besar dalam mempengaruhi pembentukan realitas sosial. Di tengah ketatnya persaingan industri pertelevisian, membuat stasiun televisi memilih pembawa acara talk show yang dapat dikatakan tidak pintar tapi menghibur. 2. Risa Ayuningtyas dan M. Gunawan Alif "Strategi Metro Tv:Menghadapi Media dalam menciptakan segmentasi pasar dan positioning yang kuat penelitian kualitatif dengan pendekatan bersifat studi kasus

Pilihan untuk mengambil posisi sebagai TV berita

membawa konsekuensi

yang harus dihadapi oleh Metro TV. Metro tv sulit unruk bersaing dengan stasiun televisi lainnya

(3)

Persaingan di Industri Pertelevisian Nasional (Sebuah Studi Kasus)" 2009 Journal of Business Strategy and Execution dikarenakan terbatasnya

penonton yang bisa

dicapainya. Namun,

melalui positioning

concept dan positioning strategy, Metro TV dapat terus menjaga konsistensi

untuk berada pada

penonton SES A-B. Hal ini menjadikan Metro TV

dapat terus bersaing

dengan stasiun TV lainnya. 3. Gatut Priyowidodo "Menakar kekuatan dan keunggulan industri televisi lokal di era otonomi" 2008 Jurnal Ilmiah Scriptura Televisi, peran media massa, sejarah sosial media, komunikasi massa. Pendekatan penelitian kualitatif dengan pendekatan bersifat deskriptif

Kehadiran televisi lokal yang sekarang sudah menjamur yang harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat. Ia tidak saja sebagai media penyampai informasi, namun juga sebagai agen perubahan sosio-kultural. Televisi lokal yang sekarang sudah tidak sekedar untuk ambisi daerah namun sudah menjadi kebutuhan agar daerah bisa mengkonkritkan 4. Cristel Antonia Russel, Andrew T. Norman, dan Hubungan penonton dengan Pendekatan penelitian kuantitatif Hubungan penonton dengan televisi begitu erat dikarenakan

(4)

Susan E. Heckler "The Consumption of Television Programming: Development and Validation of the Connectedness Scale" 2004 Journal of Consumer Research program televisi dilihat dari karakteristik nya televisi menciptakan informasi program dan iklan yang mampu mempengaruhi ingatan dan sikap penonton.

5. Shuang Xie "How Neoliberal Imperialism is Expressed by Programming Strategies of Phoenix TV : a Critical Case Study" 2013 Global Media Journal Teori neoliberal imperialism; analisis strategi programming : Format, scheduling, dan promoting; Format program televisi Penelitian kualitatif dengan pendekatan bersifat studi kasus

Akibat dari peraturan pemerintahan China yang terlalu ketat, menjadikan Phoenix TV terbatas dalam melakukan strategi programming untuk program yang hendak dibuatnya. China menganut paham liberal di mana media dibatasi dan diatur ketat

dalam setiap penyampaian informasinya. Sedangkan Phoenix TV menganut paham NeoLiberal di mana mengikuti arus luar.

(5)

Namun Phoenix TV berhasil membuktikan menjadi salah satu standard TV di China dengan menciptakan strategi programming program yang dapat menarik banyak audiens namun tidak bertentangan dengan pemerintahan China.

2.2. Definisi Konsep

Menurut Eastman & Ferguson (2013), Programming dapat merujuk pada proses maupun hasil yang dapat menjelaskan kelompok program dalam stasiun radio dan stasiun televisi atau sebuah tindakan dalam memilih dan menjadwalkan program yang akan tayang di stasiun TV. Prosesnya meliputi Selection, scheduling, promotion, dan evaluation.

Menurut Morissan (2013), kata "program" berasal dari bahasa Inggris programme yang berarti acara atau rencana. Program didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Jadi, program adalah segala hal yang ditampilkan sasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiennya.

Menurut Morissan (2013), televisi lokal merupakan stasiun penyiaran dengan wilayah siaran terkecil yang mencakup satu wilayah kota atau kabupaten.

Menurut Latief & Utud (2015), talk show adalah program diskusi atau panel diskusi yang diikuti oleh lebih dari satu pembicara atau narasumber untuk membicarakan suatu topik.

2.3. Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan

(6)

informasi kepada khalayak luas (Bungin, 2009). Konsep komunikasi massa pada satu sisi mengandung pengertian suatu proses di mana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi lain merupakan proses di mana pesan tersebut dicari, digunakan, dan dikonsumsi oleh audience (Rohim, 2009). Menurut McQuail (1992) dalam Bungin (2009), proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk :

1. Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran, pemberitaan yang disebarkan dalam jumlah yang luas, dan di terima oleh massa yang besar pula.

2. Proses komunikasi massa juga dilakukan melalui satu arah, yaitu dari komunikator ke komunikan. Kalau terjadi interaktif di antara mereka, maka proses komunikasi (balik) yang disampaikan oleh komunikan ke komunikator sifatnya sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator.

3. Proses komunikasi berlangsung secara asimetris di antara komunikator dan komunikan, menyebabkan komunikasi di antara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi kondisi emosional disebabkan karena pemberitaan yang sangat agitatif, maka sifatnya sementara dan tidak berlangsung lama dan tidak permanen.

4. Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal (non-pribadi) dan tanpa nama. Proses ini menjamin, bahwa komunikasi massa akan sulit diidentifikasi siapa penggerak dan menjadi motor dalam sebuah gerakan massa di jalan.

5. Proses komunikasi massa juga berlangsung pada hubungan-hubungan kebutuhan (market) di masyarakat. Seperti, televisi dan radio melakukan penyiaran mereka karena adanya kebutuhan masyarakat tentang pemberitaan-pemberitaan massa yang ditunggu-tunggu. Dengan demikian, maka agenda acara televisi dan radio juga sangat ditentukan oleh rating, yaitu bagaimana masyarakat menonton atau mendengar acara itu, apabila tidak ada pendengar atau pemirsanya,

(7)

maka acara tersebut akan dihentikan karena dianggap merugi dan tidak disponsori oleh pasar.

2.3.1. Karakteristik Komunikasi Massa

Secara sederhana, komunikasi massa adalah komunikasi melalui media, yaitu surat kabar, tabloid, majalah, radio, televisi, film, dan media on line internet. Dilihat dari definisi serta proses Komunikasi Massa diatas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik atau ciri-ciri komunikasi massa sebagai berikut (Sumadiria, 2014) :

1. Komunikator melembaga. Komunikator komunikasi massa bukanlah individu atau perorangan. Komunikasi massa bersifat institusional. Ini berarti komunikator komunikasi massa bersifat melembaga. Ia merupakan kumpulan individu dari berbagai keahlian dalam ranah sejenis yang tergabung dalam sebuah lembaga yang terorganisasi dengan rapi, baik, dan profesional. Karena institusional, maka gaya komunikator suatu media komunikasi massa tidaklah berbada satu sama lain.

