• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan unsur terpenting dalam sebuah penelitian karena metode yang tepat akan mengarahkan hasil penelitian untuk mencapai tujuan dari penelitian tersebut (Azwar,1997). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat komparasional yang bertujuan untuk melihat perbedaan impulse buying produk fashion muslimah pada mahasiswi berjilbab anggota komunitas Hijabers dengan yang bukan anggota komunitas. Pembahasan metode penelitian ini meliputi identifikasi variabel penelitian dan definisi operasional, populasi dan metode pengambilan sampel, metode pengambilan data, validitas dan reliabilitas, serta metode analisis data.

A. IDENTIFIKASI VARIABEL

Variabel tergantung : Impulse Buying Produk Fashion Muslimah Variabel bebas : keanggotaan di komunitas Hijabers

a. Anggota komunitas b. Non-anggota komunitas

B.DEFINISI OPERASIONAL

1. Impulse buying produk fashion muslimah

Impulse buying adalah pembelian yang tidak rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat dan tidak direncanakan, diikuti oleh adanya

(2)

Impulse buying produk fashion muslimah yang hendak diteliti adalah impulse buying yang terjadi ketika melakukan pembelian produk hijab beserta aksesorisnya.

Impulse buying produk fashion muslimah akan diukur menggunakan skala

impulse buying yang didasarkan pada karakteristik dari impulse buying menurut Rook dan Fisher (Engel et al,1995) yaitu spontanitas, kekuatan, kompulsi, dan intensitas, kegairahan dan stimulasi, serta ketidakpedulian akan akibat. Tingkat

impulse buying produk fashion muslimah akan ditunjukkan dari skor yang diperoleh. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi pula kecenderungan impulse buying yang dimiliki individu dan demikian sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah kecenderungan individu untuk mengalami impulse buying pada produk fashion muslimah.

2. Keanggotaan pada komunitas Hijabers

Keanggotaan komunitas Hijabers adalah mahasiswi yang secara resmi menjadi anggota komunitas dan telah mengikuti kegiatan komunitas tersebut. Data mengenai keanggotaan dapat diperoleh dari no id Hijabers yang tertera pada skala impulse buying berdasarkan kepemilikan kartu anggota komunitas Hijabers.

C. SUBJEK PENELITIAN 1. Populasi dan sampel

Populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar,1997). Populasi ilmiah hampir selalu hanya dilakukan terhadap sebagian saja dari hal-hal yang sebenarnya hendak diteliti

(3)

(Suryabrata,2008). Kesimpulan penelitian mengenai sampel dapat digeneralisasikan terhadap populasi.

Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna hijab modern di kota Medan, dan sampel penelitian ini adalah pengguna hijab modern yang anggota komunitas Hijabers Medan dan yang bukan anggota komunitas.

2. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel adalah teknik pemilihan sebagian individu dari populasi atau atau yang dikenal sebagai sampel (Hadi,2000) dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga yang dimiliki oleh peneliti. Sampel yang diambil harus mempunyai karakter yang mencerminkan semua karakter yang dimiliki oleh populasi sehingga hasil penelitian nantinya dapat digeneralisasikan terhadap populasinya (Hadi,2000).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampling non probabilitas (non probablity sampling) khususnya sampling kuota (quota sampling). Sampling non probabilitas adalah kondisi penelitian dimana besarnya peluang masing-masing elemen atau anggota populasi untuk menjadi sampel tidak diketahui (Azwar,1997). Alasan metode ini adalah faktor biaya dan waktu yang lebih hemat.

Sementara sampling kuota adalah mengambil sampel sebanyak jumlah tertentu yang dianggap dapat merefleksikan ciri populasi (Azwar,1997), dimana jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengguna hijab modern anggota komunitas HIjabers sejumlah 50 orang dan pengguna hijab yang

(4)

bukan anggota komunitas Hijabers dengan jumlah yang sama yaitu 50 orang. Meskipun peneliti sadar bahwa teknik kuota memiliki banyak kelemahan, cara ini dianggap yang paling sesuai untuk dipakai dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk menguji hipotesa serta dikarenakan keterbatasan yang dimiliki peneliti (Azwar.1997).

Adapun karakteristik sampel atau subjek pada penelitian ini yang berlaku untuk kedua kelompok di atas adalah:

1. Menggunakan jilbab/hijab modern

2. Memiliki uang saku di atas Rp. 600.000,00/ bulan

3. Anggota komunitas Hijabers Medan dan bukan anggota komunitas Hijabers Medan

3. Jumlah sampel penelitian

Pada penelitian ini peneliti mengambil sampel sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang pengguna hijab modern anggota komunitas Hijabers dan 50 orang yang bukan anggota komunitas Hijabers.

D. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala impulse buying produk fashion muslimah. Skala ini terdiri dari aitem-aitem berupa pertanyaan yang mengarah pada informasi mengenai data yang hendak diungkap dan meminta sampel untuk memilih salah satu jawaban dari beberapa alternatif jawaban yang telah disediakan.

(5)

Pada lembar skala sampel diminta untuk memberikan data berupa usia, perkiraan jumlah uang saku, serta perkiraan jumlah uang yang dihabiskan dalam sebulan untuk membeli produk fashion muslimah (hijab). Hal ini dilakukan karena ketiga hal tersebut memiliki pengaruh terhadap variable yang hendak diteliti.

Skala impulse buying produk fashion muslimah dalam penelitian ini disusun berdasarkan karakteristik impulse buying menurut Rook dan Fisher (Engel et al,1995). Pada pengisian skala ini sampel diminta untuk menjawab pertanyaan yang ada dengan memilih salah satu jawaban dari beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Pada skala diberi 4 (empat) alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sanagat tidak sesuai (STS).

Pernyataan dalam skala ini terdiri dari pernyataan favorable dan unfavorable. Item yang favorable jawaban yang sangat sesuai akan diberi skor 4, jawaban sesuai diberi skor 3, jawaban tidak sesuai diberi skor 2, dan jawaban sangat tidak sesuai diberi skor 1. Sebaliknya untuk item unfavorable, jawaban sangat tidak sesuai diberi skor 4, tidak sesuai diberi skor 3, sesuai diberi skor 2, dan sangat sesuai diberi skor 1.

(6)

Tabel 1. Distribusi Aitem Skala Impulse Buying Produk Fashion Muslimah sebelum Uji Coba

Karakteristik Aitem Total aitem Favorable Unfavorable Spontanitas 9,26,27, 43, 44,50,57 2,13, 18, 19, 32,33,34,38 15

Kekuatan, kompulsi, dan intensitas

4,6,11,12, 35,45, 53

8,14,15,46, 47,49,58, 59

15

Kegairahan dan stimulasi

3, 7, 31,41, 48,52,55,56

30,36,37,42, 51, 54,60

15

Ketidakpedulian akan akibat

1,5,10,20, 22,23,28,29 16,17,21,24, 25,39, 40 15 Total aitem 30 30 60

E. VALIDITAS DAN RELIABILITAS 1. Validitas Alat Ukur

Azwar (1997) menyatakan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan

(7)

tujuan pengukuran dikatakan memiliki validitas yang rendah. Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Cermat berarti bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya diantara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya. Untuk mengkaji validitas alat ukur dalam penelitian ini peneliti meilhat alat ukur berdasarkan arah isi yang diukur yang disebut dengan validitas isi (content validity). Suryabrata (2003) menyatakan bahwa validitas isi ditegakkan pada langkah telaah dan revisi butir pertanyaan/pernyataan, berdasarkan pendapat professional (professional judgement).

Setelah melakukan validitas isi kemudian dilanjutkan dengan melakukan uji daya beda item. Uji daya beda item dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan suatu individu atau kelompok individu yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Prinsip kerja yang dijadikan dasar melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya sesuai dengan fungsi ukur tes. Atau dengan kata lain, dasarnya adalah memilih aitem yang mengukur hal yang sama dengan yang diukur oleh skala sebagai keseluruhan (Azwar,1997).

Pengujian daya diskriminasi aitem menghendaki dilakukannya komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini menghasilkan koefisien korelasi aitem total (rix) yang dikenal dengan sebutan parameter daya beda aitem.

(8)

Menurut Ebel (1979, dalam Azwar 1997) kriteria evaluasi indeks diskriminasi aitem yaitu nilai 0,3 sudah dianggap bagus walaupun masih mungkin untuk ditingkatkan. Penghitungan daya diskriminasi aitem dalam uji coba ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS version 19.0 for windows.

2. Uji Reliabilitas

Menurut Suryabrata (2008), reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan suatu alat dapat dipercaya. Reliabilitas alat ukur yang dapat dilihat dari koefisien reliabilitas merupakan indikator konsistensi aitem-aitem pernyataan tes dalam menjalankan fungsi ukurnya secara bersama-sama. Reliabilitas alat ukur ini sebenarnya mengacu kepada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Azwar,2004).

Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal yang mana prosedurnya hanya memerlukan satu kali tes kepada sekelompok individu sebagai subjek penelitian. Pendekatan ini dipandang ekonomis, praktis, dan berefisiensi tinggi (Azwar,2004). Teknik yang digunakan adalah teknik Alpha Cronbach dari Cronbach. Pengujian reliabilitas ini akan menghasilkan reliabilitas dari skala.

