Concept Design Jembatan Pile Slab

50  19  Download (0)

Teks penuh

(1)

Perencanaan Teknis (DED)

Perencanaan Teknis (DED)

Jembatan PILE SLAB

Jembatan PILE SLAB

(2)
(3)

Sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan

Sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan

P

Perenca

erencanaa

naan T

n Tekni

eknik

k JJ e

em

mb

ba

ata

tan

n p

piile sla

le slab

b

,,  maka  maka dengan ini kami sampaikan

dengan ini kami sampaikan

Laporan Perhitungan Struktur

Laporan Perhitungan Struktur

Laporan Perhitungan ini adalah merupakan suatu laporan yang berisikan beberapa hal, yaitu Laporan Perhitungan ini adalah merupakan suatu laporan yang berisikan beberapa hal, yaitu Perhitungan Perencanaan beserta r

Perhitungan Perencanaan beserta r umus-rumus dan asumsi yang digunakan dalam pelaksanaanumus-rumus dan asumsi yang digunakan dalam pelaksanaan  pekerjaa

 pekerjaa n.n.

Demikian laporan yang dapat disampaikan, atas kepercayaan dan kesempatan yang telah Demikian laporan yang dapat disampaikan, atas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami serta dorongan dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

diberikan kepada kami serta dorongan dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta,

Jakarta, April April 20182018 PT. Perentjana Djaja PT. Perentjana Djaja

(4)
(5)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR  KATA PENGANTAR ... ... ii I I PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... . 44 I.1

I.1 Umum Umum ... ... 44 I.2

I.2 Peraturan Peraturan ... ... 44 I.3

I.3 Material Material ... ... 44 I.4

I.4 Konsep Konsep Desain Desain ... 4... 4 II

II PERENCANAAN PERENCANAAN STRUKTUR STRUKTUR ... 6... 6 II.1

II.1 Pemodelan Pemodelan Struktur ...Struktur ... 6... 6 II.1.1

II.1.1 Pembebanan Pembebanan ... ... 66 II.1.2

II.1.2 Kombinasi Kombinasi Pembebanan Pembebanan ... . 1111 II.2

II.2 Desain Desain Struktur Struktur ... ... 1313 II.2.1

II.2.1 Pembebanan Pembebanan ... .... 1313 -- Beban Beban Terpusat Terpusat ... ... 1414 -- Beban Beban Merata Merata ... ... 1414

II.2.2

II.2.2 Desain Desain Slab Slab ... 16... 16 II.2.3

II.2.3 Desain Desain Pile Pile ... ... 1919 II.2.4

(6)
(7)

DAFTAR TABEL

DAFTAR TABEL

Tabel II-1

Tabel II-1 Faktor beban Faktor beban dinamik untuk dinamik untuk beban garis beban garis KEL KEL ... ... 88 Tabel II-2

Tabel II-2 Faktor Modifikasi Faktor Modifikasi (R) untuk (R) untuk Bangunan Bawah...Bangunan Bawah... ... 1111 Tabel

Tabel II-3 II-3 Faktor Faktor Beban ...Beban ... 11... 11 Tabel

(8)
(9)

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Gambar II-I II-I Model Model Struktur Struktur Jembatan Jembatan ... 6... 6 Gambar

Gambar II-II II-II Beban Beban Lajur Lajur D ...D ... 9... 9 Gambar II-III

Gambar II-IIIBeban Truk “T”Beban Truk “T” ..................... ... 99 Gambar II-IV Peta

Gambar II-IV Peta percepatan puncak di percepatan puncak di batuan dasar batuan dasar (pga) ...(pga) ... ... 1010 Gambar II-V Peta

Gambar II-V Peta Spektrum Percepatan Spektrum Percepatan Gempa 0,2 Gempa 0,2 detik (SS) detik (SS) Indonesia Indonesia ... ... 1010 Gambar II-VI Peta

Gambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik 1,0 detik (S1) Indonesia (S1) Indonesia ... ... 1111 Gambar II-VII Pemodelan

Gambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati Pembebanan Beban Mati dengan Program dengan Program Midas ...Midas ... ... 1313 Gambar II-VIII Pemodelan

Gambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas ...dengan Program Midas ... ... 1313 Gambar 0-I

Gambar 0-I Kontur moment Kontur moment Mxx Mxx pada spada slab...lab... 16.... 16 Gambar

Gambar 0-II 0-II Kontur Kontur moment moment Myy Myy pada pada slab slab ... 16... 16 Gambar 0-III Lendutan plat

Gambar 0-III Lendutan plat pada kondisi pada kondisi Beban Lajur 1 Beban Lajur 1 = -5.91 = -5.91 mm ...mm ... ... 1717 Gambar 0-IV Lendutan

Gambar 0-IV Lendutan plat pada plat pada kondisi Beban kondisi Beban Lajur 2= Lajur 2= -3.67mm -3.67mm ... ... 1717 Gambar 0-V Lendutan plat pada

Gambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mm ... -4.19 mm ... 1717 Gambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi

Gambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mm ... -6.84 mm ... 1818 Gambar 0-VII

Gambar 0-VII Momen Servis Momen Servis My Non My Non Gempa Gempa pada pada pile pile ... ... 1919 Gambar 0-VIII

Gambar 0-VIII Momen SMomen Servis My ervis My Gempa Gempa pada pile ...pada pile ... 19... 19 Gambar 0-IX

Gambar 0-IX Momen Ultimate Momen Ultimate My Non My Non Gempa pada Gempa pada pile ...pile ... 19.... 19 Gambar

Gambar 0-X 0-X Gaya Gaya Aksial SerAksial Servis vis Non GNon Gempa ...empa ... 21... 21 Gambar

Gambar 0-XI 0-XI Gaya Gaya Aksial Aksial Pada Pada Bored Bored Pile Pile ... 22... 22 Gambar

Gambar 0-XII 0-XII Daya Daya Dukung Dukung Tiang Tiang Pondasi Pondasi ... 22.... 22 Gambar 0-XIII Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 14,65 Gambar 0-XIII Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 14,65 mm

mm ... ... 2222 Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 30,43 Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 30,43 mm

(10)
(11)

I PENDAHULUAN

I PENDAHULUAN

I.1

I.1 UmumUmum

Struktur jembatan direncanakan dengan sistem integral

Struktur jembatan direncanakan dengan sistem integral slab.slab. Perletakan diujung-ujungPerletakan diujung-ujung  jembatan

 jembatan merupakan merupakan tumpuan tumpuan rol rol dimana dimana pada pada arah arah longitudinal longitudinal jembatan jembatan tidak tidak terdapatterdapat tahanan.

tahanan.

I.2

I.2 PeraturanPeraturan

Peraturan-peraturan yang digunakan dalam perencaan struktur jembatan

Peraturan-peraturan yang digunakan dalam perencaan struktur jembatan adalah :adalah : a.

a. Perencanaan Pembebanan Struktur Atas Jembatan mengikutiPerencanaan Pembebanan Struktur Atas Jembatan mengikuti Bridge Design Manual Bridge Design Manual 

BMS yang diterbitkan oleh Direktorat Jalan Raya, Departemen Pekerjaan Umum, BMS yang diterbitkan oleh Direktorat Jalan Raya, Departemen Pekerjaan Umum, Republik Indonesia, Desember 1992 (BMS).

Republik Indonesia, Desember 1992 (BMS). b.

b. Standar Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI. T-02-2005), sesuai dengan Kepmen PUStandar Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI. T-02-2005), sesuai dengan Kepmen PU No.

No. 498/KPTS/M/2005.498/KPTS/M/2005. c.

c. Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SK.SNI. T-12-2004), sesuai denganPerencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SK.SNI. T-12-2004), sesuai dengan Kepmen PU No.

Kepmen PU No. 498/KPTS/M/2005498/KPTS/M/2005.. d.

d. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung,Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung, SNI 03-1726-2012.

SNI 03-1726-2012.

I.3

I.3 MaterialMaterial

Material yang digunakan adalah : Material yang digunakan adalah :

-- Bored Pile Bored Pile : : Beton Beton K-300K-300

-- Pile Cap Pile Cap : : Beton Beton K-300K-300

-- Slab Slab : : Beton Beton K-300K-300

-- Besi Beton Besi Beton : : fy=400 fy=400 MPaMPa

I.4

I.4 Konsep DesainKonsep Desain

Perencanaan elemen struktur dilakukan dengan metoda kekuatan batas (metoda Perencanaan elemen struktur dilakukan dengan metoda kekuatan batas (metoda ultimite) dimana nilai beban dinaikan dengan faktor beban seperti yang terdapat dalam ultimite) dimana nilai beban dinaikan dengan faktor beban seperti yang terdapat dalam peraturan perencanaan struktur beton, harus lebih kecil atau sama dengan kapasitas peraturan perencanaan struktur beton, harus lebih kecil atau sama dengan kapasitas penampang yang dikalikan dengan faktor reduksi.

penampang yang dikalikan dengan faktor reduksi.

Faktor Reduksi Kekuatan (ø) mengikuti nilai-nilai di bawah ini : Faktor Reduksi Kekuatan (ø) mengikuti nilai-nilai di bawah ini : 1)

1) Lentur, tanpa gaya aksial merupakan fungsi regangan tarik terluar.Pada Lentur, tanpa gaya aksial merupakan fungsi regangan tarik terluar.Pada penampangpenampang elemen struktur yang memiliki

elemen struktur yang memiliki perilaku tarik, nilai 0,90 perilaku tarik, nilai 0,90 dapat digunakan yaitu saatdapat digunakan yaitu saat nilai regangan baja tulangan terluar yang mengalami tarik tidak kurang dari 0,005. nilai regangan baja tulangan terluar yang mengalami tarik tidak kurang dari 0,005.

(12)
(13)

2)

2) Geser Geser dan dan Torsi Torsi = = 0,750,75 3)

3) Gaya aksial, dan gaya aksial dengan lentur :Gaya aksial, dan gaya aksial dengan lentur :

-- Aksial Aksial tarik, tarik, dan dan aksial aksial tarik tarik dengan dengan lentur lentur = = 0,900,90 -- Aksial Aksial tekan, tekan, dan dan aksial aksial tekan tekan dengan dengan lentur lentur = = 0,650,65 4)

4) Dengan Dengan penulangan penulangan geser geser biasa biasa = = 0,650,65 5)

(14)
(15)

II

II PERENCANAAN

PERENCANAAN STRUKTUR

STRUKTUR

II.1

II.1 Pemodelan StrukturPemodelan Struktur

Software

Software yang digunakan dalam pemodelan dan analisis struktur adalah program MIDAS yang digunakan dalam pemodelan dan analisis struktur adalah program MIDAS Civil.

Civil.

Gambar II-I Model Struktur Jembatan Gambar II-I Model Struktur Jembatan

II.1.1

II.1.1 PembebananPembebanan

Secara umum kriteria pembebanan yang digunakan dalam perencanaan jembatan ini ditinjau Secara umum kriteria pembebanan yang digunakan dalam perencanaan jembatan ini ditinjau dari dua kondisi beban, yaitu :

dari dua kondisi beban, yaitu : a.

a. Beban Kerja (Beban Kerja (Working Load/ Service Load Working Load/ Service Load )) Beban layan adalah beban yang b

Beban layan adalah beban yang bekerja pada saat kondisi layan bangunan jembatan, halekerja pada saat kondisi layan bangunan jembatan, hal ini berkaitan dengan servisibilitas dari

ini berkaitan dengan servisibilitas dari bangunan.bangunan. b.

b. Beban Batas (Beban Batas (Ultimate Load Ultimate Load ))

Beban batas adalah beban yang bekerja pada kondisi ultimit dari struktur, yaitu Beban batas adalah beban yang bekerja pada kondisi ultimit dari struktur, yaitu diperoleh dengan mengalikan beban yang bekerja dengan faktor beban.

diperoleh dengan mengalikan beban yang bekerja dengan faktor beban.