2. Komunikasi satu arah. Teknologi informasi dan telekomunikasi sudah berkembang. Walaupun demikian, karakteristik komunikasi massa tetap belum berubah. Pesan komunikasi massa bersifat satu arah, tidak terjadi umpan balik langsung, dan tidak terdapat proses dialogis.

3. Pesan umum diterima serempak. Pesan komunikasi massa ditujukan untuk khalayak umum. Menurut teori komunikasi, khalayak umum merujuk pada tiga dimensi: geografis, monografis, dan psikografis. Karena ditujukan untuk khalayak umum yang sangat heterogen, maka dalam mengemas pesannya media massa harus menggunakan dan tunduk kepada kaidah bahasa jurnalistik.

4. Khalayak tersebar, Anonim, Heterogen. Khalayak komunikasi massa tersebar di mana-mana ; di kota dan di kampung, di gunung dan di lembah, di sungai dan di pantai. Karena tersebar di mana-mana, maka khalayak komunikasi massa tidak dikenal dan tidak mengenal satu sama lain. Mereka diikat oleh media secara psikologis. Jadi, khalayak komunikasi massa selain tersebar juga anonim. Dalam anonim

(8)

tersebut, terdapat juga heterogen. Artinya dalam kelompok-kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain tetapi terhubungkan oleh tayangan acara-acara televisi, ditemukan banyak unsur kemajemukan, dari jenis kelamin sampai dengan ke persoalan tingkat pendidikan, ras, warna kulit, dan bahkan keterikatan sosial budaya serta keyakinan beragama.

5. Selintas. Berarti sesaat, sambil lalu, sambil lewat, sekilas, sepintas, hanya sekelebatan. Sifat berita radio siaran dan televisi siaran bersifat selintas.

2.3. 2. Fungsi Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah salah satu aktivitas sosial yang berfungsi di masyarakat. Fungsi komunikasi massa adalah (Bungin, 2009) :

1. Fungsi Pengawasan

Media massa merupakan sebuah medium di mana dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif. Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, pemberitaan bahaya narkoba bagi kehidupan manusia yang dilakukan melalui media massa dan ditujukan kepada masyarakat, maka fungsinya untuk kegiatan preventif agar masyarakat tidak terjerumus dalam pengaruh narkoba. 2. Fungsi Social Learning

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat di mana komunikasi massa itu berlangsung.

3. Fungsi Penyampaian Informasi

Komunikasi massa yang mengandalkan media massa, memiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas

(9)

dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

4. Fungsi Transformasi Budaya

Fungsi informatif adalah fungsi-fungsi yang bersifat statis, namun fungsi-fungsi lain yang lebih dinamis adalah fungsi transformasi budaya. Komunikasi massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa. Fungsi transformasi budaya ini menjadi sangat penting dan terkait dengan fungsi-fungsi lainya terutama fungsi social learning, akan tetapi fungsi transformasi budaya lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari budaya global.

5. Hiburan

Fungsi lain dari komunikasi adalah hiburan, bahwa seirama dengan fungsi-fungsi lain, komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

2.3. 3. Elemen Komunikasi Massa

Elemen pada komunikasi juga merupakan elemen yang terdapat pada komunikasi massa. Secara mudah, proses komunikasi dapat dikatakan sebagai pesan yang dikirimkan oleh sender yang kemudian diterima oleh komunikan. Bedanya proses perpindahan pesan pada komunikasi dengan komunikasi massa terletak pada salurannya dan jumlah penerimanya. Pada komunikasi massa, pesan dapat saja diterima secara serentak layaknya pada televisi, atau individual seperti pada radio.

Ada beberapa elemen-elemen pada komunikasi massa yaitu (Nurudin, 2007):

a. Komunikator. Berbeda dengan komunikator pada proses komunikasi biasa, komunikator yang terdapat pada komunikasi massa berupa jaringan, stasiun lokal, direktur, dan staf teknis suatu program. Jadi komunikator pada komunikasi massa adalah gabungan individu dalam

(10)

sebuah lembaga media massa. Karena komunikator merupakan sekumpulan orang yang saling bekerja sama, sehingga pesan yang disampaikan bukanlah atas nama masing-masing individu tersebut, tetapi atas nama lembaganya.

b. Isi. Setiap hari media massa memberikan informasi sehingga informasi adalah hal pokok yang harus dimiliki oleh sebuah media massa. Masing-masing media massa memiliki kebijakannya sendiri dalam mengelola isinya. Selain itu, media massa tidak hanya memberikan informasi tetapi juga meneliti dan mengevaluasi informasi tersebut. Sesuai dengan fakta-faktanya, dan keahlian dalam menginterpretasikan, media massa mencoba untuk memberikan pesan yang mudah dimengerti oleh audiensnya. Jakob Oetama (2001), menggarisbawahi bahwa menulis sebuah berita tidaklah hanya sekedar berita, tetapi perlu menunjang kemampuan untuk menumbuhkembangkan semangat dan kegiatan kemanusiaan dalam kegiatan jurnalistik ketika pesan tersebut disampaikan. Ketika media massa memberikan sebuah informasi maka secara tidak langsung, media massa memfungsikan dirinya sebagai seorang pendidik, oleh karena itu isi dari pesan yang disampaikan oleh media massa harus mengandung unsur pendidikan.

c. Audience. Setiap audiens pada komunikasi massa berbeda-beda karena jumlahnya yang banyak. Di tengah berberbeda-bedanya audiens komunikasi massa, tetapi audiens saling mereaksi terhadap pesan yang diterimanya. Menurut Hiebert dan kawan-kawan, terdapat lima karakteristik audiens pada komunikasi massa. (1) Audiens berisi individu yang sering berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial, (2) audiens cenderung besar yaitu tersebar diberbagai wilayah, (3) audiens biasanya heterogen yaitu berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial, (4) audiens cenderung anonim karena tidak saling kenal, dan (5) audiens secara fisik dipisahkan oleh komunikator.

d. Umpan Balik. Terdapat dua jenis umpan balik dalam komunikasi massa, yaitu umpan balik langsung dan umpan balik tidak langsung. Umpan balik langsung dapat berupa ketika pembaca menulis kepada

