• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

[1]

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, 1995, Waspadji Sarwono (1999, 786).

Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung, adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain), tuberculosis paru, infark paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik, hipoalbumin dan lain sebagainya. (Allsagaaf H, Amin M Saleh, 1998, 68).

Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi luas, expansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal nafas. Kondisi-kondisi tersebut diatas tidak jarang menyebabkan kematian pada penderita efusi pleura.

Berbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual maupun potensial akibat adanya efusi pleura antara lain adalah ketidak efektifan pola nafas, gangguan rasa nyaman, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang menyebabkan penurunan berat badan pasien serta masih banyak lagi permasalahan lain yang mungkin timbul.

(2)

[2] 2. Rumusan Masalah

a. Apakah definisi dari Efusi Pleura? b. Bagaimana anatomi fisiologi Pleura? c. Bagaimana patofisiologi dari Efusi Pleura? d. Bagaimana WOC dari Efusi Pleura?

e. Apakah manifestasi klinis dari Efusi Pleura?

f. Apa saja pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura? g. Bagaimana penatalaksanaan dari Efusi Pleura? h. Bagaiman asuhan keperawatan dari Efusi Pleura? i. Apa komplikasi yang terjadi akibat efusi pleura?

3. Tujuan

a. Mengetahui definisi dari Efusi Pleura

b. Mengetahui anatomi fisiologi Pleu ra c. Mengetahui patofisiologi dari Efusi Pleura

d. Mengetahui WOC dari Efusi Pleura

e. Mengetahui manifestasi klinis dari Efusi Pleura f. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura g. Mengetahui penatalaksanaan dari Efusi Pleura

h. Mengetahui asuhan keperawatan dari Efusi Pleura i. Mengetahui komplikasi dari efusi peura

(3)

[3]

BAB II

TINJAUAN TEORI

1. Definisi Efusi Pleura

Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).

Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).

2. Anatomi fisiologi Pleura a. Anatomi

pleura merupakan lapisan pembungkus paru (pulmo). Dimana antara pembungkus pulmo dextra et sinistra dipisahkan oleh adanya mediastinum. Pleura dari interna ke eksterna terbagi atas 2 bagian:

 pleura viseralis, yaitu pleura yang langsung melekat pada permukaan pulmo  pleura parietaisl bagian pleura yang berbatasan lansung dengan dinding

torak

Kedua lapisan pleura tersebut saling berhubungan pada hilus pulmonalis sebagai pleura penghubung. Diantara rongga ini terdapat rongga yag di sebut cavum pleura. Dimana terdapat sedikit cairan pleura yang berfungsi agar tidak terjadi gesekan antar pleura ketika proses pernafasan

(4)

[4] b. Fisiologi

Permukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke yang lainnya (John Gibson, MD, 1995, 123). Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur (Soeparman, 1990, 785).

Setiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke dalam mediastinum. Permukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis . Oleh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang potensial. Karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. (Guyton dan Hall, Ege,1997, 607).

Fungsi mekanis pleura adalah meneruskan tekanan negative thoraks kedalam paru-paru, sehingga paru-paru yang elastic dapat mengembang. Cairan dalam rongga pleura bersifat steril karena mesothelia bekerja melakukan fagositosis benda asing dan cairan yang di produksi nya bersifatsebagai pelican.

Caira rongga pleura sangat sedikit, sekitar 0.3 ml/kg, bersifat hipoonkotik dengan knsentrasi 1 gr/dl. Gerakan pernafasan dan gravitasi kemungkinan besar ikut mengatur jumlah produksi reabsorbsi cairan rongga pleura. Reabsorbsi terjadi terutama pada pembuluh limfe pleura parietalis, dengan kecepatan 0.1 sampai 0.5 ml/kg/jam. Bial terjadi gangguan produksi dan reabsorbsi akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura (Andra dan Yessi 2013, 170)

3. Patofisiologi Efusi Pleura

Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara

(5)

[5]

lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.

Pleura parietalis dan viseralis letaknya berhadapan satu sama lain dan hanya dipisahkan oleh selapis tipis cairan serosa. Lapisan tipis cairan ini memperlihatkan adanya keseimbangan antara transudasi dai kapiler-kapiler pleura dan reabsorpsi oleh vena visceral dan parietal, dan saluran getah bening. Efusi pleura dapat berupa transudat atau eksudat.

Efusi cairan dapat berbentuk transudat, terjadinya karena penyakit lain bukan primer paru seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik, dialisis peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikarditis konstriktiva, keganasan, atelektasis paru dan pneumotoraks.

Pada kasus ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari pembuluh darah. Transudasi juga dapat terjadi pada hipoproteinemia, seperti pada penyakit hati dan ginjal. Penimbunan transudat dalam rongga pleura hidrotoraks. Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru akibat gaya gravitasi. Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan atau gangguan absorpsi getah bening. Eksudat dibedakan dengan transudat dari kadar protein yang dikandungnya dan berat jenis. Transudat mempunyai berat jenis kurang dari 1,015 dan kadar proteinnya kurang dari 3%; eksudat mempunyai berat jenis dan kadar protein lebih tinggi, karena banyak mengandung sel.

Efusi eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobkaterium tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sebab lain seperti parapneumonia, parasit (amuba, paragonimiosis, ekinokokkus), jamur, pneumonia atipik (virus, mikoplasma, fever, legionella), keganasan paru, proses imunologik seperti pleuritis lupus, pleuritis rematoid, sarkoidosis, radang sebab lain seperti pankreatitis, asbestosis, pleuritis uremia

(6)

[6]

dan akibat radiasi. Jika efusi pleura mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema. Empiema disebabkan oleh perluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru, atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura.

Empiema yang tak ditangani dengan drainase yang baik dapat membahayakan rangka toraks. Eksudat akibat peradangan akan mengalami organisasi, dan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan viseralis. Keadaan ini dikenal dengan nama fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas, dapat menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang terdapat di bawahnya. Pembedahan pengupasan yang dikenal sebagai dekortikasi, kadangkadang perlu dilakukan guna memisahkan membran-membran pleura tersebut. Istilah hemotoraks dipakai untuk menyatakan perdarahan sejati ke dalam rongga pleura dan tidak dimaksudkan untuk menyatakan efusi pleura yang berdarah. Trauma merupakan penyebab tersering dari hemotoraks. Duktus torasikus dapat juga menyalurkan getah bening ke dalam rongga pleura sebagai akibat trauma atau keganasan, keadaan ini dikenal dengan nama kilotoraks.

PENYAKIT-PENYAKIT DENGAN EFUSI PLEURA Pleuritis Karena Virus dan Mikoplasma

Efusi pleura karena virus atau mikoplasma agak jarang. Bila terjadi jumlahnya tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis-jenis virusnya adalah: echo virus, Coxsackie group, chlamidia, rickettsia dan mikoplasma. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100 – 6.000 per cc. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala, demam, malaise, mialgia, sakit dada, sakit perut. Kadang-kadang ditemukan juga gejala-gejala perikarditis. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan virus dalam cairan efusi, tapi cara termudah adalah dengan mendeteksi antibody terhadap virus dalam cairan efusi.

Pleuritis karena bakteri piogenik

Permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen, dan jarang yang melalui penetrasi diafragma, dinding dada atau esofagus.

(7)

[7]

Aerob : Streptokokus pneumonia, Streptokokus mileri, Stafilokokus aureus, Hemophilus sp,Klebsiella, Pseudomonas sp.