A.

A. Berat SendiriBerat Sendiri

Berat sendiri adalah berat dari elemen-elemen struktural jembatan. Berat sendiri ini Berat sendiri adalah berat dari elemen-elemen struktural jembatan. Berat sendiri ini belum termasuk beban mati tambahan. Berat Sendiri dihitung secara otomatis oleh program belum termasuk beban mati tambahan. Berat Sendiri dihitung secara otomatis oleh program MIDAS civil.

(16)
(17)

B.

B. Beban Mati TambahanBeban Mati Tambahan

Yang dimaksud beban mati tambahan (SDL) tersebut adalah berat semua material Yang dimaksud beban mati tambahan (SDL) tersebut adalah berat semua material non-struktural yang digunakan pada Jembatan seperti perkerasan (asphalt), lampu jalan, genangan struktural yang digunakan pada Jembatan seperti perkerasan (asphalt), lampu jalan, genangan air, dan

air, dan paraphet.paraphet.

γ

γ

asphaltasphalt = = 22.4 22.4 kN/mkN/m33

γ

γ

airair = = 10 10 kN/mkN/m33 Beban

Beban asphalt asphalt = = 0,1 0,1 * * 22,4 22,4 kN/mkN/m33 = 2,24 kN/m= 2,24 kN/m22 Beban

Beban genangan genangan = = 0,2 0,2 * * 10 10 kN/mkN/m33 = 1 kN/m= 1 kN/m22

C.

C. Beban Lalu LintasBeban Lalu Lintas

Berdasarkan arah bekerjanya beban, maka beban lalu lintas dapat dibagi menjadi tiga Berdasarkan arah bekerjanya beban, maka beban lalu lintas dapat dibagi menjadi tiga komponen :

komponen : 1.

1. Komponen VertikalKomponen Vertikal 2.

2. Komponen Rem (arah longitudinal)Komponen Rem (arah longitudinal) 3.

3. Komponen Sentrifugal (arah radial)Komponen Sentrifugal (arah radial) Beban lalu lintas untuk Rencana Jemb

Beban lalu lintas untuk Rencana Jembatan Jalan Raya terdiri beban lajur “D” dan bebanatan Jalan Raya terdiri beban lajur “D” dan beban truk “T”. Pembebanan lajur “D” ditempatkan melintang pada lebar penuh dari jalan kendaraan truk “T”. Pembebanan lajur “D” ditempatkan melintang pada lebar penuh dari jalan kendaraan

 jembatan

 jembatan dan dan menghasilkmenghasilkan an pengaruh pengaruh pada pada jembatan jembatan yang yang eqivalen eqivalen dengan dengan rangkaianrangkaian kendaraan sebenarnya. Jumlah total

kendaraan sebenarnya. Jumlah total pembebanapembebanan lajur n lajur “D” yang ditempatk“D” yang ditempatkan tergantung padaan tergantung pada

lebar jalan

lebar jalan kendaraan jembatan.kendaraan jembatan.

Beban truk “T” adalah berat kendaraan tunggal dengan tiga gandar yang ditempatkan Beban truk “T” adalah berat kendaraan tunggal dengan tiga gandar yang ditempatkan

pada berbagai posisi sembarang pada lajur lalu lintas. Tiap

pada berbagai posisi sembarang pada lajur lalu lintas. Tiap gandar terdiri dari dua gandar terdiri dari dua pembebananpembebanan bidang bidang kontak yang dimaksud agar mewakili pengaruh roda kendaraan berat (trailer). bidang bidang kontak yang dimaksud agar mewakili pengaruh roda kendaraan berat (trailer).

Beban satu truk “T” ini

Beban satu truk “T” ini hanya boleh ditempatkan per lajur lalu lintas rencana.hanya boleh ditempatkan per lajur lalu lintas rencana.

Pada umumnya beban lajur “D” akan memberikan efek yang lebih maksimum pada Pada umumnya beban lajur “D” akan memberikan efek yang lebih maksimum pada

 jembatan-jembatan bentang menengah dan

 jembatan-jembatan bentang menengah dan panjang sehingga untuk panjang sehingga untuk analisis struktur jembatananalisis struktur jembatan

bentang menengah dan panjang hanya akan memperhitungkan beban lajur “D”. Sedangkan bentang menengah dan panjang hanya akan memperhitungkan beban lajur “D”. Sedangkan

untuk

jembatan-untuk jembatan- jembatan bentang  jembatan bentang pendek pendek dan dan sistem sistem lantai lantai dek, dek, effek effek beban beban truk truk “T” “T” akakanan

lebih maksimum dibandingkan dengan efek beban lajur “D”. Dengan demikian untuk lebih maksimum dibandingkan dengan efek beban lajur “D”. Dengan demikian untuk

perencanaan jembatan-jembatan bentang pendek dan system lantai dek hanya akan perencanaan jembatan-jembatan bentang pendek dan system lantai dek hanya akan

memperhitungk

memperhitungkan beban an beban truk “T”.truk “T”.