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Reliabilitas sebenarnya mengacu kepada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecerrmatan pengukuran. Reliabilitas ini ditunjukkan oleh konsistensi skor yang diperoleh subjek dengan memakai alat yang sama (Suryabrata, 2008). Tujuan dilakukannya uji coba alat ukur adalah

(9)

untuk mengetahui sejauh mana alat ukur dapat mengungkap dengan tepat apa yang ingin diukur dan seberapa jauh alat ukur menunjukkan kecermatan atau ketelitian pengukuran atau dengan kata lain dapat menunjukkan keadaan sebenarnya (Azwar, 2004). Adapun distribusi hasil uji coba skala akan dijelaskan pada Tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Impulse Buying Produk Fashion Muslimah setelah Uji Coba

Karakteristik Aitem Total aitem Favorable Unfavorable Spontanitas 9,26,27, 43, 44,50,57 2,13, 18, 19, 32,33,34,38 15

Kekuatan, kompulsi, dan intensitas

4,6,11,12, 35,45, 53

8,14,15,46, 47,49,58, 59

15

Kegairahan dan stimulasi

3, 7, 31,41, 48,52,55,56

30,36,37,42, 51, 54,60

15

Ketidakpedulian akan akibat

1,5,10,20, 22,23,28,29 16,17,21,24, 25,39, 40 15 Total aitem 30 30 60 Keterangan:

(10)

Setelah uji coba dari 60 aitem skala impulse buying dengan 60 orang subjek (n = 60) ditemukan 19 aitem yang gugur, sehingga jumlah aitem yang dapat digunakan untuk pengambilan data yang sebenarnya adalah sebanyak 41 aitem yang memiliki koefisien korelasi yang memenuhi syarat untuk dapat digunakan dalam penelitian (rix ≥ 0.30). Reliabilitas alat ukur yang diuji cobakan adalah sebesar 0.934. Sedangkan indeks daya beda aitem bergerak dari 0,323 sampai dengan 0,746.

Setelah mendapatkan aitem-aitem yang sesuai dari uji reliabilitas, selanjutnya peneliti memilih 40 aitem yang memiliki reliabilitas tinggi untuk skala penelitian (item no 38 digugurkan). Tabel 3 menunjukkan distribusi 40 aitem skala penelitian setelah penomoran ulang.

Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Impulse Buying Produk Fashion Muslimah setelah Uji Coba dengan penomoran baru

Karakteristik Aitem Total aitem Favorable Unfavorable Spontanitas 14,16,17,22, 23,26,31 10,27,40 10

Kekuatan, kompulsi, dan intensitas

4,11,25,36,

38,45 3, 18, 20,37 10

Kegairahan dan stimulasi

1,6, 8,33, 34, 35

(11)

Ketidakpedulian akan akibat

2, 7, 13, 15, 30, 39

12, 19, 21,28 10

Total aitem 25 15 40

F. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari 3 tahap,yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan data.

1. Tahap persiapan

Dalam tahap persiapan yang dilakukan peneliti adalah: a. Menyusun alat ukur

Sebelum alat ukur dibuat maka hal pertama yang dilakukan peneliti adalah menentukan aspek-aspek dari suatu alat ukur. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini hanaya ada satu yaitu skala impulse buying produk fashion muslimah. Skala impulse buying produk fashion muslimah ini disusun atas empat karakteristik menurut Rook dan Fisher (Engel et al,1995). Skala ini terdiri dari 60 aitem.

b. Ujicoba alat ukur

Ujicoba skala impulse buying produk fashion muslimah dilakukan di Universitas Sumatera Utara dan beberapa tempat makan di sekitarnya pada tanggal 2 Maret 2012 terhadap 60 orang mahasiswi berjilbab di kota Medan.

Hasil uji coba ini diolah melalui empat kali pengujian reliabilitas agar memperoleh reliabilitas yang memenuhi standar ukur yaitu di atas 0,30.

(12)

Setelah dilakukan pengujian reliabilitas maka diperoleh 40 aitem yang dianggap cukup baik dalam memenuhi validitas dan reliabilitas.

c. Revisi alat ukur

Setelah peneliti melakukan ujicoba alat ukur maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah menguji validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang dipakai menggunakan bantuan program SPSS versi 19.0 for windows.

Setelah peneliti mengetahui aitem-aitem yang dianggap memenuhi kriteria validitas maka langkah selanjutnya adalah peneliti mengambil aitem-aitem tersebut dan menyusunnya kembali sehingga terbentuk alat ukur baru yang nantinya akan digunakan peneliti dalam mengambil data untuk penelitian ini.

2. Tahap pelaksanaan penelitian

Setelah uji coba dan revisi alat ukur selesai dilaksanakan, peneliti melaksanakan pengambilan data dengan membagikan alat ukur yang telah direvisi tersebut pada tanggal 9-18 Maret 2012 di Medan. Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti menentukan terlebih dahulu beberapa tempat yang dianggap berpotensi untuk menemukan sample penelitian yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, yaitu kampus USU, UISU, dan UMSU serta beberapa tempat yang berada disekitar kampus tersebut. Peneliti juga menjadikan salah satu plaza di kota Medan sebagai tempat pengambilan data dikarenakan bertepatan

(13)

dengan salah satu rangkaian acara dari komunitas yang menjadi populasi dari sampel penelitian ini.

Selain melakukan pengambilan data secara langsung dengan memberikan skala Impulse Buying kepada para sampel, peneliti juga memanfaatkan media internet untuk pengambilan data berupa skala online. Hal ini dikarenakan adanya kesulitan untuk menemukan anggota komunitas Hijabers ketika sedang tidak ada acara khusus.

3. Pengolahan Data

Setelah keseluruhan data diperoleh, maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan menganalisa menggunakan bantuan program

SPSS versi 19 for windows. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa statistik.

Alasan yang mendasari digunakannya analisa statistik adalah karena statistik dapat menunjukkan kesimpulan (generalisasi) penelitian. Pertimbangan lain yang mendasari adalah statistik bekerja dengan angka, statistik bersifat objektif, dan universal (Hadi, 2004).

G. METODE ANALISIS DATA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan impulse buying produk

fashion muslimah antara mahasiswi berjilbab anggota komunitas Hijabers dan bukan anggota komunitas Hijabers. Oleh karena itu, metode analisis data yang akan digunakan adalah uji t-test yang digunakan untuk menguji perbedaan dua

(14)

SPSS. Analisa statistik digunakan untuk menunjukkan kesimpulan dan arena statistika bekerja dengan angka, statistika bersifat objektif serta universal (Hadi,2000).

Uji asumsi penelitian dilakukan sebelum melakukan analisa data. Uji asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk memeriksa apakah sampel berasal dari populasi yang terdistribusi norma. Uji normalitas dilakukan dengan one-sample kolmogorv smirnov. Data dikatakan terdistribusi normal jika diperoleh p>0,05. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi dan sampel adalah homogen yang menggunakan Lavene Statistic, dimana p≥0,05 berarti sampel dinyatakan homogen.

(15)

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menguraikan keseluruhan hasil penelitian. Analisa data diawali dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hasil analisa data tersebut.

A. ANALISA DATA

1. Gambaran Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi S1 pengguna jilbab modern di kota Medan dengan uang saku perbulan di atas Rp 600.000,-. Subjek pada penelitian ini berjumlah 100 orang yang terdiri dari 50 orang anggota komunitas Hijabers Medan dan 50 orang yang bukan anggota komunitas Hijabers Medan. Berikut adalah gambaran subjek penelitian berdasarkan karakteristik tambahan berupa uang saku bulanan dan usia ( tabel 4 & 5):

Tabel 4 Gambaran Subjek Berdasarkan Uang Saku Frequency Percent

Valid 600.000-999.000 38 38.0

>999.000 62 62.0

(16)

Tabel 5 Gambaran Subjek Berdasarkan Usia Frequency Percent Valid 18 6 6.0 19 19 19.0 20 21 21.0 21 16 16.0 22 23 23.0 23 9 9.0 24 5 5.0 25 1 1.0 Total 100 100.0 2. Hasil Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan impulse buying produk fashion muslimah pada mahasiswi pengguna jilbab modern yang merupakan anggota komunitas Hijabers Medan dengan yang bukan anggota komunitas tersebut.. Metode analisis data yang digunakan adalah

independent sample t-test. Sebelum hasil utama penelitian dianalisa, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi penelitian yang mencakup uji normalitas dan uji homogenitas.

a. Uji Asumsi Penelitian 1) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian terdistribusi secara normal. Adapun untuk mengukur normalitas itu sendiri dengan

(17)

menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Prosedur yang digunakan untuk melakukan interpretasi hasil uji normalitas dengan melihat perbandingan nilai signifikansi (p) dengan nilai α (Alpha). α merupakan taraf kepercayaan. Penelitian ini menggunakan α = 0.05. Apabila nilai p < α, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian masing-masing variabel tidak menyebar secara normal. Sedangkan apabila nilai p > α, maka dapat disimpulkan bawa distribusi data penelitian masing-masing variabel telah menyebar secara normal. Perhitungan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan fasilitas program SPSS 19.0 for windows. Hasil uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov untuk Uji Normalitas

nonhijabers hijabers

N 50 50

Normal Parametersa,,b Mean 81.26 95.10

Std. Deviation 12.692 16.163

Most Extreme Differences Absolute .131 .070

Positive .106 .070

Negative -.131 -.067

Kolmogorov-Smirnov Z .926 .495

Asymp. Sig. (2-tailed) .358 .967

Dari data yang diperoleh pada Tabel 6, menunjukkan bahwa nilai Z untuk non-Hijabers adalah sebesar 0,926 dengan nilai p = 0,358 yang artinya p > 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian impulse buying pada mahasiswi non-Hijabers telah menyebar secara normal. Demikian pula dengan

(18)

impulse buying mahasiswi Hijabers telah menyebar secara normal, hal ini terlihat dari nilai Z sebesar 0,495 dan nilai p = 0,967 yang artinya p > 0.05.

2) Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian adalah homogen. Pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji Levene’s Test. Data penelitian dikatakan homogen jika nilai p > 0.05. Apabila nilai p < 0.05, maka data penelitian tidak homogen. Hasil Levene Statistic untuk uji homogenitas varians terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Uji Homogenitas Levene Statistic Impulse buying

Levene Statistic df1 df2 Sig.

3.780 1 98 .055

Dari data yang diperoleh pada Tabel 7, maka dapat dilihat bahwa nilai p sebesar 0.055 yang artinya p ≥ α (0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa varians dari sampel penelitian ini sama atau homogen yang berarti bahwa kelompok sampel berasal dari populasi dengan varians yang sama.

b. Hasil Penelitian Utama

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan impulse buying ditinjau dari keanggotaan di komunitas fashion

muslimah (Hijabers). Penelitian ini merupakan studi komparatif antara anggota Hijabers dan yang bukan anggota Hijabers di kota Medan. Metode analisa data

(19)

yang digunakan adalah independent sample t-test. Setelah melakukan pengujian statistik dilakukan perumusan hipotesa statistik, yaitu :

1. Ho : μ1 = μ2, artinya tidak ada perbedaan impulse buying produk fashion

muslimah ditinjau dari keanggotaan di komunitas fashion muslimah (Hijabers). 2. Ha : μ1 ≠ μ2, artinya ada perbedaan impulse buying produk fashion muslimah ditinjau dari keanggotaan di komunitas fashion muslimah (Hijabers).

Kriteria Ho ditolak jika p < α ; α = 0.05. Hasil perhitungan statistik uji-t yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Uji Independent Sample T-Test impulse buying produk

fashion muslimah dari keanggotaan di komunitas fashion muslimah (Hijabers)

Impulse buying

Equal variances assumed

Equal variances not assumed Lavene’s test for

equality of variance f 3.780 Sig. .055 t-test for equality of means t -4.762 -4.762 df 98 92.783 Sig.(2-tailed) .000 .000 Mean difference -13.840 -13.840 Std.error difference 2.906 2.906 95% confidence interval of the difference Lower -19.607 -8.073 Upper -19.612 -8.068

(20)

Berdasarkan data dari Tabel 8, dapat dilihat pada kolom equal variances assumed yaitu untuk signifikansi data penelitian yang homogen, diperoleh bahwa hasil analisis uji-t diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05) maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Dari data penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan impulse buying produk fashion muslimah ditinjau dari keanggotaan di komunitas fashion muslimah (Hijabers). Hal ini juga dapat diterangkan dari statistik deskriptif mean impulse buying yang diperoleh pada Hijabers dan non-Hijabers pada Tabel 10 berikut:

Tabel 9. Perbandingan mean impulse buying yang diperoleh pada mahasiwi Hijabers dan non-Hijabers

keanggotaan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Impulse buying nonhijabers 50 81.26 12.692 1.795

hijabers 50 95.10 16.163 2.286

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa skor rata-rata impulse buying anggota Hijabers lebih tinggi daripada yang bukan anggota Hijabers Medan.

Berdasarkan hasil pengujian lebih lanjut pada penelitian ini, diperoleh hasil yang berbeda untuk setiap aspek impulse buying ditinjau dari keanggotaan di Hijabers.

(21)

Tabel 10. Analisis Aspek impulse buying ditinjau dari keanggotaan di Hijabers

NO. Aspek Impulse Buying

Keanggotaan Sig. Hijabers & non-Hijabers Keterangan Non-Hijabers Hijabers 1 Spontanitas 20.06 23.00 0.001 Signifikan

2 Kekuatan, kompulsi, dan

intensitas

18.70 22.76 0.000 Signifikan

3 Kegairahan dan stimulasi 21.94 25.16 0.000 Signifikan

4 Ketidakpedulian akan akibat 20.56 24.18 0.000 Signifikan

Jumlah mean 81.26 95.10

Dari Tabel 10 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap aspek impulse buying ditinjau dari keanggotaan di Hijabers. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai signifikansi setiap aspek yaitu 0,000 ( < 0.05).

Dari Tabel 10 juga dapat dilihat bahwa terdapat 4 aspek impulse buying

dengan skor rata-rata setiap aspek pada anggota Hijabers lebih tinggi dibandingkan dengan yang bukan anggota Hijabers.

c. Kategorisasi Data Penelitian

Skala impulse buying produk fashion muslimah terdiri dari 40 aitem dengan 4 pilihan jawaban yang nilainya bergerak dari 1 sampai 4. Hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa skor tertinggi yang berhasil didapat subjek adalah 132 dan skor terendah adalah 47. Hasil perhitungan rata-rata empirik dan rata-rata hipotetik impulse buying ditinjau dari keanggotaan pada komunitas Hijabers yang

(22)

Tabel 11. Nilai Empirik dan Hipotetik Impulse Buying

Keanggotaan Statistik N Mean Std.Dev Min Max

Hijabers Empirik 50 95.10 16.163 47 132

Hipotetik 50 100 20 40 160

Non-Hijabers Empirik 50 81.26 12.692 48 124

Hipotetik 50 100 20 40 160

Berdasarkan Tabel 11 maka diperoleh rata-rata hipotetik impulse buying

produk fashion muslimah pada Hijabers & non-Hijabers adalah sebesar 100 dengan standar deviasi sebesar 20. Sementara rata-rata empirik yang diperoleh mahasiswi Hijabers adalah 95.10 dengan standar deviasi sebesar 16.163. Sedangkan rata-rata empirik yang diperoleh mahasiswi non-Hijabers adalah 81.26 dengan standar deviasi sebesar 12.692.

Jika dilihat perbandingan antara rata-rata empirik dengan rata-rata hipotetik diatas, dapat dilihat bahwa kedua kelompok penelitian Hijabers maupun non-Hijabers memiliki rata-rata empirik lebih besar dari pada rata-rata hipotetik. Hasil ini menunjukkan bahwa kecenderungan impulse buying yang dimiliki subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata impulse buying yang dimiliki populasi pada umumnya. Berdasarkan mean hipotetik dan standard deviasi yang diperoleh di atas, maka dapat dibuat kategorisasi impulse buying dalam tiga kelompok, yaitu kelompok yang memiliki skor impulse buying yang rendah, sedang, dan yang tinggi, seperti yang terlihat pada Tabel 12 & 13 berikut ini :

(23)

Tabel 12. Kategorisasi Norma–Rentang Nilai Impulse Buying

Rentang Nilai Kategorisasi

X < (μ – 1.0 σ ) Rendah (μ – 1.0 σ ) ≤ X < (μ + 1.0 σ ) Sedang (μ + 1.0 σ ) ≤ X Tinggi Keterangan Tabel 12 : μ : mean σ : standar deviasi

Tabel 13. Data Tingkat dan Klasifikasi Skor Impulse Buying Produk Fashion

Muslimah

Keanggotaan Kategori Skor Impulse Buying

Produk Fashion Muslimah

Jumlah Subjek Persentasi (%) Hijabers Tinggi X ≥ 120 2 4 % Sedang 80 ≤ X < 120 41 82 % Rendah X < 80 7 14 % Total 50 100% Non-Hijabers Tinggi X ≥ 120 1 2 % Sedang 80 ≤ X < 120 31 62 % Rendah X < 80 18 36 % Total 50 100%

Dari Tabel 13 diketahui bahwa pada subyek penelitian yang merupakan anggota Hijabers, hampir keseluruhan sampel tergolong dalam kategori impulse buying yang sedang (82%) sedangkan sisanya berada dalam kategori rendah (14%) dan hanya sebagian kecil yang tergolong pada kategori imnpulse buying yang tinggi (4%). Kondisi serupa juga terjadi pada non-Hijabers, hanya saja persentasinya tidak sesignifikan seperti pada anggota Hijabers, yaitu rendah sebanyak 36%, sedang 62%, dan tinggi hanya 2%.

(24)

B. Pembahasan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan impulse buying produk fashion muslimah antara anggota Hijabers dengan yang bukan anggota Hijabers Medan, yaitu impulse buying produk fashion muslimah pada anggota Hijabers lebih tinggi daripada yang bukan anggota Hijabers dengan nilai p = 0.000 (p < 0.05). Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesa penelitian yang diajukan bahwa adanya perbedaan impulse buying produk fashion muslimah antara anggota Hijabers dengan yang bukan anggota Hijabers.

Dari nilai rata-rata, analisa data penelitian menunjukkan bahwa impulse buying produk fashion muslimah pada anggota Hijabers lebih tinggi daripada yang bukan anggota Hijabers. Perbedaan yang tampak dari skor itu sendiri sebenarnya tidaklah terlalu signifikan khususnya ketika dilihat berdasarkan kategori skor keduanya. Berdasarkan kategori skor tersebut, baik anggota Hijabers maupun non-Hijabers termasuk dalam kategori sedang cenderung ke rendah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Anggarasari (1997) bahwa individu dengan tingkat religiusitas yang lebih tinggi cenderung memiliki sikap konsumtif yang lebih rendah.

Religiusitas pada umat Islam sendiri umumnya diidentifikasikan dengan cara berpakaian yang muslimah (menggunakan jilbab). Menurut ajaran agama Islam, segala sesuatu yang berlebihan dianggap sebagai perbuatan tercela atau tidak baik sehingga harus dihindari. Sikap berlebihan ini dapat mencakup berbagai hal, baik dalam keinginan kebutuhan, maupun dalam hal memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut. Bagi kaum wanita yang menggunakan jilbab, nilai-nilai

(25)

agama merupakan hal yang mutlak menjadi acuan. Hal ini khususnya berkaitan mengenai masalah berpakaian karena jilbab atau hijab itu sendiri merupakan aturan agama dalam berbusana sehingga pemakaiannya pun harus sesuai dengan prinsip ajaran agama Islam itu sendiri. Namun untuk kedua kelompok dalam penelitian ini yaitu Hijabers dan non-Hijabers, kondisi ini cenderung sama karena jenis jilbab dan prinsip ajaran agama yang dianut keduanya adalah sama.

Jika melihat perbedaan skor antara kedua kelompok dalam penelitian ini, skor impulse buying pada anggota komunitas Hijabers terlihat lebih tinggi dengan skor tertinggi pada aspek kegairahan dan stimulasi. Kegairahan serta stimulasi ini sendiri berasal dari dalam individu dan dapat dipengaruhi oleh lingkungan salah satunya melalui komunitas. Di dalam komunitas, sebagian besar individu bergabung karena adanya keinginan untuk diakui sebagai bagian dari kalangan

fashionable. Minat terhadap fashion muslimah juga dapat menjadi pendorong individu dalam melakukan impulse buying (menurut Rook dan Fisher dalam Engel et al,1995). Kondisi yang dominan ini selanjutnya akan mempengaruhi keseluruhan anggota komunitas sehingga minat terhadap fashion itu sendiri justru akhirnya lebih menonjol dan akan semakin kuat seiring berkembangnya komunitas tersebut.

Komunitas juga dapat menjadi alasan lebih tingginya skor impulse buying

pada anggota Hijabers. Sesuai dengan pendapat Hawkins (2007), komunitas sebagai bagian dari demografis individu turut mempengaruhi impulse buying

dalam bentuk karakteristik konsumen. Komunitas akan mempengaruhi individu dalam berpikir dan bertindak, khususnya melalui informasi yang tersebar di dalam

(26)

komunitas mengenai fashion muslimah terkini. Berbagai kegiatan di dalam komunitas, baik secara langsung melalui aturan berpakaian yang telah ditetapkan sebelum acara dilakukan maupun secara tidak langsung dalam bentuk norma „fashionable‟ busana muslim akan mengarahkan individu untuk berpakaian dan

berdandan sesuai norma fashion yang ada di komunitas tersebut. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi individu dalam proses pembelian sehingga menciptakan kebiasaan berbelanja tersendiri bagi individu yang akhirnya dapat mengarah pada peningkatan impulse buying.

Munculnya tren fashion ala hijabers saat ini sangat mempengaruhi para konsumen busana muslim. Untuk kalangan mahasiswi, identitas sebagai Hijabers memberikan kebanggaan dan rasa puas tersendiri. Kelompok Hijabers dianggap sebagai kalangan yang pantas untuk dijadikan panutan dalam berpenampilan muslimah yang baik dan indah. Hal inilah yang membuat para anggota komunitas Hijabers akan berusaha maksimal dalam menampilkan dirinya sebagai bagian dari komunitas Hijabers melalui cara berpakaian sesuai dengan norma tren fashion

muslimah terkini yang ada di dalam komunitasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Solomon (2009) mengenai pakaian sebagai salah satu cara individu dalam mendefenisikan dirinya.

Subjek di dalam penelitian ini secara umum memiliki karakteristik yang sama dari segi umur dan kelas sosial ekonomi (dilihat berdasarkan uang saku perbulan). Karakteristik yang membedakan kedua kelompok hanya terletak pada identitas komunitas Hijabers. Kondisi ini sebenarnya belum begitu kuat dalam menciptakan suatu kondisi khusus pada diri individu. Hal ini disebabkan oleh

(27)

waktu terbentuknya komunitas Hijabers Medan yang masih baru sekitar kurang dari satu tahun. Kegiatan yang dilaksanakan juga belum terlalu banyak dan intensitas kegiatannya juga masih sangat minim. Berdasarkan hasil observasi langsung peneliti terhadap komunitas, unsur utama dari komunitas berupa interaksi dua arah diantara anggota komunitas (Wenger,2004) belum terpenuhi. Para pengurus dari komunitas ini masih memfokuskan diri pada anggota inti berupa para pengurus yang juga berperan sebagai pendiri komunitas ini dalm berbagai kegiatan yang dilakukan. Hal inilah yang menjadi penyebab individu dalam komunitas belum dapat sepenuhnya dikatakan telah mendapat pengaruh dari komunitas termasuk dalam impulse buying yang dilakukan.

(28)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran-saran yang berhubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Pada bagian pertama akan dijabarkan kesimpulan dari penelitian ini dan terakhir akan dikemukakan saran-saran yang dapat berguna bagi penelitian yang akan datang dengan topik yang sama.

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian dan analisa data maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Ada perbedaan impulse buying antara mahasiswi berjilbab anggota Hijabers dan non-Hijabers di kota Medan, yaitu impulse buying pada anggota Hijabers lebih tinggi dari pada impulse buying pada non-Hijabers.Hal ini dapat dilihat dari nilai mean anggota Hijabers dan non-Hijabers yang didapatkan dalam penelitian.

2. Berdasarkan kategori skor impulse buying diperoleh bahwa : nilai mean pada Hijabers maupun non-Hijabers berada pada kategori sedang.

(29)

B. Saran

Pada bagian ini peneliti akan mengakhirinya dengan memberikan saran, mengingat penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Berikut adalah saran-saran yang dapat diberikan :

1. Saran Metodologis

Berdasarkan hasil penelitian ini, bagi pihak-pihak yang berminat dengan penelitian sejenis atau untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut, sebaiknya a. Menggunakan teknik pengambilan sampel probability sehingga hasil

penelitian dapat digeneralisasikan

b. Memilih komunitas dengan pertimbangan berupa lama berjalannya komunitas sehingga pengaruh komunitas terhadap individu dapat lebih terlihat

2. Saran Praktis

Kepada komunitas Hijabers diharapkan untuk mengevaluasi setiap kegiatan yang dilakukan sehingga tujuan terbentuknya komunitas dapat tercapai dan komunitas dapat berfungsi maksimal bagi anggota-anggota khususnya dalam menghindari pembelian yang tidak berguna untuk mengikuti fashion. Komunitas juga diharapkan dapat menjadi wadah yang memfasilitasi para anggota untuk dapat berinteraksi satu sama lain sehingga komunitas dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Gambar

Tabel  1.  Distribusi  Aitem  Skala  Impulse  Buying  Produk  Fashion  Muslimah  sebelum Uji Coba
Tabel  2.  Distribusi  Aitem  Skala  Impulse  Buying  Produk  Fashion  Muslimah  setelah Uji Coba
Tabel  3.  Distribusi  Aitem  Skala  Impulse  Buying  Produk  Fashion  Muslimah  setelah Uji Coba dengan penomoran baru
Tabel 4 Gambaran Subjek Berdasarkan Uang Saku
+7

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH FASHION INVOLVEMENT, EMOSI POSITIF DAN PROMOSI PENJUALAN TERHADAP IMPULSE BUYING PRODUK FASHION PADA REMAJA. (STUDI KOMPARASI PEMBELIAN OFFLINE

Analisis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan rumusan masalah ketiga untuk mengetahui perbedaan karakteristik dan persepsi pengguna taman kota mengenai motivasi

Ujicoba Produk bertujuan untuk mengetahui apakah produk yang dibuat layak digunakan atau tidak yang dilihat dari kesesuaian dengan pengguna untuk menyelesaikan

Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna produk reguler daypack Bodypack yang datang ke counter Bodypack. Populasi ini adalah populasi yang tidak terbatas, karena

Sebagai masukan kepada mahasiswi secara umum terutama pada mahasiswi Psikologi UIN Sunan Gunung Djati agar bijaksana dalam pembelian produk fashion dan kecantikan

9 Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung dari pedagang muslim produk fashion di Pasar Wadungasri Sidoarjo yang digunakan dalam penelitian ini

Pelaksanaan Strategi Pemasaran Produk Kosmetika Muslimah Zoya di PT Zoya Fashion Industry Cabang Bandung Strategi yang diterapkan manajemen Zoya Industry dalam memasarkan produk

2018 dengan judul penelitian “Pengaruh Shopping Lifestyle dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Studi Kasus Pembelian Hijab pada Mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas