• Tidak ada hasil yang ditemukan

APA ITU kaunseling kaunseling SAINS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APA ITU kaunseling kaunseling SAINS"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

APA ITU SAINS?

Di dalam rangkaian perdebatan mengenai kluster “sains” (science), sedikitnya ada dua implikasi makna yang dapat kita simpulkan, yakni :sains berimplikasi sebagai sebuah metode pendekatan (method of inquiry) atau populernya diistilahkan dengan scientific method yang kemudian diterjemahkan sebagai “metode ilmiah,” dan sains berimplikasi sebagai “hasil” yang dicapai dari atau dengan menggunakan pendekatan tersebut (the result of that inquiry) yang diistilahkan kemudian sebagai “scientific knowledge” dan diterjemahkan secara literal sebagai “pengetahuan sains,” “pengetahuan ilmiah,” atau “ilmu pengetahuan.”1 Tiga istilah yang disebut terakhir ini agak membingungkan. Oleh karena itu, perlu diberi catatan awal, bahwa tulisan ini akan menggunakan terma sains atau ilmu atau pengetahuan (terjemahan al-‘ilm), berdiri sendiri tanpa penyandaran, dan yang referensinya adalah implikasi kedua. Adapun apabila menggunakan kluster metode ilmiah, maka yang dimaksud adalah pendekatan yang juga dapat berarti “sumber” (sources of knowledge).

PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI

Epistemologi adalah ilmu tentang ilmu. Ianya membicarakan sumber ilmu, dan proses tercapainya ilmu tersebut. Dengan kata lain, bagaimana ilmu tersebut dapat diperoleh, apa metode atau sumbernya? Secara amnya, epistemology boleh dilihat dari dua sudut yang berbeza iaitu menurut pandangan barat dan Islam.

A) EPISTEMOLOGI BARAT

Berikut ini dikemukakan beberapa aliran yang khusus membicarakan epistemology yang sekaligus menggambarkan pandangan dari Barat:

1. Empirisme

Kata empirisme berasal dari perkataan yunani ‘empeirikos’ (empeiria) yang berarti pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh ilmu melalui pengalamannya. Merujuk kepada makna perkataan empeirikos, maka ia juga boleh ditafsirkan sebagai pengalaman yang melalui pancaindera yang membolehkan manusia tahu mengenai sesuatu perkara. Menurut pandangan barat juga, sesuatu yang tidak dapat diamati melalui

(2)

lima pancaindera (penglihatan, pendengaran, bau, rasa dan sentuh) bukanlah ilmu yang benar. Ilmu yang dihasilkann dari pancaindera itulah sumber ilmu yang benar. Oleh yang demikian, penelitian dari aliran ini adalah eksperimen.

Pada abad modern, aliran ini dikembangkan oleh John Locke (1632-1704). Melalui teorinya “tabula rasa” yang berarti jiwa yang kosong, Locke berpendapat bahawa manusia itu pada mulanya kosong dari ilmu, kemudian pengalamannya mengisi jiwa yang kosong tersebut lantas manusia tersebut memiliki ilmu.

2. Rasionalisme

Rasionalisme mengkritik pandangan empirisisme dengan mengemukakan keterbatasan pancaindera. Pancaindera ini dapat “menipu” manusia dengan perkara yang tidak dilihat oleh sesuatu ilmu tersebut. Sebagai contoh, amnya gula bersifat manis, akan tetapi rasa manis itu tidak dapat dirasa oleh orang yang dilanda sakit malaria yang mendakwa gula rasanya pahit. Hal ini jelas membuktikan bagaiman pancaindera dengan mudahnya mampu menipu manusia. Oleh sebab itu, pandangan rasionalisme berpendapat bahawa akal merupakan dasar bagi kepastian sesuatu ilmu. Ilmu yang benar diperoleh dan diukur dengan akal melalui kegiatan akal menangkap objek. Aliran ini dikembangkan oleh Rene Descartes (1596-1650).

Meskipun demikian, aliran ini tidak sepenuhnya menolak kegunaan pancaindera dalam memperoleh pengetahuan. Bagi aliran ini, pancaindera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Pancaraindera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas dan kacau-bilau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Maka, akal bekerja karena ada bahan dari pancaindera.