Anaerob : Bakteroides sp, Peptostretokokus, Fusobakterium.

Pemberian kemoterapi dengan Ampisilin 4 x 1 gram dan Metronidazol 3x500 mg hendaknya sudah dimulai sebelum kultur dan sensitivitas bakteri didapat. Terapi lain yang lebih penting adalah mengalirkan cairan efusi yang terinfeksi tersebut keluar dari rongga pleura dengan efektif.

Pleuritis tuberkulosa

Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat eksudat. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkulosis paru melalui fokus subpleura yang roberk atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga atau kolumna vertebralis (menimbulkan penyakit paru Pott). Dapat juga secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura hemoragik. Jumlah leukosit antara 500 – 2.000 per cc. Mula-mula yang dominan adalah sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit. Cairan efusi sangat sedikit mengandung kuman tuberkulosis, tapi adalah karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. Pada dinding pleura dapat ditemukan adanya granuloma. Diagnosis utama berdasarkan adanya kuman tuberkulosis dalam cairan efusi (biakan atau dengan biopsi jaringan pleura.

Pada daerah-daerah dimana frekuensi tuberkulosis paru tinggi dan terutama pada pasien usia muda, sebagian besar efusi pleura adalah karena pleuritis tuberkulosa walaupun tidak ditemukan adanya granuloma pada biopsi jaringan pleura. Pengobatan dengan obat-obat anti tuberkulosis memakan waktu 6-12 bulan. Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru. Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembali, tapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis. Umumnya cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kadang dapat diberikan kortikosteroid secara sistematik. (Prednison 1 mg/kg BB selama 2 minggu kemudian dosis diturunkan secara perlahan).

(8)

[8] Pleuritis fungsi

Pleuritis karena fungsi amat jarang. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi fungsi dari jaringan paru. Jenis fungsi penyebab pleuritis adalah: Aktinomikosis, Koksidiomikosis, Aspergillus, Kriptokokus, Histoplasmolisis, Blastomikosis, dll. Patogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungsi.

Penyebaran fungsi ke organ tubuh lain amat jarang. Pengobatan dengan AmfoterisinB memberikan respons yang baik. Prognosis penyakit ini relatif baik. Pleuritis parasit

Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah amuba. Bentuk tropozoitnya datang dari parenkim hati menembus diafragma terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Efusi pleura karena parasit ini terjadi karena peradangan yang ditimbulkannya.

Di samping ini dapat juga terjadi empiema karena amuba yang cairannya berwarna khas merah coklat. Disini parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi dari parenkim hati. Bisa juga karena adanya robekan dinding abses amuba pada hati ke arah rongga pleura. Efusi parapneumonia karena amuba dari abses hati lebih sering terjadi daripada empiema amuba.

Efusi pleura karena kelainan intra abdominal

Efusi pleura dapat terjadi secara steril karena reaksi infeksi dari peradangan yang terdapat di bawah diafragma seperti pankreas atau eksaserbasi akut pankreatitis kronik, abses ginjal, abses hati dan abses limpa.

Biasanya efusi terjadi pada pleura kiri tapi dapat juga bilateral. Mekanismenya adalah karena berpindahnya cairan yang mengandung enzim pankreas ke rongga pleura melalui saluran getah bening. Efusi ini bersifat eksudat serosa, tapi kadang-kadang bisa juga hemoragik. Kadar amilase dalam efusi lebih tinggi daripada dalam serum. Efusi pleura juga sering setelah 48-72 pasca operasi abdomen seperti splenektomi, operasi terhadap obstruksi intestinal atau pasca operasi atelektasis. Biasanya terjadi unilateral dan jumlah efusi tidak banyak (lebih jelas terlihat pada foto lateral dekubitus). Cairan biasanya bersifat eksudat dan mengumpul pada sisi

(9)

[9]

operasi, efusi pleura operasi biasanya bersifat maligna dan kebanyakan akan sembuh secara spontan.

Efusi pleura karena neoplasma

Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat menyerang pleura dan umumnya menyebabkan efusi pleura. Keluhan yang paling sering banyak ditemukan adalah sesak napas dan nyeri. Gejala lain adalah akumulasi cairannya kembali dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis berkali-kali.

Efusi bersifat eksudat, tapi sebagian kecil (10%) bisa sebagai transudat. Warna efusi bisa sero-santokrom ataupun hemoragik (terdapat lebih dari 100.000 sel eritrosit per cc). Di dalam cairan ditemukan sel-sel limfosit (yang dominan) dan banyak sel mesotelial. Pemeriksaan sitologi terhadap cairan efusi atau biopsi pleura parietalis sangat menentukan diagnosis terhadap jenis-jenis neoplasma. Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura neoplasma yakni:

· Menumpuknya sel-sel tumor akan meningkatkan permeabilitas pleura terhadap air dan protein.

· Adanya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah vena dan getah bening, sehingga rongga pleura gagal dalam memindahkancairan dan protein.

· Adanya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul hipoproteinemia.

Efusi pleura karena karena neoplasma biasanya unilateral, tetapi bisa juga bilateral karena obstruksi saluran getah bening, adanya metastasis dapat mengakibatkan pengaliran cairan dari rongga pleura via diafragma. Keadaan efusi pleura dapat bersifat maligna. Keadaan ini ditemukan 10-20% karsinoma bronkus, 8% dari limfoma maligna dan leukemia. Jenis-jenis neoplasma yang menyebabkan efusi pleura adalah:

Mesotelioma

Mesotelioma adalah tumor primer yang berasal dari pleura. Tumor ini jarang ditemukan, bila tumor masih terlokalisasi, biasanya tidak menimbulkan efusi pleura, sehingga dapat digolongkan sebagai tumor jinak. Sebaliknya bila ia

(10)

[10]

tersebar (difus) digolongkan sebagai tumor ganas karena dapat menimbulkan efusi pleura yang maligna.

Karsinoma bronkus.

Jenis karsinoma ini adalah yang terbanyak menimbulkan efusi pleura.Tumor bisa ditemukan dalam permukaan pleura karena penjalaran langsung dari paru-paru melalui pembuluh getah bening. Efusi dapat juga terjadi tanpa adanya pleura yang terganggu, yakni dengan cara obstruksi pneumonitis atau menurunnya aliran getah bening.

Terapi operasi terhadap tumornya masih dapat dipertimbangkan, tetapi bila pada pemeriksaan sitologi sudah ditemukan cairan pleura, pasien tidak dapat dioperasi lagi. Untuk mengurangi keluhan sesak napasnya dapat dilakukan torakosentesis secara berulang-ulang. Tapi sering timbul lagi dengan cepat, seaiknya dipasang pipa torakotomi pada dinding dada (risikonya timbul empiema). Tindakan lain untuk mengurangi timbulnya lagi cairan adalah dengan pleurodesis, memakai zat-zat seperti tetrasiklin, talk, sitotastika, kuinakrin.

Neoplasma metastatik.

Jenis-jenis neoplasma yang sering bermetastasis ke pleura dan menimbulkan efusi adalah: karsinoma payudara (terbanyak), ovarium, lambung, ginjal, pankreas dan bagian-bagian organ lain dalam abdomen. Efusi dari pleura yang terjadi dapat bilateral. Jika di lihat melalaui gambaran foto toraks mungkin tidak terlihat bayangan metastasis di jaringan paru, karena implantasi tumor dapat mengenai pleura viseralis saja.

