• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIPOLOGI DAN DINAMIKA KEBUN CAMPURAN. Tipologi Kebun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TIPOLOGI DAN DINAMIKA KEBUN CAMPURAN. Tipologi Kebun"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

TIPOLOGI DAN DINAMIKA KEBUN CAMPURAN Tipologi Kebun

Lokasi kebun campuran di Karacak umumnya jauh dari rumah namun ada pula lokasi kebun yang berada di pekarangan rumah. Kebun yang berada di pekarangan rumah ini sebenarnya keberadaannya lebih awal dari rumahnya itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pemukiman dipenuhi dari area kebun.

Kondisi kebun yang tegakannya sangat rapat menyebabkan sinar matahari tidak dapat menyentuh lantai kebun sehingga tidak ada satu tanamanpun yang tumbuh. Lantai kebun hanya dipenuhi dengan serasah dedaunan. Namun pada kondisi kebun yang tegakannya tidak terlalu rapat masih ada cahaya matahari yang menyentuh lantai kebun dan di bawahnya biasanya ditanami dengan tanaman pertanian.

Kebun campuran di Karacak relatif sama dengan kebun campuran di Cibitung Bogor (Michon dan Mary 1994), kebun campuran di Desa Hegarmanah Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi (Wijayanto 2004), dimana kebun didominansi oleh pohon penghasil buah. Hasil survey saat eksplorasi menemukan bahwa jenis-jenis pohon yang ada dalam kebun campuran di Karacak antara lain manggis (Garcinia mangostana), durian (Durio zibethinus), melinjo (Gnetum gnemon), petai (Parkia speciosa), jengkol (Ptecelobium lobatum ), nangka (Artocarpus heterophylus), rambutan (Nephelium lappaceum), cempedak (Arthocarpus integra), kemang (Mangifera caesia), kuweni (Mangifera odorata), limus (Mangifera foetida), duku (Lansium domesticum), cengkeh (Eugenia aromatica), pala (Myristica fragrans) , kecapi (Sandoricum koetjape), picung (Pangium edule), manii (Maesopsis manii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), bambu (Gigantochloa apus), kelapa (Cocos nucifera) dan mahoni (Swietenia sp).

Struktur tegakan kebun yang masih utuh menampakkan 3 lapisan produktif. Lapisan pertama, lapisan yang paling atas, biasanya ditempati oleh durian. Lapisan kedua, lapisan tengah, umumnya ditempati oleh petai, duku, kuweni, rambutan, nangka, limus, kemang, cempedak, melinjo, manggis, manii, puspa dan

(2)

kecapi. Lapisan bawah hanya terdapat pada kebun-kebun yang tidak terlalu rapat sehingga ruang bawah atau lantai kebun masih dapat dimanfaatkan dengan tanaman semusim. Kebun campuran yang memiliki struktur demikian dari kejauhan nampak seperti hutan alam.

Komponen Kebun Tanaman pertanian

Tanaman pertanian tidak pernah dominan dalam kebun campuran di Karacak. Tanaman ini ada pada tegakan yang masih muda atau pada tegakan yang tidak rapat dimana cahaya matahari masih masuk ke dalam kebun. Talas belitung, pisang, ubi kayu merupakan komponen tanaman pertanian yang hasilnya tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri akan tetapi juga dijual baik dalam bentuk bahan mentah maupun produk makanan berupa keripik.

Jenis tanaman pertanian yang diusahakan pada kebun yang dekat dengan sumber air atau memiliki akses mudah mendapatkan air antara lain kacang panjang, jagung, bayam, dan mentimun. Hasil tanaman ini biasanya untuk dijual. Jenis kapol saat ini juga mulai dicoba oleh sebagian kecil petani ditanam dalam kebun.

(3)

Tanaman tahunan

Tanaman tahunan yang terdapat dalam kebun adalah pohon-pohon penghasil buah dan pohon-pohon penghasil kayu. Jenis-jenis pohon penghasil buah diantaranya manggis, durian, melinjo, cempedak, petai, jengkol, nangka, rambutan, cempedak, kemang, kuweni, limus, duku, kupa, buni dan kecapi. Jenis-jenis penghasil kayu seperti manii, puspa dan mahoni. Khusus jenis mahoni mulai ditanam saat ada program Gerhan masuk ke Desa Karacak 1 tahun yang lalu.

Kebun campuran didominasi oleh jenis-jenis tertentu. Urutan dominansi jenis yang pertama adalah manggis, kedua jenis durian dan ketiga jenis melinjo. Berikut karakteristik 3 jenis pohon yang dominan dalam kebun campuran di Karacak :

1. Manggis

Pohon manggis yang ada di Karacak berasal dari Desa Barengkok, desa tetangga Karacak yang berada di bagian utara desa. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 15 meter. Karakter tinggi seperti itu menjadikan manggis menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan jenis-jenis lainnya. Persiangan tajuk dalam memanfaatkan ruang tumbuh dan berkembang pada lapisan tajuk kedua seringkali terjadi karena banyak jenis didalamnya.

Pohon manggis umumnya mulai berbuah pada umur 10 tahun. Ada manggis yang terus berbuah hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon manggis yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah manggis 20 – 50 kg, khusus manggis yang telah tua namun tetap produktif bisa mencapai 100 kg buah. Pemanenan buah manggis dilakukan di atas atau di bawah pohon tergantung lokasi buahnya. Terkadang menggunakan galah untuk posisi manggis yang sulit dijangkau tangan. Buah manggis tidak boleh jatuh karena buah yang jatuh lama-kelamaan akan menjadi keras sehingga tidak bisa dimakan apalagi untuk dijual.

Struktur kayu manggis sangat keras sehingga sangat sulit untuk digergaji. Untuk saat ini kayu manggis tidak dimanfaatkan, namun kita tidak pernah tahu kondisi hari esok.

(4)

Manggis ditanam dengan menggunakan biji. Biji langsung ditanam ke dalam tanah. Durian dibandingkan manggis relatif lebih lama untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga saat ditanam seringkali manggis tertutupi dengan rumput. Kejadian bibit manggis yang tertebas saat penyiangan rerumputan sering terjadi. Sehingga para pendahulu penduduk Karacak menanam manggis di dekat pohon lain yang sudah ada seperti durian atau pada bekas tunggul sengon atau tunggul jenis lainnya agar saat penyiangan rerumputan anakan manggis terlindungi dari sebilah sabit. Hal ini dapat dilihat pada kondisi kebun saat ini ada beberapa pohon manggis yang tumbuh berdekatan dengan pohon durian.

Gambar 3 Pohon manggis tumbuh berdampingan dengan durian

Pemasaran buah manggis sangat luas bisa dilakukan di desa, di kecamatan ataupun di kotamadya bahkan orientasi utama saat ini adalah pemasaran antar negara atau skala ekspor. Manggis sebagai produk komoditi eksport tentunya kualitas manggis menjadi utama. Ada kualitas 1, kualitas 2 dan kualitas 3. Kualitas yang tidak termasuk kulitas espkor disebut BS (barang sisa). Harga manggis disesuaikan dengan kualitasnya. Manggis yang termasuk kategori BS dapat dimanfaatkan ibu-ibu untuk diolah menjadi dodol manggis. Koperasi setempat telah menjajaki pula untuk membuat jus manggis dari kualitas BS ini.

Manggis sebenarnya merupakan tanaman serbaguna. Getah manggis digunakan oleh penduduk lokal sebagai bahan pengawet. Getah yang digunakan

(5)

bisa berasal dari daun atau buah manggis muda. Air tuak yang pernah menjadi salah satu usaha penduduk Karacak diberi tetesan getah manggis agar tidak cepat basi. Proses pengawetan dilakukan dengan mengambil air tuak di sore hari kemudian diberi tetesan getah dan esok pagi air tuak tersebut dijual. Selain buah dan getah manggis kulit buah manggispun saat ini diketahui dapat digunakan untuk produk -produk kecantikan.

2. Durian

Pohon durian dalam kebun campuran yang telah dewasa nampak dari kejauhan menempati lapisan tajuk pepohonan paling atas. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 40 meter. Dengan karakter pohon yang tinggi ini pohon durian cenderung “ bersahabat “ dengan jenis yang lain karena tidak terjadi persaingan dalam tajuk. Namun tidak jarang pohon durian terkena petir akibat pohon yang menjulang tinggi ini.

Pohon durian mulai berbuah pada umur 10-15 tahun hingga lebih dari 100 tahun. Satu pohon durian yang produktif dan sehat bisa menghasilkan buah durian hingga 500 buah. Buah durian digemari banyak orang dari dulu hingga sekarang.

Bentuk kayu durian yang lurus dengan diamater yang besar menjadi daya tarik tersendiri untuk memanfaatkannya sebagai kayu pertukangan atau kayu perkakas. Warna kayu yang merah juga menambah daya tariknya tersendiri. Meski pohon durian terkena petir namun kayu durian tetap dapat dimanfaatkan. Saat ini banyak pohon-pohon durian ditebangi untuk dimanfaatkan kayunya.

Durian ditanam dengan menggunakan biji. Biji langsung ditanam ke dalam tanah. Biji yang ditanam adalah biji dari buah durian pilihan yang besar dan rasanya enak. Durian relatif lebih cepat tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan manggis. Namun dari daya hidupnya durian masih kurang dibandingkan manggis. Pohon durian tidak memerlukan perawatan khusus hanya saja jika musim buah tiba maka vegetasi lapisan bawah perlu dibersihkan agar

memudahkan pemungutan buah durian yang senantiasa jatuh saat berbuah.

Pemasaran buah durian sangat luas bisa dilakukan di desa, di kecamatan ataupun di kotamadya. Hanya saja untuk pemasaran tingkat ekspor belum ada.

(6)

Harga durianpun relatif stabil dan cukup mahal. Saat ini 1 buah durian di tingkat petani bisa mencapai Rp.5.000 hingga Rp.15.000.

3. Melinjo

Melinjo biasanya menempati lapisan tajuk kedua bersama dengan manggis dan jenis lainnya. Tinggi pohon bisa mencapai hingga 20-25 meter. Pohon melinjo mulai berbuah pada umur 8-10 tahun. Biasanya melinjo berbuah dalam jangka waktu 3 hingga 4 bulan lamanya. Dalam satu tahun melinjo dapat berbuah 2 hingga 3 kali. Dalam satu kali pemanenan produksi buah 1 pohon melinjo bisa mencapai 30 kg dengan kisaran harga Rp 2.000 – 2.500.

Petani umumnya menanam melinjo dari cangkokan. Hal ini dilakukan untuk menghindari melinjo yang tidak produktif (tidak menghasilkan buah) yang disebut sebagai melinjo laki.

Pohon melinjo dapat dimanfaatkan buahnya, daunnya dan juga kayunya. Buah melinjo oleh para ibu dibuat keripik yang dinamakan emping. Kulit buah melinjopun dapat diolah menjadi keripik kulit buah melinjo, sementara daun melinjo hanya skala kecil untuk dijual sebagai sayuran atau untuk dikonsumsi sendiri. Pemasaran produk melinjo baik produk olahan maupun buah melinjo mentah ini biasanya hingga tingkat kecamatan namun ada juga yang secara individual sampai ke Jakarta. Namun untuk kayu melinjo jarang ditebang selain karena tidak produktif atau rusak terkena pohon jenis lain yang ditebang atau tumbang. Seringkali buah melinjo dijual dalam bentuk emping.

Semua jenis komponen utama yang dikembangkan petani merupakan inovasi dari petani bukan dari pihak luar. Sama seperti di daerah lain bahwa keberadaan pedagang menjadi pemicu berkembangnya inovasi (jenis tanaman). Pada prinsipnya rasionalitas berpijak pada ekonomi, sehingga komponen utama merupakan jenis-jenis yang permintaan pasarnya tinggi.

(7)

Peranan Kebun

Kebun Sebagai Instrumen Gadai

Sistem pinjam meminjam uang di pedesaan termasuk dalam aktivitas perekonomian desa. Kebun sebagai alat jaminan dapat digadaikan tatkala pemilik kebun meminjam uang pada siapapun yang memiliki uang di desa,pegadai. Umumnya dari kebun yang dijadikan sebagai alat jaminan adalah jenis-jenis pohon tertentu yang sudah produktif seperti manggis, durian, petai, jengkol, melinjo, kelapa, dan cempedak. Namun ada juga keseluruhan isi kebun digadaikan. Ini tergantung pada besarnya jumlah uang yang dipinjamkan pegadai.

Sistem gadai dengan alat jaminan kebun baik yang digadaikan hanya pohon-pohon tertentu saja ataupun keseluruhan isi kebun berjalan dengan aturan yang disepakati bahwa hasil buah atau hasil kebun dianggap sebagai bunga pinjaman tahunan yang dinikmati oleh pegadai. Namun pegadai dilarang untuk menebang pohonnya, kecuali ada perjanjian khusus untuk pohon penghasil kayu seperti manii dan puspa dapat ditebang. Perjanjian ini segera berakhir saat pemilik kebun melunasi hutangnya kepada pegadai. Biasanya harga gadai satu pohon buah-buahan senilai dengan hasil satu kali panen. Bagi orang yang memiliki uang di desa strategi gadai dapat dijadikan sebagai strategi untuk memiliki kebun yang luas.

Kebun Sebagai Lahan Garapan

Khusus bagi kebun-kebun yang tidak terlalu rapat dan tanahnya relatif subur masih memungkinkan untuk ditanami dengan tanaman palawija. Tanaman palawija yang biasa ditanam seperti kacang panjang, pisang, jagung, ketela pohon dan talas belitung. Jika kebun dekat dengan sumber air maka ada juga yang menanami dengan sayur-sayuran

Petani penggarap, yang tidak memilik lahan, biasanya dapat menggarap lahan di kebun atas ijin pemilik kebun. Kesepakatan menggarap lahan tidak diatur dalam aturan tertulis melainkan kesepakatan secara lisan yang diakui bersama. Umumnya hak penggarap lahan adalah memetik hasil tanaman palawija yang

(8)

memungkinkan untuk datang ke kebunnya. Namun pengelola dapat pula mengambil hasil buah dari kebun.

Umumnya pemilik kebun yang sebagian lahannya digarap petani lain adalah orang yang tidak menetap di desa. Mereka adalah penduduk asli yang menetap di luar desa atau mereka memang penduduk luar desa.

Ada simbiosis mutualisma yang terlihat dari hubungan antara petani penggarap dengan pemilik kebun. Keuntungan bagi petani penggarap dapat mengelola sebagian lahan yang masih memungkinkan untuk digarap yang pada gilirannya mendatangkan pendapatan. Keuntungan juga diperoleh pemilik kebun karena kebunnya dirawat namun meskipun kebun tidak dirawat paling tidak batas-batas kebun akan tetap terpantau.

Kebun Sebagai Sumber Pakan Ternak

Kambing merupakan salah satu ternak yang dipelihara oleh penduduk Desa Karacak. Penduduk mengambil rumput di kebun untuk mencukupi kebutuhan pakan ternaknya baik di kebun milik sendiri ataupun kebun milik orang lain. Selain rumput pakan ternak lainnya yang diambil dari kebun seperti daun ketela pohon dan daun manii.

Pengambilan rumput barangkali tidak akan menjadi masalah bahkan menguntungkan bagi pemilik kebun karena lahannya terlihat rapih dan bersih dari rerumputan. Akan tetapi mengambil daun manii maka akan menjadi masalah jika dilakukan tidak hati-hati karena akan mengganggu pertumbuhan pohon manii tersebut.

Pencari pakan ternak biasanya menebas cabang pohon manii untuk mengambil daunnya. Pemangkasan cabang baik untuk pemeliharaan kualitas batang pohon-pohon kayu agar lurus. Namun biasanya para pencari ternak menebas cabang pohon manii secara serampangan hingga mendekati pucuk pohon. Hal ini sebenarnya mendatangkan gangguan atas kelestarian pohon manii.

Pohon manii berkembang secara alami selama ini. Biji manii dengan sendirinya akan jatuh dan bertunas menjadi anakan, petet dalam bahasa lokal.

(9)

Biji-biji manii ini terdapat pada cabang-cabang yang tua. Sedangkan yang dijadikan pakan ternak kambing ini adalah daun-daun tua yang pasti terdapat pada cabang-cabang yang tua. Fenomena seperti ini terus berlangsung setiap harinya. Intensitas pencarian daun manii lebih tinggi karena di musim penghujan sulit untuk mendapatkan rumput yang kering sementara kambing tidak bisa memakan rumput-rumput yang basah. Hal itu menurut pencari pakan ternak lebih praktis menebas daun manii saja daripada mencari rumput di musim penghujan.

Tradisi mencari pakan ternak di kebun memberikan manfaat keadilan dalam pemanfaatan sumberdaya bagi mereka yang tidak memiliki kebun. Keberadaan kebun memang sangat berarti bagi ternak yang ada di Karacak mengingat jumlah kambing yang ada 1537 ekor dan domba 1731 ekor.

Kebun Sebagai Lapangan Pekerjaan

Kebun dapat berfungsi sebagai sumber pekerjaan terutama bagi para buruh tani. Jasa buruh tani diperlukan untuk pekerjaan menyiangi rerumputan, mengikat buah durian dan memanen buah-buahan. Kebun menjadi penting bagi petani yang tidak mempunyai lahan garapan dan menggantungkan hidupnya pada pekerjaan buruh tani.

Durian dahulu tidak pernah diikat, buah yang matang akan langsung jatuh di atas tanah. Siapapun yang menemukan buah tersebut maka dia akan mengambilnya sehingga bisa jadi pemilik kebun tidak menikmati buah durian. Namun para pemilik kebun menyewa buruh tani untuk mengikat buah durian saat ini. Pemilik rela untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan pohon agar pemilik dapat menikmati hasil pohon durian. Buah durian diikat satu per satu dengan maksud agar ketika buah matang tidak langsung jatuh ke tanah namun buah akan tetap bergantung. Sehingga orang selain pemilik pohon durian tidak dapat memungut buah durian seperti halnya yang terjadi pada tempo dulu.

