• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP

PERTUMBUHAN BIBIT KARET (

Hevea brasilliensis

L)

ASAL STUM MATA TIDUR

Oleh Heri Gunawan NIM. 070500105

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(2)

PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP

PERTUMBUHAN BIBIT KARET (

Hevea brasilliensis

L)

ASAL STUM MATA TIDUR

Oleh Heri Gunawan NIM. 070500105

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR

Nama : Heri Gunawan

NIM : 070 500 105

Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Pengelolaan Hutan

Menyetujui,

Lulus ujian pada tanggal : 14 Agustus 2010 Dosen Pembimbing

Ir. Syarifuddin, MP NIP.19650706 200112 1 001

Mengesahkan, Direktur

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ir. Wartomo, MP NIP. 19631028 198803 1 003

Dosen Penguji

F. Silvi Dwi Mentari, S. Hut, MP NIP. 19770723 200312 2 002

(4)

ABSTRAK

HERI GUNAWAN, Pemberian Pupuk NPK Mutiara Terhadap Pertumbuhan bibit Karet Asal Stum Mata Tidur, di bawah bimbingan Syarifuddin.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis yang berbeda pada pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur.

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu sejak bulan November 2009 sampai Februari 2010 , terhitung dari persiapan alat dan bahan hingga pengolahan data. Tempat penelitian di areal Persemaian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jl. Samratulangi. RT 34. Kelurahan Sungai Kledang. Kecamatan Samarinda Seberang.

Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan dan masing- masing perlakuan terdiri dari 10 ulangan. Perlakuan terdiri dari pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P1), pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman (P2) dan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 g pertanaman (P3).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK Mutiara meningkatkan pertumbuhan bibit. Rata-rata dari pertumbuhan panjang tunas, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman dicapai dengan perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman(P1). Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 22,5 cm, diameter batang 5,9 mm dan jumlah tangkai daun bibit tanaman 17,7 cm.

(5)

RIWAYAT HIDUP

HERI GUNAWAN, lahir pada tanggal 8 Oktober 1989 di Kecamatan Tanjung Palas. Merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara dari pasangan Bapak Hasriansyah dan ibu Sumiati.

Memulai pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 001 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan lulus pada tanggal 5 Juni 1998. Kemudian melanjutkan ketingkat Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri 004 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan lulus pada tanggal 27 Mei 2004. Selanjutnya melanjutkan Kesekolah Menengah Atas (SMA) Pancasila Nunukan Kabupaten Nunukan lulus pada tanggal 18 Juni 2007. Pendidikan Tinggi dimulai pada tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jurusan Pengelolaan Hutan Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan.

Pada tanggal 11 Maret sampai dengan 11 Mei 2010 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk, Desa Tanjung isuy Kecamatan Jempang Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur”kini dapat terselesaikan.

Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Keluarga yang telah banyak memberikan do’a dan dukungan kepada penulis, 2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri

Samarinda,

3. Ibu Ir. Budi Winarni, M. Si selaku Ketua Progam Studi Budidaya Tanaman Perkebunan,

4. Bapak Ir. Syarifuddin, MP selaku dosen pembimbing, 5. Ibu F Silvi Dwi Mentari S. Hut, MP selaku dosen penguji,

6. Teman-teman mahasiswa yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih terdapat kekurangan, penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan karya ilmiah ini.