Pengobatan terhadap neoplasma metastatik ini sama dengan karsinoma bronkus yakni dengan kemoterapi dan penanggulangan terhadap efusi pleuranya.

Limfoma maligna.

Kasus-kasus limfoma maligna (non-Hodgkin dan Hodgkin) ternyata 30% bermetastasis ke pleura dan juga menimbulkan efusi pleura. Di dalam cairan efusi tidak selalu terdapat sel-sel ganas seperti pada neoplasma lainnya. Biasanya ditemukan sel-sel limfosit karena sel ini ikut dalam aliran darah dan

(11)

[11]

aliran getah bening melintasi rongga pleura. Di antara sel-sel yang ganas limfoma malignum.

Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya yakni:

· Bila efusi tejadi dari implantasi sel-sel limfoma dan permukaan pleura, cairannya adalah eksudat, berisi sel limfosit yang banyak dan sering hemoragik.

· Bila efusi pleura terjadi karena obstruksi saluran getah bening, cairannya bias transudat atau eksudat dan ada limfosit.

· Bila efusi terjadi karena obstruksi duktus torasikus, cairannya akan berbentuk kilus.

· Bila efusi terjadi karena infeksi pleura dan pasien limfoma maligna karena menurunnya resistensi terhadap infeksi, efusi akan berbentuk empiema akut atau kronik.

Seperti pada neoplasma lainnya, efusi pleura yang berulang (efusi maligna) pada limfoma maligna kebanyakan tidak responsif terhadap tindakan torakostomi dan instilasi dengan beberapa zat kimia. Keadaan dengan efusi maligna ini mempunyai prognosis yang buruk.

(12)
(13)
(14)

[14] 4. Manifestasi klinis Efusi Pleura

Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru. Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml), mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thoraks. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami :

 Dispnea

 Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura  Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi

 Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat)

 Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena  Perkusi meredup di atas efusi pleura

 Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi  Suara nafas berkurang di atas efusi pleura

 Fremitus vokal dan raba berkurang 5. Pemeriksaan diagnostik Efusi Pleura

Foto toraks (X Ray)

Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi dari pada bagian medial. Bila permukaannya horizontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dalam paru-paru sendiri. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus. Cairan bebas akan mengikuti posisi gravitasi. Cairan dalam pleura bisa juga tidak membentuk kurva, karena terperangkap atau terlokalisasi. Keadaan ini sering terdapat pada daerah bawah paru-paru yang berbatasan dengan permukaan atas diafragma. Cairan ini dinamakan juga sebagai efusi subpulmonik Gambarannya pada sinar tembus sering terlihat sebagai diafragma yang terangkat. Jika terdapat bayangan dengan udara dalam lambung, ini cenderung menunjukkan efusi subpulmonik. Begitu juga dengan

(15)

[15]

bagian kanan dimana efusi subpulmonik sering terlihat sebagai bayangan garis tipis (fisura) yang berdekatan dengan diafragma kanan.

Untuk jelasnya bisa dilihat dengan foto dada lateral dekubitus, sehingga gambaran perubahan efusi tersebut menjadi nyata. Cairan dalam pleura kadang-kadang menumpuk mengelilingi lobus paru (biasanya lobus kanan) dan terlihat dalam foto sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus, bisa juga mengumpul di daerah paramediastinal dan terlihat dalam foto sebagai fisura interlobaris, bias juga terdapat secara paralel dengan sisi jantung, sehingga terlihat sebagai kardiomegali. Cairan seperti empiema dapat juga terlokalisasi. Gambaran yang terlihat adalah sebagai bayangan dengan densitas keras di atas diafragma, keadaan ini sulit dibedakan dengan tumor paru.

Hal lain yang dapat terlihat dari foto dada pada efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan. Di samping itu gambaran foto dada dapat juga menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat jantung yang membesar, adanya massa tumor, adanya densitas parenkim yang lebih keras pada pneumonia atau abses paru.

Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan dalam rongga pleura. Pemeriksaan ini sangat membentu sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan terutama pada efusi yang terlokalisasi. Pemeriksaan CT scan/dada dapat membantu. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya, sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.

Torakosentesis

Aspirasi cairan pleura (torakosentesis)berguna sebagai sarana untuk diagnostik maupun terapeutik. Pelaksanaannya sebaiknya dilakukan pada pasien dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan memakai jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap kali aspirasi. Aspirasi lebih baik dikerjakan berulang-ulang dari pada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleura shock (hipotensi) atau edema paru akut.

(16)

[16]

Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlallu cepat. Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tapi diperkirakan karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal.

Komplikasi torakosentesis adalah: pneumotoraks (ini yang paling sering udara masuk melalui jarum), hemotoraks (karena trauma pada pembuluh darah interkostalis) dan emboli udara yang agak jarang terjadi.

Dapat juga terjadi laserasi pleura viseralis, tapi biasanya ini akan sembuh sendiri dengan cepat. Bila laserasinya cukup dalam, dapat menyebabkan udara dari alveoli masuk ke vena pulmonalis, sehingga terjadi emboli udara. Untuk mencegah emboli udara ini terjadi emboli pulmoner atau emboli sistemik, pasien dibaringkan pada sisi kiri di bagian bawah, posisi kepala lebih rendah dari leher, sehingga udara tersebut dapat terperangkap di atrium kanan.

Menegakkan diagnosis cairan pleura dilakukan pemeriksaan :

Warna cairan. Biasanya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan (seroussantokrom). Bila agak kemerah-merahan, dapat terjadi trauma, infark paru, keganasan dan adanya kebocoran aneurisma aorta. Bila kuning kehijauan dan agak purulen, ni menunjukkan adanya empiema. Bila merah coklat ini menunjukkan adanya abses karena amuba.

Biokimia. Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Di samping pemeriksaan tersebut di atas, secara biokimia diperiksa juga cairan pleura :

· Kadar ph dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi, arthritis reumatoid dan neoplasma.

(17)

[17]

· Kadar amilase. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis adenokarsinoma.

Transudat. Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat. Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorpsi oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terjadi pada:

1). Meningkatnya tekanan kapiler sistemik, 2). Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner,

3). Menurunnya tekanan koloid osmotik dalampleura, 4). Menurunnya tekanan intra pleura.

Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah: 1). Gagal jantung kiri (terbanyak),

2). Sindrom nefrotik,

3). Obstruksi vena cava superior,

4). Asites pada sirosishati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk melalui saluran getah bening),

5). Sindrom Meig (asites dengan tumor ovarium), 6). Efek tindakan dialisis peritoneal,

7). Exvacuo effusion, karena pada pneumotoraks, tekanan intra pleura menjadi sub-atmosfirsehingga terdapat pembentukan dan penumpukan transudat.

Eksudat. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Terjadinya perubahan permeabilitas membran adalah karena adanya peradangan pada pleura: infeksi, infark paru atau neoplasma. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.

(18)

[18] Sitologi

Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostik penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau dominasi sel tertentu.

· Sel neutrofil: menunjukkan adanya infeksi akut.

· Sel limfosit: menunjukkan adanya infeksi kronik seperti pleuritis tuberkulosa atau limfoma maligna.

· Sel mesotel: bila jumlahnya meningkat, ini menunjukkan adanya infark paru. Biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit.

· Sel mesotel maligna: pada mesotelioma.

· Sel-sel besar dengan banyak inti: pada artritis reumatoid. · Sel L.E: pada lupus eritematosus sistemik.

