Bab 3 Analisis Data
3.1 Analisis Simbol-Simbol Shinto Dalam Anime Sen to Chihiro no Kamikakushi Beberapa benda tertentu dalam anime ini dapat dikategorikan sebagai simbol-simbol Shinto. Berikut ini adalah simbol-simbol-simbol-simbol Shinto yang terdapat dalam anime Sen to Chihiro no Kamikakushi yang akan penulis analisis:
3.1.1 Torii
Torii (鳥居) adalah sebuah gerbang yang biasanya terdapat di pintu masuk kuil Shinto. Dalam bahasa Jepang, kata torii berasal dari 2 huruf kanji, yaitu 鳥 (burung) dan 居 (tempat kediaman). Secara harafiah, torii dapat diartikan sebagai tempat hinggap burung (Ono, 1998: 28).
Torii merupakan pintu masuk menuju sebuah tempat suci. Pada zaman dahulu, torii biasanya digunakan sebagai penanda setiap pintu masuk, tetapi saat ini torii hanya terbatas sebagai pintu masuk menuju kuil Shinto, kuburan, atau makam keluarga kekaisaran. Torii juga kadang dapat ditemukan di bawah sebuah pohon atau di sebelah batu atau sumur sebagai penanda sesuatu yang suci.
Picken (1994: 146) mengemukakan bahwa torii tertua terdapat di Ise. Pada zaman tersebut, torii terbuat dari hinoki atau pohon lainnya. Sejak zaman Nara, torii mulai dibuat dari batu dan dicat merah. Torii yang terbuat dari perunggu, besi, dan bahkan porselen digunakan selama masa pemerintahan Tokugawa (1603-1867), walaupun terbukti tidak tahan lama. Oleh karena itu, agar dapat bertahan lama, di zaman
modern ini, torii mulai dibuat dari batu, logam, dan beton. Ada lebih dari dua puluh jenis torii, sebagian besar dinamai sesuai dengan nama kuil dimana torii tersebut didirikan. Hingga saat ini, torii tidak dapat dipisahkan dengan imej Shinto.
Gambar 3.1 Bagian-bagian dari torii
Sumber: Essentials of Shinto (1994) Adapun bagian-bagian dalam torii, yaitu:
1) Kasagi – balok yang melintang di bagian atas. 2) Shimagi – bagian bawah balok atas.
3) Daiwa – penopang balok melintang bagian atas 4) Kusabi – pengganjal balok melintang bagian bawah. 5) Gakuzuka – tempat meletakkan tanda atau tulisan. 6) Nuki – balok melintang bagian bawah.
7) Hashira – balok vertikal.
Analisis:
Di awal anime Sen to Chihiro no Kamikakushi, terlihat sebuah torii yang bersandar pada sebuah pohon kamper (shinboku) di pinggir jalan seperti terlihat dalam gambar 3.2. Pohon kamper sendiri dianggap sebagai pohon suci tempat tinggal kami dan biasanya di kuil-kuil Shinto terdapat pohon ini. Menurut analisis penulis, torii dalam anime ini termasuk dalam unsur Shinto. Torii dalam anime ini merupakan sebuah tanda bahwa tempat yang akan Chihiro dan keluarganya masuki adalah sebuah tempat suci karena setelah mereka melewati torii tersebut dan memasuki sebuah lorong, mereka pun memasuki sebuah dunia yang dihuni oleh para kami.
Gambar 3.2 Torii Dalam Anime
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dilihat dari bentuknya, torii dalam anime ini adalah sebuah torii sederhana yang terbuat dari kayu yang tidak dicat. Bentuk ini mirip dengan bentuk torii yang disebut kuroki yang terlihat dalam gambar 3.3. Kuroki adalah bentuk torii yang paling kuno dan sederhana, yang seluruhnya terbuat dari kayu. Jenis torii ini terdapat di kuil Nonomiya (Picken, 1994: 152).
Gambar 3.3 Kuroki
Sumber: Essentials of Shinto (1994)
Selain bentuknya yang mirip dengan kuroki, torii dalam anime ini juga memiliki beberapa bagian dari torii yang sebenarnya. Torii ini memiliki bagian kasagi, nuki, gakuzuka, dan hashira.
3.1.2 Hokora
Hokora (祠) adalah kuil kecil yang dibuat untuk para kami kecil (minor). Awalnya, hokora adalah tempat untuk menyimpan harta kuil. Pada masa pertengahan, istilah ini digunakan untuk kuil-kuil kecil yang didirikan untuk para kami yang tidak memiliki kuil tersendiri.
Gambar 3.4 Hokora
Saat ini, hokora tidak hanya mengacu kepada bangunan berupa kuil-kuil kecil yang terdapat di area kuil besar, tetapi juga pada kuil-kuil kecil yang terletak di pinggir jalan (Mori, 2005).
Analisis:
Menurut analisis penulis, hokora dalam anime ini termasuk dalam unsur Shinto. Hal ini diperkuat dengan adanya percakapan antara Chihiro dan ibunya mengenai hokora sebagai berikut:
千尋:“あの家みたいの何?”
母 :“石のほこら、神さまのお家よ” Terjemahan:
Chihiro : “Benda yang seperti rumah itu apa?”
Ibu : “Ishi no hokora (hokora yang terbuat dari batu), rumah para kami”. Dari percakapan diatas, terlihat jelas bahwa hokora dalam anime ini berfungsi sebagai tempat tinggal para kami dan bentuknya seperti sekumpulan rumah-rumah kecil terbuat dari batu yang terletak di pinggir jalan seperti yang terlihat dalam gambar 3.7. Perbedaannya dengan yang asli adalah hokora yang sebenarnya biasanya disusun dengan rapi (gambar 3.6) sedangkan dalam anime ini hokora tersebut berantakan.