(11)

surat pembaca. Sedangkan umpan balik tidak langsung adalah ketika komunikan dengan komunikator dalam komunikasi massa tidak bertemu secara langsung sehingga tidak mungkin terjadinya reaksi langsung di antara kedua pihak. Umpan balik merupakan reaksi yang diberikan oleh audiens ketika menerima pesan dari komunikator. Rating pada sebuah acara televisi juga dapat disebut sebagai umpan balik atau feedback dari penontonnya karena menunjukkan jumlah penonton yang menyaksikan acara tersebut.

e. Gangguan. Sesuatu yang dapat menghalang, menghambat atau menganggu proses pengiriman pesan dari komunikator ke audiens. Dalam komunikasi massa terdapat dua tipe gangguan yaitu gangguan saluran dan gangguan semantik. Gangguan saluran adalah gangguan seperti kesalahan cetak, kekurangan kata, baterai yang habis, langganan majalah yang tidak datang atau sinyal televisi dan radio yang buruk. Sedangkan gangguan semantik adalah gangguan yang berhubungan dengan bahasa, gangguan semantik yang paling sering dijumpai dan dapat dikatakan bahwa gangguan ini diakibatkan oleh pengirim pesan atau penerima pesan.

f. Gatekeeper adalah di mana ditunjuk satu orang atau organisasi yang memiliki tugas untuk memantau masuk keluarnya informasi. Gatekeeper-lah yang memiliki wewenang untuk memberikan ijin atas tersebarnya sebuah informasi dari media massa. Dalam media massa, mereka dapat menghapus pesan yang akan disampaikan atau bahkan memodifikasi pesan tersebut. Tidak hanya itu, gatekeeper dapat saja menutup pintu atau benar-benar tidak memberikan ijin untuk mengeluarkan informasi tersebut. Menurut John R. Bittner (1996), gatekeeper memiliki empat fungsi yaitu (1) menyebarluaskan informasi, (2) membatasi informasi yang akan disebarkan dengan memodifikasikannya terlebih dahulu, (3) untuk memperluas kualitas informasi dengan menambahkan faktanya, dan (4) untuk menginterpretasikan sebuah informasi.

g. Pengatur. Pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi aliran pengiriman pesan yang terjadi dalam media massa. Pengatur bukanlah dari dalam media

(12)

tetapi pihak yang berada di luar media tersebut. Walaupun bukan bagian dari media, tetapi mereka memiliki akses dan memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan redaksional.

h. Filter. Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi bagaimana ia bereaksi terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Filter merupakan kerangka berpikir bagaimana seorang audiens menerima pesan yang disampaikan. Dengan kata lain, filter adalah jendela audiens karena setiap audiens memiliki reaksi berbeda-beda terhadap pesan yang diterimanya.

2.4. Media Massa

Alat untuk menyebarkan pesan dari komunikator kepada komunikan dalam komunikasi massa disebut media massa. Media massa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak mencakup adalah surat kabar dan majalah. Sedangkan media elektornik mencakup radio, film, televisi, dan internet. (Ardianto, Komala, dan Karlinah. 2007).

Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audiens yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Media massa mampu menyebar luaskan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas. (Nurudin, 2007).

Media massa merupakan organisasi yang menyebarkan informasi yang berupa produk budaya atau pesan yang mempengaruhi dan mencerminkan budaya dalam masyarakat.(Rohim, 2009).

Dari semua media massa yang ada, televisi paling berpengaruh bagi hidup manusia dan dinilai paling cepat berkembang, sehingga memunculkan juga televisi kabel yang menggunakan satelit.(Ardianto, Komala, dan Karlinah. 2007).

2.5. Televisi

Televisi adalah sebagai bagian dari kebudayaan audio visual dan merupakan medium paling berpengaruh dalam membentuk sikap dan

(13)

kepribadian masyarakat secara luas. Unsur esensial dari kebudayaan televisi berupa penggunaan bahasa verbal dan visual, sekaligus dalam rangka menyampaikan sesuatu seperti pesan, informasi, pengajaran, ilmu dan hiburan. Kultur yang dibawa oleh televisi dengan sendirinya mulai tumbuh di masyarakat (Wibowo, 2007).

Media penyiaran televisi dan radio mempunyai karakteristik sebagai media yang menguasai ruang tetapi tidak menguasai waktu. Artinya, siaran dari suatu media televisi atau radio dapat diterima di mana saja dalam jangkauan pancarannya (menguasai ruang), tetapi siarannya tidak dapat dilihat kembali (tidak menguasai waktu).(djamal dan Fachruddin, 2013).

2.5.1. Karakteristik Televisi

Dampak yang dihasilkan media massa televisi dinilai lebih besar dari media lain karena jumlah peminatnya lebih banyak. Hal ini dikarenakan karakteristik televisi yang berbeda dari media massa lain.

Berikut adalah karakteristik televisi seperti dituliskan oleh Ardianto, Komala, dan Karlinah (2007) :

a. Audiovisual

Kelebihan televisi yaitu dapat didengar sekaligus dilihat (audiovisual), berbeda dengan radio di mana khalayak hanya dapat mendengar kata-kata dan suara serta media cetak yang hanya menampilkan tulisan bagi masyarakat.

b. Berpikir dalam gambar

Dalam televisi, pengarah acara adalah pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara di dalamnya. Pengarah acara harus mampu berpikir dalam gambar (think in picture). Proses berpikir dalam gambar ini dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama adalah visualisasi (visualization), yaitu menginterpretasikan kata-kata yang berisi gagasan menjadi adegan-adegan bergerak. Tahap yang kedua adalah penggambaran (picturization), yaitu proses merangkai adegan-adegan hasil interpretasi tadi menjadi sebuah kesinambungan yang memiliki makna tertentu.

(14)

Pengoperasian televisi lebih rumit daripada pengoperasian radio, dan dikerjakan oleh lebih banyak orang. Minimal dibutuhkan sepuluh orang untuk memproduksi acara berita yang dibawakan oleh dua orang. Kesepuluh orang tersebut terdiri dari seorang pengarah acara, seorang produser, seorang pengarah teknik, seorang switcher, seorang floor director, dua atau tiga orang camera person, juru video, seorang juru rias, seorang audioman, dan lainnya.