· Sel maligna: pada paru/metastase. Bakteriologi

Biasanya cairan pleura steril, tapi kadang-kadang dapat mengandung mikroorganisme, apalagi bila cairannya purulen, (menunjukkan empiema). Efusi yang purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob atau anaerob. Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah: Pneumokokkus, E. Coli, klebsiela, pseudomonas, enterobacter. Pleuritis tuberkulosa, biakan cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20%-30%.

Biopsi pleura

Pemeriksaan histopatologi satu atua beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukkan 50-75% diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkulosis dan tumor pleura. Bila ternyata hasil biopsy pertama tidak memuaskan, dapat dilakukan beberapa biopsi ulangan. Komplikasi biopsy adalah pneumotoraks, hematotoraks, penyebaran infeksi atau tumor pada dinding dada.

Pemeriksaan Laboratorium Hb normal : 11,7 – 15,5 Eritrosit normal : 4,20 – 4,87 Lekosit normal : 4,5 – 11,0 PLT normal : 150 – 450 Hematokri normal : 38 – 44

(19)

[19] AGDA ( analisa gas darah)

PH normal : 7,35 – 7,45

PCO² normal : 31 – 50 PO ² normal : 75 – 90

6. Penatalaksanaan Efusi Pleura Pengobatan Efusi Pleura

Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui sela iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multiokular, perlu tindakan operatif. Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologi atau larutan antiseptik (betadine). Pengobatan secara sistemik hendaknya segera diberikan, tetapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat.

Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna), dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura viseralis dan pleura parietalis. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin (terbanyak dipakai) bleomisin, korinebakterium parvum, Tio-tepa, 5 Fluorourasil.

Prosedur Pleurodesis

Pipa selang dimasukkan pada ruang antar iga dan cairan efusi dialirkan ke luar secara perlahan-lahan. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar, masukkan 500 mg tetrasiklin (biasanya oksitetrasiklin) yang dilarutkan dalm 20 cc garam fisiologis ke dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti dengan 20 cc garam fisiologis. Kunci selang selama 6 jam dan selama itu pasien diubah-ubah posisinya, sehingga tetrasiklin dapat didistribusikan kesaluran rongga pleura. Selang antar iga kemudian dibuka dan cairan dalam rongga pleura kembali dialirkan keluar sampai tidak ada lagi yang tersisa. Selang kemudian dicabut. Jika dipakai zat korinebakterium parvum, masukkan 7 mg yang dilarutkan dalam 20 cc garam fisiologis dengan cara seperti tersebut diatas. Komplikasi tindakan pleurodesis ini sedikit sekali dan biasanya berupa nyeri pleuritik atau demam.

WSD

WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada.

(20)

[20] 1.Indikasi

Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus

Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks

Torakotomi Efusi pleura

Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi 2.Tujuan Pemasangan

Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura

Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada. 3.Tempat pemasangan

a.Apikal

Letak selang pada interkosta III mid klavikula Dimasukkan secara antero lateral

Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura b.Basal

Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura

5.Jenis WSD

Sistem satu botol

Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks

Sistem dua botol

Pada system ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal.

System tiga botol

Sistem tiga botol, botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan.

(21)

[21] 7. Asuhan Keperawatan Efusi Pleura

a) Data Dasar Pengkajian Pasien

a) aktifitas/istirahat

Gejala: dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat b) Sirkulasi

tanda: Takikardi

frekuensi tak teratur/disritmia

s3 atau s4/ irama jantung gallop (gagal jantung sekunder terhadap efusi). nadi apical (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal (dengan tegangan pnemotorak).

TD: hipertensi/hipotensi c) Integritas Ego

tanda: ketakutan, gelisah d) Makanan/cairan

tanda: adanya pemasangan IV vena sentral/infus tekanan e) Nyeri/kenyamanan

gejala (tergantung pada ukuran/area yang terlibat):

nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk.

Tajam dan nyeri, menusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu, abdomen

Tanda: berhati-hati pada area yang sakit Perilaku distraksi

(22)

[22] f) Pernafasan

Gejala: kesulitan bernafas, lapar nafas Batuk(mungkin gejala yang ada)

Riwayat bedah dada/trauma; penyakit paru kronis, inflamasi/infeksi paru (empiema/effusi); penyakit interstisial menyebar (sarkoidosis), keganasan (mis, obstruksi tumor)

Tanda: pernafasan: peningkatan frekuensi/takipnea

Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot aksesori pernafasan pada dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat.

Bunyi nafas menurun atau tak ada (sisi yang terlibat). Fremitus menurun (sisi yang terlibat).

Perkusi dada: bunyi pekak di atas area yang terisi cairan.

Observasi dan palpasi pada dada: gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kempes; penurunan pengenbangan torak (area yang sakit). Kulit: pucat, sianosi, berkeringat.

Mental: ansietas, gelisah.

Penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif/terapi PEEP g) Keamanan

gejala: adanya trauma dada

radiasi/kemoterapi untuk keganasan h) Prioritas Keperawatan

1. Meningkatkan/mempertahankan ekspansi paru untuk oksigenasi/ventilasi adekuat

2. Meminimalkan/mencegah komplikasi 3. Menurunkan ketidaknyamanan/nyeri

4. Memberikan informasi tentang proses penyakit, program pengobatan, dan prognosis

(23)

[23] . i) Tujuan Pemulangan

1. Ventilasi/oksigenisasi adekuat dipertahankan 2. Komplikasi dicegah/diatasi

3. Nyeri tak ada/terkontrol

4. Proses penyakit dan prognosisn dan kebutuhan terapi di pahami. b) Diagnosa Keperawatan

1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan adanya penurunan ekspansi paru (Penumpukan cairan dalam rongga pleura).

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi secret terhadap sirkulasi toksin, batuk menetap.

3. Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian jalan nafas berhubungan dengan penyakit saat ini / proses cedera, system dranage dada, kurang pendidikan keamanan / pencegahan

4. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik

5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan

6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita

7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan invasive (WSD)

Penatalaksanaan Keperawatan

1. Diagnosa keperawatan : Ketidak efektifan pernapasan berhubungan dengan adanya penurunan ekspansi paru (akumulasi cairan).

(24)

[24]

Kriteria : Tidak mengeluh sesak napas, RR 20 – 24 X/menit. Hasil Lab GDA dalam batas normal, bebas dispnea, penggunaan otot bantu pernafasan tidak ada.

Intervensi :

1) mengidentifikasi etiologi/factor pencetus

Rasional: penyebab paru kolaps perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan tindakan terapeutik lain

2) Pertahankan Posisi semi fowler.

Rasional : Posisi ini memungkinkan tidak terjadinya penekanan isi perut terhadap diafragma sehingga meningkatkan ruangan untuk ekspansi paru yang maksimal. Disamping itu posisi ini juga mengurangi peningkatan volume darah paru sehingga memperluas ruangan yang dapat diisi oleh udara.

3) Observasi gejala kardinal dan monitor tanda – tanda ketidakefektifan jalan napas.

Rasional : Pemantau lebih dini terhadap perubahan yang terjadi sehingga dapat dimabil tindakkan penanganan segera.

4) Berikan penjelasan tentang penyebab sesak dan motivasi utuk membatasi aktivitas.

Rasional : Pengertian Klien akan mengundang partispasi klien dalam mengatasi permahsalahan yang terjadi.

5) Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam aspirasi caian pleura (Puctie pleura / WSD), Pemberian Oksigen dan Pemeriksaan Gas darah.

Rasional : Puctie Pleura / WSD mengurangi cairan dalam rongga pleura sehingga tekanan dalan rongga pleura berkurang sehingga eskpasi paru dapat maksimal.

2. Diagnosa keperawatan : Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi secret terhadap sirkulasi toksin, batuk menetap.

(25)

[25]

Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapakn nyeri dapat berkurang atau Pasien bebas dari nyeri.

Kriteria : Tidak mengeluh nyeri dada, tidak meringis, Nadi 70 – 80 x/menit. Intervensi :

1) Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik.

Rasional : Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri dalam mencapai sistim saraf sentral.

2) Atur posisi klien yang enak sesuai dengan keadaan yaitu miring ke sisi yang sakit.

Rasional : Dengan posisi miring ke sisi yang sehat disesuaikan dengan gaya gravitasi,maka dengan miring kesisi yang sehat maka terjadi pengurangan penekanan sisi yang sakit.

3) Awasi respon emosional klien terhadap proses nyeri.

Rasional : Keadaan emosional mempunyai dampak pada kemampuan klien untuk menangani nyeri.

4) Ajarkan teknik pengurangan nyeri dengan teknik distraksi.

Rasional : Teknik distrasi merupakan teknik pengalihan perhatian sehingga mengurangi emosional dan kognitif.

5) Oservasi gejala kardinal

Rasional: Pemantau lebih dini terhadap perubahan yang terjadi sehingga dapat dimabil tindakkan penanganan segera.

3. Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian jalan nafas berhubungan dengan penyakit saat ini / proses cedera, system dranage dada, kurang pendidikan keamanan / pencegahan

Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan trauma / penghentian jalan nafas tidak terjadi

(26)

[26]

 Klien mengenal kebutuhan / mencari bantuan untuk mencegah komplikasi  Drainage paten

 Tidak ada tanda-tanda distress pernafasan

Intervensi :

1) Kaji dengan pasien tujuan / fungsi unit drainage dada.

Rasional : informasi tentang bagaimana system bekerja memberikan keyakinan, menurunkan, ansietas pasien

2) Pasangkan kateter thorak ke dinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan / mengubah posisi pasien.

Rasional : mencegah terlepas kateter dada / selang terlipat dan menurunkan nyeri / ketidaknyamanan berhubungan dengan penarikan / mengerekkaan selang.

3) Amankan unit draignage pada TT pasien / pada sangkutan / tempat tertentu pada area dengan lalu lintas

Rasional : mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh / unit pecah.

4) Anjurkan klien untuk menghindari berbaring / menarik selang

Rasional : menurunkan resiko obstruksi draignase / terlepasnya selang 5) Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan kepada perawat.

Contoh: perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba-tiba dan nyeri dada, lepasnya alat

Rasional: intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius. 6) Observasi tanda distress pernafasan bila kateter thorak lepas / tercabut

Rasional : efusi pleura dapat terulang / memburuk karena mempengaruhi fungsi pernafasan dan memerlukan intervensi darurat.

4. Diagnosa keperawatan : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik

(27)

[27]

Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan diharapakn ada perbaikan ventilasi

Kriteria : bunyi nafas lepas jelas, analisa darah dalam batas normal frekuensi nafas 16-20 kali per menit, frekuensi nadi 60-100 kali permenit, tidak ada batuk meningkatnya volume inspirasi.

Intervensi :

1) Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen dan analgesic Rasional : dengan penambahan suplay O2 diharapkan sesak nafas berkurang

sehingga klen dapat istirahat.

2) Beri suasana yang nyaman pada klien dan beri posisi yang menyenangkan yaitu kepala lebih tinggi:

Rasional: Suasana yang nyaman mengurangi rangsangan ketegangan dan sangat membantu untuk bersantai dan dengan posisi lebih tinggi diharapkan membantu paru – paru untuk melakukan ekspansi optimal.

3) Berikan penjelasan terhadao klien pentingnya istirahat tidur.

Rasional : dengan penjelasan diharapkan klien termotivasi untuk memenuhi kebutuhan istirahat secara berlebihan.

4) Tingkat relaksasi menjelang tidur.

Rasional : Diharapkan dapat mengurangi ketegangan otot dan pikiran lebih tenang.

5) Bantu klien untuk melakukan kebiasaannya menjelang tidur.

Rasional : Dengan tetap tidak mengubah pola kebiasaan klien mempermudah klien untuk beradaptasi dengan lingkungan.

5. Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan diharapkan klien dapat melakukan aktivtas dengan bebas.

(28)

[28]

Kriteria : Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Intervensi :

1) Bimbing klien melakukan mobilisasi secara bertahap.

Rasional : Dengan latihan secara bertahap klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.

2) Latih klien dalam memenuhi kebutuhan dirinya. Rasonal : Diharapkan ada upaya menuju kemandirian.

3) Ajarkan pada klien menggunakan relaksasi yang merupakan salah satu teknik pengurangan nyeri.

Rasional : Pengendalian nyeri merupakan pertahanan otot dan persendian dengan optimal.

4) Jelaskan tujuan aktifitas ringan.

Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif. 5) Observasi reaksi nyeri dan sesak saat melakukan aktifitas.

Rasional : Dengan mobilisasi terjadi penarikan otot, hal ini dapat meningkatkan rasa nyeri.

6) Anjurkan klien untuk mentaati terapi yang diberikan. Rasional : Diharapkan klien dapat kooperatif.

6. Diagnosa Keperawatan : ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan cemas berkurang. Kriteia : Klien tenang, klien mampu bersosialisasi.

Intervensi :

1) Berikan dorongan pada klien untuk mendiskusikan perasaannya mengemukakan persepsinya tentang kecemasannya.

(29)

[29]

Rasional : Membantu klien dalam memperoleh kesadaran dan memahami keadaan diri yang sebenarnya.

2) Jelaskan pada klien setiap melakukan prosedur baik keperawatan maupun tindakan medis.

Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif dan mengurangi kecemasan klien

3) Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan tentang penyakitnya.

Rasional : Dengan penjelasan dari petugas kesehatan akan menambah kepercayaan terhadap apa yang dijelaskan sehingga cemas klien berkurang.

7. Diagnosa Keperawatan : resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (WSD)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan tidak ada tanda-tanda infeksi.

Kriteia : suhu tubuh 370C, kadar leukosit 5000-10000 / mm3, luka sembuh setelah selang dada di angkat

Intervensi : 1. Pantau:

 Keadaan luka sewaktu mengganti balutan  Suhu setiap 4 jam sekali

 Keadaan balutan pada setiap akhir pergantian shift

Rasional : untuk mengganti indikasi adanya proses kemajuan atau penyimpangan dari pasien.

2. Berikan antibiotic sesuai anjuran dan evaluasi kefektifannya. Atur jadwal pengobatan yang telah ditentukan sehingga kadar dipertahankan.

(30)

[30] 8. Komplikasi

1. Fibrotoraks

Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya. Pembedahan pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan membrane-membran pleura tersebut.

2. Atalektasis

Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.