Faktor beban Dinamik (DLA) berlaku pada beban gar

Faktor beban Dinamik (DLA) berlaku pada beban garis KEL lajur “is KEL lajur “D" dan beban truk "T"D" dan beban truk "T" untuk simulasi kejut dan kendaraan bergerak pada Struktur jembatan. Faktor beban dinamik untuk simulasi kejut dan kendaraan bergerak pada Struktur jembatan. Faktor beban dinamik adalah sama untuk S.L.S. dan U.L.S. dan untuk semua bagian struktur sampai pondasi. Untuk adalah sama untuk S.L.S. dan U.L.S. dan untuk semua bagian struktur sampai pondasi. Untuk

beban truk “T” nilai DLA adalah 0.3. Untuk beban garis

(18)
(19)

Tabel II-1 Faktor beban dinamik untuk beban garis KEL Tabel II-1 Faktor beban dinamik untuk beban garis KEL

 Beban Lajur “D”Beban Lajur “D”

Beban Lajur "D" terdiri dari Beban terbagi rata UDL (

Beban Lajur "D" terdiri dari Beban terbagi rata UDL (Uniform Distributed Load Uniform Distributed Load ) dengan) dengan intensitas q kPa, dengan q tergantung pada panjang bentang yang dibebani total (L) sebagai intensitas q kPa, dengan q tergantung pada panjang bentang yang dibebani total (L) sebagai berikut: berikut: 2 2 2 2 // 15 15 5 5 .. 0 0 0 0 .. 9 9 ;; 30 30 // 0 0 .. 9 9 ;; 30 30 m m kN  kN   L  L q q m m  L  L m m kN  kN  q q m m  L  L



 

 

 

 



 

 

 

 

Beban UDL boleh ditempatkan dalam panjang terputus agar

Beban UDL boleh ditempatkan dalam panjang terputus agar terjadi pengaruh maksimum. Dalamterjadi pengaruh maksimum. Dalam hal ini

hal ini L adalah jumlah dan panjang masing-masing beban L adalah jumlah dan panjang masing-masing beban terputus tersebut.terputus tersebut. Bentang

Bentang Ekuivalen Ekuivalen LE LE (m) (m) DLA DLA (untuk (untuk kedua kedua keadaan keadaan batas)batas) LE LE 50 50 0.40.4 50 50 LE LE 90 90 0.5250.525 – – 0.0025 LE 0.0025 LE LE LE 90 90 0.30.3 Catatan : Catatan : Untuk

Untuk bentabentang seng sederhderhana LE ana LE = panj= panjang bang bentanentang akg aktualtual Untuk bentang menerus LE =

Untuk bentang menerus LE =  L Lratarataratarata

LLmaksmaks Dengan :

Dengan :

Lrata-rata

Lrata-rata = = panjang bentang rata-rata dari bentang-bentang meneruspanjang bentang rata-rata dari bentang-bentang menerus Lmaks

Lmaks = = panjang bepanjang bentang makntang maksimum darsimum dari bentang-bentai bentang-bentang menerusng menerus

BENTANG EKUIVALEN L

BENTANG EKUIVALEN LEE(m) (m) DLA DLA (untuk (untuk kedua kedua keadaan keadaan batas)batas)

LLEE 50 50 0.40.4 50 50 L LEE 90 90 0.5250.525 – – 0.0025 L 0.0025 LEE LLEE 90 90 0.30.3 Catatan : Catatan :

Untuk bentang sederhana L

Untuk bentang sederhana LEE= p= pananjanjang g benbentantang g akaktuatuall Untuk bentang menerus L

Untuk bentang menerus LEE==  L Lratarataratarata

LLmaksmaks

Dengan : Dengan :

LLrata-ratarata-rata= = panjang bentapanjang bentang rata-rata dari bentng rata-rata dari bentang-bentang menerang-bentang menerusus LLmaksmaks = = panjang panjang bentang bentang maksimum maksimum dari dari bentang-bentang bentang-bentang menerusmenerus

(20)
(21)

Selain beban merata UDL, beban lajur “D” juga termasuk beban garis KEL (

Selain beban merata UDL, beban lajur “D” juga termasuk beban garis KEL (Knife EdgeKnife Edge Load 

Load ) sebesar p kN/m, yang ditempatkan dalam kedudukan sembarang sepanjang jembata) sebesar p kN/m, yang ditempatkan dalam kedudukan sembarang sepanjang jembatan dann dan tegak lurus pada pada arah

tegak lurus pada pada arah lalu lintas.lalu lintas. P = 49.0 kN/m

P = 49.0 kN/m

Pada bentang menerus, beban garis KEL di

Pada bentang menerus, beban garis KEL ditempatkan dalam kedudukatempatkan dalam kedudukan lateral sama yaitu n lateral sama yaitu tegaktegak lurus arah lalu lintas pada dua bentang agar momen lentur negatif menjadi maksimum.

lurus arah lalu lintas pada dua bentang agar momen lentur negatif menjadi maksimum.

Gambar II-II Beban Lajur D Gambar II-II Beban Lajur D

Beban Truk “T” Beban Truk “T”

Beban truk "T” ditunjukan dalam Beban truk "T” ditunjukan dalam

Gambar II-III. Gambar II-III.

Gambar II-III

(22)
(23)

D.

D. Gaya RemGaya Rem

Pengaruh rem dan percepatan lalu lintas harus dipertimbangkan sebagai gaya Pengaruh rem dan percepatan lalu lintas harus dipertimbangkan sebagai gaya memanjang.

memanjang. Sistem penahan harus direncSistem penahan harus direncanakan untuk menanakan untuk menahan gaya memanjahan gaya memanjang tersebut.ang tersebut. Gaya rem sebesar 5% dari beban lajur D di

Gaya rem sebesar 5% dari beban lajur D di anggap bekerja pada semua lajur lalu lintas.anggap bekerja pada semua lajur lalu lintas.

E.

E. Beban GempaBeban Gempa

Beban Gempa ditentukan berdasarkan RSNI3 2833-20XX. Kondisi tanah di sekitar lokasi Beban Gempa ditentukan berdasarkan RSNI3 2833-20XX. Kondisi tanah di sekitar lokasi struktur bangunan adalah tanah sedang (Kelas Situs S

struktur bangunan adalah tanah sedang (Kelas Situs S D). Gempa rencana ditetapkan mempunyaiD). Gempa rencana ditetapkan mempunyai perioda ulang 1000 tahun,

perioda ulang 1000 tahun, dengan kemungkdengan kemungkinan terlampaui 7 inan terlampaui 7 % dalam 75 tahun% dalam 75 tahun..

Gambar II-IV Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga) Gambar II-IV Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga)

Gambar II-V Peta Spektrum Percepatan Gempa 0,2 detik (SS) Indonesia Gambar II-V Peta Spektrum Percepatan Gempa 0,2 detik (SS) Indonesia

(24)
(25)

Gambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) Indonesia Gambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) Indonesia

Analisis response spektrum dilakukan untuk menghitung pengaruh beban gempa Analisis response spektrum dilakukan untuk menghitung pengaruh beban gempa rencana. Faktor keutama

rencana. Faktor keutamaan bangunan yang digunan bangunan yang digunakan yaitu akan yaitu I = 1. Faktor reduksi gempa yangI = 1. Faktor reduksi gempa yang digunakan ses

digunakan sesuai ketentuan uai ketentuan RSNI 03-2833-201x diambil sebesar RSNI 03-2833-201x diambil sebesar R = 5 untuk sR = 5 untuk sistem strukturistem struktur kolom majemuk.

kolom majemuk.

Tabel II-2 Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan Bawah Tabel II-2 Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan Bawah

II.1.2

II.1.2 Kombinasi PKombinasi Pembebananembebanan

Tabel II-3 Faktor Beban Tabel II-3 Faktor Beban

B

Beerraat t SSeennddiirrii 11 11,,33 S

SDDLL 11 22

S

Suussuut t & & RRaannggkkaakk 11 11 LLaajjuurr""DD"" 11 11,,88 T Trruukk""TT"" 11 1,,818 G Gaayyaarreemm 11 11,,88 G

Gaayya a sseennttrriiffuuggaall 11 11,,88 T

Teemmppeerraattuurr 11 11,,22 B Beebbaan n aannggiinn 11 11,,22 G Geemmppaa -- 11 FAKTOR BEBAN FAKTOR BEBAN SS UU

(26)
(27)

Tabel II-4 Kombinasi Pembebanan Tabel II-4 Kombinasi Pembebanan

Kombinasi Service : Kombinasi Service : 1. 1. BS + SDL + D + RemBS + SDL + D + Rem 2. 2. BS + SDL + T + RemBS + SDL + T + Rem 3.

3. BS + SDL + T + Rem + TempBS + SDL + T + Rem + Temp 4. 4. BS + SDL + T + AnginBS + SDL + T + Angin 5. 5. BS + SDL + T + SentrifugalBS + SDL + T + Sentrifugal Kombinasi Ultimate : Kombinasi Ultimate : 1. 1. 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 D + 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 D + 1,8 Rem1,8 Rem 2. 2. 1,3 BS + 1,3 BS + 2 SDL + 12 SDL + 1,8 T + 1,8 Rem,8 T + 1,8 Rem 3.

3. 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,8 Rem + 1,2 Temp1,8 Rem + 1,2 Temp 4. 4. 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,2 Angin1,2 Angin 5. 5. 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 T + 1,8 Sentrifugal1,8 Sentrifugal 6. 6. 1,3 BS + 2 SDL + 1,8 D + Gempa1,3 BS + 2 SDL + 1,8 D + Gempa 7. 7. 1,3 BS + 1,3 BS + 2 SDL + 12 SDL + 1,8 T + Gempa,8 T + Gempa

(28)
(29)

II.2

II.2 Desain StrukturDesain Struktur II.2.1

II.2.1 PembebananPembebanan

1.

1. Beban Mati (DL)Beban Mati (DL)

Gambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program Midas Gambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program Midas

2.

2. Beban Lajur 1 (D)Beban Lajur 1 (D)

-- Beban TerpusatBeban Terpusat

Gambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas Gambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

-- Beban MerataBeban Merata

Gambar II-IX Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas Gambar II-IX Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

(30)
(31)

3.

3. Beban Lajur 2 (D)Beban Lajur 2 (D)

-- Beban TerpusatBeban Terpusat

Gambar 0-X Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas Gambar 0-X Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

-- Beban MerataBeban Merata

Gambar 0-XI Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas Gambar 0-XI Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

4.

4. Beban Truk (T)Beban Truk (T)

-- Beban Truk 1Beban Truk 1

Gambar 0-XII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas Gambar 0-XII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas

(32)
(33)

-- Beban Truk 2Beban Truk 2

Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas

5.

5. Beban RemBeban Rem

Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program Midas Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program Midas

6.

6. Respon SpectrumRespon Spectrum

Gambar 0-XIIII Pemodelan Respon Spectrum dengan Program Midas Gambar 0-XIIII Pemodelan Respon Spectrum dengan Program Midas

(34)
(35)

II.2.2

II.2.2 Desain SlabDesain Slab

Dari hasil analisis

Dari hasil analisis dengan program MIDAS civil didapatkan sebagai berikut:dengan program MIDAS civil didapatkan sebagai berikut:

Gambar 0-I Kontur moment Mxx pada slab Gambar 0-I Kontur moment Mxx pada slab

Properties slab jembatan :

Properties slab jembatan : (longitudinal)(longitudinal)

Tebal

Tebal slab slab (t) (t) = = 350 350 mmmm Tulangan slab arah

Tulangan slab arah – – x x

Atas Atas : : D25D25 – – 100 100 Bawah : D25 Bawah : D25 – – 100 100 Mn Mn = = 464 464 kNmkNm Mu Mu = = 409 409 kNmkNm φ Mn φ Mn = = 0,9 0,9 * * 476 476 kNm kNm = = 428 428 kNkN φ Mn > Mu...OK φ Mn > Mu...OK

Gambar 0-II Kontur moment Myy pada slab Gambar 0-II Kontur moment Myy pada slab

Tulangan slab arah

Tulangan slab arah – – y (transversal) y (transversal)

Atas Atas : : D13D13 – – 100 100 Bawah : D13 Bawah : D13 – – 100 100 Mn Mn = = 140,4 140,4 kNmkNm Mu Mu = = 92 92 kNmkNm φ Mn φ Mn = = 0,9 0,9 * * 121 121 kNm kNm = = 126,36126,36kN φ Mn > Mu...OKkN φ Mn > Mu...OK