Karakteristik audiovisual yang dimiliki televisi membuat audience harus menggunakan sekurangnya dua indera untuk menyimak pesan yang disiarkan, yaitu indera pendengaran dan indera pengelihatan. Hal ini membuat audience harus lebih fokus dalam menyimak agar tidak tertinggal informasi dibanding mengikuti informasi dari media massa jenis lain, misalnya radio, Saat mendengarkan radio, audience hanya membutuhkan telinga dan dalam mendengarkan siaran radio biasanya audience juga mengejakan kegiatan lain. Kekuatan audiovisual ini juga yang menjadikan daya tarik televisi lebih tinggi dibanding media massa jenis lain. Hal ini diperkuat oleh J.B Wahyudi (dalam Morissan, 2013) :

Tabel 2. Sifat Fisik Masing Masing Jenis Media Menurut J.B Wahyudi

Jenis Media Sifat

Cetak

dapat dibaca, di mana, dan kapan saja dapat dibaca berulang-ulang

daya rangsang rendah

pengolahan bisa mekanik, bisa elektris biaya relatif rendah

(15)

Radio

dapat didengar bila siaran

dapat didengar kembali bila diputar kembali daya rangsang rendah

elektris relatif murah daya jangkau besar

Televisi

dapat didengar dan dilihat bila ada siaran dapat dilihat dan didengar kembali, bila diputar kembali

daya rangsang sangat tinggi elektris

relatif murah daya jangkau besar

2.5.2. Program Televisi

Stasiun televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya sangat banyak dan jenisnya sangat beragam. Pada dasarnya apa saja bisa dijadikan program untuk ditayangkan di televisi selama program itu menarik dan disukai audien, dan selama tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum, dan peraturan yang berlaku. Pengelola stasiun penyiaran dituntut untuk memiliki kreativitas seluas mungkin untuk menghasilkan berbagai program yang menarik.

2.5.2.1. Program Informasi

Manusia pada dasarnya memiliki sifat ingin tahu yang besar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di tengah masyarakat. Program informasi di televisi, sesuai dengan namanya, memberikan banyak informasi untuk memenuhi rasa ingin tahu penonton terhadap sesuatu hal. Program informasi adalah segala jenis siaran yang tujuannya untuk memberikan tambahan pengetahuan (informasi) kepada khalayak audien. Daya tarik program ini adalah informasi, dan informasi itulah yang "dijual" kepada audien. Program informasi dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu (Morissan, 2013) :

(16)

1. Berita keras (hard news). Berita keras atau hard news adalah segalainformasi penting dan/ atau menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak audien secepatnya. Media penyiaran adalah media yang paling cepat dalam menyiarkan berita kepada masyarakat. Dalam berita-berita mengenai konflik, televisi menjadi medium informasi yang paling dipercaya. Hal ini disebabkan televisi menyajikan gambar yang menjadi bukti yang tak terbantahkan. Dalam hal ini berita keras dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk berita yaitu :

a. Straight News. Suatu berita yang singkat (tidak detail) dengan hanya menyajikan informasi terpenting saja mencakup 5W+1H (who, what, where, when, why, dan how) terhadap suatu peristiwa yang diberitakan. Berita jenis ini sangat terikat waktu (deadline) karena informasinya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan kepada audien.

b. Feature. Berita ringan namun menarik. Pengertian "menarik" di sini adalah informasi yang lucu, unik, ane, menimbulkan kekaguman, dan sebagainya. Pada dasarnya berita-berita semacam ini dapat dikatakan sebagai soft news karena tidak terlalu terikat dengan waktu penayangan, namun karena durasinya singkat (kurang dari lima menit) dan ia menjadi bagian dari program berita, maka feature masuk ke dalam kategori hard news.

c. Infotainment. Berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal masyarakat (celebrity), dan karena sebagian besar dari mereka bekerja pada industri hiburan, seperti pemain film/sinetron, penyanyi dan sebagainya, maka berita mengenai mereka disebut juga dengan infotainment. Infotainment adalah salah satu bentuk berita keras karena memuat informasi yang harus segera ditayangkan. 2. Berita lunak (soft news). Berita lunak atau soft news adalah segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam (in depth) namun tidak bersifat harus segera ditayangkan. Berita yang masuk kategori ini ditayangkan pada satu program tersendiri di luar program berita. Program yang masuk ke dalam kategori berita lunak ini adalah :

a. Current Affair. Program yang menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting yang muncul sebelumnya namun dibuat

(17)

secara lengkap dan mendalam. Dengan demikian, current affair cukup terikat dengan waktu dalam hal penayangannya namun tidak seketat hard news, batasannya adalah bahwa selama isu yang dibahas masih mendapat perhatian khalayak, maka current affair dapat disajikan. b. Magazine. Program yang menampilkan informasi ringan namun

mendalam atau dengan kata lain magazine adalah feature dengan durasi yang lebih panjang. Magazine ditayangkan pada program tersendiri yang terpisah dari program berita dan lebih menekankan pada aspek menarik suatu informasi ketimbang aspek pentingnya.

c. Dokumenter. Program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan dengan menarik. Gaya atau cara penyajian dokumenter sangat beragam dalam hal teknik pengambilan gambar, teknik editing, dan teknik penceritaannya. Adakalanya program dokumenter dibuat seperti membuat sebuah film sehingga sering disebut dengan film dokumenter.

d. Talk Show. Program talk show atau perbincangan adalah program yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara (host). Mereka yang diundang adalah orang-orang yang berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah dibahas.

2.5.2.2. Program Hiburan

Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan adalah drama, permainan (game), musik, dan pertunjukan.

2.5.3. Sumber Program Televisi

Stasiun penyiaran komersial harus menyediakan puluhan jam siaran setiap minggunya dan ratusan jam siaran setiap bulannya. Untuk itu diperlukan program untuk mengisi berbagai jam siaran yang tersedia (air time). Stasiun TV memiliki berbagai sumber untuk mendapatkan programnya yang terdiri dari (Morissan, 2013) :

(18)

1. Produksi sendiri. Stasiun televisi pada umumnya memiliki studio dan peralatan yang dapat digunakan untuk memproduksi program. Departemen berita biasanya menjadi bagian yang paling sering memanfaatkan fasilitas stasiun untuk memproduksi jenis program informasi, serta memiliki sumber daya manusia seperti reporter dan juru kamera yang bertugas mendapatkan berita untuk ditayangkan. Selain reporter dan juru kamera terdapat pula presenter, editor, produser hingga direktur pemberitaan yang bekerja secara penuh (full time) untuk stasiun televisi. Jenis program lainnya yang dapat diproduksi sendiri adalah program dokumenter, perbincangan (talk show), laporan khusus, sinema elektronik (sinetron), film, program musik, dan variety show. 2. Stasiun jaringan. Televisi jaringan (network) adalah sumber utama

program bagi stasiun televisi daerah atau stasiun televisi lokal yang bekerja sama dengan stasiun jaringan. Stasiun jaringan pada umumnya memproduksi sendiri program beritanya (in-house) dan juga program olahraga namun membeli sebagian besar program hiburan mereka dari Independent Production Companies (IPC) dan rumah produksi (production house). Namun terkadang stasiun televisi jaringan memperoleh programnya dari stasiun jaringan lainnya.