3. Fibrosis paru

Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

4. Kolaps Paru

Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

(31)

[31] BAB III

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

Waktu : 25/01/2013

Tempat : Ruang Mawar RSUD Dr. M Djamil

1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A

Umur : 50 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia Agama : Islam Pekerjaan : Petani Pendidikan : SD Alamat : Siteba RT 001 RW 001 Kota Padang

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 20/01/2013

Cara Masuk Rumah Sakit : Masuk melalui UGD atas rujukan

Puskesmas Belimbing

Diagnosa Medis : Efusi Pleura Dekstra

Alasan dirawat : Napas sesak, batuk, dada nyeri Demam, cepat lelah saat beraktifitas Keluhan Utama : Napas sesak

Upaya yang telah dilakukan : Berobat ke Puskesmas Belimbing Terapi/Operasi yang pernah dilakukan : Terapi tidak diketahui / Operasi

(32)

[32] 2. RIWAYAT KEPERAWATAN

1) Riwayat Penyakit Sekarang

Tn. A dirawat di RSUD Dr. M Djamil sejak 5 hari yang lalu atas rujukan Puskesmas belimbing dengan keluhan napas sesak, batuk, demam, dada sebelah kanan nyeri dan sering cepat lelah saat beraktifitas. Pada saat dikaji Tn. A masih sesak napas, batuk berdahak, nyeri dada sebelah kanan menjalar ke punggung, nyeri sedang, skala nyeri 5 (1-10), napas bertambah sesak setelah beraktifitas dan berkurang pada saat beristirahat pada posisi semi fowler.

2) Riwayat Penyakit Dahulu

Sejak 1 tahun yang lalu klien sering mengeluh batuk-batuk, namun keluhan hilang setelah berobat ke puskesmas atau dokter.

3) Riwayat Penyakit Keluarga

Klien mengatakan diantara anggota keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang bersifat herediter, seperti DM, Asma, dan lain-lain.

GENOGRAM

Perempuan Klien Laki-laki meninggal

(33)

[33] 4) Keadaan Kesehatan Lingkungan

Menurut pengakuan klien, merasa nyaman dengan lingkungan fisik maupun sosialnya. Klien tinggal di pedesaan. Rumah klien bersifat permanen dengan lantai keramik. Luas rumah kurang lebih 100 m2 yang terdiri dari 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Ventilasi dan pencahayaan rumah melalui jendela kaca yang bisa dibuka tutup. Sumber air minum dari sumur pompa, sarana pembuangan air limbah (SPAL) menggunakan septik tank.

5) Riwayat Kesehatan Lainya

Tidak ada riwayat penggunaan narkotikapsikotropika dan zat adiktif. 3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan Umum :

Penampilan : Tampak sesak, napas cepat dan dangkal, ekspresi wajah meringis saat berubah posisi.

Kesadaran : Composmentis, GCS 15 (E4V5M6) 2) Tanda-tanda Vital : Suhu : 37,5 o C Nadi : 100 x/menit Tekanan Darah : 160/90 mmHg Respirasi : 32 x/menit 3) Pengkajian a. Pemeriksaan Fisik 1. Sistem Pengindaran

(34)

[34]

a Penglihatan

Konjungtiva kedua mata ananemis, sklera kedua mata anikterik, reflex cahaya (+), reflex kornea (+), ptosis (-), distribusi kedua alis merata, tajam penglihatan normal (klien dapat membaca huruf pada koran pada jarak baca sekitar 30 cm) , strabismus (-), lapang pandang pada kedua mata masih dalam batas normal, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan pada kedua mata.

b Penciuman

Fungsi penciuman baik ditandai dengan klien dapat membedakan bau kopi dan kayu putih.

c Pendengaran

Tidak ada lesi pada kedua telinga, tidak ada serumen, fungsi pendengaran pada kedua telinga baik ditandai dengan klien dapat menjawab seluruh pertanyaan tanpa harus diulang, tidak ada nyeri tekan pada kedua tulang mastoid, tidak ada nyeri tekan pada tragus, tidak ada massa pada kedua telinga. d Pengecapan/Perasa

Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis, asam, asin dan pahit.

e Peraba

Klien dapat merasakan sentuhan ketika tangannya dipegang, klien dapat merasakan sensasi nyeri ketika dicubit.

2. Sistem Pernafasan

Mukosa hidung merah muda, lubang hidung simetris, tidak ada lesi pada hidung, polip (-), keadaan hidung bersih, sianosis (-), tidak ada nyeri tekan pada area sinus, tidak ada lesi pada daerah leher dan dada, tidak ada massa pada daerah leher, bentuk dada simetris, nyeri tekan pada daerah dada sebelah kanan, pergerakan dada tidak simetris, pernapasan cuping hidung (+), retraksi interkosta (+), ronchi (+), batuk berdahak, mukus kental, pola nafas cepat dan dangkal.

(35)

[35]

3. Sistem Pencernaan

Keadaan bibir simetris, mukosa bibir lembab, stomatitis (-), terdapat gigi yang tanggal pada geraham kanan bawah, lidah berwarna merah muda, tidak ada nyeri saat menelan, tidak ada pembesaran hepar, bising usus 9 x / menit.

4. Sistem Kardiovaskuler

Tidak ada peningkatan vena jugularis, Capillary Refill Time (CRT) kembali < 2 detik, bunyi perkusi dullness pada daerah ICS 2 lineasternal dekstra dan sinistra, terdengar jelas bunyi jantung S1 pada ICS 4 lineasternal sinistra dan bunyi jantung S2 pada ICS 2 lineasternal sinistra tanpa ada bunyi tambahan, irama jantung reguler.

5. Sistem Urinaria

Tidak ada keluhan nyeri atau sulit BAK, tidak terdapat distensi pada kandung kemih, tidak ada nyeri tekan pada daerah supra pubis.

6. Sistem Endokrin

Pada saat dilakukan palpasi tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tremor (-), tidak ada tanda kretinisme, tidak ada tanda gigantisme.

7. Sistem Muskuloskeletal a) Ekstremitas Atas

Kedua tangan dapat digerakkan, reflek bisep dan trisep positif pada kedua tangan. ROM (range of motion) pada kedua tangan maksimal, tidak ada atrofi otot kedua tangan, terpasang infuse pada tangan kiri.

b) Ekstremitas Bawah

Kedua kaki dapat digerakkan dan klien dapat berjalan ke kamar mandi, reflek patella (+), reflek babinski (-), tidak ada lesi, tidak ada edema, tidak ada atropi otot.

(36)

[36]

8. Sistem Reproduksi

Tidak ada lesi, tidak ada benjolan pada penis dan kedua testis. Klien sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak.

9. Sistem Integumen

Warna kulit sawo matang, keadaan kulit kepala bersih, rambut tumbuh merata, uban (+), turgor kulit baik, tidak ada lesi.

10. Sistem Persyarafan

Orientasi klien terhadap orang, tempat dan waktu baik. a) Nervus I (Olfaktorius)

Fungsi penciuman hidung baik, terbukti klien dapat membedakan bau kopi dan kayu putih.

b) Nerfus II (Optikus)

Fungsi penglihatan baik, klien dapat membaca koran pada jarak sekitar 30 cm. c) Nerfus III (Oculomotorius)

Reflek pupil mengecil sama besar pada saat terkena cahaya, klien dapat menggerakkan bola matanya ke atas.

d) Nerfus IV (Tochlearis)

Klien dapat menggerakkan bola matanya kesegala arah. e) Nerfus V (Trigeminus)

Klien dapat merasakan sensasi nyeri dan sentuhan. f) Nerfus VI (Abdusen)

(37)

[37]

g) Nerfus VII (Facialis)

Klien dapat menutup kedua mata, menggerakkan alis dan dahi, klien dapat tersenyum, ada rangsangan nyeri saat dicubit.

h) Nerfus VIII (Aksutikus)

Fungsi pendengaran baik, klien dapat menjawab pertanyaan perawat tanpa diulang. i) Nerfus IX (Glosofaringeal)

Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis, asin dan pahit. j) Nerfus X (Vagus)

Reflek menelan baik. k) Nerfus XI (Asesorius)

Leher dapat digerakkan ke segala arah, klien dapat menggerakkan bahunya. l) Nerfus XII (Hipoglosus)

Klien dapat menggerakkan dan menjulurkan lidahnya. b. Pola Aktifitas Sehari-hari

1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Klien berpandangan bahwa sehat itu sangat berharga karena saat sakit ia tidak dapat melakukan aktivitas dengan bebas. Klien berusaha untuk selalu berperilaku hidup sehat seperti cuci tangan sebelum makan dan gosok gigi sebelum tidur dan sesudah makan, mengkonsumsi makanan bergizi serta tidak menyalahgunakan obat-obatan, klien suka merokok.

2. Pola Nutrisi dan Metabolisme

Dirumah : klien makan teratur 3 x/hari, minum sebanyak ± 8-9 gela/hari, terbiasa minum ai putih, tidak ada kesulitan menelan, klien tidak pernah diet khusus , postur tubuh kurus, tidak ada riwayat alergi makanan.

(38)

[38]

Di rumah sakit : klien makan teratur 3 x/hari, diet bubur, porsi makan habis 1 porsi.

3. Pola Eliminasi

BAK/BAB dilakukan di toilet secara mandiri, frekuensi BAK 3-4 kali sehari dengan warna urine kuning jernih dan berbau ammonia. Sudah 2 hari belum BAB, Flatus (+). Di rumah atau di rumah sakit klien tidak pernah menggunakan obat-obat untuk memperlancar BAB maupun BAK.

4. Pola Aktifitas dan Latihan

Di Rumah Sakit sehari-hari hanya berbaring di tempat tidur. Di rumah klien setiap hari rajin ke sawah. Penggunaan alat bantu (-), tidak ada kesulitan gerak.

Di rumah klien tidur jam 22.00 sampai dengan jam 04.30 dan jarang tidur siang. Di Rumah sakit klien tidur jam 22.00 sampai dengan 05.00, gangguan tidur (-). 5. Pola Kognitif dan Perseptual

Klien dapat melihat dengan baik, klien mampu melihat dengan jelas tulisan dari jarak kurang lebih 30 cm. Indra perasa klien juga berfungsi baik, klien dapat mengecap rasa asin, manis dan pahit.

Klien mengetahui penyakitnya dengan bertanya kepada dokter dan perawat, klien dapat menyebutkan bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit par-paru basah.

6. Persepsi dan Konsep Diri

Klien merasakan sakitnya sebagai sebuah stressor dan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Secara lengkap konsep diri klien dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Body image / gambaran diri

Klien mengatakan menerima dengan keadaan tubuhnya walaupun merasa cemas dengan kondisinya sekarang.

(39)

[39]

b) Ideal diri

Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarganyan dan kembali bekerja.

c) Harga diri

Sejak klien dirawat di Rumah Sakit, semua kebutuhan klien banyak dibantu oleh keluarganya serta perawat sehingga klien merasa sangat diperhatikan. d) Identitas diri

Klien mampu menyebutkan nama, umur, pekerjaan dan lain-lain pada saat dilakukan pengkajian.

e) Peran diri

Klien adalah seorang kepala keluarga dengan 3 orang anak dan merasa dengan konsisi sakitnya klien tidak dapat menjalankan perannya.

7. Pola Hubungan dan Peran

Klien adalah anak pertama dari empat bersaudara. Klien sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak, hubungan klien dengan anggota keluarga, saudara dan dengan lingkungan tempat tinggal klien baik. Klien juga kooperatif terhadap dokter dan perawat.

8. Pola Reproduksi Seksual

Klien pertama kali mimpi basah pada saat kelas 1 SMP, klien sekarang sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak.

9. Pola Penanggulangan Stress

Klien selalu menganggap masalah sebagai suatu cobaan hidup yang harus dijalaninya, klien berpandangan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Setiap ada masalah selalu dimusyawarahkan dalam keluarga.

(40)

[40]

Di lingkungan tempat tinggalnya terdapat kepercayaan masyarakat yang berpandangan bahwa ketika sakit tidak boleh keramas, memotong rambut dan kuku (pamali), dan apabila ada luka tidak boleh mengkonsumsi makanan yang anyir-anyir. 11. Personal Higiene

Di Rumah Sakit klien mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas belum pernah tetapi rambut klien tampak bersih, gunting kuku juga belum pernah karena kukunya masih pendek. Semua aktivitas personal hygiene dilakukan dengan bantuan keluarga.

12. Ketergantungan

Klien tidak mempunyai riwayat ketergantungan terhadap obat-obat tertentu, termasuk alkohol. Klien seorang perokok.

c. Aspek Psikologis

Klien selalu menanyakan tentang kondisi penyakitnya, berapa lama penyakitnya akan sembuh sehingga klien bisa beraktivitas seperti biasanya, klien juga selalu menanyakan tindakan yang dilakukan. Ekspresi wajah klien tampak lesu.

d. Aspek Sosial/Interaksi

Hubungan klien dengan anggota keluarga, saudara dan dengan lingkungan tempat tinggal klien baik. Klien juga kooperatif terhadap dokter dan perawat.

e. Aspek Spiritual

Klien selalu menanyakan tentang kondisi penyakitnya, berapa lama penyakitnya akan sembuh sehingga klien bisa beraktivitas seperti biasanya, klien juga selalu menanyakan tindakan yang dilakukan. Ekspresi wajah klien tampak lesu.

(41)

[41] 4. DIAGNOSTIC TEST A. Laboratorium JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL ANALISA HB 11,9 12-18 Normal Leukosit 16.600 4000-10.000 Tinggi LED 30 0-20 Tinggi PCV 36 37-48 Normal Trombosit 203.000 150.000-300.000 Normal GDS 180 < 150 Di atas normal Cholesterol 82 150-220 Normal

Asam urat 3,2 2-7,0 Normal

Creatinin 0,9 0,8-1,5 Normal

SGOT 34 s/d 29 Di atas normal

SGPT 26 s/d 29 Normal

BTA Negatif

B. Radiologi

Rontgen : Paru paru kanan terlihat sampai iga ke delapan, tertutup oleh cairan pleura.