(36)
(37)

Lendutan pada Plat Lendutan pada Plat

Gambar 0-III Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mm Gambar 0-III Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mm

Gambar 0-IV Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mm Gambar 0-IV Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mm

Gambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mm Gambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mm

(38)
(39)

Gambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mm Gambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mm

Tabel Hasil Analisa

Tabel Hasil Analisa Lendutan Pada PlatLendutan Pada Plat

No

No Tebal PlatTebal Plat

(mm) (mm) Bentang Bentang (mm) (mm) Lendutan Lendutan Izin Izin Lendutan Lendutan max max Terjadi Terjadi (mm) (mm) (mm) (mm) 1 1 t t = = 350 350 7500 7500 9,375 9,375 6,846,84

(40)
(41)

II.2.3

II.2.3 Desain PileDesain Pile

Gambar 0-VII Momen Servis My Non Gempa pada pile Gambar 0-VII Momen Servis My Non Gempa pada pile

Gambar 0-VIII Momen Servis My Gempa pada pile Gambar 0-VIII Momen Servis My Gempa pada pile

Gambar 0-IX Momen Ultimate My Non Ge

(42)
(43)

Momen kon

Momen kondisi service = 244 disi service = 244 kN.m, Momen kN.m, Momen SLS Gempa M= 24SLS Gempa M= 248 kN,m. Momen 8 kN,m. Momen Ultimate Ultimate MuMu =591 kN.m. Kelas Spun Pile Diameter 600 kelas B

(44)
(45)

II.2.4

II.2.4 Daya Dukung Pondasi PileDaya Dukung Pondasi Pile

Perhitungan pemodelan pondasi dengan menggunakan Midas untuk mencari gaya aksial dan Perhitungan pemodelan pondasi dengan menggunakan Midas untuk mencari gaya aksial dan momen maksimum pada kondisi service dengan gempa dan tanpa gempa, serta momen maksimum pada kondisi service dengan gempa dan tanpa gempa, serta membandingkan dengan momen yang diijinkan untuk pondasi pile.

membandingkan dengan momen yang diijinkan untuk pondasi pile.

Gambar 0-X Gaya Aksial Servis Non Gempa Gambar 0-X Gaya Aksial Servis Non Gempa

P = 553 kN P = 553 kN 26 m

26 m

16 m

16 m–– Spun pile D600 type A1 Spun pile D600 type A1 10 m

(46)
(47)

Gambar 0-XI Gaya Aksial Pada Bored Pile Gambar 0-XI Gaya Aksial Pada Bored Pile

P = 719 kN P = 719 kN

Gambar 0-XII Daya Dukung Tiang Pondasi Gambar 0-XII Daya Dukung Tiang Pondasi

Gambar 0-XIII Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi

Gambar 0-XIII Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 14,65 mmEnvelope SLS Non gempa = 14,65 mm

0.6 0.6

Skin

Skin Friction Friction Skin Skin Friction Friction End End BearingBearing P

Poossiittiivve e ((kkNN)) PPoossiittiivve e ((kkNN)) QQbb TeTekkaann TTaarriikk

∑fsfs.p..p.ΔΔLL β.σ'v (Sand)β.σ'v (Sand) ((kkNN)) TTeekkaann TTaarriikk 00..8855 00..8855