3. Stasiun lokal. Beberapa stasiun televisi lokal memasok program kepada stasiun televisi lokal lainnya. Hal ini biasanya sering dilakukan di antara sejumlah stasiun televisi yang berada dalam satu kelompok usaha. 4. Rumah Produksi (PH). Rumah produksi dapat dibagi menjadi dua yaitu

Independent Production Companies (IPC) dan tumah produksi khusus (specialized production house). IPC adalah perusahaan film mulai dari skala kecil hingga besar yang dikelola oleh pemilik yang sekaligus sebagai "otak" atau kontributor kreatif terpenting. Sedangkan, rumah produksi khusus adalah perusahaan yang mengkhususkan diri untuk memproduksi satu jenis program saja.

5. Perusahaan film besar. Perusahaan film besar (major production companies) di Amerika Serikat seperti Universal, Paramount, atau Disney menjadi salah satu program bagi banyak stasiun televisi besar di negara itu. Stasiun elevisi (network) sangat senang bekerja sama dengan

(19)

perusahaan film besar karena reputasinya yang tidak diragukan dalam menghasilkan berbagai program berkualitas.

6. Perusahaan sindikasi. Perusahaan yang memproduksi program sekaligus bertindak sebagai distributor yang menjadi pemasok program bagi stasiun televisi. Stasiun televisi yang ingin menjual programnya kepada stasiun televisi lainnya menggunakan jasa perusahaan sindikasi untuk menawarkan program itu kepada berbagai stasiun televisi.

7. Pemasang iklan. Biasanya pemasang iklan membayar stasiun televisi untuk air time dan juga menyediakan programnya. pada umumnya, pemasang iklan jarang memproduksi programnya sendiri karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk itu. Pemasang iklan dapat menunjuk suatu rumah produksi untuk membuat program atau meminta stasiun televisi untuk memproduksi program bersangkutan.

Dalam menyiarkan programnya, televisi harus dapat menjamin bahwa program-program yang ditayangkannya memiliki sifat-sifat berikut (Suwardi, 2006) :

a. Antisipatif

Informasi yang disiarkan oleh televisi harus sesuai dengan kenyataan dan program siaran harus dapat menghibur.

b. Interpretatif

Informasi dan hiburan yang disajikan berisi penjelasan mengenai latar belakang, masa depan, dan terapannya dalam masyarakat.

c. Edukatif

Segala bentuk acara yang disiarkan oleh televisi harus mendidik dan mencerahkan audience-nya. Acara-acara tersebut juga tidak boleh berisi indoktrinasi.

d. Relevan

Program siaran televisi harus disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pemirsa.

e. Konstruktif

Program-program dalam televisi dapat membentuk opini audience yang positif dan secara bertanggung jawab.

(20)

2.6. Program Talk Show

Program acara televisi yang menarik dan sekaligus sebagai program yang mendidik bagi penonton adalah program Talk Show. Program ini dikatakan mendidik karena merupakan program yang menghadirkan narasumber sebagai pembicara dalam hal meningkatkan wawasan bagi seseorang. Menurut Morissan (2013), narasumber yang diundang adalah orang-orang yang berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah dibahas.

Selain narasumber, daya tarik dari program ini terletak pada topik masalah yang dibicarakan. Ada tiga permasalahan menarik untuk dibicarakan, diantaranya ( Latief & Utud, 2015) : Pertama, masalah yang sedang menjadi pergunjingan di masyarakat yang hangat dibicarakan ; kedua, masalah tersebut mengandung kontroversi dan konflik di antara masyarakat ; ketiga, masalah tersebut menyangkut dengan kepentingan masyarakat banyak dan masyarakat membutuhkan informasi serta jawaban yang jelas mengenai permasalahan tersebut.

Talk show atau acara perbincangan di televisi memang menjadi pilihan menarik bagi stasiun televisi. Selain tetap mampu memikat penonton, karena topik perbincangannya pas dan bintang tamu yang ditunggu penonton, penggarapan atau produksi program ini juga relatif mudah, murah, dan praktis. Selain topik yang pas dan bintang tamu yang ditunggu penonton, modal utama kesuksesan sebuah program talk show dalam memikat penonton tentu saja pembawa acara atau presenter program perbincangan tersebut. Menurut Latief & Utud (2015), agar tidak membosankan, kadang juga ditayangkan footage masalah yang dibahas sebagai bahan diskusi atau interaksi dengan penonton di rumah melalui telepon. Untuk memperkuat informasi permasalahan, juga dapat ditampilkan grafik dan data-data.

2.6.1. Jenis-Jenis Program Talk Show

Ada empat jenis program talk show yaitu program uraian pendek atau pernyataan (The Talk Program), program vox-pop suara masyarakat, program wawancara (interview), program panel diskusi (Wibowo 2007).

(21)

1. Program uraian pendek atau pernyataan (The Talk Program)

Ketika penonton menyaksikan acara televisi, pada saat itu muncul seorang presenter (penyaji) menceritakan sesuatu yang menarik. Presenter itu muncul di tengah suatu program feature, diantaranya sajian acara music, dan di awal suatu acara sebagai pembukaan atau dalam suatu acara cerita yang menarik yang disajikan secara khusus. Penonton ini sedang menyaksikan the talk show program. Uraian yang disajikan oleh seorang presenter di dalam acara televisi biasanya sangat pendek.

2. Program vox-pop suara masyarakat

Vox-pop kependekan dari vox populli dalam istilah Indonesia sebagai “suara masyarakat” artinya suatu program yang mengetengahkan pendapat umum suatu masalah. Tujuan dari program ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Vox-pop sebagai program mengetengahkan serangkaian pendapat umum mengenai suatu masalah yang sedang dibahas dalam program kepada penonton dengan maksud agar penonton juga dapat mengetahui bermacam-macam pendapat dari sebagai orang atau grup sehingga dapat di konfrontir dengan pendapatnya sendiri.

Vox-pop digunakan untuk menunjukan masalah itu sebagai masalah yang penuh dengan kontradiksi, apabila vox-pop tadi mengemukan pandangan yang berlain-lainan sama sekali antara orang satu dengan orang lainnya. Jadi, penonton dapat mendudukan persoalan pada porsi yang sebenernya bahwa masalah yang dibahas itu masalah yang pelik.