Penulis Kampus Sei Kledang, 14 Agustus 2010

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN... i

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL... iv

DAFTAR LAMPIRAN... v

I. PENDAHULUAN... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA... .. 3

A. Tinjauan Umum Tanaman karet... 3

B. Tinjauan Umum Pupuk NPK Mutiara... 9

III. METODE PENELITIAN... .. 12

A. Tempat Dan Waktu ... 12

B. Alat Dan Bahan... 12

C. Rancangan Penelitian... 12

D. Prosedur Penelitian... 12

E. Pengamatan Dan Pengambilan Data ... 14

F. Pengolahan Data... 14

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... .. 15

A. Hasil ... 15

B. Pembahasan... 21

V. KESIMPULAN DAN SARAN... .. 23

A. Kesimpulan ... 23

B. Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Tabel pertumbuhan tinggi tanaman karet ... 27

2. Tabel pertumbuhan diameter batang tanaman karet ... 27

3. Tabel pertumbuhan tangkai daun tanaman karet... 28

4. Perhitungan pertumbuhan tinggi tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 29

5. Perhitungan rata-rata diameter batang (mm) bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 29

6. Perhitungan rata-rata jumlah tangkai daun (helai) bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 30

7. Pengisian tanah ke polybag... 31

8. Penanaman bibit ke polybag ... 31

9. Pengukuran diameter batang ... 32

(9)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)

dengan pemberian pupuk NPK Mutiara... 15 2. Rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet

(Hevea brasilliensis L.) dengan pemberian pupuk NPK Mutiara ... 17 3. Rata-rata pertumbuhan tangkai daun bibit tanaman karet

(10)

I.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara agraris, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruham perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pend uduk atau tenaga kerja yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian (Mubyarto, 1994).

Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya yakni Brazil, Amerika Serikat akan tetapi meskipun telah dikenali penggunaannya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan oleh penjajah-penjajah berikutnya pada awal abad ke-16, sampai saat ini tanaman karet belum mendapat perhatian orang-orang Eropa.

Tanaman karet mulai dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Awalnya karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar dibeberapa daerah (Setyamidjaja, 1993).

Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mendapatkan tanaman karet yang memiliki produktivitas tinggi maka diperlukan teknik budidaya yang benar dalam pengelolaan tanaman karet dalam segala bidang, salah satunya dalam bidang pemupukan karena pemupukan

(11)

merupakan cara untuk menambahkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam pertumbuhannya.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis yang berbeda pada pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur.

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis pupuk NPK Mutiara yang tepat bagi pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet

(12)

II . TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tanaman Karet

Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai nilai komoditas tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebaga i pemasuk devisa Negara. Telah banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi sub sektor perkebunan, diantaranya adalah intensifikasi, ektensifikasi, deversivikasi dan rehabilitasi (Sutedjo, 1989).

Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Taksonomi dan Morfologi

Menurut Tim Penulis PS (1999). Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman karet di klasifikasikan sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotiledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea

Species : Hevea brasilliensis L.

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman

(13)

biasanya lurus dan mempunyai percabanagan tinggi di atasnya. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.

a. Daun Karet

Karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai anak daun mencapai 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun membentuk ellips, memnjang dengan unung meruncing, tepinya rata dan gundul serta tidak tajam.

b. Bunga Karet

Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng. Pada ujungnya terdapat lima tajuk yang sempit, panj ang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut vilt, ukuranya sedikit lebih besar dsri ysng jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahai dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah.

c. Buah Karet

Buah karet memiliki rua ng yang jelas. Masing- masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadang-kadang sampai enam ruang, garis tengah buah 3-5 cm. Bila buah sudah masak, maka akan pecah sendirinya. Pemecahan terjadi dengan kuat menurut ruang-ruangnya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami.

(14)

d. Biji Karet

Biji karet terdapat dalam ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran buju besar dengan kulit keras, warna coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Biji yang sering menjadi mainan anak-anak ini sebenarnya berbahaya karena mengandung racun.

e. Akar Karet

Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. (Setjamidjaja, 1993).

