• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI MEI 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI MEI 2017"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

No. 02/06/53/Th. XX, 02 Juni 2017

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI MEI 2017

NILAI TUKAR PETANI (NTP) MEI 2017 SEBESAR 100,95

1. Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Mei 2017, NTP di Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan dibandingkan April yaitu sebesar 0,23 persen. Hal ini disebabkan karena tingginya kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dibandingkan indeks harga hasil produksi pertanian. Ditinjau per subsektor dengan membandingkan NTP Mei dengan NTP April maka subsektor tanaman padi-palawija mengalami penurunan sebesar 2,13 persen, subsektor hortikultura mengalami peningkatan sebesar 1,86 persen; subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 0,71 persen; subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar 1,03 persen dan subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,22 persen.

 Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Mei 2017 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012

(2012=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

 Pada bulan Mei 2017, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 100,95 dengan NTP masing-masing subsektor

tercatat sebesar 101,98 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 101,38 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 93,34 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 106,83 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 104,18 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

 Jika NTP Mei 2017 dibandingkan dengan NTP April 2016, terjadi penurunan sebesar 0,23 persen.

 Di daerah perdesaan terjadi Inflasi pada bulan Mei 2017 sebesar 0,37 persen. Sub kelompok bahan

makanan mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,55 persen. Sub kelompok perumahan, makanan jadi, kesehatan, dan sandang berturut-turut mengalami inflasi 0,39 persen, 0,31 persen, 0,22 persen dan 0,17 persen. Sub kelompok pendidikan dan transportasi mengalami deflasi sebesar 0,14 persen dan 0,10 persen.

(2)

2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Indeks harga yang diterima petani dari ke lima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Mei 2017, indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,07 persen dibandingkan April 2017 yaitu dari 127,16 menjadi 127,25.

3. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar di pedesaan serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Mei 2017 indeks harga yang dibayar petani dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan April 2017 yaitu dari 125,67 menjadi 126,05 atau meningkat sebesar 0,30 persen. Besarnya peningkatan pada Ib menjadi penyebab turunnya NTP Mei. 4. NTP Subsektor

a. Subsektor Padi & Palawija

NTP subsektor padi dan palawija di Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan sebesar 2,13 persen pada Mei 2017. Hal ini disebabkan karena It mengalami penurunan sebesar 1,85 persen sedangkan Ib mengalami peningkatan sebesar 0,28 persen. Penurunan pada It dipengaruhi oleh penurunan pada semua subkelompok baik padi maupun palawija sebesar 1,81 persen dan 1,87 persen sedangkan naiknya Ib dipengaruhi oleh peningkatan subkelompok konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 0,36 persen walaupun BPPBM (biaya produksi dan penambahan biaya modal) mengalami penurunan 0,06 persen.

b. Subsektor Hortikultura

NTP untuk subsektor hortikultura naik sebesar 1,86 persen pada Mei 2017. Hal ini karena It mengalami kenaikan sebesar 2,25 persen sedangkan Ib naik sebesar 0,39 persen. Naiknya It dipengaruhi oleh naiknya subkelompok sayur-sayuran dan buah-buahan sebesar 2,14 persen dan 2,38 persen walaupun subkelompok tanaman obat turun sebesar 1,19 persen. Terjadi peningkatan subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,47 sedangkan BPPBM turun sebesar 0,09 persen pada Ib subsektor hortikultura.

c. Subsektor Perkebunan Rakyat

NTP subsektor perkebunan rakyat turun sebesar 0,71 persen dibandingkan periode Mei 2017. Hal ini karena terjadi penurunan pada Itsebesar 0,42 persen dan Ib mengalami peningkatan sebesar 0,30 persen. Pada Ib subkelompok konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen sedangkan indeks subkelompok BPPBM naik sebesar 0,11 persen.

d. Subsektor Peternakan

NTP subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar 1,03 persen pada Mei 2017. Hal ini disebabkan Itnaik 1,30 persen dan Ib naik lebih kecil yaitu sebesar 0,27 persen. Peningkatan yang terjadi pada Itdipengaruhi oleh naiknya subkelompok ternak besar, ternak kecil dan ungags

(3)

masing-masing sebesar 1,51 persen, 1,21 persen dan 0,32 persen sedangkan subkelompok hasil ternak turun 1,01 persen. Sementara, terjadi peningkatan pada subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,38 persen dan BPPBM turun sebesar 0,01 persen pada Ib subsektor peternakan.

Tabel 1.

Nilai Tukar Petani NTT Per Subsektor April-Mei 2017 (2012=100)

Subsektor Bulan Persentase Perubahan

April 2017 Mei 2017

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Padi-Palawija

a. Indeks yang Diterima 131,93 129,49 -1,85

b. Indeks yang Dibayar 126,61 126,97 0,28

c. Nilai Tukar Petani 104,20 101,98 -2,13

2. Hortikultura

a. Indeks yang Diterima 125,32 128,14 2,25

b. Indeks yang Dibayar 125,91 126,39 0,39

c. Nilai Tukar Petani 99,53 101,38 1,86

3. Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR)

a. Indeks yang Diterima 120,10 119,60 -0,42

b. Indeks yang Dibayar 127,76 128,14 0,30

c. Nilai Tukar Petani 94,01 93,34 -0,71

4. Peternakan

a. Indeks yang Diterima 129,60 131,29 1,30

b. Indeks yang Dibayar 122,55 122,89 0,27

c. Nilai Tukar Petani 105,75 106,83 1,03

5. Perikanan

a. Indeks yang Diterima 128,94 128,80 -0,11

b. Indeks yang Dibayar 123,50 123,64 0,11

c. Nilai Tukar Petani 104,41 104,18 -0,22

5.1 Penangkapan Ikan

a. Indeks yang Diterima 132,41 132,21 -0,15

b. Indeks yang Dibayar 123,69 123,83 0,11

c. Nilai Tukar Petani 107,05 106,77 -0,26

5.2 Budidaya Perikanan

a. Indeks yang Diterima 120,29 120,29 0,00

b. Indeks yang Dibayar 123,03 123,17 0,12

c. Nilai Tukar Petani 97,78 97,66 -0,12

Gabungan/Nusa Tenggara Timur

a. Indeks yang Diterima 127,16 127,25 0,07

b. Indeks yang Dibayar 125,67 126,05 0,30

c. Nilai Tukar Petani 101,18 100,95 -0,23

e. Subsektor Perikanan

NTP subsektor perikanan secara umum turun sebesar 0,22 persen pada Mei 2017. Hal ini disebabkan Itturun sebesar 0,11 persen dan Ib naik sebesar 0,11 persen. Turunnya Itdisebabkan oleh turunnya subkelompok penangkapan ikan sebesar 0,15 persen sedangkan subkelompok budidaya tidak mengalami perubahan. Naiknya Ib dipengaruhi oleh naiknya subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,15 dan BPPBM naik sebesar 0,02 persen.

Subkelompok Penangkapan Ikan

NTP subkelompok penangkapan ikan mengalami penurunan sebesar 0,26 persen dari 107,05 pada April menjadi 106,77 pada Mei 2017. Hal ini disebabkan turunnya Itsebesar 0,15 persen dan

(4)

Ib hanya naik sebesar 0,11 persen. Perubahan pada Ib disebabkan oleh naiknya subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,15 persen dan subkelompok BPPBM naik sebesar 0,01 persen.  Subkelompok Budidaya Perikanan

NTP subkelompok budidaya perikanan mengalami penurunan sebesar 0,12 persen dari 97,78 pada April menjadi 97,66 pada Mei 2017. It mengalami tidak mengalami perubahan pada Mei 2017 sedangkan Ib mengalami peningkatan sebesar 0,12 persen. Peningkatan pada Ib dipengaruhi oleh naiknya subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,16 persen dan subkelompok BPPBM sebesar 0,04 persen.

Tabel 2.

Indeks Harga Diterima Petani, Indeks Harga Dibayar Petani per Subkelompok Pengeluaran serta Perubahannya Mei 2017

(2012=100)

Kelompok/Sub Kelompok Indeks Gabungan Subsektor Persentase Perubahan

April 2017 Mei 2017

(1) (2) (3) (4)

1. INDEKS HARGA YANG DITERIMA PETANI 127,16 127,25 0,07 2. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR PETANI 125,67 126,05 0,30 2.1. KONSUMSI RUMAH TANGGA 128,76 129,24 0,37

2.1.1. Bahan Makanan 135,50 136,24 0,55

2.1.2. Makanan Jadi 127,58 127,98 0,31

2.1.3. Perumahan 119,41 119,88 0,39

2.1.4. Sandang 131,40 131,62 0,17

2.1.5. Kesehatan 118,88 119,14 0,22

2.1.6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 111,24 111,08 -0,14 2.1.7. Transportasi dan Komunikasi 123,10 122,97 -0,10

2.2. BIAYA PRODUKSI & PENAMBAHAN BARANG MODAL 114,37 114,36 -0,01

2.2.1. Bibit 113,72 113,90 0,16

2.2.2.Obat-obatan dan Pupuk 112,31 112,13 -0,16

2.2.3. Sewa Lahan, Pajak dan Lainnya 109,88 109,87 -0,01

2.2.4. Transportasi 125,33 125,31 -0,02

2.2.5. Penambahan Barang Modal 113,95 114,07 0,11

2.2.6. Upah Buruh Tani 112,23 112,23 0,00

3. NILAI TUKAR PETANI 101,18 100,95 -0,23 4. NILAI TUKAR USAHA PERTANIAN 127,16 127,25 0,07

5. Inflasi Perdesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara umum di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Mei 2017 di daerah pedesaan mengalami inflasi sebesar 0,37 persen yang utamanya dipengaruhi oleh naiknya subkelompok bahan makanan sebesar 0,55 persen. Selanjutnya bila ditinjau menurut subsektor tampak bahwa seluruh subsektor mengalami inflasi, padi palawija sebesar 0,36 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,47 persen, subsektor TPR sebesar 0,33 persen, subsektor peternakan sebesar 0,38 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,15 persen.

(5)

Tabel 3.

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Mei 2017 (2012=100)

Pada bulan Mei 2017 terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,37 persen dengan inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok bahan makanan sebesar 0,55 persen. Subkelompok makanan jadi, perumahan, sandang, dan kesehatan juga mengalami inflasi berturut-turut sebesar 0,31 persen, 0,39 persen, 0,17 persen, dan 0,22 persen. Subkelompok pendidikan dan transportasi mengalami deflasi berturut-turut sebesar -0,14 persen dan -0,10 persen. Inflasi year on year sebesar 5,09 persen, sedangkan inflasi tahun kalender adalah 2,83 persen.

Tabel 4,

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Periode Desember 2016 – Mei 2017

(2012=100)

Bulan

Kelompok Bahan

Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan

Pendidikan, Rekreasi, & Olahraga

Transportasi

& Komunikasi Umum/KRT

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 2016 Desember 1,57 0,02 0,35 1,48 0,72 0,15 0,21 0,94 2017 Januari 1,74 0,48 0,92 0,91 1,03 0,87 0,30 1,20 Februari 1,53 1,28 0,40 0,21 0,56 0,75 -0,07 1,09 Maret 0,07 0,04 0,69 0,40 0,23 0,06 0,21 0,17 April -0,27 0,17 0,09 0,18 0,78 0,12 0,24 -0,03 Mei 0,55 0,31 0,39 0,17 0,22 -0,14 -0,10 0,37 Kelompok Subsektor NTT

Padi palawija Hortikultura TPR Peternakan Perikanan

Umum/ KRT 0,36 0,47 0,33 0,38 0,15 0,37 Bahan Makanan 0,53 0,70 0,52 0,54 0,11 0,55 Makanan Jadi 0,23 0,28 0,43 0,31 0,21 0,31 Perumahan 0,28 0,39 0,60 0,33 0,18 0,39 Sandang 0,15 0,16 0,15 0,21 0,33 0,17 Kesehatan 0,23 0,31 0,18 0,18 0,37 0,22

Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga 0,40 0,31 -1,62 0,40 0,11 -0,14 Transportasi dan Komunikasi -0,07 -0,12 -0,12 -0,10 -0,27 -0,10

(6)

BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Informasi lebih lanjut hubungi:

Maritje Pattiwaellapia, SE, M.Si Kepala BPS Nusa Tenggara Timur

Telp (0380) 826289, 821755

Referensi

Dokumen terkait

Jika anda sudah mengembangkan kesadaran akan fungsi indera perabaan, anda akan mendapati bahwa banyak informasi tentang lingkungan anda yang dapat diberikan oleh ujung-ujung jari

intact all the notices that refer to this License and to the absence of any warranty; and give any other recipients of the Program a copy of this License along with the Program.

Reliabilitas (reliability), yaitu sejauh mana perangkat lunak dapat diharapkan untuk melaksanakan fungsikan dengan ketelitian yang diperlukan. 1) Bagaimana kinerja

Pada bagian lain penulis juga mencoba memusatkan perhatian pada tema PKB yang akan datang (2018) dengan mengambil contoh-contoh api atau Dewa Brahma pada

Dalam sistem Frequency Division Multiple Access (FDMA), frekuensi dibedakan menjadi beberapa kanal yang lebih sempit, tiap kanal pengguna akan mendapatkan kanal frekuensi yang

pelajaran Fiqih yaitu dari siswa yang telah tuntas pada siklus I naik dari. 72% menjadi

Foto rontgen toraks adalah pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan. Untuk pemeriksaan rutin biasa dilakukan foto PA, dan bila perlu, dila perlu dapat

Dulu masyarakat tidak mengetahui cara mengelolah ikan-ikan yang ada di tambak tersebut, Jadi yang dilakukan oleh masyarakat adalah hanya menjual ikan-ikan tersebut pada waktu