1 1 0 0 - - 2 2 2 2 CCllaay y 2 2 1144..000 0 3366..6 6 00..669 9 0..5055 5 77..7 7 2299..003 3 2299..003 3 3355..663 3 6644..665 5 2255..886 6 88..771 1 2211..99882 2 77..440022 2 2 2 2 - - 4 4 2 2 CCllaay y 3 3 2211..000 0 5353..2 2 00..668 8 00..555 5 1111..6 6 4433..554 4 7722..557 7 5533..444 4 112266..001 1 5500..440 0 2211..777 7 4422..88443 3 1188..550066 3 3 4 4 - - 6 6 2 2 CCllaay y 5 5 3355..000 0 6969..8 8 00..667 7 00..555 5 1199..3 3 7722..557 7 114455..114 4 8899..006 6 223344..221 1 9933..668 8 4433..554 4 7799..66330 0 3377..001111 4 4 6 6 - - 8 8 2 2 CCllaay y 7 7 4499..000 0 8686..4 4 00..665 5 00..555 5 227 7 110011..660 0 242466..774 4 112244..669 9 337711..443 3 114488..557 7 7744..002 2 112266..22886 6 6622..991199 5 5 8 8 - - 110 0 2 2 CCllaay y 114 4 9988..000 0 10103 3 00 ..660 0 00..555 5 5533..9 9 220033..220 0 444499..994 4 224499..338 8 669999..332 2 227799..773 3 113344..998 8 223377..77668 8 111144..773344 6 6 110 0 - - 112 2 2 2 CllaCay y 114 4 9988..000 0 111199..6 6 00..660 0 00..555 5 5533..9 9 220033..220 0 665533..114 4 224499..338 8 990022..552 2 336611..001 1 119955..994 4 330066..88556 6 116666..555500 7 7 112 2 - - 114 4 2 2 CCllaay y 115 5 110055..000 0 113366..2 2 00..660 0 00..555 5 5577..8 8 221177..771 1 887700..885 5 226677..119 9 11113388..004 4 445555..222 2 226611..225 5 338866..99334 4 222222..006677 8 8 114 4 - - 116 6 2 2 CllaCay y 113 3 9911..000 0 151522..8 8 00..661 1 00..555 5 5500..1 1 118888..668 8 10105599..553 3 223311..557 7 11229911..110 0 551166..444 4 331177..886 6 443388..99774 4 227700..118811 9 9 116 6 - - 118 8 2 2 CCllaay y 118 8 112266..000 0 116699..4 4 00..557 7 00..555 5 6 96 9..3 3 226611..225 5 13132200..779 9 332200..663 3 11664411..442 2 665566..557 7 339966..224 4 555588..00883 3 333366..880011 1 10 0 118 8 - - 220 0 2 2 CllaCay y 227 7 118899..000 0 11886 6 00..551 1 00..551 1 9966..4 4 336633..338 8 11668844..117 7 448800..995 5 22116655..112 2 886666..005 5 550055..225 5 773366..11440 0 442299..446633 1 11 1 220 0 - - 222 2 2 2 CllaCay y 442 2 229944..000 0 220022..6 6 00..441 1 00..445 5 11332 2 494988..776 6 22118822..993 3 774488..114 4 22993311..007 7 11117722..443 3 665544..888 8 999966..55663 3 555566..664477 1 12 2 222 2 - - 224 4 2 2 CllaCay y 330 0 221100..000 0 221199..2 2 00..449 9 00..449 9 11003 3 383877..992 2 22557700..885 5 553344..338 8 33110055..224 4 11224422..110 0 777711..226 6 11005555..77881 1 665555..556688 1 13 3 224 4 - - 226 6 2 2 CllaCay y 339 9 227733..000 0 223355..8 8 00..443 3 00..445 5 11223 3 464633..113 3 33003333..999 9 669944..770 0 33772288..669 9 11449911..447 7 991100..220 0 11226677..77554 4 777733..666677 1 14 4 226 6 - - 228 8 2 2 CllaCay y 445 5 3 13 155..000 0 225522..4 4 00..339 9 00..445 5 11442 2 535344..338 8 35356688..337 7 880011..558 8 44336699..995 5 11774477..998 8 1 01 07700..551 1 11448855..77883 3 990099..993355 1 15 5 228 8 - - 330 0 2 2 CllaCay y 660 0 4 24 200..000 0 26269 9 00..228 8 00..445 5 11889 9 771122..551 1 44228800..888 8 11006688..777 7 55334499..665 5 22113399..886 6 1 21 28844..227 7 11881188..88883 3 11009911..662266 1 16 6 330 0 - - 332 2 2 2 CllaCay y 550 0 335500..000 0 228855..6 6 00..335 5 00..445 5 11558 8 595933..776 6 48487744..665 5 889900..664 4 55776655..229 9 22330066..111 1 11446622..339 9 11996600..11998 8 11224433..003355 1 17 7 332 2 - - 334 4 2 2 SSaannd d 550 0 00..77224 4 330022..2 2 11990 0 717166..228 8 55559900..993 3 881122..889 9 66440033..882 2 2 52 56611..553 3 16167777..228 8 22117777..22998 8 11442255..668877 1 18 8 334 4 - - 336 6 2 2 SSaannd d 550 0 00..77001 1 331188..8 8 11990 0 717166..228 8 66330077..221 1 881122..889 9 77112200..110 0 2 82 84488..004 4 18189922..116 6 22442200..88334 4 11660088..333399 1 19 9 336 6 - - 338 8 2 2 SSaannd d 550 0 00..66779 9 333355..4 4 11990 0 717166..228 8 77002233..550 0 881122..889 9 77883366..338 8 3 13 13344..555 5 21210077..005 5 22666644..33770 0 11779900..999911 Gaya Axial

Gaya Axial BeBendndining g MoMomemen n HaHasil sil AnAnalalisaisa S

SLLS S NNoon n GGeemmppa a 555533 KNKN TTeekkaan n TTiippe e SSppuun n PPiille e : : TTiippe e BB    CCrraacck k 2255..000 0 88..000 0 ttoonn..mm S SLLS S GGeemmppa a 771199 KNKN 1 .1 .5 6 5 6 4 64 60 .0 .9 0 9 0 K N T eK N T ek ak ann UUllttiimmaatte e 4455..000 0 4400..000 0 ttoonn..mm 100 100 KNKN 1 .1 .5 6 5 6 6 46 4. 1. 10 0 K N T aK N T ar ir ikk Diameter Pile Diameter Pile N Noo.. DDeepptthh Tebal Tebal Lapisan Lapisan (m) (m) Kumulatif Kumulatif Friction

Friction Qult (kN)Qult (kN) Q a

Q al l l l ( k( kN )N ) EEfff if is is ie ne ns i s i P iP il e l e GGr ur up p ( k( kN )N )== SF = 2.5

SF = 2.5

kebutuhan kedalaman pondasi 28 m kebutuhan kedalaman pondasi 28 m

N-SPT N-SPT CuCu (kN/m2) (kN/m2) ββ σσ''vv αα fs fs (kN/ (kN/ m2) m2) Deskripsi Deskripsi

(48)
(49)

Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi

Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 30,43 mmEnvelope SLS Non gempa = 30,43 mm

Daya dukung tiang diambil berdasarkan hasil boring. Pada perhitungan kebutuhan Daya dukung tiang diambil berdasarkan hasil boring. Pada perhitungan kebutuhan kedalaman tiang yang menentuka

kedalaman tiang yang menentukan adalah gaya aksial SLS gempa sebesar n adalah gaya aksial SLS gempa sebesar 719 kN / 1,56 =719 kN / 1,56 =

461 kN (Tekan -). Kedalaman pondasi

461 kN (Tekan -). Kedalaman pondasi yang didapat adalah 24 m yang didapat adalah 24 m dengan daya dukung ijindengan daya dukung ijin

aksial tekan adalah sebesar 1055 kN. Maka spun pile diameter 600 mm

aksial tekan adalah sebesar 1055 kN. Maka spun pile diameter 600 mm AMANAMAN..

