TUGAS AKHIR
PENERAPAN SILA KE-
4 PANCASILA “KERAKYATAN YANG
DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM
PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN” DALAM DEMOKRASI
DI INDONESIA
Dosen Pembimbing : Drs. Tahajudin Sudibyo
Oleh :
Nama : Yudi Ardiansah NIM : 11.11.4748 Kelompok : C
Prog. Studi : STRATA 1
Jurusan : TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ABSTRACT
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah semakin tergeser dari fungsi dan
kedudukannya dalam era demokrasi ini. Hal ini terlihat jelas pada pelaksaan pemilu yang
berbeda jauh dari pelaksanaan pemilu pada saat Orde Baru. Pemilu saat ini, baik pemilihan
Caleg, Bupati, Gubernur, bahkan sampai tingkatan Presiden semua warga negara Indonesia
diberi hak sepenuhnya untuk ikut memilih.
Nilai - nilai pancasila yang seharusnya di aplikasikan dalam kehidupan bernegara
ataupun kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari belum sepenuhnya dilaksanakan. Banyak
penyimpangan – penyimpangan yang terjadi terhadap hilai – nilai pancasila sehingga bisa
menimbulkan dampak negatif. Dalam hal ini dapat diambil contoh penyimpangan sila ke-4,
yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /
perwakilan. Penyimpangan sila ke-4 tersebut dapat disebabkan oleh faktor seperti, kurangnya
penghayatan terhadap pancasila ataupun mulai lunturnya nilai – nilai pancasila di dalam jati
diri bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai kesatuan yang utuh, ada kebutuhan melihat Pancasila sebagai suatu
keutuhan, tidak dapat melihat Pancasila satu persatu sila yang ada, karena jika hanya melihat
sila dalam Pancasila satu persatu, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yang unik di Pancasila.
Tentunya harus melihat Pancasila dalam bentuk kesatuan atau benang merah yang
terangkai dalam sila-sila Pancasila, sehingga maknanya adalah sebuah prinsip
dasar yang unik dan hanya dipunyai o leh bangsa Indonesia yang berbeda dengan
prinsip yang mendasari demokrasi barat yang mendasari negara – negara Eropa Timur, Cina, dll. Karena itu kita dapat membentuk persepsi baru tentang Pancasila
sebagai konsep dasar bangsa Indonesia dalam melaksanakan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang merdeka dan berdaulat dengan sistem penyelenggaraan Negara secara
demokratis, yaitu sesuai dengan sila ke-4 dari Pancasila. Tetapi sistem demokrasi
yang dibangun harus dalam koridor atau dalam ruang lingkup sila-sila yang lain dalam
BAB I PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG MASALAH
Seluruh warga negara kesatuan Republik Indonesia sudah seharusnya
mempelajari, mendalami dan mengembangkannya serta mengamalkan Pancasila
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Tujuan pendidikan Pancasila adalah membentuk
watak bangsa yang kukuh, juga untuk memupuk sikap dan perilaku yang sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma Pancasila. Tujuan perkuliahan Pancasila
adalah agar mahasiswa memahami, menghayati dan melaksanakan Pancasila dan
UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara RI, juga menguasai
pengetahuan dan pemahaman tentang beragam masalah dasar kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang hendak diatasi dengan pemikiran
yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Dalam tugas akhir ini, akan dijelaskan mengenai demokrasi sekarang ini yang
ada di Indonesia. Yang akan dihubungkan dengan sila ke-4 dalam Pancasila yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”.
Pada faktanya penerapannya di Indonesia belum tepat. Paham demokrasi ini
sebelumnya sudah dianut oleh negara Amerika dan Eropa. Indonesia pun ikut
serta dalam menganut paham ini. Dapat diambil contoh, bentuk pemerintahan
yang paling bawah di Indonesia yaitu kepala desa, juga telah menggunakan
sistem pemilihan langsung oleh rakyat yang seperti model demokrasi modern di
Eropa dan Amerika Serikat. Termasuk juga sistem pemilihan ketua adat dibanyak
daerah di Indonesia, pada umumnya dipilih secara langsung oleh masyarakat.