3.1.3 Dōsojin
Dōsojin (道祖神) adalah dewa penjaga jalan, perbatasan, dan pelindung desa, yang dipuja dalam bentuk sesosok batu yang diletakkan di pinggir jalan. Dōsojin juga dikenal dengan sebutan sae no kami (atau sai no kami), dōrokujin, funado no kami, atau shakujin. Dōsojin berfungsi untuk menghalangi roh-roh jahat (sae) yang membawa bencana dan wabah penyakit dari luar masuk ke dalam desa.
Bentuk setiap dōsojin berbeda-beda. Saat ini, dōsojin banyak digambarkan sebagai pasangan orang tua karena selain memiliki fungsi diatas juga berfungsi sebagai dewa pernikahan, kelahiran, dan fungsi lain berdasarkan tempatnya.
Gambar 3.6 Dōsojin
Sumber: http://kazekobo.cool.ne.jp
Dalam Japan: An Illustrated Encyclopedia (1993: 295), dōsojin juga sering disamakan dengan dewa bernama Sarutahiko Ōkami (猿 田 彦 大 神) yang menjadi penunjuk jalan bagi dewa Ninigi no mikoto, yang merupakan cucu Amaterasu sekaligus nenek moyang keluarga kaisar, saat turun ke bumi.
Sarutahiko digambarkan sebagai dewa bertubuh besar, bermata merah menyala, berhidung panjang, dan wajahnya menyerupai monyet (Kadoya, 2005).
Analisis:
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, sebuah dōsojin terlihat pada saat mobil yang ditumpangi keluarga Chihiro melewati sebuah jalan kecil dan dōsojin lainnya terdapat di pintu masuk sebuah bangunan. Penulis menyimpulkan bahwa dōsojin dalam anime ini merupakan salah satu unsur Shinto dilihat dari bentuk dan letaknya.
Sama seperti dōsojin lainnya, dōsojin dalam anime ini juga terbuat dari batu dan diletakkan di pinggir jalan, walaupun salah satu dōsojin terletak tepat di tengah jalan. Selain itu, wajah dōsojin dalam anime ini mirip dengan monyet. Hal ini dapat dikaitkan dengan dōsojin yang kadang disamakan dengan Sarutahiko Ōkami seperti yang disebutkan diatas (kanji saru (猿) dalam nama Sarutahiko berarti monyet).
Gambar 3.7 Dōsojin Dalam Anime
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
3.1.4 Zoumen
Zoumen (蔵面) menurut Zoumen dalam JAANUS (2001) adalah sebuah topeng kertas atau kain yang digunakan oleh para penari pada saat ritual ama (案摩) diadakan. Ama adalah ritual tarian berpasangan yang dilaksanakan di kuil Kasuga, salah satu kuil
Shinto yang terkenal di Jepang. Ritual ama dilaksanakan untuk menghormati alam. Zoumen pada ama berfungsi untuk membangkitkan roh-roh yang ada di bumi. Zoumen terbuat dari kertas atau kain yang berbentuk segi empat dengan lubang berbentuk segitiga untuk mata, pola alis, hidung, janggut, dan pipi yang berwarna hitam.
Gambar 3.8 Zoumen
Sumber: http://kariginu.jp
Analisis:
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, zoumen digunakan oleh tokoh bernama Kasuga-sama. Kasuga-sama adalah salah satu tamu di pemandian milik Yubaba. Nama karakter ini diambil dari nama kuil Shinto di Jepang yaitu kuil Kasuga yang menjadi tempat ritual ama, yang menggunakan zoumen, diadakan. Walaupun memiliki corak yang berbeda, zoumen dalam anime ini memiliki karakteristik yang sama dengan zoumen yang asli, yaitu sama-sama berbentuk segi empat dengan mata segitiga dan pola wajah berwarna hitam pada bagian pipi, hidung, alis, dan janggut. Zoumen dalam anime ini tidak digunakan untuk ritual tarian, tetapi hanya merupakan bagian dari tubuh Kasuga-sama.
Gambar 3.9 Kasuga-Sama Mengenakan Topeng yang Mirip Dengan Zoumen
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
3.1.5 Namahage
Dalam Japan: An Illustrated Encyclopedia (1993: 1044) dijelaskan bahwa namahage (なまはげ) adalah sebuah tradisi yang biasa dilakukan di Jepang utara, terutama di semenanjung Oga, prefektur Akita. Ritual ini dilaksanakan setiap malam Koshōgatsu (15 Januari). Pada saat ritual dilaksanakan, beberapa penduduk mengenakan kostum setan yang disebut namahage. Mereka mengunjungi setiap rumah dan bertanya apakah di rumah tersebut ada anak yang nakal atau pemalas atau tidak. Anak-anak yang melihat namahage akan merasa ketakutan dan menangis atau bersembunyi di belakang orangtua mereka. Untuk menenangkan namahage, biasanya para penduduk menyediakan makanan dan minuman dan mengusir mereka dengan memberikan uang dan kue beras.
Menurut legenda, Kaisar Wu-ti dari awal Dinasti Han di Cina datang ke Oga yang pada saat itu masih berbentuk pulau. Kaisar tersebut datang diikuti 5 kelelawar yang kemudian berubah menjadi setan. Kaisar Wu-ti lalu menangkap dan mengurung
mereka, dan setiap tanggal 15 Januari ia melepas para setan tersebut yang kemudian menangkap dan memakan para warga. Karena tidak tahan, warga membuat kesepakatan dengan para setan untuk membangun sebuah tangga dengan 1000 undakan dalam semalam di kuil Goshado. Jika para setan tersebut dapat melakukannya, maka tiap tahun warga akan mempersembahkan seorang gadis untuk mereka, tetapi jika gagal para setan tersebut harus pergi. Saat para setan telah menyelesaikan 999 undakan, warga menirukan suara ayam untuk membohongi para setan. Karena merasa kalah, para setan tersebut meninggalkan desa itu dan tidak pernah kembali lagi. Untuk memperingatinya para warga merayakan namahage agar para setan tersebut tidak mengganggu lagi (Ine, 1997).