2. Syarat Tumbuh a. Iklim

Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 15 º LS dan 15 º LU. Bila tanaman diluar zona tersebut, pertumbuhanya agak lambat sehingga memulai produksi lebih lambat.

b. Curah hujan

Curah hujan tahunan yang cocok untuk tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm/tahun, optimal antara 2500-4000 mm/ tahun yang terbagi dalam 100-150 hari hujan, pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunya mempengaruhi produksi, daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang

(15)

cocok untuk tanaman karet adalah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu sumatra, jawa dan kalimatan sebab iklimya lebih basah.

c. Tinggi tempat

Tanaman karet tumbuh optimal di daerah dataran rendah, yakni ketinggian sampai 200 mdpl. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhan makin lambat dan produksi lebih rendah. Ketingian lebih dari 600 mdpl tidak cocok lagi untuk tanaman karet.

d. Angin

Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim- musim tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang

e. Tanah

Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah vulkanik maupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Dengan kandungan pH 3,8-8,0 , sedangkan pH tanah di bawah 3,0 atau di atas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat.

Menurut Setyadmidjaja (1993), sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanman karet adalah sebagai berikut :

1) Solum cukup dalam, sampai 100 m atau lebih, tidak terdapat batu-batuan. 2) Aerasi dan drainase baik

3) Remah, porus dan dapat menahan air 4) Tekstur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir

(16)

5) Tidak bergambut dan jika ada tidak lebih tebal dari 30 cm 6) Kandungan unsur hara cukup dan tidak kekurangan unsur mikro. 7) Kemiringan tidak lebih dari 16 %

8) pH 4,5-6,5

9) Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm 3. Perbanyakan Tanaman

a. Perkembangbiakan secara vegetatif

Pembiakan vegetatif adaiah sel sel tertentu atau tubuh sel mengadakan pembelahan dari tubuh induknya dan berkembang menjadi individu baru tanpa menjalani reaksi lebih jauh. Selanjutnya pembiakan vegetatif pada dunia tumbuhan dapat terjadi secara alami dan buatan.

Pembiakan vegetatif dengan cara stek umumnya digunakan untuk menanggulangi tanaman- tanaman yang sulit diperbanyak dengan cara biji, serta untuk melestarikan klon tanaman yang unggul dan juga untuk memudahkan dan mempercepat perbanyakan tanaman.

1) Pembiakan vegetatif alami

a) Dengan pembelahan, oleh golongan bakteri.

b) Dengan permentasi, terutama oleh algae yang bersel banyak dan berbentuk kaloi.

c) Dengan pertunasan, oleh tumbuhan berumpun seperti bambu, pisang. d) Dengan akar tongkat (rhizoma), dilakukan oleh banyak jenis rumput-

(17)

e) Dengan umbi, separti kentang dengan umbi batang dan bawang merah dengan umbi lapis.

2) Pembiakan vegetatif buatan

1) Dengan Dengan mencangkok, yaitu mengusahakan tumbuhan akar baru pada bagian cabang atau ranting dari bagian tanaman yang di cangkok.

2) stek, yaitu pemisahan bagian tanaman untuk memperoleh individu baru.

3) Dengan okulasi, yaitu memindahkan seiris kulit batang atau cabang bermata tunas baru dari satu tanaman ke tanaman yang lain dalam satu famili.

4) Dengan sambung, yaitu usaha untuk memudahkan dua jenis tanaman yang masing- masing memiliki keunggulan.

b. Jenis- Jenis Okulasi

Menurut Setiawan dan Andoko, (2007) okulasi dibagi dua macam yaitu :

1) Okulasi coklat

Okulasi coklat dilakukan pada awal musim hujan batang bawah berumur 9-18 bulan di pembibitan, sehingga batang sudah berwarna coklat dengan diameter sudah lebih dari 1,5 cm. Batang atasnya berasal dari kebun batang atas berwarna hijau kecokla tan, berbatang lurus, dan beberapa mata tunas dalam keadaan tidur.

(18)

2) Okulasi hijau

Okulasi hijau dilakukan pada batang bawah berusia 5-8 bulan di pembibitan, sehingga masih berwarna hijau dengan diameter 1-1,5 cm. Batang atasnya berumur 1-3 bulan setelah pemangkasan dan berwarna hijau.

