• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktualisasi Pendidikan Islam Dalam Kelua

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aktualisasi Pendidikan Islam Dalam Kelua"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Aktualisasi Pendidikan Islam Dalam Keluarga

Oleh :

Lukis Alam,SS.,MT.,MSI

Pascasarjana Universitas Islam Negeri

Sunan Kalijaga Yogyakarta

(2)

A. Pendahuluan

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting pada zaman

sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi aktualisasi

pengetahuan modern sulit untuk diwujudkan. Dalam kehidupan manusia,

pendidikan memiliki peranan yang sangat penting membentuk generasi

yang akan datang. Dengan pendidikan, manusia diharapkan dapat

menghasilkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab dan mampu

mengatasi perubahan-perubahan dimasa yang akan datang. Pada

hakikatnya pendidikan adalah menyiapkan dan mendampingi seseorang

agar dapat memperoleh kemajuan dan dapat menjalani kesempurnaan.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa pendidikan Islam adalah

pendidikan yang pada pelaksanaanya berdasarkan pada ajaran Islam.

Karena ajaran Islam berdasar pada al-Qur’an dan al-Sunnah, pendapat

ulama serta warisan sejarah, maka pendidikan Islam pun berdasarkan

pada al-Qur’an, al-Sunah, pendapat ulama serta warisan sejarah tersebut.1

Tujuan pendidikan Islam, tidaklah sekedar proses alih budaya atau ilmu

pengetahuan (transfer of knowledge ) tetapi juga proses alih nilai-nilai ajaran

Islam (transfer of islamic values). Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya

menjadikan manusia yang bertaqwa, manusia yang dapat mencapai al-falāḥ,

serta kesuksesan hidup yang abadi di dunia dan akhirat (mufliḥūn).2

Salah satu aspek terpenting dalam pendidikan Islam adalah pentingnya

pendidikan dalam keluarga, terutama menanamkan pendidikan agama kepada

anak. Anak adalah anugerah bagi setiap orang tua. Mereka adalah karunia

Allah SWT yang tidak ternilai harganya. Selain itu mereka juga merupakan

amanah bagi setiap orang tua. Ketika anak lahir ke dunia dengan

fitrahnya, orang tua yang akan mengisi lembaran putih yang masih fitrah

tersebut. Keluarga menjadi peran utama dan sangat penting dalam menjaga

1 Abuddin Nata, Pendidikan dalam Persepektif al-Qur’an, Cet. 1, (Jakarta: UIN Jakarta Press,

2005), hlm. 15.

2A. Syafi’i Ma’arif,Pendidikan Islam di Indonesia, Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta:

(3)

keberadaan anak dan sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan

secara mutlak.3

Dalam al-Qur’an juga disebutkan perintah menjaga keluarga dari

kesesatan yang mengakibatkan terjerumus dalam api neraka sebagaimana

firman Allah dalam QS. At-Tahrim [66] : 6 : dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ”

Melihat ayat di atas dapat diketahui bahwa betapa pentingnya

menjaga, melindungi keluarga dari semua bahaya yang belakangan ini terjadi,

kejadian tersebut menimpa pada anak-anak, utamanya mereka yang

memasuki usia remaja. Sebagian dari mereka ada yang menjadi korban

kekerasan rumah tangga, ada yang terpengaruh oleh era global yang dapat

mengakibatkan pengaruh negatif bagi mereka. Seperti pencurian, narkoba

sampai pergaulan bebas yang membahayakan masa depan mereka. Keadaan

ini banyak disebabkan karena lingkungan keluarga yang menjadi faktor

utama yang mempengaruhi tidak terarahnya pendidikan dalam keluarga.

Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda :

لك

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tua nya

lah yang akan menjadikan ia sebagai yahudi, nasrani atau majusi

3 Fauzi Rahman, Anakku, Kuantar Kau ke Surga “Panduan Mendidik Anak di Usia Baligh,

(4)

konsep pendidikan yang dapat membantu peran keluarga dalam mendidik

dan membimbing anak dalam keluarga. Konsep pendidikan yang

dimaksud adalah konsep pendidikan Islam.

Konsep pendidikan Islam di sini diartikan sebagai upaya sadar

yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap

pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang

dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana

hakekat kejadiannya.4 Adapun tanggung jawab dalam pengertian ini adalah

orang tua. Sedangkan para guru atau pendidik lainnya adalah merupakan

perpanjangan tangan para orang tua.5

al-Qur’an mengandung nilai transhistory, artinya al-Qur’an

diturunkan dalam realita sejarah. Sebab al-Qur’an turun sebagai respon

kongkrit terhadap sejarah, kurun waktu, peristiwa tertentu, dan tempat

tertentu. Kekonkritan ajaran al-Qur’an dapat dijadikan metode yang dapat

digunakan dan diterapkan dari generasi ke generasi berikutnya walaupun

pada tataran praktis banyak perubahan dalam dunia pendidikan. al-Qur’an

juga berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk

tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia

dan akhirat nanti.6

al-Qur’an juga memuat banyak sekali kisah-kisah yang berisi

pelajaran dan hikmah. Di antaranya adalah kisah seorang tokoh bijak

bernama Luqman yang sedang memberikan nasehat kepada anaknya.

Secara umum kisah tersebut merupakan peringatan dan pembelajaran bahwa

pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Kisah Luqman

dimunculkan sebagai acuan orang tua dalam pelaksanaan pendidikan

terhadap anaknya.7

Alangkah bijak orang tua dalam mendidik anak, tidak hanya

menjadikan anak memiliki kecerdasan intelektual namun tentunya memiliki

4 Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2008), hlm.19. 5Ibid.

6 Abudin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan “Tafsir al –Ayat Al-Tarbawi”, (Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.1.

7 Nurwadjah Ahmad, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan “Hati yang Selamat Hingga Kisah

(5)

kecerdasan spiritual, hal ini tentunya tidak semudah membalik telapak

tangan. Orangtua harus mengerahkan segala daya upaya untuk mewujudkan

hal tersebut agar nilai-nilai ajaran Islam senantiasa dapat mewarnai

kehidupan mereka sehingga mereka menjadi generasi yang baik. di sini

Berdasar argumen diatas penulis mencoba mengontekstualisasikan

perspektif pendidikan Islam terkait dengan al-Qur’an. Penulis mencoba

menggambarkan model pendidikan keluarga sebagai lembaga pendidikan

yang memiliki sistem pendidikan. Uraian ini merupakan pembahasan

integral pendidikan keluarga dari objek yang dikaji meliputi keluarga Imran

dan Luqman. Akhir dari analisis akan menegaskan model pendidikan

keluarga Qur’ani dalam surah Ali Imran dan Luqman, di mana subjeknya

adalah keluarga Imran dan Luqman sebagai model pendidikan keluarga.

B. Landasan Teori

a. Terminilogi Pendidikan Islam

Terminologi pendidikan8 memiliki arti menumbuhkan, memelihara dan

merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kata ini digunakan oleh Tuhan

terhadap seluruh ciptaan-Nya. Disamping itu pengertian pendidikan telah

disampaikan oleh banyak tokoh pendidikan Indonesia, di antaranya Ki Hajar

Dewantoro, Soegarda Poerbakawaca dan Ahmad D. Marimba. Pendidikan,

menurut Ki Hajar Dewantoro, adalah usaha yang dilakukan dengan penuh

keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia.9

Sedangkan menurut Muhaimin pendidikan Islam, atau pendidikan yang

berdasarkan Islam yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta

disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam

sumber dasarnya, yaitu al-Qur’an dan hadist.10

Jika berbicara tentang pendidikan Islam, berarti berbicara tentang

nilai-nilai ideal yang bercorak Islam. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan

pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasikan idealitas Islam.

Sedangkan idealitas Islam sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai

8 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2012, hlm. 19.

9_______, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 10. 10 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah, Madrasah,

(6)

perilaku manusia yang dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah sebagai

sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Maka Pendidikan Islam yang

dilaksanakan dalam suatu sistem memberikan kemungkinan berprosesnya

bagian-bagian menuju ke arah tujuan yang ditetapkan sesuai ajaran Islam.

Jalannya proses itu baru bersifat konsisten dan konstan (tetap) bilamana

dilandasi dengan pola dasar pendidikan yang mampu menjamin terwujudnya

tujuan pendidikan Islam.11

Menurut Hamka, kandungan al-Qur’an sebagai dasar pendidikan

Islam secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi kelompok

yaitu: pertama, al-Qur’an mengandung hukum-hukum yang berkaitan

atau bersangkutan dengan halal-haram, farāiḍ dan wājibāt (seruan dan

perintah yang pasti) baik yang dianjurkan maupun yang dilarang serta

hukuman bagi siapa yang melanggarnya. Kedua, al-Qur’an mengandung

hal-hal yang bersangkutan dengan ‘aqīdah atau kepercayaan yang dalam

bahasa Indonesia dikenal dengan doktrin. Ketiga, al-Qur’an mengandung

hal-hal yang bersangkutan dengan kisah-kisah dan cerita-cerita zaman

lampau, sebagai pelajaran dan i‘tibār.12

Sebenarnya masih banyak lagi pengertian pendidikan Islam menurut

para ahli, namun dari sekian banyak pengertian pandidikan Islam yang dapat

digenaralisir, pada dasarnya pendidikan Islam adalah usaha bimbingan

jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk

mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju

terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan

berakhlak terpuji serta taat pada Islam sehingga dapat mencapai kebahagiaan

didunia dan di akherat.

Jadi nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang

melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk

mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah SWT. Nilai-nilai

tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah

masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

11 Abdurrahman Saleh, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur’an , terj. H. M.

Arifin, (Bandung: Rineka Cipta, 1994), hlm. 54.

(7)

b. Tujuan Pendidikan Islam

Secara umum, tujuan pendidikan Islam terbagi kepada tujuan umum,

tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan operasional. Tujuan umum

adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik

dengan pengajaran maupun dengan cara lain. Tujuan sementara adalah

tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman

tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah

tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-manusia

yang sempurna (insan kamil) setelah ia menghabisi sisa umurnya.

Sementara tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai

dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.13

Menetapkan al-Qur’an dan hadis sebagai dasar pendidikan Islam

bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada

keimanan semata, namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam

kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat

dibuktikan dalam sejarah dan pengalaman kemanusiaan.

Sesungguhnya jika pendidikan Islam diimplementasikan secara benar

maka akan terlihat jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang

mengalami pendidikan Islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian

seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola taqwa insan

kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan

berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah Swt. Ini

mengandung arti bahwa pendidikan Islam itu diharapkan menghasilkan

manusia yang berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakatnya serta

senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam

berhubungan dengan Allah Swt dan dengan manusia sesamanya, dapat

mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk

kepentingan hidup di dunia kini dan di akhirat nanti. Tujuan ini

kelihatannya terlalu ideal, sehingga sukar dicapai. Tetapi dengan kerja

keras yang dilakukan secara berencana dengan kerangka-kerangka kerja

13 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,Cet. 1, (Jakarta: Ciputat

(8)

yang konsepsional mendasar, pencapaian tujuan itu bukanlah hal yang

mustahil.14

Lebih lanjut pendidikan Islam berusaha mencapai ketiga tujuan, yaitu

tujuan individual, sosial, dan professional. Ketiga tujuan antara ini secara

terpadu dan terarah diusahakan agar dapat mencapai tujuan akhir

pendidikan Islam, yaitu penyerahan secara mutlak kepada Allah.15

Meskipun demikian tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan

hidup seseorang muslim. Pendidikan Islam itu sendiri hanyalah suatu sarana

untuk mencapai tujuan hidup Muslim, bukan tujuan akhir

Pendidikan Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran

Islam secara keseluruhan. Karena itu tujuan akhirnya harus selaras dengan

tujuan hidup dalam Islam. Tujuan hidup Muslim sebagaimana dijelaskan

dalam ayat-ayat al-Qur’an di atas, juga menjadi tujuan akhir pendidikan

Islam, yakni untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Tuhan yang selalu

bertaqwa dan mengabdi kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang bertaqwa,

maka segala sesuatu yang diperoleh dalam proses pendidikan Islam itu tidak

lain termasuk dalam bagian perwujudan pengabdian kepada Allah SWT.16

Esensi pendidikan Islam yang harus dilaksanakan oleh umat Islam

adalah pendidikan yang memimpin manusia ke arah akhlak yang mulia

dengan memberikan kesempatan keterbukaan terhadap pengaruh dari

dunia luas dan perkembangan dalam diri manusia yang merupakan

kemampuan dasar yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Hal

ini sesuai dengan firman Allah Swt, dalam QS. al-Nahl [16] : 78:

ٓ وٱ

pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”

14 Zakiyah Darajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 25. 15 Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006),hlm. 116.

16 Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Pendidikan Islam, ( Jakarta : Logos Wacana

(9)

Sesuai dengan ayat tersebut di atas sudah jelas bahwasannya usaha

mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau

kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui

proses pendidikan sebagai upaya membimbing dan mengarahkan

kemampuan-kemampuan dasar dan belajar manusia baik sebagai makhluk

maupun dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Dari banyak definisi tentang pendidikan Islam di atas, penulis

mengambil kesimpulan bahwa pengertian pendidikan Islam adalah suatu

proses yang komprehensif dalam pengembangan kepribadian manusia

secara menyeluruh, yang meliputi intelektual, spiritual, emosional dan

fisik, sehingga seseorang muslim disiapkan dengan baik untuk dapat

melaksanakan tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba dan khalifah Allah

di bumi.

c. Kewajiban Orang tua Memberikan Pendidikan Kepada Anak

Anak merupakan titipan dari Allah SWT, sehingga wajiblah orang tua

membimbing dan membina anak mereka tidak hanya dengan dengan

pendidikan formal saja tetapi tetap mengedepankan pendidikan akhlak dan

moral sesuai dengan ajaran agama Islam. Pendidikan karakter dalam Islam

diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti yang

hakiki, bukan kebahagiaan semu. Karakter Islam adalah karakter yang

benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai

dengan fitrahnya.17

Pendidikan Islam, menuntut orang tua untuk melaksanakan kebiasaan

yang positif berdasarkan syariat Islam sebagai pola kehidupannya dalam

mendidik anak-anaknya. Sehingga mempengaruhi dan memberi dampak

positif terhadap pembentukan kepribadiannya, akhlak dan agama bagi anak

karena kebiasaan keagamaan orang tua akan memasukan unsur perbuatan

positif dalam pembentukan kepribadian yang sedang tumbuh dan

berkembang itu. Karakter atau Akhlak tidak diragukan lagi memiliki peran

besar dalam kehidupan manusia. Menghadapi fenomena krisis moral,

17 Abdul majid, Dian andayani. Pendidikan karakter dalam perspektif Islam, (Bandung: Insan

(10)

tuduhan seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya.

Hal ini dikarenakan pendidikan berada pada barisan terdepan dalam

menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan secara moral

memang harus berbuat demikian.18

Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga,

sekolah dan masyarakat. Keluarga adalah sebagai lingkungan pertama dan

utama.19 Sebab, dalam lingkungan inilah pertama-tama anak mendapatkan

pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiasaan dan latihan. Keluarga bukan

hanya menjadi tempat anak dipelihara dan dibesarkan, tetapi juga tempat anak

hidup dan dididik pertama kali.

Keluarga merupakan wadah yang sangat penting diantara individu dan

group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak yang

menjadi anggotanya. Selain itu, keluarga sebagai tempat proses sosialisasi

paling dini bagi tiap anggotanya untuk menuju pergaulan masyarakat yang

lebih kompleks dan lebih luas.20Pada umumnya pendidikan dalam keluarga

itu bukan berpangkal dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari

pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan

strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan,

situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan

pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

Orang tua harus memahami perkembangan dan cara belajar anak

semakin optimal dan luas orang tua mengembangkan otak anak, akan

semakin tertantang untuk belajar dan mencari pengalaman baru. Dengan

demikian sikap dan perilaku orang tua sangat menentukan perubahan pada

perilaku dan sikap anak.21

Apa yang anak peroleh dalam keluarga, akan menjadi dasar

dikembangkan pada kehidupan selanjutnya.22 Dalam hal ini orang tua yang

18 Abuddin Nat, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di

Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2007), hlm. 219.

19 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,(Bandung: Rosda Karya, 2001),

hlm. 155.

20 Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2007), hlm. 108. 21 Ahmad Tafsir, Ilmu…,hlm. 4.

22 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Cet. 1, (Bandung:

(11)

berperan sebagai pendidik dalam keluarga, walaupun tidak ada kurikulum

khusus yang tertulis yang mereka buat atau ikuti dengan berpegang pada

citacita dan keyakinan yang dianutnya sebagai rencana pendidikan dan kasih

sayang sebagai dasar perbuatan mendidik, para orang tua melakukan upaya

dan tindakan pendidikan.23

C.Pembahasan

a. Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Anak Dalam Surah

Lukman

Surat Luqman termasuk surat Makiyah yang termasuk turun pada

periode Makah belakangan. Surat ini terdiri dari 34 ayat dan diturunkan

setelah surat As-Shoffat. Penamaan surat ini sudah sepantasnya, karena nama

dan nasehat Luqman yang begitu mulia diuraikan dalam surat ini, khususnya

karena pada ayat ke-12 disebutkan bahwa Luqman telah diberi Allah Hikmah

berupa ilmu pengetahuan, dan nasehat-nasehatnya yang terdapat dalam ayat

ke-13-19 sarat dengan pelajaran bagi orang tua agar dapat mendidik anaknya

seperti prinsip-prinsip pendidikan yang dilakukannya.24

Menurut Ali Ash-Shabuni, kandungan Surat Luqman banyak mencakup

masalah-masalah akidah dan dasar-dasar keimanan seperti keesaan, kenabian,

hari kebangkitan dan tempat kembali, serta perintah untuk berdakwah dengan

kata-kata yang bijak. Surat ini juga memuat hikmah dan nasehat-nasehat

dalam kisah Luqman bersama anaknya, karena itu surat ini disebut Surat

Luqman. Surat ini diawali dengan penjelasan tentang fadilah (keutamaan) Al

Qur’an, mukziat Muhammad yang abadi, sepanjang zaman, dengan

memberikan hujjah-hujjah dan bukti-bukti atas keesaan rabul’Alamain, menjelaskan beberapa kekuasaannya dan ciptaan-nya yang menakjubkan di

alam semesta yang luas ini, yang hukum-hukumnya pasti dan tepat. Yaitu

gambaran mengenai langit, bumi, matahari, bulan, siang, malam,

gunung-gunung, lautan, gelombang, hujan, tumbuh-tumbuhan maupum pepohonan,

serta seluruh bukti-bukti kekuasaan dan keesaan yang dapat di saksikan oleh

23Ibid.,hlm. 7.

24 Miftahul Huda dan Muhammad Idris, Nalar Pendidikan Anak, (Yogyakarta: Ar-Ruzz

(12)

manusia, yang memikat hati dan memperkaya akal serta mengarahkan

manusia agar berjalan lurus ke depan, dengan senantiasa menyerahkan diri

kepeda kekuasaan Allah, Sang Pencipta Yang Maha Besar.25

Ayat selanjutnya menjelaskan tentang wasiat-wasiat yang berharga

yang diwasiatkan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya. Dalam setiap

wasiat tersebut terdapat pelajaran dan hikmah yang berharga. Luqman

berbicara dengan kalimat yang penuh hikmah dan menakjubkan. Oleh sebab

itulah dirinya diberi gelar Luqmanul Hakim dan terkenal dengan

kebijaksanaannya sehingga perkataanya disebut sebagai qaulul fashl.26Allah

Swt berfirman dalam QS. Luqman [31]: 12 :

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:

"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya

lagi Maha Terpuji.”

Menurut Choiruddin Hadhiri dalam bukunya yang “Kandungan

al-Qur’an”27 , menjelaskan bahwa kandungan Luqman mencakup enam hal

berikut, yakni:

1. Ayat yang mengandung hikmah menjadi petunjuk rahmat bagi

orang yang berbuat kebaikan, ayat 1-6.

2. Ayat-ayat yang berisi tentang azab yang pedih bagi orang yang

berpaling dari Al-Qur’an dan balasan bagi orang yang

beriman, ayat 7-11.

3. Ayat yang berisi tentang Allah yang memberi hikmah Luqman

dan nasehat Luqman kepada anaknya yang mencakup akidah,

ibadah, dan akhlak, ayat 12-17.

25 Muhammad Ali Ash-Shabuny, Cahaya Al-Qur’an: Tafsir Tematik Surat An-Nur-Fathir

vol.5, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), hlm. 375.

26Ibid., hlm. 376.

(13)

4. Ayat yang mengandung kekuasan Allah menundukkan segala

apa yang ada dilangit dan di bumi untuk kenikmatan hidup

umat manusia, tetapi kebanyakan manusia mengingkari

kekuasaan-Nya ayat 20-26.

5. Ayat yang mengungkapkan tentang perumpamaan luasnya

ilmu allah yang tiada terhingga jika hendak ditulis,serta

kebanyakan sifat manusia jika mendapat nikmat dan tertimpa

musibah, ayat 27-34.

Dari berbagai isi kandungan yang terdapat dalam Surat Luqman,

sebagaimana telah diuraikan di atas, dalam kajian ini penulis lebih

memfokuskan pada ayat 12-19. Meskipun agak berbeda dari penjelasan

mengenai kandungan Surat Luqman khususnya ayat ke-12 s/d 19, dalam

konteks pendidikan, penulis melihat bahwa Surat Luqman ayat ke-12 s/d 19

sebenarnya telah membicarakan masalah pendidikan keluarga, yaitu

kewajiban orang tua memberikan pendidikan kepada anak.28 Oleh karena itu,

dengan melihat karakteristik ayat-ayat tersebut. Berangkat dari kisah dalam

ayat ini, penulis akan mencoba menganalisa perspektif pendidikan orang

tua kepada anak, diilhami dari pendidikan Luqman al-Hakim kepada

anaknya.

Kisah-kisah dalam al-Qur’an banyak memberikan inspirasi untuk digali

hikmah kandungannya. Di antaranya adalah untuk pengembangan

pendidikan. Dengan rekonstruksi cerita, akan dapat dilakukan

kontekstualisasi pemaknaan dan pengembangan sistem pendidikan menuju

ke arah yang lebih baik.

Dalam QS. Luqman: 12-19 yang berisi tentang nasehat Luqman

al-Hakim tentang misi pendidikan yang mesti di sampaikan oleh orang tua

khususnya, dan umumnya kepada para pendidik. Pada ayat tersebut

dimuat konsep pendidikan Islam dengan mengetengahkan tiga pokok

materi/ tuntunan agama yaitu: akidah, syari’ah, dan akhlak.29

28 Miftahul Huda dan Muhammad Idris, Nalar…, hlm. 89-132.

29 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an,

(14)

Kisah Luqman misalnya, meski terjadi pada masa yang sudah lama,

namun akan tetap menjadi penting dan menarik untuk digali dan ditafsirkan

dalam konteks pendidikan saat ini. Banyak kandungan nilai yang ada dalam

kisah Luqman yang dapat diambil untuk perbaikan pendidikan masa kini.30

Dari sosok seorang Luqman sebagai orang tua pendidik, kemudian materi

nasehatnya, serta gaya penyampaiannya yang lemah lembut dan penuh

kasih sayang, semuanya memberi gambaran dan mengundang inspirasi.

Jelaslah bahwa Luqman adalah seorang ahli hikmah, kata-katanya

merupakan pelajaran dan nasehat, diamnya berpikir, dan

isyarat-isyaratnya merupakan peringatan. Dia bukan seorang Nabi melainkan

seorang yang bijaksana, yang Allah memberikan kebijaksanaan di dalam

lisan dan hatinya, dimana ia berbicara dan kebijaksanaan itu kepada

manusia. Dalam al-Qur’an pun diungkapkan bahwa ia dianugerahi hikmah

oleh Allah Swt. Banyak perkataannya yang mengandung hikmah,

sebagaimana dapat dilihat perkataannya itu ketika ia berkata kepada

anak laki-lakinya.

1. Ketauhidan

Penanaman rasa keimanan yang murni sejak anak mulai di usia tingkat

Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar sangatlah penting, sebab naluri

anakanak pada usia ini telah mampu menerima pendidikan keimanan.

Luqman al-Hakim sendiri pun memprioritaskan pendidikan tauhid

kepada anaknya. Terbukti pendidikan tauhid telah mendapatkan tempat

pertama dari wasiatnya dalam surat Luqman, yakni pada ayat 12 dan

ke-13. Setelah pada ayat ke-12 diperintahkan bersyukur kepada Allah, yakni

Dzat yang wajib ada. Berikut ayat yang dimaksud :

(15)

“ Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena perbuatan syirik itu

berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka ia termasuk

dalam kategori dosa besar. Perbuatan tersebut juga berarti menyamakan

kedudukan Tuhan dengan makhluk-Nya.31 Walaupun pada hakikatnya

keimanan atau kekufuran itu tidak mempengaruhi kebesaran-Nya sebagai

Raja dari segala Raja, akan tetapi demi kebahagian

makhluk-makhluk-Nya, Dia pun memerintahkan agar makhluk-makhluk-Nya supaya beriman

kepada-Nya. Inilah salahsatu sifat raḥmāndan raḥīm Allah SWT.

Bila direnungkan lebih mendalam ada baiknya setiap individu

belajar bersyukur atas berbagai nikmat yang diperolehnya, karena dengan

bersyukur diharapkan mereka bisa meminimalisir bahkan bisa terhindar dari

perbuatan syirik. Hal ini diperjelas oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya

Tafsīr al-Qurthuby bahwa hakikat bersyukur adalah menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.32 Dengan demikian, andaikata

manusia mampu mensyukuri nikmat dengan sungguh-sungguh secara

otomatis mereka tidak akan terperangkap dari perbuatan syirik.

Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa di antara kewajiban ayah kepada

anaknya adalah memberi nasehat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya dapat

menempuh jalan yang benar dan terhindar dari kesesatan.

Bertolak dari pesan Luqman di atas, jelaslah pentingnya permasalahan

tauhid yang diprofilkan melalui pesan Luqman kepada anaknya, dan

sekaligus memerintahkannya. Pesan mulia orang tua kepada anak ini terjadi

karena sikap tulus orang tua yang bijaksana terhadap nasib masa depan

anaknya. Inilah pesan secara emosional yang sangat menonjol, sehingga perlu

dilakukan. Dalam nasehat itu, terdapat hubungan kasih sayang antara orang

tua dan anak. Atas dasar ini, pendidikan akidah lebih ditekankan melalui

hubungan yang harmonis ini. Anak sangat memerlukan pesan secara kontinyu

(16)

untuk menghadapi masa depannya. Generasi masa depan inilah yang perlu orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah

kembalimu.”

“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku

sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku engkau kembali, maka Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu

kerjakan.”

Pada ayat ke-14 dan ke-15 surat Luqmân ini, setelah Allah Subhanahu

wa Ta’ala memerintahkan untuk memenuhi hak-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kemudian

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk memenuhi hak orang tua,

dengan berbakti dan taat kepadanya selama perintah mereka tidak menyelisihi

syariat. Maka anak diperintah untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua

orang tua, karena mereka yang menyebabkan seorang anak ada di dunia ini

dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala ; dan terlebih lagi berbakti kepada

ibu, karena, ibu telah mengandung, merasakan payahnya ketika seorang anak

masih berada di dalam perutnya. Hingga akhirnya melahirkan dengan

menahan rasa sakit yang luar biasa. Ibu mempertaruhkan nyawa demi

keselamatan anaknya. Tidak hanya sampai di situ, ibu juga menyusui

(17)

anaknya, mengurus dengan sabar, hingga menyapih dalam jangka waktu dua

tahun. Sampai akhirnya anak tersebut tumbuh, berkembang, kuat dan

dewasa.34 Demikian pula dengan ayah, ia telah membanting tulang mencari

nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita dan ibu.

Dengan demikian kewajiban ketaatan dan kepatuhan manusia

terhadap orang tua ialah terbatas kewajiban menyang kut hal-hal yang baik

(ihsan), bukan pada kewajiban pada taat atau mentaati mereka. Karena

berbuat baik tentunya meliputi makna yang sangat luas dan mencakup

banyak jenis tingkah laku dan sikap anak terhadap orang tuanya.

Sedangkan taat merupakan salah satu bentuk dari berbuat baik tersebut, dan

itu pun bersyarat,35 sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas. Oleh karena

itu, sudah sepantasnya jika taat dan berbakti kepada orang tua merupakan

kewajiban yang harus dilaksanakan setiap anak. Tentunya, kewajiban tersebut

berlaku selama bakti dan ketaatan terhadap perintah mereka berdua tidak

menyelisihi atau menyalahi syariat.

Hubungan antara anak dan kedua orang tuanya adalah perantara

dẓahiriyyah wujudnya seorang anak di dunia, sedangkan mengenai urusan

aqidah mereka (orang tua) tidak berhak menyesatkan anak-anaknya. Oleh

karena itu sebagai seorang anak hendaknya senantiasa berbuat baik kepada

kedua orang tua, sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada keduanya.

Segala kebaikan dan keburukan yang dilakukan manusia baik kepada

Allah SWT maupun kepada kedua orang tuanya akan dibalas di hari

pembalasan tergantung amal yang diperbuat.36

Di akhir ayat 15, Luqman al-Hakim pun berwasiat anak-anaknya

tentang adanya balasan akhirat. Menurut al-Maraghi37ayat tersebut di atas

menjelaskan adanya balasan terhadap segala amal perbuatan manusia pada

umumnya. Khususnya balasan atas rasa syukur kepada-Nya terhadap segala

nikmat dan rasa penghormatan anak kepada kedua orang tua.

34 Lihat Taisîrul-Karîmir-Rahmân(2/424-426).

35As’aril Muhajir, Ilmu Pendidikan Perspektif Kontektual, Cet.I, (Jogjakarta: Ar-Ruzz

Media, 2011), hlm.142.

(18)

3. Anjuran Berbuat Kebaikan

Misi pendidikan Luqman dilanjutkan dengan menuturkan

pesan-pesan ayat yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah, dan

hubungan antar manusia dengan mengetengahkan etika pergaulan sosial

sebagaiaman dalam QS. Luqman: 16-17.

ٓ ي

dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).

Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.

Ayat di atas menyebutkan tentang dibalasnya semua perbuatan

“ Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan

yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Perintah shalat pada ayat ini dimaksudkan perintah untuk

mengerjakan shalat dengan cara yang benar. Orang yang mengerjakannya

berarti menghadap dengan tunduk kepada-Nya, yang implikasinya akan

mampu menimbulkan kesadaran ruhani guna mengendalikan jiwa untuk

(19)

dapat mencegah orang dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat menurut

Quraish Shihab dapat menjamin kesinambungan tauhid serta kehadiran Ilahi

dalam kalbu sang anak.39

Melalui ayat ini, wasiat Luqman kepada anaknya mengisyaratkan

adanya pembinaan terhadap anak agar selalu mendirikan shalat dengan

sebaik-baiknya, sehingga diridhai Allah. Jika shalat yang dikerjkan itu

diridhai Allah, perbuatan keji dan perbuatan mungkar dapat dicegah, jiwa

menjadi bersih, tidak ada kekhawatiran terhadap diri orang ini, dan mereka

tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan, dan merasa dirinya semakin

dekat dengan Allah. Selain itu ayat ini juga mengajak manusia untuk

mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah, berusaha

membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan, serta mencegah agar tidak

mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Bahkan ayat ini ju menganjurkan

untuk selalu bersabar dan tabah terhadap segala cobaan yang menimpa, akibat

dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan kemungkaran, baik

cobaan tersebut dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam

bentuk kesengsaraan dan penderitaan.40

Implikasi shalat tersebut di atas dapat dirasakan dan diraih oleh orang

yang shalat, jika seseorang mendirikannya dengan sempurna syarat dan

rukunnya serta dikerjakan dengan khusyuk. Sementara khusyuk bukanlah

hal yang mudah untuk dicapai. Banyak orang yang shalat tanpa

kekhusyukan, dan yang dilakukan hanyalah rutinanitas ritual yang sekedar

untuk menggugurkan kewajiban. Shalat yang demikian tentunya tidak

mampu memberi implikasi sebagaimana diharapkan dari ayat di atas,

utamanya mampu mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta mampu dengan sabar menghadapi tantangan, yang tentunya akan banyak

merintangi dalam pelaksanaan tuntutan Allah tersebut.

Adapun dalam konteks pendidikan terhadap anak, beribadah kepada

anak juga dimulai dari dalam keluarga. Hal ini dapat dilakukan dengan

39 M. Quraish Shihab, Tafsir…,hlm. 136.

40 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya : Edisi yang Disempurnakan, (Jakarta:

(20)

tindakan yang persuasive, yaitu dengan mengajak dan membimbing mereka

untuk melakukan sholat berjamaah.

4. Pembinaan Akhlak

Tahapan pembinaan akhlak ini dapat ditemukan dalam dua ayat, yakni

ayat ke-18 dan ke-19, di mana Luqman menganjurkan agar anaknya berbudi

pekerti yang baik. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi

membanggakan diri.”

“ Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Melalui dua ayat ini, budi pekerti yang diwasiatkan Luqman ini dapat

dilakukan dengan cara agar anak jangan sekali-kali bersifat angkuh dan

sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain.

Tanda-tanda sesorang yang bersifat angkuh dan sombong antara lain adalah jika ia

berjalan dan bertemu orang lain, ia memalingkan muka, tidak mau menegur

atau memperlihatkan sikap ramah, serta berjalan dengan sikap angkuh

seolah-olah ia yang berkuasa dan yang paling terhormat. Oleh karena itu, hendaknya

ia berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat, dan kelihatan angkuh dan

sombong, dan lemah lembut dalam berbicara sehingga orang yang melihat

dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.41

Dengan kata lain, kedua ayat di atas, menggambarkan akhlak kepada

anak, yang mencakup perilaku sopan santun bergaul, tidak sombong angkuh,

berperilaku sederhana dan lemah lembut. perilaku ini dapat diterapkan

kepada anak dalam keluarga yaitu melalui dari orang tua.

b. Konsep Pendidikan Keluarga Ali Imran

(21)

Dasar pendidikan biasanya diilhami oleh suatu keyakinan dan falsafah

hidup. Bagi suatu bangsa, dasar pendidikan dianut adalah kerangka

ideologi dan sistem keyakinan bangsa itu. Sebab, kerangka ideologi itulah

segala aktivitas pendidikan berjalan dengan menganut pola dan corak

ideologi yang mendasarinya.42

Jika ditelaah dengan cermat, maka keluarga Ali Imran dan Luqman

pasti memiliki dasar yang kuat dalam menjalankan pendidikan yang

dilaksanakan dalam keluarga. Istri Imrân, Hannah bint keyakinan bahwa

pendidikan kepada anak sudah dilaksanakan sejak janin dalam kandungan.

Karena itu, dia menazarkan janinnya seorang yang mengabdi kepada Allah

sebagai muharrar. Dari sinilah aktivitas pendidikan dalam dilaksanakan.

Paling tidak ada 2 (dua) dasar pokok yang menjadi kerangka acuan

pendidikan keluarga Imrân, yaitu kitab Allah dan sunah para Nabi. Dua dasar

ini yang menjadi penyebab kesalehan dan ketakwaa n keluarga ini. Imrân

adalah seorang râhib yang saleh dan selalu beribadah kepada Allah serta

konsekuen dalam menjalankan ajaran agama yang terdapat dalam al-

Kitab. Beliau sangat terkenal sebagai ahli ibadah dan berakhlak mulia.

Beliau juga setia mengikuti Nabi Zakariya sebagai utusan Allah.

Selain Imran sendiri sebagai seorang yang saleh lagi taat kepada

Allah swt., istrinya juga seorang perempuan salehah yang sangat taat

beribadah kepada Allah swt dan senantiasa patuh dengan petunjuk ajaran

Allah yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Kedua suami - istri yang

membina rumah tangga dalam keluarga yang mulia ini, sehingga

mendapat pilihan dari Allah swt, sebagai keluarga ideal yang Allah

abadikan kisahnya dalam kitab suci Alquran sebagai petunjuk bagi umat

seluruh alam. Mengenai pilihan Allah swt. atas keluarga Imrân terdapat

dalam firmanNya :

42 Barsihannor, Belajar Dari Lukman al-Hakim, (Yogyakarta: Kota Kembang, 2009),

(22)

“ Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ´Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing”.43

Model pendidikan Hannah ini pendidikan prenatal serangkaian usaha

doa danHannah dilakukan kepada Allah swt agar terpenuhi keinginannya

memperoleh keturunan. Pendidikan dan pemeliharaan Zakariya as,

merupakan bagian yang integral dalam pendidikan postnatal Maryam.44

Istri Imran memiliki keinginan yang sangat besar terhadap calon bayi

yang ada dalam kandungannya. Hal itu ia buktikan dengan nazar untuk

menginfakkan seluruh kehidupan anaknya kelak menjadi seorang hamba

Allah yang selalu beribadah dan mengabdi kepada- Nya, yang terbebas

dari urusan dunia. Istri Imran adalah seorang yang sangat cerdas. Hal ini

dapat dibuktikan dengan tujuan pendidikan yang ia canangkan sangat umum

dan besar. Walaupun hanya satu tujuan yang ia inginkan, tetapi mencakup

segala kebaikan dunia dan akhirat. Tujuan tunggal istri Imran terhadap

anaknya adalah menjadi seorang ahli ibadah (muharrar).45

Hal ini secara implisit berarti memberikan contoh kepada para orang

tua untuk melakukan usaha guna mendapatkan anak yang saleh dan

salehah . Tujuan pendidikan bukan diperuntukkan bagi anak didik semata,

tetapi juga ditujukan pada orang tua. Yakni, untuk memperoleh generasi

saleh ternyata dilalui jauh sebelum kelahiran anak itu sendiri.46 Hannah

melakukan model pendidikan prenatal ini dengan giat agar anak dalam

kandungan menjadi anak senantiasa mengabdi kepada Allah swt.

Model tujuan pendidikan yang dilakukan Nabi Zakariya as. juga

menekankan pada konsep pendidikan prenatal. Sebab tidak dijumpai

dalam al-Qur’an tentang interaksi Zakariya as. Dengan Yahya as. Secara

riil al-Qur’an menjelaskan mengenai usaha Zakariya as. Di usia senja

untuk mendapatkan keturunan walaupun istrinya mandul . Dengan penuh

keyakinan, Zakariya as. melakukan usaha terus- menerus dengan berdoa

43 QS. Ali Imran [3]:83

44 Miftahul Huda, Interaksi Pendidikan 10 Cara Qur’an Mendid ik Anak , (Yogyakarta: Sukses

Offset, 2008) hlm. 249.

45 Lihat Q.S. Ali Imrân [3]: 35

(23)

kepada Allah swt. Melalui kekuatan doa itulah akhirnya Allah swt

mengabulkan permintaannya.47

Peranan orang tua dalam memberikan bantuan menjadi luar biasa,

sebab tanpa bantuan orang tua tidak mungkin anak bisa bertambah dan

berkembang lebih sempurna, apalagi untuk mencapai taraf kedewasaan.

Sehingga tak salah kalau dikatakan, orang tua adalah pendidik pertama dan

pendidik utama pada anak-anaknya.48 Pada anggapan umum, pendidikan

keluarga itu merupakan pendidikan permulaan sedangkan pusat pendidikan

lainnya (pusat pendidikan sekolah dan pusat pendidikan masyarakat)

merupakan pendidikan lanjutan. keluarga bukan sekedar pendidikan

permulaan saja. Tanpa melebih-lebihkan fungsi dan peranan keluarga,

maka pusat pendidikan keluarga itu adalah tempat pendidikan paling

sempurna dalam sifat dan wujudnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, anak harus pendidikan agama sejak

dari awal, baik secara teori maupun praktek-praktek hidup beragama ini

sangat penting bagi seorang anak dibiasakan, agar dapat membentuk

kepribadian seorang anak melalui praktek keagamaan. Perhatian perlu

diberikan kepada anak terutama ibu bapaknya sendiri dalam usia dini. Ibu

juga berkewajiban melepaskan haknya secara bertahap untuk memilih segala

sesuatu yang berkaitan dengan seluruh sisi kehidupan anak, dan memberikan

kesempatan anak untuk melaksanakan haknya dalam memilih

mengembang tanggung jawab atas pilihan-pilihannya.49

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama memberikan pengaruh

terhadap anak, termasuk dalam hal keyakinan, karena itu orang tua harus

memiliki aqidah yang mantap sebelum mengajarkannya kepada anak. Dalam

mengajarkan masalah aqidah kepada anak dapat dengan cara memberikan

pengenalan aqidah secara dini sehingga anak termotivasi untuk mengetahui

lebih jauh lagi. Lalu secara bertahap orang tua menanamkan keyakinan pada

anak bahwa dirinya sebagai hamba Allah SWT, diberi kelebihan dari mahluk

47Ibid.,hlm. 269.

48 Imran Pohan, Masalah Anak dan Anak Bermasalah, Cet. I, (Jakarta: CV.Intermedia,

1996),hlm. 176.

49 Syeikh Abdussalam Amal Al-Kalili, Mengembangkan Kreatifitas Anak, Cet.I, (Jakarta:

(24)

lain berupa akal agar dapat mengetahui bahwa Allah SWT yang

menciptakan alam semesta dengan segala isinya.

Selain mengajarkan masalah aqidah atau ketauhidan, orang tua di

tuntut untuk menjelaskan kepada anak tentang syariat Islam. Hal ini penting

agar anak tahu bahwa Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum yang

harus dipatuhi. Sebagai contoh orang tua dapat menjelaskan bahwa salah

satu bukti keimanan kita kepada Allah SWT adalah dengan melaksanakan

shalat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim agar syariat Islam

benar-benar di laksanakan oleh anak, maka perlu ada pengawasan dan

bimbingan dari orang tua. Karena itu orang tua diharapkan telah biasa

melaksanakan shalat sehingga menjadi teladan bagi anak-anaknya.

c. Penutup

Konsep pendidikan Islam didiskripsikan sebagai proses

komprehensif untuk pengembangan pribadi manusia secara menyeluruh,

meliputi intelektual, spiritual dan fisik, berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah,

dengan tujuan utama terlaksananya ajaran Islam dalam kehidupan, dengan

orientasi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Implikasi nilai-nilai pedidikan Islam yang terkan dung dalam surat

Luqman dan Ali Imran tersebut, menjadikan pembentukan kepribdian yang

Islami sebagai salah satu pilihan guna membentengi anak sedini mungkin

dari pengaruh lingkungan yang negatif. Pembentukan kepribadian anak

pada prinsipnya merupakan proses yang berkelanjutan

Proses tersebut akan lebih baik dan berhasil manakala para orang tua

dapat mengkombinasikan dua faktor, yaitu faktor persiapan berfungsi

sebagai proses pembentukan kepribadian anak sebelum ia lahir dunia

(prenatal), dan faktor pelaksaan berfungsi sebagai kepribadian anak setelah

ia lahir, melalui pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Untuk

merealisasikan pembentukan kepribadian yang Islami diperlukan adanya

berbagai metode yang dianggap cukup representatif, diantaranya dengan

menggunakan metode keteladanan, nasihat, dan pengawasan.

Adapun konsep pendidikan Islam untuk anak dalam keluarga muslim

(25)

yaitu meliputi aspek ibadah,aqidah dan akhlak serta intelektual anak.

Pembinaan atau pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak-anak

mereka sejak dini merupakan pondasi yang sangat penting bagi kelangsungan

pribadinya di masa yang akan dating dalam mengatasi semua tantangan

hidup. Karena semua aspek tersebut dapat menimbulkan kepercayaan dalam

hatinya, sehingga anak mempunyai keimanan yang kokoh kepada Allah

SWT.

Daftar Pustaka

Ahmad, Nurwadjah. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan “Hati yang Selamat

Hingga Kisah Luqman. Bandung: Marja, 2007.

Al-Kalili, Syeikh Abdussalam Amal. Mengembangkan Kreatifitas Anak,

Cet.I. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005.

Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2007.

al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi.

(26)

Andayani, Abdul majid & Dian. Pendidikan karakter dalam perspektif

Islam. Bandung: Insan Cita Utama, 2010.

Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,Cet. 1.

Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Ash-Shabuny, Muhammad Ali. Cahaya Al-Qur’an: Tafsir Tematik Surat

An-Nur-Fathir vol.5. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002.

Azra, Azyumardi. Esai-Esai Intelektual Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Barsihannor. Belajar Dari Lukman al-Hakim. Yogyakarta: Kota Kembang, 2009.

Hadhir, Choiruddin. Klasifikasi al-Qur’an. Jakarta : Gema Insani Press, 2002.

Hamka. Tafsir al-Azhar,: Juz XXI. Surabaya: Yayasan Latimojong, 1991.

Huda, Miftahul. Interaksi Pendidikan 10 Cara Qur’an Mendidik Anak. Yogyakarta: Sukses Offset, 2008.

Idris, Miftahul Huda & Muhammad. Nalar Pendidikan Anak. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.

Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada, 2008.

Ma’arif, A. Syafi’i. Pendidikan Islam di Indonesia, Antara Cita dan Fakta.

Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah,

Madrasah, Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Muhajir, Abs’aril. Ilmu Pendidikan Perspektif Kontektual, Cet.I.

Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.

—. Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di

Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2007.

—. Pemikiran Pendidikan Islam & Barat. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada, 2012.

(27)

Nata, Abudin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan “Tafsir al –Ayat Al-Tarbawi”.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Qurthubi. Tafsīr al-Qurthubi.

Rahman, Fauzi. Anakku, Kuantar Kau ke Surga “Panduan Mendidik Anak

di Usia Balig. Bandung: Mizan Pustaka, 2009.

RI, Kementerian Agama. Al-Qur’an dan Tafsirnya : Edisi yang

Disempurnakan. Jakarta: Kementerian Agama , 2010.

Saleh, Abdurrahman. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur’an, terj.

H. M. Arifin. Bandung: Rineka Cipta, 1994.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Misbah Pesan Kesan dan Keserasian

al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Suharto, Toto. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Cet. 1. Rosda Karya: Bandung, 2003.

Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya, 2001.

Pohan, Imran. Masalah Anak dan Anak Bermasalah, Cet. I. Jakarta: Cv Intermedia, 1996.

Referensi

Dokumen terkait

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis, atau menganalisa apakah motivasi yang diberikan oleh kepala sekolah baik motivasi secara internal maupun

Jika peserta berada dalam kondisi tidak sehat pada saat atau sesudah lomba dan/atau menerima perhatian medis dari petugas medis resmi lomba, maka peserta tersebut

Dengan men- genal faktor-faktor tersebut nantinya bisa men- getahui aspek-aspek hambatan yang terjadi pada siswa dalam perkembangan karier, selain itu sis- wa dapat

Sangat Baik 3 Siswa aktif dalam memberikan pendapatnya dan bekerjasama dengan sangat baik bersama semua anggota kelompok.. Baik 2 Siswa memberikan pendapatnya dan bekerjasama

Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut penulis membuat kerangka penelitian disertai beberapa hipotesa mengenai wallpaper “Ragnarok” Online Games versi Indonesia yaitu

Tabanan sangatlah efektif, hal ini dabatlah dibuktikan usaha dan upaya kantor Dinas Pekerjaan Umum melakukan upaya baik prepentif maupun represif. Upaya Prepenif yaitu