Gambar 3.10 Namahage
Sumber: http://www.namahage.co.jp
Kostum namahage berupa topeng buatan tangan yang menyeramkan dan jubah yang terbuat dari jerami. Namahage biasanya berpasangan, satu mengenakan topeng merah dan yang lain mengenakan topeng biru. Pada zaman dahulu, namahage membawa senjata berupa kapak, tombak, pedang, dan sebagainya untuk menebar teror dan menakut-nakuti orang yang melihat mereka. Saat ini, namahage hanya ditampilkan
untuk turis dan membawa pisau dapur (debabōchō) dari kayu yang dibungkus kertas aluminium, ember dari kayu (teoke), dan kertas suci (shide) yang biasa digunakan pendeta Shinto. Nama lain untuk namahage adalah amahage atau amamehagi. Di daerah selatan Jepang (Kyushu) juga terdapat tradisi yang sama yang disebut toshidan (Bocking, 1996: 131).
Analisis:
Gambar 3.11 Onama-Sama, Salah Satu Karakter yang Menyerupai Namahage
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, karakter bernama Onama-sama memiliki wujud yang hampir mirip dengan namahage, yaitu berwajah seram, bertaring panjang, bertanduk, berjubah serta membawa pisau dapur. Berbeda dengan namahage yang sebenarnya, Onama-sama dalam anime ini tidak memakai jubah dari jerami, tetapi memakai jubah dari daun. Walaupun sama-sama tamu, Onama-sama dalam anime ini tidak datang untuk menakut-nakuti tamu lainnya. Mereka datang ke pemandian tersebut hanya untuk berendam dan membersihkan diri.
3.1.6 Shimenawa
Shimenawa (注連縄) adalah sebutan untuk tali jerami dengan untaian kertas berbentuk zig-zag yang digunakan sebagai penanda tempat-tempat yang dipercaya sebagai tempat tinggal kami atau benda-benda tertentu yang akan dipersembahkan pada kami (Ono, 1998: 25-26). Untaian kertas putih berbentuk zig-zag, yang disebut shide, yang digantungkan diantara shimenawa berfungsi sebagai tanda persembahan bagi para kami. Shimenawa juga dipercaya memiliki kekuatan untuk menghalangi kekuatan jahat dan penyakit.
Gambar 3.12 Shimenawa
Sumber: http://www.jonasun.com Sumber: (http://www.uchiyama.nl) Awalnya, shimenawa merupakan tali yang dipasang di depan Ame-no-iwato yang merupakan tempat persembunyian Amaterasu. Shimenawa digantungkan dari arah kanan ke kiri, dengan tujuh, lima, dan tiga ikat jerami yang juga digantungkan dari arah kanan ke kiri. Hal ini dilakukan karena bagian kiri dipercaya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian kanan. Tujuh, lima, dan tiga ikat jerami tersebut menggambarkan tiga dewa pencipta, tujuh dewa langit, dan lima dewa bumi (Picken, 1994: 164-165). Sebenarnya ada bemacam-macam tipe shimenawa dan ada beberapa yang unik, tergantung dari kuil dimana shimenawa itu berada.
Analisis:
Ada tiga shimenawa yang tampak dalam anime ini, ketiganya merupakan shimenawa tipe yang sederhana yang hanya terdiri dari tali jerami tipis dan untaian kertas berbentuk zig-zag. Menurut analisis penulis, ketiga shimenawa tersebut termasuk dalam unsur Shinto. Shimenawa pertama dan kedua terdapat di area pemandian (gambar 3.13). Shimenawa pertama berfungsi sebagai tali pembatas untuk pemandian yang sudah selesai digunakan oleh para kami. Sedangkan shimenawa kedua terdapat di pintu masuk ruang pemandian. Pemandian dalam anime ini merupakan salah satu tempat yang dianggap suci karena pemandian ini digunakan oleh para kami.
Gambar 3.13 Shimenawa di Pemandian
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Shimenawa ketiga digunakan untuk babi-babi persembahan dalam adegan terakhir, dimana Chihiro diharuskan mencari orangtuanya yang telah berubah menjadi babi diantara babi-babi milik Yubaba (gambar 3.14). Babi-babi tersebut diberi shimenawa karena mereka akan dijadikan persembahan untuk makanan para kami.
Gambar 3.14 Shimenawa yang Diletakkan di Depan Babi-Babi
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
3.1.7 Shikigami
Shikigami (式神), yang dapat disebut juga shikijin atau shiki no kami, adalah salah satu kekuatan yang biasa digunakan oleh seorang onmyōji. Onmyōji sendiri adalah sebutan untuk ahli sihir di Jepang yang terkenal pada masa Heian. Pada zaman sekarang, onmyōji dapat dikatakan sebagai pendeta Shinto. Shikigami tidak dapat dilihat, kecuali oleh orang yang memilikinya, tetapi shikigami dapat menampakkan wujudnya ke hadapan orang lain atas perintah tuannya dan mengambil wujud yang bermacam-macam, seperti wujud manusia, hewan, dan setan.
Untuk dapat menggunakan kekuatan shikigami, seorang onmyōji harus melakukan perjanjian dengan makhluk yang akan digunakannya sebagai shikigami. Shikigami juga biasanya berupa lipatan atau guntingan kertas yang dimantrai dan diberikan kehidupan oleh seorang onmyōji. Shikigami juga dapat diperintahkan untuk merasuki, menyerang, dan membunuh seseorang. Untuk mengontrol shikigami, seseorang harus memiliki keahlian yang tinggi karena shikigami dapat berbalik
menyerang dirinya. Bila shikigami terluka akibat serangan seseorang, maka onmyōji yang menguasainya juga ikut terluka (Ito, 2005).
Gambar 3.15 Ilustrasi Shikigami
Sumber: http://www.youkaimura.org
Analisis:
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, Zeniba, saudari kembar Yubaba, menggunakan kekuatannya untuk menciptakan shikigami-shikigami yang terbuat dari kertas untuk mengejar Haku yang telah mencuri stempel berharga milik Zeniba. Pada akhirnya shikigami-shikigami tersebut kehilangan kekuatannya karena kertas-kertas tersebut rusak. Salah satu shikigami, melekat dan mengikuti Chihiro dan saat Chihiro bertemu dengan Haku, shikigami tersebut berubah menjadi Zeniba.