B. Tinjauan Umum Pupuk NPK mutiara

Pupuk adalah setiap bahan material yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud menambah unsur hara tanaman, pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik dan anorganik (Novizan, 2003).

Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbumbuhan tanaman (Anonim,1995).

Dijelaskan oleh Dwidjoseputro (1990), pemupukan pada dasarnya dapat diartikan sebagai penambah zat hara bagi tanaman ke dalam tanah. Dalam arti luas pemupukan sebenarnya juga termasuk penambah zat- zat lain yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah misalnya pemberian pasir pada tanah liat, pemberian mineral pada tanah otganik pengapuran dan lain sebagainya.

Unsur-unsur hara yang pada umumnya dibutuhkan tanaman dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan pada jumlah yang dibutuhkan tanaman, yaitu usur-unsur makro dan mikro (Foth, 1988). Selain unsur-unsur N, P dan K yang termasuk unsur makro juga adalah C, H, O, Ca, Mg dan S (Hardjowigeno, 1992) .

(19)

Pupuk NPK termasuk pupuk anorganik di mana pupuk anorganik mempunyai keuntungan yaitu, pemberian pupuk dapat terukur dengan tepat karena pupuk anorganik umumnya takarannya pas.

Menurut (Marsono dan Lingga, 2001) bahwa pupuk majemuk merupakan pupuk campuran yang sengaja dibuat oleh pabrik dengan cara mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Misalnya, pupuk Nitrogen dicampur dengan pupuk Fosfor menjadi pupuk NP dan dicampur lagi dengan pupuk Kalium menjadi NPK.

Menurut Sutejo (2003), peranan dan pengaruh dari masing – masing unsur yang terkandung dalam NPK tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Peranan unsur N (Nitrogen)

a. Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan b. Merupakan bagian dari sel (organ) tanaman itu sendiri

c. Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman d. Merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun

e. Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.

2. Peranan Unsur P (fosfor)

a. Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman b. Merangsang pembungaan dan pembuahan,

c. Merangsang pertumbuhan akar, d. Merangsang pembentukan biji,

(20)

f. Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat).

3. Peranan Unsur K (Kalium)

a. Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.

b. Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit.

c. Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.

(21)

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Tempat penelitian dilaksanakan di areal kampus Politeknik Negeri Samarinda (depan los bayangan) dan dilaksanakan kurang lebih 4 bulan, terhitung dari bulan november 2009 sampai februari 2010 meliputi persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: alat tulis menulis, polybag, cangkul, parang, mikrokalifer, penggaris, ayakan.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: bibit karet asal okulasi mata tidur, top soil, pupuk NPK Mutiara

C. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan dan 10 kali ulangan yaitu : Po : Kontrol (tanpa perlakuan)

P1 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 gram

P2 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 gram P3 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 gram

D. Prosedur Penelitian 1. Persiapan bibit

Bibit yang digunakan dalam penelitian ini bibit okulasi yang diperoleh dari kelompok tani di daerah Marang Kayu Kab. Kutai Kartanegara.

(22)

2. Persiapan media tanam

Media tanam yang diambil dalam penelitian ini adalah tanah top soil, yang dibersihkan dari serasah dedaunan, rant ing dan akar dengan cara diayak. 3. Pengisian polybag

Tanah yang sudah dibersihkan dari serasah, ranting dan akar kemudian dimasukan ke dalam polybag.

4. Penanaman

Penanaman bibit karet ke dalam polybag dilakukan setelah dibuat lubang tanam menggunakan kayu tugal.

5. Pemeliharaan

Setelah dilakukan penanaman maka setiap pagi dan sore dilakukan penyiraman guna menjaga kelembaban bibit dan penyiangan gulma liar yang tumbuh di sekitar bibit.