3. Program Wawancara (Interview)

Dalam hal ini terdapat dua macam wawancara, yaitu wawancara di luar studio dan wawancara di studio. Cara memproduksi program luar studio tidak jauh berbeda dengan cara memproduksi program vox-pop. Namun, wawancara studio memiliki beberapa persiapan dan cara memproduksi program yang beberapa persiapan dan cara memproduksi berbeda.

(22)

Memproduksi program talkshow wawancara yang baik di televisi merupakan suatu kerja keras, karena program itu melakukan persiapan-persiapan yang cukup banyak. Tanpa persiapan yang sungguh-sungguh program ini hanya menjadi program yang membosankan dan ditinggalkan para penonton. Jika program ini disajikan dengan baik, penonton memperoleh suatu yang sungguh-sungguh berguna, bermakna dan bukan sekedar program untuk membuang waktu luang.

4. Program Panel Diskusi

Program talk show diskusi di televisi swasta menjadi program yang cukup sulit. Pertama sebagai program yang hanya menyajikan suatu pembicaraan sudah bertentangan dengan prinsip televisi yang audio visual. Kunci utama dari program ini adalah kemampuan moderator sebagai presenter dalam mengendalikan dan menjaga pembicaraan agar tetap segar, tetapi jadi juga tegang. Tentu saja topik tersebut akan menjadi perdebatan yang menarik. Oleh karena itu perencanaan merupakan bagian yang penting.

Program panel diskusi adalah program pembicaraan tiga orang atau lebih mendiskusikan suatu pokok permasalahan yang diangkat dengan moderator atau presenter sebagai pemandu acara. Dalam program ini masing-masing tokoh diundang dapat saling berbicara mengemukakan pendapatnya dan presenter bertindak sebagai moderator yang terkadang melontarkan pendapat atau membagi pembicaraan.

Dalam program ini suatu permasalahan dilihat dari bidang yang berbeda oleh sejumlah ahli, narasumber, atau tokoh yang menguasai bidang sendiri-sendiri. Kemudian presenter akan mewakili penonton mengajukan pertanyaan kepada narasumber sesuai dengan bidang masing-masing mengenai masalah tersebut. Boleh juga kadang-kadang presenter membandingkan atau mengkonrontasikan pendapat dari narasumber, apabila program tersebut bukan interaktif. Pada Akhir program talk show Diskusi panel, presenter menyampaikan pula resume dari kesimpulan apa yang dibicarakan.

(23)

2.7. Strategi Programming

Stasiun publik harus memiliki strategi program yang jelas sebelum membeli atau memproduksi program. Strategi program ini harus disusun bersama antara direktur program dengan para manajer senior lainnya. Menurut Pringle-Starr-McCavitt (1991) terdapat tiga faktor penting yang harus dipertimbangkan pengelola stasiun publik dalam menyusun strategi programnya yaitu: a) the nature of the licensee, ini dapat diartikan sebagai misi atau fungsi utama keberadaan stasiun publik; b) kebutuhan dan kepentingan masyarakat; dan c) the requirements for fund raising from the audience, ini dapat diartikan sebagai upaya menggalang dana dari masyarakat.

Fungsi utama stasiun publik di Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang penyiaran, adalah memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat. Hal ini merupakan faktor pertama yang harus dipertimbangkan sebelum menyusun strategi program. Untuk dapat memberikan layanan yang baik bagi masyarakat, maka pengelola stasiun publik harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Namun perlu ditegaskan bahwa ada perbedaan pengertian melayani kebutuhan masyarakat antara stasiun komersial dan stasiun publik. Pada stasiun komersial, pemenuhan kebutuhan audien mengutamakan aspek hiburan (entertaiment), sedangkan pada stasiun publik pemenuhan kebutuhan audien mengutamakan aspek pendidikan. Faktor ketiga yaitu upaya untuk menggalang dana dari masyarakat. Dalam hal ini, stasiun publik harus memiliki sifat unik pada programnya. Stasiun publik memberikan alternatif program yang berbeda dengan jenis stasiun lainnya.

2.7.1. Scheduling

Manajemen stasiun publik dapat saja memiliki strategi program yang bagus atau berhasil membeli program bermutu, namun upaya itu akan gagal menarik audien tanpa penjadwalan program atau scheduling yang tepat. Jika scheduling program tidak direncanakan dan dibangun dengan baik, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan bisa dicapai. Pada dasarnya setiap jenis program memiliki audiennya masing-masing. Dalam sejarah televisi tidak ada satu program pun yang mampu menarik seluruh audien, karena itu kompetisi

(24)

untuk menarik audien tetap berlaku bagi stasiun televisi publik. Waktu siaran dibagi menjadi lima bagian dengan ciri-ciri atau sifat audiens yang berbeda-beda (Pringle & Starr, 2006) :

Tabel 3. Pembagian Waktu Siaran dan Ketersediaan Audien

Bagian Hari Audien Tersedia

Pagi Hari (06.00-09.00)

Anak-anak, ibu rumah tangga, pensiunan, pelajar dan pekerja kantoran yang akan berangkat. Jelang Siang

(09.00-12.00)

Anak-anak prasekolah, ibu rumah tangga, pensiunan, dan karyawan yang bertuga secara giliran.

Siang Hari (12.00-16.00)

Karyawan yang makan siang di rumah termasuk dalam audien yang pagi lalu akan tergantikan dengan pukul 02.00 oleh pelajar.

Sore Hari (16.00-18.00)

Karyawan yang pulang dari tempat kerja.

Awal Malam (18.00-19.00)

Hampir sebagian besar audien sudah berada di rumah.

Jelang Waktu Utama (19.00-20.00)

Seluruh audien tersedia menonton TV pada waktu ini.

Waktu Utama (20.00-23.00)

Seluruh audien tersedia pada waktu ini utamanya antara pukul 20.00-21.00 dan sekitarnya. Namun setelah itu, audien mulai berkurang utamanya audien anak-anak, para pensiunan, dan mereka yang hendak bangun pagi.

Jelang Tengah Malam (23.00-23.35)

Umumnya orang dewasa.

Tengah Malam (23.35-02.05)

Orang dewasa, termasuk karyawan yang bertugas secara giliran.