Mereka yang memiliki pohon manggis yang relatif banyak cenderung kewalahan saat panen tiba. Oleh karena itu agar panen buah manggis tepat waktunya biasanya jasa buruh tani diperlukan.

(10)

Kebun Sebagai Sumber Kayu Bakar

Pepohonan yang terdapat di kebun dapat diperuntukkan sebagai sumber kayu bakar. Pohon yang mati atau sisa-sisa pohon biasanya ditebang yang dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Pohon jengkol dan petai yang terserang penyakit juga ditebang untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Cabang-cabang pepohonan ditebang juga dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Bahkan tunggul pangkal pohon yang ditebang juga menjadi sumber kayu bakar.

Setiap orang dapat mengambil kayu bakar tanpa harus meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik kebun asal tidak secara sengaja menebang pohon. Namun terkadang ada pencari kayu bakar ini secara sengaja menebang pohon yang dianggapnya sudah mati. Pemilik kebun tidak menyukai perilaku para pencari kayu bakar seperti ini.

Peran Konservasi

Penduduk lokal memahami peran konservasi dari kebun campuran adalah kemampuannya dalam mencegah terjadinya erosi terutama pada lahan-lahan yang miring di saat hujan berlangsung. Selain itu kebun campuran juga berperan dalam menjaga kelestarian air dan menjaga tanah agar tidak mengalami erosi.

Perspektif Histori Kebun Campuran : Dulu Lahan Kritis Sekarang Kebun Campuran

Histori kebun campuran yang dikelola oleh penduduk lokal Karacak tidak terlepas dari histori pemilikan lahan dan upaya konservasi lahan kering daerah atas. Kondisi awal lahan kebun berupa lahan kosong yang kritis, tidak ada tanaman apapun yang tumbuh di atasnya. Informasi yang diperoleh saat eksplorasi menyebutkan bahwa pada dataran yang lebih tinggi atau lahan kering daerah atas dahulu dikelola dengan usaha perkebunan teh pada masa kolonialisme Belanda. Namun ketika Belanda meninggalkan Indonesia maka perkebunan teh tersebut tidak terpelihara lagi dan yang tertinggal adalah akar-akar teh dan lahan tampak tandus dan sangat kritis.

(11)

Gambar 4. Sebidang tanah merah milik desa

Pemerintah Indonesia melakukan pentertiban lahan khususnya lahan yang belum jelas status kepemilikannya seperti lahan-lahan bekas perkebunan yang dikelola Belanda sebelumnya pada tahun 1960-an. Penertiban kepemilikan lahan dilakukan secara bertahap.

Ngelasir sebagai tahap awal dilakukan untuk memberi batas wilayah yang akan ditetapkan kepemilikannya. Penduduk beramai-ramai disertai aparat desa dan kecamatan menelusuri wilayah desa untuk selanjutnya tanah-tanah gege dikelompokkan ke dalam blok-blok dengan pembatas blok berupa batas alam seperti kali, sungai, jalan setapak. Blok-blok yang sudah dibentuk diberi nama ada blok Salam, blok Pemandangan, blok Tikur, blok Peundeuy, blok Tepis dan lainnya. Ngerincik merupakan tahap lanjutan. Kegiatan pada tahap ngerincik berupa pemberian tanda batas blok dengan menggunakan tambang atau rantai (rincik artinya rantai). Areal lahan yang sudah di-rincik lalu disepakati siapa yang memiliki atau berniat memiliki lahan tersebut untuk selanjutnya dikelola. Lahan-lahan yang relatif subur lebih awal diakui kepemilikannya.

Lahan-lahan yang sudah jelas kepemilikannya baik lahan yang subur maupun lahan kritis selanjutnya dikelola penduduk lokal. Tindakan petani ketika akan mengolah lahan khususnya lahan kritis atau tanah merah diawali dengan tindakan menyiapkan lahan agar siap ditanami. Kondisi lahan kritis yang umumnya berada pada daerah yang miring telah mendorong sebagian besar tanah berpindah dari bagian atas ke bagian bawah atau lembah ketika hujan tiba. Lalu teras-teras dibuat petani sebagai solusi untuk mengantisipasi erosi tanah yang potensial terjadi. Pepohonan yang daunnya relatif mudah lapuk seperti sengon dan kecapi ditanam di bagian ujung teras untuk mengikat tanah-tanah pada tebing

(12)

agar tidak runtuh. Selain itu serasah dari dedaunan yang mudah lapuk ini akan cepat memperbaiki kondisi tanah kritis yang miskin hara. Areal lahan kritis akhirnya berubah menjadi areal hijau yang membentuk sebuah ekosistem baru yang kini menjadi bagian dari sistem kehidupan di pedesaan.

Histori telah mengungkap bahwa kebun campuran pada awalnya dikembangkan dalam konteks konservasi lahan kritis. Upaya memanfaatkan sekaligus menyelamatkan lahan kritis ini menjadi kebun campuran merupakan suatu pembelajaran yang perlu untuk diketahui generasi penerus. Sebidang tanah merah milik desa sengaja dipertahankan hingga saat ini sebagai bukti sejarah konservasi tanah dan air sekaligus pemanfaatan lahan kritis.

Lahan kritis memang telah berubah menjadi kebun-kebun campuran saat ini. Perubahan waktu yang diikuti dengan perubahan yang terjadi pada kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat akibat desakan faktor lingkungan memberikan rona dinamika pada kebun campuran.

Dinamika Tegakan Kebun

Tegakan kebun campuran yang berada di Karacak mengalami perubahan mendasar yaitu perubahan dalam jenis komoditi yang diunggulkan. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan petani untuk mengembangkan jenis dalam kebunnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tegakan kebun campuran akan dibahas selanjutnya.

Kebun campuran didominasi dengan pohon cengkeh pada tahun 1970-an. Penduduk mengembangkan pohon cengkeh di kebunnya karena penduduk tertarik dengan harga jual cengkeh yang tinggi saat itu. Hal lain yang mendukung pengembangan cengkeh di kebun campuran saat itu adalah ketersediaan bibit-bibit cengkeh mudah diperoleh di dalam desa dan penguasaan teknik budidaya cengkeh. Penanaman cengkeh dilakukan dengan menyisipkan bibit di antara berbagai jenis pohon lainnya yang telah ada sebelumnya dalam kebun campuran. Kondisi kebun campuran akhirnya menjadi semakin padat dengan kehadiran pohon cengkeh. Beberapa jenis pohon khususnya yang berdekatan dengan pohon

(13)

cengkeh ditebang. Hal ini dilakukan agar cengkeh yang menjadi tanaman idola saat itu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga mampu memberikan hasil panen yang banyak.

Kebun campuran mengalami kembali perubahan jenis komoditi unggulan pada tahun 1990-an. Peristiwa yang terjadi saat itu berhubungan dengan munculnya Badan Penyangga dan Pemasok Cengkeh (BPPC) di tahun 1990. BPPC menjadi lembaga tunggal yang menangani tata niaga cengkeh di Indonesia. Harga dasar cengkeh di tingkat produsen (petani) yang sangat murah menjadi disinsentif bagi penduduk untuk mempertahankan cengkeh-cengkeh di kebunnya. Petani akhirnya beralih dengan jenis manggis meskipun harganya lebih rendah dibandingkan dengan harga cengkeh saat tinggi. Namun pemasaran manggis saat itu sebenarnya telah mencapai pasar internasional.

Peristiwa yang terjadi pada cengkeh ketika menjadi tanaman idola juga terjadi pada manggis. Bibit-bibit manggis disisipkan ditanam diantara berbagai jenis pohon yang sudah ada di kebun. Kebun campuran akhirnya dipadati dengan jenis manggis dan jenis-jenis lainnya.

Dominansi manggis pada kebun campuran semakin kuat ketika permintaan akan kayu dari kebun campuran meningkat. Permintaan kayu dari kebun campuran ini meningkat ditandai dengan bermunculan industri perkayuan pedesaan yang berada di sepanjang jalan Karacak. Industri perkayuan ini mengolah kayu-kayu dari berbagai jenis pohon penghasil kayu dan buah menjadi kayu-kayu gergajian sebagai bahan konstruksi bangunan ataupuan kayu olahan untuk peti-peti kemasan kaca.

Berbagai jenis pohon buah yang diameternya bisa mencapai lebih dari 50 cm seperti durian, kemang, limus, kuweni, rambutan, huni, kupa, petai, jengkol, kluwek (picung), kecapi, nangka, duku dan cempedak ditebang dengan berbagai alasan. Penebangan berbagai jenis pohon ini secara tidak langsung telah membuat dominansi manggis di kebun campuran semakin kuat.

(14)

Perubahan Mendasar dalam Kebun Campuran

Kebun campuran yang berada di Karacak sulit ditemukan dengan kondisi utuh yang ditumbuhi dengan pepohonan yang berdiameter besar. Pemandangan yang nampak pada kebun didominasi dengan jenis manggis yang muda dan ada pula yang terlihat sudah berproduksi. Jenis pohon yang berdiameter besar saat ini terlihat jarang. Beberapa jenis pohon berdiameter besar yang masih dapat dijumpai adalah durian, petai, cempedak dan duku.

Kondisi kebun campuran Karacak seperti itu tidak terlepas dari fenomena penebangan yang marak terjadi dalam 2 tahun terakhir. Pohon-pohon ditebang bukan hanya pohon penghasil kayu akan tetapi pohon penghasil buahpun juga ditebangi. Padahal kita tahu bahwa kebun campuran umumnya didominasi dengan berbagai jenis pohon penghasil buah. Kemang, kuweni, nangka, rambutan, limus, kecapi, kupa, cempedak adalah jenis-jenis pohon penghasil buah yang banyak ditebang. Bahkan jenis durian juga ditebang belakangan ini.

Fenomena penebangan ini bersamaan dengan tumbuhnya industri perkayuan skala rumah tangga yang ada di Karacak dan desa lain di sekitarnya. Lima belas industri perkayuan skala rumah tangga terdapat di sepanjang jalan desa, yang bernama Jalan Karacak, yang menghubungkan Karacak dan desa-desa lainnya dengan pusat Kecamatan Leuwiliang. Pasokan kayu untuk kebutuhan produksi industri-industri ini berasal dari kebun-kebun campuran yang berada di Karacak dan desa sekitarnya, seperti Barengkok, Karyasari, Purasari dan Puraseda.

Penduduk lokal menyebut industri perkayuan skala rumah tangga ini dengan istilah “ rentalan kayu”. Sistem kerja rentalan kayu ini menurut sama seperti pabrik penggilingan padi. Rentalan kayu ini umumnya menjual jasa pemotongan kayu. Namun pemilik ataupun pengelola rentalan kayu yang memiliki modal besar biasanya rentalannya selain menjual jasa pemotongan kayu namun juga menjual menghasilkan produk-produk gergajian dan kayu olahan. Rentalan kayu seperti layaknya industri membutuhkan bahan mentah (kayu) untuk kemudian diolah dengan sistem penggergajian lalu diperoleh hasil kayu-kayu hasil gergajian. Kayu-kayu inipun dijual sesuai permintaan yang datang atau dijual untuk kebutuhan penduduk lokal.

(15)

Sebuah kasus diangkat dari rentalan kayu milik keluarga Pak Deden. Kasus ini memberikan deskripsi bagaimana industri ini berkontribusi terhadap perubahan yang terjadi pada kebun campuran di Karacak dan desa lainnya.

Pak Deden (30 tahun) adalah penduduk Gunung Picung Kecamatan Pamijahan. Rentalan kayu yang dikelola olehnya dalam 3-4 tahun terakhir adalah milik keluarganya yang telah beroperasi sejak tahun 1999. Rentalan kayu milik keluarga Pak Deden menerima jasa pemotongan kayu dan memproduksi kayu gergajian dan kayu olahan. Kayu gergajian yang dihasilkan berupan kayu reng, kaso, papan, deplang, dengan ukurannya standar sedangkan kayu olahan berupan box untuk peti kemasan kaca. Produk-produk kayu ini dijual ke toko-toko bahan bangunan dan perusahaan kaca di Jakarta. Rentalan kayu ini mampu memproduksi kayu gergajian sebanyak 3-5 m3(rendemen 60% - 70%) dan peti kemasan kaca sebanyak 75 – 100 box (1 m3 kayu menghasilkan 25 box) setiap hari untuk memenuhi permintaan konsumen. Berbagai jenis kayu yang digunakannya selain sengon dan manii juga pohon buah-buahan seperti nangka, kuweni, rambutan, durian, cempedak, kupa, limus, kemang, dll. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku rentalan kayunya Pak Deden mencari kayu di kebun-kebun campuran milik rakyat.

Kasus rentalan milik keluarga Pak Deden setiap hari satu rentalan kayu membutuhkan 8 – 10 m3. Jika sebuah pohon besar berukuran diameternya di atas 50 cm , tinggi bebas cabang 8 meter maka volume kayu tersebut bisa mencapai sekitar 1 – 1,5 m3. Dengan demikian 8- 10 pohon paling tidak setiap harinya ditebang dari kebun-kebun campuran untuk memenuhi kebutuhan rentalan kayu milik keluarga Pak Deden saja. Aktivitas penebangan tersebut marak terjadi 2 tahun belakangan. Sehingga tidak mengherankan apabila saat ini sangat sulit bahkan mungkin tidak ada lagi kebun campuran yang masih utuh dengan pepohonan yang besar.

(16)

Gambar 5 Industri perkayuan pedesaan “ rentalan kayu” di Karacak

Akibat penebangan pepohonan berdiameter besar adalah berkurangnya jenis pohon-pohon produktif, pohon yang sudah berbuah. Jenis pepohonan produktif yang ditebang adalah pohon penghasil kayu seperti manii dan puspa, dan pohon penghasil buah seperti kuweni, rambutan, durian, cempedak, kupa, limus, kecapi, kemang, nangka, picung, kupa, buni, rukem, gandaria dan menteng. Pohon-pohon penghasil buah tersebut ditebang karena dinilai petani kurang komersil. Pepohonan penghasil buah yang produktif yang dipertahankan saat ini umumnya jenis manggis, durian, melinjo, petai dan jengkol.

Jenis manggis mendominasi pada setiap kebun campuran di Karacak. Komposisi manggis dalam kebun campuran berkisar antara 60% - 90%. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi petani terhadap manggis tinggi. Preferensi petani ini terkait dengan nilai ekonomi dari buah manggis yang dijual untuk permintaan pasar international. Preferensi jenis-jenis komersil ini terbangun atas rasional petani berdasarkan nilai ekonomi dari jenis tersebut.

Gambar 6 Kebun campuran yang didominasi dengan jenis manggis

Deskripsi di atas menunjukkan bahwa perubahan mendasar terjadi pada kebun campuran di Karacak adalah perubahan kebun campuran tradisional yang

(17)

terdiri dari beragam jenis pohon penghasil kayu dan pohon penghasil buah dan sebagian tanaman pertanian menjadi kebun yang diorientasikan pada budidaya pepohonan yang komersil. Beberapa jenis pohon khususnya pohon penghasil buah yang kurang komersil kini sudah jarang terdapat di kebun.

Perubahan kebun campuran di Karacak memiliki pola yang sama dengan perubahan sistem kebun agroforestry tradisional di Baduy. Sistem agroforestry Baduy juga dikembangkan jenis tanaman komersil yang diintroduksi dari luar yakni sengon sejak tahun 1990-an. Sengon memiliki nilai jual di pasar dan memberikan keuntungan, mendorong petanipun beramai-ramai menanam sengon di kebun campurannya (Iskandar 2001). Begitupula dengan sistem talun kebun di Bandung Selatann menunjukkan tanaman yang memberikan keuntungan ekonomi lebih tinggi lebih diutamakan dikembangkan di kebun seperti cengkeh dan jeruk (Iskandar 2001). Selain itu terjadi penurunan jumlah jenis pada kebun pekarangan karena permintaan sayuran yang tinggi di Desa Sukapura dalam DAS Citarum. Hal ini mendorong komersialisasi kebun pekarangan dengan jenis sayuran (Abdoelah et al 2007).

Perubahan fisik lainnya pada kebun campuran adalah menurunnya luas pemilikan kebun campuran per individu rumah tangga. Penurunan luas kebun ini merupakan implikasi dari bertambahnya jumlah penduduk. Rata-rata luas pemilikan kebun campuran dari 40 informan adalah 0,67 hektar saat ini. Meskipun data luas pemilikan kebun 20 tahun yang lalu tidak tersedia namun kita dapat memahami fenomena penurunan luas pemilikan lahan ini dari sistem pewarisan kebun sebagai salah satu cara untuk memiliki kebun. Kasus pemilikan kebun Pak Urya dapat memberikan gambaran penuruan luas pemilikan kebun dari orangtuanya dengan generasi berikutnya. Kebun campuran milik orangtuanya seluas 1,8 hektar dibagi untuk 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Akhirnya Pak Urya dan saudara laki-lakinya mendapatkan 0,4 hektar sementara itu 5 saudara perempuannya masing-masing mendapatkan 0,2 hektar.

Kasus pemilikan kebun Pak Urya melalui cara pewarisan ini memperlihatkan penurunan pemilikan lahan dari tahun ke tahun atau dari generasi satu ke generasi berikutnya. Hal ini terkait dengan pemilikan kebun dengan cara

(18)

pewarisanpun relatif lebih banyak (55,44%) daripada pemilikan kebun dengan cara pembelian (47,56%).

Kebun Campuran : Cara Hidup Penduduk Lokal Di Lahan Kering Dataran Tinggi

Pertimbangan Kebun Campuran

Kebun campuran umumnya berlokasi di lahan kering daerah atas atau daerah perbukitan di wilayah Karacak. Kebun campuran tersebut ditumbuhi dengan pepohonan. Mengapa kebun campuran dengan pepohonan yang dipilih penduduk lokal untuk pemanfaatan lahan kering bagian atas ? Padahal pepohonan baik pohon penghasil buah maupun kayu membutuhkan waktu yang bertahun-tahun untuk dapat diperoleh hasilnya. Hal ini berbeda dengan tanaman semusim atau tanaman yang cepat menghasilkan yang dalam jangka pendek dapat berproduksi dengan waktu produksinya dapat diatur.

Budidaya tanaman semusim atau tanaman lain yang cepat menghasilkan umumnya dikelola lebih intensif dibandingkan dengan kebun campuran. Hal itu berarti bahwa input produksi seperti tenaga kerja dan modal harus dikeluarkan lebih banyak untuk mengelola tanaman yang cepat menghasilkan. Selain itu tanaman yang cepat menghasilkan memiliki keterbatasan masa produksi sehingga setiap saat tanaman tersebut harus diganti dengan tanaman yang baru agar diperoleh hasil.

Kebun campuran berbeda dengan budidaya tanaman cepat menghasilkan. Pengorbanan tenaga kerja dan modalnya hanya dikeluarkan saat penanaman. Pemeliharan kebun campuran tidak intensif dan masa produksinya relatif panjang hingga ratusan tahun.

Jenis Manggis Diutamakan

Manggis berkembang menjadi tanaman utama dalam kebun campuran di Karacak dalam 1 dasawarsa terakhir. Tanaman idola sebelum manggis adalah cengkeh di tahun 1970 – 1980-an dimana harga 1 kg cengkeh keringpermah

(19)

mencapai harga 1 gram emas saat itu. Durian pun pernah menjadi tanaman yang diutamakan sebelum cengkeh karena nilainya paling tinggi dibandingkan jenis buah lainnya.

Perkembangan ekonomi pasar akhirnya menjadikan manggis menjadi tanaman utama saat ini. Hal ini terkait dengan peran para pedagang buah dalam jaringan pemasaran buah. Para pengumpul buah lebih menyukai usaha jual beli manggis karena risikonya lebih kecil dibandingkan dengan usaha jual beli buah lainnya seperti durian. Jika pohon durian sedang berbunga namun cuaca tidak mendukung seperti banyak angin bertipu, maka kualitas buah menjadi tidak manis disamping jumlahnya lebih sedikit. Penjualan durian melalui cara penjualan eceran maupun borongan tidak memberikan kepastian pendapatan cash yang akan diterimanya terkadang para pengumpul buah mengalami kerugian. Namun penjualan manggis tidak demikian. Pengumpul buah tidak merasa khawatir karena penjualan manggis tidak dibatasi dengan volume maupun kualitas buah manggis. Petani dapat menjual manggis yang dihasilkan di kebunnya tanpa dibatasi volumenya. Hal ini juga terkait dengan kecenderungan meningkatnya preferensi penduduk mancanegara terhadap buah-buahan tropika. Sistem perdagangan dari pedagang lokal ke penyalur menerapkan cara pembayaran tunai. Namun sistem perdagangan antara petani dengan pedagang lokal menggunakan sistem ijon. Sehingga wajar saja pengumpul lokal tidak pernah mengalami kerugian dengan jual beli manggis.

Preferensi petani terhadap manggis muncul dalam perspektif yang berbeda. Manggis relatif lebih tahan dengan kondisi tanah yang banyak gulmanya dibandingkan durian. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan untuk manggis relatif lebih ringan dibandingkan dengan perawatan untuk durian. Selain perawatan manggis yang relatif ringan, manggispun tidak memerlukan persiapan menjelang panen serumit durian. Buah-buah durian diikat menjelang panen agar buah tidak jatuh ke lantai kebun. Hal ini menunjukkan bahwa mengembangkan manggis bagi petani lebih efisien dibandingkan durian. Meski pohon manggis saat ini sudah banyak berkembang, kekhawatiran terhadap fenomena cengkeh yang murah harganya di saat hasil panen melimpah tidak akan terjadi pada manggis karena argumen bahwa manggis masih bisa dimakan.

(20)

Dominansi manggis dalam kebun terlihat hingga saat ini. Hal ini didukung dengan sistem pemasaran yang luas hingga ke pasar mancanegara. Bahkan jalur pemasaran baru yang dibuka oleh koperasi di desa memperkuat jenis manggis sebagai jenis yang diutamakan. Koperasi desa telah mampu membuat jaringan baru berupa jalur pemasaran manggis langsung dengan perusahaan ekspor buah-buahan. Jaringan ini diperkuat dengan adanya suntikan insentif berupa dana talangan panen yang diberikan oleh perusahaan kepada koperasi. Sistem ini mendorong petani-petani untuk terus menyalurkan hasil kebunnya berupa manggis pada perusahaan tersebut melalui koperasi.

Proses Pemilikan Kebun dan Tipologi Kepemilikan

Pemilikan kebun melalui sistem pewarisan masih mendominasi dibandingkan pemilikan kebun melalui sistem jual beli. Pemilikan kebun campuran pada kelompok pemilik kebun berusia tua (> 50 tahun) sebanyak 57% diperoleh melalui sistem pewarisan. Begitu pula kelompok pemilik kebun muda ( 30 - 50 tahun) memiliki kebun melalui sistem pewarisan sebanyak 67%. Kebun yang dimiliki dengan jalur sistem jual belipun jika ditelusuri sebenarnya ada yang berasal dari kebun warisan. Kebun-kebun warisan yang lokasinya jauh dari rumah mereka jual dan kemudian dibelikan lagi kebun yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Hal ini dilakukan agar mereka memudahkan pengawasan baik terhadap hasil kebunnya maupun keutuhan kebunnya.

Pemilikan kebun melalui jalur sistem pewarisan ini menunjukkan bahwa hingga saat ini kebun senantiasa secara turun temurun dikelola antar generasi. Sedangkan sistem jual beli kebun campuran menunjukkan bahwa kebun campuran mempunyai nilai ekonomi, menjadi sumber pendapatan dan berfungsi sebagai salah satu sumber investasi jangka panjang atau tabungan keluarga.

Tipologi kepemilikan kebun campuran di Karacak berupa kebun milik perseorangan dan kebun campuran milik keluarga. Kedua tipe kepemilikan kebun ini akan berbeda dalam hak mengelola kebun, pengambilan keputusan terhadap perlakuan yang akan diberikan pada kebun dan pemanfaatan hasil kebun. Hak mengelola, pengambilan keputusan dan pemanfaatan hasil kebun untuk kebun

(21)

milik perseorangan mutlak berada di tangan si pemilik kebun. Namun hal itu berbeda pada kebun milik keluarga.

Pengelolaan kebun milik keluarga atau lumbung, istilah lokal untuk kepemilikan sawah ataupun kebun oleh keluarga, relatif lebih kompleks dibandingkan dengan pengelolaan kebun milik perseorangan. Apabila orangtua yang memiliki kebun keluarga masih hidup dan masih kuat maka yang mengelola kebun adalah orangtua bersama anak-anaknya khususnya yang berprofesi sebagai petani. Apabila orangtua telah lanjut usia sehingga tidak kuat lagi untuk berkebun maka yang mengelola kebun adalah anak-anaknya yang berminat dan dipercaya untuk mengelolanya.

Pengambil keputusan pada kebun keluarga berada di tangan orangtua ketika orangtua masih hidup. Namun jika orangtua sudah meninggal maka pengambil keputusan berada pada seluruh anggota keluarga. Meskipun orangtua sudah tidak kuat lagi bekerja, namun anaknya senantiasa meminta ijin pada orangtua bila hendak melakukan perlakuan apapun terhadap kebun misalnya ketika akan menebang pohon ataupun menanam pohon. Namun adapula yang tidak perlu meminta ijin terlebih dahulu pada salah satu orangtuanya bila hendak menanam pohon karena orangtua telah menyerahkan pengelolaan kebun pada anak laki-lakinya yang tidak mesti anak tertua namun anak tersebut menekuni dan bekerja dengan baik. Hanya saja tindakan menebang jenis pohon buah-buahan dan menggadai kebun tidak bisa dilakukan anak tanpa mendapat ijin atau memberitahu terlebih dahulu pada orangtua.

Hasil kebun lumbung dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga dengan memperhatikan kontribusi anggota keluarga dalam mengelola kebun. Apabila seseorang lebih sering bekerja di kebun maka hasil kebun yang diperolehnya lebih besar dibandingkan dengan saudaranya yang tidak bekerja atau jarang bekerja di kebun.

Sistem Gadai Kebun

Kebun campuran baik kebun milik perseorangan ataupun milik keluarga yang didalamnya terdapat pepohonan yang produktif dapat dijadikan sebagai agunan atau jaminan petani tatkala meminjam uang pada orang lain. Hal ini seringkali disebut penduduk lokal dengan sebutan gadai kebon. Hal yang

(22)

mendasar dalam sistem gadai kebun ini bahwa besarnya uang pinjaman disesuaikan dengan kondisi isi kebun. Semakin tinggi nilai ekonomi dari isi kebun maka semakin besar jumlah uang yang dipinjam. Kebun yang digadaikan meliputi seluruh isi kebun atau hanya beberapa jenis pohon saja yang biasa digadaikan seperti durian, manggis, cempedak, petai, jengkol, kelapa dan melinjo. Hal ini berdasarkan pada kesepakatan yang dibuat bersama antara pemilik kebun sebagai peminjam uang dengan orang yang meminjamkan uang.

Sistem gadai kebun ini sudah dilakukan sejak dahulu dan tetap bertahan karena pada prinsipnya sistem ini memberikan nilai manfaat atau keuntungan bagi kedua belah pihak. Manfaat bagi pemilik kebun adalah sistem gadai dapat mengatasi kesulitan kebutuhan uang tunai yang harus dipenuhi dalam tempo yang singkat tanpa harus kehilangan kebunnya. Sedangkan bagi peminjam uang keuntungan yang diperolehnya berupa hasil kebun yang menjadi miliknya hingga pemilik kebun mampu menebus kebun yang digadainya. Apabila pemilik kebun belum mampu menebus kebunnya maka peminjam uang yang akan terus menikmati hasil kebun. Sistem gadai kebun ini berbeda dengan sistem gadai barang yang umum terjadi pada lembaga penggadaian. Batas waktu yang dilampaui tidak membuat kebun berpindah kepemilikannya dari pemilik kebun ke peminjam uang. Jika batas waktu berlalu maka dia akan tetap terus menikmati hasil kebun. Perbedaan lainnya bahwa kebun dapat dipindah penggadaiannya pada orang lain. Hal ini terjadi dalam kasus bila pemilik kebun meminta tambahan pinjaman uang namun peminjam tidak mampu maka pemilik kebun dapat menggadaikan kebun pada orang lain dengan nilai pinjaman terakhir yang diminta.

Nilai penting dari sistem gadai kebun adalah kesepakatan yang umumnya berlaku bahwa peminjam uang dilarang untuk menebang pepohonan kecuali pohon penghasil kayu yang biasa ditebang. Hal ini berkontribusi terhadap eksistensi kebun campuran di Karacak hingga saat ini.

(23)

Kebun Jaminan Hari Tua

Penduduk lokal ada yang bekerja di luar desa seperti buruh bangunan, pegawai pemerintahan, pedagang dan lainnya. Mereka yang bekerja di luar desa namun mereka memiliki kebun di desa biasanya kebunnya dipelihara oleh famili atau orang lain yang dipercayainya. Ini dilakukan agar kebun terpelihara dan terjaga keutuhannya. Jika memungkinkan orang yang diserahi tanggungjawab memelihara kebun dapat bercocok tanam palawija di kebun tetapi mereka tidak boleh menebang pepohonan tanpa ijin pemilik kebun. Hal ini menunjukkan bahwa meski pemilik kebun tidak menetap di desa namun kebunnya tetap dipelihara karena kebun adalah tabungan mereka di hari tua.

Ada kasus Pak Sidiq (50 tahun), seorang buruh bangunan, biasanya mencari rejeki ke luar desa. Namun usia membatasinya tidak dapat lagi menekuni pekerjaanya sebagai buruh bangunan. Dia kini kembali tinggal di desa dan mencoba untuk memelihara kebun warisan dari orangtuanya.

Pemilik kebun yang dalam kesehariannya bekerja sebagai petani juga memandang bahwa kebun merupakan sandaran hidupnya kelak ketika mereka tidak kuat lagi membawa cangkul. Kebun yang sudah stabil terbentuk tidak lagi membutuhkan tenaga kerja untuk pemeliharaannya. Selain sebagai sandaran hidup di hari tua, orangtua juga berpandangan bahwa kebun yang dimiliki saat ini nanti akan diwariskan pada anak-anaknya. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kebun dipertahankan hingga saat ini.

Kontribusi Kebun Campuran Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Kebun campuran yang berada di Karacak mampu menyediakan sumber makanan, sumber energi, dan sumber bahan bangunan untuk kebutuhan hidup sehari-hari hingga saat ini . Kontribusi kebun campuran bagi petani sangat berarti apalagi saat ini tidak semua petani mempunyai sawah. Meskipun petani memiliki sawah namun karena luasnya relatif sempit maka kebutuhan pokok tidak terpenuhi sepanjang tahun dari sawah. Kebun campuran menjadi penting artinya dalam berkontribusi pada pendapatan rumah tangga. Deskripsi kontribusi kebun

(24)

campuran terhadap pendapatan rumah tangga diungkap dari 3 buah kasus dengan luas kebun yang berbeda seperti yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Kontribusi kebun campuran terhadap pendapatan rumah tangga tahunan

Pendapatan (Rp) Kontribusi Kebun (%) Luas Kebun

(Ha)

Kebun Luar Kebun

Sawah Luar sawah

0,15 4.195.000 1.000.000 2.320.000 56 % 1,20 11.680.000 960.000 6.080.000 62 %

2,00 20.720.000 750.000 2.000.000 88 %

Sumber data : data primer

Kontribusi kebun campuran terhadap pendapatan rumah tangga tahunan dapat dilihat dengan mengetahui pendapatan dari kebun dan pendapatan dari luar kebun. Pendapatan dari luar kebun meliputi pendapatan dari hasil sawah dan pendapatan selain dari hasil sawah seperti buruh tani, hasil ikan, industri rumah tangga dan lainnya.

Karakeristik jenis dan jumlah tanaman yang produktif dari kebun campuran akan menentukan jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil kebun. Jenis dan jumlah tanaman yang sudah berproduksi pada kebun campuran kasus 1 yang luasnya 0,15 ha antara lain 12 pohon manggis, 8 pohon durian, 10 pohon pala, 5 pohon melinjo, 4 pohon petai, 2 pohon kuweni dan pisang. Sedangkan jenis dan jumlah tanaman yang produktif pada kebun campuran kasus 2 yang luasnya 1,2 ha antara lain 25 pohon manggis, 20 pohon durian, 35 pohon melinjo, 5 pohon petai, 5 pohon cempedak, 10 pohon kuweni, 2 pohon kemang dan talas belitung. Jenis dan jumlah tanaman yang produktif pada kebun campuran kasus 3 yang luasnya 2 ha antara lain 40 pohon manggis, 45 pohon durian, 35 pohon melinjo, 25 pohon petai, 20 pohon cempedak, 10 pohon kuweni, 4 kemang dan 25 pohon duku. Jenis dan jumlah tanaman yang berbeda dalam kebun akan memberikan hasil pendapatan yang berbeda. Hal ini akan memberikan kontribusi yang berbeda pula pada pendapatan rumah tangga.

Kontribusi hasil kebun terhadap pendapatan rumah tangga baik kebun yang sempit, sedang maupun luas mencapai lebih dari 50% pendapatan rumah tangga.

(25)

Kebun semakin luas maka hasil kebun cenderung akan semakin banyak. Namun kecenderungan ini belum tentu diikuti dengan besarnya kontribusi kebun terhadap pendapatan rumah tangga karena terkait dengan besar kecilnya variabel pendapatan di luar hasil kebun. Perhitungan kontribusi hasil kebun terhadap pendapatan rumah tangga pada Lampiran 2.

Nilai hasil kebun dari kasus yang ada didasarkan pada kondisi panen raya yang terjadi pada tahun 2005. Sedangkan hasil kebun pada kondisi iklim yang tidak kondusif sehingga tidak terjadi panen raya biasanya terjadi penurunan jumlah produksi. Jumlah produksi hasil kebun nya hanya mencapai 0,1 hingga 0,25 dari jumlah produksi buah pada saat panen raya.

Pencatatan hasil kebun dalam satuan rupiah saat penelitian tidak mengalami kesulitan. Hal ini karena umumnya mereka menjual hasil kebun kepada para tengkulak secara keseluruhan khususnya untuk pohon penghasil buah. Komponen yang dimasukkan dalam perhitungan hasil kebun adalah hasil buah, tanaman semusim dan kayu bakar. Komponen kayu belum dimasukkan karena untuk meratifikasinya sulit sehubungan penebangan pohon tidak pasti dilakukan setiap tahun. Begitupula dengan komponen pakan ternak belum dimasukkan.

Hasil kebun dari 3 kasus di atas semuanya menunjukkan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga lebih dari 50%. Hal ini menunjukan betapa kebun campuran sangat berarti bagi kelangsungan kehidupan rumah tangga di Karacak.

Strategi Pengaturan Komponen Kebun Campuran

Ekonomi pasar memberikan pengaruh terhadap pengelolaan kebun campuran. Permintaan pasar terhadap jenis-jenis tertentu dari kebun campuran mendorong petani untuk mengutamakan budidaya jenis-jenis komersil di kebunnya.

Kebun campuran yang berada di Karacak tidak ada yang ditumbuhi hanya oleh 1 jenis saja. Meski manggis sudah memiliki nilai jual sejak dahulu kemudian petani mengetahui manggis sebagai buah yang diekspor, namun petani tidak serta merta merubah kebunnya dengan monokultur manggis. Jenis lain

(26)

seperti durian, melinjo, petai, jengkol, cempedak masih dipertahankan atau dirawat. Hal ini terkait dengan produksi buah yang dipengaruhi oleh kondisi iklim dimana petani menyadari bahwa tidak setiap tahun manggis dapat berbuah banyak. Selain itu jika manggis tidak berbuah banyak maka diharapkan jenis lain dapat memberikan pendapatan harapan yang baik.

Semua kebun cenderung didominasi dengan manggis namun terdapat perbedaan antara kebun yang dibangun dahulu dan kebun yang dibangun dalam waktu belakangan ini tahun 1985-an. Kebun yang tua dengan kondisi tegakannya rapat menunjukkan berbagai jenis pohon terutama pohon buah yang nilai jualnya rendah atau subsisten ditebang lalu diganti secara bertahap dengan manggis, durian dan melinjo. Anakan dari berbagai jenis pohon buah subsisten atau nilai jual rendah tetap dipelihara. Namun kebun yang belum banyak ditanami pohon atau pada tahun 1985-an masih berupa lahan kosong maka hanya manggis, durian dan melinjo yang menjadi fokus penanaman.

Penanaman manggis pada awalnya dilakukan tanpa pengaturan jarak tajuk pohon antara berbagai jenis. Manggis ditanam di dekat-dekat tunggul pohon dengan alasan agar anakan manggis tidak ditebas saat penyiangan rumput. Namun lima tahun terakhir manggis ditanam dengan jarak yang agak teratur terutama setelah ada program perbaikan kualitas manggis rakyat. Namun jarak ideal dalam teori tidak diikuti sepenuhnya masih ada perasaan tidak rela untuk membiarkan lahan yang masih kosong. Jarak ideal manggis 10 x 10 m menurut petani terlalu jauh.

Anakan-anakan dari berbagai pohon buah yang relatif nilai jualnya rendah bahkan hanya untuk dikonsumsi keluarga masih ada di lapisan bawah. Ada sebagian petani yang membiarkannya tumbuh dengan tujuan kelak di kemudian hari dapat dinikmati oleh anak cucunya. Ada juga yang membiarkan anaka-anakan tersebut tumbuh untuk kebutuhan kayu untuk membuat kandang atau untuk kayu bakar.

Manggis memang menjadi komoditi unggulan saat ini karena nilai ekonominya sehingga mendominasi pada kebun campuran di Karacak. Akan tetapi bukan hanya manggis saja, masih ada jenis-jenis komersil lainnya yang

(27)

dikembangkan seperti durian, melinjo, petai, jengkol, cempedak, duku dan pala. Kondisi kebun yang terdiri dari beragam jenis ini tetap dipertahankan petani dengan pertimbangan bahwa produksi buah sangat ditentukan oleh kondisi cuaca. Jika cuaca tidak mendukung proses pembuahan maka bisa jadi satu jenis tidak berbuah atau berbuah sedikit maka harapannya jenis lain dapat berbuah dan memberikan penghasilan baginya. Ini menunjukkan sebuah konsep diversifikasi pada sistem produksi sebagai strategi ekonomi yang diarahkan pada minimalisasi risiko usaha dan ketidakpastian ekonomi dan ekologi.

Sistem repong damar juga tetap mempertahankan struktur keanekaragaman dan banyak pilihan yang tersedia seperti tetap mempertahankan jenis tanaman buah non komersil ketika pasar untuk jenis buah lain berkembang, mempertahankan tumbuhan bukan gulma,dan mempertahankan damar ketika hasil bumi lain lebih menguntungkan, menunjukkan bahwa petani tidak memprioritaskan produk komersil dan tidak mau mengambil risiko penyederhanaan. (Michon et al 2000).

Strategi Budidaya Kebun Campuran

Kebun campuran tradisional umumnya memiliki pola tanam yang tidak teratur khususnya dalam jarak tanam antar satu pohon dengan lainnya. Kondisi tegakan yang terdiri dari beragam jenis pohon dan jarak tanam yang tidak teratur menampakan profile kebun campuran seperti hutan alam.

Kebun campuran dominan ditumbuhi dengan pohon penghasil buah-buahan. Biji buah apapun yang dijumpai dimanapun ditanam orangtua terdahulu di lahan bekas ladang ataupun di lahan yang kosong yang dikuasainya tanpa pengaturan jarak tanam. Khusus jenis manggis ditanam selalu berdekatan dengan tunggul atau pohon lain seperti durian dan petai yang sudah tumbuh. Ini karena biji manggis sangat lambat untuk berkecambah dan tumbuh sehingga ada kekhawatiran manggis yang baru tumbuh tertebas saat menyiangi rumput. Hal ini dapat dilihat pada kondisi tegakan saat ini dimana manggis-manggis ini tumbuh berdekatan dengan jenis seperti durian atau petai.

(28)

PKBT (Pusat Kajian Buah-buahan Tropika) yang melihat potensi besar manggis di Karacak berupaya untuk memperbaiki budidaya manggis karena manggis adalah buah ekspor yang menduduki posisi pertama di Indonesia. Menurut PKBT (2004) saat ini pohon manggis umumnya masih merupakan tanaman hutan yang belum dibudidayakan secara baik atau hasil dari tanaman kebun yang kurang dirawat. Oleh karena pertumbuhan dan produktivitas tanaman manggis sangat tergantung pada teknik penanaman dan pemeliharaan, maka sebagian besar buah manggis mutunya masih rendah untuk itu perlu dilakukan upaya perbaikan.

Berkaitan dengan hal tersebut, mulai tahun 2001 Pusat Kajian Buah-buahan Tropika, Lembaga Penelitian IPB melakukan kaji tindak untuk menerapkan teknologi budidaya manggis. Inovasi teknik budidaya yang dikenalkan pada petani adalah pemupukan, pemangkasan, perbaikan pola atau jarak tanam, perbaikan media tumbuh dengan sistem teras, pengendalian hama dan penyakit.

Inovasi yang dikenalkan saat ini sebagian sudah mulai diterapkan petani dalam mengelola manggis di kebunnya. Khususnya inovasi-inovasi yang tidak membuat petani kecil menambah input modal besar namun cukup mengandalkan tenaga kerja yang dimilikinya. Namun bagi petani yang memiliki modal besar intensifikasi manggis dilakukan sepenuhnya meskipun harus disertai modal besar seperti penyediaan pupuk. Perubahan inovasi teknik` budidaya kebun khususnya untuk jenis manggis terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Perbedaan antara teknik budidaya kebun secara tradisional dan intensif

Aspek Cara Tradisional Cara Intensif Jarak tanam Tidak ada pengaturan

jarak tanam

Pada kebun baru manggis ditanam dengan jarak teratur. Pada kebun yang telah terbentuk, pohon-pohon yang dekat dengan manggis ditebang.

Lubang tanam Tidak pakai lubang tanam (penanaman dengan biji)

Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 50 cm (penanaman dengan bibit)

Pemupukan Tidak ada pemupukan

Dibuat rorakan ukuran kedalaman 40 cm di sekitar tanaman. Jika ada pupuk kandang diberi pupuk kandang, namun seringkali rorakan untuk tempat serasah dedaunan

(29)

Aspek Cara Tradisional Cara Intensif

(pupuk kompos). Jika ada bantuan pupuk anorganik maka pohon manggis dipupuk. Penyiangan Frekuensi dahulu

umumnya 2 kali setahun, paling sering 1 kali setahun

Frekuensi 2 kali dalam setahun menggunakan dilakukan secara manual atau ada juga yang menggunakan mesin pemotong rumput milik koperasi

Pemanenan Tanpa menggunakan alat, sering

menyebabkan

cabang-cabang rusak

Menggunakan galah, tepok, khususnya untuk memetik manggis-manggis di ujung cabang

Faktor-Faktor

Pada Dinamika Kebun Campuran Intervensi Pasar

Intervensi pasar yang dihadirkan dalam wujud fluktuasi harga, akses pasar dan permintaan pasar merupakan faktor yang mempengaruhi dinamika kebun campuran. Pada kasus kebun campuran di Karacak berdasarkan perspektif sejarahnya bahwa sebelum manggis menjadi jenis andalan kebun campuran di Karacak seperti yang terlihat saat ini, cengkeh pada tahun 1970-an pernah menjadi tanaman idola bagi petani Karacak. Harga cengkeh turun sangat anjlok pada tahun 1990-an sehingga berdasarkan perhitungan finansial oleh petani sudah tidak menguntungkan lagi karena biaya produksi cengkeh lebih tinggi dari pendapatannya. Pada tahun itulah manggis marak dikembangkan oleh petani di kebunnya untuk menggantikan cengkeh.

Akses pasar yang luas akan direspon oleh sistem produksi melalui peningkatan jumlah produksi. Buah manggis yang berasal dari kebun campuran Karacak sejak tahun 1980-an sudah menjadi salah satu buah yang diekspor. Pemasaran buah tidak hanya dilakukan di pasar tingkat kecamatan atau tingkat kabupaten seperti halnya buah lainnya, namun juga dijual ke mancanegara.

Fenomena pengaruh intervensi pasar lainnya yang membawa perubahan pada kebun campuran adalah permintaan kayu rakyat yang meningkat.

(30)

Industri-industri pedesaan untuk pengolahan kayu berdiri di sepanjang jalan Karacak. Pabrik-pabrik pengolahan kayu ini menghasilkan produk kayu-kayu bangunan dan peti-peti kemasan. Produk kayu olahan ini dipasarkan ke perkotaan baik di Bogor maupun ke Jakarta. Permintaan kayu-kayu rakyat meningkat dalam 2 tahun terakhir. Beberapa jenis kayu rakyat yang berasal dari pohon penghasil buah memiliki karakter tampilan yang hampir sama dengan kayu-kayu Borneo (Kalimantan) yang disukai oleh konsumen di perkotaan.

Kebijakan a. Kebijakan Tataniaga Cengkeh

Harga cengkeh turun pada tahun 1990-an mendorong petani untuk beralih komoditi unggulan di kebunnya dari cengkeh ke manggis dan durian. Harga cengkeh yang turun drastis terkait dengan lembaga Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Konsep pembentukan BPPC sebenarnya sangat mulia karena bertujuan melindungi petani cengkeh di pedesaan, mengembangkan peran koperasi unit desa (KUD) sebagai lembaga perekonomian rakyat serta menjamin pengadaan bahan baku industri rokok (Pasang 2006). Namun realitanya dengan adanya tataniaga model (BPPC) justru mematikan produktivitas petani dengan sistem perdagangan monopolistik.

BPPC itulah menetapkan harga dasar cengkeh di tingkat petani yang sangat rendah yaitu Rp 2000 untuk 1 kg cengkeh kering di tahun 1990-an. Harga jual cengkeh tersebut dinilai petani lebih kecil dari biaya produksi cengkeh sehingga tidak lagi memberikan keuntungan namun kerugian. Implikasi dari kebijakan ini mendorong petani menghentikan usahatani cengkeh dengan menebangi pohon cengkeh. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Karacak namun juga di wilayah lain seperti di Sulawesi Utara sebagai sentra produksi cengkeh.

b. Kebijakan Pemberantasan Ilegal Logging

pasokan kayu dari luar Pulau Jawa yang masuk ke Pulau Jawa bagian barat (Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten) mengalami penurunan pada tahun

(31)

2006 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasokan kayu turun baik untuk kayu bulat, kayu olahan maupun kayu lapis. pasokan kayu untuk kayu bulat, kayu olahan dan kayu lapis yang masuk ke Pulau Jawa bagian barat berturut-turut adalah 64.491 m3, 1.405.675 m3, dan 663.5999 m3 pada tahun 2005. Lalu pasokan mengalami penurunan untuk kayu bulat, kayu olahan dan kayu lapis berturut-turut adalah 31.217 m3, 293.489 m3 dan 226.644 m3 pada tahun 2006 Penurunan ini terkait dengan upaya pemerintah dalam menanggulangi pembalakan liar (illegal logging) melalui kebijakan INPRES No 5 tahun 2005. Kebijakan lain yakni Permenhut No.P55/Menhut-II/06 tentang penatausahaan hasil hutan yang berasal dari hutan negara dimana pengaturan tata usaha kayu lebih ketat (Dwiprabowo et al 2007)

Pasokan kayu dari luar Jawa yang berkurang menjadikan industri perkayuan beralih pada kayu-kayu yang ada di Jawa khususnya dari hutan rakyat termasuk kebun campuran. Deskripsi permintaan kayu meningkat dari hutan rakyat tergambarkan dengan realita yang ada di lokasi penelitian ini. Sebuah kasus dari pabrik pengolahan kayu yang ada di sekitar Desa Karacak milik Deden (30 tahun). Permintaan terhadap kayu olahan berupa kayu-kayu gergajian dari toko-toko bahan bangunan dari Jakarta mulai tahun 2006 mengalami peningkatan. Pabrik Deden biasanya dalam 1 bulan mengirimkan kayu olahan sebanyak 10-15 m3 . Permintaan kayu olahan menjadi 30 m3Lalu pada tahun 2006. Permintaan kayu olahan yang meningkat ini menyebabkan kebutuhan kayu rakyat juga meningkat. Ini mendorong terhadap penebangan yang marak terjadi di kebun-kebun campuran Karacak dan desa-desa lainnya. Pohon-pohon besar kini sudah jarang ditemui di kebun karena telah berubah menjadi kayu-kayu olahan.

Aplikasi Riset Intensifikasi Manggis

Sebagian besar manggis yang diekspor berasal dari kebun rakyat termasuk di Karacak yang dikelola dengan sistem produksinya bergantung pada alam. Kondisi pengelolaan kebun demikian menyebabkan produktivitas pohon manggis yang rendah dan hanya 10% dari total produksi buah manggis yang layak ekspor. Disamping kualitas buahnya, produktivitas buah manggis Indonesia sebesar 30-70

(32)

kg per pohon lebih rendah dibandingkan negara produsen buah manggis lainnya yang bisa mencapai 200-300 kg per pohon. Pemerintah menciptakan beberapa program diantaranya program pengelolaan kebun manggis terstruktur melalui konversi hutan manggis menjadi kebun manggi untuk menjawab permasalahan produksi manggis s (Qosim 2007).

Program perbaikan produksi dan kualitas kebun manggis dilaksanakan oleh Pusat Kajian Buah-buahan Tropika dengan pendekatan pembangunan demoplot. Perbaikan terasering, penjarangan dan pengaturan jarak tanam, penyiangan, pemupukan, pemangkasan cabang tidak produktif dan pengendalian hama dan penyakit. Pembangunan demoplot perbaikan budidaya manggis tersebut akhirnya menjadikan petani mendapatkan informasi teknik budidaya manggis yang intensif. Namun dalam prakteknya petani tidak menerapkan semua teknik yang dicontohkan PKBT. Petani tidak mengikuti semua teknik budidaya manggis intensif karena keterbatasan ekonomi. Teknik budidaya yang dapat diikuti oleh petani pada umumnya adalah tidak perlu menambah input produksi, penyiangan dilakukan minimal 1 tahun sekali dan pemupukan cukup menggunakan serasah yang ada di lantai kebun.

Tekanan Penduduk

Jumlah penduduk yang meningkat akan menyebabkan rata-rata luas pemilikan kebun menurun. Peningkatan penduduk secara individual juga akan menyebabkan kebutuhan rumah tangga meningkat dengan bertambahnya anggota keluarga. Kebun campuran sebagai salah satu sumber pendapatan bagi keluarga dikelola lebih intensif guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengutamaan jenis-jenis komersil merupakan perilaku produksi petani dalam rangka intensifikasi kebun. Perilaku seperti ini menciptakan usaha produksi kebun campuran berorientasi komersil.

(33)

Modal Sosial

Liliuran merupakan salah satu budaya penduduk lokal Karacak untuk saling membantu pekerjaan baik di sawah maupun di kebun. Praktek liliuran yang senantiasa dilakukan setiap minggu merupakan wadah transfer informasi antar anggota. Pertukaran informasi ini biasanya berlangsung saat liliuran dilakukan. Inovasi teknik budidaya manggis yang intensif seperti pemupukan,dan lainnya ditransfer antara petani yang terlibat dalam program intensifikasi manggis dengan petani yang tidak mengikuti program tersebut. Hal ini mendorong terjadinya perubahan teknik budidaya manggis yang dilakukan oleh seorang pemilik kebun ke pemilik lainnya dan akhirnya pada seluruh penduduk Karacak.

Gambar

Gambar 4. Sebidang tanah merah milik desa
Gambar  5   Industri perkayuan pedesaan “ rentalan kayu” di Karacak  Akibat penebangan pepohonan berdiameter besar adalah berkurangnya jenis  pohon-pohon produktif, pohon yang sudah berbuah

Referensi

Dokumen terkait

Menindaklanjuti surat dari Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Yogyakarta No. S-1218/WKN.09/KNL.06/2014 tanggal 20 Maret 2014 perihal sebagaimana tersebut pada

Adapun yang menyebabkan Islam demikian dominan dalam perannya membangkitkan kesadaran nasional dan demikian militan dalam melancarkan perlawanan-perlawanan terhadap

19721128 200112 1 003 di Sekretariat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kutai Barat Tahun Anggaran 2014, sesuai dengan syarat - syarat yang ditentukan dalam Dokumen Lelang

Jika memang harus menggunakan pompa, sebaiknya dilakukan pemeliharaan yang teratur dan sesuai standar sehingga pompa dapat bertahan sesuai dengan umur rencana dan

Dari hal tersebut Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan tetap bertahan di Kota Padangsidimpuan, karena secara adat bahwa Kota Padangsidimpuan lahir dari pemekaran Kabupaten

gangguan pada sitem gerak manusia.  Penyembuhan kanker tulang dengan kemoterapi, radioterapi, pembedahan, atau amputasi..  Pada penderita arthritis dapat dibantu dengan

dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Ayat di atas menjelaskan kepada manusia tentang hubungan thawaf dengan ka’bah. Thawaf merupakan salah satu rukun haji

Lingkup Pekerjaan : Menyelenggarakan sistem PDE Kepabeanan Impor, BC 2.3 Impor, Ekspor dan Manifes dalam rangka penyelesaian formalitas pabean atas Pemberitahuan Pabean