Panduan Pcra

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PANDUAN PANDUAN

ASSEMEN RISIKO PRA KONSTRUKSI ASSEMEN RISIKO PRA KONSTRUKSI

RUMAH SAKIT BORNEO CITRA

RUMAH SAKIT BORNEO CITRA MEDIKAMEDIKA

TAHUN 2019 TAHUN 2019

Jalan A. Yani Rt. 7B Rw. 03 Kelurahan Angsau Kecamatan Pelaihari Jalan A. Yani Rt. 7B Rw. 03 Kelurahan Angsau Kecamatan Pelaihari

Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan

Kode

Kode Pos : Pos : 70814 70814 Telp Telp : (0512) : (0512) 20210022021002 Web :

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, penulis ucapkan sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis untuk pembuatan  panduan ini dengan judul :”Panduan Asesmen Risiko Pra Kontruksi Di RSU Borneo Citra Medika Pelaihari”. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang telah mengajar dan membimbing umatnya dari segala bentuk kejahilan dan kebodohan menuju umat yang berbudi luhur dan bermoral serta menjadikan umatnya agar senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT.

Pedoman ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Proses Akreditasi RSU Borneo Citra Medika Pelaihari. Meskipun pedoman ini sudah dibuat semaksimal mungkin, namun dalam pelaksanaannya, Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifatmembangun.

Semoga Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Pelaihari, Desember 2018

(3)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... 1 KATA PENGANTAR ... 2 DAFTAR ISI ... 3 BAB I PENDAHULUAN ... 4 A. Latar Belakang ... 4 B. Tujuan ... 5 C. Sasaran ... 5

BAB II RUANG LINGKUP... 6

BAB III TATA LAKSANA ... 7

A. Langkah Pertama ... 7 B. Langkah Kedua ... 8 C. Langkah Ketiga ... 8 D. Langkah Keempat ... 9 E. Langkah Kelima ... 10 F. Langkah Keenam ... 10 G. Langkah Ketujuh ... 10 H. Langkah Kedelapan ... 11 I. Langkah Kesembilan ... 11 J. Langkah Kesepuluh ... 11 K. Langkah kesebelas ... 11

L. Langkah Kedua Belas ... 11

M.Langkah Ketiga Belas ... 11

 N. Langkah Keempat Belas ... 11

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kontruksi / pembangunan baru di sebuah rumah sakit dapat berdampak pada setiap orang di rumah sakit dan pasien dengan kerentanan tubuhnya dapat menderita dampak terbesar. Kebisingan dan getaran yang terkait dengan kontruksi dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan pasien dan istirahat/tidur pasien dapat pula terganggu. Debu konstruksi dan bau dapat mengubah kualitas udara yang dapat menimbulkan ancaman khususnya bagi pasien dengan ganggunganpernapasan.

Karena itu, rumah sakit perlu melakukan asemen risiko setiap ada kegiatan kontruksi, renovasi maupun demolisi/pembongkaran bangunan. Asesmen risiko harus sudah dilakukan pada waktu perencanan atau sebelum pekerjaan kontruksi, renovasi, demolisi dilakukan, sehingga pada waktu pelaksanaan, sudah ada upaya pengurangan risiko terhadap dampak dari kontruksi, renovasi, demolis tersebut.

Dalam rangka melakukan asesmen risiko yang terkait dengan proyek konstruksi  baru, rumah sakit perlu melibatkan semua departemen/unit/instalasi pelayanan klinis yang

terkena dampak dari kontruksi baru tersebut, konsultan perencana atau manajer desain  proyek, Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K-3 RS), Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Bagian Rumah Tangga/Bagian Umum, Bagian Teknologi Informasi, Bagian Sarana Prasarana/IPSRS dan unit atau bagian lai nnya yangdiperlukan.

Risiko terhadap pasien, keluarga, staf, pengunjung, vendor, pekerja kontrak, dan entitas diluar pelayanan dapat bervariasi tergantung pada sejauh mana kegiatan konstruksi dan dampaknya terhadap infrastruktur dan utilitas. Sebagai tambahan, kedekatan  pembangunan ke area pelayanan pasien dapat berdampak pada meningkatnya tingkat risiko1Misalnya, jika konstruksi melibatkan gedung baru yang terletak terpisah dari  bangunan yang menyediakan pelayanan saat ini, maka risiko untuk pasien dan  pengunjung cenderung menjadi minimal.