3. Positivisme

(3)

eksperimen. Eksperimen pula memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Sebagai contoh, suhu perlu diukur dengan alatnya, berat perlu diukur dengan alatnya dan sebagainya.2

Percampuran pelbagai epistemology inilah yang kemudian melahirkan metode ilmiah (scientific method) dan selanjutnya memiliki “keturunan” yang bernama sains (scientific knowledge). Pastinya, hubung-kait di antara aliran rasionalisme dan empirisme, telah diperkuat oleh positvisme. Menurut positvisme, perlu ada cara-cara atau prosedur ilmiah yang diterapkan dalam membaca data atau objek materia untuk mencapai sains. Menurut Manheim, positvisme dilengkapi dengan sifat penelitan yang objektif, akurat, sistematis, dan analitis. Manheim menulis:

“Sains adalah [hasil] analisa terhadap data [yang bersifat] empiris yang telah ditetapkan, dilakukan secara objektif, akurat dan analisa sistematik untuk mengungkap hubungan-hubungan di antara fenomena”.3

Dapat disimpulkan bahwa sains dicapai melalui prosedur yang menggabungkan aliran-aliran dalam epistemology (antara rasionalisme dan empirisme, diperkuat dengan positivisme) dengan sifat penelitian yang objektif, akurat, sistematis dan analitis, terhadap sesuatu perkara. Jelasnya, manusia disemai untuk berfikiran rasional dalam melakukan kesimpulan awal atau hipotesis, kemudian membuktikan hipotesis itu melalui pelbagai eksperimen dan melalui cara inilah sains barat benar-benar dimulai.4

Dari pembahasan di atas, kita telah mengetengahkan bahwa sains (scientific knowledge) dihasilkan dari atau dengan menggunakan pendekatan ratio (melalui jalan deduktif) dan empeirikos (melalui jalan induktif) diperkuat dengan eksperimen.5 Perspektifnya adalah, objektif, akurat, sistematis dan analitis. Objek penelitiannya adalah segala yang

2 Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, eds. kedelapan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), 23-26. Selanjutnya disebut Ahamad Tafsir.

3 Disebut oleh Felix dalam Thesis Proposal, 1. Ada empat kata kunci dalam pernyataan definisi tersebut yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) Objektif. Artinya peneliti selayaknya mendudukkan perkara sebagaimana mestinya, artinya tidak bias, prejudis, ataupun personal dalam kegiatan penelitian, (2) Akurat. Akurat berarti bahwa peneliti harus tepat, pasti dan persis dalam mengurai pembahasan, (3) Sistematis. Artinya, dalam pemaparan, peneliti harus menunjukkan “benang-merah” argumentasinya, yakni antara satu ide, konsep, atau postulat dengan yang lainnya terlihat jelas ketersinambungan dan koherensinya, dan (4) Analitis. Artinya melakukan pendalaman terhadap objek yang diteliti dengan memperhatikan segala aspek-aspeknya.

(4)

dapat diamati oleh indera. Konsekuensinya, segala yang tidak dapat diamati oleh indera bukanlah sains.6

B) EPISTEMOLOGI ISLAM

Islam tidak menolak pandangan sains yang menggunakan akal dan pancaindera, akan tetapi Islam tidak berhenti kepada kedua sumber tersebut. Islam meyakini wahyu (al-khabar al-ṣādiq: al-Qur’ān dan al-Ḥadīṡ), dan intuisi (al-Ilhām) sebagai sumber dalam mencapai dan memperoleh ilmu.7

Wahyu adalah sumber utama bagi Islam. Berbagai aspek dibicarakan di dalamnya, baik secara global ataupun rinci, termasuk epistemologi, ontology, aksiologi, kosmologi, psikologi, sosiologi, eskatologi, dan lain sebagainya. Dalam epistemologi, misalnya, Wahyu amat mengharagai akal dan penelitian atau observasi inderawi. Penggalan-pengalan ayat berikut merupakan justifikasi dari penghargaan itu: نورصصصبت لفا ،نوصصلقعت لفا dan لفا تقلخ فيك لإبلا ىلا نورظني .8 Bahkan berkembangnya pemikiran filsafat Islam memperoleh dorongan yang kuat dari kedua sumber Islam tersebut. Lalu mengapa sains modern Barat tidak menggunakan sumber-sumber agama sebagaimana halnya dalam Islam? Bukankah peradaban Barat, dilihat dari sejarahnya, “berkembang” melalui proses “injeksi” atau perpaduan berbagai unsur, yaitu unsur filsafat dari Greek, hukum dan pemerintahan dari Roma, dan agama dari Yahudi dan Nasrani atau bahkan Islam?9

5 Filsafat sebagai ilmu berbeda dengan filsafat sebagai pendekatan atau metode. Ilmu filsafat adalah ilmu yang dihasilkan dari aktifitas atau “pekerjaan” ratio semata. Objek materia ilmu filsafat tidak terbatas, yakni segala yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan filsafat sebagai pendekatan atau dikenal sebagai deductive method memiliki objek materia yang terbatas, yakni empiris atau yang dapat diamati oleh indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba).

6 Ahamad Tafsir, 24.

7 Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 39.

8 Kata yang biasa digunakan dalam al-Qur’ān dan al-Ḥadīṡ adalah: ،هقف ،ركفت ،رإبدت ،رظن

،ركذت ،مهف

لقع .