Akhir Malam (02.05-06.00)

(25)

Programmer menghindari penempatan program unggulan yang ditayangkan pada hari yang sama atau bersamaan dengan program unggulan dari stasiun lain. Head-Sterling(1982) dalam buku Morissan (2013), menyatakan bahwa stasiun televisi memiliki sejumlah strategi dalam upaya menarik audien masuk ke stasiun sendiri dan menahan audien yang sudah ada untuk tidak pindah saluran atau mencegah tidak terjadi aliran audien keluar, yaitu :

a. Head to Head : Suatu program yang dapat menarik audiens yang sama dengan audiens stasiun televisi yang lain. Dalam hal ini, stasiun televisi mencoba untuk menarik perhatian audiens stasiun televisi lain yang tengah menonton program mereka dan berpindah stasisun. Jika terdapat program jenis yang sama pada jam tayang yang sama, maka stasiun televisi harus mempertimbangkan juga apakah program ini cukup kuat untuk bersaing dengan program stasiun yang lain.

b. Counter programming : Menyajikan program yang tidak sejenis dengan yang ditayangkan oleh stasiun televisi lain dengan harapan dapat merebut audiens dari stasiun televisi saingan.

c. Strong Lead in : Menetapkan program yang kuat di awal untuk mengangkat program lain yang masih belum kuat. Sehingga audiens akan bertahan di stasiun yang sama untuk menyaksikan program tayangan selanjutnya.

d. Block Programming : Dimana audiens dipertahankan untuk tidak pindah ke stasiun lainnya dengan menyajikan acara sejenis selama waktu siaran tertentu. Misalnya dengan menayangkan program komedi sepanjang malam.

e. Creating Hammock : atau disebut juga dengan strategi buaian karena hammock adalah buaian yang diikatkan pada kedua batang pohon. Strategi ini merupakan strategi untuk membangunkan audiens pada suatu program baru atau program yang mengalami penurunan popularitas. Dengan cara menempatkan program tersebut di tengah-tengah dua program ungulan. Dengan ekspektasi, penonton seusai menonton program unggulan pertama, akan menunggu program unggulan kedua dengan menyaksikan program yang diletakkan di tengah kedua program unggulan tersebut. Sehingga terjadi yang

(26)

disebut dengan flow through dari program unggulan ke program lemah.

f. Stunting : Penghalangan, merupakan strategi untuk merebut perhatian audiens dengan cara mengubah jadwal acara secara cepat. Misalnya menampilkan seri film dengan menginterupsi program yang kuat. g. Strategi Lainnya : Beberapa strategi lainnya seperti mempertahankan

program unggulan dalam posisinya karena penonton sudah biasa dengan jam tayangnya. Sebab jika sebuah tayangan berubah jam tayang, dapat menurunkan jumlah penonton, terutama jika tidak diletakkan pada waktu siaran yang tepat.

2.7.2. Selection

Proses planning atau perencanaan program ini melibatkan perkembangan dari jangka pendek, menengah dan panjang yang menjadi tujuan untuk mencapai program dan juga tujuan keuangannya, seperti yang telah disebutkan oleh Peter Pringle dan rekannya program planning involves the development of short-, medium-, and long- range plans to permit the station to attain its programming and financial objectives.

Untuk dapat menarik perhatian audiens, harus ditentukan hal apa yang dapat digunakan sebagai senjat untuk menarik perhatian audiens terhadap program yang ditayangkan. dengan kata lain, apa jenis daya tarik yang akan digunakan. Jika sudah diketahui apa yang menjadi penarik perhatian audiens, maka selanjutnya adalah menentukan elemen-elemen apa saja yang harus dimasukkan ke dalam program agar sesuai dengan target dan jenis daya tarik yang ditentukan.

Tentunya konten program tidak semudah memasukan masing-masing elemen kualitas ke dalam program dan kemudian program itu pasti berhasil, di dalamnya harus terdapat keterampilan dan seni tertentu yang dapat menyatukan semua elemen tersebut. Beberapa elemen yang dimaksud adalah sebagai berikut (Morrisan, 2013) :

a. Konflik : salah satu elemen yang dianggap paling berhasil adalah konflik, yaitu adanya benturan kepentingan atau benturan di antara tokoh-tokoh yang terlibat. Tanpa adanya konflik, maka kecil kemungkinan program itu akan mampu menahan perhatian audien.

(27)

b. Durasi : Programmer sebaiknya tidak berpikir untuk membuat suatu program yang bersifat hanya satu kali tayang.

c. Kesukaan : Sebagian audien memilih program yang menampilkan pemain utama atau pembawa acara yang mereka sukai, sebagaimana dikemukakan Vane-Gross: "Viewers tune to people they like and with whom they feel comfortable." Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepribadian yang hangat, suka menghibur, sekaligus sensitif dan ramah.

d. Konsistensi : suatu program harus konsisten terhadap tema dan karakter pemain yang dibawanya sejak awal.

e. Energi : setiap program harus memiliki energi yang dapat mempertahankan audiensnya untuk tidak beralih pada stasiun lain. Vance-Gross mendefinisikan energi sebagai :the quality that infuses a sencse of pace and excitement into a show. It is the charging of the screen with pictures that won’t let the viewer turn away. Yang berarti kualitas yang menekankan pada kecepatan dan semangat ke dalam cerita dengan menyajikan gambar-gambar yang tidak bisa ditinggalkan penonton.

f. Timing : Setiap program memiliki cerita yang mencerminkan nilai-nilai sosial yang hidup dan diterima oleh masyarakat saat itu. Jika suatu program tidak sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai itu maka besar kemungkinan program itu tidak akan berhasil. Vane-Gross menilai persoalan timing ini sangat penting : "For a program to work it must be in harmony with the times." (Agar suatu program dapat berhasil maka program itu haruslah harmonis dengan waktu).

g. Tren : Program yang sejalan dengan tren yang berkembang akan lebih menjamin keberhasilan. Namun menurut Vane-Gross, program yang mengikuti tren bukanlah faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan..

2.7.3. Promotion

Promosi program dan media penyiaran adalah kegiatan untuk mempertahankan audien dan menarik audien baru serta mengundang pemasang iklan. Kegiatan promosi diarahkan pada dua pihak, yaitu audien

(28)

dan pemasang iklan. Dua pihak ini memiliki kontribusi sangat penting untuk menjamin kelanjutan operasi media penyiaran. Tanpa adanya audien, program yang sangat bagus sekalipun tidak akan mampu menarik pemasang iklan dalam jumlah yang berarti.

Upaya memperkenalkan dan kemudian menjual program sehingga mendatangkan penonton sekarang ini sudah banyak instrumen yang dapat digunakan. Instrumen dasar yang digunakan untuk tercapainya tujuan promosi program disebut dengan bauran promosi atau promotional mix yang dapat terdiri dari : iklan, pemasaran langsung, pemasaran interaktif, promosi penjualan, hubungan masayarakat dan juga penjualan personal.Namun saat ini, kegiatan promo yang dilakukan ditelevisi umumnya dibagi menjadi dua kegiatan yaitu promo on air dan promo off air.