Risiko dievaluasi dengan melakukan asesmen risiko pra-konstruksi, juga dikenal sebagai PCRA (Pra-Contruction Risk Assessment). Asesmen risiko pra konstruksi secara komprehensif dan proaktif digunakan untuk mengevaluasi risiko dan kemudian mengembangkan rencana agar dapat meminimalkan dampak kontruksi, renovasi atau

(5)

 penghancuran (demolish) sehingga pelayanan pasien tetap terjaga kualitas dankeamanannya.

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan  pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Pengelolaan rumah sakit sebagai institusi pelayanan  publik harus dikelola secara aman untuk mencegah terjadinya kecelakaan/insiden, yang tidak diinginkan atau tindak kekerasan, pencurian dan lain-lain di lingkungan rumah sakit yang diakibatkan oleh kondisi fasilitas fisik.

Dalam upaya untuk menjamin bahwa kegiatan operasional rumah sakit selalu dalam keadaan aman, nyaman dan terhindar dari kecelakaan / insiden pencemaran, maka  perlu disusun panduan asesmen manajemen pra kontruksi.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan dari proses penilaian risiko Pra-Konstruksi ini adalah untuk mengidentifikasi potensi risiko yang bisa timbul dari kegiatan ini dan untuk mengembangkan strategi mitigasi risiko untuk meminimalkan risiko ini.

2. Tujuan Khusus

a. Memastikan tidak adanya pencemaran udara saat akan diadakan kontruksi  b. Melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi

c. Memastikan tidak terganggunya sistem utilitas

d. Memastikan tidak adanya kebisingan saat pengerjaan yang mengganggu kenyamanan pasien

e. Tidak adanya getaran yang dapat mengakibatkanbencana f. Menempatkan bahan berbahaya di tempat khus danaman

g. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hubungi bagian informasi

h. Pihak pelaksanan memanilisir dan mencegah bahaya lain yang mempengaruhi  perawatan, pengobatan, dan layanan.

C. Sasaran

1. Pimpinan RumahSakit

2. Ketua dan anggota panitia K3 3. Tenaga pengawas

(6)

BAB II

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Panduan asesmen risiko pra kontruksi, mencakup :

A. Memastikan tidak adanya pencemaran udara saat akan diadakan kontruksi B. Melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi

C. Memastikan tidak terganggunya sistem utilitas

D. Memastikan tidak adanya kebisingan saat pengerjaan yang mengganggu kenyamanan pasien E. Tidak adanya getaran yang dapat mengakibatkan bencana

F. Menempatkan bahan berbahaya di tempat khusus dan aman

G. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hubungi bagian informasi

H. Pihak   pelaksanan meminimanilisir  dan mencegah  bahaya lain yang mempengaruhi perawatan, pengobatan, dan layanan.

(7)

BAB III

TATALAKSANA PELAYANAN

A. Langkah Pertama

Melakukan identifikasi tipe/jenis kontruksi kegiatan proyek (Tipe A-D) : 1. Tipe A : Inspeksi dan Kegiatan Non-Invasive.

Termasuk tetapi tidak terbatas pada :

a. Mengganti ubin langit-2 (plafon) untuk inspeksi visual saja. Misalnya : terbatas  pada 1 genting/plafon per 50 meter persegi.

 b. Pengecatan (tetapi tidak pengamplasan)

c. Wallcovering, pekerjaan listrik, pipa kecil, dan kegiatan yang tidak menghasilkan debu atau memerlukan pemotongan dinding atau akses ke langit-langit selain untuk pemeriksaan yang kelihatan.