Tabel Hasil Analisa Tiang Pada Abutment Tabel Hasil Analisa Tiang Pada Abutment

No No Diameter Diameter Jumlah Jumlah Kedalaman Kedalaman Daya

Daya Dukung Dukung Lendutan Lendutan (SLS)(SLS) Tiang Tiang Pancang Pancang (mm) (mm) Tekan Tarik Tekan Tarik Non Non Gempa Gempa Gempa Gempa (m) (m) (KN) (KN) (KN) (KN) (mm) (mm) (mm)(mm) 1 1 D D = = 600 600 18 18 24 24 719 719 0 0 14,65 14,65 30,4330,43

(50)

Figur

Gambar II-I Model Struktur JembatanGambar II-I Model Struktur Jembatan

Gambar II-I

Model Struktur JembatanGambar II-I Model Struktur Jembatan p.15
Tabel II-1 Faktor beban dinamik untuk beban garis KELTabel II-1 Faktor beban dinamik untuk beban garis KEL

Tabel II-1

Faktor beban dinamik untuk beban garis KELTabel II-1 Faktor beban dinamik untuk beban garis KEL p.19
Gambar II-II Beban Lajur DGambar II-II Beban Lajur D

Gambar II-II

Beban Lajur DGambar II-II Beban Lajur D p.21
Gambar II-IV Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga)Gambar II-IV Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga)

Gambar II-IV

Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga)Gambar II-IV Peta percepatan puncak di batuan dasar (pga) p.23
Tabel II-2 Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan BawahTabel II-2 Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan Bawah

Tabel II-2

Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan BawahTabel II-2 Faktor Modifikasi (R) untuk Bangunan Bawah p.25
Gambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) IndonesiaGambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) Indonesia

Gambar II-VI

Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) IndonesiaGambar II-VI Peta Spektrum Percepatan Gempa 1,0 detik (S1) Indonesia p.25
Tabel II-3 Faktor BebanTabel II-3 Faktor Beban

Tabel II-3

Faktor BebanTabel II-3 Faktor Beban p.25
Tabel II-4 Kombinasi PembebananTabel II-4 Kombinasi Pembebanan

Tabel II-4

Kombinasi PembebananTabel II-4 Kombinasi Pembebanan p.27
Gambar II-IX Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar II-IX Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

Gambar II-IX

Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar II-IX Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas p.29
Gambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program MidasGambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program Midas

Gambar II-VII

Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program MidasGambar II-VII Pemodelan Pembebanan Beban Mati dengan Program Midas p.29
Gambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

Gambar II-VIII

Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar II-VIII Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas p.29
Gambar 0-XI Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar 0-XI Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

Gambar 0-XI

Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar 0-XI Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas p.31
Gambar 0-X Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar 0-X Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas

Gambar 0-X

Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program MidasGambar 0-X Pemodelan Pembebanan Beban Lajur dengan Program Midas p.31
Gambar 0-XII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program MidasGambar 0-XII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas

Gambar 0-XII

Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program MidasGambar 0-XII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas p.31
Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program MidasGambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program Midas

Gambar 0-XIII

Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program MidasGambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Rem dengan Program Midas p.33
Gambar 0-XIIII Pemodelan Respon Spectrum dengan Program MidasGambar 0-XIIII Pemodelan Respon Spectrum dengan Program Midas

Gambar 0-XIIII

Pemodelan Respon Spectrum dengan Program MidasGambar 0-XIIII Pemodelan Respon Spectrum dengan Program Midas p.33
Gambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program MidasGambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas

Gambar 0-XIII

Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program MidasGambar 0-XIII Pemodelan Pembebanan Beban Truk dengan Program Midas p.33
Gambar 0-II Kontur moment Myy pada slabGambar 0-II Kontur moment Myy pada slab

Gambar 0-II

Kontur moment Myy pada slabGambar 0-II Kontur moment Myy pada slab p.35
Gambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mmGambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mm

Gambar 0-V

Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mmGambar 0-V Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di tengah Bentang= -4.19 mm p.37
Gambar 0-III Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mmGambar 0-III Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mm

Gambar 0-III

Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mmGambar 0-III Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 1 = -5.91 mm p.37
Gambar 0-IV Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mmGambar 0-IV Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mm

Gambar 0-IV

Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mmGambar 0-IV Lendutan plat pada kondisi Beban Lajur 2= -3.67mm p.37
Gambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mmGambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mm

Gambar 0-VI

Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mmGambar 0-VI Lendutan plat pada kondisi Beban Truk di ujung bentang = -6.84 mm p.39
Gambar 0-VII Momen Servis My Non Gempa pada pileGambar 0-VII Momen Servis My Non Gempa pada pile

Gambar 0-VII

Momen Servis My Non Gempa pada pileGambar 0-VII Momen Servis My Non Gempa pada pile p.41
Gambar 0-VIII Momen Servis My Gempa pada pileGambar 0-VIII Momen Servis My Gempa pada pile

Gambar 0-VIII

Momen Servis My Gempa pada pileGambar 0-VIII Momen Servis My Gempa pada pile p.41
Gambar 0-X Gaya Aksial Servis Non GempaGambar 0-X Gaya Aksial Servis Non Gempa

Gambar 0-X

Gaya Aksial Servis Non GempaGambar 0-X Gaya Aksial Servis Non Gempa p.45
Gambar 0-XI Gaya Aksial Pada Bored PileGambar 0-XI Gaya Aksial Pada Bored Pile

Gambar 0-XI

Gaya Aksial Pada Bored PileGambar 0-XI Gaya Aksial Pada Bored Pile p.47
Gambar 0-XIII Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi

Gambar 0-XIII

Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi p.47
Gambar 0-XII Daya Dukung Tiang PondasiGambar 0-XII Daya Dukung Tiang Pondasi

Gambar 0-XII

Daya Dukung Tiang PondasiGambar 0-XII Daya Dukung Tiang Pondasi p.47
Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi  Envelope SLS Non gempa = 30,43 mm Envelope SLS Non gempa = 30,43 mm

Gambar 0-XIV

Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi Envelope SLS Non gempa = 30,43 mm Envelope SLS Non gempa = 30,43 mm p.49
Gambar 0-XIV Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi

Gambar 0-XIV

Maksimum Tiang Bored Pile Pada Kondisi p.49

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :