ANALISIS MITIGASI RISIKO AUDIT
KASUS SUMBER WARAS DAN KREDIBILITAS BPK YANG DIPERTARUHKAN
Mutia Auliyah (15919060) E-mail : [email protected]
Universitas Islam Indonesia
Sejak menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan perihal pembelian lahan Sumber Waras pada pertengahan tahun lalu, BPK masih menanti kepastian soal kesimpulannya yang menyebutkan adanya kerugian dalam pembelian lahan tersebut. Sejumlah pegiat antikorupsi, merilis catatan atas audit BPK ini. Berdasarkan data dan fakta yang dipaparkan, tim penulis yang dikepalai oleh mantan auditor BPKP Leonardus Joko Eko Nugroho menilai hasil audit BPK keliru. Kekeliruan audit BPK yang pertama, ada pada penetapan alamat pembelian lahan. BPK merujuk pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Jalan Tomang Utara, yakni Rp 7 juta per meter persegi. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta merujuk Jalan Kyai Tapa dengan NJOP pada tahun pembelian 2014 sebesar Rp 20,7 juta per meter persegi. Lokasi RS Sumber Waras berada di Jalan Kyai Tapa sesuai dengan dokumen yang dikeluarkan BPN dan Dirjen Pajak. Argumentasi BPK bahwa lokasi Sumber Waras di Jalan Tomang Utara adalah salah alamat dan terlalu mengada-ada.
Kekeliriuan yang ketiga, BPK tidak mengindahkan aturan terkait pembelian lahan yang berlaku. Temuan BPK terkait prosedur pengadaan seperti penunjukan lokasi, studi kelayakan, kajian teknis, dan penetapan lokasi, yang dianggap menabrak aturan, dapat dimentahkan melalui Pasal 121 Perpres Nomor 40 Tahun 2014. Pasal ini berbunyi, "Demi efisiensi dan efektivitas pengadaan tanah di bawah lima hektare dapat dilakukan pembelian langsung antara instansi yang memerlukan tanah dengan pemegang hak atas tanah atau dengan cara lain yang disepakati kedua belah pihak."
Lahan Sumber Waras seluas 3,6 hektare seharusnya dapat dibeli tanpa pusing-pusing meributkan appraisal, penawaran pihak lain, dan penentuan NJOP. Terakhir, BPK dinilai memberikan rekomendasi yang tidak konsisten terkait pembelian lahan ini. Dalam audit yang dikeluarkan pada 17 Juni 2015, BPK dinilai menyajikan laporan yang membingungkan. Leo yang merupakan mantan auditor BPK menilai seharusnya jika ada temuan, auditor harus memberikan pengantar terlebih dahulu berupa pendapat terkait kondisi pada saat mengaudit, kemudian menentukan kriterianya, selanjutnya menerangkan akibat dan sebab temuan tersebut, baru terakhir rekomendasi dengan penjabaran setiap temuannya. Dalam laporannya BPK hanya memberikan tiga rekomendasi, yaitu memulihkan kerugian negara yang ditimbulkan, meminta pertanggungjawaban Yayasan Sumber Waras, dan membatalkan pembelian. Leo menilai seluruh rekomendasi ini tidak dapat realistis karena salah alamat dan berpotensi merugikan negara. Leo menduga, ketidak profesionalan BPK ini dilatarbelakangi unsur politis. Sebagai mantan auditor BPK, Leo tahu bahwa di tubuh BPK banyak pegawai dan tenaga berlatar belakang partai politik.
ANALISIS :
Resiko audit yang terjadi pada kasus di atas, ketika hasil audit yang dilakukan oleh BPK atas pembelian lahan Sumber Waras mengalami kekeliruan. Ada 3 hal kekeliruan audit yang dilakukan oleh BPK :
bahwa lokasi Sumber Waras di Jalan Tomang Utara adalah salah alamat dan terlalu mengada-ada.
2. Pada perhitungan BPK terkait kerugian. BPK menyebut adanya kerugian dalam pembelian lahan Sumber Waras. Hal tersebut berasal dari selisih penawaran lahan ke PT Ciputra Karya Utama (PT CKU) pada tahun 2013 dengan harga yang dibayar pemerintah pada tahun 2014. Sumber Waras menawarkan lahan tersebut kepada PT CKU seharga Rp 15,5 juta per meter persegi dengan total Rp 564 miliar untuk luas 36.441 meter persegi. Namun Pemprov DKI melakukan ikatan kontrak dengan NJOP yang berlaku saat itu sebesar Rp 20.755 juta per meter persegi. Total uang yang dibayarkan Pemprov DKI untuk membeli lahan itu sebesar Rp 755 miliar. Selisih harga penawaran PT CKU pada tahun 2013 dengan harga yang dibayarkan Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2014 sebesar Rp 191 miliar, angka yang disebut sebagai kerugian. Angka tersebut dinilai tidak valid karena sudah jelas NJOP-nya pada dua waktu yang berbeda.
3. BPK tidak mengindahkan aturan terkait pembelian lahan yang berlaku. Temuan BPK terkait prosedur pengadaan seperti penunjukan lokasi, studi kelayakan, kajian teknis, dan penetapan lokasi, yang dianggap menabrak aturan.