6. Pemupukan

Pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu :

a. Pemupukan pertama dilakukan pada tanggal 17 Desember 2009 b. Pemupukan kedua dilakukan pada tanggal 17 Januari 2010 c. Pemupukan ketiga dilakukan pada tanggal 17 Februari 2010

(23)

E. Pengamatan Dan Pengambilan Data

Pengamatan pertumbuhan tanaman karet dilakukan 1 bulan sekali sebanyak 3 kali pengambilan data. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah :

1. Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur dari awal tumbuhnya tunas sampai pada batas titik tumbuh

2. Diameter Batang (cm)

Diameter batang diukur menggunakan mikrokalifer digital. Diameter yang diamati pada batang 1 cm dari awal tumbuhnya tunas.

3. Jumlah tangkai daun

Jumlah tangkai dihitung banyak tangkai daun.

F. Pengolahan Data

Rata-rata pertumbuhan tanaman karet menggunakan rataan hitung menurut Nugroho (1985). Untuk mengetahui parameter yang diamati dari penelitian ini adalah dengan menggunakan rataan hitung sederhana.

x =

x = rata-rata hitung n = banyaknya data x = variasi yang diteliti

? = jumlah ? x

(24)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Tinggi tanaman (cm)

Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2, dan 3 g pertanaman

Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 22,5 cm.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 10,1 cm.

Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 16,1 cm. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 12,6 cm.

Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (cm) P0 7,5 10,2 12,8 10,1 P1 18,8 22,3 26,3 22,5 P2 12,6 16,1 19,6 16,1 P3 10,5 12,3 15,2 12,6

(25)

Perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman karet dari masing- masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan tinggi tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :

Gambar 1. Grafik pertumbuhan tinggi tanaman (cm) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.

Gambar 2. Grafik pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman (cm) tanaman secara keseluruhan. 0 5 10 15 20 25 30 Rata-rata (cm)

Bulank e 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3

Bulan Setelah Pemupukan

Rata-rata Pertumbuhan Tinggi Tanaman

P0 P1 P2 P3 0 5 10 15 20 25 Rata-rata (cm) P0 P1 P2 P3 Perlakuan

Rata-rata pertumbuhan Tinggi Tanaman

(26)

2. Diameter batang

Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2 dan 3 g pertanaman

Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman 5,9 cm.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman 3,8 cm.

Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan diameter batang 5,4 cm. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan diameter batang 4,9 cm.

Perbedaan pertumbuhan diameter batang tanaman karet dari masing-masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan diameter batang tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :

Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (mm) P0 3,6 3,7 3,9 3,8 P1 5,5 5,9 6,2 5,9 P2 5,0 5,2 5,9 5,4 P3 4,6 5,0 5,4 4,9

(27)

Gambar 3. Grafik pertumbuhan diameter batang (mm) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.

Gambar 4. Grafik pertumbuhan rata-rata diameter batang (mm) tanaman secara keseluruhan.

3. Jumlah tangkai daun

Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (hevea brasilliensis l.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:

0 2 4 6 8 Rata-rata (cm)

Bulan ke 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3

Bulan Setelah Tanam

Rata-rata Pertumbuhan Diameter Batang

P0 P1 P2 P3 0 1 2 3 4 5 6 Rata-rata (cm P0 P1 P2 P3 Perlakuan

Rata-rata Pertumbuhan Diameter Batang

(28)

Tabel 3. Rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2 dan 3 g pertanam

Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman 17,7 helai.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman 8,5 helai.

Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun 12,7 helai. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun 11,6 helai.

Perbedaan pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman karet dari masing-masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :

Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (helai) P0 7,1 8,2 10,1 8,5 P1 12,5 18,1 22,4 17,7 P2 9,9 12,5 15,7 12,7 P3 9 11,9 13,8 11,6

(29)

Gambar 5. Grafik pertumbuhan jumlah tangkai daun (helai) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.