Kegiatan promo dilakukan oleh stasiun televisi tidak hanya untuk mempromosikan program kepada banyak orang, tetapi juga untuk lebih mendekatkan penonton dan pemasang iklan dengan mereka. Selain itu, promo dilakukan untuk memperkenalkan program baru atau sekedar memberitahu audiens mengenai perubahan jam tayang atau isi dari program yang sedang dipromosikan.

Saat ini, persaingan antar stasiun televisi dan antar program sangat besar, maka upaya yang dilakukan untuk memperkenalkan program menjadi sangat penting dalam dunia pertelevisian, sehingga promo merupakan sesuatu yang harus dibuat, direncanakan dan dijalankan.Menarik jumlah pemasang iklan yang banyak untuk program tersebut yang menjadikan strategi promo yang dilakukan tepat.

Terdapat dua jenis strategi promo yang biasa dilakukan dalam industri pertelevisian yaitu :

a. Promo On Air : yaitu semua kegiatan promo yang dilakukan dengan memanfaatkan media televisi sendiri atau melakukan promosi di televisi sendiri. Promo on air dapat berupa promo program yang biasanya berdurasi lima sampai dengan tiga puluh detik. Dapat berbentuk tayangan reguler maupun tematik, running text yang biasanya diletakkan di tengah-tengah program lain, super impose, ad lips, atau bahkan pembuatan program khusus untuk program tersebut seperti kuis. Walaupun dalam televisi, slot sudah banyak dipenuhi

(29)

oleh iklan dari pihak ketiga, tapi promosi unutk program-program mereka sendiri pasti dilakukan.

b. Promo Off Air : sedangkan untuk promo off air adalah semua kegiatan yang dilakukan tidak di dalam media televisi mereka sendiri. Promo off air dapat berupa iklan yang terdapat di billboard atau di media cetak atau bahkan media lain. Promo off air merupakan segala kegiatan yang dilakukan off air untuk lebih memperkenalkan diri dan mendekatkan program kepada audiensnya, seperti melakukan promosi di mall, sekolah atau tempat umumnya lainnya.

Selain promo on air dan off air, kegiatan promo lainnya juga dilakukan dengan bekerja sama dengan bagian Public Relation (PR) ataupun melakukan promo langsung dengan pemasang iklan atau agency lainnya. Bagian PR dapat membantu dalam membentuk citra stasiun atau program kepada masyarakat.Pada promo langsung, biasanya melakukan kunjungan kepada pemasang iklan atau agency terkait.

2.7.4. Evaluation

Melalui perencanaan, stasiun televisi menetapkan rencana dan tujuan yang ingin dicapai. Tahap evaluasi dilakukan untuk menentukan seberapa jauh suatu rencana dan tujuan sudah dapat dicapai oleh stasiun penyiaran, departemen, dan karyawan. Kegiatan evaluasi dapat dilakukan secara periodik tergantung pada masing-masing individu dan juga departemen, dengan membandingkan kinerja yang dilakukan dengan kinerja yang direncanakan.

Evaluasi juga dapat dilakukan dengan melihat laporan riset rating yang berguna untuk melihat jumlah dan komposisi audien yang menonton program yang ditayangkan. Riset rating pada dasarnya meneliti tindakan audien terhadap pesawat televisi tersebut meliputi tindakan mematikan, menghidupkan, dan memindahkan saluran pesawat televisi. Pengelola stasiun penyiaran pada umumnya sangat peduli dengan peringkat atau rating dari suatu program yang ditayangkan di stasiun penyiarannya. Rating merupakan hal yang penting karena pemasang iklan selalu mencari stasiun penyiaran atau program siaran yang paling banyak ditonton atau didengar orang.

(30)

Suatu perusahaan atau lembaga rating, biasanya memberikan jasa kepada stasiun televisi dengan mengeluarkan laporan rutin mengenai detail program apa saja yang menjadi keunggulan dan mana yang sudah banyak ditinggalkan oleh audiensnya. Perusahaan atau lembaga rating memberikan laporannya kepada siapa saja yang bersedia membelinya dengan harga yang cukup mahal. Laporan tersebut dapat diberikan dalam periode harian, mingguan, bulanan, dan dalam periode beberapa bulan sekali.

Menurut Morissan (2013), stasiun publik harus mampu bersaing dengan stasiun lain. Program berita stasiun publik, misalnya, harus dapat bersaing dengan program berita stasiun televisi komersial, untuk mendapatkan rating yang lebih baik. Stasiun publik harus memiliki keunggulan dalam mengangkat tema sosial yang disajikan dalam berbagai laporan atau program perbincangan (talk show) yang menarik.

2.8. Kerangka pemikiran

Gambar 1. Kerangka Berpikir

Pada penelitian ini, dijelaskan strategi programming DaAi Tv dalam membuat suatu program yang menarik. Program yang diangkat adalah progam "Dunia Sehat". Oleh karena itu, kerangka pemikiran penelitian ini didasari oleh selecting, scheduling, promoting, evaluating sehingga terbentuk program "Dunia Sehat".

= Scheduling = Selecting = Promoting = Evaluating Strategi Programming Program dunia Sehat

Gambar

Tabel 1. State of the Art  No
Tabel 2. Sifat Fisik Masing Masing Jenis Media Menurut J.B Wahyudi
Tabel 3. Pembagian Waktu Siaran dan Ketersediaan Audien
Gambar 1. Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menjawab tantangan sekaligus peluang kehidupan global di atas, diperlukan paradigma baru pendidikan sebagai berikut : (1) pendidikan ditujukan untuk

10 komoditii unggulan tersebut di klarifikasikan oleh Disperindag diantaranya adalah tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, karet dan produk karet, sawit dan

pemasaran lainnya. Amaroossa Hotel merupakan hotel dengan konsep butik yang berdiri kurang dari tiga tahun, sejak dibuka pada akhir 2009. Masih banyak diantara

Sistematika dokumen Renja Kecamatan Semanding Tahun 2021 sebagaimana mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara

Sebuah papan permainan yang dimulai dari petak start dan dilengkapi dengan petak-petak materi, petak masuk rumah sakit, parkir bebas, dana umum dan juga

Dari hasil kajian dapat disimpulkasn sebagai berikut : (1) Di lihat dari gambaran pembangunan di Kabupaten Pandeglang, dilihat dari tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Biaya Proses Penyelesaian Perkara dan Pengelolaannya pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada

Good comparison testing is the key to a good translation. The purpose of this test is to see whether or not the translation is understood correctly by