(5)

Ada tiga kebarangkalian jawapan dari pertanyaan tersebut yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu:

Pertama: Kitab Suci Nasrani, tidak banyak “berbicara” mengenai akal.10 Hal yang demikian menyebabkan munculnya berbagai “spekulasi pemikiran.” Dua pemikiran utama yang saling bertentangan dan mendominasi sejarah perkembangan peradaban barat, yakni akal dan mistik. Sejak zaman pemerintahan Thales hingga Sophists, pemikiran rasional mendominasi dan mengalahkan mistik. Namun, bermula zaman kegemilangan Sokrates hingga menjelang Abad pertengahan, keduanya, yakni, akal dan mistik digunakan secara seimbang. Pada Abad pertengahan, agama Kristen mendominasi dan mengalahkan akal. Akan tetapi, munculnya Descartes sampai masa Kant, pandangan akal dijadikan sumber utama. Kedua aliran pikiran yang saling mendominasi inilah yang mewarani jalan hidup peradaban Barat. Warna hidup peradaban ini diwakili oleh dua prinsip besar yang dikenal dengan prinsip cogito ergo sum-nya Rene Descartes (1596-1650) yang mewakili kalangan rasionalis, dan prinsip credo ut intelligam-nya Saint Anselmus (1033-1109) yang mewakili kalangan agamawan.11 Ketika pemikiran rasionalis mendominasi, maka banyak dalam kalangan manusia yang meninggalkan agamanya, sedangkan apabila agama mendominasi, pemikiran rasional ditentang. Singkatnya, tidak ada keharmonisan diantara keduanya.

Kedua: Teori “emanasi” yang memberi implikasi filosofis terhadap eksistensi dan realiti Tuhan. Teori ini berasaskan kewujudan semesta alam. Dakwa mereka kewujudan Tuhan seiringan dengan kewujudan alam, Tuhan tidak menciptakan alam, dan bahkan Tuhan tidak mendahului alam dari sisi waktu dan zaman. Tuhan hanya mendahuluinya dari sisi tingkatan eksistensi atau wujūd, seperti halanya angka 1 yang mendahului angka 2. Angka satu tidak menciptakan angka 2, 3, 4 dan seterusnya, serta tidak mendahuluinya dari sisi waktu, meski angka 2, 3, 4 dan seterusnya tidak wujud jika angka satu tidak wujud. Tuhan dan alam ibarat Manusia dihadapan cermin kaca, bayangan tidak diciptakan oleh cermin tersebut. Manusia dihadapan cermin tersebut tidak mendahului bayangannya dalam hal bergerak. Hal ini apat disimpulkan bahawa alam semesta tidak bergantung

10 Ahamad Tafsir, 237.

(6)

kepada yang lain selain dirinya, ia berkembang melalui “hukum” yang ada pada dirinya

Ketiga: Pengaruh ajaran Sophist yang menjadikan manusia sebagai ukuran segala sesuatu. Implikasinya adalah tidak ada kebenaran hakiki, artinya, tidak ada kebenaran yang pasti tentang pengetahuan, tentang etika, tentang metafisika, dan juga tentang agama. Sophist pernah berkata, ‘Yang benar adalah yang benar menurutku, atau menurutmu, atau menurutnya.’

Penjelasan mengenai epistemologi dan ontology Islam yang juga sekaligus sebagai sanggahan atas asumsi sains yang berkembang di Barat, dapat kita baca melalui karya monumental al-Imam al-Nasafi dalam teologi. Beliau menulis:

اصصفلخ ،قصصقحتم اصصهإب مصصلعلاو ،ةصصتإباث ءايأشلا قئاقح ،ادإبا هللا مه زعا قحلا لها لاق ،قداصصصلا ربصصخلا ،ةميلصصسلا ساوصصحلا :ةصصثلث قلخلل ملعلا بابسا مث .ةيئاطسفوسلل ...قحلا لها دنع ئشلا ةحصإب ةفرعملا بابسا نم سيل ماهللاو ... لقعلاو Berkata ahl al-ḥaq (mudah-mudahan Allah memberinya kucuran rahmat!) realitas segala sesuatu itu “tetap” adanya, dan ilmu mengenainya (segala sesuatu) benar-benar dapat “diperoleh,” berbeda dengan apa yang diyakini oleh para sophists. Adapun sebab-sebab atau sumber-sumber ilmu itu ada tiga: (1) al-khabar al-ṣādiq [al-Qur’ān dan al-Ḥadīṡ], (2) indera [lima indera luar dan lima indera dalam], dan (3) aql [rasio] … adapun al-ilhām [intuisi] itu tidak termasuk sebagai sumber ilmu.12

Berikut merupakan beberapa perkara yang perlu mendapat perhatian dalam pernyataan al-Nasafi ini, di antaranya adalah:

1. ةتإباث ءايأشلا قئاقح = realiti segala sesuatu itu ada hakikatnya.

Kata ئشلا berarti sesuatu, atau segala yang ada selain dari Tuhan (ام هللا ىوس). Kata ini memiliki padanan arti dalam bahasa Arab yaitu: نوكلا ملاعلا ،تامولعملا ،يعيبط ،(تاقولخملا) قلخلا ،(تانئاكلا) :

1. (تانئاكلا) نوكلا dalam filsafat disebut sebagai داصصسفلاو نوصصكلا ملاصصع artinya alam yang berasal dari atau muncul dan tercipta dari ‘ālam al-’amr (alam perintah Allah) melalui kata atau kalimat (ناك نك - نئاك / نوك – نوكي –) نك sebagaimana firman Allah: اذا هرما امنا نوكيف نك هل لوقي نا ائيأش دارا

(7)

2. (تاصصقولخملا) قصصلخلا artinya ciptaan, kata ini memberi indikasi adanya قلاخلا atau pencipta (قلاخ - اقلخ – قلخي – قلخ).

3. يعيبط dalam filsafat disebut sebagai يعيبط ملاع yang berarti alam “terbit” atau alam ”stempel.” Indikasinya adalah bila ada yang terbit sudah pasti ada penerbitnya atau pelaku yang melakukan stempel tersebut.

4. تامولعملا atau objek ilmu. Indikasinya adalah ملاعلا yang berarti yang Maha Mengetahui تامولعم / مولعم – ملاع – املع – ملعي – ملع)). 5. ئصصشلا yang berarti sesuatu. Ini mengindikasikan adanya ةئيصصشم

atau yang “menghendaki,” dalam “teologi-kehendak” (free will & pre destination) disebut sebagai - ئصصأش – ءاصصشي – ءاصصأش)هصصللا ةئيصصشمإب (ةئيشم.

Terma-terma tersebut di atas, sebagaimana yang dapat dilihat, memunculkan indikasi adanya “sesuatu” yang lain selain dari dirinya (point to something other than itself). Sesuatu yang lain selain dari dirinya ini biasa diistilahkan dengan “tanda” (simbol = āyah) akan adanya Allah. Hal ini tentu berbeda dengan keyakinan “animisme” dan “dinamisme” yang memandang adanya “jiwa dan kekuatan” terhadp sesuatu atau objek materia. Perspektif Islam ini, justeru menolak adanya kepercayaan yang berbau magic dan mistis terhadap sesuatu (the expulsion from our understanding of a magical or mythical conception of nature). Beberapa ungkapan yang biasa digunakan oleh para ulama kita dalam menjelaskan hal tersebut, di antaranya oleh al-Imam Ali R.A: ”هيف هللا تيأرو لا ائيأش تيأر ام” “aku tidak melihat sesuatu kecuali [sesuatu tersebut] merepresentasikan Allah padanya.” Dengan kata lain, segala sesuatu atau objek materia “harus” dilihat sebagai simbol atau manifestasi (يلجت) Allah.

Pernyataan: segala sesuatu harus dilihat sebagai simbol atau manifestasi Allah, tidak lantas disimpulkan bahwa sesuatu (the world together with all its parts) tidak memiliki realitas atau hakikat atau existensi atau maujūd. Meskipun dapat pula dikatakan bahwa eksistensinya adalah riil dan tidak riil. Tidak riil apabila melihat kenyataan bahwa sesuatu tersebut “tergantung” kepada yang lainnya dan mengalami per-wujūd-an baru secara terus menerus. Sedangkan riil apabila melihat kenyataan bahwa sesuatu tersebut eksis atau maujūd fī ‘ilm Allah (intelligible in the Divine Knowledge) yang kemudian diistilahkan oleh para Sufī sebagai al-a‘yān al-ṡābitah. Inilah tesis pertama kita.

(8)

bergantung kepada (dependent up on) yang meng-ada-kannya. Keadaan yang bergantung tersebut diistilahkan dalam ‘ilm al-kalām sebagai qiyāmuh li gairih dan dalam tasawwuf sebagai fanā’ (antonim dari sifat Allah al-baqā’ = kekal).

Kondisi sesuatu yang keadaannya bergantung tersebut, tak lain dan tak bukan, karena penciptaannya oleh Allah dilakukan secara “terus menerus setiap saat.” Artinya “ada” dan “tiada” secara bergantian dan terus menerus terjadi tanpa ada durasi waktu yang meng-antara-i dalam masa eksistensi pertamanya menuju eksistensi keduanya dan eksistensi selanjutnya tanpa batas, jika Allah menghendaki!. Hal ini, menurut para Sufi, dilakukan agar supaya entitas atau sesuatu tersebut merasa fakir (al-faqr) dan membutuhkan Tuhan (al-Ganī) setiap saat (sense of dependency). Karena jika tetap atau pernah mengalami ketidak fanā-an atau ada dalam eksistensinya untuk dua durasi masa atau lebih, maka entitas akan mempunyai kualifikasi sebagai sesuatu yang independent (ginā) dari Tuhan dalam durasi tersebut.13 Demikianlah realitas sesuatu atau objek materia.14

2. ققحتم اهإب ملعلاو ilmu mengenai sesuatu atau objek materia itu benar dapat “dicapai.” Lalu pertanyaan akan muncul: bagaimana mungkin pengetahuan mengenai sesuatu dapat tercapai, apabila realitas sesuatu atau yang menjadi objek pengetahuan tersebut kondisi penciptaannya ada dan tiada secara silih berganti dan terus menerus? Bukankah kondisi itu menunjukkan “perubahan” atau ketidak tetapan pada “diri” sesuatu atau objek materia, dan dengan kondisi demikian tidak memungkinkan tercapainya pengetahuan atau ilmu?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada pentingnya terlebih dahulu melihat konsepsi ilmu yang telah dikemukakan oleh para cendekiawan Muslim. Menurut mereka, semua ilmu atau pengetahuan bersumber dari Allah. Adapun proses tercapainya ilmu tersebut melalui dua jalan, yaitu: (1) ma’rifah, dan (2) iktisābī. Ma’rifah (disebut juga sebagai

13 Lihat Syafa’atun al-Mirzanah, When Mystic Masters Meet: Paradigma Baru dalam Relasi Umat Kristiani-Muslim (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), 141-143.

(9)

ladunnī) adalah ilmu yang langsung diberikan oleh Allah kepada sang “tercerah” yang telah mencapai tingkat spiritual “khusus” dan telah memiliki “kesiapan” (isti‘dād) untuk menerima “pencerahan.” Sedangkan iktisābī adalah ilmu yang diperoleh oleh seseorang melalui “aktifitas pencarian” atau usaha dengan menggunakan logika rasio dan pengalaman inderawi.15

Melihat bahwa segala ilmu mengembalikan sumbernya kepada Allah serta menimbang bahwa jiwa atau soul (al-‘aql, al-qalb, al-rūḥ dan al-nafs) yang memiliki fungsi sebagai penerima yang sekaligus penterjemah “interpreter” ilmu tersebut melalui “organ” spiritual dan fisikal, yakni panca indera dalam dan luar, maka ilmu atau pengetahuan dapat didefinisikan sebagai ketibaan “arti” sesuatu atau objek pengetahuan pada jiwa ( لوصح سفنلا ىف ئشلا ىنعم = the arrival in the soul of the meaning of a thing or an object of knowledge) atau berhasilnya jiwa memperoleh “arti” sesuatu atau objek pengetahuan ( ئشلا ىنعم ىلا سفنلا لوصو = the arrival of the soul at the meaning of a thing or an object of knowledge).16

Dengan demikian, apabila definisi ilmu atau pengetahuan tersebut diaplikasikan terhadap objek materia atau sesuatu, yang mana sesuatu atau objek pengetahuan tersebut memiliki kondisi penciptaan secara terus menerus, maka pengetahuan hanya dimungkinkan atau dapat tercapai melalui jalan “abstraksi.” Artinya: apabila aktifitas pencarian ilmu atau pengetahun dilakukan dengan “menggunakan” pendekatan indera (indera luar), maka yang terabstraksi dari objek materia tersebut adalah form (ṣūrah atau bentuk) yang direpresentasikannya, bukan benda atau objek itu sendiri, selanjutnya form yang telah terabstraksi tersebut, oleh ‘indera dalam’ “diolah” sedemikian rupa menjadi sebuah “ide.” Proses pembentukan atau pengolahan form menjadi ide ini disebut sebagai proses “pemahaman” ( مهفلا) yang pada gilirannya membuat objek pengetahuan atau sesuatu dapat “dipahami” (موهفم). Begitu pun halnya apabila aktifitas pencarian ilmu atau pengetahun dengan “menggunakan” pendekatan rasio atau akal, maka yang terabstraksi dari objek materia tersebut adalah arti (ma‘na) yang direpresentasikan oleh sesuatu atau objek pengetahuan yang melekat padanya, bukan benda atau objek itu sendiri, selanjutnya arti yang telah terabstraksi tersebut, oleh jiwa melalui organnya (al-‘aql, al-qalb, al-rūḥ dan al-nafs) “diolah” sedemikian rupa menjadi sebuah “ide.” Proses pembentukan atau pengolahan arti menjadi ide ini disebut sebagai proses “pemahaman” (مصهفلا) yang pada gilirannya membuat objek pengetahuan

15 Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization, ISTAC, 1993), 79-80.

(10)

atau sesuatu dapat “dipahami” (موهفم).17 Perbedaan dari kedua proses ini adalah, apabila aktifitas pencarian ilmu itu terjadi dengan jalan abstraksi form, untuk menjadi sesuatu atau objek materia yang dipahami, maka sesuatu atau objek materia tersebut mengalami proses abstraksi oleh indera luar terlebih dahulu. Indera luar kemudian mengirim “sinyal” atau data yang telah terabstraksi kepada indera dalam untuk kemudian diolah menjadi sebuah konsep atau ide. Akan tetapi, apabila aktifitas pencarian ilmu itu terjadi dengan jalan abstraksi arti, untuk menjadi sesuatu yang dipahami, maka sesuatu atau objek pengetahuan tersebut tidak harus diabstraksi oleh indera luar terlebih dahulu, tetapi langsung “diolah” oleh indera dalam. Hal ini terjadi karena arti sesuatu atau objek pengetahuan telah ada dan telah melekat pada jiwa melalui aktifitas organ-organnya, yaitu: ‘aql, qalb, al-rūḥ dan al-nafs. Inilah tesis ketiga kita yang sekaligus sebagai objeksi terhadap sikap para Sophis.

3. لقعلا dan ةميلسلا ساوحلا . Pembahasan mengenai akal (‘aql, qalb, al-rūḥ dan al-nafs) dan indera (five external and internal senes) adalah pembahasan mengenai manusia. Oleh karenanya, diskursus kita arahkan untuk memasuki areal psikologi yang berfokus pada realitas manusia (man’s nature).

Manusia menurut perspektif Islam tidak sama dengan apa yang dianut dan diyakini oleh Barat yang nota-benenya membatasi pembahasan manusia hanya pada aspek atau level realitas fisik semata.18 Menurut Islam, disamping fisik, manusia juga memiliki unsur non-fisik yang biasa disebut sebagai spirit atau rūḥ yang dapat dibuktikan ada-nya secara ‘sapontan’ ( ةهيدبلا) ketika seseorang berkata “saya” atau “aku.” Dengan demikian, unsur manusia terdiri dari dua aspek: fisikal dan spiritual.

Perlu ditegaskan, bahwa aspek spiritual adalah realitas atau hakikat manusia atau yang mendifinisikannya. Oleh karena, aspek spiritual manusia inilah yang membedakannya dengan makhluk atau ciptaan lainnya. Dalam logika atau mantiq, definisi genus and differentia dilakukan untuk “membedakan” sesuatu dengan yang lainnya. Sesuatu yang membedakan ini adalah sesuatu yang essensial yang tidak terdapat pada sesuatu yang

17 Telusuri Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and the Philosophy of Science (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization, ISTAC, 1989), 9-10. Selanjutnya disebut sebagai Philosophy of Science.

(11)

lainnya, esensi inilah yang kemudian menjadi realitas sesuatu yang didefinisikan.19 Apabila manusia, misalnya, didefinisikan sebagai hewan yang rasional (a rational animal = قطانلا ناويحلا). Rational, yang akar katanya dari Latin rasio, memiliki padanan makna dengan قطن dalam bahasa Arab yang berarti “ucapan.” Kata قطن juga mengindikasikan rasionalitas dari sisi bahwa manusia memiliki “fakultas dalam = (inner faculty)” yang dapat memformulasikan arti. Dengan demikian, definisi manusia sebagai hewan yang rasional memberi pengertian bahwa manusia adalah hewan yang memiliki fakultas dalam yang dengan fakultas tersebut ia sanggup memformulasikan arti yang dapat dipahami dengan jalan menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat sempurna yang terungkap melalui ucapan. Dan hal ini terindikasi pada level di mana manusia masih dalam kondisinya yang berada di ‘ālam al-amr (man’s condition before he became manifested in human form) ketika ditanya untuk diambil kesaksian dan janji mereka (‘ahd atau mīṡāq) oleh Allah: “.مكإبرإب تسلا.” “bukankah Aku ini Tuhanmu?” lalu, dengan spontan, mereka menjawab “ اندهأش ىلإب اولاق ” “ya, benar dan kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami!” Fakultas dalam inilah yang merupakan substansi spiritual yang mendefinisikan atau membedakan manusia dengan hewan yang lainnya dan menjadi realitasnya dan menjadikan manusia sebagai manusia. Dan inilah tesis keempat kita.

Menurut al-Gazālī, substansi spiritual manusia tercakup di dalamnya al-‘aql (akal atau rasio), al-qalb (hati atau heart), al-nafs (jiwa atau soul) dan al-rūḥ (ruh atau spirit). Dan terma-terma tersebut hakikatnya memiliki entitas yang satu. Adapun penyebutannya yang berbeda-beda, hal itu dikarenakan oleh keadaannya (aḥwāl), sehingga: (a) apabila entitas tersebut melakukan kegiatan intelektual (apprehension) maka ia disebut sebagai akal atau rasio (al-‘aql), (b) apabila entitas tersebut keadaannya “menaungi” tubuh (governs the body), maka ia disebut sebagai jiwa atau soul (al-nafs), (c) apabila entitas tersebut keadaannya menerima intuisi dan pencerahan (receiving intuitive illumination), maka ia disebut sebagai hati atau heart (al-qalb), dan (d) apabila entitas tersebut keadaannya “kembali” kepada dunianya yang abstrak (the world of abstract entity), maka ia disebut ruh atau spirit (al-rūḥ).20

19 Bandingkan Philosophy of Science, 25: ‘Being-existent’ is common to all existents in the various levels of existence, and although existence is the stuff of reality, it is strictly speaking, not the commennes that makes a thing to be what it is; it is rather the ‘ being-distinct’ from any other that makes a thing to be what it is, for it is only by virtue of distinction that realities have come into existence. Therefore the fundamental nature of reality is difference.

(12)

Pembahasan di atas, di samping menegaskan adanya unsur non fisikal manusia, yaitu ruh, juga menunjukkan “adanya kemungkinan” manusia untuk memperoleh pencerahan atau intuisi apabila hati telah dipersiapakan untuk menerima pencerahan.21 Disebut adanya kemungkinan (possibility) karena tidak semua hati dapat dan siap untuk tercerahkan. Hati yang siap adalah hati yang telah melalui “pelatihan = ةصصضاير “ dengan melewati berbagai tingkatan dan stasiun, yakni, لاوحلاو ماقملا , yang berakhir ditandai dengan adanya “penyingkapan = فشكلا ” atas misteri sesuatu atau realitas.

Penting menyinggung sekilas mengenai pernyataan al-Nasafī mengenai intuisi ini ئشلا ةحصإب ةفرعملا بابسا نم سيل ماهللاو . Bahwa: “adapun intuisi itu tidaklah menjadi sumber ilmu atau pengetahuan” tidak dimaksudkan kepada intuisi itu sendiri yang, dalam Islam diakui secara affirmatif sebagai salah satu sumber rujukan dalam pencapaian ilmu atau pengetahuan.22 Kalimat tersebut ditujukan kepada “personal” atau pihak-pihak tertentu, khususnya, pseudo-Sufi (ke-sufi-sufi-an) yang sesat dan banyak melakukan “penyesatan” akibat dari klaim penerimaan intuisi tersebut. Jadi negasi atas ilham sebagai sumber ilmu tidak bersifat general atau umum, oleh karena bagi sebahagian, khususnya, kalangan yang telah teruji tingkat kesalehan dan spiritualnya, terjadinya intuisi sangat dimungkinkan.23

ةميلسلا ساوحلا atau indera. Indera yang merupakan sumber ilmu atau pengetahuan tidak hanya terbatas kepada lima indera luar, sebagaimana yang diyakini oleh Barat. Akan tetapi, menurut Islam, disamping indera luar, yaitu indera penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan penciuman, ada juga indera dalam yaitu, fantasia (كرتصصشملا سصصحلا), representatif (ةصصيلايخلا), estimatif (ةيمهولا), retentive dan rekolektif (ةركاذلا و ةظفاحلا), dan imaginatif ( ةصصليختملا). Indera dalam tersebut adalah fakultas intermediari yang dapat berhubungan langsung dengan(1) indera luar, dan (2) rasio. Ringkasnya, hubungan antara indera dalam dengan indera luar adalah transfer data form. Artinya, indera luar melakukan transfer data form yang dipersepsinya dari objek materia menuju indera dalam sebagai penerima dan interpreter. Form tersebut, selanjutnya, diolah (act upon it) sedemikian rupa menjadi sebuah ide yang dipahami. Begitu juga halnya dengan hubungan indera dalam dengan rasio. Bedanya hanyalah dari sisi objek yang ditransfer. Di sini yang ditransfer adalah data arti yang dipersepsi oleh rasio.

21 Diskursus mengenai intuisi secara filosofis dibahas dalam Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Intuition of Existence: A Fundamental Basis of Isamic Metaphysics (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990).

22 Fa al-hamaha fujuraha wa taqwaha, wa auhaina ila ummi musa dan ……….. 23 Bandingkan Manuscript, 47-49 dan Sa’d al-Dīn al-Taftāzānī, A Commentary on the Creed

(13)

Fungsi dari kelima indera dalam tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a) Fantasia adalah fakultas yang melakukan persepsi atau menangkap

form dari objek pengetahuan. Form tersebut kemudian disimpan oleh fakultas imaginatif atau representatif.

b) Estimatif adalah fakultas yang melakukan persepsi atau menangkap arti dari objek pengetahuan. Arti tersebut disimpan oleh retentif dan rekolektif.

(14)

KESIMPULAN:

1. Sains atau ilmu atau pengetahuan menurut perspektif Barat dan Islam tidaklah sama.

2. Epistemologi Barat memberi penekanan terhadap kerja akal yang dapat diidentifikasi sebagai “otak atau brain” dan indera yang diidentifikasi sebagai penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa yang dilengkapi dengan eksperimen.

3. Epistemologi Islam di samping mengakui akal dan inderawi, tetapi menambahkan wahyu dan intuisi sebagai sumber ilmu atau pengetahuan.

4. Ontologi Barat melihat segala sesuatu atau objek pengetahuan atau natural world sebagai satu-satunya level eksistensi. Artinya, hanya alam fisikal yang dianggap sebagai realitas. Konsekuensinya, alam spiritual, alam non fisikal, alam gaib termasuk jiwa, ruh dan Tuhan dianggap tidak eksis.

5. Ontologi Islam

(15)

b. Islam juga menegaskan bahwa realitas segala sesuatu itu hanyalah merupakan simbol atau ayah. Artinya, segala sesuatu tersebut hanyalah manifestasi dari Allah.

c. Penegasan ini tidaklah berarti bahwa Islam mengakui keberadaan dinamisme dan animisme. Akan tetapi penegasan tersebut bermaksud bahwa segala sesuatu menunjuk adanya Tuhan yang menciptakannya.

d. Penciptaan tersebut dilakukan secara berkesinambungan tanpa henti dan tanpa ada dua durasi yang mengantarai dalam masa penciptaan pertamanya menuju penciptaan keduanya dan penciptaan seterusnya (jika Allah menghendaki).

e. Penciptaan yang sedemikian rupa (berkesinambungan) tidak berarti bahwa pengetahuan mengenai sesuatu tersebut tidak dimungkinkan. Pengetahuan dimungkinkan dengan adanya konsep ilmu yang menegaskan sifat abstraksi form dan arti dari sesuatu, bukan sesuatu atau objek materia itu sendiri.

6. Psikologi Islam:

a. Berbeda dengan apa yang diyakini oleh Barat yang menekankan realitas manusia pada aspek fisik semata. Islam mengakui kedua aspek, yaitu aspek fisik dan non fisik manusia. aspek non fisik inilah yang menjadi realitasnya dan mendefinisikan manusia sebagai manusia. Unsur tersebut terindikasi pada leve dimana manusia masih berada di ‘ālam al-malakūt dan belum menghuni ‘ālam al-dunia.

(16)

dunianya yang abstrak (the world of abstract entity), maka ia disebut ruh atau spirit (al-rūḥ).

c. Aspek non fisik inilah yang kemudian membuktikan adanya kemungkinan terjadinya pencerahan atau intuisi yang berlokasi pada hati yang siap untuk menerima pencerahan.

(17)

Rumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan problematik. Tetapkan juga variable yang ada atau terkandung dalam pertanyaan tersebut.

Identifikasi kemungkinan-kemungkinan jawaban dari setiap pertanyaan tersebut dengan melakukan analisis teori-teori, prinsip, hukum dari ilmu pengetahuan yang menunjang tema permasalahan tersebut.

Dari setiap kemungkinan jawaban yang ditemukan dan atas pertimbangan rasional kita setelah mengkaji teori, hukum, prinsip keilmuan, tetapkan kemungkinan mana yang paling mendekati jawabannya. Rumuskanlah kemungkinan ini sebagai hipotesis penelitian.

Rencanakan data apa yang harus diperoleh untuk menguji

hipotesis tersebut, dari mana data itu diperoleh dan

bagaimana cara memperolehnya.

Setelah ditemukan gambaran masalah, teori dan hipotesis, dan verifikasi data di lapangan, buatlah usulan penelitian untuk diajukan kepada pihak yang berwenang untuk meminta petunjuk dan atau pengesahannya.

Setelah instrumen (alat pengumpul data) disetujui oleh pihak yang berwenang melalui uji coba, dan telah diperoleh izin penelitian, peneliti turun ke lapangan untuk melakukan pengumpulan data.

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis, kemudian hipotesis diuji, hasilnya disimpulkan, dibahas secara teoretis, berikan saran lebih lanjut.

Tulislah langkah-langkah di atas dalam satu sistematika rangkaian kegiatan penelitian.

Lampiran

Prosedur sains yang kemudian menjadi “pedoman” dalam prosedur penelitian ilmiah, sebagaimana yang dapat dilihat dalam diagram, berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya menghubungkan antara indikator biomarker (Hg dalam rambut dan Hg dalam urine) dengan gangguan kesehatan yang muncul di masyarakat di wilayah Kecamatan

Menurut Hellier, et al, (2003) dalam Setyaningsih (2008) niat beli ulang merupakan keputusan konsumen untuk melakukan pembelian kembali suatu produk atau

Melalui penelitian ini disarankan kepada guru dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 7 Makassar agar apa yang kurang seperti beberapa indicator dukungan,

Berdasarkan data pada Gambar 1.4 dapat diketahui bahwa angka kejadian Plebitis pada bulan Januari - Maret 2015 bersifat fluktuatif yaitu mengalami penurunan pada bulan Februari dan

Karena untuk mendapatkan portofolio yang efisien adalah dengan cara membandingkan portofolio-portofolio yang memiliki nilai resiko yang sama atau membandingkan

Nepenthes dapat tumbuh dan berkembang pada kondisi tanah yang miskin hara dan biasanya menghasilkan kantong yang besar dengan warna yang mencolok, sementara itu kantong Nepenthes

Kunci teknologi dari desain Network Processor System-On-aChip dapat diperoleh :Frekuensi clock prosesor memiliki pengaruh yang signifikan pada konfigurasi dengan cache SRAM

1) Tes.. Tes dapat di definisikan sebagai seperangkat pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau sifat atau atribut pendidikan di mana