Shikigami dalam anime ini terbuat dari kertas dan memiliki fungsi yang sama dengan shikigami yang sebenarnya, yaitu sebagai mata atau pengganti Zeniba yang dapat melakukan apapun yang diperintahkan oleh Zeniba, baik itu berupa kertas-kertas terbang yang dapat menyerang dan melukai Haku maupun digunakan untuk
berkomunikasi dalam bentuk tiruan Zeniba. Kemampuannya ini, menggambarkan Zeniba sebagai seorang ahli sihir yang sangat kuat.
Gambar 3.16 Shikigami Utusan Zeniba
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
3.1.8 Pakaian
Dalam Shinto dikenal adanya shinshoku atau pendeta Shinto yang tugas utamanya melayani para kami. Selain itu, shinshoku juga bertugas untuk memimpin ritual keagamaan dan mengatur kegiatan lainnya di kuil. Shinshoku dapat disebut juga sebagai kannushi.
Gambar 3.17 Shinshoku
Picken (1994 187-188) menjelaskan bahwa model pakaian yang dikenakan oleh shinshoku diambil dari model pakaian para bangsawan pada zaman Heian, seperti yang terlihat pada gambar 3.17. Pakaian ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1. Tutup kepala.
Ada dua jenis tutup kepala yang dipakai oleh shinshoku. Jenis pertama disebut eboshi yang dipakai saat shinshoku mengenakan pakaian yang sederhana. Jenis kedua adalah kanmuri yang dipakai pada saat shinshoku mengenakan pakaian ritual lengkap.
2. Jubah.
Terdiri dari jubah luar dan jubah dalam. Jubah dalam disebut kimono dan biasanya berwarna putih. Sedangkan jubah luarnya disebut ho. Ho biasanya berwarna ungu, hijau, biru, merah atau kuning, tergantung tingkat kedudukan pemakainya. Selain itu, terdapat pula jubah luar yang digunakan pada acara-acara tidak resmi yang disebut kariginu, yang memiliki bermacam-macam warna tergantung musim dan tingkat kedudukan pemakainya. Jubah luar ini panjangnya hingga mencapai lutut.
3. Hakama
Hakama adalah sejenis celana berlipit yang menyerupai rok yang dipakai baik oleh pria maupun wanita.
4. Kaos kaki dan sepatu
Kaos kaki yang digunakan adalah tabi, kaos kaki khas Jepang yang berwarna putih. Sedangkan sepatu yang dipakai disebut asa-gutsu. Pada awalnya asa-gutsu dipakai oleh para bangsawan Heian dan dibuat dari kulit, tetapi sekarang
asa-gutsu dibuat dari kayu yang telah dipernis dan dipakai oleh pendeta Shinto pada saat melaksanakan ritual.
5. Aksesoris
Shaku atau potongan kayu pipih yang menyerupai tongkat. Shaku menandakan kependetaan seseorang dan dipercaya dapat memberikan karisma tersendiri. Selain shinshoku, dikenal pula sebutan miko. Pada awalnya miko adalah sebutan bagi wanita yang dirasuki oleh kami dan dapat menyampaikan kata-kata dari kami. Kemudian sebutan miko lebih mengarah pada anak-anak perempuan dari pendeta kuil, yang tugasnya menampilkan tarian pada saat ritual (miko-mai) atau membantu melakukan ritual. Miko juga bertugas untuk melayani para pengunjung yang datang ke kuil. Pakaian miko terdiri dari hakama berwarna merah tua, kimono dengan lengan panjang dan lebar, tabi, dan sandal yang disebut zōri (Picken, 1980: 53). Miko juga mengenakan pita rambut berwarna putih dan merah dan kadang mereka membawa kipas.
Gambar 3.18 Miko
Analisis:
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, para pelayan yang bekerja di pemandian memiliki peran yang sama dengan shinshoku dan miko, dimana tugas mereka adalah melayani para kami yang bertamu ke pemandian tersebut.
Gambar 3.19 Pelayan Pria yang Bekerja di Pemandian
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dalam gambar 3.19, dua pelayan pria di pemandian mengenakan pakaian shinshoku. Keduanya memakai tutup kepala yang menyerupai eboshi. Selain itu, mereka juga memakai ho, kimono, dan tabi. Ho yang mereka kenakan memiliki warna yang berbeda karena pekerjaan dan kedudukan mereka yang berbeda. Berbeda dengan shinshoku, para pelayan ini tidak membawa shaku dan tidak memakai asa-gutsu karena mereka bekerja di dalam ruangan. Mereka tidak mengenakan hakama dan sebagai gantinya mereka hanya mengenakan celana berwarna putih. Mereka mengatur kegiatan di pemandian tersebut sebagaimana peran shinshoku dalam mengatur jalannya suatu ritual.
pelayan tersebut memakai kimono putih, hakama merah, pita rambut, dan membawa kipas. Perbedaan para pelayan tersebut dengan miko adalah mereka mengenakan tutup kepala menyerupai eboshi yang biasanya dipakai oleh shinshoku.
Gambar 3.20 Pelayan Wanita yang Bekerja di Pemandian
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
3.2 Analisis Kami Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi
Kami atau dewa adalah salah satu bagian terpenting dalam ajaran Shinto. Seperti yang telah dijelaskan pada bab dua, kami merupakan objek penyembahan dalam Shinto. Kami memiliki peran yang penting dalam anime ini karena tamu tetap pemandian milik Yubaba adalah para kami seperti yang dijelaskan oleh Yubaba sendiri dalam anime sebagai berikut:
湯婆婆:ここはね、人間の来る所じゃないんだ。
八百万の神さまたちが疲れをいやしに来るお湯屋なんだよ。 Terjemahan:
Yubaba: Di sini bukan tempat untuk manusia.
Di sini adalah pemandian dimana delapan juta kami mengistirahatkan tubuh lelah mereka.
Batu, sungai, hewan, pepohonan, suatu area, dan bahkan manusia dapat dikatakan memiliki sifat kami. Segala hal yang dapat menciptakan perasaan kagum dan segan bagi yang melihat, dengan cara memberi bukti mengenai asal atau wujud ketuhanannya dapat disebut kami (Picken, 1994: xxii).
3.2.1 Bentuk
Picken (1980: 41) mengemukakan bahwa ada bermacam-macam bentuk kami, yaitu:
1. Bentuk yang abstrak, yang terdiri dari penyembahan terhadap kesuburan, pertumbuhan, dan produktifitas.
2. Fenomena alam mencakup angin, hujan, petir, dan sebagainya.
3. Objek-objek alam seperti matahari, bulan, pohon, sungai, gunung, atau batu. 4. Binatang- binatang tertentu, contohnya anjing atau rubah.
5. Roh leluhur seperti para pahlawan perang dan keluarga kekaisaran.
Selain tidak memiliki bentuk yang pasti, kami juga tidak pernah memperlihatkan wujud yang sebenarnya (Ross, 1983: 38).
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Interview: Miyazaki on Sen to Chihiro no Kamikakushi dalam The Hayao Miyazaki Web, Miyazaki mengemukakan alasannya menciptakan wujud kami yang bermacam-macam sebagai berikut:
The Shinto ritual at Kasuga Shrine uses a piece of paper (mask) with a drawing of an old man's face. I borrowed such images, but Japanese gods have no actual form: They are in the rocks, in pillars, or in the trees. But they need a form to go to the bath house. A god of Daikoku looks like Daikoku, and some of them have shapes too strange to figure out.
Terjemahan:
Ritual Shinto di Kuil Kasuga menggunakan sehelai kertas (topeng) dengan gambar wajah lelaki tua. Saya meminjam gambar tersebut, tetapi dewa-dewa Jepang tidak memiliki wujud yang pasti: mereka ada di batu, pilar, atau di pohon. Tetapi mereka membutuhkan suatu wujud untuk pergi ke pemandian. Dewa Daikoku terlihat seperti Daikoku, dan beberapa memiliki bentuk yang sangat aneh untuk dipahami.
Gambar 3.21 Para Kami yang Bertamu ke Pemandian
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Menurut analisis penulis, kami dalam anime ini termasuk dalam unsur Shinto. Kami tidak memiliki suatu wujud tertentu sehingga dalam anime ini wujud kami digambarkan bermacam-macam. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Miyazaki di atas, dimana ia menyatakan bahwa wujud kami tidak pasti sehingga ia sendiri meminjam gambaran suatu objek sebagai wujud kami.
3.2.2 Peran
Dalam anime ini, kami digambarkan seperti manusia. Mereka makan, membersihkan tubuh, dan bersenang-senang dengan sesamanya di pemandian. Menurut analisis penulis, kami datang ke pemandian untuk membersihkan diri. Seperti yang telah dijelaskan dalam bab dua, kami membenci hal-hal yang kotor. Oleh karena itu, mereka membersihkan diri di pemandian sebagai wujud penyucian diri.
Selain membersihkan diri, para kami datang ke pemandian untuk menenangkan pikiran dan beristirahat dari pekerjaan yang telah mereka lakukan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Miyazaki Hayao yang dikutip dari Interview: Miyazaki on Sen to Chihiro no Kamikakushi dalam The Hayao Miyazaki Web sebagai berikut:
It would be fun if there were such a bath house. It's the same as when we go to hot springs. Japanese gods go there to rest for a few days, then return home saying they wished they could stay for a little while longer. I was imagining such things as I made images (of the film). I was thinking that it's tough being a Japanese god today.
Terjemahan:
Akan sangat menyenangkan jika ada suatu pemandian. Pemandian itu sama dengan saat kita pergi ke pemandian air panas. Dewa-dewa Jepang pergi ke sana untuk beristirahat beberapa hari, kemudian mereka pulang dan mengatakan mereka berharap dapat tinggal lebih lama. Saya membayangkan hal seperti itu saat saya membuat gambar-gambar (untuk film). Saya pikir sangat sulit menjadi dewa Jepang saat ini.
Para kami juga diberikan makanan selama berada di pemandian, bahkan di daerah sekitar pemandian terdapat banyak restoran yang menyajikan makanan untuk mereka. Restoran tersebut hanya untuk para kami. Manusia yang memakan makanan tersebut akan berubah menjadi babi seperti yang dialami oleh orangtua Chihiro.
Makanan yang disajikan pada kami disebut dengan shinsen. Makanan tersebut terdiri dari nasi, garam, air, sake, kue beras, sayur, ikan, buah, dan biji-bijian. Makanan
yang dipersembahkan untuk para kami dipersiapkan di dapur yang bersih yang disebut shinsen-den. Dari cara penyiapan makanan, terdapat beberapa cara yaitu jukusen untuk makanan yang dimasak, seisen untuk makanan yang mentah, dan sosen untuk makanan vegetarian yang tidak mengandung ikan, unggas, atau potongan daging apapun (Picken, 1994: 177).
Makanan untuk persembahan disiapkan dua kali dalam sehari. Bila seseorang tidak menyiapkannya, dipercaya bahwa kami akan merasa tidak senang dan akan memberikan ketidakberuntungan pada orang tersebut (Ono, 1998: 52).
Dalam anime ini, karena para kami digambarkan seperti manusia, maka makanan yang disajikan berupa makanan yang sudah dimasak (jukusen). Sebagaimana fungsi makanan persembahan, makanan yang disajikan kepada para tamu berfungsi untuk menyenangkan hati mereka. Penyajian makanan tersebut bukan karena takut akan ketidakberuntungan, tetapi lebih sebagai bentuk pelayanan di pemandian tersebut sehingga kami merasa senang dan tidak marah.
3.3 Analisis Kegare dan Harae Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi
Shinto memiliki karakteristik tersendiri, diantaranya adalah kegare dan penyucian diri. Dalam anime ini disinggung pula kedua hal tersebut, seperti yang akan dibahas di bawah ini:
3.3.1 Darah Sebagai Salah Satu Bentuk Kegare
Seperti yang telah dijelaskan pada bab dua, kegare adalah ketidaksucian yang dianggap tabu oleh masyarakat Jepang, khususnya yang menganut ajaran Shinto. Salah satu bentuk kegare adalah darah. Seseorang yang berdarah atau pun orang yang
melakukan kontak dengan orang yang berdarah, keduanya dianggap tidak suci (kegare). Oleh karena itu, orang yang terluka, terkena darah atau wanita yang mengalami datang bulan tidak diijinkan mengikuti festival atau ritual Shinto karena dapat mengotori atau menularkan pada yang lain. Bahkan di beberapa daerah di Jepang, wanita yang baru melahirkan diharuskan tinggal di ubuya, sebuah pondok kecil yang digunakan pada saat melahirkan, selama 21 – 75 hari setelah melahirkan (Ishikawa, 1986: 104).
Gambar 3.22 Chihiro Dengan Noda Darah di Tangannya
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dalam anime, diperlihatkan bahwa pada saat Chihiro menolong Haku, tangan Chihiro terkena darah Haku. Kemudian salah satu pelayan Yubaba memegang tangan Chihiro dan saat ia melihat darah tersebut, ia terkejut dan segera melepaskan tangan Chihiro. Demikian pula pada saat anak Yubaba yang bernama Bo mengajak Chihiro bermain, ia juga melepaskan tangan Chihiro dan terkejut ketika Chihiro menunjukkan darah di tangannya.
Sikap pelayan dan anak Yubaba tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa darah adalah sesuatu yang dianggap kotor (kegare), apalagi mengingat bahwa pemandian tersebut didatangi oleh para kami. Dalam Shinto, tempat yang didatangi oleh
para kami merupakan tempat yang suci sehingga tidak diperbolehkan adanya ketidaksucian (kegare).
3.3.2 Harae Dengan Menggunakan Air dan Garam
Dalam anime, penyucian diri (harae) terlihat dari para kami yang membersihkan diri di pemandian milik Yubaba, terutama ditunjukkan pada saat Kawa no Kami membersihkan diri. Pada awal kedatangannya, Yubaba dan para pelayan berpikir bahwa kami yang datang adalah Okusare-sama, dewa bau (kusare diambil dari kata kusai yang berarti bau). Dewa ini memiliki bentuk berupa gumpalan besar berlumpur dan dari seluruh tubuhnya keluar cairan yang menjijikan seperti yang terlihat pada gambar 3.23. Tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat menyengat yang bahkan dapat membuat makanan langsung membusuk.
Gambar 3.23 Kawa no Kami Sebelum Membersihkan diri
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dewa ini kemudian dibawa oleh Chihiro ke pemandian dan mandi dengan menggunakan air terbaik, tetapi tetap saja ia tidak bisa menghilangkan kotoran dan bau busuk dari tubuhnya. Kemudian, ia pun meminta Chihiro untuk menambahkan air. Saat sedang berusaha menambahkan air, Chihiro terpeleset dan jatuh ke dalam bak mandi
yang dipenuhi lumpur. Okusare-sama menolong Chihiro dan mengangkatnya. Pada saat itulah, Chihiro melihat sesuatu yang tertancap di tubuh Okusare-sama dan mulai menariknya.
Dengan bantuan para pelayan pemandian, Chihiro pun dapat menarik benda tersebut yang ternyata adalah sepeda yang kemudian diikuti oleh sampah-sampah lainnya. Setelah semua sampah itu ditarik keluar, wujud asli dewa tersebut pun terlihat dan ternyata dewa tersebut adalah Kawa no Kami (dewa sungai). Wujud Kawa no Kami ini, digambarkan seperti pada gambar 3.24 dimana tubuhnya terlihat seperti naga air dengan wajah seorang kakek.
Gambar 3.24 Kawa no Kami Setelah Membersihkan Diri
Sumber: Sen to Chihiro no Kamikakushi (2001)
Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa tubuh Kawa no Kami menjadi kotor karena sungai yang didiami olehnya dikotori oleh manusia. Oleh karena itu, Kawa no Kami datang ke pemandian untuk membersihkan dirinya. Pembersihan diri dengan air ini termasuk dalam salah satu bentuk penyucian diri dalam Shinto. Dalam Shinto penyucian diri dengan menggunakan air disebut misogi.
Seperti yang telah dijelaskan dalam bab dua, misogi biasanya dilakukan di laut, sungai, di bawah air terjun, atau tempat-tempat tertentu yang dianggap suci. Di anime ini
sendiri, penyucian diri para dewa dilakukan dengan cara mandi atau berendam di pemandian milik Yubaba.
Menurut Ishikawa (1986: 110), fungsi misogi bukan hanya untuk membersihkan tubuh, tetapi juga untuk membersihkan pikiran. Dalam anime, pemandian merupakan tempat yang paling tepat bagi para kami untuk berendam membersihkan tubuh mereka dan menenangkan pikiran, baik dari pikiran jahat maupun dari pikiran yang lelah.
Selain dengan air, penyucian juga dapat dilakukan dengan garam. Tumpukan garam diletakkan di dalam wadah bernama mori shio, yang biasanya diletakkan di pintu masuk agar orang yang memasuki tempat itu disucikan. Mori shio juga ditempatkan di empat sudut ruangan untuk mensucikan area tersebut. Maki shio (garam yang ditebarkan) biasanya ditebarkan di batas-batas rumah untuk menghentikan ketidaksucian memasuki area rumah mereka. Sebelum bangunan didirikan, garam ditaburkan ke ruang-ruang kosong untuk menenangkan dewa bumi (Schumacher, 1995).
Gambar 3.25 Garam yang Diletakkan di Depan Jembatan
Sebagaimana yang terlihat dalam gambar 3.25, para pelayan pemandian milik Yubaba meletakkan sebuah wadah berisi garam di ujung jembatan yang merupakan pintu masuk pemandian ketika Kawa no Kami yang masih kotor datang ke tempat tersebut. Mereka berusaha untuk mengusir Kawa no Kami karena dewa tersebut dianggap membawa hal buruk (ketidaksucian) ke dalam pemandian tersebut.
3.4 Analisis Perubahan Perilaku dan Pola Pikir Tokoh-tokoh Anime Sen to Chihiro no Kamikakushi Sehingga Mencapai Ketulusan
Hoare (2006) mengemukakan bahwa tujuan utama Shinto adalah mencapai ketulusan hati atau makoto no kokoro (誠の心), yang terbebas dari pikiran-pikiran yang salah. Makoto merujuk pada jalan atau keinginan para dewa.
Dalam Sen to Chihiro no Kamikakushi, ada beberapa tokoh yang mengalami perubahan dalam karakter mereka dan pada akhirnya berhasil mendapatkan makoto no kokoro. Tokoh-tokoh tersebut adalah Chihiro, Haku, Yubaba, Zeniba, dan Kaonashi.
3.4.1 Chihiro
Analisis tentang tokoh Chihiro akan penulis bagi menjadi dua bagian, yaitu pada saat Chihiro belum memiliki pengalaman hidup dalam dunia para dewa dan sesudahnya.
3.4.1.1 Chihiro Sebelum Memiliki Pengalaman Hidup Dalam Dunia Para Kami Pada awal anime diceritakan bahwa Chihiro adalah anak yang tidak bersemangat dan mengeluh tentang kepindahannya ke tempat yang baru. Hal ini dapat dilihat dari komentarnya, “前のほうがいいもん” (“tempat yang dulu lebih baik”).
Pada awal kedatangannnya di dunia para dewa, Chihiro kurang memiliki rasa hormat terhadap orang lain. Ketika Kamajii menolongnya mencari pekerjaan di pemandian, Chihiro harus diberitahu untuk berterima kasih dan ia juga tidak menyahut saat dipanggil oleh Rin
3.4.1.2 Chihiro Setelah Memiliki Pengalaman Hidup Dalam Dunia Para Kami Di dunia para dewa, Chihiro bekerja dengan terpaksa karena bila ia tidak bekerja maka ia akan diubah menjadi hewan oleh Yubaba dan suatu saat ia akan dimakan seperti nasib hewan-hewan lainnya. Sifat Chihiro yang tidak bersemangat akhirnya dipaksa untuk berubah agar ia bisa bertahan hidup di dunia kami tersebut.
Lambat laun, sifat dan sikap buruk Chihiro berubah ke arah yang lebih baik. Ia mulai mengucapkan terima kasih tanpa harus diberitahu terlebih dahulu oleh orang lain. Misalnya, ketika ia mengucapkan terima kasih kepada Zeniba yang telah membantunya.
Dalam anime, diceritakan bahwa Chihiro menerima sebuah dango dari Kawa no Kami setelah Chihiro membantu dewa tersebut membersihkan diri. Chihiro menganggap bahwa dango tersebut memiliki khasiat karena didapat dari kami. Pada awalnya, Chihiro ingin memberikan dango tersebut kepada orangtuanya yang berubah menjadi babi agar kedua orangtuanya tersebut dapat kembali ke wujud manusia, tetapi akhirnya dango tersebut ia gunakan untuk kepentingan orang lain, yaitu untuk Haku dan Kaonashi. Tindakan Chihiro tersebut menandakan bahwa ia peduli terhadap orang-orang disekelilingnya.
Pada saat menyelamatkan hidup Haku, Chihiro berinisiatif dan bersemangat mendatangi Zeniba untuk meminta maaf atas perbuatan Haku yang telah mencuri dari Zeniba dan meminta bantuannya untuk menolong haku. Sikap bersemangatnya ini
dikarenakan ketulusan hati Chihiro untuk menolong Haku, mengingat.Haku pernah menolong Chihiro.
Perubahan sifat Chihiro ini, juga dinyatakan oleh Miyazaki Hayao sendiri seperti dalam wawancaranya yang dikutip dari The Purpose of the Film, by Hayao Miyazaki dalam The Hayao Miyazaki Web sebagai berikut:
In this difficult world, Chihiro becomes lively. The sullen, listless character would have a surprisingly attractive expression in the end of the film. The essence of the world has not changed a bit. This film will persuade one of the fact that a word is one’s will, oneself, and one’s power.
Terjemahan:
Di dunia yang sulit ini, Chihiro menjadi bersemangat. Karakternya yang murung dan tidak bersemangat pada akhir film berubah menjadi benar-benar atraktif. Inti dari dunia tidak berubah sedikit pun. Film ini akan mempengaruhi salah satu fakta yang menyatakan bahwa sebuah kata adalah sebuah keinginan, satu jiwa, dan satu kekuatan.
Pada akhir cerita, Chihiro berubah dari seorang anak yang pemurung dan egois menjadi seorang anak yang bersemangat, menolong orang lain dengan tulus, dan mau menerima keadaannya saat ini. Perubahan inilah yang menyatakan bahwa ia telah berhasil menjadi seseorang yang memiliki ketulusan hati (makoto no kokoro).
3.4.2 Haku
Analisis mengenai tokoh Haku akan penulis bagi menjadi dua bagian yaitu Haku sebelum bertemu Chihiro dan setelah bertemu Chihiro.
3.4.2.1 Haku Sebelum Bertemu Dengan Chihiro
Haku adalah seorang bocah yang menolong Chihiro saat orangtuanya berubah menjadi babi dan saat Chihiro sedang sendirian di dunia para kami tersebut. Haku
bekerja di pemandian sebagai bawahan langsung dari Yubaba. Ia sering menjalankan apapun misi yang diperintahkan oleh Yubaba, termasuk mencuri stempel Zeniba. Haku kadang juga bersikap dingin terhadap Chihiro, tetapi sikap dinginnya tersebut hanya ditunjukkan pada saat ia merasa Yubaba mengawasinya. Ia takut ia dan Chihiro akan dihukum jika Yubaba tahu ia membantu Chihiro.
3.4.2.2 Haku Setelah Bertemu Dengan Chihiro
Pada akhirnya, Haku membantu Chihiro secara terang-terangan bahkan berani meminta syarat dari Yubaba demi kebebasan Chihiro dan orangtuanya, bukan demi kebebasan dirinya sendiri. Padahal kebebasan Haku sendiri terikat oleh kontrak yang pernah dibuatnya dengan Yubaba sehingga ia tidak dapat mengingat namanya sendiri. Tindakan Haku yang dengan tulus membantu Chihiro tanpa memikirkan dirinya sendiri tersebut menandakan bahwa ia telah mencapai makoto no kokoro.
3.4.3 Yubaba
Analisis mengenai tokoh Yubaba akan penulis bagi menjadi dua bagian yaitu Yubaba sebelum bertemu Chihiro dan setelah bertemu Chihiro.
3.4.3.1 Yubaba Sebelum Bertemu Dengan Chihiro
Yubaba adalah penyihir tua yang memiliki kepala dan hidung yang luar biasa besar. Ia adalah pemilik dari pemandian di dunia kami tersebut. Ia sangat serakah dan melayani para tamu hanya karena uang mereka. Ia juga tidak peduli pada saat Haku terluka dan menyuruhnya cepat keluar dari ruangannya agar darah Haku tidak mengotori karpetnya.
3.4.3.2 Yubaba Setelah Bertemu Dengan Chihiro
Walaupun demikian ia sangat menyayangi dan memanjakan anaknya, Bo. Pada saat Haku memberitahu bahwa benda berharga miliknya telah hilang, awalnya ia mengira bahwa benda berharga yang dimaksud adalah emasnya, yang membuktikan betapa serakahnya Yubaba. Namun, setelah ia menyadari bahwa yang dimaksud adalah Bo, ia langsung menyetujui syarat dari Haku untuk membebaskan Chihiro dan orangtuanya jika Haku dapat membawa pulang Bo kembali. Ia juga memegang janjinya untuk melepaskan Chihiro dan orangtuanya saat Bo telah kembali. Hal tersebut menandakan Yubaba memiliki ketulusan dan kepedulian terhadap orang lain.
3.4.4 Zeniba
Analisis mengenai tokoh Zeniba akan penulis bagi menjadi dua bagian yaitu Zeniba sebelum bertemu Chihiro dan setelah bertemu Chihiro.
3.4.4.1 Zeniba Sebelum Bertemu Dengan Chihiro
Zeniba adalah saudara kembar sekaligus rival Yubaba. Walaupun penampilan keduanya mirip, tetapi mereka memiliki sifat yang hampir berlawanan. Awalnya sikap Zeniba tidak lebih baik dari Yubaba saat ia marah atas perbuatan Haku yang telah mencuri darinya. Ia bahkan tidak peduli terhadap apa yang terjadi pada Haku akibat serangannya. Oleh karena itu, Chihiro datang ke rumahnya untuk mengembalikan stempel miliknya dan meminta maaf atas nama Haku.
3.4.4.2 Zeniba Setelah Bertemu Dengan Chihiro
Pada akhir anime, diceritakan bahwa Zeniba akhirnya mau memaafkan Haku dan bahkan ia mengizinkan Kaonashi tinggal bersamanya. Ketulusan Zeniba untuk memaafkan Haku tanpa mempersoalkan masalah sebelumnya menandakan ia telah meraih makoto no kokoro.
3.4.5 Kaonashi
Analisis mengenai tokoh Kaonashi akan penulis bagi menjadi dua bagian yaitu Kaonashi sebelum bertemu Chihiro dan setelah bertemu Chihiro.
3.4.5.1 Kaonashi Sebelum Bertemu Dengan Chihiro
Pada awal cerita, Kaonashi digambarkan sebagai tokoh yang kesepian, suram, dan hanya memiliki sedikit ketertarikan pada hal lainnya. Chihiro selalu melihatnya berdiri diam sendirian di jembatan dekat pemandian Yubaba tanpa berbicara atau bergerak walaupun banyak orang di dekatnya. Akibat tidak bisa berbicara, ia tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Ia merasa sangat senang saat Chihiro memperhatikannya dan mulai mengikuti gadis tersebut karena ingin lebih diperhatikan, bahkan sikapnya cenderung posesif.
Untuk menyenangkan Chihiro, Kaonashi memberinya emas tetapi ditolak oleh Chihiro. Hal ini membuat Kaonashi marah dan ia pun mulai membuat kekacauan di pemandian. Untuk menghentikan tindakan Kaonashi, Chihiro pun memasukkan sebagian dango miliknya ke mulut Kaonashi yang diharapkan dapat meredakan kemarahan Kaonashi dan mengembalikan wujudnya seperti semula. Karena dango tersebut pahit,
Kaonashi pun marah dan mengejar Chihiro. Pada akhirnya, Kaonashi pun kembali ke wujud dan sikapnya yang semula.
3.4.5.2 Kaonashi Setelah Bertemu Dengan Chihiro
Setelah kembali ke bentuknya yang semula, Kaonashi yang pada awalnya selalu diam, kemudian mau menemani Chihiro ke tempat Zeniba untuk mengembalikan stempel. Di tempat Zeniba, ia membantu Zeniba membuatkan ikat rambut untuk Chihiro. Ia juga tidak marah saat Chihiro kembali ke pemandian tanpa dirinya yang menandakan ia tidak terobsesi lagi akan kepedulian Chihiro terhadapnya. Ia juga menerima ajakan Zeniba untuk tinggal di tempatnya sehingga ia tidak merasa kesepian lagi.
Dari cerita di atas, terlihat bahwa Kaonashi mengalami perkembangan dalam pola pikir dan sikapnya. Ia berubah dari tokoh yang egois menjadi tokoh yang membuka hatinya untuk keadaan sekitarnya. Ia pun lebih berlapang dada dan tidak bersikap posesif lagi saat melepas kepergian Chihiro, sehingga dapat dikatakan bahwa ia juga berhasil mencapai makoto no kokoro.