Dipilih diantara mereka yang dianggap tetua yang bijaksana dengan pemilihan
melalui permusyawaratan dikalangan yang mewakili masyarakat maupun
II. RUMUSAN MASALAH
Dalam teorinya Indonesia menganut paham demokrasi, namun masih terdapat
bukti yang memperlihatkan bahwa penerapan demokrasi belum sesuai dengan isi
dan makna dari sila ke-4 pancasila. Apa fakta yang belum sesuai dengan
penerapan sila ke-4 dan penyebabnya penyimpangan sila ke-4 terhadap paham
demokrasi yang dianut bangsa Indonesia? Apakah sistem demokrasi ini yang
dimaksudkan dalam Pancasila? Jadi apa bedanya prinsip dasar Pancasila dengan
sistem demokrasi yang telah ada di negara-negara barat?
III. PENDEKATAN HISTORIS
Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang sejak
zaman kerajaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya bangsa lain yang
menjajah serta menguasai bangsa Indonesia. Beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dalam
perjalanan hidupnya berjuang untuk menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang
merdeka, mandiri serta memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup
serta filsafat hidup bangsa. Setelah melalui suatu proses yang cukup panjang dalam
perjalanan sejarah bangsa Indonesia menemukan jati dirinya, yang di dalamnya
tersimpul ciri khas, sifat dan karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain, oleh para
pendiri negara kita dirumuskan dalam suatu rumusan yang sederhana namun mendalam,
yang meliputi 5 prinsip (lima sila) yang kemudian diberi nama Pancasila.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini terutama dalam masa reformasi,
bangsa Indonesia sebagai bangsa harus memiliki visi serta pandangan hidup yang kuat
agar tidak terombang-ambing di tengah-tengah masyarakat internasional. Dengan kata
lain perkataan bangsa Indonesia harus memiliki nasionalisme serta rasa kebangsaan yang
kuat. Hal ini dapat terlaksana bukan melalui kekuasaan atau hegemoni ideologi
melainkan suatu kesadaran berbangsa dan bernegara yang berakar pada sejarah bangsa.
Jadi secara historis bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila pancasila
sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indonesia secara objektif
historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilai-nilai Pancasila
tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain bangsa
Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena itu berdasarkan fakta objektif
Pancasila. Atas dasar pengertian dan alasan historis inilah maka sangat penting bagi para
generasi penerus bangsa terutama kalangan intelektual kampus untuk mengkaji,
memahami dan mengembangkan berdasarkan pengembangan ilmiah, yang pada
gilirannya akan memiliki suatu kesadaran serta wawasan kebangsaan yang kuat
berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya sendiri. Konsekuensinya Pancasila dalam
kedudukannya sebagai dasar filsafat negara serta ideologi bangsa dan negara bukannya
suatu ideologi yang menguasai bangsa, namun justru nilai-nilai dari sila-sila Pancasila
itu melekat dan berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri.
BAB II PEMBAHASAN
FAKTA YANG BELUM SESUAI DENGAN MAKNA PANCASILA SILA KE-4
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah semakin tergeser dari fungsi dan
kedudukannya dalam era demokrasi ini. Hal ini terlihat jelas pada pelaksaan pemilu yang
berbeda jauh dari pelaksanaan pemilu pada saat Orde Baru. Pemilu saat ini, baik pemilihan
Caleg, Bupati, Gubernur, bahkan sampai tingkatan Presiden semua warga negara Indonesia
diberi hak sepenuhnya untuk ikut memilih. Padahal dalam sila ke-4 Pancasila jelas- jelas
disebutkan bahwa Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan / perwakilan. Artinya yaitu :
1. Kerakyatan. Yang dimaksud adalah rakyat Indonesia itu sendiri.
2. Hikmat kebijaksanaan yaitu sebuah lembaga perwakilan kerakyatan, seperti DPD,
DPRD, DPR. Yang mempunnyai kewenangan dan kebijaksanaan serta berperan
sebagai wakil rakyat pada saat pemilu.
3. Permusyawaratan perwakilan adalah musyawarah pada saat pemilihan yang
hendaknya dalam proses itu, rakyat diwakilkan oleh lembaga yang lebih mempunyai
kebijaksanaan.
Namun, dalam kenyataannya,pelaksanaan pemilu (permusyawaratan perwakilan)
dalam pelaksaan demokrasi di Indonesia, seluruh rakyat ikut serta dalam pemilihan tersebut.
Hal ini ada baiknya, ada buruknya pula. Baiknya yaitu kita bisa belajar menghargai pendapat
orang lain. Namun buruknya adalah yang menjadi pemenang bukan dilihat dari kualitas,
tetapi menang karena kuantitas. Hal ini disebabkan karena pemilih sebagian besar adalah
rakyat biasa. Karena hal inilah mengapa dalam Pancasila (sila ke-4) sudah diatur bahwa yang
berhak memilih hanyalah wakil- wakil rakyat yang mempunyai kebijakan
(DPD,DPRD,DPR), pendidikan dan pemahaman tentang calon- calon yang akan dipilih yang
lebih tinggi dan luas dari kebanyakan rakyat di Indonesia,para wakil rakyat tentunya akan
memilih calon berdasarkan kualitas dan berusaha memilih yang terbaik untuk rakyatnya.
Dapat diambil contoh jika lebih dari 80% penduduk Indonesia yang berpendidikan
rendah dan belum paham betul siapa dan bagaimana karakteristik calon yang akan dipilih,
mereka semua diberi hak untuk memilih, tentu saja mereka tidak akan memilih berdasarkan
kualitas, mereka akan memilih karena ajakan teman atau tetangga, memilih calon yang telah
ini sangat menyedihkan karena bisa saja jika sudah terpilih nanti,calon tadi tidak
melaksanakan tugasnya dengan baik, malah bisa saja melakukan korupsi dan kejelekan-
kejelekan lain yang bisa menjatuhkan namanya atau bahkan institusinya bahkan partai yang
mengusungnya.
Memang dalam pemilihan caleg DPD, DPRD, dan DPR, rakyat harus ikut memilih,
tetapi dalam pemilihan bupati,gubernur dan presiden,yang berhak memilih hanyalah
wakil-wakil rakyat saja(sesuai dengan sila ke-4). Namun dalam pelaksanaannya, baik memilih
bupati,gubernur, maupun presiden semua rakyat Indonesia saat ini diberi hak untuk memilih.
Mungkin Indonesia meniru sistem politik Amerika. Namun dalam hal ini Amerika sendiri
sudah sejak berabad- abad yang lalu menerapkan demokrasi dan jelas bahwa demokrasi di
Amerika sudah tertata rapi dibandingkan dengan Indonesia.
PENYEBAB PENYIMPANGAN
Nilai - nilai pancasila yang seharusnya di aplikasikan dalam kehidupan bernegara
ataupun kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari belum sepenuhnya dilaksanakan. Banyak
penyimpangan – penyimpangan yang terjadi terhadap hilai – nilai pancasila sehingga bisa menimbulkan dampak negatif. Dalam hal ini dapat diambil contoh penyimpangan sila ke-4,
yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /
perwakilan. Penyimpangan sila ke-4 tersebut dapat disebabkan oleh faktor seperti, kurangnya
penghayatan terhadap pancasila ataupun mulai lunturnya nilai – nilai pancasila di dalam jati diri bangsa Indonesia.
Walaupun sila ke-4 ini yang paling sering di interpretasikan secara salah oleh para
pemimpin bangsa, bahkan oleh pemimpin yang telah menggali dan mempresentasikan
Pancasila di depan PPPK, hal ini dikarenakan UUD 1945 pada awalnya tidak secara jelas
menjabarkan sila ini dalam bentuk operasional yang mencerminkan sila ke-4 secara tegas dan
rinci. Oleh karena itu sebelum amandemen UUD 1945, amandemen dilakukan pada masa
reformasi yaitu dari tahun 1999 s/d2 0 0 2 .
C e r m in a n s i la k e - 4 d a r i p a n c a s i la ya n g a d a d i U U D 1 9 4 5 s a a t it u
me m b e r ik a n k e k u a s a a n ya n g h a mp ir t id a k t e r b a t a s p a d a P r e s id e n t e r p i l i h
u nt u k me n ja la n k a n roda pemerintahan, dan ini betul-betul terjadi dengan
1. Presiden Soekarno ditunjuk oleh MPR yang anggotanya ditunjuk oleh
Presiden, bahkan anggota kabinet juga menjadi anggota MPR, suatu
k e r a n c u a n k e t a t a n e g a r a a n ya n g a k u t s a a t it u me n ja d i p r e s id e n seumur
hidup. Pemerintahannya dijatuhkan secara tragis dengan trigger peristiwa 30
September 1965.
2. Presiden Soeharto bisa memerintah selama 32 tahun dan memasukkan unsur
ABRI yang ditunjuk begitu saja kedalam DPR dan MPR. Hanya bisa
dijatuhkan setelah terjadi krisis ekonomi yang tidak bisa diatasi maupun
gejolak perubahan yang berkembang secara informal diluar sistem
demokrasi itu sendiri.
K e d u a p e me r i nt a h a n t e r se b u t s e la lu me ng a n g g a p t id a k p e r n a h
melanggar UUD 1945 bahkan merasa telah mejalankan ideologi Pancasila secara
baik.
Setelah empat kali amandemen, sila ke 4 dari Pancasila yang bisa diartikan
sebagai sistem pemerintahan yang demokratis yaitu sistem pemerintahan yang
mendasarkan diri kepada kerakyatan yang dipimpino leh hikmat kebijaksanaan dala m
Permusyawaratan/Perwakila n, telah tercermin dalam pasal-pasal di UUD 1945, sebagai
berikut:
1. BAB II – MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, pasal 2 s/d pasal 3. 2. BAB III – KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA, pasal 4 s/d pasal 16.
3. BAB IV – DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG, dihapus pada amandemen IV – 2002.
4. BAB V – KEMENTERIAN NEGARA, pasal 17.
5. BAB VI – PEMERINTAH DAERAH, pasal 18, 18A, dan 18B
6. BAB VII – DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Pasal 19 s/d pasal 22B 7. BAB VIIA - DEWAN PERWAKILAN DAERAH, pasal 22C, 22D
8. BAB VIIB – PEMILIHAN UMUM, pasal 22E
9. BAB VIII - HAL KEUANGAN, pasal 23 s/d 23D
10.B A B V I I I A - B A D A N P E ME R I KS A KE U A N G A N , p a sa l 2 3 E s / d
2 3 G
11.B A B I X – KE K U A S A A N K E H A K I M A N , p a sa l 2 4 s / d p a sa l 2 5
Pasal-pasal tersebut telah mengalami empat kali amandemen untuk sampai pada
bentuk yang sekarang ini yang pada hakekatnya membagi kekuasaan negara untuk
Mahkamah Agung) sehingga kekuasaan tidak terpusat terlalu besar di Presiden (Eksekutif)
saja seperti yang tercermin pada UUD 1945 sebelum amandemen. Jika diterjemahkan sila
ke-4 dari Pancasila “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan” adalah sistem demokrasi untuk penyelenggaraan Negara, sudah barang tentu a ma nd e me n U U D 1 9 4 5 ya n g b e r k a it a n d e n g a n
k e t a t a n e g a r a a n i n i a d a la h kemajuan yang sangat besar dibandingkan dengan UUD
1945. Versi aslinya yang kekuasaan Negara terlalu besar berada di Presiden (Eksekutif).
PRINSIP DASAR PANCASILA DENGAN SISTEM DEMOKRASI DI NEGARA BARAT
Prinsip pokok demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:
1. Perlindungan terhadap hak asasi manusia
2. Pengambilan keputusan atas dasar musyawarah
3. Peradilan yang merdeka berarti badan peradilan (kehakiman) merupakan badan yang
merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan lain
contoh Presiden, BPK, DPR atau lainnya
4. adanya partai politik dan organisasi sosial politik karena berfungsi untuk menyalurkan
aspirasi rakyat
5. Pelaksanaan Pemilihan Umum
6. Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar
(pasal 1 ayat 2 UUD 1945)
7. Keseimbangan antara hak dan kewajiban
8. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan YME,
diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain
9. Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional
10.Pemerintahan berdasarkan hukum, dalam penjelasan UUD 1945 dikatakan:
(a). Indonesia ialah negara berdasarkan hukum (rechtstaat) dan tidak berdasarkan
kekuasaan belaka (machtstaat) (b). Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum
dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan tidak terbatas) (c). Kekuasaan yang
Pancasila sebagai kesatuan yang utuh, ada kebutuhan melihat Pancasila sebagai suatu
keutuhan, tidak dapat melihat Pancasila satu persatu sila yang ada, karena jika hanya melihat
sila dalam Pancasila satu persatu, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yang unik di Pancasila.
Tentunya harus melihat Pancasila dalam bentuk kesatuan atau benang merah yang
terangkai dalam sila-sila Pancasila, sehingga maknanya adalah sebuah prinsip
dasar yang unik dan hanya dipunyai o leh bangsa Indonesia yang berbeda dengan
prinsip yang mendasari demokrasi barat yang mendasari negara – negara Eropa Timur, Cina, dll. Karena itu kita dapat membentuk persepsi baru tentang Pancasila
sebagai konsep dasar bangsa Indonesia dalam melaksanakan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang merdeka dan berdaulat dengan sistem penyelenggaraan Negara secara
demokratis, yaitu sesuai dengan sila ke-4 dari Pancasila. Tetapi sistem demokrasi
yang dibangun harus dalam koridor atau dalam ruang lingkup sila-sila yang lain dalam
Pancasila.
S u a t u s i s t e m d e m o k r a s i y a n g b e r K e t u h a n a n M a h a E s a ( s i l a
-1 , sebagai prinsip keharusan mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa dan
kebebasan memilih agama dan kepercayaan masing-masing), yang ber-P e r i
K e ma n u s ia n Y a n g B e r a d a b ( s i la - 2 s e b a g a i p r i n s ip k e h a r u s a n b a g i Negara
dan rakyat Indonesia untuk mematuhi dan melaksanakan prinsip-prinsip hak-hak azasi
manusia), yang tetap menjaga Persatuan Indonesia( s i la k e - 3 p r in s ip k e h a r u sa n b a g i
ideologi yang universal kalau negara dan bangsa Indonesia mampu merealisasikan dalam
bentuk n ya t a .
P r in s ip d e mo k r a s i ya n g p u n ya k o r id o r ya n g sa n g a t je la s p a d a
batas-batas sila yang lain dalam Pancasila. Bukan prinsip demokrasi untuk demokrasi tapi
demokrasi yang punya tujuan mulia. Bukan juga demokrasi Barat yang berpasangan
BAB III SIMPULAN
I. KESIMPULAN
Penyimpangan pancasila dalam demokrasi di Indonesia ini memang terjadi
dan banyak fakta dan penyebab dari penyimpangan sila ke-4 dalam pancasila ini.
Penyimpangan ini terjadi karena kurangnya sosialisasi tentang makna dan arti
dari sila ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”.
Penyebab dari penyimpangan ini dapat dikatakan bahwa kurangnya
penghayatan terhadap pancasila ataupun mulai lunturnya nilai – nilai pancasila di
dalam jati diri bangsa Indonesia.
Tantangan dari para penyelengara NKRI maupun rakyat Indonesia
adalah untuk merealisasikan mimpi atau impian konsep dasar Pancasila
yang telah diletakkan oleh para pejuang kemerdekaan ini menjadi suatu
kenyataan, bisa terwujud dalam penyelenggaraan NKRI maupun terwujud dalam
tata masyarakat bangsa Indonesia secara keseluruhan.
P e n g a ma la n n i la i – n i la i p a n c a s i la sa n g a t me m i l ik i n i la i p e nt in g b a g i k e h id u p a n bangsa Indonesia karena pancasila merupakan
cerminan bangsa Indonesia dan merupakan jatid ir i b a n g sa in d o n e s ia .
P e n y i mp a n g a n–p e n y i mp a n g a n ya n g t e r ja d i d is e b a b k a n k a r e n a lunturnya kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya nilai – nilai pancasila serta banyaknya pihak yang mencari keuntungan pribadi sehingga melupakan
pedoman dasar bangsaindonesia yaitu pancasila.
DAFTAR PUSTAKA
Abduh Muhammad “Penyimpangan Pancasila”,(online), (http// Penyimpangan Pancasila « the ARTicles.htm, diakses 17 Oktober 2011)
“Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan”, (online), (http//Demokrasi sebagai bentuk pemerintahan _ peutuah.htm, diakses 23 Oktober 2011)