2. Tipe B : Skala kecil, kegiatan durasi pendek yang menciptakan debu minimal. Termasuk, tetapi tidak terbatas pada:

a. Instalasi telepon dan perkabelan komputer.  b. Akses ke ruang terbuka.

c. Pemotongan dinding atau langit-2 dimana migrasi debu dapat di kontrol

3. Tipe C : Pekerjaan yang menghasilkan debu tingkat sedang hingga tinggi atau memerlukan pembongkaran atau pemindahan / penghapusan / pembersihan komponen bangunan tetap ataurakitan.

Termasuk tetapi tidak terbatas pada :

a. Pengampalasan dinding untuk pengecatan atau penutup dinding pemindahan /  penghapusan / pembersihan penutup lantai, plafon langit-2 dan pekerjaan khusus.  b. Kontruksi dinding baru.

c. Pekerjaan saluran kecil atau pekerjaan listrik di atas langit-langit d. Kegiatan kabel utama

e. Kegiatan apapun yg tidak dpt diselesaikan dalam shift kerja tunggal. 4. Tipe D : Pembongkaran dan kontruksi proyek-2 besar.

Termasuk tetapi tidak terbatas pada:

(8)

 b. Memerlukan pembongkaran berat atau pemindahan / penghapusan sistem perkabelan lengkap.

c. Kontruksi baru. B. Langkah Kedua

Low Risk Medium Risk High Risk Highest Risk

Office • Cardiology • CCU • Any area caring for areas • Echocardiography • EmergencyRoom immunocompromise

• Endoscopy • Labor &Delivery patients • NuclearMedicine • Laboratories • BurnUnit

• PhysicalTherapy (specimen) • Cardiac Cath Lab • Radiology/MRI • MedicalUnits • Central Sterile • RespiratoryTherapy • NewbornNursery Supply

• OutpatientSurgery • Intensive CareUnits • Pediatrics • Negative pressure • Pharmacy isolationrooms • Post Anesthesia Care • Oncology

Unit • Operating rooms • SurgicalUnits includingC-section

rooms

C. Langkah Ketiga

Patient Risk Group Construction Project Type

Type A Type B Type C Type D

Low Risk Group I II II III/IV

Medium Risk Group I II III IV

(9)

Highest Risk Group II III/IV III/V IV

D. Langkah Keempat

Diperlukan Deskripsi Tindakan Pengendalian Infeksi Berdasarkan Kelas

CLASS Selama pembangunan proyek Setelah penyelesaian proyek

I

1. Laksanakan pekerjaan dengan metode meminimalisasi timbulnya debu dari pelaksanaan kegiatan kontruksi.

2. Segera meletakan kembali ketempat semula plafon atap yg diganti untuk  pemeriksaan yg kelihatan.

Bersihkan area kerja setelah menyelesaikan tugas

II

1. Menyediakan sarana aktif utk mencegah debu udara dari  penyebaran ke atmosfer.

2. Air kabut permukaan kerja untuk mengendalikan debu pada waktu  pemotongan..

3. Seal pintu yang tidak terpakai dengan lakban.

4. Blokir dan tutup ventilasi udara. 5. Tempatkan tirai debu di pintu masuk

dan keluar area kerja.

6. Hilangkan atau isolasi system HVAC ("heating, ventilation, dan air-conditioning) yang sedang dilaksanakan.

1. Lap permukaan kerja dengan  pembersih/desinfektan.

2. Wadah yg berisi limbah kontruksi sebelum di transportasi harus tertutup rapat. 3. Pel basah dan/atau vakum

dengan HEPA filter, vakum sebelum meninggalkan area kerja.

4. Setelah selesai, mengembalikan sistem HVAC dimana pekerjaan dilakukan.

III

1. Untuk mencegah kontaminasi dari

sistem saluran maka

hilangkan/lepaskan atau isolasi sistem HVAC di area, dimana  pekerjaan sedang dilakukan.

2. Lengkapi semua barier penting yaitu sheetrock, plywood, plastic untuk menutup area dari area yg tdk untuk kerja atau menerapkan metode  pengendalian kubus (gerobak dengan  penutup plastik & koneksi disegel ke tempat bekerja dng HEPA vakum untuk menyedot debu sebelum

1. Jangan menghilangkan barrier dari area kerja sampai proyek selesai diperiksa oleh Komite/Panitia PIRS. Dibersihkan oleh bagin kebersihan RSU.

2. Hilangkan barier material dengan hati-2 untuk meminimalisasi  penyebaran dari kotoran dan  puing-2 yg terkait dengan

(10)

IV

1. Untuk mencegah kontaminasi sistem saluran maka isolasi sistem HVAC di area, dimana pekerjaan sedang dilakukan..

2. Lengkapi semua barier penting yaitu sheetrock, plywood, plastic untuk menutup area dari area yg tdk untuk kerja atau menerapkan metode  pengendalian kubus (gerobak dengan  penutup plastik & koneksi disegel ke tempat bekerja dengan HEPA vakum untuk menyedot debu sebelum keluar) sebelum kontruksi dimulai. 3. Menjaga tekanan udara negatif di

dalam tempat kerja dengan menggunakan HEPA unit yang dilengkapi dengan penyaringan udara.

4. Segel lubang, pipa, saluran & lubang-lubang kecil yg bisa menyebabkan kebocoran.

5. Membangun serambi/ruangan dan semua personil melewati ruangan ini sehingga dapat disedot debunya dengan vakum cleaner HEPA sebelum meninggalkan tempat kerja atau mereka bisa memakai kain atau  baju kertas yg di lepas setiap kali

mereka meninggalkan tempat kerja. 6. Semua personil memasuki tempat

kerja diwajibkan untuk mengenakan  penutup sepatu. Penutup sepatu harus diganti setiap kali pekerja keluar dari area kerja.

1. Jangan menghilangkan barier dari area kerja sampai proyek selesai diperiksa oleh Komite/Panitia PPIRS. Dibersihkan oleh bagin kebersihan RS..

2. Hilangkan barier material dengan hati-2 untuk meminimalisasi penyebaran dari kotoran dan puing-2 yg terkait dengan kontruksi.

3. Wadah untuk limbah kontruksi harus ditutup rapat sebelum kontruksi.

4. Wadah transportasi atau gerobak agar ditutup rapat.

5. Vakum area kerja dengan vakum HEPA filter.

6. Area di pel dengan pel basah dengan pembersih/desinfektan. 7. Setelah selesai mengembalikan

sistem HVAC dimana pekerjaan dilakukan.

E. Langkah Kelima

Identifikasi kegiatan di tempat khusus misalnya ruang perawatan, ruang farmasi/obat dan seterusnya.

F. Langkah Keenam

Identifikasi masalah yg berkaitan dengan : ventilasi, pipa ledeng, listrik dalam hal terjadinya kemungkinan pemadaman.

(11)

IdentifIkasi langkah-langkah pencegahan, menggunakan penilaian sebelumnya, apa jenis  bariernya (misalnya bariernya dinding yang tertutup rapat). Apakah HEPA filter

diperlukan.?

(Catatan : Selama dilakukan kontruksi maka area yang di renovasi/kontruksi seharusnya diisolasi dari area yang dipergunakan dan merupakan area negatif terhadap daerah sekitarnya.)

H. Langkah Kedelapan

Pertimbangkan potensial risiko dari kerusakan air. Apakah ada risiko akibat merusak kesatuan struktur (misal : dinding, atap, plafon)

I. Langkah Kesembilan

Jam Kerja : dapat atau pekerjaan akan dilakukan selama bukan jam pelayanan pasien.

J. Langkah Kesepuluh

Buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah ruang isolasi/ruang aliran udara negatif yang memadai.

K. Langkah Kesebelas

Buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah dan tipe tempat/bak cuci tangan.

L. Langkah Keduabelas

Apakah PPIRS/IPCN setuju dengan jumlah minimum bak/tempat cuci tangan tersebut.

M. Langkah KetigaBelas

Apakah PPIRS/IPCN setuju dengan rencana relatif terhadap utilitas ruangan bersih dan kotor.

N. Langkah Keempat Belas

Rencanakan untuk membahas masalah pencegahan tersebut dengan tim proyek (misalnya arus lalu lintas, rumah tangga, pembersihan puing (bagaimana dan kapan).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :