PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP
PERTUMBUHAN BIBIT KARET (
Hevea brasilliensis
L)
ASAL STUM MATA TIDUR
Oleh Heri Gunawan NIM. 070500105
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP
PERTUMBUHAN BIBIT KARET (
Hevea brasilliensis
L)
ASAL STUM MATA TIDUR
Oleh Heri Gunawan NIM. 070500105
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR
Nama : Heri Gunawan
NIM : 070 500 105
Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Pengelolaan Hutan
Menyetujui,
Lulus ujian pada tanggal : 14 Agustus 2010 Dosen Pembimbing
Ir. Syarifuddin, MP NIP.19650706 200112 1 001
Mengesahkan, Direktur
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. Wartomo, MP NIP. 19631028 198803 1 003
Dosen Penguji
F. Silvi Dwi Mentari, S. Hut, MP NIP. 19770723 200312 2 002
ABSTRAK
HERI GUNAWAN, Pemberian Pupuk NPK Mutiara Terhadap Pertumbuhan bibit Karet Asal Stum Mata Tidur, di bawah bimbingan Syarifuddin.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis yang berbeda pada pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur.
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu sejak bulan November 2009 sampai Februari 2010 , terhitung dari persiapan alat dan bahan hingga pengolahan data. Tempat penelitian di areal Persemaian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jl. Samratulangi. RT 34. Kelurahan Sungai Kledang. Kecamatan Samarinda Seberang.
Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan dan masing- masing perlakuan terdiri dari 10 ulangan. Perlakuan terdiri dari pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P1), pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman (P2) dan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 g pertanaman (P3).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK Mutiara meningkatkan pertumbuhan bibit. Rata-rata dari pertumbuhan panjang tunas, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman dicapai dengan perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman(P1). Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 22,5 cm, diameter batang 5,9 mm dan jumlah tangkai daun bibit tanaman 17,7 cm.
RIWAYAT HIDUP
HERI GUNAWAN, lahir pada tanggal 8 Oktober 1989 di Kecamatan Tanjung Palas. Merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara dari pasangan Bapak Hasriansyah dan ibu Sumiati.
Memulai pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 001 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan lulus pada tanggal 5 Juni 1998. Kemudian melanjutkan ketingkat Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri 004 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan lulus pada tanggal 27 Mei 2004. Selanjutnya melanjutkan Kesekolah Menengah Atas (SMA) Pancasila Nunukan Kabupaten Nunukan lulus pada tanggal 18 Juni 2007. Pendidikan Tinggi dimulai pada tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jurusan Pengelolaan Hutan Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan.
Pada tanggal 11 Maret sampai dengan 11 Mei 2010 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk, Desa Tanjung isuy Kecamatan Jempang Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “Pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur”kini dapat terselesaikan.
Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Keluarga yang telah banyak memberikan do’a dan dukungan kepada penulis, 2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda,
3. Ibu Ir. Budi Winarni, M. Si selaku Ketua Progam Studi Budidaya Tanaman Perkebunan,
4. Bapak Ir. Syarifuddin, MP selaku dosen pembimbing, 5. Ibu F Silvi Dwi Mentari S. Hut, MP selaku dosen penguji,
6. Teman-teman mahasiswa yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih terdapat kekurangan, penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan karya ilmiah ini.
Penulis Kampus Sei Kledang, 14 Agustus 2010
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
I. PENDAHULUAN... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA... .. 3
A. Tinjauan Umum Tanaman karet... 3
B. Tinjauan Umum Pupuk NPK Mutiara... 9
III. METODE PENELITIAN... .. 12
A. Tempat Dan Waktu ... 12
B. Alat Dan Bahan... 12
C. Rancangan Penelitian... 12
D. Prosedur Penelitian... 12
E. Pengamatan Dan Pengambilan Data ... 14
F. Pengolahan Data... 14
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... .. 15
A. Hasil ... 15
B. Pembahasan... 21
V. KESIMPULAN DAN SARAN... .. 23
A. Kesimpulan ... 23
B. Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Tabel pertumbuhan tinggi tanaman karet ... 27
2. Tabel pertumbuhan diameter batang tanaman karet ... 27
3. Tabel pertumbuhan tangkai daun tanaman karet... 28
4. Perhitungan pertumbuhan tinggi tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 29
5. Perhitungan rata-rata diameter batang (mm) bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 29
6. Perhitungan rata-rata jumlah tangkai daun (helai) bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)... 30
7. Pengisian tanah ke polybag... 31
8. Penanaman bibit ke polybag ... 31
9. Pengukuran diameter batang ... 32
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman karet (Hevea brasilliensis L.)
dengan pemberian pupuk NPK Mutiara... 15 2. Rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet
(Hevea brasilliensis L.) dengan pemberian pupuk NPK Mutiara ... 17 3. Rata-rata pertumbuhan tangkai daun bibit tanaman karet
I.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara agraris, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruham perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pend uduk atau tenaga kerja yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian (Mubyarto, 1994).
Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya yakni Brazil, Amerika Serikat akan tetapi meskipun telah dikenali penggunaannya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan oleh penjajah-penjajah berikutnya pada awal abad ke-16, sampai saat ini tanaman karet belum mendapat perhatian orang-orang Eropa.
Tanaman karet mulai dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Awalnya karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar dibeberapa daerah (Setyamidjaja, 1993).
Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mendapatkan tanaman karet yang memiliki produktivitas tinggi maka diperlukan teknik budidaya yang benar dalam pengelolaan tanaman karet dalam segala bidang, salah satunya dalam bidang pemupukan karena pemupukan
merupakan cara untuk menambahkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam pertumbuhannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis yang berbeda pada pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis pupuk NPK Mutiara yang tepat bagi pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet
II . TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tanaman KaretTanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai nilai komoditas tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebaga i pemasuk devisa Negara. Telah banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi sub sektor perkebunan, diantaranya adalah intensifikasi, ektensifikasi, deversivikasi dan rehabilitasi (Sutedjo, 1989).
Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.
1. Taksonomi dan Morfologi
Menurut Tim Penulis PS (1999). Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman karet di klasifikasikan sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotiledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea
Species : Hevea brasilliensis L.
Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman
biasanya lurus dan mempunyai percabanagan tinggi di atasnya. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.
a. Daun Karet
Karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai anak daun mencapai 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun membentuk ellips, memnjang dengan unung meruncing, tepinya rata dan gundul serta tidak tajam.
b. Bunga Karet
Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng. Pada ujungnya terdapat lima tajuk yang sempit, panj ang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut vilt, ukuranya sedikit lebih besar dsri ysng jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahai dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah.
c. Buah Karet
Buah karet memiliki rua ng yang jelas. Masing- masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadang-kadang sampai enam ruang, garis tengah buah 3-5 cm. Bila buah sudah masak, maka akan pecah sendirinya. Pemecahan terjadi dengan kuat menurut ruang-ruangnya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami.
d. Biji Karet
Biji karet terdapat dalam ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran buju besar dengan kulit keras, warna coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Biji yang sering menjadi mainan anak-anak ini sebenarnya berbahaya karena mengandung racun.
e. Akar Karet
Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. (Setjamidjaja, 1993).
2. Syarat Tumbuh a. Iklim
Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 15 º LS dan 15 º LU. Bila tanaman diluar zona tersebut, pertumbuhanya agak lambat sehingga memulai produksi lebih lambat.
b. Curah hujan
Curah hujan tahunan yang cocok untuk tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm/tahun, optimal antara 2500-4000 mm/ tahun yang terbagi dalam 100-150 hari hujan, pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunya mempengaruhi produksi, daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang
cocok untuk tanaman karet adalah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu sumatra, jawa dan kalimatan sebab iklimya lebih basah.
c. Tinggi tempat
Tanaman karet tumbuh optimal di daerah dataran rendah, yakni ketinggian sampai 200 mdpl. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhan makin lambat dan produksi lebih rendah. Ketingian lebih dari 600 mdpl tidak cocok lagi untuk tanaman karet.
d. Angin
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim- musim tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang
e. Tanah
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah vulkanik maupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Dengan kandungan pH 3,8-8,0 , sedangkan pH tanah di bawah 3,0 atau di atas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat.
Menurut Setyadmidjaja (1993), sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanman karet adalah sebagai berikut :
1) Solum cukup dalam, sampai 100 m atau lebih, tidak terdapat batu-batuan. 2) Aerasi dan drainase baik
3) Remah, porus dan dapat menahan air 4) Tekstur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
5) Tidak bergambut dan jika ada tidak lebih tebal dari 30 cm 6) Kandungan unsur hara cukup dan tidak kekurangan unsur mikro. 7) Kemiringan tidak lebih dari 16 %
8) pH 4,5-6,5
9) Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm 3. Perbanyakan Tanaman
a. Perkembangbiakan secara vegetatif
Pembiakan vegetatif adaiah sel sel tertentu atau tubuh sel mengadakan pembelahan dari tubuh induknya dan berkembang menjadi individu baru tanpa menjalani reaksi lebih jauh. Selanjutnya pembiakan vegetatif pada dunia tumbuhan dapat terjadi secara alami dan buatan.
Pembiakan vegetatif dengan cara stek umumnya digunakan untuk menanggulangi tanaman- tanaman yang sulit diperbanyak dengan cara biji, serta untuk melestarikan klon tanaman yang unggul dan juga untuk memudahkan dan mempercepat perbanyakan tanaman.
1) Pembiakan vegetatif alami
a) Dengan pembelahan, oleh golongan bakteri.
b) Dengan permentasi, terutama oleh algae yang bersel banyak dan berbentuk kaloi.
c) Dengan pertunasan, oleh tumbuhan berumpun seperti bambu, pisang. d) Dengan akar tongkat (rhizoma), dilakukan oleh banyak jenis rumput-
e) Dengan umbi, separti kentang dengan umbi batang dan bawang merah dengan umbi lapis.
2) Pembiakan vegetatif buatan
1) Dengan Dengan mencangkok, yaitu mengusahakan tumbuhan akar baru pada bagian cabang atau ranting dari bagian tanaman yang di cangkok.
2) stek, yaitu pemisahan bagian tanaman untuk memperoleh individu baru.
3) Dengan okulasi, yaitu memindahkan seiris kulit batang atau cabang bermata tunas baru dari satu tanaman ke tanaman yang lain dalam satu famili.
4) Dengan sambung, yaitu usaha untuk memudahkan dua jenis tanaman yang masing- masing memiliki keunggulan.
b. Jenis- Jenis Okulasi
Menurut Setiawan dan Andoko, (2007) okulasi dibagi dua macam yaitu :
1) Okulasi coklat
Okulasi coklat dilakukan pada awal musim hujan batang bawah berumur 9-18 bulan di pembibitan, sehingga batang sudah berwarna coklat dengan diameter sudah lebih dari 1,5 cm. Batang atasnya berasal dari kebun batang atas berwarna hijau kecokla tan, berbatang lurus, dan beberapa mata tunas dalam keadaan tidur.
2) Okulasi hijau
Okulasi hijau dilakukan pada batang bawah berusia 5-8 bulan di pembibitan, sehingga masih berwarna hijau dengan diameter 1-1,5 cm. Batang atasnya berumur 1-3 bulan setelah pemangkasan dan berwarna hijau.
B. Tinjauan Umum Pupuk NPK mutiara
Pupuk adalah setiap bahan material yang diberikan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman dengan maksud menambah unsur hara tanaman, pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik dan anorganik (Novizan, 2003).
Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbumbuhan tanaman (Anonim,1995).
Dijelaskan oleh Dwidjoseputro (1990), pemupukan pada dasarnya dapat diartikan sebagai penambah zat hara bagi tanaman ke dalam tanah. Dalam arti luas pemupukan sebenarnya juga termasuk penambah zat- zat lain yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah misalnya pemberian pasir pada tanah liat, pemberian mineral pada tanah otganik pengapuran dan lain sebagainya.
Unsur-unsur hara yang pada umumnya dibutuhkan tanaman dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan pada jumlah yang dibutuhkan tanaman, yaitu usur-unsur makro dan mikro (Foth, 1988). Selain unsur-unsur N, P dan K yang termasuk unsur makro juga adalah C, H, O, Ca, Mg dan S (Hardjowigeno, 1992) .
Pupuk NPK termasuk pupuk anorganik di mana pupuk anorganik mempunyai keuntungan yaitu, pemberian pupuk dapat terukur dengan tepat karena pupuk anorganik umumnya takarannya pas.
Menurut (Marsono dan Lingga, 2001) bahwa pupuk majemuk merupakan pupuk campuran yang sengaja dibuat oleh pabrik dengan cara mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Misalnya, pupuk Nitrogen dicampur dengan pupuk Fosfor menjadi pupuk NP dan dicampur lagi dengan pupuk Kalium menjadi NPK.
Menurut Sutejo (2003), peranan dan pengaruh dari masing – masing unsur yang terkandung dalam NPK tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Peranan unsur N (Nitrogen)
a. Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan b. Merupakan bagian dari sel (organ) tanaman itu sendiri
c. Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman d. Merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun
e. Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.
2. Peranan Unsur P (fosfor)
a. Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman b. Merangsang pembungaan dan pembuahan,
c. Merangsang pertumbuhan akar, d. Merangsang pembentukan biji,
f. Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat).
3. Peranan Unsur K (Kalium)
a. Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
b. Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit.
c. Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.
III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Tempat penelitian dilaksanakan di areal kampus Politeknik Negeri Samarinda (depan los bayangan) dan dilaksanakan kurang lebih 4 bulan, terhitung dari bulan november 2009 sampai februari 2010 meliputi persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: alat tulis menulis, polybag, cangkul, parang, mikrokalifer, penggaris, ayakan.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: bibit karet asal okulasi mata tidur, top soil, pupuk NPK Mutiara
C. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan dan 10 kali ulangan yaitu : Po : Kontrol (tanpa perlakuan)
P1 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 gram
P2 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 gram P3 : Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 gram
D. Prosedur Penelitian 1. Persiapan bibit
Bibit yang digunakan dalam penelitian ini bibit okulasi yang diperoleh dari kelompok tani di daerah Marang Kayu Kab. Kutai Kartanegara.
2. Persiapan media tanam
Media tanam yang diambil dalam penelitian ini adalah tanah top soil, yang dibersihkan dari serasah dedaunan, rant ing dan akar dengan cara diayak. 3. Pengisian polybag
Tanah yang sudah dibersihkan dari serasah, ranting dan akar kemudian dimasukan ke dalam polybag.
4. Penanaman
Penanaman bibit karet ke dalam polybag dilakukan setelah dibuat lubang tanam menggunakan kayu tugal.
5. Pemeliharaan
Setelah dilakukan penanaman maka setiap pagi dan sore dilakukan penyiraman guna menjaga kelembaban bibit dan penyiangan gulma liar yang tumbuh di sekitar bibit.
6. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu :
a. Pemupukan pertama dilakukan pada tanggal 17 Desember 2009 b. Pemupukan kedua dilakukan pada tanggal 17 Januari 2010 c. Pemupukan ketiga dilakukan pada tanggal 17 Februari 2010
E. Pengamatan Dan Pengambilan Data
Pengamatan pertumbuhan tanaman karet dilakukan 1 bulan sekali sebanyak 3 kali pengambilan data. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah :
1. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur dari awal tumbuhnya tunas sampai pada batas titik tumbuh
2. Diameter Batang (cm)
Diameter batang diukur menggunakan mikrokalifer digital. Diameter yang diamati pada batang 1 cm dari awal tumbuhnya tunas.
3. Jumlah tangkai daun
Jumlah tangkai dihitung banyak tangkai daun.
F. Pengolahan Data
Rata-rata pertumbuhan tanaman karet menggunakan rataan hitung menurut Nugroho (1985). Untuk mengetahui parameter yang diamati dari penelitian ini adalah dengan menggunakan rataan hitung sederhana.
x =
x = rata-rata hitung n = banyaknya data x = variasi yang diteliti
? = jumlah ? x
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil 1. Tinggi tanaman (cm)
Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2, dan 3 g pertanaman
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 22,5 cm.
Sedangkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 10,1 cm.
Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 16,1 cm. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 12,6 cm.
Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (cm) P0 7,5 10,2 12,8 10,1 P1 18,8 22,3 26,3 22,5 P2 12,6 16,1 19,6 16,1 P3 10,5 12,3 15,2 12,6
Perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman karet dari masing- masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan tinggi tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :
Gambar 1. Grafik pertumbuhan tinggi tanaman (cm) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.
Gambar 2. Grafik pertumbuhan rata-rata tinggi tanaman (cm) tanaman secara keseluruhan. 0 5 10 15 20 25 30 Rata-rata (cm)
Bulank e 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3
Bulan Setelah Pemupukan
Rata-rata Pertumbuhan Tinggi Tanaman
P0 P1 P2 P3 0 5 10 15 20 25 Rata-rata (cm) P0 P1 P2 P3 Perlakuan
Rata-rata pertumbuhan Tinggi Tanaman
2. Diameter batang
Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2 dan 3 g pertanaman
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman 5,9 cm.
Sedangkan rata-rata pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan diameter batang tanaman 3,8 cm.
Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan diameter batang 5,4 cm. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan diameter batang 4,9 cm.
Perbedaan pertumbuhan diameter batang tanaman karet dari masing-masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan diameter batang tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :
Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (mm) P0 3,6 3,7 3,9 3,8 P1 5,5 5,9 6,2 5,9 P2 5,0 5,2 5,9 5,4 P3 4,6 5,0 5,4 4,9
Gambar 3. Grafik pertumbuhan diameter batang (mm) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.
Gambar 4. Grafik pertumbuhan rata-rata diameter batang (mm) tanaman secara keseluruhan.
3. Jumlah tangkai daun
Hasil pengamatan pertumbuhan stum mata tidur tanaman karet (hevea brasilliensis l.) terhadap pemberian pupuk NPK mutiara dapat dilihat pada Tabel berikut:
0 2 4 6 8 Rata-rata (cm)
Bulan ke 1 Bulan ke 2 Bulan ke 3
Bulan Setelah Tanam
Rata-rata Pertumbuhan Diameter Batang
P0 P1 P2 P3 0 1 2 3 4 5 6 Rata-rata (cm P0 P1 P2 P3 Perlakuan
Rata-rata Pertumbuhan Diameter Batang
Tabel 3. Rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman karet dengan dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 1, 2 dan 3 g pertanam
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet dengan pemberian pupuk NPK mutiara dengan dosis 1 g pertanaman (P2) menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu dengan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman 17,7 helai.
Sedangkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet yang terendah ditunjukkan oleh bibit tanaman tanpa perlakuan atau kontrol (P0) dengan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman 8,5 helai.
Untuk P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 2 g pertanaman menunjukkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun 12,7 helai. Dan perlakuan P3 menunjukkan rata-rata pertumbuhan jumlah tangkai daun 11,6 helai.
Perbedaan pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman karet dari masing-masing perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dapat terlihat dengan jelas seperti pada diagram pertumbuhan jumlah tangkai daun tanaman berdasarkan umur sebagai berikut :
Bulan Setelah Pemupukan Perlakuan 1 2 3 Rata-rata (helai) P0 7,1 8,2 10,1 8,5 P1 12,5 18,1 22,4 17,7 P2 9,9 12,5 15,7 12,7 P3 9 11,9 13,8 11,6
Gambar 5. Grafik pertumbuhan jumlah tangkai daun (helai) untuk masing – masing perlakuan umur 1,2,dan 3 bulan setelah tanam.
Gambar 6. Grafik pertumbuhan rata-rata jumlah tangkai daun (helai) tanaman secara keseluruhan. 0 5 10 15 20 25 Rata-rata (cm)
Bulan ke1 Bulan ke 2 Bulan ke 3
Bulan Setelah Pemupukan
Rata-rata Pertumbuhan Jumlah Tangkai Daun
P0 P1 P2 P3 0 5 10 15 20 Rata-rata (cm) P0 P1 P2 P3 Perlakuan
Rata-rata Pertumbuhan Jumlah Tangkai Daun
B. Pembahasan
Dari hasil pengamatan pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun pada bibit tanaman karet menunjukkan bahwa pada pertumbuhan bibit tanaman karet mengalami perbedaan yang jelas dalam pertumbuhan dari masing- masing perlakuan.
Dari hasil pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun pada bibit tanaman karet menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tanaman karet pada perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara 1 g/tanaman (P1) efektif meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman karet dengan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 22,5 cm, diameter batang 5,9 mm dan jumlah tangkai daun 17,7 helai.
Untuk hasil terendah rata-rata pertumbuhan tinggi mata tunas, diameter batang dan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet ditunjukkan oleh tanpa perlakuan atau kontrol dengan pertumbuhan rata-rata tinggi mata tunas 10,1 cm, diameter batang 3,8 mm dan jumlah tangkai daun 8,5 helai.
Untuk P2 dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 2 g/tanaman menunjukkan hasil rata-rata tinggi tanaman 16,1 cm, diameter batang 5, 4 mm dan jumlah
tangkai daun 12, 7 helai dan untuk P3 dengan pemberian pupuk NPK Mutiara 3 g/tanaman menunjukkan hasil rata-rata tinggi mata tunas 12,6 cm, diameter
batang 4,9 mm dan jumlah tangkai daun 11,6 helai.
Dari penjelasan di atas pada perlakuan P2 yaitu pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g/tanaman, menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman karet
lebih efektif dibanding dengan perlakuan yang lainnya, baik dari pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman. Ini diduga karena penggunaan dosis pupuk NPK Mutiara pada tanaman lebih optimal dan bisa diterima baik oleh tanaman.
Terjadinya perbedaan pertumbuhan tanaman pada perlakuan P0 ini diduga karena tidak adanya pemberian atau penambahan pupuk sehingga unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tidak terpenuhi akibatnya tanaman menjadi kerdil.
Sedangkan pada P2 dan P3, perbedaan pertumbuhan tanaman diduga karena penggunaan pupuk yang berlebihan sehingga terjadi penghambatan pertumbuhan pada tanaman, seperti yang dikatakan oleh Tjahjadi (1989), bahwa masing-masing unsur mempunyai fungsi yang berbeda, jika kekurangan atau kelebihan maka akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti kelebihan unsur P maka pertumbuhan tanaman terhambat karena terjadinya ikatan N-P yang menyulitkan penyerapan unsur N. Apabila kelebihan unsur K, maka pertumbuhan tanaman terhambat karena terjadinya ikatan N-K yang mengakibatkan sulitnyaa penyerapan unsur N. Dan apabila kelebihan unsur, maka akar tanaman menjadi rusak busuk dan mati, daun akan mengalami bercak dan kadang-kadang rantingnya ikut mati. Dan bibit karet pada perlakuan P2 dan P3 menunjukkan kelebihan unsur N dengan cirri-ciri sebagai berikut :
1. Pertumbuhan pada perlakuan P2 dan P3 lebih kerdil dibanding perlakuan lainnya
Perbedaan pertumbuhan juga diduga karena pembagian bibit untuk tiap perlakuan pada saat pertama. Diduga pada perlakuan P2 dan P3 mendapatkan bibit tanaman yang kurang bagus karena pemilihan dilakukan secara acak.
Menurut Sosrosoedirjo (2005), jumlah pupuk yang diberikan tidak boleh melampaui batas, setiap penambahan jumlah pupuk yang diberikan harus diteliti apakah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman diduga efektif meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai daun tanaman karet (Hevea brasilliensis L) hingga umur 90 hari setelah tanam.
2. Pupuk NPK Mutiara mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman karet yang dapat memberikan pertumbuhan yang maksimal.
B. Saran
1. Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman karet yang optimal untuk stum mata tidur dapat digunakan pupuk pupuk NPK Mutiara dengan dosis 1 g pertanaman, Karena pupuk NPK Mutiara mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
Fonth. 1999. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. GajahMada Universitas Press. Yogyakarta Hadjowigeno. 1992. Ilmu Tanah. Sara Perkasa. Jakarta
Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta Novizan. 2003. Pemupukan Yang Efektif. Agrmedia Pustaka. Jakarta Nugroho. 1985. Dasar-dasar statistik. Penebar Swadaya. Jakarta
Setyadmidjaja. 1993. Karet Budidaya Dan Pengolahannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Setiawan, D, H, dan Andoko, A. 2007. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Jaga Karsa. Jakarta.
Soekrtawi. 1989. Prinsip Dasar Manajemen Pasar Hasil Pertanaian Rajawali. Jakarta.
Sosrosoedirjo, 2005. Ilmu Memupuk. Yasagung. Jakarta
Sutedjo. 1989. Hama Tanaman Keras Dan Cara Pemberantasanya.Bina Aksara. Jakarta.
Tjahjadi, 1989. Hama dan penyakit Tanaman.kanisius. Yogyakarta.
Tim penulis PS. 1999. Karet. Strategi Pemasaran Tahun 2000. Budidaya Dan Pengolahan.
Lampiran 1. Tabel Pertumbuhan Tinggi Tanaman Karet
Pertumbuhan tinggi tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 5.5 5.7 6 8.2 10 9 8 6.5 9 7 P1 16.8 15.7 18.8 20.5 17.5 17.7 22 19.7 20.2 19 P2 1 7.5 8.5 15 14 9.5 10 8.7 10.5 23 19 P3 16.8 7.1 10.7 9 8.5 11.5 13 8.7 9.5 10
Pertumbuhan tinggi tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 7.5 7.10 8 10 11 12 13 9 13 11 P1 19.3 18.7 23.5 25.5 20.7 19.5 24.7 23.8 22.5 24.6 P2 2 16.7 11.5 17.5 16.5 12.8 13.5 11.5 14.3 25.7 21.3 P3 8.5 9.7 11.5 12 13 14 15 12 13 14
Pertumbuhan tanaman (cm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 10 10.5 11 13 14.5 14.7 15 11 15 13 P1 23. 25.7 27 25.5 25 24.5 29 28 26.5 28.5 P2 3 14.5 20.3 19.7 16.5 17.2 14.3 17.5 28.2 24.5 23.5 P3 12.5 12 12.5 15 16 17 18 15 16 17.5
Lampiran 2. Tabel Pertumbuhan Diameter Batang Tanaman Karet
Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 3.81 3.12 3.55 3.60 3.85 3.80 3.70 3.15 3.25 3.80 P1 5.35 5.37 4.85 6.30 5.45 4.32 6.36 5.75 6.25 4.64 P2 1 4.65 4.87 4.25 5.50 5.11 5.70 4.30 5.62 5.11 5.20 P3 3.90 4.52 4.60 4.50 4.20 4.21 5.20 4.75 4.90 5.13
Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 4.12 3.37 4.10 3.65 3.90 3.85 3.75 3.31 3.52 3.91 P1 5.85 5.75 5.37 6.65 5.80 4.95 6.75 5.90 6.70 4.80 P2 2 4.90 4.91 4.90 6.10 5.25 4.45 4.90 5.80 5.75 5.25 P3 3.95 5.21 4.90 4.75 4.60 5.71 5.50 4.91 5.10 5.48
Pertumbuhan diameter batang (mm) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 4.28 3.65 4.25 3.72 4.11 3.92 3.85 3.65 4.10 4.12 P1 6.25 5.98 5.80 6.97 5.95 5.47 6.98 6.45 6.99 5.55 P2 3 5.32 5.53 5.37 6.25 5.45 5,86 5.10 6.85 6.81 6.20 P3 4.58 5.61 5.25 4.91 4.82 5.85 5.88 5.53 5.37 5.85
Lampiran 3. Tabel Pertambahan Jumlah Tangkai Daun Tanaman Karet
Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 5 6 7 7 8 8 7 8 8 7 P1 10 9 11 14 12 12 16 14 14 13 P2 1 8 9 9 9 9 11 9 9 15 11 P3 7 8 11 8 8 9 11 10 8 10
Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 6 7 8 8 8 9 8 9 10 9 P1 13 12 17 17 19 14 23 21 22 23 P2 2 10 11 12 12 12 14 12 12 17 13 P3 10 11 12 11 11 13 13 13 11 14
Pertumbuhan jumlah tangkai daun (buah) bulan ke Perlakuan Bst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 P0 8 9 9 10 11 11 10 10 12 11 P1 17 16 21 24 21 21 25 25 26 28 P2 3 13 15 16 15 15 17 15 15 20 16 P3 12 13 14 13 13 15 15 15 13 15
Lampiran 4. Perhitungan pertumbuhan tinggi tanaman karet(Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan
Lampiran 5. Perhitungan pertumbuhan diameter batang bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan
= = = 10,1 cm = 22,5 cm = 16,1 cm 1 BSP + 2 BSP + 3BSP 3 - x = 7,5 + 10,2 + 12,8 3 P0 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P1 12,6 + 16,1 + 19,6 3 P2 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P3 = 12,6 cm = 3,8 mm = 5,9 mm = 5,4 mm 1 BSP + 2 BSP + 3BSP + 3 - x = 3,6 + 3,7 + 3,9 3 P0 = 5,5 + 5,9 + 6,2 3 P1 5,0 + 5,2 + 5,9 3 P2 = 18,8 + 22,3 + 26,3 3 P3 = 4,9 mm
Lampiran 6. Perhiungan pertumbuhan jumlah tangkai daun bibit tanaman karet (Hevea brasilliensis L.) umur 1, 2 dan 3 bulan setelah pemupukan.
= 8,5 helai = 17,7 helai = 12,7 helai 1 BSP + 2 BSP + 3BSP 3 - x = 7,1 + 8,2 + 10,1 3 P0 = 12,5 + 18,1 + 22,4 3 P1 9,9 + 12,5 + 15,7 3 P2 = 9 + 11,9 + 13,8 3 P3 = 11,6 helai
Lampiran 7. Pengisian tanah ke polybag
Lampiran 9. Pengkuran diameter batang