Gambar 6. Grafik pertumbuhan rata-rata jumlah tangkai daun (helai) tanaman secara keseluruhan. 0 5 10 15 20 25 Rata-rata (cm)

Bulan ke1 Bulan ke 2 Bulan ke 3

Bulan Setelah Pemupukan

Rata-rata Pertumbuhan Jumlah Tangkai Daun

P0 P1 P2 P3 0 5 10 15 20 Rata-rata (cm) P0 P1 P2 P3 Perlakuan

Rata-rata Pertumbuhan Jumlah Tangkai Daun

(30)

B. Pembahasan

Dari hasil pengamatan pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun pada bibit tanaman karet menunjukkan bahwa pada pertumbuhan bibit tanaman karet mengalami perbedaan yang jelas dalam pertumbuhan dari masing- masing perlakuan.

Dari hasil pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun pada bibit tanaman karet menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tanaman karet pada perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara 1 g/tanaman (P1) efektif meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman karet dengan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 22,5 cm, diameter batang 5,9 mm dan jumlah tangkai daun 17,7 helai.

Untuk hasil terendah rata-rata pertumbuhan tinggi mata tunas, diameter batang dan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet ditunjukkan oleh tanpa perlakuan atau kontrol dengan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 10,1 cm, diameter batang 3,8 mm dan jumlah tangkai daun 8,5 helai.

Untuk P2 dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 2 g/tanaman menunjukkan hasil rata-rata tinggi tanaman 16,1 cm, diameter batang 5, 4 mm dan jumlah

tangkai daun 12, 7 helai dan untuk P3 dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 3 g/tanaman menunjukkan hasil rata-rata tinggi mata tunas 12,6 cm, diameter

batang 4,9 mm dan jumlah tangkai daun 11,6 helai.

Dari penjelasan di atas pada perlakuan P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g/tanaman, menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman karet

(31)

lebih efektif dibanding dengan perlakuan yang lainnya, baik dari pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman. Ini diduga karena penggunaan dosis pupuk NPK Mutiara pada tanaman lebih optimal dan bisa diterima baik oleh tanaman.

Terjadinya perbedaan pertumbuhan tanaman pada perlakuan P0 ini diduga karena tidak adanya pemberian atau penambahan pupuk sehingga unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tidak terpenuhi akibatnya tanaman menjadi kerdil.

Sedangkan pada P2 dan P3, perbedaan pertumbuhan tanaman diduga karena penggunaan pupuk yang berlebihan sehingga terjadi penghambatan pertumbuhan pada tanaman, seperti yang dikatakan oleh Tjahjadi (1989), bahwa masing-masing unsur mempunyai fungsi yang berbeda, jika kekurangan atau kelebihan maka akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti kelebihan unsur P maka pertumbuhan tanaman terhambat karena terjadinya ikatan N-P yang menyulitkan penyerapan unsur N. Apabila kelebihan unsur K, maka pertumbuhan tanaman terhambat karena terjadinya ikatan N-K yang mengakibatkan sulitnyaa penyerapan unsur N. Dan apabila kelebihan unsur, maka akar tanaman menjadi rusak busuk dan mati, daun akan mengalami bercak dan kadang-kadang rantingnya ikut mati. Dan bibit karet pada perlakuan P2 dan P3 menunjukkan kelebihan unsur N dengan cirri-ciri sebagai berikut :

1. Pertumbuhan pada perlakuan P2 dan P3 lebih kerdil dibanding perlakuan lainnya

(32)

Perbedaan pertumbuhan juga diduga karena pembagian bibit untuk tiap perlakuan pada saat pertama. Diduga pada perlakuan P2 dan P3 mendapatkan bibit tanaman yang kurang bagus karena pemilihan dilakukan secara acak.

Menurut Sosrosoedirjo (2005), jumlah pupuk yang diberikan tidak boleh melampaui batas, setiap penambahan jumlah pupuk yang diberikan harus diteliti apakah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman.

(33)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman diduga efektif meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman karet (Hevea brasilliensis L) hingga umur 90 hari setelah tanam.