USG : -

(42)

[42] D. TERAPI :

No. Nama Obat Dosis Jam Cara Pemberiaa n

Sediaan

1 IVFD : RL 12 tts/menit

Intra vena Flabot

2 Ceftazidin 2 x 1 gr 08-20 Intra vena Flakon

3 Metronidaz

ol

3 x 1 gr 08-16-24 Intra vena Flakon 4 Ranitidin 2 x 1 08-20 Intra vena Ampul 5 Parasetamol 3 x 1 08-16-24 Per oral Tablet

6 RHEZ 1 x 1 08 Per oral Tablet

7 Tramadol 2 x 1 08-20 Per oral Tablet 8 Mucohexin 3 x 1 08-16-04 Per oral Tablet

5. ANALISA DAN SINTESA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

Data subjektif  Klien mengeluh batuk berdahak Data objektif  Ronchi (+)  Mukus putih kekuningan kental  PCH (+)  Retraksi interkostal (+)  Leukosit : 16.600  LED : 30  Rontgen : efusi pleura kanan

Proses peradangan pada rongga pleura Merangsang sel goblet

Produksi mukus meningkat Mukus tertahan di saluran

napas Akumulasi secret di

saluran napas Upaya batuk buruk Bersihan jalan napas tidak

efektif

Bersihan jalan napas tidak efektif Data subjektif  Klien mengeluh sesak napas Data objektif  Respirasi 32 x/menit  Nadi 100 x/menit

 Pola napas cepat dan dangkal

Efusi Pleura Akumulasi cairan pada rongga pleura

Tekanan intra pleura meningkat Ekspansi paru menurun

Napas cepat & dangkal

(43)

[43]

Pola napas tidak efektif

Data subjektif  Klien mengeluh nyeri dada sebelah kanan menjalar ke punggung Data objektif  Skala nyeri 5 (1-10)  Klien tampak meringis saat berubah posisi Efusi Pleura Proses inflamasi pada rongga pleura dan cairan

menekan dinding pleura Rangsangan pada reseptor nyeri Nyeri Nyeri dada Data Subyektif :  Klien mengeluh tidak tahu tentang pengelolaan penyakitnya Data Obyektif :  Klien sering bertanya mengenai keadaan penyakitnya  Klien sering mengulang pertanyaan yang sama Kurang informasi Keterbatasan kognitif Perilaku tidak sesuai/Ungkapan verbal dari ketidaktahuan Kurang pengetahuan

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS

8. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan adanya penurunan ekspansi paru (Penumpukan cairan dalam rongga pleura)

9. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik

10.Nyeri dada berhubungan dengan penekanan dinding pleura oleh cairan efusi pleura

(44)

[44]

11.Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan pengobatan, dan pemeriksaan diagnostic berhubungan dengan kurang terpajan informasi

III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

TGL DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN RENCANA TINDAKAN RASIONAL 25/01

/2013 Ketidakefektifan bersihan jalan

nafas berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial,

pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri pleuritik, yang ditandai dengan :

Data subjektif

 Klien mengeluh batuk

berdahak Data objektif  Ronchi (+)  Mukus putih kekuningan kental  Retraksi interkostal (+)  Leukosit : 16.600  LED : 30

 Rontgen : efusi pleura

kanan

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 x 24 jam bersihan jalan napas efektif, dengan kriteria : keluar (+) -) Respirasi : 16-20 x/menit 1. Berikan posisi semi fowler (30° - 45°) 2. Ajarkan pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif 3. Lakukan postural drainage 4. Kolaborasi pemberian ekspectoran pada pasien 5. Anjurkan pasien untuk banyak minum, terutama air hangat 1. Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi, dan untuk meningkatkan ekspansi paru. 2. Nafas dalam membantu memenuhi kecukupan O2 dan memobilisasi secret untuk membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan. 3. Memobilisasi secret untuk membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan. 4. Obat yang membantu untuk mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan. 5. Untuk mengencerkan secret sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

(45)

[45]

25/01

/2013 Ketidak efektifan pola nafas

berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru (penumpukan

cairan dalam rongga pleura), yang

ditandai dengan : Data subjektif

 Klien mengeluh sesak

napas Data objektif

 Respirasi 32 x/menit

 Nadi 100 x/menit

 Pola napas cepat dan

dangkal Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal, dengan kriteria :

-)

Irama dan kedalaman napas dalam batas normal

Frekuensi napas 16-20 x/menit 1. Identifikasi faktor penyebab. 2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi. 3. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat. 4. Observasi tanda-tanda vital (Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.

5. Lakukan auskultasi suara napas tiap 2-4 jam 6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.

7. Kolaborasi untuk

pemberian O2 dan

obat-obatan.

1. Dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. 2. Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. 3. Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. 4. Peningkatan RR dan tachicardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. 5. Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. 6. Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif. 7. Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis.

25/01

/2013 Nyeri dada berhubungan dengan

penekanan dinding pleura oleh cairan efusi pleura, yang ditandai dengan :

Data subjektif

 Klien mengeluh nyeri

dada sebelah kanan menjalar ke punggung Data objektif

 Klien tampak meringis

saat berubah posisi

 Skala nyeri 5 (1-10) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil : Klien mengungkapkan secara verbal rasa nyeri hilang.

1. Observasi TTV 2. Kaji lokasi dan intensitas nyeri. 3. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan. 4. Dorong

menggunakan teknik manajemen relaksasi.

1. Sebagai data awal untuk melihat keadaan umum klien 2. Sebagai data dasar mengetahui seberapa hebat nyeri yang dirasakan sehingga mempermudah intervensi selanjutnya. 3. Reaksi non verba menandakan nyeri

(46)

[46] (1-10) lien dapat rileks. TTV dalam batas normal 5. Kolaborasikan obat analgetik sesuai indikasi

yang dirasakan klien hebat

4. Untuk mengurangi ras nyeri yang dirasakan klien dengan non farmakologis 5. Mempercepat penyembuhan terhadap nyeri 25/01 /2013 Kurangnya pengetahuan

(kebutuhan belajar) mengenai

kondisi, aturan pengobatan, dan

pemeriksaan diagnostic

berhubungan dengan kurang

terpajan informasi:

Data subjektif

 Klien mengeluh tidak

tahu tentang pengelolaan penyakitnya

Data objektif

 Klien sering bertanya

mengenai keadaan penyakitnya

 Klien sering mengulang

pertanyaan yang sama

setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit klien dan keluarga mengerti tentang pengelolaan penyakitnya , dengan kriteria hasil : Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali tentang penyakitnya Mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas 1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya 2. Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan penyebab. Jelaskan kondisi tentangklien 3. Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan 4. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi 5. Diskusikan tentang terapi dan pilihannya

1. Mempermudah dalam memberikan penjelasan pada klien 2. Meningkatan pengetahuan dan mengurangi cemas 3. Mempermudah intervensi 4. Mencegah keparahan penyakit 5. Memberi gambaran tentang pilihan terapi yang bisa digunakan

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan ketiga yang akan dilakukan sekarang yakni melakukan perancangan tata letak fasilitas dengan menggunakan fasilitas meja yang telah diteliti sebelumnya pada

Menurut modul obat rasional yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan tahun 2011, penggunaan obat yang tidak rasional terjadi apabila dalam pemberian resep kepada pasien

Beberapa file system implementasi memungkinkan snapshot untuk diambil. Ini menyeddiakan salinan logika menyangkut file system pada titik yang telah ditentukan

Disamping itu, jumlah responder1 yang hanya 60 petani untuk empat kabupeten dengan jumlah petaninya yang sangat banyak memungkinkan terjadinya bias dalam pengumpulan

Semakin luas pangsa pasar dan unggul dalam persaingan atau memiliki kekuatan daya saing produk yang tinggi dipasaran memungkinkan produk tersebut mendatangkan keuntungan

Banyak luka dada serius mungkin diabaikan pada radiografi dada awal; ini termasuk tracheobronchial tears, ruptur diafragma, esophageal tears, cedera tulang belakang dada,

Pura Barutama melakukan pemasaran dengan sistem semi-job order, yang artinya perusahaan ini melakukan produksi apabila ada permintaan dari konsumen untuk produk- produk

Jika tidak memungkinkan untuk memberikan pernafasan melalui mulut korban dapat dilakukan pernafasan mulut ke hidung korban.Untuk pemberian melalui bag mask