2. Pupuk NPK Mutiara mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman karet yang dapat memberikan pertumbuhan yang maksimal.

B. Saran

1. Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman karet yang optimal untuk stum mata tidur dapat digunakan pupuk pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman, Karena pupuk NPK Mutiara mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Fonth. 1999. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. GajahMada Universitas Press. Yogyakarta Hadjowigeno. 1992. Ilmu Tanah. Sara Perkasa. Jakarta

Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta Novizan. 2003. Pemupukan Yang Efektif. Agrmedia Pustaka. Jakarta Nugroho. 1985. Dasar-dasar statistik. Penebar Swadaya. Jakarta

Setyadmidjaja. 1993. Karet Budidaya Dan Pengolahannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Setiawan, D, H, dan Andoko, A. 2007. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Jaga Karsa. Jakarta.

Soekrtawi. 1989. Prinsip Dasar Manajemen Pasar Hasil Pertanaian Rajawali. Jakarta.

Sosrosoedirjo, 2005. Ilmu Memupuk. Yasagung. Jakarta

Sutedjo. 1989. Hama Tanaman Keras Dan Cara Pemberantasanya.Bina Aksara. Jakarta.

Tjahjadi, 1989. Hama dan penyakit Tanaman.kanisius. Yogyakarta.

Tim penulis PS. 1999. Karet. Strategi Pemasaran Tahun 2000. Budidaya Dan Pengolahan.

(35)
(36)

Lampiran 1. Tabel Pertumbuhan Tinggi Tanaman Karet

Pertumbuhan tinggi tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 5.5 5.7 6 8.2 10 9 8 6.5 9 7 P1 16.8 15.7 18.8 20.5 17.5 17.7 22 19.7 20.2 19 P2 1 7.5 8.5 15 14 9.5 10 8.7 10.5 23 19 P3 16.8 7.1 10.7 9 8.5 11.5 13 8.7 9.5 10

Pertumbuhan tinggi tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 7.5 7.10 8 10 11 12 13 9 13 11 P1 19.3 18.7 23.5 25.5 20.7 19.5 24.7 23.8 22.5 24.6 P2 2 16.7 11.5 17.5 16.5 12.8 13.5 11.5 14.3 25.7 21.3 P3 8.5 9.7 11.5 12 13 14 15 12 13 14

Pertumbuhan tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 10 10.5 11 13 14.5 14.7 15 11 15 13 P1 23. 25.7 27 25.5 25 24.5 29 28 26.5 28.5 P2 3 14.5 20.3 19.7 16.5 17.2 14.3 17.5 28.2 24.5 23.5 P3 12.5 12 12.5 15 16 17 18 15 16 17.5

Lampiran 2. Tabel Pertumbuhan Diameter Batang Tanaman Karet

Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 3.81 3.12 3.55 3.60 3.85 3.80 3.70 3.15 3.25 3.80 P1 5.35 5.37 4.85 6.30 5.45 4.32 6.36 5.75 6.25 4.64 P2 1 4.65 4.87 4.25 5.50 5.11 5.70 4.30 5.62 5.11 5.20 P3 3.90 4.52 4.60 4.50 4.20 4.21 5.20 4.75 4.90 5.13

Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 4.12 3.37 4.10 3.65 3.90 3.85 3.75 3.31 3.52 3.91 P1 5.85 5.75 5.37 6.65 5.80 4.95 6.75 5.90 6.70 4.80 P2 2 4.90 4.91 4.90 6.10 5.25 4.45 4.90 5.80 5.75 5.25 P3 3.95 5.21 4.90 4.75 4.60 5.71 5.50 4.91 5.10 5.48

Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 4.28 3.65 4.25 3.72 4.11 3.92 3.85 3.65 4.10 4.12 P1 6.25 5.98 5.80 6.97 5.95 5.47 6.98 6.45 6.99 5.55 P2 3 5.32 5.53 5.37 6.25 5.45 5,86 5.10 6.85 6.81 6.20 P3 4.58 5.61 5.25 4.91 4.82 5.85 5.88 5.53 5.37 5.85

(37)

Lampiran 3. Tabel Pertambahan Jumlah Tangkai Daun Tanaman Karet

Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 5 6 7 7 8 8 7 8 8 7 P1 10 9 11 14 12 12 16 14 14 13 P2 1 8 9 9 9 9 11 9 9 15 11 P3 7 8 11 8 8 9 11 10 8 10

Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 6 7 8 8 8 9 8 9 10 9 P1 13 12 17 17 19 14 23 21 22 23 P2 2 10 11 12 12 12 14 12 12 17 13 P3 10 11 12 11 11 13 13 13 11 14

Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 8 9 9 10 11 11 10 10 12 11 P1 17 16 21 24 21 21 25 25 26 28 P2 3 13 15 16 15 15 17 15 15 20 16 P3 12 13 14 13 13 15 15 15 13 15

(38)

Lampiran 4. Perhitungan pertumbuhan tinggi tanaman karet(Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan

Lampiran 5. Perhitungan pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan

= = = 10,1 cm = 22,5 cm = 16,1 cm 1 BSP + 2 BSP + 3BSP 3 - x = 7,5 + 10,2 + 12,8 3 P0 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P1 12,6 + 16,1 + 19,6 3 P2 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P3 = 12,6 cm = 3,8 mm = 5,9 mm = 5,4 mm 1 BSP + 2 BSP + 3BSP + 3 - x = 3,6 + 3,7 + 3,9 3 P0 = 5,5 + 5,9 + 6,2 3 P1 5,0 + 5,2 + 5,9 3 P2 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P3 = 4,9 mm

(39)

Lampiran 6. Perhiungan pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan.

= 8,5 helai = 17,7 helai = 12,7 helai 1 BSP + 2 BSP + 3BSP 3 - x = 7,1 + 8,2 + 10,1 3 P0 = 12,5 + 18,1 + 22,4 3 P1 9,9 + 12,5 + 15,7 3 P2 = 9 + 11,9 + 13,8 3 P3 = 11,6 helai

(40)

Lampiran 7. Pengisian tanah ke polybag

(41)

Lampiran 9. Pengkuran diameter batang

Gambar

Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan  tinggi tanaman karet dengan dengan pemberian  pupuk NPK Mutiara 1, 2, dan 3 g pertanaman
Gambar  1. Grafik pertumbuhan  tinggi tanaman  (cm)  untuk  masing  – masing  perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam
Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan  diameter batang tanaman karet dengan  dengan  pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2 dan 3 g pertanaman
Gambar 4. Grafik pertumbuhan rata-rata diameter batang (mm) tanaman secara  keseluruhan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Margaretta (2011) yang menguji faktor reputasi KAP, ukuran perusahaan, profitabilitas,

Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari topik yang dipersoalkan maka pembahasan dalam tulisan ini lebih di fokuskan bagaimana upaya pengusaha souvenir mata

Peningkatan kualitas guru yang dimaksud- kan dalam TEQIP ini adalah meningkatkan profesionalisme guru yang meliputi: (1) kompetensi akademik, yang tercermin dalam

Arti lain dari dosa menghujat Roh Kudus adalah suatu sikap dari seseorang yang mengeraskan harinya dan terus-menerus menutup hati bagi Roh Kudus yang bekerja dalam hatinya.

Pada metode ini terdapat dua buah tombol panggilan pada setiap lantai yaitu tombol panggilan naik dan tombol panggilan turun. Kecuali pada lantai terendah

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia yang akan mengambil Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah harus menempuh sejumlah matakuliah keilmuan

Abstrak —Turbin angin Savonius adalah turbin angin yang dapat beroperasi pada kecepatan angin yang rendah, turbin jenis ini sangat tepat digunakan untuk beberapa tempat